Renungan harian katolik yang ditulis oleh Pastur Peter Tukan SDB. Diupdate setiap harinya.

Delivered by Margareth, Greg, Kezia, Svara Nirmala from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Sirach 3: 2-6.12-14; Rs psalm 128: 1-2.3.4-5; Colossians 3: 12-21; Matthew 2: 13-15.19-23.TOGETHER WE CARE FORFAMILY The title for ourmeditation on this Feast of the Holy Family is: Together We Care for Family. Fromthe moment of creation, God has created humans to live in the family, whichbegins with mutual love between a man and a woman. From there comes marriageand the offspring it produces. The first andforemost commandment for the family life is a man to take a woman as his wifeand they live in unity of one flesh. One man and one woman united by God on thebasis of love and in the name of God. Another equally important commandment isthat marriage produces offspring. For a marriage toremain united, then the children of the marriage grow in accordance withexpectations, therefore, discipline in life is needed. According to the Scripturereadings of today, we can call this discipline of life a common responsibilityto care for the family. God forms a familynot with just one person, but one man and one woman plus children with theuniqueness of each. They must walk and work together to build a family. Theyare together not only when the family is happy or having good moments of growthand life. They must be stronger in unity and cooperation among its members whendifficulties and threats come to endanger the life of the family. God wishes parentsand children's relationship must be taken care to help families to become happy,peaceful and healthy in their journey of life. According to the book of Sirach,a man of faith who fears God and is faithful to His commandments, must practiceit through obedience to his parents. We believe that parents are God'srepresentatives to us on this world. The way we together carefor families is also mentioned in the teaching of Saint Paul in the secondreading today. It says that a family must live with love. The family beginswith the love of a husband and a wife, is built in love, and expected to finallyarrive at perfect love, which is in unity with God. The story of the HolyFamily of Nazareth who fled to Egypt is an example of how we together care forfamilies when they are in trouble, under threat, and in danger. This commonduty is done not only among the membersof one's family or neighbors, but also with the power of God who intervenes.When God intervenes in our trouble and problematic families, the work of caringfor them will be easier and meeting its good end. God helps when the family is introuble. Let's pray. In the name of the Father... O Lord, may this Sunday, Feast of the Holy Family help our families to livemore faithful and obedient to You. Hail Mary, full of grace ... In the name ofthe Father ...

Dibawakan oleh Rini Sudarno dari Gereja Santo Ambrosius, Paroki Villa Melati Mas di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Sirakh 3: 2-6.12-14; Mazmur tg 128: 1-2.3.4-5; Kolose 3: 12-21; Matius 2: 13-15.19-23.KITA BERSAMA-SAMAMERAWAT KELUARGA Tema renungan kita pada hari Minggu, Pesta Keluarga Kudusini ialah: Kita Bersama-sama Merawat Keluarga. Sejak penciptaan, Tuhan menetapkan manusia untuk hidup berkeluarga, yangdimulai dengan saling mencintai antara pria dan wanita. Dari situ terbentuklahperkawinan dan keturunan-keturunan yang dihasilkannya. Perintah Tuhan pertama dan utama bagi keluarga ialah pria mengambil wanita sebagaiistri dan mereka hidup dalam persekutuan satu daging. Satu pria dan satu wanitadipersatukan oleh Tuhan atas dasar cinta dan dalam nama Tuhan. Perintah lainyang sama pentingnya ialah perkawinan menghasilkan keturunan. Untuk suatu kelangsungan hidup perkawinan yang tetap utuh,kemudian anak-anak hasil perkawinan tumbuh sesuai dengan harapan, maka sangatdiperlukan sebuah disiplin hidup. Menurut bacaan-bacaan pada hari ini, disiplinhidup itu dapat kita sebut sebagai upaya kita bersama-sama untuk merawatkeluarga. Tuhan membentuk keluarga tidak dengan satu orang saja,tetapi satu pria dan satu wanita ditambah dengan anak-anak yang masing-masingnyaunik. Mereka harus bekerja sama dalam membangun keluarga. Mereka bekerja samabukan hanya ketika keluarga di dalam keadaan gembira atau kemajuan di dalampertumbuhannya. Mereka diminta lebih kuat dalam persekutuan dan bekerja samanyaketika datang kesulitan dan ancaman yang membahayakan kehidupan keluarga. Keluarga yang gembira, damai dan bertumbuh dengan sehatperlu dirawat melalui hubungan orang tua dan anak-anak yang benar-benardikehendaki oleh Tuhan. Menurut kitab putra Sirakh, seorang manusia berimanyang takut akan Allah dan setia dengan perintah-perintah-Nya, ia harus wujudkanitu dengan taat kepada orang tuanya. Kita selalu percaya bahwa orang tua adalahwakil Tuhan di dunia. Cara kita merawat keluarga secara bersama-sama juga sesuaidengan nasihat Santo Paulus dalam bacaan kedua hari ini, yaitu mengisi danmenjalani kehidupan keluarga dengan cinta kasih. Keluarga itu diawali dengancinta suami dan istri, maka keluarga juga harus dibangun di dalam kasih, danakhirnya mewujudkan kasih yang sempurna, yaitu persekutuan dengan Tuhan. Kisah tentang Keluarga Nazareth yang menyingkir ke Mesirmerupakan contoh bagaimana kita merawat keluarga secara bersama-sama ketikakeluarga di dalam kesulitan, ancaman, dan dalam ambang bahaya. Kerja sama inibukan hanya di antara sesama anggota keluarga atau tetangga, tetapi juga dengankuasa Tuhan. Ketika Tuhan ikut terlibat, pekerjaan merawat keluarga akanmenjadi sangat bermutu dan ideal. Tuhan menolong ketika keluarga sedangmenderita. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan, semogaperayaan hari Minggu dan Pesta Keluarga Kudus ini dapat membantu membuatkeluarga-keluarga kami semakin beriman dan setia kepada-Mu. Salam Maria, penuhrahmat ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Enge Kristina from the Congregation Community of Aloysius Gonzaga in the Diocese of Surabaya, Indonesia. 1 John 1: 1-4; Rs psalm 97: 1-2.5-6.11-12; John 20: 2-8.DEEP AND ENDLESS LOVE The title for ourmeditation today is: Deep and Endless Love. Today we celebrate the feast ofSaint John, the apostle and the author of the fourth Gospel. The Gospels tellus that John was the younger brother of the apostle James and Jesus called bothof them when they were with their father Zebedee at the Lake of Galilee. Johnalways appeared together with two other important apostles Peter and James to accompanyJesus in his public works. As we are still inthe spirit of Christmas, besides we are introduced to the profile of the crossas the way to participate in Christ and to achieve glory, we also are taught toobtain the glory of God's kingdom through a deep and unending love that wepractice. We can say that the true love is really associated with Saint Johnthe apostle. The very reason for this is that the gospel he wrote containsprofound teachings on love. For example, the teachings on the bread of life andthe good shepherd, for us are the teachings with much and profoundsingnificance on the love of God. Another reason theGospel of today shows is that John is the first of the apostles and disciplesof Jesus who understood and believed in Jesus' resurrection. His love for Jesuswas so deep that even under difficult and uncertain circumstances his understandingand faith in God never diminished. The particularity of the apostle John isrevealed in the Fourth Gospel that this apostle is the most loved by JesusChrist. This is a very strong and meaningful caracter, because he himself wroteit in his Gospel. A more acceptableopinion is that with a person who is mostly loved by the Lord but whose properidentity is not explained, it is intended to signify all the followers ofChrist: whether apostles or disciples, male or female, whether young and adult,whether educated or uneducated, whether parents or children, these areindividuals who are loved by the Lord. This means, I am personally loved by Jesus.You are also loved by Jesus personally. He also personally receives love from Jesus.Everyone basically has the right to be loved by the almighty God. It is truly wonderfulto experience the love of God given to every one of us: poured out perfectly,endures forever, and an unconditional one. The important thing is that lovecomes into your personal life and mine. When every one in every consciousnessrecognizes being loved in this manner, he or she is actually experiencing the truelove. In this Christmas season, may we be ready to receive that love from Godmore than usual, precisely at the moment with Jesus and the family of Nazarethwho live in the fullness of the love of God. Let's pray. In the name of the Father... O most loving Jesus Christ and the family of Nazareth, we want to live inyour peaceful and joyful family moments, so grant us this grace. Glory to theFather and to the Son and to the Holy Spirit ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Oliva Ivania dan Hendrik Monteiro dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. 1 Yohanes 1: 1-4; Mazmur tg 97: 1-2.5-6.11-12; Yohanes 20: 2-8.CINTA YANG DALAMDAN TAK BERAKHIR Tema renungan kita pada hari ini ialah: Cinta Yang DalamDan Tak Berakhir. Pada hari ini kita merayakan pesta Santo Yohanes, rasul danpengarang Injil. Injil bercerita bahwa Yohanes adalah adik rasul Yakobus yangdipanggil berdua oleh Yesus saat mereka bersama ayah Zebedeus sedang melaut diDanau Galilea. Yohanes selalu tampil bertiga Petrus dan Yakobus mendampingiYesus. Masih dalam suasana Natal, selain kita diperkenalkanprofil salib sebagai cara untuk mengambil bagian di dalam Kristus dan nantinyamencapai kemuliaan, kita juga diperkenalkan untuk mencapai kemuliaan kerajaanAllah melalui cinta yang dalam dan tak berakhir. Kita dapat katakan bahwa cintasejati atau genuine love itu sangatdikaitkan dengan Santo Yohanes rasul. Alasan yang sangat mendasari ini ialahInjil yang ditulisnya berisi ajaran cinta kasih yang sangat mendalam. Misalnya,tentang roti hidup dan gembala yang baik, yang berisi ajaran cinta kasih yangamat dalam maknanya. Alasan lain yang ditunjukkan Injil hari ini ialah karenaia yang paling pertama dari kalangan rasul dan murid Yesus yang mengerti danpercaya akan kebangkitan Yesus. Cintanya kepada Yesus begitu mendalam, sehinggadalam keadaan yang sulit dan mencemaskan pun pemahaman dan imannya kepada Tuhantidak pernah berkurang. Kekhususan rasul Yohanes ini terungkap dalam InjilKeempat bahwa rasul ini adalah yang paling dikasihi Tuhan. Ini adalah suatu pandanganyang sangat kuat dan mengikat, karena ia sendiri yang menuliskan itu. Pendapat yang lebih dapat diterima bersama ialah bahwadengan satu pribadi yang sangat dikasihi oleh Tuhan namun tak dijelaskanidentitas persisnya, bermaksud untuk menunjukkan semua pengikut Kristus: entahrasul dan murid, entah pria dan wanita, entah orang muda dan dewasa, entah yangsekolah atau terdidik dan tidak, entah orang tua dan anak-anak, semua ituadalah pribadi-pribadi yang dikasihi Tuhan. Berarti, saya secara pribadidikasihi oleh Tuhan. Anda juga dikasih Tuhan secara pribadi. Dia mendapatkan jugakasih secara pribadi dari Tuhan. Setiap orang pada dasarnya berhak dikasihioleh Tuhan maha pengasih. Adalah sungguh indah mengalami kasih dari Tuhan yangdiberikan ke pribadi kita masing-masing, dicurahkan dengan sempurna, dijaminkualitasnya sampai selamanya, dan tak bersyarat apa pun. Yang penting kasih itudatang ke dalam hidup pribadi Anda dan saya. Ketika setiap orang dalam setiapkesadarannya mengakui dicintai seperti ini, ia sesungguhnya sedang mengalamikasih yang sejati. Di dalam masa Natal ini, kiranya kita berusaha untukmenerima kasih itu dari Tuhan lebih daripada biasanya, persis pada saat-saatbersama Yesus dan keluarga Nazareth yang hidup penuh dalam kasih. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Yesus Kristus dankeluarga Nazareth, kami ingin hidup dalam terang dan suasana keluarga-Mu yangtenang dan damai, maka anugerahkanlah kami rahmat ini ke dalamkeluarga-keluarga kami di dunia ini. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan RohKudus ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Angeline from the Church of Saint Catherine in the Archdiocese of Seattle, USA. Acts of the Apostle 6: 8-10; 7: 54-59; Rs psalm 31: 3cd-4.6.8ab.16bc.17; Matthew 10: 17-22.WAY OF THE CROSSAFTER CHRISTMAS The title for ourmeditation today is: Way of the Cross After Christmas. Today we celebrate thefeast of St. Stephen, a distinguished disciple of Jesus and the first martyr ofthe Church. He was one of the deacons chosen to serve the corporeal affairs ofthe Early Church community, while the apostles focused on the service of theword and prayer, as narrated in the Acts of the Apostles. With this feast ofmartyrdom on the second day of Christmas, the inspiration that is appropriateto us is the life in the Holy Spirit. The mystery of incarnation that wereflect upon, then understand and believe in, it's because of the help of theHoly Spirit. Jesus Christ who was lying as a baby in a manger knew clearly Hisdestiny that eventually brought him to the top of Golgotha. The calm, peacefuland joyful Bethlehem is closely connected with the hill of Golgotha, and thisconnection is actually the path to be walked on by Jesus, the Savior. So the connectionbetween these two places in the Palestinian land actually reveals the mainreason why the Son of God, the eternal Word, became human in order to redeemhumanity from the bondage of sin and death. The outcome of this is a new lifegiven to all followers of Jesus Christ who are sons and daughters of theFather. From the beginning of his life Jesus taught the lesson of theScriptures, and he confirmed it through his way of life, that the way to theFather is the way of the cross. He shows us the example of his own path ofpassion and death. Saint Stephen is thefirst person in the Church who was in Jerusalem at that time facing and bearingthe cross. If we all choose to share in the glory of Jesus Christ, then we mustcarry our crosses daily and follow Christ through the path that He had walkedon. To give encouragement and strength, Jesus frankly tells the apostles,disciples and all of His followers about the risks of following Him. Thisbecomes possible only if we submit ourselves under the guidance of the HolySpirit. The Christmas messageactually contains risks to be faced by the followers of Christ. Jesus from thebeginning of His birth had those risks. Every baptized person is made clearabout this, that the risks and ultimate goal of taking part in Jesus Christ willonly be achieved through the cross. Glory and happiness in Christ must be paidfirst with a very high price, which is self-sacrifice and death, including theway experienced by Saint Stephen. Jesus' message to usis that He had given us sufficient grace so that everyone of us is able to takeup the cross and can endure sacrifices in life for the sake of glory andhappiness being with Him. So there will be no bad, cruel or empty cross,sacrifice, and suffering in Christ.Let's pray. In the name of the Father... O Lord Jesus Christ, strengthen us always with Your grace so that we canaccept and carry our crosses with joy and hope. Glory to the Father and to theSon and to the Holy Spirit ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Oliva Ivania dan Hendrik Monteiro dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. Kisah Para Rasul 6: 8-10; 7: 54-59; Mazmur tg 31: 3cd-4.6.8ab.16bc.17; Matius 10: 17-22.JALAN SALIBSETELAH NATAL Tema renungan kita pada hari ini ialah: Jalan SalibSetelah Natal. Pada hari ini kita merayakan pesta Santo Stefanus, seorang muridYesus yang istimewa dan martir pertama Gereja. Dia salah satu para diakon yangterpilih untuk melayani urusan-urusan jasmani komunitas Gereja Perdana,sementara para rasul fokus pada pelayanan sabda dan doa, seperti yangdikisahkan dalam Kisah Para Rasul. Dengan suatu kenangan peristiwa kemartiran pada hari keduasetelah Natal ini, inspirasi yang pas buat kita ialah semangat hidup di dalamRoh Kudus. Misteri inkarnasi dapat kita masuki, memahami dan mengimaninyakarena bantuan Roh Kudus. Yesus Kristus yang terbaring sebagai bayi dalampalungan tahu jelas nasib-Nya nanti di puncak Golgota. Kandang Bethlehemdihubungkan dengan bukit Golgota, di mana jalan itu akan mulai dilalui olehYesus, sang juru selamat. Jadi kaitan kedua simbol tempat ini sebenarnyamengungkapkan alasan utama mengapa Putra Allah, Sabda kekal itu, menjadimanusia untuk menebus umat manusia dari perbudakan dosa dan kematian. Hasilnyaialah kehidupan baru dianugerahkan bagi semua pengikut Yesus Kristus yangadalah putra-putri Bapa. Yesus sedari awal hidupnya sudah memberikan pelajaran,dan ia memastikan jalan hidup-Nya, bahwa jalan kepada Bapa ialah jalan salib. Santo Stefanus sebagai yang pertama di dalam Gereja yangbaru saja berdiri di Yerusalem pada waktu itu, menikmati salib itu. Jika kitasemua memilih untuk berbagi di dalam kemuliaan Yesus Kristus, maka kita harusmemanggul salib kita setiap hari dan mengikuti Kristus melewati jalan yangtelah Ia lalui. Untuk memberikan semangat dan kekuatan kepada kita, Yesus terusterang saja berkata kepada para rasul, murid dan semua pengikut-Nya tentangrisiko dalam pilihan mengikuti Dia. Ini semua menjadi mungkin hanya di dalam terangdan bimbingan Roh Kudus. Pesan Natal sebenarnya berisi risiko sebagai para pengikutKristus itu. Yesus dari awal lahir-Nya memiliki risiko itu. Setiap orang yangdibaptis juga dibuat jelas tentang ini, bahwa risiko dan tujuan akhir darimengambil bagian dalam Kristus hanya akan dicapai melalui salib. Kemuliaan dankebahagiaan di dalam Kristus harus dibayar dahulu dengan suatu harga amatmahal, ialah pengorbanan diri dengan kematian, termasuk dalam cara mati demiKristus seperti yang dialami Santo Stefanus. Yesus berpesan bahwa Ia telah memberikan rahmat yangmemadai untuk setiap orang dalam memanggul salib dan membuat suatu pengorbanandalam hidup demi mendapatkan kemuliaan bersama Dia. Jadi tak akan ada salib,pengorbanan, dan penderitaan yang jelek atau hampa di dalam Kristus.Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan YesusKristus, kuatkanlah kami selalu dengan rahmat-Mu supaya kami memanggul salibkami dengan gembira dan dalam pengharapan. Kemuliaan kepada Bapa dan Purta danRoh Kudus... Dalam nama Bapa...

Presented by Ariel from the Parish of Saint Albert the Great from the Parish of Saint Albert the Great in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Isaiah 52: 7-10; Rs psalm 98: 1.2-3ab.3cd-4.5-6; Hebrews 1: 1-6; John 1: 1-18.INCARNATION,THE ETERNAL WORD BECOMES HUMAN Ourreflection on this Christmas day is themed: Incarnation, The Eternal WordBecomes Human. The word "incarnation" aptly describes the mystery ofthe Son of God, who is the eternal Word in heaven, transforming Himself to havea human body. Thus, He adopts human ways by being born through a woman in theworld. Meanwhile, the word "reincarnation", also familiar in ourconversations, has no connection to "incarnation". Today'sGospel reading focuses on the Word of God becoming human. The question to openour reflection is: Why did the Word of God need to become human? It's likeasking a village child: Why work so hard to study far away in the city? Orasking a father: Why work so hard dayand night with many sacrifices? Allthese questions have one common answer: because of a desire or will beingcarried out. Thus, the eternal God became human because of a desire, will, orplan of God. Compared to our human desires, which are many, overlapping, andoften unfocused, God's will is singular for humanity. Inheaven and in the divine life of the Holy Trinity, there are no desires becausethey are already full and eternal. God has desires because He is involved withhumanity. And that one desire is to save humanity from sin, which has resultedin a broken relationship between God and humans. Theeternal Word of God becoming human is the Redeemer humanity needs. Incarnationbrings this together in a harmonious union, all because of the power of theHoly Spirit. It's like a man wanting to express love to his beloved, and shealso needs the love of her chosen one. Incarnationmarries heaven and earth, symbolizing the union between God the Creator and Hiscreation, humanity. Incarnation is the door for God to enter our human historyand take full part in human life. This event remains a mystery, the act of theeternal Word becoming human, but it's a reality over 2000 years ago. Lastnight, we celebrated His birth as a baby Jesus lying in a manger. Today, wecelebrate His presence surrounded by God's chosen ones who made thisincarnation happen. They are all witnesses, so this great mystery is told,shared, and celebrated to this day. Besides believing and celebrating thismystery of faith, we should live the Word in our real lives. Let us pray. In thename of the Father... O Lord Jesus Christ, bless us to live always with thespirit of Your Word in every moment of our lives. Hail Mary, full of grace... Inthe name of the Father...

Dibawakan oleh Oliva Ivania dan Hendrik Monteiro dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. Yesaya 52: 7-10; Mazmur tg 88: 1.2-3ab.3cd-4.5-6; Ibrani 1: 1-6; Yohanes 1: 1-18.INKARNASI, SABDAKEKAL MENJADI MANUSIA Renungan kita pada hari raya Natal ini bertema: Inkarnasi,Sabda Kekal Menjadi Manusia. Kata “inkarnasi” tepat untuk menggambarkan misteriPutra Allah, yang adalah Sabda kekal di surga, mengubah diri-Nya untukmempunyai tubuh, yaitu manusia. Maka Ia memakai cara manusiawi dengan lahirmelalui pribadi seorang wanita di dunia. Sementara itu kata “reinkarnasi” yangjuga dikenal dalam pembicaraan kita, tidak punya kaitan apa pun dengan“inkarnasi”. Bacaan Injil hari ini fokusnya pada Sabda Allah menjadimanusia itu. Lalu pertanyaan untuk membuka ke inti renungan kita ialah: Mengapaperlu adanya Sabda Allah menjadi manusia? Sama juga kalau seorang anak desaditanya: Mengapa berusaha begitu keras untuk sekolah jauh di kota? Atau kepadaseorang bapak ditanya: Mengapa perlu bekerja keras siang sampai malam denganbanyak sekali pengorbanan? Semua pertanyaan ini menemukan satu jawaban yangumum, yaitu karena ada keinginan atau kehendak yang dilakukan. Jadi Allah yang kekal berubah menjadi manusia karena adasuatu keinginan, kemauan atau kehendak Allah. Dibandingkan dengan keinginankita manusia yang jumlahnya banyak, atau mungkin tumpang tindih, bahkancenderung tidak fokus, kehendak Tuhan Allah hanya satu bagi manusia. Di dalamsurga dan dalam kehidupan Ilahi Tritunggal maha kudus, tak ada keinginan karenamereka sudah penuh dan abadi. Tuhan punya keinginan karena berurusan denganmanusia. Dan keinginan Tuhan yang satu itu ialah menyelamatkan manusia darikedosaannya yang berakibat pada rusaknya hubungan Tuhan dengan manusia. Sabda Allah kekal yang menjadi manusia itu adalah penebusyang dibutuhkan oleh manusia. Inkarnasi pertemukan itu menjadi sebuah perpaduanserasi dan itu semua karena kekuatan Roh Kudus. Ini sama dengan seorang lelakiingin menyatakan cinta kepada wanita pujaannya dan wanita itu juga membutuhkankasih laki-laki pilihannya. Inkarnasi mengawinkan langit dan bumi sebagaisimbol perkawinan antara Allah pencipta dan manusia ciptaan-Nya. Inkarnasimenjadi pintu untuk Tuhan Allah masuk ke dalam sejarah kita manusia danmengambil bagian utuh dalam kehidupan nyata manusia. Peristiwa ini meski tetaplah sebagai misteri karenakejadian Sabda Allah kekal menjadi manusia itu, tetapi merupakan kenyataan padalebih 2000 tahun yang lalu. Tadi malam kita rayakan ulang tahun kelahiran-Nyadalam rupa bayi Yesus terbaring di dalam palungan. Pada hari ini kita rayakankehadiran-Nya yang dikelilingi orang-orang pilihan Allah untuk mewujudkanterjadinya peristiwa inkarnasi ini. Mereka semua adalah saksi, sehingga misteribesar ini diceritakan, disebarkan, dan dirayakan sampai saat ini. Selainpercaya dan merayakan misteri iman ini, kita hendaknya menghidupi Sabda itu didalam hidup nyata. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan YesusKristus, berkatilah kami supaya kami menghidupi selalu dengan semangat Sabda-Mudalam setiap saat hidup kami. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Thia Santos from Church of Divine Mercy of Shah Alam in the Archdiocese of Kuala Lumpur, Malaysia. Isaiah 9: 1-6; Rs psalm 96: 1-2a.2b-3.11-12.13; Titus 2: 11-14; Luke 2: 1-14.THE BIRTH OF THE KING OF PEACE Our meditation on this Christmas Eve is called The Birth of the King ofPeace. At that time, the night was dark and quiet. People had stopped theirdaily activities and were resting in their homes. Only the lights from thehouses brightened the night. Very few people were still awake. Among them werethe shepherds in the fields, who stayed awake to watch over their sheep. There was, however, one unusual journey. A husband and wife, Joseph andMary, were traveling a long distance—about 250 kilometers—uphill from Judeatoward Jerusalem. Mary was heavily pregnant. When they arrived in Bethlehem,they could not find a place for her to give birth. They were forced to leavethe town and walk about 20 more kilometers at night. They finally reached agrassy area on the edge of town. The only place available for the birth was ananimal stable. It was there that the first Christmas happened: Jesus Christ wasborn. In Bethlehem, while it was still dark, the shepherds were on one hill, andJoseph, Mary, and baby Jesus were on another hill. The distance between the twohills was about 5 to 6 kilometers. Voices from one hill could be heard from theother, but people could only be seen as tiny figures. The night was very dark,and there was no light in the stable where Jesus was born, so the shepherds sawno sign at all. But God opened their hearts through the message of the angels.One by one, together with their animals, the shepherds hurried to the stable.There, the first Christmas revelation happened: Jesus appeared to simple peoplewho were often seen as sinners—the shepherds. The first people to see the Son of God, Jesus Christ, when He entered theworld were His parents, Joseph and Mary. They were chosen by God, simple peoplewho were very faithful and obedient. The second group was the shepherds—poor,simple, and considered sinners. With them were their sheep, representing allcreation. After that, Jesus would be revealed to all people. The peace of Christmas is the heavenly light of God's presence that breaksthrough the darkness of night. It comes first to a family, then to the poor andsimple, and finally spreads joy to the whole world. Merry Christmas to all ofyou.Let's pray. In the name of the Father ... O Lord Jesus Christ, we hope that thisChristmas Eve celebration will fill us with true peace from You, that couldlead our lives every day. Our Father who art in heaven ... Inthe name of the Father ...

Dibawakan oleh Pastor Peter Tukan, SDB dari Salesian Don Bosco Gerak di Keuskupan Labuan Bajo, Indonesia. Yesaya 9: 1-6; Mazmur tg 96: 1-2a.2b-3.11-12.13; Titus 2: 11-14; Lukas 2: 1-14.LAHIRLAH RAJA DAMAI Renungan kita pada perayaan MalamNatal ini bertema: Lahirlah Raja Damai. Pada waktu itu suasana malam yang gelap. Aktivitas penduduk berhenti danorang-orang tenang di rumahnya. Dalam kesunyian hanya ada cahaya penerangan dirumah-rumah penduduk yang meramaikan malam itu. Hanya sedikit orang yangberaktivitas pada malam hari. Mereka itu di antaranya ialah para gembala ternakdi padang gurun. Mereka harus menjaga kawanan ternaknya. Namun ada satu aktivitas yangtidak biasa, yaitu perjalanan lumayan jauh, sekitar 250-an kilometer denganperjalanan menanjak dari wilayah Yudea ke Yerusalem. Perjalanan itu dilakukanoleh sepasang suami-istri, mereka adalah Yosef dan Maria. Wanita ini sedanghamil besar. Sesampai di Betlehem mereka tak menemui tempat bagi sang istri iniuntuk bersalin. Terpaksa mereka harus mencari tempat di luar kota, dan merekaharus berjalan sekitar 20an-kilometer lagi di malam hari. Lalu sampailah merekadi wilayah pinggiran yang merupakan padang rumput. Satu-satunya tempat yangtersedia untuk persalinan ialah kadang hewan yang mereka temukan. Lalu disitulah terjadi Natal yang pertama: Yesus Kristus Lahir. Di kampung Betlehem, masih dalamsuasana gelap itu, keberadaan para gembala adalah di sebuah bukit. SementaraYosef, Maria dan bayi Yesus ada di sebuah bukit yang lain. Jarak antara keduabukit itu kira-kira 5-6 kilometer. Teriakan orang dari bukit yang satu bisakedengaran di bukit yang lain. Seorang yang berdiri di bukit sana paling-palingkelihatan ukurannya seperti lidi. Apalagi malam yang pekat dan tak ada cahayapenerangan di kandang kelahiran itu, praktis tidak ada tanda-tanda yangditangkap para gembala. Tetapi kuasa surgawi membuka hati mereka melalui beritapara malaikat. Lalu mereka satu persatu bersama hewan-hewan mereka bergegas kekandang itu. Di situ terjadi penampakan Natal yang pertama: Yesus tampak kepadaorang-orang yang sangat sederhana dan dianggap pendosa, yaitu para gembala. Penampakan pertama Putra Allah,Yesus Kristus, ketika memasuki sejarah dunia ini ialah kepada kedua orangtua-Nya Yosef dan Maria. Mereka terpilih secara istimewa oleh Allah, meskitetap sederhana dan taat kepada Tuhan secara luar biasa. Penampakan kedua ialahpara gembala, yang juga terkenal miskin, sederhana dan pendosa. Bersama merekaialah domba-domba yang mewakili alam-lingkungan bumi ini. Setelah itu barumenyusul penampakan-Nya kepada semua orang yang lain. Jadi damai Natal ialah terangsurgawi tentang kehadiran Putra Allah yang memecah kepekatan malam, menampakkandiri kepada keluarga, menyatu dengan orang-orang sederhana, miskin, pendosa,dan akhirnya menyebarkan suka cita kepada seluruh dunia. Selamat hari Raya Natal bagimu semua.Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan YesusKristus, semoga di malam ini saya dan keluarga atau komunitasku mendapat damaisejati dari-Mu supaya menguasai hidup kami setiap hari. Bapa kami yang ada disurga ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Vallerie Koh from Saint Edmund Church of Limbang in the Diocese of Miri, Sarawak, Malaysia. 2 Samuel 7: 1-5.8b-12.16; Rs psalm 89: 2-3.4-5.27.29; Luke 1: 67-79.A VISIT LIKE ABRIGHT DAWN Our reflectionon the morning of December 24 is themed A Visit Like a Bright Dawn. Onenight, a father and his son had a serious argument before going to sleep. Theydisagreed about the family business they were running together. They did notmake peace and went to bed feeling upset. The son thought his father's ideaswere old-fashioned, so he did not take the argument seriously. For thefather, however, the harsh words hurt him deeply. He could not sleep at all. Nomatter how he lay down, he could not find peace. He got up, sat down, andwalked around the room, but still, he could not sleep. He only wished the nightwould end quickly. When morning came with its bright light, he wanted to seehis son, smile at him, say sorry, and hug him warmly. The fatherwanted to let go of his anger and resentment. His prayer was that the darknight would pass quickly so that he could make peace with his son in themorning. This experience is something we all can understand. Especially as weprepare to celebrate Christmas, many of us long to be visited by the brightdawn, the source of life—God Himself. Zechariah sings a song of praise, sayingthat God comes to visit His people. God frees them from their enemies, removesthe darkness, and brings light to those who are waiting for salvation. On the morningof December 24, the rising sun reminds us that its light shines brightly sothat we and our families may stay joyful throughout the day. Even though thesun sets in the evening and night comes, the light of Jesus Christ does notfade. He remains the bright dawn, and that night we celebrate His birth. In Zechariah'ssong, the dawn comes from above and shines on those who live in darkness andfear. We must admit that some members of the Church have stayed away from thislight for a long time and are only now ready to receive it. All of us—those whoare ready and those who are still preparing—let us rejoice as we welcome theBright Dawn who comes to visit us. Let us pray. In the name of the Father…O God, help us prepare our hearts well for the celebration of Christmastonight.Glory to the Father, and to the Son, and to the Holy Spirit. As it was in thebeginning, it's now and ever shall be, world without end. Amen.In the name of the Father…

Dibawakan oleh Hendrik Monteiro dan Meri Kaona dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. 2 Samuel 7: 1-5.8b-12.16; Mazmur tg 89: 2-3.4-5.27.29; Lukas 1: 67-79.KUNJUNGAN LAKSANA FAJAR CEMERLANG Renungan kita pada tanggal 24 Desember pagi ini bertema:Kunjungan Laksana Fajar Cemerlang. Pada suatu ketika seorang bapak dan anakbertengkar keras pada malam sebelum tidur. Mereka hanya tidak sepaham denganurusan bisnis keluarga yang mereka jalankan bersama-sama. Bahkan mereka tidaksaling berdamai sampai masing-masing pergi tidur. Bagi sang anak, cara berpikirorang tua terlalu kuno, jadi itu dibiarkan saja seperti angin lalu. Tetapi bagi si Bapak, kata-kata kasar dan keras di antaramereka berdua sangat menusuk hati. Ia tidak bisa tidur. Posisi terlentang,miring dan telungkup tidak bisa membuatnya tenang dan tertidur. Ia bangun danduduk. Ia juga berdiri dan berjalan sebentar di dalam kamar. Ia tetap tidakbisa tidur. Ia hanya ingin malam itu cepat berlalu, kalau pagi datang membawacahaya fajar yang cemerlang, ia ingin memandang wajah putranya itu: tersenyum,menyapanya, mengucapkan maaf, dan memeluk hangat anaknya. Ia ingin tinggalkan rasa benci, marah, dan jahat kepadaanaknya. Doanya ialah: supaya malam yang gelap itu lekas berlalu pergi, danpagi segera datang supaya berdamai dengan putranya. Pengalaman bapak-anak iniadalah pengalaman kita semua. Khususnya pada saat menyongsong hari raya Natalini, banyak di antara kita ingin sekali dikunjungi dan ditemui fajar cemerlangsumber kehidupan, yaitu Tuhan sendiri. Zakaria menyampaikan nyayian pujiannya,dengan seruan bahwa Allah datang mengunjungi umat-Nya. Allah akan melepaskanmereka dari ikatan musuh-musuh dan lawan yang membenci mereka. Allah menghalaukegelapan dan menghadirkan terang bagi mereka yang sangat mengharapkanpembebasan dan keselamatan. Di pagi hari 24 Desember ini, surya pagi memberikan kitapesan bahwa cahayanya tidak redup, supaya membuat kita masing-masing dankeluarga-keluarga kita tetap bersuka cita sepanjang hari. Meskipun pada sorenyamatahari akan terbenam dan malam pun menyusul, namun cahaya Yesus Kristus tidakikut termakan oleh malam. Kita semua tetap mengalami bahwa Ia tetaplah fajarcemerlang, dan kita segera merayakan ulang tahun kelahirannya pada malam hari. Menurut nyanyian Zakaria, fajar itu ada di tempat yangtinggi, sehingga ia menyinari mereka yang mungkin masih berdiam dalam kegelapandan naungan maut. Mau tidak mau harus diakui, ada sebagian sesama anggotaGereja yang sudah lama sekali belum mau didatangi cahaya itu, dan kali ini barumau didatangi. Semua anggota Gereja, baik yang sudah mantap dalam persiapannyamaupun yang sedang mematangkan persiapannya, marilah kita bersuka riamenyongsong Fajar Cemerlang yang datang mengunjungi kita. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah, semoga kami mantap dalam menyiapkan diri untuk perayaan Natal nanti Malam. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan RohKudus ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Father Peter Tukan, SDB from Salesian Don Bosco Gerak in the Diocese of Labuan Bajo, Indonesia. Malachi 3: 1-4; 4: 5-6; Rs psalm 25: 4bc-5ab.8-9.10.14; Luke 1: 57-66.THE MEANING OF THE BIRTH OF JOHN THEBAPTIST Our meditation today is themed: TheMeaning of the Birth of John the Baptist. The story of the birth of John theBaptist in the Gospel of Luke brings us to an amazing event and full of faithinstruction. Those around Elizabeth thought that the child should have beennamed after his father or relative. Culture is the standard used for givingnames. It is a natural custom, a sign offamily continuity and tradition. But Elizabeth stood firm and said, "Hisname is John." Elizabeth had a stance that transcended culture andtradition. Faith in God is more important to her and her family. When Zechariahwrote the same thing on a tablet, it was revealed that what was happening wasnot just the choice of name, but obedience to God's will. Zechariah thenrecovered from his mute. The name “John” comes from the Hebrewword Johnan, which means "God is merciful" or "God pleases."With this name, God declared from the beginning that John's life was not hisown, nor was it merely a continuation of the human lineage, but a sign of God'slove and mercy for His people. John was born as a manifestation of God'smerciful intervention, especially for Elizabeth and Zechariah who had beenwaiting for a child for a long time. Elizabeth's and Zechariah's attitudesinvite us to ponder: do we dare to give up our personal habits, hopes, or plansin order to obey God's will? In this story, faith is not only expressed throughprayer, but through concrete obedience. To name the child John is to admit thatGod knows better, is more sovereign, and more merciful than human logic. John's own birth was a miracle. Butthe Gospels clearly show that this miracle is not the end goal. John was bornto prepare the way, open the hearts, and awaken the consciousness of the peopleto be ready to welcome God's greater work. John's life from the beginning hadbeen directed out of himself, toward the One who was to come after. This is where the meaning of faith forus as followers of Christ is deepened. We are invited to realize that our livesalso have a purpose beyond ourselves. Like John, we are called to be guides,witnesses of God's love, and openers of hearts to God's presence in the world.Living in faith means being willing to be a means, not a center. Ultimately, the miracle of John'sbirth prepares us to welcome a much greater miracle: the birth of Jesus Christ,the Savior. John reminds us that a merciful God faithfully keeps his promises. Let us pray. In the name of the Father ... O God ofall goodness and love, make us Your servants to proclaim the coming of JesusChrist to strengthen and free people from all obstacles that lead them astrayon the way to You. Our Father who art in heaven... In the name of the Father...

Dibawakan oleh Hendrik Monteiro dan Meri Kaona dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. Maleakhi 3: 1-4; 4: 5-6; Mazmur tg 25: 4bc-5ab.8-9.10.14; Lukas 1: 57-66.MAKNA KELAHIRAN YOHANES PEMBAPTIS Renungan kita pada hari inibertema: Makna Kelahiran Yohanes Pembaptis. Kisah kelahiran Yohanes Pembaptisdalam Injil Lukas membawa kita pada sebuah peristiwa yang menakjubkan dan saratmakna iman. Orang-orang di sekitar Elisabet beranggapan bahwa anak ituseharusnya dinamai menurut nama ayahnya atau kerabatnya. Kebudayaan menjadistandar yang dipakai untuk pemberian nama. Itu adalah kebiasaan yang wajar,tanda kesinambungan keluarga dan tradisi. Namun Elisabet berdiri teguh danberkata, “Namanya Yohanes.” Elisabet berpendirian yang melampaui budaya dantradisi. Iman kepada Allah lebih mengusasi dirinya dan keluarganya. KetikaZakaria pun menuliskan hal yang sama pada batu tulis, terungkaplah bahwa yangsedang terjadi bukan sekadar pilihan nama, melainkan ketaatan pada kehendakAllah. Zakaria kemudian pulih dari kebisuannya. Yohanes berasal dari bahasa Ibrani Yohanan,yang berarti “Tuhan berbelaskasih” atau “Tuhan berkenan.” Dengan nama ini,Allah menyatakan sejak awal bahwa hidup Yohanes bukan miliknya sendiri, bukanpula sekadar kelanjutan garis keturunan manusia, melainkan tanda kasih danrahmat Allah bagi umat-Nya. Yohanes lahir sebagai wujud campur tangan Allahyang penuh belas kasih, terutama bagi Elisabet dan Zakaria yang telah lamamenantikan seorang anak. Sikap Elisabet dan Zakariamengajak kita untuk merenung: beranikah kita melepaskan kebiasaan, harapan,atau rencana pribadi demi menaati kehendak Tuhan? Dalam kisah ini, iman bukanhanya diungkapkan lewat doa, tetapi lewat ketaatan yang konkret. Menamai anakitu Yohanes berarti mengakui bahwa Allah lebih tahu, lebih berdaulat, dan lebihberbelaskasih daripada logika manusia. Kelahiran Yohanes sendiri adalahsebuah keajaiban. Namun Injil dengan jelas menunjukkan bahwa keajaiban inibukanlah tujuan akhir. Yohanes lahir untuk mempersiapkan jalan, membuka hati,dan membangunkan kesadaran umat agar siap menyambut karya Allah yang lebihbesar. Hidup Yohanes sejak awal sudah diarahkan keluar dari dirinya sendiri,menuju Dia yang akan datang sesudahnya. Di sinilah makna iman bagi kitasebagai pengikut Kristus semakin diperdalam. Kita diajak untuk menyadari bahwahidup kita pun memiliki tujuan yang melampaui diri sendiri. Seperti Yohanes,kita dipanggil untuk menjadi penunjuk jalan, saksi kasih Allah, dan pembukahati bagi kehadiran Tuhan dalam dunia. Hidup beriman berarti rela menjadisarana, bukan pusat. Pada akhirnya, keajaibankelahiran Yohanes mempersiapkan kita untuk menyambut keajaiban yang jauh lebihbesar: kelahiran Yesus Kristus, Sang Juru Selamat. Yohanes mengingatkan kitabahwa Allah yang berbelaskasih setia menepati janji-Nya. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa ... Ya Tuhan yangmahabaik, jadikanlah kami abdi-abdi-Mu untuk mewartakan kedatangan YesusKristus untuk memperkuat dan membebaskan manusia dari semua halangan yangmenyesatkan mereka di jalan menuju kepada-Mu. Bapa kami yang ada di surga ...Dalam nama Bapa ...

Presented by Melissa Heidy from the Parish of Christ the King in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. 1 Samuel 1: 24-28; Rs psalm: 1 Sam 2: 1.4-5.6-7.8abcd; Luke 1: 46-56.PREPARATIONFOR BIRTH Our reflection today is entitled Preparation for Birth. The dayof the birth of Jesus Christ is very near. The most appropriate preparation forus is preparation for this birth. Our reflections over the past days haveprepared us for this very moment. Today we reflect on the birth of John theBaptist, who prepares the way for a birth far greater than his own. The twoinfants had already met in their mothers' wombs when the Virgin Mary visitedElizabeth. This meeting can be seen as a sign: John was born first to announceto the world that the birth of the Messiah would soon follow. Sacred Scripturetells us clearly that their births happened one after the other. The birth ofJohn the Baptist fulfills the prophecy of Scripture and God's plan. He wouldbecome a voice crying out in the wilderness, preparing the way for the comingof the Word. His birth also prepares the way for repentance and liberation fromdarkness, blindness, ignorance, and sin. This preparation begins with his ownfather, Zechariah, whose mouth was opened after a time of silence before hisson was born. The birth ofJohn the Baptist inspires us to be born anew before Christmas. Spiritually, weare called to be reborn. Our baptism is our new birth in Christ. Through thesacrament of Confirmation, we receive the Holy Spirit and are born in theSpirit. Each time we take part in the Eucharist, we receive new life as theWord of God becomes flesh. Our confession of faith in The Apostle's Creed, ourprayers and devotions strengthen our new life in Christ. All of these are meantto be lived faithfully and regularly. As Christmasis only a few days away, we should take time to reflect on our rebirth infaith. We remember how we have grown throughout this year. This renewal becomeslike a festive garment that clothes us, fills our minds and hearts, expressesour gratitude, and prepares us to be reborn. It is rightand good for us to experience a beautiful encounter: an encounter with life. Weare reborn through the holy Church, through the eternal Word who became humanand was born of the blessed Virgin, and we enter the same Church. Let us pray. In the name of the Father… Merciful God, renewus by Your Spirit, so that we may be reborn and ready to welcome the birth ofJesus Christ, the Savior of the world. Hail Mary… In the name of the Father…

Dibawakan oleh Erna Lolan dan Hendrik Monteiro dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. 1 Samuel 1: 24-28; Mazmur tg: 1 Sam 2: 1.4-5.6-7.8abcd; Lukas 1: 46-56.PERSIAPAN KELAHIRAN Renungan kita pada hari ini bertema: PersiapanKelahiran. Sudah di depan mata kita hari kelahiran Yesus Kristus. Persiapankita yang paling pas ialah persiapan kelahiran. Renungan kita kemarin-kemarinmengatar kita ke pintu kelahiran ini, di mana hari ini kita berjumpa dengankelahiran Yohanes Pembaptis, yang membuka jalan untuk kelahiran berikutnya yangjauh lebih besar dari padanya. Mungkin kedua bayi yang sudah berjumpa dalamkandungan ibu mereka masing-masing waktu perawan Maria berjumpa Elisabeth,sempat memberikan isyarat: Yohanes lahir lebih dahulu untuk memberikanpengumuman kepada seluruh dunia bahwa kelahiran sang Mesias akan segeramenyusul. Kitab suci jelas mengisahkan bahwa kelahiran keduanya itu satumenyusul yang lain. Kelahiran Yohanes pembaptis bermakna pertama-tamauntuk menggenapi penubuatan kitab suci atau rencana Allah bahwa nantinya iamenjadi suara yang berseru di padang gurun untuk menyiapkan jalan bagidatangnya sang Sabda. Selanjutnya kelahiran itu menjadi persiapan jalanpertobatan dan pembebasan orang-orang dari kegelapan, kebutaan, ketidak-tahuandan kedosaan. Persiapan ini mulai dengan bapaknya sendiri, Zakaria yang terbukamulutnya setelah membisu sebelum anaknya lahir. Kelahiran Yohanes menginspirasikan kita untuklahir sebelum hari Natal nanti. Secara rohani kita perlu lahir kembali.Pembaptisan kita adalah kelahiran baru kita di dalam Kristus. Kita jugamendapatkan pencurahan Roh Kudus melalui sakramen Krisma untuk dilahirkan dalamRoh Kudus. Setiap kali kita menghadiri perayaan Ekaristi, kelahiran barudiperoleh dengan masuknya firman Allah menjadi daging yang kita santap.Pengakuan iman melalui doa Aku Percaya dan doa-doa serta devosi-devosimemperkuat kelahiran kita kembali. Semua ini selalu kia jalani secara baik danrutin. Tinggal beberapa hari perayaan Natal, hendaknyakita luangkan waktu untuk merenungkan semua peristiwa iman tentang kelahirankita kembali. Kita mengingat kembali kelahiran kita sepanjang tahun ini untuk menjadi pakaian pesta yang menutup dirikita, yang menjadi isi pikiran dan hati kita, yang menjadi tanda syukur, danyang menjadi tanda persiapan kelahiran kita terbaru. Memang tepat dan bagus bagi kita untuk mengalamisuatu perjumpaan yang indah, yaitu perjumpaan kehidupan. Kita yang terlahirkembali melalui Gereja yang kudus, Sabda kekal yang menjelma menjadi manusiadalam suatu kelahiran melalui seorang perawan terberkati, masuk ke dalam Gerejayang sama. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah maha rahim, baharuilah diri kami dalamRoh–Mu supaya kami terlahir kembali menjadi baru, demi menyambut kelahiranYesus Kristus, juru selamat dunia. Salam Maria... Dalam nama Bapa...

Delivered by Reinaldy, Johana, Dwi Setyo, and Maria Delie from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Isaiah 7: 10-14; Rs psalm 24: 1-2.3-4ab.5-6; Romans 1: 1-7; Matthew 1: 18-24.FOR THE SAKE OFGREATER IMPORTANCE The title for ourmeditation on this fourth Sunday of Advent is: For the Sake of GreaterImportance. A group of students discussed the place where they can do theirsocial service as a form of Christmas and New Year's action. They also consideredthe people to be the target of their service. All considerations of personalinterest were avoided so that the decision they made was truly for the needs ofmany people. A 5th grade boy ofelementary school opened all his savings for one year. The savings are theresult of collection of his pocket money and gifts he has received but he didnot use them. Then he spent all of his savings to buy Christmas and New Yeargifts, then he plans to offer them to an orphanage near his home, an orphanageunder the religious umbrella that is different from his Catholic religion. He issatisfied and happy because he does an act of love for others. These two truestories are the examples of reflection about self-renunciation. The theologicalterm for this we often say is incarnation. Actually the reason for an act ofrenunciation is for the sake of certain greater importance. The logic of thiswould be the following: any personal or smaller interest must be sacrificed,because there is other greater interest to be fulfilled. In the fulfillment of onegreater interest, personal interest is actually also fulfilled. The true and genuine renunciation is made by God byleaving His place in heaven and becoming human. If God is only for Himself, Heshould just live in heaven and not to come to the world for the greater benefitwhich is our salvation. King Ahaz in the first reading understood well thistruth of renunciation. Therefore he refused to ask for something special givento him by God. He let God alone reveal His will, that is for the sake ofgreater importance. This importance isthat Jesus is born into the world for the salvation of the whole world and allmankind. He is indeed referred to by the scriptures as a descendant of David,but He does not belong to David and his whole family only. He is the God forall people and all creation. Joseph, engaged to Mary, also sacrificed his owninterests, namely shame, pride and anger. He just wanted to divorce Mary. Butbecause of a greater importance, namely God's will, he obeyed and he was happywith his attitude and decision. The truth for us shouldbe this: by obeying the will of the Lord, we actually act for the sake ofgreater importance.Let's pray. In the name of theFather... O tender and loving God, may this 4th Sunday of Advent celebrationcomplete our joy for the Christmas that soon to come. Our Father who art inheaven ... In the name of the Father...

Dibawakan oleh Erna Lolan dan Hendrik Monteiro dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. Yesaya 7: 10-14; Mazmur tg 24: 1-2.3-4ab.5-6; Roma 1: 1-7; Matthew 1: 18-24DEMI KEPENTINGANYANG LEBIH BESAR Tema renungan kita pada hariMinggu Adven keempat ini ialah: Demi Kepentingan Yang Lebih Besar. Ada sekelompok mahasiswa berdiskusi mengenaitempat untuk bakti sosial sebagai suatu bentuk aksi Natal dan Tahun Baru.Mereka juga pertimbangkan orang-orang yang menjadi sasaran pelayanan mereka.Semua pertimbangan kepentingan pribadi dihindari sehingga keputusan yang merekaambil benar-benar bagi kebutuhan orang banyak. Ada seorang anak kelas 5 SDmengeluarkan semua tabungannya selama satu tahun. Tabungan itu adalah hasilkumpulan uang jajan dan hadiah yang ia terima dan tidak ia pakai. Ia belanjakansemua uang tabungannya dalam bentuk kado-kado Natal dan Tahun Baru, lalu diberikankepada panti asuhan yang ada di dekat rumahnya, sebuah panti dengan payungagama yang berbeda dari agamanya Katolik. Ia menjadi puas dan bahagia karenatelah berbuat kasih bagi orang lain. Dua cerita nyata tersebutmerupakan contoh-contoh refleksi tentang pengosongan diri. Istilah yang lebihteologis sering kita sebut sebagai inkarnasi. Sebenarnya alasan sebuahpengosongan diri ialah demi kepentingan yang lebih besar. Logikanya ialah begini:kepentingan pribadi atau yang lebih kecil harus dikorbankan, karena adakepentingan lain yang lebih besar untuk dipenuhi. Di dalam pemenuhankepentingan yang lebih besar itu, sesungguhnya kepentingan pribadi jugamendapatkan keuntungannya. Pengosongan diri sesungguhnyaialah oleh Tuhan dengan meninggalkan tempat-Nya di surga dan menjadi manusia.Kalau Tuhan mementingkan diri-Nya sendiri, sebaiknya ia tinggal saja di surgadan tidak perlu datang ke dunia. Namun Ia sesungguhnya datang demi kepentinganyang lebih besar ialah keselamatan kita semua. Raja Ahas di dalam bacaanpertama sangat memahami kebenaran pengosongan diri ini. Oleh karena itu iamenolak meminta sesuatu yang spesial diberikan kepadanya oleh Tuhan. Iamembiarkan Tuhan saja yang menyatakan kehendak-Nya, yaitu demi kepentingan yanglebih besar. Kepentingan itu ialah Yesus yanglahir ke dalam dunia untuk keselamatan seluruh dunia dan segenap umat manusia.Ia memang disebut oleh kitab suci sebagai keturunan Daud, tetapi bukan miliknyaDaud dan segenap keluarga saja. Ia adalah Allah untuk semua orang dan segenap ciptaan. Yosef yang bertunangan denganMaria, juga mengorbankan kepentingan dirinya sendiri, yaitu rasa malu, gengsidan marah. Ingin menceraikan saja Maria. Tapi karena kepentingan yang lebihbesar, yaitu kehendak Tuhan, ia turuti dan ia bahagia dengan sikapnya itu. Sesungguhnya, dengan menurutikehendak Tuhan, kita berbuat untuk kepentingan yang lebih besar. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa ... Ya Tuhan, semogaperayaan hari Minggu ini melengkapi sukacita kami untuk hari raya Natal yang sebentar lain kami rayakan. Bapa kami yangada di surga ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Angeline from the Parish of Saint Catherine in the Archdiocese of Seattle, USA. Isaiah 7: 10-14; Rs psalm 24: 1-2.3-4ab.5-6; Luke 1: 26-38.THEMOMENT OF INCARNATION Ourmeditation today is entitled: The Moment of Incarnation. We have beenreflecting on the great theme of this Advent which is preparation. Over thepast few days our meditations have featured some special figures that can becalled the close circle category, namely those who had played a major role inhelping out our preparation. Today'sliturgical readings lead us right to the core of preparation, which presentsthe main characters who directly had become instruments for the birth of theSavior, Jesus Christ. They were no longer a close-circle persons, but as themain actors in the fulfilment of the Father's most powerful plan in the historyof salvation, namely the incarnation. This word “incarnation” signifies theeternal Word of God made flesh. The Son of God as the second person of theTrinity, came into the world whom we know as the Lord Jesus Christ. Theevent of the incarnation entered the world through a main gate, which was aheavenly greeting with the great and miraculous message to the Virgin Mary. Thegreatness and wonder of God regarding the coming of the Messiah which had beenprepared long in advance by the prophets, as we follow through the proclamationof today's readings, began to open to be known by the world. This annunciationevent presented the following main characters, namely the archangel Gabriel whobrought the joyful glad tidings from God, the Virgin Mary of Nazareth in theGalilee region, and her future husband, Joseph. They were the main actors whohad played a direct role in the birth of Jesus Christ into the world. Weare on our way to the pinnacle of incarnation. Today we are at the entrance,which is to experience the joyful greeting addressed to Mary, the greetingwhich was becoming a great miracle the word made flesh, and Mary's answer whichwas an expression of such great faith. Everything that happened at the gate ofthis incarnation indeed confirmed what the prophet Isaiah had previously saidwhen he delivered this joyful news to the family of David, that a woman wouldgive birth to Emmanuel. So, this great and magnificent greeting to be the gateof incarnation had been designed and prepared so long time ago. Weshould not be the outsiders the circle to just watching and admiring. We bettergo in and pass through the gate that we may experience that great andmiraculous greeting. Moreover, such greeting that says “The Lord be with you”also comes into each of us and our families. It is amazing how the incarnationtakes place, where the eternal Word enters and dwells in us. Our realpreparation is to be at the gate of the incarnation, but we should not be farfrom there or just watching from distance. Let's pray. In thename of the Father... O great and merciful God, may we rejoice even more whenwe are in this imminent preparation to celebrate the feast of the coming ofJesus Christ, our Lord. Glory to the Father and to the Son and the HolySpirit... In the name of the Father...

Dibawakan oleh Oliva Ivania dan Hendrik Monteiro dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. Yesaya 7: 10-14; Mazmur tg 24: 1-2.3-4ab.5-6; Lukas 1: 26-38.SAAT INKARNASI Renungan kita pada hari ini bertema: Saat Inkarnasi. Kitaselalu merenungkan tema besar Adven ini yaitu persiapan. Selama hari-hari yanglalu renungan kita menampilkan tokoh-tokoh istimewa yang dapat disebut kategorilingkaran dekat, yaitu mereka yang berperan utama untuk membantu persiapan itu. Hari ini bacaan-bacaan liturgis mengantar kita kepadasuatu sisi persiapan inti, yang menampilkan tokoh-tokoh inti yang secaralangsung menjadi instrumen bagi kelahiran Yesus Kristus. Mereka ini bukan lagisebagai lingkaran dekat, tetapi sebagai pelaku utama untuk mewujudkan rencanaBapa yang amat dahsyat dalam sejarah keselamatan, yaitu inkarnasi. Katainkarnasi ini ialah Sabda Allah yang abadi menjadi manusia. Putra Allah sebagaipribadi Tritunggal yang kedua, datang ke dunia yang kita kenal sebagai YesusKristus. Peristiwa inkarnasi itu masuk ke dalam dunia melalui pintuutama, yaitu salam dari surga yang besar dan ajaib. Kebesaran dan keajaibanTuhan mengenai kedatangan Mesias yang sudah dipersiapkan jauh sebelumnya olehpara nabi, melalui pewartaan bacaan-bacaan hari ini mulai terbuka untukditampilkan. Penampilan ini menghadirkan tokoh-tokoh utama, yaitu malaikatagung Gabriel yang membawa kabar suka cita surgawi dari Allah, perawan Mariadari Nazareth di daerah Galilea, dan Yosef, calon suami perawan itu. Merekaadalah pelaku-pelaku utama yang berperan langsung untuk kehadiran Yesus Kristusdi dunia. Kita sedang menuju ke puncak inkarnasi. Hari ini kitaberada di pintu masuk, yaitu mengalami salam suka cita yang disampaikan kepadaMaria, salam itu amat ajaib, dan jawaban Maria yang menjadi ungkapan iman yangbegitu besar. Semua yang terjadi pada pintu inkarnasi ini mengkonfirmasi apayang sudah disampaikan dahulu oleh nabi Yesaya ketika menyampaikan kabar sukacita ini kepada keluarga Daud, bahwa seorang perempuan akan melahirkan Emanuel.Jadi pintu salam yang besar dan ajaib ini memang sudah dirancang dandipersiapkan untuk dibuka sudah sejak lama. Kita hendaknya tidak berada di luar lingkaran sekedarmenyaksikan dan mengagumi saja. Sebaiknya kita masuk dan berada di dalam pintuitu supaya ikut mengalami salam yang besar dan ajaib itu. Lebih bagus lagi,salam yang berbunyi “Tuhan menyertaimu” juga masuk ke dalam diri kitamasing-masing dan keluarga kita. Sungguh luar biasa terjadi inkarnasi, di manaSabda yang kekal itu masuk dan berdiam di dalam kita. Persiapan kita sebenarnyaialah berada pada pintu inkarnasi itu, dan bukan jauh dari situ atau sekedarmenonton.Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan maha besar,semoga kami semakin bersuka cita ketika berada dalam persiapan yang sudah amatdekat ini untuk merayakan pesta kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kami. Kemuliaankepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa...

Delivered by Celine from the Parish of Saint Marinus Yohanes in the Diocese of Surabaya, Indonesia. Judges 13: 2-7.24-25a; Rs psalm 71: 3-4a.5-6ab.16-17; Luke 1: 5-25.MIRACULOUSPREPARATION Thetitle for our meditation today is: Miraculous Preparation. Preparation is themain theme of Advent. We have reflected on the great preparation as carried outby John the Baptist and Elijah. There is also a form of preparation thathighlights God's justice with the King David, the results of which aremanifested in the person of Mother Mary and Saint Joseph. Then today we areintroduced to a form of miraculous preparation, with the main characters beingManoah's wife or Samson's mother, and John the Baptist's parents, Zachariah andElizabeth. Wecall it a miraculous preparation, and not just great, because it is close to amuch more miraculous event, namely the birth of the Savior, which is already soonto come. The miraculous event in the lives of Mary and Joseph which ismanifested in the birth of Jesus Christ, certainly must be anticipated by amiraculous preparation as well. And this miraculous preparation was the birthof Samson from his mother who was barren, as well as the birth of John theBaptist from Elisabeth who was also claimed to be barren. Zakariah, Elisabeth'shusband, is also included in this circle of miracles. Ifyou dare to ask yourself, what miracle must be prepared to welcome thecelebration of the birth of Jesus Christ this year? Something magical alwaysamazes or more precisely, something new that makes us wonder. However, havingexperience a special relationship with God does not have to be big andmagnificent. Miraculous or wonderful thing doesn't have to be somethingextraordinary. Jesus Christ, who was born in simplicity, is enough to give usan idea that miracles are the experiences of finding light and answers aboutour lives in God. Someonewrote on the social media wall about her family's miraculous preparation forthis Christmas. "My youngest child, who is already a young man, over thelast years has not been able to get along and agree with us, his parents. Justthis past day he opened up and talked to us. We actually stopped at the exactplace where our child was, so that our communication could be connected, theconversation would flow, and finally a solution to our problem could bereached. May this Christmas be a very beautiful experience in our family”. Thissmall sharing is a miraculous preparation, which of course will be aligned withthe miracle of the presence of the Lord Jesus Christ. We as individuals,families, and communities need to prepare miraculously or in a new way, inorder to find that harmony and unity. If there is nothing miraculous or newexperience, wouldn't the Christmas celebration be ordinary, without anything wonderful? Let us pray. In thename of the Father... O merciful God, make us individuals and families who can renewour lives through miraculous preparation for this Christmas. Glory to theFather and to the Son and to the Holy Spirit ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Oliva Ivania dan Hendrik Monteiro dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. Hakim-Hakim 13: 2-7.24-25a; Mazmur tg 71: 3-4a.5-6ab.16-17; Lukas 1: 5-25.PERSIAPAN AJAIB Tema renungan kita pada hari ini ialah: Persiapan Ajaib.Persiapan adalah tema utama masa Adven. Kita telah renungkan tentang persiapanbesar seperti yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis dan Elia. Ada juga bentukpersiapan yang menonjolkan keadilan Tuhan bersama raja Daud, yang hasilnyaberwujud pada diri Bunda Maria dan Santo Yosef. Lalu hari ini kitadiperkenalkan dengan bentuk persiapan ajaib, dengan tokoh utama ialah istriManoah atau ibu Samson, dan orang tua Yohanes Pembaptis, Zakariah dan Elisabeth. Kita menyebut sebuah persiapan ajaib, dan bukan hanyabesar, karena dekat dengan peristiwa besar dan jauh lebih ajaib yaitu kelahiranjuru selamat yang sudah sangat nyata. Kejadian ajaib dalam hidup Maria danYosef, serta berwujud pada kelahiran Yesus Kristus, jelas harus diantisipasioleh suatu persiapan ajaib juga. Dan persiapan ajaib ini ialah kelahiran Samsondari ibunya yang sudah mandul, demikian juga kelahiran Yohanes Pembaptis dariElisabeth yang juga diklaim mandul. Zakariah, suami Elisabeth juga masuk dalam lingkaran keajaiban ini. Kalau berani bertanya pada diri masing-masing, keajaibanapa yang mesti pas dipersiapkan untuk menyambut pesta kelahiran Yesus Kristustahun ini? Sesuatu yang ajaib selalu membuat heran, kagum atau lebih tepatnyasesuatu yang baru. Mempunyai dan mengalami suatu hubungan yang istimewa denganTuhan tidak mesti yang besar dan megah. Ajaib atau yang baru tidak mesti jugayang sangat luar biasa. Yesus Kristus yang lahir dalam kesahajaan cukupmemberikan kita gambaran bahwa ajaib itu adalah pengalaman menemukan terang danjawaban tentang hidup kita di dalam Tuhan. Seseorang menuliskan pada dinding media sosialnya tentangpersiapan ajaib keluarganya untuk Natal kali ini. “Anakku bungsu yang sudahpemuda, selama tahun-tahun belakangan tak bisa cocok dan sepikiran dengan kamiorang tuannya. Baru sehari terakhir ini ia terbuka dan berbicara dengan kami.Kami sesungguhnya berhenti di tempat yang persis anak kami berada, supayakomunikasi kami bisa bersambung lagi, pembicaraan menjadi cair, dan akhirnyatercapai solusi atas permasalahan kami. Semoga Natal ini menjadi satupengalaman sangat indah dalam keluarga kami”. Sharing kecil ini merupakan satu persiapan ajaib, yangtentu saja akan diselaraskan dengan keajaiban kehadiran Tuhan Yesus Kristus.Kita sebagai pribadi, keluarga, dan komunitas perlu bersiap secara ajaib atausecara baru, supaya menemukan keselarasan itu. Jika tak ada sesuatu yang ajaibatau baru, bukankah nanti perayaan Natal menjadi biasa-biasa saja, tanpasesuatu yang indah? Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan maha murah,jadikanlah kami pribadi-pribadi dan keluarga-keluarga yang dapat membuat hidupkami baru sebagai persiapan untuk hari Natal ini. Kemuliaan kepada Bapa danPutra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa...

Delivered by Melissa Heidy from the Parish of Christ the King in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Jeremiah 23: 5-8; Rs psalm 72: 1-2.12-13.18-19; Matthew 1: 18-24.JOSEPH,AN EXPERT OF CRHRISTMAS Ourmeditation today is entitled Joseph, an Expert of Christmas. In theGospel of Matthew that we have just heard, an angel speaks to Joseph in a dreamand says: “Joseph, son of David, do not be afraid to take Mary as your wife.She is pregnant through the Holy Spirit. The child to be born through Mary—youmust name Him Jesus.” Josephwas surely disappointed and embarrassed when he learned that Mary was pregnant.To help him understand, God had a plan. He sent an angel who could explainGod's will wisely. From the very beginning, the angel gained Joseph's attentionby calling him a descendant of David. By reminding Joseph of his connection tothe great King David, the angel showed him that he had a specialresponsibility. Joseph understood that he must obey and follow God's plan. Wehuman beings are often like this as well. When the name of a respected or holyperson is mentioned, we are more willing to listen and change our minds. We aretaught to follow the examples of great, noble, and holy people. When we aretempted to do something wrong, their example helps us reconsider our decisions. Inthis way, Joseph is truly an expert of Christmas. He teaches us how to evaluateourselves and remain faithful. A few days ago, we celebrated Gaudete Sunday.May the joy of Christmas not distract us from what the most important thing is—thatour hearts and spirits need to be purified. Our joy must be accompanied byobedience to God, so that we are not led into temptation. Josephis a true guide for Christmas. He teaches us to take risks for what is rightand to remain faithful to the right decisions. As individuals, families, andcommunities, we will make choices as we celebrate Christmas and the New Year.May our decisions strengthen our faith. Even if there are risks, may theyalways lead us closer to God. Saint Joseph, pray for us. Amen. Let uspray. In the name of the Father…O Lord,help us imitate Saint Joseph as we prepare for Christmas. Help us remainfaithful and obedient to You.Glory be tothe Father, and to the Son, and to the Holy Spirit…In the name of theFather…

Dibawakan oleh Oliva Ivania dan Hendrik Monteiro dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. Yeremia 23: 5-8; Mazmur tg 72: 1-2.12-13.18-19; Matius 1: 18-24.YOSEF, SEORANG AHLI HARI NATAL Renungan kita pada hari ini bertema: Yosef, Seorang AhliHari Natal. Injil Matius yang baru saja kita dengar menyebutkan bahwa di dalammimpi seorang malaikat berbicara begini: Yosef, putra Daud, jangan takutmengambil Maria sebagai istrimu. Dia hamil itu dari Roh Kudus, bukan daridirimu dan dari siapa-siapa. Anak yang akan dilahirkan oleh Maria, engkau mestiberi nama Yesus. Untuk memenangkan hati Yosef yang tentu saja kecewa danmalu, mengingat calon istrinya, Maria, telah kedapatan hamil, Tuhan punyastrategi. Malaikat yang disuruh oleh Tuhan harus pintar-pintar membawa pesan,sehingga Yosef harus dibuat mengerti benar-benar apa yang sedang diperbuatTuhan baginya. Malaikat langsung mengunci Yosef dari awal pembicaraan, denganmenyapanya sebagai anak dari keturunan Daud. Kalau mengaitkannya dengan Daud,raja yang agung dan mulia, sudah pasti sebagai keturunannya, ia tidak bisamengelak. Ia harus patuh dan taat. Kita manusia juga selalu begitu. Jika nama orang besaratau orang yang sangat sakti di dalam keluarga dipakai untuk meyakinkan Anda,tentu saja Anda akan langsung mengamini. Kita tumbuh, berkembang, dan dididikuntuk selalu mengikuti orang yang besar, mulia, agung, dan suci. Ketikamisalnya Anda ingin berbohong atau mengungkapkan reaksi yang negatif,orang-orang yang luar biasa tersebut dihadirkan untuk membuat dirimu berpikirulang tentang tindakanmu tersebut. Di sini Yosep sangat ahli untuk hari Natal, karena ia ikutmenyiapkan kita supaya dapat mengontrol dan menguasai diri secara tepat danbaik. Kita sudah merayakan hari Minggu suka cita, kiranya kegembiraan akan hariNatal yang sudah mendekat, tidak membuat kita menjadi terlalu gembira karenabisa saja kita lupa akan hal yang esensial, yaitu batin dan roh kita perludimurnikan. Suka cita kita dalam menyongsong hari Natal, perlu kita lengkapidengan tetap taat kepada Tuhan dalam hal kewaspadaan yang tinggi, supaya kitatidak terbawa oleh pengaruh atau godaan Setan yang membawa kita ke dalam dosa. Yosef sangat ahli untuk hari Natal, dan ia dapatmengajarkan kita dalam hal siap mengambil risiko dan teguh pada keputusan yangbenar. Sebagai pribadi dan bersama, kita tentu akan membuat keputusan-keputusanyang membantu pertumbuhan iman kita dalam merayakan hari Natal dan Tahun Baruini. Liburan Natal dan Tahun Baru juga kita jalani. Kiranya keputusan yangdiambil secara pribadi maupun bersama, menghadirkan sikap iman yang benar. Biarada risiko yang menjadi konsekuensi keputusan tersebut, namun risiko itu adalahuntuk kebaikan. Santo Yosef yang suci, doakanlah kami. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan, semoga kamimeneladani Santo Yosef dalam persiapan hari raya Natal ini, dengan mampumenguasai diri dan teguh pada iman kepada-Mu. Kemuliaan kepada Bapa dan Putradan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa...

Delivered by Svara Nirmala and Lukitananda Putra from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Genesis 49: 2.8-10; Rs psalm 72: 1-2.3-4ab.7-8.17; Matthew 1: 1-17.THEJUSTICE OF THE LORD REIGNS Thetitle for our meditation today is: The Justice of the Lord Reigns. In the pastfew days religious figures such as Elijah in the Old Testament and John theBaptist in the New Testament caught much of our attention. Today we have theopportunity to meet another Old Testament figure, namely the King David. Jacob,also called Israel, when he was about to die, called his children to give thema wish, and the one who got it and who would inherit the power of God's justicewas Judah. From him came the king David. Descendants after descendants fromJudah to David, finally reached Jacob who begot Joseph the husband of theVirgin Mary. Inthe classroom during the religion class, a student protested strongly againsther teacher. She did not want the teacher to continue the lesson by mentioningthe king David's name. For her David was a great scandal. As a girl, she wantedthat leaders and public figures who are unfair, deceitful, lustful, and sinfullike David should not be our point of reference because they are not goodexamples for many people. Theteacher tried to calm the situation, because the provocation of that girl madethe entire class noisy as the students were speaking and cursing the characterof David. The teacher assured them all, that the figure of David has much incommon with many other historical figures in the world. They are not free frommistakes and sins. They are the ones who actually create injustice. Therefore,God wants to provide justice according to His will, even if it comes throughthe wrong way and sinful person. God's justice must remain victorious and mustnot be defeated by any evil behaviour. There was a young man involving in anunhealthy relationship. He impregnated his girlfriend and his studies wereinterrupted. His behaviour at home was getting worst. He easily got angry and couldfight blindly. Anyway, he acted unfairly, out of justice. However,his parents were not hopeless. They chose the path of justice. It is a way oflove for their son. The son then felt welcomed. He was not treated as a failureand sinner. Both parents were actually practicing the triumph of God's justice.We learn from David, that if justice only follows human will, what will happenis injustice. The justice of God will change human injustice into blessing andsalvation.Let's pray. In thename of the Father ... O Father of Mercy, strengthen our obedience andfaithfulness so that we will not be swayed by the various threats around us.Hail Mary, full of grace, the Lord is with you ... In the nameof the Father ...

Dibawakan oleh Erna Lolan dan Hendrik Monteiro dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. Kejadian 49: 2.8-10; Mazmur tg 72: 1-2.3-4ab.7-8.17; Matius 1: 1-17.KEADILAN TUHAN BERJAYA Tema renungan kita pada hari iniialah: Keadilan Tuhan Berjaya. Beberapa hari belakangan tokoh-tokoh kitab suciseperti Elia di Perjanjian Lama dan Yohanes Pembaptis di Perjanjian Barumenarik perhatian kita. Pada hari ini kita berkesempatan untuk berjumpa dengantokoh perjanjian lama yang lain, yaitu raja Daud. Yakub yang disebut Israel, padasaat hendak meninggal dunia, ia memanggil anak-anaknya untuk memberikan merekawasiat, dan yang mendapat wasiat untuk menurunkan kuasa keadilan Tuhan ialahYehuda. Dari dialah datang raja Daud. Keturunan demi keturunan dari Yehuda keDaud, akan sampai ke Yakub yang memperanakkan Yusuf suami Bunda Maria. Pada suatu ketika di dalam ruangkelas saat berlangsungnya pelajaran agama Katolik, seorang siswi protes keraskepada gurunya. Ia tidak ingin gurunya meneruskan pelajaran dengan menyebutnama Daud. Baginya Daud itu pembuat skandal ulung. Sebagai remaja perempuan, iaingin supaya tokoh-tokoh besar dan pemimpin yang bersikap tidak adil, curang,pemuas nafsu birahi, pemerkosa seperti Daud tidak boleh dijadikan isi pelajarankarena ia tidak bisa menjadi contoh yang baik. Ibu gurunya berusaha untukmenenangkan suasana, karena provokasi gadis itu membuat teman-temannya menjadigaduh karena mereka mengutuk tokoh Daud. Guru meyakinkan mereka semua, bahwatokoh seperti Daud memiliki banyak kesamaan dengan banyak tokoh sejarah lainnyadi dunia. Mereka tidak luput dari kesalahan dan dosanya. Mereka yang justrumenciptakan ketidak-adilan. Oleh karena itu Tuhan inginmemunculkan keadilan yang menurut kehendak-Nya, meskipun melalui cara danpribadi manusia yang berdosa. Keadilan Tuhan harus tetap jaya dan tidak bolehkalah dari tabiat jahat manusia. Ada seorang pemuda terlibat dalam pergaulanyang tidak sehat. Ia menghamili pacarnya dan studinya terganggu. Tingkahnya dirumah semakin aneh. Ia berubah menjadi keras dan bisa marah membabi buta.Pokoknya ia bertindak tidak adil. Tetapi kedua orang tuanya tidakputus asa. Mereka memilih jalan keadilan. Jalan kasih bagi putranya. Anak itulalu merasa diterima dengan baik. Ia tidak diperlakukan sebagai seorang yanggagal dan berdosa. Kedua orang tua itu sebenarnya sedang mempraktikkan keadilanTuhan yang berjaya. Kita belajar dari Daud, bahwa kalau keadilan yang hanya menurutikemauan manusia, yang terjadi ialah ketidak-adilan. Keadilan dari Tuhan akanmengubah ketidakadilan itu menjadi berkat dan keselamatan. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Bapa maha rahim,perkuatkanlah ketaatan dan kesetiaan iman kami, sehingga tidak goyah oleh anekaancaman-ancaman di sekeliling kami. Salam Maria, penuh rahmat ...Dalam nama Bapa ...

Delivered by Prishella Tjiuranda from the Parish of Saint Francis of Assisi in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Zephaniah 3: 1-2.9-13; Rs psalm 34: 2-3.6-7.17-18.19.23; Matthew 21: 28-32.SALVATION FOR ALL THE LOWLY The title for our meditation today is: Salvation forAll the Lowly. The prophet Zephaniah prophesied something that often felt theopposite of the logic of the world. He conveyed that God does not side withpride, oppressive power, or false security that man builds on his own strength.Instead, God promises to leave behind "the humble and poor remnant of thepeople," those who no longer rely on power, office, or great fame, buthope fully in God. Salvation, according to this prophecy, is born of humility,not of pride. Zephaniah emphatically reminds that arrogant andpowerful people who abuse power do not live in God's blessing. The power usedto oppress others actually distances man from the face of God. God is notimpressed by the grand outward appearance, but looks at an honest and brokenheart. Before Him, pride is a wall that hinders grace, while humility opens theway to salvation. This message is reaffirmed by Jesus Christ in Hisproclamation of the Gospel. Jesus repeatedly showed that God's Kingdom is closeto those who are oppressed, hungry, weeping, and persecuted. He said that whenlittle people cry out to God, their cries are never ignored. God is not adistant and deaf God, but a God who immediately comes to help when injustice causesman suffers. Jesus himself lived among the marginalized. He atewith tax collectors, touched the sick, and defended those who were despised. Inevery of His actions, Jesus reveals the face of God on the side of those whohave no one but God. In the eyes of the world they are despised, but in theeyes of God they are precious and loved. We can imagine a small worker whose rights are takenaway, whose voice is ignored because he has no power or relationship. When hecould only pray in silence, God worked in unexpected ways: people's hearts werechanged, the truth was revealed, and the path of justice was opened little bylittle. Not because of his strength, but because he cried out to God with anhonest, humble, hopeful heart. The salvation promised by God does not belong to thosewho feel the strongest, but to those who dare to hope in God in the midst ofweakness and difficulty. It is in this humility that God reveals His salvationto all those who are despised.Let us pray... In the name of the Father ... O Almighty God,enable us to do like Jesus Christ who is very merciful to those who are sickand suffering. Glory to the Father and to the Son and to the Holy Spirit... Inthe name of the Father ...

Dibawakan oleh Erna Lolan dan Hendrik Monteiro dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. Zefanya 3: 1-2.9-13; Mazmur tg 34: 2-3.6-7.17-18.19.23; Matius 21: 28-32.KESELAMATAN KEPADA SEMUA ORANG YANG HINA DINA Tema renungan kita pada hari ini ialah: KeselamatanKepada Semua orang Yang Hina Dina. Nabi Zefanya menubuatkan sesuatu yang kerapterasa terbalik dari logika dunia. Ia menyampaikan bahwa Tuhan tidak berpihakpada kesombongan, kekuasaan yang menindas, atau rasa aman palsu yang dibangunmanusia atas kekuatan dirinya sendiri. Justru Tuhan berjanji meninggalkan “sisaumat yang rendah hati dan miskin”, mereka yang tidak lagi mengandalkan kuasa,jabatan, atau nama besar, melainkan berharap sepenuhnya pada Tuhan.Keselamatan, menurut nubuat ini, lahir dari kerendahan hati, bukan darikeangkuhan. Zefanya dengan tegas mengingatkan bahwa orang-orangcongkak dan berkuasa yang menyalahgunakan kekuatan tidak hidup dalam berkatTuhan. Kekuasaan yang dipakai untuk menindas sesama justru menjauhkan manusiadari wajah Allah. Tuhan tidak terkesan oleh tampilan luar yang megah, tetapimemandang hati yang jujur dan remuk. Di hadapan-Nya, kesombongan adalah tembokyang menghalangi rahmat, sementara kerendahan hati membuka jalan bagikeselamatan. Pesan ini ditegaskan kembali oleh Yesus Kristus dalampewartaan-Nya. Yesus berkali-kali menunjukkan bahwa Kerajaan Allah dekat denganmereka yang tertindas, lapar, menangis, dan dianiaya. Ia berkata bahwa ketikaorang-orang kecil berseru kepada Allah, jeritan mereka tidak pernah diabaikan.Tuhan bukan Allah yang jauh dan tuli, tetapi Allah yang segera datang menolongketika ketidakadilan membuat manusia tak berdaya. Yesus sendiri hidup di tengah orang-orang yangdipinggirkan. Ia makan bersama pemungut cukai, menyentuh orang sakit, danmembela mereka yang diremehkan. Dalam setiap tindakan-Nya, Yesus menyingkapkanwajah Allah yang berpihak pada mereka yang tidak memiliki siapa-siapa selainTuhan. Di mata dunia mereka hina, tetapi di mata Allah mereka berharga dandikasihi. Kita dapat membayangkan seorang buruh kecil yang haknyadirampas, suaranya diabaikan karena tidak punya kuasa atau relasi. Ketika iaakhirnya hanya bisa berdoa dalam diam, Tuhan bekerja dengan cara yang tidakdisangka: hati orang-orang berubah, kebenaran terungkap, dan jalan keadilandibuka sedikit demi sedikit. Bukan karena kekuatannya, tetapi karena ia berserukepada Allah dengan hati yang jujur dan rendah serta penuh harapan. Keselamatan yang dijanjikan Tuhan bukan milik merekayang merasa paling kuat, melainkan milik mereka yang berani berharap kepadaAllah di tengah kelemahan dan kesulitan. Dalam kerendahan hati itulah, Tuhanmenyatakan keselamatan-Nya kepada semua orang yang hina dina. Marilah kita berdoa … Dalamnama Bapa … Ya Allah maha kuasa, mampukanlah kami berbuat seperti Yesus Kristusyang sangat berbelas kasih kepada orang-orang yang susah dan mederita.Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus … Dalam nama Bapa …

Delivered by Thia Santos from the Church of Divine Mercy Shah Alam in the Archdiocese of Kuala Lumpur, Malaysia. Numbers 24: 2-7.15-17a; Rs psalm 25: 4bc-5ab.6-7bc.8-9; Matthew 21: 23-27.DO NOT DOUBT Our meditation today isthemed: “Do not doubt.” There are two young people who are dating and facing aproblem that must be resolved together. That problem is doubt. The young man isknown as hardworking, responsible, and willing to make sacrifices. However, hismain weakness is his excessive doubt. His girlfriend becomes concerned. Many of hisdecisions are made only because he is strongly pressured; otherwise, therewould be nothing but confusion and uncertainty. Nevertheless, their lovecontinues. The young woman tries to balance the situation—at the very leastencouraging and reminding him so that his doubts gradually diminish andself-confidence grows, founded on conviction. Neither ofthem comes to think that their relationship and increasingly strong love wouldfail simply because doubt exists on one side. Doubt indeed tends towarduncertainty in making decisions and taking action, but this weakness can beovercome because both of them recognize it and work together to resolve it What is mostfeared is when a doubting person turns into someone who does not believe.Unbelief is an attitude that has gone beyond confusion or uncertainty and hasbecome a fixed negative stance, opposed to faith. A person who does not believehas reached the extreme stage of doubt, confusion, suspicion, and prejudice.Not believing means disagreeing, rejecting, and resisting. The story ofBalaam, a prophet of Baal among the Canaanites who was asked by local triballeaders to prophesy against the Israelites entering Canaan, is an example ofovercoming doubt. The Spirit of the Lord came and removed that doubt, andBalaam instead took the side of the Israelites, God's chosen people. Balaam'sfaith stood in sharp contrast to that of the Canaanites and their leaders. The Jewishleaders accumulated great doubt by questioning the authority by which JesusChrist acted. We all know that this doubt eventually became complete unbelief.They also doubted John the Baptist and ultimately did not believe in himeither. The climax was that both John the Baptist and Jesus were killed. Theycompletely rejected the truth from God. During thisAdvent season, there should be no doubt within us about the coming of the Lordinto our own lives and the lives of our families. Let us pray. In the name of theFather ... O Lord, may we remain steadfast in faith and hope as we await Yourcoming. Hail Mary, full of grace ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Erna Lolan dan Hendrik Monteiro dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. Bilangan 24: 2-7.15-17a; Mazmur tg 25: 4bc-5ab.6-7bc.8-9; Matius 21: 23-27.JANGAN RAGU Renungan kita pada hari ini bertema: Jangan Ragu. Ada duaorang muda yang sedang berpacaran menghadapi satu persoalan yang harusdiselesaikan bersama-sama. Persoalan itu ialah keraguan. Si pemuda dikenalsebagai pekerja keras, bertanggung jawab dan mau berkorban. Tetapi kelemahanutamanya ialah rasa ragunya yang berlebihan. Pacarnya menjadi prihatin. Banyak sekali keputusannya dibuat karena sangat didesak sebabkalau tidak demikian hanya ada kebingungan dan ketidakpastian. Tetapi cintamereka berdua tetap terjalin. Si pemudi berusaha untuk mengimbangi, palingkurang ikut mendorong dan mengingatkan supaya keraguan si pemuda sedikit demisedikit hilang, dan tumbuh rasa percaya diri yang didasarkan pada keyakinan. Mereka berdua tidak sampai berpikir bahwa pacaran dancinta yang semakin terjalin kuat itu akan gagal hanya karena faktor keraguanada di satu pihak. Keraguan memang lebih condong kepada ketidakpastian di dalammembuat keputusan dan melakukan suatu tindakan, namun kelemahan itu dapatdiatasi, karena mereka berdua menyadarinya dan bekerja sama untuk mengatasi. Yang sangat ditakuti akan terjadi ialah kalau seseorangperagu berubah menjadi seorang yang tidak percaya. Suatu ketidakpercayaanadalah suatu sikap yang sudah melewati batas rasa bingung atau tidak pasti, danmenjadi sebuah sikap yang tetap secara negatif atau bertentangan denganpercaya. Orang yang tidak percaya sudah mencapai tingkat sempurna dari sifatperagu, bingung, curiga dan prasangka. Tidak percaya berarti tidak setuju,menolak dan melawan. Kejadian dengan Bileam, seorang nabi Baal orang-orangKanaan yang diminta oleh para penguasa suku-suku setempat untuk bernubuatmelawan kaum Israel yang sedang memasuki Kanaan, merupakan suatu contoh melawankeraguan. Roh Tuhan datang menghilangkan keraguan itu, dan Bileam justruberpihak kepada orang-orang Israel, pilihan Allah. Kepercayaan Bileam justrusangat berlawanan dengan orang-orang Kanaan dan para penguasa mereka. Para pemuka Yahudi menumpukkan keraguan yang besar, denganmempertanyakan kuasa yang dipakai oleh Yesus Kristus. Kita semua tahu bahwakeraguan itu ternyata menjadi sempurna dalam sikap tidak percaya mereka. Merekajuga ragu terhadap Yohanes Pembaptis dan akhirnya tidak percaya juga kepadanya.Puncaknya ialah baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus dibunuh. Mereka sama sekalitidak percaya dengan kebenaran dari Tuhan. Di dalam masa Adven ini, hendaknya tidak ada keraguan apapun di dalam diri kita tentang kedatangan Tuhan kepada diri kita sendiri dankeluarga kita. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan, semoga kamiteguh dalam iman dan pengharapan akan kedatangan-Mu. Salam Maria, penuh rahmat ...Dalam nama Bapa...

Delivered by Keisha, Claudia, Reinaldy, and Kathleen from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Isaiah 35: 1-6a.10; Rs psalm 146: 7.8-9a.9bc-10; James 5: 7-10; Matthew 11: 2-11.GOD IS ALWAYS GOOD Our meditation onthis Third Sunday of Advent is entitled: God Is Always Good. On this thirdSunday of Advent usually as members of the Church we have a joyful celebration.Church tradition guides us to celebrate it as "Gaudete Sunday" or"Joyful Sunday" because its liturgical messages reveal the very nearcoming of the Lord. In the preparation towelcome His coming, today the three holy readings together convey the fact thatthe Lord really comes to do good to us. Since the first human's fall into sinand the beginning of the Divine promise for the salvation of mankind fromslavery of sin, the message of God's coming has always been a good news. For us his comingmeans he is always kind to us. If He is only in a distant and unreachableHeaven, God's goodness is doubtful. The third Sunday of Advent as a joyful day,because we feel, we remember, and we believe that God is always good to us. Hedoes not have the intention to keep His goodness to Himself, but is given andprovided for us. A housewife calledher husband who was on his way to work. It was a sudden news and must beresponded to immediately. Their four-year-old child crashed and fell on thestairs. The wife panicked and she urgently needed her husband. The husband whohas just arrived at work should return soon because of his child's severecondition. They immediately took the child to the hospital for an intensivemedical treatment. This man's action isan example of reaching out the problem and immediately solving it. In His actsof love, God always comes to us who have various kinds of problem andsuffering. He is the savior and giver of solutions for our lives. He overcomesour difficulties and sufferings. He cannot bear with our situation. The firstreading and the gospel of today clearly show such situation and God's decissiveand immediate action to humans. God is our helper and our savior. God's coming for usalso means to complete what we still lack. Perhaps we still lack enough hopeand longingness for God. Perhaps there is still emptiness within us. SaintJames encourages us that God will soon come to fulfill this lack. And when itwas confirmed that Jesus was indeed the promised Lord who had come, John theBaptist along with his disciples and all of us really experience a veryopportune moment to come to the fullness of life. Let's pray. In the name of the Father... O God, may our joy on this third Sunday of Advent strengthen ourpreparation to celebrate the coming Christmas, the anniversary of the birth ofJesus Christ, our Lord and Savior. Our Father who art in heaven ... In the nameof the Father ...

Dibawakan oleh Erna Lolan, Hendrik Monteiro, dan Meri Kaona dari Komunitas Kongregasi Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. Yesaya 35: 1-6a.10; Mazmur tg 146: 7.8-9a.9bc-10; Yakobus 5: 7-10; Matius 11: 2-11.TUHAN SELALUBAIK Renungan kita pada hari Minggu Adven Ketiga ini bertema:Tuhan Selalu Baik. Pada hari minggu ketiga Adven ini seperti biasanya sebagaianggota Gereja kita merayakan sebuah suka cita. Tradisi Gereja membimbing kitauntuk merayakannya sebagai "Minggu Gaudete" atau "MingguGembira" karena pesan-pesan liturgisnya mengungkapkan kedatangan Tuhanyang semakin mendekat. Dalam mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan-Nya,pada hari Minggu ini tiga bacaan suci bersama-sama menyampaikan kenyataan bahwaTuhan sungguh datang untuk berbuat baik kepada kita. Sejak kejatuhan manusia kedalam dosa dan dimulainya janji Ilahi untuk keselamatan umat manusia dariperbudakan dosa, pesan tentang kedatangan Tuhan selalu menjadi kabar baik. Kedatangan-Nya bagi kita berarti Ia selalu baik kepadakita. Jika Ia hanya di dalam Surga yang jauh dan tidak dapat dijangkau,kebaikan Tuhan pantas diragukan. Hari minggu ketiga Adven sebagai sebuah hariyang menggembirakan, karena kita merasakan, mengenang, dan mengimani bahwaTuhan selalu baik kepada kita. Ia tidak sampai hati menyimpan kebaikan-Nya ituuntuk diri-Nya sendiri, namun diberikan dan disediakan bagi kita. Seorang ibu rumah tangga menelepon suaminya yang sedangdalam perjalanan untuk bekerja. Kabarnya mendadak dan harus direspons segera.Anak mereka yang masih berusia empat tahun mengalami kecelakaan jatuh tergulingdi tangga. Istri itu panik dan ia sangat membutuhkan kehadiran suami. Suamiyang baru saja sampai di tempat kerja, segera kembali karena keadaan anaknyaparah. Mereka segera membawa anak ke rumah sakit untuk perawatan intensif. Tindakan bapak ini ialah sebuah contoh mendatangi masalahdan langsung mengatasinya. Di dalam perbuatan kasih-Nya, Tuhan selalumendatangi kita yang punya banyak masalah dan penderitaan. Ia menjadipenyelamat dan pemberi solusi bagi hidup kita. Ia mengatasi kesulitan dan anekapenderitaan kita. Ia tidak tega dengan keadaan kita. Bacaan pertama dan Injilpada hari ini sangat jelas memperlihatkan itu. Tuhan adalah penolong danpenyelamat kita. Kedatangan Tuhan juga bermakna bagi kita dalam melengkapiapa yang kurang di dalam diri kita. Yang dimaksudkan dengan kurang di siniialah ruang-ruang harapan, rindu yang kosong di dalam diri kita. Santo Yakobusmenyemangati, bahwa Tuhan akan segera datang untuk memenuhi yang kurang ini.Dan ketika dipastikan bahwa Yesus adalah sesungguhnya Tuhan yang dijanjikan itutelah datang, Yohanes Pembaptis berserta para muridnya dan kita semua menjadiorang-orang yang sangat beruntung mengalami kepenuhan hidup itu. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah, semoga sukacita kami di hari minggu ketiga Adven ini memperkuat persiapan kami untukmerayakan Natal, peringatan kelahiran Yesus Kristus Putra-Mu. Bapa kami yangada di surga ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Joanna from the Parish of Saint Gabriel in the Diocese of Bandung, Indonesia. Sirach 48: 1-4.9-11; Rs psalm 80: 2ac.3b.15-16.18-19; Matthew 17: 10-13.CHANGE BEFORE IT'STOO LATE Our meditation today isthe entitled: Change Before It's too Late. Today the Church celebrates thememorial of the virgin and martyr St. Lucy. She is the patron saint for peoplewho suffer from eye sickness, vision problems, and bleeding diseases. The nameLucy means light, or light bearer. Lucy was the bearer of light and maintainedthat light until her death. She stands for the very strong sign of this seasonof Advent. All our attention atthis time is waiting that is filled with preparations for the coming of theLord. It is very difficult for us to think about all the preparations that takeplace in darkness. Lack of lighting or fire that flames will make a life sodifficult and in fear. The source of light such as electricity and fire are sovital for our lives, especially during night times. In Christian witness,Lucy had made Christ her true spouse tho whom she found a fullness of life inthe kingdom of God, whose purpose is to build a new heaven and a new earth.What Lucy has shown was also done by the prophet Elijah in the Old Testamentbefore the coming of Jesus Christ. Elijah had a revolutionary spirit that wasnot found in other people of his time. According to the book of Sirach intoday's first reading, Elijah really appeared like a fire that burnt and removedthose who were in contrary with God. The Jews, includingJesus' disciples, assumed that prophet Elijah had incarnated in John theBaptist, who also had a revolutionary character. Even though Jesus Christ was presentin their midst as the greatest Reformer and who also is the Teacher and Lord forElijah, John the Baptist and Lucy, they still remain confused about the existenceand importance of Jesus. In and with Jesus Christ, they actually carried thesame message to us and the world that says: change before it's too late. Our experiences inthis world show that change before it's too late is an advice and hope thatnever outdated. Every time and in every place this advice applies to everyone.For example a heavy smoker, wherever he is, whether inside or outside the house,there is always a warning to him to abandon the habit. Because if one day he isdiagnosed of lung cancer or stroke, he will be ultimately considered too lateto change. In connection withthis period of Advent, the reminder to do preparation also has importnat meaningon the command of not too late to renew ourselves before God comes as wewelcome Him in faith and He wishes to save us. Let's pray. In the name of the Father... Almighty Father, refresh and strengthen us who have difficulty or areimpeded to renew ourselves, that we soon find the way for change. Glory to theFather and to the Son and to the Holy Spirit ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Elan Parera dan Meri Kaona dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. Sirakh 48: 1-4.9-11; Mazmur tg 80: 2ac.3b.15-16.18-19; Matius 17: 10-13.BERUBAH SEBELUMTERLAMBAT Renungan kita pada hari ini bertema: Berubah SebelumTerlambat. Pada hari ini Gereja memperingati perawan dan martir Santa Lusia. Iaadalah pelindung orang-orang yang menderita sakit mata dan problem penglihatan,serta penyakit pendarahan. Nama Lusia berarti terang, atau pembawa terang.Lusia pembawa terang dan yang mempertahankan terang itu hingga wafatnya, merupakantanda yang sangat kuat untuk masa Adven. Semua fokus perhatian kita di masa ini adalah penantianyang diisi dengan persiapan-persiapan menyambut kedatangan Tuhan. Sangat sulitbagi kita untuk memikirkan keadaannya, jika semua persiapan itu terjadi didalam kegelapan. Ketiadaan penerangan atau cahaya hanya membuat hidup menjadisusah dan penuh dengan ketakutan. Sumber cahaya berupa listrik dan lampu adalahsangat vital bagi hidup kita, terutama pada waktu malam yang gelap. Apa yang ditunjukkan oleh Santa Lusia juga telah dilakukanoleh nabi Elia pada zaman dahulu sebelum Yesus. Elia memiliki semangatrevolusioner yang tidak dimiliki orang-orang pada zamannya. Menurut kitab PutraSirakh dalam bacaan pertama hari ini, Elia sungguh tampil bagaikan api yangmembakar dan menghilangkan yang tidak sejalan dengan Tuhan. Tuhan lebihberkuasa untuk menaklukkan kegelapan. Orang-orang Yahudi, termasuk para murid Yesus, menganggapElia yang revolusioner itu telah menjelma di dalam diri Yohanes Pembaptis, yangjuga punya karakter revolusioner. Padahal ada bersama mereka adalah YesusKristus, sang Pembaharu yang ulung, yang menjadi Guru dan Tuhan bagi Elia,Yohanes Pembaptis dan Santa Lusia. Semua yang mereka lakukan, sebenarnyamengusung satu tema yang sama, yaitu: berubah sebelum terlambat. Pengalaman-pengalaman kita di dunia ini menunjukkan bahwaperubahan sebelum terlambat merupakan sebuah nasihat dan harapan yang tidakpernah ketinggalan zaman. Setiap saat dan setiap hari nasihat ini berlaku bagisetiap orang. Misalnya seorang perokok berat, di mana pun ia berada, entah didalam rumah atau di luar rumah, selalu ada peringatan kepadanya untukmeninggalkan kebiasaan itu. Sebab jika suatu saat ia divonis sakit kankerparu-paru atau terserang stroke, ia sudah dianggap terlambat untuk berubah. Dalam kaitannya dengan masa Adven ini, peringatan untukbersiap sedia mempunyai makna juga tentang sikap tidak terlambat dalampembaharuan diri sebelum Tuhan datang untuk disambut dan Ia hendakmenyelamatkan kita.Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Bapa maha baik,segarkanlah dan kuatkanlah kami yang mengalami kesulitan atau terhambat dalampembaharuan diri, agar kami segera menemukan jalan untuk berubah. Kemuliaankepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Monika Kimberly from the Parish of Good Shepherd in the Diocese of Surabaya, Indonesia. Isaiah 48: 17-19; Rs psalm 1: 1-2.3.4.6; Matthew 11: 16-19.IN HARMONY, INCOMPANY, AND IN LINE The title for ourmeditation today is: In Harmony, In Company, and In Line. A young child wasinvited by his father to learn to walk on the trail. His father held the littleone's hand, guiding him slowly. When the child followed in his father'sfootsteps—in harmony, in company, and in line—they arrived at their destinationsafely, even enjoying the journey. But if the child withdrew, resisted, or walkedin the other direction, he might stumble or got lost. His father remainedloving, but the journey became difficult. So is the same with God:His love always extends first. The question is, are we willing to walk withHim? When we choose to be obedient, we find that God's will always leads to joyand salvation. God presents the world and the entire journey of human life inthe rhythm of unbroken love. He provides everything in abundance: from thebreath we breathe every morning to the inner strength that strengthens oursteps in difficulty. Scripture readingsoften show that God's love is not only a gift, but also a gentle invitation forman to live in harmony with Him. God's commandments are not burdens, but thebonds that bind man together with his source of life. When God rules with love,man is invited to respond with grateful obedience. But Jesus remindsthat there is not always harmony between God's will and man's response. He takesa very simple but touching example: the musicians blew joyful songs, but thepeople did not dance; They played a song of mourning, but no one wailed. Thispicture shows the incongruity of man's mind—as if God's tone is singing, butman's heart chooses to be silent. God speaks, but man does not hear; Godinvites, but man does not rise and walk. When there is no harmony, the trueflow of grace is hampered by the rejection or inaction of the human heart. In fact, when God'swill and man's obedience meet, a harmony will be born that brings true joy.Obedience is not a loss of freedom, but rather an adaptation to the best planthat God has prepared. When man walks in tandem and in harmony with His word,life becomes lighter. There is a sense of security in every step, because manknows he is moving in the right direction. It is there that salvation is notjust a distant promise, but an everyday experience that gives peace. Let us pray. In the name of theFather... Lord, help and enable us so that we always strive to be in line withYour will and finally achieve the salvation that You have set for us. HailMary, full of grace... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Oliva Ivania dan Elan Parera dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. Yesaya 48: 17-19; Mazmur tg 1: 1-2.3.4.6; Matius 11: 16-19.SENADA, SEIRING,DAN SEJALAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: Senada, Seiringdan Sejalan. Seoranganak kecil diajak ayahnya untuk belajar berjalan di jalan setapak. Ayahnyamemegang tangan si kecil, menuntun pelan-pelan. Bila anak itu mengikuti langkahayahnya—senada, seiring, dan sejalan—mereka tiba di tujuan dengan aman, bahkanmenikmati perjalanan. Tetapi bila anak itu menarik diri, menolak, ataumelangkah ke arah lain, ia bisa tersandung atau tersesat. Ayahnya tetapmengasihi, tetapi perjalanan menjadi sulit. Begitu pula Tuhan: kasih-Nya selalu lebih dulumengulurkan tangan. Pertanyaannya, apakah kita mau berjalan seiring dengan-Nya?Saat kita memilih taat, kita menemukan bahwa kehendak Tuhan selalu membawa padasukacita dan keselamatan. Tuhanmenghadirkan dunia dan seluruh perjalanan hidup manusia dalam irama kasih yangtak pernah putus. Segala sesuatu disediakan-Nya dengan kelimpahan: dari nafasyang kita hirup setiap pagi hingga kekuatan batin yang menguatkan langkah kitadalam kesulitan. Bacaan Kitab Suci sering menunjukkan bahwa kasih Tuhanitu bukan hanya pemberian, tetapi juga ajakan lembut agar manusia hidup dalamkeharmonisan dengan-Nya. Perintah-perintah Tuhan bukanlah beban, melainkan talipengikat yang menyatukan manusia dengan sumber hidupnya. Ketika Tuhanmemerintah dengan kasih, manusia diajak untuk menanggapi dengan kepatuhan penuhsyukur. Namun Yesus mengingatkan bahwa tidak selalu terjadikeselarasan antara kehendak Tuhan dan respons manusia. Ia mengambil contoh yangsangat sederhana tetapi menyentuh: para pemain musik meniupkan lagu gembira,tetapi orang-orang tidak menari; mereka memainkan lagu duka, tetapi tidak adayang meratap. Gambaran ini menunjukkan ketidaksesuaian batin manusia—seolahnada Tuhan mengalun, tetapi hati manusia memilih diam. Tuhan berbicara, tetapimanusia tidak mendengar; Tuhan mengajak, tetapi manusia tidak melangkah. Ketikatidak ada keselarasan, rahmat yang sebenarnya hendak mengalir pun terhambatoleh penolakan atau kelambanan hati manusia. Padahal, bila kehendak Tuhan dan kepatuhan manusiabertemu, akan lahir sebuah harmoni yang menghadirkan sukacita sejati. Ketaatanbukanlah kehilangan kebebasan, melainkan penyesuaian diri dengan rancanganterbaik yang Tuhan siapkan. Ketika manusia berjalan seiring dan sejalan denganfirman-Nya, hidup menjadi lebih ringan. Ada rasa aman dalam setiap langkah,sebab manusia tahu ia sedang bergerak dalam arah yang benar. Di sanalahkeselamatan bukan sekadar janji jauh, tetapi pengalaman sehari-hari yang memberikandamai. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Tuhan, bantulah danmampukanlah kami agar kami selalu berusaha untuk sejalan dengan kehendak-Mu danakhirnya mencapai keselamatan yang Engkau sudah tetapkan bagi kami. Salam Maria,penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Samuel Ivan Gunarsa from the Parish of Mary of All the Nations in the Diocese of Bogor, Indonesia. Isaiah 41: 13-20; Rs psalm 145: 1.9.10-11.12-13ab; Matthew 11: 11-15.THE LORD IS SLOW TOANGER AND RICH IN LOVE Our meditation today isentitled: The Lord is Slow to Anger and Rich in Love. At the moment ofgraduation and thanksgiving for the success achieved after college, the eldestof three siblings did not cease to express thanks and joy. First he thanked Godwho always cared and protected him during college years. Next to the parentswho were very caring and loving to support their eldest son who spent six yearsin college. He truly honors, respects and loves them. He told his ownstory. During the years in college he had to interrupt his study twice. Thefirst is when he and student activists must face the decision of the city courtand undergo detention. The second is when he was involved in a motorcycleaccident and spent many times for treatment and recovery. Both of these eventsforced him to quit college for more than a year. Then how would the family andespecially his parents react? Even with all theirregret and disappointment, they are still parents to their son. For thatreason, the son also continues to rely on the role of their parents to providesupport and strength. The son also remains a son who is dependent on hisparents. All the patience, sincerity and struggle of the parents that neverdiminished, truly became a help for the young man to go through hard times andfinally he regained everything and was able to continue his studies. And inthat moment of graduation then the thanksgiving followed, he looked so specialbecause he so realized that he had survived and succeeded. The experience ofsuccess and change in this young man is strongly supported by one main factor, namelythe attention and care of his parents. For the believers, the same experienceis what they have with God. There are so much successes, achievements,progresses and salvations they have in life in the world. All are from theprovidence of God. Although they recognize themselves as sinners and are alwaystempted by evil influences of the world, God does not stop or refrain His help forthem. This kind of conceptionor understanding is a healthy attitude of faith. Lord Jesus is always in this actwhen he provides strength, comfort and safety for the lost sheeps. He is theLord who is patient, slow to anger and rich in love. The responsorial psalm oftoday confirms the nature of God as such, namely through His patience, sinnersand people who are weak still have many opportunities to repent or change.God's great love is revealed through His actions to redeem those who hope forsalvation and new life.Let's pray. In the name of the Father... O Lord Jesus, in Your power, we are able to always follow Your wisdom, sothat our lives are truly pleasing to You. Our Father who art in heaven ... Inthe name of the Father ...

Dibawakan oleh Elan Parera dan Meri Kaona dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. Yesaya 41: 13-20; Mazmur tg 145: 1.9.10-11.12-13ab; Matius 11: 11-15.TUHAN YANGPANJANG SABAR DAN BESAR KASIH SETIANYA Renungan kita pada hari ini bertema: Tuhan Yang PanjangSabar dan Besar Kasih Setia-Nya. Pada saat wisuda dan syukuran atas berhasilnyakuliah, anak sulung dari tiga bersaudara itu tidak henti-henti mengucap syukurdan terima kasih. Pertama-tama ia ucapkan kepada Tuhan yang selalu memeliharadan melindunginya selama kuliah. Berikutnya kepada kedua orang tua yang sangatpeduli dan penuh kasih mendukung putra sulungnya itu yang menghabiskan enamtahun kuliah. Ia benar-benar salut, hormat dan sayang kepada mereka. Ia bercerita, selama waktu kuliah ia harus berhenti selamadua kali. Yang pertama ialah saat ia bersama aktivis mahasiswa harus berurusandengan pengadilan dan menjalani tahanan. Yang kedua ialah ketika ia terlibatkecelakaan sepeda motor dan karena pengobatan dan pemulihan atas dirinya. Keduaperistiwa ini memaksanya untuk berhenti kuliah sekitar lebih dari satu tahun.Lalu bagaimana reaksi keluarga dan khususnya kedua orang tuanya? Meski dengan segala penyesalan dan kekecewaan, merekatetap menjadi orang tua bagi anaknya. Dengan cara itu anak juga tetapmengandalkan peran orang tuanya untuk memberikan dukungan dan kekuatan. Anakjuga tetap menjadi anak yang sangat bergantung kepada orang tua. Segalakesabaran, keikhlasan dan perjuangan orang tua tidak pernah berkurang turutmembuat anak muda itu melewati masa-masa sulit dan akhirnya ia bangkit untukmelanjutkan kuliahnya. Dan pada saat wisuda yang disusul dengan syukuran, iatampak begitu spesial karena dirinya berpandangan bahwa ia telah selamat danberhasil. Pengalaman keberhasilan dan perubahan dalam diri pemudaini sangat didukung oleh satu faktor utama, ialah perhatian kedua orang tuanya.Bagi orang beriman, pengalaman yang sama juga mereka alami dengan Tuhan. Adabegitu banyak keberhasilan, prestasi, kemajuan, dan keselamatan tentang hidupmereka di dalam dunia. Semua itu berkat penyelenggaraan Tuhan. Meskipun merekamengakui diri sebagai orang-orang berdosa dan selalu tergoda olehpengaruh-pengaruh duniawi yang jahat, Tuhan tidak mematikan mereka. Pandangan seperti ini adalah suatu sikap yang sehat dalamberiman. Tuhan Yesus selalu dengan sikap-Nya untuk memberikan kekuatan,penghiburan dan menyelamatkan domba-domba yang hilang. Ia adalah Tuhan yangpanjang sabar dan besar kasih setianya. Mazmur tanggapan pada hari inimenegaskan sifat Tuhan seperti itu, yaitu bahwa melalui kesabaran itu,orang-orang berdosa dan lemah masih memiliki banyak kesempatan untuk bertobatatau berubah. Kasih setia Tuhan yang amat besar terungkap melalui tindakan-Nyauntuk menebus orang-orang yang mengharapkan keselamatan dan kehidupan baru.Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan Yesus, didalam kuasa-Mu, mampukan kami untuk selalu mengikuti kebijaksanaan-Mu, sehinggahidup kami sungguh berkenan kepada-Mu. Bapa kami yang ada di surga ... Dalamnama Bapa ...

Delivered by Jeril from the Parish of Saint Joseph in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Isaiah 40: 25-31; Rs psalm 103: 1-2.3-4.8.10; Matthew 11: 28-30.OVERCOMING WEAKNESSES The title for ourmeditation today is: Overcoming Weaknesses. Our preparation during Adventseason for welcoming the Lord's coming, among the many things to do, issomething that will be the focus of our today's reflection, namely to overcomeour own weaknesses. Our deficiency in the form of physical and mental pain orilness is the most common weakness in us. The surce of this weakness is eitherfrom within or outside ourselves. All weaknesses inthis world and in our lives are temporary. For example, people who have canceror high blood pressure will experience their freedom only after they die. Afterdeath they no longer have cancer or high blood pressure. Many people and maybeyou often complain and say this following statement: "How long will mypatience be in the midst of problems and sufferings I face?" This is thegeneral attitude of us human beings towards the weaknesses that we have, and weseem to believe that problems and sufferings are heavier than our abilities toovercome. Our weaknesses oftenseem so real that they can be seen by others. With the existence of a verywidespread communication tools and the mentality of people today to freely spreadinformation, these weaknesses easily become so interested by many people. Oftenin this way, people who are victims of oppression, harassment or slander willsuffer even more greater. Human weaknesses are thus easy to become a tool ofoppression, violence and profit for those who have power. From the point ofview of the Christian faith, this weakness in humans must be transformed tobecome strength, to be more positive and to encourage us to live a good life inaccordance with God's will. If God's will requires a person to be faithful inhis daily prayers and Sunday obligation, he must change the habit of forgettingthem or the tendency to overwork so to cause him not anymore having enough timefor God. Faith in God always has a function to correct human weaknesses andshortcomings, so that we can restore again our dignity as true human persons. In this moment ofAdvent, it is very necessary to renew wrong attitudes and bad habits thatprevent us from doing good. Since people are often not able to get out of theirown weaknesses, it is very necessary to rely on God's power to overcome thoseweaknesses. The book of the prophet Isaiah confirms that God Almighty givesstrength to those who are weak. Likewise the Lord Jesus Christ invites andattracts people who are weak, tired and weary to come to Him. He provides allpossibilities to make them refreshed and recovered. Let's pray. In the name of the Father... O most loving Lord, strengthen us so that we can renew ourselves from ourweaknesses and become more passionate to love you and our neighbours. Glory tothe Father and to the Son and to the Holy Spirit ... In the name of the Father...

Dibawakan oleh Erna Lolan dan Hendrik Monteiro dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. Yesaya 40: 25-31; Mazmur tg 103: 1-2.3-4.8.10; Matius 11: 28-30.MENGATASIKELEMAHAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: MengatasiKelemahan. Persiapan di dalam masa Adven untuk menantikan kedatangan Tuhan, diantara banyak hal yang dilakukan, ada yang dapat disebutkan di sini ialah mengatasikelemahan-kelemahan kita sendiri. Kekurangan dalam bentuk sakit fisik danmental merupakan kelemahan paling umum dalam diri manusia. Penyebabnya adalahberbagai macam jenis kelemahan daridalam diri sendiri maupun dari luar. Semua kelemahan di dalam dunia ini bersifat sementara.Misalnya orang yang sakit kanker atau tekanan darah tinggi akan mengalamikebebasannya setelah ia mati. Sesudah kematian ia tidak lagi mengalami lagikanker atau darah tinggi. Banyak orang dan mungkin Anda sendiri sering mengeluhdan berkata begini: "Sampai kapan kesabaran saya terhadap masalah danpenderitaan yang saya hadapi?" Ini adalah sikap umum dari kelemahan kitasebagai manusia, bahwa masalah dan penderitaan lebih berat dari pada kemampuankita. Kelemahan-kelemahan kita sering tampak begitu nyatasehingga dapat dilihat oleh orang lain. Dengan adanya alat komunikasi yangsangat meluas dan mentalitas orang-orang saat ini untuk menyebarkan informasisecara bebas, kelemahan-kelemahan itu dengan mudah menjadi santapan banyakorang. Sering dengan cara seperti ini, orang-orang yang menjadi korbanpenindasan, pelecehan atau fitnahan, akan menjadi semakin menderita. Kelemahanmanusia dengan demikian gampang menjadi alat penindasan, kekerasan dan mendapatkankeuntungan bagi orang-orang yang memiliki kekuasaan. Dari sudut pandang iman Kristiani, kelemahan di dalam dirimanusia ini harus dapat diperbaiki demi membuat dirinya menjadi lebih kuat,positif dan menjalani hidup yang baik sesuai dengan kehendak Tuhan. Jikakehendak Tuhan menuntut seseorang untuk setia di dalam doa-doa hariannya dankewajiban hari Minggu, ia harus mengubah kebiasaan lupa atau kecenderunganuntuk bekerja berlebihan sehingga tidak mempunyai lagi waktu untuk Tuhan. Imankepada Tuhan selalu memiliki fungsi untuk memperbaiki kelemahan dan kekuranganmanusia, supaya ia dapat mencapai martabat sebagai manusia bau. Di dalam masa Adven ini sangat diperlukan pembaharuansikap dan kebiasaan yang membuat seseorang terhalangi untuk berbuat baik.Karena sering manusia tidak mampu keluar dari kelemahannya sendiri, maka sangatperlu diandalkan kuasa Tuhan untuk mengatasi kelemahan itu. Kitab nabi Yesayamenegaskan bahwa Tuhan yang mahakuasa memberikan kekuatan kepada mereka yanglemah. Demikian juga Tuhan Yesus Kristus mengundang dan menarik orang-orangyang lemah, letih dan lesu untuk datang kepada-Nya. Ia menyediakan semua kemungkinanuntuk membuat mereka kembali segar, kuat dan pulih.Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa ... Ya Tuhan,perkuatkanlah kami supaya kami dapat membaharui diri dari kelemahan kamisehingga kami kembali melayani Dikau dan sesama lebih baik lagi. Kemuliaankepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Novy from the Parish of Holy Spirit Cathedral in the Diocese of Labuan Bajo, Indonesia. Isaiah 40: 1-11; Rs psalm 96: 1-2.3.10ac.11-12.13; Matius 18: 12-14.THE NEED FORCONSOLATION Our meditation today isentitled: The Need for Consolation. An elementary school boy has just returnedfrom Sunday school. He was curious by a single word he had just heard from theteacher at Sunday school. At home he approached his mother and asked:"Mama, what does consolation mean?" The mother found it ratherdifficult to explain in words. Seeing her son hadjust finished playing, sweating, and was tired, she gave him the cold juice shehad prepared. The boy was enjoying the juice so joyfully and mother came toshare her son's joy. He looked refreshed and excited. He began to tell manythings about Sunday school activities, especially about the content of teachingand children who were very happy with the teachings. Mother said:"There is consolation for you. You feel so hot, sweaty and look tired. Icejuice is available for you, and you enjoy it. You are refreshed and excited.You get consolation for the difficulties and some sufferings you experience.The child understood and looked very satisfied with his mother's explanation.We all have ever done some acts consolation to others, as well as receivingconsolation from them. Maybe on manyoccasions we don't feel the need to explain the meaning and characteristics ofthe acts of consolation, but we show them more through our actions. Basicallywe as humans need consolation. Everyone has the right to receive consolation.This means that there is an obligation from other persons or neighbors tocomfort and to concole those who need it. The main reason weneed consolation is because we always meet problems, difficulties andsufferings. If a person who has never experienced losses, difficulties, illnessand failure, of course he does not need consolation. In this world we are notfree from all forms of hardship and pain. Medicine, accompaniment, moralsupport, closeness, and prayers are all means of consolation. Consolation isdone through symbols, words and actions. All of these helpsare intended to enable us to endure pain or hardships with the confidence inGod's power to help. God commands us to comfort each other, and He alwaysenables us to do that. The Lord Jesus makes himself an example of being a goodshepherd, who always looks after everyone who has difficulties, illnesses andlost. This is an inspiration for us to always console one another. Let's pray. In the name of the Father... O most loving Jesus, we pray that we may able to console our neighbors who are in this moment in the midstdifficulties and hardships. Glory to the Father and to the Son and to the HolySpirit ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Erna Lolan dan Hendrik Monteiro dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. Yesaya 40: 1-11; Mazmur tg 96: 1-2.3.10ac.11-12.13; Matius 18: 12-14.KEBUTUHAN AKANPENGHIBURAN Renungan kita pada hari ini bertema: Kebutuhan AkanPenghiburan. Seorang anak usia sekolah dasar baru saja kembali dari sekolahminggu. Ia penasaran dengan satu kata yang baru saja didengar dari guru binaiman. Di rumah ia mendekati ibunya dan bertanya: "Ma, apa artinyapenghiburan?" Ibu merasa agak sulit untuk menjelaskan dalam kata-kata. Melihat anaknya baru selesai bermain, berkeringat, danlelah itu ibu memberikan dia minuman jus yang dingin yang sudah disiapkannya.Anak itu menikmati jus pemberian ibu dengan kegirangan. Ia terlihat segarkembali dan bersemangat. Ia mulai bercerita banyak tentang kegiatan sekolahminggu, khususnya tentang isi pengajaran dan anak-anak yang sangat gembiradengan pengajaran-pengajaran di sekolah minggu. Ibu berkata: "Ada penghiburan bagimu. Kamu datangkepanasan, penuh keringat dan terlihat lelah. Es jus tersedia bagimu, dan kamumenikmatinya. Kamu kembali segar dan bersemangat. Kamu mendapatkan penghiburanatas kesulitan dan kekurangan yang kamu alami. Anak itu paham dan ia tampaksangat puas dengan penjelasan ibunya. Kita semua pernah memberi penghiburanbagi orang lain, demikian juga menerima penghiburan dari orang lain. Mungkin di dalam banyak kesempatan kita tidak merasa perluuntuk menjelaskan makna dan ciri-ciri perbuatan menghibur, tetapi kita lebihbanyak menunjukkan itu melalui tindakan. Pada dasarnya kita sebagai manusiamembutuhkan penghiburan. Setiap orang berhak atas penghiburan. Ini berarti adakewajiban dari seorang lain atau sesama untuk menghibur orang yangmemerlukannya. Alasan utama kita memerlukan penghiburan ialah karena kitaselalu menemui kekurangan, kesulitan dan penderitaan. Jika orang yang tidakpernah mengalami kerugian, kesulitan, sakit dan kegagalan, tentu ia tidak perlulagi penghiburan. Di dunia ini kita tidak luput dari semua bentuk kesulitan dansakit. Pengobatan, pendampingan, dukungan moril, kedekatan, dan doa adalahbagian dari penghiburan itu. Penghiburan dilakukan melalui simbol, kata-katadan tindakan. Semua bantuan tersebut dimaksudkan untuk membuat kitadapat menanggung sakit atau kesulitan dengan keyakinan akan kuasa Tuhan yangmenolong. Tuhan memerintahkan kita untuk saling menghibur, dan Ia tetap selalumemampukan kita melakukan itu. Tuhan Yesus memberikan contoh diri-Nya sendirisebagai gembala yang baik, yang senantiasa memperhatikan setiap orang yangmengalami kesulitan, sakit dan yang hilang. Ini adalah inspirasi bagi kitauntuk selalu memberikan penghiburan satu sama lain. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa ... Ya Yesus, mampukan kamiuntuk selalu menjadi menghibur sesama kami yang menderita. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalamnama Bapa ...

Delivered by Grace Larope from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Genesis 3: 9-15.20; Rs psalm 98: 1.2-3a.3bc-4; Ephesians 1: 3-6.11-12; Luke 1: 26-38.HOLY FROM THEBEGINNING The title for ourmeditation on this solemnity of Our Lady of the Immaculate Conception is: HolyFrom the Beginning. This celebration has been observed by the whole Churchsince 1845, when on this day Pope Pius IX promulgated the doctrine of Maryconceived without sins, or Mary the Immaculate Conception. This doctrineemphasizes the sanctity of Our Lady from the beginning of her life, while atthe same time strengthening devotion to Our Lady that had started from theAncient Church in Jerusalem. The development of this devotion includes thepolular spreading around the world the prayer "Hail Mary" which is soloved by all Christians. The phrase "Hail Mary, full of grace" whichis the greeting of the angel Gabriel in the Gospel of Luke today, is anacknowledgment of the sanctity of Mary coming from heaven. This means that thisdignity is not just an ordinary thing. This doctrineconfirms the truth of our faith saying that from the very beginning of theconception in the married couple Joachim and Anne, God had designed in suchmanner that the womb conceiving Mary's fetus would be protected by God's grace.Therefore, the life of the baby Mary was not interrupted and corrupted by thevirus of original sin and of course Mary was completely saved. Purity indeed existedin that infant who inhabited the womb of her mother, then her birth and so onuntil the moment she was a young lady who received the annunciation from theangel Gabriel. From there Mary began to live with the Eternal Word which becameMan and was named Jesus of Nazareth. She remained holy from the beginning tothe end of her life, then was taken up to heaven to be with the Holy Trinity. Mary is the onlyextraordinary human being. Only she from all created human beings is full ofGod's grace. The saints and the blessed ones, men and women are simply calledthe glorious inhabitants of heaven who take part in the fullness of God'sgrace. Mary instead has been in the fullness of grace since the moment of conception.This privilege and precious dignity of Our Lady has also impacts to us. Doesthis solemnity has meaning for every one of us? There are at least threemeanings that we can reflect upon and then live them out in every one's life. First, the ability tofight sin. The book of Genesis in the first reading tells us that the chief ofevil, Satan, was defeated and the one who did this is Jesus Christ. Even thoughwe are always tempted to fall into sins, Mary who had overcome sins will alwayshelp us, for example through the prayer: Holy Mary, Mother of God, pray for ussinners! Second, following in the footsteps of the Virgin Mary, we need tomaintain our dignity as followers of Christ and have been called brothers andsisters of Jesus, that we have been called from the beginning by Jesus Christ,as proclaimed by our second reading today. Third, if we live in the spirit ofrejecting sins and avoiding evil deeds, we really are the sons and daughters ofOur Lady.Let's pray. In the name of the Father... O heavenly Father, may we always imitate the Virgin Mary in holiness and alife full of grace. Hail Mary, full of grace ... Mary Immaculate Conception,pray for us. In the name of the Father...

Dibawakan oleh Oliva Ivania dan Hendrik Monteiro dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. Kejadian 3: 9-15.20; Mazmur tg 98: 1.2-3a.3bc-4; Efesus 1: 3-6.11-12; Lukas 1: 26-38.SUCI DARI AWAL Tema renungan kita pada hari raya Bunda Maria DikandungTanpa Noda Dosa ini ialah: Suci Dari Awal. Perayaan ini dimeriahkan olehseluruh Gereja sejak tahun 1845, ketika pada hari ini Paus Pius ke-9 menetapkandoktrin Maria Dikandung Tanpa noda dosa, atau Maria Imakulata. Doktrin ini menekankan kesucian Bunda Maria sejak awalhidupnya, sekaligus memperkuat devosi kepada Bunda Maria sejak Gereja Perdanadi Yerusalem dulu. Perkembangan devosi itu antara lain berbuah denganmenyebarnya doa “Salam Maria” ke seluruh dunia. Ungkapan “Salam Maria penuhrahmat” yang merupakan salam dari malaikat Gabriel dalam Injil Lukas hari ini,merupakan pengakuan kesucian Maria datang dari surga. Berarti martabat Mariaini tidak main-main. Doktrin ini menegaskan kebenaran bahwa, sejak awal mulaketika pembuahan hasil perkawinan Yoakim dan Anna, Tuhan Allah sudah merancangsedemikian rupa supaya rahim yang menutupi bakal janin Maria, dibentengi olehrahmat Allah. Hasilnya ialah rahim itu anti akan virus dosa asal dan tentu sajabakal janin itu tidak terkena satu titik pun virus dosa asal. Kesucian adadalam bayi yang mendiami rahim, menyusul kelahirannya dan seterusnya hinggasebagai gadis yang menerima kabar Malaikat. Dari sana Maria mulai hidup bersamaSabda Kekal yang menjelma menjadi manusia, yaitu Yesus Kristus. Ia tetap sucidari awal sampai akhir hidupnya, lalu diangkat ke surga dengan mulia. Satu-satunya manusia yang luar biasa ialah Maria. Hanyadia dari makhluk manusia ini disebut penuh rahmat. Para santo dan santa siapapun dia cukup disebut hamba Allah atau mengambil bagian dalam kepenuhan rahmatAllah. Tetapi Maria memiliki kepenuhan itu sejak ia dikandung. Keluar-biasaanBunda Maria berdampak juga kepada kita. Apakah hari raya ini punya makna bagikita? Paling kurang ada tiga makna yang bisa kita dapatkan dan selanjutnyauntuk dihayati di dalam setiap tutur kata dan perbuatan kita. Pertama, kemampuan untuk melawan dosa. Kitab kejadiandalam bacaan pertama mewartakan bahwa panglima kejahatan yaitu setan telahdikalahkan dan Yesus Kristus yang melakukan itu. Meski kita terus mendapatgodaan dan jatuh ke dalam dosa, Maria yang telah mengalahkan dosa tetapmembantu, antara lain dengan doa: Santa Maria bunda Allah doakanlah kami yangberdosa ini. Kedua, mengikuti jejak Bunda Maria, kita perlu mempertahan martabatkita sebagai pengikut Kristus dengan tandanya bahwa kita telah dipanggil sejakawal di dalam Kristus, seperti yang diwartakan bacaan kedua. Ketiga, kalau kitahidup dengan semangat membenci dosa dan menjauhi perbuatan jahat, kitasesungguhnya adalah putra dan putri Bunda Maria. Bersama Maria, kita adalahbagian dari Tuhan Yesus Kristus. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Bapa yang baik,semoga kami senantiasa meneladani Bunda Maria dalam kesucian dan hidup yangpenuh rahmat. Salam Maria, penuh rahmat ... Salam Maria, penuh rahmat ... Dalamnama Bapa ...

Delivered by Kezia, Cherilyn, Stella and Michaela from the Parish of Sacred Heart of Jesus Cathedral in the Archdiocese of Makassar, Indonesia. Isaiah 11: 1-10; Rs psalm 72: 1-2.7-8.12-13.17; Romans 15: 4-9; Matthew 3: 1-12.DO NOT REFUSE TOREPENT The title for ourmeditation on this second Sunday of Advent is: Do Not Refuse To Repent. All ofour meditations during Advent are centered on the theme of welcoming the LordJesus, our Savior. In the recent past days we have pondered about the ways tomake our preparation. In this Sunday we are invited to another very importantway of preparation, the path of repentance. The scriptures present the personof John the Baptist to remind us of the importance of repentance in Advent. This importantinvitation and reminder is not only from Jesus Christ and John the Baptist.People near us also often remind, reprimand or inform you. The issue of whetherthe reminder or warning is strong enough to change you, it really depends onthe ability of every person. Every one's freedom to make a choice isfundamental. You choose to change or remain not change. But if we want tofollow the path of our faith that the Lord Jesus Christ wants, repenting willbe more important than the freedom of each individual to choose others thanchange. The young man wholikes to race over a motorcycle and toss the engine as hard as possible so thatit annoys many people, is warned by his parents and siblings to stop doing thataction. A man who is very addicted to smoking is warned by his wife andchildren about that dengerous addiction. A young couple are advised so thatthey have proper dating that they do not become the talk of the people aroundthem. A student is always monitored by parents so that he can finish his schoolwith good grades. And in this time of grace, the reminder to us would be this one:Don't refuse to repent. There are still many advices and warnings that we alwaysreceive from our neihbours. People who advise andremind us actually see us and our problems objectively. They see and understandthe positive and negative sides of those rebuked or admonished. Whereas when someoneonly believe in what he or she sees and understands in him or herself, itbecomes just a subjective view. In this manner, one is controlled by personalego, interest, and pleasure. The advice, reminder and warning that come to usare actually the choices that we have to choose and follow. They attract ourattention, and so we are drawn to choose the good from the bad, or the rightfrom the wrong. These three readingsof this Sunday together give us an important reminder or advice, namely torepent or renew ourselves from sinful life and wicked way of life. Having a newlife is the main condition for welcoming the kingdom of God that comes to us.Let's pray. In the name of the Father... Almighty Father, may this Sunday celebration encourage us to repent andbecome the persons in our Lord Jesus Christ. Hail Mary, full of grace ... Inthe name of the Father ...

Dibawakan oleh Erna Lolan dan Hendrik Monteiro dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. Yesaya 11: 1-10; Mazmur tg 72: 1-2.7-8.12-13.17; Roma 15: 4-9; Matius 3: 1-12.JANGAN MENOLAKUNTUK BERTOBAT Tema renungan kita pada Minggu Adven Kedua ini: JanganMenolak Untuk Bertobat. Semua renungan kita dalam masa Adven ini berpusat padatema tentang penyambutan kedatangan Tuhan. Dalam hari-hari yang lalu kitamerenungkan tentang cara-cara membuat persiapan diri kita. Di dalam minggu inikita diajak untuk satu cara lain yang penting sekali sebagai persiapan, yaitujalan pertobatan. Firman Tuhan menampilkan profil Yohanes Pembaptis untukmengingatkan kita tentang pentingnya pertobatan di dalam masa Adven. Ajakan dan peringatan yang penting ini tidak hanya dariYesus Kristus dan Yohanes Pembaptis. Orang-orang di dekat kita juga seringmenjadi penolong, yaitu dengan menegur atau memberitahu Anda. Persoalan apakahteguran atau peringatan itu cukup kuat untuk mengubah dirimu, hal itu sangatbergantung pada kemampuan setiap orang. Kebebasan setiap orang dalam menentukanpilihannya merupakan hal yang mendasar. Anda memilih untuk berubah atau tetaptidak berubah. Tetapi jika kita ingin mengikuti jalan iman kita yangdikehendaki Tuhan Yesus Kristus, bertobat akan menjadi lebih utama dibandingkandengan kebebasan masing-masing individu untuk memilih selain pertobatan. Pemuda yang suka mengebut sepeda motor dan membunyikanmesin sekuat-kuatnya sehingga mengganggu banyak orang, diperingatkan oleh orangtua dan saudara-saudarinya. Seorang bapak yang sudah sangat ketagihan merokok,diperingatkan oleh istri dan anak-anaknya. Sepasang muda-mudi dinasihatkansupaya berpacaran yang baik sehingga tidak menjadi bahan omongan orang-orang disekitarnya. Seorang siswa selalu dipantau belajarnya oleh orang tua supaya iadapat menamatkan sekolahnya dengan nilai yang baik. Dan di dalam masa penuhrahmat ini, peringatannya ialah: Jangan menolak untuk bertobat. Masih banyaksekali nasihat dan peringatan yang kita dapatkan di dunia ini. Orang-orang yang menasihatkan dan mengingatkan kita,ternyata melihat diri kita dan persoalan secara objektif. Mereka melihat danmemahami sisi positif dan negatif orang yang ditegur atau dinasihati. Sedangkanseseorang yang melihat dan memahami dirinya sendiri, ia justru lebih subjektif.Ia dikuasai oleh egonya, kepentingannya, dan kesenangannya. Nasihat, tegurandan peringatan yang datang kepada kita sudah merupakan presentasi pilihan yangtinggal kita pilih dan ikuti. Mereka mengasihi dan mendukung kita, jadi merekainginkan supaya kita memilih yang baik dari yang jelek, atau yang benar dariyang salah. Ketiga bacaan pada hari Minggu ini bersama-sama memberikankita satu peringatan atau nasihat yang penting, yaitu pertobatan ataupembaharuan diri kita dari kebiasaan dan cara hidup berdosa. Suatu kehidupanbaru adalah syarat utama untuk menyambut kerajaan Allah yang datang kepadakita. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah maha baik,semoga perayaan hari Minggu ini mendorong kami untuk bertobat danbersungguh-sungguh dalam menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan kamiYesus Kristus. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Ellyanne from the Parish of Saint James in the Diocese of Surabaya, Indonesia. Isaiah 30: 19-21.23-26; Rs psalm 147: 1-2.3-4.5-6; Matthew 9: 35 - 10: 1.6-8.JESUS CALLS AND GIVES US HIS POWER Our meditation today is entitled: Jesus Calls andGives Us His Power. There was a nurse who worked in the emergency room of thehospital. Every day she saw people coming with various wounds and anxieties.One night, an elderly patient went into the room with a state of panic becausethere was no family to accompany him. The nurse sat for a while, clasped thepatient's hand, and said, "I'm here, you're not alone." The sentencewas simple, but it calmed the patient down. The nurse might feel that she wasdoing only a small task, but in reality she was a "shepherd" who ispresent for a lost sheep. Through her, God speaks: "This is the way,follow this way—the way of mercy." In today's Gospel, we see Jesus looking at the crowdwith a heart moved by compassion. He saw them as sheep without ashepherd—tired, lost, and thirsty for hope. Jesus' view was more than sympathy;He sees man's deepest needs, and he responds with action. Jesus does not remainsilent to see the wounded world, but He is present as the True Shepherd whoguides, heals, and gives life. There was a time Jesus called His twelve disciples. Henot only chose them, but also empowered them to do the work that hadpreviously been done only by Him: healing, consoling, casting out demons, andproclaiming that the Kingdom of God was near. With this action, Jesus entrustedHis mission to the disciples. They did not walk under their own strength, butrather carried the power that came from God. This is where we see that the callis always accompanied by the instruments God graciously gives us. Jesus' call in the days of the apostles continues tothis day. Every believer, regardless of profession, is called to be a sign ofthe presence of God's Kingdom. Some are called to be pastors in the Church,some are educators, health workers, social workers, or faithful family members.In each of those calls, Jesus gives His power: the power to love more, toendure adversity, to heal the inner wounds of others, and to be a peacemaker.We are not sent alone; It is the Holy Spirit who works through us. Often, God's call comes in seemingly so ordinarysituations. A small word, a brother's need, or a cry from an injured person canbe an invitation for us to act. Jesus calls us not because we are perfect, butbecause He wants to express His power through our limitations. Just as thedisciples were simple but sent to great work, so we are called to proclaim theface of God in the midst of the world: to bring hope, to bring joy, and to healthe wounded.Let us pray. In the name of the Father ... O Almighty God,fill us with the power of Your Spirit and enable us to do Your will as JesusChrist, our Lord and Teacher, has done. Glory to the Father and to the Son andto the Holy Spirit ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Oliva Ivania dan Meri Kaona dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. Yesaya 30: 19-21.23-26; Mazmur tg 147: 1-2.3-4.5-6; Matius 9: 35 - 10: 1.6-8.YESUS MEMANGGIL DAN MEMBERI KITAKUASA-NYA Renungan kita pada hari ini bertema: Yesus Memanggildan Memberi Kita Kuasa-Nya. Ada seorang perawat yang bekerja di ruang gawatdarurat rumah sakit. Setiap hari ia melihat orang datang dengan berbagai lukadan kecemasan. Suatu malam, seorang pasien tua masuk dalam keadaan panik karenatidak ada keluarga yang menemaninya. Perawat itu duduk sebentar, menggenggamtangan pasien itu, dan berkata, “Saya di sini, Bapak tidak sendirian.” Kalimatitu sederhana, tetapi membuat pasien itu tenang. Perawat itu mungkin merasahanya melakukan tugas kecil, tetapi sesungguhnya ia sedang menjadi “gembala”yang hadir bagi seorang domba yang tersesat. Melalui dirinya, Allah berbicara: “Inilahjalannya, ikutilah jalan ini—jalan belas kasih.” Di dalam Injil hari ini, kita melihat Yesus memandangkerumunan orang banyak dengan hati yang tergerak oleh belas kasih. Ia melihatmereka seperti domba tanpa gembala—lelah, tersesat, dan haus akan pengharapan.Pandangan Yesus ini lebih dari sekadar simpati; Ia melihat kebutuhan terdalammanusia, dan Ia merespons dengan tindakan. Yesus tidak tinggal diam melihatdunia yang terluka, tetapi Ia hadir sebagai Gembala Sejati yang menuntun,memulihkan, dan mencurahkan hidup. Selanjutnya, Yesus memanggil dua belas murid-Nya. Iatidak hanya memilih mereka, tetapi juga memberi mereka kuasa untukmelakukan pekerjaan-pekerjaan yang sebelumnya hanya dilakukan oleh-Nya:menyembuhkan, memulihkan, menghalau roh jahat, dan mewartakan bahwa KerajaanAllah sudah dekat. Dengan tindakan ini, Yesus mempercayakan misi-Nya kepadapara murid. Mereka tidak berjalan dengan kekuatan sendiri, melainkan membawakuasa yang berasal dari Tuhan. Di sinilah kita melihat bahwa panggilan selaludisertai dengan perlengkapan dari Allah. Panggilan Yesus pada zaman para rasul terus berlanjuthingga hari ini. Setiap orang yang percaya, apa pun profesinya, dipanggil untukmenjadi tanda kehadiran Kerajaan Allah. Ada yang dipanggil menjadi gembaladalam Gereja, ada yang menjadi pendidik, tenaga kesehatan, pelayan sosial, atauanggota keluarga yang setia. Dalam setiap panggilan itu, Yesus memberikankuasa-Nya: kuasa untuk mengasihi lebih besar, untuk bertahan dalam kesulitan,untuk menyembuhkan luka batin orang lain, serta untuk menjadi pembawa damai.Kita tidak diutus sendirian; Roh Kuduslah yang bekerja melalui kita. Sering kali, panggilan Tuhan datang dalam situasi yangtampaknya biasa saja. Sebuah kata kecil, kebutuhan seorang saudara, atau seruandari orang yang terluka bisa menjadi undangan bagi kita untuk bertindak. Yesusmemanggil kita bukan karena kita sempurna, tetapi karena Ia ingin menyatakankuasa-Nya melalui keterbatasan kita. Seperti para murid yang sederhana namundiutus untuk karya besar, begitu pula kita dipanggil untuk menyatakan wajahAllah di tengah dunia: menghadirkan pengharapan, membawa sukacita, danmenyembuhkan yang terluka. Marilah kita berdoa. Dalam namaBapa … Ya Allah mahakuasa, penuhilah kami kuasa Roh-Mu dan mampukanlah kamiuntuk menjalankan kehendak-Mu seperti yang telah dilakukan oleh Yesus Kristus,Tuhan dan Guru kami. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus … Dalam namaBapa …

Delivered by Tia from Church of Divine Mercy Syah Alam in the Archdiocese of Kuala Lumpur, Malaysia. Isaiah 29: 17-24; Rs psalm 27: 1.4.13-14; Matthew 9: 27-31.BE IT DONE ACCORDING TO YOUR FAITH The title for our meditation today is: Be It Done According to YourFaith. There was a story of two married couples who shared a similar situation,and wished to have a son. They have been true friends since their teenageyears. Even after their marriage, they still remain close friends. Both of thewives gave birth and had two daughters. They really wanted a son as their thirdchild. There were suggestions from these two couples' friends, that is for themto do a spiritual pilgrimage. There was a shrine of the Virgin Mary which isfamous for many miracles for Christian devotees. The two couples then went forthe spiritual pilgrimage. There, they prayed fervently and asked repeatedly forhelp through the intercession of our Lady, that the Lord would grant thecouple's wishes to have a son. The candles that they lit never stop burning. A few months after the pilgrimage, one of the couples received goodnews, that the wife became pregnant. While the wife from the other couple isnot yet pregnant. As time passed by, the good news became booming, the baby inthe womb was a male. The couple whose wife was not yet pregnant, became curiousand tended to be anxious and even disappointed. They went to the other pregnantcouple to share their feelings. In curiosity and anxiety, they wanted to hear about sharing and theexperience of the couple that was waiting for the birth of a baby boy. Thepregnant mother told them that each time a candle was burned and lit, thehusband and his wife always mentioned the phrase of prayer: "Let it bedone according to God's will". They tirelessly repeat this words, whilethey also continually read the Word of God. This phrase of prayer is a sign of obedience and surrender to our faith.This was the Blessed Mother's prayer when she received the good news ofheavenly intervention, that she was chosen to become the Mother of God. Sincethen the faithful in the Church have been using it for various purposes inexpressing their faith. Every one who prays this way has a hope that his or herprayer will not go unheard. They really hope God hears and grants them whatthey pray for. And true as it is. God gave His answers to help people who really needHis love and mercy. His will to help is not according to favoritism. In today'sGospel passage, the Lord Jesus answers the prayers of the two blind men who areeager to see as He said: "Be it done according to your faith." Godalso answers in the form of granting recovery and healing, actions for peoplewho are sick, paralyzed and suffering as it is preached in the book of Isaiahtoday. We too shall always use this prayer of obedience and submission to helpus in all our needs. Let's pray. In the name of the Father ... O goodand loving Jesus, listen to our prayer request so that the will of the Fatherwill happen to us. Hail Mary, full of grace ... In the name of the Father ...

Dibawakan oleh Erna Lolan dan Hendrik Monteiro dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. Yesaya29: 17-24; Mazmur tg 27: 1.4.13-14; Matius 9: 27-31.TERJADILAH SETURUT IMANMU Tema renungan kita pada hari ini ialah: Terjadilah SeturutImanmu. Ada cerita bahwa dua pasangan suami istri memiliki kebutuhan yang sama,yaitu ingin memiliki anak lelaki. Mereka adalah teman sejati sejak remaja.Setelah menikah, mereka tetap berteman akrab. Kedua istri tersebut melahirkandua anak perempuan. Mereka juga bersama-sama ingin anak ketiganya laki-laki. Ada usulan dari teman-teman mereka supaya masing-masingpasangan pergi berziarah rohani. Ada sebuah gua Bunda Maria yang sangatterkenal dengan mujisat-mujisat bagi para devosannya. Kedua pasangan itu pergiberziarah ke situ. Di sana mereka berdoa dengan tekun dan memohon berkali-kalibantuan melalui Bunda, supaya Tuhan mengaruniakan mereka anak laki-laki. Lilinyang mereka nyalakan tidak pernah mati. Lilin harus tetap bernyala. Beberapa bulan setelah berziarah, datanglah kabar baikyaitu salah satu istri hamil. Sedangkanistri pasangan yang satunya belum hamil. Kemudian kabar baik semakin kencangdatang yaitu bahwa bayi dalam kandungan adalah laki-laki. Tetapi pasangan yangistrinya belum hamil itu menjadi penasaran dan cenderung cemas bahkan kecewa.Mereka datang ke teman pasangannya untuk berbagi perasaannya. Di dalam penasaran dan kecemasan, mereka ingin tahu sharing pengalaman teman pasangan yangsedang menantikan kelahiran buah hati. Ibu yang mengandung itu bercerita bahwasetiap kali lilin yang dibakar dan dinyalakan, suami-istri selalu menyebutkanisi doa ini: "Terjadilah seturut kehendak Tuhan". Mereka mengulangkata-kata itu dengan tiada lelahnya. Mereka juga tekun membaca firman Tuhan. Ungkapan doa seperti ini merupakan tanda ketaatan dankepasrahan iman kita. Ini adalah doa Bunda Maria saat ia menerima kabar sukacita surga untuk menjadi Bunda Allah. Kemudian umat beriman di dalam Gerejamemakainya untuk berbagai kepentingan dalam mengungkapkan iman mereka. Setiaporang yang berdoa seperti ini memiliki harapan bahwa doanya tidak bertepuksebelah tangan. Mereka sangat berharap Tuhan mendengarkan dan mengabulkannya. Dan benar adanya. Tuhan memberi jawaban untuk menolongorang-orang yang sangat membutuhkan terjadinya kehendak-Nya itu. Di dalam Injilhari ini Tuhan Yesus menjawab doa dua orang buta yang sangat ingin melihat,kata-Nya: "Terjadilah padamu menurut imanmu." Tuhan Allah jugamenjawab dalam bentuk tindakan pemulihan dan penyembuhan atas orang-orang yangsakit, cacat dan menderita seperti yang diwartakan oleh kitab Yesaya pada hariini. Hendaknya kita selalu memakai doa ketaatan dan kepasrahan ini. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa ... Ya Yesus,dengarkanlah doa-doa kami yang memohon terjadinya kehendak Bapa atas kami,khususnya dalam mengatasi kesulitan-kesulitan kami. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...

Delivered by Charlene Mahadi from the Parish of Santa Maria Kusumah Karmel in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Isaiah 26: 1-6; Rs psalm 118: 1.8-9.19-21.25-27a; Matthew 7: 21.24-27.STRONG FOUNDATION OFFAITH The title for our meditation today is: Strong Foundation of Faith. Ourmain theme in Advent is waiting for the Lord's coming. By nature, we don't feel comfortable and become anxiouswhile waiting something or someone. Promises and hopes are always considered asblessings, however, waiting for theirrealizations often frustrate us. So the important advice is that we should havea strong foundation of faith. Waiting with strong faith is for us a must. We humans are always caughtin this situation: we are obsessed and illusioned by promises, even the great ones. The issue is whether the promise is actuallyrealized, it helps shape our imagination. But it is hoped that this obsessionshould not become a wild adventure and consume our consciousness. If we imaginea realization of hope that is not accompanied by faith or trust for the hope tocome true, we become people who suffer so terribly. What's important is arealistic attitude. Advent presents us with the promise of meeting the Lord,and at the same time we are always confronted with everyday reality full ofchallenges and struggles. Today's Word of God presents challengesthat are not easy for us. There are at least two, namely, first, strengtheningour faith with a strong foundation and building an eternal Rock that Isaiahpreaches in the first reading, and the second is beingready to face temptations, threats, tests, difficulties and sufferings. The positions ofthese two challenges must remain as such. The first does not become the secondand vice versa. The foundation of a strong faith must be first. God's Word, allof His commandments and the Christianvirtues are the useful means for strengthening faith. This aspect must beconstituted in such a way as to meet its standard such as mustard seeds whichbecome useful for all who enjoy it, yeast that develops dough, salt thatpreserves continually, and light that dispels darkness. Achieving this standardmeans we are ready and brave to face challenges, and look forward to therealization of the promise. Problems arise whenthis order is reversed: first having or experiencing challenges, sufferings, ordifficulties, then looking forward ways to strengthen one's faith. Are not manyof us find ourselves in this situation as we have problems or encounter difficulties,only then we preouccupy ourselves to find outsome particular scriptural passages or reciting some good prayers as means ofhelp? This question represents all human attitudes, who have sickness firstthen seeking medicine, difficulty first then praying, sinning first and thenconfessing sins, and so on. These are all direct effects of a lifestyle that istoo much obsessed with promises. To prevent this, we need to always strengthenour faith.Let's pray. In the name of the Father... Father of mercy, grant us the Spirit of strength so that we may becomestronger and firmer in our faith in our daily lives. Glory to the Father and to the Son and to the Holy Spirit ... In the name of the Father ...