Kencan Dengan Tuhan

Follow Kencan Dengan Tuhan
Share on
Copy link to clipboard

Renungan harian Katolik dengan merefleksikan ayat Kitab Suci. Renungan ini disusun oleh Bapak Dodi Albertus dan telah lama viral di jagat WA Grup, kini hadir dalam media audio digital. selamat mendengarkan. Untuk kritik dan saran dapat dikirimkan ke email kencandengantuhan@gmail.com

Danang Kurniawan


    • Aug 12, 2026 LATEST EPISODE
    • daily NEW EPISODES
    • 5m AVG DURATION
    • 2,294 EPISODES


    Search for episodes from Kencan Dengan Tuhan with a specific topic:

    Latest episodes from Kencan Dengan Tuhan

    Edisi Hari Kamis, 13 Agustus 2026 - Menyediakan waktu dan kehadiran untuk Tuhan

    Play Episode Listen Later Aug 12, 2026 5:25


    Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 13 Agustus 2026Bacaan: "Maka Engkau akan memanggil, dan aku pun akan menyahut; Engkau akan rindu kepada buatan tangan-Mu." (Ayub 14:15)Renungan: Seorang ayah dan putrinya memiliki hubungan yang sangat dekat dan mereka menghabiskan banyak waktu bersama-sama. Lalu suatu hari, si ayah melihat perubahan dalam perilaku putrinya. Jika ia mengajaknya pergi berjalan-jalan, putrinya menyampaikan berbagai alasan untuk tidak pergi. Jika la menawari untuk mentraktir es krim di sebuah toko soda dekat rumah, putrinya menolak tawaran itu, namun mendorong si ayah untuk pergi sendiri. Jika si ayah berkata ia hendak pergi mengantarkan sesuatu ke luar kota dan mengajak putrinya itu untuk turut serta, dimana sebelumnya hal ini adalah sebuah kegiatan yang sangat disukai putrinya, maka kini putrinya itu memberi suatu alasan mengapa ia tak bisa pergi. Si ayah sangatlah bersedih hati karena kini putrinya itu sudah tidak mau menemaninya lagi, dan walaupun ia seringkali menyelidiki hati dan ingatannya, berusaha untuk mencari suatu kejadian yang mungkin telah merusak hubungan mereka, tetap saja ia tak dapat menemukan alasan bagi perilaku putrinya yang mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Suatu hari saat ulang tahunnya tiba, putrinya dengan bangga datang menghampiri sang ayah dan menghadiahinya sepasang sandal sulam yang cantik, sambil berkata, "Aku membuatnya sendiri, khusus untuk Ayah." Saat itulah, ia mengerti di mana putrinya berada selama tiga bulan terakhir. la berkata kepada putrinya, "Sayangku, aku sangat menyukai sepasang sandal sulam ini, tapi lain kali, biarlah aku membeli saja sandal sulam agar aku dapat menghabiskan bersamamu semua waktu yang kaugunakan untuk membuatnya. Karena, aku lebih senang berada bersamamu dari pada apa pun yang dapat kaubuat untukku." Demikian pulalah halnya dengan Bapa Sorgawi kita. la jauh lebih menyukai kehadiran kita, daripada pekerjaan atau perbuatan baik apa pun yang kita persembahkan kepada-Nya. Melayani pekerjaan Tuhan adalah suatu kegiatan yang sangat baik, menghadiri pertemuan-pertemuan ibadah memang harus dilakukan, namun jangan sampai semua hal yang tampaknya baik itu, membuat kita kehilangan waktu untuk bersekutu secara pribadi dengan Bapa Sorgawi kita, karena Dia jauh lebih menginginkan dan merindukan kehadiran kita dibandingkan dengan hal-hal baik yang dapat kita perbuat bagi-Nya. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, jamahlah hatiku agar aku mau menyediakan waktuku yang terbaik untuk kuberikan pada-Mu dalam doa dan penyembahan ku. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Rabu, 12 Agustus 2026 - Melakukan yang terbaik dalam setiap pekerjaan

    Play Episode Listen Later Aug 11, 2026 5:10


    Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 12 Agustus 2026Bacaan: "Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya." (Kolose 3:23-24)Renungan: Andre mendapat pekerjaan di sebuah toko bahan makanan. Suatu hari seorang pelanggan memasuki toko itu dan setelah membeli beberapa buah, lalu berbisik kepada Andre, "Berilah kepadaku beberapa buah lagi! Karyawan yang dahulu di sini, biasa melakukannya untuk mendapatkan uang persenan." "Tidak," kata Andre, "Saya tidak bisa melakukannya, atasanku tidak akan memperbolehkannya." "Tapi," kata orang itu, "Atasanmu tidak ada di sini." "Oh, dia ada," kata Andre, "Tuhan selalu ada di sini dan mengawasiku. Dialah atasanku." Bagaimanakah sikap kita dalam bekerja? Apakah kita hanya bekerja dengan baik bila atasan kita ada di kantor atau hanya bila kita sedang diawasi? Bila kita menyadari bahwa atasan kita adalah Tuhan, dan pimpinan ataupun perusahaan tempat kita bekerja hanyalah alat yang dipakai Tuhan untuk memberkati kita, maka sikap kita adalah:Pertama, melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya, seolah untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Bila kita menyadari bahwa Tuhan adalah pimpinan kita, akankah kita memberikan kepada Raja di atas segala raja itu hasil yang buruk? Tentu tidak bukan? Sebaliknya, kita akan mempersembahkan karya kita yang terbaik. Kita akan berusaha sekuat tenaga untuk menyenangkan hati-Nya.Kedua, bekerja dengan kejujuran atau integritas. Meskipun atasan kita tidak ada di tempat, tidak mengawasi, kita akan tetap bekerja dengan jujur, bertanggung jawab, dan bersemangat. Namun kebanyakan yang terjadi justru sebaliknya, ketika atasan kita keluar kantor, kita merasa merdeka karena sang mandor tidak lagi mengawasi kita. Mari mulai saat ini kita belajar untuk memiliki kebiasaan dan sikap yang baik dalam bekerja, mari menjadikan Tuhan sebagai atasan kita. Karena manusia, baik itu pimpinan ataupun atasan kita, bisa saja mengecewakan kita, namun Tuhan tidak pernah mengecewakan kita, Dia akan selalu memberikan upah yang terbaik bagi kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, Terima kasih untuk kesempatan sekolah dan bekerja yang Kau izinkan aku jalani. Bantulah aku agar aku dapat menjalankannya dengan baik, sehingga semuanya dapat berguna untuk kemuliaan nama-Mu. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Selasa, 11 Agustus 2026 - Tetap Percaya padaNya dan Jangan Menyerah

    Play Episode Listen Later Aug 10, 2026 5:18


    Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 11 Agustus 2026Bacaan: "Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu akan dibukakan." (Lukas 11:10)Renungan: Pernahkah kita menyaksikan sebuah film yang berjudul 'Door to Door'? Door to Door adalah sebuah film yang menceritakan tentang sebuah kisah nyata dari seseorang yang bernama Bill Porter, seorang tokoh besar yang memulai bisnisnya dari nol. Sejak lahir Bill Porter terkenal mempunyai penyakit cerebral palsy, yaitu sebuah penyakit yang mengakibatkan gangguan pada fungsi tangan kanan, jalan terpincang, sulit bicara dan kadang meneteskan air liur saat berbicara. Meskipun demikian, ia memiliki semangat hidup yang tinggi, yang terlihat saat ia melamar kerja di The Watkins sebagai seorang salesman. Melihat kondisi Porter yang jauh dari kondisi normal, tentu saja pimpinan Watkins menolaknya. Namun, Porter tidak menyerah begitu saja. la malah meminta ditempatkan di daerah yang tidak diinginkan salesman lainnya, dan berkata, "Apa ruginya bagi anda jika memberi saya daerah yang tidak berpotensi?" Berkat kegigihan Porter, akhirnya ia diterima di The Watkins, dan pada awalnya benar-benar ditempatkan di daerah yang tidak memiliki potensi sama sekali untuk menghasilkan penjualan. Bill Porter awalnya mengalami jalan buntu, beberapa kali ia ditolak oleh para calon pembeli, namun, ia terus berusaha dan terus berusaha. Akhirnya dengan bermodalkan semangat pantang menyerah, ketekunan Bill Porter tidak sia-sia, sedikit demi sedikit ia mulai menghasilkan penjualan dan tidak hanya itu, pada akhirnya ia bahkan menerima penghargaan Best Salesman of The Year dari The Watkins. Bagaimana mungkin, di industry yang membutuhkan keterampilan berbicara, seseorang yang jalannya pincang, dan seringkali meneteskan air liur saat berbicara, justru dapat menjadi pemenang dan mengalahkan berpuluh-puluh orang normal lainnya? Hal itu karena semangat pantang menyerah dan kegigihan untuk menghasilkan yang terbaik. Bagaimana dengan kita? Ketika doa kita tidak kunjung dijawab Tuhan, ketika saat ini kita belum mendapatkan pekerjaan, atau banyak penolakan yang kita terima, bagaimanakah sikap kita? Apakah kita terlalu cepat menyerah sebelum mendapatkan apa yang kita inginkan? Firman Tuhan mengingatkan kita untuk terus meminta, mencari, dan mengetok. Itu bukanlah pekerjaan yang dilakukan hanya sekali atau dua kali, tapi berkali-kali sampai mukjizat terjadi. Jadi jangan berhenti mengetuk sampai pintu dibukakan bagi kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, tambahkanlah imanku, agar ketika apa yang kudapat tidak seperti yang kuinginkan, aku tetap percaya bahwa semua itu pasti akan membawa kebaikan bagiku. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Senin, 10 Agustus 2026 - Hati yang terpaut pada Tuhan

    Play Episode Listen Later Aug 9, 2026 4:48


    Kencan Dengan Tuhan - Senin, 10 Agustus 2026Bacaan: Kata perempuan Samaria Itu kepada-Nya, "Bagaimana mungkin Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang perempuan Samaria?" Adapun orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria." (Yohanes 4:9)Renungan: Suatu ketika seorang bernama jo menceritakan masa lalunya dan bagaimana Kristus mengubah hidupnya. Ia adalah seorang pria yang suka berkelahi, berbicara kasar, mabuk-mabukan dan suka menyeleweng. Akibatnya, semua orang malas berhubungan dengannya. Istrinya hampir minta cerai karena tak tahan dengan kelakuannya. Jo lalu bertemu satu orang saat makan di warung dan mereka berbicara cukup lama. Orang ini bersaksi tentang Yesus dan imannya. Jo terbuka dengan Injil, belajar Alkitab, dan dibaptis. Seiring dengan pertumbuhan imannya, Jo mulai berbicara dengan sopan, mampu mengendalikan emosi, dan mengasihi istrinya. Sering kali orang yang kita sangka tertutup dan menolak pewartaan Injil, ternyata sangat terbuka untuk menerima pewartaan Injil tersebut. Pada zaman Yesus, laki-laki tidak berbicara kepada perempuan di depan umum, terutama seorang Rabi. Orang Samaria dibenci orang Yahudi karena beberapa alasan. Perempuan Samaria yang diajak bicara oleh Yesus adalah orang bermasalah, hatinya telah mengalami banyak penderitaan. Orang-orang melihat perempuan ini sebagai sosok yang harus dihindari. Yesus melihatnya sebagai sosok yang harus diperhatikan dan dikasihi. Hasilnya, bukan hanya perempuan ini percaya kepada Yesus, tapi banyak orang Sikhar menerima pewartaan Injil yang disampaikan wanita tersebut. Yesus adalah Sang Pembuka Mata. Marilah kita menjadi seperti Yesus. Kita tahu ada orang yang hidupnya berantakan, buruk kelakuannya dan dijauhi banyak orang. pandanglah mereka seperti Yesus memandang kita. Mari sediakan waktu untuk menemui dan berbicara dengan mereka, lakukan tindakan kasih sesuai kebutuhan mereka, dan mohonlah kepada Tuhan untuk menjamah hati mereka sehingga hidup mereka bisa berubah dan berbuah. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, bukalah hatiku agar hatiku selalu terpaut pada-Mu, sehingga apa yang kupikirkan, kurasakan, ku katakan dan kuperbuat sesuai dengan kehendak-Mu. Amin. (Dod).

    Edisi Hari MInggu, 9 Agustus 2026 - Hati yang terarah pada Tuhan

    Play Episode Listen Later Aug 9, 2026 4:08


    Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 9 Agustus 2026Bacaan: Jawab Hizkia kepada Yesaya, "Sungguh baik firman TUHAN yang engkau ucapkan itu!" Namun, pikirnya, "Asal ada damai dan keamanan seumur hidupku!" (2 Raja-raja 20:19)Renungan: Hizkia mendapat takhta kerajaan Israel di usia yang terbilang muda, 25 tahun. la "berperilaku" baik dibanding dengan raja-raja yang pernah memerintah sebelumnya. la takut akan Tuhan dan berusaha membawa umat Israel kembali hidup di jalan Tuhan. la melakukan banyak pembaruan radikal dan menghidupkan kembali berbagai perayaan yang bertahun-tahun terlupakan. Hingga suatu ketika Hizkia sakit keras dan ia dinubuatkan akan mati. la pun berseru-seru kepada Tuhan memohon belas kasihan-Nya. Doanya dijawab. Tuhan menyembuhkannya, menambah masa hidupnya 15 tahun lagi. Selama 15 tahun itu pula Tuhan membuat kerajaannya begitu kuat dan disegani. Sayang, semua ini membuat Hizkia berubah menjadi tinggi hati. Tujuan hidupnya tidak lagi memuliakan Tuhan, sebaliknya mencari pujian bagi dirinya sendiri. la lupa diri bahwa semua pencapaiannya adalah berasal dari Tuhan. Hati manusia memang rentan berubah karena sebuah situasi. Ketika dalam situasi tertekan, ia tampak mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Hatinya dilimpahi sukacita besar karena semua pertolongan dan berkat Tuhan. Namun, betapa sulitnya menjaga hati tetap murni. Jika tidak waspada, hati lambat laun berubah. Jika tidak waspada, hati mudah terbuai oleh pujian orang-orang di sekitarnya. Jika sudah demikian, ia pun mulai lupa diri dan lupa kepada Tuhan. Semua pencapaian yang diperolehnya pun diakui sebagai usaha pribadi dan bukan lagi karena berkat dari Tuhan. Dari lupa diri ia menjadi keras hati. Setiap teguran firman Tuhan yang berusaha mengingatkannya pun tidak lagi dihormatinya. Jika sudah begini, ia tak lama lagi pasti direndahkan. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, jagalah hatiku agar senantiasa terarah pada-Mu saja. Jangan biarkan godaan dunia membelokkan hatiku kepadanya agar damai-Mu senantiasa ada padaku. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Sabtu, 8 Agustus 2026 - Selalu Andalkan Tuhan

    Play Episode Listen Later Aug 7, 2026 5:18


    Kencan Dengan Tuhan - Sabtu, 8 Agustus 2026Bacaan: "Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melintasi sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau au tidak akan dihanguskan, nyala api tidak akan membakar engkau." (Yesaya 43:2)Renungan: Untuk menghasilkan sebuah biola yang berkualitas dibutuhkan serangkain proses yang tidak mudah. Sang seniman awalnya memilih potongan kayu yang halus. Kemudian ia memulai memahat bagian depan dan belakang hingga memperoleh ketebalan yang diinginkan. Setelah itu, ia mulai membengkokkan dan menekan kayu itu. Seniman itu tahu persis seberapa kuat tekanan yang dibutuhkan agar kayu itu menjadi alat musik yang indah. Setelah selesai, ia pun menggoreskan inisial namanya di bagian belakang untuk menyempurnakan biola ciptaannya itu. Demikianlah Tuhan membentuk dan memproses hidup umat pilihan-Nya itu. Sekalipun umat itu harus dibawa Tuhan dan berjalan melewati tempat-tempat yang menyakitkan, tetapi Tuhan memberi jaminan bahwa semua itu tidak akan "mematahkan" hidup mereka. Umat Israel harus melewati air dan sungai, tetapi Tuhan berjanji menyertai mereka sehingga sungai pun tak akan menghanyutkan. Bahkan jika mereka melewati api, mereka tidak akan dihanguskan. Tuhan tahu persis seberapa kuat kita sanggup menanggung beban ketika kita ditekan, dibengkokkan, walaupun kita sendiri merasa seolah tak mampu memikulnya. Tuhan tidak akan membiarkan hidup kita rusak. Setiap tekanan yang kita lewati hanyalah bagian proses penyempurnaan dan setelahnya la menuliskan nama-Nya pada hidup kita. Kita adalah karya-Nya yang mulia. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, terima kasih untuk setiap masalah kehidupan yang aku terima. Dulu aku begitu rapuh. Tapi ketika hidupku semakin dekat pada-Mu, aku menjadi mengerti bahwa ketika aku mengandalkan-Mu saja, maka semua akan baik-baik saja. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Jumat, 7 Agustus 2026 - Mendidik Sesuai Jalan Tuhan

    Play Episode Listen Later Aug 6, 2026 5:12


    Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 7 Agustus 2026Bacaan: "Mengapa engkau memandang rendah kurban sembelihan dan kurban sajian-Ku yang telah Kuperintahkan di kediaman-Ku? Mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih daripada-Ku, dan kamu sekalian menggemukkan diri dengan bagian terbaik dari setiap persembahan umat-Ku Israel?" (1 Samuel 2:29)Renungan: Seringkali terjadi bahwa orang tua yang terobsesi dengan kebahagiaan anaknya bisa jadi justru sedang menjadikan anak-anak mereka bertumbuh menjadi orang dewasa yang tidak bahagia. Tidak sedikit anak begitu dimanja dan dan tidak dibekali untuk menghadapi dunia nyata. Bahkan ketika anak-anak itu berbuat salah, orang tua lebih banyak menutup mata dan lalai dalam menegakkan disiplin dengan alasan perasaan sayang. Hari ini kita mendengar bagaimana Tuhan menegur dengan keras Imam Eli. la ditegur berkaitan dengan tindakan kedua anaknya yang jahat. Pembiaran yang dilakukan Imam Eli ini disamakan dengan tindakan yang tidak menghormati Tuhan. Dari buah perbuatan Hofni dan Pinehas, kita dapat menyimpulkan didikan seperti apa yang diberikan Imam Eli kepada mereka. Pelanggaran demi pelanggaran dibuat, tetapi Imam Eli tidak berkuasa menghentikannya. Orang tualah yang pada akhirnya harus bertanggung jawab atas kejahatan yang diperbuat anak-anaknya. Alkitab mengingatkan bahwa kita mempunyai tanggung jawab besar untuk mengajar anak-anak kita dalam kasih Tuhan. Kiranya apa yang terjadi dalam keluarga Imam Eli menjadi pembelajaran bagi para orang tua agar tidak abai apalagi "menutup mata" pada pelanggaran anak-anaknya. Jika kita mengasihi mereka, kita akan menegur mereka "tepat pada waktunya". Orang tua yang mengasihi Tuhan adalah orang tua yang mampu menerapkan disiplin kepada anak-anaknya agar menghormati Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, berilah aku kuasa penuh sebagai orang tua untuk mendidik anak-anakku sesuai dengan jalan-Mu. Jangan biarkan aku melalaikan tugasku membawa mereka dekat dengan-Mu agar kelak hidup mereka bisa menjadi berkat bagi banyak orang. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Kamis, 6 Agustus 2026 - Hati yang melekat kepada Tuhan

    Play Episode Listen Later Aug 5, 2026 4:34


    Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 6 Agustus 2026Bacaan: "... tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN akan mencari seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN menetapkannya sebagai pemimpin atas umat-Nya, karena engkau tidak menaati apa yang diperintahkan Tuhan kepadamu" (1 Samuel 13:14)Renungan: Betapa cepatnya hati manusia itu berubah. Ada orang yang tadinya menjalani hidup sederhana dan rendah hati, tapi di kemudian hari, hatinya berubah menjadi begitu sombong setelah ia mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Ada orang yang tadinya kurang percaya diri dan merasa lemah, tetapi siapa sangka ia bisa menjadi seorang diktator kejam ketika berkuasa. Seperti itulah hati manusia, gampang berubah. Bisa jadi perubahan hatinya itu menjadi petunjuk bahwa ia tidak rela kehilangan rasa nyaman maupun kekuasaan yang didapatnya selama ini. Saul begitu rendah hati ketika Tuhan menunjuknya menjadi raja Israel. Sebenarnya, ia adalah orang yang diurapi Tuhan dengan janji pengokohan kerajaan Israel. Awalnya, Saul memang seorang yang taat dan rendah hati. Namun, ia lupa bahwa hati itu gampang berubah. Itu terjadi ketika ia tidak sabar menanti kedatangan Samuel dan dengan lancang mempersembahkan korban bakaran yang bukan menjadi tugasnya. Saul begitu angkuh. Ia menjadikan kedudukannya menjadi alasan bahwa ia bisa berbuat apa saja termasuk mengambil tugas keimaman. Sikapnya yang tidak sabar, angkuh, dan tidak taat dinilai Tuhan sebagai penolakan kepada Tuhan. Saul pun harus menerima konsekuensi: ditolak sebagai raja dan kehilangan janji Tuhan. la kehilangan apa yang coba ia pertahankan dengan kuat. Sikap Saul mengingatkan kepada kita bahwa bukan persembahan atau ritual agamawi yang memperkenan hati Tuhan. Tuhan lebih menyukai kasih setia dan ketaatan kepada firman-Nya. Mari renungkan: Hati manusia itu rapuh, gampang berubah oleh situasi. Bahkan hidup dalam berkat pun, jika tidak diwaspadai, bisa berubah menjadi angkuh dan melupakan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, berilah aku rahmat kerendahan hati agar hatiku tetap terpaut pada-Mu dan tidak pernah berubah. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Rabu, 5 Agustus 2026 - Jejak yang meninggalkan kebaikan dan menjadi berkat bagi kehidupan

    Play Episode Listen Later Aug 4, 2026 4:22


    Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 5 Agustus 2026Bacaan: "Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu." (Filipi 1:3)Renungan: Ηanya dengan mengingat nama seseorang kita dapat memberikan beragam respons. Ada nama yang mungkin meninggalkan sakit hati, kebencian, kepahitan, atau rasa kecewa bagi kita. Namun, ada juga nama yang menghangatkan hati atau membawa sukacita bagi kita. Kesan-kesan itu tentunya tidak muncul tanpa alasan, melainkan berasal dari jejak-jejak yang mereka tinggalkan sebelumnya. Ketika Rasul Paulus mengingat jemaat di kota Filipi, hatinya dipenuhi syukur. Tiap kali ia berdoa bagi mereka, ia bersukacita. Ia juga sangat merindukan mereka. Alasannya ialah karena mereka memiliki persekutuan yang erat dalam Kristus sejak mereka mendengar Injil dan terus bertumbuh di dalamnya. Mereka juga tak henti-hentinya menunjukkan kasih dengan mendukung pelayanan Paulus, termasuk ketika ia dipenjarakan karena Kristus. Dukungan itu juga ditunjukkan dengan mengirimkan uang untuk mendukung pelayanan Paulus, bahkan mereka secara khusus mengutus Epafroditus untuk melayani keperluan Paulus. Tidak heran jika sang rasul berkata, "Kamu ada di dalam hatiku". Kira-kira, kesan apakah yang kita tinggalkan dalam kehidupan orang-orang? Apakah nama kita membangkitkan syukur dan sukacita di hati mereka? Ataukah sebaliknya? Selagi Tuhan memberi kita anugerah kehidupan, kita masih dapat melakukan berbagai perbuatan kasih, yang kelak akan meninggalkan jejak-jejak yang mendatangkan sukacita dalam hidup banyak orang. Seperti itulah seharusnya kehidupan yang dijalani oleh setiap orang yang percaya kepada Kristus. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, kerima kasih karena Engkau telah memilih aku menjadi sahabat-Mu. Bantulah aku agar hidupku dapat menyerupai-Mu dalam berpikir, berkata-kata dan bertindak. Sehingga melalui kehadiranku nama-Mu semakin dimuliakan. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Selasa, 4 Agustus 2026 Merendahkan diri, bertobat dan mencari Tuhan

    Play Episode Listen Later Aug 3, 2026 4:08


    Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 4 Agustus 2026Bacaan: "Dalam keadaan terdesak, ia berusaha melunakkan hati Tuhan, Allahnya; ia sangat merendahkan diri di hadapan Allah nenek moyangnya." (2 Tawarikh 33:12)Renungan: Manasye lahir dalam masa perpanjangan umur Hizkia. Hanya saja, di kemudian hari, Manasye tidak mengikuti jejak ayahnya yang saleh. Manasye adalah raja Yehuda yang paling jahat. Penyembahan berhala dilakukan besar-besaran. Bait Allah dijadikannya rumah bagi berhala, dan jalanan di kota Yerusalem dipenuhi dengan darah orang yang tidak bersalah. Manasye berbuat sesuka hatinya ketika berkuasa. Namun, satu hari datanglah pasukan Asyur dari utara menghancurkan semua kejayaan Manasye. la dibelenggu dan dibawa bagaikan hewan ke Babel. Di dalam penderitaan itulah Manasye merendahkan dirinya amat sangat di hadapan TUHAN. "Merendahkan diri" dalam pengertian aslinya diartikan sebagai seruan yang disertai jerit tangis yang mendalam. Akibatnya? TUHAN mau mendengar doanya dan Manasye dibebaskan, bahkan dipulihkan ke dalam kedudukannya yang semula. Manasye pada akhirnya mengakui TUHAN Allah sajalah yang patut ia sembah. Seringkali Tuhan mengizinkan datangnya badai menimpa sebagai bentuk didikan untuk merendahkan diri kita. Ketika hati manusia disadarkan dari dosanya dan ia memutuskan untuk merendahkan diri, bertobat, dan mencari Tuhan maka Tuhan pun memulihkan keadaannya. Sehingga nyatalah pengakuan pemazmur: kurban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang remuk redam dan penuh penyesalan tidak akan Kaupandang hina, ya Allah. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, berilah aku rahmat kerendahan hati yang tulus sehingga aku dapat mengerti kehendak-Mu di dalam hidupku ini. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Senin, 3 Agustus 2026 - Baik di Mata Tuhan

    Play Episode Listen Later Aug 2, 2026 4:24


    Kencan Dengan Tuhan - Senin, 3 Agustus 2026Bacaan: Aku tahu segala pekerjaanmu. Engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!" (Wahyu 3:1)Renungan: Semua orang tentunya ingin memiliki reputasi yang baik. Reputasi atau nama baik ini tidak datang begitu saja, melainkan sebagai hasil perbuatan atau tindakan kita. Namun, banyak orang ingin dikenal dengan reputasi yang baik sekalipun sebenarnya hidup mereka berbeda dengan yang dicitrakan di depan orang lain. Mereka lebih khawatir tentang anggapan orang dibandingkan fakta yang sebenarnya. Bahkan ada tokoh publik yang membayar konsultan untuk melekatkan citra tertentu pada diri mereka. Berbagai lembaga atau perusahaan melakukan banyak cara, bahkan membayar biaya iklan yang mahal demi mendapatkan reputasi yang baik, tentunya dengan tujuan memperoleh untung yang lebih besar. Kita dapat menjalani hidup bersandiwara di hadapan manusia dengan hanya menampilkan hal-hal yang baik sambil menyembunyikan sifat buruk kita. Namun, semua ini tak dapat kita tutupi dari Allah Yang Maha Tahu. Pendapat-Nya tentang kitalah yang terpenting dan paling menentukan. Orang-orang menilai jemaat di Sardis sebagai gereja yang hidup. Namun, Tuhan menilai mereka sebagai gereja yang mati. Sekalipun mereka melakukan berbagai macam pelayanan, tetapi ternyata tak satu pun pekerjaan itu beres menurut Tuhan. Karenanya, Dia meminta mereka untuk bangun, serta menguatkan apa yang masih tersisa yang masih dapat diperjuangkan. Tuhan memperingatkan agar mereka bertobat serta kembali kepada firman yang telah mereka terima sebelumnya. Sehebat apa pun anggapan orang tentang diri, keluarga, karir, atau pelayanan kita, semuanya tak berarti jika Tuhan menilai sebaliknya. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, berilah aku hikmat dalam berkata-kata dan bertindak, agar aku tetap ada di jalan-Mu sehingga orang bisa menilai aku baik sesuai dengan penilaian-Mu. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Minggu, 2 Agustus 2026 - Bersyukur Atas Pemeliharaan Tuhan

    Play Episode Listen Later Aug 1, 2026 4:16


    Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 2 Agustus 2026Bacaan: "Selama empat puluh tahun Engkau memberikan mereka makan di padang gurun. Mereka tidak berkekurangan, pakaian mereka tidak rusak, dan kaki mereka tidak bengkak." (Nehemia 9:21)Renungan: Brian sejak kecil diajarkan untuk mengandalkan Tuhan dalam segala keadaan. Kondisi ekonomi orang tuanya yang terbatas membuat keluarga ini hanya bisa bergantung kepada Tuhan. Suatu ketika, saat tiba waktunya membayar uang sekolah, orang tua Brian belum memiliki cukup uang karena usaha penjualan kacamata sedang sepi. Namun, mereka yakin bahwa Tuhan akan menyediakan. Akhirnya, lewat pertemuan "tanpa sengaja" dengan seseorang, ada tiga kacamata yang laku. Uang hasil penjualan kacamata itu pun dipakai untuk membiayai uang sekolah yang Brian perlukan. Membaca kisah tersebut, mungkin ada orang tergoda menimpali, "Ah, itu kan hanya kebetulan." Memang kita tak bisa melarang orang berkomentar seperti itu, tetapi bagi kita yang percaya kepada Allah, sampai hari ini Allah masih bekerja secara ajaib dalam memelihara keperluan umat-Nya. Kisah-kisah yang tertulis di Alkitab tentang penyediaan dan pemeliharaan Allah, hingga janji berkat yang tertulis di sana, ditujukan agar setiap orang percaya senantiasa beriman akan pemeliharaan Allah. Tentu saja, meyakini pemeliharaan Allah tidak lantas meniadakan kewajiban kita untuk bekerja. Biasanya Allah memberkati umat-Nya lewat apa yang mereka kerjakan. Namun, bukan berarti kita hanya mengandalkan kekuatan, kemampuan, atau hasil dari pekerjaan kita. Allah, dengan cara-Nya yang ajaib, sanggup menyediakan dan memelihara kehidupan umat-Nya, seperti yang pernah Allah lakukan kepada bangsa Israel ketika mereka di padang gurun selama empat puluh tahun. Sudahkah kita percaya akan pemeliharaan-Nya? Tuhan Yesus memberkati.Doa:Tuhan Yesus, terima kasih atas rahmat pemeliharaan yang Kau berikan padaku selama ini. Ajarilah aku untuk selalu bersyukur atas pemeliharaan-Mu, sehingga dalam keadaan apapun aku tetap tenang karena aku tahu Engkau selalu ada bersamaku. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Sabtu, 1 Agustus 2026 - Iman yang nyata lewat tindakan yang memuliakan Tuhan

    Play Episode Listen Later Jul 31, 2026 3:52


    Kencan Dengan Tuhan - Sabtu, 1 Agustus 2026Bacaan: "Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah la kepada orang lumpuh itu, "Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!" (Markus 2:5)Renungan: Saat Yesus sedang mengajar di sebuah rumah di Kapernaum, datang kepada-Nya empat orang menggotong seorang yang lumpuh. Harapan dari orang-orang itu ialah kesembuhan bagi si lumpuh. Mereka pulang dengan harapan yang telah terpenuhkan. Yesus mengampuni dosa, lalu menyembuhkan kaki si lumpuh. Alkitab menuliskan ada satu hal terjadi sebelum kesembuhan dinyatakan. Satu hal yang Yesus lakukan sebelum Dia menyembuhkan si lumpuh. Yesus melihat iman mereka. Artinya, orang-orang itu memiliki iman yang dapat dilihat. Terlihatnya iman dikarenakan adanya perbuatan. Di rumah itu penuh berkerumun orang-orang, bahkan sampai depan pintu. Namun, kondisi itu tidak juga mengurungkan niat mereka untuk masuk. Saat tidak didapati juga jalan untuk masuk, mereka membuka atap rumah, lalu menurunkan si lumpuh. Sejauh itu mereka berbuat karena segenap hati percaya kepada Yesus. Pada kita ada juga harapan. Ada aspek-aspek kehidupan yang kita inginkan untuk Tuhan turun tangan, seperti keuangan, kesehatan atau hubungan rumah tangga. Pertanyaannya, apakah kita memiliki iman yang dapat dilihat? Dapatkah Tuhan menemukan perbuatan yang menunjukkan bahwa segenap hati kita percaya kepada-Nya? Tanpa perbuatan, hakikat iman adalah mati, atau dapat dikatakan, sama sekali tidak ada iman. Bagi kita yang rindu melihat harapan menjadi kenyataan, nyatakanlah iman kita! Berbuatlah sesuatu, jangan hanya berdiam! Cara paling sederhana kita memperlihatkan iman ialah tidak berhenti berdoa kepada Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk mempraktikkan imanku melalui perbuatan baikku. Sehingga melalui kehadiranku nama-Mu semakin dimuliakan. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Jumat, 31 Juli 2026 - Serahkan Kuatirmu, Dia beri penghiburan dan kekuatan

    Play Episode Listen Later Jul 30, 2026 5:46


    Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 31 Juli 2026Bacaan: “Apabila bertambah banyak kekuatiran dalam diriku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku.” (Mazmur 94:19)Renungan: Setelah Elia mengalahkan 450 nabi Baal di gunung Karmel, dia seharusnya bersukacita. Tapi sehari kemudian, dia lari ketakutan karena ancaman Izebel. Elia duduk di bawah pohon arar dan berkata, “Cukuplah! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku.” Kekhawatiran, ketakutan, dan rasa gagal bertumpuk di hatinya. Di gua Horeb, Tuhan tidak langsung menegurnya. Tuhan memberi dia makan dan kesempatan beristirahat, lalu berbisik pelan: “Apakah yang kaulakukan di sini, hai Elia?” Di tengah kekhawatiran yang bertambah banyak, penghiburan Tuhan itulah yang menguatkan dan membangkitkan Elia lagi. Tuhan mengingatkan dia, “Aku masih punya pekerjaan untukmu.” Pemazmur Daud berkata jujur pada Tuhan, “Apabila bertambah banyak kekuatiran dalam diriku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku." Kekhawatiran itu nyata. Soal uang, pekerjaan, keluarga, masa depan, kesehatan. Kadang datangnya bukan satu-satu, tapi bertumpuk. Namun Tuhan tetap menjanjikan penghiburan. Kata "penghiburan" di sini artinya "penguatan, dorongan, penenang". Bukan sekadar kata "sabar ya". Tapi hadirat Tuhan sendiri yang masuk dan menenangkan badai di dalam hati kita. Daud tidak berkata, "kekhawatiranku hilang". Tapi dia berkata, "Jiwaku disenangkan". Artinya, di tengah masalah yang sama, hati kita bisa tenang karena ada Tuhan. Sebagai pengikut Yesus, kita juga sering cemas, antara lain cemas masalah finansial, cemas masa depan, cemas keluarga. Tuhan tidak berjanji menghapus semua masalah. Tapi Dia berjanji menemani dan memberi kita kelegaan dalam Matius 11:28, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." Bagaimana caranya dapat penghiburan dan kelegaan dari Tuhan? Pertama jujur di dalam doa dengan menceritakan semua kekhawatiran kita seperti Daud pada Tuhan. Kedua membaca Firman Tuhan. Firman Tuhan adalah surat cinta-Nya yang menghibur kita. Ketiga, diam dan rasakan hadirat-Nya. Seperti Elia, kadang Tuhan berbicara melalui bisikan yang lembut. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, saat ini kekhawatiranku bertambah banyak. Aku serahkan semuanya ke dalam tangan-Mu. Aku membutuhkan penghiburan-Mu. Tenangkanlah jiwaku. Ingatkan aku bahwa aku tidak sendiri. Engkau Allah yang melihat dan memelihara. Penuhilah hatiku dengan damai-Mu yang melampaui segala akal. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Kamis, 30 Juli 2026 - Tetap Rendah Hati dan melayani seturut kehendakNya

    Play Episode Listen Later Jul 29, 2026 4:50


    Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 30 Juli 2026Bacaan: "Sesudah Yoram memegang pemerintahan atas kerajaan ayahnya dan kokoh kedudukannya, ia membunuh semua saudaranya dan juga beberapa pembesar Israel dengan pedang." (2 Tawarikh 21:4)Renungan: Abraham Lincoln, mantan Presiden Amerika Serikat, pernah berkata, "Bila Anda ingin mengetahui karakter seseorang, berilah dia kekuasaan." Pernyataan ini telah teruji kepada banyak orang dalam berbagai situasi. Bahwa banyak orang yang tadinya bersikap rendah hati, sederhana, dan tulus, tetapi berubah menjadi sombong, egois, dan serakah ketika mereka berkuasa. Kekuasaan menyingkapkan sifat asli mereka. Mereka menggunakannya sebagai alat untuk mengendalikan, bahkan menindas orang lain demi kepentingan sendiri. Sebagai anak sulung, Yoram mewarisi kerajaan Yehuda dari ayahnya. Sedangkan untuk adik-adiknya, sang ayah memberikan berbagai barang berharga, juga beberapa kota untuk mereka kuasai. Seiring waktu, ketika kedudukannya sebagai raja semakin kokoh, Yoram membunuh semua adik-adiknya, juga beberapa pembesar Israel. Ia memandang mereka sebagai ancaman yang harus ditumpas agar jabatannya tetap kokoh. Namun, ia hanya berkuasa delapan tahun dengan dua tahun penderitaan hebat karena sakit. Hukuman itu telah dinubuatkan Nabi Elia sebelumnya, tetapi Yoram mengabaikannya. la mati sebagai orang yang dibenci oleh rakyatnya sehingga ia bahkan tidak dikuburkan dalam pekuburan raja-raja. Sesungguhnya, kekuasaan itu ibarat sebuah pisau tajam. Sangat bermanfaat jika berada di tangan yang tepat, tetapi sangat berbahaya di tangan yang salah. Kekuasaan dapat digunakan untuk menyejahterakan atau menyengsarakan banyak orang. Dalam kapasitas yang beragam, kita semua memiliki kekuasaan. Kiranya kita mempergunakannya seturut kehendak Allah, demi kebaikan banyak orang. Karena sesungguhnya, Dialah pemilik kekuasaan sejati, termasuk atas hidup kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, berilah aku rahmat kerendahan hati yang tulus agar saat Engkau memercayakan aku menjabat satu jabatan tertentu aku tetap rendah hati dan menjalankan tugas itu sesuai kehendak-Mu. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Rabu, 29 Juli 2026 - Perkataan yang tepat dan jadi berkat bagi yang menerima

    Play Episode Listen Later Jul 28, 2026 6:10


    Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 29 Juli 2026Bacaan: “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.” (Amsal 25:11)Renungan: Ada seorang bapak bernama Pak Adi. Ia mempunyai anak yang duduk di kelas 2 SMP. Saat pulang sekolah wajahnya kusut karena mendapat nilai jelek. Reaksi Pak Adi pertama hampir keluar kata-kata, “Dasar pemalas! Bodoh kamu!" Tetapi dia ingat Amsal 25:11. Dia menarik napas, memeluk anaknya dulu, lalu berkata pelan: “Nak, Papa kecewa sama nilainya. Tapi Papa bangga kamu masih mau cerita ke Papa. Yuk, kita cari jalan keluarnya untuk memperbaiki nilaimu." Malam itu anaknya menangis bukan karena dimarahi, tapi karena merasa diterima. Tiga bulan kemudian anaknya mendapat ranking 5 saat kenaikan kelas. Dia berkata, “Aku belajar karena kata-kata Papa waktu itu. Nggak bikin aku down, tapi bikin aku semangat.” Satu kalimat di waktu yang tepat, bisa mengubah arah hidup seseorang. Salomo dalam bacaan di atas memakai dua gambaran yang mahal yaitu apel emas dan pinggan perak. Dalam bacaan itu dijelaskan bahwa "perkataan yang diucapkan” ini adalah soal isinya yaitu benar, membangun, jujur, penuh kasih. Bukan gosip, bukan sindiran, bukan kebohongan. Sedangkan "tepat pada waktunya" adalah saat yang paling baik untuk dikatakan. Emas paling berharga kalau diberikan saat seseorang membutuhkan. Demikian juga ketika kita menghibur seseorang saat ia sedih, menegur seseorang saat ia bersikap sombong dan memuji seseorang saat ia putus asa. Perkataan "seperti buah apel emas di pinggan perak" merupakan isi dari perkataan dan cara penyampaian yang sama-sama baik dan tidak menyakitkan. Intinya adalah Tuhan mau kita jadi orang yang bukan hanya “benar” dalam berkata-kata tetapi juga “tepat” pada waktunya ketika seseorang membutuhkan perkataan itu. Sebagai pengikut Yesus, lidah kita adalah alat. Bisa jadi pedang atau bisa jadi obat, tergantung saat kita mengatakannya. Kalau kita mengatakannya saat marah, maka bisa saja menjadi pedang yang menusuk sampai lubuk hati terdalam. Tapi kalau kita mengatakannya dengan penuh kasih dan kesabaran, bisa menjadi obat ketika hati seseorang sedang galau dan sakit. Efesus 4:29 berkata, “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun.” itu artinya kita harus bertanya dulu dalam hati kita sebelum bicara, “Apakah ini benar? Apakah ini perlu? Apakah ini tepat waktunya?” Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, jagalah mulutku hari ini. Ajarilah aku untuk berpikir sebelum berbicara. Berikan aku hikmat untuk tahu kata apa yang harus diucapkan, dan kapan harus diam. Pakai perkataanku menjadi "apel emas" yang menguatkan orang di sekitarku, seperti Engkau yang selalu tahu kata yang tepat untuk dikatakan pada orang yang datang pada-Mu. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Selasa, 28 Juli 2026 - Menjaga hati dan menjadi berkat untuk sesama

    Play Episode Listen Later Jul 27, 2026 5:42


    Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 28 Juli 2026Bacaan: “Janganlah merencanakan kejahatan terhadap sesamamu, sedangkan ia tinggal dengan tentram di dekatmu.” (Amsal 3:29)Renungan: Daud dikejar-kejar oleh Raja Saul selama bertahun-tahun. Saul iri hati dan mau membunuh Daud. Suatu hari Tuhan memberi Daud kesempatan emas. Saul masuk ke gua untuk buang hajat dan ternyata itu gua yang sama tempat Daud dan pasukannya bersembunyi. Pasukan Daud berbisik, “Ini saatnya untuk membunuh dia sekarang!” Daud bisa saja merencanakan kejahatan. Dia punya alasan, "Saul musuhku. Dia yang lebih dahulu menyakiti aku!" Tapi apa yang Daud lakukan? Dia hanya memotong punca jubah Saul secara diam-diam. Dan setelah itu hatinya berdebar karena merasa bersalah. Daud berkata: “Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, orang yang diurapi TUHAN.” Daud punya kesempatan untuk membalas. Tapi dia memilih tidak merencanakan kejahatan terhadap "sesamanya" yang tinggal dengan tentram, bahkan terhadap orang yang membencinya. Penulis Amsal menulis ini bukan sekadar teori. Tetapi ini adalah praktik hidup. Ada 3 hal penting yang disampaikan dalam Amsal 3:29. Pertama, “Janganlah merencanakan kejahatan”. Kejahatan dimulai dari hati. Niat menjatuhkan, menyimpan bukti untuk menyerang, menyusun kata-kata untuk menyakiti. Kedua, “Terhadap sesamamu”. Sesama adalah orang yang Tuhan tempatkan dekat dengan kita yaitu keluarga, teman sekerja, teman sepelayanan dan tetangga. Mereka itu adalah orang-orang yang harusnya kita jaga dan lindungi. Ketiga, “Sedangkan ia tinggal dengan tentram di dekatmu”. Orang itu percaya dan tidak curiga terhadap kita. Tuhan mau kita menjadi tempat yang aman bagi sesama, bukan tempat yang menusuk dari belakang. Saat ini kita tidak memegang tombak seperti Saul. Tapi kita memegang HP dan mulut. Ternyata HP dan mulut mampu menusuk sampai kedalaman hati yang membuat hubungan kita dengan sesama menjadi rusak. Contohnya di media sosial, ada orang yang menyakiti kita, maka kita screenshot chatnya dan kita sebarluaskan agar dia dipermalukan. Di pekerjaan, ada rekan kerja yang membuat kita tidak nyaman, lalu kita memfitnah dan merancangkan yang buruk terhadapnya supaya ia disingkirkan dari tempat kita bekerja. Menjadi pengikut Yesus artinya memilih memberkati, bahkan ketika kita punya 1001 alasan dan kesempatan untuk melukai. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, seperti Daud, ajarilah aku menjaga hatiku. Ampunilah aku kalau ada rencana jahat atau kepahitan terhadap sesamaku. Berikan aku hati yang mau mengampuni dan tangan yang memberkati, sehingga hidupku bisa memberkati sesamaku. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Senin, 27 Juli 2026 - Serahkan dan Percaya padaNya

    Play Episode Listen Later Jul 26, 2026 5:25


    Kencan Dengan Tuhan - Senin, 27 Juli 2026Bacaan: “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.” (Mazmur 37:5)Renungan: Pada tahun 2022 Dita melamar kerja di tujuh belas perusahaan tapi tidak ada satupun panggilan. Tabungannya mulai menipis. Teman-temannya sudah pada naik jabatan, menikah dan punya rumah. Dia mengeluh katanya, “Aku udah capek mengirim CV. Capek berharap. Capek bertanya pada Tuhan, ‘Kapan giliranku Tuhan?'” Suatu malam dia membuka Alkitab dan membaca Mazmur 37:5. Dia menangis dan akhirnya memutuskan, “Tuhan, aku menyerah. Aku serahkan CV-ku, masa depanku, rasa maluku, semuanya kepada Engkau. Aku percaya Engkau yang akan mengaturnya. Amin.” Dua minggu kemudian, tanpa dia melamar, ada HR dari perusahaan lama yang menghubunginya, “Kami butuh kamu. Gajinya dua kali lipat dari yang kamu minta.” Dia pun pada akhirnya sadar. Selama ini dialah yang memegang kendali hidupnya terlalu erat. Waktu ia melepaskannya dan menyerahkan pada Tuhan, Tuhan baru bisa bertindak. Daud menulis mazmur 37:5 ini ketika dia melihat orang jahat kelihatan sukses, sementara orang benar tertekan. Ada 3 langkah yang harus dilakukan untuk mendapatkan jawaban atas setiap doa kita. Pertama, “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN” Kata "serahkan" Artinya kita menaruh setiap persoalan hidup kita di dalam tangan Tuhan. Kedua, “Dan percayalah kepada-Nya”. Setelah diserahkan, jangan diambil lagi dengan khawatir. Percaya sama dengan tenang menunggu Tuhan kerja. Ketiga, “Dan Ia akan bertindak” Ini adalah janji Tuhan. Bukan "mungkin". Tuhan pasti bertindak. Intinya adalah bagian kita menyerahkan dan bagian Tuhan bertindak. Mazmur 37:5 ini mengajak kita berhenti memegang setir yang bukan milik kita. Lepaskan, serahkan pada Tuhan dan percayalah bahwa Dia akan bekerja dengan cara-Nya yang ajaib. Mungkin jawabannya tidak datang besok. Tapi waktu kita menyerahkan, beban di hati kita diangkat lebih dulu. Dan di waktu Tuhan yang tepat, Dia akan bertindak dengan cara yang jauh lebih baik dari rencana kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, hari ini aku menyerahkan hidupku ke dalam tangan-Mu. Aku lelah memegang semuanya sendiri. Aku percaya Engkau tahu yang terbaik untukku. Bertindaklah ya Tuhan, sesuai waktu dan cara-Mu. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Minggu, 26 Juli 2026 - Tetaplah Berdoa

    Play Episode Listen Later Jul 25, 2026 5:09


    Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 26 Juli 2026Bacaan: “Tetaplah berdoa.” (1 Tesalonika 5:17)Renungan: Ibu Ani, 42 tahun divonis dokter terkena kanker stadium 3. Hari pertama di rumah sakit dia menangis seharian. Takut, marah dan ia bertanya kepada Tuhan, “Kenapa aku Tuhan?” Dokter mengatakan bahwa Ibu Ani harus kemoterapi panjang. Biaya besar dan keluarganya juga panik. Tiap malam sebelum tidur, suaminya memegang tangannya dan bekata, “Bu, kita nggak bisa apa-apa. Tapi kita bisa berdoa. Yuk tetap berdoa.” Mereka mulai berdoa pendek 1 menit setiap bangun tidur. Doa 1 menit setiap mau ke rumah sakit. Doa 1 menit setiap efek kemoterapi datang. Setahun kemudian, hasil labnya membaik. Ibu Ani berkata, “Aku nggak tahu Tuhan sembuhkan karena apa. Tapi aku tahu, doa itu yang bikin aku nggak sendirian. Tuhan menemani aku di tiap jarum infus.” Penyakitnya belum tentu langsung sembuh, tapi hatinya disembuhkan terlebih dahulu, ada damai. Paulus tidak menuliskan dalam suratnya tersebut "berdoa kalau sempat" atau "berdoa kalau ada masalah besar". Tetapi tetaplah berdoa, artinya: terus-menerus, tidak putus dan menjadi gaya hidup. Doa bukan cuma acara 30 menit di kamar. Doa itu seperti napas rohani kita. Bangun tidur berdoa, di jalan macet berdoa, mendapat kabar baik berdoa syukur. Mendapat kabar buruk berdoa minta tolong. Tuhan tidak menyuruh kita berdoa yang panjang dan indah. Dia hanya mau hati kita tetap terjalin dengan-Nya. Kita semua punya "ruang rumah sakit" versi kita yaitu pertama sakit hati. Dikhianati teman dan disakiti keluarga, rasanya kita tidak bisa memaafkan. Kedua sakit jiwa. Kecemasan, overthinking, depresi. Pikiran berputar terus sepanjang malam. Ketiga sakit keadaan. Banyak hutang, pengangguran, anak yang jauh dari Tuhan, sudah usaha tapi mentok. Di titik itu kita sering berpikir, “Percuma berdoa. Tuhan tidak menjawab." Padahal dalam 1 Tesalonika 5:17 kita diingatkan jangan berhenti berdoa. Tetap berdoa bukan untuk "menyogok" Tuhan. Tapi supaya kita tetap memegang tangan-Nya saat kita berjalan di lembah kekelaman. Mungkin jawabannya belum datang, tapi kekuatan, damai, dan hikmat-Nya akan datang terlebih dahulu waktu kita berdoa. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, aku datang kepada-Mu dengan segala sakit penyakitku. Ajarilah aku untuk tetap berdoa, bahkan saat aku lelah dan tidak mengerti. Jangan biarkan aku menjauh dari-Mu. Pegang tanganku hari ini. Aku percaya, bersama-Mu semua akan baik-baik saja. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Sabtu, 25 Juli 2026 - Bersyukur dalam segala hal

    Play Episode Listen Later Jul 25, 2026 6:08


    Kencan Dengan Tuhan - Sabtu, 25 Juli 2026Bacaan: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18)Renungan: Keluarga Pak Budi baru aja kena musibah. Usaha kecilnya bangkrut saat menjelang Natal. Tabungan habis untuk membayar utang. Malam itu di meja makan suasananya hening. Anak sulungnya berkata, “Pa, kita masih bisa makan nasi sama telur. Berarti Tuhan masih pelihara kita ya.” Istri Pak Budi menyambung, “Iya. Listrik masih menyala. Rumah masih ada. Kita masih lengkap 4 orang di sini.” Mereka tidak pura-pura bahagia. Tapi malam itu mereka memutuskan untuk berdoa dan mengucap syukur dahulu, sebelum memikirkan jalan keluarnya. Tiga bulan kemudian, pelan-pelan ada pintu berkat baru terbuka. Paulus menulis ayat ini kepada jemaat yang sedang tertekan. Dia tidak berkata, "Bersyukur kalau segala hal baik". Tetapi "bersyukur dalam segala hal". Ada 2 pesa penting dari bacaan tersebut. Pertama, “Mengucap syukurlah dalam segala hal”. Dalam segala hal itu artinya baik suka maupun duka, sehat maupun sakit, berkecukupan maupun berkekurangan. Bersyukur bukan karena situasinya baik-baik saja, tetapi karena Tuhan kita tetap baik. Kedua, “Sebab itulah yang dikehendaki Allah”. Ini bukan saran, tetapi ini adalah kehendak Tuhan. Waktu kita bersyukur, kita sedang taat. Dan ketaatan akan membuka pintu berkat baru dan damai Tuhan. Bersyukur itu bukan menyangkal masalah. Bersyukur itu memilih fokus kepada Tuhan yang memegang masalah itu. Kita gampang bersyukur kalau gaji naik, anak lulus, badan sehat. Tapi bagaimana kalau dalam kerjaan bos tidak menyenangkan, target tidak tercapai, di-PHK? Yang terjadi adalah kita akan gampang mengeluh dan menyalahkan. Bagaimana jika dalam keluarga anak susah diatur, pasangan cuek, orang tua sakit? Rasanya capai dan tidak dihargai. Bagaimana juga di dalam iman? Doa udah lama tidak dijawab. Melihat orang lain diberkati, kita pun bertanya, "Tuhan, Engkau di mana?". 1 Tesalonika 5:18 mengajak kita memasang "kacamata bersyukur" tiap hari. Bukan bersyukur karena masalahnya, tapi bersyukur bahwa di tengah masalah Tuhan masih ada, Tuhan masih mengasihi, Tuhan masih bekerja. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ampunilah aku kalau sering mengeluh dan lupa bersyukur. Hari ini aku mau taat pada firman-Mu. Aku mengucap syukur dalam segala hal, karena Engkau tetap baik. Ajarilah aku melihat kebaikan-Mu bahkan di tengah kesulitan dan isi hatiku dengan ucapan syukur. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Jumat, 24 Juli 2026 - Berserah dan Berdoa

    Play Episode Listen Later Jul 23, 2026 5:21


    Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 24 Juli 2026Bacaan: “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kau ketahui.” (Yeremia 33:3)Renungan: Simone Biles adalah atlet senam terbaik di dunia. Di Olimpiade Tokyo tahun 2020, semua orang berharap dia akan meraih medali emas. Tetapi di tengah pertandingan tiba-tiba ia mengundurkan diri karena masalah kesehatan mental yang disebut "twisties" yaitu kondisi berbahaya di mana atlet kehilangan arah di udara. Kalau dipaksa bisa mengalami kelumpuhan. Dia memilih istirahat, ke konselor, dan berdoa. Tiga tahun kemudian dia kembali di Olimpiade Paris 2024 dan membawa pulang 3 medali emas. Dia mengatakan,“Kemenangan terbesar bukan medali, tetapi damai ketika aku berseru dan Tuhan memegang aku." Tuhan berbicara dalam bacaan di atas kepada nabi Yeremia ketika dia dalam penjara dan bangsanya akan mengalami kehancuran. Situasinya gelap total. Tetapi di saat seperti itu Tuhan menguatkannya melalui firman dan janjinya bahwa ketika ia berseru kepada Tuhan, maka Tuhan akan menjawab dan memberikan jalan keluarnya. Yeremia 33:3 juga mengingatkan kita agar jangan mengambil keputusan apa-apa saat kondisi kita sedang panik. Berserulah dulu kepada Tuhan. Ceritakan semua masalah kita kepada-Nya. Dan tunggu, karena Tuhan suka menjawab dengan cara yang tidak pernah terpikirkan oleh kita. Ketika kita merasa tidak ada jalan keluar atas masalah kita, Tuhan mengajak kita masuk ke ruang rahasia, yaitu doa, maka kita akan keluar sebagai pemenang. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, aku percaya Engkau memegang hidupku, bahkan waktu aku tidak kuat. Kini kupasrahkan diriku ke dalam tangan-Mu. Aku. Percaya, bersama Engkau semua akan baik-baik saja. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Kamis, 23 Juli 2026 - Jaga Hati dan Perkataan, Kendalikan Diri

    Play Episode Listen Later Jul 22, 2026 6:32


    Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 23 Juli 2026Bacaan: “Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam.” (Mazmur 4:5)Renungan: Suatu hari di jam sebelas malam, Andrea baru saja membaca chat dari teman kantor di grup. Temannya menyindir dia di depan bosnya. Darahnya langsung naik. Jempolnya sudah mau mengetik balasan panjang, sebagai pelampiasan kemarahannya. Tapi kemudian dia ingat bahwa besok mereka akan ketemu lagi di kantor. Kalau dia membalas malam ini, pasti besok pagi akan menyesel. Akhirnya dia meletakkan HPnya kemudian ke kamar, tutup mata, dan berbicara dalam hati kepada Tuhan, “Tuhan, aku marah banget dan sakit sekali hati ini. Tapi aku tidak mau berdosa karena marah ini." Pagi harinya, kepalanya lebih tenang. Dia bisa menyelesaikan masalah itu dengan cara yang benar. Malam itu dia belajar, marah boleh, tapi jangan sampai marah menguasai hati ini. Daud menulis mazmur ini waktu dikejar-kejar musuh dan difitnah. Dia juga marah, kecewa, sakit hati. Tetapi dia diberi 3 nasihat. Pertama, “Biarlah kamu marah” Marah itu manusiawi. Yesus juga pernah marah. Kedua, “Tetapi jangan berbuat dosa”. Bahayanya di sini. Marah bisa jadi memaki, balas dendam dan fitnah. Itulah yang membuat kita berdosa. Ketiga, “Berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam”. Artinya bawalah permasalahan kita kepada Tuhan dulu. Kita belajar mendiamkan mulut dan menenangkan hati sambil mengevaluasi di hadapan Tuhan sebelum bertindak. Intinya: Jangan mengambil keputusan saat kita sedang emosi. Mazmur 4:5 mengajar kita untuk "pause". Sebelum chat, sebelum berbicara, sebelum mengambil keputusan, diamlah dahulu kemudian bawalah kepada Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, aku adalah manusia yang gampang marah dan gampang salah langkah. Ampunilah aku kalau selama ini aku cepat melampiaskan amarah sehingga menjadi berdosa. Ajarilah aku seperti Daud, saat marah, aku datang kepada-Mu dahulu, bukan ke orang lain. Tolonglah aku untuk diam, berpikir, dan bicara dengan-Mu sebelum aku bertindak. Yesus, tolong jaga hati dan mulutku hari ini. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Rabu, 22 Juli 2026 - Buang segala akar kepahitanm hadirkan damai

    Play Episode Listen Later Jul 21, 2026 4:22


    Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 22 Juli 2026Bacaan: “Segala kepahitan, kegeraman dan kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” (Efesus 4:31)Renungan: Desmond Tutu adalah Uskup Afrika Selatan. Waktu rezim Apartheid berakhir, Afrika Selatan penuh luka. Kulit hitam benci kulit putih. Kulit putih takut dengan kulit hitam. Kalau membalas dendam maka negara itu akan hancur. Kemudian dibentuklah "Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi". Tugasnya: mendengar kesaksian korban, dan memberi kesempatan pelaku untuk mengaku. Banyak orang bertanya ke Uskup Tutu, “Mengapa harus mengampuni? Mereka pantas dihukum!” Dia menjawab: “Kalau kita terus menyimpan kepahitan, yang dipenjara bukan mereka. Tapi hati kita sendiri.” Dia memiilih "membuang" kebencian, supaya bangsa itu bisa sembuh. Dan hal itu pada akhirnya menyelamatkan Afrika Selatan dari perang saudara. Paulus menulis bacaan di atas kepada jemaat di Efesus. Dia berkata kalau mau hidup baru di dalam Kristus, ada enam sampah yang harus dibuang dari dalam hati yaitu kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah dan segala kejahatan. Kata kuncinya, “hendaklah dibuang”. Ini adalah satu keputusan yang tidak bisa ditawar. Kenapa harus dibuang? Karena enam sampah ini dapat merusak hubungan kita dengan Tuhan dan dengan sesama. Roh Kudus tidak bisa tinggal di hati yang penuh sampah. Dia hanya dapat tinggal di dalam hati yang penuh damai dan mau mengampuni. Mengampuni bukan berarti "yang dia lakukan benar". Mengampuni artinya: "Menyerahkan semuanya ke tangan Tuhan, sehingga kita bisa menjadi pribadi yang bebas". Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, aku membawa semua kepahitan, kemarahan, dan fitnah dalam hatiku kepada-Mu. Hari ini aku mau membuang itu semua. Ampunilah aku karena sudah menyimpan luka itu terlalu lama. Kini isi hatiku dengan kasih-Mu. Berilah aku hati yang baru dan mudah mengampuni seperti Engkau selalu mengampuni aku. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Selasa, 21 Juli 2026 - Jangan Takut, Tuhan selalu menyertai

    Play Episode Listen Later Jul 20, 2026 6:20


    Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 21 Juli 2026Bacaan: “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” (Yesaya 41:10) Renungan: Ada seorang pemuda bernama Riko berusia 27 tahun. Pagi-pagi dia scroll instagram melihat teman-teman seangkatannya. Ada yang sudah menjadi manager, menikah, punya anak dan punya rumah. Siang harinya dia mendapat email, lamaran kerjanya ditolak lagi. Ini adalah penolakan yang ke-8 selama satu bulan ini. Malam harinya orang tuanya bertanya: “Kapan kerja? Kapan nikah?” Kemudian dia masuk kamar dan duduk di tempat tidurnya. Kepalanya penuh dan dia menjerit pelan, “Aku gagal. Aku ketinggalan. Aku sendirian.” Diapun takut akan masa depannya dan mulai bimbang dengan keputusan yang akan diambilnya. Ia merasa capek namun pura-pura kuat di depan orangnya. Saat hendak tidur tiba-tiba hatinya tergerak untuk membaca Alkitab. Pada saat ia membuka Alkitab, tanpa disengaja ia membaca Yesaya 41:10. Setelah membacanya ia menjadi tenang dan malam itu ia bisa tidur dengan nyenyak. Pada saat bangsa Israel hidup dalam pembuangan, mereka merasa takut, bimbang dan merasa dibuang oleh Tuhan. Tetapi melalui bacaan di atas Tuhan memberikan kekuatan kepada mereka. Ada 4 janji yang Tuhan nyatakan yaitu, pertama, “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau”. Dalam hal ini Tuhan mau mengatakan bahwa apapun masalah yang dialami bangsa Israel saat itu, Allah tidak pernah meninggalkan mereka. Allah selalu menyertai mereka. Kedua, “Janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu”. Kalimat ini mau menunjukkan kepada bangsa Israel bahwa Allah dekat pada bangsa Israel. Ketiga, “Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau”. Saat mereka lemah, Allah menguatkan. Saat mereka tidak punya harapan, Aku menolong mereka. Keempat, “Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku”. Tuhan mau mengingatkan bahwa tangan kanan-Nya penuh kuasa dan kemenangan. Tuhan tidak pernah berkata, "Hidupmu aman dan tidak ada masalah", tapi Dia berjanji, "Di tengah masalahmu, Aku menyertai, meneguhkan dan memegang engkau." Ketakutan kita dijawab dengan kehadiran Tuhan. Kebimbangan kita dijawab dengan janji Tuhan. Jadi ketika besok bangun pagi dan kecemasan muncul lagi, ingatlah bahwa kita tidak sedang berjuang sendirian. Ada tangan kanan Tuhan yang sedang memegang dan menuntun kita selangkah demi selangkah menuju kemenangan-Nya. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, hari ini aku mengakui bahwa aku takut dan bimbang akan masa depanku. Tapi hari ini juga firman-Mu berkata, "Jangan takut, sebab Aku menyertai engkau." Tolong pegang tanganku, Tuhan. Teguhkan hatiku yang lemah. Aku percaya Engkau Allahku dan Engkau tidak pernah meninggalkan aku. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Senin, 20 Juli 2026 - Saling mengasihi dan menghargai dengan sesama

    Play Episode Listen Later Jul 19, 2026 5:50


    Kencan Dengan Tuhan - Senin, 20 Juli 2026Bacaan: “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.” (Roma 12:10)Renungan: Mother Teresa ketika tinggal di Kalkuta, dia sering berjalan kaki mengelilingi gang kumuh. Dia memungut orang yang sekarat di pinggir jalan, membersihkan lukanya dan memberinya makan. Suatu hari ada seorang wartawan yang bertanya: “Kenapa Ibu melakukan semua ini?”Jawabnya sederhana, “Karena setiap orang itu adalah Yesus yang menyamar. Dan saya mau mendahului menghormati Dia.” Ia tidak menunggu orang lain lebih dulu sopan. Ia tidak menunggu orang miskin itu "layak" dihormati. Dia yang lebih dulu memberi hormat dengan mencuci kaki, memeluk dan memanggil mereka dengan namanya. Dari kasih kecil yang mendahului itu, ribuan orang di seluruh dunia tersentuh dan ikut melayani. Paulus memberi dua kunci untuk hidup bersaudara. Pertama saling mengasihi sebagai saudara. Bukan kasih karena cocok, tapi karena kita satu keluarga di dalam Kristus. Kedua saling mendahului dalam memberi hormat. Kata “mendahului” artinya berlomba. Siapa yang lebih dulu menghargai dan memuliakan orang lain. Intinya: Jangan tunggu dihormati dulu baru menghormati. Jangan tunggu disapa dulu baru menyapa. Di kerajaan Allah, yang "menang" adalah yang paling dulu mengasihi. Sebagai pengikut Yesus, mungkin ayat ini menampar kita di tiga area yaitu pertama di Gereja / Komunitas. Kita sering pilih-pilih teman. Dekat sama yang sekelompok, seumuran, sepelayanan. Sedangkan yang beda pendapat, kita cuek. Padahal kita dipanggil saling mengasihi sebagai saudara. Kedua di Rumah & Kantor. Kita mau dihargai. Mau didengar. Mau diapresiasi. Tetapi kita menunggu orang lain mulai duluan. Akibatnya semua diam dan saling menunggu. Di Media Sosial. Gampang komen pedas, gampang menjatuhkan. Padahal kita dipanggil mendahului memberi hormat, bukan mendahului menghakimi. Roma 12:10 ini mengajak kita jadi pembuka jalan. Mendahului minta maaf. Mendahului memuji. Mendahului melayani tanpa pamrih. Mendahului menghargai orang yang tidak populer dan sebagainya. Karena saat kita mendahului mengasihi, kita sedang memperlihatkan seperti apa keluarga Allah itu. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ampunilah aku yang sering menunggu orang lain mengasihi aku dulu. Ajarilah aku mengasihi sebagai saudara, bahkan kepada yang sulit kukasihi. Berikanlah aku hati yang mau mendahului dalam memberi hormat. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Minggu, 19 Juli 2026 - Berinisiatif... lakukan lebih dahulu

    Play Episode Listen Later Jul 18, 2026 6:20


    Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 19 Juli 2026Bacaan: “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” (Lukas 6:31)Renungan: Fred Rogers adalah seorang pembawa acara TV anak-anak di Amerika selama 33 tahun. Acaranya sederhana: dia duduk, ganti sepatu, nyanyi, ngobrol dengan anak-anak. Suatu hari dia diundang ke Senat AS untuk meminta dana bagi TV publik anak-anak. Semua orang pikir dia akan kalah, karena waktu bicaranya cuma 6 menit. Tapi dia tidak bicara data. Dia cerita tentang anak yang merasa tidak dicintai, lalu berkata: “Saya ingin anak-anak tahu bahwa mereka dicintai apa adanya.” Anggota Senat yang awalnya mau potong dana, langsung menyetujui 20 juta dolar. Kenapa? Karena Rogers memperlakukan mereka seperti dia ingin diperlakukan, dengan hormat, tulus, dan tidak menghakimi. Lukas 6:31 ini merupakan "Aturan Emas" yang dikatakan Yesus di atas bukit. Kalimatnya pendek, tapi sungguh bermakna, “Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” Yesus tidak berkata, "Perlakukan orang seperti mereka memperlakukan kamu". Dia berkata, "Perlakukan seperti kamu ingin diperlakukan". Ini kasih yang aktif. Namun aturan ini paling susah dipraktikkan di tiga tempat yaitu pertama, di Media Sosial. Kita mau dihargai pendapatnya, tapi kita gampang menghakimi dan nyinyir di kolom komentar. Kita mau dimengerti, tapi kita cepat menyimpulkan orang. Kedua, di Keluarga dan Kantor. Kita mau disupport saat capek, tapi kita pelit memuji orang lain. Kita mau dimaafkan saat salah, tapi kita susah mengampuni. Ketiga, ke orang yang menyakiti kita. Kita mau diberi kesempatan kedua, tapi kita menutup pintu untuk orang yang pernah melukai kita. Yesus menantang kita hari ini: Jangan jadi cermin yang hanya memantulkan perlakuan orang. Jadilah lampu yang menyalakan kebaikan duluan. Mungkin hari ini ada orang yang perlu kita perlakukan seperti kita ingin diperlakukan yaitu kita meminta maaf duluan, membelikan kopi rekan kerja, diam dan mendengarkan pasangan kita dan senyum ke tukang ojek dll. Karena saat kita menabur perlakuan yang kita mau terima, kita sedang mencerminkan kehadiran Yesus. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ampunilah aku yang sering menuntut orang lain berubah dulu, baru aku berubah. Hari ini ajarilah aku hidup dengan Aturan Emas-Mu untuk memperlakukan orang lain dengan baik sebagaimana aku mau diperlakukan dengan baik oleh orang lain. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Sabtu, 18 Juli 2026 - Datang padaNya dalam kelemahan, mohon kekuatan

    Play Episode Listen Later Jul 17, 2026 5:15


    Kencan Dengan Tuhan - Sabtu, 18 Juli 2026Bacaan: “Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." (Markus 5:28)Renungan: Bethany Hamilton adalah seorang atlet selancar profesional. Pada usia 13 tahun, lengannya digigit hiu saat latihan di Hawaii. Dia hampir mati kehabisan darah. Dokter mengatakan karir selancarnya selesai. Banyak orang merasa kasihan dan berkata, "Sudahlah, berhenti saja." Tapi empat minggu kemudian dia sudah kembali ke papan selancarnya dengan 1 tangan. Waktu ditanya apa yang menguatkan dia, dia menjawab, "Saya tidak berdoa minta lengan saya kembali. Saya berdoa minta Tuhan pakai hidup saya. Asal saya bisa dekat dengan Dia, itu cukup." Pada akhirnya dia pun meraih juara dunia, punya keluarga, dan jadi kesaksian bahwa Tuhan sanggup memakai kekurangan menjadi kekuatan. Dia "menjamah jubah Yesus" di tengah luka, dan Tuhan beri dia kekuatan baru. Bacaan di atas mengisahkan tentang seorang perempuan yang sudah 12 tahun sakit pendarahan. Bayangkan: 12 tahun sakit, uang habis untuk biaya pengobatan, tetapi tidak sembuh, malah semakin parah. Secara agama dia najis. Tidak boleh memegang orang, hidupnya sendirian, malu dan putus asa. Tapi ketika dia mendengar tentang Yesus, muncullah iman di hatinya dengan berkata, "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." Ketika ia berhasil menjamah jubah Yesus, saat itu juga pendarahannya berhenti. Yesus berkata, "Imanmu telah menyelamatkan engkau." Yesus tidak hanya menyembuhkan tubuhnya, tapi juga memulihkan identitasnya. Sebagai pengikut Yesus, saat kita punya masalah kita sering meminta pertolongan ke dukun, orang pintar, curhat di medsos, curhat ke semua orang, cari motivasi. Tapi lupa datang dan menjamah Yesus. Yesus hari ini masih berjalan di tengah keramaian hidup kita. Dia tidak sibuk. Dia berhenti untuk satu orang yang beriman. Pertanyaannya: Maukah kita punya iman seperti perempuan itu? "Tuhan, aku tidak tahu jalan keluarnya. Tapi asal aku bisa dekat dengan-Mu, aku percaya Engkau sanggup menolong aku." Jangan tunggu kuat dulu baru datang kepada Tuhan. Datanglah dalam kelemahan. Karena di sanalah kuasa-Nya menjadi sempurna. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, aku datang seperti perempuan itu hari ini. Dengan iman kecil, dengan hati lelah, asal aku jamah Engkau saja, aku percaya ada kesembuhan. Jamah lukaku. Jamah kekuatiranku. Jamah hidupku. Aku tidak mau lari ke tempat lain lagi. Aku mau dekat dengan-Mu. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Jumat, 17 Juli 2026 - Percaya dan Berseru kepadaNya, Dia Pulihkan Hidupmu

    Play Episode Listen Later Jul 16, 2026 6:20


    Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 17 Juli 2026Bacaan: Lalu kata Yesus kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang buta itu: "Rabuni, supaya aku dapat melihat!" (Markus 10:51)Renungan: Helen Keller kehilangan penglihatan dan pendengaran sejak umur 19 bulan karena sakit. Dunianya gelap dan sunyi. Dia sering marah, memukul, dan merasa terkurung. Sampai datang seorang guru bernama Anne Sullivan. Hari yang mengubah hidup Helen adalah saat gurunya menaruh tangan Helen di bawah air mengalir sambil mengeja kata "w-a-t-e-r" di telapak tangannya. Saat itu Helen sadar bahwa segala sesuatu punya nama. Dia sadar ada dunia di luar kegelapannya. Helen kemudian berkata: “Saya lebih suka menjadi buta dan melihat dunia dengan hati, daripada punya dua mata tapi buta terhadap tujuan hidup.” Dari seorang yang "buta", Tuhan pakai dia jadi penulis, pembicara, dan menginspirasi jutaan orang. Bartimeus adalah seorang pengemis buta yang duduk di pinggir jalan Yerikho. Waktu ia mendengar Yesus lewat, dia berteriak minta tolong. Orang-orang menyuruhnya diam, tapi dia makin keras berteriak: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Yesus pun berhenti dan bertanya, "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Perhatikanlah dua hal: Pertama Yesus berhenti. Dia peduli pada satu orang yang berseru. Kedua, Yesus bertanya. Dia tahu apa yang diharapkan Bartimeus tetapi Dia mau Bartimeus jujur dan spesifik minta kepada-Nya. Bartimeus menjawab dengan jelas, "Supaya aku dapat melihat!" Dia tidak minta uang. Dia minta sumber dari segala berkat yaitu penglihatan. Dan seketika itu juga Bartimeus melihat, lalu mengikut Yesus. Kita juga sering "buta" seperti Bartimeus. Buta arah. Bingung tentang masa depan, kerja dan jodoh. Kita tidak tahu harus melangkah ke mana. Buta iman. Kita sudah lama berdoa tetapi belum dijawab. Akhirnya kita jadi tawar hati dan berhenti berharap. Buta akan kasih Tuhan. Kita mengalami luka hati dan kecewa menutupi mata kita, sehingga tidak bisa melihat Tuhan yang sedang bekerja memulihkan kita. Yesus hari ini masih bertanya hal yang sama kepada kita, "Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Dia tidak mau jawaban umum seperti "berkati aku Tuhan". Dia mau kita jujur, "Tuhan, pulihkan hubunganku dengan anakku", "Tuhan, berikan aku pekerjaan", "Tuhan, sembuhkan lukaku", "Tuhan, supaya aku dapat melihat rencana-Mu". Kita diharapkan jangan diam karena takut atau malu. Berserulah karena Yesus yang sama yang menyembuhkan Bartimeus, juga mau menyembuhkan kita hari ini. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, seperti Bartimeus aku berseru kepada-Mu hari ini, "Rabuni, supaya aku dapat melihat". Perlihatkan aku jalan-Mu, perlihatkan aku kasih-Mu, dan perlihatkan aku mujizat-Mu. Ampunilah aku yang sering menyerah dan diam karena tawar hati. Aku percaya Engkau mendengar dan sanggup memulihkan hidupku. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Kamis, 16 Juli 2026 - Bertolak ke tempat yang dalam

    Play Episode Listen Later Jul 15, 2026 5:50


    Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 16 Juli 2026Bacaan: "Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." (Lukas 5:4)Renungan: Waktu kecil Thomas Alfa Edison pernah dikeluarkan dari sekolah karena dianggap "terlalu bodoh". Gurunya berkata dia tidak bisa belajar. Waktu meneliti bola lampu, dia gagal ribuan kali. Wartawan bertanya: "Pak, bagaimana rasanya gagal ribuan kali?" Edison jawab: "Saya tidak gagal ribuan kali. Saya hanya menemukan ribuan cara yang tidak berhasil." Dia "bertolak ke tempat yang dalam" - terus mencoba walau semua orang berkata mustahil. Dari kegagalan itu lahirlah lampu pijar yang sampai hari ini menerangi dunia. Yang orang lihat gelap, tapi dia taat "menebar jala" terus, sampai akhirnya terang itu datang. Waktu itu Petrus sudah semalaman mencari ikan hasilnya mengecewakan. Ia capai, malu dan mau menyerah. Tetapi Yesus datang dan berkata, "Bertolaklah ke tempat yang dalam". Bertolak artinya bergerak. Jangan diam dalam kekecewaan. Tetap taat walau tidak masuk akal. Ke tempat yang dalam artinya menuju ke tempat yang berisiko, yang mungkin mustahil menurut manusia. Di sanalah mujizat akan terjadi. Tebarkanlah jalamu, artinya lakukan bagian kita dengan usaha dan iman, maka Tuhan akan melakukan bagian-Nya juga. Yesus tidak menyuruh Petrus kerja lebih keras. Dia menyuruh Petrus taat di tempat yang benar bersama Dia. Kita sering seperti Petrus yang "semalaman tidak mendapat apa-apa." Dalam pelayanan kita sudah mewartakan Injil dan mendoakan orang, tapi tidak ada yang berubah. Akhirnya godaan datang yaitu perkataan, "Sudahlah, capek." Di dalam keluarga kita sudah menasihati anak, sudah berdoa untuk pasangan, tapi ternyata situasinya sama tidak berubah. Maka godaan adalah perkataan, "Percuma." Di dalam kehidupan ini kita sudah mengirim lamaran, sudah berusaha, tapi pintu berkat tetap tertutup. Akhirnya kecewa dan godaannya adalah kata-kata pasrah karena kecewa, "Mungkin bukan jalanku." Yesus hari ini berkata kepada kita juga, "Bertolaklah ke tempat yang dalam." Mungkin "tempat yang dalam" itu adalah: tetap mengasihi musuh, tetap jujur walau rugi, tetap memuji walau hati sakit, tetap percaya walau doa belum dijawab. Di tempat dangkal kita hanya dapat ikan kecil. Tapi di kedalaman bersama Yesus, ada berkat yang bisa "mengoyakkan jala". Jangan berhenti sebelum Yesus berkata berhenti. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, aku sering menyerah terlalu cepat. Hari ini aku mendengar suara-Mu, "Bertolaklah ke tempat yang dalam." Berikan aku keberanian untuk taat, bahkan saat tidak mengerti. Tolonglah aku agar mau menebar jala lagi bersama-Mu. Aku percaya Engkau sanggup mengubah kegagalanku menjadi kesuksesan. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Rabu, 15 Juli 2026 - Tak menunggu sempurna untuk melayani Tuhan

    Play Episode Listen Later Jul 14, 2026 5:00


    Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 15 Juli 2026Bacaan: "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Roma 8:28) Renungan: Nick Vujicic lahir tanpa tangan dan tanpa kaki. Waktu kecil dia sering dibully di sekolah. Dia sempat bertanya, "Tuhan, mengapa Engkau membuat aku seperti ini? Hidupku untuk apa? Pada umur 10 tahun dia mau bunuh diri. Tapi dia sadar dan mulai berpikir, "Kalau Tuhan bisa pakai segala sesuatu, berarti Dia juga bisa pakai tubuhku yang seperti ini." Nick kemudian belajar berenang, main bola, mengetik dengan jari kaki. Pelan-pelan dia mulai bicara di depan orang. Awalnya cuma 10 orang. Lalu 100, lalu ribuan orang. Sekarang Nick sudah keliling kepuluhan negara, menginspirasi jutaan orang. Dia berkata, "Saya tidak punya tangan untuk memeluk orang, tapi saya punya mulut untuk memberitahu mereka bahwa Tuhan mengasihi mereka." Yang tadinya dia menganggap dirinya sebagai kutukan, Tuhan ubah menjadi alat untuk mendatangkan kebaikan bagi banyak orang. "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu" artinya tidak ada kejadian yang kebetulan. Yang manis dan yang pahit, yang gagal dan yang berhasil, semua ada dalam tangan Tuhan untuk mendatangkan kebaikan. Tuhan tidak mengatakan semua hal itu baik. Tapi Dia berjanji bisa mengubahnya menjadi lebih baik. Tuhan itu seperti seorang pelukis. Kita melihat coretan dari dekat. Tapi Tuhan sedang melukis gambar besar yang indah dari surga. Kita tidak perlu menunggu hidup menjadi "sempurna" dulu baru dipakai Tuhan. Mulai hari ini, bawalah semua kekurangan kita kepada Tuhan dan katakan pada-Nya, "Tuhan Engkau mau apa untuk hidupku ini? Aku siap untuk melakukan kehendak-Mu." Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ampunilah aku yang sering bertanya "kenapa aku" saat ada masalah. Hari ini aku percaya bahwa Engkau turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagiku. Pakailah hidupku, kekuranganku, bahkan lukaku, untuk menjadi berkat bagi orang lain. Aku mau mengasihi-Mu dan percaya pada indahnya rencana-Mu. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Selasa, 14 Juli 2026 - Menjadi Anak yang Taat

    Play Episode Listen Later Jul 13, 2026 5:07


    Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 14 Juli 2026Bacaan: "Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian." (Efesus 6:1)Renungan: Dimas adalah murid kelas 4 SD. Suatu hari gurunya memberi tugas membuat video tentang "Tokoh Panutanku". Teman-temannya memih pemain bola, youtuber, artis dll. Ketika tiba giliran Dimas presentasi, dia maju sambil membawa foto. "Itu siapa?" tanya temannya. "Itu Bapakku," jawab Dimas. "Setiap pagi Bapak bangun jam 5 buat antar aku sekolah. Kalau aku sakit, Bapak begadang menjaga aku. Kalau aku nakal, Bapak tetap doain aku." Teman-temannya terdiam. Ada yang ketawa kecil. Tapi Bu Guru bilang, "Itu pahlawan yang paling hebat, Dim." Malamnya Dimas cerita ke Bapaknya. Bapaknya memeluk Dimas sambil berkata, "Nak, Bapak juga belajar jadi orang tua yang baik dari Tuhan." Sejak itu Dimas menjadi anak yang lebih taat. Kalau disuruh belajar, dia tidak menjawab "nanti". Kalau disuruh membantu mencuci piring, dia langsung melakukannya. Taatilah orang tuamu di dalam Tuhan artinya mendengar dan melakukan apa yang orang tua minta, selama itu tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan. Mengapa? Karena "haruslah demikian". Tuhan memberikan orang tua sebagai wakil-Nya di dalam keluarga. Melalui mereka Tuhan memberi kita makan, sekolah, nasihat, dan doa. Taat bukan karena takut dimarahi tapi karena kita mengasihi Tuhan. Anak zaman sekarang terlalu pandai. Mereka bisa buka HP sendiri dan bisa mencari jawaban di Google. Tapi kadang karena "merasa lebih tahu", mereka jadi sering meremehkan orang tua. Mereka susah mendengarkan nasihat orang tua. Kalau orang tua bicara, mereka menjawab "Tau... Tau..." tapi sambil main HP. Mereka juga suka membantah. Disuruh belajar jawabnya, "Ah ntar", disuruh beresin kamar jawabnya, "Ribet". Mereka juga kurang menghargai orang tua. Lupa mengucapkan terima kasih untuk makanan, baju, uang sekolah dll. Taat itu bukan berarti jadi anak penakut. Taat itu berarti jadi anak yang pintar, karena tahu siapa yang Tuhan pakai untuk menjaganya. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, terima kasih untuk Papa dan Mama yang Engkau berikan kepadaku. Ampuni aku kalau sering membantah dan membuat mereka sedih. Ajarilah aku menjadi anak yang taat, seperti Yesus yang juga taat kepada Maria dan Yusuf. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Senin, 13 Juli 2026 - Merangkul dan menyambut sesama yang terabaikan

    Play Episode Listen Later Jul 12, 2026 6:41


    Kencan Dengan Tuhan - Senin, 13 Juli 2026Bacaan: "Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku." (Mazmur 27:10)Renungan: Pada tahun 1967, seorang laki-laki bernama Joni Eareckson umur 17 tahun meloncat ke danau untuk menyelam. Namun karena salah perhitungan, dia cedera tulang belakang. Sejak hari itu dia lumpuh dari leher ke bawah. Dunia Joni runtuh. Orang tuanya sedih, teman-temannya menjauh. Dia marah sama Tuhan. "Kenapa aku? Kenapa Tuhan izinkan ini?" Di tempat tidur rumah sakit, dia merasa benar-benar ditinggalkan. Fisiknya lemah, masa depannya gelap, dan dia merasa tidak ada yang mengerti. Tapi di titik paling hancur itu, Joni mulai membuka Alkitab. Mazmur 27:10 jadi pegangannya: "Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku." Tuhan tidak menyembuhkan tubuhnya. Tapi Tuhan menyambut dia. Dari kursi roda, Joni menjadi pelukis dengan kuas di mulut, penulis 40 buku, dan pendiri yayasan yang menolong ribuan penyandang disabilitas di seluruh dunia. Dia berkata, "Tuhan tidak selalu mengeluarkan kita dari air, tapi Dia selalu masuk ke dalam air bersama kita." Daud menulis mazmur di atas ini saat dia dikejar-kejar, difitnah, bahkan mungkin ditinggal orang terdekatnya. "Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku", ini merupakan kalimat yang paling menyakitkan. Keluarga seharusnya jadi tempat paling aman. Tapi Daud berkata, bahkan tempat paling aman itu mengecewakan. Kalimat selanjutnya, "...namun TUHAN menyambut aku", itu merupakan kalimat yang meneguhkan dan menguatkan karena itu berarti Tuhan mengumpulkan, merangkul dan membawanya pulang. Mazmur ini mengajarkan kita bahwa pengharapan tidak boleh hanya ditaruh di tangan manusia tetapi di tangan Tuhan. Manusia bisa gagal, bisa pergi, bisa melukai. Tapi Tuhan tidak pernah. Dia selalu jadi rumah yang tidak pernah menolak kita pulang. Sebagai pengikut Yesus kita pasti pernah merasa "ditinggalkan", antara lain ditinggalkan orang. Teman yang unfollow karena kita beda pilihan. Keluarga yang tidak mendukung panggilan kita. Rekan kerja yang menikam dari belakang. Rasanya sakit. Tapi ingat, Tuhan menyambut kita. Dia tidak pernah meng-unfollow kita. Kita juga mungkin pernah ditinggalkan harapan. Doa belum dijawab, pintu kerja tertutup dan rencana gagal. Rasanya Tuhan diam, tetapi ternyata dia tetap "menyambut" artinya Dia tetap dekat. Dia peluk kita di tengah penantian kita. Kita juga mungkin pernah ditinggalkan diri sendiri. Kita kecewa pada diri sendiri sehingga kita berkata, "Aku gagal lagi". Tapi Tuhan berkata, "Aku tidak meninggalkan kamu. Aku mengumpulkan kepingan harapanmu satu persatu." Sebagai pengikut Yesus, kita dipanggil juga untuk menjadi "tangan Tuhan yang menyambut". Ketika melihat rekan kerja yang dikucilkan, murid yang diabaikan, keluarga yang kesepian, jadilah rumah bagi mereka, karena kita sudah lebih dahulu disambut Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau tidak pernah meninggalkan aku. Ampunilah aku kalau aku sering mencari penerimaan di tempat yang salah. Hari ini aku mau pulang dan berlindung dalam pelukan-Mu. Pakailah aku juga untuk menyambut orang-orang di sekitarku yang merasa ditinggalkan. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Minggu, 12 Juli 2026 - Tetap tenang dan percaya padaNya

    Play Episode Listen Later Jul 11, 2026 5:25


    Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 12 Juli 2026Bacaan: "Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenang! Aku ini, jangan takut!" (Matius 14:27)Renungan: Pada tahun 1993, Nelson Mandela baru 3 tahun keluar dari penjara setelah 27 tahun dipenjara di Afrika Selatan. Negaranya sedang di ujung tanduk. Kulit putih takut kehilangan kuasa. Kulit hitam marah dan mau membalas dendam. Perang saudara hampir meledak setiap hari. Semua penasihatnya berkata, "Pakai kekuatan dan balas. Amankan posisi dulu." Tapi Mandela masuk ke ruangannya, berdoa, lalu mengambil keputusan yang membuat dunia kaget. Dia undang mantan sipir penjaranya makan siang di istana. Dia membentuk "Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi". Dia memilih mengampuni daripada membalas. Ketika ia ditanya mengapa berani ambil risiko sebesar itu, dia menjawab, "Saya sudah 27 tahun hidup dalam ketakutan dan kebencian. Saat saya keluar dari penjara, saya sadar kalau saya tidak melepaskan itu, maka saya masih di dalam penjara." Mandela memilih tenang di tengah badai, karena dia percaya ada panggilan yang lebih besar daripada rasa takutnya. Bacaan Injil di atas terjadi saat murid-murid ada di tengah danau Galilea. Angin kencang, ombak besar dan perahu hampir tenggelam. Mereka melihat "sesuatu" jalan di atas air dan berteriak ketakutan, mengira itu adalah hantu. Di titik paling panik itu, Yesus datang. Kalimat pertama-Nya bukan, "Aku akan meredakan badai", tetapi kalimat pertama-Nya adalah, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Yesus dalam hal ini mau mengingatkan bahwa sebelum Ia membereskan masalah kita, ketahuilah dulu siapa yang ada bersama kita. Badai boleh tetap ada. Tapi kalau "Aku ini" ada di perahu, maka kita tidak akan tenggelam. "Danau" kita saat ini mungkin berbeda, tetapi ombaknya sama kencang, yaitu pertama badai Ketidakpastian, contohnya dalam hal kerja, ekonomi, masa depan dll. Kita seperti para murid melihat gelombang, bukan melihat Yesus. Yesus berkata, 'Tenanglah! Aku pegang kendali hidupmu." Kedua badai hubungan. Ada luka, kecewa, pengkhianatan dll. Godaannya adalah kita mau membalas atau menghindar. Mandela mengajar kita memilih tenang dan memilih pengampunan, karena ada Yesus bersama kita. Ketiga badai batin. Ada kecemasan, kegagalan dan merasa tidak cukup. Kita berteriak dalam hati. Yesus datang dan berkata hal yang sama, "Tenanglah! Aku ini. Kamu tidak sendirian. Kita sering meminta Tuhan membereskan badainya dulu baru kita tenang. Tapi Tuhan minta kita percaya dulu bahwa Dia ada, barulah kita bisa tenang di tengah badai. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ampunilah aku yang sering lebih fokus pada badai daripada kehadiran-Mu. Hari ini aku mau mendengar suara-Mu: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Mampukan aku seperti Mandela, untuk tidak dikuasai takut dan benci. Peganglah tanganku di tengah gelombang hidupku. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Sabtu, 11 Juli 2026 - Nyatakan Kasih dengan Pengampunan

    Play Episode Listen Later Jul 10, 2026 5:37


    Kencan Dengan Tuhan - Sabtu, 11 Juli 2026Bacaan: "Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni." (Lukas 6:37)Renungan: Pada tahun 1947, Corrie ten Boom baru bebas dari kamp konsentrasi Nazi. Keluarganya dibunuh karena menyembunyikan orang Yahudi. Suatu hari setelah perang, ada seorang pria datang ke KKR yang dia pimpin. Pria itu dulu adalah penjaga kamp tempat adik Corrie meninggal. Dia ulurkan tangan dan berkata: "Bisakah anda mengampuni saya?" Sekujur tubuh Corrie kaku. Ingatan tentang adiknya, tentang kamar gas, semua kembali. Dalam hati dia berteriak: "Tuhan, aku tidak bisa!" Lalu dia berdoa singkat: "Yesus, tolong aku." Dan dengan kekuatan dari Tuhan, dia menjabat tangan pria itu. Air matanya jatuh. Beberapa tahun kemudian Corrie menulis: "Pengampunan adalah tindakan kehendak, bukan perasaan. Begitu kita mau mengampuni, Tuhan yang memberi rasa damainya." Ada tiga perintah yang saling terkait dalam bacaan Injil di atas. Pertama, "Janganlah kamu menghakimi" Berhentilah menjadi hakim atas hidup orang lain. Kita tidak tahu semua cerita di balik kesalahan orang tersebut. Kedua, "Janganlah kamu menghukum". Berhentilah membalas. Jangan memenjarakan orang dengan perkataan dan sikap dingin kita. Ketiga, "Ampunilah dan kamu akan diampuni". Inilah kuncinya. Ukuran pengampunan kita ke orang sama dengan ukuran pengampunan Tuhan ke kita. Yesus tidak berkata "lupakan kejahatan". Dia berkata "ampunilah". Orang yang terus menghakimi dan tidak mengampuni, dia yang paling tersiksa duluan. Corrie bisa menjabat tangan musuhnya bukan karena dia kuat. Tapi karena dia memilih taat dulu pada Tuhan, baru kemudian Tuhan memberinya kekuatan. Hari ini Yesus bertanya ke kita: "Ada nama siapa yang masih kau tahan di hatimu untuk diampuni?" Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ampunilah aku karena sering cepat menghakimi dan lambat mengampuni. Hari ini aku mau taat pada firman-Mu. Aku memilih mengampuni (sebutkan nama orang).... Isilah hatiku dengan kasih-Mu supaya aku bisa membebaskan orang lain, dan aku pun dibebaskan. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Jumat, 10 Juli 2026 - Menjadi Berkat bagi sesama yang membutuhkan

    Play Episode Listen Later Jul 9, 2026 6:41


    Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 10 Juli 2026Bacaan: "Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan." (Matius 14:16)Renungan: Suatu kali di sebuah komplek perumahan terjadi kebanjiran. Air masuk ke rumah warga. Semua panik. Ada ibu-ibu bawa anak kecil, ada kakek yang tidak bisa jalan. Di grup RT langsung ramai. Ada yang bilang: "Lapor kelurahan aja", "Tunggu bantuan datang", "Kita kan tidak punya perahu". Semuanya punya alasan kenapa "tidak bisa" bergerak sekarang. Tiba-tiba Pak RT ambil ember, galon kosong, dan teriak: "Yang bisa berenang, ikut saya! Kita evakuasi dulu yang anak kecil dan lansia. Soal makan nanti kita pikir bareng." Warga yang tadinya diam jadi ikut. Ada yang masak mie di pos ronda, ada yang buka dapur, ada yang kumpulin pakaian layak pakai. Sore itu semua warga selamat dan dapat makan. Bantuan dari kelurahan baru datang malam. Pak RT bilang, "Kalau kita menunggu bantuan dulu, orang bisa keburu lapar dan kedinginan. Kasih dulu apa yang kita punya." Peristiwa dalam Injil Matius 14:16 terjadi saat 5000 orang kelaparan di tempat yang sepi. Para murid melihat masalahnya besar dan mereka memberikan jalan keluar dengan berkata, "Suruh mereka pergi, supaya mereka dapat mencari makan sendiri." Pola pikir mereka adalah, "Masalah terlalu besar. Bukan kapasitas saya. Biar orang lain." Tetapi Yesus mengingatkan mereka dengan berkata, "Tidak perlu mereka pergi, kamu yang harus memberi mereka makan." Yesus tidak minta mereka mencetak uang atau buka supermarket. Dia minta mereka menyerahkan apa yang ada pada mereka, dalam hal ini 5 roti 2 ikan. Hasilnya? Semua kenyang, bahkan sisa 12 bakul. Sebagai pengikut Yesus terkadang saat ada orang yang membutuhkan pertolongan kita berkata, "Tidak bisa. Tidak cukup. Bukan urusan saya. Sudah ada pemerintah biar mereka yang menangani." Hari ini Tuhan mengingatkan kita bahwa hal kecil yang kita lakukan dengan ketulusan hati, maka akan menjadi berkat yang luar biasa. Mari kita belajar untuk percaya bahwa Tuhan kita Yesus Kristus lebih besar dari masalah yang ada di sekitar kita. Kalau kita percaya penuh pada-Nya maka akan selalu ada jalan keluar untuk setiap permasalahan yang ada di sekitar kita atau yang kita alami. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ampunilah aku kalau selama ini aku cepat berkata "tidak bisa" dan menyuruh orang lain pergi. Buka mataku untuk melihat kebutuhan di sekitarku dan ajarilah aku agar mau memberi dulu apa yang ada di tanganku: waktu, harta, tenaga, dan kasih. Pakailah aku untuk jadi jawaban doa bagi sesama. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Kamis, 9 Juli 2026 - Berpikir dan berkata-kata positif

    Play Episode Listen Later Jul 8, 2026 6:26


    Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 9 Juli 2026Bacaan: "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya." (Amsal 18:21)Renungan: Suatu hari seorang istri mengeluh karena minggu ini ia terlalu lelah. Kerjaan menumpuk, anak rewel minta ditemenin belajar. Suaminya pulang kerja terus rebahan main HP. Tanpa sadar ia kesal dan berkata kepada suaminya: "Kamu sih tahunya cuma enak-enak rebahan. Gak pernah mikirin rumah ini!" Suaminya pun diam. Malam itu suasana rumah menjadi dingin. Dua hari kemudian giliran ia yang sakit. Anak-anak yang biasanya deket dengannya menjadi takut karena melihat papa mamanya tegang. Ia pun tersadar. Satu kalimat emosinya malam itu "mematikan" suasana rumah selama dua hari. Padahal kalau ia bilang: "Pa, aku capek. Boleh tolong temenin anak belajar 30 menit?" pasti jawabannya berbeda. Amsal 18:21 ini berisi peringatan keras dari Raja Salomo tentang kuasa dari kata-kata: "Hidup dan mati dikuasai lidah". Di rumah, lidah kita bisa jadi sumber kehidupan atau sumber kematian. Dengan kata-kata kita bisa menghidupkan semangat pasangan, menguatkan anak yang gagal, memberkati keluarga. Tapi dengan kata-kata juga kita bisa melukai hati pasangan, mematikan semangat anak, dan merusak keharmonisan rumah. Rumah tangga kita adalah cermin dari apa yang sering kita ucapkan. Suka mengeluh, maka rumah penuh keluhan. Suka mengucap syukur dan menguatkan, maka rumah penuh damai. Keluarga adalah tempat pertama kita latihan memakai lidah. Tiga hal yang bisa kita latih mulai saat ini: 1. Ganti kritik dengan permintaan. Dari perkataan, "Aku sibuk, jadi lupa" menjadi "Sayang, boleh tolong ingetin aku ya" 2. Perbanyak kata penguat untuk anak. Perkataan, "Mama bangga kamu sudah berusaha", lebih menghidupkan daripada "Nilainya kok segitu-segitu aja".3. Doa berkat sebelum tidur. Ucapkan satu kalimat berkat untuk tiap anggota keluarga. Itu seperti menyiram tanaman di rumah. Ingat, anak-anak kita tidak akan ingat seberapa rapi rumah kita. Tapi mereka akan ingat: "Di rumah ini, kata-kata apa yang paling sering ia dengar." Tuhan Yesus memberkati. DOA:Tuhan Yesus, ampunilah aku kalau selama ini lidahku sering melukai orang-orang yang paling aku kasihi di rumah. Ajarilah aku menjadi pembawa damai di tengah keluargaku. Berikan hikmat supaya setiap kata yang keluar dari mulutku adalah kata yang membangun, menguatkan, dan memberkati. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Rabu, 8 Juli 2026 - Tetap lakukan kebaikan dalam keadaan apapun

    Play Episode Listen Later Jul 7, 2026 4:32


    Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 8 Juli 2026Bacaan: "Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!" (Roma 12:21)Renungan: Suatu kali ada seorang teman guru dari sekolah lain bercerita bahwa di grup WA orang tua murid, ada 1 orang tua yang tiba-tiba menyerang kebijakan sekolah. Kata-katanya pedas, menuduh, bahkan menyeret nama guru. Tangannya gatal mau membalas. Mau sekalian "membongkar" juga keburukan dia. Tapi ia menahan diri. Ia menarik napas, lalu mulai menjawab: "Terima kasih sudah peduli. Boleh kita bicara 4 mata? Saya rindu mendengar masukannya langsung." Anehnya, dua hari kemudian dia chat pribadi dan minta maaf. Katanya dia malu sendiri karena direspon dengan baik. Baru sadar ternyata "melawan api dengan air" itu benar-benar bisa memadamkan. Roma 12:21 ini ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Roma yang hidup di tengah tekanan, fitnah, dan perlakuan tidak adil. Dunia berkata: "Lawan dan sakiti orang yang menyakitimu. Tapi Tuhan bilang: "Jangan kalah terhadap kejahatan. Kalahkan kejahatan dengan kekebaikan." Kata "kalahkan" di sini bukan berarti kita jadi lemah. Justru butuh kekuatan besar untuk tidak membalas. Kebaikan adalah senjata yang mematahkan lingkaran kebencian. Kita hidup saat ini di era yang cepat tersulut: Di media sosial, satu komentar jahat dibalas 10 komentar lebih jahat. Di rumah, satu kata ketus dibalas dengan membentak. Di kantor/sekolah, satu gosip dibalas dengan menjatuhkan. Tuhan hari ini menguji kita: Mau jadi pemadam atau penambah api? Mungkin kita tidak bisa mengubah karakter orang yang buruk. Tapi kita bisa memilih untuk tidak jadi sama seperti dia. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, sering kali aku kalah terhadap amarah dan keinginan membalas. Hari ini ajarilah aku untuk meneladani-Mu yang membalas kejahatan dengan pengampunan. Berilah aku kekuatan untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan, mulai dari rumahku, sekolahku, dan lingkunganku. Pakailah hidupku menjadi alat damai-Mu. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Selasa, 7 Juli 2026 - Berani jujur dan siap dibentuk Tuhan

    Play Episode Listen Later Jul 6, 2026 4:46


    Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 7 Juli 2026Bacaan: "Manusia itu menjawab: 'Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.'" (Kejadian 3:12)Renungan: Suatu kali Anna ditegur atasan karena laporan keuangan telat. Anna sebenarnya yang salah karena ia lupa mengingatkan tim. Tapi apa jawaban pertama Anna? "Pak, si Yordan yang pegang datanya. Saya sudah bilang kok, tapi dia tidak kirim-kirim." Selesai bicara Anna menjadi lega. Rasanya beban pindah ke Yordan. Malamnya barulah Anna sadar. Ia baru saja melakukan hal yang sama seperti Adam di taman Eden. Menyalahkan orang lain supaya ia tidak terlihat salah. Kejadian 3:12 ini terjadi sesaat setelah Adam dan Hawa makan buah terlarang. Tuhan datang dan bertanya. Seharusnya ini momen pertobatan. Tapi lihat jawaban Adam. Pertama, ia menyalahkan Tuhan dengan berkata, "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku." Seolah Tuhan yang salah kasih pasangan. Kedua, ia menyalahkan orang lain, "Dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan. " Adam tidak berani bertanggung jawab dalam hal ini. Dosa pertama manusia bukan hanya tidak taat pada perintah Tuhan. Dosa pertama juga "tidak mau mengakui salah". Dari taman Eden sampai kantor, rumah, dan sekolah kita hari ini, polanya sama. Hati kita lebih memilih membela diri daripada jujur di hadapan Tuhan dan sesama. Di zaman sekarang kita punya 1001 cara untuk "melempar kesalahan": "Grup WA yang tidak dibaca, sinyal jelek, anak yang rewel, pasangan yang tidak mengerti, sistem yang ribet dsb." Tapi Tuhan hari ini mengajak kita untuk berhenti jadi "Adam". Keberanian berkata "Tuhan, aku salah" adalah awal pemulihan. Di keluarga: minta maaf dulu sebelum menjelaskan. Di kantor: akui bagian kita sebelum menunjuk orang. Di hadapan Tuhan: buka hati apa adanya, jangan berdalih. Ingatlah, Tuhan tidak mencari orang yang sempurna. Tuhan mencari orang yang jujur dan mau diperbaiki. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, Ampuni aku yang sering seperti Adam. Lebih cepat menyalahkan orang lain daripada mengakui kesalahanku sendiri. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Senin, 6 JUli 2026 - Sikap respek dan menerima orang lain apa adanya

    Play Episode Listen Later Jul 5, 2026 5:28


    Kencan Dengan Tuhan - Senin, 6 Juli 2026Bacaan: Lalu berkatalah yang seorang kepada yang lain: "Tidak patut yang kita lakukan ini. Hari ini ialah hari kabar baik, tetapi kita ini tinggal diam saja. Apabila kita menanti sampai terang pagi, maka hukuman akan menimpa kita. Jadi sekarang, marilah kita pergi menghadap untuk memberitahukan hal itu ke istana raja." (2 Raja-raja 7:9)Renungan: Di zaman Israel kuno, salah satu penyakit yang paling ditakuti adalah kusta. Mengapa? Karena penyakit ini tak hanya memberikan rasa sakit secara fisik, tapi juga menyerang mental penderitanya. Bagaimana tidak? Orang kusta akan dicap sebagai orang yang kena tulah dan dikutuk Allah. Orang kusta juga diasingkan dan begitu direndahkan. Bacaan kita hari ini sungguh menarik untuk kita renungkan. Orang kusta yang selama ini diremehkan justru menjadi pahlawan Israel. Sementara rakyat Israel mengalami kelaparan hebat, orang-orang kusta inilah yang memberi tahu mereka bahwa tentara Aram sudah meninggalkan perkemahannya dan meninggalkan banyak perbekalan. Padahal bisa saja orang-orang kusta itu "balas dendam" dan membiarkan rakyat Israel kelaparan sementara mereka bisa menikmati makanan secara berlimpah. Bisa kita bayangkan betapa malunya rakyat Israel saat mengetahui bahwa orang-orang kusta inilah yang menolong mereka dengan mengabarkan berita baik itu. Orang-orang yang selama ini mereka rendahkan justru menjadi pahlawan bagi mereka. Apa yang bisa kita pelajari dari kisah ini? Janganlah kita suka meremehkan, merendahkan, melakukan hal yang jahat, atau memusuhi seseorang. Kita tidak pernah tahu bahwa orang yang kita jahati adalah orang yang kelak kita mintai pertolongan! Bayangkan betapa malunya kita jika hal itu sampai terjadi. Lebih malu lagi kalau orang itu bersedia menolong kita! Orang yang kita remehkan, bisa saja kelak menjadi orang terhormat. Orang yang kita anggap bawahan, bisa saja menjadi atasan kita. Orang yang kita sangka buruk, bisa saja ternyata adalah orang baik yang tidak pernah memamerkan kebaikannya. Orang yang kita jahati, bisa saja orang itu membalasnya dengan berbuat baik kepada kita. Karena itu marilah kita tidak jemu-jemu berbuat baik kepada setiap orang. Singkirkan prasangka-prasangka dan penilaian lahiriah yang nyatanya sering terbukti salah itu. Kita tidak pernah tahu bahwa kita sedang menabur kebaikan yang suatu kali kelak akan kita tuai pada waktu yang tepat. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, berilah aku hati seperti hati-Mu. Hati yang bisa menerima setiap orang apa adanya dan tidak menganggap rendah mereka. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Minggu, 5 Juli 2026 - Berani bersuara dan memberi solusi

    Play Episode Listen Later Jul 5, 2026 6:22


    Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 5 Juli 2026Bacaan: Berkatalah Daud kepada Saul: "Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia, hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu." (1 Samuel 17:32)Renungan: Ketika kita mendengar kata "jenius", siapa sosok yang terlintas di benak kita? Albert Einstein mungkin salah satunya. Einstein memang diakui dunia akan kejeniusannya. Tapi, ada hal-hal tertentu di mana kita mungkin "lebih cerdas" dari Einstein. Jika tiap hari kita bisa pulang ke rumah tanpa tersesat, kita lebih pintar dari Einstein. Ya, walau punya otak jenius, Einstein dikenal pelupa untuk hal sehari-hari seperti mengingat tanggal, bahkan nomor teleponnya sendiri. la juga sering kesulitan menemukan rumahnya. Itu sebabnya, konon pintu rumahnya lalu dicat merah menyala, kontras dibanding rumah-rumah di sekitarnya. Dengan begitu, Einstein akan ingat yang manakah rumahnya. Orang jenius pun tidak selalu jenius di segala bidang. Demikian juga, meski kita tidak pernah meraih Nobel atau menemukan rumus dan teori tertentu, tapi kita pun kadang bisa juga menjadi jenius. Nah, kapan itu terjadi? Kita jenius saat berhasil menemukan solusi yang sebelumnya tidak disadari atau tidak terlihat dari sebuah masalah. Kita jenius ketika bisa mengatasi kebuntuan yang dialami orang-orang. Pernahkah kita menemukan jalan pintas atau cara mudah melakukan sesuatu yang belum dilakukan orang lain atau orang di sekitar kita? Apakah kita pernah menemukan cara untuk "menghidupkan lagi" sesuatu yang lama tidak dilakukan? Pernahkah kita menyelesaikan masalah yang selama ini memusingkan keluarga kita? Apakah kita pernah berhasil melakukan pendekatan pribadi kepada seseorang yang sebelumnya tak bisa didekati orang lain? Mungkin banyak di antara kita pernah melakukan hal-hal di atas. Memang, kejeniusan seperti itu sering kali tak dihargai masyarakat. Atau kadang kita enggan melakukan hal-hal itu demi menjaga ketenangan agar tidak dianggap cari muka, aneh, sok tahu, bahkan mengganggu. Di Alkitab pun, para pahlawan selalu adalah mereka yang berani bersuara dan berani bertindak meski sebagian orang bisa jadi menganggap mereka mengganggu. Jika Daud diam melihat Goliat, jika ia tak tergerak mendengar hujatan Goliat, atau ia menyerah saat diremehkan kakaknya dan Saul, tentu tak ada kisah heroik ini. Ya, jadilah Daud Daud di manapun kita berada, yang berani bersuara dan memberi solusi. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, terima kasih atas akal budi yang Kau berikan padaku. Bantulah aku agar akal budi yang Kau berikan dapat kugunakan untuk memberkati sesamaku. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Sabtu, 4 Juli 2026 - Tekad dan perjuangan mengalahkan ujian hidup

    Play Episode Listen Later Jul 3, 2026 5:02


    Kencan Dengan Tuhan - Sabtu, 4 Juli 2026Bacaan: "Maka ia memungut di ladang sampai petang lalu ia mengirik yang dipungutnya itu, dan ada kira-kira seefa jelai banyaknya." (Rut 2:17)Renungan: Pada saat dihadapkan dengan ujian hidup yang berat maka ada beberapa respons yang muncul dalam hidup kita. Pertama, kita mengasihani diri secara berlebihan. Kita selalu bertanya kepada Tuhan, "Mengapa harus saya yang mengalami peristiwa pahit ini?" Kedua, kita mencari belas kasihan manusia untuk menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi. Ketiga, kita berani menghadapi setiap masalah dengan tekad hati yang kuat, seberat apapun masalah itu. Salah seorang motivator di Indonesia mengambil ilustrasi tentang betapa dahsyat kekuatan tetesan air jika dilakukan secara terus menerus. Tetesan air bahkan dapat melubangi batu! Beliau berkata seperti ini, "Kerasnya batu bisa takluk dengan tetesan air. Begitu pula kerasnya ujian hidup di dunia bisa kalah oleh kekuatan tekad dan fokus perjuangan yang dilakukan." Seperti itulah perjuangan Rut menghadapi kerasnya ujian hidup yang datang kepadanya. Suaminya meninggal, keluarga suaminya juga meninggal semua, kecuali mertua perempuannya saja yaitu Naomi. Kini, Rut tinggal bersama Naomi dan mengambil tanggung jawab untuk memeliharanya. Kehidupan yang dijalani mereka persis seperti yang disebutkan Naomi, yaitu Mara yang artinya sangat pahit (Rut 1:20). Itulah kerasnya ujian hidup yang harus dijalani Rut. Namun dengan tekad dan perjuangan keras, Rut berhasil mengatasi masalahnya dan menjadi orang yang sangat berhasil. Perhatikan apa yang dilakukan Rut. la tak pernah mengasihani diri, Rut menjalani masalahnya dengan begitu tabah. Rut juga tidak pernah meminta belas kasihan orang lain, sebaliknya ia berjuang keras untuk menghidupi dirinya dan Naomi, meski harus memungut jelai yang tercecer dari pagi sampai petang. Ketekunan, tekad, dan perjuangan Rut akhirnya membuahkan hasil. Benarlah bahwa batu yang keras bisa takluk dengan tetesan air. Ujian hidup yang keras bisa kalah oleh tekad dan perjuangan yang terus menerus. Jika kita sedang mengalami pergumulan hidup yang keras, ingatlah bahwa batu pun takluk dengan tetesan air. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, aku percaya ketika Engkau ada bersama-sama dengan aku, maka badai sehebat apapun dapat aku lalui. Karena aku tahu, kuasa-Mu lebih besar dari setiap badai kehidupanku. Amin. (Dod).

    Edis Hari Jumat, 3 Juli 2026 - Dipakai Menjadi Alat Tuhan

    Play Episode Listen Later Jul 3, 2026 5:40


    Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 3 Juli 2026Bacaan: ".... yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau yang tidak khawatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah." (Yeremia 17:8)Renungan: Jika kita melihat sebatang pohon, biasanya terdiri dari akar, batang pohon, ranting, daun, bunga, bahkan buah. Buah memiliki musim tertentu. Jika belum musimnya, buah tidak akan terlihat. Demikian juga halnya dengan bunga atau daun yang bisa rontok, bahkan gundul. Ranting juga bisa jadi kering dan jatuh. Seolah ada musim-musim tertentu ketika ranting, daun, bunga, maupun buah "bekerja", tapi ada waktunya bagi mereka untuk "cuti kerja". Bagian pohon yang tidak pernah berhenti bekerja adalah akar! Akar memang tidak terlihat, tapi justru akar inilah yang menjaga kelangsungan sebatang pohon. Kita boleh memotong ranting, dahan, bahkan batang pohon, tapi selama masih ada akar maka pohon tersebut tetap hidup. Akar akan terus bekerja tanpa kenal musim. Akarlah yang menumbuhkan tunas-tunas baru pada waktunya. Tipe orang itu ada macam-macam. Ada yang NATO, No Action Talk Only. Tipe ini bicaranya lantang, tapi tidak ada tindakan sama sekali. Omong doang! Ada juga tipe daun, memang dia bekerja tapi gampang sekali rontok kalau ada goncangan. Ada tipe yang menonjol dalam bekerja tapi tidak konsisten. Ibarat pohon, maka orang tipe ini adalah bunga atau buah, berkontribusi tapi waktu-waktu tertentu saja. Yang paling bagus adalah tipe akar. Tidak banyak omong, tidak koar-koar, tapi bekerja terus tiada henti. Tidak banyak janji, tapi memberi bukti. Tidak terlihat tapi sangat berkontribusi, bahkan berpengaruh besar pada kelangsungan perusahaan, komunitas atau pelayanan. Terus terang, pekerja tipe akar ini hanya sedikit, bahkan langka. Di dalam sebuah instansi, perusahaan, komunitas, organisasi, bahkan pelayanan, semoga kita adalah orang-orang tipe akar. Tak banyak bicara tapi hasil terlihat jelas. Firman Tuhan dalam Yeremia 17:8 berkata, "la akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak khawatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah." Jadilah akar yang bisa menopang pohon untuk bisa melewati tahun kering, bahkan membuat daun tetap hijau dan tidak berhenti menghasilkan buah. Tuhan Yesus memberkati.Doa:Tuhan Yesus, pakailah aku menjadi alat-Mu, sehingga kehadiranku bisa memberkati keluargaku, tempat di mana aku bekerja dan melayani. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Kamis, 2 Juli 2026 - Berpikir positif dan jadi berkat

    Play Episode Listen Later Jul 1, 2026 5:44


    Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 2 Juli 2026Bacaan: "Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana." (Bilangan 13:28)Renungan: Kita mungkin sering mendengar orang berkata, "Orangnya cantik, sayangnya judes sekali." "Dia pintar, sayangnya kuper sekali." "Orang itu kaya sekali, sayangnya pelit minta ampun." Perkataan itu memuji, sekaligus mencela. Mengangkat ke langit, sekaligus menjatuhkannya ke bumi. Jika seperti ini, maka pujian setinggi langit pun tidak ada artinya, sebab penekanannya bukan lagi pada kelebihannya melainkan pada kekurangannya. Yang baik sudah hilang, yang buruk ditonjolkan! Hal yang sama pernah terjadi ketika Musa memerintahkan dua belas orang terbaik untuk mengintai negeri Kanaan. Kedua belas pengintai tersebut pulang untuk melaporkannya kepada Musa dan segenap bangsa Israel. Kedua belas pengintai tersebut sependapat bahwa negeri Kanaan sungguh berlimpah-limpah susu dan madunya. Mereka membawa bukti berupa buah-buahan yang mereka ambil dari negeri Kanaan. Kedua belas pengintai itu sepakat soal itu. Tapi, setelah itu terjadilah perbedaan pendapat. Sepuluh pengintai berkata, "Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana." (ay. 28). Hanya Yosua dan Kaleb yang tetap positif dalam memberikan laporan. Sepuluh pengintai tersebut mirip dengan perkataan orang-orang di atas. Awalnya memuji, tapi berikutnya muncul kata "sayangnya". Yang baik hilang, yang buruk ditonjolkan. Akibatnya tidak main-main. Seluruh bangsa Israel panik. Mereka menangis, bersungut-sungut kepada Musa dan Harun, bahkan memutuskan untuk mengangkat pemimpin lalu pulang ke Mesir (Bil. 14). Betapa dahsyatnya kata "hanya" atau "sayangnya". Kisah ini kiranya memberi pelajaran berharga bagi kita, janganlah kita menggunakan kata "hanya saja" atau "sayangnya" ketika menilai seseorang atau sebuah peristiwa. Jangan sampai hal yang harusnya kita syukuri akhirnya menjadi hal yang kita keluhkan. Berkat yang harusnya kita terima dengan sukacita, akhirnya berubah menjadi persungutan. Tuhan menghendaki kita menjadi orang yang bersyukur dalam segala perkara. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ampunilah aku karena aku masih sering memandang orang lain dari sisi negatifnya. Kuduskan pikiranku agar aku selalu berpikir yang positif, baik untuk diriku maupun orang lain. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Rabu, 1 Juli 2026 - Hidup dalam kasih Tuhan

    Play Episode Listen Later Jun 30, 2026 5:19


    Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 1 Juli 2026Bacaan: "Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis." (Roma 12:15)Renungan: Setiap orang pernah mengalami kebahagiaan. Namun kebahagiaan yang dirasakan setiap orang itu berbeda-beda. Seseorang mengartikan kebahagiaan sebagai "sensasi menyenangkan karena melihat penderitaan orang lain." Tentu saja itu pengertian yang sangat jahat tentang kebahagiaan. Meski tidak setuju dengan pengertian tersebut, pada kenyataannya bukankah kita sering mengalami hal itu? Ada banyak orang yang rasa bahagianya berkurang ketika melihat keberhasilan orang lain, sebaliknya rasa bahagianya akan bertambah ketika melihat penderitaan orang lain. Lebih parah lagi apabila kita punya prinsip "Jika saya tidak bisa memiliki sesuatu, maka orang lain juga tidak boleh mendapatkan sesuatu yang saya inginkan itu." Barangkali suasana hati seperti itulah yang dialami Kain saat persembahannya ditolak, sementara persembahan Habel diterima Tuhan. Sebenarnya faktor utama kemarahan Kain bukan karena persembahannya ditolak, tapi karena ia melihat persembahan Habel diterima. Tidak cuma iri, tapi hati Kain benar-benar panas ketika melihat Habel. Alhasil, Kain membunuh Habel yang sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun pada dirinya! Satu-satunya "kesalahan" Habel di mata Kain adalah bahwa persembahan Habel diterima Tuhan dan persembahannya tidak! Penyakit seperti Kain, yaitu tidak rela jika melihat orang lain bahagia ini nyatanya juga menghinggapi banyak orang. Jika tidak hati-hati kita bisa terjebak juga di dalamnya. Jika tidak hati-hati kita bisa membenci orang yang lebih berhasil, orang yang lebih cantik atau tampan, orang yang lebih pintar, dan orang yang tampak lebih bahagia dari kita. Padahal, orang tersebut bisa jadi sama sekali tidak bersinggungan dengan kita. Kita sendirilah yang merasa panas hati melihat kebahagiaan mereka. Nah, bagaimana membebaskan diri dari virus berbahaya seperti itu? Kasih adalah jawabannya! Kasih memampukan kita untuk bersukacita dengan orang yang bersukacita, dan menangis dengan orang yang menangis! (Rm. 12:15). Kasih tidak cemburu. Kasih tidak bersukacita di atas penderitaan orang lain. Sebaliknya, kasih turut merasakan apa yang orang lain rasakan. Dengan demikian kunci utama hidup yang bahagia adalah hidup dalam kasih. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, penuhilah aku dengan kasih-Mu sehingga melalui kehadiranku banyak orang merasa bahagia. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Selasa, 30 Juni 2026 - Dipakai menjadi Alat Tuhan

    Play Episode Listen Later Jun 29, 2026 5:26


    Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 30 Juni 2026Bacaan: "Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah bukan dari diri kami." (2 Korintus 4:7)Renungan: Pernahkah kita menunggu seorang kurir untuk mengirimkan suatu barang yang kita pesan? Jika kita menunggu kiriman barang penting yang harus segera digunakan, apakah penampilan kurir tersebut menentukan kita akan menerima barang itu atau tidak? Akankah kita menolak sebuah paket jika kurirnya lusuh dan bau keringat? Nyatanya, beberapa jam setelah paket di tangan, kita sudah lupa wajah si kurir. Apa ini berarti pesan lebih penting dari pembawa pesan? Tidak juga. Tanpa ada yang membawakannya, pesan tak akan tersampaikan. Cara kita membawakan pesan juga tetap penting. Berita buruk terasa makin buruk jika dibawakan dengan cara buruk. Sebaliknya, berita buruk yang dibawakan dengan empati dan sopan minimal akan diterima lebih baik, meski tetap menyakitkan. Sadarkah kita bahwa kita semua adalah pembawa pesan? Pesan yang kita bawa adalah kabar baik, yaitu pesan Injil. Karena itu kabar baik, kita sudah punya modal bagus untuk menyampaikan pesan itu. Tapi, sering kali kita memilih untuk tidak menyampaikan pesan itu. Kita beralasan diri kita masih belum cukup baik. Kita merasa tidak pandai bicara. Atau kita merasa pesan Injil itu tidak mendesak untuk disampaikan. Untuk menyampaikan sebuah pesan dengan efektif, kemampuan bicara yang baik, penampilan yang meyakinkan, atau reputasi kita yang menonjol memang membantu. Namun ingat, apa yang harus kita sampaikan bukanlah pesan biasa. Kita menyampaikan pesan Injil yang berkuasa. Pesan itu lebih penting dari si pembawa pesan, karena yang harus ditonjolkan dalam pesan itu adalah pesan Injil Kristus, bukan diri kita. Tidak ada yang tahu nama gadis kecil budak Naaman, tapi semua tahu bagaimana kuasa Tuhan bekerja untuk menyembuhkan Naaman karena pesan yang disampaikan gadis kecil itu. Orang kerasukan setan di Gerasa atau perempuan dengan lima suami di Samaria bukanlah siapa-siapa. Namun, mereka dipakai Tuhan menjadi penginjil yang efektif (Mrk. 5:20, Yoh. 4:39). Kita juga adalah pembawa pesan, kewajiban kita adalah menyampaikan pesan itu melalui sikap, perbuatan dan perkataan kira. Jangan menunggu diri kita sempurna untuk bercerita tentang Tuhan kita yang sempurna. Dialah fokus utamanya, bukan diri kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, urapilah seluruh keberadaan diriku, agar aku dapat Kau pakai menjadi alat-Mu untuk memberitakan Injil-Mu melalui sikap, perkataan dan perbuatanku. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Senin, 29 Juni 2026 - Membuang Sampah Gosip, Pelihara Damai Sejahtera di Hati dan Pikiran

    Play Episode Listen Later Jun 28, 2026 5:04


    Kencan Dengan Tuhan - Senin, 29 Juni 2026Bacaan: "Siapa menghina sesamanya, tidak berakal budi, tetapi orang yang pandai, berdiam diri." (Amsal 11:12)Renungan: Apakah kita pernah tidak senang hati bahkan marah jika digosipkan? Fakta yang terjadi adalah kita justru suka menggosipkan orang lain. Ini hal yang mengherankan, kita melakukan sesuatu kepada orang lain untuk hal yang tidak kita inginkan terjadi pada diri kita. Lagipula, sebenarnya kita semua tahu bahwa gosip itu tidak lebih dari sampah. Bagaimana seharusnya pengikut Yesus menangani gosip atau sampah ini? Ada analogi menarik berkenaan dengan hal itu. Ada tiga tipe manusia berkaitan dengan sampah. Pertama, tipe menebarkan. Ada orang yang tidak menaruh sampah pada tempat yang seharusnya. Bahkan, ada orang yang suka membuang sampah sembarangan dan menebarkan sampah di sepanjang jalan yang ia lalui. Dalam dunia gosip, orang seperti ini akan menyebarkan gosip kapan pun, di mana pun, dan kepada siapa pun. Bahkan orang seperti ini bisa menggosipkan sesuatu kepada orang yang baru dikenalnya! Hebat, bukan? Kedua, tipe mengumpulkan. Ada orang tertentu yang suka mengumpulkan sampah. Sampah yang mestinya dibuang, malah dikoleksi. Orang tipe ini tidak selalu menjadi biang gosip, namun yang jelas orang seperti ini suka mengumpulkan berita-berita gosip terbaru. Bayangkan penderitaan batin yang harus ditanggung seseorang yang sedang digosipkan. Sebagai pengikut Yesus kita seharusnya memilih tipe yang ketiga, yaitu tipe membuang. Orang yang sadar lingkungan, tidak akan membiarkan sampah berserakan di jalan. la akan mengambil sampah itu dan membuang ke tempat yang seharusnya. Soal gosip, orang tipe ini sebisa mungkin menghindari gosip. Namun, kalaupun akhirnya ia mendengar sebuah gosip, maka ia akan segera membuang "sampah" itu pada tempatnya dan tidak membiarkan berita itu tersebar ke mana-mana. Gosip itu seperti mata rantai. Kita bisa memutuskan mata rantai yang saling terkait itu dengan bersikap diam. Diam membuat gosip akan berhenti dengan sendirinya. Hari ini, jika ada yang menebarkan "sampah gosip" di depan kita, kita tahu apa yang harus dilakukan. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, berikanlah aku pikiran dan hati yang jernih sehingga aku dipenuhi dengan damai sejahtera-Mu dan tidak ada keinginan untuk menggosipkan orang-orang yang ada di sekitarku. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Minggu, 28 Juni 2026 - Selalu Percaya padaNya

    Play Episode Listen Later Jun 28, 2026 5:02


    Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 28 Juni 2026Bacaan: "Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup. melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalarn Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." (Galatia 2:20)Renungan: Charles Blondin adalah pemain akrobat terkenal asal Prancis yang hidup di abad 19. Atraksi utamanya adalah berjalan di atas tali. Ketika mengadakan tur di Amerika, Blondin membentangkan tali di atas air terjun Niagara di perbatasan Amerika dan Kanada. Blondin lalu berjalan di atas tali itu bolak balik dari Amerika ke Kanada dan sebaliknya. Di atraksi selanjutnya, ia berjalan mundur, berjalan dengan membawa gerobak dorong. la juga tiba-tiba salto. Di kesempatan lain, ia berjalan saat malam hanya dengan memakai lilin. la menaiki sepeda, juga egrang, berjalan dengan mata ditutup, membawa meja kursi lalu duduk di tengah tali sambil melipat kaki, bahkan membawa kompor dan memasak di seutas tali yang di bawahnya terbentang air terjun deras. Puncaknya, Blondin mengajak siapa yang mau ia gendong untuk berjalan di atas tali. Akhirnya, Harry Colcord, manajernya yang menjadi sukarelawan. Inilah yang Blondin katakan kepada Colcord: "Ingat, saat kugendong, kau bukan Colcord. Kau menjadi Blondin. Tubuh, pikiran, dan jiwamu harus menyatu denganku. Jangan coba menyeimbangkan dirimu karena itu akan membuat kita berdua mati." Blondin dan Colcord pun menjadi orang pertama yang bergendongan melintasi air terjun Niagara di atas tali. Apa yang diucapkan Blondin adalah deskripsi dari percaya. Menjalani hidup di dunia ini juga adalah perkara hidup mati. Bagaimana kita hidup di dunia menentukan apa yang akan kita alami di kekekalan nanti. Akankah kita mendapat hidup kekal atau kita akan mengalami maut dan siksaan kekal. Saat kita mau percaya bahwa Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat kita, kita ibarat digendong-Nya untuk menjalani hidup ini untuk selamat tiba sampai akhirnya. Percaya artinya kita harus menyatu dengan-Nya. Kita bukan lagi diri kita. Hidup kita bukan lagi milik kita (Gal. 2:20). Kehendak kita bukan lagi penentu keputusan kita, tapi semua harus sesuai dengan kehendak Bapa. Kita bisa menyebut diri kita sebagai orang percaya. Sudahkah kita benar-benar percaya pada Tuhan, yang berarti kita benar-benar mau menyerahkan setiap keputusan, setiap langkah, dan rencana kita kepada-Nya? Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, mampukan aku untuk melakukan setiap kehendak-Mu agar hidupku dapat tenang, karena aku tahu kepada siapa aku percaya. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Sabtu, 27 Juni 2026 - Jujur dan Berintegritas untuk dapat dipercaya

    Play Episode Listen Later Jun 27, 2026 4:22


    Kencan Dengan Tuhan - Sabtu, 27 Juni 2026Bacaan: "Orang yang jujur dilepaskan oleh kebenarannya, tetapi pengkhianat tertangkap oleh hawa nafsunya." (Amsal 11:6)Renungan: Ada sebuah kisah yang menceritakan ketika Abraham Lincoln bekerja sebagai penjaga toko di New Salem, Illinois, jauh sebelum Abraham Lincoln terjun di dunia politik. Suatu sore, saat mencatat neraca keuangan, Lincoln mendapati bahwa ia telah memungut bayaran 6 sen lebih banyak dari seorang pelanggan. Sebenarnya bisa saja Lincoln tutup mata soal itu karena nilainya tidak seberapa dan pelanggan tersebut juga tidak merasa kehilangan. Namun yang dilakukan Lincoln sungguh baik. Malam itu juga ia berjalan kaki beberapa mil ke rumah pelanggan untuk mengembalikan kelebihan uang tersebut! Integritas dan sikap jujur inilah yang akhirnya membawa Abraham Lincoln dipercaya dan menjadi salah satu presiden Amerika Serikat yang berhasil dan dicintai rakyatnya. Sesungguhnya kejujuran menjadi hal yang langka di zaman modern seperti sekarang. Kalau menerima kelebihan pembayaran, banyak orang "tutup mata". Banyak alasannya. Pertama, ia merasa kadang juga dirugikan, jadi kalau gantian dapat "untung", apa salahnya? Kedua, salah sendiri mereka yang tidak teliti dalam menghitung. Ketiga, buat apa repot-repot mengurus kembalian kalau konsumen bahkan tidak merasa bayar lebih mahal. Keempat, nilainya tidak seberapa, buat apa dipersoalkan. Firman Tuhan dalam Amsal 11:6 mengatakan, "Orang yang jujur dilepaskan oleh kebenarannya, tetapi pengkhianat tertangkap oleh hawa nafsunya." Kejujuran akan menolong kita, sebaliknya kecurangan akan mencelakakan kita. Kejujuran akan menjadi "pembela" bagi kita, sedangkan kecurangan akan menjerumuskan kita. Orang dunia mungkin akan mentertawakan kebodohan kita di saat kita bersikap jujur. Mereka mungkin saja tidak percaya masih ada orang jujur di dunia ini. Walau demikian, sebagai murid Kristus marilah kita tunjukkan gaya hidup yang berbeda dari orang dunia. Jadilah orang yang punya integritas dan bisa dipercaya. Semakin kita dipercaya, semakin besar promosi itu akan datang kepada kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, sejak aku mengenal-Mu hatiku begitu tenang. Ketenangan itu juga yang membuat karakter ku berubah. Bantu aku untuk terus mempertahankan kejujuran sebagai bagian dari pengenalanku akan Engkau. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Jumat, 26 Juni 2026 - Sabar, Kendalikan diri dan berpikir jernih

    Play Episode Listen Later Jun 26, 2026 5:50


    Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 26 Juni 2026Bacaan: "Sabarlah terhadap semua orang. " (1 Tesalonika 5:14)Renungan: Banyak orang punya masalah dengan emosi. Sangat temperamental dan gampang meledak. Orang seperti ini bisa termasuk tipe gunung merapi yang mudah meletus. Kalau "gunung berapi" ini sudah meletus, keluarlah lahar perkataan yang panas, pedas, tajam, dan menyakitkan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Secara ilmiah, di bagian otak kita ada amygdala yang kerap disebut otak emosi. Amygdala bekerja 80.000 kali lebih cepat dibandingkan otak besar. Karena amygdala bekerja lebih cepat, logika jadi dikalahkan emosi. Untuk mencapai kecepatan yang sama dengan amygdala, otak besar butuh waktu enam detik. Dari perhitungan inilah para ahli jiwa menemukan teori "Jeda Enam Detik", yaitu mengambil jeda selama 6 detik sebelum bicara dan mengambil keputusan saat kita marah atau sedang emosi. Jauh sebelum teori Jeda Enam Detik ditemukan, firman Tuhan sudah memberi nasihat kepada kita yang memiliki problem emosi temperamental. 1 Tesalonika 5:14b mengatakan, "Sabarlah terhadap semua orang." Ketika seseorang menyulut sumbu kemarahan kita, kita tidak akan langsung meledak sebaliknya kita berusaha mengulur-ulur waktu sangat lama untuk kita menjadi marah dan mendidih. Karena waktu "mendidihnya" lama maka kita punya banyak kesempatan untuk menguasai diri, menenangkan diri, dan berpikir jernih sebelum mengambil keputusan yang bodoh. Jadilah sabar. Sabar membebaskan kita dari amarah yang tak terkontrol dan tak terkendali. Sabar menghindarkan kita dari kekeliruan. Dalam Amsal 14:17 dikatakan, "Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar." Apakah kita orang yang bijak ataukah orang yang bodoh, ditentukan oleh seberapa kita sabar. Jadilah pengikut Yesus yang perlu waktu lama untuk mendidih, bukan seperti gunung berapi yang meledak-ledak. Setiap kali hendak meledak, ingatlah untuk mengambil jeda selama enam detik untuk menenangkan diri. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, berikanlah aku kesabaran, sehingga masalah apapun yang terjadi dalam hidupku, hatiku dapat tetap tenang menghadapinya. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Kamis, 25 Juni 2026 - Nyatakan Kasih dan Kebaikan kepada sesama

    Play Episode Listen Later Jun 24, 2026 5:20


    Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 25 Juni 2026Bacaan: "Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian." (Lukas 6:33)Renungan: Senyum adalah salah satu gestur universal manusia. Bahasa manusia boleh berbeda-beda, budaya juga bisa beragam macamnya, tapi di hampir semua tempat, senyuman dimengerti sebagai tanda kegembiraan, keramahan, dan penerimaan. Ketika kita melakukan kebaikan kepada seseorang, maka senyuman dan ucapan terima kasih darinya bukanlah hal yang mengejutkan. Namun ketika kita melakukan kesalahan, ketika kita menumpahkan minuman ke baju seseorang, kita datang terlambat ke satu pertemuan penting, kita berbelok di tikungan yang salah saat mengantarkan seseorang yang sedang buru-buru, tapi orang itu tetap memberikan senyuman, maka perasaan kita akan sangat berbeda dengan situasi pertama tadi. Kita jelas lebih lega. Senyuman itu menjadi lebih berkesan karena kita akan mengingat orang tersebut sebagai orang yang baik, sabar, rendah hati, dst. Ketika kebaikan tampak sulit didapatkan tapi kita justru menerimanya, saat itu akan menjadi momen yang tak terlupakan. Inilah yang diajarkan Yesus kepada kita. Bukan hanya berbuat baik kepada mereka yang baik kepada kita, tapi juga kepada mereka yang telah melukai atau berbuat jahat pada kita. Bukan memberi sesuai apa yang diperintahkan, tapi memberi lebih dari itu. Bukan memberkati dan mendoakan orang yang kita sayangi saja, tapi memberkati dan mendoakan mereka yang mengutuki dan memusuhi kita. Jika itu semua yang kita lakukan, percayalah tindakan itu akan jauh lebih diingat orang. Itulah sesungguhnya yang disebut hidup yang menjadi berkat. Jika kita ingin hidup kita bisa menjadi berkat bagi orang lain, itu tidak cukup dengan banyak memberi atau berbuat baik saja. Tapi, berilah, nyatakan kasih, dan buatlah kebaikan juga kepada mereka yang seolah tidak pantas untuk menerimanya, yaitu mereka yang membenci, memusuhi, dan menyakiti kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, penuhilah aku dengan cinta-Mu, agar aku dapat membagikan cinta-Mu itu kepada orang lain tanpa memandang apakah dia baik bagiku atau mengecewakanku. Amin. (Dod).

    Edisi Hari Rabu, 24 Juni 2026 - Rendah hati dan menerima keterbatasan orang lain

    Play Episode Listen Later Jun 23, 2026 5:21


    Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 24 Juni 2026Bacaan: "Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka." (Lukas 6:31)Renungan: Seorang pria bercerita: "Waktu kecil, aku ingat suatu malam ketika Ibu menyiapkan makan malam setelah seharian kerja yang melelahkan. Saat itu, la menghidangkan telur dadar, sosis, dan beberapa biskuit gosong di hadapan ayahku. Aku menunggu reaksi kaget atau protes ayahku. Tapi, yang Ayah lakukan saat itu justru langsung mengambil biskuit itu, memakannya, sambil bertanya apa yang terjadi di sekolahku hari itu. Sesaat setelah itu, aku mendengar Ibu meminta maaf pada Ayah karena biskuitnya sedikit gosong. Dan Ayah menjawab: 'Tidak apa-apa Sayang, enak kok biskuitnya. Penasaran, aku pun bertanya pada Ayah mengenai apakah ia benar-benar menyukai biskuit gosong ketika kami hanya berdua di kamar. Ayah pun memelukku sambil menjawab: 'Ibumu sudah bekerja keras seharian dan ia sudah lelah. Lagipula, biskuit yang sedikit gosong juga tidak akan membuat perut Ayah atau perutmu sakit, kan?'" Dalam hidup keseharian, kita akan sering menemukan ketidaksempurnaan seperti itu. Biskuit gosong di atas adalah perlambang dari segala kelemahan/perbedaan orang-orang yang ada di sekitar kita. Orang tua kita mungkin bukanlah orang kaya yang bisa memberi kita berbagai macam fasilitas. Sahabat kita orangnya mungkin sedikit lemot. Teman sekolah kita mungkin punya hobi suka menggosip. Atau, rekan kantor kita mungkin ada yang maunya di zona aman terus, cenderung pasif, dan susah diajak maju. Tapi, coba lihat diri kita sendiri, bukankah kita juga punya kelemahan? Sebagai rekan kerja, misalnya, kita mungkin cenderung berani dan punya ambisi kuat, tapi di sisi lain kita mungkin adalah seorang pelupa. Atau sebagai sahabat, kita mungkin pinter, tapi di sisi lain kita orangnya kurang tepat waktu. Maka, lebih baik syukuri kelemahan dan perbedaan itu daripada mengeluhkan apalagi mengutukinya. Kita tidak mungkin berharap semua orang punya karakter yang baik dan sesuai keinginan kita. Menerima kelemahan orang-orang yang ada di sekitar kita dan perbedaan yang ada, adalah salah satu kunci penting buat menciptakan relasi atau hubungan yang sehat, selalu bertumbuh, dan bertahan lama. Yang penting bukan "biskuit gosongnya", tapi "relasi" kita dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, berilah aku rahmat kerendahan hati sehingga dapat menerima kekurangan orang-orang di sekitarku dan mampu memotivasi mereka untuk melangkah lebih maju. Amin. (Dod).

    Claim Kencan Dengan Tuhan

    In order to claim this podcast we'll send an email to with a verification link. Simply click the link and you will be able to edit tags, request a refresh, and other features to take control of your podcast page!

    Claim Cancel