POPULARITY
Categories
Tuhan menjanjikan tanah Kanaan kepada keturunan Abraham untuk tujuan-Nya yang Ilahi. Demikian pula kerja-Nya dalam membebaskan bangsa Israel dari perbudakan; Supaya mereka berjalan dalam janji-Nya untuk keselamatan dunia. Bagaimana kita merespon panggilan Tuhan dan setiap anugrah yang Dia telah berikan?Ibu Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 14 Juni 2026.Kirim pesan
Generasi baru dari Bangsa Israel telah sampai di ambang masuk ke tanah perjanjian. Transisi sudah akan dimulai sebab Musa, hamba Tuhan itu, telah hampir habis masa kepemimpinannya. Bagaimana bangsa itu tetap bekerja menurut petunjuk Tuhan? Adakah Tuhan memberikan tepat sesuai janji-Nya? Bagaimana kita dapat mengerti arti bekerja dalam janji Tuhan?Ibu Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 7 Juni 2026.Kirim pesan
Tanah Perjanjian bukan hanya sekedar tempat yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham untuk keturunannya diam di situ. Lebih dari pada itu, Abraham, Ishak, dan Yakub memandang kepada tanah itu sebagai tempat digenapinya janji yang jauh lebih besar dari sekedar wilayah. Kini, Bangsa Israel telah sampai di ambang batas masuk ke tanah itu. Bagaimana tuntunan Tuhan terhadap bangsa itu? Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 31 Mei 2026.Kirim pesan
Bukan kebetulan Tuhan memberikan Roh-Nya yang Kudus pada hari raya Pentakosta. Hari dimana pemeluk agama Yahudi berkumpul untuk merayakan berkat dan kehadiran-Nya, dipakai Tuhan untuk mengaruniakan Roh-Nya dari Surga. Apakah kuasa Roh Yang Kudus itu diberikan kepada setiap orang yang berkumpul saat itu? Atau, kepada siapakah Roh itu diberikan? Sudahkah saudara menerima penyertaan Roh Kudus?Ibu Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 24 Mei 2026.Kirim pesan
Tuhan Yesus naik ke Surga dengan memberikan janji dan perintah. Perintah yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya bukanlah sebuah perintah yang harus dikerjakan seorang diri. Sebab Roh Kudus dijanjikan-Nya untuk menyertai kesaksian mereka yang percaya kepada-Nya. Apakah kita mau mengerjakan perintah-Nya sembari menanti janji kedatangan-Nya?Ibu Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Kenaikan Tuhan Yesus, 14 Mei 2026.Kirim pesan
Kirim pesan
Banyak orang berbicara tentang janji Tuhan dan kegenapan-Nya, namun tidak banyak yang mau ambil pusing mengingat firman-Nya apalagi bekerja memperoleh janji itu. Padahal, dari mana kita tahu bahwa penggenapan janji Tuhan itu tepat jika kita tidak mengingat apa janji itu? Memang hanya percaya, namun percaya memerlukan iman, dan iman adalah dasar pengetahuan. Detail janji Tuhan kepada Abram, yang juga diberinya kepada Yakub, kini telah di depan mata Bangsa Israel. Bagaimana kita tahu bahwa negri yang akan diberikan Tuhan itu tepat seperti perkataan-Nya? Dan bagaimana generasi baru bangsa yang dipimpin-Nya ini bekerja, bukan hanya dengan tenaga tetapi juga iman dan pengetahuan, dengan disiplin memperoleh kegenapan janji Tuhan? Bagaimana pula kita melihat bahwa TUHAN adalah Allah yang adil, bukan hanya kepada Israel, tetapi kepada bangsa-bangsa yang lain?Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 3 Mei 2026.Kirim pesan
Kirim pesan
Paskah adalah peringatan yang dikehendaki Tuhan. Penyelamatan dari kematian, penebusan dari perbudakan, dan perayaan kemerdekaan harus dilaksanakan oleh Bangsa Israel sebagai perayaan bagi Tuhan. Namun, tidak semua orang dapat mengadakan perayaan bagi Tuhan ini. Hanya mereka yang sudah menguduskan diri sesuai hukum Tuhan dan mempersiapkan paskah yang dapat mengadakan perayaan bagi Tuhan ini. Bukan dari manusia peraturan ini, tetapi dari Tuhan yang menginisiasikan perayaan bagi-Nya. Paskah bukan hanya tentang kasih Tuhan yang membebaskan umat-Nya, namun juga respon iman manusia yang mau merayakan Dia dengan taat sesuai hukum-hukum-Nya. Bagaimana kita? Adakah kita telah merespon kasih-Nya dengan benar, meneladani ketaatan Sang Putra?Kirim pesan
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Rosalia dari Geraja St. Yohanes Penginjil, Paroki Blok B di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Kisah Para Rasul 2: 14.22-32; Mazmur tg 16: 1-2a.5.7-8.9-10.11; Matius 28: 8-15.KOTBAH KESAKSIANKEBANGKITAN PERTAMA Renungan kita pada hari ini bertema: Kotbah KesaksianKebangkitan Pertama. Para rasul dan murid Yesus yang menjadi saksi mata wafatdan kebangkitan Yesus Kristus merupakan satu hal yang berbeda dengan mewartakanberita kebangkitan. Kedua jenis pengalaman dan tindakan ini mudah sajadipisahkan. Bisa saja mereka menjadi saksi langsung, namun kemudian merekatidak ingin mengabari atau membagi pengalaman ini kepada orang banyak. Tetapinyatanya, hal ini tidak terjadi. Yang sungguh terjadi menurut Kisah Para Rasul ialah merekamewartakannya. Supaya kabar ini cukup satu saluran dan penuh dengan kewibawaan,pewartaan pertama kali itu harus bersifat kelembagaan, resmi bagai siaran perssatu pintu, dan disampaikan oleh pribadi yang memiliki otoritas untuk melakukanitu. Itu yang kemudian kita sebut sebagai kotbah kesaksian kebangkitan yangpertama. Kotbah ini disampaikan secara resmi oleh kepala atau yang dituakan didalam Gereja perdana, yaitu rasul pertama, Santo Petrus. Kotbah itu intinya berbunyi begini: Yesus Kristus yangditentukan Allah untuk memenuhi semua janji di masa lalu adalah Mesiassesungguhnya. Ia dihukum mati dengan tuduhan tidak benar dan tidak adil. Iatelah mati dan dikubur, namun kini dibangkitkan Allah. Semua yang berkaitandengan kematian dan kebangkitan-Nya, Petrus dan para rasul lainnya adalahsaksi. Supaya kotbah ini tidak sekedar kata-kata kosong, pembuktian peristiwatersebut dan rekaman pengalaman para saksi mata merupakan faktor yang sangatmenentukan kebenarannya. Pembuktian dan pengalaman itu dikonfirmasi oleh teksbacaan dari Injil Matius 28, 8-15, yang mengisahkan tentang para perempuan yangpergi ke makam pada hari pertama dalam pekan. Yesus yang bangkit menampakkandiri dan menyalami mereka: “Salam bagimu”. Kemudian Yesus juga mengatakankepada mereka: “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku,supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku”.Pembuktian ini diperkuat oleh kenyataan fisik tentang makam yang kosong dan tidakada satu pun bahkan dari kalangan orang-orang Yahudi tahu-menahu ke manajenazah Yesus dibawa pergi dari makan, hingga pada saat ini. Pembuktian baik fisik maupun pengalaman penampakan Tuhanyang bangkit ini untuk seterusnya menjadi isi kitab suci dan ajaran iman yangkita miliki sampai sekarang. Kita yang hidup pada saat ini mewarisi kekayaanrohani pembuktian dan pengalaman tersebut. Namun lebih daripada suatupembuktian yang telah dilakukan oleh Petrus dan para rasul serta murid lainnya,kita cukup menaruh iman kita akan kebenaran ini, karena melalui itu YesusKristus memasuki hidup kita masing-masing dan membangkitkan kita untuk hidupbersama Dia. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah maha kuasa, penuhilah kami dengankekuatan kebangkitan Yesus Tuhan kami. Bapa kami yang ada di surga ... Dalamnama Bapa ...
Empat puluh tahun sebelumnya, bangsa yang besar itu telah hampir sampai. Namun ketidakpercayaan akan firman Tuhan membuat mereka harus menerima pengajaran dan penghajaran Tuhan, hingga habislah angkatan yang tidak percaya itu. Kini, di tempat yang sama mereka berdiri. Tuhan yang sama, umat tebusan yang sama, namun generasi yang berbeda. Apakah perjalanan generasi yang percaya ini sudah selesai atau adakah lagi kepercayaan mereka diuji? Sudah layakkah mereka menerima janji itu?Ev. Sri Umiyati dalam Ibadah Epiphaneia, 22 Maret 2026.Kirim pesan
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Ludgardis Nona Lembata dan Daniel Nama dari Paroki Santo Bernardus Abbas Tokojaeng di Keuskupan Larantuka, NTT, Indonesia. Hosea 14: 2-10; Mazmur tg 81: 6c-8a.8bc-9.10-11ab.14.17; Markus 12: 28b-34.MENGASIHI DENGANSEGENAP HATI Renungan kita pada hari ini bertema: Mengasihi DenganSegenap Hati. Tuhan sebagai maha kuasa dan maha tinggi tidak bisa digambarkandalam perkataan dan tindakan-Nya hanya sebagian, setengah, atau beberapa saja.Itu sama saja dengan menganggap Dia tidak mampu atau menurunkan kekuatan-Nya.Ia selalu dan tetap dipandang berkata dalam kepenuhan dan berbuat dalamkeseluruhan. Tuhan mencintai seorang bayi dengan cinta-Nya penuh, demikian jugakepada seorang kakek berusia 90 tahun. Itu berarti di dalam Tuhan tidak adayang namanya mengasihi sedikit, sebagian atau setengah saja. Sebaliknya Iamengasihi dengan segenap hati. Ia mengasihi dengan penuh dan total. Tuhan adalah pemilik cinta kasih dengan segenap hati. Didalam kepenuhan ini terdapat kuasa-Nya untuk mengampuni bukan dengan cicilantiap minggu atau tiap bulan atas dosa-dosa manusia. Ia mengampuni satu kalisecara penuh. Jika manusia kembali berbuat dosa, Ia juga mengampuni satu kalilagi secara penuh. Nubuat nabi Hosea dalam bacaan pertama menggambarkan TuhanAllah dalam kuasa-Nya untuk mengampuni, kemudian memulihkan umat-Nya secaratotal. Sebagai pemilik belas kasih dan kerahiman, Ia mencurahkan kita rahmatsupaya kita ikut mengampuni seperti Dia. Jika kita kekurangan semangat untukmengasihi dengan segenap hati, kita temukan jalan untuk datang kepada-Nyasupaya diperkuat lagi dengan kemampuan mencintai sepenuhnya. Tuhan yang pertama mengasihi kita dengan segenap hati.Melalui berbagai pengalaman dikasihi itu, kita belajar untuk mengasihi sepertidiri-Nya. Yesus melakukan pelayanan publik di sekitar Galilea dan banyak daerahdi sekitarnya dengan pusat ajaran-Nya ialah cinta kasih. Di mana-mana terdapatorang kagum dan menjadi tertarik dengan-Nya. Seorang ahli Taurat pun merasakanada panggilan untuk mencari Yesus agar mendapatkan pencerahan tentang kebenaranbelas kasih Allah. Ia ternyata dapat menemukan orang yang benar dan tepat,yaitu Yesus Kristus. Dari Yesus kita peroleh hukum cinta kasih yang utuh. Kitamengasihi Bapa dalam dan melalui Dia. Kalau orang mengenal, mengerti, danmengasihi Allah di surga tanpa melalui Yesus Kristus, berarti pembenaranKristiani dalam diri mereka pantas dipertanyakan. Kita juga mengasihi sesamasebagai penghayatan ajaran dan teladan-Nya yang berkorban demi kebaikan dankeselamatan umat manusia. Ajaran-Nya di dalam kitab suci yang terkenal dengan“Kotbah di Bukit” dan “Sabda Bahagia” menunjukkan betapa Yesus sudah mempersiapkansecara penuh perincian tindakan kita dalam mengasihi sesama. Hukum mengasihi dengan segenap hati bukan sekedardikaruniai atau ditaruh di dalam diri setiap manusia, tetapi terlebih-lebihdipelajari, dilatih, dan dimatangkan dari waktu-waktu supaya dapat menyerupaiKristus sendiri. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah maha kuasa, buatlah diri kamimengasihi Dikau dan sesama kami dengan segenap hati. Kemuliaan kepada Bapa danPutra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...
Tempat yang nyaman, bebas dari masalah sehari-hari terkadang membuat kita lupa bahwa itu semua hanyalah bagian dari perjalanan. Bagaimana kita melihat teladan Alkitab, mulai dari lika-liku perjalanan Bangsa Israel yang baru tiba di Punon yang tidak ada air, pergi ke Obot yang adalah "kantong air," tapi harus pergi lagi dari tempat itu? Bagaimana pula kita melihat teladan orang-orang suci yang telah menang dalam hidupnya dengan taat kepada panggilan Tuhan?Ibu Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 8 Maret 2026.Kirim pesan
Tuhan telah menyatakan diri-Nya melalui perbuatan-perbuatan-Nya yang besar di masa lampau. Dia menyatakan keberadaan diri-Nya yang mendengar seruan mereka yang berseru kepada-Nya, dan Dia memberikan pilihan jika manusia mau taat kepada-Nya. Jika kita melihat kepada kehidupan Bangsa Israel di padang gurun, sering sekali mereka melupakan hal ini. Bahkan setelah mereka melihat jawaban Tuhan atas doa mereka, yang membuat mereka tidak hati-hati dengan perkataan, dan yang kemudian mendatangkan hukuman bagi mereka--karena Tuhan mendengar.Ibu Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 1 Maret 2026.Kirim pesan
Orang yang telah menerima pembebasan dari Tuhan pasti berapi-api dalam ketaatan kepada-Nya. Namun tidak sedikit yang ketaatannya mulai pudar ketika diperhadapkan dengan waktu, masalah, dan kondisi yang lain. Bagaimana kali ini kita belajar dari ketaatan orang-orang yang dipilih Tuhan menerima akibat ketidaktaatan mereka? Bagaimana kita mengerti arti taat sampai mati dari orang-orang yang mengikuti perintah Tuhan sampai waktu menutup mata? Bagaimana kesalahan mereka pun dituliskan sehingga kita dapat taat kepada Tuhan senantiasa?Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 22 Februari 2026.Kirim pesan
Kirim pesan
Kita sering mendengar bahwa orang beriman adalah mereka yang hidupnya dipimpin Tuhan. Mungkin kita sendiri juga sering mengatakannya. Namun, benarkah dalam setiap langkah, kita mengingat dan menaati pimpinan Tuhan? Bagaimana ketika kita merasa cukup dengan apa yang kita miliki, puas dengan keadaan yang kita alami, apakah kita tetap sadar dan berjaga-jaga apakah kita berpegang pada firman Tuhan? Atau bilamana kita dalam kesusahan dan di padang gurun dunia, adakah firman Tuhan yang pertama kita cari?Ibu Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 8 Februari 2026.Kirim pesan
Kita sering mendengar tentang Bangsa Israel yang tegar tengkuk dan tidak taat kepada TUHAN selama dalam perjalanan. Memang semua mereka yang terhitung berumur 20 tahun ke atas ketika keluar dari perbudakan Mesir tidak ada yang masuk ke Tanah Perjanjian karena ketidaktaatan mereka, kecuali Yosua dan Kaleb. Namun jarang sekali kita melihat bagian Alkitab yang menuliskan ketaatan mereka, yang kemudian menerima janji Tuhan untuk masuk ke tanah Kanaan. Tuntunan TUHAN mereka ikuti, perintah-Nya mereka jalankan meskipun tak selalu mudah perjalanan, dan mereka pun tidak tahu arah di depan. Bagaimana kita belajar untuk taat seperti keturunan Abraham yang menerima janji TUHAN ini?Ibu Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 1 Februari 2026. Kirim pesan
Istirahat adalah sebuah tenggang waktu untuk melepas penat. Namun sering kita lupa bahwa untuk beristirahat, ada kerja yang harus selesai sebelum waktu rehat. Sering kita melihat hanya ketidaktaatan umat Israel di padang gurun, namun apakah kita lebih baik dari mereka yang selalu mengingat untuk melakukan titah Tuhan meskipun dalam penat?Apa saja firman Tuhan yang mereka lakukan sebelum waktu istirahat mereka, dan tanggungjawab mereka selama berlindung dalam kemah? Bagaimana kita belajar tentang ketaatan dan kepercayaan kepada Tuhan?Ibu Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 25 Januari 2026.Kirim pesan
Jarak yang seharusnya dapat ditempuh dalam waktu beberapa hari atau minggu, berubah menjadi puluhan tahun bagi Bangsa Israel dalam perjalanan mereka di padang gurun. Banyak yang menganggap mereka hanya berputar-putar, seolah tanpa tujuan dan sebagai akibat persungutan mereka. Namun bagi anak-anak Yakub yang memiliki firman TUHAN dalam hati dan pikiran mereka, perjalanan itu bukanlah sebuah pengembaraan tanpa tujuan. Ada berkat dan kasih Tuhan, ada mujizat dan hukum Ilahi, yang menuntun mereka menuju Tanah Perjanjian.Bagaimana dengan perjalanan hidup kita? Apakah kita hanya berputar-putar tanpa tahu arah tujuan? Adakah firman Tuhan dalam hati dan hidup kita, sehingga tujuan kita tidak suram?Ibu Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 18 Januari 2026.Kirim pesan
Sejak di padang gurun, TUHAN sudah memberikan berbagai peraturan terhadap Bangsa Israel yang ditebus-Nya dari perbudakan Mesir. Bukan peraturan yang memberatkan, namun peraturan untuk mereka merayakan pekerjaan Tuhan dan bersukacita di hadapan-Nya. Perayaan apa yang akan kita renungkan kali ini, dan bagaimana kita dalam merayakan perbuatan Tuhan? Sudahkah kita merayakan perbuatan Tuhan untuk menceritakan pekerjaan-Nya?Ibu Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 12 Oktober 2025.Kirim pesan
Kirim pesan
Masih dari Bilangan 26 dalam seri "Warisan bagi Keturunan." Saat membaca pasal ini mungkin kita bertanya, "Untuk apa Alkitab mencatat jumlah sensus dan nama orang-orang yang kita tidak kenal?"Jika kita mengingat janji yang diberikan TUHAN kepada Abraham bahwa keturunannya akan seperti bintang di langit, tentu itu akan terjadi. Terlalu banyak jumlahnya untuk dihitung, dan bangsa keturunan Yakub adalah salah satu dari garis keturunan Abraham. Begitu banyak jumlah keturunan Israel, dan meskipun mereka diturunkan oleh satu ayah dan ibu, nasib dan keadaan mereka berbeda. Bersama-sama kakek moyang mereka masuk ke tanah Mesir, bersama pula mereka keluar dari perbudakan. Namun mengapa jumlah dan sikap mereka berbeda? Adakah kakek moyang mereka bertanggungjawab atau pola laku masing-masing individu dari bangsa yang besar ini yang membuat mereka demikian?Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 10 Agustus 2025.Kirim pesan
Tidak semua yang melihat dan mengalami Tuhan mau untuk hidup sesuai kehendak-Nya. Bileam mengenal TUHAN, Allah yang sama yang menyatakan diri-Nya kepada Bangsa Israel di kaki Gunung Sinai. Namun apakah dia menjadi penyembah Tuhan dalam setiap jalan hidupnya? Tuhan dan jalan-jalan-Nya hanya diketahui Bileam, tapi tak diindahkannya kehendak-Nya. Apakah kita lebih baik dari Bileam?Ibu Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 22 Juni 2025.Kirim pesan
Tuhan menyatakan diri-Nya kepada semua orang, bahkan kepada mereka yang tidak mencari Dia. Namun tidak semua orang berkenan kepada Tuhan, melainkan hanya mereka yang mengasihi Dia dan menaati-Nya bukan karena berkat tetapi karena Dia Tuhan. Bukan seperti Bileam yang menolak mengutuk Israel, bukan karena kasihnya pada Tuhan maupun bangsa yang ditebus-Nya, namun karena tidak sanggup melawan kehendak Penciptanya. Bagaimana dengan kita yang mengaku telah menerima penyataan Tuhan?Ibu Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 15 Juni 2025.Kirim pesan
Perjalanan dengan Tuhan, bukanlah perjalanan yang pasif atau membosankan. Ada kehidupan di dalamnya, ada firman dan tuntunan diberikan-Nya. Waktu yang Tuhan janjikan sebagai jawaban-Nya atas keluhan ke-10 pengintai Israel telah hampir usai, generasi yang padanya Tuhan murka karena tidak menghargai janji-Nya. Lalu, apakah generasi Israel yang baru ini layak menerima kegenapan janji Tuhan? Bagaimana dengan kita yang juga telah menerima penyataan Tuhan? Apakah kita sudah hidup berjalan tanpa keluhan sehingga dapat ikut masuk ke Tanah Perjanjian?Ibu Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 4 Mei 2025.Kirim pesan
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Rini Sudarno dari Gereja Santo Ambrosius Paroki Villa Melati Mas di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Kisah Para Rasul 2: 14.22-32; Mazmur tg 16: 1-2a.5.7-8.9-10.11; Matius 28: 8-15DATANG UNTUK BERTEMU YESUS YANG BANGKIT Renungan kita pada hari ini bertema: Datang Untuk BertemuYesus Yang Bangkit. Para rasul dan murid Yesus menjadi saksi mata wafat dankebangkitan Yesus Kristus. Ada utusan surga yang mengabarkan perihal Yesus yangbangkit dan terlebih-lebih karena Yesus sendiri menampakkan diri-Nya kepadamereka. Wujud konkret Yesus yang bangkit tentu saja berbeda daripada ketikadiri-Nya masih hidup. Wujudnya sudah sebagai roh atau menurut istilah KisahPara Rasul sebagai “Yesus yang bangkit”. Kesaksian mereka sangat kuat dan seterusnya sebagai sebuahkebenaran yang sangat hakiki. Ini dibuktikan dengan kepatuhan mereka ataspermintaan Yesus yang bangkit, supaya mereka datang ke Galilea dan bertemudengan Dia. Pertemuan harus terjadi dalam lingkup ruang dan waktu, sehinggakebenaran tersebut dapat dipertanggung jawabkan. Pertemuan yang hanya dalamingatan, imaginasi atau melalui bantuan sarana dan pihak perantara, pastimembuka peluang untuk diragukan. Maka menurut kisah dalam Injil karangan Matius pada hariini, para wanita yang bertemu dengan Yesus yang bangkit, meminta supaya pararasul segera datang dan bertemu sendiri dengan Yesus. Pertemuan langsung denganYesus itulah yang menjadi sebuah pengalaman iman yang baru dan membentuk hidupbaru bagi para rasul dan murid-murid Tuhan. Hal itu menjadi dasar bagi SantoPetrus, murid pertama dari lingkaran ke-12 rasul, untuk memberikan kotbahnyapertama kali tentang Yesus yang bangkit. Ia dan rekan-rekannya harus bersaksi. Kotbah itu intinya berbunyi begini: Yesus Kristus yangditentukan Allah untuk memenuhi semua janji di masa lalu adalah Mesiassesungguhnya. Ia dihukum mati dengan tuduhan tidak benar dan tidak adil. Iatelah mati dan dikubur, namun kini dibangkitkan Allah. Semua yang berkaitandengan kematian dan kebangkitan-Nya, Petrus dan para rasul lainnya adalahsaksi. Supaya kotbah ini tidak sekedar kata-kata kosong, pembuktian peristiwatersebut dan rekaman pengalaman para saksi mata merupakan faktor yang sangatmenentukan kebenarannya. Setiap pengikut Kristus dikaruniai kebutuhan dasar untukdatang dan bertemu dengan Yesus yang bangkit. Ia datang ke keberadaan Yesussetiap saat di dalam hidup ini. Hal ini sama dengan seorang suami yang sudahsering tidak datang menghadiri Ekaristi. Padahal ia sehat-sehat dan berdoapribadi saja di rumahnya. Karena sang istri sudah tidak sabar dengan tingkahsuami itu, ia sengaja meminta supaya ada pelayanan Komuni Kudus kepada suaminyadi rumah. Pastor paroki yang datang ke rumah. Maka terjadilah perjumpaansesungguhnya dengan Tuhan Yesus bagi sang suami. Sejak saat itu, ia selalumenyadari dan siap untuk datang dan bertemu sendiri dengan Tuhan melaluiEkaristi harian dan mingguan. Kita mesti melakukan hal yang sama. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah maha kuasa,penuhilah kami dengan kekuatan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Bapa kami yangada di surga ... Dalam nama Bapa ...
Kisah yang gamblang tentang perjalanan bangsa Israel di padang gurun membantu kita untuk melihat perjalanan iman kita sendiri bersama Tuhan. Meskipun TUHAN hadir di tengah umat-Nya dan menunjukkan kekudusan-Nya, banyak yang terpilih untuk melayani-Nya justru merasa tidak puas dengan apa yang dikaruniakan-Nya. Seperti Korah dan para sekutunya, mereka lupa akan kebesaran, karya, dan kekudusan Tuhan yang telah dinyatakan-Nya di hadapan bangsa yang besar itu. Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga sering melupakan siapa Tuhan sehingga kita pun marah dan merasa posisi yang Tuhan berikan pada kita adalah salah?Ibu Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaniea, 2 Maret 2025.Kirim pesan
TUHAN tidak memandang bulu untuk siapapun menjadi bagian umat-Nya, bukan hanya orang Israel, namun setiap orang yang mau mendengarkan suara-Nya. Bukan hanya dalam Perjanjian Baru, namun sudah dinyatakan-Nya pada bangsa yang ditebus-Nya itu sejak Hukum Taurat diberikan-Nya. Maukah saudara mendengarkan panggilan-Nya?Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 23 Februari 2025.Kirim pesan
Setelah menolak tanah yang baik yang dijanjikan Tuhan pada mereka, Bangsa Israel menangis karena hukuman Tuhan datang. Mereka bergerak maju ingin merebut tanah itu, ingin melakukan firman Tuhan yang kemarin mereka hinakan. Namun apakah Tuhan masih berkenan? Mereka pikir mereka melakukan perkataan Tuhan, namun perkataan yang mana? Apakah firman itu masih jadi bagian mereka? Bagaimanakah seharusnya pertobatan dilakukan?Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 9 Februari 2025.Kirim pesan
Sebagai orang beriman, kita tahu dan percaya bahwa Tuhan mendengar. Namun sering kita tidak memperhatikan apa yang Tuhan dengar dan apakah Tuhan senang dengan yang didengarkan-Nya. Bagaimana kotbah kali ini menolong hidup dan perkataan kita berkenan didengar Tuhan?Ibu Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 2 Februari 2025.Kirim pesan
"Orang Kristen kan boleh saja berbuat dosa, karena sudah ada yang menanggung." Begitulah kira-kira pandangan beberapa orang tentang kekristenan. Mungkin karena sikap orang Kristen sendiri yang berbuat sesuka hati merasa sudah dikasihi. Padahal Bangsa Israel yang adalah umat pilihan Tuhan, yang menerima langsung penyataan Tuhan dari atas Gunung Sinai namun tidak menghargai Tuhan, pada mereka ada ganjaran. Jika umat-Nya saja tidak disayangkan-Nya, masihkah kita mau berbuat seenaknya?Ibu Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 19 Januari 2025.Kirim pesan
Kita sering mengatakan percaya pada janji Tuhan, bahkan banyak yang menuntut janji tergenapi. Namun apakah kita menyediakan waktu untuk merenungkan janji-janji Tuhan dan dengan teliti mempelajari kegenapannya? Siapakah yang dapat menikmati janji yang Tuhan telah berikan?Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadaha Epiphaneia, 12 Januari 2025.Kirim pesan
Taurat Tuhan memberi kita pengajaran bahwa akibat dosa bukanlah suatu hal yang ringan dan tidak dapat diselesaikan dalam sekejap mata, sehingga kita dapat mengerti betapa karunia yang Kristus berikan atas pengampunan dosa dan pemulihan. Siapapun dapat berbuat dosa, dan bagaimana kita belajar dari tokoh Alkitab berikut sehingga kita tidak main-main dengan anugerah yang Tuhan telah berikan?Ibu Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 5 Januari 2025.Kirim pesan
Melayani Tuhan tidak berarti lepas dari segala masalah hidup, masalah bahkan dapat datang dari tempat yang dekat. Namun orang yang benar tidak berdosa karena masalah itu, sebab orang yang percaya Tuhan tidak dipermalukan. Kali ini, kita akan merenungkan sikap Musa ketika menghadapi masalah dan bagaimana Tuhan sendiri yang membelanya. Apakah kita juga bisa hidup benar seperti yang Musa lakukan?Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 29 Desember 2024.Kirim pesan
Tiang awan dan tiang api yang menjadi simbol penyertaan Tuhan bagi Bangsa Israel selama berjalan di padang gurun seringkali tidak dipedulikan mereka, dan mereka pun bersungut karena Tuhan mereka lupakan dan firman-Nya tidak mereka ingat. Namun bagaimana dengan kita sekarang yang sudah memiliki firman-Nya yang tertulis, bahkan Roh Kudus-Nya yang menuntun kita? Apakah kita pun juga tidak mempedulikan tuntunan-Nya?Ibu Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 22 Desember 2024.Kirim pesan
Sama seperti umat Israel harus dengar-dengaran mendengar suara nafiri, demikianlah semua orang benar harus dengar-dengaran mendengarkan suara panggilan surgawi. Sembari menanti sangkakala berbunyi, apa yang saudara lakukan untuk melatih diri mendengar panggilan Tuhan?Ibu Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 1 Desember 2024.Kirim pesan
Kirim pesan
Keluhan Bangsa Israel selama di padang gurun sering kita bahas. Namun bagaimana dengan ketaatan mereka? Pernahkah saudara merenungkan kehidupan mereka setiap hari dengan TUHAN yang hadir di tengah-tengah mereka? Teladan apa yang dapat kita ambil dari pengaturan Tuhan atas Bangsa Israel di padang gurun?Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 27 Oktober 2024.Kirim pesan
Kirim pesan
TUHAN, Allah orang Israel, bukan hanya membebaskan mereka dari perbudakan Mesir -- suatu hal yang mustahil secara manusia -- namun juga memanggil mereka untuk beribadah kepada-Nya, menentukan hari-hari peringatan untuk merayakan pekerjaan-Nya. Waktu-waktu peringatan pekerjaan Tuhan dibuat-Nya tepat, bahkan untuk hari yang belum ada pun dibuat-Nya tepat. Percayakah saudara akan setiap perkataan Tuhan?Ev. Sri Umiyati P. dalam Ibadah Epiphaneia, 29 September 2024.Kirim pesan