POPULARITY
Categories
Menjelang bulan suci Ramadan tahun ini, berbagai laporan dari pasar tradisional di sejumlah daerah menunjukkan adanya tekanan kenaikan harga beberapa komoditas pangan pokok seperti telur ayam, bawang, cabai, dan daging seiring meningkatnya permintaan musiman// Fenomena ini berpotensi berdampak langsung pada daya beli masyarakat, terutama pada kelompok rumah tangga berpendapatan rendah yang masih sangat bergantung pada pasar tradisional untuk kebutuhan harian// Seperti apa tantangan utama yang dihadapi pedagang dalam menjaga ketersediaan pasokan sekaligus menahan laju kenaikan harga di pasar tradisional? Talk: Sekretaris Umum Induk Koperasi Pedagang Pasar (Inkoppas), Andrian Lame Muhar
Pendengar Elshinta, dalam beberapa pekan terakhir bencana terjadi hampir bersamaan di berbagai wilayah Indonesia, dari Sumatera hingga Jawa dan kawasan timur. Fenomena ini memunculkan pertanyaan tentang kondisi sistem alam dan lingkungan kita saat ini.Radio Elshinta menghadirkan Prof. Dr. Ir. Yanto Santosa, DEA, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, untuk membahas fenomena bencana dari sudut pandang ilmu lingkungan dan kehutanan. Diskusi ini mengulas keterkaitan perubahan iklim, kondisi ekosistem, dan aktivitas manusia, serta pentingnya pengelolaan lingkungan berkelanjutan untuk mengurangi risiko bencana ke depan.
Fenomena lubang raksasa yang terjadi di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, terus meluas hingga setengah badan jalan tergerus.Seperti apa kondisi terkininya? Berikut liputan jurnalis Metro TV, Muhammad Zakaria, dari Aceh Tengah, Aceh.
Dulu, satu pekerjaan dianggap cukup. Hari ini, banyak anak muda justru menjalani lebih dari satu peran sekaligus. Fenomena ini dikenal sebagai polyworking. Bagi sebagian orang, ini peluang untuk bertahan dan berkembang. Namun bagi yang lain, justru menjadi sumber kelelahan baru.Di Vigenk – Visi Generasi Kini, kita akan membaca tren polyworking secara jernih:Apakah ini strategi yang perlu dikelola dengan sistem yang tepat, atau tanda perubahan besar dalam dunia kerja.Bersama kita telah hadir Tantri, System Management Expert dan Founder Xperteam Consultant.
Satu pekerjaan sering terasa tidak cukup. Fenomena polyworking kian marak di kalangan anak muda.Dalam episode VIGENK (Visi Generasi Kini) Radio Elshinta edisi 23 Januari 2026, Tantri, System Management Expert dan Founder Xperteam Consultant, membahas perbedaan polyworking dan kerja sampingan, risikonya terhadap burnout, serta cara menjalaninya secara sehat dan terkelola.
Delapan dekade Indonesia merdeka, namun kemerdekaan dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar seperti air minum masih menjadi pertanyaan besar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 mengungkapkan fakta yang mengejutkan: 40% masyarakat Indonesia masih bergantung pada air galon atau air minum dalam kemasan (AMDK) untuk memenuhi kebutuhan minum sehari-hari. Fenomena ini bukan sekadar pilihan konsumen, melainkan cerminan absennya negara dalam menjamin hak dasar warga negaranya. Ketika akses terhadap air minum harus dibeli dengan harga yang tidak murah, pertanyaan mendasar muncul: apakah kita benar-benar sudah merdeka dalam urusan air minum?
Konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 54% PDB Indonesia, menjadikannya tulang punggung utama perekonomian nasional. Di balik angka tersebut, kelas menengah memegang peran sentral sebagai penggerak konsumsi, namun sekaligus menjadi kelompok yang paling rentan terhadap tekanan ekonomi. Daya beli yang tergerus, pendapatan yang stagnan, serta meningkatnya biaya hidup membuat konsumsi semakin sensitif dan rapuh. Fenomena seperti maraknya paylater, belanja online yang didominasi produk impor, hingga munculnya istilah Rojali dan Rohana mencerminkan perubahan perilaku konsumsi yang lebih berhati-hati dan penuh kompromi.Pada episode Speakonomics kali ini, Divisi Kajian KANOPI FEB UI berkesempatan berdiskusi dengan Andry Asmoro untuk mengurai “Kekuatan Tak Terlihat: Mengurai Kekuatan Kelas Penggerak Perekonomian Indonesia”. Diskusi ini membahas bagaimana peran kelas menengah dalam menopang konsumsi nasional, tantangan yang mereka hadapi di tengah tekanan ekonomi, serta implikasinya terhadap keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.
Projo, relawan yang dulu menjadi simbol militansi Jokowi, kini mengesankan bahwa mereka seolah menghadapi ujian identitas saat menghilangkan siluet Jokowi dari panjinya. Loyalitas, strategi, atau oportunisme? Fenomena ini agaknya membuka tabir problematik relawan dalam politik kekuasaan Indonesia.
Kaj vse danes razumemo z besedo maske in kako jih od prejšnega tedna predstavljajo v Slovenskem etnografskem muzeju? Razstavo z naslovom »Maske: od rituala do karnevala«, odprta bo do konca avgusta 2027, bodo tokrat predstavili avtorji razstave: vodja projekta razstave o maskah mag. Adela Pukl in njena kolega, mag. Anja Jerin, sicer tudi ena od koordinatoric varstva nesnovne kulturne dediščine, in Miha Špiček, vodja oddelka za dokumentacijo v muzeju. Od odprtja 15. januarja je tam na voljo tudi publikacija, ki z enajstimi prispevki desetih avtoric in avtorjev poglablja razumevanja fenomena mask kot univerzalne manifestacije kultur človekovih skupnosti. FOTO: Z leve Anja Jerin, Miha Špiček in Adela Pukl VIR: Program Ars, Goran Tenze
The Australian New Year's resolution phenomenon often ends in failure in no time, as revealed by the latest research from MyFitnessPal. - Fenomena resolusi tahun baru di Australia sering kali berakhir dengan kegagalan dalam waktu singkat, sebagaimana diungkapkan oleh riset terbaru dari MyFitnessPal.
Fenomena hipdut Tenxi mengguncang media sosial dan panggung musik tanah air. Benarkah ini sekadar tren “norak” atau ada dimensi sosial-politik di baliknya?
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyoroti maraknya pakar dan pengamat yang kerap berbicara di berbagai podcast YouTube, namun dinilai terlalu jauh menafsirkan bahkan mengklaim mengetahui apa yang dipikirkan dan akan dilakukan presiden. Pernyataan ini memantik diskusi publik tentang kualitas ruang diskursus digital, otoritas keilmuan, serta batas antara analisis dan spekulasi di ruang publik.Lalu bagaimana seharusnya publik menyikapi fenomena “pakar instan” di ruang digital? Apakah kritik Presiden Prabowo menjadi peringatan penting untuk menjaga kualitas diskursus publik, atau justru tantangan bagi demokrasi digital yang semakin terbuka? Kita akan membahasnya bersama Guru besar komunikasi politik LSPR Institute of Communication and Business (LSPR Institute), Prof. Dr. Lely Arrianie, M.Si
Program Work From Anywhere (WFA) yang diluncurkan pemerintah hingga 4 Januari 2026, seiring Indonesia Great Sale, membuka peluang Work From Mall sebagai alternatif bekerja jarak jauh. Kebijakan yang digelar di 24 provinsi oleh Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana ini dinilai dapat mendorong kunjungan ke pusat perbelanjaan.Namun, apakah WFA mampu mengurangi fenomena “Rojali dan Rohana” di mal? Bagaimana respons pengelola pusat belanja terhadap kebijakan ini? Simak perbincangan bersama Alphonzus Widjaya, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), dalam Talk Elshinta.
Ilmu agama ‘fast food’ berbanding kelas agama berstruktur- ada yang lebih baik ke nak belajar agama dalam era TikTok dan AI sekarang? Macam mana nak pastikan tak hilang adab dan sumber yang sahih? Bersama Natasha Mustafa, hos NoTapis, episod ini menampilkan perkongsian Cik Sutinah Sujaair dan Encik Amirul Aqmal, pelajar Diploma Pengajian Islam Cordova, serta Ustazah Zulaikha Ishak dari Andalus. Andalus, Cordova dan Al-Zuhri menawarkan program-program agama untuk semua peringkat. Dapatkan informasi lanjut di:ANDALUS: www.andalus.com.sgCORDOVA: www.cordova.com.sgAL-ZUHRI: www.zuhri.com.sg 00:00 – Fenomena ilmu 'segera' di media sosial02:05 – Semuanya bermula di rumah09:54 – Ilmu 'fast food' tak semestinya ilmu 'sahih'14:33 – Peranan guru, adab belajar dan amanah ilmu18:46 – AI dan teknologi: Memudahkan atau mengelirukan?21:35 – Belajar fikir, bukan 'telan' saja apa yang tersedia26:29 – Belajar agama 'online' + bersemuka dengan guru = Ilmu lebih menyeluruh37:28 – Mula dengan langkah kecil duluSee omnystudio.com/listener for privacy information.
Fenomena warga begitu melihat jalan berlubang, taman rusak atau pembatas jalan yang copot, warga kini sigap memotret lalu memviralkan.
Fenomena Hutang, Pinjaman Online, dan Kesehatan Mental #kesehatanmental - Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
Di tengah pesatnya kemajuan teknologi digital dan kecerdasan buatan, ekonomi global sesungguhnya masih terbelenggu oleh aset yang paling primitif dan tidak bergerak: tanah. Fenomena yang disebut sebagai "Jebakan Tanah" (The Land Trap) ini bukanlah sisa-sisa sistem feodal masa lalu, melainkan sebuah bom waktu finansial yang aktif. Seperti yang diungkapkan oleh jurnalis Mike Bird, obsesi dunia modern terhadap kepemilikan tanah telah menciptakan ilusi kekayaan semu. Alih-alih mendorong inovasi produktif, sistem ekonomi kita justru bergantung pada inflasi harga aset yang suplainya tetap dan tak tergantikan ini, menciptakan kerentanan struktural yang berbahaya. Inti dari jebakan ini terletak pada transformasi fungsi tanah dari sekadar tempat tinggal atau lahan produksi menjadi instrumen spekulasi finansial utama. Perubahan drastis terjadi ketika bank-bank mulai memprioritaskan pemberian kredit perumahan dibandingkan pinjaman untuk usaha produktif—sebuah fenomena yang dikenal sebagai "The Great Mortgaging". Karena tanah dianggap sebagai agunan yang sempurna (tidak bisa dicuri dan nilainya cenderung naik), bank membanjiri pasar dengan kredit, yang kemudian mengerek harga tanah semakin tinggi. Siklus ini menciptakan gelembung aset yang menguntungkan pemilik properti namun mematikan daya saing ekonomi, memperlebar jurang ketimpangan, dan menyedot modal yang seharusnya digunakan untuk inovasi teknologi dan bisnis. Dampak dari ketergantungan ini terlihat jelas dalam siklus ledakan dan kehancuran ekonomi global, mulai dari "Dekade yang Hilang" di Jepang, Krisis Finansial 2008 di Amerika Serikat, hingga krisis properti di Cina saat ini. Kenaikan harga tanah yang tak terkendali menciptakan "ekonomi zombie" di mana produktivitas stagnan karena investasi lebih mengejar rente tanah daripada penciptaan nilai baru. Namun, studi kasus Singapura menawarkan secercah harapan bahwa jebakan ini bisa dihindari. Dengan memisahkan kepemilikan tanah dari hak penggunaannya dan mengontrol spekulasi secara ketat, negara dapat menjadikan tanah kembali sebagai sumber daya publik yang strategis untuk kesejahteraan bersama, bukan sekadar komoditas spekulatif yang menyandera masa depan ekonomi.
Bismillah,FENOMENA SUAMI TAKUT ISTRI(The Fear of Wife Phenomenon)Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri -Hafizhahullah-Video Pendek dari Kajian Tadzkiratus Saami' No. 230“Cara Luqman Mengajarkan Kesabaran”
Komisi Pemberantasan Korupsi kembali menggelar dua operasi tangkap tangan terhadap kepala daerah — Gubernur Riau Abdul Wahid dan Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko.Keduanya diduga terlibat kasus suap yang berkaitan dengan proyek pembangunan dan promosi jabatan.Fenomena ini kembali membuka mata publik bahwa praktik korupsi di level pemerintah daerah masih saja berulang, meski sistem otonomi daerah telah berjalan lebih dari dua dekade dengan harapan dapat menghadirkan tata kelola yang lebih transparan dan akuntabel.Apakah pelaksanaan otonomi daerah selama ini justru membuka celah baru bagi penyalahgunaan kekuasaan di tingkat lokal? Dan bagaimana seharusnya pengawasan serta reformasi birokrasi daerah diperkuat agar otonomi benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat? utk membahasnya kami telah bersama Pakar Otonomi daerah/ Guru Besar IPDN, Prof Djohermansyah Johan
Apa yang mendorong seseorang sengaja menabrakkan diri ke kendaraan atau kereta? Dalam Edisi Siang Elshinta (6/11/2025), News Anchor Telni Rusmintantri berbincang dengan Psikolog sekaligus CEO Rumah Konseling, Muhammad Iqbal, Ph.D. Mereka membahas sisi psikologis di balik fenomena ini, kaitannya dengan depresi, tekanan sosial, hingga pentingnya kehadiran negara dan teknologi untuk menjaga rasa aman publik.
Pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana pikiran, perasaan, dan kesadaran kita bisa muncul dari gumpalan jaringan biologis di kepala kita? Misteri pikiran manusia telah membingungkan para pemikir selama berabad-abad. Penjelasan tradisional sering kali terasa kurang memuaskan—apakah itu jiwa yang tak terlihat atau sekadar program komputer kompleks? Konsep "Pikiran yang Muncul" menawarkan pandangan yang revolusioner: kecerdasan dan kesadaran bukanlah entitas misterius atau kode yang kaku, melainkan hasil menakjubkan dari interaksi miliaran sel saraf sederhana di otak kita. Bayangkan ribuan burung terbang bersama, membentuk pola-pola indah di langit tanpa ada satu pemimpin pun . Pola rumit ini muncul dari aturan sederhana yang diikuti oleh setiap burung terhadap tetangganya. Demikian pula, pikiran kita—kemampuan kita untuk berpikir, merasakan, mengingat, dan memutuskan—muncul dari interaksi kolektif neuron-neuron individual. Tidak ada satu neuron pun yang "berpikir", tetapi dari kerja sama mereka yang kompleks, muncullah kecerdasan yang kita alami. Fenomena ini, yang dikenal sebagai emergensi, adalah kunci untuk memahami bagaimana sesuatu yang begitu rumit seperti pikiran dapat timbul dari komponen-komponen dasar. Kerangka kerja untuk memahami pikiran emergen ini adalah melalui jaringan saraf, baik yang ada di otak kita maupun model tiruan yang dibuat oleh para ilmuwan. Dengan mempelajari bagaimana unit-unit sederhana dalam jaringan ini saling mengaktifkan, bagaimana koneksi di antara mereka terbentuk dan berubah melalui pengalaman (belajar), kita dapat mulai mengungkap mekanisme di balik fungsi kognitif kita. Pendekatan ini tidak hanya menawarkan pemahaman yang lebih dalam tentang diri kita sendiri tetapi juga menjadi dasar bagi kemajuan kecerdasan buatan (AI) modern, menunjukkan bahwa prinsip-prinsip pikiran yang muncul berlaku baik pada manusia maupun mesin.
Isu mengenai dana pemerintah daerah yang mengendap kembali mencuat setelah Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan keprihatinannya terhadap besarnya anggaran daerah yang belum terserap secara optimal. Fenomena ini memunculkan pertanyaan: apa yang sebenarnya menjadi kendala utama dalam penyerapan anggaran, dan bagaimana solusi agar dana publik tidak terus mengendap di kas daerah?Dampak terhadap pembangunan, serta langkah strategis yang perlu dilakukan pemerintah daerah agar anggaran bisa lebih cepat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.Talk:- Pakar Politik, Kebijakan dan Otonomi Daerah, UGM Prof Purwo Santoso- Pengamat Keuangan, Irwan Ibrahim
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta agar pelaku praktik saham “gorengan” di pasar modal dikenai sanksi tegas. Fenomena ini masih marak dan dianggap menurunkan minat generasi muda untuk berinvestasi secara sehat.#Saham #PasarModal #PurbayaYudhiSadewa #Ekonomi #MenteriKeuangan
Aktor Ammar Zoni kembali terjerat kasus narkoba di Rutan Kelas 1 Jakarta Pusat sejak Januari 2025. Ia berperan sebagai penampung narkoba dari luar rutan, yang kemudian diserahkan kepada lima warga binaan lain untuk diedarkan. Kasus ini menjadi yang ketiga kalinya menimpa Ammar Zoni.Fenomena publik figur yang kembali terjerat narkoba, bahkan di dalam rutan, menimbulkan pertanyaan serius mengenai pengawasan dan rehabilitasi. Simak wawancara lengkap bersama Ketua Dewan Pembina Gerakan Nasional Anti Narkotika (GRANAT) sekaligus Mantan Kepala BNN, Komjen Pol (Purn) Togar M. Sianipar
Sebuah video memperlihatkan ratusan santri ikut mengecor bangunan bertingkat di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, viral di media sosial. Fenomena ini ramai diperbincangkan publik, terlebih setelah tragedi runtuhnya bangunan di Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo, pada Senin (29/9/2025).Peristiwa tersebut menguatkan dugaan bahwa literasi konstruksi bangunan yang aman masih minim, ditambah kurangnya pengawasan terstruktur di lapangan. Bagaimana seharusnya hal ini dicermati, dan apa pandangan para pakar?Simak wawancara kami bersama Pengurus Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Kementerian PUPR, sekaligus Wakil Ketua Komite di KADIN, Prof. Dr. Ir. Manlian Ronald A. Simanjuntak, ST., MT., D.Min., IPU., ASEAN Eng.
Fenomena “Tepuk Sakinah” viral di media sosial karena dinilai unik, menyenangkan. Fenomena ini pertama kali viral setelah KUA Menteng, Jakarta, mengunggah video yel-yel tersebut pada Desember 2024 dan viral pada bulan September ini. Tepuk sakinah biasa digunakan dalam ice breaking program Bimbingan Perkawinan Kementerian Agama Kemenag untuk menanamkan nilai memperkokoh hubungan rumah tangga. Sementara itu Menurut data Direktorat Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung, dalam lima tahun terakhir, tercatat 604.463 kasus perceraian pada pasangan dengan usia pernikahan 1 hingga 5 tahun.Lantas bagaimana sebenarnya esensi tepuk sakinah ini dan seperti apa peran KUA dalam membina keharmonisan keluarga indonesia ?Narasumber : Kasubdit Bina Keluarga Sakinah Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah Ditjen Bimas Islam Kemenag RI, H. Zudi Rahmanto, S.Ag. M. Ag
Ekonomi modern sedang mengalami pergeseran fundamental. Jika sebelumnya dominasi pasar dipegang oleh model bisnis linier, yang dikenal sebagai pipeline, kini lanskap bisnis didominasi oleh perusahaan yang memanfaatkan ekonomi jaringan. Berbeda dengan model tradisional yang berfokus pada produksi berurutan, model jaringan menciptakan nilai dengan menghubungkan berbagai pihak dan memfasilitasi interaksi mereka. Pergeseran ini menjadi mungkin berkat efisiensi teknologi digital yang mampu memangkas biaya transaksi hingga nyaris nol. Fenomena kunci di balik kesuksesan ini adalah efek jaringan. Efek ini menjelaskan bagaimana nilai sebuah platform meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah pengguna, menciptakan lingkaran positif yang mendorong pertumbuhan eksponensial. Namun, pertumbuhan ini juga membawa tantangan, seperti masalah ayam atau telur, di mana platform harus menarik basis pengguna yang memadai di semua sisi pasar untuk menjadi relevan. Ini adalah tantangan yang sering mengarah pada polarisasi pasar, di mana hanya satu platform yang berhasil mendominasi. Pada akhirnya, keberhasilan jangka panjang sebuah platform sangat bergantung pada tata kelola yang baik. Tata kelola ini adalah sistem aturan yang mengatur interaksi dan membangun kepercayaan di antara pengguna. Dengan penetapan harga yang cerdas dan mekanisme seperti sistem rating dan ulasan, platform dapat memaksimalkan nilai bagi semua pihak yang terlibat. Memahami prinsip-prinsip ini menjadi kunci untuk menavigasi dunia ekonomi digital yang terus berubah dan dinamis.
Tahukan Anda beda bahasa yang digunakan partai Demokrat dan partai Rebuplik di Amerika Serikat? Partai Demokrat cenderung menggunakan bahasa yang inklusif dan berfokus pada tanggung jawab sosial kolektif. Mereka sering menggunakan istilah seperti "kelas pekerja," "kesetaraan," dan "jaring pengaman sosial" untuk mengadvokasi peran pemerintah yang lebih besar dalam ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Sebaliknya, Partai Republik menekankan kebebasan individu dan pemerintahan yang terbatas. Mereka menggunakan istilah seperti "pasar bebas," "tanggung jawab pribadi," dan "reformasi pajak" untuk mempromosikan pengurangan regulasi dan pemotongan pajak. Perbedaan ini terlihat jelas dalam isu-isu spesifik; misalnya, istilah "pajak kematian" (Republik) digunakan untuk memicu sentimen negatif terhadap "pajak warisan" (Demokrat). Kedua partai menggunakan strategi pembingkaian (framing) untuk membentuk persepsi publik terhadap suatu isu. Dalam debat tentang perubahan iklim, Demokrat membingkainya sebagai krisis eksistensial yang membutuhkan tindakan segera berbasis sains, menggunakan kata-kata seperti "darurat iklim" dan "energi terbarukan." Sebaliknya, Republik sering kali membingkainya sebagai masalah ekonomi yang dapat merusak bisnis dan mengorbankan pekerjaan, menggunakan frasa seperti "pemerintahan berlebihan" dan "kemandirian energi." Secara retoris, Demokrat cenderung menggunakan data dan fakta untuk argumennya, sementara Republik sering kali menggunakan retorika yang lebih emosional dan populis untuk membangun identitas kelompok yang kuat. Media berita memainkan peran penting dalam memperkuat perbedaan bahasa ini. Media dengan orientasi politik yang berbeda (misalnya, Fox News vs. MSNBC) sering kali menggunakan kosakata yang berbeda untuk menggambarkan peristiwa yang sama. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa media konservatif cenderung menggunakan kata-kata seperti "perusuh" untuk menggambarkan peserta unjuk rasa, sementara media liberal menggunakan kata-kata seperti "pengunjuk rasa." Fenomena ini, yang disebut "bahasa generik", menyederhanakan dan memperkuat stereotip tentang kelompok lawan, membuat warga dari partai yang berbeda seolah-olah hidup di alam semesta linguistik yang terpisah. Hal ini memperparah polarisasi politik dan menghambat komunikasi lintas partai.
Perempuan kerap kali menjadi target kekerasan seksual. Kalis Mardiasih, seorang penulis dan fasilitator gender bercerita mengenai perjuangan agar hak - hak korban kekerasan seksual terpenuhi, berangkat dari pengalaman pribadi. Kalis juga berbagi tentang bagaimana menjadi seorang muslim feminis di tengah sistem patriarki.—Uncensored bersama Andini Effendi ingin memulai percakapan mengenai isu yang kerap dianggap tabu. The Elephant in the Room adalah topik yang diketahui semua orang, namun tidak berani membicarakannya. Dengan berdiskusi secara terbuka, kami harap masyarakat bisa lebih terbuka pikiran dan hatinya.New episode drops every Thursday!Jangan lupa follow & Subscribe kami di:https://www.instagram.com/cauldrontalks/https://www.youtube.com/channel/UCIs1JAa6LciLsjwkQ-caGawhttps://fb.watch/dv-wICk08O/Dengarkan juga podcast kami di:https://open.spotify.com/show/6pHdBM4Jr0JMwBvbVCMiQI?si=cc66a009ea964c3ahttps://podcasts.apple.com/id/podcast/uncensored-with-andini-effendi/id1627192280https://www.deezer.com/show/3726527https://www.spreaker.com/show/cauldron-talkshttps://www.podchaser.com/podcasts/cauldron-talks-4726619Host Andini Effendi:https://www.instagram.com/andinieffendi/Kalis Mardiasih:https://www.instagram.com/kalis.mardiasih/https://www.kalis.id/https://twitter.com/mardiasihProduction House:https://www.summertimestudios.com/https://www.instagram.com/summertimexstudios/—Timestamps04:36 Awal mula Aktivisme Kalis11:18 Momentum Kalis fokus pada isu kesetaraan gender13:30 Muslimah yang diperdebatkan23:19 Dinding pembatas kemerdekaan perempuan26:12 Tentang sistem Patriarki29:24 Pentingnya UU TPKS bagi Kalis38:09 Pertolongan pertama bagi penyintas kekerasan seksual43:04 Fenomena mengkafirkan orang lain46:22 Kebencian dari netizen50:00 Feminisme untuk Kalis Mardiasih52:45 Gender equality di Indonesia saat ini53:50 Perubahan yang bisa dilakukan
Fenomena anak sekolah yang berangkat tanpa sarapan masih menjadi masalah serius di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mengungkap, sebanyak 41 persen anak usia sekolah tidak sarapan sebelum ke sekolah. Padahal, sarapan merupakan sumber energi penting untuk menunjang konsentrasi dan proses belajar. Ironisnya, hanya 10 persen anak Indonesia yang mendapat sarapan seimbang, sementara sebagian besar lainnya mengandalkan makanan tidak lengkap atau sekadar karbohidrat, yang berdampak langsung pada daya serap pelajaran dan kesehatan anak. Apa saja dampak yang bisa timbul, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, jika anak-anak usia sekolah terbiasa tidak sarapan sebelum memulai aktivitas belajar? Talk bersama Dokter dan Ahli Gizi Masyarakat, Dr. dr Tan Shot Yen, M.hum
Fenomena pengibaran bendera “One Piece” jadi sorotan jelang HUT Kemerdekaan. Pengibaran simbol bajak laut dari anime asal Jepang ini dinilai sebagai bentuk protes dan ekspresi ketidakpuasan rakyat terkait beragam kebijakan pemerintah.Sementara, pemerintah justru menganggap fenomena ini sebagai upaya memecah belah bangsa.Lalu, benarkah fenomena ini sebagai ekspresi kekecewaan rakyat atau memang untuk memecah belah bangsa?
Online Seller Daily Life - Jualan Online - Kehidupan Entrepreneur
Hello guys, episode ini berisi tentang fenomena kopi di Jakarta belakangan ini, gw cuma mau cerita aja hehehe Have a nice day guys!
Menyoroti data BPS yang sebut pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2025 mencapai 5,12 persen, di tengah fenomena Rojali, Rohana dan gelombang PHK. Talk: Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) DKI Jakarta, Nurjaman.
Buku "Beyond Collaboration Overload" karya Rob Cross menyoroti paradoks modern di mana kolaborasi yang berlebihan, alih-alih meningkatkan efisiensi, justru menjadi sumber utama stres dan penurunan kinerja. Cross berpendapat bahwa kita terjebak dalam bentuk kolaborasi disfungsional yang membebani waktu dan kapasitas kognitif. Fenomena ini dipicu oleh faktor-faktor internal seperti keinginan untuk membantu, rasa puas dari pencapaian, dan ketakutan dicap buruk, serta pemicu kecemasan seperti ketakutan kehilangan kendali dan ketidaknyamanan terhadap ambiguitas. Beban ini dapat muncul sebagai "lonjakan" tiba-tiba atau "pembakaran lambat" yang mengikis kesejahteraan secara bertahap. Sebagai solusi, Cross memperkenalkan konsep "kolaborasi esensial" yang merupakan bagian dari "lingkaran tak terbatas" yang saling memperkuat. Sisi pertama lingkaran berfokus pada "merebut kembali waktu" dengan menantang keyakinan pribadi yang tidak produktif, menerapkan struktur baru dalam pekerjaan (seperti menentukan tujuan "Bintang Utara" dan mengelola kalender secara strategis), serta mengubah perilaku untuk merampingkan praktik kolaborasi. Ini termasuk mengelola rapat dan email secara efisien, menggunakan pesan langsung dan media kaya secara strategis, serta membangun kepercayaan untuk mengurangi permintaan persetujuan yang tidak perlu. Setelah waktu berhasil direbut kembali, sisi kedua lingkaran berfokus pada "menginvestasikan kebebasan baru" untuk meningkatkan kinerja dan kesejahteraan. Ini melibatkan mobilisasi jaringan yang luas untuk skala dan inovasi melalui tiga cakrawala waktu (pendek, menengah, panjang), menjadi "energizer" yang menarik bakat dan peluang melalui tujuan dan kepercayaan, serta mencari pembaruan melalui koneksi pribadi di luar pekerjaan. Dengan menerapkan strategi ini, individu dan organisasi dapat membebaskan diri dari beban kolaborasi, meningkatkan efektivitas, dan mencapai kehidupan yang lebih berarti dan produktif secara holistik.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta turun ke Pasar Tanah Abang dan Blok M untuk mendengarkan langsung keluhan para pedagang terkait sepinya pembeli. Fenomena "Rojali" (rombongan jajan lihat-lihat) dan "Rohana" (rombongan hanya nanya) menjadi gambaran sepinya pasar offline akibat maraknya belanja online.Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta turun ke Pasar Tanah Abang dan Blok M untuk mendengarkan langsung keluhan para pedagang terkait sepinya pembeli. Fenomena "Rojali" (rombongan jajan lihat-lihat) dan "Rohana" (rombongan hanya nanya) menjadi gambaran sepinya pasar offline akibat maraknya belanja online.
Fenomena kekhawatiran pelaku usaha memutar lagu Indonesia karena kewajiban membayar royalti. Ini respon Pembina Federasi Serikat Musisi Indonesia yang juga pengawas LMKN (Lembaga Manajemen Kolektif Nasional) - Candra Darusman
Sejauh mana batas ekspresi publik bisa diterima dalam konteks nasionalisme dan hukum? atas Fenomena pengibaran bendera bertema "One Piece" yang menuai polemik.Ini Respon Anggota Komisi III DPR RI, Nasir Djamil
Fenomena rombongan jarang beli (Rojali) dan rombongan hanya tanya (Rohana) di mal dan pusat perbelanjaan banyak dikaitkan dengan kemiskinan di perkotaan. Rojali dan Rohana dianggap mencerminkan pelemahan daya beli karena masyarakat mengerem belanja.Namun, analisis itu ditepis Kementerian Perdagangan dengan mengklaim bahwa saat ini daya beli masyarakat masih terjaga. Rujukannya adalah data Bank Indonesia pada Mei 2025 yang menunjukkan Indeks Penjualan Riil (IPR) masih tumbuh 1,9 persen yoy, dan IPR Juni juga diperkirakan kembali tumbuh 2 persen yoy.Setali tiga uang, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan tren Rojali dan Rohana merupakan bentuk dinamika konsumsi masyarakat yang berubah di tengah tekanan ekonomi, bukan perkara kemiskinan.Jumlah penduduk miskin nasional per Maret 2025 tercatat 23,85 juta orang. Menurut BPS, ini capaian angka kemiskinan terendah selama 20 tahun terakhir.Namun, ketika diulik, persentase kemiskinan di kota justru naik menjadi 6,73 persen dan angka setengah pengangguran di perkotaan meningkat 460 ribu orang. Hal ini menunjukkan bahwa keterbatasan pendapatan juga dialami masyarakat urban.Apakah tren Rojali dan Rohana layak dijadikan indikator kemiskinan? Bagaimana pengusaha pusat perbelanjaan dan pembuat kebijakan merespons fenomena ini? Bagaimana intervensi pemerintah dalam mendongkrak daya beli masyarakat dan menekan angka kemiskinan di perkotaan?Di Ruang Publik KBR kita akan bahas bersama Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonsus Widjaja, Staf Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) Ninasapti Triaswati Ph.D, dan Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PDIP Selly Andriany Gantina.
Belakangan ini muncul fenomena Rojali atau rombongan jarang beli dan Rohana atau rombongan nanya nanya doang. Para pengunjung tersebut datang ke mall, bukan untuk bertransaksi, namun untuk tujuan non transaksi. Apakah fenomena Rojali dan Rohana menggambarkan turunya daya beli masyarakat? Talk bersama Dosen Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan dari FISIPOL UGM, Dr. Hempri Suyatna.
Di episode ini, kami mengupas bagaimana fenomena FOMO—khususnya saat hype konser Coldplay—mendorong banyak orang melakukan pembelian impulsif demi "ikut-ikutan". Tapi di balik euforia itu, muncul celah yang dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab: penipuan tiket palsu. Lewat monolog reflektif ini, podcast ini membongkar sisi gelap budaya konsumen modern, tekanan sosial, dan bahayanya keputusan gegabah hanya demi validasi digital. Hanya di Obrolan JuKo
Masalah mendasar dalam komunikasi kebijakan di lingkungan birokrasi, termasuk di Kementerian Kehutanan, bukanlah kurangnya data atau kompetensi intelektual, melainkan budaya komunikasi yang usang. Fenomena yang dikenal sebagai "Death by PowerPoint" di mana presentasi menjadi tumpukan data yang padat, teks yang kecil, dan jargon teknis, telah menjadi "penyakit" menahun. Akar masalahnya terletak pada mindset yang lebih menghargai kelengkapan data daripada kejelasan makna, sehingga beban pemahaman dilimpahkan kepada audiens. Kegagalan komunikasi ini memiliki konsekuensi serius, mengubahnya dari sekadar isu soft skill menjadi masalah kompetensi inti yang dapat menghambat persetujuan anggaran, menjauhkan investasi, dan menggagalkan pemahaman publik terhadap program-program vital. Solusi untuk masalah ini menuntut pergeseran paradigma fundamental, yaitu dengan menempatkan audiens sebagai pusat dari setiap presentasi. Mengadopsi kerangka kerja dari pakar komunikasi Nancy Duarte, presenter harus mengubah perannya dari "pahlawan" yang menyajikan data menjadi "mentor" yang memandu audiens. Setiap presentasi harus dibangun di atas satu "Ide Besar" yang kuat dan jernih, serta menggunakan struktur naratif dramatis yang membandingkan kondisi "apa adanya sekarang" dengan visi "bisa jadi apa nanti" untuk menciptakan urgensi. Transformasi ini juga harus tercermin dalam desain visual melalui prinsip Slide:ology: memprioritaskan alur cerita sebelum desain, menerapkan aturan "satu slide, satu pesan", dan memanfaatkan kekuatan visual serta ruang kosong untuk menonjolkan pesan kunci, bukan menenggelamkannya dalam kebisingan informasi. Untuk mengimplementasikan revolusi ini, para pemimpin perlu menguasai berbagai format modern seperti Pecha Kucha yang ringkas dan visual, serta Gaya TED yang naratif dan emosional. Kunci keberhasilannya bukanlah memilih salah satu, melainkan menggunakan pendekatan hibrida yang strategis, memilih alat yang tepat untuk tujuan dan audiens yang spesifik. Namun, adopsi alat dan teknik ini tidak akan berarti tanpa perubahan budaya yang dipimpin dari atas. Diperlukan komitmen pimpinan untuk menjadi teladan, didukung oleh program pelatihan komprehensif, dan penciptaan panggung internal seperti "Kementerian Kehutanan Talks" untuk mendorong inovasi. Pada akhirnya, tujuan dari transformasi ini bukanlah sekadar untuk membuat rapat lebih menarik, melainkan untuk memenangkan pertarungan narasi dan memastikan kisah keberhasilan pengelolaan hutan Indonesia didengar dan dihargai oleh dunia.
Sejumlah Wakil Menteri (Wamen) di Kabinet Merah Putih ditunjuk sebagai komisaris di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun anak usahanya. Fenomena rangkap jabatan oleh para Wakil Menteri tersebut memicu polemik, apakah Wamen bisa menjalankan tugasnya secara maksimal dengan dua tanggung jawab sekaligus. Bagaimana melihat fenomena rangkap jabatan Wakil Menteri yang juga duduk sebagai Komisaris BUMN? Apakah ini sehat secara etika publik? Talk bersama Pengamat Kebijakan Publik, Andrinof Chaniago.
Selamat datang di Podcastnya Algonz (P N G) — sebuah kreasi modern dari Divisi Media dan Informasi UKMKK St. Algonz Universitas Airlangga! Podcast ini hadir sebagai wadah penyebaran informasi dengan gaya yang unik, membahas isu-isu aktual seputar kehidupan Katolik, mahasiswa, dan tren sosial yang sedang berkembang.Di episode kali ini, kami mengangkat tema Childfree dan membahasnya dari sudut pandang Gereja Katolik. Fenomena pasangan muda yang memilih untuk tidak memiliki anak semakin ramai diperbincangkan. Tapi, apakah pilihan ini sejalan dengan ajaran Gereja? Apa alasan di balik keputusan tersebut? Dan bagaimana seharusnya Gereja merespons tren ini?
Khutbah Jum'at - Ustadz Muhammad Halid Syar'ie, Lc. hafizhahullahu.Judul : Fenomena Maraknya Judi Online.Sumber : YouTube.
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa jurang antara si kaya dan si miskin terasa semakin lebar, bahkan di tengah kemajuan zaman? Ekonom Prancis Thomas Piketty, melalui mahakaryanya Capital in the Twenty-First Century, membongkar rahasia di baliknya dengan satu rumus sederhana namun kuat: r>g. Artinya, tingkat pengembalian modal (r) secara historis selalu tumbuh lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi (g). Ini bukan sekadar teori, melainkan mesin utama yang secara otomatis mendorong konsentrasi kekayaan di tangan segelintir orang, di mana masa lalu—dalam bentuk modal warisan—secara perlahan "memakan" masa depan. Piketty menelusuri sejarah ketimpangan dalam kurva berbentuk U yang dramatis. Periode kesetaraan relatif di pertengahan abad ke-20 bukanlah hasil alami dari kemajuan, melainkan sebuah anomali yang disebabkan oleh guncangan dua Perang Dunia dan kebijakan pajak progresif yang radikal. Kini, kita menyaksikan kembalinya "kapitalisme patrimonial", di mana warisan sekali lagi menjadi penentu utama status sosial dan ekonomi. "Dilema Rastignac" dari novel Balzac kembali relevan: apakah lebih menguntungkan bekerja keras atau menikahi seorang ahli waris kaya? Fenomena ini mengancam nilai-nilai meritokrasi yang kita junjung tinggi. Karya Piketty memicu perdebatan global, menuai pujian sekaligus kritik tajam. Namun, di luar kontroversi, ia menawarkan solusi radikal untuk mengatur kapitalisme abad ke-21: pajak modal global yang progresif. Tujuannya bukan sekadar untuk mengisi kas negara, tetapi untuk mengendalikan spiral ketidaksetaraan yang tak berujung dan menciptakan transparansi keuangan global. Apakah ini sebuah utopia atau langkah penting untuk masa depan demokrasi? Dengarkan episode lengkapnya untuk memahami bagaimana dinamika ini membentuk dunia kita dan apa artinya bagi masa depan Anda.
Jakarta saat ini (18 Juni 2025) seharusnya memasuki musim kemarau (musim panas), namun justru sering turun hujan. Fenomena ini dikenal sebagai kemarau basah, di mana curah hujan tetap tinggi meski sudah masuk musim kemarau. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor atmosfer global dan regional yang menyebabkan hujan masih turun secara berkala di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Episode kali ini ngobrol lagi sama Co Pilot.
VOA This Morning Podcast - Voice of America | Bahasa Indonesia
Hadapi rencana deportasi massal, beberapa wali kota di negara-negara bagian yang dikuasai Partai Demokrat di AS persiapkan langkah antisipatif. Sementara itu, “No Viral, No Justice” jadi fenomena baru di Indonersia.
Program Parliament Talk di episode 16 berbincang bersama Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat, Supardi mengenai tanggapan terhadap fenomena tawuran yang sedang marak terjadi saat ini di kota Padang.
+Koju ulogu su igrali novi mediji u stvaranju novog imidža?+Da li su mediji ogledalo stvarnosti ili samo pričaju neophodnu poslovnu priču?+Da li se od trka pravi reality show?https://fantasy.formula1.com/en/leagues/join/P5SEDGFHU02KOD ZA LIGU: P5SEDGFHU02Ukoliko želite da podržite ekipu Infinity Lighthouse i sve što radimo, najbrže je kroz Patreon i YouTube članstvo.Patreon: https://www.patreon.com/infinitylighthouse YT: https://www.youtube.com/channel/UCQ2D37u3DU1XGxxriq5779Q/joinGost: Ivan MinićDomaćini: Dejan Potkonjak i Srđan Erceg#lap76#infinitylighthouse#f1 00:00:00 Početak00:14:00 Podaci i kako se mediji koriste00:17:40 Šta su novi mediji? 00:22:48 Ličnosti kao mediji -Hamilton, Lando...00:31:15 Mediji u džepu, aplikacije i forme00:41:50 Danas smo svi online01:08:20 Komercijalizacija kao komunikacija01:14:00 Sadržaj, kontent - pričajte priče01:25:00 Kako je nastao IL01:32:40 Novi mediji i slanje poruke01:42:14 Poruka društvu kod medije primer igrica i striminga02:11:45 Kako tehnologije menjaju poglede na svet 02:19:46 F1 povećava svoj digital futprint02:24:48 F1 TV aplikacija02:43:10 Prenosi sezone 202102:51:30 Bitka koja nas tek čeka - autorska prava03:09:10 Promena medijskog tržišta03:17:50 Ulazak u svet medija i novinarstva03:38:00 Patreoni------------------------------HUMANITARNI KUTAKPomozimo Martinu!Slanjem SMS poruke: Upišimo 1503 i pošaljimo SMS na 3030Slanjem SMS poruke iz Švajcarske: Upišimo human1503 i pošaljimo SMS na 455Uplatom na dinarski račun: 160-6000001670866-23Uplatom na devizni račun: 160-6000001671337-65IBAN: RS35160600000167133765SWIFT/BIC: DBDBRSBGUplatom platnim karticama putem linka: E-doniraj (https://www.budihuman.rs/edonate/sr?user_id=1503)Uplatom sa vašeg PayPal naloga putem linka: PayPal (https://www.budihuman.rs/paypal/sr/donate?user_id=1503)-----------------NAŠA PRODAVNICA - ️https://shop.infinitylighthouse.comSvi koji žele da obogate svoju biblioteku prelepim delima o Formuli 1 i MotoGP-u ili se obuku u naše, zajedničke, boje, tu je naša zvanična prodavnica knjiga, majica i kačketa.NAŠE DRUŠTVENE MREŽE Instagram - https://instagram.com/infinitylighthouse Facebook - https://facebook.com/theinfinitylighthouseTwitter - https://twitter.com/infinitylighthsSPORTSKE VESTI - https://sportsmagazin.rsMusic credit: Envato Elements Item/Cinematic Heroic by StudioKolomnaAutor: Srđan ErcegDatum: 25. jul 2024.Lokacija: Studio na kraju UniverzumaProdukcija: Infinity Lighthouse https://www.youtube.com/infinitylighthouseWebsite: https://infinitylighthouse.com/This episode is part of “(RE)Think to Survive”, a podcast series produced by Infinity Lighthouse, within the UNESCO project “Building Trust in Media in South-East Europe: Support to Journalism as a Public Good”, financed by the European Union. The series aims at promoting Media and Information Literacy among citizens. The digital age has brought new tools (such as Artificial Intelligence) to find, produce and share information, that impact our lives and influence social behavior, economic situation, political stance, security and government actions. In some cases, the use of those tools put at risk human rights, relationships and well-being. (RE)Think the way we drive in the digital age is like motor racing: it's a matter of survival for our societies.Zabranjeno je svako kopiranje i neovlašćeno preuzimanje video i/ili audio snimaka i postavljanje na druge kanale! Nije dozvoljeno koristiti materijal sa ovog kanala, bilo u celosti ili iz segmenata, bez licenciranja / plaćanja kako za komercijalnu, tako i za nekomercijalnu upotrebu.Svaka upotreba bez licenciranja za komercijalnu ili nekomercijalnu / privatnu upotrebu biće procesuirana. Za sve informacije o pravima, za upite o licenciranju i dobijanju dozvole za korišćenje možete nas kontaktirati putem naše zvanične email adrese.Copying, re-uploading, and illegally distributing this copyrighted work is strictly prohibited! Label and copyright: Infinity Lighthouse and UNESCO ★ Support this podcast on Patreon ★