POPULARITY
Categories
Latest News SBS Audio Program Bahasa Indonesia - Thursday 11 June 2026 - Berita Terkini SBS Audio Program Bahasa Indonesia - Kamis 11 Juni 2026
Sifat Cinta Allah ‘Azza wa Jalla Menurut Ahlus Sunnah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Shahih Jami’ Ash-Shaghir. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah pada Kamis, 18 Dzulhijjah 1447 H / 4 Juni 2026 M. Kajian Tentang Sifat Cinta Allah ‘Azza wa Jalla Menurut Ahlus Sunnah Allah […] Tulisan Sifat Cinta Allah ‘Azza wa Jalla Menurut Ahlus Sunnah ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.
Sabar dan Syukur Sebagai Fondasi Keimanan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Fawaidul Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 4 Dzulhijjah 1447 H / 21 Mei 2026 M. Kajian Islam Tentang Sabar dan Syukur Sebagai Fondasi Keimanan Kajian rutin pada Kamis pagi ini kembali […] Tulisan Sabar dan Syukur Sebagai Fondasi Keimanan ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 11 Juni 2026Bacaan: "..... janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana....." (Roma 12:16)Renungan: Ketika kita bercita-cita menjadi seorang penulis, ada dua hal yang harus kita lakukan. Pertama, kita harus banyak menulis. Kedua, kita harus banyak membaca. Ya, penulis harus banyak membaca, seperti juga musisi harus banyak mendengarkan musik, sineas harus banyak menonton film, barista harus suka minum kopi, dst. Pertanyaannya, buku apa yang harus dibaca agar kita bisa menjadi penulis yang baik? Seorang penulis memberi nasihat cukup unik, la menyarankan membaca dua jenis buku: buku yang benar-benar bagus dan buku yang benar-benar jelek. Membaca buku yang sangat bagus tentu agar kita terinspirasi dan bisa membuat tulisan yang makin berkualitas. Bagaimana dengan membaca buku yang sangat jelek? Menurut penulis itu, buku yang sangat jelek juga bisa membuat kita termotivasi. "Jika tulisan sejelek itu saja ada yang mau menerbitkan, tulisan kita pasti bisa diterbitkan juga." Ada benarnya juga. Nyatanya, kita sering kali takut, bahkan putus asa karena yang kita lihat saat baru memulai sesuatu hanyalah orang-orang yang sudah ada di level sangat tinggi. Kita berhenti menulis karena tidak bisa menulis sebaik peraih Nobel Sastra. Kita berhenti menjadi musisi karena minder melihat keahlian para musisi kelas nasional bahkan internasional. Kita putus asa karena usaha yang kita rintis tidak kunjung sebesar perusahaan top. Maka, ada kalanya kita perlu juga melihat kepada hal-hal yang lebih "membumi". Bukan berarti menurunkan standar atau tak punya cita-cita tinggi. Kadang kita memang harus melihat ke atas, tapi penting juga untuk bisa melihat ke samping atau ke bawah. Keseimbangan seperti ini perlu supaya kita tidak jatuh menjadi hidup sekadar mengejar ambisi yang tak pernah habis-habisnya. Melihat ke hal-hal yang di bawah atau di sekitar, juga membuat kita bisa lebih bersyukur daripada hanya mengeluh karena kondisi kita tidak seperti orang lain. Kepada jemaat di Roma, Paulus dua kali mengingatkan mereka untuk tidak hanya memikirkan hal-hal yang tinggi (Rm. 12:3, 16), tapi mengarahkan pikiran ke hal sederhana agar tetap rendah hati. Tak ada yang salah dengan memiliki cita-cita besar, tapi jangan sampai kita lalu menjadi tak menghargai hal-hal kecil dan sederhana, karena itupun adalah berkat Tuhan untuk kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk selalu bersyukur atas hal-hal besar dan kecil dalam hidupku karena semua itu adalah berkat-Mu yang Kau berikan untukku. Amin. (Dod).
Halo Kawan Muda!Podcast UMMFM balik lagi nemenin malam kamu dengan cerita-cerita yang siap bikin bulu kuduk berdiri
Badan Narkotika Nasional memusnahkan barang bukti narkotika golongan satu berupa sabu seberat 132.167 gram hasil operasi Saber Bersinar 2026 di kantor BNN, Kamis.
Sapaan Lansia GKP Jemaat BandungKamis, 11 Juni 2026Tema : "Jangan Berhenti Berbuat Baik"Bahan Alkitab : Gal 6:9-10 ; Ef 2:10Pelayan Firman : Pnt. Lukas WidodoEpisode 24 - Season 6@GKP Bandung Juni 2026
Ustadz Ali Hasan Bawazier - #SERIES Kitab Akidah Kamis BA'DA Magrib Ustadz Ali Hasan
Menghadapi Masalah Rumah Tangga Menantu adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Shahih Jami’ Ash-Shaghir. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah pada Kamis, 11 Dzulhijjah 1447 H / 28 Mei 2026 M. Kajian Islam Tentang Menghadapi Masalah Rumah Tangga Menantu Beberapa riwayat dari hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa […] Tulisan Menghadapi Masalah Rumah Tangga Menantu ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.
Sebuah pesawat berukuran kecil jatuh di Medulin, Semenanjung Istria, Kroasia, pada Kamis waktu setempat. Insiden tragis ini menewaskan sedikitnya empat orang. Pesawat yang terdaftar di Jerman ini baru saja lepas landas dari Austria sebelum jatuh di sebuah ladang. Polisi dan petugas pemadam kebakaran segera menuju lokasi untuk mengevakuasi puing-puing. Penyebab pasti kecelakaan masih diselidiki.
Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan melantik Nanik S. Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pada Senin mendatang.Kepastian tersebut disampaikan Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, di Kompleks Istana Kepresidenan pada Kamis kemarin.
Latest news SBS Audio Indonesian Program - Thursday 4 June 2026. - Berita Terkini SBS Audio Program Bahasa Indonesia - Kamis 4 Juni 2026.Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu jam 3 sore.Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 4 Juni 2026Bacaan: "Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang." (Amsal 23:18)Renungan: Tabonya Siddiqui mengalami luka permanen Jakibat insiden yang dialaminya saat kecil di Dhaka, Bangladesh. Usianya masih 8 tahun saat lampu minyak yang ia nyalakan karena listrik padam, tiba-tiba meledak. Api melalap tubuhnya hingga memerlukan pemulihan yang lama dan melalui serangkaian operasi yang menyakitkan. Namun itu semua tidak menghalanginya meraih cita-cita menjadi model. Impiannya terwujud ketika dipercaya menjadi model Next, produk fesyen ternama. Tanpa memanipulasi cacat fisiknya, ia berhasil mewujudkan mimpi. Siapapun ingin memiliki masa depan yang baik, tetapi jika melihat masa lalu, latar belakang, tingkat pendidikan, dan lingkungan kita berada, tidak jarang diri sendiri merasa keinginan memiliki masa depan yang baik adalah sesuatu yang muluk. Padahal, tidak ada satu impian yang terlalu muluk bagi setiap orang yang bersungguh-sungguh berusaha mewujudkannya. Sebenarnya perasaan tersebut muncul karena kita telah membatasi kemampuan diri sendiri. Jika perasaan itu tidak disingkirkan dapat menjadi penghalang terbesar kita untuk mewujudkan impian. Alkitab mencatat banyak kisah orang yang tetap memegang mimpinya meski di tengah situasi sulit. Salah satunya adalah Yusuf yang tetap percaya bahwa kelak dirinya akan menjadi orang paling mulia di tengah keluarga dan saudara-saudaranya. Itu sebabnya, ia mampu bertahan saat menghadapi masa-masa sulit, baik ketika dijual oleh saudara-saudaranya, difitnah istri Potifar, hingga saat berada di penjara. Yusuf sadar, jika ia menyerah dengan keadaan maka masa depan yang indah itu pasti tidak akan pernah dimilikinya. Apapun situasi yang kita hadapi saat ini, mari katakan pada diri sendiri untuk selalu optimis. Percayalah bahwa ada masanya awan kelam kesukaran akan berlalu dari hidup kita untuk berganti dengan pelangi yang indah! Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, kuserahkan keterbatasanku ke dalam tangan-Mu. Sempurnakanlah apa yang menjadi kekuranganku, sehingga bagaimanapun keadaanku, asal Kau ada bersamaku, maka hidupku bisa berdampak bagi banyak orang. Amin. (Dod).
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Yenny dari Paroki Santo Paulus di Keuskupan Bandung, Indonesia. 2 Timotius 2: 8-15; Mazmur tg 25: 4bc-5ab.8-9.10.14; Markus 12: 28b-34.JANTUNGNYA CINTA Renungan kita pada hari ini bertema: Jantungnya Cinta.Biasanya cinta itu indah dalam kata-kata. Tetapi cinta itu menjadi sempurnajika dilakukan atau dipraktikkan. Jadi cinta yang terungkap dalam kata-kata dandiwujudkan dalam tindakan yang sesuai dengan kata-kata, sebenarnya itu adalahjantungnya cinta. Tetapi ada masalah dengan cinta di sini. Persoalannyaialah orang menjalankan cinta sebagai sebuah teori atau rumusan, jadi bentuknyaialah ide, gagasan dan norma-norma. Misalnya jangan bicara kasar, jangan nampakkotor pada orang lain, dan banyak jangan atau larangan lainnya. Itu yang dibuat oleh orang-orang Yahudi, khususnya kaumcendekia dan ahli taurat. Mereka memiliki 600 lebih rumusan aturan agar orang-orang menjadi lebih baik dan beriman. Tapi ternyatajantung cinta atau inti cintanya tidak mereka miliki. Terlalu larut dalam teoridan rumusan, mereka lupa untuk menghidupi cinta itu. Dan Yesus sendiri yangmengajarkan mereka: jantung cinta ialah mencintai Allah dan sesama, keduanyasama penting dan sama sejatinya. Maka syarat fundamental ialah jangan berbuat ekstrem yaitufanatik untuk yang satu, sementara melupakan atau membenci yang lain. RasulPaulus menasihatkan Timotius di dalam suratnya yang kedua bahwa pewartaan danpendalaman keyakinan tentang kematian dan kebangkitan Kristus adalah metodedasar dalam pertumbuhan iman. Isi pewartaan itu sudah dimulai oleh Rasul Petruspada hari-hari pertama setelah Yesus bangkit. Ia berkotbah di hadapan semuaorang yang percaya dan yang belum. Aspek lain yang juga sangat penting ialah menghidupikeyakinan dan pemahaman iman tersebut. Rasul Paulus melanjutkan nasihatnya itu,bahwa muridnya itu dan kita semua pengikut Kristus hendaknya mati juga bersamaKristus supaya kita nanti hidup bersama Dia. Kita hendaknya bertekun agar kitaikut memerintah bersama Dia. Jika kita menyangkal Dia, Dia akan menyangkalkita. Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, sebab Yesus tidak dapatmenyangkal diri-Nya sendiri. Mungkin hidup kita saat ini berlebur dalam urusan cintaberupa kata-kata, ilusi, gambar, janji, teori, rumusan, aturan, mimpi, ambisipribadi, uang, karir dan semua kaitan dengan kebutuhan duniawi. Bisa jadijantung cintanya, yaitu perbuatan mencintai sesama dan Tuhan yang nyata,langsung, dan berguna jauh dari perhitungan. Batin terasa sedang mencarijantung cinta yang kabur atau hilang. Apakah jantung cinta sekarang bersamamuatau jauh darimu? Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa ... Ya Tuhan Yesus Kristus, semoga kami tetapdalam bimbingan Roh-Mu dalam kesetiaan dan ketaatan mencintai Dikau dan sesamakami, sebab dengan demikian kami sanggup menunjukkan diri sebagaimurid-murid-Mu yang sesungguhnya. Berkatilah kami untuk intensi ini. Kemuliaankepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...
Sapaan Lansia GKP Jemaat BandungKamis, 4 Juni 2026Tema : "Jangan Melupakan Tuhan Dalam Perencanaan"Bahan Alkitab : Yakobus 4:13-17Pelayan Firman : Pdt. Sains Pieter Surlia, S.Si., M.I.Kom. (GKP Jati Ranggon Bekasi)Episode 23 - Season 6@GKP Bandung Juni 2026
Pemerintah tengah menyiapkan kebijakan baru tata kelola ekspor sumber daya alam (SDA) yang disebut bertujuan memperkuat pengawasan dan menutup kebocoran devisa negara. Namun di sisi lain, kebijakan ini juga memunculkan kekhawatiran dari kalangan petani sawit terkait potensi melemahnya persaingan pasar dan dampaknya terhadap harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani.Lalu, apakah kebijakan ini akan memperkuat ekonomi nasional atau justru menekan kesejahteraan petani sawit? Simak pembahasannya dalam Talk High Light Radio Elshinta bersama Mansuetus Darto, Ketua Umum Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI), Kamis 21 Mei 2026 pukul 08.05 WIB hanya di Radio Elshinta 90 FM Jakarta dan jaringan Radio Elshinta.#TalkHighLight #RadioElshinta #SawitIndonesia #MansuetusDarto #POPSI #EksporSDA #PetaniSawit #HargaTBS #EkonomiIndonesia #Sawit #Elshinta90FM
Latest News SBS Audio Program Bahasa Indonesia — Thursday 28 May 2026 - Berita terkini SBS Audio Program Bahasa Indonesia – Kamis 28 Mei 2026
JAKARTA — Ketua Umum Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) yang juga Dewan Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), Mansuetus Darto, mengkritik rencana pemerintah memperketat tata kelola ekspor sumber daya alam (SDA), khususnya sektor sawit. Ia menilai kebijakan tersebut berpotensi memicu ketidakpastian pasar, mengganggu rantai usaha sawit nasional, hingga menekan ekonomi masyarakat di daerah.Dalam wawancara di program Elshinta News and Talk, Kamis (21/5/2026), Darto mengatakan pemerintah terlalu fokus menghitung potensi tambahan penerimaan negara dari pencegahan praktik under invoicing dan transfer pricing, namun belum serius menghitung dampak ekonomi di tingkat akar rumput.“Pertanyaan baliknya adalah apakah pemerintah sudah menghitung dampak ekonomi di akar rumput? Karena ketika kita bicara sawit, ini bukan hanya soal ekspor dan devisa, tetapi menyangkut ekosistem ekonomi jutaan orang,” kata Darto.Menurutnya, industri sawit Indonesia berbeda dengan Malaysia yang kerap dijadikan pembanding pemerintah. Ia menilai struktur industri sawit Indonesia jauh lebih kompleks karena melibatkan petani plasma, petani mandiri, buruh sawit, hingga pelaku usaha kecil di daerah.“Di Indonesia ini sawit sudah menjadi ekosistem ekonomi sejak era transmigrasi tahun 1970-an. Ada sekitar 17 juta orang yang hidup dari sektor ini, mulai dari buruh sawit, petani plasma, sampai petani mandiri,” ujarnya.Darto mengungkapkan kekhawatiran bahwa rencana sentralisasi tata kelola ekspor justru telah memicu ketidakpastian di pasar. Ia menyebut harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani mulai turun sejak wacana kebijakan tersebut disampaikan pemerintah.“Hari ini harga TBS sudah turun sekitar Rp200 per kilogram. Bahkan harga CPO yang sebelumnya sekitar Rp15.800 per kilogram turun Rp800 setelah pengumuman Presiden. Ini dampak dari ketidakpastian pasar,” katanya.Menurut Darto, pelaku usaha kini mulai berhati-hati dalam membeli pasokan sawit dari pihak ketiga karena khawatir terhadap mekanisme baru ekspor yang belum jelas. Situasi itu dikhawatirkan akan memukul pabrik sawit skala kecil yang selama ini menjadi penampung hasil petani mandiri.Ia menjelaskan, jika perusahaan besar hanya menyerap pasokan dari kebun milik sendiri, maka pabrik-pabrik kecil akan kehilangan pasar. Dampaknya, petani kesulitan menjual hasil panen dan ekonomi daerah ikut terpukul.“Kalau serapan pasar berhenti, tanki penyimpanan penuh, pabrik berhenti produksi, akhirnya petani tidak bisa menjual TBS. Ini yang harus dipikirkan pemerintah karena risikonya sangat besar terhadap ekonomi pedesaan,” tegasnya.Darto juga mempertanyakan dasar perhitungan pemerintah terkait potensi kebocoran negara akibat praktik manipulasi ekspor sawit yang disebut mencapai miliaran dolar AS setiap tahun.“Pemerintah boleh menghitung keuntungan negara, tetapi angka kerugian akibat transfer pricing dan under invoicing itu juga harus dibuka metodologinya. Tidak semua pelaku usaha melakukan praktik seperti itu dan tidak bisa digeneralisasi,” ujarnya.Selain itu, ia menilai pemerintah belum melibatkan para pemangku kepentingan sawit secara memadai sebelum menggulirkan kebijakan tersebut.“Sampai sekarang belum ada diskusi serius dengan pelaku sawit dan para pemangku kepentingan. Padahal dampaknya akan sangat besar terhadap sektor sawit nasional,” kata Darto.
Seperti inilah kepadatan penumpang yang terjadi di Stasiun Kereta Api Kota Bandung, Jawa Barat, pada Kamis pagi. Memanfaatkan libur panjang Idul Adha, para penumpang ini akan melakukan perjalanan jarak jauh ke sejumlah wilayah.
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 28 Mei 2026Bacaan: "Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia." (Matius 4:20)Renungan: Seorang pria menolak setiap kali ia diajak oleh sahabat-sahabatnya untuk pergi ke gereja. "Aku sibuk bekerja. Aku tidak punya waktu," katanya. Sehari-hari pria itu mengelola toko sembako. la tidak mau libur pada hari Minggu, karena pada hari inilah para pengunjung sangat ramai. Itu sebabnya, bagi pria tersebut pergi gereja pada hari Minggu seperti melewatkan keuntungan yang sangat besar. Berbeda dengan pria tersebut, saat Yesus berjalan menyusuri danau Galilea, Dia melihat dua bersaudara Simon Petrus dan Andreas. Keduanya nelayan, sedang menebar jala untuk menangkap ikan. Kata Yesus kepadanya, "Mari, ikutlah Aku." Segera mereka meninggalkan jalanya untuk mengikut Yesus. Kemudian dilihat-Nya juga dua bersaudara lain, Yakobus dan Yohanes sedang membereskan jala mereka. Yesus memanggil mereka, lalu segera mereka meninggalkan perahu. Persamaan mereka adalah kaki mereka tidak terjerat jala. Jala adalah alat untuk menangkap ikan. Dalam kehidupan sehari-hari jala digambarkan sebagai berkat Tuhan. Menakjubkan saat dipanggil oleh Yesus, mereka segera mengikut Yesus. Sementara saat ini banyak orang percaya kakinya 'terjerat jala. Setiap hari terlalu sibuk mengejar berkat sampai tidak punya waktu untuk beribadah, apalagi melayani Tuhan. Berkat seolah menahan kaki hingga tidak bisa melangkah memenuhi panggilan Tuhan atas hidup mereka. Setiap orang memiliki panggilannya masing-masing. Apapun panggilan Tuhan, ketahuilah ada hal-hal mulia yang Tuhan ingin kita lakukan dalam panggilan tersebut. Itu sebabnya, dalam mengikut Kristus jangan biarkan diri terlalu sibuk mengejar berkat. Namun, "Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua akan ditambahkan..." (Mat. 6:33). Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, terima kasih untuk setiap berkat yang telah Kau berikan padaku. Ajarilah aku untuk selalu mengucap syukur atas berkat-berkat itu dengan cara meluangkan waktuku yang terbaik untuk senantiasa berkencan dengan-Mu dan melayani-Mu. Amin. (Dod).
Sapaan Lansia GKP Jemaat BandungKamis, 28 Mei 2026Tema : "Makna Pengorbanan Tuhan Yesus Kristus"Bahan Alkitab : 1 Petrus 1:18-19 ; Yoh 15:13Pelayan Firman : Pnt. Diana S Haryadi.Episode 22 - Season 6@GKP Bandung Mei 2026
Memasuki hari ke-30 operasional Haji 2026, penyelenggaraan ibadah haji dilaporkan berjalan lancar dan disambut gembira oleh jemaah Indonesia yang tengah bersiap menuju puncak ibadah haji.Dalam acara istighosah di Makkah, Kamis malam, Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf menegaskan bahwa fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) merupakan titik krusial yang membutuhkan kecermatan dan kesiapan tinggi dalam pelaksanaannya. (BEH/MCH2026)@kemenhaj_ri#ElshintaHaji2026 #LiputanHaji2026 #Haji2026 #HajiRamahLansia #TriSuksesHaji #KemenhajRI
Latest News SBS Audio Program Bahasa Indonesia — Thursday 21 May 2026 - Berita terkini SBS Audio Program Bahasa Indonesia – Kamis 21 Mei 2026
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 21 Mei 2026Bacaan: "TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu." (Mazmur 5:4)Renungan: Seorang pemuda terbiasa berdoa pagi sebelum ia memulai aktivitasnya. Kebiasaan ini sudah dilakukannya sejak lama, karena sejak kecil ayahnya mendidiknya untuk bertindak begitu. Suatu hari pemuda itu pernah bertanya kepada sang ayah, "Mengapa harus berdoa terlebih dahulu?" "Berdoa menunjukkan kalau kita tidak sombong," jawab ayahnya. "Dengan berdoa kita juga menyatakan bahwa diri sendiri tidak sanggup menjalani hari tanpa pimpinan dan penyertaan Tuhan, ucapnya lagi" Sudah bukan rahasia lagi jika kehidupan di dunia ini tidak mudah untuk dijalani. Di dalamnya ada banyak tantangan dan pergumulan, sehingga bukankah suatu kesombongan jika kita menjalani hari tanpa melibatkan Tuhan? Alkitab mencatat bahwa Daud merupakan seorang yang berkenan di hati Tuhan (Kis. 13:22). Sebutan ini disematkan padanya, karena Daud tidak sombong. Pada waktu pagi Daud mengatur persembahan bagi Tuhan, yang artinya Daud memulai setiap hari dengan berdoa. Kitab Mazmur memuat salah satu doa yang dilayangkan Daud pada pagi hari. Di situ ia meminta pimpinan dari Tuhan, katanya, "Tuhan, tuntunlah aku dalam keadilan-Mu." (ay. 9a). la juga meminta penyertaan berupa pagar anugerah dan berkat (ay. 13). Tidak heran Daud dapat melewatkan setiap tantangan dengan kemenangan. la dapat mengatasi setiap pergumulan yang menerpanya. Berkaca dari pengalaman Daud tersebut, jika kita sering merasa frustasi boleh jadi penyebabnya adalah kesombongan diri sendiri. Begitu bangun tidur langsung sibuk dengan berbagai urusan, lupa akan Tuhan. Marilah kita menjadi pribadi yang rendah hati dengan berdoa terlebih dahulu sebelum memulai hari. Setiap sebelum memulai aktivitas, mari meminta pimpinan dan penyertaan Tuhan. Begitupun sebelum tidur malam, mari kembali berdoa. Kita bersyukur atas pimpinan dan penyertaan Tuhan sepanjang hari itu. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, berilah aku rahmat kerendahan hati di hadapan-Mu, sehingga aku selalu meluangkan waktu terbaikku untuk duduk tenang dan bercakap-cakap dengan-Mu melalui doa harianku. Amin. (Dod).
Sapaan Lansia GKP Jemaat BandungKamis, 21 Mei 2026Tema : "Kesaksian Hidup "Bahan Alkitab : Lukas 8:39 ; Yoh 4: 39 ; Luk 7:47 ; Yoh 9:10-11; Yoh 11: 4 ; Yoh 5: 19-20 ; 2 Kor 3: 2 ; Luk 9:26 ; 2 Tim 1:8Pelayan Firman : Bpk. Agan SukmamikaEpisode 21 - Season 6@GKP Bandung Mei 2026
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Agustina Maria Nawang Mulan dari Paroki Santa Maria Assumpta Klaten di Keuskupan Agung Semarang, Indonesia. Kisah Para Rasul 22: 30; 23: 6-11; Mazmur tg 16: 1-2a.5.7-8.9-10.11; Yohanes 17: 20-26.SEMOGA KITA BERSATU Renungan kita pada hari ini bertema: Semoga Kita Bersatu. Seorang bocah laki-laki berusia 5 tahunsedang berdoa di dalam kamarnya. Kedua orang tuanya mendengar dari luar kamarsepertinya anak itu sedang berbicara dengan seseorang. Mereka mengintip dilubang pintu, dan melihat anaknya memandang ke atas dengan kedua tangannyaterbuka. Ia berseru di dalam doanya: "Tuhan Yesus, aku sering berdoakepada-Mu, tapi aku belum pernah mendengar Engkau berdoa untuk aku. Sekarangaku ingin dengar doamu untuk aku." Bocah itu sebenarnya ingin mengetahui apakah Tuhan Yesus mendoakan kitamanusia. Ini juga sering menjadi pertanyaan dari banyak orang di antara kita.Pada hari ini bacaan Injil kita menguraikan tentang sebuah doa Yesus yangsangat spesial, yaitu ia berdoa supaya terciptalah persatuan di antara Allahdan manusia dan di antara manusia dengan sesamanya. Jadi Yesus berdoa bagisetiap pribadi kita dan semua orang yang ada di sekitar kita, semoga kitabersatu. Mengapa doa-Nya adalah semoga kita bersatu dan bukan kita harusbersatu? Alasan paling kentara ialah bahwa Tuhan memberikan kebebasan kepada setiapmanusia untuk memilih persatuan atau memilih perpecahan. Ini sama dengankebebasan memilih untuk menaati Dia atau melawan Dia. Hidup kita adalah arenabermain dan berjuang untuk menentukan siapa yang memilih Tuhan dan siapa yangtidak. Jadi kebebasan manusia ialah karunia kodrati yang ikut menentukankondisi iman dan pertumbuhan rohani kita. Alasan lain yang mungkin kurang kita sadari ialah bahwa persiapan sebagaiunsur yang sangat penting dalam hidup kita. Doa Yesus semoga kita bersatu hendaknyamendorong kita untuk menyiapkan suatu persekutuan yang sejati di antara kitaputra dan putri Allah. Persiapan ini berguna untuk meningkatkan selera kitamerindukan suatu persatuan abadi di surga. Maka kita tidak boleh menganggapremeh atau bermain-main dengan setiap jenis persatuan yang kita bangunbersama-sama di dunia ini. Tuhan kecewa kalau kita meremehkannya. Alasan yang paling tinggi nilainya ialah bahwa Tuhan Allah itu esa dantempat Ia berdiam ialah satu saja selamanya, di surga. Untuk sampai ke sanakita harus melewati perjalanan dan proses panjang. Tidak ada permainan sulapatau transportasi kilat untuk bisa sampai di sana. Kalau seandainya tak adaproses maka cukup satu saja mujisat untuk membawa semua orang bersatu di surga.Tetapi ada prosesnya, maka kita memakai “semoga kita bersatu”. Kita diberi karunia untuk memiliki pengharapan. Tuhan tidak menghilangkanpengharapan kita dan menggantinya dengan harus. Oleh karena itu doa-doa selaluberupa “semoga”, “kiranya” dan “akan”, sebagai tanda pengharapan kita. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa ... Ya Allah, semoga Roh Kudus yang diutus kepada kamimempersatukan kami di dunia ini dan mempersiapkan kami untuk persatuan yangabadi bersama-Mu. Salam Maria, penuh rahmat ...Dalam nama Bapa ...
Adab Jeda Antara Adzan dan Iqamah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Shahih Jami’ Ash-Shaghir. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah pada Kamis, 20 Dzulqa’dah 1447 H / 7 Mei 2026 M. Kajian Islam Tentang Adab Jeda Antara Adzan dan Iqamah Pembahasan kali ini melanjutkan penjelasan mengenai beberapa hadits, diawali dengan […] Tulisan Adab Jeda Antara Adzan dan Iqamah ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.
Podcast UMMFM balik lagi nemenin malam kamu dengan cerita-cerita yang bikin merinding
Memasuki hari pertama libur panjang akhir pekan sejumlah titik wisata di Jawa Barat dan Jakarta terpantau mulai dipadati oleh pengunjung. Kawasan Simpang Gadog Bogor dan pusat Kota Bandung mengalami peningkatan volume kendaraan yang signifikan sejak Kamis pagi sehingga memerlukan perhatian khusus terkait rekayasa lalu lintas. Sementara itu di wilayah Jakarta destinasi populer seperti Taman Margasatwa Ragunan dan Taman Mini Indonesia Indah juga menjadi magnet bagi warga yang ingin menghabiskan waktu libur. Petugas di lapangan terus memantau pergerakan wisatawan guna memastikan kelancaran arus lalu lintas dan kenyamanan di area lokasi wisata.
Kebaktian Kenaikan Tuhan Yesus Ke SurgaGKP Jemaat BandungKamis, 14 Mei 2026 pukul 07.00 WIBTema : "Tuhan Menjadikan Mata Hatimu Terang"Bacaan Alkitab : Efesus 1:15-23Pelayan Firman : Pdt.Fierdhaus Y. Nyman, M.Si.@GKP Bandung Mei 2026
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 14 Mei 2026Bacaan: Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah la kepada orang lumpuh itu, "Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!" (Markus 2:5)Renungan: Seorang pria sedang marah kepada Tuhan. Pagi ini muncul dua anak ayam di depan rumahnya. Padahal malam sebelumnya ia berdoa meminta telur ayam. "Bisa-bisanya Tuhan salah memberi!" katanya geram. "Tuhan tidak salah, Pak," sahut istrinya, "Anak ayam yang Tuhan berikan ini justru supaya nanti kau dapat sering makan telur ayam." Empat orang menggotong seorang lumpuh menuju rumah tempat Yesus berada. Mereka berharap Yesus memberikannya kesembuhan. Karena banyak orang berkerumun di rumah itu mereka tidak dapat masuk untuk menemui Yesus. Maka mereka membuka atap rumah, menurunkan si lumpuh bersama tikarnya di depan Yesus. Kata Yesus kepada si lumpuh, "Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!" (ay. 5). Tampaknya seolah Yesus salah memberi. Ia memberi pengampunan dosa bukan kesembuhan. Namun, bila kita perhatikan situasinya lebih saksama, kita tahu kalau pemberian Yesus tidak salah. Selama ini si lumpuh hidup dalam pemikiran bahwa keadaannya yang merana disebabkan oleh besar dosanya. Ia perlu mendengar dirinya diampuni, tidak dihukum oleh Allah. Pengampunan membuka pintu bagi kesembuhan. Si lumpuh menyadari Allah berkenan kepadanya. Saat itulah Yesus memberikan kesembuhan. Kata Yesus, "Bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!" (ay. 11). Tuhan tidak pernah salah memberikan sesuatu kepada kita. Maka mulai hari ini jangan kita menjadi tawar hati bila pemberian Tuhan datang tidak seperti yang kita harapkan. Sadarilah bahwa pemberian Tuhan tersebut merupakan berkat awal sebelum berkat yang sebenarnya akan kita terima. Contoh sebelum datang kesuksesan, Tuhan memberi kita pengalaman kerendahan hati. Sebelum datang kelimpahan, Tuhan mengajar bagaimana supaya hati tidak terpaut kepada harta duniawi. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, kini aku mengerti bahwa terkadang apa yang aku harapkan tidak seperti yang Kau berikan, karena ternyata dibalik itu semua Engkau sudah mempersiapkan yang terbaik bagiku. Oleh karena itu ajarilah aku untuk tidak cepat kecewa bila yang kuterima tidak seperti harapanku. Amin. (Dod).
Latest news SBS Audio Indonesian Program - Thursday 7 May 2026 - Berita Terkini SBS Audio Program Bahasa Indonesia - Kamis 7 Mei 2026.
Empat Syarat Mengambil Manfaat dari Al-Qur’an adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Fawaidul Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 13 Dzulqa’dah 1447 H / 30 April 2026 M. Kajian Islam Tentang Empat Syarat Mengambil Manfaat dari Al-Qur’an Pembahasan kali ini melanjutkan tafsir Al-Qur’an surah Qaf yang pada pertemuan sebelumnya telah […] Tulisan Empat Syarat Mengambil Manfaat dari Al-Qur’an ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 7 Mei 2026Bacaan: "Cara yang demikianlah diperbuat Absalom kepada semua orang Israel yang mau masuk menghadap untuk diadili perkaranya oleh raja, dan demikianlah Absalom mencuri hati orang-orang Israel." (2 Samuel 15:6)Renungan: Kita sering mendengar peribahasa ada udang di balik batu. Jika seseorang terlihat baik, belum tentu ia benar-benar baik. Kita tidak pernah tahu kalau saja ia punya maksud tersembunyi. Berbuat baik, tapi tidak tulus, Berbuat baik tapi ada maunya. Bukan berarti kita harus curiga kalau melihat seseorang melakukan perbuatan baik. Daripada sibuk menilai dan mencari tahu motivasi orang dalam melakukan kebaikan, lebih baik kita menjaga hati kita supaya tidak melakukan hal seperti ini. Setiap kali kita akan melakukan perbuatan baik, cobalah kita jujur kepada diri kita sendiri, "Apakah kita melakukan kebaikan karena didasari kasih yang tulus, ataukah sebenarnya kita punya agenda tersembunyi?" Absalom itu punya modal yang komplit untuk menjadi pemimpin besar Israel. Punya perawakan yang gagah, elok rupanya, cakap, dan terutama: pintar mengambil hati rakyat! Maka rakyat pun tertarik dengan kebaikan yang ditunjukkan oleh Absalom. Betapa tidak? Dengan telaten Absalom mengambil hati rakyat Israel dengan kebaikan-kebaikan yang dilakukannya. Tidak main-main, "udang itu bersembunyi di balik batu" hingga empat tahun! Betapa telatennya Absalom membangun citranya demi mengumpulkan massa. Begitu mayoritas orang Israel berpihak kepadanya, barulah ketahuan sifat asli Absalom, yaitu ia ingin memberontak dan mengkudeta ayahnya sendiri! Perbuata baik tanpa disertai dengan ketulusan itu berbahaya. Cobalah jujur kepada diri kita sendiri, apakah kita tulus dalam melakukan kebaikan, ataukah sebenarnya kita punya maksud tersembunyi? Sebagai anak-anak Tuhan, sungguh tidak pantas kalau kebaikan kita sebenarnya memiliki agenda terselubung. Bagaimana mungkin kita berharap Tuhan memberkati kebaikan yang kita lakukan, jika sebenarnya kita punya maksud yang tersembunyi, terlebih lagi jika kita punya maksud yang jahat seperti halnya yang dilakukan oleh Absalom! Jadilah orang yang baik tapi tulus. Menolong tanpa pamrih. Memberi tanpa berharap imbalan, Murah hati tanpa berharap kembali. Ketika kita tulus dalam berbuat baik, maka Tuhan sendiri yang akan membalas setiap kebaikan kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, murnikanlah hatiku saat melakukan perbuatan baik, sehingga kebaikan yang aku lakukan semata-mata hanya untuk kemuliaan nama-Mu dan bukan untuk menyombongkan diriku sendiri. Amin. (Dod).
Dua Hal yang Dibenci Manusia Namun Mengandung Kebaikan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Shahih Jami’ Ash-Shaghir. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah pada Kamis, 6 Dzulqa’dah 1447 H / 23 April 2026 M. Kajian Islam Tentang Dua Hal yang Dibenci Manusia Namun Mengandung Kebaikan Pembahasan kali ini akan mengulas hadits […] Tulisan Dua Hal yang Dibenci Manusia Namun Mengandung Kebaikan ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.
Latest News SBS Audio Indonesian Program - Thursday 30 April 2026 - Berita Terkini SBS Audio Program Bahasa Indonesia – Kamis 30 April 2026
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 30 April 2026Bacaan: "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus." (Yesaya 46:4)Renungan: Suatu kali Ibu Ester berkunjung ke sebuah panti lansia, mengunjungi Oma Hana yang sedang sakit. Oma Hana adalah seorang nenek yang jarang sekali ditengok oleh keluarganya. Ketika Ibu Ester datang, Oma Hana nampak berseri-seri. "Halo, apa kabar, Ester? Aku harap engkau sehat-sehat selalu!" sapa Oma Hana. Ibu Ester terharu dengan sambutan Oma Hana, katanya, "Saya baik-baik saja Oma, bagaimana dengan Oma?" "Ya, aku baik-baik saja, meski rasa sakit di punggungku belum reda. Tapi aku percaya Tuhan masih menyayangi aku dan tidak meninggalkan aku. Kedatanganmu, Ester, bukti Tuhan masih mengingat aku!" kata Oma Hana sambil memegang erat tangan Ibu Ester. Apa pun keadaan kita saat ini, tetaplah yakin bahwa Tuhan tidak pernah melupakan kita. Tuhan kita adalah Tuhan yang setia. Kalaupun kita pernah merasa sendiri, kesepian, itu wajar. Yesaya mengingatkan kita bahwa Tuhan senantiasa mengasihi dan menaungi kita. la menggendong kita dan memelihara kita senantiasa. la memberikan pertolongan tepat pada waktunya. Berharaplah pada Tuhan, la tidak akan pernah mengecewakan kita. Tuhan Yesus memberkati. DOA:Tuhan Yesus, tolonglah aku, supaya aku senantiasa mewartakan kasih dan kuasa perkataan-Mu kepada orang-orang yang ada di sekitarku, sehingga melalui kehadiranku banyak orang yang merasa dikuatkan. Amin. (Dod).
Latest News SBS Audio Program Bahasa Indonesia — Thursday 23 April 2026 - Berita terkini SBS Audio Program Bahasa Indonesia – Kamis 23 April 2026
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 23 April 2026Bacaan: "TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?" (Mazmur 27:1)Renungan: Takut adalah "penyakit" yang menjangkiti manusia di abad ini. Padahal takut terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi adalah suatu kebodohan. Banyak orang takut terhadap usia yang mulai menua. Takut terhadap sakit-penyakit. Takut ditinggal pasangan hidup karena kematian. Takut terhadap kesepian meski ia tidak tinggal sendirian. Takut kehilangan mata pencaharian mewarnai orang yang mendekati usia pensiun. Dan banyak lagi berbagai ketakutan yang menghinggapi banyak orang. Pemazmur pernah mengalami ketakutan. la takut kepada lawan atau musuh-musuhnya karena mereka nyata ada di depan mata. Tetapi ia percaya bahwa Allah adalah sumber keselamatannya. Allah adalah terang jalannya. Oleh sebab itu ia tidak takut dan gemetar lagi. Allah menjadi jaminan pertolongannya. Bagaimana kondisi kita saat ini? Apakah kita mengalami ketakutan tertentu? Janganlah takut pada kematian. Jangan pula takut terhadap kesepian atau sakit-penyakit sebab Allah mampu dan senantiasa siap menolong kita. Dialah benteng kita. Hanya dengan beriman kepada-Nya sajalah rasa takut tidak dapat menguasai hidup kita. Buanglah ketakutan. Tuhan Yesus memberkati. DOA:Tuhan Yesus, terima kasih, untuk pemeliharaan-Mu sehingga aku tidak takut dan khawatir lagi. Aku percaya, bersama dengan-Mu ada jaminan keselamatan. Amin. (Dod).
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 16 April 2026Bacaan: "Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya." (Matius 9:17)Renungan: Seorang seniman Italia bernama Michelangelo Buonarrotti mendapat perintah membuat lukisan untuk gereja. Ia telah mencoba merombak lukisannya berulang kali, namun ia belum dapat menciptakan lukisan yang baik menurutnya. Suatu hari ketika sedang berada di warung minuman, ia mendengar seorang laki-laki berkata kepada pelayannya, "Anggur ini sudah asam, segeralah membuangnya." Maka pelayan itu pun memecahkan guci berisi anggur yang sudah asam tersebut sehingga air anggur mengalir keluar dan terbuang. Segera pelayan itu membawa sebuah guci berisi anggur baru. Melihat itu, Michelangelo segera pulang ke rumah dan membuang lukisan-lukisannya yang lama dan malam itu ia berhasil menciptakan sebuah lukisan baru yang sangat bagus. Terus memelihara sesuatu yang tidak baik di dalam hati dan pikiran, akan merampas semua sukacita, peluang untuk maju dan hidup berkemenangan. Memang masing-masing kita pasti mempunyai pengalaman yang berbeda satu dengan yang lain. Kita semua tidak terlepas dari dua sisi kehidupan, yaitu sisi suka dan sisi duka. Suka dan duka di dalam kehidupan berumah tangga, di dalam bisnis serta pekerjaan, di dalam penderitaan karena sakit penyakit, di dalam menjalin hubungan dengan seseorang, bahkan di dalam pelayanan. Tentu saja sisi suka akan senantiasa menjadi kenangan manis yang dapat membuat wajah kita berseri-seri bahkan tersenyum mengingatnya. Tetapi yang biasanya jadi masalah adalah sisi duka yang tidak jarang membuat kita sedih, atau bahkan menyebabkan kita menyimpan dendam serta kepahitan yang tidak pernah hilang. Ada sebuah doa singkat yang cukup bagus, "Tuhan, ajarilah aku bersyukur bukan hanya untuk banyak perkara-perkara besar yang sudah Engkau kerjakan, tetapi juga untuk jutaan perkara-perkara kecil yang Engkau kerjakan di dalam hidupku selama ini." Kejadian-kejadian yang menurut kita sangat menyakitkan, tentunya tidak pernah terlepas dari kemahatahuan Tuhan. Roma 8:28 berbunyi, "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." Seseorang pernah berkata, "Waktu yang lalu tidak akan pernah sama dengan waktu yang akan datang." Apakah kita mengalami banyak kegagalan, kekalahan dan pengalaman menyakitkan selama beberapa waktu ini? Bangkit dan bangunlah iman kita kembali. Taruh harapan sepenuhnya kepada Tuhan dan lihat, bagaimana Diaa akan berkarya di dalam hidup kita. Buanglah anggur asam beserta kirbat lama itu dan milikilah anggur baru beserta kirbat baru yang telah tersedia bagi kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ajarilah aku agar berani untuk meninggalkan semua kegagalan dan kepahitanku dan memulai sesuatu yang baru mulai hari ini. Amin. (Dod).
Latest News SBS Audio Indonesian Program - Thursday 9 April 2026 - Berita Terkini SBS Audio Program Bahasa Indonesia - Kamis 9 April 2026
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 9 April 2026Bacaan: "Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga." (Matius 6:10) Renungan: Di dalam doa Bapa Kami terdapat kata-kata yang cukup terkenal, yaitu "jadilah kehendakMu". Dua kata ini merupakan salah satu prinsip doa yang diajarkan oleh Yesus kepada para pengikut-Nya. Di Taman Getsemani Yesus memohon kepada Bapa agar melalukan cawan penderitaan yang akan la hadapi, tetapi Yesus mengakhiri permohonan Nya dengan berkata, "Tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki." Kata-kata ini diucapkan oleh Yesus pastilah dengan kesadaran yang penuh bahwa kehendak Bapa adalah yang terbaik untuk-Nya. Salah satu kunci yang membuat doa kita dikabulkan oleh Tuhan, yaitu jika permohonan itu sesuai dengan kehendak-Nya. Kita boleh beriman bahwa Tuhan pasti mengabulkan doa kita, tetapi bagaimana pun besarnya iman yang kita miliki, jika apa yang kita minta tidak sesuai dengan kehendak-Nya, maka la tidak akan mengabulkannya. Seseorang berkata, "Tuhan tidak selalu melakukan apa yang sanggup la lakukan, melainkan apa yang la kehendaki untuk la lakukan." Secara umum kita tahu bahwa kehendak Tuhan adalah sesuatu yang akan mendatangkan kemuliaan bagi nama-Nya dan kebaikan bagi manusia. Terkadang kita tidak tahu apakah yang kita doakan itu benar-benar akan mendatangkan kemuliaan bagi nama-Nya dan kebaikan bagi kita. Tetapi karena kita mempercayai Tuhan sebagai Bapa yang baik yang lebih mengetahui apa yang baik bagi anak-anak-Nya, maka kita perlu berserah pada kehendak-Nya. Karena keterbatasan kita untuk mengerti secara persis apa yang menjadi kehendak Tuhan dan bagaimana harus berdoa, kita perlu membuka hati pada tuntunan Roh Kudus. Ketika beban terasa demikian berat sehingga kita tidak bisa lagi berpikir dan berkata-kata, saat itulah Roh Kudus akan berdoa untuk kita dan juga membantu kita berdoa dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Roh Kudus juga mengajar kita untuk memiliki penyerahan diri kepada kehendak Bapa Semakin kita membuka diri pada tuntunan Roh Kudus, semakin kita mengerti apa yang menjadi kehendak-Nya dan semakin kita tahu bagaimana harus berdoa. Roh Kudus menyempurnakan doa-doa yang kita panjatkan sehingga Bapa dengan kasih dan hikmat-Nya akan menanggapinya. Roma 8:27 berbunyi, "Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa la, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus." Biarkan Roh Kudus menuntun kita, karena jika kita terlatih mendengar bisikan-Nya, maka kita tidak akan menyerukan doa sia-sia yang berasal dari dorongan kedagingan kita. Ketika doa kita sesuai kehendak Tuhan, maka la akan mengabulkan permohonan kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, aku menyerahkan segala kerinduan, harapan dan rencanaku ke dalam tangan-Mu. Jadilah sesuai dengan kehendak-Mu. Amin. (Dod).
Latest News SBS Audio Indonesian Program - Thursday 2 April 2026 - Berita Terkini SBS Audio Program Bahasa Indonesia - Kamis 2 April 2026
Latest News SBS Audio Indonesian Program - Thursday 26 March 2026 - Berita Terkini SBS Audio Program Bahasa Indonesia - Kamis 26 Maret 2026.
This is it — the finale of our 10-part series on grief, and we're closing with a Gate that might be the most quietly powerful one yet: Other. That's right, the catchall. The one that says: if your loss doesn't fit neatly into a framework, it still counts. If you're feeling it, it counts. Losses that fall into this category include: Identity shifts, infertility, retirement, faded friendships, the life you thought you'd have — and anything else. We also reflect on the full arc of the series, sharing four essential takeaways about grief, and perhaps most importantly, making the case that grief and joy aren't opposites. They're companions. And working with one deepens your capacity for both. If you've been putting off your grief because it seemed too small, too strange, or too hard to explain to anyone else — this episode is your permission slip. This episode is part of a 10-part series on grief. You can jump in here and circle back to Episode 248 when you're ready. p.s. Find a Simple Joy practice for this episode right here at our blog. About: The Joy Lab Podcast is an Ambie-nominated podcast that blends science and soul to help you cope better with stress, ease anxiety, and uplift mood. Join Dr. Henry Emmons and Dr. Aimee Prasek for practical, mindfulness-based tools and positive psychology strategies to build resilience and create lasting joy. Take the next leap in your wellbeing journey with the Joy Lab Program. If you enjoyed this episode, please rate and review us wherever you listen to your favorite podcasts! And... if you want to spread some joy and keep this podcast ad-free, then please join our mission by donating (Joy Lab is powered by the nonprofit Pathways North and your donations are tax-deductible). Like and follow Joy Lab on Socials: Instagram TikTok Linkedin Watch on YouTube Key moments: [00:00:00] — This is the final episode of Joy Lab's 10-part Grief Series, beginning with episode 248. Overview of the framework: Francis Weller's Five Gates of Grief, with additional gates from other practitioners. [00:01:00] — Introducing the Ninth Gate: Other. Examples include: identity transitions, infertility, miscarriage, abortion, aging, retirement, relocating, faded friendships, missed opportunities, a diagnosis. The message of this Gate: your grief is valid, even if it doesn't fit a category. [00:02:00] — Why the "Other" Gate matters: it gives permission to grieve things we didn't think were grievable. Henry reflects on grief he carried about the life he imagined for his later years. Sometimes the losses that linger longest are the ones we felt we weren't allowed to name. [00:03:00] — The Ninth Gate as permission: no framework, however good, can contain all of grief. If it feels like a loss, it is a loss. This Gate honors grief's vastness and individuality. [00:04:00] — Connecting grief to our Element of Joy for this month: Equanimity. Real equanimity isn't about avoiding highs and lows — it includes grief. [00:05:00] — Real equanimity is the ability to stay present with whatever's happening — joy, fear, sorrow, love — without being swept away. Grief can be a storm, but we can learn to work with it rather than be destroyed by it. [00:06:00] — How grief becomes workable: by practicing with smaller emotions when they're less overwhelming, we build capacity. Touching grief lightly, letting it move through — that's how the storm becomes survivable. The whole series has been about building exactly this capacity. [00:07:00] — Four Key Takeaways from the Grief Series: Takeaway 1: Grief is not a problem to solve or something to get over. It's a natural response to loss — and loss is part of living. Takeaway 2: Grief is communal. Billions of people are working with these gates. You are not alone. Takeaway 3: Grief is a skill we have to practice — consistent, regular grief-hygiene rituals help us work with frequent losses before they accumulate. The small "Other" griefs percolating in the background? Name them. Work with them. That's great training. Takeaway 4: Grief isn't just about death or obvious losses. Curiosity about how loss touches us is itself a powerful mental health skill. When we're willing to see and hold our losses, we can also see and hold the love around us — and within us. [00:09:00] — The gifts of grief, Part 1: Henry reflects on what this series — and his own prolonged experience of grief — has given him. Grief opens us to compassion. When you've been through real loss, you recognize it in others. You understand their struggle at a level you couldn't before. That's profound connection. [00:10:00] — The gifts of grief, Part 2: Grief brings wisdom. You learn what really matters. You stop wasting time on what doesn't. Henry shares something personal: "I am more tender now. More permeable. I feel things more deeply." And because of that, he's more open to joy — because you can't close yourself off to pain without also closing yourself off to beauty, love, and wonder. [00:11:00] — Grief and joy are not opposites — they're companions. The deeper your capacity for grief, the deeper your capacity for joy. Both require an open heart. Henry's closing encouragement: "Don't be afraid of grief. Let it be your teacher. Let it make you more of who you really are." [00:12:00] — Closing wisdom from Kahlil Gibran: "The deeper that sorrow carves into your being, the more joy you can contain." Full transcipt here Sources and Notes for this full grief series: Joy Lab Program: Take the next leap in your wellbeing journey with step-by-step practices to help you build and maintain the elements of joy in your life. Grief Series: The Grief Series: The Wholeness of Being Human [part 1, ep 248] Everything We Love, We Will Lose: Navigating the First Gate of Grief[part 2, ep 249] Welcoming Back the Parts of You That Have Not Known Love [part 3, ep 250] Why You Can't Escape the Sorrows of the World (and why that's a good thing) [part 4, ep 251] Born to Belong: Grieving What Should Have Been There From the Start [part 5, ep 252] Breaking the Cycle: Ancestral Grief, Epigenetics, and the Power to Change Your Legacy [part 6, ep 253] How Facing the Harm You've Done Can Set You Free [part 7, ep 254] How the World's Pain Enters Your Body and What to Do Next [part 8, ep 255] Related Episodes: Savoring the Present and Overcoming FOBO (it's kinda like FOMO...) [ep 45] Wild Edge of Sorrow by Francis Weller The Four Things That Matter Most by Ira Byock, M.D. Beckes & Sbarra, Social baseline theory: State of the science and new directions. Access here Beckes, et al. (2011). Social Baseline Theory: The Role of Social Proximity in Emotion and Economy of Action. Access here Bunea et al. (2017). Early-life adversity and cortisol response to social stress: a meta-analysis. Access here. Eisma, et al. (2019). No pain, no gain: cross-lagged analyses of posttraumatic growth and anxiety, depression, posttraumatic stress and prolonged grief symptoms after loss. Access here Hirschberger G. (2018). Collective Trauma an d the Social Construction of Meaning. Frontiers in psychology, 9, 1441. Access here Kamis, et al. (2024). Childhood maltreatment associated with adolescent peer networks: Withdrawal, avoidance, and fragmentation. Access here Lehrner, et al. (2014). Maternal PTSD associates with greater glucocorticoid sensitivity in offspring of Holocaust survivors. Access here Maier & Seligman. (2016). Learned helplessness at fifty: Insights from neuroscience. Access here Sheehy, et al. (2019). An examination of the relationship between shame, guilt and self-harm: A systematic review and meta-analysis. Access here Strathearn, et al. (2020). Long-term Cognitive, Psychological, and Health Outcomes Associated With Child Abuse and Neglect. Access here Yehuda et al. (1998). Vulnerability to posttraumatic stress disorder in adult offspring of Holocaust survivors. Access here. Yehuda, et al. (2018). Intergenerational transmission of trauma effects: putative role of epigenetic mechanisms. Access here Please remember that this content is for informational and educational purposes only. It is not intended to provide medical advice and is not a replacement for advice and treatment from a medical professional. Please consult your doctor or other qualified health professional before beginning any diet change, supplement, or lifestyle program. Please see our terms for more information. If you or someone you know is struggling or in crisis, help is available. Call the NAMI HelpLine: 1-800-950-6264 available Monday through Friday, 10 a.m. – 10 p.m., ET. OR text "HelpLine" to 62640 or email NAMI at helpline@nami.org. Visit NAMI for more. You can also call or text SAMHSA at 988 or chat 988lifeline.org.
Grief doesn't wait for loss to arrive. Sometimes it shows up early — sitting beside you while someone you love is still right there. That's anticipatory grief, and if you've ever felt your mind drift to a future without someone while they're still in the room, you already know it. In this episode of Joy Lab, Dr. Henry Emmons and Dr. Aimee Prasek explore the Eighth Gate of Grief: the grief, stress, anxiety, and dread that can accompany an expected loss — whether that's a terminal diagnosis, a parent's cognitive decline, a marriage ending, or even broader fears about the world your kids will inherit. Anticipatory grief can be a mentally and emotionally exhausting experience, and it doesn't get nearly enough airtime in conversations about mental health. Importantly, this episode won't tell you how to stop anticipatory grief — because you shouldn't. Research suggests it can actually support healing. What it will give you: science-backed tools for staying present, a simple framework for saying what matters most before it's too late, and honest guidance on sustaining yourself through anticipatory grief. If anxiety, depression, or stress around future loss is weighing on you — or someone you love — this one's for you. This episode is part of a 10-part series on grief. You can jump in here and circle back to Episode 248 when you're ready. p.s. Find a Simple Joy practice for this episode right here at our blog. About: The Joy Lab Podcast is an Ambie-nominated podcast that blends science and soul to help you cope better with stress, ease anxiety, and uplift mood. Join Dr. Henry Emmons and Dr. Aimee Prasek for practical, mindfulness-based tools and positive psychology strategies to build resilience and create lasting joy. Take the next leap in your wellbeing journey with the Joy Lab Program. If you enjoyed this episode, please rate and review us wherever you listen to your favorite podcasts! And... if you want to spread some joy and keep this podcast ad-free, then please join our mission by donating (Joy Lab is powered by the nonprofit Pathways North and your donations are tax-deductible). Like and follow Joy Lab on Socials: Instagram TikTok Linkedin Watch on YouTube Key moments: [00:00] — Introduction to the Eighth Gate: Anticipatory Grief [00:45] — What anticipatory grief is: the grief we feel in advance of an expected loss — terminal illness, dementia, a marriage ending, fears about the future of our planet or our children's world [01:00] — The extra "frosting" of this gate: dread, helplessness, and worry about what hasn't happened yet [01:15] — Anticipatory grief and cancer [02:30] — Anticipatory grief and Alzheimer's [04:00] — "We are apprentices to our grief, every time" — on never mastering grief, only practicing it [05:00] — FOBO: Fear Of Being Over — an earlier Joy Lab concept that connects to anticipatory grief and the pull away from the present moment [05:45] — Normalizing anticipatory grief: the goal is not to stop it, but to understand it [06:15] — The science: research on anticipatory grief shows it can actually be helpful — those who grieved some before a spouse died tended to have better outcomes afterward [07:30] — The void that often hits a month after a loss, when others return to their lives; how anticipatory grieving can build a support network that remains [08:00] — Anticipatory grief and early-onset Alzheimer's [13:45] — What anticipatory grief is really about: acceptance; facing truth instead of pushing it away [14:15] — Recognizing avoidance [14:45] — Anticipatory grief as a gift: time to say what needs to be said, to be present differently, to love fully even while grieving [15:15] — Practicing loving fully amidst grief; being kind to yourself about grieving while the person is still present; holding both the grief of the future and the goodness of the present — they can happen at the same time [16:45] — The Four Things That Matter Most (Dr. Ira Byock, hospice physician): Please forgive me. I forgive you. Thank you. I love you. [17:15] — Why saying these things — even imperfectly — creates completion and reduces regret [19:15] — The gift anticipatory grief offers that sudden loss cannot: the chance to share grief with someone, say the four things, have the conversation together [20:00] — Tending to your own wellbeing during anticipatory grief; checking your energy and nourishment levels; you have to take breaks, let people help, do nourishing things for yourself — it's not selfish, it's sustainable [21:45] — Small ways to refuel: a walk, a phone call, sitting outside, noticing breath; don't wait until you're depleted — build it in now; Letting people support you; they often want to help but don't know how — be specific; "Can you bring dinner Tuesday? Can you sit with her while I go to the store?" [22:30] — Anticipatory grief is a marathon, not a sprint; pace yourself; stepping back to breathe and enjoy lightness is not denial — it's wisdom [23:30] — Closing quote from Rilke: "Let everything happen to you: beauty and terror. Just keep going. No feeling is final." Sources and Notes for this full grief series: Joy Lab Program: Take the next leap in your wellbeing journey with step-by-step practices to help you build and maintain the elements of joy in your life. Grief Series: The Grief Series: The Wholeness of Being Human [part 1, ep 248] Everything We Love, We Will Lose: Navigating the First Gate of Grief[part 2, ep 249] Welcoming Back the Parts of You That Have Not Known Love [part 3, ep 250] Why You Can't Escape the Sorrows of the World (and why that's a good thing) [part 4, ep 251] Born to Belong: Grieving What Should Have Been There From the Start [part 5, ep 252] Breaking the Cycle: Ancestral Grief, Epigenetics, and the Power to Change Your Legacy [part 6, ep 253] How Facing the Harm You've Done Can Set You Free [part 7, ep 254] How the World's Pain Enters Your Body and What to Do Next [part 8, ep 255] Related Episodes: Savoring the Present and Overcoming FOBO (it's kinda like FOMO...) [ep 45] Wild Edge of Sorrow by Francis Weller The Four Things That Matter Most by Ira Byock, M.D. Beckes & Sbarra, Social baseline theory: State of the science and new directions. Access here Beckes, et al. (2011). Social Baseline Theory: The Role of Social Proximity in Emotion and Economy of Action. Access here Bunea et al. (2017). Early-life adversity and cortisol response to social stress: a meta-analysis. Access here. Eisma, et al. (2019). No pain, no gain: cross-lagged analyses of posttraumatic growth and anxiety, depression, posttraumatic stress and prolonged grief symptoms after loss. Access here Hirschberger G. (2018). Collective Trauma an d the Social Construction of Meaning. Frontiers in psychology, 9, 1441. Access here Kamis, et al. (2024). Childhood maltreatment associated with adolescent peer networks: Withdrawal, avoidance, and fragmentation. Access here Lehrner, et al. (2014). Maternal PTSD associates with greater glucocorticoid sensitivity in offspring of Holocaust survivors. Access here Maier & Seligman. (2016). Learned helplessness at fifty: Insights from neuroscience. Access here Sheehy, et al. (2019). An examination of the relationship between shame, guilt and self-harm: A systematic review and meta-analysis. Access here Strathearn, et al. (2020). Long-term Cognitive, Psychological, and Health Outcomes Associated With Child Abuse and Neglect. Access here Yehuda et al. (1998). Vulnerability to posttraumatic stress disorder in adult offspring of Holocaust survivors. Access here. Yehuda, et al. (2018). Intergenerational transmission of trauma effects: putative role of epigenetic mechanisms. Access here Full transcript here Please remember that this content is for informational and educational purposes only. It is not intended to provide medical advice and is not a replacement for advice and treatment from a medical professional. Please consult your doctor or other qualified health professional before beginning any diet change, supplement, or lifestyle program. Please see our terms for more information. If you or someone you know is struggling or in crisis, help is available. Call the NAMI HelpLine: 1-800-950-6264 available Monday through Friday, 10 a.m. – 10 p.m., ET. OR text "HelpLine" to 62640 or email NAMI at helpline@nami.org. Visit NAMI for more. You can also call or text SAMHSA at 988 or chat 988lifeline.org.
Grief doesn't only come from what happens to us directly. In this episode of our Grief Series, we'll look through the Seventh Gate: Trauma — specifically collective trauma and secondary (vicarious) trauma. We'll break down what these are, how they physically land in your body, what the Window of Tolerance really means for your day-to-day life, and what to do when you find yourself overwhelmed by stress. We'll explore super helpful theories like the tend-and-befriend stress response, the power of your hope circuit, the eternal wisdom of finding the Middle Way, and practical guidance for navigating a world that can feel relentlessly heavy. This episode is part of a 10-part series on grief. You can jump in here and circle back to Episode 248 when you're ready. p.s. Find a Simple Joy practice for this episode right here at our blog. About: The Joy Lab Podcast is an Ambie-nominated podcast that blends science and soul to help you cope better with stress, ease anxiety, and uplift mood. Join Dr. Henry Emmons and Dr. Aimee Prasek for practical, mindfulness-based tools and positive psychology strategies to build resilience and create lasting joy. Take the next leap in your wellbeing journey with the Joy Lab Program. If you enjoyed this episode, please rate and review us wherever you listen to your favorite podcasts! And... if you want to spread some joy and keep this podcast ad-free, then please join our mission by donating (Joy Lab is powered by the nonprofit Pathways North and your donations are tax-deductible). Like and follow Joy Lab on Socials: Instagram TikTok Linkedin Watch on YouTube Key moments: [00:00] — Introduce the Seventh Gate: Trauma [00:48] — A gentle reminder to listen with care [01:30] — Defining collective trauma: shared psychological impact affecting communities, societies, and the globe; examples include COVID, 9/11, mass shootings, natural disasters, and chronic collective traumas like racism and classism [02:00] — Defining secondary trauma / vicarious trauma: how negative effects occur through hearing accounts, watching videos, 24/7 news exposure; not uncommon in caregivers, healthcare workers, therapists, and first responders [03:30] — Why the brain doesn't always distinguish direct from indirect trauma; secondary trauma can produce symptoms identical to direct trauma; we are wired to survive in communities [04:00] — The losses this gate surfaces: safety, trust in institutions, community connection, shared understanding, and moral injuries [05:00] — Linda Thai's definition of trauma: "what happened that shouldn't have, and what should have happened that didn't" — and why the second half matters just as much [06:30] — Minnesota ICE surge reflection; what was missing that could have softened the trauma; community connection as a powerfully protective presence [07:45] — The tend-and-befriend stress response and why it's especially suited to collective grief [08:40] — Physical symptoms of collective trauma: brain fog, sleep problems, appetite changes, jumpiness, physical tension, digestive issues [09:20] — How collective stress lowers individual stress tolerance; why the tend-and-befriend response is so adaptive here [09:50] — Dan Siegel's Window of Tolerance introduced: the zone for healthy stress response; why collective trauma shrinks the window [10:20] — What happens outside the window: hyperarousal and hypoarousal introduced [11:00] — Deep dive on hyperarousal: panic, racing thoughts, anger, hypervigilance; why narrow focus is counterproductive; how sustained overactivation overwhelms the nervous system [13:00] — Hypoarousal: numbness, flatness, disconnection, apathy, brain fog; the freeze/"bite" stress response as protective feature, not personal failure; the COVID grocery bag arc [14:30] — Gentle activation strategies for moving out of hypoarousal: small movements, mindful breathing, connecting with safe people, small accomplishments [15:30] — Learned helplessness reexamined: the original researchers got it backward — helplessness is the brain's default, not something learned [16:00] — The Hope Circuit: prefrontal cortex overrides the helplessness default when actions are seen to matter; cross-stressor effect of agency [16:40] — What agency looks like in practice: self-talk, social connections, information choices, body care, small service acts, values [17:30] — Henry's activating-to-calming spectrum; using the Middle Way framework to self-regulate within the Window of Tolerance [18:30] — What to do when you've gone outside the window: micro-changes, one small choice at a time; deep rest when needed [20:10] — Balance is not a destination; the goal is not to eliminate stress responses but to navigate them more skillfully [21:15] — Self-care during collective trauma enables wise collective action [21:45] — Closing wisdom from Clarissa Pinkola Estés on standing up and showing your soul Sources and Notes for this full grief series: Joy Lab Program: Take the next leap in your wellbeing journey with step-by-step practices to help you build and maintain the elements of joy in your life. Grief Series: The Grief Series: The Wholeness of Being Human [part 1, ep 248] Everything We Love, We Will Lose: Navigating the First Gate of Grief[part 2, ep 249] Welcoming Back the Parts of You That Have Not Known Love [part 3, ep 250] Why You Can't Escape the Sorrows of the World (and why that's a good thing) [part 4, ep 251] Born to Belong: Grieving What Should Have Been There From the Start [part 5, ep 252] Breaking the Cycle: Ancestral Grief, Epigenetics, and the Power to Change Your Legacy [part 6, ep 253] How Facing the Harm You've Done Can Set You Free [part 7, ep 254] Wild Edge of Sorrow by Francis Weller Linda Thai's website Dan Siegel's website Clarissa Pinkola Estés' website Beckes & Sbarra, Social baseline theory: State of the science and new directions. Access here Beckes, et al. (2011). Social Baseline Theory: The Role of Social Proximity in Emotion and Economy of Action. Access here Bunea et al. (2017). Early-life adversity and cortisol response to social stress: a meta-analysis. Access here. Eisma, et al. (2019). No pain, no gain: cross-lagged analyses of posttraumatic growth and anxiety, depression, posttraumatic stress and prolonged grief symptoms after loss. Access here Hirschberger G. (2018). Collective Trauma an d the Social Construction of Meaning. Frontiers in psychology, 9, 1441. Access here Kamis, et al. (2024). Childhood maltreatment associated with adolescent peer networks: Withdrawal, avoidance, and fragmentation. Access here Lehrner, et al. (2014). Maternal PTSD associates with greater glucocorticoid sensitivity in offspring of Holocaust survivors. Access here Maier & Seligman. (2016). Learned helplessness at fifty: Insights from neuroscience. Access here Sheehy, et al. (2019). An examination of the relationship between shame, guilt and self-harm: A systematic review and meta-analysis. Access here Strathearn, et al. (2020). Long-term Cognitive, Psychological, and Health Outcomes Associated With Child Abuse and Neglect. Access here Yehuda et al. (1998). Vulnerability to posttraumatic stress disorder in adult offspring of Holocaust survivors. Access here. Yehuda, et al. (2018). Intergenerational transmission of trauma effects: putative role of epigenetic mechanisms. Access here Please remember that this content is for informational and educational purposes only. It is not intended to provide medical advice and is not a replacement for advice and treatment from a medical professional. Please consult your doctor or other qualified health professional before beginning any diet change, supplement, or lifestyle program. Please see our terms for more information. If you or someone you know is struggling or in crisis, help is available. Call the NAMI HelpLine: 1-800-950-6264 available Monday through Friday, 10 a.m. – 10 p.m., ET. OR text "HelpLine" to 62640 or email NAMI at helpline@nami.org. Visit NAMI for more. You can also call or text SAMHSA at 988 or chat 988lifeline.org.
In this episode of Joy Lab, we'll explore the Sixth Gate of Grief: the grief we carry for harm done to ourselves and others. We'll draw on the expanded framework of Francis Weller's gates of grief to unpack why this gate is one of the most challenging and most liberating to work with. It's important to note that this isn't about guilt-tripping or self-flagellation. It's about honest reckoning, releasing unconscious burdens, and reclaiming inner freedom. Because grief (not shame) is what actually moves us toward healing, repair, and becoming people who cause less harm. This episode is part of a 10-part series on grief. You can jump in here and circle back to Episode 248 when you're ready. p.s. Find a Simple Joy practice for this episode right here at our blog. About: The Joy Lab Podcast is an Ambie-nominated podcast that blends science and soul to help you cope better with stress, ease anxiety, and uplift mood. Join Dr. Henry Emmons and Dr. Aimee Prasek for practical, mindfulness-based tools and positive psychology strategies to build resilience and create lasting joy. If you enjoyed this episode, please rate and review us wherever you listen to your favorite podcasts! And... if you want to spread some joy and keep this podcast ad-free, then please join our mission by donating (Joy Lab is powered by the nonprofit Pathways North and your donations are tax-deductible). Full transcript available here Like and follow Joy Lab on Socials: Instagram TikTok Linkedin Watch on YouTube Key moments: [00:00:00] — Sixth Gate: Grief for Harm Done, popularized by Sophy Banks and Azul Thomé alongside Weller's original framework. [00:01:00] — What this gate includes: harmful thought patterns like corrosive self-talk, choices that felt necessary but caused harm, inaction when we could have intervened, and participation in collective harms like racism, classism, ableism, and environmental destruction. [00:02:00] — A critical disclaimer: this gate asks us to see these harms — not soak in them. Grief is meant to flow through us, not become a stagnant pool. Henry emphasizes the difference between grieving well and getting stuck. [00:03:30] — Three reasons this gate is especially challenging: (1) the scope of harm we participate in is nearly infinite; (2) the thin line between acknowledging harm and collapsing into shame and guilt; (3) the defensiveness this topic can trigger — and how to touch that lightly and let it go. [00:05:00] — This is about inner freedom, not atonement. Genuine inner freedom requires an honest look at how we affect those around us. [00:05:30] — Aimee and Henry on the word releasing vs. "getting over it." You can leap over a thing and still be carrying it. Releasing requires first being able to see what's there. [00:06:00] — Quote from Sabaa Tahir: two kinds of guilt — the kind that drowns you until you're useless, and the kind that fires your soul to purpose. Working with grief can move us from one to the other. [00:06:30] — Introduction of moral injury: the psychological wound that comes from betraying our own values, or witnessing others do it. Research shows moral injury is more strongly associated with PTSD symptoms than direct exposure to danger. [00:07:30] — Moral injury shows up everywhere — not just in war. Healthcare rationing, kids being detained, someone cutting you off in traffic. Untended grief in this gate can mean we snap at small things because they echo larger unprocessed wounds. [00:09:00] — Henry: grief helps us heal these deep, often invisible wounds. [00:10:00] — How harm to others haunts us for years, even decades. As social creatures, we're wired to repair harm and strengthen bonds. When we don't act, buried harm turns into guilt and shame — and shame isolates. Grief, by contrast, calls us into community and toward repair. [00:11:00] — Autoimmune disease analogy: shame is the emotional equivalent of an immune system attacking itself. A healthy response addresses the problem; an overreaction causes more damage than the original harm. [00:13:00] — Turning to harms we cause ourselves: negative self-talk, lifestyle choices, addictions. No matter the cause, we deserve healing from it. The challenge: in this case, we are both perpetrator and victim. [00:14:00] — Grief opens us up rather than closing us down. It can hold both the hurt experienced and the compassion for causing that pain. [00:14:30] — Connection to post-traumatic growth: not about psychological comfort, but awakening. Grief is the ride between pain and gain — and there's no bypassing it. [00:15:00] — Henry on the role of equanimity (this month's Element of Joy): balance is what allows us to hold two seemingly opposing truths at once. You fully acknowledge the harm and hold yourself with compassion. Neither minimizing nor drowning. [00:16:30] — Quote from Sister Helen Prejean (Dead Man Walking): "People are more than the worst thing they've done." The goal isn't no harm — it's less harm. And believing that you are more than your worst moment fosters humility, compassion, and healing that ripples outward to others. [00:17:30] — Preview of the next episode: the Seventh Gate — Trauma, and how grief and trauma intersect in the work of healing. [00:17:45] — Closing wisdom from Maya Angelou: "Do the best you can until you know better. Then when you know better, do better." Sources and Notes for this full grief series: Joy Lab Program: Take the next leap in your wellbeing journey with step-by-step practices to help you build and maintain the elements of joy in your life. Grief Series: The Grief Series: The Wholeness of Being Human [part 1, ep 248] Everything We Love, We Will Lose: Navigating the First Gate of Grief[part 2, ep 249] Welcoming Back the Parts of You That Have Not Known Love [part 3, ep 250] Why You Can't Escape the Sorrows of the World (and why that's a good thing) [part 4, ep 251] Born to Belong: Grieving What Should Have Been There From the Start [part 5, ep 252] Breaking the Cycle: Ancestral Grief, Epigenetics, and the Power to Change Your Legacy [part 6, ep 253] Wild Edge of Sorrow by Francis Weller Sabaa Tahir's website Beckes & Sbarra, Social baseline theory: State of the science and new directions. Access here Beckes, et al. (2011). Social Baseline Theory: The Role of Social Proximity in Emotion and Economy of Action. Access here Bunea et al. (2017). Early-life adversity and cortisol response to social stress: a meta-analysis. Access here. Eisma, et al. (2019). No pain, no gain: cross-lagged analyses of posttraumatic growth and anxiety, depression, posttraumatic stress and prolonged grief symptoms after loss. Access here Kamis, et al. (2024). Childhood maltreatment associated with adolescent peer networks: Withdrawal, avoidance, and fragmentation. Access here Lehrner, et al. (2014). Maternal PTSD associates with greater glucocorticoid sensitivity in offspring of Holocaust survivors. Access here Hirschberger G. (2018). Collective Trauma an d the Social Construction of Meaning. Frontiers in psychology, 9, 1441. Access here Sheehy, et al. (2019). An examination of the relationship between shame, guilt and self-harm: A systematic review and meta-analysis. Access here Strathearn, et al. (2020). Long-term Cognitive, Psychological, and Health Outcomes Associated With Child Abuse and Neglect. Access here Yehuda et al. (1998). Vulnerability to posttraumatic stress disorder in adult offspring of Holocaust survivors. Access here. Yehuda, et al. (2018). Intergenerational transmission of trauma effects: putative role of epigenetic mechanisms. Access here Please remember that this content is for informational and educational purposes only. It is not intended to provide medical advice and is not a replacement for advice and treatment from a medical professional. Please consult your doctor or other qualified health professional before beginning any diet change, supplement, or lifestyle program. Please see our terms for more information. If you or someone you know is struggling or in crisis, help is available. Call the NAMI HelpLine: 1-800-950-6264 available Monday through Friday, 10 a.m. – 10 p.m., ET. OR text "HelpLine" to 62640 or email NAMI at helpline@nami.org. Visit NAMI for more. You can also call or text SAMHSA at 988 or chat 988lifeline.org.
What if some of the grief you carry isn't entirely yours? In this episode we'll open what Francis Weller identified as the Fifth Gate of Grief: ancestral grief. We're talking about the unacknowledged, untended sorrows of those who came before us: lost languages, severed connections to land and ritual, collective traumas like war, displacement, and genocide. But we're also talking about the science; specifically, epigenetics and how it can help explain how those experiences literally get woven into our biology and passed down through generations, even when we don't know the stories. The good news? What gets passed down can also be healed. You don't have to carry rancid snacks in your backpack forever (you'll get that reference when you listen). And this gate, like all the others, ultimately opens into something more expansive — resilience, power, and the steady ground of equanimity. This episode is part of a 10-part series on grief. You can jump in here and circle back to Episode 248 when you're ready. p.s. Find a Simple Joy practice for this episode right here at our blog. About: The Joy Lab Podcast blends science and soul to help you cope better with stress, ease anxiety, and uplift mood. Join Dr. Henry Emmons and Dr. Aimee Prasek for practical, mindfulness-based tools and positive psychology strategies to build resilience and create lasting joy. If you enjoyed this episode, please rate and review us wherever you listen to your favorite podcasts! And... if you want to spread some joy and keep this podcast ad-free, then please join our mission by donating (Joy Lab is powered by the nonprofit Pathways North and your donations are tax-deductible). Full transcript here Like and follow Joy Lab on Socials: Instagram TikTok Linkedin Watch on YouTube Sources and Notes for this full grief series: Joy Lab Program: Take the next leap in your wellbeing journey with step-by-step practices to help you build and maintain the elements of joy in your life. Grief Series: The Grief Series: The Wholeness of Being Human [part 1, ep 248] Everything We Love, We Will Lose: Navigating the First Gate of Grief[part 2, ep 249] Welcoming Back the Parts of You That Have Not Known Love [part 3, ep 250] Why You Can't Escape the Sorrows of the World (and why that's a good thing) [part 4, ep 251] Born to Belong: Grieving What Should Have Been There From the Start [part 5, ep 252] Wild Edge of Sorrow by Francis Weller "Something magical happens when we bear witness to each other in grief. Something alchemical. It transmutes the lead of our devastation into the gold of connection. Our own compassion is activated. Our souls are soothed. The narrow circle of our private pain expands and we recognize that we belong to each other. We take our rightful place in the web of interbeing and find refuge." -Mirabai Starr Beckes & Sbarra, Social baseline theory: State of the science and new directions. Access here Beckes, et al. (2011). Social Baseline Theory: The Role of Social Proximity in Emotion and Economy of Action. Access here Bunea et al. (2017). Early-life adversity and cortisol response to social stress: a meta-analysis. Access here. Eisma, et al. (2019). No pain, no gain: cross-lagged analyses of posttraumatic growth and anxiety, depression, posttraumatic stress and prolonged grief symptoms after loss. Access here Kamis, et al. (2024). Childhood maltreatment associated with adolescent peer networks: Withdrawal, avoidance, and fragmentation. Access here Lehrner, et al. (2014). Maternal PTSD associates with greater glucocorticoid sensitivity in offspring of Holocaust survivors. Access here Hirschberger G. (2018). Collective Trauma an d the Social Construction of Meaning. Frontiers in psychology, 9, 1441. Access here Sheehy, et al. (2019). An examination of the relationship between shame, guilt and self-harm: A systematic review and meta-analysis. Access here Strathearn, et al. (2020). Long-term Cognitive, Psychological, and Health Outcomes Associated With Child Abuse and Neglect. Access here Yehuda et al. (1998). Vulnerability to posttraumatic stress disorder in adult offspring of Holocaust survivors. Access here. Yehuda, et al. (2018). Intergenerational transmission of trauma effects: putative role of epigenetic mechanisms. Access here Please remember that this content is for informational and educational purposes only. It is not intended to provide medical advice and is not a replacement for advice and treatment from a medical professional. Please consult your doctor or other qualified health professional before beginning any diet change, supplement, or lifestyle program. Please see our terms for more information. If you or someone you know is struggling or in crisis, help is available. Call the NAMI HelpLine: 1-800-950-6264 available Monday through Friday, 10 a.m. – 10 p.m., ET. OR text "HelpLine" to 62640 or email NAMI at helpline@nami.org. Visit NAMI for more. You can also call or text SAMHSA at 988 or chat 988lifeline.org.
What if the loss you're carrying doesn't have a name — no death, no disaster, just a quiet, persistent ache that something was always missing? In this episode of Joy Lab, we'll look at Gate Four of our grief series: What We Expected But Did Not Receive. Drawing from Francis Weller's The Wild Edge of Sorrow, we'll explore the grief that comes from never being fully welcomed, seen, or celebrated for exactly who you are — a loss so subtle it often masquerades as personal failure. This episode offers a deeply compassionate and scientifically grounded look at why so many of us feel vaguely unfulfilled and how we can actually do something about it. Spoiler: it starts with grieving what you were owed. This episode is part of a 10-part series on grief. You can jump in here and circle back to Episode 248 when you're ready. p.s. Find a Simple Joy practice for this episode right here at our blog. About: The Joy Lab Podcast blends science and soul to help you cope better with stress, ease anxiety, and uplift mood. Join Dr. Henry Emmons and Dr. Aimee Prasek for practical, mindfulness-based tools and positive psychology strategies to build resilience and create lasting joy. If you enjoyed this episode, please rate and review us wherever you listen to your favorite podcasts! And... if you want to spread some joy and keep this podcast ad-free, then please join our mission by donating (Joy Lab is powered by the nonprofit Pathways North and your donations are tax-deductible). Like and follow Joy Lab on Socials: Instagram TikTok Linkedin Watch on YouTube Full transcript here Sources and Notes for this full grief series: Joy Lab Program: Take the next leap in your wellbeing journey with step-by-step practices to help you build and maintain the elements of joy in your life. Grief Series: Why We're Doing a 10-Part Series on Grief (And Why You Need It) [part 1, ep 248] Everything We Love, We Will Lose: Navigating the First Gate of Grief[part 2, ep 249] Welcoming Back the Parts of You That Have Not Known Love [part 3, ep 250] Why You Can't Escape the Sorrows of the World (and why that's a good thing) [part 4, ep 251] Imposter phenomenon series: Imposter Syndrome is a Myth (ep. 175) What Imposter Syndrome Really Is (ep. 176) Backdraft: When Being Good to Yourself Feels Bad (ep. 29) Wild Edge of Sorrow by Francis Weller "Something magical happens when we bear witness to each other in grief. Something alchemical. It transmutes the lead of our devastation into the gold of connection. Our own compassion is activated. Our souls are soothed. The narrow circle of our private pain expands and we recognize that we belong to each other. We take our rightful place in the web of interbeing and find refuge." -Mirabai Starr Beckes & Sbarra, Social baseline theory: State of the science and new directions. Access here Beckes, et al. (2011). Social Baseline Theory: The Role of Social Proximity in Emotion and Economy of Action. Access here Bunea et al. (2017). Early-life adversity and cortisol response to social stress: a meta-analysis. Access here. Eisma, et al. (2019). No pain, no gain: cross-lagged analyses of posttraumatic growth and anxiety, depression, posttraumatic stress and prolonged grief symptoms after loss. Access here Kamis, et al. (2024). Childhood maltreatment associated with adolescent peer networks: Withdrawal, avoidance, and fragmentation. Access here Lehrner, et al. (2014). Maternal PTSD associates with greater glucocorticoid sensitivity in offspring of Holocaust survivors. Access here Hirschberger G. (2018). Collective Trauma an d the Social Construction of Meaning. Frontiers in psychology, 9, 1441. Access here Sheehy, et al. (2019). An examination of the relationship between shame, guilt and self-harm: A systematic review and meta-analysis. Access here Strathearn, et al. (2020). Long-term Cognitive, Psychological, and Health Outcomes Associated With Child Abuse and Neglect. Access here Yehuda et al. (1998). Vulnerability to posttraumatic stress disorder in adult offspring of Holocaust survivors. Access here. Yehuda, et al. (2018). Intergenerational transmission of trauma effects: putative role of epigenetic mechanisms. Access here Please remember that this content is for informational and educational purposes only. It is not intended to provide medical advice and is not a replacement for advice and treatment from a medical professional. Please consult your doctor or other qualified health professional before beginning any diet change, supplement, or lifestyle program. Please see our terms for more information. If you or someone you know is struggling or in crisis, help is available. Call the NAMI HelpLine: 1-800-950-6264 available Monday through Friday, 10 a.m. – 10 p.m., ET. OR text "HelpLine" to 62640 or email NAMI at helpline@nami.org. Visit NAMI for more. You can also call or text SAMHSA at 988 or chat 988lifeline.org.