POPULARITY
Categories
Dalam rangka memperingati Hari Keluarga Internasional 15 Mei, kita diingatkan kembali bahwa keluarga adalah pondasi utama dalam membangun masyarakat yang kuat dan berakhlak. Dalam Sirah Nabawiyah, Rasulullah SAW telah memberikan teladan bagaimana keluarga dibangun dengan kasih sayang, pendidikan, dan akhlak mulia. Nilai-nilai tersebut juga ditegaskan dalam Piagam Makkah yang mendorong penguatan moral, perlindungan anak, serta pembinaan generasi muda di tengah tantangan zaman modern. Lalu bagaimana keluarga Muslim hari ini dapat melahirkan generasi yang religius, moderat, cerdas, dan cinta bangsa? Untuk membahasnya, kita akan berbincang bersama Prof. Anwar Abbas.# Pertanyaan Wawancara## “Membangun Generasi Berakhlak di Era Kini”### Perspektif Sirah Nabawiyah, Piagam Makkah, dan Hari Keluarga Internasional1. Tanggal 15 Mei diperingati sebagai Hari Keluarga Internasional. Dalam perspektif Islam, seberapa penting posisi keluarga sebagai pondasi utama dalam membangun generasi yang berakhlak dan berkepribadian kuat?2. Dalam Sirah Nabawiyah, Rasulullah SAW berhasil membina keluarga dan masyarakat yang penuh kasih sayang, disiplin, serta berilmu. Nilai apa yang paling relevan diterapkan keluarga Indonesia saat ini di tengah tantangan era digital dan perubahan sosial?3. Piagam Makkah menegaskan pentingnya perlindungan anak, penguatan akhlak, dan pembangunan pemikiran kritis generasi muda. Bagaimana keluarga Muslim dapat menjalankan peran tersebut agar anak-anak tidak mudah terpengaruh oleh konten negatif, individualisme, maupun krisis moral?4. Menurut Prof. Anwar Abbas, bagaimana peran keluarga, lingkungan sosial, dan institusi pendidikan dalam membentuk generasi muda yang religius, moderat, cerdas, sekaligus memiliki kepedulian sosial dan cinta terhadap bangsa?5. Dalam momentum Hari Keluarga Internasional, pesan apa yang ingin Prof. Anwar Abbas sampaikan kepada para orang tua Indonesia agar keluarga tetap menjadi pusat pembentukan karakter, akhlak, dan ketahanan masyarakat di masa depan?
Membangun Rumah Persembahan - Pdt. Yanto - 10 Mei 2026 - GBI Sariwangi
Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 3 Mei 2026Bacaan: "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." (Efesus 4:32)Renungan: Ada pepatah berkata, "Lebih mudah membangun daripada mempertahankan. Pepatah ini menggambarkan hubungan atau relasi antar manusia. Untuk menjalin relasi dengan orang lain bukan hal yang mudah, tetapi justru lebih mudah untuk menghancurkan relasi tersebut. Kenyataannya memang untuk mempertahankan relasi itu cukup sulit, karena kebanyakan orang hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri. Hal inilah yang sering menjadi awal dari perpecahan. Permasalahan inilah yang menjadi keprihatinan Rasul Paulus terhadap orang-orang Kristen di Efesus. Relasi di dalam jemaat Efesus kala itu adalah relasi yang baru terbentuk sehingga memiliki resiko yang tinggi terhadap munculnya konflik dan perpecahan. Rasul Paulus menasihati mereka untuk membuang segala rasa sakit hati di antara satu dengan yang lain sebagai umat Tuhan. Mereka harus melandaskan hidup mereka dengan mengingat akan kasih Kristus yang telah diberikan kepada mereka. Harapan Paulus dengan berlandaskan kasih Kristus, dapat terbangun keramahan untuk saling merangkul dan sikap saling mengampuni. Akhirnya dapat terwujud kehidupan bersama sebagai Tubuh Kristus. Hal yang sama juga Tuhan kehendaki dalam kehidupan kita sehari-hari. Membangun relasi dengan orang-orang yang berbeda latar belakang keluarga, pendidikan, lingkungan dsb, bukan hal mudah karena setiap orang mempunyai ego masing-masing. Namun kita harus menyadari bahwa salah satu hal terindah dalam kehidupan adalah terjalinnya relasi yang baik antar sesama. Sebab itu ciptakanlah relasi yang dapat bertahan dan menyatu membentuk ikatan yang menghidupkan. Landaskan kehidupan ini dengan kasih Kristus, kasih yang mengajarkan keramahan dan saling memaafkan. Dengan demikian kita mampu membangun relasi yang indah, termasuk dengan mereka yang di luar Kristus. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, bantulah aku agar dapat menerima setiap orang apa adanya sebagaimana Engkau mau menerima aku apa adanya. Amin. (Dod).
Refleksi Hari Pendidikan Nasional 2026 mengajak kita bertanya lebih dalam: ke mana arah pendidikan Indonesia hari ini? Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, pendidikan tidak lagi sekadar soal angka kelulusan atau nilai akademik, tetapi tentang bagaimana membentuk manusia yang adaptif, kritis, dan berkarakter.Tantangan yang dihadapi pun semakin kompleks. Mulai dari kesenjangan akses pendidikan, kualitas tenaga pengajar, hingga relevansi kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan teknologi. Di sisi lain, digitalisasi membuka peluang besar, namun juga menuntut kesiapan semua pihak agar tidak semakin memperlebar jurang ketimpangan.Momentum Hardiknas 2026 menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat, keluarga, dan dunia usaha. Kolaborasi menjadi kunci untuk memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak dan bermutu.Ke depan, arah pendidikan kita ditentukan oleh sejauh mana kita mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan sosial. Karena pada akhirnya, pendidikan adalah fondasi utama dalam menentukan masa depan bangsa.TALK :: Ketua Pengurus Besar (PB) PGRI, Dr. Dudung Abdul Qodir, M.Si. & Koodinator Komunitas Peduli Pendidikan Jawa Barat, M.S. Iriyanto
Send us Fan MailBanyak bisnis merasa harus menang di harga, harus lebih murah, harus lebih banyak promo. Padahal ada bisnis yang tetap dipilih tanpa harus melakukan itu semua. Apa yang sebenarnya membedakan?
Dunia sedang tidak baik-baik saja. Rantai pasok global kian tidak stabil dan operasional bisnis makin terasa berat. Namun, bagi seorang leader, ini bukan waktunya panik. Ini waktunya mengatur ulang strategi.Dengarkan episode ini untuk mendapatkan breakdown mendalam tentang:Menentukan market niche yang tetap kuat saat ekonomi lesu.Taktik efisiensi cerdas agar bisnis tetap inovatif dengan biaya minimal.Membangun mindset leadership yang resilien di tengah ketidakpastian.Saya ingin dengar dari Anda: Dari kenaikan solar hingga turunnya daya beli, mana tantangan yang paling membuat Anda sulit tidur minggu ini? Mari kita bahas bersama.
Cinta saja tidak cukup dalam pernikahan. Relationship check perlu dilakukan setelah bertahun - tahun menikah. Kalau tidak bahagia, buat apa bertahan? Conscious Marriage Advocate Certified Couple Therapist & PreMarital Consultant, Rani Anggraeni Dewi menjawab semuanya.#ranianggraenidewi #marriageadvocate #talkshow #podcast #podcastindonesia #cauldrontalks #andinieffendi—Uncensored bersama Andini Effendi ingin memulai percakapan mengenai isu yang kerap dianggap tabu. The Elephant in the Room adalah topik yang diketahui semua orang, namun tidak banyak yang berani membicarakannya. Dengan berdiskusi secara terbuka, kami harap masyarakat bisa lebih terbuka pikiran dan hatinya.୨♡୧ New episode drops every Thursday! ୨♡୧☆ Jangan lupa follow & Subscribe kami ☆https://www.instagram.com/cauldrontalks/https://www.youtube.com/channel/UCIs1JAa6LciLsjwkQ-caGaw https://fb.watch/dv-wICk08O/☆ Dengarkan juga podcast kami ☆https://open.spotify.com/show/6pHdBM4Jr0JMwBvbVCMiQI?si=cc66a009ea964c3a https://podcasts.apple.com/id/podcast/uncensored-with-andini-effendi/id1627192280☆ Host Andini Effendi ☆https://www.instagram.com/andinieffendi/☆ Rani Anggraeni Dewi ☆https://www.instagram.com/rani_anggraeni_dewi_/—Timestamps00:00 Intro02:31 Latar belakang Rani Anggraeni Dewi08:13 Alasan mengubah identitas10:56 Membangun masyarakat yang penuh cinta kasih15:58 Holistic approach18:13 Untuk apa bertahan dalam pernikahan?21:16 Love is not enough30:15 Pernikahan is not a business partner36:49 Akar dari perselingkuhan41:15 Orang tua harus menciptakan rasa aman53:31 Tantangan besar dalam pernikahan
Selama 9 tahun di industri modest fashion, Mistyvori bukan sekadar bertahan—tapi berhasil menjadi brand yang selalu dicari, terutama karakter katbol-nya (katun bolong).Kali ini kita membahas bagaimana Mistyvori konsisten membangun karakter brand yang kuat. Bukan hanya mengikuti tren, tapi memahami siapa mereka, apa yang mereka tawarkan, dan untuk siapa mereka hadir. Dengarkan selengkapnya di episode ini!
Simbiogenesis merupakan proses revolusioner dalam sejarah kehidupan di mana organisme-organisme yang berbeda jenis bergabung secara fisik untuk membentuk entitas baru yang lebih kompleks dan tangguh. Lynn Margulis menegaskan bahwa perubahan besar dalam evolusi tidak terjadi melalui kompetisi murni, melainkan melalui penggabungan set gen lengkap dan integrasi mikroba, seperti bakteri perenang yang menyatu dengan bakteri pencinta panas untuk membentuk nenek moyang sel eukariotik. Proses "individualitas melalui penggabungan" ini menunjukkan bahwa kekuatan hidup sejati muncul saat perbedaan tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai aset untuk menciptakan level organisasi yang lebih tinggi. Prinsip biologis ini menemukan cerminannya dalam konsep "Miselium Daya," sebuah metafora untuk kekuatan jejaring sosial yang bekerja layaknya fungi di bawah tanah. Sebagaimana jamur mikoriza yang menjalin kemitraan dengan akar tumbuhan untuk mendistribusikan nutrisi dan air, daya komunitas tumbuh melalui pertautan yang saling menghidupi dan kolaborasi yang mendalam. Kemitraan simbiotik ini membuktikan bahwa keberhasilan sebuah sistem, baik biologis maupun sosial, bergantung pada kemampuannya untuk membangun koneksi sirkulasi nutrisi dan informasi yang adil dan merata bagi seluruh anggotanya. Akhirnya, simbiogenesis dan miselium daya mengajarkan kita untuk meninggalkan paradigma penguasaan menuju paradigma kemitraan yang berkelanjutan. Kehidupan di daratan maupun di dalam tatanan masyarakat hanya dapat berkembang jika ada keberanian untuk melakukan penggabungan radikal dan berbagi sumber daya demi kepentingan bersama. Dengan memahami bahwa kita semua adalah komposit dari hubungan-hubungan yang kompleks, kita dapat membangun resiliensi kolektif yang mampu menghadapi tantangan zaman layaknya Gaia, sistem planet yang tangguh dan selalu mampu meregenerasi dirinya sendiri melalui integrasi segala elemen di dalamnya
Kawan-kawan Social Hacker Team, menulis itu soal rasa. Bukan cuma soal data. Untuk menangkap ruh para pejuang sungai kita, cerita harus dimulai dari kegelapan. Gambarkan Kapuas yang lagi sesak napas. Tuliskan soal merkuri, lumpur sedimentasi, hingga banjir yang tak kunjung usai. Kita butuh fondasi masalah yang kuat. Biar pembaca tahu bahwa "normal" bagi warga saat ini adalah menyerah. Tanpa kegelapan yang pekat, cahaya kecil yang dibawa oleh si Hacker Sosial tidak akan pernah terlihat berkilau. Baru setelah itu, masukkan si tokoh. Dia ini "penyimpang" yang positif. Saat semua orang pasrah, dia justru punya cara lain. Dia meretas keadaan dengan cara yang tidak lazim. Ini bagian paling seru: proses "ngeretas" kebuntuan itu. Jangan cuma tulis hasilnya, tuliskan juga keringatnya. Tuliskan bagaimana dia diejek atau dianggap gila oleh tetangganya sendiri. Kita ingin tahu bagaimana cara kerja otaknya yang aneh tapi cerdas itu dalam menghadapi krisis di Kapuas Hulu, Sintang, atau Sanggau. Terakhir, urusan hasil dan mimpi. Tidak perlu hasil yang muluk-muluk setinggi langit. Air kolam yang mulai jernih atau ikan yang kembali bertelur saja sudah sangat sakti. Itu atap ceritanya. Tapi, jendela aslinya adalah alasannya: kenapa dia mau susah-susah melakukan itu semua? Biasanya urusan martabat. Urusan cinta pada anak-cucu. Tutup tulisan dengan sebuah harapan. Biar pembaca pulang dengan satu pertanyaan yang menancap di kepala: kalau orang di tepian Kapuas saja bisa bergerak, kenapa kita cuma diam dan mengeluh? Begitulah.
Membangun ekosistem perubahan sosial menuntut kita untuk beranjak dari sekadar romantisme gerakan menuju pemahaman mendalam tentang interaksi strategis antar-aktor. Dalam pandangan Game Theory, setiap gerakan sosial bukanlah ruang hampa, melainkan jaringan kepentingan yang kompleks di mana keputusan satu pihak secara langsung memengaruhi nasib pihak lainnya. Sebagai ecosystem builder, memahami dinamika ini memungkinkan kita melihat alasan di balik kokohnya status quo yang tidak adil bukan sebagai kejahatan semata, melainkan sebagai sebuah keseimbangan yang stabil namun macet, yang memerlukan intervensi cerdas untuk digoyang. Inti dari peran pembangun ekosistem terletak pada kemampuan menggeser Ekuilibrium Nash lama menuju kondisi baru yang lebih berkeadilan melalui metode Mechanism Design. Kita tidak lagi bertugas sebagai pahlawan tunggal yang berlari sendirian, melainkan sebagai desainer aturan main yang merancang insentif sedemikian rupa agar setiap aktor tetap mendapatkan manfaat pribadi saat mereka berkontribusi pada tujuan kolektif. Dengan memetakan risiko dan imbalan secara jernih, kita dapat mengubah situasi yang tadinya merupakan Dilema Tahanan—di mana aktor saling sikut demi sumber daya terbatas—menjadi kolaborasi yang saling memperkuat struktur ekosistem secara menyeluruh. Keberlanjutan ekosistem sangat bergantung pada kemampuan kita menciptakan rasa percaya melalui "bayang-bayang masa depan" dan visi bersama layaknya metafora Berburu Rusa (Stag Hunt). Melalui interaksi rutin, transparansi informasi, dan sinyal aksi yang nyata, kita memastikan bahwa bekerja sama menjadi pilihan yang paling logis dan menguntungkan bagi setiap pihak dalam jangka panjang. Sebagai inovator sosial, tugas akhir kita adalah memastikan bahwa Game Theory digunakan untuk merancang aturan main baru di Indonesia yang membuat kebaikan dan kolaborasi menjadi tindakan paling rasional bagi semua orang, bukan sekadar pengorbanan heroik yang menyiksa diri.
Early Swimming Training: A Health Investment for Children with Coach Alvin Yus - Renang Sejak Dini: Investasi Kesehatan Anak Bersama Coach Alvin Yus
Selain kesehatan tubuh, kita juga perlu memelihara kesehatran mental kita.Bagaimana menjaga kesehatan mental :1) Membangun dasar yang kuat (Mat 7 : 24 - 25)2) Membangun keseimbangan (Mat 22 : 36-40)“Menjaga kesehatan mental SAMA PENTINGNYA dan SAMA CARANYA dengan menjaga kesehatan roh dan tubuh”3) Membangun komunitas yang sehat (Mzm 34 : 18)
Kita sering kali memuja "alat" perubahan—kebijakan baru, aplikasi canggih, atau angka statistik—namun lupa bahwa mesin penggerak sebenarnya adalah manusia yang saling terhubung. Bill Moggridge dalam Designing Interactionsmengingatkan kita bahwa esensi kemajuan bukan terletak pada perangkatnya, melainkan pada kualitas interaksi yang tercipta. Di Indonesia, merancang koneksi dalam gerakan sosial adalah seni memastikan setiap titik temu antara individu dan gagasan tidak berakhir sebagai formalitas administratif, melainkan meledak menjadi energi transformatif yang mampu meruntuhkan tembok-beton ketidakadilan. Membangun ekosistem kolaborasi yang tangguh menuntut kita untuk beralih dari sekadar mengelola organisasi menjadi merancang "pengalaman" kolektif yang berbasis empati. Sebuah gerakan akan layu jika "antarmukanya"—baik itu rapat desa maupun koordinasi digital—terasa berat, membingungkan, dan hierarkis. Kita harus mengadopsi prinsip affordance, di mana struktur sosial kita secara intuitif mengundang orang untuk masuk dan berkontribusi tanpa rasa takut. Dengan pendekatan prototyping yang berani gagal dan narasi penceritaan yang kuat, kita mengubah setiap interaksi menjadi jembatan emosional yang membuat para penggerak merasa dihargai dan memiliki makna dalam setiap langkah perjuangannya. Pada akhirnya, perubahan sosial yang berdampak luas adalah sebuah "meta-desain"—sebuah upaya merancang lingkungan yang memungkinkan setiap orang menjadi arsitek bagi solusinya sendiri. Kita tidak sedang membangun monumen kepahlawanan tunggal, melainkan sebuah ekosistem ubiquitous di mana solidaritas dan kepercayaan bekerja secara alami di latar belakang, sesenyap udara namun sekuat fondasi bumi. Dengan merancang interaksi yang memanusiakan sistem dan meminimalisir "kebisingan" birokrasi, kita sedang merajut benang-benang koneksi ini menjadi kain besar perubahan yang akan menyelimuti Nusantara dengan keadilan, martabat, dan kemakmuran yang berkelanjutan.
"Membangun kedisiplinan & kemandirian anak, tak bisa hanya dalam semalam. Terkadang malah sejak anak usia dini masih banyak kendala. Mari kita pelajari hal-hal dasar yang perlu diketahui orang tua sebelum membangun disiplin pada anak dari video berikut. Pengen tahu nih, apakah Moms & Dads punya pengalaman menarik ketika melatih disiplin anak? Boleh share di kolom komentar, ya"
Humas pemerintah tahun 2026 kini punya peluang besar untuk berhenti bersembunyi di balik tembok birokrasi yang kaku. Saatnya bicara apa adanya kepada rakyat yang sudah terlalu lelah dengan segala bentuk pencitraan yang mahal namun hambar. Kejujuran adalah satu-satunya jembatan paling kokoh untuk menjemput kembali kepercayaan publik yang sempat hilang. Gen Z hari ini butuh kehadiran yang nyata dan solutif, bukan sekadar tumpukan angka statistik fiktif yang membosankan di media sosial. Terapkan lima pilar VITAL agar setiap konten pemerintah memiliki nyawa dan keberpihakan yang jelas kepada kepentingan warga. Hanya narasi yang benar-benar bermanfaat yang akan mampu bertahan di tengah derasnya arus informasi digital yang semakin gila. Pemerintah harus mulai membangun rumah informasi mandiri yang kredibel tanpa harus terus mendompleng kanal milik korporasi asing. Gunakan media sosial hanya sebagai pintu masuk untuk mengajak warga mencintai narasi yang jujur, transparan, dan melayani. Masa depan komunikasi publik ada di tangan para pemberani yang mau bekerja nyata tanpa embel-embel gimmick.
Membangun komunitas perubahan dimulai dengan transformasi fundamental dalam memandang audiens, yaitu beralih dari konsep "konsumen" yang pasif menuju "warga negara" yang berdaya. Inti dari pergeseran ini adalah penemuan "Bintang Utara" atau tujuan sosial yang melampaui kepentingan komersial, yang berfungsi sebagai perekat emosional dan penunjuk arah bagi gerakan tersebut. Dengan meletakkan integritas dan kejujuran sebagai fondasi utama, sebuah organisasi tidak lagi sekadar menjual produk, melainkan memfasilitasi kerinduan manusia untuk berkontribusi pada sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri, menciptakan ikatan kepercayaan yang tidak mudah goyah oleh tren pasar. Proses pengembangan komunitas ini menuntut pendekatan yang sabar dan bertahap, mulai dari pendengaran aktif di tahap kesadaran hingga penumbuhan kepemimpinan di tingkat akar rumput. Keberhasilan sebuah gerakan sangat bergantung pada penciptaan "ruang aman" dan ritual kolektif yang menumbuhkan rasa memiliki, sehingga anggota merasa "pulang ke rumah" saat berpartisipasi. Dengan menurunkan hambatan melalui tugas-tugas mikro dan memberikan apresiasi yang tulus, komunitas berevolusi dari sekadar pengikut menjadi advokat yang berani menyuarakan narasi mereka sendiri. Desentralisasi kepemimpinan menjadi kunci kedewasaan komunitas, di mana kontrol dilepaskan agar inisiatif lokal dapat tumbuh secara mandiri dan organik. Pada akhirnya, keberlanjutan sebuah komunitas perubahan sangat bergantung pada praktik penciptaan bersama (co-creation) dan transparansi yang radikal dalam menghadapi tantangan. Tolok ukur kesuksesan tidak lagi dilihat dari metrik pertumbuhan angka semata, melainkan dari dampak nyata yang dirasakan oleh masyarakat dan perubahan perilaku yang dihasilkan. Dengan mengedepankan prinsip bahwa pembangunan komunitas adalah sebuah maraton yang membutuhkan napas panjang, pemasaran sosial bertransformasi menjadi sebuah instrumen pemberdayaan yang abadi. Melalui semangat inklusivitas dan komitmen pada nilai-nilai awal, gerakan ini tidak hanya bertahan, tetapi terus berevolusi untuk menciptakan masa depan kolektif yang lebih baik.
Di era transparansi, kepercayaan adalah aset termahal organisasi. Bagaimana para pakar komunikasi mengelola reputasi agar tetap relevan dan berkelanjutan?Host Asmono Wikan mengupas tuntas strategi trust-building bersama lima praktisi ahli:Luqman Firmansyah (PT Pelindo Marine ServiceHanindito (InJourney)Mamit Setiawan (PLN Energi Primer Indonesia)Chrysanthi Tarigan (Chandra Asri Group)Rivan Tanjung (Praktisi Komunikasi)Highlight Episode:Mengapa transparansi menjadi kunci reputasi masa kini.Tantangan mengelola ekspektasi publik di berbagai industri.Langkah konkret menjaga narasi positif yang berkelanjutan.Dengarkan sekarang untuk memperdalam wawasan komunikasi strategis Anda!#MAWTalk #PublicRelations #Reputasi #CorporateCommunication #PodcastIndonesia
Kepercayaan publik adalah aset yang sulit didapat namun mudah hilang. Di episode MAW Talk kali ini, kita akan membedah strategi membangun reputasi yang kokoh dan berkelanjutan di tengah tuntutan keterbukaan informasi.Dipandu oleh Asmono Wikan, diskusi ini menghadirkan perspektif mendalam dari lima ahli komunikasi:Wildan Kesuma (Easycash)Dimas Mulyawan (PT Artajasa Pembayaran Elektronis)Meidina Arimbi Rushartami (Pertamina Foundation)Syifa H. Mahartomo (PR Practitioner & Trainer)M. Lukmanul Hakim (LPDP)Topik Utama:Mengelola narasi organisasi di era yang serba transparan.Strategi praktis menjaga trust pemangku kepentingan.Sinergi komunikasi korporat di berbagai sektor industri.Simak selengkapnya untuk mendapatkan insight segar tentang masa depan manajemen reputasi.#MAWTalk #Branding #PublicRelations #ReputationManagement #KomunikasiKorporat
Di Communitalk with Yeni Maiasnita, ada banyak real case yang stuck pada masalah komunikasi di kampus, di kerjaan, bahkan di hubungan personal. Bukan cuma curhat, tapi cari solusi yang bisa langsung dipakai. Bareng Coach Yeni Maiasnita, Trainer dari Classy Learning Center, pahami cara berkomunikasi yang tepat, berkelas, dan berdampak.
Membangun teknologi blockchain untuk sektor kehutanan di Indonesia harus dimulai dengan penguatan fondasi tata kelola digital melalui model consortium blockchain. Kementerian Kehutanan berperan sentral sebagai pengatur utama yang menyatukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pelaku industri hingga masyarakat adat, ke dalam satu jaringan yang terenkripsi dan aman. Tahap awal ini berfokus pada tokenisasi peta lahan dan digitalisasi perizinan menggunakan smart contracts untuk menghapus tumpang tindih wilayah serta memastikan setiap jengkal hutan memiliki identitas digital yang tidak dapat dimanipulasi, sehingga tercipta transparansi penuh sejak dari tingkat hulu. Setelah fondasi terbentuk, strategi taktikal beralih pada integrasi infrastruktur fisik ke dalam ekosistem digital melalui teknologi pelacakan rantai pasok dan pasar karbon. Setiap pohon dapat diberikan identitas unik berbasis QR Code atau sensor IoT yang terhubung langsung ke blockchain, memungkinkan pemantauan kayu dari titik penebangan hingga ke tangan konsumen akhir secara real-time. Selain itu, pengembangan sistem Digital Measurement, Reporting, and Verification (dMRV) yang didukung citra satelit dan kecerdasan buatan akan memvalidasi penyerapan karbon secara otomatis. Hal ini memastikan bahwa kredit karbon yang diterbitkan memiliki integritas tinggi dan siap diperdagangkan di bursa karbon global dengan akurasi data yang tak terbantahkan. Keberhasilan implementasi blockchain ini pada akhirnya akan membawa manfaat transformatif bagi ekonomi dan kelestarian alam Indonesia. Selain meningkatkan pendapatan negara melalui penekanan kebocoran pajak hasil hutan, teknologi ini menjamin inklusi ekonomi bagi masyarakat adat melalui distribusi royalti karbon yang otomatis dan adil melalui mekanisme smart contracts. Dengan kepastian hukum yang lebih kuat dan kedaulatan data karbon yang terjaga, Indonesia akan bertransformasi menjadi pemimpin global dalam Natural Capital Accounting. Visi ini tidak hanya sekadar menjaga hutan sebagai paru-paru dunia, tetapi juga mengelola sumber daya alam sebagai aset digital masa depan yang bernilai tinggi bagi kesejahteraan seluruh rakyat.
Dunia pemasaran telah berubah drastis. Jika Anda masih terpaku pada metode konvensional, bisnis Anda berisiko kehilangan relevansi di mata konsumen modern. Di episode kali ini, kami akan membedah mengapa konsep klasik AIDA kini perlu diperbarui agar tetap efektif di era digital.Sesuai dengan filosofi SLC Marketing, Inc. bahwa kesuksesan sebuah perusahaan bergantung pada jaringan yang kuat antar stakeholder, kami akan berbagi insight strategis tentang bagaimana membangun koneksi yang kuat antara Company dan Customer melalui Online Branding yang tepat
MetroTV, TNI Bersama Pemerintah Daerah Membuka Program Tentara Manunggal Membangun Desa atau TMMD ke-127 di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Program Ini Difokuskan untuk Mempercepat Pembangunan di Wilayah Terdampak Banjir dan Tanah Longsor.
Renungan D'Message || MEMBANGUN MEZBAH KELUARGA || Ps. Steven Liem
Lakukan langkah mudah berikut ini:Kenali diri;Tentukan audiens;Konsisten terhadap identitas;Jangan lupa makan;Selamat tidur, semoga mimpi indah, besok kita ketemu lagi ya! I love you. Muach...
Sebagai orang tua, kita tentu ingin anak-anak kita, termasuk yang Autistik, bisa bersosialisasi dan berteman dengan baik. Namun, sebelum itu terjadi, kita harus membangun ketertarikan mereka untuk berteman, yang seringkali memerlukan waktu. Yuk, coba bagikan pengalaman Moms & Dads! Apakah Moms & Dads pernah merasakan tantangan yang sama dalam membantu anak-anak bersosialisasi? Atau mungkin ada tips yang ingin Moms & Dads bagi dengan orang tua lainnya?
"Sebagai orang tua, kita sering menghadapi tantangan yang menguras energi. Bagaimana cara Moms & Dads tetap memupuk growth mindset dalam diri Moms & Dads dan anak-anak?
Tak banyak yang mengambil peran ini, peyek salah satunya, kul!
Khutbah Jum'at - Ustadz Muhammad Abu Rivai, SH., MH. hafizhahullahu.Judul : Membangun Kebiasaan (Habit) Berdo'a.Sumber : YouTube.
Membangun bisnis hijau di tengah krisis iklim saat ini menuntut lebih dari sekadar niat baik dan semangat yang meluap; ia membutuhkan kerangka kerja kewirausahaan yang sangat disiplin. Berbeda dengan industri digital yang lincah, sektor energi dan iklim melibatkan tantangan infrastruktur fisik, rantai nilai yang kompleks, serta regulasi yang ketat. Dengan mengadopsi pendekatan sistematik seperti yang diajarkan oleh Ben Soltoff, para inovator muda harus mampu membedah lanskap masalah secara mendalam sebelum meluncurkan solusi teknis. Kunci keberhasilan terletak pada kemampuan menyelaraskan misi penyelamatan planet dengan unit ekonomi yang sehat, sehingga dampak lingkungan yang diciptakan dapat berjalan beriringan dengan kelangsungan bisnis yang mandiri. Bagi anak muda di Indonesia, tantangan sebagai negara kepulauan yang rentan terhadap dampak iklim justru menjadi laboratorium inovasi yang paling subur. Melalui Riset Pasar Primer (PMR) yang jujur dan strategi Beachhead Market, wirausahawan dapat menemukan ceruk pasar kecil yang memiliki masalah paling akut—baik itu di sektor energi terbarukan, manajemen sampah kota, maupun pertanian regeneratif. Fokus pada pasar awal ini memungkinkan inovator untuk memvalidasi solusi mereka, membangun kredibilitas, dan menurunkan hambatan ekonomi seperti green premium. Di sini, kolaborasi antar pemangku kepentingan—mulai dari pemerintah desa hingga korporasi besar—menjadi jauh lebih krusial dibandingkan kompetisi untuk memastikan solusi hijau tersebut dapat terintegrasi dengan kearifan lokal. Pada akhirnya, perjalanan menjadi changemaker di sektor hijau adalah sebuah maraton yang membutuhkan ketangguhan mental dan literasi finansial yang mumpuni. Generasi muda Indonesia memiliki posisi strategis untuk memimpin revolusi industri hijau global dengan memanfaatkan kekayaan biodiversitas dan potensi ekonomi rendah karbon di tanah air. Dengan disiplin dalam mengeksekusi ide, keberanian untuk belajar dari kegagalan, dan integritas dalam mengukur dampak karbon yang nyata, setiap langkah kecil yang diambil akan menjadi fondasi bagi masa depan yang lebih layak huni. Krisis iklim saat ini adalah panggilan sejarah bagi para pemuda untuk bertindak sebagai garda terdepan yang membawa keadilan dan kemakmuran hijau bagi seluruh penghuni bumi.
Ko-investasi mewakili sebuah pergeseran paradigma fundamental dari mentalitas ketergantungan donor menuju kemandirian yang berkelanjutan. Dalam dunia wirausaha sosial, kita tidak lagi memandang kontribusi finansial sebagai "sumbangan" semata, melainkan sebagai undangan bagi para pemangku kepentingan untuk memiliki skin in the game. Dengan melakukan reframing dari konsep "berbayar" menjadi "ko-investasi ekosistem", kita sebenarnya sedang membangun infrastruktur bersama di mana setiap pihak berbagi tanggung jawab atas keberlanjutan dampak. Pendekatan ini memastikan bahwa setiap kontribusi yang masuk adalah manifestasi dari komitmen serius untuk memperkuat fondasi kolaborasi, bukan sekadar pemberian sekali putus yang rentan terhadap fluktuasi minat donor. Keberhasilan ko-investasi sangat bergantung pada ketajaman value proposition yang kita tawarkan kepada para kolaborator. Kita harus mampu mengartikulasikan nilai nyata yang tidak bisa ditemukan di tempat lain, seperti akses ke jaringan yang telah terkurasi secara profesional, metodologi kolaborasi yang teruji, hingga dukungan pasca-kegiatan yang berkelanjutan. Ketika para ecosystem builder melihat bahwa investasi mereka menghasilkan return berupa efektivitas dampak dan efisiensi operasional, mereka tidak akan ragu untuk beralih dari peran penyumbang pasif menjadi mitra strategis. Di sini, profesionalisme menjadi kunci; kemandirian finansial bukanlah pengkhianatan terhadap misi sosial, melainkan bentuk tanggung jawab tertinggi agar dampak yang kita cita-citakan tidak terhenti saat aliran hibah mengering. Pada akhirnya, ko-investasi adalah tentang membangun kedaulatan dan martabat dalam ekosistem perubahan sosial. Melalui diferensiasi model kontribusi yang adil—seperti mekanisme pay-it-forward di mana entitas yang lebih matang mendukung mereka yang berada di tahap awal—kita menciptakan sirkulasi ekonomi yang sehat dan inklusif. Transformasi ini mengubah posisi kita dari pemohon bantuan menjadi pemimpin ekosistem yang memfasilitasi kemajuan bersama. Dengan mengadopsi semangat ko-investasi, kita memastikan bahwa wirausaha sosial bukan lagi sebuah proyek jangka pendek, melainkan sebuah warisan (legacy) yang kokoh, adaptif, dan mampu terus berinovasi demi kesejahteraan masyarakat luas secara mandiri.
Wirausaha sosial merupakan sebuah model inovatif yang mengintegrasikan misi sosial dengan kedisiplinan serta ketajaman strategi bisnis. Berbeda dengan model amal tradisional yang sangat bergantung pada donasi, wirausaha sosial berupaya menciptakan kemandirian melalui mekanisme pasar untuk menjawab tantangan kemanusiaan seperti kemiskinan dan malnutrisi. Esensi dari konsep ini bukan sekadar tentang mencari keuntungan, melainkan bagaimana menghasilkan pendapatan yang berkelanjutan agar dampak positif yang dihasilkan dapat terus bertahan dan menjangkau lebih banyak orang tanpa terus-menerus terikat pada bantuan eksternal. Dalam pelaksanaannya, membangun wirausaha sosial memerlukan pendekatan yang sistematis untuk menavigasi ketidakpastian yang tinggi, terutama di lingkungan pasar yang belum berkembang. Proses ini dimulai dengan pengujian kelayakan yang ketat atau "pressure test" untuk memastikan bahwa solusi yang ditawarkan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan memiliki potensi ekonomi yang masuk akal. Dengan menggunakan perencanaan berbasis penemuan (discovery-driven planning), seorang wirausahawan sosial harus berani menguji asumsi-asumsi kritis di lapangan melalui eksperimen skala kecil sebelum melakukan investasi besar, sehingga risiko kegagalan dapat diminimalisir dan sumber daya yang terbatas dapat dialokasikan secara efisien. Keberhasilan jangka panjang dari sebuah wirausaha sosial diukur dari kemampuannya untuk melakukan skalabilitas tanpa mengorbankan integritas misi sosialnya. Ketika sebuah usaha berhasil melewati fase rintisan dan mulai berkembang, ia tidak hanya memberikan produk atau layanan yang bermanfaat, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi baru yang memberdayakan masyarakat lokal. Pada akhirnya, wirausaha sosial berfungsi sebagai katalisator perubahan yang mengubah wajah filantropi menjadi sebuah gerakan kemandirian yang pragmatis, profesional, dan mampu menciptakan kesejahteraan sosial yang nyata di tengah masyarakat yang paling membutuhkan.
Program Koperasi Desa Merah Putih, gagasan Presiden Prabowo, hadir untuk membuka peluang usaha dan menguatkan ekonomi desa.Sejauh mana target dan implementasinya? Simak selengkapnya penjelasan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal RI Yandri Susanto dalam Radio Talk Elshinta bekerja sama dengan Komdigi , Senin, 1 Desember 2025 Pukul 08.00 WIB.
Tahun 2025 menandai pergeseran fundamental dalam pengelolaan sumber daya manusia dan keberagaman, di mana organisasi bertransformasi dari sekadar pembeli bakat menjadi pembangun bakat. Di tengah disrupsi teknologi, perusahaan kini memikul tanggung jawab strategis untuk melakukan pelatihan ulang (reskilling) secara masif dan membuka pintu bagi tenaga kerja "kerah baru" tanpa memandang gelar akademis, melainkan keterampilan nyata. Pendekatan terhadap inklusi pun berevolusi melampaui statistik representasi menuju penciptaan lingkungan yang memungkinkan setiap individu berkembang melalui "empat kebebasan"—termasuk kebebasan psikologis untuk gagal dan belajar tanpa rasa takut akan hukuman yang tidak adil. Dari sisi strategi dan operasional, mantra pertumbuhan dengan segala cara telah digantikan oleh pertumbuhan yang selaras dengan kapasitas internal dan realitas geopolitik baru. Pemimpin masa depan dituntut untuk menavigasi kebijakan industri pemerintah yang semakin intervensionis serta menerapkan kerangka kerja Rate-Direction-Method (RDM) untuk mencegah kerusakan budaya akibat ekspansi yang terlalu agresif. Efisiensi organisasi tidak lagi dicapai dengan menambah lapisan birokrasi, melainkan melalui keberanian melakukan pengurangan (subtraction) sistematis terhadap rapat, aturan, dan prosedur yang menghambat produktivitas, menjadikan organisasi lebih ramping dan responsif. Terakhir, paradigma kepemimpinan dan kesuksesan pribadi mengalami rehumanisasi yang mendalam. Pemimpin efektif di tahun 2025 adalah mereka yang mempraktikkan empati berkelanjutan—peduli tanpa mengorbankan kesejahteraan diri sendiri—serta bertindak sebagai "Aktivator" yang proaktif menghubungkan orang lain demi kolaborasi nilai tambah. Filosofi ini meluas hingga ke tingkat individu, di mana para profesional didorong untuk menerapkan alat strategi korporat ke dalam kehidupan pribadi mereka (Strategize Your Life), memastikan bahwa waktu dan energi dialokasikan secara sengaja untuk mencapai kehidupan yang bermakna, bukan sekadar karier yang sukses.
Mengikuti diskusi buku Can I Talk To You? bersama Kania Annisa menjadi sebuah pengalaman batin yang tak saya duga akan begitu mengguncang. Saya datang sebagai peserta diskusi, tetapi pulang sebagai seseorang yang disentuh di ruang terdalam hatinya. Ada banyak momen hening yang terasa ramai—ramai oleh emosi, ingatan, dan keberanian untuk jujur pada diri sendiri.Salah satu momen yang paling mengharukan adalah pelukan hangat yang terjadi di ruang diskusi itu. Pelukan sederhana, namun sarat makna. Saat itu, air mata saya hampir tumpah. Saya berusaha menahannya, tertawa kecil untuk menyamarkan getar di dada, tetapi tubuh saya tahu: ada luka lama yang tersentuh dengan lembut. Pelukan itu menjadi #trigger yang membuka kembali sebuah kenangan penting dalam hidup saya—sebuah malam panjang bersama ayah. Kenangan itu membawa saya ke ruang tamu rumah kami, dalam suasana hening, ketika saya dan ayah duduk berhadapan dari pukul 11 malam hingga menjelang subuh. Tidak ada suara selain kejujuran. Tidak ada ego selain keinginan untuk berdamai. Malam itu, kami belajar memaafkan, mengakui kekurangan masing-masing, dan menerima bahwa cinta tidak selalu hadir dalam bentuk yang sempurna. Prosesnya sangat sulit, tetapi kelegaan yang muncul setelahnya terasa seperti napas pertama setelah lama tenggelam. Ada ketakutan yang akhirnya bisa dilepaskan.Diskusi buku ini mengingatkan saya bahwa didengarkan adalah kebutuhan paling dasar manusia. Bukan untuk diperbaiki, bukan untuk dihakimi, tetapi untuk diterima. Saya belajar bahwa dialog dari hati ke hati—baik antara orang tua dan anak, maupun antara diri kita yang dewasa dengan luka masa lalu—adalah bentuk keberanian yang paling sunyi sekaligus paling kuat.Saya pulang dari acara ini dengan hati yang lebih lunak. Lebih berani untuk menangis. Lebih jujur untuk mengakui bahwa berdamai adalah proses seumur hidup. Dan yang terpenting, saya diingatkan bahwa pelukan, percakapan, dan kehadiran penuh bisa menjadi jembatan menuju penyembuhan yang selama ini kita cari.Youtube: https://youtu.be/_ML2K4dOMsM?si=Pi48ZKYrHRjw6Xa3Spotify: https://open.spotify.com/episode/1PLzhPyxIDhhAFzqYuzjsdAn intimate BOOK TALK dedicated to nurturing the heart of your home: FAMILY and PARENTING. "Affectionate Parenting: The Art of Dialogue in Every Family Conversation To Build Warm Connection". This session is inspired by the heartfelt collection, Can I Talk To You? Conversations with My Children: A Mother's Reflection, a best selling book by Kania Annisa Anggiani.#AffectionateParenting #BookTalkJakarta #FamilyDialogue #ParentingGoals #booktok
Pernahkah Anda merasa lelah dengan aktivitas networking yang hanya berakhir sebagai tumpukan kartu nama tanpa kelanjutan aksi yang nyata? Di episode INIKOPER kali ini, kita akan membongkar mitos lama tentang jejaring sosial. Kita sering terjebak berpikir bahwa koneksi hanyalah soal "siapa yang kita kenal" demi keuntungan pribadi, padahal sejatinya, membangun jejaring adalah seni menemukan "siapa yang peduli pada hal yang sama" untuk menciptakan kekuatan perubahan yang lebih besar. Kami akan membedah strategi membangun social capital kelas dunia—sebuah pendekatan yang mengubah interaksi transaksional menjadi hubungan transformasional. Anda akan mempelajari tahapan konkret bagaimana mengubah obrolan santai menjadi aliansi strategis, memetakan ekosistem di sekitar Anda, dan menemukan celah kolaborasi yang selama ini tidak terlihat. Ini bukan tentang membagikan kartu nama, melainkan tentang menenun kepercayaan untuk aksi kolektif. Jangan biarkan visi sosial Anda berjalan lambat hanya karena Anda mencoba melakukannya sendirian. Simak episode spesial ini hanya di INIKOPER, dan temukan "mata rantai" yang hilang dalam strategi kepemimpinan Anda. Mari berhenti bergerak dalam silo dan mulai merajut dampak yang sesungguhnya. Pasang earphone Anda, siapkan catatan, dan mari kita belajar cara membangun koneksi yang benar-benar bekerja.
Belajar dari rangkaian bencana alam yang terjadi di wilayah utara Sumatera, muncul kembali pertanyaan penting: bagaimana Indonesia dapat membangun sistem peringatan dini yang lebih kompeten di masa mendatang? Derasnya hujan, meningkatnya potensi longsor, dan meluapnya aliran sungai menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan mendesak.Para pakar kebencanaan menilai, sistem peringatan dini harus bertumpu pada tiga pilar utama: teknologi yang andal, alur komunikasi yang jelas, serta partisipasi masyarakat. Pemasangan sensor hidrologi dan geologi di titik-titik rawan dapat memberikan informasi cepat mengenai perubahan kondisi alam. Namun teknologi saja tidak cukup. Informasi yang muncul dari sistem sensor harus diteruskan melalui jalur komunikasi yang terintegrasi—mulai dari BMKG, BPBD, pemerintah daerah, hingga ke masyarakat paling dekat dengan titik risiko—tanpa hambatan, tanpa keterlambatan.Yang tak kalah penting, masyarakat harus menjadi bagian dari sistem itu sendiri. Edukasi kebencanaan, simulasi evakuasi, hingga pembentukan relawan desa tangguh bencana menjadi elemen yang memperkuat rantai kesiapsiagaan. Ketika masyarakat memahami makna sinyal peringatan dini dan tahu langkah yang harus diambil, maka potensi penyelamatan jiwa akan jauh lebih besar.Dengan membangun sinergi antara teknologi, pemerintah, dan masyarakat, Indonesia dapat melangkah menuju sistem peringatan dini yang lebih adaptif dan responsif. Sebuah langkah strategis untuk memastikan bahwa ketika bencana datang, informasi tiba lebih awal, tindakan dilakukan lebih cepat, dan lebih banyak nyawa dapat diselamatkan.Talk :: Ahli Geologi UGM, Ir. Agus Hendratno, ST.MT & Pengamat Anggaran dan Kebijakan, Elfenda Ananda
Parents, banyak yang pengen anaknya jauh lebih baik dari orang tuanya.. Tapi berharap perubahan dari anak itu sulit, kalo orang tuanya sendiri belum berubah..Nah, di episode Podcast Curhat BaBu kali ini bersama Keke Kania, terungkap kalo banyak yang harus diupayakan oleh orang tua agar anak bisa tumbuh jadi versi terbaik dirinya. Mulai dari aktualisasi diri, menerapkan active listening, sampai memutus siklus trauma dari generasi sebelumnya.Teh Keke juga mempromosikan buku yang baru ia rilis, yakni ‘Can I Talk To You,' berisi obrolan-obrolan bermakna beliau bersama dua orang buah hatinya, juga cerita-cerita menarik di dalamnya. Simak sampai selesai buat obrolan-obrolan seru dan insightful ya!Timestamp:00:00 Opening02:50 Membangun kedekatan dengan orang tua dan mertua08:30 Menerapkan ‘active listening' dan aktualisasi diri13:45 Cara membuat anak bisa terbuka ke orang tua21:15 Gak bisa sekadar nanya ‘how was your day?' ke anak24:00 Kekhawatiran ketika anak tumbuh dewasa26:58 Gak nyiapin peninggalan investasi buat anak-anak30:43 Pentingnya nyontohin relationship yang baik ke anak38:05 Cerita yang ditulis di buku ‘Can I Talk To You?'42:46 Perspektif anak-anak dan ‘learning shutdown'45:42 Detail buku ‘Can I Talk To You?'Link pembelian buku Can I Talk To You: https://www.tokopedia.com/geometrymedia/can-i-talk-to-you-conversations-with-my-children-a-mother-s-reflection-kania-annisa-anggiani-1732946712951882907Website Keke Kania: https://www.kekekania.com/
Kuasa Perkataan: Membangun atau Menghancurkan Efesus 4:29 I.Lidah: Senjata yang Membunuh atau Obat yang Menyembuhkan II.Bahaya Perundungan: Dosa yang Membunuh III.Panggilan untuk Membangun dengan Perkataan IV.Bertanggung Jawab atas Setiap Perkataan
Kencan Dengan Tuhan - Sabtu, 28 Juni 2025Bacaan: "Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi." (Amsal 15:32)Renungan: Suatu ketika ada seorang muda melukis pemandangan yang cantik dalam waktu 5 hari. Ia ingin sekali mendengar pendapat orang lain mengenai lukisannya. Anak muda itu kemudian meletakkan lukisannya di jalan yang ramai. Di bawah lukisan itu ia menulis, "Lukisan ini karya saya. Mungkin saya telah membuat beberapa kesalahan dalam goresan atau pewarnaan. Tolong berikan tanda X pada bagian yang salah." Sore harinya ia kembali untuk mengambil lukisan itu dan ia terkejut karena seluruh kanvas penuh dengan tanda X dan komentar pedas. Dengan sangat kecewa ia pergi ke tempat gurunya dan mengatakan bahwa ia tidak mau menjadi pelukis lagi. Sang guru hanya memintanya untuk membuat kembali lukisan yang sudah penuh coretan itu. Namun kali ini tulisan di bawah lukisan itu berbunyi, "Saudara-saudara, saya telah melukis sebuah lukisan. Kalau ada kesalahan dalam goresan atau pemilihan warna, mohon perbaiki kekurangannya." Di samping lukisan itu ia meletakkan sekotak kuas dan cat. Tiga hari kemudian ia kembali. Dan hasilnya? Lukisan itu tetap bersih tanpa coretan. Apa kesimpulan dari cerita ini? Kesimpulannya adalah mengkritik itu mudah, namun memperbaiki itu sulit. Nah, jangan biarkan diri kita hancur dan depresi karena kritikan orang. Kita ambil yang baik saja, sebab terkadang Tuhan mau membentuk karakter dan kepribadian kita melalui kritik atau teguran dari orang lain. Tuhan Yesus memberkati.Doa: Tuhan Yesus, kuasai hatiku, agar ketika seseorang mengkritik hasil karya, pekerjaan dan kepribadianku, aku tidak kecewa dan tidak putus asa. Ajarilah aku untuk tetap semangat bahkan lebih baik lagi dari sebelumnya. Sebab kini kupercaya, bahwa terkadang Engkau memakai seseorang untuk mengkritikku agar aku menjadi pribadi dan pekerja yang lebih baik lagi. Amin. (Dod).
Pembawa Renungan : RD. Yustinus Kurniawan Karwayu Denpasar Mat. 7:21-29
Membangun Jati Diri Remaja dengan Mengarahkan, Bukan Menyeragamkan merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 16 Syawwal 1446 H / 15 April 2025 M. Kajian Tentang Membangun Jati Diri Remaja dengan Mengarahkan, Bukan Menyeragamkan Salah satu langkah penting dalam membangun jati […] Tulisan Membangun Jati Diri Remaja dengan Mengarahkan, Bukan Menyeragamkan ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.
Episode kali ini, kita ngobrol bareng Robbi Tan, Executive Chef dari By/Suka Group—grup F&B yang punya berbagai outlet di lokasi strategis di Bali, mulai dari Nusa Dua, Canggu, sampai Ubud. Robbi cerita soal pengalamannya kerja di group ini, tantangan memimpin banyak outlet, dan bagaimana dia membangun, memimpin, dan manage sebuah tim dengan baik. Tonton video selengkapnya di #RayJansonRadioOTP #17 MEMBANGUN TEAM IDAMAN WITH ROBBI TAN | ONTHEPASEnjoy the show!Robbi Tan: www.instagram.com/robbi_tanDON'T FORGET TO LIKE AND SUBSCRIBE !On The Pas is available on:Spotify: https://spoti.fi/2lEDF01Apple Podcast: https://apple.co/2nhtizqGoogle Podcast: https://bit.ly/2laege8iAnchor App: https://anchor.fm/ray-janson-radioInstagran: https://www.instagram.com/onthepasbali/TikTok: https://www.tiktok.com/@onthepasLet's talk some more:https://www.instagram.com/renaldykhttps://www.instagram.com/backdraft_projecthttps://www.instagram.com/mariojreynaldi#OnThePasPodcast #BaliPodcast #RayJansonRadio #FnBPodcast #PodcastAfterService
participates in Harmony Week. And for this year, KICA will act as the host or organizer of the Gold Coast Harmony Festival which will be held on Saturday, April 12, 2025. - Setiap tahunnya Kusuma Indonesia Community Australia (KICA) selalu berpartisipasi dalam Minggu Harmony. Bahkan untuk tahun ini KICA akan bertindak sebagai tuan rumah atau penyelenggara dari Festival Harmoni Gold Coast yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 12 April 2025.
Australian public libraries are special places. Yes, they let you borrow books for free, but they also offer a wealth of programs and services, also free, and welcome everyone, from tiny babies to older citizens. - Perpustakaan umum Australia adalah tempat yang istimewa. Ya, perpustakaan ini mengizinkan Anda meminjam buku secara gratis, tetapi perpustakaan ini juga menawarkan banyak program dan layanan, yang juga gratis, dan membuka pintunya bagi semua orang, dari bayi hingga lanjut usia.
Bpk. Ichwan Cahyadi
Membangun Jati Diri Remaja merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 11 Ramadhan 1446 H / 11 Maret 2025 M. Kajian Tentang Membangun Jati Diri Remaja Kita sampai pada poin penting, yaitu membangun jati diri remaja. Ini merupakan aspek yang sangat […] Tulisan Membangun Jati Diri Remaja ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.
Komisi Produktivitas telah merilis temuan tentang produktivitas kontruksi perumahan yang mengalamai stagnasi selama 30 tahun
Pembawa Renungan : RD. Willem Pau Semarang Yoh. 3:22-30
Kali ini saya akan bahas strategi cerdas membangun kekayaan dari buku legendaris The Richest Man in Babylon karya George S. Clarson. Buku ini penuh tips praktis dan prinsip keuangan yang relevan untuk zaman sekarang! Membangun kekayaan bukan cuma soal kerja keras, tapi juga bagaimana kita bisa menerapkan strategi yang efektif, seperti membuat uang bekerja untuk kita dan investasi yang cerdas. Bukan investasi asal ikut-ikutan, tapi fokus ke hal yang kamu kuasai dan yang memberi hasil stabil. Kekayaan bukan soal kumpul uang saja, tapi juga bagaimana kamu bisa berbagi dan memberi makna lebih dari sekadar materi. Yuk, pelajari rahasia menuju kekayaan dari buku ini dan mulai terapkan cara efektif membangun kekayaan yang akan bantu kamu untuk sukses jangka panjang! Leave a comment and share your thoughts: https://open.firstory.me/user/clhb6d0v60kms01w226gw80p4/comments Powered by Firstory Hosting