POPULARITY
Categories
Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan.
Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan.
Impact storytelling merupakan sebuah disiplin yang memadukan kekuatan estetika narasi dengan ambisi perubahan sosial yang sistemik. Alih-alih hanya menyampaikan informasi secara searah, praktik ini menempatkan cerita sebagai unit pemrosesan pola yang esensial bagi manusia untuk memahami dunia dan membayangkan masa depan yang lebih adil. Dalam ekosistem yang luas—mencakup seni aktivisme, strategi perubahan narasi, hingga media hiburan dampak sosial—storytelling bertransformasi dari sekadar hiburan menjadi instrumen strategis. Tujuannya sangat jelas: membedah narasi mendalam (deep narratives) yang selama ini dianggap sebagai "kebenaran umum" namun sebenarnya melanggengkan ketidakadilan, lalu menggantinya dengan perspektif baru yang lebih manusiawi. Mekanisme kerja impact storytelling beroperasi pada tiga level yang saling berkaitan: personal, kultural, dan struktural. Pada level personal, sebuah cerita yang kuat mampu memicu transportasi narasi yang mengubah keyakinan serta perilaku individu secara mendalam. Perubahan pada tingkat individu ini, jika terjadi secara masif, akan berakumulasi menjadi pergeseran norma budaya dan percakapan publik di level kultural. Pada akhirnya, pergeseran budaya ini menciptakan landasan yang kuat bagi perubahan struktural, karena kebijakan publik dan keputusan institusional cenderung mengikuti arah arus narasi yang dominan di tengah masyarakat. Dengan demikian, cerita berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan empati individu dengan aksi kolektif dan perubahan hukum. Meskipun memiliki potensi yang luar biasa, masa depan impact storytelling sangat bergantung pada penguatan infrastruktur ekosistem dan prinsip ekuitas. Pengaruh nyata dari sebuah narasi seringkali membutuhkan waktu yang lama, sehingga diperlukan model pendanaan yang fleksibel dan berjangka panjang untuk mendukung kerja-kerja perubahan ini. Selain itu, sangat krusial untuk menempatkan individu yang memiliki pengalaman hidup langsung (lived experience) terhadap suatu masalah sebagai pemegang kendali narasi, bukan sekadar objek cerita. Dengan mengintegrasikan riset yang tajam, kolaborasi lintas sektor antara seniman dan aktivis, serta distribusi media yang luas, impact storytelling dapat menjadi katalisator utama dalam menghadapi tantangan global yang kompleks, mulai dari krisis iklim hingga krisis demokrasi.
Boikot konsumen bukan sekadar tindakan menahan diri dari membeli suatu produk, melainkan sebuah instrumen kuat untuk perubahan sosial dan politik di arena pasar global. Monroe Friedman menekankan bahwa boikot dapat bersifat instrumental, yang menargetkan perubahan kebijakan spesifik, atau ekspresif, yang menjadi sarana bagi publik untuk menyuarakan kemarahan moral. Seiring dengan pergeseran kekuatan dari produsen ke tangan konsumen yang semakin sadar, daya beli kini berfungsi sebagai bentuk "pemungutan suara" ekonomi yang mengirimkan pesan tegas bahwa praktik bisnis tertentu tidak lagi selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan atau lingkungan yang dianut masyarakat. Keberhasilan suatu gerakan boikot sangat bergantung pada sinergi antara liputan media massa dan motivasi psikologis para pelakunya. Media berperan penting sebagai jembatan yang mengubah keluhan kelompok kecil menjadi kesadaran kolektif nasional, yang pada akhirnya memberikan tekanan pada reputasi citra perusahaan. Di tingkat individu, partisipasi dalam boikot sering kali didorong oleh kebutuhan akan integritas pribadi dan rasa memiliki terhadap komunitas yang memiliki nilai serupa, meskipun gerakan ini kerap menghadapi tantangan internal seperti masalah "penumpang gratis" (free rider), di mana individu ingin menikmati hasil perubahan tanpa harus menanggung ketidaknyamanan pribadi. Meskipun efektivitas ekonomi boikot sering diperdebatkan, dampak nyatanya lebih sering terlihat pada kerusakan reputasi dan biaya gangguan yang memaksa korporasi untuk mengevaluasi kembali etika bisnis mereka. Perusahaan modern kini cenderung lebih responsif terhadap ancaman boikot dengan memperkuat departemen tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) sebagai mekanisme pertahanan diri. Pada akhirnya, fenomena boikot membuktikan bahwa dalam sistem kapitalis, konsumen memiliki kedaulatan untuk membentuk moralitas dunia usaha, menjadikan pasar bukan hanya tempat pertukaran barang, tetapi juga panggung untuk memperjuangkan keadilan dan tanggung jawab sosial.
Herbal Rebellion karya Howla Jardali bukan sekadar panduan botani, melainkan sebuah manifesto politik dan spiritual untuk merebut kembali kedaulatan atas tubuh manusia dari cengkeraman kompleks industri farmasi yang profit-sentris. Argumen utama yang diajukan adalah bahwa ketergantungan kronis pada obat-obatan sintetis telah menciptakan budaya ketidakberdayaan, di mana individu kehilangan koneksi dengan intuisi penyembuhan bawaan mereka. Dengan beralih kembali ke tanaman obat, seseorang sebenarnya sedang melakukan tindakan pembangkangan sipil yang damai; sebuah upaya untuk memutus rantai ketergantungan pada sistem kesehatan modern yang sering kali hanya memadamkan gejala tanpa pernah menyentuh akar penyebab penyakit. Secara filosofis, gerakan ini mengusung konsep vitalisme, yakni keyakinan bahwa tubuh memiliki kecerdasan alami atau "daya hidup" yang mampu memulihkan keseimbangannya sendiri jika diberikan dukungan yang tepat dari alam. Tanaman obat, seperti kelompok adaptogen yang menyeimbangkan stres atau nervine yang menenangkan sistem saraf, dipandang sebagai sekutu hidup yang bekerja secara holistik, bukan sekadar komoditas kimiawi. Jardali menekankan bahwa menghidupkan kembali pengetahuan leluhur tentang herbalisme adalah langkah krusial untuk memperbaiki identitas manusia sebagai bagian tak terpisahkan dari ekosistem bumi, sehingga proses penyembuhan fisik juga menjadi proses penyembuhan hubungan kita dengan alam semesta. Pada akhirnya, Herbal Rebellion menawarkan visi tentang ketahanan masa depan melalui kemandirian praktis di tingkat rumah tangga dan komunitas. Pemberontakan ini terwujud dalam tindakan-tindakan sederhana namun revolusioner, seperti menanam apotek hidup di halaman belakang, membuat ramuan obat di dapur sendiri, serta melakukan praktik meramu (foraging) secara etis di alam liar. Dengan membangun jaringan komunitas yang saling berbagi benih dan pengetahuan, individu tidak hanya memperkuat benteng kesehatan pribadi mereka, tetapi juga berkontribusi pada perlindungan biodiversitas dan keberlanjutan planet. Ini adalah sebuah ajakan untuk pulang menuju kemandirian, di mana kesehatan bukan lagi barang dagangan, melainkan hak asasi yang berakar kuat di tanah.
Majówka z Barents.pl: https://barents.pl/wycieczki/ha-giang-loop-rowerowa-wyprawa-przez-polnocny-wietnamCzy zastanawiałeś się kiedyś, kto pierwszy wpadł na pomysł, żeby do roweru włożyć baterie, kable i powiedzieć: „teraz będzie szybciej”? Zapraszamy na wycieczkę w czasie i technologii — od friction shifterów na dolnej rurce, przez rewolucję indeksacji Shimano SIS, po pierwsze klamkomanetki STI i włoskie ErgoPower. W tym odcinku wystąpił Mavic ZAP z 1992 roku, który brzęczał na Tour de France, bezprzewodowy Mectronic z końcówki lat 90., a także odważne próby Suntoura z elektryfikacją… (uwaga!) przedniej przerzutki. Extra: W części extra robi się bardziej warsztatowo i bardziej współcześnie. Pojawiają się chińskie grupy pokroju WheelTop czy L-Twoo — komplet elektroniki za ułamek ceny topowych marek. Pytanie brzmi: czy to już „chińskie a dobre”, czy wciąż eksperyment dla odważnych? Jest Microshift, jest temat dostępności części i serwisu, a także refleksja, dlaczego na rynku zostało trzech gigantów — bo dziś nie wystarczy tokarka i spryt, potrzeba milionów na rozwój i obecności w World Tourze. Pada też gorzka prawda: elektronika jest genialna, dopóki działa. A kiedy przestaje — bez wsparcia, części i know-how zostajesz z bardzo drogą rzeźbą.Zdjęcia i linki: https://www.podcastrowerowy.pl/Facebook: https://www.facebook.com/PodkastRowerowyInstagram: https://www.instagram.com/podkastrowerowy/Produkcja Oryginalna Earborne Media
Hi Adik-adik, selamat merenungkan Firman Tuhan ya! Doa kami, Adik-adik semakin dekat dengan Yesus, Tuhan dan Juruselamat pribadi kita. Tetap terus terhubung dengan Tuhan Yesus ya melalui doa dan saat teduh setiap hari, seperti carang yang melekat pada Sang Pokok.Renungan Audio ini dibuat untuk anak-anak layan GKI Kebayoran Baru. Pada edisi Februari 2026, renungan masih didasari oleh Saat Teduh Anak Raja (STAR) terbitan Binawarga.............................................................Edisi 24 Februari 2026Pembaca Renungan : Benny PosposMusik : Andreas TakdareProduksi : Tim Shema - Podcast Anak GKIKBPenanggung jawab : Komisi Anak GKI Kebayoran Baru
Fotografi bukan sekadar aktivitas menekan tombol rana, melainkan sebuah bentuk seni yang memadukan penguasaan teknologi dengan kepekaan rasa yang mendalam. Secara etimologis, istilah fotografi berasal dari bahasa Yunani yang berarti "melukis dengan cahaya," sebuah deskripsi yang secara akurat menggambarkan bagaimana seorang fotografer menangkap spektrum visual untuk dibekukan menjadi memori abadi. Dalam prosesnya, seorang fotografer harus mampu menjembatani realitas objektif yang ada di depan mata dengan visi subjektif yang ingin disampaikan kepada penonton, sehingga sebuah gambar tidak hanya menjadi rekaman peristiwa, tetapi juga medium pengantar emosi yang mampu melampaui keterbatasan kata-kata. Seiring dengan perkembangan zaman, medium fotografi telah bertransformasi secara drastis dari penggunaan lempengan kimiawi dan film analog menuju sensor digital yang sangat canggih. Kehadiran kamera film dengan kontrol manual seperti Lomo MC-A hingga kamera mirrorless modern seperti Fujifilm X-T30 menunjukkan bahwa meskipun alat terus berevolusi, inti dari fotografi tetap terletak pada kemampuan manusia dalam membaca cahaya dan momen. Kemudahan teknologi digital memang telah mendemokratisasi akses terhadap seni ini, namun di sisi lain, hal tersebut juga menuntut fotografer untuk tetap mempertahankan kedisiplinan dan ketajaman intuisi agar karya yang dihasilkan tidak sekadar menjadi artefak visual yang hambar di tengah banjirnya informasi gambar di era media sosial. Lebih jauh lagi, fotografi memiliki peran krusial sebagai saksi sejarah dan alat narasi yang memiliki kekuatan besar dalam mengubah perspektif dunia. Melalui lensa, para fotografer mampu mendokumentasikan realitas pahit di medan konflik, menangkap keindahan dalam dunia fashion seperti yang dilakukan oleh Brianna Capozzi, hingga mengabadikan momen-momen kecil yang sering terlewatkan dalam kehidupan sehari-hari. Fotografi memiliki kemampuan unik untuk membekukan waktu, memberikan keabadian pada hal-hal yang fana, dan memungkinkan kita untuk melihat dunia dari sudut pandang yang benar-benar berbeda. Pada akhirnya, fotografi adalah sebuah dialog visual yang terus berlanjut antara sang fotografer, subjek, dan pemirsa, yang mampu melintasi batas ruang dan waktu.
Keterlibatan pembelajaran atau learning engagement saat ini tidak lagi dipandang hanya sebagai metrik kehadiran atau penyelesaian modul, melainkan sebagai pilar strategis yang menentukan daya saing sebuah organisasi. Transformasi ini mengharuskan tim Pembelajaran dan Pengembangan (L&D) untuk bergeser dari sekadar penyedia pelatihan menjadi mitra bisnis yang proaktif. Keterlibatan yang sesungguhnya terjadi ketika karyawan merasa bahwa pembelajaran bukanlah beban tambahan, melainkan kebutuhan intelektual dan emosional yang selaras dengan tujuan besar perusahaan. Dengan membangun budaya di mana pembelajaran dianggap berharga dan relevan, organisasi dapat memastikan bahwa setiap investasi dalam pengembangan bakat memberikan dampak nyata pada hasil bisnis. Untuk mencapai tingkat keterlibatan yang tinggi, diperlukan pendekatan sistematis yang dimulai dari dukungan kuat para pemimpin eksekutif hingga pemilihan teknologi yang tepat. Langkah-langkah strategis seperti mendapatkan komitmen manajemen atas dan merancang strategi pembelajaran yang modern sangat penting untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan. Selain itu, keterlibatan dapat diperkuat melalui peran 'Juara Pembelajaran' internal dan teknik pemasaran yang kreatif guna membangun antusiasme karyawan. Ketika teknologi yang digunakan bersifat intuitif dan materi pembelajaran disajikan secara ringkas di dalam alur kerja sehari-hari, hambatan dalam belajar akan berkurang, sehingga mendorong partisipasi yang lebih aktif dan konsisten. Pada akhirnya, tujuan utama dari keterlibatan pembelajaran yang lebih baik adalah untuk memberdayakan individu dalam mengembangkan karier mereka sekaligus menutup jurang keterampilan organisasi. Dengan menghubungkan aktivitas belajar langsung dengan peluang mobilitas internal dan peningkatan profesionalisme, karyawan akan merasa lebih dihargai dan termotivasi untuk terus berkembang. Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) juga memainkan peran kunci dalam menyajikan pengalaman yang personal dan berbasis data. Melalui konsistensi dalam menerapkan prinsip-prinsip ini, organisasi tidak hanya akan memiliki tenaga kerja yang lebih terampil, tetapi juga membangun ketahanan jangka panjang di tengah dinamika pasar yang terus berubah.
Donald și cu CCR, asta da victorie? Ne-ați certat că am exagerat episodul trecut, așa că astăzi trecem direct la „asfaltul" încins al politicii mari. Înainte de a intra în subiectele zilei, o recomandare obligatorie: documentarul „A dinasztia" (The Dynasty), despre realitățile de la vecinii maghiari. O lecție utilă pentru oricine vrea să înțeleagă jocurile de putere din regiune. În ediția de azi: Vizita lui Nicușor Dan la Washington Radu Naum descrie vizita într-o notă critică, de la imaginea de „Tintin en Amérique", până la secvența umilitoare în care președintele nostru este tras la o parte după strângerea de mână cu Trump și apelat greșit cu titlul de „prim-ministru". De cealaltă parte, Cătălin Striblea crede că în diplomație „lucrezi cu ce ai". Pentru Nicușor, parteneriatul strategic cu SUA primează în fața oricărei politețuri, misiunea lui fiind una triplă și vitală: să țină Rusia la distanță, să asigure apărarea americană și să securizeze banii europeni. Coaliția și „lovitura" CCR Analizăm cum mai funcționează (sau nu) coaliția de guvernare și ce înseamnă, de fapt, ultima decizie a Curții Constituționale pentru stabilitatea politică. Este o victorie reală sau doar o amânare a inevitabilului?
Menulis esai sering kali dianggap sebagai beban yang berat, padahal kuncinya terletak pada kedisiplinan struktur. Teknik PEEL hadir sebagai solusi bagi siapa saja yang ingin gagasannya tertata rapi, logis, dan mudah dicerna oleh pembaca. Dengan menggunakan rumus ini, seorang penulis tidak akan tersesat dalam rimba kata-kata yang tidak perlu, karena setiap alinea memiliki tujuan yang sangat jelas dan terukur sejak kalimat pertama dimulai. Inti dari efektivitas PEEL terletak pada empat pilar utamanya yang saling mengunci. Dimulai dengan Point sebagai pernyataan ide utama yang lugas, diikuti oleh Evidence yang menyajikan data, fakta, atau kutipan nyata agar tulisan tidak dianggap sekadar opini kosong. Selanjutnya, Explanation bertugas menjahit logika antara bukti dan poin tersebut, sementara Link memastikan alur tulisan mengalir mulus, menghubungkan satu ide dengan tema besar atau alinea berikutnya tanpa terasa melompat-lompat. Pada akhirnya, menguasai PEEL berarti menguasai navigasi berpikir dalam menuangkan argumen. Namun, struktur yang kuat hanyalah kerangka; ia memerlukan sentuhan gaya penulisan yang lincah—seperti penggunaan kalimat pendek dan kata kerja aktif—agar esai tetap terasa hidup. Jika kerangka yang kokoh ini diisi dengan penyampaian yang jujur dan tajam, maka esai Anda tidak hanya akan kuat secara argumentasi, tetapi juga akan memikat dan meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang membacanya.
Menyambut bulan puasa yang bertepatan dengan tahun kuda api, kabarnya membuat rasa haus terasa seperti dicambuk dan didera sepanjang hari. Namun, rasa haus itu belum seberapa dibandingkan dengan rasa malu kepergok minum air galon otomatis di rumah sakit karena khilaf siang bolong.Pada episode awal Ramadan ini, kami mengundang seorang tamu "spesial", pengurus pusat salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia (tapi versi anaknya karena kami tidak sanggup membayar bapaknya), untuk membahas survival guide menghadapi bulan suci.
Pada kesempatan ini, Bhante Pannavaro memberikan cara agar batin kita tidak tersiska termasuk ketika bekerja.
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Suster Wilhelmina OSA dari Komunitas Suster Santo Agustinus di Paroki Santo Yusuf Karang Pilang, Keuskupan Surabaya, Indonesia. Yesaya 55: 10-11; Mazmur tg 34: 4-5.6-7.16-17.18-19; Matthew 6: 7-15.BUAH BERLIMPAH DARIFIRMAN TUHAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: Buah BerlimpahDari Firman Tuhan. Karya Allah untuk menyelamatkan manusia dari dosa memuncakpada kehadiran Putra Allah menjadi manusia di dalam Yesus Kristus. Karya nyataIlahi ini menjadi tema besar untuk direnungkan terus-menerus di dalam hatisetiap orang beriman, dan khususnya semakin kuat di dalam masa Pra Paskah. Ini untuk memperkuat iman kita akan peristiwa YesusKristus yang kita rayakan pada hari Paskah. Kita yang merayakan Paskah, yangdipersiapkan melalui Pra Paskah, mengalami suatu keistimewaan denganberpartisipasi dalam peristiwa Kristus. Yesus senantiasa menegaskan prinsippengorbanan diri-Nya yaitu demi melakukan kehendak Bapa sampai tuntas di duniaini. Pengorbanan itu menandakan betapa setiap dari kita bukan sekedar umat ataupengikut-pengikut-Nya, tetapi sebagai saudara-saudari-Nya sendiri. Ia sendiri berkatabahwa cinta yang paling besar ialah pengorbanan diri seseorang demi kebaikandan keselamatan saudara-saudarinya. Kita sebagai anak-anak Allah melalui sakramen pembaptisandan juga menjadi putra-putri-Nya terkasih memiliki martabat istimewa yaitu satupersaudaraan dengan Yesus Kristus. Bersama dia, kita menyapa Allah di surgasebagai Bapa yang menjadi milik bersama. Semua pengikut Kristus mempertegaspersaudaraannya dengan Yesus, martabatnya sebagai putra-putri Allah, dan dalammemperlakukan Allah sebagai seorang Bapa. Ungkapan hubungan yang intim ini kitadoakan senantiasa di dalam doa “Bapa Kami”. Di dalam masa Pra Paskah, tentu kita berdoa “Bapa Kami”dengan kualitas iman yang terbaik, sebagai salah satu bentuk disiplin dalampraktik kesalehan kita. Doa ini menegaskan persaudaraan kita dengan Kristus,ketika bersama dengan Dia kita menyapa Allah sebagai “Bapa kami”. Sekian banyakdoa ini kita ucapkan dalam satu hari menandakan kalau Bapa yang satu di dalamsurga membuahkan karunia-Nya di dalam diri kita semua yang tetap dekat denganDia, karena persekutuan kita dengan Yesus Kristus. Kelimpahan buah di dalam diri kita tetap dijamin olehkarunia firman Allah yang hadir untuk menerangi, menguatkan, dan membaharuihidup setiap orang beriman. Yesus tidak hadir lagi dalam tubuh-Nya saat ini,tetapi di dalam firman-Nya. Melalui firman itu, kita masing-masing bertumbuhdan berbuah, khususnya dalam bentuk doa-doa yang menyatukan kita dengan Bapa disurga. Doa mengungkapkan apa yang kita lakukan dalam berpuasa, sepertimengampuni dan menahan diri tidak jatuh ke dalam pencobaan. Melalui doa pula kitaungkapkan niat untuk berbuat baik kepada sesama. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Bapa maha baik,utuslah Roh-Mu untuk membantu kami berdoa seperti Yesus Kristus. Kemuliaan...Dalam nama Bapa...
Dalam perspektif neuro-fisika, perbedaan antara frekuensi tinggi dan rendah pada manusia paling nyata terlihat melalui tarian gelombang otak yang diukur dalam satuan Hertz. Frekuensi tinggi, seperti gelombang Gamma dan Beta, merepresentasikan mesin kognitif yang bekerja pada kapasitas penuh, di mana neuron-neuron saling menembakkan sinyal dengan cepat untuk pemrosesan informasi kompleks, fokus tajam, dan pemecahan masalah yang dinamis. Sebaliknya, frekuensi rendah seperti Alpha, Theta, dan Delta mencerminkan perlambatan simfoni saraf kita, yang membawa manusia ke ambang kreativitas, meditasi dalam, hingga fase pemulihan biologis total saat tidur nyenyak. Perbedaan ini bukan sekadar angka, melainkan keseimbangan antara fase aktivitas eksternal yang aktif dan fase restorasi internal yang esensial bagi kelangsungan hidup. Melangkah ke tingkat seluler, tubuh manusia berfungsi sebagai sistem elektromagnetik yang kompleks di mana frekuensi menentukan derajat vitalitas biologis. Frekuensi tinggi pada tingkat ini dikaitkan dengan koherensi seluler dan kesehatan optimal, di mana setiap sel bergetar dalam harmoni yang memungkinkan pertukaran energi dan nutrisi terjadi secara efisien tanpa hambatan entropi. Sebaliknya, frekuensi rendah dalam konteks biologis sering kali menjadi penanda ketidakteraturan atau disonansi, yang bermanifestasi sebagai kelelahan kronis, peradangan, atau menurunnya sistem imun. Dalam pandangan fisika kuantum, kita adalah dawai-dawai energi yang bergetar; ketika getaran kita melambat atau menjadi kacau akibat stres, kita kehilangan sinkronisasi dengan ritme alami alam semesta yang seharusnya menopang kehidupan kita. Secara spiritual, frekuensi tinggi dan rendah melambangkan derajat resonansi antara kesadaran manusia dengan "Frekuensi Ilahi" atau Sang Pencipta. Frekuensi tinggi adalah kondisi resonansi murni yang dicapai melalui emosi koheren seperti cinta, rasa syukur, dan peniadaan ego (fana), yang memungkinkan jiwa manusia selaras dengan melodi kosmik yang mendasari seluruh realitas. Sebaliknya, frekuensi rendah bermanifestasi sebagai gangguan atau "noise" yang disebabkan oleh beratnya keterikatan materi, ketakutan, dan dominasi ego yang menciptakan jarak spiritual antara makhluk dan Penciptanya. Dengan demikian, menaikkan frekuensi pada manusia berarti memurnikan antena batin dari kebisingan duniawi agar mampu menangkap sinyal petunjuk Tuhan dengan lebih jernih, mengubah eksistensi yang berat menjadi tarian cahaya yang ringan.
Paradoks AI, sebagaimana dikemukakan oleh Virginia Dignum, menyatakan bahwa semakin besar kemampuan kecerdasan buatan dalam meniru fungsi kognitif, semakin jelas pula keunikan kecerdasan manusia yang tidak dapat tergantikan. Alih-alih memandang AI sebagai kekuatan alam yang otonom, kita harus menyadari bahwa ia adalah artefak buatan manusia yang mencerminkan desain, data, dan pilihan sadar penciptanya. Paradoks ini menantang asumsi populer bahwa mesin akan sepenuhnya menggantikan peran manusia; sebaliknya, kemajuan AI justru menjadi cermin yang mempertegas pentingnya kualitas intrinsik kemanusiaan seperti empati, intuisi etis, dan kesadaran emosional yang tetap berada di luar jangkauan logika algoritma. Perbedaan mendasar antara kecerdasan mesin dan manusia terletak pada cara keduanya memproses realitas dan memberikan makna. AI modern bekerja berdasarkan korelasi statistik dan pengenalan pola dari data masa lalu yang masif, namun ia kekurangan kemampuan untuk memahami kausalitas, konteks sosial yang dinamis, serta abstraksi kreatif. Ketergantungan pada "techno-solutionism"—keyakinan bahwa semua masalah sosial, politik, dan lingkungan dapat diselesaikan hanya dengan teknologi—sering kali mengaburkan fakta bahwa masalah sistemik membutuhkan kebijaksanaan manusia dan perubahan struktural yang nyata. Mesin mungkin mampu memberikan jawaban atau prediksi yang akurat, tetapi manusia tetap menjadi satu-satunya subjek yang mampu memberikan pertanyaan bermakna dan bertanggung jawab atas keputusan etis di balik jawaban tersebut. Pada akhirnya, tantangan utama dalam perkembangan AI bukanlah tentang mengejar kecerdasan super yang menyaingi manusia, melainkan tentang bagaimana kita mengelola kekuasaan dan akuntabilitas organisasi yang mengontrolnya. Paradoks ini menuntut kita untuk beralih dari narasi ketakutan akan dominasi mesin menuju penguatan agensi manusia melalui regulasi yang transparan dan tata kelola yang inklusif. AI harus diperlakukan sebagai sistem sosio-teknis yang harus selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan dan martabat individu. Dengan mengakui bahwa kendali dan tanggung jawab tetap berada di tangan manusia, kita dapat membentuk masa depan di mana teknologi digunakan secara sadar sebagai alat untuk memperluas kapabilitas kolektif, bukan sebagai pengganti esensi kemanusiaan itu sendiri.
Pdm. Handoyo Salim (TB) Mazmur 126:2Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!"
Kencan Dengan Tuhan - Senin, 23 Februari 2026Bacaan: "Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu. " (1 Raj 17:6)Renungan: Ada sebuah lagu rohani berjudul "Hitung Berkatmu." Di bait pertama lagu tersebut tertulis "Bila laut hidupmu jadi garang; Hati jadi takut dan iman goncang; Hitunglah berkatmu satu persatu; Ingat cara Tuhan memberkatimu". Menghitung berkat yang pernah kita terima akan melahirkan ucapan syukur atas pemberian-Nya. Dengan mengingat cara Tuhan memberkati kehidupan kita, dapat menguatkan iman dan pengharapan kita, terutama ketika kita mengalami masa-masa sukar terkait kondisi keuangan dalam kehidupan kita. Kita pun dapat meyakini, "Jika dahulu Tuhan memberkati dan menolong, ke depannya Dia juga akan melakukan hal yang sama." Mengingat hal seperti ini jauh lebih baik daripada khawatir, bukan? Bacaan hari ini mengingatkan kita akan cara Allah dalam memelihara Elia, melalui seekor burung gagak yang datang dua kali sehari membawa roti dan daging. Sukar untuk dipahami secara logika, tetapi itulah fakta bahwa Allah sanggup memelihara umat-Nya dengan berbagai macam cara. Bila perlu, Allah akan memakai cara yang tak biasa atau yang belum pernah dialami oleh siapa pun, sama seperti burung gagak dipakai-Nya untuk memberi makan Elia. Mengenai asal dari roti dan daging yang dibawa kepada Elia, biarlah menjadi bagian dari "misteri ilahi" yang tidak perlu kita pikirkan. Mari kita ingat lagi akan masa-masa di mana Allah memelihara kehidupan kita. Mungkin cara Allah tak selalu terlihat spektakuler seperti kisah Elia diberi makan oleh burung gagak. Namun yakinlah bahwa Allah yang mengasihi dan memelihara hidup kita pada masa lalu, akan terus melakukannya sampai seumur hidup kita. Mari hitunglah berkat Allah dan ingat cara Allah memberkati kita! Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, terima kasih untuk setiap berkat yang Kau berikan padaku. Ajarilah aku untuk selalu bersyukur atas setiap berkat tersebut. Amin. (Dod).
Sukhī hontu kalyāṇamittā,Tayangan video ini merupakan ovādakathā (ceramah singkat yang berisikan nasihat) oleh Sayadaw Kheminda dari siaran Live Instagram dan TikTok DBS yang diadakan setiap Sabtu, pukul 06.45 WIB. Pada kesempatan ini, Sayadaw Kheminda menyampaikan wejangan mengenai "Kenapa Ada Tawa Ketika Ada Kotoran Batin yang Selalu Berkobar".
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Hendrina Linong dan Germans Uran dari Paroki Santo Damian Bengkong, Batam, di Keuskupan Pangkal Pinang, Indonesia. Imamat 19: 1-2.11-18; Mazmur tg 19: 8.9.10.15; Matius 25: 31-46.DOMBA DANKAMBING PRAPASKAH Renungan kita pada hari ini bertema: Domba dan Kambing PraPaskah. Ada satu pesan whatsapp yang tersebar melalui grup-grup dan diteruskanorang-perorangan, katanya: Setiap tahun kita menekuni berpuasa, berdoa danberamal, namun hasilnya tidak cukup maksimal. Suatu saat kita menjadi orangbaik, di waktu lain menjadi orang jahat. Hari ini kita memilih berkat, besokbisa berubah menjadi kutuk. Pengampunan dan pertobatan terjadi pada saat pengakuandosa, tetapi setelah itu kita kembali berbuat dosa. Kita sepertinya berjuangdengan susah payah untuk menjadi orang-orang yang sempurna. Kita tahu dan mengerti semua larangan yang ditetapkan olehAllah supaya Musa menyampaikan itu kepada umat Allah untuk mengindahkan sepuluhperintah Allah, seperti yang diwartakan kitab Imamat dalam bacaan pertama.Mereka harus kudus seperti Allah dengan tidak mencuri, berdusta, bersumpahpalsu, merampas milik orang, iri, benci, marah dan sebagainya. Semua inidirumuskan secara positif dengan satu hukum utama ialah mengasihi sesama kitaseperti diri kita sendiri. Jadi di dalam masa Pra Paskah ini, sosok orang-orangberiman pengikut Kristus pas untuk digambarkan sebagai pribadi-pribadi yangberusaha dan bertumbuh dalam mengasihi sesamanya, namun tak luput dariperbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan. Misalnya seseorang berbuat amaldengan begitu tekun mengumpulkan sumbangan untuk orang-orang yang sangatmembutuhkan bantuan sandang, pangan, dan papan, namun ia juga terkenal sebagai pemfitnah dan penyebar berita bohong. Ini adalah contoh kalau kita yang menjalankan Pra Paskahini bukan sebagai orang-orang suci dan murni. Sebagian hidup rohani kita memangbaik dan suci, namun sebagian lain tidak. Yesus Kristus memang mengumpamakanmereka yang di bagian kanan ialah domba-domba dengan amal kasihnya yang besar,namun jika mau jujur kita belum sampai sempurna seperti itu. Mereka yang disebelah kiri ialah kambing-kambing dengan kelalaian besar dalam beramal kasih,namun mereka juga tidak sepenuhnya jahat seperti itu. Bisa jadi hampir semua kita di dalam masa Pra Paskah iniadalah setengah domba dan setengah kambing. Kita adalah para “dombing” di dalammasa Pra Paskah ini. Jika kita memang sudah sebagai orang-orang suci dan murni,jelas kita tidak memerlukan masa Pra Paskah. Lebih tepatnya kita langsung sajamerayakan pekan suci supaya menyatu dengan Kristus yang mati dan bangkit. Tapi ternyata tidak demikian. Sebenarnya,tidak hanya Pra Paskah tetapi juga setiap waktu di bumi ini, hidup kitabagaikan “dombing”, oleh karena itu kita harus setia kepada Tuhan danmendapatkan belas kasih kerahiman-Nya.Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Yesus Kristus,jadilah Guru dan Pengatur hidup kami. Semoga kasih-Mu mengatur hati kamisehingga kami hanya dapat mengabdi kepada-Mu seumur hidup kami. Salam Maria,penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...
Hai Wonder Kids, Kembali dalam renungan anak GKY Mangga Besar. Judul renungan hari ini adalah YESUS MENYEMBUHKAN 10 ORANG KUSTADiambil dari: Lukas 17:12–14 (TB)“Ketika Ia masuk ke suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: ‘Yesus, Guru, kasihanilah kami!' Lalu Ia memandang mereka dan berkata: ‘Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.' Dan sementara mereka di tengah jalan, mereka menjadi tahir.”Wonder Kids, hari ini kita baca kisah tentang sepuluh orang kusta. Pada zaman itu, orang yang punya penyakit kulit seperti kusta tidak boleh tinggal dekat orang lain, karena orang-orang takut penyakitnya menular. Makanya mereka berdiri jauh-jauh dan berteriak minta tolong kepada Yesus.Lalu Yesus melakukan sesuatu yang unik. Yesus tidak langsung bilang, “Sembuh sekarang!” Yesus berkata, “Pergi, perlihatkan dirimu kepada imam-imam.” Artinya, mereka harus taat dulu—melangkah dulu—percaya dulu pada perkataan Yesus. Dan Alkitab berkata sesuatu yang keren banget: “Sementara mereka di tengah jalan, mereka menjadi tahir.” Mereka sembuh sambil berjalan.Dari sini kita belajar 2 hal: Pertama, ketaatan itu penting. Mereka bisa saja berkata, “Ah, percuma… belum sembuh kok suruh pergi?” Tapi mereka memilih percaya dan taat—dan di tengah jalan Tuhan bekerja. Kedua, jangan lupa bersyukur. Di cerita ini, yang kembali untuk mengucap syukur cuma satu orang—dan orang itu bahkan bukan orang yang biasanya dianggap “paling benar” oleh orang banyak. Tapi dia justru datang kembali, sujud di kaki Yesus, dan berterima kasih.Wonder Kids, kadang kita juga begitu: kita minta tolong waktu susah, tapi setelah ditolong… kita lupa bilang, “Tuhan Yesus, terima kasih.” Yesus bukan cuma mau menyembuhkan tubuh kita—Yesus juga mau membersihkan hati kita dari dosa dan mengajar kita hidup untuk Tuhan.Wonder Kids, hari ini lakukan ini:Sebutkan 1 hal yang kamu minta kepada Tuhan belakangan ini.Lalu sebutkan 1 hal yang Tuhan sudah tolong dalam hidupmu.Ucapkan dengan mulutmu: “Tuhan Yesus, terima kasih.”Mari kita berdoa:Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau peduli dan berkuasa menolong kami. Ajari aku untuk taat kepada firman-Mu, dan jangan lupa bersyukur saat Engkau menolongku. Bersihkan juga hatiku dari dosa dan tolong aku hidup menyenangkan-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa, Amin.Wonder Kids, ingatlah: Tuhan suka anak yang taat—dan Tuhan juga suka anak yang tidak lupa bilang “terima kasih.” Tuhan Yesus memberkati.
Hi Adik-adik, selamat merenungkan Firman Tuhan ya! Doa kami, Adik-adik semakin dekat dengan Yesus, Tuhan dan Juruselamat pribadi kita. Tetap terus terhubung dengan Tuhan Yesus ya melalui doa dan saat teduh setiap hari, seperti carang yang melekat pada Sang Pokok.Renungan Audio ini dibuat untuk anak-anak layan GKI Kebayoran Baru. Pada edisi Februari 2026, renungan masih didasari oleh Saat Teduh Anak Raja (STAR) terbitan Binawarga.............................................................Edisi 23 Februari 2026Pembaca Renungan : Endang HidayantiMusik : Andreas TakdareProduksi : Tim Shema - Podcast Anak GKIKBPenanggung jawab : Komisi Anak GKI Kebayoran Baru
Di tengah krisis ekologi dan ketidakpastian sosial yang mendalam, banyak individu terjebak dalam perasaan lumpuh akibat apa yang disebut sebagai "Penyimpangan Besar" (The Great Unraveling). Kita sering kali keliru menganggap harapan sebagai komoditas yang kita miliki atau tidak kita miliki—sebuah optimisme pasif yang hanya bergantung pada kemungkinan keberhasilan di masa depan. Namun, Joanna Macy dan Chris Johnstone menantang pandangan konvensional ini dengan menegaskan bahwa harapan sejati bukanlah sebuah ramalan tentang hari esok yang cerah, melainkan sebuah respons aktif dan sadar untuk menghadapi kenyataan pahit dunia saat ini tanpa harus kehilangan kewarasan atau semangat hidup. Konsep Active Hope atau Harapan Aktif didefinisikan sebagai sebuah praktik nyata, bukan sekadar perasaan atau disposisi mental yang abstrak. Alih-alih menunggu bukti eksternal bahwa segala sesuatunya akan membaik, kita diajak untuk secara proaktif menentukan apa yang paling kita hargai dan kemudian berkomitmen untuk berpartisipasi dalam mewujudkannya. Ini melambangkan pergeseran fundamental dari peran sebagai penonton yang pesimis menjadi aktor yang terlibat dalam "Perputaran Besar" (The Great Turning), yaitu transisi historis menuju budaya yang mendukung kehidupan. Dengan cara ini, ketangguhan kita tidak lagi bersumber pada kepastian akan hasil akhir, melainkan pada integritas dan keselarasan tindakan kita dengan nilai-nilai kehidupan yang mendasar. Untuk menopang transformasi ini, perjalanan Active Hope dipandu melalui sebuah spiral proses yang dimulai dengan rasa syukur untuk memperkuat ketahanan batin sebelum kita berani menghormati rasa sakit kita bagi dunia. Pengakuan terhadap luka kolektif ini justru membuka "mata baru" yang menyadari keterhubungan mendalam manusia dengan seluruh jaringan kehidupan, melampaui batas ego individu. Dengan memahami bahwa kita adalah bagian dari sistem kehidupan yang luas, kita diberdayakan untuk melangkah maju dengan aksi nyata yang unik dan terukur. Pada akhirnya, Active Hope adalah tentang menemukan titik temu antara bakat terdalam kita dengan kebutuhan mendesak dunia, menciptakan hidup yang bermakna bahkan di tengah badai perubahan global yang paling menantang sekalipun.
Revolusi AI dalam dunia pelatihan bukan lagi sekadar fiksi ilmiah, melainkan kebutuhan strategis bagi organisasi yang ingin tetap relevan di era digital. Kecerdasan buatan mampu mengubah proses analisis kebutuhan pembelajaran yang dulunya memakan waktu berbulan-bulan menjadi hitungan menit, sehingga penyusunan kurikulum dapat dilakukan dengan kecepatan yang selaras dengan dinamika industri. Dengan efisiensi ini, tim pengembang sumber daya manusia dapat lebih fokus pada strategi jangka panjang daripada terjebak dalam urusan administratif penyusunan materi yang repetitif. Salah satu kekuatan terbesar AI adalah kemampuannya dalam menciptakan pengalaman belajar yang personal melalui konsep adaptive learning. Tidak ada lagi pendekatan "satu ukuran untuk semua," karena sistem berbasis AI dapat mendeteksi kecepatan pemahaman setiap peserta secara unik; memberikan tantangan lebih bagi mereka yang cepat tanggap dan menyediakan bantuan ekstra bagi yang kesulitan. Personalisasi ini tidak hanya meningkatkan efektivitas penyerapan ilmu, tetapi juga menumbuhkan motivasi belajar yang lebih tinggi karena setiap individu merasa didengar dan didukung sesuai kapasitasnya masing-masing. Kendati demikian, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, AI tetaplah alat bantu yang membutuhkan sentuhan manusia sebagai arsitek utamanya. Peran instruktur kini berevolusi dari sekadar penyampai informasi menjadi kurator dan mentor yang memastikan bahwa konten yang dihasilkan mesin tetap menjunjung tinggi etika, empati, dan nilai-nilai budaya organisasi. Pada akhirnya, keberhasilan pelatihan di masa depan akan sangat bergantung pada harmoni antara kecepatan pemrosesan data oleh mesin dan kedalaman rasa serta kebijaksanaan yang hanya dimiliki oleh manusia.
Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: "Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam!
Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: "Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam!
Di era digital yang penuh dengan disrupsi dan ketidakpastian, memiliki pola pikir pembelajar bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan strategis untuk mempertahankan relevansi. Konsep prowess atau kecakapan yang diperkenalkan oleh Lilian Ajayi Ore dan Marshall Goldsmith menekankan bahwa pembelajaran adalah perjalanan tanpa akhir menuju keunggulan, yang melampaui sekadar penguasaan teknis statis. Melalui kerangka "WIN Mindset"—Kemauan (Willingness), Intensionalitas (Intentionality), dan Pembinaan (Nurturing)—seorang pemimpin diajak untuk terus membuka diri terhadap pengetahuan baru, mengaplikasikannya dengan tujuan yang jelas, dan menumbuhkan rasa ingin tahu sebagai mesin penggerak pertumbuhan eksponensial. Fondasi dari pola pikir ini berakar kuat pada kepemimpinan diri yang autentik dan keberanian untuk menghadapi hambatan internal. Sebelum mampu membina orang lain, seorang pemimpin harus terlebih dahulu menguasai "Leadership in Action Pyramid" yang dimulai dari perawatan diri dan penyelarasan tindakan dengan tujuan hidup yang mendalam. Dengan mengintegrasikan model "Triple A"—Tindakan, Ambisi, dan Aspirasi—pemimpin dapat mendekode rasa takut dan mengubah kegagalan menjadi motivasi intrinsik. Hal ini memastikan bahwa potensi individu maupun organisasi tidak terbuang sia-sia, melainkan dikelola secara proaktif untuk mencapai visi masa depan yang lebih bermakna. Pada akhirnya, keberhasilan sejati dari pola pikir pembelajar diukur dari kemampuannya untuk menginspirasi dan menciptakan warisan melalui pembinaan orang lain atau Coaching Prowess. Pemimpin pembelajar bertindak sebagai pengganda kekuatan (force multiplier) yang tidak merasa terancam oleh bakat baru, melainkan dengan dermawan membagikan ilmu dan menciptakan keamanan psikologis bagi timnya untuk bereksperimen. Dengan membangun budaya organisasi yang menghargai pertumbuhan kolektif, pemimpin memastikan bahwa transformasi tidak hanya berhenti pada level individu, tetapi menjadi energi yang menggerakkan seluruh ekosistem untuk terus beradaptasi dan berkembang di tengah perubahan zaman.
Climate Capital karya Tom Chi menawarkan paradigma baru untuk menghadapi tiga krisis eksistensial abad ke-21: destabilisasi iklim, disrupsi pekerjaan oleh AI, dan perpecahan informasi global. Chi berargumen bahwa model ekonomi ekstraktif saat ini—yang hanya mengambil sumber daya dari Bumi—telah mencapai batasnya dan harus segera digantikan oleh ekonomi regeneratif atau "Net Positive". Visi ini menuntut manusia untuk melampaui konsep keberlanjutan yang pasif dan mulai secara aktif memulihkan kesehatan biosfer, di mana setiap aktivitas ekonomi yang dilakukan justru meningkatkan kualitas air, tanah, dan keanekaragaman hayati di planet ini. Untuk mewujudkan transformasi sistemik tersebut, Chi memperkenalkan empat pilar kognitif yang disebut sebagai "4Cs": Critical Thinking (Berpikir Kritis), Creativity (Kreativitas), Compassion (Kasih Sayang), dan Community (Komunitas). Berpikir kritis digunakan untuk mematahkan kerangka berpikir lama yang menghambat inovasi, sementara kreativitas difokuskan pada proses membangun melalui prototipe cepat daripada sekadar berteori. Kasih sayang berfungsi sebagai kompas etis dalam merancang teknologi agar tetap manusiawi, dan komunitas menjadi fondasi ketahanan kolektif dalam menghadapi volatilitas lingkungan yang kian meningkat. Pada bagian akhir, buku ini menjabarkan peta jalan praktis untuk transisi ekonomi melalui tiga epok, mulai dari memaksimalkan efisiensi material hingga mencapai titik di mana kehadiran manusia memperkaya metabolisme ekosistem. Chi menekankan pentingnya peran manusia sebagai "insinyur ekosistem" yang memperbaiki siklus air dan memulihkan habitat flora serta fauna, mirip dengan peran semut yang mengonsumsi banyak namun tetap menyuburkan tanah. Pada akhirnya, Climate Capital adalah sebuah seruan untuk menjadi "leluhur yang baik" dengan menginvestasikan kecerdasan dan empati kita demi meninggalkan warisan Bumi yang lebih sehat bagi generasi mendatang.
Bismillah,242. KAIDAH PENTING PADA SAAT BERIBADAHTadzkiratus saami' wal mutakallim fii adabil 'alim wal muta'alim(Adab Penuntut Ilmu dan Adab Para Ahli Ilmu)Karya Ibnul Jama'ahBab 2, Pasal 1, Poin 9 (Halaman 38, penerbit Pustaka Al-Ihsan)Ahlak Terpuji Diantaranya:Senantiasa bertaubat, ikhlas, yakin, taqwa, sabar, ridha, merasa cukup dengan karunia Allah zuhud, tawakkal, pasrah terhadap takdir Allah hati yang bersih, berprasangka baik, pemaaf, berahlak mulia, berfikir positif, berterima-kasih atas kebaikan, lemah lembut kepada makhluk, merasa malu kepada Allah dan manusia.
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Priscilla Victory Lamauran, Hendrina Linong dan Germanus Asan Uran dari Paroki Santo Damian Bengkong, Keuskupan Pangkal Pinang, Indonesia. Kejadian 2: 7-9; 3: 1-7; Mazmur tg 51: 3-4.5-6a.12-13.14.17; Roma 5: 12-19; Matius 4: 1-11.TUHANMELIHAT DAN MENGIZINKAN MANUSIA DIGODAI SETAN Tema renungan kita pada hari Minggu Pertama Prapaskahini ialah: Tuhan Melihat dan Mengizinkan Manusia Digodai Setan. Sering kalikita bertanya dalam hati: kalau Tuhan itu baik, mengapa Ia membiarkan manusiadigodai? Mengapa Ia tidak langsung menghentikan iblis sejak awal? Di TamanEden, Tuhan melihat ketika manusia pertama digoda. Di padang gurun, Tuhan jugamelihat ketika Putra-Nya sendiri, Yesus Kristus, dicobai berulang kali. Tuhantidak buta, Tuhan tidak lalai. Ia melihat. Ia tahu. Dan Ia mengizinkan. Tetapiizin Tuhan bukanlah tanda Ia setuju dengan kejahatan. Izin Tuhan selalu beradadalam rencana kasih dan keselamatan. Tuhan mengizinkan godaan karena Ia menciptakan manusiadengan kebebasan. Cinta tanpa kebebasan bukanlah cinta sejati. Kesetiaan tanpapilihan bukanlah kesetiaan. Bila manusia tidak pernah bisa memilih yang salah,maka memilih yang benar pun tidak lagi bermakna. Maka di hadapan godaan,manusia sebenarnya sedang berdiri di hadapan kesempatan: apakah ia mau percayakepada Tuhan, atau percaya pada suara lain. Di situlah iman menjadi nyata,bukan sekadar kata-kata. Kisah di Eden menunjukkan betapa manusia bisa jatuh.Ketika mendengarkan suara iblis, manusia memilih jalan yang menjauh dari Tuhan.Namun bahkan di saat jatuh itu, Tuhan tidak pergi. Ia mencari manusia,memanggil mereka, dan membuka jalan keselamatan. Jadi Tuhan tidak pernahmengizinkan godaan untuk menghancurkan manusia, melainkan untuk menuntunmanusia melihat betapa ia membutuhkan Tuhan. Dosa itu melukai, tetapi kesadaranakan dosa membuka pintu pertobatan. Lalu kita melihat Yesus di padang gurun. Ia digodaibukan sekali, tetapi berkali-kali. Iblis mencoba menggoyahkan-Nya melaluilapar, kuasa, dan kemuliaan dunia. Tetapi Yesus tidak jatuh. Ia menjawab denganSabda Tuhan, dengan kepercayaan penuh kepada Bapa. Di sinilah ada terangpengharapan: godaan tidak harus berakhir dengan dosa. Dalam Yesus, kita belajarbahwa manusia bisa berdiri teguh. Ia menunjukkan bahwa kesetiaan itu mungkin,bahwa rahmat Tuhan cukup kuat untuk menolong kita. Mungkin dalam hidup kita hari ini juga ada “padanggurun”: godaan untuk putus asa, godaan untuk marah, godaan untuk mencari jalanpintas, godaan untuk hidup jauh dari Tuhan. Jangan langsung berpikir Tuhanmeninggalkan kita. Justru sebaliknya. Tuhan melihat. Tuhan menyertai. Dan Iamengizinkan pergulatan itu agar iman kita dimurnikan, agar hati kita belajarkembali bersandar pada-Nya. Maka jangan takut terhadap godaan. Takutlah bila kitaberhenti kembali kepada Tuhan. Bila jatuh, bangkitlah melalui pertobatan. Bilakuat, bersyukurlah atas rahmat-Nya. Sebab dalam setiap pergulatan, Tuhan sedangbekerja membentuk hati kita. Ia tidak pernah meninggalkan manusia di dalampencobaan. Ia justru membuka jalan pulang. Dan di jalan pulang itu, kitamenemukan bahwa kasih Tuhan selalu lebih besar daripada godaan apa pun di duniaini. Marilah kita berdoa. Dalam namaBapa … Ya Bapa di surga, penuhilah kami dengan kuasa-Mu sehingga kami mampumengatasi godaan-godaan di dalam hidup kami dan memilih jalan untuk kembalikepada-Mu. Bapa kami yang ada di surga … Dalam nama Bapa …
Hi Adik-adik, selamat merenungkan Firman Tuhan ya! Doa kami, Adik-adik semakin dekat dengan Yesus, Tuhan dan Juruselamat pribadi kita. Tetap terus terhubung dengan Tuhan Yesus ya melalui doa dan saat teduh setiap hari, seperti carang yang melekat pada Sang Pokok.Renungan Audio ini dibuat untuk anak-anak layan GKI Kebayoran Baru. Pada edisi Februari 2026, renungan masih didasari oleh Saat Teduh Anak Raja (STAR) terbitan Binawarga.............................................................Edisi 22 Februari 2026Pembaca Renungan : Deasy SiahaanMusik : Andreas TakdareProduksi : Tim Shema - Podcast Anak GKIKBPenanggung jawab : Komisi Anak GKI Kebayoran Baru
Penguatan Aqidah dan Menanamkan Kecintaan terhadap Al-Qur’an pada Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Tarbiyah Jinsiyyah (Pendidikan Seksual Untuk Anak Dan Remaja Dalam Islam). Kajian ini disampaikan pada Selasa, 29 Sya’ban 1447 H / 17 Februari 2026 M. Kajian Tentang Penguatan Aqidah dan Menanamkan Kecintaan terhadap Al-Qur’an pada […] Tulisan Penguatan Aqidah dan Menanamkan Kecintaan terhadap Al-Qur’an pada Anak ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.
Hi Adik-adik, selamat merenungkan Firman Tuhan ya! Doa kami, Adik-adik semakin dekat dengan Yesus, Tuhan dan Juruselamat pribadi kita. Tetap terus terhubung dengan Tuhan Yesus ya melalui doa dan saat teduh setiap hari, seperti carang yang melekat pada Sang Pokok.Renungan Audio ini dibuat untuk anak-anak layan GKI Kebayoran Baru. Pada edisi Februari 2026, renungan masih didasari oleh Saat Teduh Anak Raja (STAR) terbitan Binawarga.............................................................Edisi 21 Februari 2026Pembaca Renungan : Deasy SiahaanMusik : Andreas TakdareProduksi : Tim Shema - Podcast Anak GKIKBPenanggung jawab : Komisi Anak GKI Kebayoran Baru
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Sr Tania MCFSM dan Sr Dominika MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Santa Teresa Kalkuta Bekasi di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Yesaya 58: 9b-14; Mazmur tg 86: 1-2.3-4.5-6; Lukas 5: 27-32.PUASA BERBUAHPEMBAHARUAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: Puasa BerbuahPembaharuan. Kemarin kita diterangi dalam renungan bahwa puasa kita di dalammasa Pra Paskah ini dilakukan melalui beramal dan berdoa. Ini merupakancara-cara kita berpuasa. Lalu hal berikut yang amat penting ialah buah atauhasil melakukan puasa. Apakah yang didapatkan setelah melakukan puasa? Hari inikita merenungkan bahwa dengan berpuasa orang mendapatkan pembaharuan hidup. Nabi Yesaya mengatakan bahwa orang yang berhentimenyusahkan dan menyakiti sesamanya, lalu berbalik untuk berbuat baik danberamal kasih kepada sesamanya itu, pembaharuan yang ia peroleh adalah TuhanAllah berkenan kepadanya. Tuhan akan menuntunnya senantiasa. Tuhan akanmemuaskan semua kepentingannya untuk menjadi bahagia dan selamat di dalamkehidupannya. Pembaharuan ini berkaitan dengan kehidupan rohaninya yangberkembang, di mana hubungannya dengan Tuhan ialah dalam satu keterikatan yangmenyatu. Dasarnya ialah karena ia melakukan semua perbuatan Tuhan sendiri. Yang digambarkan oleh Yesaya ini terungkap dengan sangatjelas dalam pengalaman orang-orang yang mengalami sendiri hidup dan bekerjabersama Yesus Kristus. Kita semua yang berada di dalam Gereja saat ini jugadalam situasi yang berbeda-beda memiliki pengalaman ini, terlebih-lebih selamamasa Pra Paskah, kita ingin memantapkan dan memperkuat hubungan kita denganTuhan untuk semakin menyatu dengan-Nya. Syaratnya ialah bertahan dalam iman dankesetiaan menjadi murid-murid Tuhan yang baik seperti para rasul. Pembaharuan hidup yang dampaknya kuat bagi diri seseorangatau dalam suatu kebersamaan dengan orang lain ialah pertobatan. Tandanya ialahorang meninggalkan hidup yang lama dalam kegelapan dosa dan memilih hidup barudi dalam Tuhan. Melalui berpuasa, yaitu pengalaman berjumpa dan hidup bersamadengan Tuhan, kekuatan pengaruh-Nya dapat mengubah jalan hidup seseorang.Pengalaman ini ditunjukkan oleh Lewi, si pemungut cukai yang bertemu denganYesus dan selanjutnya mengundang Yesus untuk makan di rumahnya. Si pemungutcukai ini kemudian menjadi salah satu dari ke-12 rasul Yesus. Jika puasa dalam masa Pra Paskah ini belum menunjukkantanda-tanda akan ada pertobatan di dalam diri Anda dan keluarga atau kelompokAnda, memasuki minggu pertama Pra Paskah kiranya dapat dibuatkan suatuperencanaan dalam menata kehidupan baik pribadi maupun bersama. Perencanaan itumesti dapat dikonkretkan untuk suatu pertobatan yang kemudian diwujudkan. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah maha rahim,terangi perjalanan hidup kami pribadi dan bersama di dalam masa Pra Paskah ini,sehingga kami berjalan di dalam terang untuk pertobatan kami. Kemuliaan kepadaBapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...
Ketegangan geopolitik global kembali meningkat. Konflik bersenjata di berbagai kawasan, rivalitas kekuatan besar, hingga perang proksi yang melibatkan kepentingan ekonomi dan energi dunia, menjadi sorotan serius banyak negara — termasuk Indonesia. Presiden RI menaruh perhatian khusus terhadap dinamika peperangan dunia yang kian kompleks dan berdampak langsung pada stabilitas kawasan, ketahanan nasional, hingga arah kebijakan luar negeri Indonesia.Dalam konteks itulah, kita akan mengupas secara mendalam bagaimana membaca peta konflik global hari ini, bagaimana posisi strategis Indonesia di tengah rivalitas kekuatan dunia, serta langkah antisipatif apa yang perlu disiapkan bangsa ini.Bersama Ace Hasan Syadzily, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia, kita akan membedah perspektif ketahanan nasional, geopolitik, serta proyeksi risiko global ke depan.Perbincangan ini akan dipandu oleh Pemimpin Redaksi Elshinta, Haryo Ristamaji.
Hi Adik-adik, selamat merenungkan Firman Tuhan ya! Doa kami, Adik-adik semakin dekat dengan Yesus, Tuhan dan Juruselamat pribadi kita. Tetap terus terhubung dengan Tuhan Yesus ya melalui doa dan saat teduh setiap hari, seperti carang yang melekat pada Sang Pokok.Renungan Audio ini dibuat untuk anak-anak layan GKI Kebayoran Baru. Pada edisi Februari 2026, renungan masih didasari oleh Saat Teduh Anak Raja (STAR) terbitan Binawarga.............................................................Edisi 20 Februari 2026Pembaca Renungan : Benny PosposMusik : Andreas TakdareProduksi : Tim Shema - Podcast Anak GKIKBPenanggung jawab : Komisi Anak GKI Kebayoran Baru
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Sr Modesta MCFSM dan Sr Kristin MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Santa Teresa Kalkuta Bekasi di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Yesaya 58: 1-9a; Mazmur tg 51: 3-4.5-6a.18-19; Matius 9: 14-15.BERPUASA DALAMBERAMAL DAN BERDOA Renungan kita pada hari ini bertema: Berpuasa DalamBeramal dan Berdoa. Tiga kesalehan standar yang telah kita sebutkan kemarin,masing-masingnya tidak berdiri sendiri. Berdoa bukanlah suatu tindakan yangtidak punya kaitan dengan berpuasa dan beramal. Demikian juga berpuasa danberamal. Satu perbuatan saleh membutuhkan dua lainnya supaya menjadikanseseorang saleh dan benar di hadapan Tuhan Allah dan menjadi suri teladan bagisesamanya. Renungan ini ingin membawa perhatian kita kepada berpuasayang kita lakukan melalui tindakan amal dan berdoa. Di dalam setiap perbuatankasih itu seseorang menjalankan puasanya. Demikian juga di dalam kesempatanberdoa, seseorang mengisi dan memperkuatkan puasanya. Kedua bacaan kita padahari ini menerangi iman kita tentang berpuasa dalam beramal dan berdoa. Kitab nabi Yesaya menegaskan bahwa perbuatan puasa yangsangat mengena dalam hidup bersama dan sesuai dengan kehendak Allah ialahmembuka belenggu-belenggu kelaliman. Semua bentuk kehidupan yang tertindas danterbelenggu harus dihilangkan. Perbuatan atau perilaku yang memperdayai danmenyusahkan sesama harus dihentikan. Orang-orang lapar dan haus diberikankepuasan raga mereka. Yang tidak mempunyai rumah diberikan tumpangan. Yangtidak mempunyai pakaian dipakaikan pakaian yang perlu. Semua yang dikatakan nabi dibuat begitu konkret oleh Yesusyang menjalankan misi Bapa Allah dengan ditemani oleh para rasul. Selain pararasul, ada begitu banyak murid yang mengikuti dan menyertai-Nya ke mana saja Iapergi dan dalam setiap kesempatan keberadaan-Nya. Hidup bersama dengan TuhanYesus ialah memandang Dia, berbicara dengan Dia, mendengar Dia, bersentuhandengan Dia, mengakui Dia, percaya kepada-Nya, dan berikhtiar untuk tetapbersama Dia sampai mati. Ini semua adalah kenyataan setiap saat hidup bersamadan dalam Tuhan yang memenuhi semua kriteria doa. Oleh karena itu Yesus memberikan pencerahan kepada kitabahwa, berpuasa yang benar dan sesungguhnya ialah melakukan tindakan-tindakanbersama dan di dalam Tuhan. Kehadiran-Nya menjiwai seluruh hidup kita. JikaTuhan sudah merelakan diri-Nya berada bersama kita, lalu mengapa manusiamengarang-ngarang caranya untuk berpuasa? Semua tindakan berpuasa itusebenarnya untuk siapa, padahal Tuhan yang disembah dan dimuliakan itu beradadi tengah-tengah umat-Nya? Jadi dengan berada dan bersama Tuhan, kita menjalankantindakan kasih yang dilakukan atas nama Dia, sambil berbicara dan berinteraksidengan Dia yang menguatkan kita melalui sabda dan berkat-Nya. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Allah maha benar,perkuatkanlah ketetapan hati kami untuk menekuni disiplin iman kami di dalammasa penuh rahmat ini. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...
Sukhī hontu kalyāṇamittā,Tayangan video ini merupakan ovādakathā (ceramah singkat yang berisikan nasihat) oleh Sayadaw Kheminda dari siaran Live Instagram dan TikTok DBS yang diadakan setiap Sabtu, pukul 06.45 WIB. Pada kesempatan ini, Sayadaw Kheminda menyampaikan wejangan mengenai "Melenyapkan Āsava dengan Kesabaran".
Hi Adik-adik, selamat merenungkan Firman Tuhan ya! Doa kami, Adik-adik semakin dekat dengan Yesus, Tuhan dan Juruselamat pribadi kita. Tetap terus terhubung dengan Tuhan Yesus ya melalui doa dan saat teduh setiap hari, seperti carang yang melekat pada Sang Pokok.Renungan Audio ini dibuat untuk anak-anak layan GKI Kebayoran Baru. Pada edisi Februari 2026, renungan masih didasari oleh Saat Teduh Anak Raja (STAR) terbitan Binawarga.............................................................Edisi 19 Februari 2026Pembaca Renungan : Endang HidayantiMusik : Andreas TakdareProduksi : Tim Shema - Podcast Anak GKIKBPenanggung jawab : Komisi Anak GKI Kebayoran Baru
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Sr Kresen MCFSM dan Sr Krista MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Santo Fransiskus Catholic Center di Keuskupan Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Indonesia. Ulangan 30: 15-20; Mazmur tg 1: 1-2.3.4.6; Lukas 9: 22-25.MEMILIH BERKAT Tema renungan kita pada hari ini ialah: Memilih Berkat.Setelah Rabu Abu, liturgi hari pertama yang menyusulnya mengajak kita untukmerenungkan tentang berkat Allah. Masa Pra Paskah sangat spesial mengenaidisiplin beriman dengan tuntutan volume dan kualitas yang lebih kuat kalaudibandingkan dengan masa-masa liturgi lainnya. Maka berkat Tuhan sangat kitaperlukan demi terwujudnya proses pendisiplinan ini hanya karena Tuhan berkenandengan berkat-Nya bagi setiap orang yang mengharapkan keselamatan dirinya. Dengan memilih berkat, lalu apakah yang tidak kita pilih?Atau jika Tuhan memberikan kita berkat-Nya, hal apakah yang tidak Tuhanberikan? Kitab Ulangan dalam bacaan pertama menegaskan kalau kutuk danpenyiksaan dosa bukan pilihan kita. Dalam kenyataan, ada orang memilih kutukatau sengsara karena dituntun oleh kebebasan kodratinya. Tuhan menyelenggarakanhidup ini pada awal adalah baik. Namun karena kejatuhan kodrati manusia, makakehadiran kebaikan itu harus berhadapan dengan kutukan dosa. Jadi orang bisamemilih untuk berdosa. Orang beriman dinasihatkan untuk memilih berkat. Memilih berkat berarti memilih Tuhan. Sedangkan memilihkutuk berarti memilih musuh Tuhan, yaitu setan. Yang ada pada Tuhan ialahkehidupan, cinta, dan pengharapan akan suatu keberlangsungan yang abadi.Sedangkan yang ada pada kutuk ialah kematian, kebencian, dan kesengsaraanabadi. Yesus Kristus diutus oleh Bapa ke dunia untuk mendirikan sebuah kerajaankehidupan supaya memerintah dan membawa semua orang kepada berkat. Ajaran danteladan hidup-Nya menjadi pelita dan sumber air yang menjamin keberlangsunganberkat ini dalam bentuk rahmat karunia yang dicurahkan kepada setiap orang yangmemerlukan. Hari ini Yesus Kristus memaparkan isi pilihan kita untukmengikuti Dia supaya daripada-Nya mengalir semua berkat yang kita perlukan. Didalam masa Pra Paskah berkat-berkat kita dapatkan melalui berdoa, berpuasa, danberamal kasih. Ketiga perbuatan ini mesti dapat dijalankan dalam semangat salibyang kita pikul dan ketekunan dalam penyangkalan diri. Salib selalu bermaknapengorbanan dan menghadirkan beban yang harus ditanggung. Kita berdoa, berpuasaatau bermati raga, dan beramal kasih dengan sebuah volume jumlah dan kualitassedemikian yang membuat kita menanggung beratnya seperti yang Yesus lakukan.Ketiga perbuatan saleh itu mesti juga membawa kita untuk fokus kepada penyatuanhati kita dengan Tuhan, dan bukan kepada diri sendiri dan semua kepentingan duniawi.Dari sana berkat-berkat akan mengalir kepada kita. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan YesusKristus, firman-Mu menguatkan niat kami untuk memanggul salib dan menyangkaldiri kami untuk dengan tekun mengikuti-Mu. Berkatilah kami supaya sepanjangjalan mengikuti-Mu kami menemukan diri kami yang sebenarnya. Salam Maria, penuhrahmat ... Dalam nama Bapa ...
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Sr Yolastri MCFSM dan Sr Francesca MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Santo Yosef Ampa di Keuskupan Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Indonesia. Yoel 2: 12-18; Mazmur tg 51: 3-4.5-6a.12-13.14.17; 2 Korintus 5: 20 - 6: 2; Matius 6: 1-6.16-18.KEHIDUPAN ROHANI STANDAR Renungan kita pada hari Rabu Abu ini bertema: KehidupanRohani Standar. Ada banyak sekali perubahan gaya hidup dalam keluarga-keluargakita sebagai bagian darikemajuan teknologi dan komunikasi. Keluarga Stevanus dan Melania bersama tiga anak mereka yang sudah bekerja di tempat-tempat yangberbeda, memaksimalkan komunikasi di antara mereka melalui media wa groupkeluarga. Didalam sebuah pesan wa yang dibagikan ke teman-temannya, Stevanus berkata bahwakehidupan rohani keluarganya mempunyai standar Kristiani yang sesungguhnya, khususnya saat-saat rutin untuk berdoabersama dalam keluarga, informasidiberitahukan melalui wa group keluarga itu. Tradisi dan agama Yahudi mewariskan suatu kehidupan rohanistandar yang kemudian Yesus juga mengajarkan itu kepada kita. Kerohanianstandar itu mencakup tiga perbuatan dasar yang diwajibkan, yaitu berpuasa,berdoa, dan beramal kasih. Orang Yahudi mewajibkan ini kepada setiap umatnya.Jika ketiganya dilakukan dengan teratur dan baik, seseorang dipandang beragamadengan baik dan diberkati Allah. Yesus juga membuat tiga unsur ini menjadi kekhasan para pengikut-Nya. Merekawajib berdoa, berpuasa dan berbuat kasih. Namun ada perbedaan mencolok antara kerohanian standaryang diajarkan oleh Yesus dan yang dijalankan oleh orang-orang Yahudi, terutamamenurut para pemuka agama dan kaum Farisi. Perbedaannya ialah terkait denganmotivasi atau maksud. Bagi Yesus dan yang selalu Ia tegaskan kepada kita,motivasi berdoa, berpuasa atau bermati raga, dan beramal kasih ialah untukmenjalin relasi dengan Allah. Ini benar-benar sebuah urusan rohani, urusanhati, dan kegiatan iman kepada Tuhan. Kitab nabi Yoel dalam bacaan pertama menekankansebuah pembaharuan hati, dan bukan urusan luar seperti pakaian yang dikoyakkandan aneka atribut luar lainnya yang melekat pada tubuh dan lingkungan hidupkita. Hal ini menegaskan kalau hidup rohani Yahudi sangatbertentangan dengan yang diajarkan oleh Yesus. Kerohanian mereka bukan untukTuhan tetapi untuk mendapatkan pujian orang-orang lain bahwa mereka orang sucidan baik. Upahnya sudah mereka dapatkan dengan penampilan itu, sementara Tuhantidak memberikan berkat-Nya kepada mereka. Yesus menegaskan supaya kita tidakmengikuti standar luar seperti itu. Standar kita ialah di dalam hati yanglangsung mempunyai relasi dengan Tuhan. Setiap kali melakukan ketiga kesalehanini dengan benar, itu adalah saat seseorang mengalami tanda keselamatan dariTuhan, demikian kata Santo Paulus dalam bacaan kedua hari ini. Ini adalah semangat Rabu Abu yang kita semua rayakan padahari ini untuk mengawali masa Pra Paskah kita. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan Allah,semoga dengan hari Rabu Abu ini kami dipenuhi semangat baru untuk memulaiproses pembaharuan diri di dalam masa Pra Paskah ini. Bapa kami yang ada di surga ... Dalam nama Bapa...
Hi Adik-adik, selamat merenungkan Firman Tuhan ya! Doa kami, Adik-adik semakin dekat dengan Yesus, Tuhan dan Juruselamat pribadi kita. Tetap terus terhubung dengan Tuhan Yesus ya melalui doa dan saat teduh setiap hari, seperti carang yang melekat pada Sang Pokok.Renungan Audio ini dibuat untuk anak-anak layan GKI Kebayoran Baru. Pada edisi Februari 2026, renungan masih didasari oleh Saat Teduh Anak Raja (STAR) terbitan Binawarga.............................................................Edisi 18 Februari 2026Pembaca Renungan : Endang HidayantiMusik : Andreas TakdareProduksi : Tim Shema - Podcast Anak GKIKBPenanggung jawab : Komisi Anak GKI Kebayoran Baru
Sukhī hontu kalyāṇamittā,Tayangan video ini merupakan ovādakathā (ceramah singkat yang berisikan nasihat) oleh Sayadaw Kheminda dari siaran Live Instagram dan TikTok DBS yang diadakan setiap Sabtu, pukul 06.45 WIB. Pada kesempatan ini, Sayadaw Kheminda menyampaikan wejangan mengenai "Empat Tipe Orang".
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
Tayangan video ini merupakan ovādakathā (ceramah singkat yang berisikan nasihat) oleh Sayadaw Kheminda dari siaran Live Instagram dan TikTok DBS yang diadakan setiap Sabtu, pukul 06.45 WIB. Pada kesempatan ini, Sayadaw Kheminda menyampaikan wejangan mengenai "Biku Makan Daging".
Sukhī hontu kalyāṇamittā,Tayangan video ini merupakan ovādakathā (ceramah singkat yang berisikan nasihat) oleh Sayadaw Kheminda dari siaran Live Instagram dan TikTok DBS yang diadakan setiap Sabtu, pukul 06.45 WIB. Pada kesempatan ini, Sayadaw Kheminda menyampaikan wejangan mengenai "Keraguan Raja Mahānāma".
Klasycznie już na początku nowego roku prowadzący naszego podcastu