POPULARITY
Categories
Yordania mengumumkan berhasil mencegat delapan rudal yang ditembakkan Iran pada Kamis dini hari. Aksi pencegatan dilakukan saat ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas.
The latest news SBS Audio Indonesian Program – Thursday 16 July 2026. - Berita Terkini SBS Audio Program Bahasa Indonesia – Kamis 16 Juli 2026.
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 16 Juli 2026Bacaan: "Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." (Lukas 5:4)Renungan: Waktu kecil Thomas Alfa Edison pernah dikeluarkan dari sekolah karena dianggap "terlalu bodoh". Gurunya berkata dia tidak bisa belajar. Waktu meneliti bola lampu, dia gagal ribuan kali. Wartawan bertanya: "Pak, bagaimana rasanya gagal ribuan kali?" Edison jawab: "Saya tidak gagal ribuan kali. Saya hanya menemukan ribuan cara yang tidak berhasil." Dia "bertolak ke tempat yang dalam" - terus mencoba walau semua orang berkata mustahil. Dari kegagalan itu lahirlah lampu pijar yang sampai hari ini menerangi dunia. Yang orang lihat gelap, tapi dia taat "menebar jala" terus, sampai akhirnya terang itu datang. Waktu itu Petrus sudah semalaman mencari ikan hasilnya mengecewakan. Ia capai, malu dan mau menyerah. Tetapi Yesus datang dan berkata, "Bertolaklah ke tempat yang dalam". Bertolak artinya bergerak. Jangan diam dalam kekecewaan. Tetap taat walau tidak masuk akal. Ke tempat yang dalam artinya menuju ke tempat yang berisiko, yang mungkin mustahil menurut manusia. Di sanalah mujizat akan terjadi. Tebarkanlah jalamu, artinya lakukan bagian kita dengan usaha dan iman, maka Tuhan akan melakukan bagian-Nya juga. Yesus tidak menyuruh Petrus kerja lebih keras. Dia menyuruh Petrus taat di tempat yang benar bersama Dia. Kita sering seperti Petrus yang "semalaman tidak mendapat apa-apa." Dalam pelayanan kita sudah mewartakan Injil dan mendoakan orang, tapi tidak ada yang berubah. Akhirnya godaan datang yaitu perkataan, "Sudahlah, capek." Di dalam keluarga kita sudah menasihati anak, sudah berdoa untuk pasangan, tapi ternyata situasinya sama tidak berubah. Maka godaan adalah perkataan, "Percuma." Di dalam kehidupan ini kita sudah mengirim lamaran, sudah berusaha, tapi pintu berkat tetap tertutup. Akhirnya kecewa dan godaannya adalah kata-kata pasrah karena kecewa, "Mungkin bukan jalanku." Yesus hari ini berkata kepada kita juga, "Bertolaklah ke tempat yang dalam." Mungkin "tempat yang dalam" itu adalah: tetap mengasihi musuh, tetap jujur walau rugi, tetap memuji walau hati sakit, tetap percaya walau doa belum dijawab. Di tempat dangkal kita hanya dapat ikan kecil. Tapi di kedalaman bersama Yesus, ada berkat yang bisa "mengoyakkan jala". Jangan berhenti sebelum Yesus berkata berhenti. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, aku sering menyerah terlalu cepat. Hari ini aku mendengar suara-Mu, "Bertolaklah ke tempat yang dalam." Berikan aku keberanian untuk taat, bahkan saat tidak mengerti. Tolonglah aku agar mau menebar jala lagi bersama-Mu. Aku percaya Engkau sanggup mengubah kegagalanku menjadi kesuksesan. Amin. (Dod).
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Pastor Peter Tukan, SDB dari Komunitas Salesian Don Bosco Gerak di Keuskupan Labuan Bajo, Indonesia. Yesaya 26: 7-9.12.16-19; Mazmur tg 102: 13-14ab.15.16-18.19-21; Matius 11: 28-30.MENGENALI TUHAN DENGAN NAMA-NYA Tema renungan kita pada hari ini ialah: Mengenali Tuhan Dengan Nama-Nya.Ada seorang bocah berusia sepuluh tahun bernama Bastian, menulis surat kepadaTuhan. Ia sudah banyak kali berdoa dengan lisan untuk menanyakan apa sebenarnyanama Tuhan, seperti dirinya yang bernama Bastian. Karena tidak menemukanjawaban, maka ia menulis surat itu. Isi surat itu adalah seperti ini:"Tuhan Allah, seperti Putra-Mu yang bernama Yesus Kristus, sebenarnyaTuhan sendiri bernama apa?" Ia menaruh surat itu di kaki salib di dalamgereja. Pastor paroki menemukan surat itu pada suatu pagi. Diambilnya surat itu dania menulis di bawah tulisan Bastian, bunyinya ialah: "Nama Tuhan Allahialah 'AKU'. Ini memang bukan jawaban langsung dari Tuhan, tetapi pastor parokimemberikan jawaban yang sesungguhnya, seperti yang dikatakan di dalam kitabKejadian. Kemudian pada saat Bastian dan keluarganya datang ke gereja, si bocahmengambil suratnya dan menemukan jawaban yang sedang ia tunggu. Allah menyebut nama-Nya “AKU” berarti bahwa Ia sempurna, total dan abadi. Untuk nama “AKU” tersebut, hanya Tuhan yang bisa menegaskan demikian karenaIa maha esa dan maha kuasa. Dengan keunggulan-Nya seperti ini, nabi Musa didalam perjanjian lama dan kita semua pada saat ini diberkati dengan keunggulanyang istimewa ini. Tuhan tidak mementingkan diri-Nya sendiri, tetapi Iasenantiasa berbagi dengan kita, khususnya melibatkan diri-Nya dengan kita dankita dengan Dia, melalui Yesus Kristus. Kita diharapkan untuk membawa keunggulan Ilahi tersebut untuk menghadapimusuh-musuh yang jahat dan yang melawan kehendak Allah, bahkan sampaimengalahkan musuh-musuh itu. Jika kita hanya memakai kekuatan dan ego kitasendiri sebagai manusia, kita pasti sangat lemah ketika berhadapan dengankompleksitas pekerjaan, aneka tantangan atau ancaman musuh-musuh. Namun denganmemakai identitas "Aku" dari Tuhan Allah, kita akan selalu dimampukanoleh Dia dan kita dapat berhasil melewati semua ancaman dan kesulitan. Yesus Kristus menegaskan hal ini ketika Ia selalu berkata: Aku berkatakepadamu. Yesus menyatakan nama Allah sendiri dalam bersabda dan berbuat. Yesustak pernah menyebut dirinya sendiri, seperti: "Yesus berkatakepadamu". Penegasan “Aku” untuk diri-Nya ini, juga berarti hendak membawasemua orang yang mendengar dan percaya, datang kepada-Nya, tinggal bersama-Nyadan menghayati cara hidup-Nya. Pada hari ini Yesus mengajak kita untuk datangkepada-Nya untuk menimba kekayaan belas kasih-Nya. “Datanglah kepada-Ku, karenaAku lemah lembut dan rendah hati.” Marilah kita selalu percaya dan mengandalkannama Tuhan sebagai AKU. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa ... Ya Allah maha baik, terima kasih berlimpah karena telahmenunjukkan kepada kami diri-Mu sebagai pribadi, semoga kami selalumengandalkan ke-esa-an dan kekuasaan-Mu. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra danRoh Kudus ... Dalam nama Bapa ...
Sapaan Lansia GKP Jemaat BandungKamis, 16 Juli 2026Tema : "Tetap Berkarya dan Bersaksi Bagi KristusBahan Alkitab : Mazmur 71:17-18Pelayan Firman : Sdr. Alphonso ManullangEpisode 29 - Season 6@GKP Bandung Juli 2026
Nicholas F. Goselin, an American pilot, was the victim of an attack by the West Papua National Liberation Army (TPNPB) at Ipdeheik Airport in Yahukimo Regency, Papua Pegunungan, on Thursday, July 2. Indonesian police have named seven suspects and are currently pursuing them. - Seorang pilot berkebangsaan Amerika Serikat, Nicholas F. Goselin, menjadi korban serangan dari Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat atau TPNPB di Bandara Ipdeheik, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan pada Kamis 2 Juli yang lalu. Polisi Indonesia sudah menetapkan 7 tersangka, dan masih memburu mereka.Listen to SBS Indonesian on Mondays, Wednesdays, Fridays and Sundays at 3pm.Follow us on Facebook and Instagram, and subscribe to our podcasts. - Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu jam 3 sore.Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.
Latest News SBS Audio Program Bahasa Indonesia - Thursday 9 July 2026 - Berita Terkini SBS Audio Program Bahasa Indonesia - Kamis 9 Juli 2026
Sejumlah barang bukti hasil penggeledahan yang dilakukan oleh Kortas Pemberantasan Tipikor Polri dan Polda Metro Jaya tiba di Polda Metro Jaya pada Kamis pagi.
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 9 Juli 2026Bacaan: "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya." (Amsal 18:21)Renungan: Suatu hari seorang istri mengeluh karena minggu ini ia terlalu lelah. Kerjaan menumpuk, anak rewel minta ditemenin belajar. Suaminya pulang kerja terus rebahan main HP. Tanpa sadar ia kesal dan berkata kepada suaminya: "Kamu sih tahunya cuma enak-enak rebahan. Gak pernah mikirin rumah ini!" Suaminya pun diam. Malam itu suasana rumah menjadi dingin. Dua hari kemudian giliran ia yang sakit. Anak-anak yang biasanya deket dengannya menjadi takut karena melihat papa mamanya tegang. Ia pun tersadar. Satu kalimat emosinya malam itu "mematikan" suasana rumah selama dua hari. Padahal kalau ia bilang: "Pa, aku capek. Boleh tolong temenin anak belajar 30 menit?" pasti jawabannya berbeda. Amsal 18:21 ini berisi peringatan keras dari Raja Salomo tentang kuasa dari kata-kata: "Hidup dan mati dikuasai lidah". Di rumah, lidah kita bisa jadi sumber kehidupan atau sumber kematian. Dengan kata-kata kita bisa menghidupkan semangat pasangan, menguatkan anak yang gagal, memberkati keluarga. Tapi dengan kata-kata juga kita bisa melukai hati pasangan, mematikan semangat anak, dan merusak keharmonisan rumah. Rumah tangga kita adalah cermin dari apa yang sering kita ucapkan. Suka mengeluh, maka rumah penuh keluhan. Suka mengucap syukur dan menguatkan, maka rumah penuh damai. Keluarga adalah tempat pertama kita latihan memakai lidah. Tiga hal yang bisa kita latih mulai saat ini: 1. Ganti kritik dengan permintaan. Dari perkataan, "Aku sibuk, jadi lupa" menjadi "Sayang, boleh tolong ingetin aku ya" 2. Perbanyak kata penguat untuk anak. Perkataan, "Mama bangga kamu sudah berusaha", lebih menghidupkan daripada "Nilainya kok segitu-segitu aja".3. Doa berkat sebelum tidur. Ucapkan satu kalimat berkat untuk tiap anggota keluarga. Itu seperti menyiram tanaman di rumah. Ingat, anak-anak kita tidak akan ingat seberapa rapi rumah kita. Tapi mereka akan ingat: "Di rumah ini, kata-kata apa yang paling sering ia dengar." Tuhan Yesus memberkati. DOA:Tuhan Yesus, ampunilah aku kalau selama ini lidahku sering melukai orang-orang yang paling aku kasihi di rumah. Ajarilah aku menjadi pembawa damai di tengah keluargaku. Berikan hikmat supaya setiap kata yang keluar dari mulutku adalah kata yang membangun, menguatkan, dan memberkati. Amin. (Dod).
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Petrus Kanisius Kebaowolo dan Elisabeth Welan dari Paroki Karawaci, Gereja Santo Agustinus di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Hosea 11: 1b.3-4.8c-9; Mazmur tg 80: 2ac.3b.15-16; Matius 10: 7-15.MENERIMA DENGAN CUMA-CUMA, MEMBERI JUGA CUMA-CUMA Tema renungan kita pada hari ini ialah: Menerima Dengan Cuma-Cuma, MemberiJuga Cuma-Cuma. Ada seorang bocah kelas 5 SD bertanya kepada ibunya: "Ma,mana yang duluan, memberi atau menerima?" Ibunya langsung menjawab,"Yang jelas memberi." Kata anak itu, "Kalau begitu berikan akuuang untuk membeli mainan." Kita semua sepatutnya setuju bahwa memberimemang yang pertama, karena hal ini adalah tindakan Tuhan terhadap kita. Hidupkita sebagai manusia dan karunia iman yang kita miliki adalah pemberian Tuhan. Di dalam Injil hari ini, tugas perutusan Yesus kepada para rasul ialahuntuk memberi, yaitu membawa nama Yesus kepada setiap orang dan menghadirkankerajaan-Nya untuk menyejahterakan mereka jiwa dan raga. Lalu pesan Yesuskepada mereka: Kalian telah menerima semua dari-Ku sebagai karunia cuma-cuma.Maka ketika kalian memberikan semua itu, harus juga dengan cuma-cuma. Contoh,para rasul mendapatkan pengetahuan tentang Allah dan rahasia-Nya secara gratis,maka mereka hendaknya mewartakan itu dengan gratis pula. Mereka tidak bolehmengambil keuntungan apa pun kegiatan pewartaan itu. Rahmat dan karunia yang gratis ini sejak dahulu sebelum zamannya pararasul, telah dialami oleh bangsa Israel yang mendapat segala perbuatan baikAllah yang membela, memelihara dan membesarkan mereka. Bahkan, menurut NabiAmos, ketika bangsa ini sangat menderita sebagai tawanan di Babel, Tuhan Allahjuga berbelas kasih kepada mereka. Tuhan mengangkat semua bentuk hukuman kepadamereka dan kembali mengasihani mereka. Oleh karena itu mereka harus mengikuticontoh dari Tuhan untuk selalu berbuat baik pertama-tama di antara mereka dankemudian kepada bangsa-bangsa lain. Menerima cuma-cuma dan memberi juga cuma-cuma merupakan cara kita meniruTuhan Yesus. Kita juga meniru Bunda Maria, Santo Yusuf, para rasul, santoPaulus, Yohanes Pembaptis dan semua orang kudus lainnya. Orang tua kita sendirijuga telah menjalani gaya hidup ini, karena mereka memberikan segala sesuatudemi kita masing-masing dan tak pernah mereka meminta balasan atau bayaran.Justru yang sangat tidak terpuji ialah jika ada anak-anak yang mestinyamembalas orang tua dengan menyenangkan mereka, tetapi sebaliknya menyusahkanbahkan menyakiti mereka sampai kematian mereka. Jadi pesan bijaksana hari ini adalah: kita hendaknya tetap dalam jalanYesus Kristus, yaitu karena kita telah menerima begitu banyak dan cuma-cumadari mana pun dan siapa pun, maka kita harus memberi dengan cuma-cuma juga.Jangan sampai terjadi bahwa kita hanya ingin untuk diberi dan dilayani sesuaidengan keinginan kita, sementara itu kita membatasi diri untuk memberi apa yangseharusnya dapat kita berikan kepada Tuhan dan sesama kita.Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa... Ya Tuhan dan Allah kami, kuatkanlah kami dengan Roh-Mu,yaitu semangat dalam pelayanan yang tanpa pamrih, sehingga berkat-Mu menjadinyata bagi kami. Salam Maria, penuhrahmat ... Dalam nama Bapa ...
Sapaan Lansia GKP Jemaat BandungKamis, 9 Juli 2026Tema : “Jangan “KhawatirBahan Alkitab : FIlipi 4:6-7Pelayan Firman : Ibu Andriani Dewi HutamiEpisode 28 - Season 6@GKP Bandung Juli 2026
SERANG,- Usai dengarkan jawaban Gubernur, Badan Anggaran DPRD Banten siap bahas pertanggungjawaban APBD 2025, Kamis (2/07/2026).Rapat ini dipimpin oleh Wakil Ketua DPRD Banten H. Imron Rosadi didampingi oleh Wakil Ketua Banten DPRD Banten H. Eko Susilo.Turut hadir Wakil Gubernur Banten A. Dimyati Natakusumah dan unsur Forkopimda lainnya.Berdasarkan Hasil Rapat Badan Musyawarah DPRD Banten pada Kamis (11/06) lalu, agenda rapat paripurna pada hari ini adalah Rapat Paripurna Pendapat Gubernur terhadap Penjelasan DPRD sebagai Pengusul Raperda Usul DPRD Provinsi Banten tentang Penyelenggaraan Pendidikan.Agenda selanjutnya, Rapat Paripurna Tanggapan dan/atau Jawaban Gubernur terhadap Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Provinsi Banten Tahun Anggaran 2025.Wakil Ketua DPRD Banten H. Imron Rosadi mengatakan bahwa Selasa (30/06) kemarin telah dilaksanakan Rapat Paripurna mengenai Penjelasan DPRD selaku Pengusul Raperda Usul DPRD tentang Penyelenggaraan Pendidikan, selain itu telah dilaksanakan Rapat Paripurna Pandangan Umum Fraksi-Fraksi terhadap Penjelasan Gubernur mengenai Raperda tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Provinsi Banten TA 2025."Dalam pandangan umum tersebut, fraksi-fraksi pada umumnya telah menyampaikan saran, pendapat, maupun pertanyaan yang memerlukan tanggapan dan/atau jawaban dari yang terhormat saudara Gubernur Banten," tuturnya.Pada kesempatannya, Gubernur Banten yang disampaikan oleh Wakil Gubernur Banten A. Dimyati Natakusumah mengapresiasi masukan fraksi-fraksi, sekaligus menekankan pentingnya raperda pendidikan untuk mencetak generasi beriman dan bertakwa melalui penguatan mutu, akses inklusif, pemanfaatan teknologi, serta pembenahan kompetensi dan zonasi penempatan guru."Selain itu, terkait pertanggungjawaban APBD, menyoroti fenomena penurunan pendapatan daerah akibat peralihan ke kendaraan listrik dan banyaknya perusahaan di Banten yang ber-NPWP Jakarta, sehingga perlunya desakan sinergi dengan DPRD untuk melahirkan terobosan pendapatan baru, mengoptimalkan BUMD, serta memperketat pengawasan internal agar anggaran daerah memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan bebas dari korupsi," jelasnya.Dalam menutup rapat paripurna ini, Imron mengingatkan sebagai tindak lanjut dari rangkaian Rapat Paripurna atas Raperda tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD TA 2025."Kami berharap kepada segenap Anggota DPRD Provinsi Banten yang tergabung dalam Badan Anggaran agar dapat membahasnya bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Provinsi Banten dengan senantiasa mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Latest News SBS Audio Program Bahasa Indonesia - Thursday 2 July 2026. - Berita Terkini SBS Audio Program Bahasa Indonesia - Kamis 2 Juli 2026.
Instalk kali ini edisi Kamis, 2 Juli 2026 mengangkat tema tentang "UKT Makin Mahal, Bagaimana Menjaga Kuliah Tetap Terjangkau?" bersama Guru Besar dan Dekan Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. Cecep Darmawan yang dipandu Host Suwiryo.
Pesawat perintis AMA PK-RCY diduga dibakar anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Kabupaten Yahukimo Provinsi Papua Tengah pada Kamis (2/7/2026). Aksi itu diduga terkait upaya Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) untuk menunjukkan eksistensi sekaligus menarik perhatian dunia internasional. Aparat keamanan gabungan TNI-Polri dan Satgas Operasi Damai Cartenz pun akan melakukan investigasi mendalam dan mengirimkan pasukan ke lokasi untuk verifikasi serta mengevakuasi korban"Aksi pembakaran pesawat di Yahukimo Papua, apa solusi damai hentikan kekerasan di sana?" Narasumber: 1. Dosen Strategi Keamanan, Jurusan Hubungan Internasional FISIP Universitas Nasional Jakarta, Dr. Robi Nurhadi, S.I.P., M.Si. 2. Sosiolog Unika Soegijapranata, Hermawan Pancasiwi,
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 2 Juli 2026Bacaan: "Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana." (Bilangan 13:28)Renungan: Kita mungkin sering mendengar orang berkata, "Orangnya cantik, sayangnya judes sekali." "Dia pintar, sayangnya kuper sekali." "Orang itu kaya sekali, sayangnya pelit minta ampun." Perkataan itu memuji, sekaligus mencela. Mengangkat ke langit, sekaligus menjatuhkannya ke bumi. Jika seperti ini, maka pujian setinggi langit pun tidak ada artinya, sebab penekanannya bukan lagi pada kelebihannya melainkan pada kekurangannya. Yang baik sudah hilang, yang buruk ditonjolkan! Hal yang sama pernah terjadi ketika Musa memerintahkan dua belas orang terbaik untuk mengintai negeri Kanaan. Kedua belas pengintai tersebut pulang untuk melaporkannya kepada Musa dan segenap bangsa Israel. Kedua belas pengintai tersebut sependapat bahwa negeri Kanaan sungguh berlimpah-limpah susu dan madunya. Mereka membawa bukti berupa buah-buahan yang mereka ambil dari negeri Kanaan. Kedua belas pengintai itu sepakat soal itu. Tapi, setelah itu terjadilah perbedaan pendapat. Sepuluh pengintai berkata, "Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana." (ay. 28). Hanya Yosua dan Kaleb yang tetap positif dalam memberikan laporan. Sepuluh pengintai tersebut mirip dengan perkataan orang-orang di atas. Awalnya memuji, tapi berikutnya muncul kata "sayangnya". Yang baik hilang, yang buruk ditonjolkan. Akibatnya tidak main-main. Seluruh bangsa Israel panik. Mereka menangis, bersungut-sungut kepada Musa dan Harun, bahkan memutuskan untuk mengangkat pemimpin lalu pulang ke Mesir (Bil. 14). Betapa dahsyatnya kata "hanya" atau "sayangnya". Kisah ini kiranya memberi pelajaran berharga bagi kita, janganlah kita menggunakan kata "hanya saja" atau "sayangnya" ketika menilai seseorang atau sebuah peristiwa. Jangan sampai hal yang harusnya kita syukuri akhirnya menjadi hal yang kita keluhkan. Berkat yang harusnya kita terima dengan sukacita, akhirnya berubah menjadi persungutan. Tuhan menghendaki kita menjadi orang yang bersyukur dalam segala perkara. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ampunilah aku karena aku masih sering memandang orang lain dari sisi negatifnya. Kuduskan pikiranku agar aku selalu berpikir yang positif, baik untuk diriku maupun orang lain. Amin. (Dod).
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Pastor Peter Tukan, SDB dari Salesian Don Bosco Gerak di Keuskupan Labuan Bajo, Indonesia. Amos 7: 10-17; Mazmur tg 19: 8.9.10.11; Matius 9: 1-8.KESEMBUHAN TOTAL Renungan kita pada hari ini bertema: Kesembuhan Total. Ada seorang lelakiterkenal sebagai pengacau ulung di lingkungannya. Orang-orang di situ takutkepadanya. Ia mabuk seenaknya, pengguna sekaligus pengedar narkoba sangat aktifdan bertindak brutal kepada siapa pun yang menghalangi segala urusannya.Singkatnya, mental, moral dan imannya sudah sangat buruk. Namun pihak polisi akhirnya berhasil melumpuhkan dia setelah terjaditindakan kekerasan di wilayah itu dan ia sebagai tokoh utama kejadian tersebut.Kedua kakinya terkena tembakan peluru dan ia nyaris lumpuh total. Pada akhirnyaia melewatkan hari-hari, bulan-bulan dan tahun-tahun di penjara. Wilayahnyamenjadi aman dan damai tanpa dia. Untuk kesekian kalinya lelaki ini dikunjungi pemimpin agamanya supaya iamemperoleh pembinaan rohani. Banyak sekali pengalaman rohani dan bimbinganmoral yang ia peroleh selama di penjara. Semua itu membantunya untuk membuathidupnya menjadi baru. Perlahan-lahan perubahan itu terjadi. Setelah keluarpenjara, ia sungguh seorang pribadi yang baru. Fisiknya menjadi segar dansehat, tutur kata, sopan santun, sikap hidup menjadi sangat baik.Pengetahuannya tentang kehidupan luas dan terbuka. Imannya tumbuh kembali. Pengalaman lelaki ini merupakan contoh tentang kesembuhan total. Jeniskesembuhan ini yang diinginkan Yesus Kristus, yang meliputi fisik, mental,rohani, relasi sosial. Yesus mengetahui bahwa orang yang disembuhkan itu penuhdengan dosa. Maka yang dilakukan-Nya pertama ialah menghapus dosa-dosanyadengan mengampuninya. Sesudah itu baru menyembuhkan dia dari sakit fisiknya danmemulihkan pikiran serta jiwanya. Banyak di antara kita ingin sembuh sebagian saja, bukan total. Mungkinmereka hanya mencari kesembuhan fisik atau mental tertentu sementara kesembuhandiri secara total diabaikan. Seorang mungkin telah sembuh dari stress dan sakit hati, namun ia masihdendam dan marah kepada orang yang telah mengecewakannya. Orang mungkin merasanyaman setelah menerima sakramen tobat, tetapi ia tidak menyesaliperbuatan-perbuatannya maka ia jatuh kembali ke dosa-dosa yang sama. Semua inimenandakan kesembuhan yang hanya sebagian. Dengan demikian berarti mereka masihsakit. Kita perlu menandai bagian-bagian mana di dalam diri kita yang masih belumdisembuhkan karena selama ini tidak diupayakan untuk sembuh. Bagian itu sangatmungkin menjadi penghalang untuk terjadinya kesembuhan total di dalam diriKita. Berikan perhatian kepadanya agar dapat sembuh total. Marilah kita berdoa...Dalam nama Bapa... Ya Bapa, jika ternyata masih ada bagian-bagian di dalam dirikami yang belum sembuh semuanya, karena kami cenderung mengelakkan diri untukdisembuhkan, berikanlah kami kesembuhannya. Bapa kami yang ada di surga ...Dalam nama Bapa ...
Sapaan Lansia GKP Jemaat BandungKamis, 2 Juli 2026Tema : "Gendongan Kasih Setia Tuhan Yang Abadi"Bahan Alkitab : Yes 46:4Pelayan Firman : Sdri. Ave Theresia SiagianEpisode 27 - Season 6 @GKP Bandung Juli 2026
Kebakaran hutan besar melanda Provinsi Huesca, Spanyol, dan telah menghanguskan sekitar 4.000 hektare lahan. Kondisi suhu ekstrem, kelembapan rendah, dan angin kencang diduga menjadi pemicu utama cepatnya penyebaran api di wilayah tersebut.Api mulai muncul pada Kamis pagi di antara wilayah Tamarite de Litera dan Alcampell, kemudian meluas dengan cepat ke area sekitar yang didominasi lahan kering. Hingga saat ini, tim darurat masih terus berupaya mengendalikan kobaran api di beberapa titik sekaligus.Sekitar 240 warga telah dievakuasi, sementara warga di beberapa kota terdekat diminta tetap waspada akibat kepulan asap tebal.
Latest news SBS Audio Indonesian Program – Thursday 25 June 2026 - Berita Terkini SBS Audio Program Bahasa Indonesia – Kamis 25 Juni 2026
Terdakwa mantan Ketua Ombudsman, Hery Susanto menjalani sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan oleh jaksa penuntut umum di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (25/6/2026). Hery Susanto didakwa menerima suap berupa uang dan rumah senilai total Rp4,8 miliar dari sejumlah perusahaan tambang pada periode 2013–2025 agar menyatakan terdapat maladministrasi dalam perhitungan kewajiban pembayaran perusahaan nikel dan bauksit yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 25 Juni 2026Bacaan: "Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian." (Lukas 6:33)Renungan: Senyum adalah salah satu gestur universal manusia. Bahasa manusia boleh berbeda-beda, budaya juga bisa beragam macamnya, tapi di hampir semua tempat, senyuman dimengerti sebagai tanda kegembiraan, keramahan, dan penerimaan. Ketika kita melakukan kebaikan kepada seseorang, maka senyuman dan ucapan terima kasih darinya bukanlah hal yang mengejutkan. Namun ketika kita melakukan kesalahan, ketika kita menumpahkan minuman ke baju seseorang, kita datang terlambat ke satu pertemuan penting, kita berbelok di tikungan yang salah saat mengantarkan seseorang yang sedang buru-buru, tapi orang itu tetap memberikan senyuman, maka perasaan kita akan sangat berbeda dengan situasi pertama tadi. Kita jelas lebih lega. Senyuman itu menjadi lebih berkesan karena kita akan mengingat orang tersebut sebagai orang yang baik, sabar, rendah hati, dst. Ketika kebaikan tampak sulit didapatkan tapi kita justru menerimanya, saat itu akan menjadi momen yang tak terlupakan. Inilah yang diajarkan Yesus kepada kita. Bukan hanya berbuat baik kepada mereka yang baik kepada kita, tapi juga kepada mereka yang telah melukai atau berbuat jahat pada kita. Bukan memberi sesuai apa yang diperintahkan, tapi memberi lebih dari itu. Bukan memberkati dan mendoakan orang yang kita sayangi saja, tapi memberkati dan mendoakan mereka yang mengutuki dan memusuhi kita. Jika itu semua yang kita lakukan, percayalah tindakan itu akan jauh lebih diingat orang. Itulah sesungguhnya yang disebut hidup yang menjadi berkat. Jika kita ingin hidup kita bisa menjadi berkat bagi orang lain, itu tidak cukup dengan banyak memberi atau berbuat baik saja. Tapi, berilah, nyatakan kasih, dan buatlah kebaikan juga kepada mereka yang seolah tidak pantas untuk menerimanya, yaitu mereka yang membenci, memusuhi, dan menyakiti kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, penuhilah aku dengan cinta-Mu, agar aku dapat membagikan cinta-Mu itu kepada orang lain tanpa memandang apakah dia baik bagiku atau mengecewakanku. Amin. (Dod).
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Helen Making dan Novita Making dari Paroki Santo Laurensius Hadakewa di Keuskupan Larantuka, Indonesia. 2 Raja-Raja 24: 8-17; Mazmur tg 79: 1-2.3-5.8.9; Matius 7: 21-29.RUMAH BATU VERSUS RUMAH PASIR Tema renungan kita pada hari ini ialah: Rumah Batu Versus Rumah Pasir.Ketika Yesus mengumpamakan bangunan yang tidak kuat menghadapi bencana hujan,banjir dan topan yang bakal menghancurkannya, Ia sejalan dengan pemikiranpenulis kitab Amsal yang berkata: Ketika angin-topan melanda, orang-orangberdosa ikut dibinasakan, tetapi orang-orang benar akan bertahan sampaiselamanya (Ams 10,25). Ada dua orang ibu saling berbagi cerita tentang anaknya masing-masing yangsedang kuliah di kota. Masing-masingnya tinggal di kota yang berbeda-beda.Orang tua dan keluarga masing-masing di kampung sangat berharap supayaanak-anaknya tekun dengan hidup rohaninya meski mereka harus juga tekunbelajar. Pada waktu masih berada di rumah dan sebelum kuliah, mereka tekunberdoa pribadi, doa bersama di lingkungan, dan perayaan Misa tiap hari minggu. Ketika sudah jauh dari rumah, ceritanya sudah berubah. Satu dari duamahasiswa itu memiliki cerita yang menggembirakan. Suasana di kos tempat iatinggal, pergaulan dan di kampus menuntut dirinya harus memiliki ketahananrohani yang kuat. Kebiasaan doa pribadinya menjadi semakin kuat dan ia terlibatdalam kegiatan kepemudaan di paroki. Ia tekun dengan Misa tiap hari minggu,bahkan mengikuti juga misa harian. Mahasiswa ini adalah sebuah rumah baturohani, seperti yang digambarkan oleh Yesus dalam Injil hari ini. Cerita tentang mahasiswa yang lain justru sangat berbeda. Lingkunganhidupnya di kota telah mengubahnya menjadi seorang muda penentang, berwatakkeras, dan suka terlibat dalam kejahatan. Beberapa kali ia menjadi targetkejaran pihak keamanan tetapi ia selalu lolos. Kehidupan rohaninya sudahkacau-balau. Ia mengakui diri sebagai orang beriman yang percaya kepadaKristus, tetapi hidupnya yang nyata sangat bertentangan dengan imannya. Orangmuda ini adalah contoh bangunan rumah pasir yang juga digambarkan oleh Injilhari ini. Iman yang tumbuh sebagai rumah batu merupakan suatu kehidupan yang dijalanioleh orang-orang beriman dengan dua ciri penting, yaitu mendengarkan perkataanTuhan dan melakukannya di dalam kenyataan. Sebaliknya mereka yang mendengarkantetapi tidak melakukan, mereka itu tergolong kehidupan iman sebagai rumahpasir. Di dalam kehidupan kita, sering terdapat dua jenis orang ini yang hidupdi dalam satu keluarga, komunitas, lingkungan, dan Gereja. Di sini terjadiujian sesungguhnya. Masing-masingnya berusaha untuk menang. Jika rumah batu kehidupan iman menjadi lebih kuat, kuasa dan kemuliaanTuhan akan merajai seluruh kehidupan kita. Tetapi jika rumah pasir yang lebihkuat, maka bencana-bencana akan segera melanda kehidupan kita, sepertipengalaman pahit bangsa Israel yang dikalahkan dan dibuang ke Babel. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa ... Ya Tuhan, berkatilah kami dengan pertumbuhan iman kami yangsehat dan dewasa supaya kami dapat berkontribusi dalam memperkuat KerajaanAllah di dalam dunia ini. Bapa kami yang ada di surga ... Dalam nama Bapa ...
Sapaan Lansia GKP Jemaat BandungKamis, 25 Juni 2026Tema : "Tetaplah Setia Berjalan Dalam Kebenaran"Bahan Alkitab : Mazmur 37:25-26 ; Yes 44:4Pelayan Firman : Ibu Agustini MatondangEpisode 26 - Season 6@GKP Bandung Juni 2026
Latest News SBS Audio Program Bahasa Indonesia - Thursday 18 June 2026. - Berita Terkini SBS Audio Program Bahasa Indonesia - Kamis 18 Juni 2026.
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 18 Juni 2026Bacaan: Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya." (Yesaya 26:3)Renungan: Hidup adalah sekumpulan pilihan. Banyak alasan untuk membuat kita tertawa, tapi banyak orang memilih untuk kecewa. Banyak hal yang seharusnya membuat kita tersenyum, tapi banyak orang justru memilih untuk bersedih. Banyak hal yang seharusnya kita abaikan, tapi banyak orang justru mempersoalkan. Banyak hal yang seharusnya mudah dan sederhana untuk dijalani, tapi banyak orang memilih untuk ribet dan mempersulitnya. Banyak hal yang seharusnya kita syukuri, tapi banyak orang memilih untuk mengeluhkan hal-hal yang tidak ia miliki. Jika kita mau merenungkan lebih dalam, sesungguhnya hidup kita penuh dengan kebahagiaan, sayangnya kita tidak menyadarinya. Sebagai gantinya, kita justru memandang bahwa hidup kita seolah-olah hanya berisi penderitaan dan masalah saja. Lupa bahwa di dalam penderitaan sekalipun, kita bisa menemukan kekuatan dan penghiburan dari Tuhan. Pilihlah yang baik, bukan yang buruk. Pilihlah yang mendatangkan sukacita, bukan yang mengundang kecemasan. Pilihlah untuk berbahagia, bukan takut dan khawatir. Semuanya itu mungkin terjadi kalau kita bisa menguasai hati. Menguasai hati untuk terus bersyukur, dan bukan iri karena membandingkan diri dengan orang lain. Bukankah berkat tidak selalu urusan materi? Di saat jiwa kita tenang dan hati kita damai, bukankah itu kebahagiaan yang jauh lebih berharga daripada sekadar kekayaan dan materi saja? Itulah sebabnya untuk bahagia tidak selalu berarti harus memiliki segalanya, melainkan bersyukur untuk semuanya. Seperti halnya sebuah kalimat bijak berkata, "Bukan karena bahagia yang membuat kita bersyukur, tetapi karena kita bersyukur maka kita jadi bahagia." Jika kita mengerti rahasia kehidupan ini, tidak ada alasan untuk kita melupakan segala kebaikan dan kasih karunia Tuhan yang telah kita terima. Bahkan, di saat kita mengalami masa-masa yang paling sulit sekalipun, kita akan tetap merasakan ketenangan di dalam Tuhan. Di tengah badai kita merasakan damai! Apakah kita ketenangan jiwa seperti ini terjadi dalam hidup kita? Marilah kita ubah cara pandang kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, berilah aku ketenangan, bahkan di masa-masa sulit pun aku rindu Engkau hadir untuk memberi ketenangan padaku. Amin. (Dod).
Sapaan Lansia GKP Jemaat BandungKamis, 18 Juni 2026Tema : "Jangan Lagi Menoleh Ke Belakang"Bahan Alkitab : Kej 19:26Pelayan Firman : Pdt. Em. Supriatno Sudiardjo, M.Th.Episode 25 - Season 6@GKP Bandung Juni 2026
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Hendrik Monteiro dan Mery Kaona dari Komunitas Kongregasi Hati Tersuci Maria Keuskupan Maumere, Indonesia. Sirakh 48: 1-14; Mazmur tg 97: 1-2.3-4.5-6.7; Matius 6: 7-15.DOA YANGBERDEVOSI Tema renungan kita pada hari ini ialah: Doa yang Berdevosi. Seorang siswaSMP menjadi lulusan terbaik dari sekolahnya. Sebagai ungkapan syukur,pertama-tama ia berdoa di kamarnya untuk berterima kasih kepada Tuhan. Kemudiania pergi ke bapa dan ibunya untuk menyampaikan suka cita dan terima kasihnya.Kepada orang tuanya ia berkata: "Terima kasih Bapa dan Ibu, aku berusahauntuk tetap menjadi anak yang baik dan setia kepada Bapa dan Ibu." Seorang anak yang setia, patuh dan menyayangi orang tuanya akan berbuatyang terbaik untuk membahagiakan mereka. Ia tidak pernah mempunyai niat untukmengecewakan atau menyakitkan mereka. Inilah yang dimaksudkan dengan seoranganak memiliki devosi kepada orang tuanya. Demikian juga kalau doa-doa kitapenuh devosi kepada Tuhan, itu berarti kita berdoa dalam posisi sebagaiputra-putri atau anak-anak yang patuh dan setia kepada Tuhan. Doa “Bapa Kami” merupakan doa yang berdevosi, karena merupakan doa YesusKristus sebagai Putra Allah, yang menyatukan kita semua sebagaisaudara-saudari-Nya, untuk menempatkan diri kita di bawah kuasa perlindunganBapa di surga. Doa devosi ini berisi kata-kata sederhana berupa pujian,kemuliaan, syukur dan permintaan. Doa anak-anak selalu memiliki ciri-ciriseperti itu. Sedangkan doa orang besar, penguasa, cendekia dan cerdas-pandai cenderungmenjadi doa yang berlebihan. Mereka lebih suka membanjiri Tuhan dengankata-kata indah, puitis, megah dan bertele-tele. Mereka cenderung menyampaikankemampuan dan prestasi mereka di dunia seperti ingin menunjukkan bahwa merekabegitu penting di hadapan Tuhan. Sibuk dengan sebegitu rumitnya isi kata-kataitu, mereka lupa untuk bersyukur dan memohon kepada Tuhan. Doa “Bapa Kami” merupakan doa yang berdevosi karena mengungkapkan ketulusandan komitmen, bahwa mengambil bagian dalam Yesus Kristus adalah panggilan. Iniberarti, berada jauh atau bahkan di luar Yesus, sapaan kepada Tuhan sebagai“Bapa” akan menjadi aneh dan tidak logis. Devosi sangat menuntut ketulusan dankomitmen. Doa “Bapa Kami” sebagai doa yang berdevosi karena didoakan setiap saat,didoakan oleh publik, dan didoakan dalam semua jenis ibadat. Singkatnya doa inimodel bagi semua jenis doa orang-orang beriman. Doa ini diterjemahkan dalamberbagai bahasa dan dialek, maka dapat didoakan siapa saja dan di mana pun. Doa “Bapa Kami” sebagai doa yang berdevosi karena memakai kata “kami” yaitusemua pribadi orang-orang percaya yang berdevosi kepada Bapa yang ada di surga.Kita tidak memakai kata “aku” yang berarti untuk diri sendiri, atau “kita” yangtidak tepat untuk komunikasi doa dua arah, antara Tuhan dan si pendoa. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa... Ya Bapa di surga, semoga semangat doa kami tetap kuat dan membantu kami menjadikudus. Bapa kami yang ada di surga ... Dalam nama Bapa ...
Latest News SBS Audio Program Bahasa Indonesia - Thursday 11 June 2026 - Berita Terkini SBS Audio Program Bahasa Indonesia - Kamis 11 Juni 2026
Sifat Cinta Allah ‘Azza wa Jalla Menurut Ahlus Sunnah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Shahih Jami’ Ash-Shaghir. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah pada Kamis, 18 Dzulhijjah 1447 H / 4 Juni 2026 M. Kajian Tentang Sifat Cinta Allah ‘Azza wa Jalla Menurut Ahlus Sunnah Allah […] Tulisan Sifat Cinta Allah ‘Azza wa Jalla Menurut Ahlus Sunnah ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.
Sabar dan Syukur Sebagai Fondasi Keimanan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Fawaidul Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 4 Dzulhijjah 1447 H / 21 Mei 2026 M. Kajian Islam Tentang Sabar dan Syukur Sebagai Fondasi Keimanan Kajian rutin pada Kamis pagi ini kembali […] Tulisan Sabar dan Syukur Sebagai Fondasi Keimanan ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 11 Juni 2026Bacaan: "..... janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana....." (Roma 12:16)Renungan: Ketika kita bercita-cita menjadi seorang penulis, ada dua hal yang harus kita lakukan. Pertama, kita harus banyak menulis. Kedua, kita harus banyak membaca. Ya, penulis harus banyak membaca, seperti juga musisi harus banyak mendengarkan musik, sineas harus banyak menonton film, barista harus suka minum kopi, dst. Pertanyaannya, buku apa yang harus dibaca agar kita bisa menjadi penulis yang baik? Seorang penulis memberi nasihat cukup unik, la menyarankan membaca dua jenis buku: buku yang benar-benar bagus dan buku yang benar-benar jelek. Membaca buku yang sangat bagus tentu agar kita terinspirasi dan bisa membuat tulisan yang makin berkualitas. Bagaimana dengan membaca buku yang sangat jelek? Menurut penulis itu, buku yang sangat jelek juga bisa membuat kita termotivasi. "Jika tulisan sejelek itu saja ada yang mau menerbitkan, tulisan kita pasti bisa diterbitkan juga." Ada benarnya juga. Nyatanya, kita sering kali takut, bahkan putus asa karena yang kita lihat saat baru memulai sesuatu hanyalah orang-orang yang sudah ada di level sangat tinggi. Kita berhenti menulis karena tidak bisa menulis sebaik peraih Nobel Sastra. Kita berhenti menjadi musisi karena minder melihat keahlian para musisi kelas nasional bahkan internasional. Kita putus asa karena usaha yang kita rintis tidak kunjung sebesar perusahaan top. Maka, ada kalanya kita perlu juga melihat kepada hal-hal yang lebih "membumi". Bukan berarti menurunkan standar atau tak punya cita-cita tinggi. Kadang kita memang harus melihat ke atas, tapi penting juga untuk bisa melihat ke samping atau ke bawah. Keseimbangan seperti ini perlu supaya kita tidak jatuh menjadi hidup sekadar mengejar ambisi yang tak pernah habis-habisnya. Melihat ke hal-hal yang di bawah atau di sekitar, juga membuat kita bisa lebih bersyukur daripada hanya mengeluh karena kondisi kita tidak seperti orang lain. Kepada jemaat di Roma, Paulus dua kali mengingatkan mereka untuk tidak hanya memikirkan hal-hal yang tinggi (Rm. 12:3, 16), tapi mengarahkan pikiran ke hal sederhana agar tetap rendah hati. Tak ada yang salah dengan memiliki cita-cita besar, tapi jangan sampai kita lalu menjadi tak menghargai hal-hal kecil dan sederhana, karena itupun adalah berkat Tuhan untuk kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk selalu bersyukur atas hal-hal besar dan kecil dalam hidupku karena semua itu adalah berkat-Mu yang Kau berikan untukku. Amin. (Dod).
Menghadapi Masalah Rumah Tangga Menantu adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Shahih Jami’ Ash-Shaghir. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah pada Kamis, 11 Dzulhijjah 1447 H / 28 Mei 2026 M. Kajian Islam Tentang Menghadapi Masalah Rumah Tangga Menantu Beberapa riwayat dari hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa […] Tulisan Menghadapi Masalah Rumah Tangga Menantu ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.
Latest news SBS Audio Indonesian Program - Thursday 4 June 2026. - Berita Terkini SBS Audio Program Bahasa Indonesia - Kamis 4 Juni 2026.Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu jam 3 sore.Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 4 Juni 2026Bacaan: "Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang." (Amsal 23:18)Renungan: Tabonya Siddiqui mengalami luka permanen Jakibat insiden yang dialaminya saat kecil di Dhaka, Bangladesh. Usianya masih 8 tahun saat lampu minyak yang ia nyalakan karena listrik padam, tiba-tiba meledak. Api melalap tubuhnya hingga memerlukan pemulihan yang lama dan melalui serangkaian operasi yang menyakitkan. Namun itu semua tidak menghalanginya meraih cita-cita menjadi model. Impiannya terwujud ketika dipercaya menjadi model Next, produk fesyen ternama. Tanpa memanipulasi cacat fisiknya, ia berhasil mewujudkan mimpi. Siapapun ingin memiliki masa depan yang baik, tetapi jika melihat masa lalu, latar belakang, tingkat pendidikan, dan lingkungan kita berada, tidak jarang diri sendiri merasa keinginan memiliki masa depan yang baik adalah sesuatu yang muluk. Padahal, tidak ada satu impian yang terlalu muluk bagi setiap orang yang bersungguh-sungguh berusaha mewujudkannya. Sebenarnya perasaan tersebut muncul karena kita telah membatasi kemampuan diri sendiri. Jika perasaan itu tidak disingkirkan dapat menjadi penghalang terbesar kita untuk mewujudkan impian. Alkitab mencatat banyak kisah orang yang tetap memegang mimpinya meski di tengah situasi sulit. Salah satunya adalah Yusuf yang tetap percaya bahwa kelak dirinya akan menjadi orang paling mulia di tengah keluarga dan saudara-saudaranya. Itu sebabnya, ia mampu bertahan saat menghadapi masa-masa sulit, baik ketika dijual oleh saudara-saudaranya, difitnah istri Potifar, hingga saat berada di penjara. Yusuf sadar, jika ia menyerah dengan keadaan maka masa depan yang indah itu pasti tidak akan pernah dimilikinya. Apapun situasi yang kita hadapi saat ini, mari katakan pada diri sendiri untuk selalu optimis. Percayalah bahwa ada masanya awan kelam kesukaran akan berlalu dari hidup kita untuk berganti dengan pelangi yang indah! Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, kuserahkan keterbatasanku ke dalam tangan-Mu. Sempurnakanlah apa yang menjadi kekuranganku, sehingga bagaimanapun keadaanku, asal Kau ada bersamaku, maka hidupku bisa berdampak bagi banyak orang. Amin. (Dod).
Latest News SBS Audio Program Bahasa Indonesia — Thursday 28 May 2026 - Berita terkini SBS Audio Program Bahasa Indonesia – Kamis 28 Mei 2026
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 28 Mei 2026Bacaan: "Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia." (Matius 4:20)Renungan: Seorang pria menolak setiap kali ia diajak oleh sahabat-sahabatnya untuk pergi ke gereja. "Aku sibuk bekerja. Aku tidak punya waktu," katanya. Sehari-hari pria itu mengelola toko sembako. la tidak mau libur pada hari Minggu, karena pada hari inilah para pengunjung sangat ramai. Itu sebabnya, bagi pria tersebut pergi gereja pada hari Minggu seperti melewatkan keuntungan yang sangat besar. Berbeda dengan pria tersebut, saat Yesus berjalan menyusuri danau Galilea, Dia melihat dua bersaudara Simon Petrus dan Andreas. Keduanya nelayan, sedang menebar jala untuk menangkap ikan. Kata Yesus kepadanya, "Mari, ikutlah Aku." Segera mereka meninggalkan jalanya untuk mengikut Yesus. Kemudian dilihat-Nya juga dua bersaudara lain, Yakobus dan Yohanes sedang membereskan jala mereka. Yesus memanggil mereka, lalu segera mereka meninggalkan perahu. Persamaan mereka adalah kaki mereka tidak terjerat jala. Jala adalah alat untuk menangkap ikan. Dalam kehidupan sehari-hari jala digambarkan sebagai berkat Tuhan. Menakjubkan saat dipanggil oleh Yesus, mereka segera mengikut Yesus. Sementara saat ini banyak orang percaya kakinya 'terjerat jala. Setiap hari terlalu sibuk mengejar berkat sampai tidak punya waktu untuk beribadah, apalagi melayani Tuhan. Berkat seolah menahan kaki hingga tidak bisa melangkah memenuhi panggilan Tuhan atas hidup mereka. Setiap orang memiliki panggilannya masing-masing. Apapun panggilan Tuhan, ketahuilah ada hal-hal mulia yang Tuhan ingin kita lakukan dalam panggilan tersebut. Itu sebabnya, dalam mengikut Kristus jangan biarkan diri terlalu sibuk mengejar berkat. Namun, "Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua akan ditambahkan..." (Mat. 6:33). Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, terima kasih untuk setiap berkat yang telah Kau berikan padaku. Ajarilah aku untuk selalu mengucap syukur atas berkat-berkat itu dengan cara meluangkan waktuku yang terbaik untuk senantiasa berkencan dengan-Mu dan melayani-Mu. Amin. (Dod).
Latest News SBS Audio Program Bahasa Indonesia — Thursday 21 May 2026 - Berita terkini SBS Audio Program Bahasa Indonesia – Kamis 21 Mei 2026
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 21 Mei 2026Bacaan: "TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu." (Mazmur 5:4)Renungan: Seorang pemuda terbiasa berdoa pagi sebelum ia memulai aktivitasnya. Kebiasaan ini sudah dilakukannya sejak lama, karena sejak kecil ayahnya mendidiknya untuk bertindak begitu. Suatu hari pemuda itu pernah bertanya kepada sang ayah, "Mengapa harus berdoa terlebih dahulu?" "Berdoa menunjukkan kalau kita tidak sombong," jawab ayahnya. "Dengan berdoa kita juga menyatakan bahwa diri sendiri tidak sanggup menjalani hari tanpa pimpinan dan penyertaan Tuhan, ucapnya lagi" Sudah bukan rahasia lagi jika kehidupan di dunia ini tidak mudah untuk dijalani. Di dalamnya ada banyak tantangan dan pergumulan, sehingga bukankah suatu kesombongan jika kita menjalani hari tanpa melibatkan Tuhan? Alkitab mencatat bahwa Daud merupakan seorang yang berkenan di hati Tuhan (Kis. 13:22). Sebutan ini disematkan padanya, karena Daud tidak sombong. Pada waktu pagi Daud mengatur persembahan bagi Tuhan, yang artinya Daud memulai setiap hari dengan berdoa. Kitab Mazmur memuat salah satu doa yang dilayangkan Daud pada pagi hari. Di situ ia meminta pimpinan dari Tuhan, katanya, "Tuhan, tuntunlah aku dalam keadilan-Mu." (ay. 9a). la juga meminta penyertaan berupa pagar anugerah dan berkat (ay. 13). Tidak heran Daud dapat melewatkan setiap tantangan dengan kemenangan. la dapat mengatasi setiap pergumulan yang menerpanya. Berkaca dari pengalaman Daud tersebut, jika kita sering merasa frustasi boleh jadi penyebabnya adalah kesombongan diri sendiri. Begitu bangun tidur langsung sibuk dengan berbagai urusan, lupa akan Tuhan. Marilah kita menjadi pribadi yang rendah hati dengan berdoa terlebih dahulu sebelum memulai hari. Setiap sebelum memulai aktivitas, mari meminta pimpinan dan penyertaan Tuhan. Begitupun sebelum tidur malam, mari kembali berdoa. Kita bersyukur atas pimpinan dan penyertaan Tuhan sepanjang hari itu. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, berilah aku rahmat kerendahan hati di hadapan-Mu, sehingga aku selalu meluangkan waktu terbaikku untuk duduk tenang dan bercakap-cakap dengan-Mu melalui doa harianku. Amin. (Dod).
Adab Jeda Antara Adzan dan Iqamah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Shahih Jami’ Ash-Shaghir. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah pada Kamis, 20 Dzulqa’dah 1447 H / 7 Mei 2026 M. Kajian Islam Tentang Adab Jeda Antara Adzan dan Iqamah Pembahasan kali ini melanjutkan penjelasan mengenai beberapa hadits, diawali dengan […] Tulisan Adab Jeda Antara Adzan dan Iqamah ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 14 Mei 2026Bacaan: Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah la kepada orang lumpuh itu, "Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!" (Markus 2:5)Renungan: Seorang pria sedang marah kepada Tuhan. Pagi ini muncul dua anak ayam di depan rumahnya. Padahal malam sebelumnya ia berdoa meminta telur ayam. "Bisa-bisanya Tuhan salah memberi!" katanya geram. "Tuhan tidak salah, Pak," sahut istrinya, "Anak ayam yang Tuhan berikan ini justru supaya nanti kau dapat sering makan telur ayam." Empat orang menggotong seorang lumpuh menuju rumah tempat Yesus berada. Mereka berharap Yesus memberikannya kesembuhan. Karena banyak orang berkerumun di rumah itu mereka tidak dapat masuk untuk menemui Yesus. Maka mereka membuka atap rumah, menurunkan si lumpuh bersama tikarnya di depan Yesus. Kata Yesus kepada si lumpuh, "Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!" (ay. 5). Tampaknya seolah Yesus salah memberi. Ia memberi pengampunan dosa bukan kesembuhan. Namun, bila kita perhatikan situasinya lebih saksama, kita tahu kalau pemberian Yesus tidak salah. Selama ini si lumpuh hidup dalam pemikiran bahwa keadaannya yang merana disebabkan oleh besar dosanya. Ia perlu mendengar dirinya diampuni, tidak dihukum oleh Allah. Pengampunan membuka pintu bagi kesembuhan. Si lumpuh menyadari Allah berkenan kepadanya. Saat itulah Yesus memberikan kesembuhan. Kata Yesus, "Bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!" (ay. 11). Tuhan tidak pernah salah memberikan sesuatu kepada kita. Maka mulai hari ini jangan kita menjadi tawar hati bila pemberian Tuhan datang tidak seperti yang kita harapkan. Sadarilah bahwa pemberian Tuhan tersebut merupakan berkat awal sebelum berkat yang sebenarnya akan kita terima. Contoh sebelum datang kesuksesan, Tuhan memberi kita pengalaman kerendahan hati. Sebelum datang kelimpahan, Tuhan mengajar bagaimana supaya hati tidak terpaut kepada harta duniawi. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, kini aku mengerti bahwa terkadang apa yang aku harapkan tidak seperti yang Kau berikan, karena ternyata dibalik itu semua Engkau sudah mempersiapkan yang terbaik bagiku. Oleh karena itu ajarilah aku untuk tidak cepat kecewa bila yang kuterima tidak seperti harapanku. Amin. (Dod).
Latest news SBS Audio Indonesian Program - Thursday 7 May 2026 - Berita Terkini SBS Audio Program Bahasa Indonesia - Kamis 7 Mei 2026.
Empat Syarat Mengambil Manfaat dari Al-Qur’an adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Fawaidul Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 13 Dzulqa’dah 1447 H / 30 April 2026 M. Kajian Islam Tentang Empat Syarat Mengambil Manfaat dari Al-Qur’an Pembahasan kali ini melanjutkan tafsir Al-Qur’an surah Qaf yang pada pertemuan sebelumnya telah […] Tulisan Empat Syarat Mengambil Manfaat dari Al-Qur’an ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 7 Mei 2026Bacaan: "Cara yang demikianlah diperbuat Absalom kepada semua orang Israel yang mau masuk menghadap untuk diadili perkaranya oleh raja, dan demikianlah Absalom mencuri hati orang-orang Israel." (2 Samuel 15:6)Renungan: Kita sering mendengar peribahasa ada udang di balik batu. Jika seseorang terlihat baik, belum tentu ia benar-benar baik. Kita tidak pernah tahu kalau saja ia punya maksud tersembunyi. Berbuat baik, tapi tidak tulus, Berbuat baik tapi ada maunya. Bukan berarti kita harus curiga kalau melihat seseorang melakukan perbuatan baik. Daripada sibuk menilai dan mencari tahu motivasi orang dalam melakukan kebaikan, lebih baik kita menjaga hati kita supaya tidak melakukan hal seperti ini. Setiap kali kita akan melakukan perbuatan baik, cobalah kita jujur kepada diri kita sendiri, "Apakah kita melakukan kebaikan karena didasari kasih yang tulus, ataukah sebenarnya kita punya agenda tersembunyi?" Absalom itu punya modal yang komplit untuk menjadi pemimpin besar Israel. Punya perawakan yang gagah, elok rupanya, cakap, dan terutama: pintar mengambil hati rakyat! Maka rakyat pun tertarik dengan kebaikan yang ditunjukkan oleh Absalom. Betapa tidak? Dengan telaten Absalom mengambil hati rakyat Israel dengan kebaikan-kebaikan yang dilakukannya. Tidak main-main, "udang itu bersembunyi di balik batu" hingga empat tahun! Betapa telatennya Absalom membangun citranya demi mengumpulkan massa. Begitu mayoritas orang Israel berpihak kepadanya, barulah ketahuan sifat asli Absalom, yaitu ia ingin memberontak dan mengkudeta ayahnya sendiri! Perbuata baik tanpa disertai dengan ketulusan itu berbahaya. Cobalah jujur kepada diri kita sendiri, apakah kita tulus dalam melakukan kebaikan, ataukah sebenarnya kita punya maksud tersembunyi? Sebagai anak-anak Tuhan, sungguh tidak pantas kalau kebaikan kita sebenarnya memiliki agenda terselubung. Bagaimana mungkin kita berharap Tuhan memberkati kebaikan yang kita lakukan, jika sebenarnya kita punya maksud yang tersembunyi, terlebih lagi jika kita punya maksud yang jahat seperti halnya yang dilakukan oleh Absalom! Jadilah orang yang baik tapi tulus. Menolong tanpa pamrih. Memberi tanpa berharap imbalan, Murah hati tanpa berharap kembali. Ketika kita tulus dalam berbuat baik, maka Tuhan sendiri yang akan membalas setiap kebaikan kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, murnikanlah hatiku saat melakukan perbuatan baik, sehingga kebaikan yang aku lakukan semata-mata hanya untuk kemuliaan nama-Mu dan bukan untuk menyombongkan diriku sendiri. Amin. (Dod).
Dua Hal yang Dibenci Manusia Namun Mengandung Kebaikan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Shahih Jami’ Ash-Shaghir. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah pada Kamis, 6 Dzulqa’dah 1447 H / 23 April 2026 M. Kajian Islam Tentang Dua Hal yang Dibenci Manusia Namun Mengandung Kebaikan Pembahasan kali ini akan mengulas hadits […] Tulisan Dua Hal yang Dibenci Manusia Namun Mengandung Kebaikan ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.
Latest News SBS Audio Indonesian Program - Thursday 30 April 2026 - Berita Terkini SBS Audio Program Bahasa Indonesia – Kamis 30 April 2026
Latest News SBS Audio Program Bahasa Indonesia — Thursday 23 April 2026 - Berita terkini SBS Audio Program Bahasa Indonesia – Kamis 23 April 2026
This is it — the finale of our 10-part series on grief, and we're closing with a Gate that might be the most quietly powerful one yet: Other. That's right, the catchall. The one that says: if your loss doesn't fit neatly into a framework, it still counts. If you're feeling it, it counts. Losses that fall into this category include: Identity shifts, infertility, retirement, faded friendships, the life you thought you'd have — and anything else. We also reflect on the full arc of the series, sharing four essential takeaways about grief, and perhaps most importantly, making the case that grief and joy aren't opposites. They're companions. And working with one deepens your capacity for both. If you've been putting off your grief because it seemed too small, too strange, or too hard to explain to anyone else — this episode is your permission slip. This episode is part of a 10-part series on grief. You can jump in here and circle back to Episode 248 when you're ready. p.s. Find a Simple Joy practice for this episode right here at our blog. About: The Joy Lab Podcast is an Ambie-nominated podcast that blends science and soul to help you cope better with stress, ease anxiety, and uplift mood. Join Dr. Henry Emmons and Dr. Aimee Prasek for practical, mindfulness-based tools and positive psychology strategies to build resilience and create lasting joy. Take the next leap in your wellbeing journey with the Joy Lab Program. If you enjoyed this episode, please rate and review us wherever you listen to your favorite podcasts! And... if you want to spread some joy and keep this podcast ad-free, then please join our mission by donating (Joy Lab is powered by the nonprofit Pathways North and your donations are tax-deductible). Like and follow Joy Lab on Socials: Instagram TikTok Linkedin Watch on YouTube Key moments: [00:00:00] — This is the final episode of Joy Lab's 10-part Grief Series, beginning with episode 248. Overview of the framework: Francis Weller's Five Gates of Grief, with additional gates from other practitioners. [00:01:00] — Introducing the Ninth Gate: Other. Examples include: identity transitions, infertility, miscarriage, abortion, aging, retirement, relocating, faded friendships, missed opportunities, a diagnosis. The message of this Gate: your grief is valid, even if it doesn't fit a category. [00:02:00] — Why the "Other" Gate matters: it gives permission to grieve things we didn't think were grievable. Henry reflects on grief he carried about the life he imagined for his later years. Sometimes the losses that linger longest are the ones we felt we weren't allowed to name. [00:03:00] — The Ninth Gate as permission: no framework, however good, can contain all of grief. If it feels like a loss, it is a loss. This Gate honors grief's vastness and individuality. [00:04:00] — Connecting grief to our Element of Joy for this month: Equanimity. Real equanimity isn't about avoiding highs and lows — it includes grief. [00:05:00] — Real equanimity is the ability to stay present with whatever's happening — joy, fear, sorrow, love — without being swept away. Grief can be a storm, but we can learn to work with it rather than be destroyed by it. [00:06:00] — How grief becomes workable: by practicing with smaller emotions when they're less overwhelming, we build capacity. Touching grief lightly, letting it move through — that's how the storm becomes survivable. The whole series has been about building exactly this capacity. [00:07:00] — Four Key Takeaways from the Grief Series: Takeaway 1: Grief is not a problem to solve or something to get over. It's a natural response to loss — and loss is part of living. Takeaway 2: Grief is communal. Billions of people are working with these gates. You are not alone. Takeaway 3: Grief is a skill we have to practice — consistent, regular grief-hygiene rituals help us work with frequent losses before they accumulate. The small "Other" griefs percolating in the background? Name them. Work with them. That's great training. Takeaway 4: Grief isn't just about death or obvious losses. Curiosity about how loss touches us is itself a powerful mental health skill. When we're willing to see and hold our losses, we can also see and hold the love around us — and within us. [00:09:00] — The gifts of grief, Part 1: Henry reflects on what this series — and his own prolonged experience of grief — has given him. Grief opens us to compassion. When you've been through real loss, you recognize it in others. You understand their struggle at a level you couldn't before. That's profound connection. [00:10:00] — The gifts of grief, Part 2: Grief brings wisdom. You learn what really matters. You stop wasting time on what doesn't. Henry shares something personal: "I am more tender now. More permeable. I feel things more deeply." And because of that, he's more open to joy — because you can't close yourself off to pain without also closing yourself off to beauty, love, and wonder. [00:11:00] — Grief and joy are not opposites — they're companions. The deeper your capacity for grief, the deeper your capacity for joy. Both require an open heart. Henry's closing encouragement: "Don't be afraid of grief. Let it be your teacher. Let it make you more of who you really are." [00:12:00] — Closing wisdom from Kahlil Gibran: "The deeper that sorrow carves into your being, the more joy you can contain." Full transcipt here Sources and Notes for this full grief series: Joy Lab Program: Take the next leap in your wellbeing journey with step-by-step practices to help you build and maintain the elements of joy in your life. Grief Series: The Grief Series: The Wholeness of Being Human [part 1, ep 248] Everything We Love, We Will Lose: Navigating the First Gate of Grief[part 2, ep 249] Welcoming Back the Parts of You That Have Not Known Love [part 3, ep 250] Why You Can't Escape the Sorrows of the World (and why that's a good thing) [part 4, ep 251] Born to Belong: Grieving What Should Have Been There From the Start [part 5, ep 252] Breaking the Cycle: Ancestral Grief, Epigenetics, and the Power to Change Your Legacy [part 6, ep 253] How Facing the Harm You've Done Can Set You Free [part 7, ep 254] How the World's Pain Enters Your Body and What to Do Next [part 8, ep 255] Related Episodes: Savoring the Present and Overcoming FOBO (it's kinda like FOMO...) [ep 45] Wild Edge of Sorrow by Francis Weller The Four Things That Matter Most by Ira Byock, M.D. Beckes & Sbarra, Social baseline theory: State of the science and new directions. Access here Beckes, et al. (2011). Social Baseline Theory: The Role of Social Proximity in Emotion and Economy of Action. Access here Bunea et al. (2017). Early-life adversity and cortisol response to social stress: a meta-analysis. Access here. Eisma, et al. (2019). No pain, no gain: cross-lagged analyses of posttraumatic growth and anxiety, depression, posttraumatic stress and prolonged grief symptoms after loss. Access here Hirschberger G. (2018). Collective Trauma an d the Social Construction of Meaning. Frontiers in psychology, 9, 1441. Access here Kamis, et al. (2024). Childhood maltreatment associated with adolescent peer networks: Withdrawal, avoidance, and fragmentation. Access here Lehrner, et al. (2014). Maternal PTSD associates with greater glucocorticoid sensitivity in offspring of Holocaust survivors. Access here Maier & Seligman. (2016). Learned helplessness at fifty: Insights from neuroscience. Access here Sheehy, et al. (2019). An examination of the relationship between shame, guilt and self-harm: A systematic review and meta-analysis. Access here Strathearn, et al. (2020). Long-term Cognitive, Psychological, and Health Outcomes Associated With Child Abuse and Neglect. Access here Yehuda et al. (1998). Vulnerability to posttraumatic stress disorder in adult offspring of Holocaust survivors. Access here. Yehuda, et al. (2018). Intergenerational transmission of trauma effects: putative role of epigenetic mechanisms. Access here Please remember that this content is for informational and educational purposes only. It is not intended to provide medical advice and is not a replacement for advice and treatment from a medical professional. Please consult your doctor or other qualified health professional before beginning any diet change, supplement, or lifestyle program. Please see our terms for more information. If you or someone you know is struggling or in crisis, help is available. Call the NAMI HelpLine: 1-800-950-6264 available Monday through Friday, 10 a.m. – 10 p.m., ET. OR text "HelpLine" to 62640 or email NAMI at helpline@nami.org. Visit NAMI for more. You can also call or text SAMHSA at 988 or chat 988lifeline.org.
Grief doesn't wait for loss to arrive. Sometimes it shows up early — sitting beside you while someone you love is still right there. That's anticipatory grief, and if you've ever felt your mind drift to a future without someone while they're still in the room, you already know it. In this episode of Joy Lab, Dr. Henry Emmons and Dr. Aimee Prasek explore the Eighth Gate of Grief: the grief, stress, anxiety, and dread that can accompany an expected loss — whether that's a terminal diagnosis, a parent's cognitive decline, a marriage ending, or even broader fears about the world your kids will inherit. Anticipatory grief can be a mentally and emotionally exhausting experience, and it doesn't get nearly enough airtime in conversations about mental health. Importantly, this episode won't tell you how to stop anticipatory grief — because you shouldn't. Research suggests it can actually support healing. What it will give you: science-backed tools for staying present, a simple framework for saying what matters most before it's too late, and honest guidance on sustaining yourself through anticipatory grief. If anxiety, depression, or stress around future loss is weighing on you — or someone you love — this one's for you. This episode is part of a 10-part series on grief. You can jump in here and circle back to Episode 248 when you're ready. p.s. Find a Simple Joy practice for this episode right here at our blog. About: The Joy Lab Podcast is an Ambie-nominated podcast that blends science and soul to help you cope better with stress, ease anxiety, and uplift mood. Join Dr. Henry Emmons and Dr. Aimee Prasek for practical, mindfulness-based tools and positive psychology strategies to build resilience and create lasting joy. Take the next leap in your wellbeing journey with the Joy Lab Program. If you enjoyed this episode, please rate and review us wherever you listen to your favorite podcasts! And... if you want to spread some joy and keep this podcast ad-free, then please join our mission by donating (Joy Lab is powered by the nonprofit Pathways North and your donations are tax-deductible). Like and follow Joy Lab on Socials: Instagram TikTok Linkedin Watch on YouTube Key moments: [00:00] — Introduction to the Eighth Gate: Anticipatory Grief [00:45] — What anticipatory grief is: the grief we feel in advance of an expected loss — terminal illness, dementia, a marriage ending, fears about the future of our planet or our children's world [01:00] — The extra "frosting" of this gate: dread, helplessness, and worry about what hasn't happened yet [01:15] — Anticipatory grief and cancer [02:30] — Anticipatory grief and Alzheimer's [04:00] — "We are apprentices to our grief, every time" — on never mastering grief, only practicing it [05:00] — FOBO: Fear Of Being Over — an earlier Joy Lab concept that connects to anticipatory grief and the pull away from the present moment [05:45] — Normalizing anticipatory grief: the goal is not to stop it, but to understand it [06:15] — The science: research on anticipatory grief shows it can actually be helpful — those who grieved some before a spouse died tended to have better outcomes afterward [07:30] — The void that often hits a month after a loss, when others return to their lives; how anticipatory grieving can build a support network that remains [08:00] — Anticipatory grief and early-onset Alzheimer's [13:45] — What anticipatory grief is really about: acceptance; facing truth instead of pushing it away [14:15] — Recognizing avoidance [14:45] — Anticipatory grief as a gift: time to say what needs to be said, to be present differently, to love fully even while grieving [15:15] — Practicing loving fully amidst grief; being kind to yourself about grieving while the person is still present; holding both the grief of the future and the goodness of the present — they can happen at the same time [16:45] — The Four Things That Matter Most (Dr. Ira Byock, hospice physician): Please forgive me. I forgive you. Thank you. I love you. [17:15] — Why saying these things — even imperfectly — creates completion and reduces regret [19:15] — The gift anticipatory grief offers that sudden loss cannot: the chance to share grief with someone, say the four things, have the conversation together [20:00] — Tending to your own wellbeing during anticipatory grief; checking your energy and nourishment levels; you have to take breaks, let people help, do nourishing things for yourself — it's not selfish, it's sustainable [21:45] — Small ways to refuel: a walk, a phone call, sitting outside, noticing breath; don't wait until you're depleted — build it in now; Letting people support you; they often want to help but don't know how — be specific; "Can you bring dinner Tuesday? Can you sit with her while I go to the store?" [22:30] — Anticipatory grief is a marathon, not a sprint; pace yourself; stepping back to breathe and enjoy lightness is not denial — it's wisdom [23:30] — Closing quote from Rilke: "Let everything happen to you: beauty and terror. Just keep going. No feeling is final." Sources and Notes for this full grief series: Joy Lab Program: Take the next leap in your wellbeing journey with step-by-step practices to help you build and maintain the elements of joy in your life. Grief Series: The Grief Series: The Wholeness of Being Human [part 1, ep 248] Everything We Love, We Will Lose: Navigating the First Gate of Grief[part 2, ep 249] Welcoming Back the Parts of You That Have Not Known Love [part 3, ep 250] Why You Can't Escape the Sorrows of the World (and why that's a good thing) [part 4, ep 251] Born to Belong: Grieving What Should Have Been There From the Start [part 5, ep 252] Breaking the Cycle: Ancestral Grief, Epigenetics, and the Power to Change Your Legacy [part 6, ep 253] How Facing the Harm You've Done Can Set You Free [part 7, ep 254] How the World's Pain Enters Your Body and What to Do Next [part 8, ep 255] Related Episodes: Savoring the Present and Overcoming FOBO (it's kinda like FOMO...) [ep 45] Wild Edge of Sorrow by Francis Weller The Four Things That Matter Most by Ira Byock, M.D. Beckes & Sbarra, Social baseline theory: State of the science and new directions. Access here Beckes, et al. (2011). Social Baseline Theory: The Role of Social Proximity in Emotion and Economy of Action. Access here Bunea et al. (2017). Early-life adversity and cortisol response to social stress: a meta-analysis. Access here. Eisma, et al. (2019). No pain, no gain: cross-lagged analyses of posttraumatic growth and anxiety, depression, posttraumatic stress and prolonged grief symptoms after loss. Access here Hirschberger G. (2018). Collective Trauma an d the Social Construction of Meaning. Frontiers in psychology, 9, 1441. Access here Kamis, et al. (2024). Childhood maltreatment associated with adolescent peer networks: Withdrawal, avoidance, and fragmentation. Access here Lehrner, et al. (2014). Maternal PTSD associates with greater glucocorticoid sensitivity in offspring of Holocaust survivors. Access here Maier & Seligman. (2016). Learned helplessness at fifty: Insights from neuroscience. Access here Sheehy, et al. (2019). An examination of the relationship between shame, guilt and self-harm: A systematic review and meta-analysis. Access here Strathearn, et al. (2020). Long-term Cognitive, Psychological, and Health Outcomes Associated With Child Abuse and Neglect. Access here Yehuda et al. (1998). Vulnerability to posttraumatic stress disorder in adult offspring of Holocaust survivors. Access here. Yehuda, et al. (2018). Intergenerational transmission of trauma effects: putative role of epigenetic mechanisms. Access here Full transcript here Please remember that this content is for informational and educational purposes only. It is not intended to provide medical advice and is not a replacement for advice and treatment from a medical professional. Please consult your doctor or other qualified health professional before beginning any diet change, supplement, or lifestyle program. Please see our terms for more information. If you or someone you know is struggling or in crisis, help is available. Call the NAMI HelpLine: 1-800-950-6264 available Monday through Friday, 10 a.m. – 10 p.m., ET. OR text "HelpLine" to 62640 or email NAMI at helpline@nami.org. Visit NAMI for more. You can also call or text SAMHSA at 988 or chat 988lifeline.org.
Grief doesn't only come from what happens to us directly. In this episode of our Grief Series, we'll look through the Seventh Gate: Trauma — specifically collective trauma and secondary (vicarious) trauma. We'll break down what these are, how they physically land in your body, what the Window of Tolerance really means for your day-to-day life, and what to do when you find yourself overwhelmed by stress. We'll explore super helpful theories like the tend-and-befriend stress response, the power of your hope circuit, the eternal wisdom of finding the Middle Way, and practical guidance for navigating a world that can feel relentlessly heavy. This episode is part of a 10-part series on grief. You can jump in here and circle back to Episode 248 when you're ready. p.s. Find a Simple Joy practice for this episode right here at our blog. About: The Joy Lab Podcast is an Ambie-nominated podcast that blends science and soul to help you cope better with stress, ease anxiety, and uplift mood. Join Dr. Henry Emmons and Dr. Aimee Prasek for practical, mindfulness-based tools and positive psychology strategies to build resilience and create lasting joy. Take the next leap in your wellbeing journey with the Joy Lab Program. If you enjoyed this episode, please rate and review us wherever you listen to your favorite podcasts! And... if you want to spread some joy and keep this podcast ad-free, then please join our mission by donating (Joy Lab is powered by the nonprofit Pathways North and your donations are tax-deductible). Like and follow Joy Lab on Socials: Instagram TikTok Linkedin Watch on YouTube Key moments: [00:00] — Introduce the Seventh Gate: Trauma [00:48] — A gentle reminder to listen with care [01:30] — Defining collective trauma: shared psychological impact affecting communities, societies, and the globe; examples include COVID, 9/11, mass shootings, natural disasters, and chronic collective traumas like racism and classism [02:00] — Defining secondary trauma / vicarious trauma: how negative effects occur through hearing accounts, watching videos, 24/7 news exposure; not uncommon in caregivers, healthcare workers, therapists, and first responders [03:30] — Why the brain doesn't always distinguish direct from indirect trauma; secondary trauma can produce symptoms identical to direct trauma; we are wired to survive in communities [04:00] — The losses this gate surfaces: safety, trust in institutions, community connection, shared understanding, and moral injuries [05:00] — Linda Thai's definition of trauma: "what happened that shouldn't have, and what should have happened that didn't" — and why the second half matters just as much [06:30] — Minnesota ICE surge reflection; what was missing that could have softened the trauma; community connection as a powerfully protective presence [07:45] — The tend-and-befriend stress response and why it's especially suited to collective grief [08:40] — Physical symptoms of collective trauma: brain fog, sleep problems, appetite changes, jumpiness, physical tension, digestive issues [09:20] — How collective stress lowers individual stress tolerance; why the tend-and-befriend response is so adaptive here [09:50] — Dan Siegel's Window of Tolerance introduced: the zone for healthy stress response; why collective trauma shrinks the window [10:20] — What happens outside the window: hyperarousal and hypoarousal introduced [11:00] — Deep dive on hyperarousal: panic, racing thoughts, anger, hypervigilance; why narrow focus is counterproductive; how sustained overactivation overwhelms the nervous system [13:00] — Hypoarousal: numbness, flatness, disconnection, apathy, brain fog; the freeze/"bite" stress response as protective feature, not personal failure; the COVID grocery bag arc [14:30] — Gentle activation strategies for moving out of hypoarousal: small movements, mindful breathing, connecting with safe people, small accomplishments [15:30] — Learned helplessness reexamined: the original researchers got it backward — helplessness is the brain's default, not something learned [16:00] — The Hope Circuit: prefrontal cortex overrides the helplessness default when actions are seen to matter; cross-stressor effect of agency [16:40] — What agency looks like in practice: self-talk, social connections, information choices, body care, small service acts, values [17:30] — Henry's activating-to-calming spectrum; using the Middle Way framework to self-regulate within the Window of Tolerance [18:30] — What to do when you've gone outside the window: micro-changes, one small choice at a time; deep rest when needed [20:10] — Balance is not a destination; the goal is not to eliminate stress responses but to navigate them more skillfully [21:15] — Self-care during collective trauma enables wise collective action [21:45] — Closing wisdom from Clarissa Pinkola Estés on standing up and showing your soul Sources and Notes for this full grief series: Joy Lab Program: Take the next leap in your wellbeing journey with step-by-step practices to help you build and maintain the elements of joy in your life. Grief Series: The Grief Series: The Wholeness of Being Human [part 1, ep 248] Everything We Love, We Will Lose: Navigating the First Gate of Grief[part 2, ep 249] Welcoming Back the Parts of You That Have Not Known Love [part 3, ep 250] Why You Can't Escape the Sorrows of the World (and why that's a good thing) [part 4, ep 251] Born to Belong: Grieving What Should Have Been There From the Start [part 5, ep 252] Breaking the Cycle: Ancestral Grief, Epigenetics, and the Power to Change Your Legacy [part 6, ep 253] How Facing the Harm You've Done Can Set You Free [part 7, ep 254] Wild Edge of Sorrow by Francis Weller Linda Thai's website Dan Siegel's website Clarissa Pinkola Estés' website Beckes & Sbarra, Social baseline theory: State of the science and new directions. Access here Beckes, et al. (2011). Social Baseline Theory: The Role of Social Proximity in Emotion and Economy of Action. Access here Bunea et al. (2017). Early-life adversity and cortisol response to social stress: a meta-analysis. Access here. Eisma, et al. (2019). No pain, no gain: cross-lagged analyses of posttraumatic growth and anxiety, depression, posttraumatic stress and prolonged grief symptoms after loss. Access here Hirschberger G. (2018). Collective Trauma an d the Social Construction of Meaning. Frontiers in psychology, 9, 1441. Access here Kamis, et al. (2024). Childhood maltreatment associated with adolescent peer networks: Withdrawal, avoidance, and fragmentation. Access here Lehrner, et al. (2014). Maternal PTSD associates with greater glucocorticoid sensitivity in offspring of Holocaust survivors. Access here Maier & Seligman. (2016). Learned helplessness at fifty: Insights from neuroscience. Access here Sheehy, et al. (2019). An examination of the relationship between shame, guilt and self-harm: A systematic review and meta-analysis. Access here Strathearn, et al. (2020). Long-term Cognitive, Psychological, and Health Outcomes Associated With Child Abuse and Neglect. Access here Yehuda et al. (1998). Vulnerability to posttraumatic stress disorder in adult offspring of Holocaust survivors. Access here. Yehuda, et al. (2018). Intergenerational transmission of trauma effects: putative role of epigenetic mechanisms. Access here Please remember that this content is for informational and educational purposes only. It is not intended to provide medical advice and is not a replacement for advice and treatment from a medical professional. Please consult your doctor or other qualified health professional before beginning any diet change, supplement, or lifestyle program. Please see our terms for more information. If you or someone you know is struggling or in crisis, help is available. Call the NAMI HelpLine: 1-800-950-6264 available Monday through Friday, 10 a.m. – 10 p.m., ET. OR text "HelpLine" to 62640 or email NAMI at helpline@nami.org. Visit NAMI for more. You can also call or text SAMHSA at 988 or chat 988lifeline.org.