Renungan harian katolik yang ditulis oleh Pastur Peter Tukan SDB. Diupdate setiap harinya.

Delivered by May Ann Rodrigo from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Isaiah 66: 10-14b; Rs psalm 131: 1.2.3; Matthew 18: 1-5.GOD IS PLEASED WITH THE LITTLE ONES The theme for our meditation today is: God is Pleasedwith the Little Ones. At the moment when she was about to pass away as a24-year-old contemplative Carmelite nun, Saint Therese uttered her last wordsthat went like this: "My Lord, I love You!" This expression of prayeronce was repeated so fervently by the children and young people in one ofremotest parishes, who were having a full year faith formation program. Inone of those occasions when the Bishop of that diocese was also present, achild approached the Bishop and asked in this way: "What is the bestprayer for children when they like to pray?" The Bishop replied: "Follow the example of SaintTherese of the Child Jesus who always prayed in these words, 'O my Lord, I loveYou'. The Bishop asked the children to repeat this prayer every day, apart fromsaying common prayers such as "Our Father" and "Hail Mary".The children were delighted and satisfied by this brief and very touchingprayer. When children want to repay kindness and care they have received fromtheir parents, teachers and anyone else, they usually say the word "thankyou" and there might be no more additional explanation to it. If anexplanation is needed, it would be appropriate for them to simply say: "Ilove You". Today Saint Theresa teaches us to love God in the sameway the children do, namely with simplicity and with the reality of our dailylives. Christian spirituality shown in the life of children, emphasizes thespirit of dependence on God and living in gratitude. The scriptures show howthe Lord provides a very important place for those whom He chooses, namelychildren and young people. Our today's readings indicate that people who areinsignificant and smallest according to human view, will be the greatest in theKingdom of Heaven because it is according to the will of God. God's will is fulfilled when we heed His invitationthat we need to fight our human pride. This is the capital sin that move peopleto always look for position, power, wealth, and fame. God is so pleased with thelittle ones and are abandoned in order to humiliate those who always think ofthemselves better and holier than others. One of the ways to overcome our prideis to follow the way that the Prophet Job had, especially when he faced all theadversities in his life. In that situation, he still believed and depended onGod. This is really the attitude of a child, because he only knows that God isthe ruler of life. Job's strong faith was expressed in this way: "It isGod who gives, it is God who takes away, praise the name of God." Thewords of this prayer are the same as the prayer we have just mentioned earlier:"O my Lord, I love You." Let'spray. In the name of the Father ... O most loving God, may our lives todaydepend solely on Your providence and increase in us the sense of gratitude.Glory to the Father and to the Son and to the Holy Spirit ... In the name ofthe Father ...

Dibawakan oleh Agustina Sitorus dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Yesaya 66: 10-14b; Mazmur tg 131: 1.2.3; Matius 18: 1-5.TUHAN SENANG DENGAN YANG KECIL Tema renungan kita pada hari iniialah: Tuhan Senang Dengan Yang Kecil. SantaTeresa ketika meninggal dunia sebagai biarawati Karmel kontemplatif berusia 24tahun, mengucapkan kata-katanya yang terakhir: “Ya Tuhanku, aku mengasihiEngkau!” Seruan doa ini selalu diulangi oleh para anggota bina iman anak danremaja di salah satu paroki pelosok Indonesia. Dalam suatu kesempatan bertemudengan Uskup yang berkunjung, seorang anak bertanya kepada Sang Gembala: “Doaapa yang paling bagus untuk didoakan oleh anak-anak?” Uskup menjawab: “Ikutilah contohSanta Teresa dari Kanak-Kanak Yesus yang berdoa, ‘Ya Tuhanku, aku mengasihiEngkau'. Uskup meminta supaya anak-anak selalu mengulangi doa itu setiap hari,selain mendoakan doa-doa yang sudah umum didoakan seperti “Bapa Kami” dan“Salam Maria”. Anak-anak merasa senang dan tertarik dengan doa yang singkat dansangat menyentuh ini. Ketika anak-anak ingin membalas kebaikan yang merekaterima entah dari orang tua, guru dan siapa pun, mereka ucapkan kata “terimakasih” dan tidak ada penjelasannya. Sekiranya diperlukan penjelasan, sangatlahtepat kalau meraka cukup saja mengatakan: “Aku mengasihi Engkau”. Pada hari ini Santa Teresamengajarkan kita untuk mengasihi Tuhan dengan cara-cara seperti anak-anakkecil, yaitu kesederhanaan dan nyata dengan kehidupan kita sehari-hari.Spiritualitas Kristen yang berciri gaya hidup anak-anak kecil mengutamakan polahidup ketergantungan kepada Tuhan dan hidup dalam semangat bersyukur. Kitabsuci menyebutkan bagaimana Tuhan memberikan tempat sangat penting untukpilihannya kepada yang kecil dan muda. Yesus menegaskan di dalam Injil hari inibahwa yang terkecil menurut anggapan manusia, akan menjadi yang terbesar,karena Tuhan akan menjadikannya demikian. Tuhan mengajak kita untuk melawansikap sombong ketika orang mempunyai posisi, kekuasaan, kekayaan, danketenaran. Tuhan sangat berkenan kepada mereka yang kecil dan yang tidakdiperhitungkan untuk mempermalukan mereka yang selalu menganggap dirinya lebihbagus dan hebat. Salah satu cara untuk mengatasi kesombongan kita ialah denganmenganut prinsip yang dimiliki oleh Ayub, khususnya pada saat ia menghadapisemua peristiwa kemalangan di dalam hidupnya. Dalam situasi itu, ia tetappercaya dan bergantung pada Tuhan. Ini benar-benar sikap seorang anak kecil, iahanya tahu bahwa Tuhan adalah penyelenggara kehidupan. Ayub berkata begini:“Tuhanlah yang memberi, Tuhanlah yang mengambil, terpujilah nama Tuhan.” Ucapandoa ini sama dengan ucapan yang pertama tadi: “Ya Tuhanku, aku mengasihiEngkau.” Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan, semoga hidup kami hari inibenar-benar hanya bergantung pada penyelenggaraan-Mu dan penuhilah hati kamidengan rasa syukur. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalamnama Bapa ...

Delivered by Father Peter Tukan, SDB from Salesian Don Bosco Gerak in the Diocese of Labuan Bajo, Indonesia. Job 9: 1-12.14-16; Rs psalm 88: 10bc-11.12-13.14-15; Luke 9: 57-62.PLACE OF HONOR The theme for our meditation today is: Place of Honor.Today our Church celebrates the memorial of Saint Jerome. He studied law andtheology in Rome. After his conversion to Christianity and got baptized, hethen chose to embrace asceticism. In this way of life, as his focus ofattention was to study and meditation on the wisdom of God, he chose toconcentrate on studying the scriptures in the Syrian desert, a particularregion in the Middle East. For this special way of life, Pope Damasus I thenentrusted to him the work to translate the sacred scriptures from theiroriginal language into Latin, the bible version which is known to us asvulgata. He is known in the Church as an extraordinary bible scholar. Hiswell-known expression which is very familiar to all Christians that goes likethis: knowing the scriptures means knowing Jesus Christ. Not knowing thescriptures means not knowing Jesus Christ. Starting from this profound statement of Saint Jeromethat says about one who knows the scriptures knows Jesus Christ, we are quiteaware that we are in agreement with this simple question: How can people knowthe holy bible? Or a similar question would be: What can we know from thescriptures? Our common answer would be our willingness to know more on thecontents of the scriptures, and for that reason we can know more about the LordJesus Christ. This is a commitment and challenge as well for all of us. It is our common understanding that as long as wealways read, hear, meditate, and practice what are being taught from thescriptures, we actually experience the true person of Jesus Christ. Ourreadings today reveal to us one element in the teachings of Jesus. He teachesus about the place of honor in His Kingdom. The place of honor is provided forpeople who are entitled and worthy to occupy it. Who are they? When you are invited by someone as his guest of honor,you will be offered to sit in a special place, for example, right next to thehost who invites you. This is how the Lord prepares a place right next to Him,in the kingdom of heaven for those chosen. There are many conditions proposedby Jesus so that His followers can up to the standard as the chosen ones andhave rights to sit together with Him. One of the important conditions is what Jesus shows ustoday. He calls upon those who willingly and freely want to follow him by meansof abandoning their personal interests. It is sufficient for a person to makethe choice of his wholeheartedly. The prophet Job's advice for us, as he saysin this way: even though we are granted a place of honor in God, we remain obeyHis will, and never follow our own will. Let'spray. In the name of the Father ... O merciful Father, May your words todaymake us even more humble and sincere, and for this we are so grateful to Youand we promise our full obedience to You. Hail Mary, full of grace ... In nameof the Father ...

Dibawakan oleh Melpha Adelina dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Ayub 9: 1-12.14-16; Mazmur tg 88: 10bc-11.12-13.14-15; Lukas 9: 57-62.TEMPAT TERHORMAT Tema renungan kita pada hari ini ialah: Tempat Terhormat. Pada hari iniGereja kita merayakan peringatan Santo Hironimus. Ia belajar hukum di Roma,sekaligus belajar teologi. Setelah bertobat dan dibaptis, ia kemudian memilihhidup bertapa. Dalam fokus studi dan bertapa itu ia memilih berkonsentrasiuntuk belajar kitab suci di padang gurun Siria, wilayah Timur Tengah. Atas pilihan yang istimewa tersebut, Paus Damasus I lalu menugaskan diauntuk menerjemahkan kitab suci ke dalam bahasa Latin, yang kemudian dikenaldengan sebutan vulgata. Di dalam Gereja, ia dikenal sebagai ahli kitab suciluar biasa. Perkataannya yang terkenal ialah: mengetahui kitab suci berartimengetahui Yesus Kristus. Tidak tahu kitab suci berarti tidak tahu YesusKristus. Berangkat dari prinsip ajaran Santo Hironimus itu, bahwa orang yangmengetahui kitab suci berarti ia mengetahui Yesus Kristus, sebenarnya kitasedang diarahkan kepada suatu pertanyaan sederhana ini: Bagaimana orang dapatmengetahui kitab suci itu? Atau pertanyaan yang serupa adalah: Apa saja yangdapat kita ketahui dari kitab suci? Jawaban yang umum ialah, bahwa kita dapatmengetahui banyak sekali tentang isi kitab suci, dan karena itu kita dapatmengetahui banyak sekali tentang Yesus Kristus. Selama kita selalu membaca, mendengar, merenungkan, dan menghayati kitabsuci, kita mengalami pribadi Yesus Kristus sendiri. Pada hari ini kita kembalimengenal diri Tuhan Yesus Kristus, yang mengajarkan kita tentang tempatterhormat di dalam Kerajaan-Nya. Tempat terhormat itu disediakan bagiorang-orang yang berhak dan layak menempatinya. Siapakah orang-orang yangberhak dan layak untuk menempati tempat terhormat tersebut? Ketika Anda menjadi tamu yang diundang oleh seseorang, Anda akandipersilakan untuk duduk di tempat spesial, misalnya persis di samping tuanrumah yang mengundang. Seperti inilah Tuhan menyiapkan tempat yang persis disamping-Nya, di dalam kerajaan surga, bagi orang-orang yang menjadipilihan-Nya. Ada banyak kriteria yang ditetapkan oleh Yesus supaya kita dapatmemenuhi kelayakan dan hak penuh untuk duduk di samping-Nya. Salah satu syarat penting ialah yang ditunjukkan Yesus pada hari ini. Iamemanggil orang-orang yang dengan rela dan bebas ingin mengikuti Dia supayamereka tidak membatasi dirinya dengan syarat apa pun. Untuk mendapatkan tempatbersama dan di dalam Dia, seseorang cukup saja menetapkan pilihan hatinyadengan sepenuh hati. Nasihat dari nabi Ayub tentang ini ialah begini: meskipunkita dianugerahi tempat terhormat di dalam Allah, kita tetap harus taatmenjalankan kehendak-Nya, dan bukan mengikuti kehendak kita sendiri. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa... Ya Bapa mahamurah, semoga melalui firman-Mu ini, kamimenjadi semakin rendah hati dan tulus dalam melaksanakan kehendak-Mu. SalamMaria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Nicole Orlincallysta Yakob and Michelle Jordyn Limanta from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Daniel 7: 9-10.13-14; Rs psalm 138: 1-2a.2bc-3.4-5; John 1: 47-51.ANGELS ARE SERVANTS The theme for our meditation today is: Angels AreServants. Angels are the inhabitants of heaven who live with the Triune God,who have never experienced a life like all human beings in the world. They arespiritual creatures who have been with God since the existence of the kingdomof Heaven. God reveals His will and power when He is dealing with His creation.In the life of this kingdom, the role of angels is to serve the almighty God. In our celebration of liturgy, the Eucharist anddevotional prayers, we mention angels in connection with their common dutywhich is to sing and to give praise to the Almighty God. They are like asecurity troop that guards and serves all activities in the Kingdom of heaven.There are two special duties of this troop. The first is to protect all humanbeings from any harm and from losing the way in their journey of faith. Theyare called the guardian angels for us the believers. The guardian angels do nothave names and they are not our patronsaints who actually have names. The second special task is to carry out and to fulfillsome great tasks from the Almighty God. They are called the archangels who havenames, namely Saint Michael, Saint Gabriel, and Saint Raphael. With the term"great" attached to them, it means that their role as heavenlyservants are very important. The scriptures as the official sources for divinerevelation, give us an evidence of faith in these three archangels, whose namesand roles are clearly elaborated. They are different from other angels who haveno names and specific works for each of them. The archangel Michael is mentioned in the scripturesand also explained in the sacred tradition of the Church as a soldier whodefends the people of God and fights against the great enemy of the Church. Forexample, in the book of Daniel (12,1), Michael is depicted as the one whofights the enemy and defends the People of God from the attacks of theAnti-Christs. Michael is always depicted as the one standing great and strongwhile holding a sword. The archangel Gabriel is described in the scripturesas the servant and bearer of joyful and greatest news from God to His people onearth. For example, he came to Daniel and revealed the message of the coming ofthe Messiah (8, 16-26; 9, 21-27). In the Gospel of Luke, he came to bringjoyful news of John the Baptist's birth (Luke 1,11-20), and he brought also thejoyful news to the Virgin Mary about the birth of Jesus Christ. The ArchangelRaphael is known to us in the Church as the minister for healing blindness,disease, and he also the protector for our journeys. He healed Tobit from hisblindness. He is shown in the Gospel of John as a healer for the sick men atthe pool of Siloam. We should be always grateful to God for giving us thesethree archangels.Let'spray. In the name of the Father ... O Lord, make us always faithful to followthe instruction and guidance of Your archangels. Glory to the Father and to theSon and to the Holy Spirit ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Rumenta Gita Fransisca dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Daniel 7: 9-10.13-14; Mazmur tg 138: 1-2a.2bc-3.4-5; Yohanes 1: 47-51.MALAIKAT ADALAH PELAYAN Tema renungan kita pada hari iniialah: Malaikat Adalah Pelayan. Para penghuni surga selain Allah Tritunggal,yang tidak pernah mengalami hidup sebagai manusia ialah para malaikat. Merekaadalah makhluk roh yang berada bersama Allah sejak adanya kerajaan Surga. TuhanAllah menyatakan kekuasaan-Nya ketika Ia berhadapan dengan makhluk ciptaan.Untuk melangsungkan kehidupan kerajaan itu, peran para malaikat ialah melayaniAllah. Di dalam perayaan liturgi,Ekaristi dan doa-doa devosional, penyebutan para malaikat selalu dikaitkandengan tugas umum mereka yaitu bernyanyi dan bersorak ria memuji Allah yang Mahatinggi.Mereka seperti bala tentara yang mengelilingi dan siap untuk menjalankan tugaspelayanan di dalam kerajaan surga. Tugas khususnya ada dua, yaitu melaksanakantugas-tugas perlindugan kepada manusia dari bahaya dan penyesatan. Mereka inidisebut para malaikat pelindung bagi setiap manusia yang percaya. Malaikatpelindung tidak mempunyai nama dan ia bukan sebagai santo-santa pelindung kita. Tugas khusus yang lain ialahmembawa dan menjalankan tugas-tugas maha besar dari Allah yang maha tinggi.Mereka ini disebut para malaikat agung dan yang memiliki nama, yaitu Mikael,Gabriel, dan Rafael. Dengan istilah “agung” melekat pada diri mereka, artinyaperan mereka sebagai pelayan sangatlah penting. Pembuktian oleh kitab sucisebagai sumber resmi yang kita imani mencatat bahwa ketiga malaikat inidisebutkan dan dituliskan namanya dan dijelaskan peran masing-masingnya.Sementara para malaikat lainnya tidak disebutkan nama dan pekerjaan yangmasing-masing lakukan. Malaikat Mikael disebutkan didalam kitab suci dan dalam kehidupan tradisi suci Gereja sebagai pembela danserdadu yang berperang melawan musuh Tuhan dan gereja-Nya. Misalnya di dalamkitab Daniel (12,1), Mikael digambarkan bangkit untuk melawan musuh danmempertahankan Gereja dari serangan para Anti-Kristus. Mikael selaludigambarkan berdiri tegap dan gagah sambil memegang pedang. Malaikat Gabriel digambarkan didalam kitab suci sebagai pelayan dan pembawa kabar sukacita dari Allah kepadamanusia. Misalnya ketika Ia diperlihatkan Daniel tentang kedatangan dan peranyang dilakukan oleh Mesias (8, 16-26; 9, 21-27), dalam Injil Lukas tentangkabar suka cita kelahiran Yohanes Pembaptis (Lukas 1,11-20), dan kabar sukacita kepada Perawan Maria tentang kelahiran Yesus Kristus. Malaikat Rafaeldikenal oleh Gereja sebagai pelayan bagi kesembuhan dari kebutaan, penyakit,dan pelindung perjalanan. Ia menyembuhkan Tobit dari kebutaannya. Di dalamInjil Yohanes, ia menjadi kekuatan kesembuhan bagi orang-orang sakit di kolamSiloam. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan, jadikanlah kami setia mengikutipetunjuk para malaikat-Mu. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ...Dalam nama Bapa ...

Delivered by Theodorus Kefi and Martinus Dominikus Lanang from Saint Peter's School in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Job 1: 6-22; Rs psalm 17: 1-3.6-7; Luke 9: 46-50.GOD DOES NOT CLOSE HIS EYES ON US Our meditation today has the theme: God Does Not CloseHis Eyes on Us. In one occasion of the lesson in the classroom, a studentasked his teacher: "Sir, isn't it true that in heaven, God and thosearound him often talk and discuss about us on earth?" The teacher was abit confused to answer that question. However, there was a student sitting atthe back who raised his hand and wanted to give an answer. He said: "Itis. God and Satan are always arguing about our situation on earth." What the student had said was not a joke or merelywords without meaning. Regardless of whether he had the exact knowledge of itor not, what indeed happens between God and Satan is the communication betweenthem that takes place in their context and time. According to the scriptures,especially the passage from the prophet Job in today's first reading, there isa discussion between God and Satan about life of human beings in the world. Jobrepresents all human beings who are faithful but at the same time fragile, weakand of course, the target of the evil strategy of Satan and his helpers. But Godtakes control over all human beings. God knows that Satan really wants to tempt men andwomen of the world, and God allows it to happen because Satan also has hispower on the earth. Yet God restricts Satan from destroying human beings. TheLord Jesus Christ, who represents the living God in the world, has a duty toprotect and care for those who are little ones, sick, oppressed andmarginalized from the evil treatment of the Satan's power in the world. In Hishands and power, none of the people whom the Father has entrusted to Him isdestroyed and lost. Even though Satan would have all possibilities to bring troubleson the human persons who are weak and hopeless, it will not succeed to takethem out from the power of the Lord Jesus Christ. The little ones who are sick, oppressed and thesinners are certainly the most vulnerable in our society and Church who areprone to fall into the power of Satan and all his helpers. But God will notclose His eyes on these poor ones. Likewise, we who have the commitment offaith in Him often become the targets of Satan and all of his works. God alsowill not close His eyes and allow us to perish by Satan's deeds. God actually wishesthat all those whom He protects and saves eventually come to be the citizens ofHis Kingdom. They will be made greatest in His Kingdom. This serves as awarning to those who are arrogant, selfish, abusive and destructive in theworld, and who have been ruled by Satan. Today, we can see the compassionateface of the Lord Jesus as our Good Shepherd who defends and protects us all thetimes.Let'spray. In the name of the Father ... O Lord Jesus, protect us from all forms ofSatan's work to tempt and destroy us. Hail Mary, full of grace ... In name ofthe Father ...

Dibawakan oleh Oswaldus Coo dari Saint Peter's School di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Ayub 1: 6-22; Mazmur tg 17: 1-3.6-7; Lukas 9: 46-50.TUHAN TIDAK MENUTUP MATANYATENTANG KITA Renungan kita pada hari inibertema: Tuhan Tidak Menutup Mata-Nya Tentang Kita. Di dalam satu kesempatanpelajaran di kelas, seorang murid bertanya kepada gurunya: "Pa Guru,apakah di dalam surga, Tuhan dan mereka yang di sekelilingnya berbicara danberdiskusi tentang kita?" Bapak guru yang sedang mengajar itu tampak agakbingung untuk menjawab pertanyaan itu. Namun ada seorang murid yang dudukpaling belakang mengangkat tangan dan ingin memberikan jawaban. Ia berkata:"Di sana, Tuhan dan Iblis selalu bertengkar tentang keadaan kita dibumi." Apa yang dikatakan oleh murid itubukan sebagai candaan atau guyonan semata. Terlepas dari apakah ia memilikipengetahuan yang persis tentang itu atau tidak, namun yang terjadi antara Tuhandan Iblis memang ada komunikasi di antara mereka. Di dalam kitab suci,khususnya yang ditunjukkan oleh kitab nabi Ayub dalam bacaan pertama hari ini,ada sebuah diskusi antara Tuhan Allah dan Iblis seputar kehidupan manusia didunia. Ayub merepresentasi semua manusia yang beriman namun rapuh, lemah dantentu menjadi target strategi jahat Iblis dan para pembantunya. Namun semuamanusia itu ada dalam kontrol Tuhan. Tuhan mengetahui bahwa Iblissangat ingin menggodai manusia, dan Tuhan mengijinkannya karena Iblis jugamemiliki kuasa di atas bumi. Tetapi Tuhan membatasi Iblis untuk tidakmembinasakan manusia. Tuhan Yesus Kristus yang menjadi pribadi Allah yang hidupdi dalam dunia memiliki tugas untuk melindungi dan memelihara orang-orangkecil, sakit, tertindas dan termarginalkan oleh berbagai macam kekuasaan jahatdi dalam dunia. Di dalam tangan dan kuasa-Nya tidak boleh ada seorang pun yangdipercayakan Bapa kepada-Nya binasa dan hilang. Meskipun Iblis tentu senangdengan tugasnya untuk memperdayai manusia yang lemah, tetapi ia tidak mungkinberhasil mengambil mereka dari kuasa Tuhan Yesus Kristus. Orang-orang yang sakit, tertindasdan yang berdosa tentu menjadi sasaran empuk Iblis dan pembantunya. TetapiTuhan sendiri tidak tega menutup mata terhadap mereka. Demikian juga kita yangmemiliki komitmen iman kepada-Nya sering menjadi sasaran kejahatan Iblis danpembantunya. Tuhan juga tidak tega menutup mata dan membiarkan kita binasa olehperlakuan jahat Iblis. Tuhan ingin supaya semua orang yang dilindungi dandiselamatkan-Nya dapat memenuhi Kerajaan-Nya. Mereka akan dibuatnya menjaditerbesar di dalam Kerajaan-Nya. Ini menjadi peringatan kepada mereka angkuh,jahat, penindas di dunia yang telah dikuasai oleh Iblis. Pada hari ini, kita dapat melihatwajah Tuhan Yesus yang penuh belas kasih sebagai Gembala yang Baik, yangmembela dan melindungi kita. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Yesus, lindungilah kami dari segala bentuktipu muslihat dan kejahatan Iblis. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam namaBapa ...

Delivered by Demmy Anggi and Jeane Jacklynn from Saint Peter's School in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Ezekiel 18: 25-28; Rs psalm 25: 4bc-5.6-7.8-9: Philippians 2: 1-11; Matthew 21: 28-32.OUR AUTHENTICITY The theme for our meditation on this 26thSunday in Ordinary Time is: Our Authenticity. There was a parish priest who hasjust arrived and served in his parish only in two weeks time. His face seemedless friendly. He didn't talk much. Only the cook in the rectory had enoughimpression and knowledge of him. Meanwhile, other parochial staff and almostall parishioners did not know him closely. They all seemed afraid and reluctantto meet and get acquainted with him because of his appearance. However, Alice, the cook always convinced them aboutthe true nature of the parish priest. He was an open-minded person, calm andmade others feel at home. She reminded them not to judge a book by its cover. Theirparish priest should not be looked at and judged by his appearance only. Aliceacted like a special speaker of the parish, to always reveal the authenticityof the parish priest. Slowly, everyone got to know and were able to cooperatewell with their pastor. Our readings this Sunday highlight God's appointmentof us with an authentic calling to everyone. God calls every one of us to bewhat He wishes us to be, which according to the Lord Jesus, we must be perfectlike the heavenly Father who is ever perfect. Every human being was created asa good person, says the book of Genesis, but natural freedom directs him or herto choose God's way or the opposite way. From here the personal authenticity ofevery person is increasingly emphasized and continues to be strengthenedthrough the journey of life. The son who was told in Jesus' parable with an uglyappearance and a disobedience disposition, actually had an authentic self as agood person. The prophet Ezekiel also mentioned the condition of the believerswho were also sinners, but they repented and then renewed. This means that theyreally want to return to their origins, which are the good persons from thebeginning. All of us who go through this process of renewal, despite thedifferent experiences of every person, actually want to make ourselves togetherlike Christ as our head. We as members of the Church, despite our differentappearances, the authenticity of our Church is holy and one. However, the other son who looked good and appeared tobe obedient was actually a bad and disobedient person. Likewise the prophetEzekiel said that those who choose to live in sins are those who have abandonedtheir authenticities. His appearance does not represent his authenticity. Wecan ask every one of us: are we going toward our authenticities or are wemoving away from our authenticities?Let'spray. In the name of the Father ... O God, bless and strengthen us so that wemay always be faithful in Your ways. Our Father who art in heaven ... In thename of the Father ...

Dibawakan oleh Irma Dhema dan Intan Fridanika dari Saint Peter's School di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Yehezkiel 18: 25-28; Mazmur tg 25: 4bc-5.6-7.8-9; Filipi 2: 1-11; Matius 21: 28-32.KEASLIAN KITA Tema renungan kita pada hari Minggu Biasa ke-26ini ialah: Keaslian Kita. Ada seorang pastor paroki yang baru dua minggubertugas di parokinya. Wajahnya seperti kurang memberi kesan bersahabat. Iatidak banyak berbicara. Hanya tukang masak di pastoran yang sudah memilikicukup kesan dan pengetahuan tentang dia. Sedangkan para pegawai paroki lainnyadan hampir semua umat belum mengenalnya secara dekat. Mereka semua tampaknyatakut dan malu untuk bertemu dan berkenalan dengan dia karena penampakandirinya itu. Tetapi, Alice, si tukang masak selalu memberikanmereka keyakinan bahwa sifat sesungguhnya pastor paroki adalah terbuka, tenangdan memberikan rasa betah. Ia mengingatkan mereka supaya tidak menilai bukuhanya dari sampul atau kulitnya, yang artinya bahwa pastor paroki mereka jangandipandang dan dinilai hanya dari penampakannya itu. Alice bertindak sepertipewarta yang istimewa, yaitu menonjolkan keaslian pribadi pastor paroki.Akhirnya perlahan-lahan semua orang mengenal dan menjalin kerja sama yang baik denganpastornya. Bacaan-bacaan kita pada hariMinggu ini menggarisbawahi penetapan Tuhan terhadap diri kita dengan sebuahkeaslian panggilan kepada setiap orang. Tuhan memanggil kita masing-masinguntuk menjadi seperti yang Ia kehendaki, yang menurut Tuhan Yesus bahwa kitaharus menjadi sempurna seperti Bapa yang sempurna adanya. Setiap manusiadiciptakan dalam keadaan baik, demikian kata kitab Kejadian, tetapi kebebasankodrati mengarahkan dia untuk memilih jalan Tuhan atau jalan yang berlawanan.Dari sinilah keaslian pribadi setiap orang semakin dipertegas dan terusdibentuk dalam perjalanan hidup selanjutnya. Anak yang dikisahkan di dalamperumpamaan Yesus dengan penampilan jelek dan tidak taat, sebenarnya memilikikeaslian diri sebagai orang baik. Nabi Yehezkiel juga menyinggung tentangkeadaan orang beriman yang berdosa, namun menyesali dosanya dan berusaha untukmembarui dirinya. Ini berarti mereka memang ingin kembali ke asalnya, yaitusebagai ciptaan yang baik. Kita semua yang melewati proses pembaruan ini,meskipun pengalaman yang berbeda-beda dari masing-masing orang, sebenarnyaingin menjadikan diri kita bersama menyerupai Kristus sebagai kepala kita. Kitasebagai anggota Gereja, meskipun berpenampilan berbeda-beda, tapi keaslianGereja kita adalah suci. Sedangkan anak yang berpenampilanbagus dan tampak sebagai penurut, sebenarnya adalah pribadi yang jelek.Demikian juga nabi Yehezkiel berkata bahwa orang yang memilih untuk hidup dalamkejahatan adalah mereka yang meninggalkan keasliannya. Penampilannya tidakmenggambarkan keasliannya. Kita dapat bertanya pada diri kita masing-masing:apakah kita sedang mendekati keaslian kita atau sebaliknya kita sedang menjauhikeaslian kita?Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah, berkatilah dan kuatkanlah kami supayakami selalu setia di dalam jalan-Mu. Bapa kami yang ada di surga ... Dalam namaBapa ...

Delivered by Afnita Laura Carolina from Saint Peter's School in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Ecclesiastes 11: 9 - 12: 8; Rs psalm 90: 3-6.12-14.17; Luke 9: 43b-45.TARGET FOR VICTORY Our meditation today has the theme: Target forVictory. There was a teenager from the village who has just finished his firstsemester study in University in the city. The outcomes of his study were a bitworrying. There were several red marks that required him to do a remedial exam.He needed to do a retest on those subjects concerned. His friends and neighborsthought that he was still in a moment of adjustment. And that consideration wasenough to encourage him to move on. He was motivated to get out quickly fromthat pressure. When he called his parents in the village, he receivedalso encouragement from them, saying that every struggle or effort has its ownprocess. There is no consideration that a beginning must be easy and smooth.The important thing should be in our minds is that from the beginning of anywork or undertaking, we must aim for victory. This is a very importantmotivation. One must start with the winning target in mind, in the beginning ofwork and in the design of plan. Our journey of faith in this world has a goal to beachieved, namely our perfection in the Lord. Each of us was given this targetfrom the moment of our baptisms, and all our baptismal promises serve asinstruments to help us achieving them. When we eventually reach that goal indue time, we will experience victory and glory of God. Even though the book of Ecclesiastes describes ourreal life as simply a vanity, behind this concept is actually the emphasis onthe end of our life's journey, and God's judgment will determine whether aperson will be the winner or not. The Lord Jesus Christ looked up to Jerusalemas the end of His journey on earth where the target had been set for Him. Jesustold His apostles that there in Jerusalem He would be handed over to the Jewishauthorities to be executed. His death on the cross was the most severesuffering a man had ever experienced. Death on the cross is a victory, so ourChristian faith always teaches us. This target for victory through the cross is also ablessing for us. However, we might be in the same situation as the apostles ofJesus were. Many of us do not have full understanding about this victory of thecross. For those who understand, they witness in their daily lives aparticipation or a sharing of the glory and victory of Christ by bearing thecrosses to show their Christian commitment. They accept hardships and sufferingthat come along their lives with good will and joyful heart. They even prefer aphysical death rather than living as sinners. For those who don't understand,there are still opportunities for them to assume a spirituality of the cross.But for those who do not want to understand or those who go against it, thecross is a foolish and shameful thing they have ever met. Let'spray. In the name of the Father ... O Jesus Christ, You openly declare Yourvictory through the cross so that it will be the Word and the covenant for ourspiritual sustenance. May we always be faithful to the way of our crosses. OurFather who art in heaven ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Yohanes Don Bosco Subekti dan Maria Ecclesia dari Saint Peter's School di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Pengkhotbah 11: 9 - 12: 8; Mazmur tg 90: 3-6.12-14.17; Lukas 9: 43b-45.TARGET UNTUK KEMENANGAN Renungan kita pada hari ini bertema: Target Untuk Kemenangan. Seorangremaja dari desa baru saja selesai semester pertama kuliahnya di kota. Baginyahasil studi itu agak mengawatirkan. Ada beberapa nilainya kurang memuaskan,karena itu ia harus melakukan remedial atau ujian ulang. Ada sebagian teman dantetangganya menganggap bahwa ia masih menyesuaikan diri. Dan anggapan itu cukupmembesarkan hatinya. Ia termotivasi untuk cepat keluar dari tekanan itu. Saat telepon dengan kedua orang tuanya di desa, ia mendapatkan motivasibaru dari orang tua: bahwa perjuangan atau usaha harus ada prosesnya. Tidakboleh ada anggapan bahwa suatu permulaan harus sudah langsung baik dan lancar.Yang penting sedari awal usaha, orang harus menargetkan kemenangan. Itu adalahmotivasi yang sangat penting. Orang harus mulai dengan target kemenangan didalam pikiran, permulaan usaha, dan rencananya. Ziarah iman di dunia itu bagai sebuah perjuangan untuk sampai padatujuannya, yaitu kesempurnaan di dalam Tuhan. Kita masing-masing diberikantarget ini sejak saat pembaptisan, dan semua janji baptis itu sebagai instrumenyang membantu kita mencapainya. Ketika kita mencapai itu nanti, hasilnya ialahsebuah kemenangan dan kemuliaan. Meskipun kitab Pengkhotbah secara lugas menggambarkan bahwa kehidupan yangnyata adalah hanya kesia-siaan, namun ia sangat menegaskan bahwa di akhirsebuah perjalanan hidup, ada pengadilan Tuhan yang menentukan seseorang itusebagai pemenang atau sebaliknya kalah. Tuhan Yesus Kristus memandang keYerusalem tentang target yang sudah ditetapkan bagi-Nya. Yesus menyampaikanpara rasul-Nya bahwa nanti di Yerusalem diri-Nya akan diserahkan kepadapembesar Yahudi untuk dihukum mati. Kematian-Nya itu merupakan yang sangat kejiyaitu dengan disalibkan. Kematian di salib adalah sebuah kemenangan, begituajaran di dalam iman kita. Target kemenangan melalui salib ini juga merupakan rahmat bagi kita. Namunseperti para rasul, banyak dari kita belum atau tidak mampu mengertisepenuhnya. Bagi yang mengerti, mereka memang mengalami dan menghayati di dalamhidup hariannya, yaitu berpartisipasi dan berbagi dalam kemuliaan dankemenangan Kristus dengan salib. Mereka tentu menerima kesulitan danpenderitaan atas dirinya dalam kerelaan dan suka cita. Pilihan hidupnya ialahmati raga. Bagi mereka yang belum mengerti, tetap ada kesempatan terbuka untukmenghayati spiritualitas salib. Sedangkan mereka yang tidak mau mengerti, salibitu adalah suatu kebodohan dan cara yang memalukan. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa... Ya Yesus Kristus, Engkau menyatakan secara terbukakemenangan-Mu melalui salib supaya menjadi santapan sabda dan perjanjian bagikami, semoga kami selalu setia dengan jalan salib kami. Bapa kami yang ada disurga... Dalam nama Bapa...

Delivered by Arjun Bordeos from Saint Peter's School in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Ecclesiastes 3: 1-11; Rs psalm 144: 1a.2abc.3-4; Luke 9: 18-22.THERE IS TIME FOR EVERYTHING The theme for our meditation today is: There is Timefor Everything. We are all shaped by a common understanding that timedetermines our life. We need to clarify our understanding of this concept sothat we do not oversimplify what it means. Often times we have tendency toblame our own unremarkable past because it does not tell the nice story to hearand to share. Time itself is simply seen as an independent element and has norelation to the subject who lives and acts in it or the Creator of time. The time that decides for our fate in life can also beunderstood as the spinning wheel. When we are in the lower round, we view ourlives really in the period of trouble and suffering. On the contrary, when weare on the top round, we see our lives as something fun and fortune. A lifeseen in this manner is generally understood as a reality from the natural law.However, the risk remains the same in the way we view the change of time. Weoften regret or blame our history when the wheel of our lives happened to goalways at the bottom. To overcome the danger of seeing time as a separateelement in our lives, we need to see it with another view point, which is fromthe perspective of God Himself who leads our life in and with time. The Lord isthe source of time. He provides everyone with 24 hours every day in everyone'sentire life. By viewing time in this manner, we can avoid the tendency to blameour unfavorable past. If we always direct our eyes to God from where we standand in which event we are in, in moments of joy and sorrow, our best attitudeis not to blame the past, but to see it with the eyes of faith. God indeedcontrols and directs our lives. The book of Ecclesiastes in the first reading todaydescribes human life as something fragile and temporary that ends with its timelimit. Everything has its time. Something exists at a time, and at other timeit disappears. This profile of life actually wants to teach us to appreciatethe time provided for everyone equally in quantity. Regardless of the length oftime for everyone, it must contain a meaningful life event. We need to respondto the Preacher of the Ecclesiastes who said that this life is hopeless, withthe offering of a life that has meaning in its every moment. As we are and we do our duties today, we need to enjoythem in our togetherness with others in the providence of the Lord, and we hopeto be strengthened by our faith in Jesus Christ who comes from God the Father.This profession of faith is the principle of our Christian life.Let'spray. In the name of the Father ... O Lord, may we experience every moment ofour life as a manifestation of Your providence to us. Hail Mary, full of grace... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Ivana Edrea Santoso dan Theodorus Kefi dari Saint Peter's School di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Pengkhotbah 3: 1-11; Mazmur tg 144: 1a.2bc.3-4; Lukas 9: 18-22.SEGALA SESUATU ADA WAKTUNYA Tema renungan kita pada hari iniialah: Segala Sesuatu Ada Waktunya. Kita semua dibentuk oleh pemahaman umumbahwa waktu menentukan nasib hidup kita. Keyakinan ini perlu diperjelas lagisupaya kita tidak jatuh dalam pemahaman yang sederhana. Akibatnya, kecenderungankita ialah mempersalahkan masa lalu yang tidak memberikan cerita yangmengesankan tentang kita. Waktu hanya dilihat sebagai sebuah elemen yangberdiri sendiri, dan tidak punya kaitan dengan subjek pencipta atau pemilikwaktu. Waktu yang memutuskan nasib hidupmanusia dapat juga dipahami seperti roda yang berputar. Saat kita berada diputaran bawah, kita memandangnya sebagai periode kemalangan dan penderitaan.Sebaliknya pada saat kita berada di putaran atas, kita memandangnya sebagaikesenangan dan keberuntungan. Kehidupan sebagai sebuah roda yang berputarumumnya dipahami sebagai kenyataan yang diterima sebagai hukum alam. Namunresikonya tetap sama dengan pandangan tentang waktu yang berganti. Pada saatnyamanusia akan menyesali sejarahnya ketika roda kehidupan itu berputar di bagianbawahnya. Untuk mengatasi bahaya melihatwaktu sebagai satu elemen semata, kita perlu melihatnya sebagai Tuhan sendiriyang menyelenggarakan hidup kita di dalam waktu. Dia adalah sumber waktu. Diamemberikan setiap orang waktu 24 jam tiap-tiap hari dalam seluruh hidupnya.Dengan cara memandang waktu seperti ini, kita dapat menghindari kecenderunganmempersalahkan waktu atau sejarah. Bila Kita selalu mengarahkan pandangan kitakepada Tuhan atas semua peristiwa hidup, baik menyenangkan maupun yangmenyakitkan, sikap kita adalah bukan mempersalahkan masa lalu, tetapimelihatnya dari kaca mata iman. Tuhan yang mengontrol dan mengarahkan hidupkita. Kitab Pengkotbah dalam bacaanpertama ini menggambarkan hidup manusia yang rapuh dan sementara denganmemberikan batasan waktu. Segala sesuatu ada waktunya. Sesuatu ada padasaatnya, dan pada saat yang lain sesuatu itu menghilang. Gambaran inisebenarnya ingin mengajarkan kita untuk menghargai waktu yang disediakan bagisetiap orang yang jumlah waktunya senantiasa sama. Berapapun lama waktunya,pasti berisi suatu peristiwa kehidupan yang punya makna. Kita perlu menanggapiPengkotbah yang mengatakan sia-sia hidup ini, dengan sebuah persembahan hidupyang memiliki makna dari saat ke saat. Untuk waktu sekarang atau saatini, kita perlu menikmatinya bersama dengan sesama dalam penyelenggaraan Tuhan,dan dikuatkan oleh iman kita kepada Yesus Kristus yang datang dari Allah.Pengakuan iman ini adalah prinsip hidup kita. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa ... Ya Tuhan, semoga kami mengalami setiap waktuhidup kami sebagai pernyataan diri-Mu bagi kami. Salam Maria, penuh rahmat ...Dalam nama Bapa ...

Delivered by Oswaldus Coo from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Ecclesiastes 1: 2-11; Rs psalm 90: 3-6.12-14.17; Luke 9: 7-9.ANXIETY IS EXPECTED TO PASS QUICKLY The theme for our meditation today is: Anxiety isExpected to Pass Quickly. Anxiety is a state of human soul which is similar tothat of restlessness, discomfort, fear and worry. It is clear that this mentalstate is not positive. Anxiety is the opposite to enthusiasm, optimism, joy,comfort, and excitement. We normally want that the anxiety in ourselves, ourfamilies, Church and society may pass quickly. Perhaps many of us when reading the beginning of thebook of Ecclesiastes about vanity in all things, obviously our feelings of fearand worry arise. There was a story about a high school student, who, afterreading himself this passage of the bible, he spontaneously complained to hisparents as he said: "Well, why do we live in this world?" King Herodas told in the bible, was also troubled because he saw that John the Baptist,who had died, was alive. He was so anxious and agitated of this matter. Hecertainly assumed that Jesus of Nazareth was the actual John the Baptist whohad resurrected. The two examples of anxiety as shown in today'sreadings are the consequences of our own weaknesses and sins. This type isrecognized through self knowledge and self awareness. A person who recognizeshis own weaknesses and sins with the help of divine light, regrets them andthere is the way for him to change. As far as possible, this point of renewalwill not only eliminate anxiety, but also bring him something new. Thelisteners of the book of Ecclesiastes would have growth in their faith, as wellas the King Herod was indeed required to see himself the real Jesus Christ. There is another type of anxiety that is morecomplicated. This is about our own weaknesses, shortcomings and sins that causeour friends and relatives anxious and distrurbed. This would be a big problembecause they are increasingly bothered and affected but we who make the problemdo not realize ourselves being the cause of the problem. In other words wedon't care that we keep doing wrongs, mistakes and sins. What is even moredangerous is that if these sinful acts do harm our own souls, the souls of othersand the souls of many people. These anxieties and worries can pass quickly only ifeveryone is faithful and wants to live fairly and righteously. Following God byalways being guided in His words is the best way to do in order to achiecvethis freedom. Our life must be pleasing to God alone, says the responsorialpsalm today. So we not only want to see Jesus like the King Herod, but we wantto follow Him, because this is the will of our Father in Heaven. Let'spray. In the name of the Father ... O God in heaven, make us truly committedto imitate Jesus Christ, Your Son and our Lord, and so we will remain with Younow and for ever. Glory to the Father and to the Son and to the Holy Spirit ...In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Intan Fridanika dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Pengkhotbah 1: 2-11; Mazmur tg 90: 3-6.12-14.17; Lukas 9: 7-9.KERESAHAN SUPAYA CEPAT BERLALU Tema renungan kita pada hari ini ialah: Keresahan Supaya Cepat Berlalu.Resah merupakan satu keadaan jiwa yang mirip situasinya dengan gelisah, cemas,tak nyaman, takut dan kuatir. Jelas bahwa keadaan jiwa ini tidak positif.Keresahan adalah lawan dari rasa semangat, optimis, senang, bangga, ceria danberuntung. Pada dasarnya kita ingin supaya keadaan resah dalam diri kitasendiri, keluarga, Gereja dan masyarakat biar cepat berlalu pergi. Mungkin banyak di antara kita ketika membaca bagian awal kitab Pengkhotbahtentang kesia-siaan dalam segala sesuatu, perasaan takut dan resah timbulsecara spontan. Ada seorang siswa SMA setelah membaca sendiri perikop ini, ialangsung mengeluh kepada orang tuanya begini: "Lha, terus untuk apa kitahidup di dunia ini?" Raja Herodes juga resah karena ia mengetahui bahwaYohanes Pembaptis yang telah ia bunuh, hidup kembali. Ia menjadi resah dangelisah, dan mengira bahwa Yesus dari Nazaret itu ialah Yohanes Pembaptis yangbangkit. Dua contoh keresahan dari bacaan-bacaan hari ini bersumber pada kesalahanatau dosa kita sendiri. Keresahan dan gelisah jenis ini tumbuh melalui suatupengetahuan dan kesadaran akan diri sendiri. Seseorang mengetahui sendirikelemahan dan dosanya dengan bantuan terang Ilahi, dan menyesalinya, kemudianada jalan baginya untuk pembaruan. Langkah pembaruan itu sedapat mungkin tidakhanya menghilangkan keresahan, tetapi juga menciptakan atau menghadirkansesuatu yang baru. Para pendengar kitab Pengkhotbah akan semakin memperkuatimannya kepada Tuhan, atau Herodes memang dituntut untuk melihat Yesus yang sesungguhnya. Ada jenis keresahan lain yang lebih berat. Keresahan itu ialah ketika temandan saudara kita menjadi resah karena kelemahan, kekurangan dan dosa kita. Iniadalah berat karena mereka resah dan semakin resah namun kita sendiri tidakpernah menyadari atau mengetahuinya. Dengan kata lain kita tidak peduli dantetap saja sengaja berbuat kesalahan dan dosa. Yang lebih berbahaya lagi,yaitu kalau kesengajaan tersebutmembahayakan jiwa kita sendiri, jiwa orang lain dan merusak hajat hidup orangbanyak. Keresahan-keresahan tersebut dapat cepat berlalu pergi hanya kalau setiaporang setia dan mau hidup secara adil dan benar. Mengikuti Tuhan dengan selaludibimbing oleh firman-Nya merupakan pilihan terbaik di dalam hidup ini. Hidupkita memang harus berkenan kepada Tuhan saja, demikian mazmur tanggapan hariini. Jadi kita tidak hanya ingin mengetahui tentang Yesus seperti Herodes,tetapi kita ingin mengikuti Dia, yaitu melakukan kehendak Bapa di Surga. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa ... Allah Bapa di surga, dengan selalu meneladani Yesus KristusPutra-Mu dan Tuhan kami, kami ingin mengosongkan diri kami dengan mengasihi-Mu,maka penuhilah kami, ya Bapa yang mahabaik. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra danRoh Kudus ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Yovita Della and Gracia Meirissa from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Proverbs 30: 5-9; Rs psalm 119: 29.72.89.101.104.163; Luke 9: 1-6.SIMPLICITY IS POWER The theme for our meditation today is: Simplicity isPower. When the disciples of Jesus were commissioned to carry out services topeople without being equipped with adequate supporting facilities andmaterials, they did not complain and protest. They were sure to carry it outwith pleasure. They did the mission entrusted in a spirit of simplicity becausethere were very limited resources they had. But this was actually a power. Theydidn't need to worry because Jesus would always accompany them. The spirit of simplicity has been used in the ministryof the Church throughout her history, as for example, between the years1930-1960s there was a zealous man of the Church who did an extraordinaryservices to people in Italy, especially in the southern region of Rome, namelySan Giovanni Rotonda. This man was Saint Padre Pio whose feast day we celebratetoday. He was known as a mystic, a servant for many people who sought renewalof life, and he offered himself completely to Christ. His all simplicity andsincerity in the ministry was paid by the Lord in the gift of the stigmata onhis body that he endured to the end of his life. People often say that simplicity is beautiful.Simplicity is happiness. Simplicity is empowering. A simple life is noble, etc.Living a simple life is not about being poor or destitute, nor is it aboutdoing nothing or not wanting anything. A simple life is beautiful, happy andnoble because it is lived in humility and in awareness that any mistakes orshortcomings can be corrected through forgiveness, repentance andreconciliation. Before the all powerful God, we are only people who need whatis sufficient for life, because we are not determined to be rich or to be poor,says the book of Proverbs today. Our simplicity is a power because our main dependenceon God. We enjoy this life by carrying out our respective roles andresponsibilities. Everyone has the right to receive what is appropriate for thesustenance of life according to what is being done. This life is dedicated toGod, to our children, to our brothers and sisters, and to the people to whom weserve. Each of us is given by God a responsibility or duty and it is sufficientfor us to fulfill it. He has promised to be with us and of course thisassurance will eliminate all our worries in this world. The principle of simplicity as a power for life isthis: we live our lives according to the abilities given by God, and if we areunable to do one thing or another because of certain challenges or obstacles,God will do his part for us. That is the power of simplicity.Let'spray. In the name of the Father ... Father in heaven, we always pray,"Your kingdom come" so that we can make our lives powerful, which isin line with our abilities and also our dependence on Your power. Hail Mary,full of grace ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Ida dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Amsal 30: 5-9; Mazmur tg 119: 29.72.89.101.104.163; Lukas 9: 1-6.KESEDERHANAAN ADALAH KEKUATAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: Kesederhanaan Adalah Kekuatan.Ketika Yesus menugaskan murid-murid-Nya untuk melakukan pelayanan kepada orangbanyak tanpa dilengkapi fasilitas dan materi pendukung yang memadai, parautusan itu tidak mengeluh dan protes. Mereka yakin untuk menjalankan itu dengansenang hati. Mereka jalankan itu dalam semangat kesederhanaan dan sumber dayayang sangat terbatas. Namun ini adalah sebuah kekuatan. Mereka tak usah kuatirkarena Yesus tentu menemani mereka. Model pelayanan yang sederhana ini berlanjut terus sepanjang sejarahGereja, misalnya sampai pada tahun 1930-1960an seorang pelayanan penuh semangatmelakukan hal yang sama di Italia dan khususnya di daerah selatan Roma, yaituSan Giovanni Rotonda. Dia adalah Santo Padre Pio yang kita rayakan pada hariini. Ia dikenal sebagai seorang mistik, pelayan banyak orang yang mencaripembaruan diri, dan memberikan diri seutuhnya kepada Kristus. Kesederhanaan danketulusan hatinya itu dibayar oleh Yesus dengan stigmata pada tubuhnya. Kata orang, sederhana itu indah. Sederhana adalah kebahagiaan. Sederhanaitu menguatkan. Hidup sederhana itu mulia. Dan seterusnya. Hidup sederhanabukan terkait dengan miskin dan melarat, juga bukan soal tidak berbuat apa-apaatau tidak menginginkan apa-apa. Hidup sederhana dipandang indah, bahagia danmulia karena dijalani dalam kerendahan hati dan kesadaran bahwa kekeliruan ataukesalahan dapat diperbaiki melalui maaf, pengampunan dan pertobatan. Di hadapanAllah maka kuasa, kita adalah orang-orang yang hanya memerlukan kebutuhan hidupyang cukup, karena kita bukan ditentukan untuk menjadi kaya atau menjadimiskin, demikian kata kitab Amsal pada hari ini. Hidup sederhana sebagai kekuatan karena ketergantungan utama kita kepadaTuhan. Kita menikmati hidup ini dengan menjalankan peran dan tanggung jawabkita masing-masing. Upah dan rezeki selalu ada dan selalu pantas bagi setiaporang yang berhak memilikinya. Hidup ini dibaktikan dan dipersembahkan bagiTuhan, anak-anak, saudara dan saudara, dan orang-orang yang kita layani. Kitamasing-masing diberi tanggung jawab dan tugas oleh Tuhan dan cukup bagi kitauntuk menjalankannya. Dia menjamin untuk menyertai kita dan tentu jaminan inimenghilangkan segala kekawatiran kita di dunia ini. Prinsip hidup sederhana sebagai kekuatan ialah ini: kita jalani hidup kitasesuai dengan kemampuan yang dikaruniakan oleh Allah, dan bila kita tidak mampuuntuk satu dan lain hal karena tantangan atau halangan tertentu, Tuhan akanmelakukan bagiannya bagi kita. Itu adalah kekuatan dari sebuah kesederhanaan. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa ... Bapa di surga, kami selalu berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu”supaya dapat membuat hidup kami memiliki kekuatan, yaitu sejalan dengankemampuan kami dan juga bergantung kepada kekuasaan-Mu. Salam Maria, penuhrahmat ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Desianna Sianturi from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Proverbs 21: 1-6.10-13; Rs psalm 119: 1.27.30.34.35.44; Luke 8: 19-21.A CROWDED LIFE Our meditation today has the theme: A Crowded Life.There was a teenager who was chatting with his friends in the Whatsapp group.Their conversation became so lively and he felt that not only the aim ofconversation has gone somewhere or lost its direction, but also the fact thateach of them did not give each other a chance or even there was amisunderstanding among each other. So he decided to leave the group. He wrotethis expression as he was about to leave: "Our life is crowded"! The teenager's view that we have a crowded life isindeed true. This Life is full of crowds in various contexts. Some people fearto be near or inside the crowd of things or people. Our life is also full ofopinions, views, speculations, even lies and slanders. For the book ofProverbs, this world is full of evil influences that lead us into sin, and atthe same time the powers of truth and goodness also require us to resist theseevil influences. Jesus himself, as described in the today's Gospel, was alsocaught in the crowd of people. Then His Mother, His brothers and sisters triedto find Him out, but they couldn't and so they were just outside. A friend told his own experience about so manythoughts in his mind that he felt cramped. He was not just confused and fooled,but it was very clear that he felt he was outside of himself. He did not feelthat he was in control of himself. He could not organize things in such a way toput everything in place. He felt that he has failed in this aspect and he gaveup on the situation. Any crowded life situation can become an obstacle, itcan also be an opportunity to meet God. There are situations where people arebusy with works and the need to fulfill the necessities of life is theirpriority. There are a lot of things to make us busy and we are tired all daylong. Such crowds can happen to anyone and it will lead them to find noopportunity to meet God in a personal way. There are other situations in which some people arefascinated in seeing others enjoy their closeness and joy with God. They seeother people flocking to meet God through various spiritual activities.However, they simply like to be outside and just become the spectators. Theyhave fear or feeling of insecurity about taking part in the crowd of thebelievers when God is praised and worshiped by many. May this type of crowded life be understood andrecognized properly. May we make ourselves the one community of people whogather to enjoy the presence of God and to receive abundance blessings from Him. Let'spray. In the name of the Father ... Lord Jesus Christ, make us always one heartwith You that we may be able to accept the words from your teachings and may welive out those words faithfully in our lives. Glory to the Father and to theSon and to the Holy Spirit ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Josephine Anabelle Karamoy dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Amsal 21: 1-6.10-13; Mazmur tg 119: 1.27.30.34.35.44; Lukas 8: 19-21.HIDUP YANG PENUH SESAK Renungan kita pada hari ini bertema: Hidup Yang Penuh Sesak. Ada seorangremaja sedang mengobrol dengan teman-temannya dalam group Whatsapp. Pembicaraanmereka berkembang menjadi begitu ramai dan ia merasa tidak hanya arahpembicaraan mereka yang sudah kabur, tetapi juga kenyataan bahwa masing-masingdari mereka tidak saling memberi kesempatan bahkan tidak saling mengerti. Makaia memutuskan untuk keluar dari group. Ia menulis ini pada saat hendak keluar:"Hidup kita sudah penuh sesak"! Pandangan remaja itu bahwa hidup kita ini penuh sesak memang benar adanya.Hidup ini penuh dengan kerumunan orang dalam konteks apa pun, sehingga adaorang merasa takut dengan itu lalu ingin selalu menghindari kerumunan. Hidupkita juga penuh dengan pendapat, opini, spekulasi, bahkan kebohongan danfitnah. Bagi kitab Amsal, dunia ini penuh dengan pengaruh jahat yang membawakita ke dalam dosa, dan pada saat yang sama kekuatan kebenaran dan kebaikanjuga menuntut kita untuk menolak pengaruh jahat tersebut. Yesus sendiri jugaberada di tengah orang banyak. Lalu Ibu dan saudara-saudara-Nya berusahamenemukan Dia, tetapi tidak bisa sehingga mereka berada di luar saja. Ada seorang teman bercerita bagaimana ia mengalami begitu banyak hal yangdipikirkan sampai ia merasa sesak. Ia bukan sekedar bingung dan menjadi orangbodoh, tetapi sangat jelas ia merasa berada di luar dirinya sendiri. Ia takmerasa berada di dalam dirinya untuk mengontrol dan mengatur keadaan sedemikiansupaya rapi dan terorganisir. Ia merasa gagal dan menyerah dengan keadaan itu. Keadaan kita yang penuh sesak bisa menjadi hambatan, bisa juga sebagaikesempatan bertemu dengan Tuhan. Ada situasi di mana kesibukan kerja danpemenuhan kebutuhan hidup amat dipentingkan. Jadwal yang begitu padat dengansegala urusan membuat kita lelah sepanjang hari. Konsentrasi seperti itumengakibatkan kita tak menemukan kesempatan untuk berjumpa Tuhan. Ada situasi lain di mana sebagian orang terpesona mengagumi sesamanyamenikmati kedekatan dan suka cita bersama Tuhan. Mereka melihat orang lainramai-ramai datang berjumpa dengan Tuhan melalui aneka kegiatan rohani. Merekasuka berada di luar dan menjadi penonton saja. Ada ketakutan atau minder kalauingin masuk menjadi bagian dalam kerumunan di sekeliling Tuhan. Kiranya hidup yang penuh sesak ini dimaknai secara tepat, yaitu membuatdiri kita termasuk dalam orang-orang yang berkerumun dan berkumpul untukmenikmati kehadiran Tuhan dalam hidup kita setiap hari. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa ... Tuhan Yesus Kristus, jadikanlah kami selalu sehatidengan-Mu untuk dapat menerima sabda yang Engkau wartakan dan semoga kamimenghidupi sabda itu secara benar dalam setiap saat hidup kami. Kemuliaankepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Nicole Orlincallysta Yacob and Michelle Jordyn Limanta from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Ephesians 4: 1-7.11-13; Rs psalm 19: 2-3.4-5; Matthew 9: 9-13.LET THE HEART SPEAK Our meditation today has the theme: Let the HeartSpeak. Today, September 21, our Church celebrates the feast of Saint Matthew,the apostle and evangelist. He was the son of Alphaeus who came from Capernaumaround the lake Gennesaret. He was known as a Roman tax collector, a job thatwas hated by people of his time because he worked with the colonialists. So he was considered a mortal sinner, and Jesus wasseverely criticized for making him one of His disciples. However, Jesusreasoned out that His task was to heal the sinful souls. The Church alsorecognizes Matthew as the author of the Gospel of the Lord, and he was theapostle who evangelized the area of Ethiopia. The journey of faith ofMatthew, from being a sinner most hated by the people around him and eventuallybecame one of the disciples of Jesus was a movement of a heart that was filledwith the power of God. The Lord Jesus had a heart full of compassion and byseeing with His heart He chose people to be His partners in the work of HisMission. Matthew, in his profession as a public servant to the Roman governmentto collect taxes from people, also had a sincere heart and was open to the Lordwho had initiative to chose him. Therefore, Matthew was actually nothing toloose, which means, he had no problem of abandoning his current job. He justleft that job and followed Jesus. If we let the heart understand, choose and speak, theoutcome surely would be truth. We can see this in the facts of life. We believethat God is pleased to live in our consciences to give us wise and pure adviceevery time we make decisions. Meanwhile, our minds often play withrationalization, imagination and speculation, for example to make aself-defense, to show-off, to look for scapegoats, etc. The heart, however, ifit thinks and speaks, it makes us always live in the guidance of the one HolySpirit. Each heart of the believers speaks about each one's unique vocationfrom God and each tries to live up to that calling. Saint Paul says in his letter to the Church atEphesus, that every person is expected to use the gift of the Spirit that isunique to him, so that he can live a life that is united in one God and in onefaith. Matthew the tax collector, although his mind was preoccupied with taxmatters and all the benefits, his heart was clearly longing for God. Herealized that with this particular work, he would not enter the synagogue tohear the Word of God and to pray. It was a turning point for him when he met Jesus.Their two hearts were filled with God's power and were immediately connected.Jesus's two words that went, “follow me” had immediately changed Matthew's lifedirection. Without hesitation he decided to follow Jesus. For us, speaking withthe heart is an opportunity to strengthen our vocation. Let'spray. In the name of the Father ... O Lord Jesus Christ, abide always in ourhearts and renew our lives according to Your will. Hail Mary, full of grace ...In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Fransiska Nanda dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Efesus 4: 1-7.11-13; Mazmur tg 19: 2-3.4-5; Matius 9: 9-13.BIARKAN HATI YANG BERBICARA Renungan kita pada hari ini bertema: Biarkan Hati Yang Berbicara. Pada hariini 21 September Gereja kita merayakan pesta Santo Matius, rasul dan pengarangInjil. Ia adalah anak Alfeus yang berasal dari Capernaum di sekitar danauGenesaret. Ia dikenal sebagai pemungut pajak romawi, suatu pekerjaan yangdibenci oleh orang-orang sedaerahnya karena memihak kepada penjajah. Maka ia dianggap pendosa berat, dan Yesus dikritik keras karena menjadikandia salah seorang murid-Nya. Tetapi Yesus beralasan bahwa tugas-Nya ialahsebagai penyembuh jiwa-jiwa yang berdosa. Matius juga dipercayai sebagaipenulis Injil Tuhan, dan menjadi rasul yang menginjili daerah Ethiopia. ProsesMatius, seorang pendosa paling dibenci orang-orang di sekitarnya, menjadi muridYesus merupakan suatu gerakan hati yang dipenuhi oleh kuasa Allah. Tuhan Yesus memiliki hati yang penuh belas kasih dan Ia melihat denganhati-Nya itu dalam memilih orang-orang yang menjadi partner dalam bekerja.Matius dalam profesinya sebagai pembantu penjajah romawi untuk memungut pajakmasyarakat, juga memiliki hati yang tulus dan terbuka kepada Tuhan yang menemuidan memilihnya. Karena itu ia nothing toloose, tidak terikat atau tidak bergantung pada pekerjaannya. Iameninggalkan itu dan mengikuti Yesus. Kalau kita biarkan hati yang mengerti, memilih dan berbicara, hasilnyaadalah kebenaran. Tentu ini ada faktanya. Karena Tuhan berkenan tinggal didalam hati nurani manusia untuk setiap kali memberikan nasihat bijak dan murnidi kala kita mengambil keputusan. Pikiran sering berputar-putar dengankemampuan rasionalisasi, imajinasi dan spekulasi, misalnya untuk membela diri,kesombongan, mencari kambing hitam dan sebagainya. Tetapi hati, jika berpikirdan berbicara maka orang akan hidup selalu dalam tuntunan Roh yang satu dansuci. Hati mereka masing-masing berbicara tentang panggilan yang unik dariTuhan dan mereka berusaha hidup yang sesuai dengan panggilannya itu. Santo Paulus berkata dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, bahwa setiaporang diharapkan menggunakan karunia Roh yang unik pada dirinya itu, untukdapat mewujudkan hidup yang bersatu dalam satu Tuhan dan satu iman. Matius,meskipun pikirannya sibuk tentang urusan pajak dan mendapatkan keuntungan daripekerjaan itu, hatinya jelas rindu akan Tuhan. Dengan pekerjaannya itu, iamenyadari tak bisa masuk ke dalam sinagoga untuk mendengarkan firman Allah danberdoa. Pas ketika bertemu Yesus, kedua hati mereka dipenuhi kuasa Allahlangsung tersambung. Dua kata: “Ikutilah Aku” dari Yesus segera mengubah hidupMatius. Ia berkeputusan untuk mengikuti Yesus. Bagi kita, berbicara dengan hatimerupakan kesempatan untuk menguatkan panggilan kita. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa... Ya Tuhan Yesus Kristus, tinggallah selalu di dalam hati kamidan baharui hidup kami sesuai dengan kehendak-Mu. Salam Maria, penuh rahmat ...Dalam nama Bapa ...

Delivered by Madeline Meggie Kurniawan from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Isaiah 55: 6-9; Rs psalm 145: 2-3.8-9.17-18; Philippians 1: 20c-24.27a; Matthew 20: 1-16.TO GIVE ACCORDING TO ONE'S ABILITY Our meditation on this 25th Sunday inOrdinary Time has the theme: To Give According to One's Ability. There was astory about a quarrel between sky and earth. There was a time earth urged skyto change each one's position. It seemed that earth was jealous to sky. Forearth, sky was much more beautiful and always worshiped, because human beingsalways point to the sky whenever they point to the place of God the almighty. Responding to the earth's complaint, the sky wiselysaid that the earth must not be able to occupy its position up there. Likewise,sky would not fit the position below it. Each one has been placed as such fromthe beginning by the Creator. They have an identity that cannot be replaced byanything and anyone. Each of them has a duty that has been given by God, asnarrated in the book of Genesis, and they must be responsible for carrying outthat duty. In short, both sky and earth have a responsibility togive to each other according to one's own ability. Likewise, all the contentsof sky and earth are responsible for giving to each other according to eachone's ability. Heaven and world also have the same responsibility. And ofcourse, both God and human beings have a relationship of love and each of themserves and gives according to one's own ability. To maintain this mutual carefor each other, mutual trust and respect are needed. There should be nojealousy and hatred between them. God has the power to control and to rule our lives andlet Him do it according to His will. Meanwhile, we have the duty to carry outGod's will, and let us do it responsibly. Our duty is to obey God and carry outHis commandments, so we must follow God's ways. We must always seek Him forguidance. We receive from Him goodness and truth to sustain us in this life.The Lord Jesus teaches us about duties of each person given by God and therewards that we will receive after we fulfill them. God determines and we, Hisservants, do the job. We must not take our own preferences and standards. It isa sin against Him. Saint Paul teaches us that when we give or offersomething according to each one's ability, we should always make ourselvesworthy and faithful to the gospel of Christ. We give something from ourselveswith the intention that it is for the glory of God and our anticipation for afuture living with Christ. The reward for those who obey God and follow theexamples of the Lord Jesus Christ is a life full of grace in heaven. When weare still on earth, we must give with the love of God. Let'spray. In the name of the Father ... O Lord, fill us with the gift of good willand ability to give which is sincere and just. Our Father who art in heaven ...In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Madeline Meggie Kurniawan dan Rachel Dermawan Permadi dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Yesaya 55: 6-9; Mazmur tg 145: 2-3.8-9.17-18; Filipi 1: 20c-24.27a; Matius 20: 1-16.MEMBERI SESUAI KEMAMPUAN Renungan kita pada hari MingguBiasa ke-25 ini bertema: Memberi Sesuai Kemampuan. Ada sebuah cerita tentangpertengkaran kecil antara langit dan bumi. Pada suatu kali bumi mendesak supayalangit berganti posisi dengannya. Rupanya bumi iri hati dengan langit. Iamemandang bahwa langit jauh lebih indah dan selalu dipuja, karena manusiaselalu menunjuk ke langit setiap kali menunjuk tempatnya Tuhan yang mahakuasa. Menanggapi keluhan bumi itu,langit dengan bijak berkata bahwa bumi pasti tidak mampu menempati posisi-nyadi atas sana. Demikian juga langit tidak akan cocok menempati posisi dibawahnya. Masing-masing sudah ditempatkan seperti itu dari awalnya oleh SangPencipta. Mereka memiliki jati dirinya yang tidak bisa digantikan oleh apa pundan siapa pun. Masing-masing memiliki tugas yang sudah diberikan oleh Tuhan,seperti yang dikisahkan di dalam kitab Kejadian, dan mereka harus bertanggungjawab untuk mengemban tugas tersebut. Singkatnya, baik langit maupunbumi memiliki tanggung jawab untuk saling memberi sesuai kemampuan. Demikianpula seluruh isi langit dan bumi bertanggung jawab untuk saling memberi sesuaidengan kemampuannya. Surga dan dunia juga memiliki tanggung jawab yang sama.Dan tentu saja baik Tuhan dan manusia terdapat suatu jalinan kasih danmasing-masingnya saling melayani dan memberikan sesuai kemampuannya. Untukmemelihara saling memperhatikan satu sama lain itu, sangat dibutuhkan salingpercaya dan saling menghargai. Tidak boleh ada iri hati dan benci di antaramereka. Tuhan memiliki kuasa untukmenguasai dan mengatur hidup manusia dan biarlah Dia melakukan itu sesuaikehendak-Nya. Sementara itu, manusia bertugas menjalankan kehendak Tuhan, danbiarlah ia melakukan itu dengan tanggung jawab. Tugas manusia ialah ketaatankepada Allah dan menjalankan perintah-Nya, maka ia harus mengikuti rancanganTuhan. Ia harus mencari-Nya selalu untuk mendapatkan petunjuk dari-Nya tentanghidup yang baik dan benar. Tuhan Yesus mengajarkan tentang tugas masing-masingdari Tuhan dan upah yang didapatkan setelah menjalankan tugas itu. Tuhan yangmenentukan dan kita para hamba-Nya menjalankan saja. Kita tidak boleh bermaindengan kesukaan dan standar kita sendiri. Itu adalah dosa melawan Dia. Santo Paulus mengajarkan, bahwademi suatu gaya kehidupan yang mengutamakan pemberian atau persembahan sesuaidengan kemampuan kita masing-masing, hendaknya hidup kita selalu berpadanandengan Injil Kristus. Kita memberikan sesuatu dari diri kita dengan maksudbahwa pemberian itu adalah demi kemuliaan Tuhan dan persiapan kita untuk suatukehidupan kelak bersama dengan Kristus. Kita hendaknya memberi dengan kasihTuhan.Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan, penuhilah kami dengan karuniakemampuan memberi dengan tulus dan adil. Bapa Kami yang ada di surga ... Dalamnama Bapa ...

Delivered by Heril Paulite from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. 1 Corinthians 15: 35-37.42-49; Rs psalm 56: 10-14; Luke 8: 4-15.WHEN WE BECOME GOOD SOIL Our meditation today has the theme: When We BecomeGood Soil. There was a piece of land near a farmer's house that was regularlycultivated and the farmer was certainly very concerned about the fertility ofthis land. This is very different from nomadic farms where farmers always moveto another after the soil of the former is no longer fertile. For a permanentfarm, the land is said to be fertile only when it has been turned over,crushed, loosened and fertilized. Therefore, a land of dry and stony soil isnot considered fertile for crops. Based on the word of God today, we should acknowledgeourselves as good and fertile soil. Every day we can prove with confidence andfaithfulness that God's word is our basic spiritual food. No spiritual lifewill develop to perfection without using the instrument of the word of God. The situation of soil that has not been turned over orcrushed is the same as a normal human person who is just flowing or feelingcomfortable and safe. That land is undisturbed or untouched, so it appears asit is. There is nothing new that could even be produced. Likewise, a person whois simply normal, calm, flowing with time and having no problem faced or havingno creativity and initiative made, of course this does not represent a lifewhich is interesting. When it comes to land that has gone through a processof turning over and over until it becomes loose, this refers to people who areexperiencing problems or difficulties in their lives. They are vulnerable,broken-hearted, hurt, suffering, tormented, abused, neglected, marginalized.Anyone who experiences life like this is clearly a fertile or good soil, whereGod pleases to cultivate His words and works. Some of us tell their lives'problems to their trusted neighbors so that they can experience sort ofrelieve, some of us don't want to tell their own stories so they just suffer insilence, then others try to forget about all the problems they are facing.However, God knows to do about all these situations of ours. If we want to have an advice from today's reflection,it would go like this one: If we right now are experiencing a problem which isso bothering us, let us not take it as a curse or just a result of somemistakes, or the cross that we must carry on. Let us see to it from a differentperspective, that is, we are the good and fertile soil and God is pleased toplant His words and gifts within us. God wants to cultivate something specialthat we even don't expect, yet we let Him do His job. Letus pray. In the name of the Father ... O Jesus our Lord, through Your mercy andhumility, make our hearts like Your heart. May our lives everyday not become invain because of the shortcomings or sufferings we experience, but they canbecome good opportunities to obtain salvation from the Father. Glory to theFather and to the Son and to the Holy Spirit ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Yohanes Don Bosco Subekti dan Maria Ecclesia dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. 1 Korintus 15: 35-37.42-49; Mazmur tg 56: 10-14; Lukas 8: 4-15.KALA KITA MENJADI TANAH SUBUR Renungan kita pada hari ini bertema: Kala Kita Menjadi Tanah Subur. Adasebidang lahan di dekat rumah seorang petani yang diolah dengan rutin danpetani tersebut tentu sangat peduli dengan kesuburan tanahnya. Ini sangatberbeda dengan kebun nomaden di mana petani berpindah-pindah lahan setelahkesuburan tanah sudah berkurang. Untuk lahan yang tetap, tanahnya dikatakansubur hanya ketika sudah dibalikkan atas bawa, dipacul, digemburkan dandipupuki. Tanah yang padat dan kering tidak dipandang subur untuk tanaman. Berdasarkan firman Tuhan pada hari ini, kita sepantasnya mengakui diri kitasebagai tanah yang baik dan subur itu. Setiap hari kita bisa membuktikan dengankeyakinan dan kesetiaan bahwa firman Tuhan adalah kebutuhan dasar rohani kita.Tak ada kehidupan rohani yang berkembang sampai tingkat kesempurnaan jika tidakmenggunakan instrumen firman Tuhan. Tanah yang belum dibalikkan atau dipacul situasinya sama dengan manusiayang normal, mengalir saja atau nyaman dan aman saja. Tanah itu tidak tergangguatau tidak disentuh, maka tampaknya seperti itu apa adanya. Tak ada apa-apayang baru bahkan yang dapat dihasilkannya. Demikiannya juga pribadi orang-orangyang normal, tenang, mengalir bersama waktu dan tak ada persoalan yang dihadapiatau kreativitas dan inisiatif yang dibuat, tentu ini tidak menarik. Kalau mengenai tanah yang sudah melalui proses bolak-balik sampai menjadigembur, ini menunjuk pada orang-orang yang mengalami persoalan atau kesulitandalam hidupnya. Keadaan mereka rapuh, patah hati, sakit hati, menderita,tersiksa, teraniaya, terlantar, terpinggirkan. Siapa pun yang mengalami hidupseperti ini jelas sekali sebagai tanah subur, tempat Tuhan berkenan menanamifirman dan karya-Nya. Sebagian dari kita menceritakan persoalan hidupnyasehingga dapat diketahui juga oleh sesamanya, sebagian lagi tidak sudibercerita sehingga ia hanya menderita dalam diam, lalu sebagian lain berusahamelupakannya saja. Tetapi Tuhan tahu untuk berbuat atas keadaan itu. Satu nasihat bagi kita pada hari ini ialah: sekiranya kita saat inimengalami persoalan hidup yang mengganggu, jangan menanggap itu sebagai kutukanatau akibat dari kesalahan atau salib yang harus dipikul. Marilah kitamelihatnya dengan pandangan yang lain, yaitu kita adalah tanah subur dan Tuhanberkenan menanami firman dan karunia-Nya di dalam diri kita. Tuhan inginmenanamkan sesuatu yang istimewa yang tidak kita duga, dan biarkan Diamelakukan itu. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa ... Ya Yesus Tuhan kami, melalui kemurahan dan kerendahanhati-Mu, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu. Semoga hidup kami hari demi haritidak menjadi sia-sia, namun karena kekurangan atau penderitaan yang kami alamidapat menjadi kesempatan untuk mendapatkan keselamatan dari Bapa. Kemuliaankepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Janetta Josdaan from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. 1 Corinthians 15: 12-20; Rs psalm 17: 1.6-7.8b.15; Luke 8: 1-3.THE LORD JESUS' ATTRACTIVENESS The theme for our meditation today is: The Lord Jesus'Attractiveness. There was a 12 year old boy who was watching an action film andhe enjoyed it through following the subtitles given. He was together with hisparents. The actors who conversed to each other often expressed amazement orsurprise through an exclamation like this: "Jesus Christ" or "Ohmy God". This literally pointed out at the Lord Jesus Christ who is ourLord and Master. So the boy spontaneously exclaimed: "Jesus Christ isgreat, He always plays in movies". His father responded by saying: "Jesus Christ'sattractiveness has no boundaries of time or place. Even though He does not playa movie, he certainly attracts the attention of everybody including the actors.He really attracts the attention of all people." The attractiveness of theLord Jesus can be compared with the internet that attracts all people in theworld of today. Let us consider one element of the attractiveness of the Lordto us. His teachings are always the basic reference for our lives in all times.His teaching of love is a universal teaching that is recognized and practicedby all people. Saint Paul in his first letter to the Corinthiansunderlines a central point about the most interest element in the Lord JesusChrist. According to him, all aspects that are amazing and which attracteveryone's attention derive their strength from the truth of the resurrection,namely the Lord Jesus rose from the dead. The attractiveness of resurrectionfrom the dead truly surpasses all forms of power, miracles, and any natural andsupernatural happenings in the world. Therefore Saint Paul says that if Christis not risen and if the proclamation of the Gospel does not contain theresurrection of Christ, then the faith that we confess and build up in ourlives is useless. Our faith is just a rubbish. Our life as followers of Christ must also have anattractiveness, because we carry the Lord wherever and however our lives is.There are two ways we can propose in order to remain attractive. First, ourunity or being with Jesus is the absolute standard of our lives. Just as thedisciples both men and women followed and lived with Jesus, our Christianvocation is not enough to be registered as members of the Church and we havecommon spiritual activities. We need to have an active role in strengthening andbuilding up our fellowship of faith. Second, our discipleship is a school andtraining process in the following of Jesus so that we are able to maintain theattractiveness as Christians. Christian discipleship consists of self-denial,taking up the cross and following Christ at all times. These two proposals aresuitable for making us attractive and thus contributing to build the Kingdom ofGod in the world. Let'spray. In the name of the Father ... O Lord Jesus Christ, we praise You alwaysfor Your light and strength that help us in our journey towards You. We thankYou for the special gift for each of us to be Your disciples and we promise tofollow You always even in carrying the cross together with You. Glory to thefather and to the Son and to the Holy Spirit ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Ivanna Edrea Santoso dan Yohanes Haring dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. 1 Korintus 15: 12-20; Mazmur tg 17: 1.6-7.8b.15; Lukas 8: 1-3.DAYA TARIK TUHAN YESUS Tema renungan kita pada hari ini ialah: Daya Tarik Tuhan Yesus. Ada seorangbocah berusia 12 tahun sedang menonton film actionproduksi luar negeri, dengan subtitle bahasa Indonesia. Ia menonton bersamaorang tuanya. Para aktor yang berbicara satu sama lain, sering mengungkapkanrasa heran atau kaget dengan seruan seperti ini: "Jesus Christ".Terjemahan dalam bahasa Indonesia tentu saja menjadi: Yesus Kristus. Maka bocahitu berseru: "Yesus Kristus hebat, Ia selalu ikut main film". Ayahnya menanggapi dengan berkata: "Yesus Kristus mempunyai daya tarikyang tidak mengenal batas waktu dan tempat. Meskipun ia tidak bermain film,tetapi ia pasti menarik perhatian para aktor. Ia juga sangat menarik perhatiankita semua." Daya tarik Tuhan Yesus dapat disejajarkan dengan makanan atauminuman bagi setiap orang di muka bumi. Salah satu buktinya, ialahajaran-ajaran-Nya selalu menjadi acuan hidup kita bersama. Ajaran tentang cintakasih adalah sebuah ajaran universal yang diakui dan dijalankan oleh semuaorang. Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menggarisbawahi poinsentral tentang daya tarik Tuhan Yesus Kristus. Menurutnya, semua aspekmengagumkan dan yang menarik perhatian semua orang mendapatkan kekuatannya darikebenaran bahwa Tuhan Yesus bangkit dari kematian. Kebangkitan dari kematiansungguh mengungguli semua bentuk kekuasaan, keajaiban, dan kemampuan kodratidan adikodrati apa pun itu di dalam diri manusia dan dunia. Oleh karena ituSanto Paulus berkata bahwa kalau Kristus tidak bangkit dan jika pewartaan Injiltidak berisi kebangkitan Kristus, maka sia-sia saja iman yang kita akui dankita bangun dalam kehidupan kita. Hidup kita sebagai pengikut Kristus harus juga memiliki daya tarik, karenakita membawa Tuhan ke mana pun dan bagaimana pun kehidupan kita. Ada dua carayang dapat kita usulkan. Pertama, persekutuan dan dalam kebersamaan denganYesus merupakan standar hidup mutlak. Sama dengan para murid baik pria danwanita mengikuti dan menjalani hidup bersama Yesus, panggilan Kristen tidakcukup dengan terdaftar sebagai anggota Gereja dan menjalani rutinitas kegiatanrohani. Kita perlu semakin menikmati persekutuan itu dengan berperan aktifmemperkuat dan membangun persekutuan iman kita. Kedua, cara hidup pemuridanmerupakan sekolah dan pelatihan agar kita mampu mempertahankan daya tariksebagai orang-orang Kristen. Pemuridan Kristen ialah penyangkalan diri,memanggul salib dan mengikuti Kristus setiap saat. Kedua usulan ini cocok untuk membuat kita berdaya tariksehingga berkontribusi dalam membangun dunia. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa ... Ya Tuhan Yesus Kristus, terpujilah Engkau cahaya dankekuatan kami. Kami bersyukur dan berterima kasih kepada-Mu atas karuniaistimewa bagi kami masing-masing untuk menjadi murid-murid-Mu dan berikraruntuk mengikuti-Mu selalu bahkan sampai di salib. Kemuliaan kepada Bapa danPutra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Theodorus Pehang from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. 1 Corinthians 15: 1-11; Rs psalm 118: 1-2.16a-17.28; Luke 7: 36-50.THE PATH TO LOVE The theme for our meditation today is: The Path toLove. How did you feel when you had a very heavy burden of life that torturedand caused you helpless, yet finally it was removed and gone away? You mustfeel relieved, happy and grateful. Debt paid off. Your spouse repented.Children graduated and get to work. Reconciliation was achieved and forgivenessgiven. There are many more examples like these. The sinful woman whom Jesus forgave yet was treated sobadly and hostile by Pharisees is an example for us today. She, like us, bore aheavy burden. Once she knew that there was an opportunity when someone couldhelp removing her burden, she didn't waste it. Like that woman, we also come to meet that special person and weare confident that our burden and problem could be resolved. That person mustbe our savior. That person must be the Lord, or at least someone through whomGod works in him. We believe in the truth that the process to obtainsalvation and perfection is the path to love. When you find the highest pointof love, which is its source, there is salvation and perfection. This is thepoint where sins are washed away and sinners are forgiven, then one enters anew life. The path to love shows from the start of an experience of seeking the Savior who haspower to lighten or remove one's life's burdens. People who are in the processof seeking and are anxious normally have insufficient love. They lack patience,their understanding is weak, they are not in peace and calm, their hopes areshaken, their thoughts tend to be negative, their moral principles arechallenged, and their hearts are not free to open up. The Holy Spirit is the one who guides them to startmoving from their trouble situation, then they move forward even though thelight is not always bright. In this process they certainly meet many people andexperience various situations, all of which become lessons for them to learn.They must continue to walk toward love. Little by little they begin tounderstand that in order to come to true love, they must go through manyobstacles, as experienced by that sinful woman in the Gospel. They must not giveup and turn back. The aim must be already clear, namely to find that love.During this process, they gradually transform from their weak love to stronglove. Saint Paul pleases to accompany us along this process.When that burden is removed, like the experience of Saint Paul and the sinfulwoman, we will receive God's grace that helps us to change. According to SaintPaul, this change happens not because of our own ability and strength, butbecause Jesus Christ who lives in us. Let'spray. In the name of the Father ... O Lord God, may Your grace fill and empowerour lives that we may renew ourselves to become perfect like you who remainperfect from the beginning. Hail Mary, full of grace ... In the name of theFather ...

Dibawakan oleh Irma Dhema dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. 1 Korintus 15: 1-11; Mazmur tg 118: 1-2.16a-17.28; Lukas 7: 36-50.JALAN MENUJU KASIH Tema renungan kita pada hari iniialah: Jalan Menuju Kasih. Bagaimana rasanya ketika beban hidup yang amatberat, yang menyiksa dan membuat tak berdaya, akhirnya terangkat dan berlalupergi? Anda pasti merasa lega, senang dan bersyukur. Utang terbayarkan.Pasangan bertobat. Anak-anak lulus dan bekerja. Rekonsiliasi diwujudkan dan adapangampunan. Masih banyak lagi contohnya. Wanita pendosa yang diampuniYesus tapi dimusuhi oleh orang-orang Farisi adalah contoh bagi kita pada hariini. Dia, seperti juga kita, memiliki beban yang berat. Begitu tahu bahwa adapeluang dan seseorang yang bisa mengangkat beban itu, ia tidak menyia-nyiakankesempatan. Kita temui yang bersangkutan dan kita berusaha sedemikian supayamasalah kita diatasi. Ia pasti adalah penyelamat kita. Dia adalah Tuhan, ataupaling kurang seseorang yang melalui dia Tuhan bekerja. Proses mendapatkan belas kasihdan keselamatan itu sebenarnya dapat kita katakan sebagai jalan menuju kasih.Ketika menemukan kasih yang tertinggi, yaitu sumbernya, di situ adakeselamatan. Dosa-dosa dihapuskan dan pendosa diampuni, lalu masuk ke dalam hidupyang baru. Jalan menuju kasih itu memperlihatkan dari awalnya: sebuahpengalaman mencari Sang Penyelamat supaya dapat meringankan atau mengangkatbeban hidup yang berat. Orang yang sedang dalam proses mencari, memiliki kasihyang tidak cukup. Kesabarannya tipis, pengertiannya buntu, ketenangannyaterganggu, harapannya goyah, pikirannya negatif, semangat kerjanya turundrastis, dan pintu hatinya tertutup. Roh Kudus membimbingnya supayamulai beranjak dari situasi terpuruknya, lalu berjalan ke depan meski terangnyatidak selalu benderang. Ia tentu bertemu dengan sekian banyak orang danmengalami aneka situasi, semuanya menjadi pelajaran baginya. Ia harus terusberjalan menuju kasih. Sedikit demi sedikit ia mulai mengerti bahwa untuksampai kepada Kasih sesungguhnya, melewati banyak rintangan, seperti yangdialami oleh wanita pendosa di dalam Injil. Ia tidak boleh menyerah danberbalik mundur. Targetnya harus berwujud, yaitu mendapatkan kasih itu. Selamaproses ini, perlahan-lahan kasihnya yang dulu sangat lemah berubah menjadisemakin kuat. Santo Paulus berkenan menemanikita ketika proses itu berlangsung, dan khususnya kemudian pada saat tujuan itudicapai. Ketika beban itu sudah terangkat, seperti pengalaman Paulus dan wanitapendosa, kita akan dianugerahkan kasih karunia Allah sehingga hidup kitaberubah. Perubahan itu menurut Santo Paulus ialah bukan kita yang hidup didalam diri kita sendiri, tetapi Yesus-lah yang hidup di dalam kita.Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa ... Ya Tuhan Allah, semoga kasih karunia-Mumenjadi penuh dan menguasai diri kami, sehingga kami mampu mengalahkankelemahan dan dosa kami sendiri. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Nicole Orlincallysta Yacob and Michelle Jordyn Limanta from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. 1 Corinthians 12: 31 - 13: 13; Rs psalm 33: 2-5.12.22; Luke 7: 31-35.DON'T ENJOY INDIFFERENCE The theme for our meditation today is: Don't EnjoyIndifference. The term "indifference" which is common in ourconversations indicate lack of attention, ignorance, or carelessness, that ispart of our natural human weakness. If we are indifferent to our relatives orfriends, for sure this will make them angry or offended. The Lord will also bedisappointed if His people are indifferent of Him. Jesus himself sent by the Father to be the Savior ofthe world, faced the indifference of those around Him. He considered them as ageneration that was indifferent and ignorant. They simply fooled themselvesbecause of their stupidity. The long-promised Messiah who already came and waspresent in their midst, yet they were blind in their hearts, minds and eyes.Therefore, they could not hear him and they rejected Him. They were likechildren who were in joyful moment to play music, but people around were not happyin joining the singing and dancing. They were like children who were mourningand in sadness, but the people around them did not feel sad with them. Indifference is an attitude that shows no response orno sympathy. When you are not being responded to, it is like you are facing astone or a wall. This really hurts you more painful than when you receive anegative answer or response. The answers such as "no" or "sorryI have no time to answer you", are enough for you to understand they arethe negative answers. But if there is no certainty because people areindifferent or having no attention of you, this is precisely an attitude thatis so cruel and it's very contrary to faith. It is true to say that faith really needs response.However Jesus did not find this in those who met and heard Him. He was verydisappointed and He strongly criticized them. This same attitude exists alsowithin our Church and in the relationships between the believers. People areoften indifferent, uncare or insensitive to the advices, suggestions, input orcritics for improvement. This will lead them to repeat the same habits andmistakes that they have been struggling to overcome. If people ignore and donot care about God's Word and His commandments, they will be far from God'sblessings and mercy. Indifference is really against love. When the Lordsays that He is present in the little, poor and sick ones, love demands thatthey should be given care or attention. However, if His followers are ignorantand indifferent, they actually hurt God and insult their neighbors as well. Todaywe are reminded not to be indifferent or careless. Let'spray. In the name of the Father ... O Lord Jesus, make us people who alwayscare and ready to take part in the improvement and development of our lives asYour beloved people. Our Father who art in heaven ... In the name of the Father...

Dibawakan oleh Zita Meita Her Indrati dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. 1 Korintus 12: 31 - 13: 13; Mazmur tg 33: 2-5.12.22; Lukas 7: 31-35.JANGAN KEENAKAN MASA BODOH Tema renungan kita pada hari ini ialah: Jangan Keenakan Masa Bodoh. Istilah“masa bodoh” yang lazim dalam percakapan kita menunjukkan sikap tidak peduli,acuh tak acuh, cuek, tak ada perhatian, tak menghiraukan, menggambarkan sesuatuyang natural di dalam diri kita. Kepada sesama atau saudara sendiri, sikap initentu saja membuat mereka marah atau tersinggung. Tuhan juga akan kecewa jikaumat-Nya masa bodoh terhadap-Nya. Yesus sendiri sebagai utusan Bapa untuk menyelamatkan umat Manusia,menghadapi masa bodoh orang-orang di sekitar-Nya. Ia memandang mereka sebagaiangkatan yang cuek atau yang membodohi dirinya sendiri. Tuhan yang telah lamadijanjikan datang dan hadir tengah-tengah mereka tetapi mereka buta hati danmata, sehingga tidak dapat mendengar-Nya dan menolak Dia. Ia memandang merekaseperti anak-anak yang bersukacita memainkan musik, tapi orang-orang tidak ikutbergembira dalam bernyanyi dan berjoget. Anak-anak yang larut dalam kesedihan,tetapi orang-orang di situ tidak mau ikut berduka. Sikap masa bodoh merupakan sebuah sikap tanpa jawaban dan tanpa simpati.Ketika Anda tidak ditanggapi, Anda seperti menghadapi batu atau tembok. Inilebih menyakitkan daripada mendapatkan jawaban atau tanggapan negatif. Jawabanseperti “tidak” atau “maaf belum sempat”, ialah cukup bagimu untuk mengertisebagai suatu jawaban negatif yang pasti. Tetapi jika tak ada kepastian karenaorang cuek atau masa bodoh terhadapmu, ini justru sebagai sikap yang tak jelas dan sangat berlawanan dengan iman. Padahal iman sangat membutuhkan jawaban. Namun Yesus tidak temukan di dalamorang-orang yang melihat dan mendengarkan Dia. Ia sangat kecewa dan mengecammereka. Sikap yang sama juga terdapat di dalam Gereja dan dalam relasi diantara orang beriman. Sikap cuek, acuh tak acuh atau masa bodoh seringdilakukan terhadap nasihat, anjuran, masukan atau saran untuk perbaikan. Akibatnyaialah orang akan mengulangi lagi kebiasaan dan kesalahan yang sama. Jika orangmengacuhkan dan tidak peduli dengan Sabda Tuhan dan perintah-perintahAllah, mereka akan jauh dari berkat dankemurahan Tuhan. Sikap ini sungguh melawan cinta kasih. Ketika Tuhan mengatakan bahwa Iahadir di dalam orang kecil, miskin dan sakit, cinta kasih menuntut supayamereka wajib diberikan perhatian. Namun jika para pengikut-Nya masa bodoh sajadan tidak peduli, sikap ini tentu sangat menyakitkan Tuhan dan juga menghinasesamanya. Jadi hari ini kita diingatkan untuk tidak masa bodoh. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa ... Ya Tuhan Yesus, buatlah kami para pengikut-Mu orang-orangdengan sikap yang selalu peduli untuk ambil bagian dalam memperbaiki danmengembangkan kehidupan kami sebagai satu umat kesayangan-Mu. Bapa kami yangada di surga ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Yovita Della Herpriyanti and Antonius Fitrianto from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Hebrews 5: 7-9; Rs psalm 31: 2-3a.3b-4.5-6.15-16.20; John 19: 25-27.THE FORGIVING MOTHER The theme for our meditation today is: The ForgivingMother. Today the Church celebrates Our Lady of Sorrows. The Virgin Mary'sexperience of grief was closely related to the suffering of Jesus Christ in theway of the cross. At the time when Jesus underwent the whole process of deathpunishment, He was alone. The apostles left Him, except for His mother and thedisciple He loved so much, John. Mary, the Mother of Jesus and three otherwomen were near at the foot of the cross. There at the foot of the cross, the Virgin Maryexperienced the peak of grief, namely the death of the Son who was born throughher womb. Long before that, when the baby Jesus was offered in the temple,Simeon had predicted that Mary would meet the terrible suffering, a sword thatpierced her heart. Furthermore, she participated in the journey of the crossuntil Jesus' final moment at Calvary. Many members of the Church consider Marya martyr in the spirit. However, Mary did not lose hope and give up because ofthese sorrows and loss. Her sorrows and difficulties were sustained by faith inGod and love for her Son. The sign of her strong faith is her unity with Jesus.Our Lady has the power of forgiveness which is equal to Jesus' power to forgivesinners, and we can see this as Jesus Himsef spoke from the cross:"Father, forgive them because they don't know what they are doing."The Blessed Mother was the witness of this. From the cross, Jesus also mandatedHis mother to adopt all her followers of all generations, and the beloveddisciple, who was with the Virgin Mary, represented them all. So, Mary waswilling to take up the duty to care for all people including those who executedher Son, they too would be forgiven, freed from sins and return to the truth ofGod. Until now, Mary, in her unity with Jesus Christ, feelssad when she sees disciples of her Son fall into sins and try hard to freethemselves from the grip of evil. Any follower of Christ who falls into sinclearly brings pain and sorrows to the body of Christ, which is the holyChurch. If some members of the Church sin and live with evil, they surelyaffect the others. Even though this grieving is hard for us to avoid, Our Ladyfrom her merciful heart asks Jesus Christ to forgive and transform us. Part ofthe Church's prayer "Hail Mary", which goes " Holy Mary, Motherof God, pray for us sinners ..." is the most obvious expression of how OurLady is always there to help us sinners. As we reflect on the sorrows of Our Lady, this shouldremind us not to constantly cause her grief and sadness because we continue tosin anytime in our lives. This is the same as we do not want to constantlycause our own mothers at home sad and grieving because of our bad attitudes andcarelessness.Let'spray. In the name of the Father ... O Lord Jesus Christ, strengthen us toalways have true and enduring devotion to Mary, our mother who always forgives.Hail Mary, full of grace ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Finda Jatiman dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Ibrani 5: 7-9; Mazmur tg 31: 2-3a.3b-4.5-6.15-16.20; Yohanes 19: 25-27.IBU YANG MENGAMPUNI Tema renungan kita pada hari ini ialah: Ibu Yang Mengampuni. Pada hari iniGereja kita memperingati Bunda Maria yang berdukacita. Pengalaman duka Mariasangat berkaitan dengan salib penderitaan Yesus Kristus. Pada waktu menjalanihukuman mati, Yesus sendirian. Para rasul meninggalkan Dia, kecuali ibunda-Nyadan murid yang sangat dikasihi-Nya, Yohanes. Maria, Bunda Yesus dan tiga wanitalainnya berada di dekat salib itu. Di kaki salib itu, Maria mengalami puncak kedukaan yaitu kematian Putrayang lahir dari rahimnya. Jauh sebelumnya ketika bayi Yesus dipersembahkan dibait suci, Simeon telah meramalkan kalau Maria akan menemui penderitaan yangmengerikan, sebilah pedang yang menembus jiwanya. Selanjutnya, ia mengalamipenderitaan bersama Yesus hingga akhirnya di Kalvari. Banyak yang menyebutMaria sebagai seorang martir dalam roh. Tetapi Maria tidak kalah dan menyerahdengan duka dan kehilangan yang dialaminya, karena iman dan harapannya ditopangoleh iman kepada Allah dan kasih kepada Putranya. Sebagai bukti imannya yang begitu kuat, kekuatan pengampunan Bunda Mariasama kualitasnya dengan yang diungkapkan oleh Yesus dari atas salib: Bapa,ampunilah mereka karena mereka tak tahu apa yang mereka perbuat. Dari atassalib juga Yesus memandatkan ibu-Nya untuk mengadopsi semua pengikutnya dari segalazaman, yang diwakili oleh murid yang dikasihi itu. Maka Maria patuh pada tugasitu untuk menerima semua orang, termasuk yang menghukum mati Yesus, agar merekajuga diampuni, disadarkan dan dibawa kembali kepada kebenaran. Sampai dengan saat ini, Bunda Maria dalam persekutuannya dengan YesusKristus masih tetap sedih kalau melihat para murid Yesus jatuh dalam dosa danberusaha keras untuk melepaskan dirinya dari cengkeraman dosa. Ulah mereka itujelas mendatangkan derita dan sakit pada tubuh Kristus, yaitu Gereja ternoda.Jika sebagian anggota Gereja berdosa dan berbuat jahat, tentu sangatmemengaruhi anggota-anggota lainnya. Tetapi lebih dari pada bersedih danberduka, Bunda Maria dari hatinya yang pengampun meminta Yesus Kristus untukmengampuni dan menobatkan mereka. Bagian dari doa “Salam Maria”, “doakanlahkami yang berdosa ini...” adalah ungkapan paling nyata bagaimana Bunda Mariaikut mengampuni kita. Memikirkan Bunda Maria yang berduka, hendaknya langsung menyadarkan kitauntuk tidak terus-menerus membuatnya larut dalam duka karena dosa-dosa kita,sama dengan kita yang tidak ingin terus-menerus membuat ibu kita di rumahbersedih karena kenakalan dan kesembarangan kita. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa ... Ya Tuhan Yesus Kristus, kuatkanlah kami untuk senantiasamempunyai devosi yang benar dan bertahan kepada Bunda Maria, bunda kami jugayang selalu mengampuni. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Madeline Meggie Kurniawan from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Numbers 21: 4-9; Rs psalm 78: 1-2.34-35.36-37.38; Philippians 2: 6-11; John 3: 13-17.RENEWED BY THE CROSS OF CHRIST The theme for our meditation today is: Renewed By theCross of Christ. Today the whole Church celebrates the feast of the Holy Cross.This feast began to be celebrated in Rome around the end of the 7thcentury to commemorate the discovery of the part of the cross of Jesus that waskept in Jerusalem under the Persian rule. Emperor Heraclius discovered it andbrought it from Jerusalem on May 3, 629. What does it mean to be renewed by the cross ofChrist? The Lord Jesus came to unite earth and heaven and then bring those onearth to His glory in heaven. He explained this to Nicodemus, one of the rabbisof the Jews, that He was the "Son of Man" sent by the Father inheaven to restore man's broken relationship with God. The Son of Man is theMessiah in the old testament who came from heaven to build a kingdom on earth. In contrast to the Jewish view, Jesus actually spokeabout the Son of Man being exalted. What does this mean? Jesus was associatedwith Moses who raised a bronze snake in the wilderness to heal those who werebitten by poisonous snakes. The people of Israel were punished for opposingGod. Moses raised the bronze snake on a stake that resembled the cross, fromwhich the people were to return to put their faith in God alone. This connection is to emphasize what Jesus wants toshow us, that through the His death on the cross, He really saved us. But whatJesus did was much greater and more powerful, because what Moses did was onlyto bring temporary results, namely healing of people from snake bites. WhatJesus did was that His death on the cross brought in true victory over sin, satanand death. By dying on the cross, Jesus took away our debt of sin, freed usfrom guilt and punishment. We have new life, a life in abundance in the HolySpirit forever. This renewal means that Jesus' death on the crossshows and teaches us an act of love, namely the total offering of Himself. Hedid this as an offering of His love to the Father and for our redemption. Thisrenewal also describes the resurrection as our experience of having gloriousbodies to enjoy everlasting life and sitting at the right hand of the Father tolive forever. Now He is in heaven to rule and guide our life that stillcontinues here on earth. Our lives here and now are truly blessed by the triumphof the cross of Christ. Let'spray. In the name of the Father ... O Lord Jesus Christ, may our lives asindividuals and a people in Your Kingdom be always illuminated and strengthenedby the mystery of Your holy cross which is a glorious victory for us. Glory tothe Father and to the Son and to the Holy Spirit ... In the name of the Father...

Dibawakan oleh George Surya Kencana dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Bilangan 21: 4-9; Mazmur tg 78: 1-2.34-35.36-37.38; Filipi 2: 6-11; Yohanes 3: 13-17.PEMBARUAN OLEH SALIB KRISTUS Tema renungan kita pada hari ialah: Pembaruan Oleh Salib Kristus. Pada hariini seluruh Gereja merayakan pesta Salib Suci. Pesta ini mulai dirayakan diRoma sekitar akhir abad ke-7 untuk mengenang penemuan sebagian salib Yesus yangdisimpan di Yerusalem di bawah kuasa orang Persia. Emperor Heraklius menemukanitu dan membawanya dari Yerusalem pada tanggal 3 Mei 629. Apakah artinya pembaharuan oleh salib Kristus? Tuhan Yesus datang untukmenyatukan bumi dan surga lalu menaikkan mereka yang ada di bumi kepadakemuliaan di surga. Ia menjelaskan ini kepada Nikodemus, salah seorang rabiorang Yahudi, bahwa Ia adalah “Putra Manusia” diutus Bapa di surga untukmemulihkan hubungan manusia dengan Tuhan yang telah rusak. Putra Manusia ialahMesias dalam perjanjian lama yang datang dari surga untuk membangun sebuahkerajaan di bumi. Berbeda dengan padangan Yahudi, Yesus justru berbicara tentang PutraManusia harus ditinggikan. Maksudnya apa? Ia kaitkan dengan Musa yang menaikkanular tembaga di padang gurun supaya menyembuhkan mereka yang digigit ularberbisa. Umat Israel dihukum Karena melawan Tuhan. Musa menaikkan ular tembagapada sebuah tiang yang menyerupai tiang salib, yang dari sana orang-orang mestikembali menaruh imannya hanya kepada Tuhan. Kaitan ini hendak menekankan yang ingin ditunjuk oleh Yesus kepada kita,bahwa melalui hukuman mati dengan bergantung di salib di Golgota, Ia sungguhmenyelamatkan kita. Tapi yang dibuat oleh Yesus jauh lebih kuat hasilnya,karena yang dilakukan oleh Musa hanya mendatangkan hasil sementara, yaitukesembuhan orang-orang dari gigitan ular. Yang dibuat oleh Yesus ialahkematian-Nya di salib sungguh menghasilkan kemenangan sejati atas dosa, setandan kematian. Dengan wafat-Nya di salib, Yesus menghapus utang dosa kita,membebaskan kita dari kesalahan dan hukuman. Kita mendapatkan hidup baru,kehidupan yang berkelimpahan di dalam Roh Kudus sampai selamanya. Pembaruan itu berarti wafat-Nya Yesus di salib menunjukkan dan mengajarkansuatu tindakan kasih, yaitu pemberian diri-Nya secara total. Ia lakukan itusebagai persembahan kasih-Nya kepada Bapa dan untuk penebusan dan keselamatankita dari dosa. Pembaruan ini juga menjelaskan tentang kebangkitan badan yangmulia untuk menikmati hidup abadi dan duduk di sisi kanan Bapa untuk memerintahsampai selama-lamanya. Kini Ia di surga untuk mengatur dan membimbing hidupkita selanjutnya di sini di dunia ini. Kita hidup saat ini dan di sini sungguhdiberkati oleh kemenangan salib Kristus. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa ... Ya Tuhan Yesus Kristus, semoga hidup kami sebagai pribadidan jemaat senantiasa diterangi dan dikuatkan oleh misteri salib suci-Mu yangmerupakan kemenangan yang mulia bagi kami. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra danRoh Kudus ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Michelle Jordyn Limata, Jeremy Derrel Kijaya, Clayton Yo and Nicole Orlincallysta Yakob from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Sirach 27: 30 - 28: 9; Rs psalm 103: 1-2.3-4.9-10.11-12; Roma 14: 7-9; Matius 18: 21-35.A BIG HEART OF THE FORGIVER Our meditation on this 24th Sunday inordinary time has the theme: A Big Heart of the Forgiver. There was a couple,the husband and his wife, who celebrated the silver anniversary or 25 years ofmarriage and many people joined in to celebrate the party. The two of themdelivered a speech in front of the many people present and it was delivered inthe form of conversation. When one asked, the other was ready to answer. Whenone expressed his or her feeling, the other showed sympathy. If one made asuggestion or criticism, the other was humble to accept it. Of all the moment of that speech, one part which wasmost interesting and got big applause of those present was when they talkedabout each other's mistakes and sincere forgiveness toward each other. Thehusband spoke to his wive as he said in this way: "I have been alwaysforgiving you from the beginning of our marriage, and I will always do thesame." Then the wife also responded by saying the following expression:"I will always forgive you, because I have proven that forgiveness is nota difficult thing to do." The couple has proven that each of them had a bigheart as the forgiver. To be a genuine forgiver, it takes a great faith thatstands on a big heart, which is not given by anyone but God who is merciful.The Book of Sirach in the first reading tells us about how important it is toforgive the sins of our neighbors as a way of our obedience to God'scommandment to forgive. This same commandment is emphasized by Jesus Christwhen he speaks about parables told in today's Gospel. By giving an example offorgiveness, His commandment for us to forgive is a very powerful commandment.Such commandment is the same as the belief that if we are with God we aresaved, but without Him we will perish. For this reason, Saint Paul emphasizesthat our life and death is in God. The Lord Jesus teaches us the significance of a greatheart to forgive, is actually to give us an explicit statement and act offorgiveness. The offenders or those who have sinned against us need to see andto experience that our words and actions are the real forgiveness. Suchforgiveness should not be measured up to a number of times, namely in terms ofquantity, and also quality such as the limit of patience, tiredness, boredom,and surrender. Jesus had recognized this tendency of measuring the limits toforgive in His disciples and all of us. Therefore He emphasizes that a bigheart of the forgiver is the one who does not take into account the limits ofboth quantity and quality. He gives us the symbol of giving forgiveness 70times 7 times. Let'spray. In the name of the Father ... O Lord, make our hearts gentle, that we mayforgive our neighbors without limit. If we are not strong enough to forgive,give us Your Spirit to enable us to forgive. Glory to the Father and to the Sonand to the Holy Spirit ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Maria Ecclesia, Yohanes Don Bosco Subekti, Fatima Hutabarat dan Dhies Sonya dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Sirakh 27: 30 - 28: 9; Mazmur tg 103: 1-2.3-4.9-10.11-12; Roma 14: 7-9; Matius 18: 21-35.JIWA BESAR PENGAMPUN Renungan kita pada hari ini bertema: Jiwa Besar Pengampun. Ada sepasangsuami dan istri yang merayakan 25 tahun perkawinan dan banyak orang ikutmemeriahkan pesta tersebut. Mereka berdua menyampaikan sambutan di hadapanbanyak orang yang hadir dan sambutan itu dibawakan dalam bentuk mengobrol. Padasaat salah satu bertanya, yang lain siap menjawab. Ketika yang satu mencurahkanperasaannya, yang lain menunjukkan simpatinya. Kalau yang satu memberikan saranatau kritik, yang lain terbuka untuk menerimanya. Dari seluruh kesempatan sambutan itu, satu bagian yang mendapatkan aplausdengan tepuk tangan meriah semua hadirin ialah ketika mereka mengobrol tentangkesalahan masing-masing dan saling mengampuni. Suami berkata kepada istribegini: "Saya dari awal selalu mengampunimu, dan saya akan selalumelakukan itu." Sang istri juga menyambut dengan berkata: "Saya jugaakan selalu mengampunimu, karena aku sudah membuktikan bahwa mengampuni adalahbukan hal yang sulit untuk dilakukan." Pasangan itu sudah membuktikan bahwa masing-masingnya memiliki jiwa yangbesar sebagai seorang pengampun. Untuk menjadi seorang pengampun sejati,diperlukan iman yang besar dari sebuah jiwa yang besar, yang tidak diberikanoleh siapa pun kecuali oleh Tuhan yang maha pengampun. Kitab Putra Sirakh didalam bacaan pertama mengatakan tentang betapa pentingnya mengampuni kesalahansesama kita sebagai bentuk ketaatan kita kepada perintah Tuhan untukmengampuni. Perintah yang sama juga ditekankan oleh Yesus Kristus ketikamenguraikan perumpamaan yang dikisahkan di dalam Injil pada hari ini. Dengancara memberikan teladan untuk mengampuni, maka perintah-Nya kepada kita untukmengampuni merupakan suatu perintah yang sangat kuat. Perintah seperti iniadalah sama dengan keyakinan bahwa kalau kita bersama dengan Tuhan kitaselamat, namun tidak bersama Dia kita binasa. Untuk itulah Santo Paulusmenegaskan bahwa hidup dan mati kita di dalam Tuhan. Tuhan Yesus mengajarkan ungkapan jiwa yang besar dalam mengampuni, yaitudengan pernyataan dan tindakan yang sangat eksplisit. Orang yang berlaku jahatperlu melihat dan mengalami kalau kata-kata dan tindakan kita sungguhmengampuni. Pengampunan seperti ini tidak boleh diukur sampai berapa kali yaitusecara kuantitas, dan juga secara kualitas seperti batas kesabaran, kelelahan,kebosanan, dan menyerah. Yesus menangkap kecenderungan pembatasan ini ada padapara murid-Nya dan kita semua. Oleh karena itu, Ia menegaskan bahwa suatu jiwayang besar yang mengampuni ialah yang tidak memperhitungkan batasan baik jumlahmaupun kualitasnya. Hal ini disebutkan-Nya sebagai pengampunan 70 kali 7 kali. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa... Ya Tuhan, lembutkan hati kami supaya kami dapat mengampunitanpa batas. Apabila kami tidak kuat lagi mengampuni, berilah kami Roh-Mu uangmembuat kami mampu. Kemuliaan kepada Bapa ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Kezia Angel and Khezia Andaranu from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. 1 Corinthians 10: 14-22a; Rs psalm 116: 12-13.17-18; Luke 6: 43-49.GOODNESS COMES OUT FROM A GOOD HEART Our meditation today has the theme: Goodness Comes Outfrom a Good Heart. There was a six year old boy who could make his choice totake the gifts given by his father and mother. In a particular moment, both hisfather and mother brought him some gifts. He smiled at his mother and happilyaccepted the gift. Then something different happened when he came to hisfather. He only smiled a little, then he did not take the gift from his father. When he was asked why he did not take his father'sgift, the boy spontaneously said that the father often got angry, andtherefore, for him whatever given by his father was bad. This child certainlythought that what his father had done was a kind of bad fruit as taught by theLord Jesus Christ. The sign of good fruit is shown when a disciple of Christbrings out what is good from his heart to be the goodness that we can sharetogether. Jesus describes that people do not pick figs from thornbushes, nor dothey gather grapes from brambles. So, we can understand this, that the evilperson brings out of him or her the evil words and deeds. On the other hand,the good person brings out good words and deeds. Let us see one of the cases we have today. People usesocial media to express what their hearts and minds say, such as to spreadlove, to build brotherhood, to strengthen fellowships and to share knowledge.Some people use it to help in their works or to run a business. But some otheractually use it for negative gains such as to slander, to provoke violence, to expressanger and hatred, to spread lies, to corrupt and to do drugs transaction. We can generally distinguish two groups of people onhow they use the social media, namely those who treasure anger, hatred,jealousy and envy in their hearts so that what they reveal through media is allevil things. This really causes trouble and fear. The other group is those whocreate peace and want to live in love that unites people together. They inspireoptimism for a better life for all people and the world. Saint Paul gives us a suggestion for dealing with thisproblem, namely that those who bear good fruits through words and deeds,continue show good examples. They have to avoid laziness, boredom and failureto give true and good influence, including in the use of social media. The moregood influences, the better life is. Let'spray. In the name of the Father ... Almighty Father, fill us with Your gracesso that we may always produce in us and in the world good fruits through ourwords and actions. Hail Mary, full of grace... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Rica Yolanda dan Patrick Mario dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. 1 Korintus 10: 14-22a; Mazmur tg 116: 12-13.17-18; Lukas 6: 43-49.KEBAIKAN KELUAR DARI HATI YANG BAIK Renungan kita pada hari ini bertema: Kebaikan Keluar Dari Hati Yang Baik.Seorang bocah berusia enam tahun dapat menentukan pilihannya terhadap pemberianbapak dan ibunya. Pernah pada suatu kali, baik bapak maupun ibunya memberikandia oleh-oleh. Ia tersenyum pada ibunya dan dengan gembira menerima hadiahtersebut. Kemudian terjadi hal yang berbeda ketika ia datang kepada bapaknya.Ia hanya tersenyum sedikit, kemudian ia tidak mengambil hadiah dari bapaknyaitu. Ketika ia ditanya alasan ia tidak mengambil oleh-oleh dari bapaknya, bocahitu dengan polos mengatakan bahwa bapak sering marah-marah, sehingga baginyaoleh-oleh itu pasti tidak baik baginya. Anak ini tentu menganggap bahwa apayang diperbuat bapaknya adalah buah yang tidak baik seperti yang diajarkan olehYesus Kristus. Tanda buah yang baik ialah kalau seorang murid Kristusmengeluarkan yang baik dari hatinya yang baik. Yesus menggambarkan, dari semakduri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri orang tidak memetik buahanggur. Jadi kita dapat memahaminya, bahwa orang jahat mengeluarkan daridirinya kejahatan kata-kata dan tindakannya. Demikian sebaliknya, orang baikmengeluarkan dari dirinya kata-kata dan tindakan yang baik. Kita mengambil satu contoh kasus dalam hidup kita saat ini. Orang-orangmenggunakan media sosial untuk mengungkapkan isi hati dan pikirannya yangmenyebarkan kasih, menjalin persaudaraan, memperkuat persekutuan dan berbagipengetahuan. Sebagian orang memanfaatkannya untuk membatu pekerjaan danmenjalankan bisnis. Tapi sebagian orang yang lain justru menggunakan untukhal-hal destruktif, seperti fitnah, provokasi kekerasan, menyatakan marah danbenci, menyebarkan kebohongan, korupsi dan narkoba. Kita dapat membedakan secara umum dua kelompok orang melalui penggunaanmedia sosial ini, yaitu mereka yang menyimpan amarah, benci, iri dan dengkidalam hati sehingga yang terungkap dalam komunikasi media adalah semua hal yangjahat. Ini sungguh mengerikan dan meneror. Kelompok yang lain adalah merekayang cinta damai dan mau hidup dalam cinta kasih. Mereka menginspirasioptimisme agar hidup bersama kita menjadi lebih baik. Santo Paulus memberikan satu usulan untuk menghadapi persoalan ini, yaitusupaya mereka yang berbuah baik, tetap saja memberikan contoh-contoh yang baik.Mereka perlu menghindari kemalasan, kebosanan dan kegagalan dalam memberikanpengaruh yang baik, termasuk dalam penggunaan media sosial. Semakin banyakpengaruh yang baik, semakin baik pula hidup ini.Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa ... Ya Bapa maha baik, penuhilah kami dengan rahmat dankarunia-Mu supaya kami senantiasa menghasilkan dalam diri kami buah-buah yangbaik melalui kata dan tindakan kami. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam namaBapa ...

Delivered by May Ann Rodrigo and Ekatia from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. 1 Corinthians 9: 16-19.22b-27; Rs psalm 84: 3.4.5-6.12; Luke 6: 39-42.THE END JUSTIFIES THE WAY The theme for our meditation today is: The EndJustifies the Way. There was a leadership training for a group of Catholicyouth held in a remote village. Part of this training was to travel to the topof the hill about 8 kilometers away. The participants were required to walkfrom the middle of the village to the top of the hill, by choosing variousalternative roads. The one who reached the top first will be given a gift thathas been prepared for the winner. It turned out that there was something happened thatmade this training activity less impressive and meaningful. Some of theparticipants cheated. They rented motorbike taxis to bring them to the top ofthe hill. Then they declared themselves the winners, and they thought thattheir cheating was unnoticed to anyone. In fact there were unknown eyewitnesses, who testified that they were not the winners. The real winners werethose who walked, who reached the goal as number one, two, three and so on. The winners who cheated were those who justified theways to achieve the end. However, according to the training rules, the ways ormeans were already determined to achieve the goal. So the participants shouldobey the rules, namely walking to the destination at the top of the hill thathad been agreed upon. The principle which we are familiar with, namely the end requiresthe just and proper way, or the appropriate means used to achieve the goalshould be observed. The Word of God today teaches us to always obey therules that we accept as our common standard for our lives, namely the goal thatneeds the just or proper ways or means already established in order to achievethe desired goal. The Lord Jesus affirms on how the blind man guides anotherblind man that will never arrive at the destination. The way a student achievesa goal by not following or imitating his teacher is not the right way. Thehypocrisy style in solving problems by only blaming others and withoutcorrecting oneself is not the right way to do. Likewise, Saint Paul teaches us through his firstletter to the Corinthians, that in doing God's will, we must follow God's way,namely the way of the Lord Jesus Christ. We can't make up or enforce our ownwill. Saint Paul completed the mission of God by preaching the gospel, untilthe end of his life. We should also complete our duties and callings in thisworld by following the path of the Lord Jesus Christ. Whoever does not use theway of the Lord, will go astray and will not reach the destination. Let'spray. In the name of the Father ... O Almighty God, strengthen and lead us sothat we do not get lost in our way of life, but always follow Your true path toachieve salvation. Our Father who art in heaven ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh May Ann Rodrigo dan Ekatia dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. 1 Korintus 9: 16-19.22b-27; Mazmur tg 84: 3.4.5-6.12; Lukas 6: 39-42.TUJUAN MEMBENARKAN CARA Tema renungan kita pada hari iniialah: Tujuan Membenarkan Cara. Pernah ada pelatihan kepemimpinan bagi orangmuda Katolik yang diadakan di daerah pedesaan. Latihannya ialah melakukanperjalanan ke puncak bukit yang berjarak sekitar 4 kilometer. Peserta diwajibkanberjalan kaki dari tengah kampung menuju ke puncak bukit, dengan memilihberbagai jalan alternatif. Yang lebih dahulu mencapai puncak akan diberikanhadiah yang sudah disiapkan baginya. Ternyata ada yang membuatkegiatan pelatihan ini menjadi kurang berkesan baik. Beberapa peserta berbuatcurang. Mereka menyewa ojek sepeda motor agar dapat membawa mereka mencapaipuncak bukit. Lalu mereka menyatakan diri sebagai pemenang, dan mereka berpikirbahwa kecurangan mereka tidak diketahui siapa pun. Ternyata ada saksi mata yangtidak diketahui, yang mengklaim bahwa mereka bukanlah pemenangnya. Parapemenang sesungguhnya ialah mereka yang berjalan kaki, yang mencapai tujuansebagai nomor satu, dua, tiga dan seterusnya. Para pemenang yang curang tadiadalah mereka yang menghalalkan cara demi mencapai tujuan. Padahal menurutaturan pelatihan itu, untuk mencapai tujuan caranya sudah ditentukan. Jadi parapeserta seharusnya patuh kepada aturan itu, yaitu berjalan kaki sampai ketujuan di puncak bukit yang sudah disepakati. Maka di sini berlaku prinsip yangsudah kita kenal bersama, yaitu tujuan mensyaratkan cara yang benar dan yangdiminta, atau cara yang sesuai untuk mencapai tujuan. Firman Tuhan pada hari inimengajarkan kita untuk senantiasa patuh kepada aturan yang selalu kita sepakatibersama, yaitu tujuan memerlukan cara yang benar, atau cara yang disepakati danditetapkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Tuhan Yesus menegaskan bahwacara orang buta membimbing orang buta tidak mungkin akan mencapai tujuan. Caraseorang murid mencapai tujuan dengan tidak mengikuti atau meneladani gurunyaadalah cara yang tidak benar. Sikap munafik dalam menyelesaikan masalah denganhanya menyalahkan orang lain dan tanpa mengoreksi diri sendiri, adalah sikapyang tidak benar. Demikian juga Santo Paulusmengajarkan kita melalui suratnya kepada jemaat di Korintus, bahwa kitamelakukan kehendak Allah memang harus mengikut jalannya Allah, yaitu jalanTuhan Yesus Kristus. Kita tidak bisa mengarang-ngarang atau memaksakan kehendakkita sendiri. Paulus menuntaskan perutusan dari Tuhan dengan memberitakanInjil, sampai akhir hidupnya. Kita juga hendaknya menuntaskan tugas danpanggilan kita di dunia ini dengan mengikuti jalannya Tuhan Yesus Kristus.Barang siapa yang tidak memakai jalan atau cara yang dikehendaki Tuhan, ia akantersesat dan tidak sampai tujuan. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa ... Ya Allah mahamurah, kuatkanlah kami supayakami tidak tersesat di dalam jalan hidup kami, tetapi selalu mengikuti jalan-Muyang pasti untuk mencapai keselamatan. Bapa kami yang ada di surga ... Dalamnama Bapa ...

Delivered by Albert Ben Bachtiar from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. 1 Corinthians 8: 1b-7.11-13; Rs psalm 139: 1-3.13-14ab.23-24; Luke 6: 27-38.LOVE PERFECTS KNOWLEDGE Our meditation today has the theme: Love Perfects Knowledge. There was a young man whohad just graduated from a well-known university and he was major in animalhusbandry. He has not found a job yet, so he spent his free times to help hisfather and mother working to raise cows and buffaloes in the family farm.During first three days he accompanied his parents to the farm, however, afterthat he then spent the rest of days sat in the shade and watched his parentsworking from distance. "I understand the animals, but I can't afford towork following the herd of cows and buffaloes wherever they graze,"replied the young man when asked by someone passing by. Then when both parentswere also asked by the same person about their son who has just graduated fromuniversity with the specialization in animal husbandry, the answer given wasthe following: "If animals are cared for only with knowledge from school,they will quickly disappear and die." To raise cows and buffaloes by following andaccompanying them wherever they graze in the pasture designated for them is anoble task. Jesus Christ explained often in the Gospels about the Good Shepherdwho has so great love for the flock. This love is manifested in the shepherd'sdeeds of caring and support them. The duties shown through his involvement,intervention, accompaniment, animation, teaching, and many efforts aim totransform their lives. We should say also that knowledge that we have can becomeperfect only when it is manifested in practice and in reality of life. Saint John Chrysostom was a man of the Church, abishop and doctor of the Church, who had excellence both in theory andpractice. In one of his famous sermons, he said that "Love has one of themost important tasks, which is to perfect the knowledge that we have."Because knowledge is generally only a theory or reflection, through the act ofloving kindness, knowledge can be expressed into actions. And also Saint Paulwarned strongly that if a man relies only on knowledge, he is prone to fallinginto pride. Love is so needed in order to control or even to eliminate pride. The key words from Jesus Christ on the love thatperfects knowledge is the following: "Be generous as your Father isgenerous and perfect". This generosity will enable educated,knowledgeable, intelligent and competent people to drive the wheels of our lifethat will reach progress in all aspects of our lives.Let'spray. In the name of the Father ... O most loving God, make us always generouslike You who are ever generous, so that we may contribute to renew the world.Hail Mary, full of grace... In name of the Father ...

Dibawakan oleh Vita Jumiyati dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. 1 Korintus 8: 1b-7.11-13; Mazmur tg 139: 1-3.13-14ab.23-24; Lukas 6: 27-38.KASIH MENYEMPURNAKAN PENGETAHUAN Renungan kita pada hari inibertema: Kasih Menyempurnakan Pengetahuan. Ada seorang pemuda baru saja luluspendidikan Ilmu peternakan di Universitas ternama. Ia belum mendapatkanpekerjaan, sehingga mengisi waktu untuk membantu ayah dan ibunya yang bermata-pencahariansebagai peternak sapi dan kerbau di kampung. Tiga hari pertama ia menemaniorang tuanya beternak, tetapi setelah itu ia duduk saja di tempat rindang danmemandang dari kejauhan orang tuanya menggembala. “Saya mengerti tentangpeternakan, namun saya tidak sanggup bekerja mengikuti kawanan sapi dan kerbauke mana saja mereka merumput”, jawab pemuda itu ketika ditanya oleh seseorangyang lewat di situ. Kemudian ketika kedua orang tuanya ditanya oleh orang yangsama, apakah perbuatan anaknya yang baru lulus kuliah itu cukup dianggap wajaratau tidak, jawabannya ialah: “Kalau hewan piaraan digembalakan hanya denganpengetahuan dari bangku sekolah, hewan-hewan pasti cepat hilang dan mati.” Menggembalakan ternak denganmengikuti dan menemani ke mana saja mereka merumput, atau di lapangan rumputyang ditentukan oleh penggembala, adalah suatu tugas yang mulia. Yesus Kristusmenjelaskan panjang lebar di dalam Injil tentang Gembala Yang Baik, yangkeunggulannya ialah cinta kasih. Kemampuan cinta kasih terletak padasikap-sikap yang konkret dan praktis seperti keterlibatan, campur tangan,menemani, mendampingi, mengajar, dan membaharui. Dengan demikian, pengetahuanyang sudah dimiliki, menjadi sempurna karena diwujudkan di dalam praktek hidupyang nyata. Santo Yohanes Krisostomus adalahseorang pejabat Gereja yang memiliki keunggulan dalam teori dan praktek. Dalamsatu kotbahnya yang terkenal, ia berkata bahwa “Cinta kasih mempunyai salahsatu tugas yang penting, yaitu untuk menyempurnakan pengetahuan yang kitamiliki”. Karena pengetahuan itu umumnya baru sebatas teori atau refleksi, makamelalui perbuatan cinta kasih itu, pengetahuan dapat diungkapkan menjadiperbuatan. Bahkan Santo Paulus dengan keras mengingatkan bahwa kalau manusiahanya mengandalkan pengetahuan, ia gampang jatuh di dalam kesombongan. Cintakasih sangat diperlukan supaya kecenderugan kesombongan itu dapat dikontrol dandihilangkan. Kalimat kunci dari Yesus Kristustentang cinta kasih untuk menyempurnakan pengetahuan ialah: “Hendaklah kalianmurah hati sebagaimana Bapamu murah hati adanya”. Kemurahan hati itu akanmembuat orang-orang terdidik, berpengetahuan, berintelek, dan berkompeten dapatmenjadi penggerak roda kehidupan kita untuk dapat berputar menuju kemajuan yangberadab. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan Allah, jadikanlah kami selaluorang-orang yang bermurah hati seperti Engkau, sehingga kami dapat ikutmembaharui dunia ini. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Rachel Dermawan Permadi and Madeline Meggie Kurniawan from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. 1 Corinthians 7: 25-31; Rs psalm 45: 11-12.14-17; Luke 6: 20-26.THE WORLD OF A MORINGA LEAF The theme for our meditation today is: The World of aMoringa Leaf. This statement of thetheme is an allegory. The world is so big, which is seen from the four poles isbeing redesigned as big as a moringa leaf. We know that a moringa leaf is asbig as the surface of the fingers of our hands. Looking at the world as big asa moringa leaf, it is clear that this style of expression wants to reveal someparticular meanings in our behavior and our life in general. Based on the fact that people walk or move fast andtowards many directions, with the frequency of encounter between persons thatis so big in different context or situation, we somehow feel that this world isso small. For example, it was around 10 am, there were two or several peoplemeeting somewhere in the corner of the city, then at 12:00 they met again in anothercorner of the city in a different context of business. For them the world istoo small, it's like a moringa leaf. In another point of view, the world like a moringa leafis an expression to signify the type of human attitude that is humble andinsignificant in the face of the real world which is very large and speed inits development. There is a religious discipline that teaches and guidesbelievers to live simple, to live this life with self-denial towards thesplendor and riches of this world, and even a life that does not belong to thisworld. This spirituality teaches that the lifestyle offollowing Jesus Christ is to have a small world like a moringa leaf. Thisteaching guides the believers to be pleased with what is given by God, which isin accordance with the abilities of our human nature. This teaching isemphasized again by Saint Paul in his first letter to the Corinthians, as hesaid that they who believe are those who are “using the world as not using it fully, for the world in its presentform is passing away." God's power and grace are sufficient for us to liveour lives in this passing world. If we please with our fellow brothers and sistersaround us to be who they are and with what we have for our daily sustenance,all are according to the standard of the world, this is normally regarded aspoor and humble life. But Jesus strengthens our faith by saying that this styleof life is a happiness, and the kingdom of God is our real treasure. Thislifestyle seems to indicate there are hunger, sadness, suffering, distress orfeeling useless that we should endure, but the Lord Jesus emphasizes that thisway of life really brings us happiness both here on earth and after. So theworld as big as a moringa leaf is the path to happiness. Let'spray. In the name of the Father ... O merciful God, make us Your children whoare humble and full of generosity, so that we can be more open in sharing withothers. Our Father who art in heaven... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Madeline Meggie Kurniawan dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. 1 Korintus 7: 25-31; Mazmur tg 45: 11-12.14-17; Lukas 6: 20-26.DUNIA DAUN KELOR Tema renungan kita pada hari iniialah: Dunia Daun Kelor. Pernyataan tema ini adalah sebuah kiasan. Dunia yangbegitu besar, yang dipandang dari ke-empat kutubnya hanya dianggap sebesar daunkelor. Kita tahu bahwa daun kelor itu sebesar ujung permukaan jari-jari tanganmanusia. Memandang dunia sebesar daun kelor, jelas sebagai sebuah gaya bahasauntuk mengungkapkan suatu makna tertentu dalam hidup dan tingkah laku manusia. Karena orang-orang bergerak begitu beragam dan cepat, lalu ditambah dengan frekwensipertemuan satu sama lain yang banyak dalam satu konteks tertentu, dunia initerasa beigtu kecil. Misalnya pada jam 10 pagi, ada dua atau beberapa orangbertemu di suatu tempat di sudut kota, lalu pada jam 12:00 mereka bertemu lagidi salah satu sudut kota lainnya dalam sebuah konteks urusan yang lain. Bagimereka dunia itu terlalu kecil, bagaikan daun kelor. Dalam sudut pandang yang lain,dunia seperti daun kelor itu merupakan suatu ungkapan untuk menunjuk pada sikapmanusia yang minimalis terhadap kenyataan dunia yang amat besar dan beragampengaruhnya. Ada sebuah disiplin religius yang mengajarkan dan menganimasimanusia untuk hidup sederhana, hidup dengan suatu penyangkalan atas kemegahandan kekayaan dunia ini, bahkan suatu hidup yang tidak melekat dengan dunia ini. Di dalam jalan untuk mengikutiYesus Kristus, ajaran spiritualitas ini sungguh ingin menjadikan dunia itukecil seperti daun kelor. Ajarannya membimbing orang-orang beriman supayamencukupkan diri dengan apa yang dikaruniakan oleh Tuhan, yang sesuai denganbatas kemampuan sebagai manusia. Ajaran seperti ini ditekankan kembali olehSanto Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, ketika iaberkata: “Orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah samasekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia ini seperti yang kita kenal sekarangakan berlalu.” Rahmat dan karunia Tuhan cukup bagi kita untuk bertahan di dunia ini. Jika kita mencukupkan diri kitadengan siapa yang ada di sekitar kitasecara nyata, dan apa yang dapat memberikan jaminan bagi kelangsungan hidupharian kita, menurut pandangan dunia, ini adalah sebuah kesederhanaan dankemiskinan. Tetapi Yesus menguatkan iman kita dengan mengatakan bahwa hidupseperti ini adalah sebuah kebahagiaan, dan kerajaan Allah adalah harta milikkita yang sesungguhnya. Tampaknya ini menunjukkan kelaparan, kesedihan,kekurangan, bahkan dianggap tidak laku atau tidak berguna, tetapi Tuhan Yesusmenegaskan bahwa cara hidup seperti ini sungguh menghadirkan kebahagiaan. Jadidunia daun kelor adalah jalan untuk kebahagiaan kita. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa ... Ya Tuhan yang maha murah, jadikanlah kamianak-anak-Mu yang rendah hati dan penuh kemurahan, supaya kami menjadi lebihterbuka dalam berbagi kepada orang lain. Bapa kami yang ada di surga ... Dalamnama Bapa ...

Delivered by Heny Yap from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Romans 8: 28-30; Rs psalm 13: 6ab.6cd; Matthew 1: 1-16.18-23.A SPECIAL NATIVITY The theme for meditation today is: A Special Nativity.The Catholic Church celebrates today the feast of the nativity of Our BlessedMother, the Virgin Mary. This celebration has a long tradition on howChristians gave their respect and devotion to Mary. We who celebrate thistoday, want to ponder the mystery of her birth and to know the story line ofher families. At the beginning of the Gospel of Matthew, there is an accountabout Mary who gave birth to Jesus, and Joseph as the legal adoptive Father ofJesus, descended from the family of the King David. The very first reason we celebrate the Virgin Mary'sbirthday is because she is associated with Jesus Christ. It is reasonable andwell acceptable that if Jesus is indeed a glorious Lord, the Son of God and theRedeemer of mankind, then the mother who had conceived and had given birth toHim must also be noble and holy woman. If the birth of the Son of God, JesusChrist, has been greatly believed and remembered throughout the ages, then thebirth of His mother must also have the same honor and best memory from all thebelievers. There is another reason which is in relation with hervery particular gift from God, that the Virgin Mary is full of grace. If thefullness of grace had been established by God from the first moment of herconception, and therefore, Mary was immaculate from her mother Anna's womb,then the following stages such us during 9 months of life in the womb and thenthe actual birth itself, Mary was also full of grace. We celebrate the gloriousbirth of Our Lady today is to mark the continuation of giving honor to the Lordfor what had happened to Mary by the divine intervention, namely her conceptionthat was immaculate or free from the original sin. This special nativity of Mary indeed reminds us of anumber of special births as narrated in the scriptures. We mention just threeof them that happened before Mary herself. Isaac was born to Abraham and Sarahwho were already very old to have a child. God is understood to have make theoffsprings of mankind with a very special way. In the book of Judges chapter13, it tells the story of Samson who was born especially because God hadplanned to help the Israelites through the role that Samson would undertake.Then the prophet Isaiah confessed that he had been formed by God from the timehe was in his mother's womb (Is 49.5). These all illustrate that a specialbirth must be through God's work and with God's decisive will. For us Christians, our participation and being adoptedsons and daughters of God through the Lord Jesus Christ really make us special.This means that each of our birth into the world is also special. It isimpossible to think of a person born special and gifted with divine grace, buthe or she was not in connection with the Lord who is the source of all graces.We were actually born special, because God gave us also special calling foreach to be realized in life. Let'spray. In the name of the Father ... O most loving God, may with this specialfeast of the nativity of Virgin Mary, we will become more faithful children ofOur Lady following the example Jesus Christ, our Lord and savior. Glory to theFather and to the Son and to the Holy Spirit ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Yohanes Don Bosco Subekti dan Maria Ecclesia dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Roma 8: 28-30; Mazmur tg 13: 6ab.6cd; Matius 1: 1-16.18-23.KELAHIRAN YANG SPESIAL Tema renungan kita pada hari iniialah: Kelahiran Yang Spesial. Seluruh Gereja Katolik merayakan pesta kelahiranBunda Maria pada hari ini. Perayaan ini punya tradisi panjang dalam memberikanpenghormatan kepada Maria. Kita ingin mengenangkan kelahirannya dan mengenalgaris keturunannya. Di awal Injil Matius, adalah sebuah kesimpulan bahwa Mariayang melahirkan Yesus dan Yosef sebagai Bapak angkat sah Yesus, adalah keturuanDaud. Alasan paling pertama kitapestakan hari kelahiran Bunda Maria ialah karena ia dikaitkan dengan YesusKristus. Pikiran logis yang secara umum bisa kita terima ialah kalau memangYesus itu Tuhan yang mulia, Anak Allah, dan Penebus manusia, maka ibu yang melahirkanDia juga mesti seorang pribadi yang suci dan mulia. Jika kelahiran Putra Allah,Yesus Kristus, sangat dimeriahkan dan dikenang sepanjang zaman, maka kelahiranibunda-Nya juga mesti mendapat suatu kemeriahan dan kenangan yang sama. Alasan lain ialah menyangkutstatus Bunda Maria sebagia manusia yang penuh rahmat. Kalau kepenuhkan rahmatitu sudah ditetapkan Allah sejak pembuahan pertama di dalam rahim ibunya, ataulebih tepatnya terkandungnya Maria yang tanpa dosa di dalam rahim bundanya,Anna, maka proses berikutnya seperti berada di dalam kandungan selama 9 bulandan kemudian kelahiran juga penuh dengan rahmat. Kita merayakan kelahiran yangmulia Bunda Maria pada hari ini adalah sebagai perayaan kelanjutan peristiwayang penting terjadi pada dirinya, yaitu ia dikandung tanpa nosa dosa asal. Kalahiran yang spesial inimengingatkan kita pada sejumlah kelahiran juga spesial seperti yang dikisahkandalam kitab suci. Kita menyebutkan cukup tiga, sebelum Bunda Maria. Isakdilahirkan dari Abraham dan Sarah yang sudah lanjut usianya. Allah membuat keturunanitu amat spesial. Di dalam kitab hakim-hakim bab 13, dikisahkan tentang Simsonyang dilahirkan secara spesial karena Allah sudah merencanakan untuk memberikanpertolongan kepada bangsa Israel melalui peran yang akan diambil oleh Simson.Kemudian nabi Yesaya menyatakan dirinya bahwa ia sudah dibentuk spesial olehAllah sejak di dalam kandungan ibunya (49,5). Ini semua menggambarkan bahwasuatu kelahiran spesial harus merupakan pekerjaan Tuhan, kehendak Tuhan yangmenentukan. Bagi kita, partisipasi dandi-adopsinya kita menjadi putra-putri Allah melalui Yesus Kristus, jelasmembuat pribadi kita spesial. Ini berarti kelahiran kita juga spesial. Tidakmungkin satu pribadi dibuat spesial, sementara kelahirannya ke dunia luput dariperhitungan. Kita sebenarnya dilahirkan spesial, karena Tuhan juga memberikankita masing-masing panggilan hidup yang spesial. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa ... Ya Allah, semoga dengan Pesta kelahiran yangistimewa ini kami semakin bertumbuh menjadi anak-anak Bunda Maria yang setiaseperti Yesus Kristus, Tuhan kami. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan RohKudus ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Margareth Eviani and Wilhelma Nadya Kristianna from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. 1 Corinthians 5: 1-8; Rs psalm 5: 5-6.7.12; Luke 6: 6-11.BECAUSE OF THE SABBATH The theme for our meditation today is: Because of theSabbath. In the theory of psychology of communication there are two opposingsystems on how people engage in communication, namely centripetal andcentrifugal. When something that is used or spoken that cause people to moveaway from one another physically and in understanding or thought, it is calledcentrifugal system of communication. Whereas the instruments used or somethingbeing discussed that bring people to come together and create togetherness, thisis called centripetal system of communication. We can use this perspective also when we think andspeak about the Sabbath day which became a source of conflict in the work ofJesus Christ among His own people Israel. For the Pharisees and the scribes,the concept and observance of the Sabbath day itself was centripetal. They wereso united as the Sabbath was seen as the most powerful law and must be strictlyobserved. On the other hand, when their concept and honor for the Sabbath wasbeing confronted with Jesus Christ, the reality became centrifugal. Jesus could not sit together and befriend them on thebasis of this particular point. From the spiritual view point, there was a biggap between them and Jesus. Likewise from the social and physical view points,there was a very strong conflict between them and ultimately culminated in thedeath sentence put upon Jesus Christ because he was accused for desecrating theSabbath day. Because of that Sabbath, a line was drawn to separate the Jewishreligion on the one side, and Jesus Christ with His mission for establishingthe kingdom of God on earth on the other. Because of that Sabbath, we who arechosen to be members of this Kingdom, do not live our faith under the light ofhuman laws, but we are guided by the Law of the Lord Jesus Christ, namely thelaw of love. The Sabbath law had a very worldly motivation. Therewas indeed a hidden mafia conspiracy made by people who wanted to politicizereligion for their temporal gains only. But we as the followers of Christ havefaith in God, that we do not worship the Lord based of human desires ortemporal motivation. We the followers of Christ are always taught to havefaithfulness and commitment to become persons who are growing more andmore in loving God and loving neighborswith all our hearts and minds. If a follower of Christ loves God with all his heart,then his acts of worship are surely become integral part of that love. If heloves others with all his sincerity and generous heart, then this act of lovebecomes a concrete and living worship to the Lord. He becomes a new person, whois not bound by the old yeast, but the new leaven of all goodness and truth.Let'spray. In the name of the Father ... O most loving God, with the help of Yourword, may we be more faithful to You in our words and deeds. Hail Mary, full ofgrace ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Margareth Eviani dan Wilhelma Nadya Kristianna dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. 1 Korintus 5: 1-8; Mazmur tg 5: 5-6.7.12; Lukas 6: 6-11.GARA-GARA HARI SABAT Tema renungan kita pada hari iniialah: Gara-Gara Hari Sabat. Dalam teori psikologi komunikasi ada dua istilahyang berlawanan, yaitu sentripetal dan sentrifugal. Jika suatu hal yang dipakaiatau dibicarakan menjauhkan seorang dengan sesamanya baik secara fisik maupundalam pemahaman dan pemikiran, hal itu dinamakan sentrifugal. Sedangkaninstrumen yang dipakai atau hal yang dibicarakan itu menarik orang-orang untukberkumpul dan menciptakan kebersamaan, hal itu namakan sentripetal. Cara pandang seperti ini dapatkita pakai juga dalam memahami dan menghayati hari Sabat, yang menjadi salahsatu sumber konflik dalam karya Yesus Kristus di tengah orang-orangsebangsa-Nya, Israel. Terhadap konsep dan penghayatan hari Sabat itu sendiri, bagikaum farisi dan para ahli Taurat, itu merupakan sentripetal. Mereka tampaksangat kompak kalau hari Sabat itu dipandang sebagai sebuah aturan yang sudahbaku dan harus diikuti secara ketat. Sebaliknya, ketika konsep dan penghayatanmereka tentang hari Sabat dihadapkan dengan Yesus Kristus, kenyataannya menjadisentrifugal. Yesus tidak mungkin bersatudengan mereka dalam satu hal ini. Secara rohani mereka jauh satu sama lain,demikian juga secara jasmani terjadi suatu konflik sangat tajam dan akhirnyamemuncak pada hukuman mati kepada Yesus. Gara-gara hari Sabat itu, garis pembatastelah dibuat untuk memisahkan antara kaum lawan dengan institusi agamanya disatu pihak, Yesus Kristus dengan misi pendirian Kerajaan Allah di bumi di pihaklainnya. Gara-gara hari Sabat itu, kita yang terpilih untuk berada dalamnaungan Kerajaan-Nya Yesus, mendasarkan hidup iman kita bukan di atas hukummanusia dan adat istiadat warisan orang-orang yang tidak taat kepada Allah,tetapi di atas jalan Tuhan Yesus Kristus yaitu cinta kasih. Hukum hari Sabat memilikimotivasi yang sangat duniawi karena ada mafia dan persekongkolan orang-orangyang ingin memolitisasi agama, supaya mendapatkan keuntungan dari parapenganutnya. Tetapi para pengikut Kristus memiliki kesetiaan kepada Tuhan bukanberdasarkan hari-hari dan saat-saat beribadat. Mereka menunjukkan kesetiaan dankomitmen imannya dengan menjadi pribadi-pribadi yang semakin mantap dalammengasihi Tuhan dan mengasihi sesamanya dengan segenap hatinya. Kalau seorang pengikut Kristusmengasihi Tuhan dengan segenap hati, maka peribadatanya menjadi bagian daricinta kasihnya itu. Kalau ia mengasihi sesama dengan segenap hati, maka setiaptindakan kasih kepada sesama itu adalah sebuah ibadatnya yang konkret danhidup. Ia hidup sebagai manusia baru, yang tidak dibelenggu oleh ragi yanglama, tetapi ragi kemurnian dan kebenaran. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah, dengan bantuan firman-Mu semoga kamisemakin setia kepada-Mu, khususnya dalam semangat pembaruan diri kamiterus-menerus menuju kesempurnaan. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam namaBapa ...

Delivered by Oscar Hadisandjaja, Gracia Meirissa, Antonius Fitrianto, and Bernadetta Lembayung Hapsari from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Ezekiel 33: 7-9; Rs psalm 95: 1-2.6-7.8-9; Romans 13: 8-10; Matius 18: 15-20.ONE IN LOVE The theme for our meditation today is: One in Love. Ina family room, gathered all the family members: they were father, mother andtheir three teenage children. There were also two cousins who joined them.They had a play which is commonly known as to deliver the correct message,which is received by guessing the gesture being played by the one has firstreceived the message. The message started from the father of the family whoreceived a written message from someone about an event or an animal. Hedelivered that message by showing his gestures to his wife and the other familymembers—who were standing with their backs to the person delivering themessage—followed suit one by one. We can imagine how complicated and difficultit is to receive a message and deliver it correctly and properly. According to one of the children, it is normal to havedifficulty in receiving messages and passing them to others. There are alwaysdifferences of opinion and misunderstanding that happen among us in the family,community, church and society. However, it is true to say that God neverdisagrees with us and creates conflict with us. He surely enlightens and guidesus with His words, but on our side, we normally have limited understanding thatcauses disagreement and conflict among us. The owner of the Word is only one, namely the God. TheWord conceives one main teaching, namely the law of love, which is the subjectfor all other teachings, rules, exhortations and reflections. Saint Paul, whowas inspired by the teaching of Jesus Christ, says that all the teachings aboutgoodness and truth of God are summed up in the main law, which is love forothers as we love ourselves. One of the main functions of love is to unite. Thosewho act in the name of love through sacrifices and hard works but do not buildunity, do not love in its true sense. An act of love is prohibited fromdestroying the existing differences by dividing and creating conflict. Everyact of love really values and respects the differences and encourage thebuilding up of unity and togetherness between us. Our readings today encourage us to overcome our faultsand shortcomings with the power of love, not with curses or punishments. Wemust be able to create closeness towards one another, especially among thosewho involve in dispute or conflict, so that they can find way to communicatebetween them over the problems that they together face. They need to promote anapproach which we call a brotherly correction that prioritizes mutual respect foreach party. This brotherly correction should not cause hurt, division andprolong conflict, but to bring peace, joy and healing. Let'spray. In the name of the Father ... O good Father, may this Sunday celebrationsanctify us with Your blessings and love. May we grow in this love to fosterunity among us your beloved children. Our Father who art in heaven ... In thename of the Father ...