POPULARITY
Categories
#belajarbareng #kejadian #gpghwonosoboSyalom!Dalam episode kali ini, kita belajar dari kisah Abraham dan Sarah, saat mereka berada di tanah Gerar.Kiranya menjadi berkat untuk kita sekalian.Tuhan memberkati!
Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 8 Februari 2026Bacaan: "Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu." (Yohanes 12:3) Renungan: Kisah Tuhan Yesus diurapi oleh Maria merupakan kisah yang memiliki makna yang sangat kaya dan sangat dalam. Namun kita akan melihat kisah ini dari permukaan yang nampak sangat jelas. Maria mengurapi kaki Tuhan Yesus dengan minyak narwastu yang sangat mahal. Tiga ratus dinar yang setara dengan upah pekerja hampir selama 1 tahun pada saat itu. Tuhan Yesus menerima perbuatan baik Maria, bahkan memujinya sebagai peringatan akan kematian-Nya. Namun Yudas menilai perbuatan tersebut sebagai pemborosan besar dengan kedok membantu orang-orang miskin. Dari fakta-fakta ini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa Tuhan Yesus menerima sepenuhnya kebaikan Maria, walaupun la sendiri adalah sumber kebaikan dan belas kasihan. Namun, salah satu murid Nya menentang hal tersebut karena menggunakan sudut pandang untung rugi. Mungkin saja penilaian Yudas tidak salah, mengingat secara ekonomis nilai minyak narwastu tersebut sangat tinggi. Namun Tuhan Yesus menggunakan sudut pandang yang melampaui perhitungan untung rugi secara ekonomi, yaitu sudut pandang kasih dan ucapan syukur Maria. Tindakan Maria ini merupakan ucapan syukur kepada Tuhan karena kasih, anugerah dan kebaikan yang telah ia terima. Ada kalanya kita merasa enggan untuk menerima kebaikan orang lain, terlebih lagi ketika kita melihat status ekonomi orang tersebut berada di bawah kita. Mungkin kita merasa bahwa kitalah yang seharusnya menolong dia, bukan sebaliknya. Namun terkadang dengan menolak kebaikan orang lain, itu merupakan salah satu bentuk kesombongan rohani yang tersembunyi. Kita menempatkan diri sendiri dalam posisi yang lebih tinggi, dan dia dalam posisi yang tidak berdaya. Dengan kata lain, kita menghalangi orang tersebut untuk mempraktikkan kasih atau ucapan syukur atas kebaikan yang pernah ia terima. Belajar dari Tuhan Yesus yang menggunakan sudut pandang melampaui perhitungan untung rugi, kita pun harus belajar untuk menerima kebaikan orang lain apa adanya. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, tolong aku untuk bisa menghargai kebaikan orang lain, sehingga orang tersebut akan bersukacita bisa melakukan kebaikan. Amin. (Dod).
Murid Sekolah Dasar Negeri Mangli 1 di Kabupaten Jember terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar di ruang perpustakaan setelah atap ruang kelas ambruk. Selain kondisi bangunan yang rapuh peristiwa ini diduga dipicu guncangan gempa bumi dini hari. Proses belajar dipindahkan sementara demi keamanan siswa.
wish us luck masuk kepala 3
Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 3 Februari 2026Bacaan: Kata Daud kepada Salomo: "Anakku, aku sendiri bermaksud hendak mendirikan rumah bagi nama TUHAN, Allahku." (1 Tawarikh 22:7)Renungan: Salah satu ambisi terbesar Daud Dialah membangun Bait Allah. Saat itu, ia telah menjadi raja Israel dan telah membangun istananya yang megah, setelah ia mengalahkan musuh-musuh Israel. Daud tahu, semua yang diperolehnya adalah karena anugerah Tuhan. Saat itu, tabut Tuhan simbol kehadiran Tuhan di tengah umat-Nya-tetap berada di bawah tenda. Lalu, ia ingin membangun sebuah rumah yang megah untuk Tuhan. Namun, Tuhan menolak kerinduan hati Daud. Alasannya, karena Daud telah menumpahkan banyak darah. Tuhan pun memberitahunya bahwa Salomo, anaknya, yang akan mendirikan rumah itu bagi-Nya. Bagaimana reaksi Daud? la sepenuhnya tunduk kepada Tuhan. la menerima kehendak Tuhan dengan rendah hati. Namun ia tidak begitu saja lepas tangan. la membagikan kerinduan itu kepada Salomo. la juga menunjukkan dukungannya dengan menyediakan berbagai persiapan yang dibutuhkan agar kelak Salomo lebih mudah melaksanakannya. Daud menyediakan sangat banyak emas, perak, tembaga, besi, kayu, batu, serta para ahli bangunan. Tindakan Daud ini menolong kita memahami bahwa jika kita ingin melakukan sesuatu yang kita yakini menyenangkan hati Tuhan, namun Dia memilih orang lain yang melakukannya, maka tindakan terbaik kita ialah mendukungnya sepenuh hati. Karena Tuhan tahu siapa yang paling tepat untuk Dia pakai. Yang lebih penting ialah, Tuhan dimuliakan melalui pekerjaan-pekerjaan dan pelayanan anak-anak-Nya. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, berilah aku kelapangan hati untuk menerima kelebihan orang lain. Lepaskan iri hati dalam diriku, sebab aku percaya di dalam kekuranganku selalu ada kelebihan yang telah Kau percayakan untukku. Amin. (Dod).
Bismillah,1987. TUJUAN BESAR KITA BELAJARRiyaadhush Shaalihiin Bab 50 | Rasa Takut (Kepada Allah ﷻ)Hadits ke-401 | Hadits Ibnu Mas'ud Radhiallahuu 'anhuعن ابنِ مسعودٍ ، رضي اللَّه عنه ، قال : حدثنا رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، وهو الصَّادِقُ المصدوقُ : « إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ في بَطْن أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْماً نُطْفَةً ، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذلِكَ ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مثْلَ ذلِكَ ، ثُمَّ يُرْسَلُ المَلَكُ ، فَيَنْفُخُ فِيهِ الرَّوحَ ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِماتٍ : بِكَتْبِ رِزقِةِ ، وَأَجلِهِ ، وَعمَلِهِ ، وَشَقيٌّ أَوْ سعِيدٌ . فَوَ الَّذِي لا إِله غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وبَيْنَهَا إِلاَّ ذِراعٌ ، فَيَسْبقُ عَلَيْهِ الْكِتابُ ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْل النَّارِ ، فَيَدْخُلُهَا ، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ فَيََدْخُلُهَا » متفقٌ عليه .Dari Ibnu Mas'ud beliau berkata, "Rasulullah ﷺ , menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang jujur dan dipercaya, 'Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk setetes air, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu juga. Kemudian diutuslah satu malaikat, lalu malaikat itu meniupkan ruh padanya, dan dia diperintahkan dengan empat kalimat; menulis rizki-nya, ajalnya, amalnya, dan apakah dia orang celaka atau bahagia. Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang haq selainNya, sesungguhnya ada salah seorang di antara kalian yang beramal dengan amal perbuatan ahli surga hingga jarak antara dia dengan surga hanya satu hasta, ternyata catatan (ketetapan) takdir mendahuluinya sehingga dia beramal dengan amalan ahli neraka, maka dia masuk ke dalam neraka. Dan sesungguhnya ada salah seorang di antara kalian yang beramal dengan amal perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dia dengan neraka hanya satu hasta, ternyata catatan (ketetapan) takdir mendahuluinya sehingga dia beramal dengan arnal ahli surga, maka dia masuk surga'." (Muttafaq 'alaih)
Selamat Hari Gajian dan jangan lupa berinvestasi. Kisah berikut ini adalah true story, kisah nyata, dan kiranya elo mau dengerin kisah nyata orang tua asuh gw ini. Belum lama terjadi. namun maaf gw samarkan semua data pribadinya. Semoga jadi pembelajaran buat kita dimasa depan agar keuangan kita jauh lebih siap walau gak pernah ada yang benar-benar sempurna tentang mengatur keuangan.
Banyak pimpinan organisasi mengeluh. Katanya, kapasitas staf sulit sekali naik. Padahal anggaran pelatihan sudah dikuras habis. Masalahnya sering kali bukan pada orangnya, tapi pada caranya. Malcolm Knowles menyebut orang dewasa sebagai "spesies yang terabaikan". Kita sering memaksakan peningkatan kapasitas dengan gaya sekolah dasar: guru di depan, murid duduk manis mendengarkan. Padahal, bagi orang dewasa, cara itu adalah penghinaan terhadap kemandirian mereka. Peningkatan kapasitas orang dewasa harus berbasis pada pengalaman. Knowles menekankan bahwa orang dewasa bukan gelas kosong yang siap diisi air apa saja. Mereka adalah gudang pengalaman. Maka, pelatihan dalam organisasi tidak boleh lagi bersifat satu arah atau sekadar hafalan teori. Belajar bagi mereka adalah proses menghubungkan hal baru dengan apa yang sudah mereka alami selama puluhan tahun bekerja. Jika pelatihan tidak relevan dengan masalah nyata di meja kerja mereka besok pagi, maka lupakan saja efektivitasnya. Maka, kunci utama peningkatan kapasitas adalah pergeseran peran. Pemimpin atau bagian HRD jangan lagi merasa sebagai instruktur yang maha tahu. Jadilah fasilitator. Motivasi terkuat orang dewasa bukan hanya soal naik jabatan, tapi kepuasan batin karena mampu menyelesaikan tantangan hidup. Ketika organisasi mampu menciptakan lingkungan belajar yang menghargai konsep diri dan orientasi masalah stafnya, saat itulah kapasitas organisasi akan melompat dengan sendirinya. Begitulah cara manusia dewasa bertumbuh. (*)
Rian Fahardhi adalah seorang konten kreator sosial & politik.Timestamps:01:44 — Kenapa penting buat naik level dalam memahami sejarah sendiri: engage sama sejarah, belajar dari masa lalu, dan kenapa generasi muda jangan sampai tercerabut dari akar10:19 — Belajar dari China: cara mereka menjaga sejarah, nyambungin aspirasi lintas generasi, dan pentingnya dialog antargenerasi17:35 — Kolektivisme Cina vs. Gotong Royong Indonesia21:00 — Versi “bahagia”-nya Indonesia vs versi “bahagia”-nya kamu: seperti apa blueprint Indonesia yang ideal?25:52 — Wong deso itu mimpi2nya apa sih?32:42 — Pajak, kenapa banyak orang nggak punya mental resilience buat bermimpi besar, Sekolah Tanah Air, menjadi wakil generasi, dan 'the long path thinking'50:15 — Kalau Rian dan Indah masuk pemerintahan, pengen ngapain aja sih? Dari Make Indonesia Speak English (MISE) sampai National Study Abroad Program
POV: Lo pengen punya passive income tapi bingung mulai dari mana pas liat chart yang merah semua.
Dari renovasi kamar mandi → bos #property Aussie. Ko Iwan Sunito merintis dari nol dan harus ngelewatin near death experience sebelum bisa sampai di posisi CEO. Sejam ke depan merangkum 20 tahun insight #bisnis dan #leadership beliau. Catet, praktekin, share kalau lo merasa berguna, biar temen lainnya bisa growTonton obrolan lengkap gue bareng Ko Iwan di The Compound Club ➡️ https://fellexandroruby.com/deep-dive-from-pangkalan-bun-to-australia/Timestamp00:00 Opening03:59 Paradigm Shift: From Inferior to Superior08:59 Learning Slow is Faster11:39 Everybody Can Be Successful13:31 Talent Is Not Born but Grown17:45 Perseverance, Perspiration & Speaking Life26:50 Be Grateful for Every Trial30:51 Live For Another Day37:57 How to Get $1M: Start with Your Why
Belajar merupakan proses berkelanjutan yang melampaui batasan dinding kelas atau jenjang pendidikan formal. Pada hakikatnya, belajar adalah sebuah transformasi fundamental dalam cara seseorang memproses informasi, mengasah persepsi, dan merespons dunia di sekitarnya. Ini bukan sekadar tentang pengumpulan data atau fakta ke dalam memori, melainkan tentang pengembangan kapasitas diri untuk memahami realitas yang lebih kompleks. Sejak lahir hingga akhir hayat, setiap interaksi dan pengalaman menjadi guru yang membentuk karakter serta cara pandang manusia terhadap eksistensinya. Proses pembelajaran yang efektif melibatkan rasa ingin tahu yang mendalam dan keberanian untuk menghadapi ketidaktahuan. Di tengah arus informasi yang begitu cepat, kemampuan untuk memilah pengetahuan yang relevan menjadi sangat krusial. Belajar sering kali melibatkan siklus mencoba, mengalami kegagalan, dan melakukan refleksi untuk menemukan pemahaman yang lebih baik. Melalui proses adaptasi ini, seseorang tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga mengasah kecerdasan emosional dan ketangguhan mental yang diperlukan untuk menghadapi tantangan zaman yang terus berubah. Dampak akhir dari pembelajaran yang sejati adalah pertumbuhan pribadi yang bermuara pada kontribusi sosial. Ilmu yang didapat secara teoretis akan menemukan makna sesungguhnya ketika diterapkan untuk memecahkan masalah atau membantu sesama. Belajar memberdayakan individu untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri, memperluas cakrawala berpikir, dan membuka peluang-peluang baru yang sebelumnya tidak terbayangkan. Pada akhirnya, menjadi pembelajar sepanjang hayat adalah kunci bagi manusia untuk tetap relevan, bijaksana, dan bermakna dalam perjalanan hidup yang dinamis.
In November 2025, GamelandAnanda hosted a gamelan meeting, which was attended by nine gamelan groups from Victoria. The purpose of this event is to promote traditional instrumental music in Java and Bali, which includes percussion instruments as well. - Pada bulan November 2025, GamelanDanAnda menyelenggarakan pertemuan gamelan, yang diikuti oleh sembilan grup gamelan dari Victoria. Tujuan acara ini adalah untuk mempromosikan musik instrumental tradisional dari Jawa dan Bali itu, yang meliputi instrumen perkusi pula.
Mengelola Emosi Anak Saat Belajar
"Stres yang berkepanjangan dapat menimbulkan masalah mental serius. Penting bagi kita untuk mengenali tanda-tanda awalnya!
Ken Robinson membongkar mitos berbahaya bahwa pembelajaran sejati hanya terjadi di masa muda. Otak manusia tetap plastis hingga akhir hidup, namun sistem pendidikan telah mengkondisikan orang dewasa untuk takut gagal dan kehilangan keberanian untuk mencoba hal baru. Yang menurun bukanlah kapasitas kita untuk belajar, melainkan keberanian kita—kita telah dididik keluar dari kreativitas kita sendiri. Banyak orang justru menemukan "elemen" mereka—tempat di mana bakat alami bertemu passion pribadi—di usia dewasa, bukan karena ketidakmampuan sebelumnya, tetapi karena sistem pendidikan tidak dirancang untuk membantu mereka menemukannya. Pembelajaran orang dewasa yang transformatif harus bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata, kolaboratif bukan kompetitif, serta organik bukan mekanis. Hambatan terbesar justru yang kita ciptakan sendiri melalui narasi internal seperti "terlalu tua" atau "tidak berbakat." Robinson menekankan bahwa kecerdasan manusia sangat beragam—linguistik, matematis, musikal, kinestetik, spasial, interpersonal, intrapersonal, naturalistik—namun sistem pendidikan hanya fokus pada sebagian kecilnya. Di era otomasi, pembelajaran sepanjang hayat bukan sekadar reskilling untuk pasar kerja, tetapi tindakan revolusioner untuk menemukan kembali kemanusiaan kita. Pembelajaran orang dewasa bukan tentang memperbaiki apa yang rusak, melainkan membuka potensi yang selalu ada namun belum berkembang. Kita memiliki kekuatan untuk menciptakan pengalaman pembelajaran kita sendiri dan menolak narasi bahwa kita adalah produk yang telah selesai. Pembelajaran adalah pekerjaan seumur hidup tentang menjadi lebih penuh diri kita sendiri—dan dalam melakukan itu, kita tidak hanya mengubah diri sendiri, tetapi juga mengubah dunia.
Episode Putcast kali ini kedatangan komika asal Salatiga, Bob Sadoni. Obrolan bermula dari kisah heroik menjual perhiasan istri demi konten hingga jalur gaib menembus layar lebar. Sosok satu ini berhasil membuktikan bahwa menjadi orang random adalah jalan ninja terbaik untuk meruntuhkan kewarasan seorang Kepala Suku yang biasanya dikenal sangat waspada.
Pembelajaran pada tingkat awal, yang sering disebut sebagai surface learning, merupakan tahap di mana individu berfokus pada penghafalan fakta dan data tanpa pemahaman mendalam tentang keterkaitan antar konsep. Pada level ini, informasi diterima secara pasif dan cenderung bersifat sementara karena tujuannya hanya untuk memenuhi kewajiban jangka pendek, seperti lulus ujian atau mengikuti prosedur dasar. Namun, ketika pelajar mulai mencari relevansi antara materi dengan efisiensi kerja atau pencapaian target tertentu, mereka memasuki tahap strategic learning. Meskipun pada tahap ini pengetahuan mulai diaplikasikan secara praktis, motivasinya masih terbatas pada hasil instan dan belum menyentuh perubahan pola pikir yang mendasar. Transisi menuju deep learning yang sesungguhnya terjadi saat pelajar mulai mengaktifkan pengetahuan mereka melalui refleksi kritis. Pada tahap ini, individu tidak lagi sekadar bertanya tentang cara melakukan sesuatu, tetapi mulai menggugat asumsi-asumsi lama dan melakukan proses unlearning untuk memberi ruang bagi perspektif baru. Proses ini melibatkan emosi dan rasa ingin tahu yang besar, di mana pelajar menghubungkan informasi baru dengan pengalaman nyata yang mereka hadapi. Melalui diskusi mendalam dan evaluasi terhadap kegagalan atau keberhasilan masa lalu, mental model seseorang mulai bergeser, memungkinkan terciptanya pemahaman yang lebih kokoh dan bermakna. Pada puncaknya, pembelajaran mencapai level transformatif di mana individu mampu melakukan sintesis dari berbagai informasi yang kompleks menjadi solusi yang inovatif. Level ini sangat krusial dalam lingkungan global dan multi-level, karena menuntut kemampuan untuk menciptakan strategi yang berlaku secara universal namun tetap adaptif terhadap konteks lokal. Output akhir dari pembelajaran tingkat tinggi ini bukan hanya sekadar tumpukan catatan, melainkan perubahan perilaku yang permanen dan lahirnya kerangka berpikir baru yang mandiri. Dengan demikian, pembelajaran bukan lagi menjadi sebuah peristiwa sekali jalan, melainkan sebuah perjalanan kognitif yang terus berevolusi demi menciptakan dampak nyata bagi organisasi dan masyarakat.
"Hai anak manusia, Aku telah menetapkan engkau menjadi penjaga kaum Israel. Bilamana engkau mendengarkan sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka atas nama-Ku.
Gary Klein mengalihkan fokus studi pengambilan keputusan dari laboratorium steril ke kancah dunia nyata yang penuh tekanan. Ia menemukan bahwa para ahli tidak menggunakan daftar perbandingan logis melainkan mengandalkan pengenalan pola yang tajam berdasarkan pengalaman. Pendekatan Naturalistic Decision Making ini membuktikan bahwa keahlian lapangan jauh lebih berharga daripada sekadar teori akademis yang kaku. Model Recognition-Primed Decision (RPD) menjelaskan bagaimana otak seorang profesional langsung menemukan satu solusi yang paling masuk akal. Setelah pola situasi dikenali, mereka melakukan simulasi mental untuk menguji efektivitas rencana tersebut di dalam imajinasi mereka. Jika simulasi di kepala menunjukkan potensi kegagalan, mereka akan segera memodifikasi atau mengganti tindakan tanpa membuang waktu untuk membandingkan banyak opsi. Kekuatan sejati manusia dalam mengambil keputusan terletak pada akumulasi intuisi, imajinasi, dan kemampuan membaca konteks yang mendalam. Sumber daya batin ini memungkinkan kita memahami situasi kompleks yang sering kali luput dari pemrosesan algoritma atau data statistik yang dingin. Dengan terus mengasah jam terbang, kita sebenarnya sedang membangun perpustakaan mental yang menjadi dasar bagi keputusan yang cepat dan akurat.
Pembawa Renungan : RP. Vincent Widi, MGL Manila - Filipina Luk 2:36-40.
Berpikir jernih bukanlah kemampuan mistis untuk selalu benar, melainkan keterampilan praktis untuk menguasai "momen-momen biasa" sebelum momen tersebut menguasai kita. Esensinya terletak pada kemampuan menciptakan jeda antara stimulus dan respons, sehingga kita tidak terjebak dalam reaksi otomatis atau defaults biologis seperti emosi yang meluap, ego yang defensif, tekanan sosial untuk seragam, atau inersia yang enggan berubah. Dalam konteks kepemimpinan adaptif, berpikir jernih berarti memastikan bahwa posisi kita selalu menguntungkan, karena posisi yang baik memungkinkan logika bekerja dengan leluasa, sementara posisi yang buruk sering kali memaksa kita untuk sekadar bereaksi demi bertahan hidup di tengah kepungan keadaan yang mendesak. Untuk mempelajari keterampilan ini, seseorang harus membangun kekuatan internal melalui akuntabilitas diri yang tinggi dan pemahaman mendalam atas batas-batas kompetensi pribadi. Kita perlu mengenali kerentanan biologis kita—seperti rasa lapar, kemarahan, kelelahan, atau stres—dan membangun sistem pelindung (safeguards) yang mencegah kita membuat keputusan krusial saat sedang berada dalam kondisi mental yang rapuh. Dengan menginternalisasi nilai-nilai dari para teladan (exemplars) dan menetapkan aturan otomatis bagi diri sendiri, kita mengubah disiplin yang tadinya berat menjadi rutinitas yang mengalir, sehingga integritas berpikir tetap terjaga bahkan ketika ego atau tekanan eksternal mencoba mengintervensi penilaian objektif kita. Penerapan berpikir jernih dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari menuntut ketajaman dalam mendefinisikan masalah hingga ke akar penyebabnya, serta disiplin untuk selalu mempertimbangkan konsekuensi tingkat kedua dan ketiga dari setiap tindakan melalui pertanyaan "lalu apa berikutnya?". Kita diajak untuk lebih mengutamakan hasil akhir yang berkualitas daripada sekadar keinginan ego untuk terlihat benar di mata orang lain, serta berani melakukan eksperimen kecil untuk memvalidasi asumsi sebelum mengambil risiko besar. Pada akhirnya, kejernihan berpikir bermuara pada kearifan tentang apa yang benar-benar berharga; menggunakan perspektif kefanaan untuk menyaring ambisi yang dangkal dan memprioritaskan hubungan yang bermakna serta karakter yang kokoh, sehingga setiap keputusan yang kita ambil tidak hanya efektif secara fungsional tetapi juga bermartabat secara kemanusiaan.
Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray, Lc. - Cara Mudah Belajar Fiqih Tingkat Dasar
Ilmu agama ‘fast food’ berbanding kelas agama berstruktur- ada yang lebih baik ke nak belajar agama dalam era TikTok dan AI sekarang? Macam mana nak pastikan tak hilang adab dan sumber yang sahih? Bersama Natasha Mustafa, hos NoTapis, episod ini menampilkan perkongsian Cik Sutinah Sujaair dan Encik Amirul Aqmal, pelajar Diploma Pengajian Islam Cordova, serta Ustazah Zulaikha Ishak dari Andalus. Andalus, Cordova dan Al-Zuhri menawarkan program-program agama untuk semua peringkat. Dapatkan informasi lanjut di:ANDALUS: www.andalus.com.sgCORDOVA: www.cordova.com.sgAL-ZUHRI: www.zuhri.com.sg 00:00 – Fenomena ilmu 'segera' di media sosial02:05 – Semuanya bermula di rumah09:54 – Ilmu 'fast food' tak semestinya ilmu 'sahih'14:33 – Peranan guru, adab belajar dan amanah ilmu18:46 – AI dan teknologi: Memudahkan atau mengelirukan?21:35 – Belajar fikir, bukan 'telan' saja apa yang tersedia26:29 – Belajar agama 'online' + bersemuka dengan guru = Ilmu lebih menyeluruh37:28 – Mula dengan langkah kecil duluSee omnystudio.com/listener for privacy information.
Pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasanya menanggalkan cara pandang Anda sendiri dan melihat dunia sepenuhnya melalui mata orang lain? Etnografi menawarkan kunci untuk pengalaman tersebut. Lebih dari sekadar metode penelitian akademis, etnografi adalah sebuah seni "melihat" dan "mendengar" yang mendalam. Dalam sesi ini, kita akan menjelajahi bagaimana disiplin ilmu ini bermula dari rasa ingin tahu tentang ethnos (bangsa/rakyat) dan berkembang menjadi jembatan empati yang menghubungkan kita dengan realitas manusia yang beragam, mulai dari suku terpencil hingga komunitas digital di saku kita. Mendengarkan tentang etnografi berarti bersiap untuk perjalanan imersif ke dalam kehidupan sehari-hari yang sering kali terabaikan. Kita tidak hanya akan berbicara tentang teori, tetapi tentang praktik kerja lapangan yang menuntut keberanian untuk terjun langsung, merasakan aroma, suara, dan ritme kehidupan komunitas yang diteliti. Anda akan diajak memahami bagaimana seorang etnografer membangun kepercayaan, mengubah orang asing menjadi teman, dan menerjemahkan momen-momen kecil—seperti cara seseorang menyajikan teh atau antrean di rumah sakit—menjadi wawasan budaya yang kaya dan bermakna. Mengapa ini penting bagi Anda sekarang? Di dunia yang semakin terpolarisasi dan cepat menghakimi, etnografi mengajarkan kita keterampilan paling vital: mendengarkan untuk memahami, bukan untuk menjawab. Dengan menyimak ulasan ini, Anda tidak hanya akan mendapatkan pengetahuan tentang metode penelitian kualitatif, tetapi juga perangkat lunak mental untuk memahami kompleksitas manusia. Siapkan diri Anda untuk mengubah lensa pandang Anda, karena kisah-kisah yang diungkap oleh etnografi sering kali memantulkan kebenaran tentang diri kita sendiri dengan cara yang tak terduga.
Belajar langsung sama otak di balik campaign #viral rumah dalam mall-nya Arief Muhammad: Fauzan Sahab, CEO Lifetime Design. Banyak banget insight daging yang bibakalsa lo dapetin dari tujuh belas tahun bangun #bisnis—dari hiring orang yang tepat, manage team 300 orang, dan client #retention yang jadi rahasia usaha bertahan long term.
Saya terpukau pada teknologi kecerdasan buatan dalam dua tahun terakhir. Saya bisa belajar banyak hal bersama mereka mulai membaca buku, mencipta kloning suara, mencipta kloning video, mencipta lagu baru, membuat foto rekaan, dan membuat video cerita. Walaupun bekerja dengan sunyi, saya bisa melahirkan banyak hal hal baru yang kreatif. Saya mendudukan kecerdasan buatan sebagai asisten yang memiliki pengetahuan luas dan lengkap. Saya harus belajar berbisik dan berbicara dengan mereka. Merangkai prompting yang lebih bagus, lengkap, dan tajam, adalah proses belajar yang tak pernah berhenti. Pada situasi ini, saya belajar menghindari kata "TIDAK BISA" dalam mengerjakan segala sesuatu. Mulai dari keingintahuan pada sesuatu dan pada sesuatu yang ingin diciptakan. Jadi, mari belajar menjadi manusia yang lebih cerdas dan waras.
Kadang kita terlalu sibuk ngejar banyak hal, sampai lupa kalau memahami diri sendiri juga butuh waktu. Seperti Einstein, yang percaya bahwa berpikir pelan bukan tanda kelemahan, tapi cara untuk benar-benar mengerti.Yuk Academia, kita ambil napas dulu. Rebahan sebentar, tenangin kepala, dan ditemenin Revanthi di episode Inspiratalk kali ini. Siapa tahu, dari jeda kecil ini kamu nemuin versi dirimu yang lebih jujur, penasaran, dan penuh empati.
Hai Tetangga Kesayangan!Di episode kali ini, kita ngobrol bareng Panji Sakti, seorang musisi yang punya perjalanan batin yang dalam dan penuh kejutan. Dari cerita tentang sedekah yang diterima Allah tanpa harta, sampai pembahasan soal jiwa, roh, raga, dan apa yang sebenarnya kembali kepada Tuhan… semuanya bikin kita mikir ulang tentang hidup.Panji juga berbagi bagaimana titik “terendah” dalam hidup sebenarnya bukan kehancuran, tapi momen ketika Tuhan sedang membersihkan dan menarik kita lebih dekat. Ada rasa sakit, tapi ada juga kedalaman makna yang sering kita lewatkan.Dan sebagai musisi, Panji punya pandangan jujur soal kejujuran dalam berkarya bahwa setiap kata, doa, dan tindakan harus lahir dari hati yang benar-benar sadar akan Tuhannya.Buat kamu yang lagi nyari jawaban, lagi butuh pegangan, atau cuma mau menenangkan hati, episode ini bisa jadi ruang refleksi yang lembut tapi ngena banget.
#belajarbareng #kejadian #gpghwonosoboSyalom!Dalam episode kali ini, kita belajar dari kisah Lot dan kedua anak perempuannya. Kiranya menjadi berkat untuk kita sekalian.Tuhan memberkati!
Belajar dari rangkaian bencana alam yang terjadi di wilayah utara Sumatera, muncul kembali pertanyaan penting: bagaimana Indonesia dapat membangun sistem peringatan dini yang lebih kompeten di masa mendatang? Derasnya hujan, meningkatnya potensi longsor, dan meluapnya aliran sungai menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan mendesak.Para pakar kebencanaan menilai, sistem peringatan dini harus bertumpu pada tiga pilar utama: teknologi yang andal, alur komunikasi yang jelas, serta partisipasi masyarakat. Pemasangan sensor hidrologi dan geologi di titik-titik rawan dapat memberikan informasi cepat mengenai perubahan kondisi alam. Namun teknologi saja tidak cukup. Informasi yang muncul dari sistem sensor harus diteruskan melalui jalur komunikasi yang terintegrasi—mulai dari BMKG, BPBD, pemerintah daerah, hingga ke masyarakat paling dekat dengan titik risiko—tanpa hambatan, tanpa keterlambatan.Yang tak kalah penting, masyarakat harus menjadi bagian dari sistem itu sendiri. Edukasi kebencanaan, simulasi evakuasi, hingga pembentukan relawan desa tangguh bencana menjadi elemen yang memperkuat rantai kesiapsiagaan. Ketika masyarakat memahami makna sinyal peringatan dini dan tahu langkah yang harus diambil, maka potensi penyelamatan jiwa akan jauh lebih besar.Dengan membangun sinergi antara teknologi, pemerintah, dan masyarakat, Indonesia dapat melangkah menuju sistem peringatan dini yang lebih adaptif dan responsif. Sebuah langkah strategis untuk memastikan bahwa ketika bencana datang, informasi tiba lebih awal, tindakan dilakukan lebih cepat, dan lebih banyak nyawa dapat diselamatkan.Talk :: Ahli Geologi UGM, Ir. Agus Hendratno, ST.MT & Pengamat Anggaran dan Kebijakan, Elfenda Ananda
#belajarbareng #kejadian #gpghwonosoboSyalom!Dalam episode kali ini, kita belajar dari kisah hukuman Tuhan atas Sodom dan Gomora.Tuhan memberkati!
#belajarbareng #kejadian #gpghwonosoboSyalom!Dalam episode kali ini, kita belajar dari Abraham, yang bersyafaat dan mengusahakan keselamatan Lot di Sodom.Tuhan memberkati!
Bismillah,248. BELAJAR BAIK SANGKA DENGAN TAKDIR ALLAH ﷻKajian Wanita Kitab Al-Wabilush ShayyibDalam ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim), dari Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits qudsi: أنا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بي، وأنا معهُ إذا ذَكَرَنِي، فإنْ ذَكَرَنِي في نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي، وإنْ ذَكَرَنِي في مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ في مَلَإٍ خَيْرٍ منهمْ، وإنْ تَقَرَّبَ إلَيَّ بشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إلَيْهِ ذِراعًا، وإنْ تَقَرَّبَ إلَيَّ ذِراعًا تَقَرَّبْتُ إلَيْهِ باعًا، وإنْ أتانِي يَمْشِي أتَيْتُهُ هَرْوَلَةً"Aku menurut persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku; jika ia mengingatku dalam perkumpulan, maka Aku mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka, jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepada-nya sehasta; jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa; jika ia mendatangiku sambil berjalan, maka Aku mendatanginya sambil berlari-lari kecil."
#belajarbareng #kejadian #gpghwonosoboSyalom!Dalam episode kali ini, kita belajar dari Sara, tentang bagaimana cara merespon janji dan firman Tuhan saat harapan mulai sirna.Tuhan memberkati!
Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 7 November 2025Bacaan: "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tes 5:18)Renungan: Orang Yahudi mempunyai kebiasaan untuk selalu mengucap syukur atas apa yang mereka nikmati. Misalnya, ketika hendak minum anggur atau ketika melihat matahari terbit, ketika anak mereka baru pertama kali berjalan, dan untuk apa saja yang hendak mereka lakukan, umumnya ada ucapan syukur yang mereka naikkan kepada Tuhan. Ucapan syukur untuk buah pohon yang akan mereka makan berbunyi, "Terpujilah Engkau, sumber segala kehidupan, Pencipta buah dari pohon." Ini merupakan kebiasaan baik yang patut kita teladani. Di dalam ucapan syukur terkandung rasa terima kasih dan penghargaan kepada Sang Pencipta yang telah menciptakan langit bumi dan segala isinya. Rasul Paulus pun kepada jemaat di Tesalonika berpesan agar mereka mengucap syukur dalam segala hal. Mari jadikan ucapan syukur sebagai gaya hidup kita. Jika kita jeli melihat, maka kita akan selalu menemukan alasan untuk bersyukur kepada Tuhan daripada mengeluh sepanjang hari. Kesehatan, tempat tinggal, pakaian, makanan, pekerjaan, teman hidup, anak-anak, orang tua dll, semuanya patut disyukuri. Jika kita tidak belajar mengucap syukur untuk hal-hal yang baik, bagaimana mungkin kita bisa bersyukur ketika Tuhan mengizinkan kejadian buruk terjadi dalam hidup kita? Mulailah bersyukur sejak kita bangun di pagi hari, maka hari-hari yang kita lalui akan terasa indah. Tuhan Yesus memberkati.Doa:Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk selalu mengucap syukur atas setiap berkat yang kuterima dari-Mu setiap hari. Lepaskanlah kebiasaan mengeluh dan menggerutu dalam diriku, agar tidak menjadi penghalang untuk setiap berkat baru yang akan Kau berikan padaku. Amin. (Dod).
Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 28 Oktober 2025Bacaan: "Apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangannya." (Mazmur 37:24) Renungan: Terikat dengan kegagalan masa lalu dapat membelenggu kita sehingga tidak bisa mengupayakan sesuatu yang lebih baik lagi. Kegagalan apakah yang pernah kita alami dan sampai saat ini menyebabkan kita susah untuk bangkit dan mencoba lagi? Seberapa besar kegagalan itu dibandingkan dengan kegagalan Petrus, salah satu murid Yesus yang sudah menyangkal-Nya? Bagaimana pula dengan Thomas A. Edison yang telah mencoba dan gagal lebih dari 1000 kali di dalam upaya menemukan bohlam pijar? Namun demikian ia terus mencoba dan mencoba. Ia menganggap kegagalan-kegagalannya sebagai upaya untuk membetulkan cara-cara yang salah di dalam melakukan sesuatu. Berapa kali kita telah gagal? Mungkin baru satu, dua atau tiga kali. Kegagalan apapun yang sudah kita alami, itu bukan alasan untuk tidak mencoba lagi, apalagi terbelenggu dengan kegagalan itu. Kalau ada orang yang tidak pernah gagal, mungkin ia adalah orang yang tidak pernah mencoba sesuatu. Kegagalan seharusnya membuat kita lebih bersemangat untuk belajar, membenahi diri dan mengupayakan sesuatu yang lebih baik. Ingatlah bahwa sekalipun kita jatuh, Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita tergeletak. Ia mau agar kita bangkit dan bangkit lagi tanpa pernah menyerah pada kegagalan masa lalu. Tuhan Yesus memberkati.Doa: Tuhan Yesus, lepaskan aku dari kekecewaan atas kegagalanku di masa lalu. Perbaharui kembali semangatku agar aku bisa bangkit lagi untuk menyongsong masa depanku kembali yang penuh harapan bersama dengan Engkau. Amin. (Dod).
Jessica Wahyu (TB) Markus 1:12Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun.
Learn how to talk about swimming in English. - Mari belajar bagaimana membicarakan tentang berenang dalam bahasa Inggris.
Pdt. Wigand Sugandi (TB) Lukas 10 : 30-3110:30 Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. 10:31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.
Urusan bersih-bersih rumah walaupun terkesan sederhana, ternyata bisa jadi sumber masalah besar karena beban yang berat sebelah.Ayu Kartika Dewi, di episode ini menceritakan pentingnya konsep Fair Play yang bisa membantu pasangan dalam memahami beban domestik yang sering gak diliat itu.Dengerin sama pasangan, biar terhindar dari berantem-berantem yang gak perlu, dan lebih mengapresiasi satu sama lain.00:00 Opening03:55 Konflik pernikahan bisa disebabkan karena urusan beberes rumah05:02 Definisi Fair Play by eve Rodsky15:25 Pentingnya memahami Minimum Standart of Care38:00 Makna pernikahan bagi Ayu Kartika Dewi dan suami
Di episode kali ini, Ardika Dwitama, Head Pastry Chef dari August Jakarta akan berbagi cerita tentang kariernya dan pengalamannya bekerja di salah satu restoran terbaik di Asia. Ia juga membagikan pandangannya tentang tantangan dan peluang bekerja di dunia kuliner yang dinamis, serta bagaimana tim August beradaptasi dengan tren dan generasi baru di industri ini, khususnya Gen Z. Tonton video selengkapnya di #RayJansonRadio#536 "BELAJAR ITU PASTI, TAPI DI AUGUST LU HARUS PERFORM!" WITH ARDIKA DWITAMA | RAY JANSON RADIOEnjoy the show!Instagram:Ardika Dwitama https://www.instagram.com/ardikadwitama/DON'T FORGET TO LIKE AND SUBSCRIBE !Ray Janson Radio is available on:Spotify: https://spoti.fi/2lEDF01Apple Podcast: https://apple.co/2nhtizqGoogle Podcast: https://bit.ly/2laege8iAnchor App: https://anchor.fm/ray-janson-radioTikTok: https://www.tiktok.com/@rayjansonradioLet's talk some more:https://www.instagram.com/rayjanson#RayJansonRadio #FnBPodcast #Indonesia #ArdikaDwitama #AugustJakarta #50BestRestaurant
Kegiatan transfer penghasilan ke orang tua bisa terasa membanggakan bagi sebagian orang, namun ada pula yang merasa itu sebagai beban.Rasa tidak ikhlas yang menghantui bisa jadi karena ketika memberi uang, si pemberi masih di fase berpindah tangan, belum berpindah kepemilikan.Tapi dalam banyak faktor, ketakutan dicap anak durhaka jadi penyebab utama seorang anak memaksakan diri untuk mengirim bulanan ke orang tuanya.Selengkapnya, bisa disimak dalam episode Podcast Curhat Bapak Ibu bersama Audrey Susanto, Psikolog Klinis dan Keluarga dengan spesialisasi penanganan trauma finansial.TIMESTAMP:00:00 Opening03:05 Ngasih orang tua karena ingin merasa berdaya12:00 Orang tua durhaka dan anak durhaka17:35 Perbedaan prioritas tiap generasi 20:49 Ketika kondisi keuangan mempengaruhi mental..25:30 Belajar base line angka dan base line rasa34:09 Mulai darimana untuk membicarakan boundaries38:21 Konsep berpindah tangan dan berpindah kepemilikan
Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 10 Agustus 2025Bacaan: "Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan." (Filipi 2:14)Renungan: Tidak banyak orang yang menganggap pekerjaan bukan sebagai beban tetapi seperti sebuah permainan yang mengasyikkan. Hal ini memang tidaklah mudah, tetapi jika kita dapat mengubah sikap mental kita terhadap apa yang kita sebut pekerjaan, maka kita akan menikmati hidup ini. Seseorang berkata, "Menganggap sesuatu itu sebagai pekerjaan atau permainan, tergantung dari pikiran kita tentang hal itu." Jika kita seorang yang suka bersungut-sungut, mengeluh, marah dan mengomel, kelihatannya kita perlu mengubah sikap mental kita terhadap pekerjaan yang selama ini seolah menjadi beban. Jika semua orang mengerjakan pekerjaannya dengan penuh sukacita sebagaimana ketika ia menikmati sebuah permainan yang sangat disenanginya, maka firman Tuhan dalam Filipi 2:14 di atas tidak akan pernah ada. Firman Tuhan ini ada karena kenyataannya banyak orang yang bekerja sambil bersungut-sungut, berbantah-bantahan dan tidak mengucap syukur. Dengan demikian pekerjaan menjadi terasa sangat berat dan membosankan. Belajar menikmati sebuah pekerjaan sebagai sesuatu yang menyenangkan, akan mempermudah kita melakukannya dan yang paling penting kita tidak akan berdosa kepada Tuhan karena keluhan-keluhan dan perbantahan yang keluar dari mulut kita. Jika kita adalah seorang karyawan, suami, istri atau anak yang harus mengerjakan berbagai pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita, kerjakanlah dengan sukacita dan tanpa sungut-sungut. Ingat, sikap mental kita terhadap suatu pekerjaan akan menentukan apakah kita akan mendapatkan kepuasan dan menikmati pekerjaan itu atau tidak. Tuhan Yesus memberkati.Doa: Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk bersyukur dan menyenangi pekerjaan yang Kau berikan padaku. Jangan biarkan sungut-sungut dan keluh kesahku menghalangi sukacita dan berkat-Mu masuk dalam hidupku. Amin. (Dod).
Pdm. Handoyo Salim (TB) Filipi 4: 13Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.
Pembawa Renungan : Sandy Kusuma Tangerang Luk. 2:41-51