POPULARITY
Categories
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Banten berencana menerapkan penarikan zakat profesi atau penghasilan kepada konten kreator. Ketua Influencer and Content Creator Network (ICN), Novianusselva alias Rambo Banten, menyatakan pihaknya tidak mempermasalahkan rencana penarikan zakat tersebut selama tidak dilakukan secara memaksa.Menurutnya, profesi sebagai konten kreator kerap menjadi pilihan terakhir bagi sebagian orang yang sebelumnya mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap. Oleh karena itu, kebijakan penarikan zakat profesi perlu mempertimbangkan kondisi riil para pelaku industri konten digital.Lalu, bagaimana mekanisme penarikan zakat profesi bagi konten kreator ini akan diterapkan? Simak perbincangan bersama Ketua Badan Amil Zakat Nasional RI, Noor Achmad.
HaiHai sedih mendapat prank hadiah tahun baru dari Sukri. Kak Anthony dan Kak Ivonne mencoba menghibur HaiHai sekaligus menegur Sukri. Kak Anthony menjelaskan Tuhan tidak pernah ngeprank umat-Nya, tetapi memberikan kejutan-kejutan manis di sepanjang hidup ini. Oleh sebab itu, terimalah kejutan dari Tuhan dengan iman karena Dia tahu yang terbaik untuk kita.
“Pernahkah merasa anak tidak mendengarkan atau menjauh? Mungkin tanpa sadar kita memberikan respons yang malah menjadi penghalang komunikasi. Coba tuliskan di kolom komentar, respons apa yang sering kamu berikan saat anak menyampaikan keluhannya? Apakah itu membantu atau justru sebaliknya?”
Kolaborasi lintas silo sering kali dianggap sebagai solusi universal untuk meningkatkan kinerja organisasi, namun tanpa arah yang jelas, inisiatif ini dapat terjebak dalam fenomena "collaboritis". Berdasarkan prinsip Morten Hansen dalam buku Great at Work, kolaborasi yang berlebihan tanpa tujuan spesifik justru dapat menurunkan produktivitas karena menghabiskan waktu staf dalam pertemuan dan koordinasi yang tidak perlu. Oleh karena itu, langkah pertama dalam meruntuhkan sekat antar departemen bukanlah dengan memperbanyak interaksi, melainkan dengan menumbuhkan kesadaran bahwa kolaborasi adalah alat untuk mencapai nilai tambah, bukan sebuah kewajiban administratif. Kunci dari sinergi yang berhasil terletak pada penerapan "Kolaborasi yang Disiplin" melalui pengujian nilai yang ketat. Sebelum sebuah proyek lintas departemen dimulai, para pemimpin harus mampu menjawab apakah kerja sama tersebut akan menghasilkan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan jika masing-masing tim bekerja secara mandiri. Dengan memfokuskan sumber daya hanya pada proyek yang memiliki potensi nilai tinggi, organisasi dapat menghindari pemborosan energi pada inisiatif yang hanya tampak bagus di atas kertas namun gagal memberikan hasil nyata bagi bisnis. Disiplin ini memastikan bahwa setiap upaya kolaborasi dilakukan dengan intensitas yang tepat dan target yang terukur. Akhirnya, kolaborasi lintas silo yang berkelanjutan harus didasarkan pada prinsip "Win-Win-Win", di mana keberhasilan proyek memberikan keuntungan bagi kedua departemen yang terlibat serta organisasi secara keseluruhan. Sering kali, silo mengeras karena salah satu pihak merasa dikorbankan demi kepentingan pihak lain. Dengan memastikan adanya distribusi manfaat yang adil dan tujuan yang selaras, resistensi antar departemen akan berkurang secara alami. Sinergi sejati tercipta ketika setiap unit memahami bahwa dengan membantu departemen lain mencapai tujuannya, mereka juga sedang mempercepat pencapaian visi besar organisasi.
Seringkali kita menuntut anak autistik untuk fokus, tapi tahukah Moms & Dads bahwa yang lebih penting adalah membantu mereka belajar regulasi diri?
Libur Natal dan Tahun Baru atau Nataru selalu menjadi momen favorit masyarakat untuk berwisata. Namun, di balik euforia liburan, ada sejumlah hal penting yang perlu diwaspadai agar perjalanan wisata tetap aman, nyaman, dan menyenangkan.Pertama, perencanaan perjalanan. Pastikan tujuan wisata, rute perjalanan, hingga akomodasi sudah direncanakan sejak awal. Pilih waktu keberangkatan yang tepat untuk menghindari kepadatan lalu lintas, dan selalu siapkan rencana alternatif jika terjadi kemacetan atau perubahan cuaca.Kedua, kondisi transportasi dan keselamatan. Pastikan kendaraan dalam kondisi prima, baik kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Patuhi aturan lalu lintas, istirahat cukup bagi pengemudi, serta gunakan perlengkapan keselamatan. Untuk perjalanan laut dan udara, perhatikan jadwal serta informasi resmi dari operator dan otoritas terkait.Ketiga, antisipasi cuaca dan bencana. Libur Nataru kerap bertepatan dengan musim hujan. Oleh karena itu, penting untuk memantau informasi cuaca dari BMKG, terutama bagi wisatawan yang berkunjung ke pantai, pegunungan, atau daerah rawan bencana.Keempat, keamanan dan kesehatan. Waspadai potensi tindak kriminal di kawasan wisata yang ramai, jaga barang bawaan, serta patuhi imbauan petugas. Jangan lupa menjaga kondisi tubuh, membawa obat pribadi, dan menerapkan pola hidup bersih selama perjalanan.Terakhir, patuhi aturan di destinasi wisata. Ikuti arahan pengelola dan petugas, hormati kearifan lokal, serta jaga kebersihan lingkungan agar liburan tidak hanya aman, tetapi juga bertanggung jawab.Dengan perencanaan matang, kewaspadaan, dan kepatuhan pada aturan, libur Nataru dapat dinikmati dengan rasa aman dan nyaman, tanpa mengurangi makna kebersamaan bersama keluarga dan orang-orang terdekat.
Pernahkah anak-anak Moms & Dads membandingkan diri dengan saudaranya? Bagaimana cara Moms & Dads membantu mereka memahami bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing? Yuk, bagikan pengalaman Moms & Dads di kolom komentar! Apakah Moms & Dads lebih sering melihat perbandingan terjadi di bidang akademik, hobi, atau yang lain?
Pembawa Renungan: Merry Kristianingrum - Batam Pengantar Renungan: Maria Adrini - Tanjung Pinang Sound Editing: Aris Kurniyawan - Jakarta Cover Editing: Anastasia Sonia - Jakarta Lukas 1:46-56
Pembawa Renungan : Dommi Denita Naibaho – Pekanbaru Pengantar Renungan : Bernadetha Aditya - Yogyakarta Sound Editing : Dommi Denita Naibaho - Pekanbaru Cover Editing : Anastasia Sonia – Jakarta Mat. 1:18-24
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Erna Lolan dan Hendrik Monteiro dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. Yesaya 7: 10-14; Mazmur tg 24: 1-2.3-4ab.5-6; Roma 1: 1-7; Matthew 1: 18-24DEMI KEPENTINGANYANG LEBIH BESAR Tema renungan kita pada hariMinggu Adven keempat ini ialah: Demi Kepentingan Yang Lebih Besar. Ada sekelompok mahasiswa berdiskusi mengenaitempat untuk bakti sosial sebagai suatu bentuk aksi Natal dan Tahun Baru.Mereka juga pertimbangkan orang-orang yang menjadi sasaran pelayanan mereka.Semua pertimbangan kepentingan pribadi dihindari sehingga keputusan yang merekaambil benar-benar bagi kebutuhan orang banyak. Ada seorang anak kelas 5 SDmengeluarkan semua tabungannya selama satu tahun. Tabungan itu adalah hasilkumpulan uang jajan dan hadiah yang ia terima dan tidak ia pakai. Ia belanjakansemua uang tabungannya dalam bentuk kado-kado Natal dan Tahun Baru, lalu diberikankepada panti asuhan yang ada di dekat rumahnya, sebuah panti dengan payungagama yang berbeda dari agamanya Katolik. Ia menjadi puas dan bahagia karenatelah berbuat kasih bagi orang lain. Dua cerita nyata tersebutmerupakan contoh-contoh refleksi tentang pengosongan diri. Istilah yang lebihteologis sering kita sebut sebagai inkarnasi. Sebenarnya alasan sebuahpengosongan diri ialah demi kepentingan yang lebih besar. Logikanya ialah begini:kepentingan pribadi atau yang lebih kecil harus dikorbankan, karena adakepentingan lain yang lebih besar untuk dipenuhi. Di dalam pemenuhankepentingan yang lebih besar itu, sesungguhnya kepentingan pribadi jugamendapatkan keuntungannya. Pengosongan diri sesungguhnyaialah oleh Tuhan dengan meninggalkan tempat-Nya di surga dan menjadi manusia.Kalau Tuhan mementingkan diri-Nya sendiri, sebaiknya ia tinggal saja di surgadan tidak perlu datang ke dunia. Namun Ia sesungguhnya datang demi kepentinganyang lebih besar ialah keselamatan kita semua. Raja Ahas di dalam bacaanpertama sangat memahami kebenaran pengosongan diri ini. Oleh karena itu iamenolak meminta sesuatu yang spesial diberikan kepadanya oleh Tuhan. Iamembiarkan Tuhan saja yang menyatakan kehendak-Nya, yaitu demi kepentingan yanglebih besar. Kepentingan itu ialah Yesus yanglahir ke dalam dunia untuk keselamatan seluruh dunia dan segenap umat manusia.Ia memang disebut oleh kitab suci sebagai keturunan Daud, tetapi bukan miliknyaDaud dan segenap keluarga saja. Ia adalah Allah untuk semua orang dan segenap ciptaan. Yosef yang bertunangan denganMaria, juga mengorbankan kepentingan dirinya sendiri, yaitu rasa malu, gengsidan marah. Ingin menceraikan saja Maria. Tapi karena kepentingan yang lebihbesar, yaitu kehendak Tuhan, ia turuti dan ia bahagia dengan sikapnya itu. Sesungguhnya, dengan menurutikehendak Tuhan, kita berbuat untuk kepentingan yang lebih besar. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa ... Ya Tuhan, semogaperayaan hari Minggu ini melengkapi sukacita kami untuk hari raya Natal yang sebentar lain kami rayakan. Bapa kami yangada di surga ... Dalam nama Bapa ...
Pembawa Renungan: Albertus Gregory Tan - Jakarta Pengantar Renungan: Mustika Sitohang - MedanSound Editing: Indah Larasati Sirait - CibinongCover Editing: Anastasia Sonia - Jakarta Luk 1:26-38
"Apakah Moms & Dads memiliki cara efektif untuk mengajarkan disiplin kepada anak-anak Moms & Dads? Diskusikan pengalaman Moms & Dads dan beri tips kepada orang tua lainnya!
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Erna Lolan dan Hendrik Monteiro dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. Kejadian 49: 2.8-10; Mazmur tg 72: 1-2.3-4ab.7-8.17; Matius 1: 1-17.KEADILAN TUHAN BERJAYA Tema renungan kita pada hari iniialah: Keadilan Tuhan Berjaya. Beberapa hari belakangan tokoh-tokoh kitab suciseperti Elia di Perjanjian Lama dan Yohanes Pembaptis di Perjanjian Barumenarik perhatian kita. Pada hari ini kita berkesempatan untuk berjumpa dengantokoh perjanjian lama yang lain, yaitu raja Daud. Yakub yang disebut Israel, padasaat hendak meninggal dunia, ia memanggil anak-anaknya untuk memberikan merekawasiat, dan yang mendapat wasiat untuk menurunkan kuasa keadilan Tuhan ialahYehuda. Dari dialah datang raja Daud. Keturunan demi keturunan dari Yehuda keDaud, akan sampai ke Yakub yang memperanakkan Yusuf suami Bunda Maria. Pada suatu ketika di dalam ruangkelas saat berlangsungnya pelajaran agama Katolik, seorang siswi protes keraskepada gurunya. Ia tidak ingin gurunya meneruskan pelajaran dengan menyebutnama Daud. Baginya Daud itu pembuat skandal ulung. Sebagai remaja perempuan, iaingin supaya tokoh-tokoh besar dan pemimpin yang bersikap tidak adil, curang,pemuas nafsu birahi, pemerkosa seperti Daud tidak boleh dijadikan isi pelajarankarena ia tidak bisa menjadi contoh yang baik. Ibu gurunya berusaha untukmenenangkan suasana, karena provokasi gadis itu membuat teman-temannya menjadigaduh karena mereka mengutuk tokoh Daud. Guru meyakinkan mereka semua, bahwatokoh seperti Daud memiliki banyak kesamaan dengan banyak tokoh sejarah lainnyadi dunia. Mereka tidak luput dari kesalahan dan dosanya. Mereka yang justrumenciptakan ketidak-adilan. Oleh karena itu Tuhan inginmemunculkan keadilan yang menurut kehendak-Nya, meskipun melalui cara danpribadi manusia yang berdosa. Keadilan Tuhan harus tetap jaya dan tidak bolehkalah dari tabiat jahat manusia. Ada seorang pemuda terlibat dalam pergaulanyang tidak sehat. Ia menghamili pacarnya dan studinya terganggu. Tingkahnya dirumah semakin aneh. Ia berubah menjadi keras dan bisa marah membabi buta.Pokoknya ia bertindak tidak adil. Tetapi kedua orang tuanya tidakputus asa. Mereka memilih jalan keadilan. Jalan kasih bagi putranya. Anak itulalu merasa diterima dengan baik. Ia tidak diperlakukan sebagai seorang yanggagal dan berdosa. Kedua orang tua itu sebenarnya sedang mempraktikkan keadilanTuhan yang berjaya. Kita belajar dari Daud, bahwa kalau keadilan yang hanya menurutikemauan manusia, yang terjadi ialah ketidak-adilan. Keadilan dari Tuhan akanmengubah ketidakadilan itu menjadi berkat dan keselamatan. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Bapa maha rahim,perkuatkanlah ketaatan dan kesetiaan iman kami, sehingga tidak goyah oleh anekaancaman-ancaman di sekeliling kami. Salam Maria, penuh rahmat ...Dalam nama Bapa ...
One of Victoria's Indonesian language teachers, Helena Anggraeni, shares how Indonesian language teaching is conducted in her classroom and how it impacts the students. - Salah seorang guru Bahasa Indonesia di Victoria, Helena Anggraeni, berbagi tentang bagaimana pengajaran Bahasa Indonesia dilakukan di kelasnya dan bagaimana dampaknya bagi para siswa.
"Banyak anak dengan love language 'words of affirmation' merasa sangat terpengaruh oleh media sosial. Like dan komentar positif bisa sangat meningkatkan rasa percaya diri mereka. Tapi, sebagai orang tua, kita perlu memastikan bahwa rasa berharga mereka tidak hanya bergantung pada media sosial. Ayo, bagikan pengalaman atau tips kalian dalam mendukung anak-anak agar memiliki self-esteem yang kuat dari dalam!
Natalie interviews Mordechai Sopher, Oleh from Los Angeles, Personal Fitness Trainer and Author of "Frum Fitness." Mordechai made aliyah from L.A. in 2011 where he grew up a Conservative Jew involved in sports. Mordechai's life was athletics and he was a football player and runner....but, he was searching for more. When his first choice of college was delaying their acceptance Mordechai decided it was a sign...and he decided to go to Israel. Hear the interview for more..... Returning Home 14DEC2025 - PODCAST
"Parents, bagaimana kalian mengisi waktu luang si kecil? Apakah lebih banyak les atau bermain? Yuk, share cara kalian menemukan keseimbangan yang tepat di kolom komentar!"
Sabda Tuhan ingatkan bahwa Tuhan bisa pakai yang pahit untuk tumbangkan arogan, tumbuhkan pertobatan, mendewasakan dan menyelamatkan, di tangan-Nya yang pahit jadi obat jiwa
#DiskusiInteraktif Golkar tengah mengusulkan evaluasi sistem Pilkada menyusul maraknya operasi tangkap tangan (OTT) terhadap kepala daerah oleh KPK. Apakah evaluasi ini sudah mendesak?[TALK] Peneliti TRUST Indonesia/Direktur Eksekutif Adidaya Institute, Ahmad Fadli&Pengamat politik Mantan Ketua KPU Prov Jateng, Joko Purnomo
AMAZING GRACE PROGRAM - PS. TIMOTHY ROY, M.A., D.Min., Ph.D - GEREJA KRISTUS PENEBUS
Pengalaman negatif di masa lalu, membentuk cara kita menghadapi kejadian serupa di masa depan. Hanya kasih karunia Allah yang dapat membantu kita memastikan bahwa tragedi masa lalu tidak menentukan cara kita memperlakukan sesama di masa kini.
Pengalaman negatif di masa lalu, membentuk cara kita menghadapi kejadian serupa di masa depan. Hanya kasih karunia Allah yang dapat membantu kita memastikan bahwa tragedi masa lalu tidak menentukan cara kita memperlakukan sesama di masa kini.
Passion berasal dari buah yang terkenal manis dan berasal dari dataran Amerika Selatan dengan nama Latin Passiflora Edulis. Sedangkan Paradox adalah sebuah gabungan dari dua obat sakit kepala yang sangat terkenal, Panadol dan Paramex.Jadi, Passion Paradox adalah obat sakit kepala baru dengan rasa buah markisa. Oleh karena itu, jika Anda merasa hidup Anda berat dan membuat anda pusing, jangan lupa untuk minum Passion Paradox.Karena Passion Paradox bekerja cepat semanis madu!
"Bagaimana biasanya Moms & Dads merespons ketika anak mendapatkan nilai rendah?
Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 5 Desember 2025Bacaan: "Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga." (Matius 17:27)Renungan: Nelayan yang sangat berpengalaman seperti Simon Petrus sekalipun, tidak akan pernah dengan tepat mengetahui ke mana seekor ikan atau gerombolan ikan akan berenang sehingga ia dapat menangkapnya. Tetapi mukjizat yang dilakukan Yesus membuktikan bahwa Ia adalah Tuhan semesta alam, yaitu ketika Ia memerintahkan Petrus untuk menangkap ikan dan mengambil uang senilai 4 dirham dari dalam mulut ikan yang pertama kali didapatnya. Sebagai seorang nelayan yang berpengalaman, Petrus taat pada perintah Yesus. Oleh karena itu dengan tenang ia duduk dan memancing di tepi danau Galilea demi mendapat uang 4 dirham dalam mulut ikan untuk membayar pajak seperti yang diperintahkan Yesus padanya. Petrus sangat terheran-heran ketika apa yang dikatakan Yesus sungguh terjadi. Sebagai Tuhan, Yesus memerintahkan seekor ikan yang sedang mengulum uang senilai 4 dirham bergerak untuk memakan umpan Petrus, dan semua itu dilakukan-Nya untuk memenuhi kewajiban yang tidak seharusnya dikenakan kepada Dia dan pengikut-Nya. Sungguh ajaib bukan? Sebagai Tuhan, Yesus tahu segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini dan Dia berkuasa memerintahkan apa saja untuk menjawab kebutuhan umat-Nya. Yesus yang disembah dan dipercaya oleh Petrus adalah Yesus yang sama yang saat ini kita sembah dan kita percaya, tetapi mengapa kita sering khawatir tentang hidup ini? Tentang makan, minum, pakaian, tempat tinggal, studi, pasangan hidup dan masa depan kita? Bukankah Dia telah lebih dulu mengetahui semua kebutuhan kita dan berkuasa mengatur yang terbaik bagi hidup kita? Bagian kita hanyalah taat dan melangkah manakala Yesus memerintahkan sesuatu kepada kita. Marilah kita berubah untuk lebih percaya lagi, dan menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada-Nya. Percayalah, bahwa Yesus tidak membiarkan kita sendirian menanggung beban hidup kita yang datang silih berganti. Kalau Yesus bisa memerintahkan seekor. Ikan untuk memberkati Petrus, maka Ia juga bisa memerintahkan banyak hal untuk menyelesaikan pergumulan hidup kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, terima kasih atas pemeliharaan-Mu pada ku sampai dengan saat ini. Ajarilah aku untuk senantiasa taat pada perintah-Mu, sebab Engkau lebih tahu apa yang terbaik bagiku dalam hidup ini. Tambahkanlah imanku agar aku percaya bahwa Engkau sanggup menyelesaikan setiap permasalahanku dengan cara-Mu yang ajaib. Amin. (Dod).
Sayadaw Kheminda melanjutkan pembahasan Kitab Buddhavamsa. Di kelas ini beliau menjelaskan makna setiap kata di Bab II Kitab Buddhavamsa Stanza 155 - 175 hanya berdasarkan Kitab Komentar.
Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 25 November 2025Bacaan: "Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong." (Mazmur 34:16) Renungan: Suatu hari dua murid Yesus sedang berjalan menuju Emaus. Mereka sibuk membahas apa yang sedang terjadi setelah Yesus wafat di kayu salib. Dalam perjalanan tersebut tiba-tiba Tuhan Yesus datang mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka, namun mereka tidak mengenal Dia. Sungguh sangat mengherankan bagaimana mungkin mereka berdua tidak mengenal Yesus, padahal baru 3 hari Yesus meninggalkan mereka. Rupanya ada sesuatu yang menghalangi mata mereka sehingga mereka tidak mengenal Tuhan Yesus. Sebagai murid yang ditinggal oleh gurunya, wajar bila mereka merasa ketakutan, sedih, kecewa dan hilang harapan. Rasa bingung dan putus asa itulah yang telah menutupi pandangan mereka sehingga mereka tidak mengenali Tuhan Yesus. Masalah yang menimpa kehidupan kita, bisa menghalangi kita memandang Tuhan. Tuhan seolah hilang dalam hidup kita. Kalau kita jauh dari Tuhan pun, Ia seolah terlihat kecil. Oleh sebab itu, selalulah berusaha untuk mendekat kepada Tuhan. Ketika kita terus mengarahkan pandangan kepada Tuhan, kita akan bertambah kuat. Sesungguhnya Tuhan tidak pernah menjauh, kita lah yang tidak setia. Tuhan selalu mengarahkan pandangan-Nya kepada kita anak-anak-Nya. Tuhan Yesus memberkati.Doa: Tuhan Yesus, ketika masalah silih berganti menerpa hidupku, terkadang aku tidak bisa melihat bahwa Engkau ada di sampingku. Bahkan aku sering merasa bahwa Engkau meninggalkan aku dan membiarkan aku menjalani hidup ini sendirian. Ampuni aku Yesus, karena kini kutahu bahwa Engkau adalah Allah yang setia, yang selalu ada untuk setiap orang yang senantiasa mencari Engkau. Yesus, Engkaulah andalanku. Amin. (Dod).
Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 23 November 2025Bacaan: "Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian." (2 Korintus 7:10)Renungan: Perjalanan hidup kita adalah seperti sebuah proses. Seperti sebuah benda yang begitu indah dan berharga mahal, harus melalui suatu proses yang tidak mudah: diolah, diremukkan dan dibentuk. Oleh karena itu kita harus melewati berbagai tekanan, kesulitan, masalah, penyakit dan juga penderitaan, dan kesemuanya itu terkadang membawa kita kepada dukacita. Namun bila kita mampu menguasai diri dan mengaturnya dengan baik, serta membiarkan tangan Tuhan bekerja dalam hidup kita, kehidupan kita akan menjadi luar biasa dan berbeda. Tuhan tidak menghendaki kita bersedih atau berduka karena masalah yang ada. Justru DIA ingin memakai dukacita yang kita alami ini sebagai sarana yang membawa kita pada sebuah kehidupan yang lebih baik lagi. Oleh karena itu firman-Nya mengatakan: "Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur." (Mat 5:4). Tidak semua bentuk dukacita dapat membawa kebaikan, hanya ketika kita membawa dukacita itu kepada Tuhan, maka dukacita itu akan menjadi suatu kebaikan bagi kita. Tanpa adanya perasaan dukacita dan penyesalan tidak akan pernah ada pertobatan. Dan tanpa pertobatan kitapun tidak akan pernah menerima anugerah pengampunan dan kasih karunia dari Tuhan. Mari kita bawa semua permasalahan dan kesulitan hidup ini kepada Tuhan; dan biarlah DIA yang menyelesaikannya dengan caraNYA dan bukan dengan cara kita. Tuhan Yesus memberkati.Doa:Tuhan Yesus, aku percaya melalui penderitaan dan permasalahan hidup ini, Engkau mau membentuk aku menjadi pribadi yang tegar dan tahan uji, seperti emas yang murni yang harus dibakar di perapian agar menjadi berharga. Kini kuserahkan semua beban hidupku pada-Mu, selesaikanlah semuanya dengan caramu dan bukan dengan caraku. Amin. (Dod).
Pembawa Renungan : Anastasia Sonia – Jakarta Pengantar Renungan : Kalvin Laia - Riau Sound Editing : Indah Larasati Sirait - Cibinong, Bogor Cover Editing : Anastasia Sonia – Jakarta Lukas 20: 27-40
Pembawa Renungan : Ali Antonius – YogyakartaPengantar Renungan : Theresia Adelina - Bekasi.Sound Editing : Indah Larasati Sirait - Cibinong, Bogor.Cover Editing : Anastasia Sonia – Jakarta. Lukas 19 : 45-48
Chagigah 25a: How were they Oleh LRegel from the Galil?
Pembawa Renungan: Alland Angelbarth Kewas – Surabaya Pengantar Renungan: Felixitas Sylvana Mutiarani- Bekasi Sound Editing: Alland Angelbarth Kewas – Surabaya |Cover Editing: Anastasia Sonia - Jakarta Luk. 19:41-44
Kencan Dengan Tuhan - Sabtu, 8 November 2025Bacaan: "Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati." (Roma 13:13)Renungan: Para konselor Florence meminta Leonardo da Vinci untuk menyerahkan skets dekorasi ruang pertemuan besar di Florence. Salah seorang konselor juga meminta Michelangelo seorang pelukis muda, untuk menyerahkan gambar juga. Skets Leonardo begitu baik dan sesuai dengan kejeniusannya. Namun ketika para konselor itu melihat skets Michelangelo, mereka begitu antusias. Berita itu sampai ke telinga Leonardo. Leonardo juga mendengar para konselor berkata, "Leonardo mulai tua." Pada akhirnya Leonardo tidak pernah mampu mengatasi rasa iri hatinya karena ketenarannya terancam oleh Micheangelo. Karena rasa iri hati itulah, sisa hidup Leonardo tidak pernah merasa bahagia. Apakah saat ini kita merasa iri hati dengan keberhasilan seseorang? Iri hati hanya akan membuat sukacita kita hilang, hidup menjadi penuh beban berat. Tuhan menciptakan manusia dengan rancangan yang berbeda satu dengan yang lain. Masing-masing pribadi diberi keunikan yang berbeda untuk menambah indahnya dunia ini. Satu dengan yang lain tidak ada yang sama. Oleh karena itu, terimalah diri apa adanya karena masing-masing dari kita berharga di mata Tuhan. Semakin kita menerima diri dan berserah, maka mutiara yang indah akan muncul dari dalam diri kita. Tuhan Yesus memberkati.Doa:Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk menjadi diriku sendiri. Jangan biarkan iri hati menguasaiku. Yakinkan aku bahwa aku berharga di mata-Mu, dan Engkau mempunyai rencana yang indah dengan kehadiranku yang berbeda dari orang lain. Amin. (Dod).
Tiga Golongan yang Tidak Diajak Bicara oleh Allah di Hari Kiamat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 13 Jumadil Awal 1447 H / 4 November 2025 M. Kajian sebelumnya: Menjauhi Syubhat dan […] Tulisan Tiga Golongan yang Tidak Diajak Bicara oleh Allah di Hari Kiamat ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.
Pdt. Wigand Sugandi (TB) Yohanes 3:6Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.
Pdt. Wigand Sugandi (TB) 1 Korintus 1:27Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,
Kencan Dengan Tuhan - Sabtu, 1 November 2025Bacaan: "Sebab barangsiapa malu karena Aku dan perkataan-Ku, Anak Manusia juga akan malu karena orang itu, apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan-Nya dan dalam kemuliaan Bapa dan malaikat-malaikat kudus." (Lukas 9:26)Renungan: Suatu ketika ada seorang petani membawa muatan gandum untuk digiling ke suatu kota tetangga. Dia berhenti di sebuah restoran dan duduk dekat sekelompok anak muda yang sedang berpesta sambil setengah mabuk. Ketika makanan pesanannya telah dihidangkan di depannya, orang tua itu menundukkan kepalanya dan berdoa. Sekelompok anak muda tersebut menertawakan apa yang dilakukan petani itu. Salah seorang dari mereka berteriak, "Hai, orang tua, apakah orang-orang di rumahmu selalu berdoa sebelum makan?" Dengan tenang orang tua itu berpaling ke arah anak muda itu, dan dengan suara yang keras ia menjawab, "Ya, anakku, kecuali hewan-hewan peliharaan di rumahku." Makanan jasmani adalah berkat yang Tuhan berikan kepada kita. Oleh karena itu patutlah kita mensyukurinya sebelum menyantapnya. Doa sebelum makan berguna untuk menguduskan setiap makanan dan minuman yang akan kita santap. Pernahkah kita makan di sebuah rumah makan atau restoran dan melihat di belakang pintu masuk ada benda semacam jimat yang digantung untuk melariskan makananan di tempat itu? Kalau kita pernah melihatnya, saat kita makan di tempat tersebut, itu artinya makanan di tempat itu sudah dicemari dan dinajiskan oleh kuasa kegelapan yang mereka minta dalam bentuk jimat-jimat penglaris. Oleh karena itu doa sebelum makan dibutuhkan untuk menguduskan kembali makanan tersebut dan ditutup dengan doa ucapan syukur sesudah makan. Yesus tidak pernah malu mengakui kita sebagai anak-Nya, oleh karena itu, kita pun tidak perlu malu untuk berdoa pada saat makan di tempat umum. Doa kita mendatangkan berkat bagi kesehatan jasmani dan juga rohani kita. Tuhan Yesus memberkati.Don:Tuhan Yesus, terima kasih atas makanan dan minuman yang Kau berikan padaku. Kuduskanlah setiap makanan dan minuman yang akan kusantap sepanjang hari ini, agar melalui rahmat pengudusan-Mu, Engkau akan memberikan kekuatan baru pada tubuh, jiwa dan rohku dalam menjalankan setiap tugasku sepanjang hari ini, Amin. (Dod).
Miriam Herschlag and Noah Efron talk about (1) the on-again-off-again fragility of the ceasefire, visiting death on both sides, and (2) whether or not Prime Minister Netanyahu's admirers have a point when they say that he steered us through the war just how he said he would, and managed to achieve things that matter. For our most unreasonably generous Patreon supporters, in our extra-special, special extra discussion: This week we celebrated Yom ha-Oleh, the National Day of the Immigrant. Miriam and Noah talk about the ups and downs of making a life here, after growing up there. Plus, the life (and death) of the last living Nokem, or avenger, a tiny group that set out after the war to kill ex-Nazis in great numbers. And Miriam's mother-in-laws pow-wow with the President on her 90th birthday. And some remarkable new music.
Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 31 Oktober 2025Bacaan: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus." (Matius 28:19)Renungan: Suatu ketika ada 4 orang yang berjalan melewati hutan. Tiba-tiba mereka sampai pada sebuah tembok yang tinggi. Berdasarkan kesepakatan, mereka mendirikan sebuah tangga untuk melihat apa yang ada di seberang sana. Ketika orang pertama naik dan melihatnya, dia bersorak kegirangan. Hal yang sama terjadi pada orang kedua dan ketiga. Ketika orang yang keempat menaiki tangga itu dan mencapai puncak tembok, dia tersenyum karena apa yang dilihatnya, taman yang hijau dan rimbun dengan pohon buah-buahan yang beraneka, sungai dengan ikan, binatang buas dan jinak yang begitu banyak. Seperti tiga teman lainnya, orang keempat itupun berusaha untuk melompat. Tetapi dia kemudian ingat akan keluarganya, teman-temannya dan tetangganya. Oleh karena itu dia pulang untuk berbagi berita gembira yang dia temukan itu dengan mereka. Banyak di antara kita yang mengalami kebaikan Tuhan, tetapi tidak berani untuk bersaksi tentang itu semua. Tuhan Yesus bersabda, "Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku." Ini adalah tugas perutusan Yesus pada kita untuk memberitakan kasih Tuhan kepada banyak orang yang belum mengenal-Nya. Oleh karena itu, apapun kebaikan Tuhan yang telah kita terima, Tuhan mau supaya kita menceritakannya kepada orang lain, agar orang lain pun diberkati dengan kesaksian hidup kita, sehingga nama Tuhan dimuliakan dan Kerajaan-Nya semakin meluas di dunia ini. Maukah kita bersaksi menceritakan kebaikan Tuhan kepada orang lain? Tuhan Yesus memberkati.Doa:Tuhan Yesus, lepaskanlah lidah yang kelu dari mulutku, agar aku mampu mewartakan kasih-Mu pada orang lain, terutama mereka yang belum mengenal Engkau. Urapilah mulut, bibir, lidah dan suaraku menjadi mulut, bibir, lidah dan suara-Mu sendiri, sehingga kehadiranku dapat membawa kebaikan bagi orang lain. Amin. (Dod).
Hai Tetangga Kesayangan! Pernah kebayang nggak sih, jadi anak artis tapi justru sempat nggak boleh terjun ke dunia hiburan?
Film pendek Leleng adalah film terbaik dari kategori animasi, dari lomba film pendek ReelOzInd 2025. Film tersebut beserta film-film terbaik lainnya ditayangkan pada tanggal 23 Oktober di ACMI, Melbourne.
Kencan Dengan Tuhan Sabtu, 25 Oktober 2025Bacaan: Yesaya 52:7 "Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: "Allahmu itu Raja!" Renungan: Lima belas tahun lalu tepatnya tanggal 25 Oktober 2010 setelah saya membeli handphone blackberry second, Tuhan menggerakkan saya untuk mengirim doa pagi untuk murid-murid, orang tua murid dan juga teman-teman yang juga memakai blackberry. Tujuan saya hanya sederhana, yaitu supaya saya dan mereka bisa meluangkan waktu beberapa menit untuk menyapa Tuhan. Setelah beberapa hari ada seorang murid yang memberikan komentar, "Pak Doddy, kenapa hanya doa pagi saja. Kenapa bapak gak buat satu paket, ada bacaan, renungan singkat dan doa singkat, sehingga kita bisa baca lengkap tiap hari." Kemudian saya pun memulai untuk mewujudkan usulan murid saya tersebut. Setiap hari dalam perjalan pulang pergi ke sekolah, di sekolah atau saat bertemu teman-teman, kalau ada kejadian menarik saya selalu tulis menjadi sebuah renungan harian yang saya beri nama "Kencan Dengan Tuhan". Terkadang kalau saya sedang kumpul dengan teman-teman dan kalau ada hal menarik, ada saja teman yang berkata, " Wah, hati-hati nih, besok bisa masuk Kencan Dengan Tuhan." Seiring berjalannya waktu saya pun mulai membeli buku-buku cerita singkat mengenai kehidupan yang menginspirasi dan sebagainya. Melalui kisah itu saya mengemas menjadi renungan singkat. Ternyata tanpa saya sadari ada banyak orang yang terberkati dengan renungan Kencan Dengan Tuhan. Banyak orang-orang baik hati yang Tuhan pilih menjadi kurir-kurir-Nya untuk juga menyebarkan renungan tersebut, sampai akhirnya pada tanggal 30 April 2021 melalui orang-orang yang baik, saya mendapatkan Rekor Indonesia Muri sebagai penulis naskah harian Kencan Dengan Tuhan. Tidak terasa hari ini sudah 15 tahun Kencan Dengan Tuhan menemani hari-hari banyak orang untuk memberi makanan bagi rohani mereka. Kita adalah kurir Tuhan. Sebagai kurir Tuhan yang baik, kita harus membawa sesuatu yang baik dalam diri kita. Sesuatu yang baik itu adalah firman Tuhan, bukan gosip, fitnah, cemoohan, berita dusta atau kata-kata yang menjatuhkan. Firman Tuhan akan menghibur, menguatkan dan menasihati orang, tetapi gosip dan "teman-temannya" tersebut akan menghancurkan orang. Sebagai kurir Tuhan yang baik, kita harus memastikan menjaga firman Tuhan itu hingga sampai kepada setiap orang. Kadang firman Tuhan ditolak gara-gara sang kurir yang berkelakuan buruk, sekalipun firman yang dibawanya adalah benar. Oleh sebab itu, mari, apa yang sudah ditanamkan dalam diri kita, yaitu karakter yang baik, kita wujudkan dalam sikap hidup dan perbuatan nyata sehari-hari. Saya sudah berusaha menjadi kurir Tuhan walau harus jatuh bangun. Kini saya mengajak kita semua yang setia membaca Kencan Dengan Tuhan, untuk juga menjadi kurir-kurir rohani sehingga banyak jiwa dibawa semakin dekat pada Tuhan. Terima kasih untuk kesetiaannya membaca renungan Kencan Dengan Tuhan selama 15 tahun ini. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, urapilah mulut, bibir, lidah dan suaraku dengan kuasa-Mu, agar setiap pemberitaan firman yang kusampaikan dapat diterima oleh setiap orang, sehingga mereka mendapatkan kelepasan, kesembuhan dan kelegaan. Perbaharui juga karakterku, agar melalui kehadiranku, nama-Mu semakin dimuliakan. Amin. (Dod).
Puisi Spiritual Api Cintaku Kepada Tuhan Semesta Alam oleh Ibunda Rabia Al-Basri Dari Basra, Irak.Rabia al-Basri (Rabi‘ah al-‘Adawiyyah al-Qaysiyyah, w. ±801 M) adalah sufi wanita besar dari Basra, Irak, yang dikenal sebagai tokoh pertama dalam sejarah tasawuf yang memperkenalkan konsep cinta ilahi (mahabbah ilahiyyah) — mencintai Allah bukan karena takut neraka atau mengharap surga, tetapi semata karena cinta kepada-Nya.Puisi-puisi beliau tidak banyak tertulis langsung dalam bentuk kitab yang disusun oleh dirinya sendiri, tetapi terekam dalam karya para sufi dan sejarawan seperti Fariduddin Attar, Abu Talib al-Makki, dan Ibn al-Jawzi.
Trivita Tiffany memberanikan diri untuk menggubah puisi sang Ayah menjadi film pendek, dengan nama yang sama. Oleh karenanya dia mengikuti lomba film pendek ReelOzInd 2025. Menuamgkan suatu puisi ke dalam film pendek bukanlah hal yang mudah. Apalagi dia harus menciptakan film tersebut sesuai dengan tema yang berlaku yaitu ‘imajinasi'.
Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 24 Oktober 2025Bacaan: "Mulut orang benar mengeluarkan hikmat, tetapi lidah bercabang akan dikerat. Bibir orang benar tahu akan hal yang menyenangkan, tetapi mulut orang fasik hanya tahu tipu muslihat." (Amsal 10:31-32) Renungan: Pujian yang tulus dan benar akan menguatkan dan membangun orang yang menerimanya. Semua orang suka dan ingin menerima pujian, tetapi tidak banyak orang yang suka memberi pujian, karena pada dasarnya manusia lebih suka berpikir akan kebaikan dan kehebatan dirinya sendiri dan senang dengan kejelekan orang lain. Ia ingin merasa lebih berharga dari orang lain. Mereka berpikir bahwa berharga itu berarti lebih baik dari orang lain, sehingga tanpa disadari mereka suka menjelek-jelekkan orang lain untuk menaikkan harga dirinya sendiri. Padahal akan selalu ada orang yang lebih baik dari kita. Kita berharga bukan karena kita lebih baik dari orang lain, tetapi karena Tuhan menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya, dan karena Dia memberikan harga kepada kita seharga nyawa Tuhan Yesus sendiri yang telah dibuktikan-Nya dengan rela mati buat kita. Di luar Kristus kita tidak punya harga sama sekali. Sesungguhnya memberi pujian tidak hanya menguntungkan orang yang menerimanya, tetapi juga orang yang memberikan pujian. Memberi pujian melatih diri kita untuk berpikir positif bukan negatif: membuat kita belajar untuk memerhatikan orang lain serta menjauhkan kita dari kesombongan. Oleh karena itu marilah dengan rendah hati kita mengakui kelebihan dan kebaikan orang lain, dengan cara memberikan pujian yang tulus kepada mereka yang layak menerimanya. Tuhan Yesus memberkati.Doa: Tuhan Yesus, kuduskan mata dan pikiranku agar aku dapat melihat dan berpikir hal yang baik tentang orang lain dan kuduskan juga hati dan mulutku agar aku mampu mengakui dan mengatakan kebaikan mereka dengan tulus. Amin. (Dod).
Pembawa Renungan : Primona Valentina Tarihoran – Jakarta Pengantar Renungan : Marni Dominika Oenunu - Kupang Sound Editing : Indah Larasati Sirait - Cibinong, Bogor Cover Editing : Anastasia Sonia – Jakarta Luk. 12:39-48
Pembawa Renungan : Ima Kristanti - Kota Batu Pengantar Renungan : Carlos - Surabaya Sound Editing : Aris Kurniawan - Jakarta Cover Editing : Anastasia Sonia - Jakarta Luk. 12:35-38
Pembawa Renungan: Cynthia Carolina - Jakarta Pengantar Renungan: Yuniarti Yosepa - Jakarta Sound Editing: Aris Kurniyawan - Jakarta Cover Editing: Anastasia Sonia - Jakarta Luk 12:13-21
Pembawa Renungan : RP. Petrus Santoso, SCJ Macau Luk. 11:47-54
Daily Halacha Podcast - Daily Halacha By Rabbi Eli J. Mansour
After waking in the morning, a person is not permitted to learn Torah before reciting Birkot Ha'Torah. As we saw in earlier installments, however, this applies only to learning verbally. Merely thinking Torah in one's mind, without speaking, is allowed before reciting Birkot Ha'Torah in the morning. (We saw, though, that reading a Torah book, even silently, might require the recitation of Birkot Ha'Torah.) Intuitively, we might assume that silently listening to a Torah lecture should be no different than silently thinking about Torah. Seemingly, then, if a person attends a Torah class in the synagogue early in the morning, he does not need to first recite Birkot Ha'Torah. However, the Halachot Ketanot (Rav Yisrael Yaakob Hagiz, 1680-1757) rules that listening to a Torah class differs from thinking about Torah in this regard. He applies to this situation the famous Halachic principle of "Shome'a Ke'oneh" – that listening to the recitation of a text is akin to reciting it oneself. Thus, for example, every Shabbat, one person recites Kiddush, and everyone else at the table fulfills his obligation by listening to the recitation. Accordingly, people who listen to a Torah class are considered to be saying the words spoken by the teacher. Hence, listening to a Torah class is akin to verbally speaking words of Torah, and requires the recitation of Birkot Ha'Torah. Hacham Ovadia Yosef brought proof to this theory from the Gemara's inference of the Birkot Ha'Torah obligation from a verse in the Book of Debarim (32:3). The Gemara in Masechet Berachot (21a) cites as the Biblical source of this requirement the verse, "Ki Shem Hashem Ekra, Habu Godel L'Elokenu" – "When I call the Name of G-d, give praise to G-d." Moshe here was announcing that when he teaches Torah, the people should recite a blessing. Thus, the very source of Birkot Ha'Torah is a situation where people recite a Beracha before listening to words of Torah, clearly implying that even silently listening to a Torah lecture requires the recitation of Birkot Ha'Torah. This is the ruling also of the Ben Ish Hai (Rav Yosef Haim of Baghdad, 1833-1909). Although several Poskim (including the Lebush and Hida) disagree, Halacha follows the opinion of the Halachot Ketanot. Therefore, those who attend a Torah class early in the morning must ensure to first recite Birkot Ha'Torah. Some addressed the question of how to reconcile the Halachot Ketanot's reasoning with the ruling of the Rosh (Rabbenu Asher Ben Yehiel, 1250-1327) that the person who receives an Aliya to the Torah must read along with the Ba'al Koreh (reader). Fundamentally, the obligation to read is upon the Oleh (person who was called to the Torah); the Ba'al Koreh reads the Torah on his behalf. Seemingly, the rule of "Shome'a Ke'oneh" should allow the Oleh to silently listen to the reader and thereby discharge his obligation. Indeed, the Peri Hadash (Rav Hizkiya Da Silva, 1659-1698) disputed the Rosh's ruling, and maintained that the Oleh does not need to read together with the reader. Halacha, however, follows the Rosh's ruling. If, as the Halachot Ketanot writes, listening to words of Torah is akin to reciting them, then why must the Oleh read along with the Ba'al Koreh? Several explanations were given for why the congregational Torah reading might be different, and is not subject to the rule of "Shome'a Ke'oneh." One theory is that "Shome'a Ke'oneh" applies only when there is a general obligation to recite a certain text. The congregational Torah reading is an obligation upon the congregation as a whole, and not on any particular individual, and it therefore is not included in the rule of "Shome'a Ke'oneh." Others explain that since the original format of Torah reading was that the Oleh reads the text, and the concept of a Ba'al Koreh was introduced later, the Oleh is required to read along, to preserve the initial arrangement. Yet another answer is that the rule of "Shome'a Ke'oneh" does not allow for one person to recite the Beracha over a Misva and another person to perform the Misva. On Purim, for example, the one who reads the Megilla for the congregation also recites the Beracha. Never does someone from the congregation recite the Beracha, and then the Ba'al Koreh reads the Megilla. Therefore, the Oleh cannot recite the Beracha and then fulfill his obligation by listening to the Ba'al Koreh's reading. Interestingly, Rav Shlomo Kluger (1785-1869) asserted that this Halacha regarding Birkot Ha'Torah before listening a Torah class hinges on a debate among the Rishonim regarding a different issue. It often happens that somebody is still in the middle of the Amida prayer when the Hazzan begins the repetition, and reaches Nakdishach. Common practice follows the view of Rashi, that the person in this situation should stop and listen silently to Nakdishach in order to fulfill this Misva. Rabbenu Tam (France, 1100-1171), however, disagreed with this ruling, arguing that in light of the principle of "Shome'a Ke'oneh," listening to Nakdishach in the middle of the Amida would constitute a Hefsek (forbidden interruption) in the Amida. This is no different than reciting Nakdishach in the middle of the Amida, which is of course not allowed. Seemingly, Rav Kluger writes, the ruling of the Halachot Ketanot, that listening to Torah is akin to speaking Torah, follows the view of Rabbenu Tam, that "Shome'a Ke'oneh" actually equates listening to speaking. According to Rashi, listening is not precisely the same as speaking, which is why he permits listening to Nakdishach during the Amida. By the same token, it would seem that Rashi would not require reciting Birkot Ha'Torah before listening to a Torah lecture. The question, then, becomes why we follow Rashi's opinion regarding listening to Nakdishach during the Amida, but we accept the Halachot Ketanot's ruling regarding Birkot Ha'Torah. These two rulings seem to contradict one another – as the first presumes that listening is not precisely like speaking, whereas the second presumes that listening is equivalent to speaking. Hacham Ovadia answers that when a person is reciting the Amida as the congregation reaches Nakdishach, he wants to fulfill the Misva of reciting Nakdishach, but he also does not wish to interrupt his Amida. Halacha therefore allows him to listen to Nakdishach – such that he will be credited with this Misva – without being considered in violation of disrupting the Amida. Since the person seeks to perform the Misva, an exception is made to allow him to do so. Even Rashi agrees that listening is equivalent to speaking, but in the specific instance where a person recites the Amida and hears Nakdishach, special permission is given to listen to Nakdishach. Hacham Ovadia cites in this context the Gemara's teaching (Kiddushin 39b) that a person's intention to transgress a sin is disregarded if he ends up being unable to commit the forbidden act. A person's thoughts are discounted as far as Halachic violations are concerned, and thus one cannot be considered guilty of disrupting his Amida by silently listening to Nakdishach. Another question that was asked regarding the Halachot Ketanot's ruling is whether the speaker and audience must have specific intention for "Shome'a Ke'oneh" to take effect. During Kiddush, the person reciting Kiddush must have in mind that his recitation will be effective in satisfying the listeners' obligation, and they must likewise intend to fulfill their obligation by hearing his recitation. Seemingly, then, if listening to a Torah class is akin to speaking words of Torah due to the principle of "Shome'a Ke'oneh," this should depend on whether or not the speaker and audience have this specific intention. However, Hacham Ovadia Yosef, in his Yabia Omer (vol. 4, addendum to #8), writes that this specific intention is not necessary, and he draws proof to the fact that Torah study marks an exception to the general rule. The Gemara in Masechet Sukka (38) infers the principle of "Shome'a Ke'oneh" from the story of King Yoshiyahu, before whom a man named Shafan read the Torah, and Yoshiyahu was considered to have read it himself. There is no mention of either Yoshiyahu or Shafan having specific intention that Yoshiyahu should be considered to have read the text – indicating that such intention is not necessary. Although in general "Shome'a Ke'oneh" requires the intention of both the speaker and listener, Torah study marks an exception, where such intention is not needed for "Shome'a Ke'oneh" to take effect. Rav Yisrael Bitan offers two possible explanations for this distinction, for why the mechanism of "Shome'a Ke'oneh" does not require Kavana (intent) in the context of Torah study, but it does in the context of all other Misvot. First, the primary method of Torah learning is through a teacher and listeners; this is the most common way that Torah is studied. Therefore, the listeners fulfill their obligation by listening without having to create a connection to the speaker through Kavana. Alternatively, one could say that in the case of Torah learning, the intent is present by default. When a Rabbi or teacher stands up before a room to teach Torah, everyone's intention is clearly to fulfill the Misva of Torah learning, and there is no need to consciously think this. The fundamental difference between these two explanations is that according to the first, Kavana is not necessary for "Shome'a Ke'oneh" to take effect when teaching Torah, whereas according to the second, Kavana is necessary, but it is presumed even without consciously having it in mind. These different perspectives will affect the fascinating question of whether a distinction exists between attending a Torah class and listening to a recording. According to the first explanation, listening to Torah is equivalent to speaking Torah even without Kavana, and this would be true even when listening to a recording of a Torah class. According to the second approach, however, Kavana is necessary for the listener to be considered to be speaking, and the speaker and listener are presumed to have this intent – and thus this would not apply in the case of a recording. When listening to a recording, there is no speaker to supply the Kavana, and thus the listener is not considered to be speaking the words. It would then follow that one would not be required to recite Birkot Ha'Torah before listening to a recorded Torah class in the morning. For example, if a person wishes to listen to a Torah class as he makes his way to the synagogue in the morning, he would not – according to this second explanation – be required to first recite Birkot Ha'Torah. In practice, however, as this matter cannot be conclusively determined one way or another, we must be stringent and recite Birkot Ha'Torah even before listening to a recorded Torah class. Therefore, one who wishes to hear a Torah class in the morning – either in person or a recording – must first recite Birkot Ha'Torah and the verses of Birkat Kohanim beforehand. Summary: One who wishes to hear a Torah class in the morning – either in person or a recording – must first recite Birkot Ha'Torah and the verses of Birkat Kohanim beforehand.