POPULARITY
Categories
The first national report on racism at universities in Australia has found it is a problem that is widespread and systemic. The report found 70 per cent of students and staff from 42 universities had witnessed racism. - Laporan nasional pertama tentang rasisme di perguruan tinggi di Australia mengungkapkan bahwa masalah ini bersifat luas dan sistemik. Laporan ini mendapatkan bahwa 70 persen mahasiswa dan staf dari 42 perguruan tinggi telah menyaksikan tindakan rasisme.
Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 22 Februari 2026Bacaan: "Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya." (1 Yohanes 5:14) Renungan: Seseorang pernah berkata demikian tentang jawaban dari sebuah doa, "Masalah terbesar dari doa adalah bagaimana membiarkan doa terus mengalir dan mengizinkan Allah menjawab sesuai dengan cara-Nya." Ada satu kisah yang menarik dari seorang anak, tentang sikap dan ketulusannya di dalam menerima jawaban doa. Hari itu Adi dititipkan oleh mamanya di rumah neneknya, tetapi neneknya pergi bersama teman-temannya sehingga Erny, yaitu tantenya yang harus menjaga Adi. Adi segera mengambil kelerengnya dan bermain bersama beberapa orang temannya, tetapi tiba-tiba ia berlari dan menghampiri Erny yang sedang memasak di dapur. Dengan lugu Adi berkata, "Tante kelereng Adi hilang satu. Tante boleh nggak Adi sekarang berlutut dan meminta Tuhan untuk membantu Adi menemukan kelerang Adi yang hilang itu?" Tanpa pikir panjang, Erny pun mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju. Kemudian Adi berlutut, ia melipat kedua belah tangannya dan berdoa, katanya, "Bapa yang baik, kelereng Adi hilang satu dan Adi mau supaya Engkau membantu Adi untuk menemukannya. Amin Setelah selesai berdoa, Adi segera bangkit dan bermain kembali. Ketika hari telah sore, Erny teringat pada perbuatan Adi tadi. Karena khawatir Adi akan kecewa terhadap Tuhan, maka Erny memanggil dan menanyakan kepada Adi, "Sayang, apakah engkau sudah menemukan kelerengmu yang hilang?" "Belum Tante, tetapi Tuhan telah membuat Adi tidak menginginkan kelereng itu lagi," jawab Adi. Alangkah indahnya sikap dan iman Adi yang begitu tulus dalam menerima jawaban doanya. Banyak orang yang bersungut-sungut dan kecewa kepada Tuhan karena doa mereka tidak dijawab sesuai dengan keinginan hati mereka. Doa bukanlah masalah dijawab atau tidaknya setiap permohonan doa yang kita panjatkan, tetapi doa adalah sikap dan tindakan penyerahan segala masalah hidup kita ke dalam tangan Tuhan. Dijawab atau tidaknya doa-doa kita adalah keputusan mutlak Tuhan. Tidak menjadi soal apakah Tuhan menjawab "Tidak," "Ya," atau "Ya, tetapi tunggu dulu," terhadap permohonan doa yang kita panjatkan. Yang penting adalah kita tetap setia berdoa dan selebihnya adalah bagian Tuhan untuk memutuskan yang terbaik bagi kita, karena Tuhan tahu dengan pasti apa yang menjadi kebutuhan kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ampunilah aku yang selalu khawatir dan memaksakan kehendak dalam doa-doa yang kupanjatkan kapada-Mu. Kini kuserahkan semua pengharapanku hanya pada-Mu, karena Engkau lebih mengetahui kebutuhanku. Amin. (Dod).
”Masalah peradangan selaput lendir, lara ginjel, sirah, lan masalah jantung minangka akibat saka mangan kakehan” ”GUSTI paring kanugrahan kang paling endah marang jagad iki, yaiku Putranipun”
Khutbah Jum'at - Ust. Dr. Firanda Andirja, Lc., MA. hafizhahullahu.Judul : Taqwa, Solusi Semua Masalah.Renungan Ramadhan:Tujuan shaum Ramadhan adalah agar kita bertaqwa. Tujuan yg agung.Ternyata taqwa adalah solusi bagi semua problematika kehidupan kita.Banyak masalah dalam kehidupan juga akarnya adalah karena hilangnya ketaqwaan.Sebuah kata yg sering terdengar namun kita sering lupa hakikatnya. Semoga Allah menjadikan kita hambayg bertaqwa.Sumber : YouTube.
Jadi salahkan siapa jika tidak ada lowongan pekerjaan?#pengangguran #unemployed
Transisi dari seorang peneliti menjadi pemimpin riset adalah sebuah perjalanan paradoksal yang menantang identitas profesional seseorang. Peneliti dilatih untuk bekerja secara otonom, skeptis, dan perfeksionis terhadap detail teknis, namun kepemimpinan menuntut kemampuan delegasi, empati, dan visi strategis yang luas. Dalam konteks ini, otoritas seorang pemimpin tidak lahir dari jabatan struktural semata, melainkan dari "expert power" atau kredibilitas intelektual yang diakui oleh sejawat. Memimpin peneliti sering diibaratkan sebagai seni "menggembalakan kucing" (herding cats), di mana pemimpin tidak mendikte metode, melainkan memberikan arah visi sambil memfasilitasi otonomi yang menjadi "mata uang" utama bagi motivasi para ilmuwan. Peran fundamental seorang pemimpin peneliti bergeser drastis dari menjadi kontributor individu yang mengejar publikasi pribadi, menjadi arsitek lingkungan yang memungkinkan timnya berkembang. Keberhasilan seorang pemimpin diukur bukan lagi dari output pribadinya, melainkan dari produktivitas dan pertumbuhan tim yang dipimpinnya. Dalam fungsi ini, pemimpin bertindak sebagai perisai (the shield) yang melindungi peneliti dari beban administrasi berlebih dan politik institusi, serta menciptakan rasa aman psikologis (psychological safety) di mana kegagalan eksperimen dipandang sebagai data pembelajaran, bukan akhir karir. Keseimbangan ini krusial untuk menjaga api inovasi tetap menyala di tengah tekanan birokrasi. Di era modern yang penuh ketidakpastian (VUCA), kepemimpinan riset menjadi semakin relevan sebagai pembangun ekosistem (ecosystem builder). Masalah global yang kompleks saat ini tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu saja, menuntut pemimpin yang mampu merajut kolaborasi transdisipliner dan menghubungkan akademisi dengan industri serta pemerintah (Triple Helix). Pemimpin riset masa kini harus menjadi jembatan yang mengubah penemuan di laboratorium menjadi dampak nyata bagi masyarakat, sekaligus menavigasi integrasi teknologi baru seperti AI dalam metodologi penelitian. Dengan demikian, kepemimpinan riset bukan sekadar manajemen tugas, melainkan upaya strategis untuk memperluas dampak sains melampaui tembok laboratorium.
Sebuah benih yang kecil ternyata mempunyai sebuah potensi untuk menghasilkan kehidupan yang besar. Seperti layaknya biji sesawi, yang bentuknya sangat kecil tetapi memiliki potensi menghasilkan kehidupan. Dalam kehidupan kita, Allah sudah memberi masing-masing kita "benih." Tetapi persoalannya, yang membedakan satu orang dengan orang yang lain ialah bukan banyaknya benih, sebab ada orang yang memiliki segenggam benih, ada yang memiliki satu karung benih, tetapi yang membedakan mereka ialah "tangan yang menabur." Sebab benih akan tetap menjadi benih yang sama, kecuali benih itu di tabur lalu kemudian dia menghasilkan potensi yang ada di dalam benih. Sebab jikalau benih itu tidak di taburkan, ia akan tetap pada jumlah yang sama, tidak menghasilkan dan tetaplah benih. Masalah yang sering kita alami, ada banyak benih yang Tuhan taruh dalam hidup kita berupa potensi, skil, talenta, karunia, "waktu & kesempatan," tetap menjadi hal yang sama, keadaan yang sama, kecuali kita mau menaburkan sesuatu. Lalu apa yang harus kita lakukan, ketika Allah menaruh benih kepada setiap kita untuk ditaburkan? Mari simak sebab dalam Seri 1 - Benih, Ps. Charles Bessie, kita akan mendapatkan prinsip dalam menabur benih yang Allah percayakan bagi kita. Selamat mendengarkan, silahkan dibagikan. Tuhan Yesus memberkati.
Sering kali kita terjebak mengobati gejala, bukan penyakitnya. Ibarat memotong rumput di musim hujan; pagi dipangkas, sore sudah tinggi lagi karena akarnya masih tertancap kuat di tanah. Kita sering kali bangga dengan solusi cepat yang tampak hebat di permukaan, padahal masalah yang sama hanya sedang menunggu waktu untuk meledak kembali di hari Senin berikutnya. Kita harus berani berhenti sejenak, menyingkirkan kemasan luar, dan mulai menggali lebih dalam ke pusat persoalan. Resep paling ampuh untuk menggali itu sebenarnya sederhana: tanya "Kenapa" sampai lima kali. Jangan puas dengan jawaban klise seperti "kurang koordinasi" atau "kesalahan sistem." Kejar terus sampai ke alasan di balik alasan tersebut. Biasanya, pada pertanyaan kelima, kita tidak lagi menemukan masalah teknis atau aplikasi yang rusak. Kita akan berhadapan dengan kenyataan yang lebih jujur: apakah itu tentang ego sektoral, budaya kerja yang kaku, atau ketidakjelasan visi yang selama ini kita abaikan. Menemukan akar masalah tidak bisa dilakukan sendirian di balik meja direksi. Butuh mata yang banyak dan sudut pandang yang berbeda dari berbagai direktorat untuk melihat gambaran yang utuh. Inovasi yang benar-benar baru hanya akan muncul ketika kita berani melucuti sekat-sekat organisasi dan duduk melingkar sebagai satu tim. Begitu akarnya tercabut, solusi yang muncul biasanya jauh lebih sederhana dari yang kita bayangkan, asalkan kita memiliki keberanian untuk berubah bersama.
Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 20 Januari 2026Bacaan: ".... Karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi laskar yang besar ini, yang datang menyerang kami. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu." (2 Tawarikh 20:12)Renungan: Pada saat seorang pasien berobat ke rumah sakit harus siap dengan vonis apapun. Walau demikian, ada satu jenis vonis yang membuat siapapun tidak siap untuk menerimanya, yaitu jika pasien divonis penyakit terminal. Penyakit terminal adalah suatu keadaan di mana seseorang mengalami sakit yang tidak mempunyai harapan untuk sembuh yang diakibatkan kegagalan organ atau multiorgan sehingga sangat dekat proses kematian. Penyakit terminal bermacam-macam mulai kanker, alzheimer, komplikasi, dsb. Inti dari penyakit terminal adalah dokter sudah angkat tangan dan pasien hanya tinggal tunggu waktu kapan kematian datang menjemput. Sudah tidak ada sesuatu yang bisa dilakukan atau diupayakan lagi. Masalah dan tantangan hidup bisa terjadi kepada siapa saja. Namun selama kita masih bisa melakukan sesuatu untuk menghadapi masalah tersebut, kita tidak perlu khawatir. Tapi bagaimana jika semua jalan sudah buntu, sudah mentok, dan kita bahkan tidak tahu apa yang harus kita lakukan lagi? Seperti penyakit terminal, ini keadaan yang sangat gawat. Raja Yosafat pernah menghadapi "masalah terminal" seperti itu. Kerajaan Yehuda diserang oleh bani Moab, bani Amon, dan sepasukan orang Meunim. Menghadapi satu musuh saja berat, sekarang harus berhadapan dengan tiga musuh sekaligus dengan laskar yang sangat besar. Yosafat takut. Yosafat bahkan berada pada satu titik di mana ia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Walau demikian masih ada satu hal yang bisa dilakukan Yosafat yaitu berseru kepada Tuhan! Justru ini adalah solusi terbaik untuk permasalahan yang dihadapinya. Terbukti, Tuhan ganti berperang bagi Yosafat dan memberi kemenangan besar kepada bangsa Yehuda. Jika saat ini kita dihadapkan dengan masalah yang rumit, yang mana kita bahkan tidak tahu lagi harus melakukan apa- apa, ingatlah bahwa kita masih punya Tuhan. Berserulah dan berharaplah kepada-Nya, maka pertolongan-Nya akan datang tepat pada waktu-Nya. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, aku percaya apapun masalah yang aku hadapi saat ini, kalau aku mau setia datang pada-Mu, maka semua akan baik-baik saja. Amin. (Dod).
Anda sudah tahu: dunia tahun 2026 ini bukan lagi milik para pakar yang duduk di menara gading. Dulu, banyak yang menganggap Donald Trump hanyalah sebuah "kecelakaan" sejarah. Tapi sekarang, kita harus jujur melihat kenyataan: dia adalah realitas baru yang merombak total tatanan liberal dunia. Ekonomi tidak lagi diatur oleh teori-teori rumit dari University of Chicago, melainkan oleh satu kompas tunggal: kepentingan nasional yang sangat transaksional. Peter Oborne dalam bukunya How Trump Thinks sebenarnya sudah meramalkan hal ini sejak lama. Trump berhasil menghancurkan dominasi para ahli yang selama ini merasa paling tahu. Kata Oborne, Trump mempermalukan mereka, lalu menghancurkan wibawanya. Di tahun 2026 ini, politik benar-benar dikembalikan ke tangan pemilih. Suara massa di wilayah industri seperti Rust Belt kini jauh lebih berharga daripada analisis canggih dari Wall Street. Bagi Trump, perdagangan global itu bukan kerja sama, melainkan perang. Dan dalam pikirannya, Amerika sudah terlalu lama kalah. Anda mungkin ingat cuitannya bertahun-tahun lalu: "Bangunlah Amerika, China sedang memakan jatah makan siang kita." Maka, di tahun 2026 ini, tarif impor bukan lagi sekadar hambatan dagang. Tarif telah berubah menjadi pentungan besar untuk memaksa pabrik-pabrik asing pulang kampung ke tanah Amerika. Senjata paling ampuh Trump tetap ada pada jempolnya. Twitter—atau apa pun nama platformnya sekarang—adalah medan tempurnya. Oborne menjelaskan bahwa media sosial memungkinkan Trump bicara tanpa filter sama sekali. Kebijakan ekonomi penting seringkali diputuskan hanya lewat sebuah gertakan digital. Cukup satu cuitan, dan nilai tukar mata uang dunia bisa langsung meriang seketika. Lalu bagaimana dengan soal fakta? Di era ini, fakta seringkali menjadi masalah persepsi belaka. Ingat istilah "alternative facts" yang dulu dipopulerkan Kellyanne Conway? Di tahun 2026, angka inflasi pun jadi subjek debat selera. Kalau pendukungnya merasa sejahtera, maka angka statistik resmi yang menunjukkan hal sebaliknya akan langsung dicap sebagai fake news. Baginya, fakta adalah apa yang dirasakan rakyat, bukan apa yang ditulis oleh birokrat. Urusan energi pun Trump tidak mau main-main. Slogannya tetap sama: "Drill, Baby, Drill." Masalah perubahan iklim? Itu dianggap urusan nomor sekian. Trump pernah bilang bahwa isu pemanasan global hanyalah ciptaan China agar manufaktur Amerika tidak kompetitif. Di tahun 2026, pengerukan bahan bakar fosil secara besar-besaran menjadi jalan utama untuk menjaga kedaulatan ekonomi Amerika. Kitab sucinya masih tetap satu: The Art of the Deal. Trump sangat percaya pada kekuasaan daya tawar atau leverage. Jangan harap ada lagi bantuan gratis dari Washington. Setiap dolar yang keluar harus ada untungnya bagi Amerika. Hubungan luar negeri Amerika di tahun 2026 adalah cermin dari transaksi murni: ada uang, ada barang, dan harus ada keuntungan yang nyata. Kelompok yang dia sebut sebagai "The Forgotten Man" tetap menjadi jualan politik utamanya. Janjinya dulu sangat jelas: orang-orang yang terlupakan ini tidak akan dilupakan lagi. Di tahun 2026, janji itu diwujudkan lewat kebijakan membawa kembali industri ke dalam negeri secara paksa. Pabrik yang nekat beroperasi di luar negeri diancam pajak perbatasan yang setinggi langit. Efisiensi global dibuang, kedaulatan kerja lokal dijunjung tinggi. Pajak korporasi juga dipangkas habis-habisan. Tujuannya agar Amerika menjadi magnet bagi modal dunia. Trump tidak peduli meskipun defisit anggaran membengkak sangat besar. Teorinya sederhana: pertumbuhan ekonomi yang cepat nantinya akan menutup lubang defisit itu. Ini adalah ekonomi sisi penawaran atau supply-side dengan dosis tinggi, jauh lebih berani jika dibandingkan dengan zaman Presiden Reagan dulu. Namun, kritik terhadapnya tetap nyaring terdengar. Tony Schwartz, pria yang menuliskan buku The Art of the Dealuntuknya, pernah menyatakan penyesalan mendalam karena telah "mempercantik" sosok Trump. Di tahun 2026, ketidakstabilan sistemik akibat gaya kepemimpinannya yang impulsif makin terasa. Seluruh dunia seolah bergetar setiap kali Trump berubah pikiran secara mendadak. Institusi dunia seperti WTO kini hampir lumpuh total. Bagi Trump, lembaga semacam itu hanyalah beban yang menghambat langkahnya. Peter Oborne mencatat pandangan mendasar Trump: dunia itu tempat yang keras dan berbahaya. Maka, Amerika harus kuat sendirian. Aliansi-aliansi lama rontok satu per satu, digantikan oleh kesepakatan bilateral pendek yang bisa dibatalkan hanya dalam semalam. Bagaimana dampaknya bagi kita di Indonesia? Tentu saja sangat terasa. Tidak ada lagi zona nyaman dalam berdiplomasi. Kita dipaksa memilih: mau ikut aturan main Amerika yang sangat berat atau siap menghadapi tembok tarif yang tinggi. Diplomasi ekonomi kini tidak lagi diisi kata-kata manis. Semuanya telah berubah menjadi transaksi dagang yang sangat dingin dan hitung-hitungan. Di dalam negeri Amerika sendiri, polarisasi justru makin parah. Kota-kota besar yang melek teknologi terus berantem dengan masyarakat pedesaan yang mendukung industri fosil. Trump sengaja memelihara perbedaan ini. Dia butuh narasi "Kita lawan Mereka" untuk melanggengkan setiap kebijakan fiskalnya yang seringkali memicu kontroversi besar. Keamanan bahkan dijadikan alat untuk membenarkan kebijakan ekonomi. Pakar sejarah Sir Richard Evans pernah memperingatkan bahwa gaya bahasa Trump mirip dengan pemimpin otoritarian abad ke-20. Ancaman dari luar dijadikan alasan untuk menutup perbatasan. Di tahun 2026, urusan ekonomi dan keamanan nasional telah menjadi dua sisi dari mata uang yang sama. Teknologi pun kini dipagari oleh semangat nasionalisme yang kental. Trump lebih suka melihat robot-robot bekerja di pabrik Ohio daripada melihat buruh murah bekerja di Vietnam. Ini adalah nasionalisme teknologi tingkat tinggi. Kekayaan intelektual Amerika dijaga ketat bak benteng pertahanan. Automasi dianggap sebagai jalan ninja bagi Trump untuk tetap menguasai industri masa depan. Hubungan Trump dengan dunia perbankan juga terbilang unik. Dia sangat suka dengan deregulasi, tapi dia benci setengah mati kalau suku bunga naik. Bank sentral Federal Reserve seringkali menjadi sasaran serangannya. Trump ingin uang tetap murah agar ambisi pembangunannya bisa terus jalan. Dia tidak peduli dengan risiko moneter jangka panjang, yang penting ekonomi bisa "ngegas" sekarang juga. Dinasti keluarga pun makin nyata terlihat di tahun 2026 ini. Nama-nama seperti Ivanka dan Jared Kushner tetap berada di lingkaran inti kekuasaan. Oborne sudah menyebut mereka sebagai figur dominan sejak awal karir politik Trump. Birokrasi yang diisi para profesional kini kalah oleh sistem patronase. Kepercayaan pribadi jauh lebih berharga daripada deretan gelar akademik. Kekuatan utama Trumpisme sebenarnya bukan terletak pada data statistik, melainkan pada emosi massa. Ingat ajaran Norman Vincent Peale, pendeta masa kecil Trump tentang berpikir positif? Pikiran yang optimis dianggap bisa mengalahkan kenyataan pahit sekalipun. Di tahun 2026, optimisme buta dari para pendukungnya menjadi bahan bakar politik yang sangat luar biasa kekuatannya. Rakyat pada akhirnya memang tidak butuh angka statistik GDP yang rumit untuk dipahami. Mereka hanya butuh sosok pahlawan, seorang pendekar. Trump memposisikan dirinya sebagai satu-satunya orang yang berani mengeluarkan "Jurus Sapu Jagat"—sebuah gerakan politik yang menyapu bersih semua sistem lama yang dianggap korup. Tujuannya cuma satu: merebut kembali hak Amerika yang dia klaim telah "dicuri" oleh dunia selama ini. Kesimpulannya, fenomena Trump 2026 adalah campuran antara proteksionisme kuno dan manajemen merek modern yang sangat canggih. "Jurus Sapu Jagat" ini mungkin membuat para pemimpin dunia lainnya sakit kepala hebat, tapi bagi pendukung setianya, inilah sapuan bersih yang sudah lama dinanti. Anda boleh saja tidak setuju dengan caranya, tapi faktanya, jurus ini telah berhasil menyapu habis hampir semua tatanan lama yang pernah kita kenal.
Dunia ini tidak mengenal hasil besar yang lahir secara tiba-tiba tanpa ada guncangan kecil di titik awalnya. Sains menyebutnya sebagai Butterfly Effect atau Efek Kupu-Kupu; sebuah metafora di mana kepakan sayap kecil di satu belahan dunia bisa memicu tornado di belahan dunia lainnya. Dalam setiap organisasi maupun kehidupan pribadi, prinsip ini berlaku mutlak: jangan pernah meremehkan hal sepele, seperti baut roda yang kendor pada mobil mewah. Goncangan kecil pada baut yang diabaikan itu bukan hanya bisa merusak kendaraan, tapi juga menghancurkan keselamatan, membuktikan bahwa satu kesalahan kecil di awal bisa mengubah segalanya di akhir. Kekuatan dampak yang besar sebenarnya terletak pada akumulasi dan momentum, sebagaimana dijelaskan dalam konsep Atomic Habits dan Efek Domino. Jika kita mampu memberikan guncangan positif meski hanya sebesar satu persen saja setiap hari, dalam setahun kita akan tumbuh menjadi 37 kali lipat lebih hebat. Secara fisik, satu domino kecil memiliki energi yang cukup untuk menjatuhkan domino lain yang berukuran satu setengah kali lebih besar, hingga akhirnya domino ke-29 mampu merobohkan gedung pencakar langit. Masalah utamanya seringkali adalah ketakutan kita untuk menjatuhkan domino pertama; kita terlalu lama memandangi raksasa di depan mata tanpa menyadari bahwa guncangan kecil di langkah awal adalah kunci pembuka jalan. Pada akhirnya, perubahan yang meledak hanyalah masalah mencapai Tipping Point atau titik jungkit. Seperti batu yang dilemparkan ke kolam tenang, tindakan kecil seperti senyum pada bawahan atau kedisiplinan bangun pagi akan menciptakan riak yang terus merambat hingga ke tepian. Menggunakan Prinsip Pareto, kita cukup fokus pada 20 persen tindakan vital yang mampu menggerakkan 80 persen hasil. Dampak besar bukanlah sebuah keajaiban atau sulap, melainkan manufaktur harapan yang dikerjakan melalui konsistensi langkah-langkah kecil. Jadi, mulailah sekarang, karena tornado yang dahsyat pun selalu dimulai dari satu kepakan sayap yang ringkih. Silakan memulai langkah-langkah kecil.
Indonesia bukanlah sebuah proyek dengan tenggat waktu, melainkan sebuah entitas yang hidup dalam Infinite Game—permainan tanpa garis finis. Seringkali kita terjebak dalam pola pikir jangka pendek, di mana kesuksesan hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi tahunan atau kemenangan politik sesaat. Padahal, esensi sebuah bangsa bukanlah tentang mengalahkan negara lain dalam sebuah kompetisi global, melainkan tentang kemampuan untuk terus bertahan dan menjadi lebih baik dari hari kemarin. Dalam kacamata ini, tantangan yang kita hadapi saat ini bukanlah tanda kegagalan, melainkan dinamika dalam perjalanan panjang untuk menjaga agar "permainan" Indonesia ini tetap berjalan hingga generasi-generasi mendatang. Alasan mengapa Indonesia sangat relevan dengan konsep Infinite Game terletak pada Just Cause atau tujuan mulia yang kita miliki: Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Di dunia yang semakin terpolarisasi, kemampuan untuk menyatukan ribuan pulau dan keberagaman budaya adalah sebuah keunggulan strategis yang tidak ternilai. Masalah-masalah kronis seperti birokrasi yang lamban atau isu integritas harus dipandang sebagai hambatan operasional, bukan akhir dari cerita. Fokus utama kita seharusnya bukan pada mencari kemenangan mutlak atas masalah tersebut dalam satu malam, melainkan pada pembangunan fondasi kepercayaan (trust) dan ketangguhan yang memungkinkan bangsa ini tetap utuh meski badai ketidakpastian global datang silih berganti. Bagi generasi muda, memahami Infinite Game berarti mengubah orientasi hidup dari sekadar mengejar kesuksesan materi yang instan menuju kontribusi yang berkelanjutan. Kepemimpinan masa depan tidak lagi tentang siapa yang paling pintar atau paling berkuasa di ruangan, melainkan tentang siapa yang paling mampu membangun "lingkaran keselamatan" bagi orang-orang di sekitarnya. Dengan semangat manufacturing hope, ketidakpastian masa depan justru menjadi peluang bagi anak muda untuk berinovasi melalui semangat gotong royong. Selama kita tetap memegang teguh alasan "mengapa" kita berdiri sebagai satu bangsa, Indonesia akan selalu memiliki energi yang cukup untuk terus melangkah dalam permainan tanpa batas ini.
Bismillah,Saudaraku,Masalah, musibah, ujian pasti akan datang dalam kehidupan orang-orang beriman. Semoga Allah memberi taufiq agar saudara kita yang diuji menjadikan bencana ini peluang untuk menambahkan iman dan membuat mereka semakin dekat dengan Allah. Serta semoga Allah mudahkan kita bisa mengambil bagian untuk membuka jalan pertolongan bagi mereka. Aamiin.Data Bencana Banjir & Longsor Sumatra(per 6 Desember 2025), qadarullah terdapat:• 836 korban jiwa• 509 dinyatakan hilang• Ribuan orang luka-luka• Jutaan orang terdampak• Ratusan ribu mengungsi• Infrastruktur utama dan rumah-rumah rusak parahWilayah paling terdampak• Aceh, Sumatra Utara, Sumatra BaratAlhamdulillah, zakat melalui LAZ Muhajir telah disampaikan langsung ke saudara-saudara di lokasi bencana di Sumatra Barat. Insya Allah, akan bergerak ke wilayah lain dalam waktu dekat.
Setelah punya mesin kopi yang canggih, mulailah saya mengalami kesulitan dengan listriknya. Ternyata mesin-mesin kopi membutuhkan listrik yang besar. Hadoh. Mana saya tahu. Tidak ada yang memberitahukan ini di awal.#kopi #coffee
Menjadi pemimpin itu ternyata bukan soal memindahkan bidak catur di atas papan kayu. Itu gaya lama. Gaya yang mengira semua kecerdasan hanya menumpuk di kepala sang komandan, sementara yang lain cuma pelaksana. Sekarang, zaman yang serba cepat ini menuntut kita berubah menjadi tukang kebun. Ingat: tukang kebun tidak pernah "menumbuhkan" tanaman—tanaman tumbuh sendiri secara organik. Tugas sang pemimpin hanyalah memastikan lingkungannya pas, tanahnya subur, dan airnya cukup agar kehidupan bisa mekar dengan sendirinya tanpa perlu dipaksa. Di dalam kebun organisasi itu, sang pemimpin sibuk menjaga "iklim" agar tetap sehat. Ia harus berani meruntuhkan tembok-tembok penyekat atau silo yang membuat informasi mandek di satu pojok saja. Ia tidak lagi sibuk mendikte setiap daun harus tumbuh ke arah mana. Sebaliknya, ia memberikan kepercayaan penuh kepada mereka yang berada di garis depan untuk mengambil keputusan kilat saat badai datang. Syaratnya cuma satu: semua orang harus sudah memegang konteks besar yang sama—sebuah kesadaran bersama yang membuat instruksi dari atas tak lagi diperlukan untuk hal-hal teknis. Inilah masa depan kepemimpinan, terutama bagi para penggerak perubahan sosial di tanah air. Kita tidak bisa lagi bekerja sendirian seperti pahlawan kesiangan dalam struktur yang kaku. Masalah yang kita hadapi sudah berbentuk jaringan yang rumit, maka obatnya pun harus berupa ekosistem yang saling terhubung. Dengan menjadi tukang kebun yang tekun, kita sebenarnya sedang membangun sebuah sistem yang bukan hanya kuat menahan guncangan, tapi juga lentur dan mampu belajar dari ketidakpastian dunia yang makin tidak terprediksi ini.
Di era yang didefinisikan oleh kecepatan informasi dan keterhubungan global, organisasi sering kali terjebak dalam kegagalan membedakan antara masalah yang sekadar "rumit" dengan masalah yang benar-benar "kompleks". Masalah rumit, meskipun memiliki banyak bagian, bersifat linier dan dapat diprediksi sehingga dapat diselesaikan dengan model efisiensi tradisional ala Taylorisme. Namun, masalah kompleks—seperti dinamika perubahan sosial—bersifat non-linier dan tidak terprediksi, di mana perubahan kecil di satu titik dapat memicu dampak besar yang tak terduga. Dalam konteks ini, struktur hierarki yang kaku sering kali menjadi penghambat utama karena jalur birokrasi yang panjang membuat pengambilan keputusan terlalu lambat untuk merespons realitas lapangan yang berubah setiap detik. Transformasi menuju "Team of Teams" menawarkan solusi dengan mengawinkan kelincahan tim kecil dengan skala organisasi besar melalui dua pilar utama: kesadaran bersama (shared consciousness) dan eksekusi yang diberdayakan (empowered execution). Kesadaran bersama tercipta melalui transparansi informasi yang radikal, di mana setiap aktor dalam ekosistem memahami konteks strategis secara utuh, bukan hanya bagian kecil dari tugas mereka. Hal ini meruntuhkan silo informasi dan membangun kepercayaan horizontal sebagai fondasi kolaborasi. Ketika konteks ini sudah dipahami secara merata, wewenang pengambilan keputusan dapat didelegasikan ke garis depan, memungkinkan tim untuk bertindak secara mandiri namun tetap selaras dengan tujuan kolektif tanpa harus menunggu instruksi dari pusat. Pada akhirnya, keberhasilan model ini menuntut pergeseran peran kepemimpinan dari seorang "Master Catur" yang mengontrol setiap langkah bidak, menjadi seorang "Tukang Kebun" yang memelihara ekosistem. Pemimpin tidak lagi fokus pada manajemen mikro atau pemberian perintah teknis, melainkan pada penciptaan lingkungan di mana interaksi antar tim dapat tumbuh secara sehat dan organik. Bagi fasilitator perubahan sosial, pendekatan ini memastikan bahwa gerakan tidak hanya mengejar efisiensi jangka pendek, tetapi juga membangun resiliensi jangka panjang. Dengan menjadi "tukang kebun" bagi ekosistem perubahan, kita memastikan bahwa seluruh komponen organisasi memiliki kapasitas untuk belajar, beradaptasi, dan tetap tangguh di tengah badai ketidakpastian.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. - Tanya Jawab Masalah Shalat Berjamaah
#DiskusiInteraktif Wacana Kepala daerah dipilih DPRD bergulir ditengah kasus korupsi dan politik biaya tinggi, apa yang perlu dicermati?[TALK] Tokoh Masyarakat Minang, Mantan Anggota Komisi II DPR, Guspardi Gaus&Pengamat Politik, Mantan Ketua KPU Provinsi Jawa Tengah, Joko Purnomo
Dalam dunia manajemen dan penyelesaian masalah, metode "5 Whys" telah lama menjadi primadona karena kesederhanaannya. Kita diajarkan bahwa dengan bertanya "mengapa" sebanyak lima kali, kita akan secara otomatis sampai pada akar penyebab masalah. Namun, dalam realitas organisasi yang kompleks, metode linear ini sering kali gagal menangkap gambaran besar. Masalah di dunia nyata jarang sekali menyerupai rantai lurus; mereka lebih mirip jaring labirin yang saling bertautan, di mana satu kejadian dipicu oleh berbagai faktor yang saling memengaruhi secara simultan. Kelemahan utama dari pendekatan 5 Whys yang tradisional adalah kecenderungannya untuk mencari satu penyebab tunggal atau "peluru perak." Sering kali, tim berhenti pada jawaban yang nyaman seperti "kesalahan manusia" atau "kurangnya pelatihan." Padahal, dalam kacamata systems thinking, manusia hanyalah komponen dalam sebuah sistem. Jika kita hanya menyalahkan individu tanpa memperbaiki desain sistem di belakangnya, kita sebenarnya hanya sedang memadamkan api sementara, sementara puntung rokok yang menyebabkannya masih terus menyala di sudut yang tidak terlihat. James C. Paterson dalam konsep "Beyond the Five Whys" mengajak kita untuk beranjak dari pemikiran linear menuju pemikiran sistemik. Alih-alih hanya mengikuti satu jalur tanya-jawab, kita didorong untuk melihat masalah melalui "tiga kaki" penyebab: penyebab langsung, kegagalan deteksi, dan kelemahan sistemik atau budaya. Dengan cara ini, seorang fasilitator dapat membantu tim melihat bahwa sebuah kesalahan teknis bisa jadi berakar dari kebijakan anggaran yang kaku atau budaya kerja yang mengabaikan keselamatan demi kecepatan. Penerapan "Beyond 5 Whys" yang efektif menuntut ketegasan logika yang kita sebut sebagai "Uji Balik" atau Reverse Test. Sebuah rantai penyebab hanya dianggap valid jika kita bisa membacanya dari arah berlawanan menggunakan logika "Jika-Maka." Jika kita mengatakan "kabel putus menyebabkan mesin mati," maka secara logika "mesin mati harus bisa dijelaskan oleh kabel yang putus." Jika ada celah dalam logika ini, berarti ada faktor tersembunyi yang belum terungkap, dan di situlah kedalaman analisis dimulai. Salah satu tantangan terbesar bagi seorang fasilitator adalah menghindari "lompatan logika" yang prematur. Peserta sering kali ingin cepat-cepat menyimpulkan bahwa masalahnya adalah "budaya perusahaan yang buruk." Meskipun mungkin benar, jawaban tersebut terlalu abstrak untuk diperbaiki. Pendekatan yang mendalam memaksa kita untuk menelusuri tangga penyebab setapak demi setapak—dari suhu ruangan yang panas, menuju AC yang mati, hingga pemotongan anggaran perawatan—sehingga solusi yang dihasilkan bersifat konkret dan dapat dieksekusi. Selain itu, kita harus menyadari bahwa satu masalah bisa memiliki banyak akar penyebab yang bercabang. Dalam systems thinking, kita tidak hanya mencari satu jalur "Why," tetapi membangun sebuah pohon penyebab. Sebuah kegagalan operasional mungkin disebabkan oleh kombinasi antara desain alat yang buruk DAN kelelahan staf DAN prosedur yang ambigu. Dengan mengakui multi-kausalitas ini, organisasi tidak lagi terjebak pada solusi dangkal yang hanya mengobati satu gejala saja. Pergeseran dari 5 Whys biasa menuju analisis yang lebih dalam juga berdampak pada budaya organisasi. Ketika fokus beralih dari "siapa yang salah" menjadi "mengapa sistem ini membiarkan kesalahan terjadi," rasa takut akan digantikan oleh rasa ingin tahu. Karyawan akan lebih terbuka melaporkan anomali karena mereka tahu bahwa tujuan analisis ini adalah untuk membangun lingkungan kerja yang lebih tangguh, bukan untuk mencari kambing hitam di akhir sesi rapat. Seorang fasilitator profesional berperan sebagai "detektif sistem" yang menggunakan pertanyaan-pertanyaan sakti untuk menggali lebih dalam. Pertanyaan seperti "Apa yang membuat tindakan ini terasa masuk akal bagi operator saat itu?" dapat membuka tabir tentang tekanan kerja atau instruksi yang membingungkan. Tugas fasilitator bukan memberikan jawaban, melainkan menjaga agar senter analisis tetap menyoroti sudut-sudut organisasi yang paling gelap dan paling jarang diperiksa. Pada akhirnya, efektivitas dari metode "Beyond 5 Whys" diukur dari ketahanan solusi yang dihasilkan. Jika masalah yang sama tidak lagi muncul dalam enam bulan ke depan, berarti kita telah berhasil menyentuh akar sistemiknya. Namun, jika masalah terus berulang dengan aktor yang berbeda, itu adalah sinyal bahwa kita masih bermain-main di permukaan. Kedalaman adalah kunci dari keberlanjutan, dan keberlanjutan adalah tujuan akhir dari setiap upaya perbaikan sistem. Sebagai penutup, memahami logika di balik pertanyaan "mengapa" adalah tentang melatih kerendahan hati untuk mengakui bahwa dunia ini tidak sesederhana yang terlihat. Dengan melampaui angka lima dan melangkah menuju pemahaman sistemik, kita tidak hanya memperbaiki proses, tetapi juga sedang meningkatkan kecerdasan kolektif organisasi kita. Mari kita berhenti hanya bertanya "mengapa" dan mulai bertanya "bagaimana sistem ini bekerja," agar setiap solusi yang kita lahirkan benar-benar menjadi fondasi bagi masa depan yang lebih baik.
Seni framing dalam negosiasi sejatinya mirip dengan pekerjaan seorang fotografer profesional; realitas objeknya sama, namun angle atau sudut pengambilan gambar menentukan apakah hasilnya sebuah kekacauan yang membosankan atau mahakarya yang memikat. Dalam keseharian, framing bukanlah tentang memanipulasi kebenaran, melainkan tentang memilih bingkai mana yang paling tepat untuk menyajikan fakta agar diterima dengan baik oleh lawan bicara. Sebuah gelas yang berisi air setengah bisa dibingkai sebagai "hampir habis" untuk memicu urgensi, atau "setengah penuh" untuk membangun optimisme. Kemampuan untuk menyoroti aspek tertentu dari sebuah masalah—dan membiarkan aspek lain menjadi latar belakang—adalah kunci untuk mengubah resistensi menjadi kooperasi tanpa mengubah fakta dasar sedikitpun. Dalam konteks profesional dan pekerjaan, framing berfungsi sebagai mekanisme saving face (menjaga muka) yang paling ampuh. Seringkali, kebuntuan dalam rapat direksi atau konflik antar-divisi terjadi bukan karena substansi masalahnya, melainkan karena ego yang terancam oleh penyampaian yang terlalu tumpul. Seorang negosiator ulung tidak akan mengatakan, "Ide Anda gagal total," yang memicu pertahanan diri; sebaliknya, ia akan membingkainya kembali menjadi, "Kita telah menemukan cara yang belum berhasil, mari gunakan data ini untuk memitigasi risiko di fase berikutnya." Dengan mengubah narasi dari "kesalahan personal" menjadi "pembelajaran sistemik," kita mengizinkan rekan kerja atau atasan untuk menyetujui solusi baru tanpa merasa kehilangan wibawa, mengubah dinamika "Anda vs Saya" menjadi "Kita vs Masalah." Pada akhirnya, penguasaan teknik framing melampaui sekadar taktik taktis untuk memenangkan perdebatan; ia adalah manifestasi tertinggi dari empati strategis. Baik saat menegosiasikan gaji, menyelesaikan konflik sumber daya alam, atau sekadar memutuskan tujuan liburan keluarga, framing memaksa kita untuk masuk ke dalam sepatu orang lain dan melihat dunia dari lensa ketakutan serta harapan mereka. Ketika kita membingkai proposisi kita sebagai jawaban atas kebutuhan mereka—bukan sekadar tuntutan ego kita—kita tidak sedang mengalahkan lawan, melainkan sedang merangkul mitra. Inilah esensi negosiasi yang elegan: mencapai tujuan sendiri dengan cara membuat orang lain merasa bahwa merekalah yang menang.
Solusi hunian alternatif dengan harga masuk akal di tengah kota. Luasannya juga manusiawi, dari 40-90 m2 (gak kayak rumah subsidi #eh). Di episode Podcast Underdog kali ini gua ngobrol bareng Mbak Elisa, founder & direktur Rujak Center for Urban Studies, tentang kisah keberhasilan Rumah Flat-nya. Kalau tau ini sih, gua ikutan ngebangun bareng-bareng, haha. Tonton sampe habis, siapa tau bisa jadi solusi rumah yang selama ini lo cari. #rumahminimalis #rumahflat #properti #podcast #podcastindonesia
Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."
Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."
Dapatkan berbagai tools yang bisa bantu kamu sukses di usia muda: https://linktr.ee/andreasbordesFollow us on Instagram: @selfdevpodcast
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Erna Lolan dan Meri Kaona dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. Yesaya 26: 1-6; Mazmur tg 118: 1.8-9.19-21.25-27a; Matius 7: 21.24-27.FONDASI IMAN YANG KUAT Tema renungan kita pada hari ini ialah: Fondasi Iman YangKuat. Tema utama kita dalam masa Adven ialah penantian akan kedatangan Tuhan.Secara kodrati, kita tidak merasa nyaman dan menjadi gelisah dengan menunggu.Janji dan harapan selalu kita anggap sebagai berkat, namun menunggu untukrealisasinya sering membuat kita frustrasi. Maka nasihat dasarnya ialah agarkita memiliki fondasi iman yang kuat. Menunggu dengan iman yang kuat adalahkeharusan. Kita manusia selalu begitu: terbuai atau terlena denganjanji, apalagi yang muluk-muluk. Masalah apakah janji itu benar direalisasikan,hal itu ikut membentuk imajinasi kita. Tapi sikap terlena itu hendaknya bukansebuah petualangan liar di luar kesadaran. Jika kita membayangkan sebuahperwujudan harapan yang tidak disertai dengan iman atau keyakinan bahwa harapanitu akan menjadi kenyataan, kita menjadi orang-orang yang sangat menderita. Yang penting adalah sikap realistis. Adven menghadirkankita janji akan pertemuan dengan Tuhan, sekaligus kita selalu berhadapan dengankenyataan sehari-hari yang penuh dengan tantangan dan perjuangan. Pada hari inifirman Tuhan menghadirkan tantangan yang tidak ringan bagi kita. Paling kurangada dua, yaitu pertama memperkuat iman kita dengan dasar dan bangunan yang kuatseperti batu karang, seperti gunung batu yang diwartakan Yesaya dalam bacaanpertama, dan kedua siap untuk menghadapi godaan, ancaman, ujian dan kesulitanserta penderitaan. Posisi kedua tantangan ini harus tetap. Yang pertamajangan menjadi kedua dan sebaliknya. Fondasi iman yang kuat harus yang pertama.Firman Tuhan, semua perintah-Nya dan keutamaan Kristen berguna untuk menguatkaniman. Aspek ini mesti diupayakan sedemikian rupa sampai memenuhi standarseperti biji sesawi yang menjadi berguna bagi semua yang menikmatinya, menjadiragi yang mengembangkan adonan, garam yang mengawetkan tanpa lelah, dan terangyang menghalau kegelapan. Dengan mencapai standar ini berarti kita siap danberani untuk menghadapi tantangan, dan menantikan perwujudan harapan. Masalah muncul kalau urutan itu dibalik: pertamamendapatkan tantangan, penderitaan, atau kesulitan, kemudian baru berupayamenguatkan iman. Bukankah banyak dari kita menemukan masalah atau kebutuhantertentu, baru sibuk mencari ayat-ayat kitab suci untuk dihafal atau didoakan?Pertanyaan ini mewakili semua sikap kita manusia yang sakit dulu baru mencariobat, kesulitan dulu baru berdoa, berdosa saja dulu nanti baru mengaku dosa,dan seterusnya. Ini semua adalah efek langsung dari gaya hidup yang terlalu terlenadengan janji-janji. Untuk mencegah ini, kita perlu selalu menguatkan iman kita. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Bapa yang maha rahim,anugerahilah kami Roh kekuatan supaya kami semakin kuat dalam iman kami setiaphari. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...
Bismillah,Saudaraku, terkadang masalah datang bertubi-tubi, jalan keluar terasa sempit, dan semua usaha sudah dicoba, tapi tetap saja belum menemukan titik terang.Bisa jadi, ada satu amalan sederhana yang terlewat, yaitu sedekah.Sedekah bukan hanya tentang memberi, tapi cara lain untuk memohon Allah Ta'ala agar menolong kita dengan cara yang tidak pernah kita duga. Betapa banyak musibah yang Allah Ta'ala hindarkan, betapa banyak jalan yang kembali terbuka, semata karena kita menggerakkan tangan untuk memberi meski sedang sulit.Saat hidup mulai terasa berat, jangan lupa ingat satu hal: sedekah sering kali menjadi solusi yang besar maknanya.Cuplikan Kajian Wanita Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Hafizhahullah “Sedekah Mengurai Masalah”Untuk informasi lebih lengkap mengenai zakat Insya Allah, bisa menghubungi LAZ Muhajir melalui 081288388501.Nikmati juga kemudahan berzakat melalui Bank Syariah Indonesia (BSI) nomor rekening 1111091036 atas nama LAZ Muhajir.Zakat bersihkan jiwa, tebarkan kebaikan.
Ada sebuah keluhan dari netizen bahwa dirinya merasa aneh mendapati beberapa berita bahwa saat ini pemerintah meminta warga waspada banjir. Karena menurutnya pemerintah seharusnya tidak hanya menghimbau tetapi melakukan sesuatu atau aksi yang benar-benar nyata.
Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 25 November 2025Bacaan: "Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong." (Mazmur 34:16) Renungan: Suatu hari dua murid Yesus sedang berjalan menuju Emaus. Mereka sibuk membahas apa yang sedang terjadi setelah Yesus wafat di kayu salib. Dalam perjalanan tersebut tiba-tiba Tuhan Yesus datang mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka, namun mereka tidak mengenal Dia. Sungguh sangat mengherankan bagaimana mungkin mereka berdua tidak mengenal Yesus, padahal baru 3 hari Yesus meninggalkan mereka. Rupanya ada sesuatu yang menghalangi mata mereka sehingga mereka tidak mengenal Tuhan Yesus. Sebagai murid yang ditinggal oleh gurunya, wajar bila mereka merasa ketakutan, sedih, kecewa dan hilang harapan. Rasa bingung dan putus asa itulah yang telah menutupi pandangan mereka sehingga mereka tidak mengenali Tuhan Yesus. Masalah yang menimpa kehidupan kita, bisa menghalangi kita memandang Tuhan. Tuhan seolah hilang dalam hidup kita. Kalau kita jauh dari Tuhan pun, Ia seolah terlihat kecil. Oleh sebab itu, selalulah berusaha untuk mendekat kepada Tuhan. Ketika kita terus mengarahkan pandangan kepada Tuhan, kita akan bertambah kuat. Sesungguhnya Tuhan tidak pernah menjauh, kita lah yang tidak setia. Tuhan selalu mengarahkan pandangan-Nya kepada kita anak-anak-Nya. Tuhan Yesus memberkati.Doa: Tuhan Yesus, ketika masalah silih berganti menerpa hidupku, terkadang aku tidak bisa melihat bahwa Engkau ada di sampingku. Bahkan aku sering merasa bahwa Engkau meninggalkan aku dan membiarkan aku menjalani hidup ini sendirian. Ampuni aku Yesus, karena kini kutahu bahwa Engkau adalah Allah yang setia, yang selalu ada untuk setiap orang yang senantiasa mencari Engkau. Yesus, Engkaulah andalanku. Amin. (Dod).
Indonesia memiliki jumlah startup terbesar ke-6 di dunia, namun investasi untuk startup justru turun drastis hingga 66% pada 202, terutama di sektor teknologi rendah karbon. Di tengah kebutuhan mendesak akan inovasi hijau, apakah green startup bisa menjadi jawaban atas tantangan iklim dan transformasi industri?Untuk memahami lebih jauh, Institute for Essential Services Reform (IESR) melalui podcast IESR Bicara Energi menghadirkan episode “Antusiasme Green Startup di Indonesia: Saat Inovator Jatuh Cinta pada Masalah Iklim”. Episode ini membahas arah perkembangan startup Indonesia serta bagaimana peran startup dalam menjawab isu-isu keberlanjutan dan dekarbonisasi industri.Narasumber: Jonathan Davy, Co-Founder & CEO Ecoxyztem Venture BuilderHost: Rahmat JES, Koordinator Keterlibatan Pemangku Kepentingan Industri Net-Zero, IESR
Audio Siar Keluar Sekejap Episod 177 menampilkan Toh Puan Na'imah Abdul Khalid dalam satu perbualan khas bagi mengenang legasi Allahyarham Tun Daim Zainuddin, seorang negarawan memainkan peranan penting dalam membentuk landskap kewangan serta politik Malaysia.Dalam episod ini, Keluar Sekejap menelusuri perjalanan hidup Tun Daim daripada anak kampung yang membina impian dan menuntut ilmu di luar negara, sehinggalah menjadi individu yang dipercayai untuk memulihkan ekonomi negara pada saat-saat genting. Toh Puan Naimah berkongsi sisi peribadi dan kisah di sebalik tabir kehidupan Tun Daim; ketenangannya dalam membuat keputusan besar, keakrabannya dengan Tun Dr. Mahathir Mohamad, dan peranannya sebagai “penyelesai masalah” di balik tabir kuasa.Perbincangan ini turut menyentuh hubungan kompleks antara Tun Daim dan Datuk Seri Anwar Ibrahim, perdebatan tentang kronisme dan kapitalisme pada era kepimpinannya, serta cabaran yang dihadapi oleh keluarganya di penghujung hayat beliau.00:00 Intro0:21 Refleksi KS tentang Tun Daim11:10 Latar Belakang Tun Daim23:51 Pemaju Melayu Pertama KL34:46 Sektor Perbankan38:07 Menceburi Politik48:00 Kroni Kapitalis1:10:08 Hubungan Anwar-Daim1:16:37 Kembali ke Kabinet kali kedua1:33:20 Hubungan Tun Mahathir-Tun Daim1:37:13 Council of Eminent Persons (CEP)1:44:30 Kes terhadap Tun Daim & Keluarganya1:53:00 Siapakah Tun Puan Naimah?1:56:00 Keretakan Hubungan Anwar-Daim2:14:00 Kehidupan Peribadi
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 13 November 2025Bacaan: "Serahkanlah khawatirmu kepada Tuhan, maka la akan memelihara engkau!......." (Mazmur 55:23)Renungan: Suatu ketika setelah keluar dari halte bus Transjakarta, saya melintasi jembatan penyeberangan. Dari jauh saya melihat seorang pemuda berusia sekitar 18 tahun sedang lelap tertidur di atas jembatan penyeberangan sehingga sedikit menghalangi orang untuk lewat. Dia tertidur pulas seolah-olah tidak ada beban dalam hidupnya, walaupun hanya tertidur di atas lempengan baja yang penuh debu dengan banyaknya orang yang lalu lalang. Ada banyak di antara kita yang justru diberkati Tuhan dengan tempat tidur yang empuk, AC yang dingin justru tidak bisa menikmati tidur. Banyak alasan yang membuat orang sukar tidur, antara lain karena sakit penyakit, dikejar-kejar hutang, usaha yang mengalami kebangkrutan, perasaan bersalah, kecemasan akan hari esok, takut hartanya dicuri orang, was-was akan nilai ulangan dan ujian, dikhianati pasangan, takut ketahuan korupsi, merencanakan sesuatu yang jahat untuk orang lain dan sebagainya. Hal yang paling utama dari penyebab orang susah untuk tidur adalah jiwa yang tertekan dan kegelisahan hati. Masalah kita tidak jauh lebih besar dari orang-orang yang hidup di kolong jembatan, pinggir jalan, para pengemis dan gelandangan. Lalu mengapa mereka bisa tidur nyenyak sedangkan kita susah untuk tidur? Nikmatilah hidup ini sebagai hadiah dari Tuhan, karena hidup ini hadiah maka jalani dengan baik, agar Sang Pemberi hadiah senang dan senantiasa memelihara kita. Untuk itu, maukah kita tidur nyenyak? Kalau kita mau, ikut sertakanlah Tuhan dalam setiap pergumulan hidup kita, takutlah akan Tuhan dan berharaplah kepada-Nya seperti firman-Nya, "Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku. Tuhan Yesus memberkati.Doa:Tuhan Yesus, Engkau mengetahui kegelisahan dan ketakutanku saat ini. Ada banyak kekhawatiran dalam hidupku yang membuat aku sulit untuk tidur. Ampuni aku Tuhan, karena ketakutanku ternyata lebih besar dari kemampuan-Mu untuk menolong aku. Peluk aku sebentar saja Tuhan, karena aku lelah menghadapi hidup ini. Biar kekuatan-Mu masuk dan menguasaiku sehingga ada pengharapan di tengah jalan yang buntu. Amin. (Dod).
Mengapa sebagian orang selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan, sementara yang lain berjuang hanya untuk didengar? Jawabannya terletak pada penguasaan seni pitch. Pitch bukan hanya presentasi formal di ruang rapat; ia adalah inti dari setiap interaksi—mulai dari momen kencan yang menentukan, wawancara kerja yang krusial, hingga negosiasi sehari-hari. Esai mendalam dan ringkasan audio ini menyajikan logika di balik keberhasilan persuasi, membongkar paradoks bahwa keputusan terbesar dalam hidup, meskipun beroperasi di lingkungan yang logis, justru didorong oleh emosi. Bersiaplah untuk mengubah cara Anda menjual diri dan ide-ide brilian Anda. Jauhi Kelemahan, Rangkul Keyakinan. Karya ini, yang diilhami dari buku Life's a PITCH, menyajikan cetak biru yang logis dan koheren untuk merancang pitch yang tak tertahankan. Kami akan memandu Anda dalam menyingkirkan clutter(kekacauan) yang merusak pesan, menunjukkan mengapa kesederhanaan adalah senjata paling ampuh, dan bagaimana mengubah ancaman risiko (say no) audiens menjadi peluang kegembiraan (say yes). Pelajari strategi "penulis naskah" yang cerdas—mengapa persiapan mental mengalahkan bakat mentah, dan bagaimana struktur "Masalah dan Solusi" dapat secara dramatis meningkatkan nilai solusi Anda di mata audiens. Gairah Mengalahkan Logika. Di bagian akhir, kita akan membahas logika pelaksanaan pitch yang tak kenal takut. Temukan mengapa Kepercayaan Diri adalah mata uang utama di setiap ruangan, mengapa gairah yang membara lebih unggul daripada sekadar analisis data yang dingin, dan bagaimana kharisma—yang berakar pada keberanian untuk menjadi berbeda—secara otomatis menarik kekuasaan. Ini adalah panggilan untuk mengintegrasikan disiplin bisnis ke dalam kehidupan emosional Anda, dan sebaliknya. Dengarkan dan bacalah untuk mendapatkan panduan definitif tentang bagaimana mencapai effortless confidence dan mendominasi setiap momen penentu dalam hidup Anda.
Senin lalu, Komisi Percepatan Reformasi Polri menggelar rapat perdana di Mabes Polri. Komisi yang dipimpin mantan Ketua Mahkamah Konsitusi, Jimly Asshiddiqie ini, ditarget tiga bulan menyusun rekomendasi strategis untuk memperbaiki institusi kepolisian.Dari 10 anggota, lebih dari separuhnya berasal dari unsur pemerintah dan kepolisian, termasuk Kapolri Listyo Sigit Prabowo. Komposisi ini memunculkan keraguan tentang rekomendasi yang nanti dikeluarkan, seberapa obyektif dan imparsial hasilnya? Bagaimana semestinya Komisi ini bekerja? Masalah apa saja di tubuh Korps Bhayangkara yang wajib dibahas dan dipecahkan?Di Ruang Publik KBR kita akan bahas topik ini bersama Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Gufron Mabruri, Pengamat kepolisian ISESS Bambang Rukminto, dan Peneliti ICJR Girlie LA Ginting.
Kembali lagi bersama Aristi, kali ini membahas tentang disertasi dia tentang membangun database untuk memudahkan penelitian di pemukiman kumuh.Follow Instagram @night.in.tokyoFor any inquiries dan pertanyaan seputar kehidupan di Jepang: nightintokyo.podcast@gmail.comWebsite www.nightintokyo.com
Malu untuk bikin konten personal branding itu terkait dengan 'shame' dan 'guilt' yang dirasakan penulis. Apa sajakah itu? Gimana cara mengatasinya?Baca juga konten menarik dan eksklusif di channel telegram Wordholic di s.id/telegram_channel
Kereta cepat Whoosh yang menghubungkan Jakarta-Bandung kembali menjadi sorotan karena ada sebuah permasalahan.
Ternyata kemarin katanya internet lambat itu gara-gara ada masalah di AWS. Masalah terkait dengan DNS. Ini juga dikaitkan dengan ketersediaan SDM yang paham terhadap DNS dan masalah terkait.https://www.theregister.com/2025/10/20/aws_outage_amazon_brain_drain_corey_quinn/#security #incident
Hai Wonder Kids, kembali dalam renungan anak GKY Mangga besar. Judul renungan hari ini adalahPANDANGAN YANG JELAS TENTANG ALLAHMari kita membaca Firman Tuhan dariMAZMUR 138: 7Jika aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku; terhadap amarah musuhku Engkau mengulurkan tangan-Mu, dan tangan kanan-Mu menyelamatkan aku.Wonder Kids,Bayangkan kamu punya jendela kaca di hatimu. Waktu kamu dekat dengan Tuhan, jendela itu jernih, dan kamu bisa “melihat” Allah dengan jelas—seperti melihat langit biru atau bunga indah di taman. Tapi suatu hari, jendela itu mulai retak karena terkena kerikil kecil. Kerikil itu seperti:• Masalah di sekolah,• Perasaan sedih,• Atau pertengkaran dengan teman.Saat jendela hati kita penuh retakan, kita jadi sulit melihat Tuhan. Kita bertanya-tanya:• “Kenapa Tuhan izinkan semua ini?”• “Apakah Tuhan masih sayang aku?”Tapi tenang ya, Wonder Kids... Tuhan Yesus tetap dekat. Dia tidak pernah pergi. Dia justru semakin dekat saat kamu sedang susah.MARI KITA BERTUMBUH DI DALAM ANUGERAH TUHANWonder Kids, Yuk, coba eksperimen kecil!1. Lihat ke luar jendela – kamu bisa melihat semuanya dengan jelas.2. Sekarang, tiuplah napas ke kaca. Kaca jadi berkabut, ya?3. Tapi apakah bunga, langit, atau pohon di luar hilang?Tentu tidak! Mereka masih ada di sana, hanya terhalang kabut.Sama seperti itu, Tuhan tidak pernah hilang, hanya kadang kita tidak bisa melihat-Nya dengan jelas karena masalah atau rasa takut. Tapi saat kita bersabar dan tetap percaya, "kabutnya" akan hilang, dan kita bisa melihat kasih Tuhan dengan jelas lagi.Mari kita berdoaBapa, meskipun aku berjalan dalam kesulitan, aku percaya Engkau akan selalu bersamaku. Tolong aku untuk tidak takut dan tetap berharap pada-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa, Amin. Wonder Kids, ingat ya! Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Saat kamu merasa sedih atau bingung, Tuhan tetap menjaga dan menyertaimu. Tuhan Yesus memberkati!
Anggota Komisi VI DPR RI, Herman Khaeron, menegaskan bahwa kebijakan Presiden Prabowo Subianto membuka peluang profesional asing memimpin BUMN harus dilihat dari sisi bisnis, bukan politik.Dalam wawancara bersama Ariek Kristo di Radio Elshinta, Herman menyoroti pentingnya good corporate governance, perlindungan saham mayoritas negara, serta penguatan talenta muda Indonesia di dunia korporasi.Ia juga menyinggung kondisi Garuda Indonesia yang sempat terpuruk dan kini ditargetkan kembali mengudara dengan 100 pesawat pada akhir 2025.Simak pandangan lengkapnya hanya di Elshinta Podcast.
Istri sering ngomel bukan tanda galak, tapi karena energi maskulinnya lebih tinggi.Hal ini bisa terjadi karena perempuan berada dalam mode survival dan belum merasa aman.Apa yang bisa dilakukan untuk mengembalikan peran yang tertukar?Raden Prisya menjelaskan energi maskulin dan feminin yang bisa menjadi sebab perpisahan rumah tangga jika tidak diterima dengan baik.Timestamp:00:00 Opening03:20 Definisi energi maskulin dan feminin08:15 Masalah yang bahaya bagi pernikahan15:00 Ketika bapak mulai gak mau ngadepin masalah24:27 Maskulin energi berasal dari protector kita40:03 Kalau suamiku gak mau berubah, harus gimana?
Kencan Dengan Tuhan - Sabtu, 23 Agustus 2025Bacaan: "... sehingga batu itu terbenam ke dalam dahinya dan terjerumuslah ia dengan mukanya ke tanah. Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu, ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya tanpa pedang di tangan" (1 Samuel 17: 49-50)Renungan: Tidak selamanya memiliki badan yang besar pasti akan selalu menang. Dalam dunia hewan kita mengetahui bahwa seekor gajah yang besar, bisa sangat takut kepada hewan kecil seperti tikus. Keadaan tersebut tentu berlaku juga bagi umat manusia, dimana tidak ada jaminan bahwa orang yang berbadan besar dan tinggi selalu bisa menang atas orang-orang yang lebih kurus atau kecil. Contoh nyata yang tercatat dalam firman Tuhan adalah seorang Daud yang berbadan kecil, bahkan tanpa pedang mampu mengalahkan Goliath seorang manusia berbadan besar seperti raksasa Filistin. Ilustrasi diatas juga berlaku untuk setiap masalah besar yang kita hadapi. Masalah sebesar apapun belum tentu bisa benar-benar mengalahkan iman serta keteguhan hati kita. Pertanyaanya adalah, apakah kita juga sering dikalahkan dan menyerah terhadap masalah besar di hadapan kita? Selama kita tahu kelemahan atau titik pusat permasalahan tersebut, maka kita bisa dengan mudah menaklukkan dan mengalahkan masalah sebesar apapun. Akan tetapi kita juga harus ingat satu hal, bahwa Daud juga tidak datang tanpa persiapan, sebelum maju perang, Daud tentu sudah datang terlebih dahulu kepada Tuhan. Jadi datanglah terlebih dahulu kepada Tuhan sebelum kita maju untuk menyelesaikan permasalahan kita! Mintalah agar Tuhan membukakan jalan, serta menunjukkan titik lemah dari permasalahan yang sangat besar tersebut. Maka kita dapat dengan mudah mengalahkan permasalahan besar dalam hidup kita! Tuhan Yesus memberkati.Doa:Tuhan Yesus, bukalah hatiku untuk dapat menemukan akar dari permasalahan yang aku hadapi saat ini. Jangan biarkan imanku dikalahkan oleh permasalahan dalam hidupku ini. Yakinkan dalam hatiku bahwa Engkau lebih besar dari masalah yang kuhadapi saat ini. Amin. (Dod).
Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 12 Agustus 2025Bacaan: "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara Tuhan, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka Tuhan, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara Tuhan, Allahmu." (Ulangan 28:1-2) Renungan: Kegagalan adalah bagian dari hidup manusia. Apakah dengan kegagalan manusia itu Allah gagal memelihara umat-Nya? Tidak! Kegagalan yang dialami umat Tuhan bukan menunjukkan bahwa Allah lemah, tapi justru dalam kegagalan-kegagalan itu, Allah hendak melatih kita agar tetap gigih dalam memperjuangkan hidup. Perhatikanlah bahwa setiap keberhasilan tidak pernah lepas dari kegagalan. Sekecil apapun kita pasti pernah merasakan kegagalan. Tetapi hendaklah kegagalan itu tidak membuat kita kapok berusaha, kapok bekerja dan kapok mencoba. Bisa jadi dengan banyaknya kegagalan yang kita alami, Allah sedang mempersiapkan keberhasilan yang gilang gemilang. Seperti contohnya Thomas Alfa Edison. Setelah melewati ribuan kali kegagalan, pada akhirnya ia bisa membuat bola lampu listrik yang bisa kita nikmati sampai hari ini. Bacaan di atas mengingatkan kita perlunya mendengarkan suara Tuhan dan melakukan segala perintah-Nya. Hal itu akan mendatangkan banyak berkat dalam kehidupan kita. Karena itu jika hidup kita ingin behasil, dengarkanlah suara Tuhan dan lakukanlah segala perintah-Nya. Jangan pernah menyerah karena kegagalan yang kita alami, karena Yesus kita jauh lebih besar dari kegagalan yang kita alami. Dan Yesus kita terlalu sanggup untuk melakukan segala perkara. Tuhan Yesus memberkati.Doa: Tuhan Yesus, terima kasih atas firman-Mu hari ini yang memberiku semangat untuk tetap berjuang walau hidup semakin susah. Aku bersyukur karena Engkau lebih besar dari semua kegagalan, semua ketakutan, semua kecemasan, semua masalah dan semua penyakitku. Kini aku datang padaMu, memohon berkat-Mu untuk semua usaha dan pekerjaan yang akan aku lakukan sepanjang hari ini. Beracaralah dalam semuanya itu, dan yakinkan aku bahwa ada berkat dalam setiap jerih payahku sepanjang hari ini. Amin. (Dod).
Teknologi bikin segalanya instan, termasuk cinta (dan tersesat). Swipe kanan, match, lo pikir nemu jodoh? gak cuy. Cuma lagi antre buat di-ghosting, di-gaslight, atau bahkan cuma dijadiin opsi cadangan.#PodcastBercanda
Albert Wirya, Direktur LBH Masyarakat, membahas mengapa ASN takut bersuara, sistem whistleblowing yang berlubang, dan pentingnya mengawal revisi KUHAP sesuai keinginan masyarakat sipil
Pembawa Renungan : RP. Albertus Joni, SCJ Palembang Luk. 1:57-66,80
PBB dan Badan Tenaga Atom Internasional menyerukan diplomasi setelah AS bergabung dalam serangan Israel terhadap Iran.
West Java Governor Dedi Mulyadi has begun implementing a mandatory military service program for troubled teenagers in the province. Will this move solve the problem? - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mulai menerapkan program wajib militer bagi remaja bermasalah di provinsi itu. Akankah langkah ini menyelesaikan masalah?
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 8 Mei 2025Bacaan: "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (Ratapan 3:22-23) Renungan: Di dalam kehidupan ini, ada banyak kesulitan yang kita hadapi, di mana kita tidak sanggup untuk menjalaninya seorang diri. Setiap kita butuh Tuhan untuk menopang dan memegang tangan kita dalam melalui terjalnya kehidupan ini. Sejauh manakah kita menaruh harapan untuk mengandalkan Tuhan dalam mengawali hari demi hari yang kita lalui sepanjang masa? Bukankah kasih-Nya yang selalu baru setiap pagi selalu tersedia bagi kita. Tuhan selalu menanti agar kita meminta kekuatan, bimbingan, dan penyertaan perlindunganNya. Mari belajar untuk mengawali hari dengan menyediakan waktu untuk Tuhan disertai ucapan syukur, sebab hanya Tuhan yang mampu menolong kita untuk menempuh hari-hari hidup yang dikaruniakan-Nya. Berikut adalah puisi untuk mengingatkan kita pada hari-hari yang kita jalani setiap hari."Suatu hari aku bangun lebih pagi, dan bergegas memasuki hari itu.Terlalu banyak yang harus aku kerjakan, sehingga tiada waktu untuk berdoa. Masalah datang menimpaku, dan setiap tugas terasa semakin berat.Aku heran, "Mengapa Tuhan tidak menolongku?" Dia menjawab, "Engkau tidak memintanya." Aku ingin melihat sukacita dan keindahan, tetapi hari begitu kelabu dan mendung.Aku heran mengapa Tuhan tidak memberikannya. Jawab-Nya, "Tetapi engkau tidak mencarinya." Aku mencoba untuk masuk ke dalam hadirat-Nya,kugunakan seluruh kunci pada pintu-Nya. Tuhan dengan manis dan kasih-Nya menegurku, "Anakku, engkau tidak mengetuk." Aku bangun lebih pagi hari ini, berdiam sejenak memasuki hari ini. Terlalu banyak yang harus kukerjakan, Karnanya aku perlu ambil waktu untuk berdoa." Sulit atau tidaknya perjalanan hidup kita, yang pasti itu harus tetap kita tempuh. Namun, yang menjadi permasalahannya adalah: apakah kita melaluinya dengan mengawalinya bersama Sang Pencipta kita. Mari kita setia mengawali hari-hari kita dengan menyediakan waktu bagi Tuhan untuk mencurahkan kekuatan pada kita dalam melalui hari itu! Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk setia berdoa dalam mengawali hari-hariku bersama-Mu, karena hanya Engkaulah sumber kekuatan di dalam kehidupanku. Amin. (Dod).
From tax breaks to 5 per cent down payments – the major parties have now put their offers to first-time home buyers. - Mulai dari penghapusan pajak hingga uang muka 5 persen - partai-partai besar kini telah mengajukan penawaran mereka kepada para pembeli rumah pertama.