Pinter Politik adalah Suara Politik Milenial Indonesia, yang akan membicarakan seputar politik terkini dengan pembawaan yang santai.

Thomas Djiwandono menjadi Deputi Gubernur BI di tengah krisis geopolitik Iran-AS yang guncang pasar global. Bisakah ia pecahkan “kode” ekonomi tersulit?

Restrukturisasi besar di tubuh Tentara Nasional Indonesia membuka panggung baru bagi para perwira. Dari reinkarnasi Kaster TNI hingga Pangdam Jaya berbintang tiga, “teater para panglima” ini bukan sekadar mengurai bottleneck karier—tetapi berpotensi melahirkan elite militer yang kelak memengaruhi arah politik dan demokrasi Indonesia.

Elite negara dan taipan kumpul di Meikarta bangun 140 ribu rusun. Mungkinkah ini adalah manuver catur politik tingkat tinggi?

Media sosial (medsos) dihebohkan dengan pelaporan ke pihak berwajib atas pembuat dan penyebar meme yang menyertakan sosok Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. What if kalau branding Bahliln dikerjakan oleh Gen Z juga?

Perang di Iran bukan hanya soal rudal dan strategi militer—di baliknya ada perputaran uang global yang diam-diam menggeser keuntungan, risiko, dan kekuatan ekonomi dunia.

Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan para mantan ajudannya mengingatkan satu pola menarik dalam politik Indonesia: banyak ajudan justru melesat menjadi elite negara—dari Try Sutrisno, Budi Gunawan, hingga Teddy Indra Wijaya. Mengapa kedekatan dengan pusat kekuasaan kerap menjadi jalan sunyi menuju puncak politik?

Ketika sebagian besar pemimpin dunia memilih bunker komunikasi — berbicara lewat pernyataan tertulis, konferensi pers yang dikontrol ketat, atau diam sama sekali — Reem Al Hashimy, Menteri Negara untuk Kerjasama Internasional UAE, melakukan sebaliknya. Ia tampil langsung. Ia simpul baru kepemimpinan tokoh perempuan di Jazirah Arab.

Konflik Iran-AS memukul urat nadi ekonomi negara-negara Asia. Mungkinkah krisis ini menyatukan benua Asia?

Di tengah derasnya sorotan publik dan media kepada nilai dan budaya Nahdliyin di pesantren, posisi sosial dan politik Nahdlatul Ulama (NU) mendapatkan tekanan. Mungkinkah NU butuh sosok “Gus Dur” baru?

Langkah Partai Kebangkitan Bangsa mengutuk serangan AS–Israel ke Iran memantik pertanyaan baru: sekadar sikap moral atau strategi politik? Di tengah diamnya partai Islam lain, PKB justru membaca momentum geopolitik. Apakah ini awal perebutan kepemimpinan narasi politik Islam Indonesia di panggung global?

Tiga presiden dan elite RI berkumpul saat krisis perang Iran memanas. Apakah ini kunci selamatkan Indonesia?

Sejak 2014 hingga 2022, pemerintah Indonesia menggelontorkan Rp468,9 triliun dari APBN untuk Dana Desa. Angka itu bukan kecil — ia lebih besar dari anggaran pertahanan selama beberapa tahun sekaligus. Namun, jumlah tersebut gagal mengatasi masalah kemiskinan di desa.

JK dan Dino Patti Djalal ragukan mediasi Prabowo di Iran-AS. Benarkah RI terlalu lemah untuk damaikan dua raksasa?

Konflik Iran–Israel–AS bukan sekadar dinamika Timur Tengah; ia adalah laboratorium kontemporer tentang bagaimana negara menghadapi ancaman udara berlapis. Dalam konteks ini, Jakarta—sebagai pusat gravitasi politik, ekonomi, dan militer Indonesia, menjadi pertanyaan strategis: apakah langitnya benar-benar terjaga?

Banyak negara Eropa yang punya industri alutsista kuat, seperti Jerman. Namun, mengapa Indonesia lebih memilih dekat dengan Prancis?

Jokowi resmi meninggalkan Istana Merdeka pada Oktober 2024. Ia kembali ke Solo, kota tempatnya memulai karier politik sebagai wali kota. Narasinya terasa lengkap: seorang pemimpin yang naik dari rakyat, kembali ke rakyat. Namun di balik narasi penutupan yang rapi itu, ada sesuatu yang ikut pulang ke Solo—seluruh infrastruktur kekuasaan yang ia bangun selama satu dekade.

Prabowo resmi gabung Board of Peace dan berkomitmen akan kirimkan pasukan Indonesia ke Gaza. Benarkah ini wujud ketundukan atau justru awal mimpi buruk Tel Aviv?

Sejak menjabat Menteri Pertahanan hingga kini duduk sebagai Presiden, Prabowo secara konsisten menjalankan satu agenda besar: membangun kapasitas udara Indonesia yang selama ini jauh dari memadai. Gerakannya tidak main-main dan tidak datang dari satu arah saja.

Dari ruang praktik hingga ruang kekuasaan, dokter Indonesia pernah menjadi arsitek bangsa, teknokrat, hingga diplomat. Namun, di balik legitimasi rasional dan etika profesi, mereka jarang mencapai puncak politik. Mengapa demikian?

Dari Soekarno hingga Jokowi, berbagai tuduhan hukum menghampiri para eks presiden Indonesia. Namun tak satupun yang benar-benar terjerat pidana. Kini sorotan tertuju pada Jokowi terkait proyek Kereta Cepat Whoosh yang dituding merugikan negara. Apakah ada konsensus tak tertulis bahwa mantan presiden Indonesia kebal hukum?

RI-AS baru saja teken kesepakatan dagang yang longgarkan transfer data ke luar negeri. Benarkah kedaulatan data kita sedang digadaikan?

Di era Fadli Zon sebagai Menteri Kebudayaan, viralitas budaya Indonesia justru memuncak. Namun, mengapa negara terasa kehilangan rasa?

Program makan bergizi gratis untuk anak-anak sekolah yang menjadi salah satu agenda utama pemerintahan Prabowo bukan sekadar kebijakan sosial biasa. Jika kita membaca lebih dalam, ini adalah pernyataan filosofis yang tegas tentang relasi negara dan tubuh warganya.

Impor batu bara kokas dari AS dinilai sebagai langkah strategis untuk mengamankan pasokan bahan baku vital demi memperkuat industri baja dan mempercepat transformasi industri nasional.

Menjelang 500 tahun Jakarta pada 2027, panggung perayaan berubah menjadi arena kalkulasi kekuasaan. Dari revitalisasi kota hingga ambisi juara Persija, semua mengarah pada satu tanya: sekadar klimaks kinerja, atau batu loncatan Pramono Anung menuju pertarungan politik 2029?

Ratusan triliun uang pajak mengalir untuk LPDP. Namun, benarkah beasiswa ini murni untuk rakyat atau sekadar subsidi silang bagi kaum elite?

Bahlil Lahadalia tumbuh di lingkungan yang miskin. Ia dibesarkan dalam keluarga sederhana, jauh dari privilese. Busung lapar pernah menjadi bagian dari cerita hidupnya. Ia pernah berjualan koran, menjadi sopir angkot—pekerjaan-pekerjaan yang oleh sebagian orang dianggap sebagai batas akhir dari sebuah takdir. Namun, semua dilakukannya tanpa pernah berhenti belajar, dan berkat semangat pantang mundur serta anti-baper yang dimilikinya, Bahlil kini jadi rujukan bagi status: politisi jenius Indonesia.

Di tengah pemanasan dini menuju 2029, Anies Baswedan diuji: aktor otonom atau produk patronase? Antara bayang-bayang Surya Paloh dan Jusuf Kalla, pertarungan sesungguhnya bukan sekadar dukungan elite, melainkan soal siapa menguasai mesin, ideologi, dan masa depan politik 2029.

PSI gelar kirab budaya di Tegal, Jokowi hadir dampingi Kaesang. Hanya pesta rakyat, atau irisan pertama untuk merebut benteng Jawa Tengah?

Kasus korupsi di daerah sering kali luput dari sorotan publik, padahal dampaknya langsung dirasakan masyarakat. Regulasi seperti Permendagri No.77/2020 kini kembali jadi sorotan karena dinilai membuka celah lemahnya pengawasan anggaran daerah.

Senyapnya PKS tanpa kursi di Kabinet Merah Putih berbanding terbalik dengan manuver PKB yang meraih posisi strategis di pemerintahan Prabowo–Gibran. Dari satu koalisi Pilpres, lahir dua jalan berbeda. Apakah ini awal tarung masa depan dua kutub politik Islam Indonesia?

Konflik besar tidak pernah Meletus di Iran meski tensi geopolitik terus meningkat. Mengapa demikian?

Negara panen Rp300 T dari sawit ilegal & aset koruptor. Mengapa “uang panas” ini bisa buat LPDP dan program-program lain “menyala”?

Dari filantropi hingga kontroversi, Ferry Irwandi berdiri di persimpangan: tetap sebagai aktor wacana di ruang publik digital, atau melangkah ke politik representasi lewat partai seperti Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Antara idealisme, kompromi, dan risiko kehilangan independensi, inilah ujian sesungguhnya seorang influencer politik.

Maraknya industri romansa dinilai mulai menjadi disrupsi ekonomi. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Ahok dan Purbaya mewakili arketipe pejabat yang menabrak kenyamanan birokrasi dengan cara yang sangat berbeda, namun memiliki DNA yang sama: keberanian untuk tidak populer.

Hashim Djojohadikusumo sebut ada “telur busuk” di pemerintah dan swasta. Sinyal bahaya nyata atau sekadar strategi “sentil-menyentil”?

Agus Widjojo bukan sekadar perwira militer biasa. Jenderal kelahiran Surakarta 8 Juli 1947 ini adalah representasi dari generasi jenderal intelektual yang langka di Indonesia. Di masa akhir Orde Baru, ketika mayoritas perwira masih terjebak dalam romantisme perang kemerdekaan sebagai justifikasi peran sosial-politik ABRI, Agus berani mengutarakan pemikiran yang menggugat.

Musim hujan kembali membuka luka lama: jalan berlubang, tambal sulam, nyawa melayang. Di Jakarta dan Jawa Barat, sorotan tertuju pada kepemimpinan Pramono dan KDM. Apakah ini sekadar cuaca, atau ada problem tata kelola dan dugaan kongkalikong aspal bolong?

Dokumen Epstein dibuka, warganet ramai-ramai minta maaf ke Dharma Pongrekun. Mungkinkah validasi konspirasi ini menjadi sinyal lahirnya kekuatan politik baru?

Rp7 miliar per bulan, korupsi jadi rutinitas. Kasus Bea Cukai bukan sekadar OTT, tapi cermin pembiaran negara. Di era Presiden Prabowo, ini bisa menjadi senjata dari aktor dengan tangan tak terlihat yang mengganggu stabilitas—atau momentum balik arah pemberantasan korupsi klasik.

Pesona Tiongkok dalam politik internasional dinilai bisa berdampak pada erosi hubungannya dengan Rusia. Mengapa demikian?

Dalam termodinamika, entropi adalah ukuran ketidakteraturan sebuah sistem. Hukum kedua termodinamika menyatakan bahwa entropi dalam sistem tertutup cenderung meningkat menuju ketidakteraturan maksimal. Analogi ini sangat relevan untuk membaca kondisi NasDem saat ini. Banyaknya kasus hukum, kader yang berpindah, dan berbagai persoalan, membuat publik mempertanyakan akan seperti apa masa depan NasDem.

Di usia 18 tahun, Gerindra justru menikmati golden age—kuat secara elektoral, solid secara institusional, dan matang dalam regenerasi. Dari Prabowo hingga kader muda progresif, Gerindra tak sekadar bertahan, tetapi memberi sayap bagi masa depan kekuasaan politik Indonesia.

Indonesia memutuskan untuk bergabung dengan Board of Peace (BoP). Mungkinkah ini kesempatan untuk menjadi jembatan atau malah masuk ke jebakan?

Roy Suryo laporkan Eggi Sudjana soal penistaan agama. Oposisi malah sibuk ribut sendiri, jangan-jangan ini skenario “spin-off” baru?

Selama puluhan tahun, Indonesia memiliki satu obsesi yang nyaris tidak pernah padam: menjadi bangsa yang tidak sekadar membeli teknologi, tetapi mampu menciptakannya sendiri. Di balik setiap proyek mobil nasional, pesawat, hingga roket dan satelit, selalu tersimpan semangat yang sama—teknologi sebagai simbol kedaulatan, kebanggaan, dan kemajuan. Dari pesawat N250 Gatotkaca karya BJ Habibie hingga ambisi mobil nasional Presiden Prabowo Subianto, kisah teknonasionalisme Indonesia menunjukkan bahwa sains dan rekayasa bukan sekadar urusan teknis, melainkan politik identitas bangsa.

Kritik keras Gatot Nurmantyo terhadap Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bukan sekadar sengketa antar-pejabat tinggi. Ini adalah simptom dari paradoks fundamental reformasi Indonesia—sebuah pertarungan antara niat baik dan unintended consequences, antara desain institusional dan realitas politik.

Rupiah bergejolak, Gubernur BI Perry Warjiyo disorot. Tapi benarkah Bank Indonesia satu-satunya koki di “dapur” forex? Di balik pasar sekitar US$9,6 triliun per hari, kiranya ada “Master Chef” tak terlihat—jaringan kekuasaan finansial yang menentukan rasa akhir nilai tukar Indonesia yang mungkin saja sebenarnya diketahui oleh Perry sendiri

IHSG sempat anjlok 16,7% usai ‘disemprit' MSCI. Benarkah pasar kita bobrok, atau ini strategi Barat menekan ekonomi RI?

Dari beberapa nama yang menyambangi kantor Sekretariat Kabinet, Emil Dardak dan Susi Pudjiastuti adalah dua nama yang secara positif memiliki ekspektasi tinggi di tengah isu reshuffle beberapa waktu belakangan.