POPULARITY
Categories
Bersama Andry Setiawan dari Penerbit Haru
Original title: Bibbi Bokkens magiske bibliotekObrolan bersama Lita Mahendra, Juinita Senduk dan Meita Eryanti.
The prestigious stage of the 2026 Sydney Festival will bear silent witness to an emotional performance entitled “The Remains.” The work is a slick collaboration between Indonesian choreographer Murtala and his wife, Alfira O'Sullivan, staged at Bankstown Arts Centre. - Panggung bergengsi Sydney Festival 2026 akan menjadi saksi bisu dari sebuah pertunjukan emosional bertajuk "Sisa-Sisa". Karya ini merupakan kolaborasi apik antara koreografer asal Indonesia, Murtala, dan istrinya, Alfira O'Sullivan, yang dipentaskan di Bankstown Arts Centre.
Obrolan bersama Milvie Setiorahardjo.
Samsara, a movie that reflect and contemplate Balinese culture rather than simply follow a conventional narrative. - Samsara film yang menampilkan budaya Bali sebagai bahasa visual, bukan sekadar latar cerita.
Ustadz Zainal Abidin Bin Syamsudin - Islam Sontoloyo | Dari Buku Karya Ir. Soekarno
Media Partner - Wug Gumi Wug merupakan nama pameran dan wadah bareng para perupa muda dan penulis yang memiliki kegelisahan akan apa yang terjadi di Bali belakangan ini terutama dengan keadaan alam dan kota Denpasar. Dalam perjalanan mempersiapkan sampai pada berlangsungnya pameran ini, para pemuda ini tidak berhenti aktif dalam mengekspresikan Wug Gumi Wug. Ditambah keadaan di depan tempat pamerannya uwug juga dengan adanya pembenahan saluran di bawah trotoar sekaligus membangun trotoar baru. Jadi, apa saja yang terjadi selama Wug Gumi Wug di TOKE Denpasar? Yuk, dengerin!
Ustadz Zainal Abidin Bin Syamsudin - Islam Sontoloyo Dari Buku Karya Ir Soekarno
Obrolan bersama penyair Ratna Ayu Budhiarti.
Through her work, Kamila Andini captures the stories of women's lives in the 1960s, as a bridge connecting the past and the present. - Melalui karyanya, Kamila Andini memotret kisah kehidupan wanita pada masa tahun 1960-an, menjadi jembatan menghubungkan masa lalu dan kini.
Syalom Keluarga Damai! Sapaan Damai Sejahtera atau disingkat SAMAS merupakan sebuah renungan singkat yang tayang setiap hari Senin-Sabtu. SAMAS tidak hanya dibawakan oleh pendeta/hamba Tuhan, tetapi juga akan dibawakan oleh siapapun yang ingin berbagi sapaan Tuhan kepada dirinya. Semoga kita dapat menemukan damai sejahtera yang datangnya dari sapaan Tuhan kepada setiap kita melalui SAMAS ini. Tuhan Yesus memberkati!
Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) bersikukuh meluncurkan buku sejarah Indonesia versi baru, meski prosesnya diselimuti polemik. Buku "Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global" terdiri dari sepuluh jilid, mencakup perjalanan panjang Indonesia mulai dari akar peradaban Nusantara, interaksi global, masa kolonial, pergerakan kebangsaan, hingga era Reformasi dan konsolidasi demokrasi sampai 2024.Meski mengaku belum membaca satu lembar pun, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengklaim buku sejarah yang diluncurkan pada Minggu (14/10) itu murni ditulis 113 sejarawan tanpa campur tangan pemerintah. Karya tersebut semacam buku sejarah resmi Indonesia dan bakal menjadi acuan yang diajarkan di sekolah-sekolah.Seperti apa isi sejarah Indonesia versi pemerintah ini? Apakah tragedi pemerkosaan massal 1998 masuk di dalamnya? Bagaimana dengan sejarah '65? Seperti apa tanggapan masyarakat sipil dan akademisi yang konsisten menolak proyek penulisan ulang sejarah nasional? Apakah ada celah untuk melakukan revisi? Bagaimana prosesnya? Di Ruang Publik KBR kita akan bahas topik ini bersama Direktur Sejarah dan Kemuseuman Kementerian Kebudayaan Prof. Agus Mulyana dan Profesor Riset Purna Bakti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Asvi Warman Adam.
Obrolan bersama Lita Mahendra (penerjemah buku ini), Juinita Senduk dan Meita Eryanti.
Renungan, Pesta Santo Fransiskus Xaverius, Imam dan Pelindung Karya Misi, 03 Desember 2025
Mengapa sebagian orang selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan, sementara yang lain berjuang hanya untuk didengar? Jawabannya terletak pada penguasaan seni pitch. Pitch bukan hanya presentasi formal di ruang rapat; ia adalah inti dari setiap interaksi—mulai dari momen kencan yang menentukan, wawancara kerja yang krusial, hingga negosiasi sehari-hari. Esai mendalam dan ringkasan audio ini menyajikan logika di balik keberhasilan persuasi, membongkar paradoks bahwa keputusan terbesar dalam hidup, meskipun beroperasi di lingkungan yang logis, justru didorong oleh emosi. Bersiaplah untuk mengubah cara Anda menjual diri dan ide-ide brilian Anda. Jauhi Kelemahan, Rangkul Keyakinan. Karya ini, yang diilhami dari buku Life's a PITCH, menyajikan cetak biru yang logis dan koheren untuk merancang pitch yang tak tertahankan. Kami akan memandu Anda dalam menyingkirkan clutter(kekacauan) yang merusak pesan, menunjukkan mengapa kesederhanaan adalah senjata paling ampuh, dan bagaimana mengubah ancaman risiko (say no) audiens menjadi peluang kegembiraan (say yes). Pelajari strategi "penulis naskah" yang cerdas—mengapa persiapan mental mengalahkan bakat mentah, dan bagaimana struktur "Masalah dan Solusi" dapat secara dramatis meningkatkan nilai solusi Anda di mata audiens. Gairah Mengalahkan Logika. Di bagian akhir, kita akan membahas logika pelaksanaan pitch yang tak kenal takut. Temukan mengapa Kepercayaan Diri adalah mata uang utama di setiap ruangan, mengapa gairah yang membara lebih unggul daripada sekadar analisis data yang dingin, dan bagaimana kharisma—yang berakar pada keberanian untuk menjadi berbeda—secara otomatis menarik kekuasaan. Ini adalah panggilan untuk mengintegrasikan disiplin bisnis ke dalam kehidupan emosional Anda, dan sebaliknya. Dengarkan dan bacalah untuk mendapatkan panduan definitif tentang bagaimana mencapai effortless confidence dan mendominasi setiap momen penentu dalam hidup Anda.
Ikuti Meggy Soedjatmiko dan Erika Dhemes. Serta penerjemah buku ini dalam bahasa Indonesia: Siska Nurrohmah.
What if the outpouring became the inspiration for a work of poetry and could be accepted internationally? This is the story of writer and poet, Lizzie Chan. - Bagaimana jika curahan hati menjadi inspirasi karya puisi dan bisa diterima secara internasional? Ini cerita penulis dan penyair, Lizzie Chan.
Trivita Tiffany memberanikan diri untuk menggubah puisi sang Ayah menjadi film pendek, dengan nama yang sama. Oleh karenanya dia mengikuti lomba film pendek ReelOzInd 2025. Menuamgkan suatu puisi ke dalam film pendek bukanlah hal yang mudah. Apalagi dia harus menciptakan film tersebut sesuai dengan tema yang berlaku yaitu ‘imajinasi'.
Jangan percaya couple goals! Tapi, coba buat punya goals bareng sama pasangan masing-masing.Mulai dari yang kecil dulu, mulai dari yang sederhana..Kayak Ryan Adriandhy dan Anizabella Lesmana yang belajar buat olahraga bareng sampai akhirnya sekarang berkarya bareng sebagai suami istri!Timestamp:00:00 Opening02:17 Cerita cinta Ryan dan Bella06:42 Pertama kali dapet komentar "couple goals'07:25 Awal mula konten LITERASI (Literatur Suami Istri)11:42 Definisi couple goals = punya tujuan bareng17:58 Karya bersama Ryan Adriandhy dan Anizabella Lesmana18:14 This Is What Home Could Feel Like30:24 Apa yang bisa menghindarkan pasangan dari bosan?
Naufal Abshar's artwork Day to Day series, that captures everyday life, returns to Art Jakarta 2025 - Karya Naufal Abshar dengan tema Day to Day series yang menggambarkan keseharian dalam kehidupan kembali hadir dalam Art Jakarta 2025
Filosofi Seth Godin dari empat bukunya mengerucut pada satu panggilan: Tinggalkan mentalitas pekerja pabrik. Kita terlampau lama nyaman dalam kepatuhan, padahal era kini menuntut gairah yang liar. Maka, tinggalkanlah barisan itu, sebab keputusan terpenting adalah: memilih diri sendiri sebelum dunia memilihkan nasib. Kepemimpinan, kata Godin, bukan tentang pangkat yang tertulis di kartu nama. "Managers have employees. Leaders have followers." Yang sesungguhnya adalah: keberanian mematrikan visi di hati banyak orang, bukan hanya memastikan mesin-mesin tua berdentang. Manusia modern mendambakan koneksi, ingin menjadi bagian dari suku (tribe) yang punya ide dan tujuan bersama. Dorongan afiliasi itu... sungguh mekanisme kuno yang tak pernah pudar. Maka, hadirkanlah inisiator yang dapat merajut kepingan jiwa menjadi satu getaran gerakan. Kepemimpinan tidak sama dengan manajemen; ini adalah tentang menetapkan cakrawala yang belum terjamah. Seorang pemimpin adalah heretik yang gelisah, memanfaatkan gairah yang membara, jauh dari jerat perintah dan ancaman. Kepemimpinan sejati selalu menuntut untuk berdiri paling depan. Status quo adalah musuh utama, benteng lama yang sulit digoyahkan karena semua orang sudah berinvestasi di dalamnya. Kita harus berani menjadi heretik, menciptakan yang luar biasa... yang justru mengundang gunjingan di pasar. Jika tak ada kegaduhan (make a ruckus), barangkali kita cuma patung di etalase. Kenapa kita takut memimpin? Bukan takut gagal, tapi takut disalahkan dan dikritik. Karya yang diam, tanpa kritik, adalah karya yang membosankan... tanpa daya ungkit apa-apa. Mengatasi rasa takut, itulah visa tunggal menuju tindakan. Pemimpin harus mengalihkan fokus dari kuantitas; cari kerapatan, tighter. Komunikasi yang bergetar cepat itu... adalah modal emosional yang tak ternilai, mengikat raga menjadi satu keyakinan. Nilai sejati selalu menyebar secara horizontal, dari satu hati ke hati lain. Kreativitas, ditegaskan Godin, bukanlah bakat langit yang langka. "The magic of the creative process is that there is no magic." Kreativitas adalah sepenuhnya keputusan, pilihan untuk bertindak. Siapa pun bisa menjadi seniman (artists), asalkan berhenti menanti ilham turun dari langit. Seorang profesional hidup dari praktik (practice) gigih, sebuah janji pada proses, terlepas dari jaminan hasil. Identitaskita menguat seiring tindakan itu; jika kau ingin menjadi penulis, menulislah hari ini, bukan esok. Hanya komitmen total pada praktik yang akan melahirkan skill baru. Mereka yang pemula selalu terjerat pada bayangan hasil (outcome), lupa bahwa itu hanyalah angin. Keberanian sejati terletak pada konsistensi proses, mengabaikan kilauan sesaat. Membuang kegagalan adalah bagian dari proses panen, bukan pengakuan dosa. Sindrom Imposter itu... adalah pertanda baik, suara yang muncul saat kita melangkah ke wilayah asing. Kita tidak perlu jaminan apa-apa, cukup mempercayai proses (trusting the process) yang membawa kita ke sana. Keraguan adalah bukti bahwa kita sedang berlayar, bukan berlabuh. Strategi... ia adalah filsafat menjadi (philosophy of becoming), yang menuntun keputusan kecil hari ini menuju bayangan masa depan. Kompasnya berputar di antara waktu, sistem, permainan, dan empati. Strategi yang elegan tidak butuh daftar kaku, melainkan kelenturan peta. Kita dikepung sistem (systems)... jaringan tak terlihat yang mempertahankan dirinya dengan gigih. Melawannya langsung adalah kesia-siaan, lebih baik mencari titik ungkit (leverage point) yang halus, mengubah alirannya dari dalam. Memahami hasrat tersembunyi sistem—status, kenyamanan—adalah kuncinya. Hidup adalah serangkaian permainan (games) yang dipandu oleh aturan dan kelangkaan yang tersembunyi. Kebijaksanaan adalah memilih permainan yang dapat kita menangkan, dan menyingkirkan memori pahit dari biaya hangus (sunk costs). Masa depan tak berutang apa-apa pada penyesalan masa lalu. Sekolah kita, sesungguhnya, adalah mesin cetak dari abad kesembilan belas, dirancang untuk melahirkan pekerja patuhbagi pabrik. Godin mengingatkan: "If you do a job where someone tells you exactly what to do, he will find someone cheaper than you to do it." Era koneksi menuntut imajinasi, bukan ketaatan. Ada tragedi senyap di ruang kelas: mimpi-mimpi yang dihancurkan perlahan, diganti dengan ilusi kompetensi yang fana. Kita terlalu sibuk mengejar penugasan daripada melatih penilaian (judgment) yang mandiri. Jika pendidikan adalah teka-teki, guru adalah kunci, sebagai pelatih gairah yang hilang. Di tengah riuh data, membaca dan menulis tetaplah mercusuar sunyi, memancarkan dampak eksponensial. Yang substansial bukanlah mengumpulkan fakta, melainkan keahlian menghubungkan titik-titik menjadi wawasan yang bergetar. Ajarkanlah keraguan rasional (reasonable doubt), kemauan untuk salah, dan kita akan memiliki mata yang tajam. Karya yang bernilai selalu lahir dari simpul kolaborasi, bukan dari ruang isolasi yang hening. Mengapa sekolah masih menyukai ujian individu, padahal koneksi adalah mata uang baru yang berharga? Kita harus menggalakkan proyek kelompok yang berisiko, di sanalah solusi kompleks terlahir. Kita sesungguhnya memiliki segala yang diperlukan... waktu, bakat, dan daya ungkit yang memadai. Mengapa kita menunda? Karena ketakutan selalu terasa lebih nyata daripada kewajiban. Waktu yang terbuang untuk khawatir(worrying) adalah energi yang seharusnya dilepaskan. Maka, segala pergeseran besar bermula dari asserti (assertion) yang sunyi, dari kemauan untuk memulai (begin) sebuah gerakan. Setiap kita memikul kewajiban yang agung, bukan sekadar inisiatif biasa. Praktik, strategi, dan kepemimpinan—mereka adalah trisula untuk menciptakan momentum yang tak mungkin lagi kembali.
Peluncuran Buku "What It Takes: Southeast Asia" karya Gita Wirjawan. What It Takes: Southeast Asia seolah menjadi start-up untuk saya. Mulai dari keputusan untuk menulis, hingga memilih untuk mempublikasi ini secara mandiri.Ada pertanyaan, “Endgame bukunya apa, Pak?”Sesederhana:Jika buku ini mampu memprovokasi teman-teman untuk berdiskursus, bahkan untuk menentang argumen di dalamnya — then, mission accomplished.Karena yang saya harapkan justru lahirnya diskursus baru. Gagasan yang lebih segar, lebih kolaboratif, lebih terbuka.Saya juga berharap buku ini bisa menjangkau lebih banyak orang.Itu sebabnya, tahun ini saya berencana merilis versi Bahasa Indonesia dari What It Takes: Southeast Asia.If you've read it, share your thoughts.Show me your discussion.Show me your ideas.
Tadi siang saya bermimpi lagi bertemu dengan Ustaz Adi Hidayat. Ini kali ketiga saya memimpikan beliau. Alhamdulillah.
Media Partner - Take Over oleh Mahasiswa Seni Murni Angkatan 2023 oleh Mulkan, Ari Pucang dan Nabila, menceritakan tentang proses Pameran “Interface” yang merupakan hasil dari karya-karya tugas Seni Rupa Digital yang mereka lalui di Semester 4. Apa saja itu prosesnya? Dan bagaimana tanggapan tentang pameran ini? Yuk, didengerin!
Ni Made Ari Yanti Putri Negara, a mother from Tabanan, Bali, experienced severe depression after giving birth to her only son five years ago. - Ni Made Ari Yanti Putri Negara, perempuan asal Tabanan, Bali, sempat mengalami depresi berat pasca melahirkan putra semata wayangnya lima tahun yang lalu.
Ikuti penulis Zaky Yamani di sini.
Obrolan bersama penulisnya langsung, Wawan Kurniawan dan penulis Ama Gaspar
ABINDA AKE BUKATA DAGA WURIN DATTIBAI ELDERLY,FALSE DOCTRINES, RED DRAGON----DATTIJO,
ABINDA AKE BUKATA DAGA WURIN DATTIBAI ELDERLY,FALSE DOCTRINES, RED DRAGON----DATTIJO,
ASIRIN MAKARYATA DA ABINDA KE KARYATA ALLAH
The Gita Series - A triune pilgrimage - 183 - Ch 1 3 - Slokas 20 to 22In the production of the effect and the cause (Karya & Karana), Prakriti is said to be the cause; in the experience of pleasure and pain (Sukha & Duhka), the Purusha is said to be the cause.
Analisis data Dr. Byrd menunjukkan bahwa setelah masuk ke dalam penelitian; yang didoakan dalam kelompok doa memiliki lebih sedikit gagal jantung kongesti, membutuhkan lebih sedikit diuretik dan terapi antibiotik.
Designer Janet Teowarang believes that the concept of 'sustainable batik' is not only about the eco-friendly materials used but also ethical labor practices. - Desainer Janet Teowarang meyakini bahwa batik yang berkelanjutan tidak hanyak dilihat dari sisi bahan ramah lingkungan yang digunakan, tapi juga perajinnya.
Designer Janet Teowarang had the opportunity to bring batik works from Indonesia to be exhibited in Australia. What makes this work different? - Desainer Janet Teowarang berkesempatan membawa karya batik dari Indonesia untuk ditampilkan dalam pertunjukan di Australia. Apa yang membuat karya ini berbeda?
Di episode kali ini, Seniman Karawitan Indonesia, Peni Chandra, baru saja merilis album "Wulansih", dan juga, anak muda Indonesia di New York, mengadakan sebuah pameran seni berjudul "Dahulu Kala".
ReelOzInd! kembali dan screening perdana digelar pada 24 Oktober lalu di ACMI, Melbourne. - ReelOzInd! kembali dan screening perdana digelar pada 24 Oktober lalu di ACMI, Melbourne.
The achievements of the young men of South West Papua are showcased at The Indonesia by the Beach festival, a festive celebration that presents Indonesia's cultural, artistic and culinary riches. - Prestasi para kawula muda Papua Barat Daya dipamerkan di 'Indonesia by the Beach' festival yaitu sebuah perayaan meriah yang menyajikan kekayaan budaya, seni, dan kuliner Indonesia.
Welcome back to Where Who You Are, the podcast where everybody has a style, and every style has a seat. In today's guest episode, Natalie chats with Karya Schanilec, a street style photographer based in New York City who has just returned from Paris Fashion Week. Karya has a unique perspective on fashion through the lens of the camera; years of work in the field have given her the ability to discern between trend and true personal expression. As for herself? As she puts it, “I really just want to be comfortable...I don't have time for uncomfortable clothing." Amen to that. Throughout the discussion, Karya shares her experiences capturing street style from around the globe and how each fashion week offers something slightly different, but that the universal tell for personal style is “wearing who you are.” Natalie and Karya bond over their shared belief in the difference between aspiration and inspiration, examining how to translate global trends into our own wardrobes as long as it serves you. Karya also passionately notes the significance of community in fashion, stating, “It's fun to find like-minded people.” And with that, we think we've found a like-minded person for our BU Style community! From the belief in consuming less (Karya even makes some of her own clothes), down to naturally championing the basic tenets of BU Style, this episode felt like coming home.LinksCourse: https://www.bu.style/courseBU Style Six Assessment: https://www.bu.style/style-sixKarya's Pinterest: https://www.pinterest.com/karyaschanilec/ Karya's Instagram: https://www.instagram.com/karyastreetstyleKarya's Website: https://www.karyastreetstyle.com/Karya's Street Style Portrait Sessions: https://www.karyastreetstyle.com/holiday-photoshoots-nycFollow Us:Follow the podcast on social media, and submit your questions by sending us a message here!@bustyle@natalie_tincherCheck out the website for more info at www.bu.styleSign Up for Nat's NewsletterRate, Review, & Subscribe to the podcast on Apple & SpotifyThis Podcast is brought to you by Upstarter Pods
Sadhna Me Unchai Karya Me Safalta : Pujya Sant Shri Asharamji Bapu Satsang
Sadhna Me Unchai Karya Me Safalta : Pujya Sant Shri Asharamji Bapu Satsang
Sadhna Me Unchai Karya Me Safalta : Pujya Sant Shri Asharamji Bapu Satsang
Sadhna Me Unchai Karya Me Safalta : Pujya Sant Shri Asharamji Bapu Satsang
Sadhna Me Unchai Karya Me Safalta : Pujya Sant Shri Asharamji Bapu Satsang
Sadhna Me Unchai Karya Me Safalta : Pujya Sant Shri Asharamji Bapu Satsang
Sadhna Me Unchai Karya Me Safalta : Pujya Sant Shri Asharamji Bapu Satsang
Sadhna Me Unchai Karya Me Safalta : Pujya Sant Shri Asharamji Bapu Satsang
Sadhna Me Unchai Karya Me Safalta : Pujya Sant Shri Asharamji Bapu Satsang
Sadhna Me Unchai Karya Me Safalta : Pujya Sant Shri Asharamji Bapu Satsang
The data boom has had an outsized impact on India and the Global South. This episode explores how the data economy has changed life on the ground in South Asia — and for tech workers in the US. What does the future of caste look like for the South Asian diaspora, and in the tech world at large? What can be done to mitigate the harms of caste discrimination? How can tech help resource marginalized populations, enable social mobility, and design a more sustainable, empowered future? Raffi speaks with caste and technology scholar Murali Shanmugavelan; anthropologist Sareeta Amrute; Manu Chopra, CEO of Karya; Pratik Rajurkar, educator and co-founder of Polymath AI; and United Nations under-secretary-general, Amandeep Singh Gill. To learn more about Technically Optimistic and to read the transcript for this episode: emersoncollective.com/technically-optimistic-podcast For more on Emerson Collective: emersoncollective.com Learn more about our host, Raffi Krikorian: emersoncollective.com/raffi Technically Optimistic is produced by Emerson Collective with music by Mattie Safer. Subscribe to our weekly newsletter: technicallyoptimistic.substack.com Follow on social media @emersoncollective and @emcollectivepodcasts Email us with questions and feedback at us@technicallyoptimistic.com To learn more about listener data and our privacy practices visit: https://www.audacyinc.com/privacy-policy Learn more about your ad choices. Visit https://podcastchoices.com/adchoices