Renungan harian katolik yang ditulis oleh Pastur Peter Tukan SDB. Diupdate setiap harinya.

Delivered by Randy from the Parish of Christ the King in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Jeremiah 17: 5-10; Rs psalam 1: 1-2.3.4.6; Luke 16: 19-31.RELYING ON GODTHROUGH MAN Our meditation today is entitled: Relying on GodThrough Man. The famous story of Lazarus and the anonymous rich man shouldbecome an interesting catechesis for us. This story can be used to enrich thecontent of the teaching about relying completely on God on the one hand, andexpecting the goodness or help from fellow human beings where God's love isobtained. Lazarus was so unfortunate with very limitedpossibilities to continue his life in the world. According to our standard offaith, God should have used the rich man to help Lazarus, but that was not thecase. The prophet Isaiah in the first reading reminds believers to rely on God for their survival.Lazarus and all of us desperately need God's intervention for our survival.What is not appropriate is that when a person was distress and hopeless, he didnot remember and did not even need God. Lazarus and many others of the similar situation havealways been in this world. They live with other people who are more fortunateor who have everthing for their lives. The evangelist Mark says in this way,"The poor are always with you" (Mk 14:3). Let us for example see somethingconcrete and actual in a local parish. This community of faith always has thecategory of people who are so poor in everything. The Church then has aministry to give attention to them that they may be able to exist and work inlife. Collections and donations made in the parish, one of its uses iscertainly for this purpose. This illustration is enough to explain that thisgroup of “Lazarus” type relies on God through their fellow human beings in acommunity of faith. However, everything is not always smooth and becomesan adequate act of service. The point is that the group of people like Lazarusdid not necessarily get what they needed. God's intervention perhaps not beingcarried out properly through fellow human beings who are more fortunate intheir lives. Jesus makes it very clear that the the people like Lazarus were indire need of help. The situation becomes worse when people who can contributeand help, yet they are not able to be an extension of God's hand to helpLazarus and those of the same fate. That's what Jesus really emphasizes. This unwillingness to help is a sin of negligence thatmust not occur in the life of the Church, community, and people of faith. Thosewho are unwilling to help are the ones contrary to the expression of our themetoday: "relying on God through man." The consequence is obvious, aswe have just heard from the Gospel reading of today.Letus pray. In the name of the Father... O most loving Jesus, make us always awareof our duty as Your true followers, which is to help our neighbors in need.Hail Mary, full of grace... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Siprianus T. Betekeneng dan Kristina K. Opong dari Paroki Santa Maria Assumpta Kupang di Keuskupan Agung Kupang, Indonesia. Yeremia 17: 5-10; Mazmur tg 1: 1-2.3.4.6; Lukas 16: 19-31.MENGANDALKANTUHAN MELALUI MANUSIA Renungan kita pada hari ini bertema: Mengandalkan TuhanMelalui Manusia. Kisah terkenal tentang Lazarus dan orang kaya yang tidak punyanama menjadi bahan katekese yangmenarik. Kisah ini dapat dipakai untuk memperkayai isi pengajaran tentangbersandar sepenuhnya kepada Tuhan di satu pihak, dan di lain pihak mengharapkankebaikan sesama manusia di mana kasih Tuhan didapatkan. Lazarus ditampilkan sebagai orang yang sangat terbataskemungkinan untuk menyambung hidupnya di dunia. Sesuai dengan standar imankita, Tuhan mestinya memakai orang kaya itu untuk menolong Lazarus, namun tidakterjadi demikian. Nabi Yesaya dalam bacaan pertama mengingatkan supayaorang-orang beriman mengandalkan Tuhan untuk kelangsungan hidupnya. Lazarus dankita semua sangat memerlukan campur tangan Tuhan bagi kelangsungan hidup kita.Yang tidak pantas ialah ketika seseorang di dalam kesusahan hidup, ia tidakingat dan bahkan tidak memerlukan Tuhan. Lazarus dan banyak orang lain yang senasib selalu ada didunia ini. Mereka hidup bersama orang-orang lain yang lebih beruntung atau yangtercukupi kebutuhan hidupnya. Kata penginjil Markus, “Orang-orang miskin selaluada bersama kalian” (Mk 14,3). Yang lebih konkret dapat kita lihat di dalamsebuah paroki. Gereja teritorial ini selalu memiliki lapisan umat yang hidupnyadalam kekurangan. Gereja kemudian mempunyai karya pelayanan yang memberiperhatian bagi mereka untuk bisa menyambung hidupnya. Kolekte dan sumbanganyang dilakukan di paroki, salah satu kegunaannya tentu untuk kepentingan ini.Gambaran ini cukup menerangkan bahwa golongan Lazarus ini mengandalkan Tuhanmelalui sesamanya di dalam sebuah komunitas beriman. Namun semuanya tidak selalu lancar dan menjadi suatubentuk pelayanan yang memadai. Maksudnya ialah bahwa golongan Lazarus belumtentu mendapatkan yang mereka perlukan. Campur tangan Tuhan bisa saja tidakdijalankan melalui sesama manusia yang lebih beruntung hidupnya. Yesus sangatjelas memperlihatkan kalau golongan Lazarus sangat memerlukan pertolongan. Yangmenjadi krusial ialah orang-orang mampu yang dapat berkontribusi, tidak mampumenjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menolong golongan Lazarus. Itu yangsebenarnya ingin ditekankan oleh Yesus. Itu berarti dosa mereka ialah dosa kelalaian yang mestinyatidak boleh terjadi dalam kehidupan berjemaat, berkomunitas, dan beriman yangsama. Mereka ini tidak merealisasikan yang disebut tadi “mengandalkan Tuhanmelalui sesama.” Akibatnya sudah jelas, seperti yang sudah kita dengar dalamInjil tadi. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Yesus yang baik, buatlah kami selalumenyadari dan melakukan kewajiban kami sebagai pengikut-pengikut-Mu, yaitumenolong sesama kami yang berkekurangan. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalamnama Bapa ...

Delivered by Vina Kuesal from the Holy Trinity Parish in the Archdiocese of Melbourne, Australia. Jeremiah 18: 18-20; Rs psalm 31: 5-6.14.15-16; Matthew 20: 17-28.MOTIVATION GROWTH INTHE FOLLOWING OF GOD'S WILL Our meditation today isentitled: Motivation Growth in the Following of God's Will. Jesus' question tothe mother of the two apostles from the Zebedee's family: “What do you want?”is the entrance to the understanding on the compatibility between the will ofGod and the desire of men to follow Him. Jesus' vision for the salvation ofmankind, through the way of the cross and suffering, attracted the attention ofmany followers, including the two apostles. Like other disciples, many otherfollowers, and also we who are now listening to His words, this attractionreinforces our motivation to follow Christ. Through attraction asan initial stage which brings to the faith and ability to follow Him, asuitability would be a good outcome. The Lord wills in this direction and weheed His call then follow Him. Expressions like "I like" or "I'minterested" or "I am ready, I want" is usually our response tothe call and invitation of the Lord. For example, when the preaching of theword of God really gives new insight and inspiration, someone then exclaimed:"Yes, I realize in myself and I agree to what God wishes from me".This expression indicates the suitability that has been just mentioned. This initial stagethen leads us to the next one, which is the motivation that drives one'sinterest and love. We don't have from the beginning just only one motivation.We need to check that initial motivation and to ensure that it is stilloriginal or remain as such for enhancing the suitability, or has indeedchanged. One's motivation can change along with the change of times and one'sown desire. Every individual's freedom is to be influenced by circumstances andsurroundings that will affect one's motivation to follow the will of the Lord.In friendship or collaboration in doing a project of work, there is noguarantee for a lasting compatibility and suitability. Everyone's motivationcan change any time that eventually break up friendship or collaboration. Our two readingstoday speak about the change of motivation in the following of God's will. Whenthe change is known to bring oneself or others away from the path of the Lord,it will be definitely rebuked by the Lord. The prophet Jeremiah was strongly confrontedby those who sought to destroy him. God was on his side and he did not doubtabout it. But at the same time, he requested that God should does him harm and declinepunishment on his opponents. The two brothers of Zebedee's family agreed tofollow Christ, but they were encouraged to find a special and precious place inthe Kingdom of God. So it should be clearfor us all here. As we constantly examine our motivation to believe and to befaithful to Christ, we will find that there is a change of our motivation inthe course of time. Our liturgical readings today show that the changes of motivationhappen in order to prioritize the interests for one's own satisfaction, and notfor the following of God's will. We know very well the consequences for thosewho do not follow the will of the Lord.Let's pray. In the name of the Father... Lord Jesus Christ, increase our faith that we may have the right motivationin the path to follow you. Our Father who art in heaven ... In the name of theFather and of the Son ...

Dibawakan oleh Sr Roberta CIJ dan Sr Petri Canisia CIJ dari Komunitas Suster CIJ St. Maria Assumpta Dili di Keuskupan Agung Dili, Timor Leste. Yeremia 18: 18-20; Mazmur tg 31: 5-6.14.15-16; Matius 20: 17-28.MEMERIKSAMOTIVASI MENGIKUTI KEHENDAK TUHAN Renungan kita pada hari ini bertema: Memeriksa MotivasiMengikuti Kehendak Tuhan. Pertanyaan Yesus kepada ibu kedua rasul dari keluargaZebedeus: Apa yang kaukehendaki? merupakan pintu masuk untuk mengertikesesuaian antara kehendak Tuhan dan keinginan manusia yang mengikuti-Nya. VisiYesus untuk keselamatan umat manusia yang lakukan melalui jalan salib danpenderitaan, menarik perhatian para pengikut, termasuk kedua rasul itu. Sepertibanyak murid dan pengikut lain termasuk kita, rasa tertarik ini menguatkanmotivasi untuk mengikuti Kristus. Sejauh sebuah rasa tertarik sebagai tahap awal yangkemudian mengungkapkan iman dan kesanggupan mengikuti-Nya, suatu kesesuaianmerupakan sebuah hasil yang baik. Tuhan berkehendak demikian, lalu kita manusiamenyanggupi. Biasanya ungkapan seperti “saya suka” atau “saya tertarik” atau“siap, saya mau” menjadi tanggapan yang diberikan. Misalnya ketika mendapatkansatu pernyataan dalam renungan firman Tuhan, seseorang berseru: ya, sayamenyadari di dalam diri dan suka dengan yang diinginkan oleh Tuhan dari saya.Ini menandakan adanya kesesuaian. Tahap awal ini menuntun kita ke tahap berikutnya, yaitumotivasi yang menggerakkan rasa tertarik dan suka itu. Kita tidak cukupmempunyai dari awal hanya satu motivasi saja. Kita perlu juga memeriksamotivasi untuk memastikan kalau ia masih orisinal atau tetap bertahan dengankesesuaian itu atau sebaliknya memang sudah bergeser. Motivasi seseorang bisabergeser karena keinginan atau selera yang berubah-ubah berdasarkankebebasannya dan daya tarik keadaan di luar dirinya. Di dalam berteman atauberkolaborasi dalam satu kegiatan, tak ada jaminan untuk bertahan selamanya,itu karena berubahnya motivasi. Kedua bacaan pada hari ini menyinggung tentang berubahnyamotivasi dalam mengikuti kehendak Tuhan. Mereka yang mengubahnya demikepentingan dirinya sendiri ditegur oleh Tuhan. Nabi Yeremia tegas berhadapandengan musuh yang hendak membinasakan dia. Allah di pihak dia dan ia tidakgentar. Namun pada saat yang sama, ia meminta supaya Allah menyiksa dirinya danmenyurutkan hukuman bagi para lawannya. Kedua saudara Zebedeus menyanggupijalan mengikuti Kristus, tetapi mereka didorong untuk mendapatkan tempat spesialdi dalam Tuhan. Jadi terlihat di sini, ketika kita dengan terus-menerusmemeriksa motivasi untuk percaya dan setia kepada Kristus, kita akan menemukanada perubahan motivasi dalam perjalanan waktu. Perubahan yang disinggung hariini ialah pengutamaan kepentingan pribadi demi kepuasan sendiri, dan bukankarena kehendak Tuhan. Kita tahu akibatnya kalau tidak mengikuti kehendakTuhan. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Tuhan Yesus Kristus, tambahkanlah kami kekuatanuntuk selalu memiliki motivasi yang benar dalam mengikuti-Mu. Bapa kami yangada di surga ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Charlene Mahadi from the Parish of Maria Kusumah Karmel in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Isaiah 1: 10.16-20; Rs psalm 50: 8-9.16bc-17.21.23; Matthew 23: 1-12.BE CREDIBLE Our meditation today isentitled: Be Credible. In general, we understand that credibility meanstrustworthiness. This has to do with humans or impersonal ones such asinstitution, wisdom, decision, choices and beliefs. Credibility is basically avirtue that is needed if we are responsible and have convinction toward othersabout what we say and do. The expected result is that we or something can betrusted. This means that one or something is credible. What are the signs ofcredible people? Today the Lord Jesus teaches us one fundamental characteristicof the virtue of credibility. He uses the profiles of the Pharisees and thescribes as His example. They are good at talking and seem so convincing withtheir thoughts and arguments. But their obvious fault is that they don't dowhat they say. Credibility really demands that there should be a proportionalconnection between what is said or discussed with what is done. Words andactions are in line. Theory is expressed in practice. Credibility can standstraight and be useful if its both feet are in function, namely words anddeeds. Those who were criticized by Jesus only stood on one foot, which weretheir words. Their deeds were just zero. They were actually crippled. So Jesus'advice is this: just listen and follow what they say, because it has valuableadvice and wisdom. But never follow their actions. Words and thoughts orconcepts are easier to be made because they do not require much sacrifices.Especially when the aim is to attract, influence, and a way of promotion, wordscan be arranged in an orderly fashion, nice to people's hearing, and as a powerto move feelings and sentiments. But this is still incomplete. It is stilllimping. Deeds and actionsthat have moral influence, faith principles, and human universal values, havetheir higher quality of credibility compared to ordinary actions such aswalking, eating or drinking. The prophet Isaiah emphasizes the acts of justiceand compassion. If people only speak, theorize, promise, and discuss aboutcreating justice and the importance of compassion, then without doing justiceand showing compassion to others, their credibility in faith and moralstandards are questionable. They may feel so confident to talk and explainthings, but they are degrading their quality as humans because they are notcredible. If this meditationencourages us to be credible, it means that we who have responsibilities totake care of others in the fields of teaching, nurturing, guidance andaccompaniment, we should make credibility as a means for our consecration andservice for humanity. Let's pray. In the name of the Father... O Lord Jesus, teach us to be trustworthy in our words and deeds. Glory tothe Father and to the Son and to the Holy Spirit ... In the name of the Father...

Dibawakan oleh Theresia Keneka Muli dan Mateus Nong Mus dari Paroki Harapan Indah, Gereja Santo Albertus Agung di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Yesaya 1: 10.16-20; Mazmur tg 50: 8-9.16bc-17.21.23; Matius 23: 1-12.JADILAH KREDIBEL Renungan kita pada hari ini bertema: Jadilah Kredibel.Secara umum kita memahami kalau kredibel itu berarti dapat dipercayai. Inikaitannya dengan manusia atau yang impersonal seperti lembaga, kebijaksanaan,keputusan, pilihan, dan keyakinan. Aspek kredibilitas selalu berkaitan dengankebajikan yang diperlukan jika kita mempertanggungjawabkan dan meyakinkan oranglain tentang apa yang kita katakan dan perbuat. Hasil yang diinginkan ialahsupaya kita atau sesuatu itu dapat dipercayai. Ciri orang yang kredibel itu seperti apa? Pada hari iniTuhan Yesus mengajarkan kita satu ciri mendasar kebajikan kredibilitas. Iamengambil contoh pribadi orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Mereka pintarberbicara dan tampak begitu meyakinkan dengan pikiran dan argumentasi. Tetapisalahnya ialah mereka tidak melakukan yang mereka katakan. Kredibilitas sangatmenuntut supaya ada kesesuaian yang dikatakan atau dibicarakan dengan yangdiperbuat. Kata dan perbuatan sejalan. Teori diungkapkan di dalam praktik. Kredibilitas dapat berdiri tegak dan berguna yangsesungguhnya kalau kedua kakinya berfungsi, yaitu perkataan dan tindakan.Mereka yang dikritik Yesus itu hanya berdiri dengan satu kaki, yaitu perkataan.Perbuatan mereka nol. Jadi mereka orang-orang pincang. Maka nasihat Yesusialah, dengarkan dan ikuti saja yang mereka katakan, karena berisi nasihat dankebajikan. Tetapi jangan pernah mengikuti perbuatan mereka. Kata dan pikiranatau konsep lebih mudah dibuat karena tidak terlalu memerlukan pengorbanan. Khususnyaketika tujuannya ialah untuk menarik hati, mempengaruhi, dan menampilkan diri,kata-kata bisa dibuat sedemikian teratur, indah didengar, dan seolah-olahbertenaga untuk menggerakkan. Namun ini tetap saja masih belum lengkap. Iamasih pincang. Perbuatan atau tindakan yang mempunyai pengaruh moral,berisi iman, dan bernilai kemanusiaan memiliki mutu kredibilitas yang lebihtinggi dibandingkan dengan perbuatan biasa sepeti berjalan dan makan atauminum. Nabi Yesaya menegaskan tentang perbuatan berwujud keadilan dan berbelarasa. Jika orang hanya berbicara, berteori, berjanji, dan berdiskusi tentangmenciptakan keadilan dan pentingnya berbela rasa, lalu tanpa berbuat adil danmelayani secara nyata, kredibilitas iman dan moralnya layak dipertanyakan.Mereka mungkin merasa sangat yakin untuk berbicara dan menjelaskan itu, tetapimereka sedang merendahkan kualitasnya sebagai manusia karena tidak kredibel. Kalau ajakan renungan ini untuk menjadi kredibel, itumaksudnya supaya orang-orang yang memiliki tanggung jawab atas orang lain yangdiajari, dibina, dan didampingi, menjadikan kredibilitas sebuah kesakralan yangharus dihidupi. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan Yesus,ajarkanlah kami untuk menjadi orang yang benar dalam kata dan perbuatan.Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Erica Tanzil from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Daniel 9: 4b-10; Rs psalm 79: 8.9.11.13; Luke 6: 36-38.LORD, LOOK NOT ON OURSINS The title for ourmeditation today is: Lord, Look Not On Our Sins. This sentence is taken fromthe prayer of “Peace” that we always recite before the Holy Communion in thecelebration of the eucharist. There is a close relationship with the removal orremission of sins with peace. People who are free from sins, we can be surethat they experience a peaceful, calm, and comfortable life. In reality it isnot easy to always avoid sin, especially if the sins are from within ourselves,such as from our mind, heart, and mouth. We often repeat thesame mistakes. If this is not treated with act of repentance and the reception of the sacrament ofReconciliation, one may feel nice and comfortable living with sins.Consequently, more and more sins accumulated and the person is no longer awarebeing a sinner even though he or she does commit sins. Therefore the prayer "Lord, look not on oursins" is an expression of our unceasing petition from us who are still livingin this world. If God does look on our sins and we are only considered assinners, we could be as useless as dust that people simply trample on theground. Instead we ask God togive attention to the faith of every one from the people of God. We as sinnershave our faith, maybe even a strong one. This is shown in the act of Confessionthat confirms ourselves as sinners and who have done wrong, as preached in thebook of Daniel in the first reading today. Jesus Christ made only one accountfor our sins by the sacrifice of Himself on the cross. What we should try to donow is to fulfill what is obliged from us, which is our self-confession andrenewal of life before God and our neighbor. Our faith does notimmediately or automatically erase our sins. In addition to the confession ofsins that characterizes the faith, we are taught by Jesus to strengthen ourfaith with virtues so as to free us from sins and evil. Today we are taught onthe virtue of generosity, and we are asked to be generous like the Father inheaven who is generous. One of the main characteristics of a generous person isto be the first to do good through words or deeds. Therefore, to love afterbeing loved or to exchange love is actually not generosity but fairness orjustice. With this quality ofgenerosity, we do not judge, punish, or slander at first moment. Generosityleads us to forgive first, to give first, to take the first step to be rightand good person. This is all not to promote and entertain ourselves, butbecause love is very demanding. This can prevent us from increasing our sins.Let's pray. In the name of the Father... Almighty Father in heaven, we pray that You do not look on our sins, but onour faith and increase an unfailing love in everyone of us your belovedchildren. Hail Mary, full of grace ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Apolonia Lema dan Maria Tania Musa dari Paroki Santo Simon Petrus Tarus di Keuskupan Agung Kupang, Indonesia. Daniel 9: 4b-10; Mazmur tg 79: 8.9.11.13; Lukas 6: 36-38.JANGANLAHPERHITUNGKAN DOSA KAMI Tema renungan kita pada hari ini ialah: JanganlahPerhitungkan Dosa Kami. Kalimat tema ini diambil dari doa “Damai” yang selalukita serukan sebelum Komuni Kudus dalam perayaan ekaristi. Ada kaitan eratpenghapusan atau pengampunan dosa dengan damai. Orang yang terhindar dariperbuatan-perbuatan dosa, bisa dipastikan ia mengalami hidup yang damai,tenang, dan nyaman. Di dalam kenyataan tidak mudah untuk selalu menghindaridosa, terutama kalau dosa-dosa itu disebabkan dari dalam diri sendiri, sepertidari pikiran, hati, dan mulut kita. Kita sering mengulang-ulang kesalahan yang sama. Kalau halini didukung dengan tidak atau jarang sekali ada penyesalan dan penerimaansakramen tobat, seseorang bisa saja merasa nyaman hidup di dalam dosa-dosa.Akibatnya dosa-dosa semakin menumpuk dan yang bersangkutan tidak menyadari lagisebagai pendosa meski ia secara nyata berbuat dosa. Oleh karena itu doa“Janganlah perhitungkan dosa kami” adalah ungkapan permohonan kita yang tiadahentinya selama kita di dunia ini. Jika Tuhan memang memperhitungkan dosa-dosakita, bisa jadi kita sangat rendah seperti debu tanah yang diinjak-injak saja. Sebaliknya kita memohon Tuhan supaya memperhatikan imansetiap orang dan kawanan umat-Nya. Kita orang-orang berdosa memiliki iman,bahkan mungkin iman yang sangat kuat. Hal ini diperlihatkan dalam tindakanpengakuan sebagai orang-orang yang berbuat dosa dan salah, seperti yangdiwartakan kitab Daniel dalam bacaan pertama. Yesus Kristus hanya satu kalisaja memperhitungkan dosa-dosa kita dengan pengorbanan diri-Nya. Yang lebihkita usahakan sekarang ialah pengakuan diri dan menjadi baru di hadapan Tuhan dansesama kita. Iman kita tidak langsung atau otomatis menghapus dosa-dosakita. Selain pengakuan dosa yang mencirikan iman, kita diajarkan Yesus untukmemperkuat iman kita dengan kebajikan-kebajikan agar membentengi kita dari dosadan kejahatan. Pada hari ini kitadiajarkan kemurahan hati seperti Bapa di surga yang murah hati. Salah satu ciriutama pribadi yang murah hati ialah menjadi yang pertama berbuat baik entahmelalui perkataan entah perbuatan. Maka itu berbalas kebaikan sebenarnya bukankemurahan hati tetapi berkeadilan. Dengan kualitas kemurahan hati ini, kita memang tidakmenghakimi, menghukum, atau memfitnah lebih dahulu. Kemurahan hati menuntunkita untuk lebih dahulu mengampuni, pertama yang memberi, mengambil langkahpertama untuk berlaku benar dan baik. Ini semua bukan untuk mencari muka ataupencitraan, tetapi karena cinta kasih sangat menuntut demikian. Ini dapatmencegah kita untuk menambah dosa-dosa kita.Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Bapa di surgajanganlah memperhitungkan dosa-dosa kami, tetapi perhatikanlah iman kami danbesarkanlah cinta kasih di dalam kami. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam namaBapa ...

Delivered by Grace, Jessica, Greg, and Bryan from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Genesis 12: 1-4a; Rs psalm 33: 4-5.18-19.20.22; 2 Timothy 1: 8b-10; Matthew 17: 1-9.FULFILLMENT IS A NEED The title for ourmeditation on this second Sunday of Lent is: Fulfillment is a Need. The bishopassigned one of his priests to lead a parish that was in trouble. Constructionof a new church building halfway, the parish priest fell ill and had to movefrom the parish. The parish's finance was mismanaged which caused a largedeficit. Conflict among the Church members of two factions also occurred duringthe leadership of the previous parish priest, and it seemed becoming moreserious. So the bishop sentthe new parish priest there with the main message, which was to solve all theproblems completely. He was forbidden to make new initiatives, except thoserelated to the completion of the construction of church building, mismanagementof parish finance, and conflicts between people. He was really expected to doit. In short, he must fulfill and accomplish all the deficiencies or what arelacking and not let them untouched or unnoticed. Fulfillment oraccomplishment what is missing or lacking is a necessity. This is not only thework of us humans, but also the work of God. The fulfillment is not to make Godbetter or perfect, but for the perfection of us humans. Fulfillment is thefirst work of God alone. For all thedeficiencies and emptiness in human life, God takes steps to fulfill. What Godhas made, God determines as a task and mission that we humans too must do. IfGod creates, then humans recreate. If God has opened the way, then we extend,expand, and realize until the goal is reached. God calls and we answer in orderto fulfill the task of God's calling and trust. God fulfilled Hisplan of salvation by calling Abram, and in response, Abram fulfilled that call.Saint Paul wrote to his beloved disciple Timothy that the coming of the SaviorJesus Christ and with His gospel has overcome death, and brought a life that cannotbe destroyed. Jesus Christ, who appeared in His glory on Mount Tabor, revealedthe fulfillment of the law that was delivered through Moses and the teachingsbrought by the prophet Elijah. Today, God's messageabout fulfillment is addressed to every one of us. We have a responsibility tofulfill what is lacking or empty in our lives and circumstances, both physicaland spiritual. Let's pray. In the name of the Father... God of heaven and earth, may with today's celebration we will be strongerin our commitment to fulfill what is lacking and empty in our lives. Our Fatherwho art in heaven ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Yohanes Sukardi dan Onny Pakendek dari Paroki Santa Maria Asumpta Kota Baru Kupang di Keuskupan Agung Kupang, Indonesia. Kejadian 12: 1-4a; Mazmur tg 33: 4-5.18-19.20.22; 2 Timotius 1: 8b-10; Matius 17: 1-9.PENGGENAPANADALAH KEBUTUHAN Tema renungan kita pada hari Minggu Prapaskah ke-2 iniialah: Penggenapan Adalah Kebutuhan. Bapak Uskup menugaskan seorang imamnyauntuk memimpin sebuah paroki yang sedang bermasalah. Pembangunan gedung gereja baru setengah jalan, pastorparokinya jatuh sakit dan harus pindah dari paroki. Masalah pengelolaankeuangan paroki yang tidak bertanggung jawab, sehingga terdapat defisit yangbesar. Konflik di antara umat juga terjadi selama kepemimpinan pastor parokiyang lama, yang tampaknya semakinserius. Maka Uskup menugaskan pastor paroki yang baru dengan satupesan utama, yaitu menyelesaikan semua persoalan itu sampai tuntas. Ia dilaranguntuk membuat inisiatif-inisiatif baru, kecuali yang berkaitan denganpenyelesaian pembangunan gedung gereja, keuangan paroki, dan konflik di antaraumat. Ia sangat diharapkan dapat melakukannya. Singkatnya, ia harus menggenapidan mengisi semua kekurangan yang ada dan tidak membiarkan itu berlarut-larut. Penggenapan atau pemenuhan yang kurang merupakankebutuhan. Hal ini bukan hanya sebagai pekerjaan kita manusia, tetapi jugapekerjaan Tuhan. Penggenapan itu bukan untuk membuat Tuhan menjadi lebih baikatau sempurna, tetapi untuk kesempurnaan kita manusia. Penggenapan merupakanpekerjaan yang pertama-tama dilakukan oleh Tuhan. Terhadap semua kekurangan dan kekosongan di dalam hidupmanusia, Tuhan mengambil langkah untuk melakukan penggenapan. Apa yang dibuatTuhan, ditetapkan untuk dilakukan juga oleh kita manusia. Kalau Tuhanmenciptakan, maka kita manusia menciptakan kembali. Kalau Tuhan sudah membukajalan, maka kita manusia memperpanjang, melebarkan, dan mewujudkan sampaitujuannya tercapai. Tuhan memanggil dan manusia menjawab demi menunaikan tugasatas panggilan dan kepercayaan Tuhan. Tuhan Allah menggenapi rencana keselamatan-Nya denganmemanggil Abram, dan sebagai tanggapannya, Abram memenuhi panggilan itu. SantoPaulus menulis kepada anak didiknya Timotius bahwa kedatangan Juru SelamatYesus Kristus dan dengan Injil-Nya telah menghilangkan maut, dan mendatangkanhidup yang tidak bisa binasa. Yesus Kristus yang tampil dalam kemuliaan-Nya digunung Tabor, mengungkapkan tindakan penggenapan atas hukum yang disampaikandahulu melalui Musa dan ajaran-ajaran yang disampaikan Elia. Hari ini, pesan Tuhan tentang penggenapan ditujukan kepadakita masing-masing. Kita memiliki tanggung jawab untuk menggenapi yang kurangatau kosong di dalam hidup dan keadaan kita, baik jasmani maupun rohani. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan, semogadengan perayaan hari ini kami semakin kuat dalam komitmen untuk menggenapi yangkurang dan kosong di dalam hidup kami. Bapa kami yang ada di surga ... Dalamnama Bapa ...

Delivered by Angeline from the Parish of Saint Catherine in the Diocese of Seattle, Washington, USA. Deuteronomy 26: 16-19; Rs psalm 119: 1-2.4-5.7-8; Matthew 5: 43-48.BECOMING PERFECT LIKEA THE FATHER WHO IS PERFECT Our meditation today isentitled: Becoming Perfect Like the Father Who is Perfect. In the family,parents really hope that the child or their children can reach the level ofprogress according to the standards they want. If a father or mother targets ascore of 10 and their children can achieve it, or even go beyond that, theparent's goal is realized. So, perfect parents really want their child orchildren to be as perfect as they are. But not all familiesexperience this ideal. There are children who cannot meet their parentsstandard. Dialogue, compromise and openness with each other are to be madepossible, so that good relations and living together can be maintained in love.When Jesus Christ asks us to be perfect like the heavenly Father who isperfect, to be our concern in this Lent, our situation is somehow the same aschildren who have not met the standards of their parents. Lent is indeed fullof more efforts and calculations so that we are able to realize what God andthe Church wish from us. One of the most important efforts or calculations isthe act of love. When we love relatives or friends, these action is classifiedas normal love. In the family and school, a child is considered kind andsincere if he loves his siblings and friends. Among neighbors and members ofthe society, we always do acts of love, and this all makes us good friends orneighbors. However, Jesus wantsto teach us more than just this normal and good thing. Although this is ateaching for all times, in Lent it is a discipline and penance when we love,pray, help, and forgive those who do us wrong. They are deliberately jealous,angry, and hateful to us. This kind of love will make us greater and canincrease our standard as followers of Christ from the level of just good andnormal believers. Through ordinary good works and added to them are our acts oflove towards enemies, Jesus gives us a very high price and high standard, whichis to be perfect like the heavenly Father who is perfect. Moses had previouslyconfirmed this teaching to the Israelites across the Jordan River, when theysaw that God's promise was very clear to them. Everyone and the whole nationbecame a holy people of the God Almighty, who is the Lord of the entire worldand universe. Perfection like the Father conveyed by Moses required the peopleof God to obey God's commands with all their hearts and souls. The teachings ofMoses were binding and demanding, but were later perfected by Jesus, who madehimself the example of our perfection. We only need to obey and be loyal toHim.Let's pray. In the name of the Father... O Good and kind Father, make us live in the fullness of Your love andenable us to practice this love wholeheartedly towards our neighbors. Glory tothe Father and to the Son and to the Holy Spirit ... In the name of the Father...

Dibawakan oleh Matias Meran Lejap dan Agnes Kenupang Luon dari Paroki Santo Yohanes Maria Vianey Cilangkap di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Ulangan 26: 16-19; Mazmur tg 119: 1-2.4-5.7-8; Matius 5: 43-48.MENJADI SEMPURNASEPERTI BAPA YANG SEMPURNA Renungan kita pada hari ini bertema: Menjadi SempurnaSeperti Bapa Yang Sempurna. Di dalam keluarga, orang tua sangat mengharapkansupaya anak atau anak-anaknya mencapai tingkat kemajuan sesuai standar yangdiinginkannya. Jika bapak atau ibu menargetkan nilai 10 dan anaknya dapatmencapainya, atau bahkan melampaui itu, tujuan orang tua tercapai. Jadi orangtua yang sempurna memang ingin supaya anak atau anak-anaknya sempurna sepertimereka. Namun tidak semua keluarga mengalami yang ideal sepertiini. Ada anak-anak yang tidak dapat memenuhi standar orang tua. Dialog,kompromi dan saling terbuka satu sama lain memang perlu dimungkinkan, supayahubungan baik dan hidup bersama tetap terpelihara dalam cinta kasih. Ketikafirman Yesus Kristus yang meminta kita untuk menjadi sempurna seperti Bapa yangsempurna, menjadi perhatian kita di dalam masa Prapaskah ini, keadaan kitasesungguhnya ialah sama seperti anak-anak yang belum memenuhi standar orang tuatadi. Masa Prapaskah memang penuh dengan upaya dan perhitungansupaya kita mampu mewujudkan apa yang diinginkan Tuhan dan Gereja terhadapkita. Salah satu yang terpenting ialah tentang perbuatan kasih. Ketika kitamengasihi saudara atau teman, perbuatan ini digolongkan sebagai cinta kasihyang normal. Di dalam keluarga dan sekolah, seorang anak dianggap baik dantulus kalau ia mengasihi saudara dan temannya. Di antara para tetangga dananggota masyarakat, perbuatan kasih selalu kita lalukan, dan ini semua menjadikankita sebagai sesama atau tetangga yang baik. Yesus ingin mengajarkan lebih dari sekedar normal dan baikini. Meski ini menjadi suatu ajaran sepanjang waktu, namun di dalam masaPrapaskah kiranya ini menjadi sebuah disiplin dan penitensi, yaitu ketika kitamengasihi, mendoakan, menolong, dan mengampuni orang-orang yang bersalah kepadakita. Mereka sengaja iri, marah, dan membenci kita. Ini baru namanya sebuahtindakan kasih yang besar, tinggi, dan menaikkan standar kita sebagai pengikutKristus yang baik dan normal. Melalui perbuatan baik yang biasa dan ditambahtindakan kasih terhadap para musuh kita, Yesus memberikan kita harga yangsangat tinggi, yaitu sempurna seperti Bapa yang sempurna. Ajaran ini jauh sebelumnya telah ditegaskan Musa kepadabangsa Israel di seberang Sungai Yordan, bahwa janji Allah sungguh sangat jelasbagi mereka. Setiap orang dan seluruh bangsa menjadi umat yang kudus bagiAllah, yang adalah Tuhan semesta alam. Kesempurnaan seperti Bapa yangdisampaikan oleh Musa meminta umat Allah untuk menaati perintah-perintah Allahdengan segenap hati dan segenap jiwa. Ajaran Musa mengikat dan menuntut, namunkemudian disempurnakan oleh Yesus yang memberikan sendiri teladan kesempurnaanitu. Kita tinggal menaati dan setia kepada-Nya.Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Bapa yang baik,buatlah kami hidup dalam kepenuhan cinta kasih-Mu dan membuahkan cinta kasihitu di dalam pelayanan dan pengorbanan kepada sesama kami. Kemuliaan kepadaBapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Nia from the Parish of Good Shepherd in the Diocese of Surabaya, Indonesia. Ezekiel 18: 21-28; Rs psalm 130: 1-2.3-4ab.4c-6.7-8; Matthew 5: 20-26.NEW LAW REPLACES OLDLAW Our Meditation today isentitled: New Law Replaces Old Law. In this life, a change from good attitudeto bad attitude has happened a lot. Likewise, a person changes his evil wayinto a true one also happens a lot. Thisis not because the change is automatic or a bonus for him. The change occurrsgenerally because it is intended or it is made possible to change. Humanfreedom allows this change to take place. One can choose to make a change ornot to change at all. The book of the prophet Ezekiel in the first readingcompares two areas that humans may take, namely darkness and light. Everyone isfree and deliberately chooses which area is preferred. Those who live in thedarkness of the world that is full with evil, have actually been good people.The leader of the devil before embracing evil, was an angel. Thus, many bad andevil people were previously good and right people. The Prophet said that such achange leads its way to destruction. The final result obtained from the choiceto live an evil life is death. There is no more help for the one who has chosento become evil. People who are already in hell can't be helped anymore. Those who live inGod's grace are those who live in the fullness of God's light, manifested intheir words and deeds. Precisely those who are highly praised by God and givenhope for an eternal life are those who give up dark life and live a new lifeunder the light of the Lord. Lent is an opportunity to have this kind ofexperience. Through our Lenten discipline such as fasting, examination ofconscience and the Sacrament of Confession, we renew ourselves to become newpersons. This renewal is madeso perfectly by Jesus, namely creating a new way of obeying God's commands andavoiding evil deeds. The old law stipulates a number of conditions for notdefiling and plunging oneself into sin according to the perspective at that time.The old law was replaced by Jesus by emphasizing more on the human aspect andnot on the rules of customs, habits, and views of great people or religiousleaders. The new law broughtby Jesus Christ is love. According to the principle of the law of love, anyaction that starts with evil intentions, thoughts, and plans is consideredsinful. It replaces the old law which only looks at sin when it is already amurder, destruction, manipulation, condemnation, and deprivation. In fact, whenthere are evil intentions or thoughts, one has already evil acts like anger andhatred, that later be manifested concretely. Thus, sin and evil really startfrom evil understanding, concepts, intentions, and thoughts. Let's pray. In the name of the Father... O glorious and loving Jesus, perfect in our hearts the law of your love andenable us to love our neighbors following your example. Hail Mary, full ofgrace ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Petrus Kanisius Kebaowolo dan Elisabeth Welan dari Paroki Santo Agustinus Karawaci di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Yehezkiel 18: 21-28; Mazmur tg 130: 1-2.3-4ab.4c-6.7-8; Matthew 5: 20-26.HUKUM LAMADIGANTI Renungan pada hari ini bertema: Hukum Lama Diganti. Didalam hidup kita, perubahan seseorang dari sikap yang baik menjadi jahat sudahbanyak terjadi. Demikian juga seseorang dari sikap yang jahat menjadi baik jugabanyak terjadi. Hal ini bukan karena otomatis atau bonus bagi dirinya.Perubahan itu terjadi umumnya karena disengaja atau dimungkinkan. Kebebasanyang ada pada kita menjadi semacam lisensi untuk terjadinya perubahan tersebut.Kitab nabi Yeheskiel dalam bacaan pertama membandingkan dua alam yang dihidupioleh manusia, alam gelap dan terang. Setiap orang bebas dan sengaja memilihnya. Mereka yang hidup dalam dunia gelap yang penuh kejahatansebenarnya pernah menjadi orang-orang baik. Pemimpin setan sebelum memelukkejahatan, ia adalah malaikat. Begitulah, banyak orang jahat justru sebelumnyaadalah orang-orang baik dan benar. Nabi mengatakan bahwa perubahan seperti ini,jalannya yang pasti ialah menuju kepada kebinasaan. Hasil terakhir yangdidapatkan dari pilihan untuk hidup jahat dan menjalaninya ialah kematian. Takada lagi pertolongan apa pun baginya. Orang yang sudah di dalam neraka tidakbisa tertolong lagi. Mereka yang hidup dalam rahmat Tuhan adalah mereka yanghidup penuh dengan terang Tuhan, yang terwujud dalam kata dan perbuatannya.Justru yang sangat dipuji oleh Tuhan dan diberikan harapan untuk hidup ialahmereka yang melepaskan kehidupan yang gelap dan menjalani hidup dalam terang.Masa Pra Paskah adalah kesempatan untuk memiliki pengalaman seperti ini.Melalui usaha-usaha yang berbentuk disiplin, seperti berpuasa, pemeriksaanbatin dan pengakuan dosa, kita membaharui diri untuk menjadi pribadi-pribadi yangbaru. Pembaharuan ini dibuat secara sempurna oleh Yesus, yaitumenciptakan suatu cara baru dalam mematuhi perintah-perintah Tuhan dan untukmenghindari perbuatan-perbuatan jahat. Hukum lama menetapkan sejumlah syaratuntuk tidak menajiskan dan menjerumuskan diri ke dalam dosa sesuai dengan carapandang pada waktu itu. Hukum lama tersebut diganti oleh Yesus dengan lebihmenekankan aspek kemanusiaan dan bukan pada aturan adat, kebiasaan, danpandangan orang-orang besar atau pemuka agama. Hukum baru oleh Yesus Kristus ialah cinta kasih. Menurutprinsip hukum cinta kasih, tindakan apa pun yang dimulai dari niat, pikiran,dan rencana yang jahat sudah dianggap sebagai dosa. Ini menggantikan hukum lamayang hanya melihat dosa kalau sudah terjadi pembunuhan, pengrusakan,pemfitnahan, pengutukan, dan perampasan. Padahal ketika sudah ada niat ataupikiran jahat, seseorang sudah membentuk amarah dan benci, untuk nantidilakukan secara konkret. Dengan demikian, dosa dan kejahatan memang dimulai daripemahaman, konsep, niat, dan pikiran-pikiran yang jahat. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Yesus yang mulia,sempurnakanlah di dalam hati kami hukum cinta kasih-Mu dan mampukanlah kamimenggunakannya untuk mengasihi sesama kami seperti yang Engkau kehendaki. SalamMaria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Gladys from the Parish of Saint Gabriel in the Diocese of Bandung, Indonesia. Esther C 4: 10a.10c-12.17-19; Rs psalm 138: 1-2a.2bc-3.7c-8; Matthew 7: 7-12.GOD IS OUR HELPER Our meditation today isentitled: God Is Our Helper. Mrs. Martha, a widow, has been working for morethan twenty years as a sacristant in a local parish church. Her monthly salaryis far less than the lowest salary for a civil servant. Meanwhile she has theeldest son who is in college and his younger brother who is still in highschool. One time her son whois a university student badly needed money for an important academic activity.However, this mother did not have at all the amount that her son needed. Sheworked as usual and continued to pray in the church, while welcoming the variouspeople who came to pray in the church. There was a guest from outside the areawho, after praying, gave her an envelope filled with money. He said that hisnovena prayer was granted and the first person he met at the church deserved avery sincere sign of gratitude from him. The money was the exact amount for herson's need at the university. In reality, half ofour prayers are petitions. We ask and beg because we believe that God is sogenerous. It is impossible for us to continue asking and asking at those whodon't have anything. Because God is so abundant in his grace, we ask Himwithout ceasing. So God really is our helper. Through requests and petitions inprayers, God gives us according to His will. Human needs will notbe exhausted when they are still in the world. At times when we are not pressedor not in difficulties, it seems that our prayers do not contain requests. Itmay also be that our prayers every day do not specifically express requests orasking, because our lives are just flowing and simply normal. But when viewedobjectively, our own lives are a gift to be implemented day and night. We justneed God's guidance and protection. We certainly expressgratitude for this gift. However, in the prayer of thanksgiving, implied arequest that our lives be kept away from all evil influences and enemy'sthreat. We hope that our faith and hope for God's providence will remainstrong. Esther in the Old Testament tells how the danger of death wasthreatening her life. Queen Esther firmly believed that only God's help wouldshe rely on. Although she felt so lonely and there was no one by her side, shetruly believed that God was her true and main helper. God cannot bear torefuse His children asking for help in strong faith and hope. Especially in thedifficulties and sufferings of life, our only hope is the almighty God. Let's pray. In the name of the Father... Almighty God, may Your power be with us in the moments of difficulty andtrials in our lives. Hail Mary, full of grace ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Eugenesia Maria Tada Tolok dan Andreas Muhi Pukai dari Paroki Santo Yohanes Rasul Kedaton di Keuskupan Tanjung Karang-Lampung, Indonesia. T. Ester 4: 10a.10c-12.17-19; Mazmur tg 138: 1-2a.2bc-3.7c-8; Matius 7: 7-12.TUHAN ADALAHPENOLONG KITA Renungan kita pada hari ini bertema: Tuhan Adalah PenolongKita. Ibu Marta, seorang janda sudah bekerja lebih dari dua puluh tahun sebagaikoster di gereja parokinya. Gajinya setiap bulan jauh lebih kecil daripada gajipegawai negeri yang paling rendah. Sementara itu ia memiliki anak sulung yangsedang kuliah dan adiknya yang masih di bangku SMA. Anaknya yang mahasiswa sedang memerlukan uang untuk suatukegiatan akademik yang penting sekali. Namun ibu Marta tidak memiliki samasekali jumlah yang diperlukan anaknya. Ia bekerja seperti biasa dan terusberdoa di gereja, sambil menyambut bermacam-macam umat yang datang berdoa. Adaseorang tamu dari luar wilayah, yang setelah berdoa, memberikan dia sebuahamplop berisi uang. Katanya, novenanya terkabulkan dan orang pertama yang iajumpai di gereja layak mendapatkan tanda kasih darinya yang sangat tulus. Uangitu jumlahnya pas dengan yang dibutuhkan anaknya di universitas. Di dalam kenyataan, setengah doa-doa kita adalah doapermohonan. Kita meminta dan memohon karena kita percaya bahwa Tuhan mahamurah. Tidak mungkin kita meminta terus tanpa henti kepada orang yang tidakpunya apa-apa. Karena Ia sangat berlimpah maka kita memohon kepada-Nya tanpahenti. Jadi Tuhan sesungguhnya adalah penolong kita. Melalui permintaan danpermohonan dalam doa-doa, Tuhan memberikan kita sesuai kehendak-Nya. Kebutuhan manusia tidak akan habis ketika ia masih beradadi dunia. Pada saat-saat keadaan kita tidak terdesak atau bukan dalam bahaya,tampaknya doa-doa kita tidak berisi permohonan-permohonan. Mungkin juga doa-doakita setiap hari tidak spesifik mengungkapkan permintaan atau permohonan,karena hidup kita mengalir saja dan normal. Namun jika dilihat secara objektif,hidup kita sendiri merupakan anugerah untuk dijalani siang dan malam. Kitajustru perlu bimbingan dan perlindungan Tuhan. Kita tentunya menyatakan rasa syukur atas anugerah itu.Tetapi sebenarnya di dalam doa syukur itu, tersirat permohonan supaya hidupkita dijauhkan dari segala pengaruh jahat dan ancaman musuh. Kita berharapsupaya iman dan pengharapan kita akan penyelenggaraan Tuhan tetap kuat. KitabEster dalam perjanjian lama mengisahkan betapa bahaya maut sedang mengancamhidupnya. Ratu Ester sangat yakin bahwa hanya pertolongan Tuhan yang iaandalkan. Meskipun merasa sangat sendirian dan tidak ada seorang penolong di sampingnya,ia sungguh yakin bahwa Tuhan adalah penolongnya yang utama. Tuhan tidak tega menolak anak-anak-Nya minta tolong dalamiman yang teguh dan pengharapan yang kuat. Terlebih-lebih di dalam kesulitandan kesesakan hidup, harapan kita satu-satunya ialah Tuhan yang maha kuasa. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah, semogakuasa-Mu menyertai kami di dalam kesulitan dan kesesakan hidup kami. SalamMaria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Elyanne from the Parish of Saint James in the Diocese of Surabaya, Indonesia. Jonah 3: 1-10; Rs psalm 51: 3-4.12-13.18-19; Luke 11: 29-32.MORE THAN A SIGN OFWARNING The title for ourmeditation today is: More Than a Sign of Warning. When the Jewish leaders,religious authorities and scholars pressed Jesus to give them a sign for allmiracles He had done, Jesus did not want to give any. He responded them withHis silence. Eventhough He would say an answer, they would not understand andaccept Him. On various occasions and in kinds of words He expplained that Hehimself is indeed a sign from God, but they prefered another kind of sign. Theyactually did not recognized Yesus as the One sent by the Lord who is in heaven. The book of theprophet Jonah in the first reading shows that the people and the city ofNineveh who were known for their sins, heeded God's warning and recognizedJonah when he came to speak to them. God presented His signs through theprophet Jonah. Then the city, its leaders and the inhabitants listened to theProphet. The result was that they all repented. On another occasion, the Queenof Sheba who was not of a Jewish and a believer recognized God's wisdom throughthe King Solomon. This shows that Jonah and Solomon were signs from God. God'ssign through Jonah was the message of God's mercy for the people of Nineveh.Through Solomon God delivered the message of joyful wisdom to the queen and thewhole world. If our response is toaccept, acknowledge, and undertake the messages from God through human signs,things become easy and God blesses us with abundant gifts. We then have joy,peace, happiness, and salvation. The problem is that there are always humanreactions that do not hear, reject, and do not heed the warning. Obviously theresult is that they do not receive God's blessing. The reactions of the Jewishleaders, religious authorities, and scholars were even harder, as they did notaccept the signs from above. They did not acknowledge God to be more powerfulthan Jonah and Solomon. This is their big mistake, so the Lord warned themright away and strongly! We experience God'spresence directly through the preaching of His word. The Word is preached bythe various ministries of the Church as the light and source of our lives. Inthe Eucharist, the word becomes the Body of Jesus we receive and eat. In the sacramentof Reconciliation, the word becomes a gift of mercy that forgives and saves usfrom sin. In homilies, the word becomes a spiritual spring that satisfies thethirst of our souls. In pastor's blessing, the word becomes a spiritual forcethat strengthens our spiritual life. In spiritual songs, the word becomes agentle touch that makes us calm and comfortable. In the counsel of parents andadults, the word protects us. So throughout our lives the word of God isincarnated. We just need to accept and acknowledge that there is a God, andthen we fulfill His will. Let's pray. In the name of the Father... O most loving and generous Father, fill our hearts with Your wisdom andlove so that we may grow in the way You wish us to be. Let us alwaysacknowledge You and Your plan for us. Glory to the Father and to the Son and tothe Holy Spirit ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Kris Waleng dan Welin Duan dari Gereja Santo Fransiskus Xaverius, Paroki Tanjung Priok, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Yunus 3: 1-10; Mazmur tg 51: 3-4.12-13.18-19; Lukas 11: 29-32.LEBIH DARI PADATANDA YANG MEMPERINGATKAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: Lebih DaripadaTanda Yang Memperingatkan. Ketika para pemuka, pemimpin dan cendekia Yahudimenekan Yesus supaya memberikan mereka tanda atas semua yang diperbuat-Nya,Yesus tidak sudi memberikan. Ia berbalik menanggapi mereka dengan sebuah carapembungkaman. Ia berkata dalam berbagai kesempatan dan dalam aneka perkataanbahwa Ia sendiri adalah tanda Allah. Karena itu mereka tak perlu lagipembuktian dari surga selain diri Yesus yang sedang berbicara dengan mereka. Kitab nabi Yunus dalam bacaan pertama memperlihatkan kalauorang-orang Niniwe dan kotanya yang terkenal berdosa, mengenali peringatanAllah ketika Yunus datang dan berbicara kepada mereka. Tuhan menghadirkantanda-Nya melalui nabi Yunus. Lalu kota itu, berikut pemimpin dan penduduknyamendengarkan nabi, lalu hasilnya ialah mereka semua bertobat. Pada kejadianlain, Ratu dari Syeba yang tidak seagama dengan Yahudi mengenali kebijaksanaanAllah di dalam Raja Salomo. Ini menunjukkan bahwa Yunus dan Salomo adalah tandadari Allah. Tanda pada Yunus berisi pesan kerahiman Allah bagi orang-orangNiniwe. Tanda pada Salomo berisi pesan suka cita kebijaksanaan kepada ratu danseluruh dunia. Jika sikap manusia ialah menerima, mengakui, danmenyanggupi pesan dari Allah melalui tanda-tanda tersebut, semuanya menjadimudah dan Tuhan memberkatinya dengan karunia melimpah. Manusia memperoleh sukacita, damai, kebahagiaan, dan keselamatan. Persoalannya ialah kalau manusiatidak mendengar, menolak, dan tidak menyanggupi peringatan itu. Jelas akibatnyaialah mereka tidak mendapatkan berkat karunia Allah. Sikap para pemuka,pemimpin, dan cendekia Yahudi itu justru lebih keras, yaitu mereka tidak menerimadan mengakui Tuhan Yesus yang lebih dari pada Yunus dan Salomo. Ini adalahkesalahan besar mereka, maka Tuhan yang langsung memperingatkan mereka! Kita mengalami kehadiran Tuhan langsung melalui firman-Nyayang diwartakan. Firman itu difasilitasi oleh Gereja sebagai terang dan sumberkehidupan kita. Di dalam Ekaristi, firman itu berubah menjadi tubuh yang kitaterima dan santap. Di dalam sakramen tobat, firman itu menjadi pesan kerahimanyang mengampuni dan menyelamatkan kita dari dosa. Di dalam homili, firman itumenjadi siraman rohani yang menyegarkan dahaga jiwa kita. Di dalam berkatpastor, firman itu menjadi kekuatan rohani yang menguatkan hidup rohani kita.Di dalam lagu-lagu rohani, firman itu menjadi sentuhan lembut yang membuat dirikita tenang dan nyaman. Di dalam nasihat orang tua dan orang dewasa, firman itumelindungi kita. Jadi di dalam seluruh hidup kita firman Tuhan menjelma. Kitahanya perlu menerima dan mengakui bahwa ada Tuhan, lalu menyanggupikehendak-Nya. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Bapa yang baik,penuhilah hati kami dengan kebijaksanaan dan kasih-Mu supaya selalu berpihakkepada-Mu. Biarkanlah kami selalu mengakui-Mu dengan segenap hati kami.Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Ria from the Parish of Good Shepherd in the Diocese of Surabaya, Indonesia. Isaiah 55: 10-11; Rs psalm 34: 4-5.6-7.16-17.18-19; Matthew 6: 7-15.ABUNDANT FRUITS FROMTHE WORD OF GOD The title for ourmeditation today is: Abundant Fruits from the Word of God. God's work to savemankind from sins culminates in the presence of the Son of God becoming man in Jesus Christ. This divine work is a majortheme to be pondered in the heart of every believer, and especially to be moreeffective during Lent. This is to strengthenour faith in the events of Jesus Christ that we celebrate during the Holy Week.We who celebrate Easter, preparing ourselves during Lent, experience aprivilege closeness with the Lord by participating in the events of Christ.Jesus always emphasizes the principle of self-sacrifice that is to do the willof the Father to be realized in this world. That sacrifice signifies how eachof us is not just His people or His followers, but also His own brothers andsisters. He himself says that the greatest love is menifested in the sacrificeof oneself for the goodness and salvation of his or her brothers and sisters. We as children of Godthrough the sacrament of baptism that raises us to become His beloved sons anddaughters, have a special dignity of one brotherhood with Jesus Christ. Withhim, we call God in heaven as our common and beloved Father. All followers ofChrist affirm and embrace their brotherhood with Jesus, their dignity as sonsand daughters of God, and their personal and filial relationship with God asthe Father. The expression of this intimate relationship is manifested in theprayer of "Our Father". In Lent, of course wepray "Our Father" with the best quality of faith, as one form ofdiscipline in our Christian piety. This prayer confirms our brotherhood withChrist, and together with Him we greet God as "our Father". We saythis prayer many times every day because we want to strengthen our fidelity tothe One Father in heaven, who endows His gifts upon each one of us that make usremain close to Him. This happens in this way because of our communion withJesus Christ. The abundance offruits in us remain certain through the gift of God's word which is present toenlighten, strengthen, and renew the life of every believer. Jesus is no longerpresent in His body, but in His word. Through that word, each of us grows and bearsfruit, especially in the form of prayers that unite us with our Father inheaven. Prayer reveals what we do in fasting, such as forgiving and refrainingfrom falling into temptation. Through prayer we also express the intention todo good for our neighbors.Let's pray. In the name of the Father... O Father of mercy, send your Spirit to help us and to accompany us to praylike Jesus Christ. Glory to the Father and to the Son and to the Holy Spirit... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Suster Wilhelmina OSA dari Komunitas Suster Santo Agustinus di Paroki Santo Yusuf Karang Pilang, Keuskupan Surabaya, Indonesia. Yesaya 55: 10-11; Mazmur tg 34: 4-5.6-7.16-17.18-19; Matthew 6: 7-15.BUAH BERLIMPAH DARIFIRMAN TUHAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: Buah BerlimpahDari Firman Tuhan. Karya Allah untuk menyelamatkan manusia dari dosa memuncakpada kehadiran Putra Allah menjadi manusia di dalam Yesus Kristus. Karya nyataIlahi ini menjadi tema besar untuk direnungkan terus-menerus di dalam hatisetiap orang beriman, dan khususnya semakin kuat di dalam masa Pra Paskah. Ini untuk memperkuat iman kita akan peristiwa YesusKristus yang kita rayakan pada hari Paskah. Kita yang merayakan Paskah, yangdipersiapkan melalui Pra Paskah, mengalami suatu keistimewaan denganberpartisipasi dalam peristiwa Kristus. Yesus senantiasa menegaskan prinsippengorbanan diri-Nya yaitu demi melakukan kehendak Bapa sampai tuntas di duniaini. Pengorbanan itu menandakan betapa setiap dari kita bukan sekedar umat ataupengikut-pengikut-Nya, tetapi sebagai saudara-saudari-Nya sendiri. Ia sendiri berkatabahwa cinta yang paling besar ialah pengorbanan diri seseorang demi kebaikandan keselamatan saudara-saudarinya. Kita sebagai anak-anak Allah melalui sakramen pembaptisandan juga menjadi putra-putri-Nya terkasih memiliki martabat istimewa yaitu satupersaudaraan dengan Yesus Kristus. Bersama dia, kita menyapa Allah di surgasebagai Bapa yang menjadi milik bersama. Semua pengikut Kristus mempertegaspersaudaraannya dengan Yesus, martabatnya sebagai putra-putri Allah, dan dalammemperlakukan Allah sebagai seorang Bapa. Ungkapan hubungan yang intim ini kitadoakan senantiasa di dalam doa “Bapa Kami”. Di dalam masa Pra Paskah, tentu kita berdoa “Bapa Kami”dengan kualitas iman yang terbaik, sebagai salah satu bentuk disiplin dalampraktik kesalehan kita. Doa ini menegaskan persaudaraan kita dengan Kristus,ketika bersama dengan Dia kita menyapa Allah sebagai “Bapa kami”. Sekian banyakdoa ini kita ucapkan dalam satu hari menandakan kalau Bapa yang satu di dalamsurga membuahkan karunia-Nya di dalam diri kita semua yang tetap dekat denganDia, karena persekutuan kita dengan Yesus Kristus. Kelimpahan buah di dalam diri kita tetap dijamin olehkarunia firman Allah yang hadir untuk menerangi, menguatkan, dan membaharuihidup setiap orang beriman. Yesus tidak hadir lagi dalam tubuh-Nya saat ini,tetapi di dalam firman-Nya. Melalui firman itu, kita masing-masing bertumbuhdan berbuah, khususnya dalam bentuk doa-doa yang menyatukan kita dengan Bapa disurga. Doa mengungkapkan apa yang kita lakukan dalam berpuasa, sepertimengampuni dan menahan diri tidak jatuh ke dalam pencobaan. Melalui doa pula kitaungkapkan niat untuk berbuat baik kepada sesama. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Bapa maha baik,utuslah Roh-Mu untuk membantu kami berdoa seperti Yesus Kristus. Kemuliaan...Dalam nama Bapa...

Delivered by Everine from the Parish of Saint Theresia in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Leviticus 19: 1-2.11-18; Rs psalm 19: 8.9.10.15; Matthew 25: 31-46.LENTEN LAMBS AND GOATS Our meditation today isentitled: Lenten Lambs and Goats. There was one WhatsApp message shared throughdifferent groups and then forwarded by individuals, that says: Every year we fast, pray fervently anddo charity during Lent, but the results have not been good. One time we become good persons, atother times we become bad persons. Today we choose blessings, tomorrow we canturn to curses. Forgiveness and repentance occur at the time of confession, butafter that we return to sin. We seem to struggle with difficulty to becomeperfect people. We know andunderstand all the prohibitions established by God, and Moses delivered them toGod's people that they needed to heed the ten commandments of God, as stated inthe Book of Leviticus in the first reading. They must be as holy as God who isholy. They were prohibited to stealing, lie, perjury, take people's property, bejealous, hate, be angry and so on. All this is summed up to one main law whichis to love our neighbors as we for ourselves. So in this Lent, the followersof Christ are appropriately portrayed as individuals who do their best to loveothers, but are no exception being sinners for not loving others sincerely. Forexample someone does charity so diligently in collecting donations for thosewho really need helps of clothing, food, and shelter, but he is also mostlyknown as a backbiting and the one who likes to spread hoax. This is an example aboutus who do Lenten observances are not pure and holy persons. Some aspects of ourselvesare good and holy, but other aspects are not. Jesus Christ indeed comparesthose on the right side are sheeps with great charity, but if we want to behonest we have not reached yet perfection being that way. Those on the leftside are goats with a great negligence in charity, but they are also notcompletely evil in that way. It is possible thatalmost all of us in Lent are half sheeps and half goats. We are the"sheeps and goats" type in this Lent. If we are already pure and holypeople, obviously we don't need Lent. More precisely, we go directly tocelebrate the holy week in order to become one with the dead and risen Christ.But it is apparently not the case. Actually, not only Lent but also every timeon this earth, our lives are like "sheeps and goats" type, thereforewe must be faithful to God and obtain His mercy. Let's pray. In the name of the Father... O Jesus Christ, be our master and guide in our lives. May your love ruleover our hearts so that we can only serve you for the rest of our lives. HailMary, full of grace ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Hendrina Linong dan Germans Uran dari Paroki Santo Damian Bengkong, Batam, di Keuskupan Pangkal Pinang, Indonesia. Imamat 19: 1-2.11-18; Mazmur tg 19: 8.9.10.15; Matius 25: 31-46.DOMBA DANKAMBING PRAPASKAH Renungan kita pada hari ini bertema: Domba dan Kambing PraPaskah. Ada satu pesan whatsapp yang tersebar melalui grup-grup dan diteruskanorang-perorangan, katanya: Setiap tahun kita menekuni berpuasa, berdoa danberamal, namun hasilnya tidak cukup maksimal. Suatu saat kita menjadi orangbaik, di waktu lain menjadi orang jahat. Hari ini kita memilih berkat, besokbisa berubah menjadi kutuk. Pengampunan dan pertobatan terjadi pada saat pengakuandosa, tetapi setelah itu kita kembali berbuat dosa. Kita sepertinya berjuangdengan susah payah untuk menjadi orang-orang yang sempurna. Kita tahu dan mengerti semua larangan yang ditetapkan olehAllah supaya Musa menyampaikan itu kepada umat Allah untuk mengindahkan sepuluhperintah Allah, seperti yang diwartakan kitab Imamat dalam bacaan pertama.Mereka harus kudus seperti Allah dengan tidak mencuri, berdusta, bersumpahpalsu, merampas milik orang, iri, benci, marah dan sebagainya. Semua inidirumuskan secara positif dengan satu hukum utama ialah mengasihi sesama kitaseperti diri kita sendiri. Jadi di dalam masa Pra Paskah ini, sosok orang-orangberiman pengikut Kristus pas untuk digambarkan sebagai pribadi-pribadi yangberusaha dan bertumbuh dalam mengasihi sesamanya, namun tak luput dariperbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan. Misalnya seseorang berbuat amaldengan begitu tekun mengumpulkan sumbangan untuk orang-orang yang sangatmembutuhkan bantuan sandang, pangan, dan papan, namun ia juga terkenal sebagai pemfitnah dan penyebar berita bohong. Ini adalah contoh kalau kita yang menjalankan Pra Paskahini bukan sebagai orang-orang suci dan murni. Sebagian hidup rohani kita memangbaik dan suci, namun sebagian lain tidak. Yesus Kristus memang mengumpamakanmereka yang di bagian kanan ialah domba-domba dengan amal kasihnya yang besar,namun jika mau jujur kita belum sampai sempurna seperti itu. Mereka yang disebelah kiri ialah kambing-kambing dengan kelalaian besar dalam beramal kasih,namun mereka juga tidak sepenuhnya jahat seperti itu. Bisa jadi hampir semua kita di dalam masa Pra Paskah iniadalah setengah domba dan setengah kambing. Kita adalah para “dombing” di dalammasa Pra Paskah ini. Jika kita memang sudah sebagai orang-orang suci dan murni,jelas kita tidak memerlukan masa Pra Paskah. Lebih tepatnya kita langsung sajamerayakan pekan suci supaya menyatu dengan Kristus yang mati dan bangkit. Tapi ternyata tidak demikian. Sebenarnya,tidak hanya Pra Paskah tetapi juga setiap waktu di bumi ini, hidup kitabagaikan “dombing”, oleh karena itu kita harus setia kepada Tuhan danmendapatkan belas kasih kerahiman-Nya.Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Yesus Kristus,jadilah Guru dan Pengatur hidup kami. Semoga kasih-Mu mengatur hati kamisehingga kami hanya dapat mengabdi kepada-Mu seumur hidup kami. Salam Maria,penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Yurike Gunawan from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Genesis 2: 7-9; 3: 1-7; Rs psalm 51: 3-4.5-6a.12-13.14.17; Romans 5: 12-19; Matthew 4: 1-11.GOD SEES ANDALLOWS MAN TO BE TEMPTED BY SATAN The tittle for our meditation on the First Sunday ofLent is: God Sees and Allows Man to be Tempted by Satan. We often askourselves: if God is good, why does He allow people to be tempted? Why didn'the stop the devil right away? In the Garden of Eden, God saw when the first humanbeing was tempted. In the wilderness, God also saw when His own Son, JesusChrist, was tempted repeatedly. God is not blind, God is not negligent. Hesees. He knows. And He allows. But God's permission is not a sign that Heapproves evil. God's permission is always in the plan of love and salvation. God allows temptation because He created man withfreedom. Love without freedom is not true love. Loyalty without choice is notloyalty. If humans can never choose the wrong one, then choosing the right oneis no longer meaningful. So in the face of temptation, man is actually standingbefore an opportunity: whether he will believe in God, or believe in anothervoice. That's where faith becomes real, not just words. The story in Eden shows how human can fall. Whenlistening to the voice of the devil, human chooses a path away from God. Buteven in that moment of fall, God does not leave. He seeks out people, callsthem, and opens the way of salvation. So God never allows temptation to destroyman, but rather to lead man to see how much he needs God. Sin hurts, but theconsciousness of sin opens the door to repentance. Then we see Jesus in the wilderness. He was temptednot once, but many times. Satan tried to shake Him through the hunger, power,and glory of the world. But Jesus did not fall. He answered with the Word ofGod, with full trust in the Father. This is where the light of hope lies:temptation does not have to end in sin. In Jesus, we learn that humans canstand firm. He showed that faithfulness is possible, that God's grace is strongenough to help us. Perhaps in our lives today there is also a"wilderness": the temptation to despair, the temptation to be angry,the temptation to look for shortcuts, the temptation to live away from God.Don't immediately think God is leaving us. Quite the opposite. God sees. God iswith us. And He allows that struggle to be purified in our faith, in order forour hearts to learn to rely on Him again. So don't be afraid of temptation. Be afraid when westop returning to God. When you fall, rise through repentance. When you arestrong, be grateful for His grace. Because in every struggle, God is working toshape our hearts. He never leaves man in temptation. Instead, he opens the wayhome. And on that way home, we find that God's love is always greater than anytemptation in this world.Let us pray. In the name of the Father ... O Father inheaven, fill us with Your power so that we may overcome the temptations in ourlives and choose the way back to You. Our Father who art in heaven... In thename of the Father ...

Dibawakan oleh Priscilla Victory Lamauran, Hendrina Linong dan Germanus Asan Uran dari Paroki Santo Damian Bengkong, Keuskupan Pangkal Pinang, Indonesia. Kejadian 2: 7-9; 3: 1-7; Mazmur tg 51: 3-4.5-6a.12-13.14.17; Roma 5: 12-19; Matius 4: 1-11.TUHANMELIHAT DAN MENGIZINKAN MANUSIA DIGODAI SETAN Tema renungan kita pada hari Minggu Pertama Prapaskahini ialah: Tuhan Melihat dan Mengizinkan Manusia Digodai Setan. Sering kalikita bertanya dalam hati: kalau Tuhan itu baik, mengapa Ia membiarkan manusiadigodai? Mengapa Ia tidak langsung menghentikan iblis sejak awal? Di TamanEden, Tuhan melihat ketika manusia pertama digoda. Di padang gurun, Tuhan jugamelihat ketika Putra-Nya sendiri, Yesus Kristus, dicobai berulang kali. Tuhantidak buta, Tuhan tidak lalai. Ia melihat. Ia tahu. Dan Ia mengizinkan. Tetapiizin Tuhan bukanlah tanda Ia setuju dengan kejahatan. Izin Tuhan selalu beradadalam rencana kasih dan keselamatan. Tuhan mengizinkan godaan karena Ia menciptakan manusiadengan kebebasan. Cinta tanpa kebebasan bukanlah cinta sejati. Kesetiaan tanpapilihan bukanlah kesetiaan. Bila manusia tidak pernah bisa memilih yang salah,maka memilih yang benar pun tidak lagi bermakna. Maka di hadapan godaan,manusia sebenarnya sedang berdiri di hadapan kesempatan: apakah ia mau percayakepada Tuhan, atau percaya pada suara lain. Di situlah iman menjadi nyata,bukan sekadar kata-kata. Kisah di Eden menunjukkan betapa manusia bisa jatuh.Ketika mendengarkan suara iblis, manusia memilih jalan yang menjauh dari Tuhan.Namun bahkan di saat jatuh itu, Tuhan tidak pergi. Ia mencari manusia,memanggil mereka, dan membuka jalan keselamatan. Jadi Tuhan tidak pernahmengizinkan godaan untuk menghancurkan manusia, melainkan untuk menuntunmanusia melihat betapa ia membutuhkan Tuhan. Dosa itu melukai, tetapi kesadaranakan dosa membuka pintu pertobatan. Lalu kita melihat Yesus di padang gurun. Ia digodaibukan sekali, tetapi berkali-kali. Iblis mencoba menggoyahkan-Nya melaluilapar, kuasa, dan kemuliaan dunia. Tetapi Yesus tidak jatuh. Ia menjawab denganSabda Tuhan, dengan kepercayaan penuh kepada Bapa. Di sinilah ada terangpengharapan: godaan tidak harus berakhir dengan dosa. Dalam Yesus, kita belajarbahwa manusia bisa berdiri teguh. Ia menunjukkan bahwa kesetiaan itu mungkin,bahwa rahmat Tuhan cukup kuat untuk menolong kita. Mungkin dalam hidup kita hari ini juga ada “padanggurun”: godaan untuk putus asa, godaan untuk marah, godaan untuk mencari jalanpintas, godaan untuk hidup jauh dari Tuhan. Jangan langsung berpikir Tuhanmeninggalkan kita. Justru sebaliknya. Tuhan melihat. Tuhan menyertai. Dan Iamengizinkan pergulatan itu agar iman kita dimurnikan, agar hati kita belajarkembali bersandar pada-Nya. Maka jangan takut terhadap godaan. Takutlah bila kitaberhenti kembali kepada Tuhan. Bila jatuh, bangkitlah melalui pertobatan. Bilakuat, bersyukurlah atas rahmat-Nya. Sebab dalam setiap pergulatan, Tuhan sedangbekerja membentuk hati kita. Ia tidak pernah meninggalkan manusia di dalampencobaan. Ia justru membuka jalan pulang. Dan di jalan pulang itu, kitamenemukan bahwa kasih Tuhan selalu lebih besar daripada godaan apa pun di duniaini. Marilah kita berdoa. Dalam namaBapa … Ya Bapa di surga, penuhilah kami dengan kuasa-Mu sehingga kami mampumengatasi godaan-godaan di dalam hidup kami dan memilih jalan untuk kembalikepada-Mu. Bapa kami yang ada di surga … Dalam nama Bapa …

Delivered by Thia Santos from Church of Divine Mercy Shah Alam, in the Archdiocese of Kuala Lumpur, Malaysia. Isaiah 58: 9b-14; Rs psalm 86: 1-2.3-4.5-6; Luke 5: 27-32.FASTING FOR RENEWAL The title for ourmeditation today is: Fasting for Renewal. Yesterday we were illuminated inmeditation that our fasting in Lent is done through charity and prayer. Theseare the ways we fast. Then the next thing that is very important is the fruitor result of fasting. What do you get after fasting? Today we contemplate thatby fasting people will experience a renewal of life. The prophet Isaiahsaid that those who stop distressing and hurting their fellows, then turn to dogood and do charity for their fellowmen, the renewal that they eventually getis that God pleases them. God will guide them always. God will satisfy all theirinterests that they may find happiness and peace in their lives. This renewalrelates to the growth of their spiritual life, where their relationship withGod is in unity and love. The basis is that they do all of God's own works.Their deeds are the expression of the Lord's deeds. What Isaiah haddescribed really illustrates the experiences of those who were the first eyewitnesses, who were living and working with Jesus Christ. All of us as membersof the Church today in our different situations, have this experience,especially during Lent. We want to strengthen and bind ever stronger ourrelationship with God, that we may become more united with Him. The conditionis to persevere in faith and being good disciples of the Lord like theapostles. Repentance is a kindof renewal of life that has a strong impact on a person or community. This isshown in those who leave their old life in darkness of sin and choose a newlife in God. Through fasting, which is the experience of meeting and livingtogether with God, the power of the Lord can change one's path of life. Thisexperience was shown by Levi, the tax collector who met Jesus and then invitedJesus to eat at his house. The tax collector later became one of the 12apostles of Jesus. If fast during Lenthas not shown signs of repentance within you and your family or community,entering the first week of Lent can be a good opportunity for you to plan wellyour Lenten observances and implement them personally or together. That planmust be concrete which eventually brings you to conversion and again unitedwith Jesus. Let's pray. In the name of the Father... O God of mercy, enlighten the way of our personal and common journey inthis Lent, so that we walk in Your marvelous light for our repentance. Glory tothe Father and to the Son and to the Holy Spirit ... In the name of the Father...

Dibawakan oleh Sr Tania MCFSM dan Sr Dominika MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Santa Teresa Kalkuta Bekasi di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Yesaya 58: 9b-14; Mazmur tg 86: 1-2.3-4.5-6; Lukas 5: 27-32.PUASA BERBUAHPEMBAHARUAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: Puasa BerbuahPembaharuan. Kemarin kita diterangi dalam renungan bahwa puasa kita di dalammasa Pra Paskah ini dilakukan melalui beramal dan berdoa. Ini merupakancara-cara kita berpuasa. Lalu hal berikut yang amat penting ialah buah atauhasil melakukan puasa. Apakah yang didapatkan setelah melakukan puasa? Hari inikita merenungkan bahwa dengan berpuasa orang mendapatkan pembaharuan hidup. Nabi Yesaya mengatakan bahwa orang yang berhentimenyusahkan dan menyakiti sesamanya, lalu berbalik untuk berbuat baik danberamal kasih kepada sesamanya itu, pembaharuan yang ia peroleh adalah TuhanAllah berkenan kepadanya. Tuhan akan menuntunnya senantiasa. Tuhan akanmemuaskan semua kepentingannya untuk menjadi bahagia dan selamat di dalamkehidupannya. Pembaharuan ini berkaitan dengan kehidupan rohaninya yangberkembang, di mana hubungannya dengan Tuhan ialah dalam satu keterikatan yangmenyatu. Dasarnya ialah karena ia melakukan semua perbuatan Tuhan sendiri. Yang digambarkan oleh Yesaya ini terungkap dengan sangatjelas dalam pengalaman orang-orang yang mengalami sendiri hidup dan bekerjabersama Yesus Kristus. Kita semua yang berada di dalam Gereja saat ini jugadalam situasi yang berbeda-beda memiliki pengalaman ini, terlebih-lebih selamamasa Pra Paskah, kita ingin memantapkan dan memperkuat hubungan kita denganTuhan untuk semakin menyatu dengan-Nya. Syaratnya ialah bertahan dalam iman dankesetiaan menjadi murid-murid Tuhan yang baik seperti para rasul. Pembaharuan hidup yang dampaknya kuat bagi diri seseorangatau dalam suatu kebersamaan dengan orang lain ialah pertobatan. Tandanya ialahorang meninggalkan hidup yang lama dalam kegelapan dosa dan memilih hidup barudi dalam Tuhan. Melalui berpuasa, yaitu pengalaman berjumpa dan hidup bersamadengan Tuhan, kekuatan pengaruh-Nya dapat mengubah jalan hidup seseorang.Pengalaman ini ditunjukkan oleh Lewi, si pemungut cukai yang bertemu denganYesus dan selanjutnya mengundang Yesus untuk makan di rumahnya. Si pemungutcukai ini kemudian menjadi salah satu dari ke-12 rasul Yesus. Jika puasa dalam masa Pra Paskah ini belum menunjukkantanda-tanda akan ada pertobatan di dalam diri Anda dan keluarga atau kelompokAnda, memasuki minggu pertama Pra Paskah kiranya dapat dibuatkan suatuperencanaan dalam menata kehidupan baik pribadi maupun bersama. Perencanaan itumesti dapat dikonkretkan untuk suatu pertobatan yang kemudian diwujudkan. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah maha rahim,terangi perjalanan hidup kami pribadi dan bersama di dalam masa Pra Paskah ini,sehingga kami berjalan di dalam terang untuk pertobatan kami. Kemuliaan kepadaBapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Vici from the Parish of Saint John the Baptist in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Isaiah 58: 1-9a; Rs psalm 51: 3-4.5-6a.18-19; Matthew 9: 14-15.DOING FASTING INCHARITY AND PRAYER Our meditation today isentitled: Fasting in Charity and Praying. The three standard of piety we havemeditated yesterday, each of which does not stand alone. Praying is not anaction that has nothing to do with fasting and charity. Likewise, fasting andcharity. One righteous deed requires the others two in order to make a personrighteous and blessed before the Lord and can become an example for neighbors. Today's meditationwants to bring our attention to fasting that we do through the acts of charityand prayer. In every act of love one carries out his or her fasting. Likewisewhen there is an opportunity to pray, one fills and strengthens his or herfasting. Both our readings today illuminate our faith about fasting in charityand prayer. The book of theprophet Isaiah confirms that the act of fasting which is very effective inliving together and in accordance with God's will, is to open the chains ofburdens and punishments. All oppressed and fettered forms of life must beremoved. Actions or behaviors that deceive and cause trouble to others must bestopped. Hungry and thirsty people are given their satisfaction. Those whodon't have a house are given a place of refuge. Those who don't have clothesare given what they really deserve. Everything theprophet said had become concrete in Jesus Christ, who carried out the missionof God the Father, and who was accompanied by the apostles. Besides theapostles, there were many disciples who followed and accompanied Him whereverHe went and at every opportunity of His public ministry. To live with the LordJesus is to look at Him, talk to Him, hear Him, touch Him, acknowledge Him,believe in Him, and give oneself to stay with Him until death. These are allopportunities at all times living together in God, that suit all the criteriafor the prayer of a believer. Therefore Jesusenlightens us that, fasting is our active participation in God's presence. Hispresence animates our entire lives. If God has offered Himself to be with us,then why do humans look for ways to fast? All acts of fasting are actually forus to experience the Lord's presence. He is in our midst and we have to enjoyour fellowship with Him. So by being with God, we carry out the mission of theLord, that is to love and praise in His name. We share this love with thosearound us without limit because He always strengthens us through His words andblessings. Let's pray. In the name of the Father... Almighty and ever living God, fill our hearts with Your power that we maycontinue to share Your love with courage and without hesitation, especially inthis moment full of graces. Hail Mary, full of grace ... In the name of theFather ...

Dibawakan oleh Sr Modesta MCFSM dan Sr Kristin MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Santa Teresa Kalkuta Bekasi di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Yesaya 58: 1-9a; Mazmur tg 51: 3-4.5-6a.18-19; Matius 9: 14-15.BERPUASA DALAMBERAMAL DAN BERDOA Renungan kita pada hari ini bertema: Berpuasa DalamBeramal dan Berdoa. Tiga kesalehan standar yang telah kita sebutkan kemarin,masing-masingnya tidak berdiri sendiri. Berdoa bukanlah suatu tindakan yangtidak punya kaitan dengan berpuasa dan beramal. Demikian juga berpuasa danberamal. Satu perbuatan saleh membutuhkan dua lainnya supaya menjadikanseseorang saleh dan benar di hadapan Tuhan Allah dan menjadi suri teladan bagisesamanya. Renungan ini ingin membawa perhatian kita kepada berpuasayang kita lakukan melalui tindakan amal dan berdoa. Di dalam setiap perbuatankasih itu seseorang menjalankan puasanya. Demikian juga di dalam kesempatanberdoa, seseorang mengisi dan memperkuatkan puasanya. Kedua bacaan kita padahari ini menerangi iman kita tentang berpuasa dalam beramal dan berdoa. Kitab nabi Yesaya menegaskan bahwa perbuatan puasa yangsangat mengena dalam hidup bersama dan sesuai dengan kehendak Allah ialahmembuka belenggu-belenggu kelaliman. Semua bentuk kehidupan yang tertindas danterbelenggu harus dihilangkan. Perbuatan atau perilaku yang memperdayai danmenyusahkan sesama harus dihentikan. Orang-orang lapar dan haus diberikankepuasan raga mereka. Yang tidak mempunyai rumah diberikan tumpangan. Yangtidak mempunyai pakaian dipakaikan pakaian yang perlu. Semua yang dikatakan nabi dibuat begitu konkret oleh Yesusyang menjalankan misi Bapa Allah dengan ditemani oleh para rasul. Selain pararasul, ada begitu banyak murid yang mengikuti dan menyertai-Nya ke mana saja Iapergi dan dalam setiap kesempatan keberadaan-Nya. Hidup bersama dengan TuhanYesus ialah memandang Dia, berbicara dengan Dia, mendengar Dia, bersentuhandengan Dia, mengakui Dia, percaya kepada-Nya, dan berikhtiar untuk tetapbersama Dia sampai mati. Ini semua adalah kenyataan setiap saat hidup bersamadan dalam Tuhan yang memenuhi semua kriteria doa. Oleh karena itu Yesus memberikan pencerahan kepada kitabahwa, berpuasa yang benar dan sesungguhnya ialah melakukan tindakan-tindakanbersama dan di dalam Tuhan. Kehadiran-Nya menjiwai seluruh hidup kita. JikaTuhan sudah merelakan diri-Nya berada bersama kita, lalu mengapa manusiamengarang-ngarang caranya untuk berpuasa? Semua tindakan berpuasa itusebenarnya untuk siapa, padahal Tuhan yang disembah dan dimuliakan itu beradadi tengah-tengah umat-Nya? Jadi dengan berada dan bersama Tuhan, kita menjalankantindakan kasih yang dilakukan atas nama Dia, sambil berbicara dan berinteraksidengan Dia yang menguatkan kita melalui sabda dan berkat-Nya. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Allah maha benar,perkuatkanlah ketetapan hati kami untuk menekuni disiplin iman kami di dalammasa penuh rahmat ini. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Samuel Ivan Gunarsa from the Parish of Mary of All Nations in the Diocese of Bogor, Indonesia. Deuteronomy 30: 15-20; Rs psalm 1: 1-2.3.4.6; Luke 9: 22-25.CHOOSE BLESSINGS Our meditation today isentitled: Choose Blessings. After Ash Wednesday, the liturgy of the day thatfollows invites us to ponder on God's blessings. The Lenten observance is avery special opportunity in the discipline of faith with the demands forstronger effort and quality being trully Jesus' followers when compared withother liturgical seasons. Then the blessing of God is very necessary for therealization of this process of discipline as God pleases His blessings forevery believer who expects salvation. By choosingblessings, what do we not choose? Or if God gives us His blessings, what doesGod not give? The book of Deuteronomy in the first reading confirms that cursesand sufferings for the sins committed are not our choices. In reality, somepeople choose curses or miseries because they are guided by their freedom ofwill. God created this life from the beginning has been good. However, due tothe fall of human nature, the presence and power of truth must face the curseof sin. So people can choose to sin. Believers are guided to choose blessings. Choosing blessingsmeans choosing God. Whereas choosing curse means choosing God's enemy, Satan.In God there is life, love, and hope for an eternal life. Whereas the curse containsdeath, hatred, and eternal punishment. Jesus Christ was sent by the Father intothe world to establish a kingdom of life to rule and bring everyone toblessings. His teachings and example of life are the lamps and springs of waterthat guarantee the continuity of this blessing in the form of graces bestowedon every one who needs it. Today Jesus Christpresents content of our choice to follow Him which is all His blessings flowfrom Him. In this Lent, we receive blessings through prayer, fasting, andcharity. All these three actions must be carried out in the spirit of the crosswe put on our shoulders and perseverance in self-denial. The cross always meanssacrifice and becomes burden that must be borne. We pray, fast or sacrifice,and do charity with certain quantity and quality that makes us able to bear theweight of the cross like Jesus did. These three righteous deeds must also leadus to focus on uniting our hearts with God, and not on ourselves and allinterests of the world. From there blessings will flow to us.Let's pray. In the name of the Father... O Lord Jesus Christ, may Your word strengthen our intention to carry thecross and deny ourselves in order to diligently follow You. Bless us so thatall the way following You we find our true self. Hail Mary, full of grace ...In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Sr Kresen MCFSM dan Sr Krista MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Santo Fransiskus Catholic Center di Keuskupan Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Indonesia. Ulangan 30: 15-20; Mazmur tg 1: 1-2.3.4.6; Lukas 9: 22-25.MEMILIH BERKAT Tema renungan kita pada hari ini ialah: Memilih Berkat.Setelah Rabu Abu, liturgi hari pertama yang menyusulnya mengajak kita untukmerenungkan tentang berkat Allah. Masa Pra Paskah sangat spesial mengenaidisiplin beriman dengan tuntutan volume dan kualitas yang lebih kuat kalaudibandingkan dengan masa-masa liturgi lainnya. Maka berkat Tuhan sangat kitaperlukan demi terwujudnya proses pendisiplinan ini hanya karena Tuhan berkenandengan berkat-Nya bagi setiap orang yang mengharapkan keselamatan dirinya. Dengan memilih berkat, lalu apakah yang tidak kita pilih?Atau jika Tuhan memberikan kita berkat-Nya, hal apakah yang tidak Tuhanberikan? Kitab Ulangan dalam bacaan pertama menegaskan kalau kutuk danpenyiksaan dosa bukan pilihan kita. Dalam kenyataan, ada orang memilih kutukatau sengsara karena dituntun oleh kebebasan kodratinya. Tuhan menyelenggarakanhidup ini pada awal adalah baik. Namun karena kejatuhan kodrati manusia, makakehadiran kebaikan itu harus berhadapan dengan kutukan dosa. Jadi orang bisamemilih untuk berdosa. Orang beriman dinasihatkan untuk memilih berkat. Memilih berkat berarti memilih Tuhan. Sedangkan memilihkutuk berarti memilih musuh Tuhan, yaitu setan. Yang ada pada Tuhan ialahkehidupan, cinta, dan pengharapan akan suatu keberlangsungan yang abadi.Sedangkan yang ada pada kutuk ialah kematian, kebencian, dan kesengsaraanabadi. Yesus Kristus diutus oleh Bapa ke dunia untuk mendirikan sebuah kerajaankehidupan supaya memerintah dan membawa semua orang kepada berkat. Ajaran danteladan hidup-Nya menjadi pelita dan sumber air yang menjamin keberlangsunganberkat ini dalam bentuk rahmat karunia yang dicurahkan kepada setiap orang yangmemerlukan. Hari ini Yesus Kristus memaparkan isi pilihan kita untukmengikuti Dia supaya daripada-Nya mengalir semua berkat yang kita perlukan. Didalam masa Pra Paskah berkat-berkat kita dapatkan melalui berdoa, berpuasa, danberamal kasih. Ketiga perbuatan ini mesti dapat dijalankan dalam semangat salibyang kita pikul dan ketekunan dalam penyangkalan diri. Salib selalu bermaknapengorbanan dan menghadirkan beban yang harus ditanggung. Kita berdoa, berpuasaatau bermati raga, dan beramal kasih dengan sebuah volume jumlah dan kualitassedemikian yang membuat kita menanggung beratnya seperti yang Yesus lakukan.Ketiga perbuatan saleh itu mesti juga membawa kita untuk fokus kepada penyatuanhati kita dengan Tuhan, dan bukan kepada diri sendiri dan semua kepentingan duniawi.Dari sana berkat-berkat akan mengalir kepada kita. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan YesusKristus, firman-Mu menguatkan niat kami untuk memanggul salib dan menyangkaldiri kami untuk dengan tekun mengikuti-Mu. Berkatilah kami supaya sepanjangjalan mengikuti-Mu kami menemukan diri kami yang sebenarnya. Salam Maria, penuhrahmat ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Kezia from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Joel 2: 12-18; Rs psalm 51: 3-4.5-6a.12-13.14.17; 2 Corinthians 5: 20 - 6: 2; Matthew 6: 1-6.16-18.STANDARD OF SPIRITUAL LIFE Our meditation on the Ash Wednesday is entitled:Standard of Spiritual Life. There are a lot of lifestyle changes in ourfamilies due to technological and communication advancements. Stephen andMelania's family, along with their three children, who live in different placesdue to different works, maintain communication among them through the familywhatsapp group. Stephen once shared to his friends, saying that his family'sspiritual life has a true Christian standard, especially the regular time ofprayer together in the family. They use this media to pray together. Judaism tradition and religion inherit a standard of spirituallife that later Jesus Christ taught us as well. This spirituality standard includesthree basic acts, namely fasting, praying, and doing charity. The Jews obligethis on every one in their religion. If all three were done in an orderly andgood manner, a person is said as a good believer and blessed by God. Jesus alsotaught His disciples to do same. They were obliged to pray, fast and docharity. However, there is a distinctive element that definesthe different character between the spirituality model taught by Jesus and theone practiced by the Jews, especially according to the religious leaders andPharisees. The difference is related to motivation or intention. For Jesus and allof us who follow Him, the motivation for praying, fasting, and doing charity isto make a close and intimate relationship with God. It is truly a spiritualaffair, a matter of the heart, and an activity of faith in God. The book of theprophet Joel in the first reading emphasizes a renewal of the heart, and notoutward affairs such as torn clothes and other external attributes inherent inour bodies and environment. This confirms that the Jewish spiritual life is verycontrary to what Jesus taught. Their spirituality is not for God but to earnthe praise of others that they are holy and good. They have already earnedtheir reward by what they did in front of people, while God has not given them dueblessings. Jesus makes it clear that we should not follow such externalstandard. Our standard is in the heart that has a direct relationship with God.Whenever these three acts of righteousness are done properly, it is when oneexperiences the act of salvation from God, says Saint Paul in today's secondreading. This is the spirit of Ash Wednesday that we allcelebrate on this day to begin our Lenten season. Let us pray. In the name of the Father... O Lord God, maythis Ash Wednesday celebration grant us new spirit to begin the journey of our spiritual renewal in this Lent period. OurFather who art in heaven... In the name of the Father...

Dibawakan oleh Sr Yolastri MCFSM dan Sr Francesca MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Santo Yosef Ampa di Keuskupan Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Indonesia. Yoel 2: 12-18; Mazmur tg 51: 3-4.5-6a.12-13.14.17; 2 Korintus 5: 20 - 6: 2; Matius 6: 1-6.16-18.KEHIDUPAN ROHANI STANDAR Renungan kita pada hari Rabu Abu ini bertema: KehidupanRohani Standar. Ada banyak sekali perubahan gaya hidup dalam keluarga-keluargakita sebagai bagian darikemajuan teknologi dan komunikasi. Keluarga Stevanus dan Melania bersama tiga anak mereka yang sudah bekerja di tempat-tempat yangberbeda, memaksimalkan komunikasi di antara mereka melalui media wa groupkeluarga. Didalam sebuah pesan wa yang dibagikan ke teman-temannya, Stevanus berkata bahwakehidupan rohani keluarganya mempunyai standar Kristiani yang sesungguhnya, khususnya saat-saat rutin untuk berdoabersama dalam keluarga, informasidiberitahukan melalui wa group keluarga itu. Tradisi dan agama Yahudi mewariskan suatu kehidupan rohanistandar yang kemudian Yesus juga mengajarkan itu kepada kita. Kerohanianstandar itu mencakup tiga perbuatan dasar yang diwajibkan, yaitu berpuasa,berdoa, dan beramal kasih. Orang Yahudi mewajibkan ini kepada setiap umatnya.Jika ketiganya dilakukan dengan teratur dan baik, seseorang dipandang beragamadengan baik dan diberkati Allah. Yesus juga membuat tiga unsur ini menjadi kekhasan para pengikut-Nya. Merekawajib berdoa, berpuasa dan berbuat kasih. Namun ada perbedaan mencolok antara kerohanian standaryang diajarkan oleh Yesus dan yang dijalankan oleh orang-orang Yahudi, terutamamenurut para pemuka agama dan kaum Farisi. Perbedaannya ialah terkait denganmotivasi atau maksud. Bagi Yesus dan yang selalu Ia tegaskan kepada kita,motivasi berdoa, berpuasa atau bermati raga, dan beramal kasih ialah untukmenjalin relasi dengan Allah. Ini benar-benar sebuah urusan rohani, urusanhati, dan kegiatan iman kepada Tuhan. Kitab nabi Yoel dalam bacaan pertama menekankansebuah pembaharuan hati, dan bukan urusan luar seperti pakaian yang dikoyakkandan aneka atribut luar lainnya yang melekat pada tubuh dan lingkungan hidupkita. Hal ini menegaskan kalau hidup rohani Yahudi sangatbertentangan dengan yang diajarkan oleh Yesus. Kerohanian mereka bukan untukTuhan tetapi untuk mendapatkan pujian orang-orang lain bahwa mereka orang sucidan baik. Upahnya sudah mereka dapatkan dengan penampilan itu, sementara Tuhantidak memberikan berkat-Nya kepada mereka. Yesus menegaskan supaya kita tidakmengikuti standar luar seperti itu. Standar kita ialah di dalam hati yanglangsung mempunyai relasi dengan Tuhan. Setiap kali melakukan ketiga kesalehanini dengan benar, itu adalah saat seseorang mengalami tanda keselamatan dariTuhan, demikian kata Santo Paulus dalam bacaan kedua hari ini. Ini adalah semangat Rabu Abu yang kita semua rayakan padahari ini untuk mengawali masa Pra Paskah kita. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan Allah,semoga dengan hari Rabu Abu ini kami dipenuhi semangat baru untuk memulaiproses pembaharuan diri di dalam masa Pra Paskah ini. Bapa kami yang ada di surga ... Dalam nama Bapa...

Delivered by Evelyn from the Parish of Holy Spirit in the Archdiocese of Singapore. James 1: 12-18; Rs psalm 94: 12-13a.14-15.18-19; Mark 8: 14-21.STRONG IN FACINGTRIALS The title for our meditation today is: Strong inFacing Trials. In the New Testament of the holy scriptures, Jesus Christteaches us to be strong in facing trials. The experience of facing a trial or testcan be seen similar to a judgement, which means to test someone whether he isable to pass the trial or not. For example, in the Gospel of Matthew 26:41,which is the same as Mark 14:38 and Luke 22:40, Jesus reminds us to always bestrong in prayer and vigilant against the danger of falling into temptation.Our flesh or body is weak, so it is easy to become target and tempted byenemies. God Himself also reminded His people in the OldTestament to be strong against the temptations, trials and evil forces in life.When Moses faced Pharaoh in Egypt, he was truly in a severe trial. But he wasalso obedient to God's guidance and commands. By adhering to this principlethat God teaches and strengthens us, it is clear a mere game or joke to assume that God alsotempts us. There is a presumption or preception among us that God disturbs andtempts us. This is just taken for granted as a kind of temptation that we humannormally face. But this is obviously impossible. How does the Lord strengthenus, however, He also tempts what He Himself ordains, strengthens and protects? Therefore Saint James in the first reading affirmsthat it is impossible for God to tempt us his beloved children. God does nothave a system of operation like any other human and spirit beings who have evildesire to try, to tempt, or to deceive others. The prince of tempters and evilspirits is the devil. This satanic power prioritizes his work on human behaviorthat is against God's way. Naturally humans have freedom, therefore, anybodycan choose to follow the influence of Satan. So man is tried and tempted by hisor her own desire that has been controlled by the evil one. When do we know that we meet a trial or temptation?The accounts in today's Gospel describe a common situation when someone fecestrials. When our minds and hearts begin to understand and consider that God isfar away or not with us. When we worry or presume that our fate will be indifficulty because there are so many challenges, difficulties, and threatsaround us. Moreover, we are deeply haunted by our inability to deal with all thechallenges and problems. So, temptations will reach us when there is only alittle faith, when there is assumption that there are many threats around us,and the view that God is far away. Therefore, this is the advice for us: that wemust be strong!Let us pray. In the name of the Father... O Almighty God,fill us with a brave and strong spirit of faith to face all the trials and temptationsin this life. Glory to the Father and to the Son and to the Holy Spirit... Inthe name of the Father ...

Dibawakan oleh Sr Modesta MCFSM dan Sr Yuliana MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Santo Yosef Ampa di Keuskupan Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Yakobus 1: 12-18; Mazmur tg 94: 12-13a.14-15.18-19; Markus 8: 14-21.KUAT MENGHADAPIUJIAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: Kuat MenghadapiUjian. Di dalam kitab suci perjanjian baru, Yesus Kristus mengajarkan kitauntuk kuat dalam menghadapi ujian. Pengalaman ujian sering disamakan dengancobaan, yang maksudnya ialah untuk mencobai seseorang apakah mampu melewaticobaan atau tidak. Misalnya di dalam Injil Matius 26: 41 yang sama denganMarkus 14: 38, dan Lukas 22: 40, Yesus mengingatkan supaya kita selalu kuatdalam doa dan berwaspada supaya tidak jatuh ke dalam pencobaan. Daging atau tubuhkita lemah sehingga gampang menjadi jalan masuk bagi musuh yang mencobai. Tuhan sendiri juga mengingatkan umat-Nya di dalamperjanjian lama supaya mereka kuat terhadap godaan, cobaan dan ujian hidup.Ketika Musa berhadapan dengan Firaun di Mesir, ia benar-benar di dalam ujianberat. Tetapi ia juga patuh pada tuntunan dan perintah Tuhan. Dengan berpegangpada prinsip ini bahwa Tuhan mengajarkan dan menguatkan kita, jelas sebagaisebuah permainan atau lelucon kalau Tuhan juga yang mencobai kita. Ada anggapandan keyakinan di antara kita bahwa Tuhan mencobai dan menggodai kita sehinggaitu semua dianggap saja sebagai ujian dalam hidup. Ini jelas tidak mungkin.Bagaimana Ia menguatkan kita, Ia juga mencobai apa yang Ia sendiri tetapkan,kuatkan dan lindungi? Oleh karena itu Santo Yakobus dalam bacaan pertamamenegaskan bahwa tidak mungkin Tuhan mencobai kita anak-anak kekasihnya. Tuhantidak punya sistem bermain seperti siapa pun makhluk manusia dan makhluk rohlainnya yang punya keinginan untuk mencoba-cobai, menggoda-godai, ataumemperdaya-dayai pihak lain. Pemimpin penggoda dan penyoba ialah setan.Pengaruh setan ini memprioritaskan kerjanya pada tingkah laku manusia yangbertentangan dengan jalan Tuhan. Karena manusia punya kebebasan, ia bisa jugamemilih untuk condong pada pengaruh setan. Jadi manusia dicobai dan digodaioleh keinginannya sendiri yang sudah dikuasai oleh si jahat. Bilamana kita tahu bahwa kita berada di dalam cobaan?Peristiwa yang dikisahkan di dalam Injil hari ini menggambarkan suatu situasiumum orang-orang berada di dalam cobaan. Situasi itu ialah ketika pikiran danhati kita mulai mengerti dan menganggap bahwa Tuhan jauh atau tidak beradabersama kita. Kekawatiran atau keprihatinan bahwa nasib kita bakal di dalamkesulitan karena di sekeliling kita ada begitu banyak tantangan, kesulitan, danancaman. Bahkan kita sangat dihantui oleh ketidakmampuan kita untuk menghadapisemua itu. Rasa tak percaya pada diri, anggapan bahwa di sekeliling ada banyakancaman, dan pandangan bahwa Tuhan jauh, merupakan keadaan pencobaan yang kitahadapi di dalam hidup ini. Maka nasihatnya ialah: kita mesti kuat! Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah maha kuasa,penuhilah diri kami dengan semangat iman yang berani dan kuat untuk menghadapisegala cobaan dan ujian hidup ini. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan RohKudus ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Cendani from the Parish of Our Lady of the Assumption Mamajang in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. James 1: 1-11; Rs psalm 119: 67.68.71.72.75.76; Mark 8: 11-13.ENJOYING THETEST The title for our meditation today is: Enjoying theTest. In all aspects of our lives, the test takes place in a process to prove aresult in both quantity and quality. Whatever the form and character of thetest, the basic condition that we knowledge is that the person who takes thetest is being tried or tested for a standard of qualification. There is a common attitude or reaction seen in the onewho faces the test. This is about the state of the mind and body of the one whofaces the test, namely the negative or positive reaction. People can benervous, palpitating, scared, insecure, and complaining. People can also bebrave, concentrated, focused, confident, exited to face and finally pass thetest. The situation can be seen on their faces, but even more exciting is intheir souls. Both of these situations illustrate how one enjoys the test. People behave negatively when facing tests due tovarious reasons. The most common one is because the person concerned hasinsufficient knowledge or basically unprepared. Mental or emotionalunpreparedness usually causes the human body nervous, shaking, sweaty, andweak. In such circumstances, surrender perhaps becomes impossible when forinstance the person concerned does not refuse to face and proceed to take itwith the risk of an outcome below expectation. This proportionally contradicts with the positive andoptimistic behavior when someone facing tets, namely the person concerned isready in spirit and body. In fact, this readiness is expressed with anexcitement and longing to anticipate the test. This behavior can prove that theperson concerned is confident on the results to be achieved with satisfactionand meeting expectations. Hopefully this behavior also represents a mental characterin those who believe that good or bad results are not their concern, but anopportunity to learning and trainning to maturity. These two positive behaviors are shown by our tworeadings today. Saint James in the first reading advises that the tests in lifemust be faced and passed that we may be able to remain in perseverance in thepath to perfection. Jesus was constantly tested by the Pharisees and thescribes. But usually Jesus silenced them. He is God, so there is no need for atest. But what He considers to be a setback is that those who tested Him hadproved to gain nothing. It means that Jesus is always ready, whereas they werenot prepared to face test. So the basic law is certain: before the actual test,you must first start with many warm-up exams, namely preparations andanticipation in all ways and forms.Let us pray. In the name of the Father... O Lord JesusChrist, teach us to put the right and appropriate words and actions in everyopportunity we face the various tests of life. Hail Mary, full of grace... Inthe name of the Father ...

Dibawakan oleh Sr Skolastika MCFSM dan Sr Emiliana MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Palanga Sampit Palangkaraya di Keuskupan Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Yakobus 1: 1-11; Mazmur tg 119: 67.68.71.72.75.76; Markus 8: 11-13.MENIKMATI UJIAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: Menikmati Ujian.Di dalam semua aspek kehidupan kita, ujian terjadi dalam suatu proses untukmembuktikan sesuatu hasil baik untuk jumlah maupun kualitas. Apa pun bentuk dankarakternya ujian itu, aspek dasarnya ialah orang yang mengalaminya berada didalam situasi dicoba atau diuji kemampuannya. Sikap yang umum ialah keadaan jiwa dan raga orang yangmenghadapi ujian berada dalam suatu keadaan negatif atau positif. Orang bisagugup, berdebar, takut, kurang yakin, dan mengeluh. Orang bisa juga berani,konsentrasi, fokus, percaya diri, dan yakin untuk menghadapi lalu akhirnyamelewati ujian. Situasi bisa terlihat di wajah mereka, namun justru lebih seruialah di dalam jiwanya. Kedua situasi ini menggambarkan bagaimana seseorangmenikmati ujian itu. Orang bersikap negatif ketika menghadapi ujian disebabkanoleh aneka alasan. Yang paling umum ialah karena yang bersangkutan kurang atautidak siap. Ketidaksiapan mental dan semangat biasanya langsung membuat tubuhmenjadi gugup, gemetar, keringatan, dan lemah. Dalam keadaan seperti ini, sikapmenyerah bukan mustahil di mana yang bersangkutan bisa menolak untuk menghadapiatau menghadapi saja tetapi dengan risiko pada hasil di bawah harapan. Ini berbanding terbalik dengan sikap positif dan optimisdalam menghadapi ujian, yaitu orang yang siap jiwa dan raga. Bahkan kesiapanini diungkapkan dengan suatu kegirangan dan kerinduan untuk mengantisipasiujian. Sikap seperti ini bisa membuktikan bahwa yang bersangkutan yakin akanhasil yang bakal dicapai memuaskan dan memenuhi harapan. Atau sikap ini jugamerepresentasi sebuah sikap mental pada orang yang percaya bahwa hasil baikatau buruk bukanlah hal yang prioritas, tetapi ini menjadi kesempatan untuk menempah danmelatih diri. Dua sikap positif ini ditunjukkan oleh kedua bacaan kitahari ini. Santo Yakobus dalam bacaan pertama memberikan nasihat bahwa ujiandalam hidup memang mesti dilalui karena hasilnya adalah sebuah ketekunan yangmerupakan jalan menuju kesempurnaan. Yesus diuji terus menerus oleh kaum Farisidan para cendekia ahli Taurat. Tetapi biasanya Yesus membungkam mereka. Diaadalah Tuhan maka tak perlu ujian. Tetapi yang Ia anggap sebagai kemunduranialah mereka yang mengujinya tak mendapatkan keuntungan apa-apa. Itu berartibahwa Yesus yang siap, sedangkan mereka tidak siap dalam medan ujian. Jadihukumnya pasti: sebelum ujian utama, harus awali dulu dengan banyak ujianpemanasan alias persiapan-persiapan dan antisipasi dalam segala bentuknya. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan YesusKristus, ajarilah kami selalu dengan meletakkan kata-kata dan tindakan yangbenar dan tepat dalam setiap kesempatan kami hadapi ujian hidup ini. SalamMaria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Dwi Setyo, Svara Nirmala and Stella from the Parish of Our Lady of the Assumption Mamajang in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Sirach 15: 15-20; Rs psalm 119: 1-2.4-5.17-18.33-34; 1 Corinthians 2: 6-10; Matthew 5: 17-37.ACCEPTING THEPOSSIBLE MYSTERY OF GOD Our meditation today is entitled: Accepting theImpossible Mystery of God. A young man and his girlfriend have only been datingfor a month. Indeed, there are many similarities in both of them that make thisrelationship full of joy. But there are also many differences between them thatoften trigger debates, prejudices, negative thoughts and anger of the one to another.They must learn to accept all these as the reality in their dynamic and mutuallove as uniuqe individuals who has just began their journey together. On one occasion, both went to attend a friend'swedding. In the holy Matrimony Mass, the priest who preached in the homily saidthat the faith that Jesus sowed and planted in his followers is something superiorto all forms of human logic. Faith is not like science and technology, thatalways seek to provide evidence to be seen, found, used and changed. All ofthat have their limits and will be out of date in due time. But faith actually teaches us about the impossible.All the goodness and righteousness of God is possible for Him alone. For humansit is impossible. Both couples, the one who was in the joyful celebration ofmarriage and the one who was still in the beginning of love relationship, mustrealize that each person is unique, with different characters, backgrounds andcircumstances to make things become impossible. True love is naturally an impossiblelove. Our human reason, logic and feelings are very clearlyimpossible to have a sufficient understanding and perspectives on the many ofGod's advice, guidance and commandments. For example, we are asked to forgive withoutlimits, enter the narrow door in order to be saved, become salt to the world,give the left cheek a slap after the right one, love and pray for the enemies,leave everything in this world to follow Christ. All these become part of ourfaith. We understand and accept them in and with the faith that we profess. The main reason God puts the impossibility character inour faith is that our hope does not stop and we are always challenged to seekand find the answer on God's mystery. The spirit of our faith is to attain andbecome like Jesus Christ. Jesus asks us to go further than this world'sstandards until we finally reach His standards. In essence, He is asking thatour faith and religious life go beyond the scribes and Pharisees, who hold thekeys to religious life and the teaching of the faith. Wisdom and mystery of God which is hidden and alwaysbeyond human understanding, however, we still accept and obey because of ourfaith. It is how we answer His call and the path we choose to achieveperfection. We are always advised by the scriptures to choose this path, andnot any other way of this world. Let us pray. In the name of the Father... O heavenly Father,may this Sunday celebration help us to be ever faithful to our vocation andbecome true witnesses of Christ in the midst of this world. Our Father who artin heaven... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Sr Ludgardis MCFSM, Sr Vinsensia MCFSM dan Sr Aurelia MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Santa Teresa Kalkuta Bekasi di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Sirakh 15: 15-20; Mazmur tg 119: 1-2.4-5.17-18.33-34; 1 Korintus 2: 6-10; Matius 5: 17-37.MENERIMA YANGMUNGKIN DARI MISTERI ALLAH Renungan kita pada hari ini bertema: Menerima Yang Mungkindari Misteri Allah. Sepasang orang muda baru sebulan ini berpacaran. Memangbanyak kesamaan di antara mereka yang membuat hubungan ini penuh dengan sukacita. Namun banyak juga perbedaan yang sering memicu perdebatan, prasangka,pikiran negatif dan saling marah. Mereka harus belajar untuk menerima semua inisebagai dinamika di dalam menjalin cinta sebagai pribadi-pribadi yang unik satusama lain. Mereka berdua sempat menghadiri acara pernikahan seorangteman mereka. Di dalam Misa pernikahan, Pastor yang berkotbah mengatakan, imanyang ditaburkan dan ditanam oleh Yesus ke dalam diri para pengikut-Nya ialahsesuatu yang mengalahkan semua bentuk logika yang ada. Iman bukan seperti ilmupengetahuan dan teknologi, yang selalu berusaha memberikan bukti untuk dilihat,dijumpai, dipakai dan diubah. Semua itu ada batasnya dan ada waktunya. Tetapi iman sesungguhnya mengajarkan kita tentang tidakmungkin. Semua kebaikan dan kebenaran dari Tuhan adalah mungkin bagi Dia.Tetapi bagi manusia adalah tidak mungkin. Kedua pasangan yang sedang dalamsuasana nikah, demikian juga pasangan yang sedang berpacaran, harus menyadaribahwa masing-masing pribadi unik, berbeda latar belakang dan keadaan, merupakansesuatu yang tidak mungkin. Cinta sejati adalah cinta tidak mungkin. Banyak nasihat, petunjuk dan perintah Tuhan, yang baginalar, logika dan perasaan kita sebagai manusia, sangat jelas tidak mungkin.Misalnya kita diminta untuk mengampuni tanpa batas, memasuki pintu yang sempituntuk bisa selamat, menggarami seluruh dunia, memberikan pipi kiri ditamparsetelah kanannya, mengasihi dan mendoakan musuh, meninggalkan segala-galanya didunia ini untuk mengikuti Kristus. Semua menjadi bagian dari iman kita. Alasan utama Tuhan menetapkan karakter iman kita sebagaisesuatu yang tidak mungkin, ialah supaya harapan kita tidak berhenti dan kitaselalu tertantang untuk mencapainya. Semangat iman kita ialah mencapai danmenjadi seperti Kristus. Yesus meminta kita untuk berbuat lebih jauh daristandar dunia ini, supaya kita mencapai standar-Nya. Intinya, Ia meminta supayaiman dan hidup agama kita harus melebihi para ahli Taurat dan kaum Farisi, yangmerupakan pemegang kunci hidup beragama dan pengajaran iman. Jadi, yang tidak mungkin itu adalah hikmat Allah, yangmeskipun tersembunyi dan selalu tidak kita pahami, kita tetap menerima danmenaatinya. Itu adalah cara kita menjawab panggilan-Nya dan jalan yang kitapilih untuk mencapai kesempurnaan. Kita selalu dinasihatkan oleh kitab suciuntuk memilih jalan ini, dan bukan jalan atau cara hidup yang lain. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Bapa, semogadengan perayaan hari Minggu ini, kami tetapi setia dalam jalan panggilan kamidan menjadi saksi Kristus yang sesungguhnya di tengah dunia ini. Bapa kami yangada di surga ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Jeril from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. 1 Kings 12: 26-32; 13: 33-34; Rs psalm 106: 6-7a.19-20.21-22; Mark 8: 1-10.SPIRITUAL MEALTHAT UNITES The title for our meditation today is: Spiritual MealThat Unites. The unity within a family is especially seen when all the membersof the family come together to attend Holy Mass, and then continue with lunchtogether. This is somehow a routine activity. Such a fellowship is in sharpcontrast to the situation of God's people under the kings after Solomon'sdeath. Worst, King Jeroboam magnified his sin by going against the Spirit ofGod because he believed in the gods of Gentiles. The spiritual meal available to believers, followersof Christ, is the offering of Jesus himself as the main part of His work ofdoing the Father's will. In all of His ministerial work, He manifested His actof love in the presence of the apostles and many around Him. They were allamazed, proud, happy and believe in those loving actions of Jesus. But aboveall is the ultimate act, which is to die to redeem all mankind. He marked this highest act with an act of remembrancein the Church, in the form of a meal, to become the firsthand experience of Hispresence by all His people. This aims to strengthen and preserve communion thatHe has made. We all know this as the Eucharist. Before the institution of theEucharist, Jesus first brought His followers and many people to eat theeuchatistic bread, which is His own body, on the occasion of the multiplication of bread and fish tofeed thousands of people who were hungry and thirsty, after the whole dayfollowing and listening to Him. The feeding of these thousands was further emphasizedin the moments leading up to His moment of death, when He ate the last supperwith the apostles, and there He distributed bread and wine. His reminded thatthey should continue the event of celebrating this spiritual meal inremembrance of Him, as well as to be the spiritual empowerment for all who takepart in it. In this banquet, Jesus who broke his own body and shared to theapostles to consume, this act signifies the institution of the sacraments of Eucharistand Priesthood. So the unity that we preserve and strengthenconstantly both through prayer and tangible action depends heavily on these twobasic elements: the Eucharist and the Priesthood. The sacrament of theEucharist is a spiritual meal, while the priesthood is the privilege ofcarrying out and presiding over the memorable event to be celebrated when theLord himself presides and we take part in it.Let us pray. In the name of the Father... Lord Jesus Christ,may our unity in and with You be a very real force in this world to bring aboutthe kingdom of God that can renew the whole face of this earth. Hail Mary, fullof grace... In the name of the Father...

Dibawakan oleh Sr Sisilia MCFSM dan Sr Rini MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Santa Teresa Kalkuta Bekasi di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. 1 Raja-Raja 12: 26-32; 13: 33-34; Mazmur tg 106: 6-7a.19-20.21-22; Markus 8: 1-10.SANTAPAN ROHANIYANG MEMPERSATUKAN Tema renungan kita pada hari ialah: Santapan Rohani YangMempersatukan. Persekutuan di dalam satu keluarga tampak amat jelas ketikasemua anggota keluarga kompak menghadiri Misa Kudus, lalu melanjutkannya denganmakan siang bersama. Ini adalah sebuah kegiatan rutin. Persekutuan seperti inisangat bertentangan dengan nasib umat Allah di bawah raja-raja setelah matinyaSalomo. Yang paling tragis ialah raja Yerobeam memperbesar dosanya denganmelawan Roh Allah karena ia percaya kepada dewa-dewa. Santapan rohani yang tersedia bagi orang-orang beriman,pengikut Kristus, ialah persembahan diri Yesus sebagai bagian utamapekerjaan-Nya menjalani kehendak Bapa. Dalam seluruh karya pelayanan, Iamenampakkan tindakan pemberian diri-Nya dengan disaksikan oleh para rasul danbanyak orang di sekeliling-Nya. Mereka semua dibuat kagum, bangga, senang danpercaya akan tindakan-tindakan itu. Tetapi di atas semua itu ialah tindakanpuncak, yaitu mati untuk menebus semua umat manusia. Ia tandai peristiwa puncak ini dengan tindakan kenangan didalam Gereja untuk mengalami langsung kehadiran diri-Nya yang menjadi santapanbagi seluruh umat-Nya, demi memperkuat dan memelihara persekutuan yang sudah Iabangun. Kita mengenalnya sampai detik ini dengan nama Ekaristi. Yesus pertamakali membawa para pengikut-Nya dan semua orang yang mendengar-Nya, dengan penuhiman ke sebuah pengalaman menyantap diri-Nya sendiri, ialah pada waktu iamemperbanyak roti bagi ribuan orang yang lapar dan haus di padang rumput yangluas. Pemberian makan kepada ribuan orang ini kemudiandipertegas lagi maknanya pada saat menjelang wafat-Nya, ketika Ia makanperjamuan malam bersama para rasul, dan di sana Ia membagi-bagikan roti dananggur. Sabda-Nya ialah supaya mereka terus melanjutkan peristiwa merayakansantapan rohani ini sebagai kenangan akan Dia, sekaligus menjadi penguatanrohani bagi semua yang mengambil bagian di dalamnya. Di dalam perjamuan makanitu, satu tindakan Yesus dengan pemecahan dirinya dan dibagi-bagikan menandakansakramen Ekaristi dan Imamat. Jadi persekutuan yang kita perkuat terus-menerus baikmelalui doa dan tindakan nyata bergantung sekali pada dua unsur dasar ini: Ekaristidan Imamat. Sakramen ekaristi sebagai santapan rohani, sedangkan imamat sebagaihak istimewa untuk menjalankan dan memimpin peristiwa kenangan itu supayamemiliki legitimasinya dari Tuhan. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Tuhan Yesus Kristus,semoga persekutuan kami di dalam dan bersama Dikau menjadi kekuatan yang sangatnyata di dunia ini untuk menghadirkan kerajaan Allah yang dapat membaharuiseluruh muka bumi ini. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa...

Delivered by Valeria from the Parish of Saint Paul in the Diocese of Bandung, Indonesia. 1 Kings 11: 29-32; 12: 19; Rs psalm 81: 10-11ab.12-13.14-15; Mark 7: 31-37.GETTING STRONGERFOR UNITY Our meditation today is entitled: Getting Stronger ForUnity. According to our conviction and faith, unity is the beginning of allthings. The first verses of scripture, especially Genesis and the Gospel ofJohn, make it clear that unity or fellowship is the essence of the Lord God.The unity existed before the first human's fall into sin which caused thedivision and separation between good and evil, grace and sin. In this world, wherever there is a growing strength ofseparation and tension that threatens the unity of life, God also appears to bestronger in His power to rebuild it. He does that in himself and in the work ofJesus Christ. What Jesus Christ does to make the unity stronger is to renew theorder or pattern of faith that is already weak. He opens up all possibilitiesfor those who do not know God to become believers. When he healed the deaf and mute person, he certainlyshowed that faith is highly dependent on man's ability to hear and speak. Jesusonce preached in his city of Capernaum and he said that faith occurs whenpeople listen to the word of God preached. Hearing is the entrance to faith,because through it people open themselves to accept and obey. From hearing, thenext ability required is to speak and give gratitude, celebrate that faith, andproclaim it. If we realize or consider that our faith is weak, inthe first place to do is to test our ability to listen the word and will ofGod. We can also test whether we become good news for others or not. If the factshows that we are lazy and have never heard well, or not speaking the truth aboutthe word of God, then our faith is in serious crisis. The worse is when thereare persons who hate and refuse to hear and talk about God. So Jesus also takesa serious act to do something, namely to separate the person concerned from thecrowd and then removing the barriers that prevent him from hearing and talkingabout our faith. God continues to open the way and all possibilitiesfor those who want to know and believe in Him. This work is done through theChurch, especially through us believers. Let us use the two abilities that wehave, hearing and speaking. May we do the best in hearing and speaking, that wecan help other people to hear God who speaks to them personally, and they canspeak about God in their real lives. These are the ways to strengthen unityamong us believers.Let us pray. In the name of the Father... O God Almighty, maywe always be a true and useful channel for our brothers and sisters who want toknow You more closely and dearly. Glory to the Father and to the Son and to theHoly Spirit... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh para Suster MCFSM dari Komunitas Santa Teresa Kalkuta Bekasi di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. 1 Raja-Raja 11: 29-32; 12: 19; Mazmur tg 81: 10-11ab.12-13.14-15; Markus 7: 31-37.SEMAKIN KUATUNTUK PERSEKUTUAN Renungan kita pada hari ini bertema: Semakin Kuat UntukPersekutuan. Menurut keyakinan iman kita, persekutuan merupakan awal mulasegala sesuatu. Ayat-ayat pertama kitab suci, khususnya kitab Kejadian danInjil Yohanes menjelaskan bahwa persatuan atau persekutuan adalah hakikat TuhanAllah. Persatuan lebih dahulu ada sebelum kejatuhan manusia pertama ke dalamdosa yang menyebabkan perpecahan dan pemisahan antara yang kebaikan dankejahatan, rahmat dan dosa. Di dunia ini, di mana pun terjadi semakin kuat pemisahandan ketegangan yang mengancam persekutuan hidup, Tuhan juga tampak semakin kuatdalam kuasa-Nya membangun kembali persekutuan. Ia perbuat itu dalam diri dankarya Yesus Kristus. Yang diperbuat oleh Yesus Kristus supaya persekutuan itusemakin kuat ialah dengan membaharui tatanan atau pola hidup iman yang sudahterlanjur lemah. Ia membuka segala kemungkinan bagi mereka yang belum mengenalTuhan supaya menjadi percaya. Penyembuhan kepada seorang yang sekaligus tuli dan gagapmerupakan satu tindakan yang memperlihatkan kalau iman itu sangat bergantungpada kemampuan kita untuk mendengar dan berbicara. Yesus pernah berkhotbah dikotanya di Kapernaum bahwa iman itu terjadi pada saat orang mendengarkan firmanyang diwartakan. Mendengar ialah pintu masuk untuk iman, karena melaluinyaorang membukakan diri untuk memperhatikan dan menaruh ketaatannya. Darimendengar ini, kemampuan selanjutnya yang dituntut ialah berbicara sebagaiwujud bersyukur, merayakan iman itu, dan mewartakannya. Jika iman kita dipandang atau kita sendiri menganggapnyalemah, antara lain dapat diuji kemampuan kita dalam mendengar dan menjadi kabargembira bagi sesama. Kalau tanda-tandanya ialah kita malas bahkan tidak pernahmendengar dengan baik, ditambah dengan tidak berbicara dalam kebenaran firmanAllah itu, berarti iman kita sedang dalam krisis yang serius. Yang lebih parahialah bersikap benci dan menolak untuk mendengar dan berbicara tentang Tuhan.Jadi Yesus juga melakukan tindakan serius dengan harus berbuat sesuatu,memisahkan sedikit kita dari orang banyak lalu mencungkil halangan yangmenghambat kita mendengar dan berbicara tentang iman kita. Tuhan tetap membuka jalan dan segala kemungkinan bagimereka yang ingin mengetahui dan mengimani-Nya. Pekerjaan ini dilakukan melaluiGereja, khususnya melalui kita yang sudah beriman. Caranya ialah memakai duakemampuan yang ada, mendengar dan berbicara. Kiranya kita mengusahakan supayaorang-orang dapat mendengar Tuhan yang berbicara secara pribadi kepada mereka,dan dapat berbicara tentang Tuhan di dalam hidupnya yang nyata. Ini adalahcara-cara untuk memperkuat persekutuan di antara kita orang-orang beriman.Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah maha kuasa,semoga kami selalu menjadi saluran yang benar dan berguna bagi saudara-saudarikami yang ingin mengenal Dikau dengan lebih dekat dan jelas. Kemuliaan kepadaBapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Nia from the Parish of Good Shepherd in the Diocese of Surabaya, Indonesia. 1 Kings 11: 4-13; Rs psalm 106: 3-4.35-36.37.40; Mark 7: 24-30.UNITY IS A CALLING The title for ourmeditation today is: Unity Is a Calling. A 75-year-old man asked the ParishPriest to be baptized and accepted into the Catholic Church. His has been a nonbeliever person. The priest gave him special preparation before the actual riteof baptism served. Shortly after joining the catechumenate, his 72-year-old wifealso asked for baptism. So the Parish Priest prepared them together. When someasked them about this, they simply said: it is never too late to believe inGod. The step taken bythat elderly couple is a true expression of unity as a calling. God does notneed unity or fellowship, but we need it so we can be united with Him. Ashumans in this world our calling leads us to come the point of that unity. Butthis is not an easy thing to do. King Solomon's failure to maintain untiy withGod is an example for us. He did not follow the example of his father, KingDavid. Solomon's greatestsin that made him condemned by God was because he followed the will of hiswives who had no faith in God. His wives worshiped gods. God's wrath reallytroubled his kingdom. When the kingdom was continued by Solomon's son, itexperienced great divisions. The punishment for sin against the Holy Spirit isa destruction and cannot be forgiven, Jesus says this in the scriptures. Solomon wasresponsible for the division and the loss of unity that had been inherited tohim with a great trust. The most obvious of which was the separation betweenthe non believers and the believers. It's commonly understood that nonbelievers are the evil ones and do not have chance to believe in the Lord. The believerswill become defiled and unclean when they interact, touch, and communicate withinfidels. There is no possibility to have relationship with those unbelievers.They are basically considered as sinners. It is precisely inthis sense we should say that the believers are the ones who create divisions.Unbelievers always try to live well as human beings and work for their livingin this world. In their hearts there are seeds of faith which are just waitingto be revealed, then they can look at and believe in God. Jesus opens the wayfor them. He opens the heart of the infidels, widening the way for them to walktoward God. Jesus is wiser and greater than Solomon, because he unites peopleof faith with those who are considered infidels. The same task that we mustcontinue at this time. Today it is not suitable to consider and treat others asinfidels!Let's pray. In the name of the Father... O Lord of wisdom, enrich us with Your wisdom, that we can create andmaintain the unity among us, and not to destroy it with division. Hail Mary,full of grace ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Suster Yulia Bela MCFSM dan Suster Tania MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Santa Teresa Kalkuta Bekasi di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. 1 Raja-Raja 11: 4-13; Mazmur tg 106: 3-4.35-36.37.40; Markus 7: 24-30.PERSEKUTUANADALAH PANGGILAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: Persekutuan AdalahPanggilan. Seorang bapak berusia 75 tahun meminta Pastor Paroki untuk dibaptismenjadi seorang Katolik. Hidupnya selama ini sebagai orang yang tidak beragama.Pastor memberikan persiapan khusus kepadanya sebelum dibaptis. Tidak lamasetelah mengikuti katekumen, istrinya yang berusia 72 tahun juga meminta untukdibaptis. Maka Pastor Paroki memberikan persiapan kepada mereka bersama-sama.Mereka berkata: tidak ada terlambat dalam beriman kepada Tuhan. Langkah yang diambil oleh pasutri lansia itu merupakansebuah perwujudan persekutuan sebagai panggilan. Tuhan tidak membutuhkanpersekutuan, tapi kita yang membutuhkan supaya kita dapat bersatu dengan-Nya.Panggilan kita manusia di dunia ini sampai ke titik persekutuan itu. Namun halini tidak mudah. Kegagalan raja Salomo dalam mempertahankan persekutuan denganTuhan adalah salah satu contohnya. Ia tidak mengikuti teladan ayahnya, rajaDaud. Dosa Salomo terbesar yang membuat ia dikutuk oleh Allahialah mengikuti kehendak para istrinya yang berlatarbelakang tidak berimankepada Tuhan. Para istri menyembah dewa-dewa. Murka Tuhan menggoyahkankerajaannya. Pada saat kerajaan itu dilanjutkan oleh putra Salomo, kerajaan itumengalami perpecahan besar. Hukuman atas dosa melawan Roh Kudus ialahkehancuran dan tidak dapat diampuni, begitu kata Yesus dalam kitab suci. Salomo sangat jelas memperlihatkan suatu perpecahan ataspersekutuan yang sudah diwariskan dengan mantap, dengan paling kentara ialahpemisahan antara yang kafir dan yang percaya. Ada suatu pemahaman bahwa kafiritu paling jahat dan tak bisa berpaling kepada Allah. Orang beragama kalaumasuk ruang hidup, bersentuhan, dan berinteraksi atau berkomunikasi dengan yangkafir sudah langsung menajiskan diri mereka. Tidak ada kemungkinan untukterjadi relasi satu titik pun dengan mereka yang berlainan kepercayaan dengannya. Justru di sini yang menciptakan perpecahan ialahorang-orang beragama. Orang kafir hanya berusaha untuk hidup baik sebagaimanusia dan mengusahakan kelayakan hidup di dunia ini. Dalam sanubarinyatersimpan benih-benih iman yang tinggal menunggu saatnya untuk terbuka, lalumereka memandang dan percaya kepada Allah. Yesus merintis jalan terbuka bagimereka. Ia membuka hati orang kafir, melebarkan jalan baginya untuk percayakepada Tuhan. Yesus jauh lebih bijaksana daripada Salomo, karena ia menyatukanorang beragama dengan mereka yang dipandang kafir. Tugas yang sama yang mestikita lanjutkan pada saat ini. Saat ini tidak cocok untuk memandang orang lainkafir!Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah mahabijaksana, berikanlah kami hati yang bijaksana sehingga kami dapat menciptakandan mempertahankan persekutuan hidup di antara kami, dan bukan merusaknyadengan perpecahan. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Cendani from the Parish of Our Lady of the Assumption Mamajang in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. 1 Kings 10: 1-10; Rs psalm 37: 5-6.30-31.39-40; Mark 7: 14-23.NEW HEART Our meditation today isentitled: New Heart. A husband and his wife for the past year have been inconflict and there seems no sign of resolving it. Then they both agreed todivorce through several steps of internal dan legal process. One of those stepsis that both went to meet the Parish Priest to ask for his opinion. Each ofthem defended one's own perspective and eventually became reason for divorce.Each considered that this decision was already final. Each had very strongself-interest to make it superior over another. For the Priest this is anexample of two old style of hearts. An old heart shows how one is so stubbornand living only for him or herself. The Pastor now had avery important task to change that old heart into a new heart. After giving hisopinion and advice, the Pastor invited each of them to do Adoration in front ofthe Blessed Sacrament. In the church, one sat far away from another for apersonal adoration and prayer. About one hour passed, they again met the Pastorin his office. Each said about his and her awareness of mistakes and arroganceso strongly exposed in the surface. One intended to forgive another. Then theydecided to resolve their problem and not to divorce their marriage. The couple finallyarrive at the moment of having a new heart. Each one becomes a new person. Thisexperience shows that the creation of a new heart cannot be managed solely byone's own effort. If it is without the intervention of God and others one cannot do anything, he or she can not become a new person. Sacraments andspiritual guidance are the two of many instruments that help a person toexperience a new life. One of the messagesof the word of God that encourages us to create a new heart is as whatproclaimed in today's readings. The Word of God basically contains God's wisdomon how to live properly in the following of Christ. Our choices must find itsplace there, as did King Solomon who made the divine wisdom of God to attractthe attention of the Queen of Sheba and the whole world. If we choose andalways live out the Lord's wisdom, God provides and perfects all in us. A new heart is aclean and healthy heart. Dirt, impurity, slander, hatred, envy, and anger mustbe removed from there. Jesus asks us not to keep all of those vices in ourhearts, to store them so dearly as our wealth. All that defiles or damages usmust be removed through an examination of conscience and the reception of the Sacramentof Reconciliation. This can be done because of the help from others and thecare of the holy Church. This has absolutely no connection with and withoutabstaining food. Food or drink has never been linked to creating a new heart.The new heart is a spiritual aspect in us, while eating and drinking are thematter of the stomach and the body. They are so different from one to another! Let's pray. O God Almighty, may YourSpirit guide us always in wisdom to be united in Jesus Christ through ourlives, our words and deeds. Our Father who art in heaven ... In the name of theFather.

Dibawakan oleh Suster Maria Goreti MCFSM dan Suster Ursula MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Santa Teresa Kalkuta Bekasi di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. 1 Raja-Raja 10: 1-10; Mazmur tg 37: 5-6.30-31.39-40; Markus 7: 14-23.HATI BARU Renungan kita pada hari ini bertema: Hati Baru. Sepasangsuami dan istri dalam satu tahun terakhir hidup dalam konflik dan sepertinyatidak ada tanda berhenti. Lalu mereka berdua sepakat untuk bercerai melaluibeberapa proses. Salah satu hal dari proses itu ialah mereka berdua bertemuPastor Paroki untuk meminta pendapatnya. Masing-masing menyampaikan pendiriandan alasannya untuk bercerai. Menurutnya keputusan itu sudah bulat. Kepentingandiri masing-masing sangat kuat, dan bagi Pastor ini adalah contoh dua hati yanglama. Maka sang Pastor memiliki tugas amat penting untukmengubah hati yang lama itu menjadi hati yang baru. Setelah memberikan pendapatdan nasihatnya, Pastor mempersilakan masing-masingnya untuk adorasi di depanSakramen maha kudus. Di dalam gereja, mereka duduk berjauhan untuk berdoa.Sekitar satu jam berlalu, mereka kembali bertemu Pastor di kantornya.Masing-masing menyampaikan bahwa ia sadar akan kesalahan dan kesombongannya. Iaberniat mengampuni pasangannya. Ia memutuskan untuk tidak bercerai. Pasangan tersebut akhirnya mendapatkan sebuah hati yangbaru. Masing-masingnya menjadi orang yang baru. Pengalaman ini menunjukkanbahwa terciptanya sebuah hati yang baru tidak bisa hanya dengan urusan seorangdiri. Kalau tanpa campur tangan Tuhan dan sesama ia tidak bisa apa-apa, tidak bisa menjadi baru.Sakramen-sakramen dan bimbingan rohani adalah dua dari banyak cara yangmembantu seseorang untuk mengalami dirinya menjadi baru. Salah satu isi firman Tuhan yang menggerakkan kita untukmenciptakan hati yang baru ialah seperti yang diwartakan oleh bacaan-bacaanhari ini. Firman Tuhan pada prinsipnya berisi kebijaksanaan Tuhan tentangbagaimana hidup semestinya dalam mengikuti Kristus. Pilihan kita mesti ke sana,seperti yang dilakukan oleh Salomo yang membuat hikmat hidupnya bisa menarikperhatian Ratu dari Syeba dan seluruh dunia. Kalau kita memilih dan menggunakanselalu kebijaksanaan, Tuhan menyediakan itu dan menyempurnakannya di dalamkita. Hati yang baru ialah hati yang bersih. Kotoran, kenajisan,fitnah, benci, dengki, dan marah mestinya dikeluarkan dari sana. Yesus memintakita supaya semua itu tidak disimpan di hati seperti kita menyimpan hartakekayaan dengan begitu aman. Semua itu menajiskan atau mengotori kita, jadiharus dikeluarkan melalui pemeriksaan batin lalu melepaskannya dengan bantuanorang lain dan Gereja. Ini sama sekali tak ada hubungan dengan makanan yanghalal dan tidak halal. Makanan atau minuman itu tidak pernah punya kaitandengan menciptakan hati yang baru. Hati yang baru adalah urusan rohani,sementara makanan dan minuman urusan perut dan jasmani. Sangatlah beda! Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah mahabijaksana, semoga Roh-Mu memimpin kami selalu di dalam kebijaksanaan untukmenyatu dalam Yesus Kristus melalui hidup kami, dalam kata dan perbuatan kami.Bapa kami yang ada di surga ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Leon from the Parish of Santa Helena in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. 1 Kings 8: 22-23.27-30; Rs psalm 84: 3.4.5.10.11; Mark 7: 1-13.ACTION SPEAKS AGAINSTLIPS The title for ourmeditation today is: Action Speaks Against Lips. A young girl has been datingfor three years with a young man who is studying law. Lately the girl becamedisappointed with the attitude of that competent and smart young man. The youngman speaks very alluring and makes many promises, but the realization of themis zero. She and her hope will only be devastated if the young man's love isonly on the lips, and ultimately can not be proven. She always reminds herboyfriend: love is not the matter of "action speaks against lips". This teenage girl'scriticism is only a small portion of Jesus' great criticism towards thePharisees and the scribes in the scriptures. They descended from Jerusalem towhere Jesus was about hundreds kilometers away with the intention of provingthat Jesus and His followers violated Jewish customary and religious rules. Therule they emphasized was human interpretation of God's command from Moses. Forexample, they found the apostles of Jesus did not wash their hands beforeeating. Hypocrisy is afitting word for pharisees and scribes. Jesus immediately stated that theirworst offense was betraying the true word of God. For example, commands fromMoses to respect and love one's parents, especially those who suffer and insickness in their own family. The actual costs for treating this family member,were diverted for various types of taxes in the synagogue. The people wererequired to fulfill this and apparently the money was for their greed. Thistype of corruption has become their life-style and even continued until now. Their motivation wasmoney. Their religious life was not to sanctify humans through obedience toGod's word and doing His will, but to earn money through religious practices.To reinforce this main strategy they must concoct all the numerous appliedrules, including those mentioned earlier, to wash all food and drink utensilsand hands. Their appearance must be pure, their lips and mouth must speak well,and their gestures must be perfect. People must believe in them and werecompelled to always obey the synagogue taxes. This is what Jesus stronglyopposed and condemned. King Solomon repeatedGod's main intention was to live forever on this earth with mankind, but not inhypocritical humans like the Pharisees and the scribes. Only truth that makesthe kingdom of God great in the world, not hypocrisy. Let's pray. In the name of the Father... O Jesus Christ, strengthen us to be able to resist all the falsehood weface in life. Glory be to the Father and to the Son and to the holy Spirit ...In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Suster Waldetrudis MCFSM dan Suster Sisilia MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Santa Teresa Kalkuta Bekasi di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. 1 Raja-Raja 8: 22-23.27-30; Mazmur tg 84: 3.4.5.10.11; Markus 7: 1-13.LAIN DI TINDAKANLAIN DI BIBIR Tema renungan kita pada hari ini ialah: Lain Di TindakanLain Di Bibir. Seorang remaja perempuan sudah berpacaran tiga tahun denganpemuda yang sedang kuliah hukum. Akhir-akhir ini gadis itu menjadi kecewadengan sikap pemuda cakap dan pintar tersebut. Pemuda itu bicara sangat memikatdan membuat banyak janji, tetapi perwujudannya nol. Ia hanya akan menjadisangat terpukul jika cintanya hanya di bibir, dan akhirnya tidak bisa berwujudnyata. Ia selalu mengingatkan pacarnya: cinta bukan sekedar "lain di tindakanlain di bibir". Kritik remaja perempuan ini hanya suatu porsi kecil darikritik besar Yesus kepada orang-orang Farisi dan para ahli Taurat di dalamkitab suci. Mereka turun dari Yerusalem ke tempat Yesus berada sekitar ratusankilometer dengan maksud membuktikan kalau Yesus dan pengikut-Nya melanggaraturan adat dan agama Yahudi. Aturan yang mereka tekankan ialah interpretasimanusia atas perintah Allah dari Musa. Contohnya mereka temukan para rasulYesus tidak mencuci tangan dahulu sebelum makan. Kemunafikan adalah kata yang pas bagi kaum farisi dan paraahli Taurat. Yesus langsung menyebutkan pelanggaran mereka yang terberat ialahmengkhianati firman Tuhan yang sebenarnya. Misalnya, perintah dari Musa untukmenghormati dan mengasihi orang tua, terlebih-lebih yang menderita dan sakit didalam keluarga sendiri. Biaya yang sebenarnya untuk mengobati anggota keluargaini, dialihkan untuk berbagai jenis pajak di rumah ibadat alias persembahan.Umat diharuskan untuk penuhi ini dan ternyata uangnya untuk kerakusan mereka.Jenis korupsi ini sudah menjadi mental hidup mereka bahkan mendarah-dagingsampai saat ini. Motivasi mereka ialah uang. Hidup agama mereka bukan untukmengudus manusia melalui kepatuhan pada firman Tuhan dan melakukankehendak-Nya, tetapi mendapatkan uang melalui praktik beragama. Untukmemperkuat strategi utama ini mereka harus mengarang-mengarang semua aturanpenampilan yang jumlahnya begitu banyak, termasuk yang disebutkan tadi ialahmencuci semua perkakas makan-minum dan tangan. Tampilan diri mereka harus suci,bibir dan mulut mereka harus berkata-kata bagus, dan gerak-gerik mereka harus sempurna.Orang-orang mesti percaya akan mereka dan terdorong untuk selalu taat pajakrumah ibadat. Ini yang sangat dilawan dan dikecam Yesus. Raja Salomo mengulangi kehendak Allah yang utama ialahtinggal selama-lamanya di bumi ini bersama umat manusia, tetapi bukan di dalamdiri manusia yang munafik seperti kaum farisi dan para ahli Taurat. Hanyakebenaranlah yang membuat kerajaan Allah besar di dunia bukan kemunafikan. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Yesus Kristus,perkuatkanlah kami untuk mampu melawan semua kepalsuan yang kami hadapi.Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Jessica Tjiuranda from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. 1 Kings 8: 1-7.9-13; Rs psalm 132: 6-7.8-10; Mark 6: 53-56.ROOM FOR GOD The title for ourmeditation today is: Room for God. Room intended here is not a place orlocation. Because in principle, God cannot be conditioned into a place or room.Instead, God is in the space that surrounds and embraces us. That spacesignifies a presence and an existence. God provides the space and He himself ispresent there. King Solomon andGod's people put the ark of the covenant in the dwelling place builtspecifically for the Lord, but the king cried out in prayer that God woulddwell on earth forever with His people. He accompanies, meets, reaches, andassociates with everyone in all places as Jesus Christ does. Space for God isthe entire surface of the earth, where all humans dwell. The room for God ofthe farthest distance is the cities and villages, whatever the distance, whichshow people flocking to meet Jesus for healing and comfort. We can call this anopen public space with distance even tens and hundreds kilometer. Jesus reached a placeand people knew Him and they immediately approached to greet and talk, sayhello or introduce themselves. This we call as Jesus' social space. Surelypeople cheered because they could look closely at Jesus, waved their hands, andtheir voices could be heard by Jesus. Some of them had an extraordinary joy andenlightment because of the encounter. Those who were sickeven reached the personal space and the intimate space of Jesus throughtouching the Lord's hands or they themselves touched Jesus's clothes. HereJesus teaches that the power of touch is very important for strengthening andhealing for their needs and illness. In touching relationship there is nolonger visible distance, but love that expresses itself. It is our body'sspaces that allow contact and share of energy from one person to another. Theenergy of Jesus enters the sick and they get well. This is a very significantlesson, namely body space, personal space and even our social and publicspaces, that are very instrumental for contact with others. The demand for ourcloseness and presence is very important, because we can share the space ofourselves and this is always a sign of reinforcement and renewal of life. Thisis the way we present room for God to work through us. Let's pray. In the name of the Father... Lord Jesus, teach us always to use all our bodies and our existence toshare Your love. Hail Mary, full of grace ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Suster Imelda MCFSM dan Suster Dominika MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Santa Teresa Kalkuta Bekasi di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. 1 Raja-Raja 8: 1-7.9-13; Mazmur tg 132: 6-7.8-10; Markus 6: 53-56.RUANG BAGI TUHAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: Ruang Bagi Tuhan.Ruang dimaksudkan di sini bukan sebuah tempat atau lokasi. Karena prinsipnyaTuhan tidak bisa dikondisikan ke dalam sebuah tempat. Sebaliknya, Tuhan beradadi dalam ruang yang melingkupi dan menaungi kita. Ruang itu menandakan sebuahkehadiran dan keberadaan. Tuhan menyediakan ruang itu dan Dia sendiri berada disana. Raja Salomo dan umat Allah menaruh tabut perjanjian padatempat berdiam yang sudah dibangun, namun raja berseru bahwa Tuhan akan tinggaldi bumi selama-lamanya bersama umat-Nya. Ia menyertai, menemui, menjangkau, danbergaul dengan setiap orang di segala tempat seperti yang dilakukan oleh YesusKristus. Ruang buat Tuhan adalah seluruh permukaan bumi ini, tempat semuamanusia berdiam. Ruang bagi Tuhan yang jaraknya paling jauh ialah kota-kotadan desa-desa seberapa pun jaraknya, yang memperlihatkan orang-orangberbondong-bondong datang menemui Yesus untuk mendapatkan kesembuhan danpenghiburan. Itu namanya ruang publik yang terbuka dan menjurus dengan jarakpuluhan bahkan ratusan kilometer. Yesus mencapai sebuah tempat dan orang-orang mengenal-Nyalalu mereka segera mendekati untuk menyalami dan berbicara, say hello atauperkenalkan diri. Itu adalah ruang sosialnya Yesus. Pasti orang-orang bersorakgembira karena bisa memandang Yesus dari dekat, melambaikan tangan, dan suaramereka dapat didengar oleh Yesus. Sebagian mereka mendapatkan suka cita danpenghiburan karena perjumpaan itu. Mereka yang sakit bahkan mencapai ruang pribadi dan ruangintim Yesus melalui jamahan tangan Tuhan atau mereka sendiri yang menjamahjumbai juba Yesus. Di sini Yesus mengajarkan kalau the power of touch atau kekuatan menyentuh sangatlah penting untukpenguatan dan penyembuhan. Dalam menyentuh tak ada jarak lagi yang tampak. Itu adalah ruang tubuh kita yang mengijinkan kontak danenergi dari tubuh yang satu terserap oleh tubuh yang lain. Energinya Yesusmasuk ke dalam orang-orang sakit dan mereka menjadi sembuh. Ini adalahpelajaran amat berharga, yaitu ruang tubuh, ruang pribadi bahkan ruang sosialdan publik kita sangat instrumental untuk terjadinya kontak dengan orang lain.Tuntutan kedekatan dan kehadiran kita sangatlah penting, karena kita dapatberbagi ruang dari diri kita dan ini selalu menjadi tanda penguatan dan pembaharuanhidup. Ini adalah cara kita menghadirkan ruang bagi Tuhan yang bekerja melaluikita. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Yesus, mampukanlahkami untuk memanfaatkan semua kehadiran kami sebagai ungkapan cinta kasih.Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Kezia and Renaldy from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Isaiah 58: 7-10; Rs psalm 112: 4-5.6-7.8a.9; 1 Corinthians 2: 1-5; Matthew 5: 13-16.WE ARE MADE THE SALT AND LIGHT OF THE WORLD The title for our meditation on this fifth Sunday inordinary time is: We Are Made the Salt and Light of the World. In the Sermon onthe Mount, Jesus affirmed the identity of the disciples as the salt andlight of the world. This statement is not just a beautiful metaphor, but acall to life. Salt does not live for itself; It is there to give flavor,prevent rot, and maintain life. The light is not hidden; it is there toilluminate, direct, and remove darkness. So, to be salt and light means to be ahelper—a person whose presence brings real goodness to others. Jesus invites the disciples to realize that it isthrough their lives that the world can feel the touch of God. The salt thatloses its salty and light that is hidden are meaningless. Thus, the Christianfaith becomes real when one dares to go out of self-interest, is sensitive tothe needs of others, and engages in the suffering of others. It means that adisciple becomes a sign of God's presence and action: not primarily through words,but through concrete acts of love. The Prophet Isaiah affirms that true light is revealedthrough the love shared with those who are hungry, who are unclothed, and whohave no place to live. Light is not an abstract spiritual shine, but a ray thatwarms the lives of others. When our hands can share, when our steps are closerto the eliminated, that's when God's light shines through us. The same conviction was affirmed by Saint Paul to theCorinthians. In his first letter, Paul emphasized that faith stands, not onhuman wisdom, but on the power of God. That is, being salt and light is not theresult of personal greatness, but the fruit of openness to the work of God thatworks in human weakness. When we rely on God, our simple lives can also be ameans of grace for many people. Let's imagine this: a small candle lit in a dark room.The candlelight was not big, but it was enough to help one find a way and avoiddanger. Candles do not choose who deserves to receive their light; It justfaithfully lit up and consumed itself. So is a true helper: he or she may besimple, often invisible, but his or her presence makes the lives of others morehuman and hopeful. Finally, being the salt and light of the world is adaily call to present God in the midst of the reality of life. Through sharedlove, sincere help, and faith standing on His power, we are called to witnessthat God is really at work in this world—through our lives that we are willingto use for others. Let us pray. In the name of the Father ... O Almighty God,preserve and strengthen our faith in You so that we may always be a sign ofYour presence and action to save ourselves, our neighbors and the world aroundus. Our Father who art in heaven... In the name of the Father ...