Renungan harian katolik yang ditulis oleh Pastur Peter Tukan SDB. Diupdate setiap harinya.

Delivered by Maria Delie and Delon from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. THE CROSS OF GLORY Our meditation today is entitled: The Cross of Glory.The crossbar or commonly called the cross, before becoming the crucifix ofJesus was a sign of extraordinary humiliation. The human person condemned onthe cross was the most useless criminal. But when it began with Jesus Christbeing severely punished until His death on the cross, the meaning of the crosschanges. For followers of Christ, the cross is a sign of glory. In addition, intheir spiritual understanding, the cross is a sign of death for sin, evil andweakness. The cross as a pillar of glory for Jesus Christ hasthe meaning of salvation. In the days of Moses and the Israelites wandering inthe wilderness, the cross was unknown to them. The crossbar or wood of crossonly became popular when the Roman colonists made it a means to punish great criminals. Butas a pillar planted in the ground and has purpose of bringing salvation wasalready known to Moses and the chosen people. According to the book of Numberschapter 21, the bronze snake placed on a pole was the object of view for peoplewho were bitten by wild snakes, and they became healed. They did not die orperish because of the poisonous snakes, but recovered and saved. As Jesus carried the cross on His shoulders in Hispassion story and especially when He was nailed until he died on the same cross,salvation that is signified with cross is perfected to glory. The simple crossmade of wood had become the crucifix of the Lord Jesus. Salvation is a momentof liberation from the torments of pain, suffering and death. From salvation, aperson is raised to a high place where Jesus Christ is with the Father and theHoly Spirit. On that crucifix the body of Jesus dead and hung mercilessly on itbut His Spirit is alive and gloriously united with the Father, as He Himselfsays in the Gospel today: "When you lift up the Son of Man, then you will realizethat I AM." We are heading for the agony of Jesus Christ beginningfrom the garden of Gethsemane to the Calvary. This reminds us of theexperiences of each of us or many people around us. Jesus suffered terriblywith the fact that He died on the cross, which reminds us of the severity andcruelty of sufferings that we also might have experienced. Our spirits and soulsdo not have to be bound by a body that is nailed on the cross of suffering. Ourbodies will eventually die and destroyed, but our spirits and souls will cometo a new life by achieving salvation and embracing glory. Following JesusChrist means we must go through the sufferings of our bodies, because we havebeen promised by Him the best result that will follow after our death.Let'spray. In the name of the Father ... O glorious Jesus, may we always be happyand joyful with the cross that each of us bears every moment of life. Hail Mary,full of grace... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Arthur J. Homeric dari Paroki Santo Yosef Pekerja, Gotong-gotong di Keuskupan Agung Makassar, Indonesia. Bilangan 21: 4-9; Mazmur tg 102: 2-3.16-18.19-20; Yohanes 8: 21-30.TIANG KEMULIAAN Renungan kita pada hari ini bertema: Tiang Kemuliaan.Tiang kayu palang atau lazimnya disebut salib, sebelum menjadi salib Yesusadalah sebuah tanda kehinaan luar biasa. Pribadi manusia yang dihukum di salibialah seorang penjahat yang paling rendah martabatnya. Tetapi ketika mulaidengan Yesus Kristus yang dihukum berat dengan targetnya ialah kematian-Nya disalib, makna salib itu berubah. Bagi para pengikut Kristus, salib adalah tandakemuliaan. Di samping itu, dalam pemahaman rohani salib dipandang sebagai tandakematian akan dosa, kejahatan dan kelemahan. Salib sebagai sebuah tiang kemuliaan untuk Yesus Kristusmemiliki makna keselamatan. Pada zamanMusa dan bangsa Israel mengembara di padang gurun, salib belum mereka kenal.Tiang palang itu baru menjadi populer ketika bangsa penjajah Romawimenjadikannya sebagai sarana untuk menghukum para penjahat kerajaan. Tetapisebagai tiang yang tertanam di tanah dan bermakna keselamatan, fungsi itu sudahdikenal oleh Musa dan bangsa terpilih. Menurut kitab Bilangan bab 21, ulartembaga yang ditaruh pada tiang menjadi tujuan pandangan orang-orang yangdipagut ular liar, dan mereka menjadi sembuh. Mereka tidak mati atau binasakarena ular, tetapi selamat dan pulih kembali. Sejak kayu palang ditaruh di pundak Yesus dalam kisahsengsara-Nya dan khususnya saat Ia bergantung hingga wafat di atasnya, maknakeselamatan yang ditampilkan oleh salib disempurnakan menjadi kemuliaan.Keselamatan itu sebagai sebuah pembebasan dari ikatan-ikatan yang menyiksa atauyang membawa derita. Dari keselamatan, seseorang dinaikkan ke tempat yangtinggi yaitu tempat Yesus Kristus bersama Bapa dan Roh Kudus berada. Di atassalib itu tubuh Yesus yang mati bergantung tetapi Roh-Nya bangkit dengan mulia,seperti yang dikatakan-Nya sendiri di dalam Injil tadi: “Apabila kamu telahmeninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia.” Kita sedang menuju pada peringatan sengsara Yesus Kristusdari taman Getsemani ke bukit Golgota. Hal ini mengingatkan kita akanpengalaman penderitaan kita masing-masing atau orang lain di sekeliling kita.Yesus menderita sangat hebat dengan buktinya Ia bergantung pada salib, yangmengingatkan kita akan hebat dan parahnya penderitaan yang pernah kita alami.Roh dan jiwa kita tidak mesti terbelenggu oleh tubuh yang didera beratnya salibpenderitaan. Tubuh kita memang akhirnya mati dan hancur, tetapi roh dan jiwakita akan bertahan untuk melewati keselamatan dan sampai kepada kemuliaan.Mengikuti Yesus Kristus berarti kita harus melewati penderitaan tubuh kita,karena kita sudah dijanjikan hasil terbaiknya yang akan menyusul. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Yesus yang mulia, semoga kami senantiasagembira dan suka cita dengan salib yang ada pada kami masing-masing. SalamMaria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Father Peter Tukan, SDB from Salesian Don Bosco Gerak in the Diocese of Labuan Bajo, Indonesia. Daniel 13: 1-9.15-17.19-30.33-62; Rs psalm 23: 1-3a.3b-4.5.6; John 8: 1-11.WHEN STONE AND STICK REFUSE The title for our meditation today is: When Stone andStick Refuse. Jude is a naughty and stubborn teenager but smart. Both of hisparents have been summoned more than once to the school by the principal andteacher regarding their boy's behavior. At home, Jude has been given variouskinds of punishment, from the ordinary reprimands to the slaps and otherphysical beatings. Among all these punishments, what Jude always tries to avoidis his father's beating using pieces of wood or throwing objects that are withinhis hands reach. Here is Jude's ingenuity serves to save himself fromthe punishment of his father. He hides the sticks and objects that his fatheralways uses to hit him. Jude does it especially when he wants to do somethingnaughty. He should first hide the stone, things, and sticks. As a result, whenhis father is about to punish him, the sticks, stone or things are out ofplace. Stones and sticks that are easy to use are no longer found. The fatherthen relents. He feels like a person who is not strong anymore. He must think twice, that in the end "stone andstick or objects refuse" to be used in punishing his son. He must findanother way, which according to education is certainly more effective, whencorrections and improvements are to be made. The repressive or offensiveapproach in how we solve problems in life is no longer advisable and effectivefor today's education and human formation. The science of education, andspecifically the one taught by Saint John Bosco, that in overcoming problems ofdiscipline, delinquency, chaos, we need to use the preventive system. Today we meet Jesus Christ in the midst of a crowdthat is always in opposition with Him mostly on the matter of understanding andbelief, namely the Pharisees and the scribes. They faced a problem thataccording to the law was a very grave one. A woman was found committingadultery, and this is considered a sin that must be paid by death. Therepressive nature of the Jewish law demands that this sinner be put to death bystoning at her. The Jewish men also invloved in this sin of adultery were theones who condemned the woman. Jesus came with an approach of love and mercy.This approach starts with an awakening of awareness and self-knowledge. The new way of Jesus involves activating rationality,awareness, reflection, opening the eyes and heart as the first stage. Then onceawareness and self-knowledge are already formed, especially in knowing that weare sinners and we need renewal, God pleases to forgive us. That process wasexperienced by the sinful woman told in the today's Gospel. The power of lovebrought by the Lord Jesus is able to eliminate the use of "stone, sticksor other objects" as instruments to create goodness, justice, and peace.We must follow this power of love. Let'spray. In the name of the Father ... O most loving and merciful Jesus, in comingcloser to the Holy Week, may we we will be stronger in our preparation both ourbodies and souls. Hail Mary, full of grace... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Pastor Peter Tukan, SDB dari Salesian Don Bosco Gerak di Keuskupan Labuan Bajo, Indonesia. T.Daniel 13: 1-9.15-17.19-30.33-62; Mazmur tg 23: 1-3a.3b-4.5.6; Yohanes 8:1-11.KETIKA BATU DANKAYU MENOLAK Tema renungan kita pada hari ini ialah: Ketika Batu danKayu Menolak. Yudi seorang remaja nakal dan bandel namun pintar. Kedua orangtuannya sudah kesekian kaliannya dipanggil oleh kepala sekolah dan guru kelasperihal sikap-sikap anaknya itu. Di rumah, Yudi sudah diberikan berbagai macamhukuman, dari teguran biasa sampai tamparan dan hukuman fisik lainnya. Diantara semua hukuman itu, yang paling Yudi hindari ialah pukulan ayahnya denganmemakai potongan kayu atau lemparan benda yang saat itu pas ada di tangannya. Di sini kecerdikan Yudi berfungsi untuk menyelamatkandirinya dari hukuman ayahnya. Kayu dan benda yang selalu ayahnya pakai untukmemukulnya, ia sembunyikan. Yudi lakukan itu khususnya pada waktu hendaksengaja berbuat nakal, ia lebih dahulu menyembunyikannya. Hasilnya, pada saatayah nekat akan menghukumnya, potongan kayu sudah tidak ada di tempatnya. Batudan barang-barang lain yang mudah untuk dipakai tidak ditemukan lagi. Sang ayahkemudian mengalah. Ia merasa seperti menjadi orang yang tidak kuat lagi. Ia harus berpikir lagi, bahwa pada akhirnya “batu dan kayuatau benda menolak” untuk dipakai dalam menghukum anaknya. Ia harus menemukancara lain, yang pasti menurut ilmu pendidikan lebih efektif, ketika koreksi danperbaikan hendak dilakukan. Hal ini sangat menyinggung secara umum pendekatanrepresif atau kekerasan dalam cara kita menyelesaikan permasalahan di dalamhidup. Ilmu pendidikan, dan khususnya yang diajarkan oleh Santo Yohanes Bosco,dalam mengatasi masalah disiplin, kenakalan, kekacauan, adalah preventif ataupencegahan. Hari ini kita berjumpa dengan Yesus Kristus di tengahorang banyak yang selalu berseberangan paham dan keyakinan, yaitu kaum Farisidan para ahli Taurat. Mereka berhadapan dengan suatu masalah yaitu wanita yangkedapatan berbuat zinah, dan ini dianggap sebagai dosa amat berat. Sikaprepresif oleh hukum Yahudi menuntut supaya pendosa ini dihukum mati melaluimelemparinya dengan batu sampai mati. Yesus datang dengan pendekatan kasih,yaitu penyadaran dalam hal membuka kesadaran dan pengenalan diri. Pendekatan oleh Yesus berisi pengaktifan rasionalitas,kesadaran, refleksi, membukakan mata dan hati sebagai tahap pertama. Kemudianbegitu kesadaran dan pengetahuan diri sudah terbentuk, terutama tahu bahwa dirikita adalah pendosa dan butuh pembaharuan, Tuhan berkenan memberikanpengampunan. Proses itu yang dialami wanita pendosa yang dikisahkan di dalamInjil tadi. Kekuatan cinta kasih yang dibawa oleh Tuhan Yesus mampumenghilangkan penggunaan “batu, kayu atau benda lain” sebagai instrumen untukmenciptakan kebaikan, keadilan, dan damai. Kita harus mengikuti kekuatantersebut.Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa ... Ya Yesus, semoga dengan semakin dekat pekansuci, kami semakin kuat dalam menyiapkan diri lahir dan batin. Salam Maria,penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Xerafina and Svara Nirmala from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Jeremiah 11: 18-20; Rs psalm 7: 2-3.9bc-10.11-12; John 7: 40-53.THE LORD SPEAKS Our meditation today is entitled: The Lord Speaks. Intoday's first reading, the prophet Jeremiah mentions an important response whenthe threat of persecution confronts us. He said that God had told the believersthat suffering and persecution would come anytime. Knowledge or awareness thatprecedes the real persecution indeed helps shaping our response. Normally wereact to it in two ways, namely to fear and avoid the danger or with allcourage and strength we fight or stand on our feet to face it. Jeremiah had a special vocation from God, so doesJesus Christ. They carried out the mission entrusted to them by the Father.Along with this, the Father in heaven also told them that for the realizationof that mission, they should pass through various obstacles, threats ofviolence, and persecution. In this sense, our two examples, Jeremiah and JesusChrist, are presented today by the Scriptures like a lamb brought to thedesignated place to be slaughtered and sacrificed. When accepting what God hadentrusted, both of them were mentally and spiritually ready to face the worstof this world culture, which is death. The Lord does speak and make known the imminent dangerthat really benefits those who are persecuted. Because the Lord will be withthem, He arranges everything happens under His control. But on the part of thepersecutors, there is chaos happening among them. They are controlled by muchanger, hatred, and evil plans because of the many interests involved and theyare mostly divided. The Pharisees and the scribes were not in agreement abouttheir evil plans. This is true enough to represent the fact that every form ofevil plan and action will never bring calmness, peace, joy and happiness. Itinstead produces troubles in our minds and souls. God always tells us about what will happen when itcomes to our responses to the faith, namely fundamental option, vocation, andministry. He reveals truth and divine wisdom to us in various ways and throughvarious instruments. He is the one who chooses and calls us, then entrusts toeach of us or together with different responsibilities and works. It also meansthat He is putting in our consciousness and belief not only the goals we willachieve, but especially the risks we will encounter. There is always risk andbad impact in each of our work or service. But because we are continuallyilluminated and strengthened by the faith we profess, we make our ways forwardwith the belief that God will be with us. The Lord continues guiding us with orwithout our request. We need to encourage one another that our thoughts, wordsand actions should be always in the light of the Lord.Let'spray. In the name of the Father ... O wise and good Lord, englighten always oursteps in this very moment of fear and doubt that disturb our active andpeaceful life . Hail Mary, full of grace ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Aloysius Arakian dan Nelky Kornelia Kana dari Paroki Santo Fransiskus Asisi Lamahora, Dekenal Lembata di Keuskupan Larantuka, Indonesia. Yeremia 11: 18-20; Mazmur tg 7: 2-3.9bc-10.11-12; Yohanes 7: 40-53.TUHANMEMBERITAHU Renungan kita pada hari ini bertema: Tuhan Memberitahu. Didalam bacaan pertama hari ini, nabi Yeremia menyebut satu sikap yang pentingketika ancaman penganiayaan itu menghadang kita. Katanya bahwa Tuhan sudahmemberitahu kepada orang percaya, kalau penderitaan dan penganiayaan itu akantiba. Pengetahuan yang mendahului kejadian yang sesungguhnya sangat membantupembentukan sikap kita. Sikap menghindari, lari ketakutan, menyerah sebelumberjuang, menghadapi dengan keras, dan rela bertahan demi kebenaran, merupakansikap-sikap yang umumnya kita lakukan. Yeremia mempunyai panggilan khusus dari Tuhan, demikianjuga Yesus Kristus, yaitu mengemban misi yang dipercayakan Bapa kepada-Nya.Bersamaan dengan ini, Bapa di surga juga memberitahukan mereka bahwa demiterwujudnya perutusan yang dipercayakan itu, mereka akan melewati berbagairintangan, ancaman kekerasan, dan penganiayaan. Dalam aspek ini, kedua tokohkita ini ditampilkan kitab suci seperti domba sembelihan yang dibawa ke tempatpembantaian dan dikorbankan. Tuhan memberitahu mereka dengan amat jelas, sehinggabaik Yeremia maupun Yesus Kristus sudah siap secara mental dan rohani untukmenghadapinya. Hasil pemberitahuan dari Tuhan ini jelas menguntungkanpihak yang teraniaya, karena Tuhan akan menyertai mereka dan semuapenyelenggaraan sesuai dengan kehendak-Nya. Tetapi di pihak penganiaya justruterjadi kekacauan karena kemarahan, kebencian, dan kejahatan di dalam dirimereka yang syarat dengan kepentingan, sehingga membuat mereka terpecah-belah.Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat tidak berada dalam kesepakatan tentangrencana jahat mereka. Hal ini cukup merepresentasikan kenyataan bahwa setiap bentukrencana dan tindakan jahat tidak akan pernah diwarnai keadaan nyaman atautenang, tetapi sebaliknya suasana batin dan jiwa yang kacau. Tuhan senantiasa memberitahu kita tentang apa yang bakalterjadi terkait dengan pilihan komitmen iman, panggilan, atau pelayanan kita.Ia memberitahukan kita dalam berbagai cara dan melalui aneka perantaraan.Dialah yang memilih dan memanggil kita, lalu mempercayakan kepada kitamasing-masing atau bersama jenis tanggung jawab dan pekerjaan. Itu juga berartiDialah yang menaruh di dalam kesadaran dan keyakinan kita bukan hanya tujuanyang kita capai, tetapi terlebih-lebih risiko yang bakal kita hadapi. Tidakmungkin tidak ada risiko atau efek samping dari setiap pekerjaan atau pelayanankita. Tapi karena kita sudah diterangi oleh iman tentang hal ini, kita dibuatuntuk melangkah ke depan dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menyertai danmembimbing kita. Harapannya ialah pikiran, kata-kata, dan tindakan kita selaludi dalam terang Tuhan.Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan yang bijaksana, terangilah selalulangkah hidup kami setiap saat. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Johana from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral, in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Wisdom 2: 1a.12-22; Rs psalm 34: 17-18.19-20.21.23; Yohanes 7: 1-2.10.25-30.HIS TIME DOES NOT YET COME The title for our meditation today is: His Time DoesNot Yet Come. Soon we will celebrate the holy week. It's about two weeks fromnow. The passion and death of Jesus Christ is the ultimate experience of Hissuffering. In anticipating this great celebration, we encounter the days thatprecede, including today, filled with various difficulties befalling on Jesus.The threats were truly real, direct, and certain for Him. He was on the vergeof persecution. Long before the real experience of Jesus Christ, thebook of Wisdom already described such persecution which was eventuallyrealized in Jesus Christ. He said: “Come, we try him with persecution andtorture, so that we know the gentleness and patience of his heart. Let uscondemn him to death, because according to him he must have received help” (Wis2, 19-20). The Gospel of John that we have just heard reaffirms the describedpersecution by saying: “The Pharisees tried to arrest Jesus but no one touchedHim, because His time had not yet come” (Jn 7.30). His time had not yet come because it should haddepended entirely on the Father's Will. Holy Thursday night and Good Friday hadnot yet arrived. All of us and everyone are subject to this particular timelimit. All of us must respect the important aspects to be happened in this timeof the Lord Jesus Christ. Although the waves of anger, jealousy, hatred, andviolence from His opponents seemed unchallenged, they were obliged to restrain.Even though man's will is very strong, God has the power to determine the timefor His Will to happen. What does it mean the imminent persecution of JesusChrist? First, we interpret it with our response "Amen". We acceptthis reality and believe it as a way of fulfilling the Father's will on thepart of Jesus, and as the content of our faith. In the prayer of "IBelieve" we express our faith by saying in this way: He who suffered underthe Pontius Pilate, was crucified, died, and was buried. We agree and acceptthis evil treatment towards Jesus which means we also accept the Lord's teachingand invitation to follow Him in every moment of suffering that we face in ourlives. We also interpret it as our act of faith, which meanswithout fear and doubt we continue to maintain the truth and wisdom in ourfaith responsibility to take part in God's work. Usually, the temptation forthose who are in a situation of suffering and persecution is fear andeventually surrender to the influence of the tempter. This is what an authenticfollower of Christ should not do. In an imminent trial or persecution we dohave courage to cry out: our courage and willingness to face is only for the sakeof our participation in the way of our Lord Jesus Christ. Let'spray. In the name of the Father ... O merciful Father in heaven, strengthen usalways especially when we are in the midst of suffering and persecution, sothat we may remain always in Your way. Our Father who art in heaven... In thename of the Father ...

Dibawakan oleh Markus Soge Purab dan Fidelia Bulu Niron dari Stasi Santo Petrus Waowala, Paroki Santo Bernardus Abbas Tokojaeng, di Keuskupan Larantuka, Indonesia. Kebijaksanaan 2: 1a.12-22; Mazmur tg 34: 17-18.19-20.21.23; Yohanes 7: 1-2.10.25-30.SAATNYA TUHAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: Saatnya Tuhan.Tidak lama lagi, sekitar satu minggu ke depan, kita akan merayakan pekan suci.Peristiwa sengsara dan wafatnya Yesus Kristus merupakan pengalaman puncakpenderitaan-Nya. Antisipasi perayaan besar ini kita jumpai pada hari-hari menjelangnya, termasuk pada hari ini. Bentukantisipasi itu ialah aneka kesulitan sebagai perlawanan terhadap Yesus. Ancamanterhadap diri-Nya benar-benar nyata, langsung, dan pasti. Ia berada di ambangpenganiayaan. Jauh sebelum pengalaman nyata Yesus Kristus itu, kitabKebijaksanaan telah menggambarkan penganiayaan ini. Katanya: Mari, kitamencobainya dengan aniaya dan siksa, agar kita mengenal kelembutannya sertamenguji kesabaran hatinya. Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati kejiterhadapnya, sebab menurut katanya ia pasti mendapat pertolongan (Keb 2,19-20). Injil Yohanes yang baru saja kita dengar memperkuat gambaran saatpenganiayaan itu dengan menyebut: orang-orang Farisi berusaha menangkap Yesustetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba (Yoh7,30). Saat-Nya yang belum tiba bergantung sepenuhnya padapenyelenggaraan Allah. Hari Kamis malam dan Jumat Agung belum tiba. Kita semuadan setiap orang tunduk pada ketentuan waktu yang belum tiba ini. Semuanyaharus menghormati aspek penting seperti apa berada dalam saatnya Tuhan YesusKristus. Meski gelombang amarah, iri hati, benci, dan kekerasan tampaknya takterbendung, mereka wajib menahan dirinya saja. Biarpun gelombang itu amat kuat,Tuhan belum mengizinkan saatnya tiba. Seperti apa kita memaknai berada di ambang penganiayaanYesus Kristus? Pertama-tama kita memaknainya dengan seruan “Amin”. Kitamenerima kenyataan ini dan mengimaninya sebagai bentuk pemenuhan kehendak Bapadari pihak Yesus, dan sebagai isi iman kita. Di dalam doa “Aku Percaya” kitaungkapkan iman kita dengan menyebutkan: Yang menderita sengsara dalampemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, wafat, dan dimakamkan. Mengamini iniberarti juga kita menyanggupi ajaran dan undangan Tuhan untuk mengikuti Dia dalamsetiap saat penderitaan yang kita hadapi di dalam hidup kita. Kita memaknai ini juga dengan tak gentar supaya kita tetapmempertahankan kebenaran dan kebaikan sebagai tanda kita mengambil bagian didalam Tuhan. Biasanya godaan bagi mereka yang berada dalam situasi ambangderita dan penganiayaan ialah takut atau menyerah dan tunduk kepada pihakpenganiaya. Ini yang tidak boleh dilakukan oleh pengikut Kristus yang autentik.Di ambang tersebut kita berani berseru: kerelaan ini adalah demi Tuhan YesusKristus. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Bapa di surga, kuatkanlah kami selalu khususnyaketika kami berada di tengah penderitaan dan penganiayaan, supaya kami tetapberpihak kepada-Mu saja. Bapa kami yang ada di surga ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Dwi Setyo from the Parish of Our Lady of Assumption in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. 2 Samuel 7: 4-5a.12-14a.16; Rs psalm 89: 2-3.4-5.27.29; Romans 4: 13.16-18.22; Matthew 1: 16.18-21.24a.JOSEPH, A MAN OF SOLUTION Our meditation today is entitled: Joseph, a Man ofSolution. The history of salvation told in the scriptures shows great figureswho have a great influence on us. A person as great as Abraham, as the secondreading from Saint Paul's Letter to the Romans, is the father of many nationson the basis of his faith. A person as strong as King David, as the firstreading from the prophet Samuel's second book says, occupies the throne ofgovernment provided by God to be passed down from generation to generation in orderto realize God's will for the coming of the Messiah. But in their times, the coming of the Messiah wasstill limited to the promises and prophecies of the prophets. The commonunderstanding of the figure of the Messiah is a warrior, fighter, liberator,and ruler of humanity. Period after period and character after character,discussions about the figure of the Messiah seem to clash God's will withlimited human understanding and belief. This continued until the time was rightfor God to give sign on the coming of the true Messiah, beginning with the goodnews from heaven to a humble and sincere virgin named Mary of Nazareth. The Messiah must give up all power and might which aregenerally held to be supernatural in nature. The most sensitive and publicscandalous problem was that the virgin conceived the Son of God who became ahuman person and must become the Messiah. Who could be the solution, inanticipation of the spread of a huge scandal, so that the child to be bornlater would be declared to have biological parents. Without giving room forpeople to raise polemic or question it, God already had an answer, which was aman of David's descendant who lived in Nazareth. He was Joseph, the carpenter,made the husband of the Virgin Mary. Joseph was a very modest, sincere, and righteous man.God made him the solution to the plan of salvation about the coming of theMessiah, Jesus Christ. Thus, the Nazareth family is a perfect solution to thereal situation in the world because it gives testimony on simplicity,sincerity, humility, willingness, and purity of life. The Virgin Mary standsout with a powerful image because she is as simple and sincere as her husbandJoseph. They are united with the Savior, Jesus Christ, who presentstogetherness and unity as a solution from God for the problems that befall ourpersonal, family, Church, and society. Simplicity and sincere life is thesolution to the currents of materialism and greed of the world. Unity as afamily and community of faith is the solution to the threat of division anddisintegration. Let'spray. In the name of the Father ... O Jesus Christ, make our hearts sincere andpure like Saint Joseph so we can better serve Him and our neighbor. Glory ...In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Yohanes Sukardi dan Maria Saraswati Sukardi dari Paroki Santa Maria Assumpta Kota Baru Kupang di Keuskupan Agung Kupang, Indonesia. 2 Samuel 7: 4-5a.12-14a.16; Mazmur tg 89: 2-3.4-5.27.29; Roma 4: 13.16-18.22; Matius 1: 16.18-21.24a.YOSEF SI LELAKIPEMBERI SOLUSI Renungan kita pada hari ini bertema: Yosef Si LelakiPemberi Solusi. Kisah sejarah keselamatan yang disampaikan oleh kitab sucimemperlihatkan tokoh-tokoh besar yang punya pengaruh besar kepada kita. Tokohsehebat Abraham, seperti yang disampaikan bacaan kedua dari Surat Paulus kepadajemaat di Roma, adalah bapak bagi banyak bangsa atas dasar imannya. Tokohsekuat raja Daud, seperti yang disampaikan bacaan pertama dari kitab keduaSamuel, menduduki takhta pemerintahan yang disediakan Allah untuk diwariskan turun-temurunsupaya mewujudkan kehendak Allah akan datangnya Mesias. Tetapi pada masa kejayaan mereka, kedatangan Mesias masihsebatas janji dan nubuat para nabi. Pemahaman orang pada umumnya tentang sosokMesias ialah seorang pejuang, petarung, pembebas, dan penguasa umat manusia.Periode berganti periode dan tokoh berganti tokoh, diskusi tentang sosok Mesiassepertinya membenturkan kehendak Tuhan dengan pemahaman dan keyakinan manusiayang serba terbatas. Hal ini berlangsung terus sampai waktunya Tuhan tepatuntuk menandakan datangnya Mesias sesungguhnya, yaitu diawali dengan peristiwakabar suka cita dari surga kepada seorang perawan bersahaja yang bernama Mariadari Nazareth. Mesias itu harus melepaskan semua keistimewaan yangmenurut anggapan umum bahwa ia seluruhnya berciri supernatural. Masalah yangpaling sensitif dan dapat menjadi skandal publik ialah perawan itu mengandungPutra Allah yang menjadi manusia, yang harus menjadi Mesias. Siapa yang bisamenjadi solusi, sebagai antisipasi tersebarnya skandal maha besar, sehinggaanak ajaib yang lahir nanti dinyatakan punya orang tua biologis? Tanpa memberiruang bagi orang-orang untuk berpolemik atau mempersoalkannya, Tuhan Allahsudah punya jawaban, yaitu seorang lelaki keturunan Daud yang tinggal diNazareth. Dia itu adalah Yosep, si tukang kayu, dijadikan suami Maria. Seorang yang sangat bersahaja, tulus, dan suci hatinya,Yosef dijadikan oleh Allah solusi bagi rencana keselamatan tentang datangnyasang Mesias, Yesus Kristus. Dengan demikian, keluarga Nazareth ini lengkapsebagai solusi yang ciri khasnya ialah kesahajaan, ketulusan, kerendahan hati,kerelaan, dan kesucian hati mereka. Perawan Maria menonjol karena samasederhana dan tulus seperti suaminya. Mereka bersatu dengan juru selamat YesusKristus yang menampilkan kebersamaan dan persekutuan sebagai solusi dari Allahbagi persoalan-persoalan yang menimpa pribadi, keluarga, Gereja, dan masyarakatkita. Hidup bersahaja dan yang tulus menjadi solusi atas gaya materialisme dankepalsuan. Persekutuan sebagai keluarga dan komunitas beriman menjadi solusiatas ancaman perpecahan dan disintegrasi. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Yesus Kristus, jadikanlah hati kami tulusdan suci seperti Santo Yosep supaya kami dapat melayani Dikau dan sesamakami dengan lebih baik lagi. Kemuliaankepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Stella from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Isaiah 49: 8-15; Rs psalm 145: 8-9.13cd-14.17-18; John 5: 17-30.GOD ALWAYS REMEMBERS US The title for our meditation today is: God AlwaysRemembers Us. The book of Isaiah describes God as a God who never abandons Hispeople. The Lord declared that He would restore His people, rebuild the earth,and bring hope to those who felt left behind or forgotten. God not only createdthe world but also continues to care for and renew it. He made a covenant withman who believed in Him, a promise that life would be restored and the futurewould be filled with hope. God's covenant with humans reached its climax in thecoming of Jesus Christ into the world. Jesus came not only as a teacher orprophet, but as a tangible sign of God's love for mankind. Through his life andwork, Jesus taught God's truth to many people. He proclaims love, forgiveness,and salvation for all. However, the truth he brings is not always well receivedby everyone. In today's Gospel it is told that the Pharisees oftenopposed Jesus. They accused Him of breaking the Sabbath rules and even accusedHim of blasphemy for saying that He was one with God. To them, Jesus' teachingswere considered to interfere with the order they had held. This rejectioneventually led Jesus to great suffering. He was condemned to death and died onthe cross. But the cross is not asign that God has abandoned the beloved people of faith. It is precisely therethat God's love is most clearly expressed. Even though Jesus suffered and died,God never forgets His people. Jesus' resurrection is a sign that God's love isstronger than death. Jesus' promise remains: He will be with us until the endof time. Often, we also feel like the Israelites who said,"God has forsaken and forgotten me." But God answered very gently: amother may be able to forget her child, but God will never forget us. God'slove is far more faithful than anything in this world. There was a small child who got lost in a crowdedmarket. She cried because she felt alone and was afraid of being abandoned. Butactually, her mother kept looking for her in the crowd. When the mother finallyfound the child and huged her, the child realized that she has never reallybeen abandoned. The same is true in our lives. Sometimes we feel that God isfar away or indifferent, but in fact God is always looking for, guarding, andremembering us. In every circumstance, God remains faithful to His promise tobe with us. Letus pray. In the name of the Father ... O Almighty God, keep us away from allthe deceptions of the evil one that threatens and takes us away from the LordJesus Christ, our Savior. Glory to the Father and to the Son and to the Holy Spirit... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Petrus Kanisius Kebaowolo dan Elisabeth Welan dari Paroki Santo Agustinus Karawaci di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Yesaya 49: 8-15; Mazmur tg 145: 8-9.13cd-14.17-18; Yohanes 5: 17-30.TUHAN SENANTIASA MENGINGAT KITA Tema renungan kita pada hari iniialah: Tuhan Senantiasa Mengingat Kita. Kitab Yesaya menggambarkan Allahsebagai Tuhan yang tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Tuhan menyatakan bahwa Ia akanmemulihkan umat-Nya, membangun kembali bumi, dan membawa harapan bagi merekayang merasa tertinggal atau terlupakan. Allah tidak hanya menciptakan dunia,tetapi juga terus merawat dan memperbaruinya. Ia mengikat perjanjian denganmanusia yang percaya kepada-Nya, sebuah janji bahwa kehidupan akan dipulihkandan masa depan akan dipenuhi harapan. Perjanjian Allah dengan manusia mencapai puncaknyadalam kedatangan Yesus Kristus ke dunia. Yesus datang bukan hanya sebagai guruatau nabi, tetapi sebagai tanda nyata kasih Allah bagi manusia. Melalui hidupdan karya-Nya, Yesus mengajarkan kebenaran Allah di hadapan banyak orang. Iamewartakan kasih, pengampunan, dan keselamatan bagi semua orang. Namun,kebenaran yang Ia bawa tidak selalu diterima dengan baik oleh semua orang. Dalam Injil hari ini diceritakan bahwa orang-orangFarisi sering menentang Yesus. Mereka menuduh-Nya melanggar aturan Sabat danbahkan menuduh-Nya menghujat karena mengatakan bahwa diri-Nya satu denganAllah. Bagi mereka, ajaran Yesus dianggap mengganggu tatanan yang telah merekapegang. Penolakan ini akhirnya membawa Yesus pada penderitaan yang besar. Iadihukum mati dan wafat di salib.Namun salib bukanlah tanda bahwa Allah meninggalkanmanusia. Justru di sanalah kasih Allah dinyatakan dengan paling jelas. MeskipunYesus mengalami penderitaan dan kematian, Allah tidak pernah melupakanumat-Nya. Kebangkitan Yesus menjadi tanda bahwa kasih Allah lebih kuat daripadakematian. Janji Yesus tetap berlaku: Ia akan menyertai kita sampai akhir zaman. Sering kali kita juga merasa seperti bangsa Israel yangberkata, “Tuhan telah meninggalkan dan melupakan aku.” Tetapi Tuhan menjawabdengan sangat lembut: seorang ibu mungkin bisa melupakan anaknya, tetapi Tuhantidak akan pernah melupakan kita. Kasih Allah jauh lebih setia daripada segalasesuatu di dunia ini. Ada seorang anak kecil pernah tersesat di pasar yangramai. Ia menangis karena merasa sendirian dan takut ditinggalkan. Tetapisebenarnya ibunya terus mencarinya di antara kerumunan orang. Ketika akhirnyasang ibu menemukan anak itu dan memeluknya, si anak baru menyadari bahwa iatidak pernah benar-benar ditinggalkan. Demikian pula dalam hidup kita. Kadangkita merasa Tuhan jauh atau tidak peduli, tetapi sesungguhnya Tuhan selalumencari, menjaga, dan mengingat kita. Dalam setiap keadaan, Tuhan tetap setia kepadajanji-Nya untuk menyertai kita. Marilah kita berdoa. Dalam namaBapa … Ya Allah yang mahakuasa, jauhkanlah kami dari segala tipu daya si jahatyang mengancam dan membawa kami jauh dari Tuhan Yesus Kristus, Juruselamatkami. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus … Dalam nama Bapa …

Delivered by Elyanne from the Parish of Saint James in the Diocese of Surabaya, Indonesia. Ezekiel 47: 1-9.12; Rs psalm 46: 2-3.5-6.8-9; John 5: 1-3a.5-16.WATER OF SALVATION Our meditation today isentitled: Water of Salvation. There are so many benefits of water for us humansand the world. Of all its benefits, what meant by the term "water ofsalvation " seems to be an abstract expression. The term "holywater", or "clean water", or "mineral water" is aconcrete expression and we immediately understand what it means. For example,the "baptismal water", we refer this to a form of water to signifythe Lord Jesus who uses water through the ministry of the Church to baptizepeople who have opted to be part of the Church. So the term"water of salvation" should have certain reference which is concreteto our minds. For us in the Church, the water of salvation does refer to thephysical water which is an instrument that God uses to help His people in thejourney of salvation. The scriptures present many events in the salvationhistory to highlight the deliverance of God's people through water. Forexample, the Israelites crossed the Red Sea in order to escaped from the pursuitof the Egyptian armies. Both liturgical readings today also describe water asan instrument of salvation. The prophet Ezekieltells of the vision of water flowing in the temple. Wherever it flows,everything touched by it and the whole area become alive. This implies thatwhen there is nowhere to find any water, life must be so difficult or deathwill be the end of everything. In the pool of Bethesda, the water was veryinstrumental for healing the sick. They rushed over and were touched by thewater when it began to shake, they would recover. From these two descriptions ofevents we see that water as an instrument is a real physical element. Whereasthe power of the Lord to heal and save is actually hidden. This power works inand through the water. But in the pool ofBethesda, the hidden mystery reveals itself. The sick man who had been sufferedfor thirty-eight years was touched directly by the Lord who was actuallypresent and active behind the water. The sick man recovered instantly. Thewater of salvation displayed by the two readings today teaches us how importantboth aspects of physical and spiritual water are to us. To sustain our life inthis world, the physical water is obviously very important. If there is nowater we will die like the barren and dry land. The spiritual power and itsmeaning represented by the physical reality of water is that of the order andbalance of nature already designed by God for the good and salvation ofhumanity. Water of baptismalsacrament and as a sacramental element that we normally use in the holytradition of the Church, is a clean and healthy physical water, it isconsecrated for the purpose of our spiritual services in the Church. Themeaning behind this consecrated water is no other than God himself who worksthrough His ministers to impart graces, healing, and divine assistance to thepeople of God. Let's pray. In the name of the Father... O generous and merciful Lord, make us like water that provides freshness,calmness, and healing for ourselves who need physical-spiritual healing, andfor our neighbors who are currently suffering from their illness. Our Fatherwho art in heaven ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Kris Waleng dan Welin Duan dari Paroki Santo Fransiskus Xaverius Tanjung Priok di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Yehezkiel 47: 1-9.12; Mazmur tg 46: 2-3.5-6.8-9; Yohanes 5: 1-3a.5-16.AIR KESELAMATAN Renungan kita pada hari ini bertema: Air Keselamatan.Banyak sekali manfaat air bagi kita manusia dan dunia. Dari semuakemanfaatannya itu, yang disebutkan dengan istilah “air keselamatan” merupakansuatu ungkapan yang abstrak. Sebutan “air suci”, atau “air bersih”, atau “airmineral” merupakan ungkapan konkret dan langsung kita pahami. Misalnya “airbaptis”, wujud air adalah tanda yang dipakai untuk menandakan Yesus yangmenggunakan air untuk membaptis. Jadi istilah “air keselamatan” tetap berwujud sebagai airsecara fisik yang menjadi tanda bagi Tuhan untuk melakukan tindakan keselamatanatas manusia yang ditolong-Nya. Kitab suci menyajikan banyak peristiwakeselamatan atau pembebasan melalui air, misalnya penyeberangan laut merah olehorang Israel ketika melepaskan diri mereka dari perbudakan Mesir. Kedua bacaanpada hari ini juga menggambarkan air sebagai sarana keselamatan. Nabi Yehezkiel berkisah tentang penglihatan akan air yangmengalir di dalam bait suci. Ke mana saja ia mengalir, semua yang terkenaalirannya dan daerah sentuhannya menjadi hidup. Ini menyiratkan bahwa ketikatidak ada atau belum tersentuh air, kehidupan yang ada di sana mengalamikesulitan atau bahkan kematian. Di kolam Betesda, airnya sangat instrumentaluntuk kesembuhan orang-orang sakit. Mereka bergegas mendekat dan disentuh airketika ia mulai guncang, mereka akan sembuh. Dari kedua gambaran peristiwa inikita melihat bahwa air sebagai instrumen adalah sebuah tanda fisik yang nyata.Kuasa Allah untuk menyembuhkan dan menyelamatkan tampaknya tersembunyi. Namun di kolam Betesda, misteri yang tersembunyi itumembuka dirinya. Orang sakit yang sudah menderita selama tiga puluh delapantahun itu disentuh langsung oleh Tuhan yang sebenarnya hadir dan berkuasa dibalik air tersebut. Ia sembuh seketika. Air keselamatan yang ditampilkan olehkedua bacaan hari ini mengajarkan kita betapa pentingnya aspek tanda fisik danmaknanya air bagi kita. Untuk kelangsungan hidup kita di dunia ini, wujud fisikair jelas sangatlah penting. Tak ada air kita bakal mati seperti lahan tandusdan kering. Makna di balik kenyataan fisik ini ialah keseimbangan alam yangteratur sudah disediakan oleh Tuhan untuk kebaikan dan keselamatan umatmanusia. Air dalam sakramen baptis dan sebagai unsur sakramentaldalam kebiasaan penghayatan iman Gereja, terlihat fisiknya sebagai air bersihdan sehat yang dikhususkan untuk pelayanan rohani di dalam Gereja. Makna dibalik air pilihan ini ialah Tuhan sendiri yang bekerja melaluipelayan-pelayan-Nya untuk menyelamatkan, menyembuhkan, dan menguduskanumat-Nya. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan maha murah, jadikanlah kami sepertiair yang memberikan kesejukan, ketenangan, dan kesembuhan bagi diri kamisendiri yang memerlukan kesembuhan jasmani-rohani, dan bagi sesama kami yangsaat ini sedang menderita sakit. Bapa kami yang ada di surga ... Dalam namaBapa ...

Delivered by Johana from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Isaiah 65: 17-21; Rs psalm 30: 2.4.5-6.11-12a.13b; John 4: 43-54.GET THE ANSWER Our meditation today isentitled: Get the Answer. We are always satisfied, calm and at peace when ourquestion or search gets its answer. We certainly do not feel peaceful andsatisfied if we do not get the answer. Agreement is the answer to thediscussion on the different perceptions. Concept is the answer to theinterconnection of various arguments. System is the result of the integrationof different elements. Method is the fruit of the experiment process andanalysis of different variables. As followers ofChrist, we know that faith is the answer to the process of knowing andfulfilling God's call to every human person. By achieving and having faith, aperson is gifted with rights and obligations as a true follower of Christ. Theentrance to this faith is baptism that characterizes a person believing inJesus Christ as the Son of God who lives with the Father in communion with theHoly Spirit. The most importantright of a believer is his or her participation in Jesus Christ with the dignitybeing a brother or sister of Christ, or having special adoption as a son ordaughter of the Almighty Father. This basic right brings about awareness andestablishment of a Christian identity which is formed along with the calling ofeach individual to be the follower of Christ. The sons and daughters of God arecalled to become professionals such as teachers, public servants, technicians,business people, farmers, or politicians. Others are called to the service ofGod's people as priests, religious men and women, and married spouses. The obligation as afollower of Christ is to be the sign of Christ's presence, light, and truth inthe world. Through baptism we are made witnesses of Christ, that through ourwords and deeds we become salt and light for the world. Our dignity as sons anddaughters of God and our Christian vocations will be fruitful and perfect if weresponsibly fulfill our obligation. And so, faith is thefoundation or beginning for the growth and work of our Christian life, thatexpresses the love of Christ and the hope to achieve a new heaven and earth,which is the kingdom of heaven, said the book of the prophet Isaiah in thefirst reading today. The royal official found the answer of faith, followingthe miracle happened in his family. That faith brought his whole family to God.They consecrated themselves to be part of Jesus Christ, and they had rights andobligations as the followers of Jesus according to the religious standard andcondition of that time. Let's pray. In the name of the Father... O Jesus Christ, thank you for the gift of your call to each one of us, andmay we always renew our faith in you. Hail Mary, full of grace... In the nameof the Father ...

Dibawakan oleh Suster Wilhelmina OSA dari Komunitas Suster OSA, Paroki Santo Yusuf Karang Pilang, di Keuskupan Surabaya, Indonesia. Yesaya 65: 17-21; Mazmur tg 30: 2.4.5-6.11-12a.13b; Yohanes 4: 43-54.MENDAPATKANJAWABAN Renungan kita pada hari ini bertema: Mendapatkan Jawaban.Kita selalu puas, tenang, dan aman ketika pertanyaan atau pencarian kitamendapatkan jawabannya. Kita tentu belum merasa aman dan tenang kalau kitabelum mendapatkan jawabannya. Kesepakatan merupakan jawaban dari diskusi untukmenyamakan perbedaan persepsi. Konsep merupakan jawaban dari keterkaitanbermacam-macam argumen. Sistem adalah hasil dari pengintegrasian elemen-elemenyang berbeda. Metode adalah buah dari proses percobaan dan analisa variabel-variabelyang berbeda-beda. Sebagai para pengikut Kristus, iman adalah jawaban atasproses mengenal dan menyanggupi panggilan Tuhan kepada setiap pribadi manusia.Dengan mencapai dan memiliki iman, seseorang dipandang mempunyai hak dankewajiban sebagai pengikut Kristus yang sesungguhnya. Pintu masuk memiliki imanini ialah pembaptisan yang mencirikan seseorang itu percaya akan Yesus Kristussebagai Putera Allah yang hidup bersama Bapa dalam persekutuan dengan RohKudus. Hak-hak seorang beriman antara lain yang paling mendasarialah berpartisipasi di dalam Yesus Kristus dengan martabat sebagai saudaraatau saudari Kristus atau sebutan spesial sebagai putra atau putri Allah. Darihak dasar ini tumbuh kesadaran dan penguatan identitas Kristiani dengan prosespembentukan menurut panggilan atas setiap pribadi pengikut Kristus. Putra dan putriAllah terpanggil dalam profesi seperti guru, abdi negara, teknisi, pengusaha,petani, atau politisi. Putra dan putri Allah juga terpanggil dalam pelayananumat Allah sebagai imam, biarawan, biarawati, dan perkawinan suami-istri. Kewajiban sebagai pengikut Kristus yang sangat mendasarialah menjadi tanda kehadiran Kristus, terang, dan kebenaran-Nya di dalamdunia. Istilah yang sering dipakai ialah menjadi saksi-saksi Kristus yang hidupmelalui perkataan dan perbuatan Kristiani yang menggarami dan menerangi duniaini. Martabat putra dan putri Allah dengan panggilan-panggilan yang melekatpada setiap orang, akan menjadi efektif jika ia menjalankan kewajibannya secarabertanggung jawab. Jadi iman merupakan fondasi atau dasar untuk berdiri danberfungsinya sebuah kehidupan Kristen yang menghayati cinta kasih Kristus danberpengharapan untuk hidup di dalam langit dan bumi yang baru, yaitu kerajaansurga, seperti kata kitab nabi Yesaya dalam bacaan pertama. Pejabat istanamendapatkan jawaban dalam iman, setelah mujisat yang terjadi di dalamkeluarganya. Iman itu mengantar seluruh keluarga kepada Tuhan. Merekamenahbiskan diri mereka menjadi bagian dari Yesus Kristus dengan mempunyai hakdan kewajiban sebagai pengikut seturut standar dan kondisi pada waktu itu. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Yesus Kristus, terima kasih atas rahmatpanggilan dari-Mu kepada kami dan semoga kami selalu membaharui iman kamikepada-Mu. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Dwi Setyo, Johana, Bryan Darwi and Karen from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. 1 Samuel 16: 1b.6-7.10-13a; Rs psalm 23: 1-3a.3b-4.5.6; Ephesians 5: 8-14; John 9: 1-41.SEEING THE GLORY OFGOD The title for ourmeditation today is: Seeing the Glory of God. A boy of grade 1 elementaryschool attended the Holy Mass with his parents. Before the Mass began, he askedhis parents, "Father, in here, where can I see God?" His father andmother confused to answer him. His father then founda way to answer. He hugged his son, then pointed to the top of the altar nearthe church roof. Glass windows were decorated with colorful sacred images, aswhen sunlight penetrates, radiate their lights into the church. They looks verybeautiful and gives the impression of majesty and holiness. "Thatillustrates there is God right here." The boy understood and did not askquestions anymore. The presence of Godrequires us to see Him. God is certainly unhappy and disappointed if we cannotknow him through our senses and our faith to acknowledge Him. What happens ifwe are not seen and acknowledged? We must be disappointed, angry and hurt. Therefore,in His relationship with humans throughout the history of salvation, God alwaysgives orders by saying: Look! or listen!. We are commanded tosee the glory of God present in us and around us. God gives us the ability tosee, in general there are two kinds. The easiest thing we do is by using oureyes, we can see everything that is in us and around us. The blind people or thosehave lost their ability to see with their eyes surely cannot see all the beautyand glory of God that they should see and admire. If you at this very momenthave certain sickness in your eyes that cause you cannot see properly andnormally, try some ways of healing and recovery, because that is the way youfollow the will of God. What is moredifficult to do is to use the eyes of faith or the eyes of our hearts. Thisability to see is strongly supported by a spiritual maturity, namely theability to see under the guidance of the divine light. With the faith we haveand live, we actually have the ability to see as God sees. The prophet Samuel,when choosing David from among his elder brothers, actually teaches us that wemust use the way to look from the heart and find its meaning in the heart. We need to educateourselves to always live as children of light, that is, in the guidance ofGod's Word and empowered with His love. Thus, the eyes of our bodies and theeyes of our hearts can help us to receive, acknowledge and embrace the glory ofGod in our lives.Let's pray. In the name of the Father...O most generous God, may with this Sunday celebration we will be moreexcited in preparing ourselves for the great feast of Easter which we will sooncelebrate. Our Father who art in heaven ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Hendrina Linong dan Priscilla Victory Langouran dari Paroki Santo Damian Bengkong - Batam di Keuskupan Pangkal Pinang, Indonesia. 1 Samuel 16: 1b.6-7.10-13a; Mazmur tg 23: 1-3a.3b-4.5.6; Efesus 5: 8-14; Yohanes 9: 1-41.MELIHATKEMULIAAN ALLAH Tema renungan kita pada hari ini ialah: Melihat KemuliaanAllah. Seorang anak yang adalah murd SD kelas satu mengikuti Misa Kudus bersamakedua orang tuanya. Sebelum Misa dimulai, ia bertanya kepada orang tuanya,"Bapa, di dalam sini, di mana saya bisa melihat Tuhan Allah?" Bapakdan Ibunya bingung untuk menjawab anaknya. Bapaknya tidak kehabisan akal. Kemudian ia memelukanaknya, lalu menunjuk ke bagian atas altar dekat dengan atap gereja.Jendela-jendela kaca yang dilapisi gambar-gambar kudus yang berwarna-warni,saat ditembusi cahaya matahari, memancarkan terangnya ke dalam gereja.Tampaknya sangat indah dan memberikan kesan keagungan dan kesucian. "Itumenggambarkan ada Tuhan Allah." Anak itu mengerti dan tidak bertanya-tanyalagi. Kehadiran Tuhan Allah mengharuskan kita untuk melihat-Nya.Tuhan tentu saja tidak senang dan kecewa jika kita tidak dapat mengenalnyamelalui indra kita dan iman kita untuk mengakui-Nya. Apa jadinya kalau kitatidak dilihat dan dikenal? Kita pasti kecewa, marah dan sakit hati. Oleh karenaitu di dalam hubungannya dengan manusia sepanjang sejarah keselamatan, Tuhanselalu memberikan perintah dengan berkata: Lihatlah atau dengarkanlah. Kita diperintahkan untuk melihat kemuliaan Tuhan yanghadir di dalam diri kita dan di sekeliling kita. Tuhan memberikan kemampuanmelihat kepada kita, secara umum ada dua. Yang paling mudah kita lakukan ialahdengan menggunakan indra mata, kita dapat melihat semua yang ada pada kita dandi sekeliling kita. Mata tubuh yang buta pasti membatasi kita untuk melihatsemua keindahan dan kemuliaan Tuhan yang seharusnya kita lihat dan kagumi. BilaAnda mengalami gangguan pada mata tubuh, usahakanlah penyembuhan danpemulihannya, karena dengan begitu Anda menjalankan kehendak Tuhan. Yang lebih sulit untuk dilakukan ialah menggunakan mataiman atau mata hati kita. Kemampuan melihat ini sangat didukung oleh sebuahkematangan rohani, yaitu kemampuan melihat dalam terang Ilahi. Dengan iman yangkita miliki dan hidupi, kita sebenarnya memiliki kemampuan melihat seperti yangdilihat oleh Tuhan. Nabi Samuel, pada waktu memilih Daud dari antarasaudara-saudaranya yang lebih tua, sesungguhnya mengajarkan kita supaya kitaharus memakai cara melihat dari hati dan mendapatkan maknanya di dalam hati. Kita perlu membiasakan diri kita untuk hidup selalusebagai anak-anak terang, yaitu dalam bimbingan Sabda Tuhan dan bersemangat didalam kasih-Nya. Dengan demikian, mata tubuh kita dan mata hati kita dapatmembantu kita untuk menerima, mengakui dan menyukuri kemuliaan Tuhan dalamhidup kita. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan, semoga dengan perayaan hari Mingguini kami semakin bersemangat dalam menyiapkan hari raya Paskah yang sebentarlagi kami merayakannya. Bapa kami yang ada di surga ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Christine Gunawan from the Parish of Saint Joseph Cathedral in the Archdiocese of Pontianak, Indonesia. Hosea 6: 1-6; Rs psalm 51: 3-4.18-19.20-21ab; Luke 18: 9-14.GOD PLEASES THE HUMBLE Our meditation today is entitled: God Pleases theHumble. Humility is in the central point of truth in our Christian faith, thatdescribes ourselves as incomplete or imperfect human beings. So it reallyrequires the other party to complete ourselves. Our fellowmen always play theirdifferent roles to complete what are lacking in us. For believers, God is the Onewho is the source of all helps and providence. God knows so well the real situation of His children,some of them are humble and some are arrogant or proud. Those who are humble,He completes them with the graces to fill up what are still lacking in them.Those who are proud or arrogant obviously do not need anything else to completein themselves. They are already full and perfect, so all they need is praise,respect, fame, and good name. The distinction between humility and pride can be seenin various aspects of life. The language we use and choice of words are enoughto indicate who is humble and who is arrogant. The body language we show, ourclothes, the food or drinks we consume, and relationships among people are veryobvious examples to indicate if someone is sincere as a humble person orinstead the arrogant one. Our liturgical readings today illustrate aspects ofprayer or expressions of our faith. In our prayers or being in the presence ofGod we can be seen either humble or arrogant persons. The Gospel of Lukedisplays the presence of humility in the tax collector who felt that he didhave relationship with God. But this relationship was already damaged by hissins. Thus, his prayer was full of guilt feeling, regret, confession of sins,and asking for forgiveness. In his humility, he knows the merciful God was pleasingto hear, accept, and forgive him. On the other hand, the presence of arrogance is in thePharisee who knew that he had indeed a relationship with God, but thatrelationship is like a relationship between friends. They are like on the samelevel, which is equally good, beautiful, and perfect. Like the peers usuallydo, the Pharisee revealed all his qualities with the intention to be praisedand respected by God whom he considered the same level as he. Jesus said thatthis kind of arrogance was clearly not pleasing to God and not obtaining Hismercy. The key to being humble is as the prophet Hosea saystoday: our prayers and offerings must be our genuine love for God, and not toexpose ourselves.Let'spray. In the name of the Father … Almighty God, make us humble in our words andactions every day, that we may become your instruments for our Salvation. HailMary, full of grace... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Pastor Peter Tukan, SDB dari Komunitas Salesian Don Bosco Gerak di Keuskupan Labuan Bajo, Indonesia. Hosea 6: 1-6; Mazmur tg 51: 3-4.18-19.20-21ab; Lukas 18: 9-14.TUHAN BERKENANYANG RENDAH HATI Renungan kita pada hari ini bertema: Tuhan Berkenan YangRendah Hati. Sikap rendah hati ialah sebuah pegangan kebenaran tentangpandangan terhadap diri sendiri yang tidak lengkap atau sempurna, sehinggasangat memerlukan pihak lain untuk melengkapi. Sesama kita selalu berperanmelengkapinya. Bagi orang beriman, pihak lain yang menjadi sumber semuapertolongan ialah Tuhan. Tuhan tahu betul anak-anak-Nya yang rendah hati dansombong atau angkuh. Mereka yang rendah hati Ia lengkapi dengan berkat karuniauntuk menutupi dan melengkapi yang kurang pada mereka. Mereka yang tinggi hatidan sombong atau angkuh jelas tidak memerlukan lagi sesuatu untuk melengkapidirinya. Mereka sudah penuh dan memadai, sehingga yang diperlukan hanya pujian,hormat, ketenaran, kemasyhuran, dan nama baik yang mentereng. Penampilan dan penghayatan kerendahan hati yang berlawanandengan kesombongan dapat dilihat dalam berbagai sisi kehidupan. Pembicaraanyang menggunakan bahasa dan pilihan kata-kata sudah cukup menandakan siapa yangrendah hati dan siapa yang sombong. Bahasa tubuh yang kita pakai, berpakaian,makanan atau minuman yang kita konsumsi, dan pergaulan di antara sesamamerupakan contoh-contoh yang sangat nyata memperlihatkan seseorang itu tulusbersikap rendah hati atau sebaliknya tampak sombong. Bacaan liturgi kita pada hari ini menggambarkan aspek doaatau ungkapan iman kita. Di dalam berdoa dan berada di hadirat Tuhan seseorangdapat dipandang bersikap rendah hati atau sebaliknya sombong. Injil Lukasmenampilkan profil kerendahan hati itu pada si pemungut cukai yang merasa punyahubungan dengan Tuhan. Tetapi hubungan itu sungguh telah rusak olehdosa-dosanya sehingga isi doanya ialah merasa bersalah, menyesali, mengakuidosanya, dan memohon ampun. Di dalam kerendahan hatinya, ia tahu Tuhan yang maharahim berkenan mendengar, menerima, dan mengampuninya. Sebaliknya, profil kesombongan itu ada pada seorang Farisiyang tahu kalau ia punya hubungan dengan Tuhan, namun hubungan itu sepertiorang-orang sebaya. Mereka seperti satu tingkat, yaitu sama-sama baik, indah,dan sempurna. Seperti orang sebaya, orang Farisi itu ungkapkan semuakualitasnya dengan niat supaya dipuji dan dihormati oleh Tuhan yang dianggapnyasetingkat dengannya. Yesus mengatakan bahwa sikap sombong seperti ini jelastidak berkenan kepada Tuhan dan tidak mendapatkan belas kasih-Nya. Kunci untuk menjadi rendah hati ialah seperti yangdikatakan oleh nubuat nabi Hosea: doa dan persembahan kita harus berupa cintayang tulus kepada Tuhan, dan bukan cinta diri yang berlebihan.Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa ... Ya Allah maha kuasa, buatlah kami selalurendah hati di dalam kata dan perbuatan kami tiap hari. Salam Maria, penuhrahmat ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Everine from the Parish of Saint Theresia in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Hosea 14: 2-10; Rs psalm 81: 6c-8a.8bc-9.10-11ab.14.17; Mark 12: 28b-34.LOVE WITH FULLNESS OF HEART Our meditation today is entitled: Love With Fullnessof Heart. God as an almighty power and the only Ruler of the universe cannot bedescribed in His words and actions only few parts, half, or a little. It is thesame as treating Him simply incapable and precisely downgrade God from Hisdivine nature. Instead, God is always and for ever saying His words in the fullnessof sense and doing His will in the entire divine purpose for mankind. God caresa baby with fullness of love, so does a 90 year old grandfather receive thesame care from Him. This means that in God there is no such thing as loving alittle, a part or a half from His fullness of grace. He truly loves with allof His heart. He is fully and totally loves us. God is the owner and provider of love with fullness ofheart. In this fullness, lies His power to forgive which is also full andtotal. The Lord does not forgive part by part every week or every month whenthe penitents come to do confession. He forgives once in full at the moment of someone'sconfession. If that man commits sin again and come to do confession, God alsoforgives another time in full. The prophecy of the prophet Hosea in the firstreading describes on the Lord God who forgives in His almighty power. With thisdivine act, God totally restores His beloved people. As the ones who receivethe grace of forgiveness, we are asked to share this important gift to ourneighbors. We are demanded to do this like our Lord Jesus Christ. When we knowthat we lack the passion to love our fellowmen with all our hearts, let's bealways encouraged to come to the Lord and ask to be strengthened again with theability to love in the fullness of our hearts. God first loves us with all of His heart. Throughvarious experiences of being loved, we learn to love like Himself. Jesus didpublic ministries around Galilee and many of the surrounding areas with love infullness of heart as the center of His teachings. Many people everywhere wereamazed and became interested in Him. Even a scribe felt attracted by this andmade his way in order to find the truth about the compassion of God. Heeventually found the right place and the right person, namely Jesus Christ, theMessiah from the heavenly God. We get from Jesus Christ the law of the fullness oflove. We love the Father in and through Him. If people know, understand, andlove God in heaven without going through Jesus Christ, then their Christianityand justification of their faith is certainly questionable. We also love ourneighbors as the implementation of the Lord's teachings and examples, which isa way of sacrifice oneself for the goodness and salvation of humanity. Histeachings in the famous scripture passage on the "Sermon on theMount" and "The Beatitudes" show how Jesus has fully prepared usfor the huge mission in the world, and the central point of that mission is tolove others in same way He continues to love us. The law of love with all our hearts is not merelygifted or something placed in every human being, but moreover it is learned,trained, and matured from time to time in the name of Jesus Christ. Let'spray. In the name of the Father ... O God almighty, make us through in yourway, that we may love you and our neighbor with all our hearts. Glory to theFather and to the Son and to the Holy Spirit ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Ludgardis Nona Lembata dan Daniel Nama dari Paroki Santo Bernardus Abbas Tokojaeng di Keuskupan Larantuka, NTT, Indonesia. Hosea 14: 2-10; Mazmur tg 81: 6c-8a.8bc-9.10-11ab.14.17; Markus 12: 28b-34.MENGASIHI DENGANSEGENAP HATI Renungan kita pada hari ini bertema: Mengasihi DenganSegenap Hati. Tuhan sebagai maha kuasa dan maha tinggi tidak bisa digambarkandalam perkataan dan tindakan-Nya hanya sebagian, setengah, atau beberapa saja.Itu sama saja dengan menganggap Dia tidak mampu atau menurunkan kekuatan-Nya.Ia selalu dan tetap dipandang berkata dalam kepenuhan dan berbuat dalamkeseluruhan. Tuhan mencintai seorang bayi dengan cinta-Nya penuh, demikian jugakepada seorang kakek berusia 90 tahun. Itu berarti di dalam Tuhan tidak adayang namanya mengasihi sedikit, sebagian atau setengah saja. Sebaliknya Iamengasihi dengan segenap hati. Ia mengasihi dengan penuh dan total. Tuhan adalah pemilik cinta kasih dengan segenap hati. Didalam kepenuhan ini terdapat kuasa-Nya untuk mengampuni bukan dengan cicilantiap minggu atau tiap bulan atas dosa-dosa manusia. Ia mengampuni satu kalisecara penuh. Jika manusia kembali berbuat dosa, Ia juga mengampuni satu kalilagi secara penuh. Nubuat nabi Hosea dalam bacaan pertama menggambarkan TuhanAllah dalam kuasa-Nya untuk mengampuni, kemudian memulihkan umat-Nya secaratotal. Sebagai pemilik belas kasih dan kerahiman, Ia mencurahkan kita rahmatsupaya kita ikut mengampuni seperti Dia. Jika kita kekurangan semangat untukmengasihi dengan segenap hati, kita temukan jalan untuk datang kepada-Nyasupaya diperkuat lagi dengan kemampuan mencintai sepenuhnya. Tuhan yang pertama mengasihi kita dengan segenap hati.Melalui berbagai pengalaman dikasihi itu, kita belajar untuk mengasihi sepertidiri-Nya. Yesus melakukan pelayanan publik di sekitar Galilea dan banyak daerahdi sekitarnya dengan pusat ajaran-Nya ialah cinta kasih. Di mana-mana terdapatorang kagum dan menjadi tertarik dengan-Nya. Seorang ahli Taurat pun merasakanada panggilan untuk mencari Yesus agar mendapatkan pencerahan tentang kebenaranbelas kasih Allah. Ia ternyata dapat menemukan orang yang benar dan tepat,yaitu Yesus Kristus. Dari Yesus kita peroleh hukum cinta kasih yang utuh. Kitamengasihi Bapa dalam dan melalui Dia. Kalau orang mengenal, mengerti, danmengasihi Allah di surga tanpa melalui Yesus Kristus, berarti pembenaranKristiani dalam diri mereka pantas dipertanyakan. Kita juga mengasihi sesamasebagai penghayatan ajaran dan teladan-Nya yang berkorban demi kebaikan dankeselamatan umat manusia. Ajaran-Nya di dalam kitab suci yang terkenal dengan“Kotbah di Bukit” dan “Sabda Bahagia” menunjukkan betapa Yesus sudah mempersiapkansecara penuh perincian tindakan kita dalam mengasihi sesama. Hukum mengasihi dengan segenap hati bukan sekedardikaruniai atau ditaruh di dalam diri setiap manusia, tetapi terlebih-lebihdipelajari, dilatih, dan dimatangkan dari waktu-waktu supaya dapat menyerupaiKristus sendiri. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah maha kuasa, buatlah diri kamimengasihi Dikau dan sesama kami dengan segenap hati. Kemuliaan kepada Bapa danPutra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Vivian from the Parish of Saint Thomas the Apostle in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Jeremiah 7: 23-28; Rs psalm 95: 1-2.6-7.8-9; Luke 11: 14-23. GOD SETS THE LIMITS Our meditation today is entitled: God Sets the Limits. “Does God havelimits?” asked a high school boy to his parish priest. The Pastor replied as hesaid, “Yes, God set certain limits, from the moment of the first human beings,that we basically have freedom but we must be also responsible for the trustGod has given us. "Then why is God also said to be forever"?continued the teenager. The priest came closer to him and explained to him morepassionately. “For God Himself, there is no limit in His will, His mercy, and Hisexistence. God is eternal and He is not bound by place and time. However, whenGod teaches and commands human beings, He sets the limits. So, we have a numberof limits or boundaries expressed in His commandments such as: “Do not lie, donot steal, do not commit fornication, do not be lazy, and so on.” After he understood the Pastor's explanation and returned home, hebegan to write down a number of God's commandments that he must follow in hisdaily life. He realized that he often forgot about his main tasks, then he setlimits on his many desires, namely playing on the cellphone one hour in theafternoon and another hour in the evening. He rather spent more of his times todo what his parents asked him to do and to review lessons or doing some home works. In this period of Lenten observance, the teenager has several lists oflimits that control him in his conducts. He strictly follows the direction andadvice of the Parish Priest and his parents. In general, for us the followersof Christ and members of the Church, the Lord God sets certain principalboundaries for us to follow and obey. These should be applied to all people,every place and all ages. Today, from the inspiration of our readings, we as persons andcommunity who believe in Christ and constitute the one and holy Church, confirmour commitment of faith. We belong to Jesus and not to Satan. We are part ofJesus and not Beelzebul. Our identity as Christians, namely people of JesusChrist and of God is our common boundary that we should maintain and guard. There are two important reminders for us today, namely we should keepwell this boundary, to be a community of people who always listen to God.Stubbornness and selfishness in choosing one's own path, is absolutely againstthis identity. Furthermore, we maintain this by remaining forever with JesusChrist, because He says that those who live outside of Him are against Him. Let'spray. In the name of the Father... O Lord Jesus, thank you for the grace ofunity that always keep us together as Your people. Glory to the Father and tothe Son and to the Holy Spirit ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Yohanes Keluli Witak dari Stasi Santa Maria Perantara Rahmat Atawatung, Paroki Santo Bernardus Abbas Tokojaeng di Keuskupan Larantuka, NTT, Indonesia. Yeremia 7: 23-28; Mazmur tg 95: 1-2.6-7.8-9; Lukas 11: 14-23.TUHAN MENETAPKAN BATAS Renungan kita pada hari inibertema: Tuhan Menetapkan Batas. “Apakah Tuhan Allah memiliki batas?” tanyaseorang remaja kepada Pastor Parokinya. Jawab sang Pastor, “Ya, Tuhanmenetapkan batas-batas tertentu, ketika sejak manusia pertama, syaratsyaratditetapkan supaya manusia yang memiliki kebebasan itu harus bertanggung jawabatas kepercayaan yang Tuhan berikan. “Terus kenapa Tuhan dikatakan jugaselama-lamanya”? sangga remaja itu. Pastor lebih mendekatinya dan menjelaskan. “Jadi bagi Tuhan sendiri, Iatidak terbatas dalam kehendak, kemurahan, dan keberadaannya. Ia kekal dan tidakterikat oleh tempat dan waktu. Tetapi dalam memberikan ajaran dan perintahkepada manusia, Tuhan menetapkan batas-batas. Maka kita memiliki sejumlah batasberupa perintah-perintah-Nya seperti: jangan berbohong, jangan mencuri, janganberbuat cabul, jangan malas, dan seterusnya.” Setelah ia pahami penjelasanPastor dan kembali ke rumahnya, ia mulai menulis sejumlah perintah Tuhan yangharus diikutinya dalam bertingkah laku. Karena ia sering lupa akan tugas-tugasutamanya, ia menetapkan batas-batas keinginannya, yaitu bermain hp satu jam disore hari dan satu jam lagi di malam hari. Waktu yang lain ia pakai untukkerjakan apa yang diminta orang tuanya dan belajar mengulangi pelajaran sertamengerjakan tugas-tugas dari sekolah. Di dalam masa Pra Paskah ini,remaja tadi memiliki beberapa daftar berupa batas-batas yang mengontrolnya didalam bertingkah laku. Ia benar-benar mengikuti arahan dan nasihat dari PastorParoki dan orang tuanya. Secara umum kita sebagai pengikut Kristus dan anggotaGereja, Tuhan Allah menetapkan batas-batas umum untuk kita ikuti dan patuhi.Batas-batas umum tersebut berlaku bagi semua orang, setiap tempat dan segalazaman. Pada hari ini, melalui inspirasibacaan-bacaan liturgis, kita diingatkan tentang diri kita pribadi dan sebagaikomunitas umat yang beriman kepada Kristus, yang membentuk Gereja yang satu dankudus, sebagai orang-orang-Nya Yesus Kristus. Kita adalah bagian dari Yesus danbukan Setan. Identitas kita sebagai orang Kristen, yaitu orang-orang-NyaKristus merupakan batas umum yang kita jaga, banggakan dan pelihara. Dua seruan yang penting bagikita untuk hari ini ialah: kita menjaga batas ini dengan menjadi bangsa ataukomunitas orang-orang yang selalu mendengarkan Tuhan. Keras kepala, keras hati,dan memilih jalan sendiri, sangat bertentangan dengan identitas itu.Berikutnya, identitas ini kita pelihara dengan tetap selamanya bersama YesusKritstus, sebab Ia sendiri menegaskan bahwa tidak bersama Dia berarti menjadimusuh-nya Dia.Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Yesus, terimakasih atas rahmat persekutuan yang menyatukan kami. Kemuliaan kepada Bapa danPutra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Vici from the Parish of Saint John the Baptist in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Deuteronomy 4: 1.5-9; Rs psalm 147: 12-13.15-16.19-20; Matthew 5: 17-19.DO WHAT IS TAUGHT The title for our meditation today is: Do What IsTaught. Two aspects from our human nature, according to God the Creator, thatmake us superior to other living creatures are reason and freedom. God entrustsus to use freely and effectively these two natural qualities. In reality thereare always two choices on the how to use our reason and freedom. One is when wechoose to follow our own will which can lead us to sin and sufferings, andanother is when we choose to follow God's teachings and laws which certainly bringus to happines. For the second choice, our reason and freedomrecognize their limits when they must stand in the same position andcollaborate with God's will. No matter how smart a person is, he finallyrealizes that God's intelligence exceeds him. Likewise he can exercise hisfreedom for any posibility or any purpose, but finally he will recognize thatGod is more powerful than him. To this extent, it is actually faith that hasthe ability to explain on the greatness and omnipotence of God, which is to beaccepted by our reason and freedom. Today, we learn about how with reason and freedom, wedo what God teaches us to do. The normal way to do is that our naturalabilities can collaborate with God's grace. The first reading from the book ofDeuteronomy describes the teaching about the divine commandments orregulations. Moses asked God's people to always obey and be faithful to whatwas already determined by God. This is what we usually call the commandments ofGod. This obedience and discipline do not reduce the roleof our reason and freedom, instead our reason and freedom assume a plus point,namely the Divine wisdom. The function of the mind for this sense is toremember, to understand, and to express in a correct manner what God teaches us. The function of freedom is tospread the truth so that it can enlighten and direct our life in the way of theLord until we arrive in perfection. A faithful and obedient person of faith has animportant and demanding task to do what God intructs to do. One's baptismalpromises and membership in the Church bear a specific mission, which is theresponsibility to teach religious instructions to others, it could be relativesor friends, and even unknown people. This responsibility is primarily taken upby individuals because it is basically attached to each one's calling. But aresponsible and dedicated follower of Christ is also demanded to be a social anda public servant who is sent by the Lord Jesus and constantly assisted by theHoly Spirit to teach others about God and His works of salvation. The biblicalexpression for this type of responsibility is commonly known as the salt andthe light of the world. Our real vocation in this world is indeed to becomesalts and lights of the world. Then life as Christians is actually manifestedin the action of teaching and learning from one another. Let'spray. In the name of the Father ... O Father of all wisdom, fill us always withYour teachings and precepts that help us to become wise like You. Hail Mary,full of grace ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Maria Letek dan Benediktus Laga dari Paroki Santo Yosef Boto di Keuskupan Larantuka, Indonesia. Ulangan 4: 1.5-9; Mazmur tg 147: 12-13.15-16.19-20; Matius 5: 17-19.LAKUKAN APA YANGDIAJARKAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: Lakukan Apa YangDiajarkan. Kodrat manusia menurut Allah Pencipta, yang membuat kita lebihunggul dibandingkan makhluk hidup yang lain ialah karena kita memiliki akalbudi dan kebebasan. Penggunaan kedua elemen kodrati ini dipercayakan Tuhansecara penuh kepada kita. Hasilnya selalu ada dua macam, yaitu manusia memilihuntuk memenuhi kemauannya sendiri yang pasti mengakibatkan dosa danpenderitaan, atau memilih untuk mengikuti ajaran dan hukum Tuhan. Untuk pilihan yang kedua, akal budi dan kebebasan kitamengenal batasnya ketika mereka harus berkolaborasi dengan kehendak Tuhan.Manusia sepintar apa pun, ia akhirnya menyadari kalau kepandaian Tuhan melebihdirinya. Demikian juga sebebasnya dia untuk berkata atau berbuat apa saja,akhirnya diakui juga bahwa Tuhan lebih berkuasa dari pada dirinya. Sampai padabatas ini, sebenarnya iman yang berperan untuk menjelaskan kebesaran dankemahakuasaan Allah untuk dapat diterima oleh akal budi dan kebebasan kita. Pada hari ini, kita belajar bagaimana dengan kepandaiandan kebebasan itu, kita melakukan apa yang diajarkan oleh Tuhan. Tujuannyaialah supaya kemampuan kodrati kita dapat berkolaborasi dengan penyelenggaraanTuhan. Bacaan pertama dari kitab Ulangan menguraikan tentang ajaran ketetapandan peraturan. Musa meminta umat Allah untuk selalu menaati dan setia pada apayang ditetapkan oleh Tuhan dan yang menjadi aturannya. Ketaatan dan kesetiaan ini tidak mengurangi akal budi dankebebasan kita, tetapi mendapatkan nilai plus yaitu kebijaksanaan Ilahi. Fungsiakal budi untuk ini ialah mengingat, memahami, dan membahasakan apa yang Tuhanajarkan secara benar dan tepat. Fungsi kebebasan ialah untuk menyebarkankebenaran supaya dapat menguasai dan mengarahkan kehidupan ini di dalam jalanTuhan untuk sampai kepada Tuhan sendiri. Umat Tuhan yang setia dan taat memiliki suatu tugas yangpenting selanjutnya dalam melakukan apa yang diajarkan Tuhan. Rahmatpembaptisan dan keanggotaannya di dalam Gereja memandatkan mereka tanggungjawab untuk mengajarkan itu kepada orang lain, entah saudara entah teman,bahkan mereka yang tidak dikenalnya. Tanggung jawab dalam ketaatan dankesetiaan untuk melakukan ketetapan dan peraturan dari Tuhan mungkin lebihbersifat personal dan terbatas pada lingkup terbatas. Namun demi menjadipengikut Kristus yang berguna dan bermartabat, ada tanggung jawab sosial danpublik yaitu mengajarkan itu kepada sesama. Bahasa kitab sucinya ialah sebuahtanggung jawab sebagai garam dan terang dunia. Hidup setiap pengikut Kristusadalah sebuah kenyataan belajar dan mengajar. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Bapa yang bijaksana dan murah hati,penuhilah diri kami dengan kebijaksanaan dan kemurahan-Mu, agar kami dapatmenjadi garam dan terang dunia yang sesungguhnya. Salam Maria, penuh rahmat ...Dalam nama Bapa ...

Delivered by Matthew and Karen from the Parish of Saint Albert the Great from the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Daniel 3: 25.34-43; Rs psalm 25: 4b-5b.6.7c.8-9; Matthew 18: 21-35.CONDITIONS OFFORGIVENESS The title for our meditation today is: The Conditionsof Forgiveness. Even though God is merciful and forgiving, and this gift fromHim is free, it does not mean that forgiveness He gives is immediately obtained.Our faith teaches that to obtain the remission of those sins, the Churchprovides the sacrament of penance. We call it also the Sacrament ofReconciliation. In it there is a material element which is the real sinsconfessed by the sinner, and the formal element, that is the formula ofabsolution delivered by the confessor, which declares a person's liberationfrom the sins confessed. Regardingthe material element, there are conditions to support the disclosure of sins onthe occasion of confession. These conditions refer to the attitude and mannerin which a person prepares oneself to make a confession. The officialrequirements of the Church are usually related to guidance or guidelines to befollowed by the faithful preparing to receive this sacrament. In addition,there are personal conditions that are very important to be the responsibilityof every penitent that shows one's faith and appreciation of this sacrament. As for personal preparation, the two readings todayprovide the ways of the importance preparation for confession. The Prophet Daniel'sprophecy in the first reading emphasizes the role of the sinner's remorsefulattitude. Regret or feeling sad is a very important condition to provide thequality of confession of sin as a negative and firm attitude towards sins. A contriteheart and humble spirit indicate that the sinner is sad and angry at hishumiliation. He felt sorry for himself who had a bad fate. Thus the AlmightyGod can give His attention and love to him. A person who does not show remorseor regret, usually seeks a scapegoat for his sins or is proud and happy becauseby sinning he can fulfill his evil intentions. The Gospel of Matthew says that if we are unwilling toforgive those who have wronged us, our Father in heaven does not forgive us.The "Our Father" prayer emphasizes this, because it is God's own act.That means before we can get a formal act of forgiveness when we makeconfession, we must first forgive those who have wronged us. Therefore, inaddition to conveying the material elements, namely the real sins, the sinnerneeds to honestly admit also that he has forgiven those he mentioned in hisconfession. An effective and fruitful confession of sin occurs because of theforgiveness of the sinner who has sinned against us, before we receiveforgiveness from God through the ministry of the Church. Letus pray. In the name of the Father... O Lord Jesus Christ, teach and encourageus not to be ashamed and afraid to forgive. Our Father who art in heaven... Inthe name of the Father....

Dibawakan oleh Wilibroda Gunung Lajar dari Santo Arnoldus Jansen Waikomo, di Keuskupan Larantuka, Indonesia. T.Daniel 3: 25.34-43; Mazmur tg 25: 4b-5b.6.7c.8-9; Matthew 18: 21-35.SYARATPENGAMPUNAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: SyaratPengampunan. Meskipun Tuhan maha pengampun, dan karunia itu adalah cuma-cuma,tidak berarti kalau pengampunan dari-Nya langsung beres. Iman kita mengajarkanbahwa untuk mendapatkan pengampunan atas dosa-dosa itu, Gereja menyediakansakramen tobat. Di dalamnya ada elemen materialnya ialah dosa-dosa nyata yangdiakukan oleh si pendosa, dan elemen formalnya ialah formula absolusi yangdisampaikan bapak pengakuan, yang menyatakan pembebasan seseorang dari dosa-dosanya. Khususnya untuk elemen materialnya, ada syarat-syaratuntuk mendukung pengungkapan dosa-dosa pada kesempatan pengakuan dosa itu.Syarat-syarat tersebut menunjuk pada sikap dan cara orang mempersiapkan dirinyauntuk melakukan sebuah pengakuan dosa. Syarat-syarat resmi Gereja biasanyaterkait dengan bimbingan atau pedoman untuk diikuti oleh umat yangmempersiapkan diri menerima sakramen ini. Di samping itu, ada syarat-syaratpribadi yang penting sekali menjadi tanggung jawab setiap pribadi sehinggadapat menggambarkan iman dan penghayatannya akan sakramen ini. Untuk sikap-sikap pribadi, kedua bacaan pada hari ini,masing-masingnya memberikan petunjuk bagaimana pentingnya persiapan pengakuandosa itu. Nubuat Daniel dalam bacaan pertama menekankan tentang peran sikapmenyesal si pendosa. Penyesalan merupakan syarat yang sangat penting untukmemberikan kualitas pengakuan dosa sebagai sikap negatif dan tegas terhadapdosa-dosa. Jiwa yang remuk redam dan roh yang rendah menandakan kalau sipendosa sedih sekaligus marah atas kehinaan dirinya. Ia kasihan dengan dirinya yangbernasib jelek. Dengan demikian Tuhan yang maha rahim dapat berpaling perhatiandan kasih-Nya kepadanya. Orang yang tidak menampakkan penyesalan, biasanyamencari kambing hitam dari dosa-dosanya atau bangga dan senang karena denganberdosa ia dapat memenuhi niatnya. Injil Matius mengatakan bahwa jika kita tidak maumengampuni orang yang telah bersalah kepada kita, Bapa di surga tidakmengampuni kita. Doa “Bapa Kami” menekankan hal ini, karena ini adalah tindakanTuhan sendiri. Itu berarti bahwa sebelum mendapatkan tindakan formalpengampunan saat melakukan pengakuan dosa, kita mesti lebih dahulu mengampunimereka yang telah bersalah kepada kita. Oleh karena itu selain menyampaikanelemen-elemen material yaitu dosa-dosa nyata, si pendosa perlu jujurmenyampaikan juga bahwa ia telah mengampuni orang-orang yang ia sebutkan didalam pengakuannya. Suatu pengakuan dosa yang efektif dan berbuah terjadikarena adanya pengampunan terhadap si pendosa yang bersalah kepada kita,sebelum kita mendapatkan pengampunan dari Tuhan melalui Gereja. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan Yesus Kristus, ajarkanlah dansemangatilah kami untuk tidak malu dan takut untuk mengampuni. Bapa kami yangada di surga ... Dalam nama Bapa ....

Delivered by Jessy Patricia from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. 2 Kings 5: 1-15a; Rs psalm 42: 2.3; 43: 3.4; Luke 4: 24-30.HEALING LEPROSY OFBODY AND SOUL The title for ourmeditation today is: Healing Leprosy of the Body and Soul. Saint Ephraim ofSyria who lived in the 4th century AD, wrote like this about the healing ofNaaman, the Syrian army, because of God's grace through the prophet Elisha:"Therefore Naaman was sent to the Jordan River with the aim of healingbecause the water can restore human sickness. Indeed, sin is a leprosy in thesoul, which cannot be sensed, but intelligence can prove it. Human nature mustbe freed from this disease by the power of Christ kept in baptism. It was veryimportant for Naaman to recover from two illnesses, his body and soul. This isfitting to represent a grace of purification and sanctification of all nationsin the ongoing baths, which begin in the Jordan River, mother and beginning ofbaptism." Naaman was a personoutside the Jewish faith community and was certainly considered an infidel. Buthe was without obstacle convinced that there was a power of God that couldprovide healing for his leprosy. He got this information from the Israel servantwho worked for him. People of this category are quick to open up and respond tothe important message about faith, because they basically need God. Naaman representsmany people today who are far from God and do not know Him. They want to havefaith in God through a process of healing their bodies and souls. Their bodieshave shortcomings and even pains because they are far away and apart from closenessand fellowship with God, the source of faith. Their souls are in need ofabsolute truth about life and hope for salvation after death. This process ismade available in Jesus Christ through baptism. After Naaman, there have been somany people outside Jewish community who receive baptism and are members of theChurch today. Naaman's actionscontrasted with those around Jesus even from His place of origin and thecontemporaries of Naaman. They were already strong in their own beliefs,moreover Jesus was considered no less than one from their cricle . They knewvery well the simplicity of Jesus' biological family, so it was impossible forthem to believe that He had powers that exceeded them. The Lord Jesus wants usas His obedient followers to accept Him. By accepting and owning Him, whereverand whenever we are, He is present through us in doing good and renewing thisworld.Let's pray. In the name of the Father... O God, almighty Lord, strengthen our faith that we may become your truewitnesses in this world. Our Father who art in heaven ... In the name of theFather ...

Dibawakan oleh Ursula Dai dari Paroki Santa Maria Ratu Damai Mingar di Keuskupan Larantuka, Indonesia. 2 Raja-Raja 5: 1-15a; Mazmur tg 42: 2.3; 43: 3.4; Lukas 4: 24-30.PENYEMBUHAN KUSTA RAGA DAN JIWA Tema renungan kita pada hari ini ialah: Penyembuhan KustaRaga dan Jiwa. Santo Efraim dari Siria yang hidup pada abad ke-4 Masehi,menulis begini tentang sembuhnya Naaman, tentara Siria, karena karunia Allahmelalui nabi Elisa: “Karena itu Naaman diutus ke Sungai Yordan dengan tujuanpenyembuhannya karena air itu dapat memulihkan manusia. Sesungguhnya, dosamerupakan kusta pada jiwa, yang tidak dapat diinderai, tetapi inteligensi dapatmembuktikannya. Kodrat manusia harus dibebaskan dari penyakit ini oleh kuasaKristus yang tersembunyi di dalam pembaptisan. Penting sekali bagi Naaman,supaya sembuh dari dua penyakit, tubuh dan jiwanya. Ini tepat sekali untukmewakili suatu rahmat pemurnian dan pengudusan segala bangsa dalam pemandianyang terus berlangsung, yang permulaannya di Sungai Yordan, ibu dan pemulapembaptisan.” Naaman seorang dari luar lingkup Yahudi yang beriman dantentu dianggap kafir. Namun ia tanpa halangan yakin bahwa ada kuasa Tuhan yangdapat memberikan kesembuhan atas sakit kustanya. Itu ia peroleh informasinyadari hamba Israel yang bekerja kepadanya. Orang-orang dalam kategori ini cepatterbuka dan menanggapi pesan berharga soal keyakinan iman, karena mereka padaprinsipnya memerlukan Tuhan. Naaman mewakili banyak orang saat ini yang jauh dari Tuhanyang belum mengenal-Nya. Mereka ingin masuk ke dalam iman kepada Tuhan melaluisuatu proses penyembuhan jiwa dan raga mereka. Raga mereka memiliki kekuranganbahkan sakit karena berada jauh dan terlepas dari kedekatan dan terjangkau olehsuatu hidup dalam persekutuan iman. Jiwa mereka terlebih-lebih belum memilikipokok untuk memberikan kebenaran mutlak tentang kehidupan dan menggantungkanharapan untuk keselamatan sesudah kematian. Proses ini tersedia di dalam jalanYesus Kristus melalui pembaptisan. Setelah Naaman, sudah begitu banyak orang diluar Yahudi yang menerima pembaptisan dan menjadi anggota Gereja sampai saatini. Tindakan Naaman tersebut berlawanan dengan orang-orang disekeliling Yesus bahkan dari tempat asalnya yang sezaman dengan Naaman. Merekasudah kuat dengan keyakinan sendiri, apalagi Yesus dianggapnya tidak lebihtidak kurang sebagai seorang yang sama dengan mereka. Mereka tahu betulkesederhanaan keluarga biologis Yesus, maka menjadi tidak mungkin bagi merekauntuk percaya kalau Ia memiliki kemampuan yang melebihi mereka. Tuhan Yesusingin supaya kita sebagai pengikut-Nya yang pertama dan penuh tanggung jawabmenerima Dia. Dengan menerima dan memiliki Dia, di mana dan kapan punkeberadaan kita, Ia hadir melalui kita dalam berbuat baik dan menciptakanpembaharuan. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah maha kuasa, kuatkanlah iman kami untukdapat menjadi saksi-saksi-Mu yang benar. Bapa kami... Dalam nama...

Delivered by Stella, Eveline, Maverick and Michaela from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Exodus 17: 3-7; Rs psalm 95: 1-2.6-7.8-9; Romans 5: 1-2.5-8; John 4: 5-42.ENDLESS AND TOTALLOVE The title for ourmeditation today is: Endless and Total Love. There was a young man really madeall efforts that the girl of his choice accepted him, and finally they couldget married. The girl's family was not all sure about the young man's seriouseffort. In their eyes, he was indeed kind and honest. But all this was just apreception and assumption. There was no concrete proof yet of his sincere love.The girl's family reaction became a challenge for the young man. Then the moment ofwedding eventually came. There were no obstacles in all the processes andevents of the wedding itself. All parties involved felt joyful and satisfied.In one occasion of meeting, the families of both parties had an opportunity togive messages to the newly married couple. Of all the inputs received, theyoung man then expressed his deepest conviction. He said in this way: "Myfaith in the Lord Jesus requires me to love sincerely. For my true love, I willprove it in the life together with her from the moment of our marriage." Love proofs itselfonly through action. The man wanted to prove his love by living with his wifein all situations of their family life. In works, services and sacrifices hewanted to show that his wife felt loved. Jesus is his main example. Like thatman, we the followers of Christ really make Jesus our most special example. TheLord Jesus Christ, as the second reading conveys today, has proven His love forus by the sacrifice of Himself to die on the cross. The love of JesusChrist is revealed to everyone to the point of removing the boundaries of race,ethnicity, culture, and nation. His love does not count who are the believersand who are not. Those who have been baptized long time ago and those who havebeen just baptized yesterday are entitled to receive the love of God. His loveis basically endless. Unbelievers and their cultures like the Samaritans andespecially the woman who met Jesus are the good examples for us today. Love to all or anendless love is indeed a total love. God heals the sick and wounded. Godcompletes and fulfills what is lacking. God returns what is lost and abandoned.God embraces those who are not yet included and those who are scattered. God isthe solution to all forms of life's problems, even though it is very unlikelyto be solved according to human calculations and abilities. God fills the waterof life into the empty and discouraged soul of the Samaritan woman and thesouls of all other mankind. We are so special to receive the Lord's total love. Let's pray. In the name of the Father... O Lord, fill us with Your love and blessing so that we can prepareourselves with all our hearts for this year's Easter celebration. Glory to theFather and to the Son and to the Holy Spirit ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Maria Saraswati Sukardi, Onny Pakendek dan Yohanes Sukardi dari Paroki Santa Maria Assumpta Kota Baru Kupang di Keuskupan Agung Kupang, Indonesia. Keluaran 17: 3-7; Mazmur tg 95: 1-2.6-7.8-9; Roma 5: 1-2.5-8; Yohanes 5-42.KASIH YANG TIDAKBERTEPI DAN TOTAL Tema renungan kita pada hari ini ialah: Kasih Yang TidakBertepi Dan Total. Seorang pemuda benar-benar berjuang supaya gadis pilihannyaitu menerima dirinya, dan akhirnya mereka dapat menikah. Keluarga si gadisbelum semuanya yakin dengan perjuangan pemuda itu. Di mata mereka, ia memangbersikap baik, dan jujur. Tetapi semua itu masih sebagai anggapan dan asumsi.Belum ada bukti nyata kesungguhan cintanya. Sikap keluarga menjadi tantanganbagi pemuda itu. Lalu saat pernikahan itu datang. Tidak ada halangan dalamsemua proses dan acara pernikahan itu sendiri. Semua pihak yang terlibatmerasakan suka cita dan kepuasannya. Di dalam sebuah pertemuan, keluarga keduabelah pihak berkesempatan memberikan pesan-pesan kepada pasangan yang baru sajamenikah. Dari semua masukan yang diterima, pemuda itu kemudian menyatakan isihatinya. Ia berkata begini: "Imanku kepada Tuhan Yesus menuntut aku untukmencintai dengan benar. Cintaku yang benar kepada istriku ini, akan akubuktikan dalam hidup bersama dengannya mulai dari saat pernikahan kami." Pembuktian cinta kasih hanya dengan satu cara, yaituperbuatan. Lelaki itu ingin buktikan dengan hidup bersama istrinya dalam segalasituasi hidup keluarga. Di dalam pekerjaan, pelayanan dan pengorbanan ia ingintunjukkan bahwa istrinya merasa dicintai. Yesus adalah teladan utamanya. Kitasemua pengikut Kristus juga seperti dirinya, yang menjadikan Yesus teladanutama kita. Tuhan Yesus Kristus, seperti yang disampaikan bacaan kedua padahari ini, sudah membuktikan kasih-Nya bagi kita dengan pengorbanan diri-Nyasampai mati. Cinta kasih Yesus Kristus itu dinyatakan kepada semuaorang sampai menghilangkan batas-batas ras, suku, budaya, dan bangsa. Cintakasih-Nya itu tidak mengenal siapa yang beriman dan yang tidak. Mereka yangsudah lama dibaptis dan mereka yang baru kemarin dibaptis berhak mendapatkankasih Tuhan tersebut. Kasih-Nya itu pada dasarnya tidak bertepi. Kelompokmanusia dan budaya yang tidak beriman seperti orang Samaria dan khususnyawanita yang berjumpa dengan Yesus adalah contohnya. Kasih kepada semua atau kasih yang tidak bertepi adalahkasih yang total. Tuhan menyembuhkan yang sakit dan luka. Tuhan melengkapi danmemenuhi yang kurang. Tuhan mengembalikan yang hilang dan tersesat. Tuhanmerangkul mereka yang belum tercakup dan tercerai-berai. Tuhan menjadi solusiatas semua bentuk persoalan hidup, sekalipun itu amat tidak mungkin teratasimenurut perhitungan dan kemampuan manusia. Tuhan mengisi air kehidupan ke dalamjiwa wanita Samaria dan jiwa semua orang lain di mana pun yang sedang kosongdan putus asa. Kita beruntung menerima kasih Tuhan yang total. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan, penuhilah diri kami dengan kasih danberkat karunia-Mu sehingga kami dapat menyiapkan diri dengan segenap hati untukperayaan Paskah tahun ini. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ...Dalam nama Bapa ...

Dibawakan oleh Markus Soge Purab dan Klaudia Roo Won Malin Asan dari Stasi Keluarga Kudus Lewo Glaran, Paroki Santo Mikhael Kalike di Keuskupan Larantuka, Indonesia. Mikha 7: 14-15.18-20; Mazmur tg 103: 1-2.3-4.9-10.11-12; Lukas 15: 1-3.11-32.KERAHIMAN ALLAHBUKAN KETIDAKADILAN Renungan kita pada hari ini bertema: Kerahiman Allah BukanKetidakadilan. Kekaguman bahkan sampai ketidakmampuan kita untuk memahami TuhanAllah salah satunya ialah tentang kerahiman-Nya. Ungkapan kerahiman Allah yangpaling kuat bagi kita ialah kuasa-Nya mengampuni dosa manusia. Istilah “Allahmaha kuasa” memiliki makna bahwa Ia berkuasa di atas segala sesuatu dan setiaporang, termasuk pengampunan dosa. Untuk orang-orang yang percaya, kekaguman danketidakmampuan di hadirat Tuhan ini merupakan bagian dari iman. Sedangkan bagiorang-orang yang tidak beriman, kemahakuasaan Allah dan khususnya pengampunandosa tak punya makna apa-apa. Nabi Micah, dalam bacaan pertama, mengungkapkan imannyadengan rasa kagum yang mendalam bahwa tidak ada Allah lain yang dapatmengampuni dosa-dosa umat ciptaan-Nya. Ia berkuasa menghapuskankesalahan-kesalahan manusia. Bahkan Ia melemparkan segala dosa itu ke dalamtubir-tubir laut, ke bagian paling dalam dari semesta ini. Micah punya ceritatentang pengalaman Israel masa lampau tentang pembebasan dari perbudakan Mesirdan penyelamatan selama pengembaraan di padang gurun. Sejalan dengan ini, Yesusmembuatnya lebih konkret melalui perumpamaan tentang anak yang hilang dan bapayang penuh belas kasih kerahimannya. Hukum positif dan keyakinan akan keadilan menetapkansolusi atas suatu perbuatan dosa, dengan hukuman yang setimpal dengan perbuatandosanya. Orang-orang yang tidak percaya dan umumnya yang memakai cara berpikirini berpandangan bahwa orang Israel yang sudah sangat berdosa berulang-ulangpantas dihukum berulang-ulang. Anak yang hilang itu mesti mendapat hukuman yangsama besar dengan dosa yang sudah ia lakukan. Orang-orang Farisi dan para ahliTaurat menganggap bahwa orang yang berdosa sudah sangat kotor, jadi merekatidak boleh berinteraksi dengan para pendosa itu. Ini semua berbanding terbalikdengan perbuatan Tuhan. Ia maha rahim. Ia justru bergaul dan menyatu denganmereka. Ia mengampuni mereka. Inilah yang dipandang oleh cara berpikir tadisebagai ketidakadilan. Tetapi sebenarnya tindakan kerahiman ini bukan sebagaiperbuatan tidak adil. Suatu perbuatan belas kasih dan kerahiman pada dasarnyamembawa orang berdosa dekat kepada kita dan membantunya untuk bertobat, melaluipengampunan dan bimbingan untuk kembali ke jalan yang benar. Kehendak Tuhansebenarnya bagi mereka ialah supaya tidak ada satu pun dari orang-orang yangberiman hilang dari perhatian-Nya. Bisa jadi salah satunya ialah dari antarakita, teman atau anggota keluarga Anda. Kalau demikian, di dalam masa ini, Andadapat bekerja bersama Tuhan mengembalikan dia dari keadaannya saat ini yangsedang mengilang baik secara fisik maupun secara rohani. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Tuhan maha kuasa, buatlah kami sadar dan rindu,bahwa kembali kepada-Mu adalah yang terbaik, dan hidup dalam Dikau adalahtujuan utama hidup kami. Bapa kami yang ada di surga ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Enge Kristina from the Parish of Saint Aloysius Gonzaga in the Diocese of Surabaya, Indonesia. Micah 7: 14-15.18-20; Rs psalm 103: 1-2.3-4.9-10.11-12; Luke 15: 1-3.11-32.GOD'S MERCY ISNOT INJUSTICE Our meditation today is entitled: God's Mercy Is NotInjustice. Admiration and even our inability to understand the almighty God is whenwe think and ponder on His mercy. The most powerful expression of God's mercyfor us is His power to forgive human sins. The term "God is almighty"signifies the power of God to rule over everything and everyone, including theforgiveness of sins. For believers, this admiration and recognition of beinginsufficient in the presence of God is part of faith. As for the unbelievers,the omnipotence of God and especially the power to forgiveness of sins ismeaningless. The prophet Micah, in the first reading, expressed hisfaith with great wonder that no other God could forgive the sins of His people.He has the power to remove human sins. He threw all those sins into the depthsof the sea, into the deepest part of the universe. Micah has a story about the deliveranceof ancient Israelites from Egyptian slavery and deliverance during the periodof wandering in the wilderness. In line with this, Jesus makes it more concretethrough the parable of the prodigal son and his merciful father. The positive law and principle of justice put the answerto an act of sin with the punishment due to the sinful act made. Unbelieversand people in general view that the Israelites who have sinned so much over andover again deserve to be punished repeatedly. The prodigal son must had receivedthe punishment correlated to the sin he had committed. The Pharisees andscribes considered sinners to be very dirty, so they were not to interact with them.This is all contradictory to God's merciful deeds. God is a merciful God. TheLord comes along and stay with them. He forgives them. This is what we meanhere as an injustice act of God. However, this act of mercy is not an unjust act. Anact of mercy and love essentially brings the sinner close to us and helps himto repent, through forgiveness and guidance to return to the right path. God'sreal will for them is that none of the believers should be lost from His care.It could be one of us, your friends or family members. Then, during this time,you can work with God to restore him from his current state of depravity bothphysically and spiritually.Letus pray. In the name of the Father... God Almighty, make us aware and eager to returnto You as the best way we can do, and living with You must the main purpose ofour lives. Our Father who art in heaven... In the name of the Father ...

Delivered by Joanna Engie from the Parish of Saint Gabriel in the Diocese of Bandung, Indonesia. Genesis 37: 3-4.12-13a.17b-28; Rs psalm 105: 16-17.18-19.20-21; Matthew 21: 33-43.45-46.LOVE RETURNEDWITH HATE The title for our meditation today is: Love Returnedwith Hate. For believers and followers of Christ, this sentence does not belongto the teachings of the Lord and Church. On the contrary, what the Lord andChurch teach is love in return or love that produces goodness, or love bringsjoy. Although it is not God's teaching, sacred scriptures and teachings intendto describe how evil and bad our life is if it is ruled by sin. Envy, hatred,anger, arrogance, cruelty, and violence are the sins that destroy life. Today's readings from the bible tell the story aboutthe acts of love from generous people who show the importance of love and mercyof the heavenly Father. That act of love is reciprocated with hatred and angerthat lead to murder and destruction. The target of hatred and anger is themessenger who carries the message of love to be conveyed or shared. Jacob senthis beloved son Joseph, to signify his own coming to meet and serve hischildren in the field. But Joseph was captured, tortured, and sold. Themaster's messengers to the vineyard were persecuted and destroyed one by one.The last messenger was his own son who was tortured and killed by his trusted workersand servants. During this Lent the call to reflect on the lovereturned with hate is intended to reinforce our obligation to do some actions.The first, we must avoid our inability to distinguish between love returnedwith love from love returned with hate. Those who profess faith in God butcannot discern it accordingly, and then deliberately reciprocate love withhatred, are not really the followers of Christ. Second, as believers our obedience demands that ourchoice is to do the will of God. We choose love returned with love. Kindnessreciprocates kindness. Joy reciprocates joy. In order to choose this, ourcloseness and intimacy with God is essential, and not the contrary such as dicouragment,dryness, and distance. Communication with God in a personal and sincere manner oftenbecome the most common ways to do. Third, Jesus' own real experience dealing with Hisenemies had indeed testified how love returned with hate is. He reveals thatthis experience will be our experience too, because we follow Jesus' way oflife. Jesus was not afraid and ran away from the powerful attack of hatred andthreats. The more hatred was ignited, the greater love was coming. The moreviolent treatment He received, the more patience, steadfastness of faith, andforgiveness were shown in return. This is the way He teaches us and we arerequired to do the same. Letus pray. In the name of the Father... Almighty and everliving Father, may YourSpirit always illuminate our minds and hearts so that we can always discerngood from evil. Glory to the Father and to the Son and to the Holy Spirit ...In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Suster Amaria SSpS dari Komunitas Suster SSpS di Paroki Salib Suci Nanzan, Keuskupan Nagoya, Jepang. Kejadian 37: 3-4.12-13a.17b-28; Mazmur tg 105: 16-17.18-19.20-21; Matius 21: 33-43.45-46.CINTA BERBALASBENCI Tema renungan kita pada hari ini ialah: Cinta BerbalasBenci. Kalimat dari tema ini bukan merupakan ajaran Tuhan bagi kita. Sebaliknyayang diajarkan Tuhan ialah cinta berbalas cinta atau cinta berbuah kebaikan,atau cinta menghasilkan suka cita. Meski bukan ajaran Tuhan, namun kitab sucidan ajaran Tuhan hendak menggambarkan betapa jahat dan buruknya kehidupan jikadikuasai oleh dosa. Iri hati, benci, marah, sombong, kejam, dan kekerasanmerupakan dosa-dosa yang menghancurkan kehidupan. Bacaan-bacaan pada hari ini berkisah tentang perbuatancinta dari orang yang mempunyai kemurahan hati dan kasih kebapaan. Perbuatanitu dibalas dengan kebencian dan kemarahan yang berujung pada kehancuran dankebinasaan. Sasaran kebencian dan kemarahan itu ialah utusan yang membawa pesankasih yang hendak disampaikan atau dibagikan. Yakob mengutus putra terkasihnyaYusuf, yang berarti ia hadir sendiri menjumpai dan melayani anak-anaknya dipadang. Tetapi Yusuf ditangkap, disiksa, lalu dijual. Utusan-utusan tuan kekebun anggur satu per satu dianiaya dan dihancurkan. Utusan terakhir adalahanaknya sendiri yang disiksa dan dibunuh oleh para pekerja dan pelayannya. Di dalam masa Prapaskah ini peringatan tentang cintaberbalas benci bertujuan memperkuatkan kewajiban kita untuk melakukan beberapatindakan. Pertama ialah ketidakmampuan membedakan cinta berbalas cinta daricinta berbalas benci harus dihindari. Mereka yang menyatakan diri berimankepada Tuhan tetapi tidak bisa membedakan itu, lalu sengaja membalas cintadengan kebencian sebenarnya bukan pengikut Kristus. Kedua, sebagai orang-orang beriman ketaatan kita menuntutsupaya kita berpihak pada pilihan untuk melakukan kehendak Tuhan. Terkaitdengan pembedaan tadi, pilihan kita ialah cinta berbalas cinta. Kebaikanberbalas kebaikan. Suka cita berbalas suka cita. Supaya bisa memilih ini,kedekatan dan keintiman kita dengan Tuhan sangat diperlukan, dan bukan sikapdingin, malu, dan menjauh dari Tuhan. Sering berkomunikasi dengan Tuhanmerupakan cara yang paling umum untuk dilakukan. Ketiga, cara cinta berbalas benci adalah pengalaman nyataYesus sendiri dalam berhadapan dengan para musuh-Nya, dan ini diwariskan-Nyakepada kita. Yesus tidak takut dan lari dari gempuran kuat kebencian danancaman. Semakin benci dikobarkan, semakin besar pula cinta yang dilakukan.Banyak perlakukan penuh kekerasan diterima-Nya, semakin banyak kesabaran,keteguhan iman, dan pengampunan yang ditunjukkan sebagai balasnya. Cara iniyang Ia ajarkan kepada kita dan kita dituntut untuk melakukannya. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Bapa yang bijaksana, semoga Roh-Mu selalumenerangi budi dan hati kami supaya kami dapat selalu membedakan yang baik dariyang jahat. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Randy from the Parish of Christ the King in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Jeremiah 17: 5-10; Rs psalam 1: 1-2.3.4.6; Luke 16: 19-31.RELYING ON GODTHROUGH MAN Our meditation today is entitled: Relying on GodThrough Man. The famous story of Lazarus and the anonymous rich man shouldbecome an interesting catechesis for us. This story can be used to enrich thecontent of the teaching about relying completely on God on the one hand, andexpecting the goodness or help from fellow human beings where God's love isobtained. Lazarus was so unfortunate with very limitedpossibilities to continue his life in the world. According to our standard offaith, God should have used the rich man to help Lazarus, but that was not thecase. The prophet Isaiah in the first reading reminds believers to rely on God for their survival.Lazarus and all of us desperately need God's intervention for our survival.What is not appropriate is that when a person was distress and hopeless, he didnot remember and did not even need God. Lazarus and many others of the similar situation havealways been in this world. They live with other people who are more fortunateor who have everthing for their lives. The evangelist Mark says in this way,"The poor are always with you" (Mk 14:3). Let us for example see somethingconcrete and actual in a local parish. This community of faith always has thecategory of people who are so poor in everything. The Church then has aministry to give attention to them that they may be able to exist and work inlife. Collections and donations made in the parish, one of its uses iscertainly for this purpose. This illustration is enough to explain that thisgroup of “Lazarus” type relies on God through their fellow human beings in acommunity of faith. However, everything is not always smooth and becomesan adequate act of service. The point is that the group of people like Lazarusdid not necessarily get what they needed. God's intervention perhaps not beingcarried out properly through fellow human beings who are more fortunate intheir lives. Jesus makes it very clear that the the people like Lazarus were indire need of help. The situation becomes worse when people who can contributeand help, yet they are not able to be an extension of God's hand to helpLazarus and those of the same fate. That's what Jesus really emphasizes. This unwillingness to help is a sin of negligence thatmust not occur in the life of the Church, community, and people of faith. Thosewho are unwilling to help are the ones contrary to the expression of our themetoday: "relying on God through man." The consequence is obvious, aswe have just heard from the Gospel reading of today.Letus pray. In the name of the Father... O most loving Jesus, make us always awareof our duty as Your true followers, which is to help our neighbors in need.Hail Mary, full of grace... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Siprianus T. Betekeneng dan Kristina K. Opong dari Paroki Santa Maria Assumpta Kupang di Keuskupan Agung Kupang, Indonesia. Yeremia 17: 5-10; Mazmur tg 1: 1-2.3.4.6; Lukas 16: 19-31.MENGANDALKANTUHAN MELALUI MANUSIA Renungan kita pada hari ini bertema: Mengandalkan TuhanMelalui Manusia. Kisah terkenal tentang Lazarus dan orang kaya yang tidak punyanama menjadi bahan katekese yangmenarik. Kisah ini dapat dipakai untuk memperkayai isi pengajaran tentangbersandar sepenuhnya kepada Tuhan di satu pihak, dan di lain pihak mengharapkankebaikan sesama manusia di mana kasih Tuhan didapatkan. Lazarus ditampilkan sebagai orang yang sangat terbataskemungkinan untuk menyambung hidupnya di dunia. Sesuai dengan standar imankita, Tuhan mestinya memakai orang kaya itu untuk menolong Lazarus, namun tidakterjadi demikian. Nabi Yesaya dalam bacaan pertama mengingatkan supayaorang-orang beriman mengandalkan Tuhan untuk kelangsungan hidupnya. Lazarus dankita semua sangat memerlukan campur tangan Tuhan bagi kelangsungan hidup kita.Yang tidak pantas ialah ketika seseorang di dalam kesusahan hidup, ia tidakingat dan bahkan tidak memerlukan Tuhan. Lazarus dan banyak orang lain yang senasib selalu ada didunia ini. Mereka hidup bersama orang-orang lain yang lebih beruntung atau yangtercukupi kebutuhan hidupnya. Kata penginjil Markus, “Orang-orang miskin selaluada bersama kalian” (Mk 14,3). Yang lebih konkret dapat kita lihat di dalamsebuah paroki. Gereja teritorial ini selalu memiliki lapisan umat yang hidupnyadalam kekurangan. Gereja kemudian mempunyai karya pelayanan yang memberiperhatian bagi mereka untuk bisa menyambung hidupnya. Kolekte dan sumbanganyang dilakukan di paroki, salah satu kegunaannya tentu untuk kepentingan ini.Gambaran ini cukup menerangkan bahwa golongan Lazarus ini mengandalkan Tuhanmelalui sesamanya di dalam sebuah komunitas beriman. Namun semuanya tidak selalu lancar dan menjadi suatubentuk pelayanan yang memadai. Maksudnya ialah bahwa golongan Lazarus belumtentu mendapatkan yang mereka perlukan. Campur tangan Tuhan bisa saja tidakdijalankan melalui sesama manusia yang lebih beruntung hidupnya. Yesus sangatjelas memperlihatkan kalau golongan Lazarus sangat memerlukan pertolongan. Yangmenjadi krusial ialah orang-orang mampu yang dapat berkontribusi, tidak mampumenjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menolong golongan Lazarus. Itu yangsebenarnya ingin ditekankan oleh Yesus. Itu berarti dosa mereka ialah dosa kelalaian yang mestinyatidak boleh terjadi dalam kehidupan berjemaat, berkomunitas, dan beriman yangsama. Mereka ini tidak merealisasikan yang disebut tadi “mengandalkan Tuhanmelalui sesama.” Akibatnya sudah jelas, seperti yang sudah kita dengar dalamInjil tadi. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Yesus yang baik, buatlah kami selalumenyadari dan melakukan kewajiban kami sebagai pengikut-pengikut-Mu, yaitumenolong sesama kami yang berkekurangan. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalamnama Bapa ...

Delivered by Vina Kuesal from the Holy Trinity Parish in the Archdiocese of Melbourne, Australia. Jeremiah 18: 18-20; Rs psalm 31: 5-6.14.15-16; Matthew 20: 17-28.MOTIVATION GROWTH INTHE FOLLOWING OF GOD'S WILL Our meditation today isentitled: Motivation Growth in the Following of God's Will. Jesus' question tothe mother of the two apostles from the Zebedee's family: “What do you want?”is the entrance to the understanding on the compatibility between the will ofGod and the desire of men to follow Him. Jesus' vision for the salvation ofmankind, through the way of the cross and suffering, attracted the attention ofmany followers, including the two apostles. Like other disciples, many otherfollowers, and also we who are now listening to His words, this attractionreinforces our motivation to follow Christ. Through attraction asan initial stage which brings to the faith and ability to follow Him, asuitability would be a good outcome. The Lord wills in this direction and weheed His call then follow Him. Expressions like "I like" or "I'minterested" or "I am ready, I want" is usually our response tothe call and invitation of the Lord. For example, when the preaching of theword of God really gives new insight and inspiration, someone then exclaimed:"Yes, I realize in myself and I agree to what God wishes from me".This expression indicates the suitability that has been just mentioned. This initial stagethen leads us to the next one, which is the motivation that drives one'sinterest and love. We don't have from the beginning just only one motivation.We need to check that initial motivation and to ensure that it is stilloriginal or remain as such for enhancing the suitability, or has indeedchanged. One's motivation can change along with the change of times and one'sown desire. Every individual's freedom is to be influenced by circumstances andsurroundings that will affect one's motivation to follow the will of the Lord.In friendship or collaboration in doing a project of work, there is noguarantee for a lasting compatibility and suitability. Everyone's motivationcan change any time that eventually break up friendship or collaboration. Our two readingstoday speak about the change of motivation in the following of God's will. Whenthe change is known to bring oneself or others away from the path of the Lord,it will be definitely rebuked by the Lord. The prophet Jeremiah was strongly confrontedby those who sought to destroy him. God was on his side and he did not doubtabout it. But at the same time, he requested that God should does him harm and declinepunishment on his opponents. The two brothers of Zebedee's family agreed tofollow Christ, but they were encouraged to find a special and precious place inthe Kingdom of God. So it should be clearfor us all here. As we constantly examine our motivation to believe and to befaithful to Christ, we will find that there is a change of our motivation inthe course of time. Our liturgical readings today show that the changes of motivationhappen in order to prioritize the interests for one's own satisfaction, and notfor the following of God's will. We know very well the consequences for thosewho do not follow the will of the Lord.Let's pray. In the name of the Father... Lord Jesus Christ, increase our faith that we may have the right motivationin the path to follow you. Our Father who art in heaven ... In the name of theFather and of the Son ...

Dibawakan oleh Sr Roberta CIJ dan Sr Petri Canisia CIJ dari Komunitas Suster CIJ St. Maria Assumpta Dili di Keuskupan Agung Dili, Timor Leste. Yeremia 18: 18-20; Mazmur tg 31: 5-6.14.15-16; Matius 20: 17-28.MEMERIKSAMOTIVASI MENGIKUTI KEHENDAK TUHAN Renungan kita pada hari ini bertema: Memeriksa MotivasiMengikuti Kehendak Tuhan. Pertanyaan Yesus kepada ibu kedua rasul dari keluargaZebedeus: Apa yang kaukehendaki? merupakan pintu masuk untuk mengertikesesuaian antara kehendak Tuhan dan keinginan manusia yang mengikuti-Nya. VisiYesus untuk keselamatan umat manusia yang lakukan melalui jalan salib danpenderitaan, menarik perhatian para pengikut, termasuk kedua rasul itu. Sepertibanyak murid dan pengikut lain termasuk kita, rasa tertarik ini menguatkanmotivasi untuk mengikuti Kristus. Sejauh sebuah rasa tertarik sebagai tahap awal yangkemudian mengungkapkan iman dan kesanggupan mengikuti-Nya, suatu kesesuaianmerupakan sebuah hasil yang baik. Tuhan berkehendak demikian, lalu kita manusiamenyanggupi. Biasanya ungkapan seperti “saya suka” atau “saya tertarik” atau“siap, saya mau” menjadi tanggapan yang diberikan. Misalnya ketika mendapatkansatu pernyataan dalam renungan firman Tuhan, seseorang berseru: ya, sayamenyadari di dalam diri dan suka dengan yang diinginkan oleh Tuhan dari saya.Ini menandakan adanya kesesuaian. Tahap awal ini menuntun kita ke tahap berikutnya, yaitumotivasi yang menggerakkan rasa tertarik dan suka itu. Kita tidak cukupmempunyai dari awal hanya satu motivasi saja. Kita perlu juga memeriksamotivasi untuk memastikan kalau ia masih orisinal atau tetap bertahan dengankesesuaian itu atau sebaliknya memang sudah bergeser. Motivasi seseorang bisabergeser karena keinginan atau selera yang berubah-ubah berdasarkankebebasannya dan daya tarik keadaan di luar dirinya. Di dalam berteman atauberkolaborasi dalam satu kegiatan, tak ada jaminan untuk bertahan selamanya,itu karena berubahnya motivasi. Kedua bacaan pada hari ini menyinggung tentang berubahnyamotivasi dalam mengikuti kehendak Tuhan. Mereka yang mengubahnya demikepentingan dirinya sendiri ditegur oleh Tuhan. Nabi Yeremia tegas berhadapandengan musuh yang hendak membinasakan dia. Allah di pihak dia dan ia tidakgentar. Namun pada saat yang sama, ia meminta supaya Allah menyiksa dirinya danmenyurutkan hukuman bagi para lawannya. Kedua saudara Zebedeus menyanggupijalan mengikuti Kristus, tetapi mereka didorong untuk mendapatkan tempat spesialdi dalam Tuhan. Jadi terlihat di sini, ketika kita dengan terus-menerusmemeriksa motivasi untuk percaya dan setia kepada Kristus, kita akan menemukanada perubahan motivasi dalam perjalanan waktu. Perubahan yang disinggung hariini ialah pengutamaan kepentingan pribadi demi kepuasan sendiri, dan bukankarena kehendak Tuhan. Kita tahu akibatnya kalau tidak mengikuti kehendakTuhan. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Tuhan Yesus Kristus, tambahkanlah kami kekuatanuntuk selalu memiliki motivasi yang benar dalam mengikuti-Mu. Bapa kami yangada di surga ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Charlene Mahadi from the Parish of Maria Kusumah Karmel in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Isaiah 1: 10.16-20; Rs psalm 50: 8-9.16bc-17.21.23; Matthew 23: 1-12.BE CREDIBLE Our meditation today isentitled: Be Credible. In general, we understand that credibility meanstrustworthiness. This has to do with humans or impersonal ones such asinstitution, wisdom, decision, choices and beliefs. Credibility is basically avirtue that is needed if we are responsible and have convinction toward othersabout what we say and do. The expected result is that we or something can betrusted. This means that one or something is credible. What are the signs ofcredible people? Today the Lord Jesus teaches us one fundamental characteristicof the virtue of credibility. He uses the profiles of the Pharisees and thescribes as His example. They are good at talking and seem so convincing withtheir thoughts and arguments. But their obvious fault is that they don't dowhat they say. Credibility really demands that there should be a proportionalconnection between what is said or discussed with what is done. Words andactions are in line. Theory is expressed in practice. Credibility can standstraight and be useful if its both feet are in function, namely words anddeeds. Those who were criticized by Jesus only stood on one foot, which weretheir words. Their deeds were just zero. They were actually crippled. So Jesus'advice is this: just listen and follow what they say, because it has valuableadvice and wisdom. But never follow their actions. Words and thoughts orconcepts are easier to be made because they do not require much sacrifices.Especially when the aim is to attract, influence, and a way of promotion, wordscan be arranged in an orderly fashion, nice to people's hearing, and as a powerto move feelings and sentiments. But this is still incomplete. It is stilllimping. Deeds and actionsthat have moral influence, faith principles, and human universal values, havetheir higher quality of credibility compared to ordinary actions such aswalking, eating or drinking. The prophet Isaiah emphasizes the acts of justiceand compassion. If people only speak, theorize, promise, and discuss aboutcreating justice and the importance of compassion, then without doing justiceand showing compassion to others, their credibility in faith and moralstandards are questionable. They may feel so confident to talk and explainthings, but they are degrading their quality as humans because they are notcredible. If this meditationencourages us to be credible, it means that we who have responsibilities totake care of others in the fields of teaching, nurturing, guidance andaccompaniment, we should make credibility as a means for our consecration andservice for humanity. Let's pray. In the name of the Father... O Lord Jesus, teach us to be trustworthy in our words and deeds. Glory tothe Father and to the Son and to the Holy Spirit ... In the name of the Father...

Dibawakan oleh Theresia Keneka Muli dan Mateus Nong Mus dari Paroki Harapan Indah, Gereja Santo Albertus Agung di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Yesaya 1: 10.16-20; Mazmur tg 50: 8-9.16bc-17.21.23; Matius 23: 1-12.JADILAH KREDIBEL Renungan kita pada hari ini bertema: Jadilah Kredibel.Secara umum kita memahami kalau kredibel itu berarti dapat dipercayai. Inikaitannya dengan manusia atau yang impersonal seperti lembaga, kebijaksanaan,keputusan, pilihan, dan keyakinan. Aspek kredibilitas selalu berkaitan dengankebajikan yang diperlukan jika kita mempertanggungjawabkan dan meyakinkan oranglain tentang apa yang kita katakan dan perbuat. Hasil yang diinginkan ialahsupaya kita atau sesuatu itu dapat dipercayai. Ciri orang yang kredibel itu seperti apa? Pada hari iniTuhan Yesus mengajarkan kita satu ciri mendasar kebajikan kredibilitas. Iamengambil contoh pribadi orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Mereka pintarberbicara dan tampak begitu meyakinkan dengan pikiran dan argumentasi. Tetapisalahnya ialah mereka tidak melakukan yang mereka katakan. Kredibilitas sangatmenuntut supaya ada kesesuaian yang dikatakan atau dibicarakan dengan yangdiperbuat. Kata dan perbuatan sejalan. Teori diungkapkan di dalam praktik. Kredibilitas dapat berdiri tegak dan berguna yangsesungguhnya kalau kedua kakinya berfungsi, yaitu perkataan dan tindakan.Mereka yang dikritik Yesus itu hanya berdiri dengan satu kaki, yaitu perkataan.Perbuatan mereka nol. Jadi mereka orang-orang pincang. Maka nasihat Yesusialah, dengarkan dan ikuti saja yang mereka katakan, karena berisi nasihat dankebajikan. Tetapi jangan pernah mengikuti perbuatan mereka. Kata dan pikiranatau konsep lebih mudah dibuat karena tidak terlalu memerlukan pengorbanan. Khususnyaketika tujuannya ialah untuk menarik hati, mempengaruhi, dan menampilkan diri,kata-kata bisa dibuat sedemikian teratur, indah didengar, dan seolah-olahbertenaga untuk menggerakkan. Namun ini tetap saja masih belum lengkap. Iamasih pincang. Perbuatan atau tindakan yang mempunyai pengaruh moral,berisi iman, dan bernilai kemanusiaan memiliki mutu kredibilitas yang lebihtinggi dibandingkan dengan perbuatan biasa sepeti berjalan dan makan atauminum. Nabi Yesaya menegaskan tentang perbuatan berwujud keadilan dan berbelarasa. Jika orang hanya berbicara, berteori, berjanji, dan berdiskusi tentangmenciptakan keadilan dan pentingnya berbela rasa, lalu tanpa berbuat adil danmelayani secara nyata, kredibilitas iman dan moralnya layak dipertanyakan.Mereka mungkin merasa sangat yakin untuk berbicara dan menjelaskan itu, tetapimereka sedang merendahkan kualitasnya sebagai manusia karena tidak kredibel. Kalau ajakan renungan ini untuk menjadi kredibel, itumaksudnya supaya orang-orang yang memiliki tanggung jawab atas orang lain yangdiajari, dibina, dan didampingi, menjadikan kredibilitas sebuah kesakralan yangharus dihidupi. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan Yesus,ajarkanlah kami untuk menjadi orang yang benar dalam kata dan perbuatan.Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Erica Tanzil from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Daniel 9: 4b-10; Rs psalm 79: 8.9.11.13; Luke 6: 36-38.LORD, LOOK NOT ON OURSINS The title for ourmeditation today is: Lord, Look Not On Our Sins. This sentence is taken fromthe prayer of “Peace” that we always recite before the Holy Communion in thecelebration of the eucharist. There is a close relationship with the removal orremission of sins with peace. People who are free from sins, we can be surethat they experience a peaceful, calm, and comfortable life. In reality it isnot easy to always avoid sin, especially if the sins are from within ourselves,such as from our mind, heart, and mouth. We often repeat thesame mistakes. If this is not treated with act of repentance and the reception of the sacrament ofReconciliation, one may feel nice and comfortable living with sins.Consequently, more and more sins accumulated and the person is no longer awarebeing a sinner even though he or she does commit sins. Therefore the prayer "Lord, look not on oursins" is an expression of our unceasing petition from us who are still livingin this world. If God does look on our sins and we are only considered assinners, we could be as useless as dust that people simply trample on theground. Instead we ask God togive attention to the faith of every one from the people of God. We as sinnershave our faith, maybe even a strong one. This is shown in the act of Confessionthat confirms ourselves as sinners and who have done wrong, as preached in thebook of Daniel in the first reading today. Jesus Christ made only one accountfor our sins by the sacrifice of Himself on the cross. What we should try to donow is to fulfill what is obliged from us, which is our self-confession andrenewal of life before God and our neighbor. Our faith does notimmediately or automatically erase our sins. In addition to the confession ofsins that characterizes the faith, we are taught by Jesus to strengthen ourfaith with virtues so as to free us from sins and evil. Today we are taught onthe virtue of generosity, and we are asked to be generous like the Father inheaven who is generous. One of the main characteristics of a generous person isto be the first to do good through words or deeds. Therefore, to love afterbeing loved or to exchange love is actually not generosity but fairness orjustice. With this quality ofgenerosity, we do not judge, punish, or slander at first moment. Generosityleads us to forgive first, to give first, to take the first step to be rightand good person. This is all not to promote and entertain ourselves, butbecause love is very demanding. This can prevent us from increasing our sins.Let's pray. In the name of the Father... Almighty Father in heaven, we pray that You do not look on our sins, but onour faith and increase an unfailing love in everyone of us your belovedchildren. Hail Mary, full of grace ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Apolonia Lema dan Maria Tania Musa dari Paroki Santo Simon Petrus Tarus di Keuskupan Agung Kupang, Indonesia. Daniel 9: 4b-10; Mazmur tg 79: 8.9.11.13; Lukas 6: 36-38.JANGANLAHPERHITUNGKAN DOSA KAMI Tema renungan kita pada hari ini ialah: JanganlahPerhitungkan Dosa Kami. Kalimat tema ini diambil dari doa “Damai” yang selalukita serukan sebelum Komuni Kudus dalam perayaan ekaristi. Ada kaitan eratpenghapusan atau pengampunan dosa dengan damai. Orang yang terhindar dariperbuatan-perbuatan dosa, bisa dipastikan ia mengalami hidup yang damai,tenang, dan nyaman. Di dalam kenyataan tidak mudah untuk selalu menghindaridosa, terutama kalau dosa-dosa itu disebabkan dari dalam diri sendiri, sepertidari pikiran, hati, dan mulut kita. Kita sering mengulang-ulang kesalahan yang sama. Kalau halini didukung dengan tidak atau jarang sekali ada penyesalan dan penerimaansakramen tobat, seseorang bisa saja merasa nyaman hidup di dalam dosa-dosa.Akibatnya dosa-dosa semakin menumpuk dan yang bersangkutan tidak menyadari lagisebagai pendosa meski ia secara nyata berbuat dosa. Oleh karena itu doa“Janganlah perhitungkan dosa kami” adalah ungkapan permohonan kita yang tiadahentinya selama kita di dunia ini. Jika Tuhan memang memperhitungkan dosa-dosakita, bisa jadi kita sangat rendah seperti debu tanah yang diinjak-injak saja. Sebaliknya kita memohon Tuhan supaya memperhatikan imansetiap orang dan kawanan umat-Nya. Kita orang-orang berdosa memiliki iman,bahkan mungkin iman yang sangat kuat. Hal ini diperlihatkan dalam tindakanpengakuan sebagai orang-orang yang berbuat dosa dan salah, seperti yangdiwartakan kitab Daniel dalam bacaan pertama. Yesus Kristus hanya satu kalisaja memperhitungkan dosa-dosa kita dengan pengorbanan diri-Nya. Yang lebihkita usahakan sekarang ialah pengakuan diri dan menjadi baru di hadapan Tuhan dansesama kita. Iman kita tidak langsung atau otomatis menghapus dosa-dosakita. Selain pengakuan dosa yang mencirikan iman, kita diajarkan Yesus untukmemperkuat iman kita dengan kebajikan-kebajikan agar membentengi kita dari dosadan kejahatan. Pada hari ini kitadiajarkan kemurahan hati seperti Bapa di surga yang murah hati. Salah satu ciriutama pribadi yang murah hati ialah menjadi yang pertama berbuat baik entahmelalui perkataan entah perbuatan. Maka itu berbalas kebaikan sebenarnya bukankemurahan hati tetapi berkeadilan. Dengan kualitas kemurahan hati ini, kita memang tidakmenghakimi, menghukum, atau memfitnah lebih dahulu. Kemurahan hati menuntunkita untuk lebih dahulu mengampuni, pertama yang memberi, mengambil langkahpertama untuk berlaku benar dan baik. Ini semua bukan untuk mencari muka ataupencitraan, tetapi karena cinta kasih sangat menuntut demikian. Ini dapatmencegah kita untuk menambah dosa-dosa kita.Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Bapa di surgajanganlah memperhitungkan dosa-dosa kami, tetapi perhatikanlah iman kami danbesarkanlah cinta kasih di dalam kami. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam namaBapa ...

Delivered by Grace, Jessica, Greg, and Bryan from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Genesis 12: 1-4a; Rs psalm 33: 4-5.18-19.20.22; 2 Timothy 1: 8b-10; Matthew 17: 1-9.FULFILLMENT IS A NEED The title for ourmeditation on this second Sunday of Lent is: Fulfillment is a Need. The bishopassigned one of his priests to lead a parish that was in trouble. Constructionof a new church building halfway, the parish priest fell ill and had to movefrom the parish. The parish's finance was mismanaged which caused a largedeficit. Conflict among the Church members of two factions also occurred duringthe leadership of the previous parish priest, and it seemed becoming moreserious. So the bishop sentthe new parish priest there with the main message, which was to solve all theproblems completely. He was forbidden to make new initiatives, except thoserelated to the completion of the construction of church building, mismanagementof parish finance, and conflicts between people. He was really expected to doit. In short, he must fulfill and accomplish all the deficiencies or what arelacking and not let them untouched or unnoticed. Fulfillment oraccomplishment what is missing or lacking is a necessity. This is not only thework of us humans, but also the work of God. The fulfillment is not to make Godbetter or perfect, but for the perfection of us humans. Fulfillment is thefirst work of God alone. For all thedeficiencies and emptiness in human life, God takes steps to fulfill. What Godhas made, God determines as a task and mission that we humans too must do. IfGod creates, then humans recreate. If God has opened the way, then we extend,expand, and realize until the goal is reached. God calls and we answer in orderto fulfill the task of God's calling and trust. God fulfilled Hisplan of salvation by calling Abram, and in response, Abram fulfilled that call.Saint Paul wrote to his beloved disciple Timothy that the coming of the SaviorJesus Christ and with His gospel has overcome death, and brought a life that cannotbe destroyed. Jesus Christ, who appeared in His glory on Mount Tabor, revealedthe fulfillment of the law that was delivered through Moses and the teachingsbrought by the prophet Elijah. Today, God's messageabout fulfillment is addressed to every one of us. We have a responsibility tofulfill what is lacking or empty in our lives and circumstances, both physicaland spiritual. Let's pray. In the name of the Father... God of heaven and earth, may with today's celebration we will be strongerin our commitment to fulfill what is lacking and empty in our lives. Our Fatherwho art in heaven ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Yohanes Sukardi dan Onny Pakendek dari Paroki Santa Maria Asumpta Kota Baru Kupang di Keuskupan Agung Kupang, Indonesia. Kejadian 12: 1-4a; Mazmur tg 33: 4-5.18-19.20.22; 2 Timotius 1: 8b-10; Matius 17: 1-9.PENGGENAPANADALAH KEBUTUHAN Tema renungan kita pada hari Minggu Prapaskah ke-2 iniialah: Penggenapan Adalah Kebutuhan. Bapak Uskup menugaskan seorang imamnyauntuk memimpin sebuah paroki yang sedang bermasalah. Pembangunan gedung gereja baru setengah jalan, pastorparokinya jatuh sakit dan harus pindah dari paroki. Masalah pengelolaankeuangan paroki yang tidak bertanggung jawab, sehingga terdapat defisit yangbesar. Konflik di antara umat juga terjadi selama kepemimpinan pastor parokiyang lama, yang tampaknya semakinserius. Maka Uskup menugaskan pastor paroki yang baru dengan satupesan utama, yaitu menyelesaikan semua persoalan itu sampai tuntas. Ia dilaranguntuk membuat inisiatif-inisiatif baru, kecuali yang berkaitan denganpenyelesaian pembangunan gedung gereja, keuangan paroki, dan konflik di antaraumat. Ia sangat diharapkan dapat melakukannya. Singkatnya, ia harus menggenapidan mengisi semua kekurangan yang ada dan tidak membiarkan itu berlarut-larut. Penggenapan atau pemenuhan yang kurang merupakankebutuhan. Hal ini bukan hanya sebagai pekerjaan kita manusia, tetapi jugapekerjaan Tuhan. Penggenapan itu bukan untuk membuat Tuhan menjadi lebih baikatau sempurna, tetapi untuk kesempurnaan kita manusia. Penggenapan merupakanpekerjaan yang pertama-tama dilakukan oleh Tuhan. Terhadap semua kekurangan dan kekosongan di dalam hidupmanusia, Tuhan mengambil langkah untuk melakukan penggenapan. Apa yang dibuatTuhan, ditetapkan untuk dilakukan juga oleh kita manusia. Kalau Tuhanmenciptakan, maka kita manusia menciptakan kembali. Kalau Tuhan sudah membukajalan, maka kita manusia memperpanjang, melebarkan, dan mewujudkan sampaitujuannya tercapai. Tuhan memanggil dan manusia menjawab demi menunaikan tugasatas panggilan dan kepercayaan Tuhan. Tuhan Allah menggenapi rencana keselamatan-Nya denganmemanggil Abram, dan sebagai tanggapannya, Abram memenuhi panggilan itu. SantoPaulus menulis kepada anak didiknya Timotius bahwa kedatangan Juru SelamatYesus Kristus dan dengan Injil-Nya telah menghilangkan maut, dan mendatangkanhidup yang tidak bisa binasa. Yesus Kristus yang tampil dalam kemuliaan-Nya digunung Tabor, mengungkapkan tindakan penggenapan atas hukum yang disampaikandahulu melalui Musa dan ajaran-ajaran yang disampaikan Elia. Hari ini, pesan Tuhan tentang penggenapan ditujukan kepadakita masing-masing. Kita memiliki tanggung jawab untuk menggenapi yang kurangatau kosong di dalam hidup dan keadaan kita, baik jasmani maupun rohani. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan, semogadengan perayaan hari ini kami semakin kuat dalam komitmen untuk menggenapi yangkurang dan kosong di dalam hidup kami. Bapa kami yang ada di surga ... Dalamnama Bapa ...

Delivered by Angeline from the Parish of Saint Catherine in the Diocese of Seattle, Washington, USA. Deuteronomy 26: 16-19; Rs psalm 119: 1-2.4-5.7-8; Matthew 5: 43-48.BECOMING PERFECT LIKEA THE FATHER WHO IS PERFECT Our meditation today isentitled: Becoming Perfect Like the Father Who is Perfect. In the family,parents really hope that the child or their children can reach the level ofprogress according to the standards they want. If a father or mother targets ascore of 10 and their children can achieve it, or even go beyond that, theparent's goal is realized. So, perfect parents really want their child orchildren to be as perfect as they are. But not all familiesexperience this ideal. There are children who cannot meet their parentsstandard. Dialogue, compromise and openness with each other are to be madepossible, so that good relations and living together can be maintained in love.When Jesus Christ asks us to be perfect like the heavenly Father who isperfect, to be our concern in this Lent, our situation is somehow the same aschildren who have not met the standards of their parents. Lent is indeed fullof more efforts and calculations so that we are able to realize what God andthe Church wish from us. One of the most important efforts or calculations isthe act of love. When we love relatives or friends, these action is classifiedas normal love. In the family and school, a child is considered kind andsincere if he loves his siblings and friends. Among neighbors and members ofthe society, we always do acts of love, and this all makes us good friends orneighbors. However, Jesus wantsto teach us more than just this normal and good thing. Although this is ateaching for all times, in Lent it is a discipline and penance when we love,pray, help, and forgive those who do us wrong. They are deliberately jealous,angry, and hateful to us. This kind of love will make us greater and canincrease our standard as followers of Christ from the level of just good andnormal believers. Through ordinary good works and added to them are our acts oflove towards enemies, Jesus gives us a very high price and high standard, whichis to be perfect like the heavenly Father who is perfect. Moses had previouslyconfirmed this teaching to the Israelites across the Jordan River, when theysaw that God's promise was very clear to them. Everyone and the whole nationbecame a holy people of the God Almighty, who is the Lord of the entire worldand universe. Perfection like the Father conveyed by Moses required the peopleof God to obey God's commands with all their hearts and souls. The teachings ofMoses were binding and demanding, but were later perfected by Jesus, who madehimself the example of our perfection. We only need to obey and be loyal toHim.Let's pray. In the name of the Father... O Good and kind Father, make us live in the fullness of Your love andenable us to practice this love wholeheartedly towards our neighbors. Glory tothe Father and to the Son and to the Holy Spirit ... In the name of the Father...

Dibawakan oleh Matias Meran Lejap dan Agnes Kenupang Luon dari Paroki Santo Yohanes Maria Vianey Cilangkap di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Ulangan 26: 16-19; Mazmur tg 119: 1-2.4-5.7-8; Matius 5: 43-48.MENJADI SEMPURNASEPERTI BAPA YANG SEMPURNA Renungan kita pada hari ini bertema: Menjadi SempurnaSeperti Bapa Yang Sempurna. Di dalam keluarga, orang tua sangat mengharapkansupaya anak atau anak-anaknya mencapai tingkat kemajuan sesuai standar yangdiinginkannya. Jika bapak atau ibu menargetkan nilai 10 dan anaknya dapatmencapainya, atau bahkan melampaui itu, tujuan orang tua tercapai. Jadi orangtua yang sempurna memang ingin supaya anak atau anak-anaknya sempurna sepertimereka. Namun tidak semua keluarga mengalami yang ideal sepertiini. Ada anak-anak yang tidak dapat memenuhi standar orang tua. Dialog,kompromi dan saling terbuka satu sama lain memang perlu dimungkinkan, supayahubungan baik dan hidup bersama tetap terpelihara dalam cinta kasih. Ketikafirman Yesus Kristus yang meminta kita untuk menjadi sempurna seperti Bapa yangsempurna, menjadi perhatian kita di dalam masa Prapaskah ini, keadaan kitasesungguhnya ialah sama seperti anak-anak yang belum memenuhi standar orang tuatadi. Masa Prapaskah memang penuh dengan upaya dan perhitungansupaya kita mampu mewujudkan apa yang diinginkan Tuhan dan Gereja terhadapkita. Salah satu yang terpenting ialah tentang perbuatan kasih. Ketika kitamengasihi saudara atau teman, perbuatan ini digolongkan sebagai cinta kasihyang normal. Di dalam keluarga dan sekolah, seorang anak dianggap baik dantulus kalau ia mengasihi saudara dan temannya. Di antara para tetangga dananggota masyarakat, perbuatan kasih selalu kita lalukan, dan ini semua menjadikankita sebagai sesama atau tetangga yang baik. Yesus ingin mengajarkan lebih dari sekedar normal dan baikini. Meski ini menjadi suatu ajaran sepanjang waktu, namun di dalam masaPrapaskah kiranya ini menjadi sebuah disiplin dan penitensi, yaitu ketika kitamengasihi, mendoakan, menolong, dan mengampuni orang-orang yang bersalah kepadakita. Mereka sengaja iri, marah, dan membenci kita. Ini baru namanya sebuahtindakan kasih yang besar, tinggi, dan menaikkan standar kita sebagai pengikutKristus yang baik dan normal. Melalui perbuatan baik yang biasa dan ditambahtindakan kasih terhadap para musuh kita, Yesus memberikan kita harga yangsangat tinggi, yaitu sempurna seperti Bapa yang sempurna. Ajaran ini jauh sebelumnya telah ditegaskan Musa kepadabangsa Israel di seberang Sungai Yordan, bahwa janji Allah sungguh sangat jelasbagi mereka. Setiap orang dan seluruh bangsa menjadi umat yang kudus bagiAllah, yang adalah Tuhan semesta alam. Kesempurnaan seperti Bapa yangdisampaikan oleh Musa meminta umat Allah untuk menaati perintah-perintah Allahdengan segenap hati dan segenap jiwa. Ajaran Musa mengikat dan menuntut, namunkemudian disempurnakan oleh Yesus yang memberikan sendiri teladan kesempurnaanitu. Kita tinggal menaati dan setia kepada-Nya.Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Bapa yang baik,buatlah kami hidup dalam kepenuhan cinta kasih-Mu dan membuahkan cinta kasihitu di dalam pelayanan dan pengorbanan kepada sesama kami. Kemuliaan kepadaBapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Nia from the Parish of Good Shepherd in the Diocese of Surabaya, Indonesia. Ezekiel 18: 21-28; Rs psalm 130: 1-2.3-4ab.4c-6.7-8; Matthew 5: 20-26.NEW LAW REPLACES OLDLAW Our Meditation today isentitled: New Law Replaces Old Law. In this life, a change from good attitudeto bad attitude has happened a lot. Likewise, a person changes his evil wayinto a true one also happens a lot. Thisis not because the change is automatic or a bonus for him. The change occurrsgenerally because it is intended or it is made possible to change. Humanfreedom allows this change to take place. One can choose to make a change ornot to change at all. The book of the prophet Ezekiel in the first readingcompares two areas that humans may take, namely darkness and light. Everyone isfree and deliberately chooses which area is preferred. Those who live in thedarkness of the world that is full with evil, have actually been good people.The leader of the devil before embracing evil, was an angel. Thus, many bad andevil people were previously good and right people. The Prophet said that such achange leads its way to destruction. The final result obtained from the choiceto live an evil life is death. There is no more help for the one who has chosento become evil. People who are already in hell can't be helped anymore. Those who live inGod's grace are those who live in the fullness of God's light, manifested intheir words and deeds. Precisely those who are highly praised by God and givenhope for an eternal life are those who give up dark life and live a new lifeunder the light of the Lord. Lent is an opportunity to have this kind ofexperience. Through our Lenten discipline such as fasting, examination ofconscience and the Sacrament of Confession, we renew ourselves to become newpersons. This renewal is madeso perfectly by Jesus, namely creating a new way of obeying God's commands andavoiding evil deeds. The old law stipulates a number of conditions for notdefiling and plunging oneself into sin according to the perspective at that time.The old law was replaced by Jesus by emphasizing more on the human aspect andnot on the rules of customs, habits, and views of great people or religiousleaders. The new law broughtby Jesus Christ is love. According to the principle of the law of love, anyaction that starts with evil intentions, thoughts, and plans is consideredsinful. It replaces the old law which only looks at sin when it is already amurder, destruction, manipulation, condemnation, and deprivation. In fact, whenthere are evil intentions or thoughts, one has already evil acts like anger andhatred, that later be manifested concretely. Thus, sin and evil really startfrom evil understanding, concepts, intentions, and thoughts. Let's pray. In the name of the Father... O glorious and loving Jesus, perfect in our hearts the law of your love andenable us to love our neighbors following your example. Hail Mary, full ofgrace ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Petrus Kanisius Kebaowolo dan Elisabeth Welan dari Paroki Santo Agustinus Karawaci di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Yehezkiel 18: 21-28; Mazmur tg 130: 1-2.3-4ab.4c-6.7-8; Matthew 5: 20-26.HUKUM LAMADIGANTI Renungan pada hari ini bertema: Hukum Lama Diganti. Didalam hidup kita, perubahan seseorang dari sikap yang baik menjadi jahat sudahbanyak terjadi. Demikian juga seseorang dari sikap yang jahat menjadi baik jugabanyak terjadi. Hal ini bukan karena otomatis atau bonus bagi dirinya.Perubahan itu terjadi umumnya karena disengaja atau dimungkinkan. Kebebasanyang ada pada kita menjadi semacam lisensi untuk terjadinya perubahan tersebut.Kitab nabi Yeheskiel dalam bacaan pertama membandingkan dua alam yang dihidupioleh manusia, alam gelap dan terang. Setiap orang bebas dan sengaja memilihnya. Mereka yang hidup dalam dunia gelap yang penuh kejahatansebenarnya pernah menjadi orang-orang baik. Pemimpin setan sebelum memelukkejahatan, ia adalah malaikat. Begitulah, banyak orang jahat justru sebelumnyaadalah orang-orang baik dan benar. Nabi mengatakan bahwa perubahan seperti ini,jalannya yang pasti ialah menuju kepada kebinasaan. Hasil terakhir yangdidapatkan dari pilihan untuk hidup jahat dan menjalaninya ialah kematian. Takada lagi pertolongan apa pun baginya. Orang yang sudah di dalam neraka tidakbisa tertolong lagi. Mereka yang hidup dalam rahmat Tuhan adalah mereka yanghidup penuh dengan terang Tuhan, yang terwujud dalam kata dan perbuatannya.Justru yang sangat dipuji oleh Tuhan dan diberikan harapan untuk hidup ialahmereka yang melepaskan kehidupan yang gelap dan menjalani hidup dalam terang.Masa Pra Paskah adalah kesempatan untuk memiliki pengalaman seperti ini.Melalui usaha-usaha yang berbentuk disiplin, seperti berpuasa, pemeriksaanbatin dan pengakuan dosa, kita membaharui diri untuk menjadi pribadi-pribadi yangbaru. Pembaharuan ini dibuat secara sempurna oleh Yesus, yaitumenciptakan suatu cara baru dalam mematuhi perintah-perintah Tuhan dan untukmenghindari perbuatan-perbuatan jahat. Hukum lama menetapkan sejumlah syaratuntuk tidak menajiskan dan menjerumuskan diri ke dalam dosa sesuai dengan carapandang pada waktu itu. Hukum lama tersebut diganti oleh Yesus dengan lebihmenekankan aspek kemanusiaan dan bukan pada aturan adat, kebiasaan, danpandangan orang-orang besar atau pemuka agama. Hukum baru oleh Yesus Kristus ialah cinta kasih. Menurutprinsip hukum cinta kasih, tindakan apa pun yang dimulai dari niat, pikiran,dan rencana yang jahat sudah dianggap sebagai dosa. Ini menggantikan hukum lamayang hanya melihat dosa kalau sudah terjadi pembunuhan, pengrusakan,pemfitnahan, pengutukan, dan perampasan. Padahal ketika sudah ada niat ataupikiran jahat, seseorang sudah membentuk amarah dan benci, untuk nantidilakukan secara konkret. Dengan demikian, dosa dan kejahatan memang dimulai daripemahaman, konsep, niat, dan pikiran-pikiran yang jahat. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Yesus yang mulia,sempurnakanlah di dalam hati kami hukum cinta kasih-Mu dan mampukanlah kamimenggunakannya untuk mengasihi sesama kami seperti yang Engkau kehendaki. SalamMaria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Gladys from the Parish of Saint Gabriel in the Diocese of Bandung, Indonesia. Esther C 4: 10a.10c-12.17-19; Rs psalm 138: 1-2a.2bc-3.7c-8; Matthew 7: 7-12.GOD IS OUR HELPER Our meditation today isentitled: God Is Our Helper. Mrs. Martha, a widow, has been working for morethan twenty years as a sacristant in a local parish church. Her monthly salaryis far less than the lowest salary for a civil servant. Meanwhile she has theeldest son who is in college and his younger brother who is still in highschool. One time her son whois a university student badly needed money for an important academic activity.However, this mother did not have at all the amount that her son needed. Sheworked as usual and continued to pray in the church, while welcoming the variouspeople who came to pray in the church. There was a guest from outside the areawho, after praying, gave her an envelope filled with money. He said that hisnovena prayer was granted and the first person he met at the church deserved avery sincere sign of gratitude from him. The money was the exact amount for herson's need at the university. In reality, half ofour prayers are petitions. We ask and beg because we believe that God is sogenerous. It is impossible for us to continue asking and asking at those whodon't have anything. Because God is so abundant in his grace, we ask Himwithout ceasing. So God really is our helper. Through requests and petitions inprayers, God gives us according to His will. Human needs will notbe exhausted when they are still in the world. At times when we are not pressedor not in difficulties, it seems that our prayers do not contain requests. Itmay also be that our prayers every day do not specifically express requests orasking, because our lives are just flowing and simply normal. But when viewedobjectively, our own lives are a gift to be implemented day and night. We justneed God's guidance and protection. We certainly expressgratitude for this gift. However, in the prayer of thanksgiving, implied arequest that our lives be kept away from all evil influences and enemy'sthreat. We hope that our faith and hope for God's providence will remainstrong. Esther in the Old Testament tells how the danger of death wasthreatening her life. Queen Esther firmly believed that only God's help wouldshe rely on. Although she felt so lonely and there was no one by her side, shetruly believed that God was her true and main helper. God cannot bear torefuse His children asking for help in strong faith and hope. Especially in thedifficulties and sufferings of life, our only hope is the almighty God. Let's pray. In the name of the Father... Almighty God, may Your power be with us in the moments of difficulty andtrials in our lives. Hail Mary, full of grace ... In the name of the Father ...