
Di dunia ini kita belajar.Belajar banyak hal.Dari nol, Dari yang tidak tahu apa-apa menjadi tahuYang salah, jadi belajar memperbaiki kesalahan lalu berbuat lebih baik dan semakin baik.Waktu belajar nya pun terbatas.Tak seorang pun tahu sampai kapan persisnya.Jadi sebelum waktunya habis, pergunakanlah masa belajar ini sebaik-baiknya.Sebelum akhirnya nanti kita bertemu dengan kekekalanYang membawa kita pada kehidupan atau maut.#sherpodcast #podcast #renungan #sherlythought #learning

Mendengar sepertinya sederhana namun ternyata tidak semua orang bisa.Meski sama-sama punya telinga.Meski sama-sama punya mata.Lalu apa bedanya?Hatinya yang ditutup, dikeraskan sebab ego nya lebih kuat, ambisinya berbicara lebih keras.Benar, tak ada seorang pun tahu segalanya. Tapi kita punya orang lain yang dapat memberitahukan blind spot kita, hal-hal yang tidak nampak oleh kita sebelumnya.Semakin lama kita menutup telinga, menutup mata bahkan menutup hati.Hati-hati jika suatu hari nanti akibat yang lebih fatal akan kita alami akibat kebebalan hati.

Diperlakukan tidak baik, siapa yang mau?Tapi terkadang hal-hal buruk terjadi begitu saja. Siapa pun bisa melakukannya, orang yang tidak kita kenal maupun tidak, bahkan pemimpin atau orang yang kita hormati dan kagumi sebelumnya.Kita, memang tidak bisa mengatur orang agar tidak berlaku buruk terhadap kita.Tapi kita bisa mencegahnya dengan memberi batasan, untuk melindungi diri kita agar orang lain tidak mengulang kesewenangannya terhadap kita.

Setiap orang punya kesenangannya masing-masing.Tapi pernah berpikir gak, saat melakukan apa yang jadi “hobi” kita, apakah hal itu akan berdampak bagi orang lain? Atau bahkan menyusahkan orang lain?Ga semua yang menjadi kesenangan kita, itu harus dilakukan kapan saja dan di mana saja kita mau.Ada kalanya kita ngerem, tahu diri demi toleransi.Sebab tanah di mana kita berpijak, ada hak orang lain atau pihak lain yang perlu juga dihormati dan jagai.Bahkan tubuh kita bukan milik kita sendiri. Hidup kita ini pun bukan milik kita sendiri, tapi milik TUHAN, Sang Pencipta yang suatu kelak kita akan diminta pertanggungjawaban.Jangan semaunya sendiri

Kata Dilan, Rindu itu beratKalo kata aku, yang lebih berat dari rindu itu mengakui kesalahanBeratttt bangetbagi orang yang gengsinya tinggiAlih alih mengakui kesalahan, yang ada malah bikin alasan atau malah melemparkan kesalahan pada yang lainDiantara banyaknya masalah yang ada di dunia ini, dimulainya dari orang yang gak mau mengakui kesalahan. Persidangan berbulan-bulan, bahkan kasus yang kusut bertahun-tahun juga dimulai dari orang-orang yang tidak mau mengakui kesalahan.Yuk ambil andil, menyederhanakan hidup ini. Dengan belajar mau mengakui kesalahan, minta maaf lalu memperbaikinya Jadilah dewasa yang bertanggung jawab. Bukan cuma tua.Alasan itu hanya dibuat bagi orang yang tidak mau mengaku salah. Dunia ga butuh alasan, jadilah jawaban.

Bicara itu mudah yang menjalaninya yang sulit. Kita ga tau persis apa dan bagaimana tantangan dan situasi yang dihadapi seseorang, jadi tahan diri agar tidak menghakimi. Jangan biasakan pikiran negatif. apalagi sampai perkataan yang buruk sampai keluar dan menyakiti hati padahal kita belum tahu situasi yang terjadi. Jadilah suportif, bukan yang destruktif

Tidak ada sesuatu yang terjadi dengan sendirinya. Tentu ada hal-hal yang dilakukan sebelumnya. Entah bermula dari kesengajaan atau tidak. Ketika dilakukan terus menerus akan menjadi kebiasaan hingga membentuk gaya hidup. Apa yang dulunya dianggap sulit bahkan aneh jadi biasa dan wajar. Perhatikan gaya hidup kita, cermati kebiasaan kita dan awasi hal-hal yang kita kerjakan sehari-hari sebab dari situlah pribadi dan masa depan kita terwujud.

Pernah ga berpikir apa dampak hidup kita bagi orang lain? Apakah orang senang ketika kita datang? Atau sebaliknya? Sebal, kesal atau takut? Kita pun memiliki orang-orang favori t dalam hidup kita. Sahabat atau orang-orang yang kita nyaman dengannya…..tidak berdasarkan penampilan atau wajah tapi kepribadian atau pembawaan. Memang tak perlu dan tak mungkin kita menyenangkan semua orang. Tapi paling tidak, jadilah orang yang baik.

Kreatif adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru berupa gagasan maupun karya yang belum pernah ada, dalam bentuk baru maupun kombinasi dengan hal-hal tersedia. Dari metodenya, konsep, pengertian, perencanaan dan seni baru. Caranya bisa kreatif tapi tujuannya, ujung-ujungnya tidak selamanya baik. Kita bisa kagum terhadap konsep atau cara kerja yang kreatif, tapi tak sepatutnya kita selalu mengiyakan motif yang jahat dan tidak pada tempatnya. Kita memang tidak bisa menahan orang lain berbuat sesuatu sesuai keinginan atau rencananya, tapi kita masih punya pilihan untuk tidak mengikuti yang salah, yang tidak pada tempatnya. Kita penentu langkah apa yang kita ambil. Jika orang lain bisa menggunakan cara kreatif untuk melakukan hal yang salah, kita pun perlu kreatif beralasan untuk menolak melakukan hal yang salah.

Seorang anak meniru dari apa yang dilihat. Dari orang tuanya, dari lingkungannya. Demikian pula dengan apa yang didengarnya terus menerus. Cepat atau lambat akan memengaruhi cara ia berpikir, bertindak dan merasa. Dari yang sebelumnya ga tertarik, jadi penasaran. Dari yang ga suka, bisa berubah menjadi suka. Dan lain sebagainya. Berhati-hatilah terhadap apa dan siapa kita bergaul sebab itu turut membentuk karakter kita, hidup sekarang dan yang akan datang.

Harga Diri pandangan keseluruhan dari individu tentang dirinya sendiri. Mempertahankan harga diri bisa salah kaprah. Ada yang membela diri demi harga diri. Ada yang mengeraskan hati, demi harga diri. Ada yang menempuh segala cara… katanya demi harga diri. Seberapa besar harga diri kita? Jika kita rela mengorbankan hubungan baik untuk sebuah harga diri maka sesungguhnya pikiran dan hati kita picik. Padahal jika hubungan kita baik, hati dan hidup kita akan semakin luas.

Berbicara tentang pelayanan, bukan hanya orang yang bekerja di bidang jasa saja yang harus memperhatikan cara ia melayani. Tetapi sesungguhnya dalam hidup ini kita semua sedang melayani dan semestinya melayani dengan cara yang baik. Bagaimana kita berbicara terhadap orang lain, bagaimana cara kita memperlakukan orang lain, bagaimana kita bekerja dan bekerja sama dengan orang lain. Semua itu memperlihatkan cara kita melayani. Kualitas kita. Jika kita tidak berkenan dengan cara orang lain melayani atau memperlakukan kita, awasi juga bagaimana kita memperlakukan orang lain, cara kita bekerja dan bekerja sama dengan orang lain.