POPULARITY
Categories
Hai Wonder Kids, kembali dalam renungan anak GKY Mangga Besar. Judul renungan hari ini adalah Pahlawan yang Rendah Hati Diambil dari: Filipi 2:3–4 “dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”Wonder Kids, ada orang yang sangat hebat dalam bidangnya, tetapi tidak suka membanggakan diri. Ia lebih senang membantu timnya daripada terus berbicara tentang dirinya sendiri. Sikap seperti itu jarang sekali, ya. Biasanya kalau orang berhasil, ia ingin semua orang tahu betapa hebatnya dia.Tetapi firman Tuhan mengajarkan hal yang berbeda. Tuhan mau kita rendah hati. Rendah hati bukan berarti kita pura-pura tidak bisa apa-apa. Rendah hati artinya kita tidak sibuk mengangkat diri sendiri, melainkan belajar memikirkan orang lain dan tidak mencari pujian untuk diri sendiri.Dan tahukah kamu, Wonder Kids? Yesus adalah teladan rendah hati yang paling sempurna. Yesus adalah Anak Allah. Ia punya kuasa yang sangat besar. Tetapi saat datang ke dunia, Yesus tidak datang untuk dilayani. Yesus datang untuk melayani. Ia menolong orang, mengajar, mengasihi, bahkan rela menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Wah, itu rendah hati yang sungguh luar biasa.Kadang-kadang kita juga ingin dipuji. Kita ingin dianggap paling pintar, paling hebat, paling cepat, atau paling baik. Kita bisa sedih kalau orang lain yang dipuji, bukan kita. Tetapi Tuhan mengajar kita untuk melihat kepada Yesus. Yesus tidak hidup untuk membesarkan diri-Nya sendiri. Yesus hidup untuk melakukan kehendak Bapa dan mengasihi orang lain.Wonder Kids, itu juga yang Tuhan mau dari hidup kita. Saat kamu membantu teman, mau berbagi, tidak pamer, tidak merasa diri paling penting, dan senang melihat orang lain ditolong, kamu sedang belajar rendah hati. Rendah hati itu indah di mata Tuhan.Wonder Kids, hari ini lakukan ini: Pilih satu cara untuk mendahulukan orang lain hari ini. Misalnya, membantu tanpa disuruh, memberi giliran kepada orang lain, atau tidak memaksa kehendakmu sendiri.Mari kita berdoa: Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau adalah teladan yang sempurna dalam kerendahan hati. Tolong aku supaya tidak sibuk memikirkan diriku sendiri, tetapi belajar mengasihi, melayani, dan memperhatikan orang lain. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa, Amin.Wonder Kids, ingatlah: orang yang sungguh hebat di mata Tuhan bukan yang suka meninggikan diri, tetapi yang rendah hati seperti Yesus. Tuhan Yesus memberkati.
Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 16 Juni 2026Bacaan: Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?" (Markus 4:38)Renungan: Ada satu pertanyaan, "Kapan seseorang dikatakan tidak peduli?" Jawabnya adalah, "Ketika ia tidak mau tahu dengan apa yang terjadi, la menolak memahami, ia acuh, dan menganggap orang lain tidak penting." Orang yang tak peduli juga egois dan memikirkan dirinya sendiri. Sikap seperti itu tentu sangat jauh dari karakter Yesus. Namun, Alkitab mencatat bahwa setidaknya dua kali Yesus dituduh sebagai pribadi yang tidak peduli. Mereka yang mengatakan demikian adalah orang-orang terdekat-Nya. Yang pertama adalah para murid-Nya sendiri. Ketika badai menerjang perahu mereka dan Yesus tidur di buritan, para murid membangunkan-Nya dan menyebut-Nya tidak peduli (Mrk. 4:38). Yang kedua adalah Marta. Meski tidak termasuk ke dalam 12 murid, Marta adalah salah satu sahabat terdekat Yesus. Saat itu, Marta kerepotan menjamu para murid dan ia merasa kesal karena melihat Maria, saudarinya, hanya duduk mendengarkan Yesus mengajar. la menyebut Yesus tidak peduli melihat dirinya repot sementara Maria tidak membantunya (Luk. 10:40). Mengapa mereka bisa berpikir Yesus tak peduli? Di mata para murid, mereka merasa Yesus hanya peduli diri-Nya sendiri karena tetap tidur saat semuanya sibuk menguras perahu yang kemasukan air. Di mata Marta, Yesus tidak menganggap penting susah payah Marta dalam menjamu para tamunya itu. Respons Yesus terhadap tuduhan itu memberi alasan sebenarnya. Kekhawatiran (Luk. 10:41) dan ketakutan (Mrk. 4:40) membuat mereka merasa Yesus seolah tidak peduli. Demikian juga ketika kita merasa Tuhan diam saja, ketika kita merasa Tuhan bahkan tidak peduli pada kita. Daripada menuduh Dia, periksalah diri kita. Bukankah kekhawatiran dan ketakutan kita yang bicara demikian? Kekhawatiran sering kali muncul karena kita tidak mengenal Tuhan dengan benar. Karena itulah, Yesus berkata, daripada khawatir, carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya (Mat. 6:33). Orang yang tidak mengenal Allah akan sibuk dengan kekhawatirannya (Mat. 6:31-32). Namun, ketika kita benar-benar mengenal Allah, kita tahu bahwa la tidak akan membiarkan kita. Kita juga akan bisa melihat apa yang ada di hadapan kita dengan cara yang benar. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, lepaskanlah aku dari rasa ketakutan dan kekhawatiran yang menyebabkan aku meragukan kuasa-Mu. Tambahkan imanku sehingga aku percaya bahwa Engkau lebih besar dari ketakutan dan kekhawatiranku. Amin. (Dod).
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. - Sikap Ahlu Sunnah Menghadapi Pemimpin Yang Dzolim - Umn
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Olivia, Andrew dan Shendy Jost dari Paroki Santo Albertus Agung di Keuskupan Agung Makassar, Indonesia. 2 Timotius 3: 10-17; Mazmur tg 119: 157.160.161.165.166.168; Markus 12: 35-37.RELASI YESUS KRISTUS DAN DAUD Tema renungan kita pada hari iniialah: Relasi Yesus Kristus dan Daud. Dalam suatu pengajaran-Nya, Yesusmengajak para ahli Taurat untuk merenungkan identitas Mesias secara mendalam.Menurut mereka Mesias adalah anak Daud, karena memang berasal dari keturunanRaja Daud. Namun Yesus mengajukan pertanyaan yang membuat mereka terdiam: jikaMesias hanya anak Daud, mengapa Daud sendiri menyebut-Nya sebagai “Tuhan”-nya?Ini berarti Mesias bukan hanya penerus takhta Daud yang manusiawi, melainkanDia yang memiliki martabat ilahi. Yesus adalah keturunan Daud menurut daging,tetapi juga Tuhan yang dinantikan Daud sendiri. Yesus sebenarnya menunjukkanbahwa mengenal Allah tidak cukup hanya dengan menguasai pengetahuan agama. Paraahli Taurat memiliki banyak pengetahuan tentang Kitab Suci, tetapi mereka gagalmemahami makna terdalam Sabda Tuhan yang mereka pelajari. Mereka kagum akankebijaksanaan Yesus, namun tidak mampu menerima kebenaran yang diwartakan-Nya.Kekaguman saja tidak cukup untuk menjadi murid. Iman menuntut kerendahan diriuntuk menerima terang Allah. Raja Daud sendiri menjadi teladankerendahan hati. Walaupun ia seorang raja besar yang disegani, ia mengakuibahwa Mesias yang akan datang jauh lebih agung daripada dirinya. Daud tidak menjadikandirinya pusat, melainkan mengarahkan pandangannya kepada Tuhan yang akanmenyelamatkan umat-Nya. Sikap inilah yang membedakan hati seorang berimandengan hati yang hanya mencari hormat dan pengakuan diri. Sebaliknya, dalam surat-suratPaulus kita melihat contoh relasi yang indah antara seorang guru dan murid.Paulus membimbing Timotius bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga denganteladan hidup. Timotius menerima pengajaran itu dengan kesetiaan dan ketaatan.Paulus menasihatinya agar tetap berpegang pada ajaran yang telah diterimanyaserta tidak mudah terpengaruh oleh ajaran yang menyesatkan. Timotius percayakepada Tuhan yang bekerja melalui bimbingan Paulus. Relasi Paulus dan Timotius menunjukkaniman yang bertumbuh melalui pendampingan dan kesetiaan. Tidak cukup hanyamendengar Sabda Tuhan atau mengagumi pewarta-Nya. Kita dipanggil untukmenghidupi kebenaran yang telah kita terima. Timotius tidak hanya mendengarkanPaulus, tetapi juga melaksanakan apa yang diajarkan kepadanya. Hari ini Tuhan mengajak kitauntuk bertanya kepada diri sendiri: apakah kita hanya mengagumi Yesus, atausungguh mengikuti-Nya? Apakah kita hanya mengetahui ajaran-Nya, atau berusahamelaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari? Semoga kita memiliki kerendahanhati yang sesungguhnya sebagai tanda iman yang benar.Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa … Ya Tuhan, kuatkanlah iman kami kepada-Mu agarkami dapat menjadi tanda kehadiran dan karya-Mu di dalam dunia ini. Kemuliaankepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus … Dalam nama Bapa …
Kencan Dengan Tuhan - Rabu, 3 Juni 2026Bacaan: "Pergilah! Tuhan menyertai engkau." (1 Samuel 17:37b)Bacaan: Suatu hari, seorang pemuda melamar pekerjaan ke suatu perusahaan. "Selamat, Anda diterima menjadi supir di kantor ini. Mulai besok Anda sudah bisa bekerja," ucap manajer HRD kepada seorang pelamar. "Hmmm... maaf pak, bagaimana kalau saya bekerja mulai minggu depan saja?" jawab si pelamar. "Lho, mengapa begitu?" tanya manajer HRD keheranan. "Karena satu minggu ini saya harus kursus mengemudi terlebih dahulu, pak," jawab pelamar itu dengan mantap. Cerita tersebut memang hanya humor belaka. Terlepas dari itu, ada pelajaran menarik yang bisa kita ambil, yakni sikap berani si pelamar menerima tantangan sebagai supir padahal ia sendiri belum bisa mengendarai mobil. Sikap berani itu juga pernah ditunjukkan oleh Daud saat memutuskan untuk melawan Goliat. Kita tahu bahwa Daud tidak memiliki pengalaman perang sebelumnya, apalagi perang melawan raksasa yang selama ini ditakuti oleh bangsa-bangsa lain. la hanya mempunyai pengalaman melawan binatang buas, seperti singa atau beruang. Mengapa Daud berhasil mengalahkan Goliat padahal ia belum mempunyai pengalaman di medan perang? Karena Daud memutuskan dan maju berperang bersama Allah (ay. 45). Seperti halnya Daud, tantangan dalam kehidupan ini juga pasti ada. Tantangan dapat membuat nyali kita ciut, tetapi tantangan dapat membuat kita bertumbuh. Ini tergantung bagaimana kita merespon tantangan tersebut. Belajar dari Daud, hadapilah tantangan dalam hidup kita bersama Tuhan. Pandanglah Tuhan, bukan tantangan yang ada di hadapan kita! Dengan demikian, keberanian kita untuk menaklukkan tantangan akan semakin besar dan tantangan akan semakin kecil. Saat ini, sebelum kita beraktivitas, pastikan diri sendiri bahwa Tuhan ada dipihak kita, karena Dia adalah Sumber kekuatan dan keberanian kita untuk menaklukkan tantangan apapun yang ada di hadapan kita. Tuhan Yesus memberkati.Doa:Tuhan Yesus, terima kasih untuk setiap tantangan yang aku hadapi selama ini. Aku bersyukur, selama aku mengandalkan Engkau, semua tantangan itu dapat aku lewati dengan baik. Amin. (Dod).
Kuliah Khas Ustaz Ahmad Jailani (Peguam Syarie) yang berlangsung di Surau As-Salikin, Bandar Putra Bertam, SPU, Pulau Pinang pada 12 September 2019.ISI PENTING :~ Ciri seorang suami yang baik menurut hadis Nabi~ Seorang ketua keluarga perlu jaga keluarga terutama anak perempuan~ Kenapa lelaki adalah pemimpin bagi kaum perempuan?~ Apa kelebihan orang lelaki berbanding perempuan?~ Lelaki dipertanggungjawabkan untuk mencari rezeki~ Berdosa dak isteri tak bekerja tanggung keluarga~ Cerita yang terdapat dalam surah Mariam ~ Seorang ketua keluarga perlu contohi sikap Nabi Ismail, pastikan ahli keluarga solat~ Ketua keluarga yang jarang-jarang nak jumpa dalam masyarakat kita~ Majoriti kita gagal dalam bab ajak ahli keluarga solat~ Ayat yang terdapat dalam surah Al-furqan~ Sikap hamba yang Allah puji dalam Quran~ Lelaki perangai macam budak sekolah~ Ciri ketua keluarga yang bertanggungjawab~ Orang yang paling mulia disisi Allah~ Geng Takut Bini~ Suami yang sidai baju adalah mulia disisi Allah~ Maksud lunch, dinner pada sesetengah tempat di England~ Tips "kalau nak cepat mendekatkan diri kepada Allah"~ Ketua keluarga kena sabar dengan kelakuan buruk ahli keluarga~ Kes bantu orang kahwin di Hatnyai~ Larikan anak perempuan daripada wali
Mencermati cepatnya pembebasan sembilan Warga Negara Indonesia yang sempat ditahan militer Israel saat mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuju Gaza, publik mulai bertanya: seberapa besar sebenarnya daya tawar Indonesia di panggung internasional?Pemerintah Indonesia menyebut pembebasan itu merupakan hasil diplomasi intensif dan koordinasi lintas negara. Para relawan yang sebelumnya ditahan di fasilitas penahanan Israel akhirnya dibebaskan dan dipulangkan melalui Istanbul, Turki.Di tengah hubungan diplomatik Indonesia dan Israel yang tidak resmi, langkah cepat pembebasan ini dinilai menarik. Sebab, Indonesia tetap memiliki sejumlah instrumen pengaruh. Mulai dari posisi politik luar negeri yang konsisten mendukung Palestina, kekuatan diplomasi di forum internasional, hingga jejaring hubungan dengan negara-negara Timur Tengah dan organisasi kemanusiaan global.Indonesia juga selama ini dikenal aktif dalam isu kemanusiaan dan perdamaian dunia. Sikap politik yang konsisten terhadap Palestina memberi Indonesia legitimasi moral yang cukup kuat di mata banyak negara berkembang dan dunia Islam.Namun di sisi lain, kasus ini juga memunculkan kritik publik. Sebagian menilai respons pemerintah belum cukup keras terhadap tindakan Israel terhadap para relawan. Reaksi itu ramai muncul di media sosial dan forum publik daring.Lalu pertanyaannya, apakah cepatnya pembebasan ini murni karena kekuatan diplomasi Indonesia? Atau justru karena tekanan internasional yang lebih luas terhadap Israel, terutama setelah sorotan global terhadap penahanan relawan kemanusiaan dari berbagai negara?Yang jelas, peristiwa ini kembali menunjukkan bahwa perlindungan WNI di luar negeri tidak hanya bergantung pada hubungan diplomatik formal, tetapi juga pada kemampuan membangun jaringan internasional, tekanan opini global, dan posisi politik Indonesia dalam isu kemanusiaan dunia.Dan kini, tantangan berikutnya adalah: mampukah Indonesia mengubah pengaruh moral itu menjadi daya tawar politik yang lebih nyata di level global?TALK :: Pakar Hubungan Internasional Universitas Nasional Jakarta, Dr Robi Nurhadi & Pengamat Timur Tengah yang juga Pendiri situs Albalad.Co, Faisal Asegaf
Dhammasākacchā oleh Bhante Mahā Dhammadhīro usai dana makan di Vihāra Buddharatana Medan
Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 12 Mei 2026Bacaan: "Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku." (Mazmur 19:15)Renungan: Setelah John. D. Rockefeller, pendiri Standard Oil, menemui tamu di kantornya, ia akan mengantar mereka hingga ke depan lift. Saat para tamu akan naik lift, seorang tak dikenal dengan penampilan lugu ikut masuk ke lift itu. la ikut turun dengan mereka dan menyeberang jalan bersama mereka. Setelah para tamu Rockefeller masuk mobil dan pergi, orang berpenampilan lugu itu kembali masuk ke gedung Rockefeller dan melaporkan dengan detail apa yang dikatakan para tamu selama di lift tadi. Ya, Rockefeller sudah punya "CCTV" dan "penyadap" sebelum teknologi tersebut dibuat. Rockefeller harus mengutus seseorang untuk memata-matai tamunya. Kita kini memakai teknologi untuk melakukannya. Namun, tanpa semua itu, Tuhan sudah mengetahui segala yang kita lakukan di tempat tersembunyi. la bahkan tahu apa yang kita pikirkan. Ada satu waktu ketika dua kakak Musa, Miryam dan Harun menggosipkan tentang Musa. Mulai soal istrinya yang bukan seorang Ibrani, merembet menjadi mempertanyakan tentang otoritas sang adik (benarkah Tuhan hanya berfirman melalui Musa saja, karena Tuhan juga pernah berfirman melalui Harun dan Miryam). Alkitab mencatat dengan jelas, "..kedengaranlah hal itu kepada TUHAN" (ay. 2). Miriam dan Harun mungkin berpikir hanya mereka berdua yang tahu pembicaraan itu, tapi kita bisa lihat bagaimana Tuhan tidak tinggal diam saat hamba-Nya difitnah dan digosipkan sembarangan. Ingatlah hal ini sebelum kita bergosip atau memikirkan hal-hal buruk tentang orang lain. Ingat bahwa Tuhan tahu apa yang kita katakan dan pikirkan. Kiranya ucapan, pikiran, dan perbuatan kita selalu berkenan di mata Tuhan (Mzm. 19:15). Biarlah semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji saja yang kita pikirkan (Flp. 4:8). Dua, kisah ini juga mengingatkan kita yang mungkin sering digosipkan bahkan menjadi korban fitnah, meski kita tak bersalah. Percayalah, Tuhan tidak akan membiarkan orang benar menderita. Tak perlu memikirkan cara membalas karena pada waktunya, Tuhan sendiri yang akan membela kita. Belajar dari kisah ini, biarlah kita bisa selalu menjaga sikap hati, pikiran, perbuatan, dan ucapan kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, urapilah mulut dan perkataanku, sehingga dijauhkan dariku perkataan negatif dan gosip yang dapat melukai hati orang lain. Amin. (Dod).
Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 10 Mei 2026Bacaan: "Siapa menghina sesamanya, tidak berakal budi, tetapi oreng yang pandai, berdiam diri." (Amsal 11:12)Renungan: Pada tahun 2020, perusahaan sepeda asal Belanda, VanMoof memutuskan akan menjual 90% barangnya secara online. Tentu saja, dalam berjualan online sangat penting untuk memastikan barang yang dikirimkan bisa tiba ke tangan konsumen dalam kondisi tetap sempurna. Apalagi penjualan mereka adalah ke seluruh dunia. Mereka amati banyak konsumen kompetitor mereka kecewa karena sepeda mereka tiba dalam kondisi cacat. Muncullah ide yang cukup unik. Mereka mengirim sepeda dengan boks kardus yang sangat besar, kira-kira seukuran boks TV layar datar ukuran 50 inch. Nah, di bagian depan boks itu, dicetak gambar TV selain tentu juga sepeda. Sepintas boks itu lebih mirip boks TV daripada sepeda, dan memang itulah tujuannya. Faktanya, pihak ekspedisi akan lebih berhati-hati jika mengirimkan TV. Dengan mendesain boks mereka mirip boks TV, maka sepeda mereka diperlakukan dengan lebih hati-hati, selayaknya membawa TV. Ketika kita sadar apa yang berada di dalam sebuah boks, maka sikap kita terhadap boks itu juga akan menyesuaikan. Sikap saat membawa boks berisi kue ulang tahun akan berbeda dengan sikap saat membawa boks berisi kue kering. Sikap saat membawa boks bertuliskan "Barang Pecah Belah" atau "Jangan Ditumpuk" akan beda dengan sikap saat membawa boks berisi boneka. Apakah hal serupa juga kita lakukan saat menilai manusia? Jika kita tahu bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:27), akankah kita bersikap semena-mena pada sesama? Jika kita mengimani Kristus telah mati demi menebus umat manusia, sadarkah kita jika itu berarti tiap manusia amatlah berharga? Dunia menilai manusia hanya dari sisi luarnya saja. Namun, anak Tuhan mesti melihat dengan cara yang berbeda. Lihat sesama kita seperti cara Tuhan memandang mereka. Bukan hanya melihat dari tampilan luar, tapi melihat mereka sebagai jiwa-jiwa yang harus dikasihi dan dihargai sebagai sesama ciptaan Tuhan yang mulia dan berharga. Pandang juga diri kita dengan cara yang sama. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, berikanlah aku kemampuan untuk bisa melihat sesamaku seperti Engkau melihat mereka baik adanya, sehingga aku selalu melihat sesamaku dengan kacamata positif. Amin. (Dod).
Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berakhir pada Rabu, 22 April, justru membuka babak baru ketegangan yang lebih kompleks. Alih-alih menjadi jalan menuju deeskalasi, momentum ini memperlihatkan kebuntuan serius dalam upaya diplomasi kedua negara.Di satu sisi, Iran menunjukkan sikap enggan untuk melanjutkan perundingan lanjutan, terutama terkait pembatasan aktivitas nuklir yang mereka anggap bukan berada dalam otoritas Amerika Serikat. Sikap ini menegaskan posisi Teheran yang kian tegas dalam menjaga kedaulatan strategisnya.Di sisi lain, Presiden Donald Trump meningkatkan tekanan dengan ultimatum yang keras: Iran harus menyepakati perundingan sebelum tenggat waktu berakhir. Jika tidak, Amerika Serikat mengancam akan melanjutkan blokade Selat Hormuz—jalur vital energi dunia—serta membuka kemungkinan aksi militer lanjutan, termasuk serangan udara.Situasi ini menempatkan kawasan Timur Tengah di ambang eskalasi baru dengan dampak global yang signifikan. Apakah dunia sedang menuju konflik terbuka, atau masih ada ruang bagi diplomasi untuk menyelamatkan keadaan?
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Andre dan Felicia dari Paroki Roh Kudus di Keuskupan Surabaya, Indonesia. Yesaya 49: 1-6; Mazmur tg 71: 1-2.3-4a.5-6ab.15.17; Yohanes 13: 21-33.36-38.KEHARUAN TAKTERBENDUNG Renungan kita pada hari ini bertema: Keharuan TakTerbendung. Kalimat dalam tema ini cukup mewakili perasaan yang pada umumnyakita alami atas peristiwa sedih dan mengecewakan di dalam hidup kita. Satucontohnya, ketika akhir suatu pekerjaan, perjuangan, kerinduan, dan pengharapanialah kegagalan belaka. Itu dipandang sia-sia dan tidak bermakna. Atau yangmesti diinginkan ialah suatu kemajuan dan perkembangan, tetapi justrukemunduran bahkan keterpurukan. Yesus Kristus, meski sebagai Tuhan dan Putra Allah, adalahmanusia yang sama seperti kita. Di dalam perjamuan Paskah bersama pararasul-Nya saat menjelang hukuman mati yang dijatuhkan kepada-Nya, keadaan jiwaYesus dipenuhi keharuan yang tak terbendung. Ia tentu merasakan sungguh beradadi ambang maut namun itu tidak dihiraukan-Nya. Maut di depan mata sudah ia ketahui dan sampaikan berulangkali. Keharuan-Nya bukan karena ia dekat dengan maut. Ia juga menjadi haru atausedih bukan karena tidak lama lagi bakal meninggalkan kawanan orang-orangpilihan-Nya. Begitu banyak orang yang bersimpati dan menaruh imannya kepadaTuhan melalui karya-karya Yesus tentu akan merasa kehilangan. Namun hal inisudah sering disampaikan kepada mereka, jadi ini bukan alasan bagi keharuanYesus. Keharuan Yesus Kristus tak terbendung dan Ia terus terangtentang hal ini kepada para rasul yang sangat dikasihi-Nya. Ada satu hal yangmenjadi sebabnya, yaitu menjelang perpisahan dengan mereka tampaknya tandakegagalan di dalam tubuh komunitas pengikut Kristus itu. Dua orang kepercayaanYesus yang mestinya diandalkan sebagai penopang komunitas terlanjur menunjukkanlangkah mundur. Yudas Iskariot sebagai bendahara bakal menjadi perusakbagi komunitas itu. Ia seorang yang penuh ambisi untuk memuaskan nafsu duniawidengan orientasi hidup yang materialistis. Uang dan harta menjadi peganganhidupnya, yang akhirnya melalui kegilaan itu ia berhasil mendapatkan sejumlahkecil uang setelah menjual Yesus Kristus ke tangan para musuh-Nya. Sikapmaterialistis dan duniawi ini jelas akan merusak dan menghancurkan komunitashidup beriman. Petrus sebagai rasul pertama tampak kurang bijaksana dalamberbicara dan bertindak. Ia ingin bereaksi cepat dan mau segera menjadi pembawasolusi, tapi nyatanya iman dan pemahamannya kurang mendalam. Keluarga dankomunitas persekutuan baik religius maupun sekuler harus menghindari sikapkoruptif dan materialistis seperti Yudas Iskariot. Sikap tidak bijaksana dalamberpikir dan bertindak seperti Petrus juga harus dihilangkan. Kita diajarkanuntuk mengikuti Kristus sambil terus membaharui diri kita untuk menjadi samaseperti Dia.Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan maha kuasa, semoga kami tetap teguhdalam iman kami kepada-Mu dan menjadi saksi-saksi kebenaran-Mu di tengah duniaini yang sangat rapuh. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Aloysius Arakian dan Nelky Kornelia Kana dari Paroki Santo Fransiskus Asisi Lamahora, Dekenal Lembata di Keuskupan Larantuka, Indonesia. Yeremia 11: 18-20; Mazmur tg 7: 2-3.9bc-10.11-12; Yohanes 7: 40-53.TUHANMEMBERITAHU Renungan kita pada hari ini bertema: Tuhan Memberitahu. Didalam bacaan pertama hari ini, nabi Yeremia menyebut satu sikap yang pentingketika ancaman penganiayaan itu menghadang kita. Katanya bahwa Tuhan sudahmemberitahu kepada orang percaya, kalau penderitaan dan penganiayaan itu akantiba. Pengetahuan yang mendahului kejadian yang sesungguhnya sangat membantupembentukan sikap kita. Sikap menghindari, lari ketakutan, menyerah sebelumberjuang, menghadapi dengan keras, dan rela bertahan demi kebenaran, merupakansikap-sikap yang umumnya kita lakukan. Yeremia mempunyai panggilan khusus dari Tuhan, demikianjuga Yesus Kristus, yaitu mengemban misi yang dipercayakan Bapa kepada-Nya.Bersamaan dengan ini, Bapa di surga juga memberitahukan mereka bahwa demiterwujudnya perutusan yang dipercayakan itu, mereka akan melewati berbagairintangan, ancaman kekerasan, dan penganiayaan. Dalam aspek ini, kedua tokohkita ini ditampilkan kitab suci seperti domba sembelihan yang dibawa ke tempatpembantaian dan dikorbankan. Tuhan memberitahu mereka dengan amat jelas, sehinggabaik Yeremia maupun Yesus Kristus sudah siap secara mental dan rohani untukmenghadapinya. Hasil pemberitahuan dari Tuhan ini jelas menguntungkanpihak yang teraniaya, karena Tuhan akan menyertai mereka dan semuapenyelenggaraan sesuai dengan kehendak-Nya. Tetapi di pihak penganiaya justruterjadi kekacauan karena kemarahan, kebencian, dan kejahatan di dalam dirimereka yang syarat dengan kepentingan, sehingga membuat mereka terpecah-belah.Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat tidak berada dalam kesepakatan tentangrencana jahat mereka. Hal ini cukup merepresentasikan kenyataan bahwa setiap bentukrencana dan tindakan jahat tidak akan pernah diwarnai keadaan nyaman atautenang, tetapi sebaliknya suasana batin dan jiwa yang kacau. Tuhan senantiasa memberitahu kita tentang apa yang bakalterjadi terkait dengan pilihan komitmen iman, panggilan, atau pelayanan kita.Ia memberitahukan kita dalam berbagai cara dan melalui aneka perantaraan.Dialah yang memilih dan memanggil kita, lalu mempercayakan kepada kitamasing-masing atau bersama jenis tanggung jawab dan pekerjaan. Itu juga berartiDialah yang menaruh di dalam kesadaran dan keyakinan kita bukan hanya tujuanyang kita capai, tetapi terlebih-lebih risiko yang bakal kita hadapi. Tidakmungkin tidak ada risiko atau efek samping dari setiap pekerjaan atau pelayanankita. Tapi karena kita sudah diterangi oleh iman tentang hal ini, kita dibuatuntuk melangkah ke depan dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menyertai danmembimbing kita. Harapannya ialah pikiran, kata-kata, dan tindakan kita selaludi dalam terang Tuhan.Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan yang bijaksana, terangilah selalulangkah hidup kami setiap saat. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Pastor Peter Tukan, SDB dari Komunitas Salesian Don Bosco Gerak di Keuskupan Labuan Bajo, Indonesia. Hosea 6: 1-6; Mazmur tg 51: 3-4.18-19.20-21ab; Lukas 18: 9-14.TUHAN BERKENANYANG RENDAH HATI Renungan kita pada hari ini bertema: Tuhan Berkenan YangRendah Hati. Sikap rendah hati ialah sebuah pegangan kebenaran tentangpandangan terhadap diri sendiri yang tidak lengkap atau sempurna, sehinggasangat memerlukan pihak lain untuk melengkapi. Sesama kita selalu berperanmelengkapinya. Bagi orang beriman, pihak lain yang menjadi sumber semuapertolongan ialah Tuhan. Tuhan tahu betul anak-anak-Nya yang rendah hati dansombong atau angkuh. Mereka yang rendah hati Ia lengkapi dengan berkat karuniauntuk menutupi dan melengkapi yang kurang pada mereka. Mereka yang tinggi hatidan sombong atau angkuh jelas tidak memerlukan lagi sesuatu untuk melengkapidirinya. Mereka sudah penuh dan memadai, sehingga yang diperlukan hanya pujian,hormat, ketenaran, kemasyhuran, dan nama baik yang mentereng. Penampilan dan penghayatan kerendahan hati yang berlawanandengan kesombongan dapat dilihat dalam berbagai sisi kehidupan. Pembicaraanyang menggunakan bahasa dan pilihan kata-kata sudah cukup menandakan siapa yangrendah hati dan siapa yang sombong. Bahasa tubuh yang kita pakai, berpakaian,makanan atau minuman yang kita konsumsi, dan pergaulan di antara sesamamerupakan contoh-contoh yang sangat nyata memperlihatkan seseorang itu tulusbersikap rendah hati atau sebaliknya tampak sombong. Bacaan liturgi kita pada hari ini menggambarkan aspek doaatau ungkapan iman kita. Di dalam berdoa dan berada di hadirat Tuhan seseorangdapat dipandang bersikap rendah hati atau sebaliknya sombong. Injil Lukasmenampilkan profil kerendahan hati itu pada si pemungut cukai yang merasa punyahubungan dengan Tuhan. Tetapi hubungan itu sungguh telah rusak olehdosa-dosanya sehingga isi doanya ialah merasa bersalah, menyesali, mengakuidosanya, dan memohon ampun. Di dalam kerendahan hatinya, ia tahu Tuhan yang maharahim berkenan mendengar, menerima, dan mengampuninya. Sebaliknya, profil kesombongan itu ada pada seorang Farisiyang tahu kalau ia punya hubungan dengan Tuhan, namun hubungan itu sepertiorang-orang sebaya. Mereka seperti satu tingkat, yaitu sama-sama baik, indah,dan sempurna. Seperti orang sebaya, orang Farisi itu ungkapkan semuakualitasnya dengan niat supaya dipuji dan dihormati oleh Tuhan yang dianggapnyasetingkat dengannya. Yesus mengatakan bahwa sikap sombong seperti ini jelastidak berkenan kepada Tuhan dan tidak mendapatkan belas kasih-Nya. Kunci untuk menjadi rendah hati ialah seperti yangdikatakan oleh nubuat nabi Hosea: doa dan persembahan kita harus berupa cintayang tulus kepada Tuhan, dan bukan cinta diri yang berlebihan.Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa ... Ya Allah maha kuasa, buatlah kami selalurendah hati di dalam kata dan perbuatan kami tiap hari. Salam Maria, penuhrahmat ... Dalam nama Bapa ...
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Maria Saraswati Sukardi, Onny Pakendek dan Yohanes Sukardi dari Paroki Santa Maria Assumpta Kota Baru Kupang di Keuskupan Agung Kupang, Indonesia. Keluaran 17: 3-7; Mazmur tg 95: 1-2.6-7.8-9; Roma 5: 1-2.5-8; Yohanes 5-42.KASIH YANG TIDAKBERTEPI DAN TOTAL Tema renungan kita pada hari ini ialah: Kasih Yang TidakBertepi Dan Total. Seorang pemuda benar-benar berjuang supaya gadis pilihannyaitu menerima dirinya, dan akhirnya mereka dapat menikah. Keluarga si gadisbelum semuanya yakin dengan perjuangan pemuda itu. Di mata mereka, ia memangbersikap baik, dan jujur. Tetapi semua itu masih sebagai anggapan dan asumsi.Belum ada bukti nyata kesungguhan cintanya. Sikap keluarga menjadi tantanganbagi pemuda itu. Lalu saat pernikahan itu datang. Tidak ada halangan dalamsemua proses dan acara pernikahan itu sendiri. Semua pihak yang terlibatmerasakan suka cita dan kepuasannya. Di dalam sebuah pertemuan, keluarga keduabelah pihak berkesempatan memberikan pesan-pesan kepada pasangan yang baru sajamenikah. Dari semua masukan yang diterima, pemuda itu kemudian menyatakan isihatinya. Ia berkata begini: "Imanku kepada Tuhan Yesus menuntut aku untukmencintai dengan benar. Cintaku yang benar kepada istriku ini, akan akubuktikan dalam hidup bersama dengannya mulai dari saat pernikahan kami." Pembuktian cinta kasih hanya dengan satu cara, yaituperbuatan. Lelaki itu ingin buktikan dengan hidup bersama istrinya dalam segalasituasi hidup keluarga. Di dalam pekerjaan, pelayanan dan pengorbanan ia ingintunjukkan bahwa istrinya merasa dicintai. Yesus adalah teladan utamanya. Kitasemua pengikut Kristus juga seperti dirinya, yang menjadikan Yesus teladanutama kita. Tuhan Yesus Kristus, seperti yang disampaikan bacaan kedua padahari ini, sudah membuktikan kasih-Nya bagi kita dengan pengorbanan diri-Nyasampai mati. Cinta kasih Yesus Kristus itu dinyatakan kepada semuaorang sampai menghilangkan batas-batas ras, suku, budaya, dan bangsa. Cintakasih-Nya itu tidak mengenal siapa yang beriman dan yang tidak. Mereka yangsudah lama dibaptis dan mereka yang baru kemarin dibaptis berhak mendapatkankasih Tuhan tersebut. Kasih-Nya itu pada dasarnya tidak bertepi. Kelompokmanusia dan budaya yang tidak beriman seperti orang Samaria dan khususnyawanita yang berjumpa dengan Yesus adalah contohnya. Kasih kepada semua atau kasih yang tidak bertepi adalahkasih yang total. Tuhan menyembuhkan yang sakit dan luka. Tuhan melengkapi danmemenuhi yang kurang. Tuhan mengembalikan yang hilang dan tersesat. Tuhanmerangkul mereka yang belum tercakup dan tercerai-berai. Tuhan menjadi solusiatas semua bentuk persoalan hidup, sekalipun itu amat tidak mungkin teratasimenurut perhitungan dan kemampuan manusia. Tuhan mengisi air kehidupan ke dalamjiwa wanita Samaria dan jiwa semua orang lain di mana pun yang sedang kosongdan putus asa. Kita beruntung menerima kasih Tuhan yang total. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan, penuhilah diri kami dengan kasih danberkat karunia-Mu sehingga kami dapat menyiapkan diri dengan segenap hati untukperayaan Paskah tahun ini. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ...Dalam nama Bapa ...
Desakan agar Indonesia keluar dari Belt and Road Initiative (BRI) atau yang kerap disebut BOP kembali mencuat dari sejumlah kalangan akademisi. Mereka menilai perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap manfaat, risiko utang, hingga dampaknya terhadap kedaulatan ekonomi nasional.Di sisi lain, pemerintah selama ini memandang kerja sama tersebut sebagai peluang untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan memperkuat konektivitas ekonomi. Lalu bagaimana seharusnya sikap Presiden menyikapi desakan ini? Apakah Indonesia perlu tetap bertahan, melakukan renegosiasi, atau justru mempertimbangkan keluar dari skema kerja sama tersebut?Dalam episode ini, kita akan membahas berbagai pandangan dan pertimbangan strategis terkait posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik dan kepentingan pembangunan nasional.TALK :: Pakar Hubungan Internasional UGM, Prof Dr. Siti Mutiah Setiawati & Pakar Intelijen/Executive Coordinator at Indonesia Intelligence Institute, Ridwan Habib
Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 6 Maret 2026Bacaan: "Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita." (Ibrani 12:1)Renungan: Suatu ketika di sebuah sekolah, diadakan pementasan drama. Setiap anak mendapat peran dan memakai kostum sesuai dengan tokoh yang mereka perankan. Semuanya tampak serius, sebab Pak Guru akan memberikan hadiah kepada anak yang tampil terbaik dalam pentas. Di depan panggung, semua orangtua murid ikut hadir dan menyaksikan acara itu. Pertunjukkan drama berjalan dengan sempurna. Semua anak tampil dengan maksimal. Ada yang berperan sebagai petani, ada juga yang menjadi nelayan. Di sudut sana, tampak pula seorang anak dengan raut muka ketus, sebab dia kebagian peran pak tua yang pemarah, sementara di sudut lain, terlihat anak dengan wajah sedih, layaknya pemurung yang selalu menangis. Tibalah kini akhir dari pementasan drama. Itu berarti, sudah saatnya Pak Guru mengumumkan siapa yang berhak mendapatkan hadiah. Pak Guru telah menaiki panggung, dan tak lama kemudian ia menyebutkan sebuah nama. Aha... ternyata anak yang menjadi pak tua pemarahlah yang menjadi juara. Dengan wajah berbinar, sang anak bersorak gembira. "Aku menang...." begitu ucapnya. la pun bergegas menuju ke panggung diiringi kedua orangtuanya yang tampak bangga. Tepuk tangan riuh terdengar. Sang orangtua menatap sekeliling, ke seluruh hadirin. Mereka sangat bangga. Sebelum menyerahkan hadiah, Pak Guru sedikit bertanya kepada sang juara, "Nak, kamu memang hebat. Kamu pantas mendapatkannya. Peranmu sebagai seorang yang pemarah terlihat bagus sekali. Apa rahasianya ya, sehingga kamu bisa tampil sebaik ini?" Sang anak menjawab, "Terima kasih atas hadiahnya Pak. Sebenarnya saya harus berterima kasih kepada Ayah saya. Karena dari Ayahlah saya belajar berteriak dan menjadi pemarah. Kepada Ayahlah saya meniru perilaku ini. Ayah sering berteriak kepada saya, maka bukan hal yang sulit untuk menjadi pemarah seperti ayah." Tampak sang Ayah mulai tercenung. Sang anak melanjutkan, "Ayah membesarkan saya dengan cara seperti ini, jadi peran ini adalah peran yang mudah bagi saya." Suasana menjadi senyap. Kedua orangtua sang anak di atas panggung, tampak tertunduk. Jika sebelumnya mereka merasa bangga, kini keadaannya berubah. Seakan mereka berdiri sebagai terdakwa di muka pengadilan. Mereka belajar sesuatu hari itu. Ada yang perlu diluruskan dengan perilaku mereka. Marilah berhati-hati dengan perilaku kita, karena ada banyak saksi yang mengelilingi kita, yang melihat apa yang kita katakan dan kita lakukan. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, penuhilah aku dengan kuasa Roh-Mu, sehingga aku bisa mengendalikan setiap perkataan dan perbuatanku, agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Amin. (Dod).
Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 1 Maret 2026Bacaan: Lalu berdoalah Elisa: "Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat. Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga in melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekelling Elisa." (2 Raja-raja 6:17).Renungan: Sebuah kata-kata bijak berbunyi seperti ini: "Semua manusia hidup dibawah langit yang sama. Tetapi tidak semua orang memiliki cakrawala yang sama." Semua manusia entah dibelahan bumi yang mana memiliki langit yang sama, tetapi cakrawalanya pasti berbeda. Kita yang berada di Pulau Jawa misalnya, pada bulan Agustus kita cerah berawan, tetapi yang berada di Sulawesi mendung dan gelap karena sudah turun hujan. Langitnya sama tetapi cakrawala dan cuacanya berbeda. Dari gambaran di atas kita mendapatkan hikmat bahwa, semua manusia itu hidup di dunia yang sama, tetapi terkadang kita harus mengalami keadaan yang berbeda. Bahkan mungkin kita sama-sama anak Tuhan yang percaya pada Yesus suatu saat keadaan kita pun bisa berbeda. Bagi seorang petani hujan itu sangat diharapkan dan ditunggu-tunggu tetapi bagi orang yang akan mengadakan pesta pernikahan kalau bisa jangan sampai hujan. Tergantung dari sudut mana seorang memandangnya. Bayangkan jika di bumi ini hanya musim kemarau terus, pasti manusia akan mengalami krisis karena kekeringan. Sebaliknya jika di bumi ini hanya ada musim hujan saja, maka kita pasti akan mengalami air bah dan tenggelam. Panas kita butuhkan, hujanpun kita butuhkan. Tertawa itu perlu tetapi air mata itu juga berguna. Karena itu jika hari ini kita sedang mengalami kesuksesan ingatlah bahwa satu saat kita akan mengalami tantangan dan masalah. Sebaliknya jika saat ini kita sedang tertekan karena masalah, maka ingatlah bahwa tidak selamanya kita akan terus menangis, suatu saat kelak kita pasti akan tertawa. Jangan pernah menyesali dan meratapi kehidupan ini. Kita perlu menjadi petani di musim hujan namun percayalah kita akan menjadi seorang yang akan mengadakan pesta saat musim kemarau. Sikap hati dan cara pandang yang benar akan membantu kita untuk dapat selalu mensyukuri cakrawala dan keadaan kita. Mari, lihatlah hal yang buruk dengan cara pandang yang baik, secara mengejutkan kita akan melihat hal-hal yang positif. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk selalu bersyukur atas setiap musim dalam hidupku, sebab aku percaya Engkau selalu hadir di setiap suka dan duka hidupku. Amin. (Dod).
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Kris Waleng dan Welin Duan dari Gereja Santo Fransiskus Xaverius, Paroki Tanjung Priok, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Yunus 3: 1-10; Mazmur tg 51: 3-4.12-13.18-19; Lukas 11: 29-32.LEBIH DARI PADATANDA YANG MEMPERINGATKAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: Lebih DaripadaTanda Yang Memperingatkan. Ketika para pemuka, pemimpin dan cendekia Yahudimenekan Yesus supaya memberikan mereka tanda atas semua yang diperbuat-Nya,Yesus tidak sudi memberikan. Ia berbalik menanggapi mereka dengan sebuah carapembungkaman. Ia berkata dalam berbagai kesempatan dan dalam aneka perkataanbahwa Ia sendiri adalah tanda Allah. Karena itu mereka tak perlu lagipembuktian dari surga selain diri Yesus yang sedang berbicara dengan mereka. Kitab nabi Yunus dalam bacaan pertama memperlihatkan kalauorang-orang Niniwe dan kotanya yang terkenal berdosa, mengenali peringatanAllah ketika Yunus datang dan berbicara kepada mereka. Tuhan menghadirkantanda-Nya melalui nabi Yunus. Lalu kota itu, berikut pemimpin dan penduduknyamendengarkan nabi, lalu hasilnya ialah mereka semua bertobat. Pada kejadianlain, Ratu dari Syeba yang tidak seagama dengan Yahudi mengenali kebijaksanaanAllah di dalam Raja Salomo. Ini menunjukkan bahwa Yunus dan Salomo adalah tandadari Allah. Tanda pada Yunus berisi pesan kerahiman Allah bagi orang-orangNiniwe. Tanda pada Salomo berisi pesan suka cita kebijaksanaan kepada ratu danseluruh dunia. Jika sikap manusia ialah menerima, mengakui, danmenyanggupi pesan dari Allah melalui tanda-tanda tersebut, semuanya menjadimudah dan Tuhan memberkatinya dengan karunia melimpah. Manusia memperoleh sukacita, damai, kebahagiaan, dan keselamatan. Persoalannya ialah kalau manusiatidak mendengar, menolak, dan tidak menyanggupi peringatan itu. Jelas akibatnyaialah mereka tidak mendapatkan berkat karunia Allah. Sikap para pemuka,pemimpin, dan cendekia Yahudi itu justru lebih keras, yaitu mereka tidak menerimadan mengakui Tuhan Yesus yang lebih dari pada Yunus dan Salomo. Ini adalahkesalahan besar mereka, maka Tuhan yang langsung memperingatkan mereka! Kita mengalami kehadiran Tuhan langsung melalui firman-Nyayang diwartakan. Firman itu difasilitasi oleh Gereja sebagai terang dan sumberkehidupan kita. Di dalam Ekaristi, firman itu berubah menjadi tubuh yang kitaterima dan santap. Di dalam sakramen tobat, firman itu menjadi pesan kerahimanyang mengampuni dan menyelamatkan kita dari dosa. Di dalam homili, firman itumenjadi siraman rohani yang menyegarkan dahaga jiwa kita. Di dalam berkatpastor, firman itu menjadi kekuatan rohani yang menguatkan hidup rohani kita.Di dalam lagu-lagu rohani, firman itu menjadi sentuhan lembut yang membuat dirikita tenang dan nyaman. Di dalam nasihat orang tua dan orang dewasa, firman itumelindungi kita. Jadi di dalam seluruh hidup kita firman Tuhan menjelma. Kitahanya perlu menerima dan mengakui bahwa ada Tuhan, lalu menyanggupikehendak-Nya. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Bapa yang baik,penuhilah hati kami dengan kebijaksanaan dan kasih-Mu supaya selalu berpihakkepada-Mu. Biarkanlah kami selalu mengakui-Mu dengan segenap hati kami.Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...
Kencan Dengan Tuhan - Senin, 16 Februari 2026Bacaan: "TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya." (Mazmur 34:19)Renungan: Mina terlahir dari keluarga broken home. Bertahun-tahun ia berusaha mengatasi kekecewaannya dengan kebencian, dendam, kemunafikan, dan ia merasa hidupnya tidak berharga. Hatinya penuh kebencian dan dendam terhadap ayahnya ketika teringat figurnya di masa lalu yang selalu memukuli ibunya dan tidak menyayangi dirinya. Sikap ayahnya itu menyulut perceraian. Walau ayahnya telah meninggal beberapa tahun yang lalu, namun Mina yang telah tumbuh dewasa, tetap saja menyimpan kepahitan. Apalagi di usia kanak-kanak, pascaperceraian kedua orang tuanya, sang ibu menitipkannya di sebuah panti asuhan. la pun harus berjuang keras sendirian untuk belajar dan menjadi yang terbaik di sekolahnya. Kini ia menjadi wanita karier yang sukses di sebuah perusahaan karena kecerdasannya. Tetapi sayang, ia masih menyimpan kebencian dan dendam. Senyum di wajahnya hanyalah senyum palsu karena tuntutan profesionalitas, namun tetap saja ia merasa tidak bahagia. Topeng kemunafikanlah yang dipertontonkan ke khalayak ramai. Parahnya, ternyata ia seorang penyuka sesama jenis, sebab ia menganggap semua pria sama seperti ayahnya. Faktor psikologis ini yang membuat ia berperilaku menyimpang. Ia menutupi perilaku menyimpangnya dengan pakaian yang indah dan feminin. Di sekeliling kita ada begitu banyak orang yang mengalami kekecewaan seperti halnya Mina. Atau mungkin kita yang sedang mengalami kekecewaan dan sedang berusaha mengatasinya dengan cara kita. Memang, ada banyak jenis kebahagiaan yang ditawarkan oleh dunia untuk mengatasi kekecewaan. Di antaranya melalui musik, pekerjaan, pernikahan, kekayaan, dan ketenaran. Dan kita tergiur olehnya. Ada juga yang mengatasinya dengan kepuasan negatif, seperti selingkuh, mabuk-mabukan, berbuat jahat kepada orang lain, ataupun menggunakan narkoba. Namun, apa pun jenis tawaran dunia ini yang diharapkan bisa mengatasi kekecewaan seseorang, tetap saja tidak mampu mengatasinya. Kekecewaan itu hanya bisa disembuhkan dengan kehadiran Pribadi yang bisa memberi kebahagiaan sejati. Karena itu, biarkanlah Kristus mengisi dan menguasai hati kita. Jangan izinkan kebencian, dendam, dan kepahitan mengisi hati kita. Mari kita buka pintu hati kita dan menerima Dia sebagai Pembebas kita dari belenggu kekecewaan. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ampunilah aku karena selama ini aku mengatasi kekecewaan dengan hal-hal yang tidak berkenan bagi-Mu. Penuhilah aku dengan kasih-Mu, sehingga saat kekecewaan datang, hatiku hanya tertuju pada-Mu sebagai sumber kelepasan dalam hidupku. Amin. (Dod)
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Sr Skolastika MCFSM dan Sr Emiliana MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Palanga Sampit Palangkaraya di Keuskupan Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Yakobus 1: 1-11; Mazmur tg 119: 67.68.71.72.75.76; Markus 8: 11-13.MENIKMATI UJIAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: Menikmati Ujian.Di dalam semua aspek kehidupan kita, ujian terjadi dalam suatu proses untukmembuktikan sesuatu hasil baik untuk jumlah maupun kualitas. Apa pun bentuk dankarakternya ujian itu, aspek dasarnya ialah orang yang mengalaminya berada didalam situasi dicoba atau diuji kemampuannya. Sikap yang umum ialah keadaan jiwa dan raga orang yangmenghadapi ujian berada dalam suatu keadaan negatif atau positif. Orang bisagugup, berdebar, takut, kurang yakin, dan mengeluh. Orang bisa juga berani,konsentrasi, fokus, percaya diri, dan yakin untuk menghadapi lalu akhirnyamelewati ujian. Situasi bisa terlihat di wajah mereka, namun justru lebih seruialah di dalam jiwanya. Kedua situasi ini menggambarkan bagaimana seseorangmenikmati ujian itu. Orang bersikap negatif ketika menghadapi ujian disebabkanoleh aneka alasan. Yang paling umum ialah karena yang bersangkutan kurang atautidak siap. Ketidaksiapan mental dan semangat biasanya langsung membuat tubuhmenjadi gugup, gemetar, keringatan, dan lemah. Dalam keadaan seperti ini, sikapmenyerah bukan mustahil di mana yang bersangkutan bisa menolak untuk menghadapiatau menghadapi saja tetapi dengan risiko pada hasil di bawah harapan. Ini berbanding terbalik dengan sikap positif dan optimisdalam menghadapi ujian, yaitu orang yang siap jiwa dan raga. Bahkan kesiapanini diungkapkan dengan suatu kegirangan dan kerinduan untuk mengantisipasiujian. Sikap seperti ini bisa membuktikan bahwa yang bersangkutan yakin akanhasil yang bakal dicapai memuaskan dan memenuhi harapan. Atau sikap ini jugamerepresentasi sebuah sikap mental pada orang yang percaya bahwa hasil baikatau buruk bukanlah hal yang prioritas, tetapi ini menjadi kesempatan untuk menempah danmelatih diri. Dua sikap positif ini ditunjukkan oleh kedua bacaan kitahari ini. Santo Yakobus dalam bacaan pertama memberikan nasihat bahwa ujiandalam hidup memang mesti dilalui karena hasilnya adalah sebuah ketekunan yangmerupakan jalan menuju kesempurnaan. Yesus diuji terus menerus oleh kaum Farisidan para cendekia ahli Taurat. Tetapi biasanya Yesus membungkam mereka. Diaadalah Tuhan maka tak perlu ujian. Tetapi yang Ia anggap sebagai kemunduranialah mereka yang mengujinya tak mendapatkan keuntungan apa-apa. Itu berartibahwa Yesus yang siap, sedangkan mereka tidak siap dalam medan ujian. Jadihukumnya pasti: sebelum ujian utama, harus awali dulu dengan banyak ujianpemanasan alias persiapan-persiapan dan antisipasi dalam segala bentuknya. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan YesusKristus, ajarilah kami selalu dengan meletakkan kata-kata dan tindakan yangbenar dan tepat dalam setiap kesempatan kami hadapi ujian hidup ini. SalamMaria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...
Bpk. Kin Liong (TB) Mazmur 51:19Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.
Hai Wonder Kids, Kembali dalam renungan anak GKY Mangga Besar. Judul renungan hari ini adalah ANAK-ANAK GURUHDiambil dari: Markus 3:16–19 (TB)“Inilah kedua belas orang yang dipilih-Nya: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus; Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudara Yakobus, yang diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti: anak-anak guruh…”Wonder Kids, hari ini kita belajar satu hal yang unik dari Injil Markus: Yesus memberi julukan kepada murid-murid-Nya! Dalam daftar dua belas murid, Markus mencatat sesuatu yang istimewa. Simon diberi nama Petrus, yang berarti “batu karang”. Yakobus dan Yohanes diberi nama Boanerges, yang artinya “anak-anak guruh.” Mengapa Yesus memberi julukan seperti itu?Alkitab tidak menjelaskan secara detail. Tetapi dari kisah-kisah mereka, kita tahu Yakobus dan Yohanes adalah orang yang berani, penuh semangat, dan cepat bereaksi. Mereka pernah ingin memanggil api dari langit untuk menghukum orang-orang yang menolak Yesus. Sikap mereka seperti guruh—keras dan menggelegar!Yang penting bukan julukannya, tetapi apa yang Yesus lakukan. Yesus melihat mereka bukan hanya seperti sekarang, tetapi seperti apa yang bisa Tuhan ubah dalam hidup mereka. Yesus tidak hanya memanggil orang, Ia juga memberi identitas baru.Ketika kita percaya kepada Yesus, kita juga menerima identitas baru. Kita disebut orang Kristen, artinya pengikut Kristus. Bukan karena kita hebat, tetapi karena Yesus mengubah siapa kita.Wonder Kids, hari ini lakukan ini: Ingatlah bahwa Yesus mengenalmu dan mengasihimu. Ia melihat siapa kamu sekarang, dan siapa kamu bisa menjadi di dalam Tuhan.Mari kita berdoa: Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau mengenalku dan mengasihiku. Terima kasih karena Engkau memberiku identitas baru di dalam-Mu. Tolong aku hidup sesuai dengan identitasku sebagai anak Tuhan. Amin.Wonder Kids, ingatlah: Yesus memberimu identitas baru dan mengubah hidupmu. Tuhan Yesus memberkati.
Kencan Dengan Tuhan - Senin, 9 Februari 2026Bacaan: "Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!" (Roma 12:21)Renungan: Suatu hari, ada dua orang sahabat menghampiri sebuah lapak untuk membeli buku dan majalah. Penjualnya ternyata melayani dengan buruk. Bahkan sepanjang melayani, wajahnya terlihat cemberut. Orang pertama jelas jengkel menerima layanan seperti itu. Namun orang kedua tetap santai, tidak mempermasalahkan itu sama sekali. Bahkan ketika membayar dan hendak pergi dari sana, ia bersikap sopan kepada penjual itu. Di sebuah kafe, orang pertama berkata kepada sahabatnya, "Saya tidak habis pikir, mengapa kamu masih bisa bersikap sopan kepada penjual yang menyebalkan tadi itu." Sahabatnya menjawab, "Lho, kenapa aku harus mengizinkan dia menentukan caraku dalam bertindak? Kitalah sang penentu atas kehidupan kita, bukan orang lain." "Tapi dia melayani kita dengan buruk sekali," bantah orang pertama yang masih merasa jengkel. "Ya, itu masalah dia. Dia mau bad mood, tidak sopan, melayani dengan buruk, toh itu tidak ada kaitannya dengan kita. Kalau kita sampai terpengaruh, berarti kita membiarkan dia mengatur dan mempengaruhi hidup kita. Padahal kitalah yang bertanggung jawab atas diri kita sendiri." Seringkali orang memang terpengaruh oleh sesamanya. Jika mereka baik, kita akan berbuat sebaliknya. Kalau orang-orang menghargai kita, kita akan dengan senang hati menghargai mereka juga. Namun jika orang berlaku buruk, kurang ramah, ketus dalam bicara, tidak sopan, kita pun cenderung melakukan hal yang sama. Tanpa sadar orang jadi ikut-ikutan kesal, tidak terima, dan seterusnya. Bila ini terjadi, berarti kita sudah membiarkan diri dikontrol orang. Mari kita belajar bertanggung jawab atas diri sendiri. Kita bersikap sopan, bukan karena orang layak menerimanya, bukan karena mereka sudah melakukan kebaikan pada kita, akan tetapi kita melakukannya karena kita adalah orang-orang yang baik, santun dan terhormat, yang tetap sopan sekalipun diperlakukan arogan. Pastikan perilaku buruk orang sekitar tidak memengaruhi kualitas kerja dan keberadaan diri kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, penuhilah aku dengan kuasa Roh-Mu, sehingga walau pun banyak orang mengecewakanku, hatiku tetap tenang karena Engkau telah menguasaiku. Amin. (Dod).
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh pasangan suami istri Yustina dan Ignasius dari Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta di Keuskupan Agung Semarang, Indonesia. 2 Samuel 12: 1-7a.10-17; Mazmur tg 51: 12-13.14-15.16-17; Markus 4: 35-41.KEKUATAN UNTUK TUMBUH Tema renungan kita pada hari ini ialah: Kekuatan UntukTumbuh. Santo Yohanes Bosco yang lahir pada tanggal 16 Agustus 1815, mengalamihidup dalam zaman bertumbuhnya industri di Eropa, sebagai hasil langsung darirevolusi industri pada abat ke-19. Ia menemukan bagian lapisan masyarakat yangsangat terkena dampak ialah remaja dan orang-orang muda. Mereka tidak bisa diandalkan untuk dunia industri. Orangtua mereka dan orang dewasa lain, bagi yang mampu akan mengikuti industritetapi yang tidak mampu akan jatuh dalam kemiskinan. Orang muda terpaksamemenuhi jalan-jalan kota untuk menyambung hidup dengan berbagai aktivitas yangtidak berguna. Sering mereka menjadi sasaran eksploitasi kekerasan dankejahatan lainnya. Pastor Yohanes Bosco jatuh kasihan dan rasa cinta kepadamereka. Ia mengumpulkan mereka untuk hidup di asrama dan menyediakan berbagaikegiatan pendidikan, pembinaan iman dan moral, serta ketrampilan kepada mereka.Tujuannya supaya mereka di kemudian hari menjadi berguna bagi dirinya,keluarganya, Gereja dan masyarakat. Bagi Santo Yohanes Bosco, setiap remaja dan orang mudaadalah benih-benih unggul bagi Tuhan. Tidak ada satu pun dari orang muda inidilahirkan jahat atau tidak baik. Karena sebagai benih, mereka harus diberikankesempatan dan segala kemungkinan untuk tumbuh dan berkembang. Sistempendidikan Don Bosco sangat memperhatikan ini. Sistem ini bernama SistemPencegahan. Seperti Don Bosco dan orang-orang muda zamannya, kita jugabagai benih sesawi dalam keadaan kita masing-masing. Biji sesawi karunia Tuhankepada setiap orang itu unik, dan tak pernah sama untuk dua orang. Itu adalahkepribadian, pengalaman iman, dan panggilan suci setiap orang. Dengan keunikanini, kita sebenarnya tidak boleh iri satu sama lain lantaran ada yang punyakekhususan di satu sisi, di sini lain dipunyai orang lain. Yang penting adalahkita saling menghormati dan memerlukan. Sikap lain yang juga tidak layak ialah copy paste keunikan orang lain lalukeaslian diri sendiri hampir tidak tampak. Ini adalah kepalsuan yang serius.Orang tidak menjadi orisinal, independen dan percaya pada kemampuan sendiri.Sikap copy paste hampir sama denganmencuri. Sedangkan manja dan selalu bergantung adalah sikap menempel saja. Inimerupakan kemunduran seorang murid Tuhan Yesus yang baik. Dengan menghindarisikap-sikap yang kurang atau negatif itu, seseorang lalu menemukan dirinya yangmempunyai kekuatan untuk tumbuh. Ia pantas sebagai murid yang diutus oleh YesusKristus. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Bapa yangbijaksana, kuatkanlah iman kami supaya tetap menjadi murid-murid Yesus Kristusyang sejati. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa...
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Pastor Peter Tukan, SDB dari Salesian Don Bosco Gerak di Keuskupan Labuan Bajo, Indonesia. 1 Samuel 18: 6-9; 19: 1-7; Mazmur tg 56: 2-3.9-10a.10b-11.12-13; Markus 3: 7-12.PEMENANG TETAP RENDAH HATI Renungan kita pada hari ini bertema: Pemenang Tetap RendahHati. Seorang perawat di rumah sakit bekerja dengan sangat baik—pasien merasatertolong, keluarga pasien berterima kasih, bahkan rekan kerja memujinya. Namunia tidak sibuk mencari pujian atau membandingkan dirinya dengan orang lain. Iatetap datang tepat waktu, tetap menolong dengan sabar, tetap sopan kepadapetugas kebersihan, satpam, dan siapa pun. Ketika ada yang iri atau bersikaptidak adil kepadanya, ia memilih tetap bekerja benar dan menyerahkan hasilnyakepada Tuhan. Ini merupakan contoh nyata seorang pemenang tetap rendah hati. Dalam kisah Raja Daud, kita melihat sebuah kemenangan yangtidak melahirkan kesombongan. Daud berhasil mengalahkan musuh dan membawasukacita bagi bangsa, namun justru di saat itulah ancaman muncul dari dalam:Raja Saul mulai merasa terancam dan merencanakan pembunuhan terhadap “rajabaru” yang sedang dipersiapkan Tuhan. Secara manusiawi, Daud punya alasan untuk membalas,mempertahankan diri dengan cara keras, atau menunjukkan kuasa. Tetapi Daudmemilih jalan yang lebih dalam: ia tetap merendah, tidak membesar-besarkandiri, dan tidak menyepelekan orang lain, bahkan terhadap Saul yang melukaihatinya. Ia tetap menganggap Saul sebagai yang diurapi Tuhan. Kerendahan hati Daud bukan kelemahan, melainkan kekuatanrohani yang lahir dari kesadaran bahwa hidupnya bukan miliknya sendiri. Daudtahu, keberhasilan dalam perang bukan semata karena strategi atau kehebatannya,tetapi karena Tuhan yang memegang kendali. Ia tidak menjadikan kemenangansebagai panggung untuk meninggikan diri, melainkan sebagai kesempatan untuksemakin bergantung kepada Allah. Ketika seseorang yakin bahwa Tuhanlah sumberkemenangan, maka ia tidak akan merasa perlu merendahkan orang lain agar dirinyatampak lebih tinggi. Sikap ini makin terang ketika kita memandang Yesus Kristus.Dalam Injil, roh-roh jahat mengenali dan mengakui Yesus sebagai Anak Allah.Namun Yesus justru menegur mereka agar tidak menyebarkan berita itu. Mengapa?Karena pengakuan tentang diri-Nya harus dinyatakan pada saat dan tempat yangtepat, sesuai rencana keselamatan dari Bapa. Yesus tidak mengejar popularitas,tidak membangun pengaruh dengan sensasi, dan tidak mencari pengakuan dari suarayang salah. Ia menunjukkan bahwa kebenaran tidak perlu dipaksakan lewatkemegahan, tetapi harus lahir dari kehendak Allah yang teratur dan penuhhikmat. Yesus kemudian terus berkeliling untuk bekerja tanpa henti,mewujudkan tugas-tugas yang berasal dari Bapa: mewartakan Kerajaan Allah,menyembuhkan, membebaskan, dan membangun iman. Ia tidak berhenti hanya karenatelah dikenal, dipuji, atau diakui. Ia tetap berjalan dalam kerendahan hati,karena fokus-Nya bukan prestasi pribadi, melainkan kehendak Bapa. Inilahpelajaran rohani berharga: bekerja dengan rendah hati berarti tetap setia padamisi, bukan menjaga citra, bukan mengejar keunggulan, bukan mencari tepuktangan manusia. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa … Ya Tuhan Yesus, semoga ajaran cinta kasihdari-Mu selalu menerangi dan menuntun kami untuk bersikap rendah hati di dalamkata dan tindakan kami. Salam Maria, penuh rahmat … Dalam nama Bapa …
Pdm. Handoyo Salim (TB) Filipi 4:4 Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Petrus Daryono dan Maria Klara dari Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta di Keuskupan Agung Semarang, Indonesia. 1 Samuel 8: 4-7.10-22a; Mazmur tg 89: 16-17.18-19; Markus 2: 1-12.MELAWANPRASANGKA BURUK Renungan kita pada hari ini bertema: Melawan PrasangkaBuruk. Pada waktu berkunjung ke sebuah kampung terpencil untuk melakukan riset,seorang profesor muda yang amat terkenal jatuh cinta kepada seorang wanita mudadi kampung itu. Banyak teman, anggota keluarga, dan orang-orang kampung menaruhprasangka buruk kepadanya. Mereka beranggapan bahwa ia telah mengalami gangguanjiwa. Prasangka buruk terhadap orang lain biasanya disebabkanoleh dua faktor utama, yaitu kurangnya pengetahuan atau pemahaman dan pikirannegatif. Ketika kedua penyebab ini menyatu dan saling mengandaikan satu samalain, seseorang tidak sekedar berprasangka buruk, tetapi ia sudah memilikisikap nekat berbuat jahat dan brutal. Perkelahian dan perang antara sesamamanusia sering disebabkan oleh prasangka buruk seperti ini. Nabi Samuel, seperti yang diwartakan di dalam bacaanpertama, sedang berhadapan dengan umat Israel yang masih kurang pengetahuantentang kehendak Tuhan dan nasib mereka yang sudah lama ingin memiliki seorangraja. Mereka menyangka bahwa Tuhan bukan pemimpin mereka sesungguhnya. Samuelbekerja untuk memberikan mereka pemahaman yang mereka perlukan. Yesus Kristusjuga menghadapi prasangka sangat buruk dari para lawannya. Sikap kaum Farisi dan para ahli Taurat kepada Yesus jauhmelebihi sikap orang Israel dahulu pada zaman Samuel. Yesus menghadapi sebuahgelombang prasangka buruk yang sangat besar, karena para lawannya itumenyatukan sikap negatif dan pemutarbalikan pengetahuan tentang kebenaran dariTuhan. Mereka adalah orang-orang cerdik dan pandai, tetapi pengetahuannyasungguh-sungguh salah dan amat berbahaya. Akibatnya, mereka menjadi jahat danbrutal terhadap Yesus dan kehendak Tuhan Allah sendiri. Di dalam hidup kita sehari-sehari, khususnya di dalampergaulan dengan sesama, kita mungkin saja sering berprasangka buruk terhadaporang lain, yang disebabkan oleh kurang pengertian atau pemahaman dan pikiranatau perasaan negatif. Pikiran atau perasaan negatif itu seperti menyikapiperbedaan-perbedaan di antara kita dengan anggapan kurang baik atau tidakcocok. Untuk melawan prasangka-prasangka buruk tersebut, Tuhan Yesusmengajarkan kita satu sikap yang sesungguhnya berasal dari dirinya sendiri. Yesus mengajarkan kita untuk mencabut langsung ke akarpermasalahan, yaitu dosa. Jadi prasangka buruk memang harus dicabut, dengancara memperluas wawasan atau pemahaman dan membangun kebiasaan berpikirpositif. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah maha murah,semoga kami tidak goyah karena tantangan atau halangan yang mengganggu iman dankesetiaan kami kepada-Mu. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...
Bismillah,254. SAAT LELAH DENGAN SIKAP IBUKajian Wanita Kitab Al-Wabilush ShayyibDalam ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim), dari Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits qudsi: أنا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بي، وأنا معهُ إذا ذَكَرَنِي، فإنْ ذَكَرَنِي في نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي، وإنْ ذَكَرَنِي في مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ في مَلَإٍ خَيْرٍ منهمْ، وإنْ تَقَرَّبَ إلَيَّ بشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إلَيْهِ ذِراعًا، وإنْ تَقَرَّبَ إلَيَّ ذِراعًا تَقَرَّبْتُ إلَيْهِ باعًا، وإنْ أتانِي يَمْشِي أتَيْتُهُ هَرْوَلَةً"Aku menurut persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku; jika ia mengingatku dalam perkumpulan, maka Aku mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka, jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepada-nya sehasta; jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa; jika ia mendatangiku sambil berjalan, maka Aku mendatanginya sambil berlari-lari kecil."
Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat - Sikap Terhadap Orang Tua Yang Belum Kenal Sunnah
Ustadz Abdul Hakim Bin Amir Abdat - Sikap Terhadap Orang Tua Yang Belum Kenal Sunnah
Penanganan bencana banjir dan longsor di Aceh dan Sumatra diingatkan agar tidak diseret ke ruang politisasi. Isu ini mencuat seiring beredarnya informasi terkait surat permohonan dukungan kepada lembaga internasional yang disebut tidak diketahui oleh Pemerintah Aceh.Penanganan bencana sejatinya merupakan domain tata kelola negara yang harus dijalankan melalui mekanisme resmi, dengan koordinasi yang jelas antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Lalu, bagaimana seharusnya pemerintah menyikapi isu yang berkembang di ruang publik?Dengarkan pembahasannya bersama Pakar Kebijakan Publik Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah. #PenangananBencana#BanjirDanLongsor#Aceh#Sumatra#TidakDipolitisasi
Tiga pekan usai bencana ekologis mengguncang Sumatra, pemerintah pusat dan daerah terkesan berselisih jalan menyikapi tawaran bantuan dari luar negeri. Jajaran kabinet Prabowo tegas menolak bantuan internasional dan bersikukuh mampu menangani sendiri situasi krisis ini. DPR pun mendukungnya. Sementara, Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) malah mengonfirmasi masuknya bantuan asing dari Malaysia dan China berupa tenaga medis, relawan, dan obat-obatan.Sikap pusat dikritik karena memperlambat penanganan dan pemulihan pascabencana. Padahal masih banyak korban hilang, sejumlah wilayah terisolasi, hingga ratusan ribu pengungsi yang sulit mengakses kebutuhan dasar.Tepatkah sikap pemerintah menolak bantuan asing? Bagaimana jika dibandingkan dengan situasi pascabencana tsunami 2004? Apa saja risikonya ketika Indonesia membuka pintu untuk bantuan internasional dan bagaimana bila tetap menolak? Atau adakah titik tengah yang bisa diupayakan?Di Ruang Publik KBR kita akan bahas topik ini bersama Ketua Umum Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) Dr. Avianto Amri, ST, MRes dan Dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran Teuku Rezasyah, Ph.D.
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Syalom Keluarga Damai! Sapaan Damai Sejahtera atau disingkat SAMAS merupakan sebuah renungan singkat yang tayang setiap hari Senin-Sabtu. SAMAS tidak hanya dibawakan oleh pendeta/hamba Tuhan, tetapi juga akan dibawakan oleh siapapun yang ingin berbagi sapaan Tuhan kepada dirinya. Semoga kita dapat menemukan damai sejahtera yang datangnya dari sapaan Tuhan kepada setiap kita melalui SAMAS ini. Tuhan Yesus memberkati!
Ustadz Nizar Saad Jabal, Lc. M.Pd - Kewajiban Istri Terhadap Suami dan Sikap Suami Terhadap Istri
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Ratna dan Raymond dari Komunitas Pukat Labuan Bajo di Keuskupan Labuan Bajo, Indonesia. Kebijaksanaan 2: 23 - 3: 9; Mazmur tg 34: 2-3.16-17.18-19; Lukas 17: 7-10.ORANG BENAR ADADI TANGAN ALLAH Tema renungan kita pada hari ini ialah: Orang Benar Ada DiTangan Allah. Kalimat dari tema ini merupakan kutipan dari kitab Kebijaksanaanbacaan pertama liturgi hari ini. Seorang murid SD membagi ceritanya sebagairefleksi atas tema ini. Ia pintar, selalu juara di kelas, dan bersikap baiksehingga dipuji guru-gurunya. Ia selalu dijadikan model bagi teman-temannya.Tetapi ia selalu saja menjadi sasaran bully, cemoohan dan fitnah. Maka iasering menangis dan takut bermain bersama teman-temannya. Sekolah dan orangtuannya berusaha keras untuk mengatasi permasalahan ini. Sikap yang paling umum diambil ketika orang menghadapimasalah seperti anak SD itu ialah mengadu dan menyerahkannya saja kepada Tuhan.Biar Tuhan saja yang memberikan keadilan-Nya. Ini dilakukan dengan pembenarandiri begini: orang benar ada di tangan Tuhan. Tuhan tidak melupakan orang yangbenar. Mungkin Anda sendiri sering mengalami seperti itu. Hidupmu baik, berbuatbenar, mengikuti prosedur, dan tidak pernah menyusahkan orang lain, tetapiternyata dirimulah yang disalahkan dan difitnah macam-macam. Prinsip iman kita menjelaskan bahwa perlakukan kefasikandunia yang menghukum orang-orang benar itu hanyalah sebuah tahap yang harusdilewati. Siapakah orang-orang benar itu? Bisa saja Anda, saudara-saudarimu,atau kita sebagai satu kawanan dalam penggembalaan Gereja kita yang kudus.Sudah sekian lama dan sekian besar kerelaan kita mengikuti Kristus sampai kini,tidak berlebihan dan tidak salah jika kita membuat pengakuan ini atas diri kitasendiri, saudara-saudari dan keluarga kita. Kita memang berada di tangan Tuhan. Ada banyak tanda yang mengungkapkan diri seseorang itubenar. Misalnya orang menjalankan pekerjaan sesuai tugas dan tanggung jawabnya,hadir dan berkegiatan pada waktu dan tempat yang sesungguhnya, mengikutiprosedur dan tata caranya, mengatakan dan memberikan keterangan sesuai faktabeserta bukti-buktinya, mempertanggung-jawabkan komitmen, mengakui kesalahandan kemauan untuk memperbaikinya, mengoreksi kesalahan dan berani mengambilresiko atas sebuah perbaikan. Dan masih banyak lagi. Tuhan Yesus memberikan satu pengajaran hidup dalamkebenaran pada hari ini. Kita menjalankan tugas dan tanggung jawab dengansebaik-baiknya sesuai kewenangan dan kepercayaan kepada kita, dan dengan sikaprendah hati. Jangan ada anggapan bahwa kita hebat atau sukses. Kerendahan hatiitu mengantar kita untuk berkata: kita ini hanya hamba yang tak berguna, karenahanya melakukan yang diwajibkan. Lebih dari itu, kerendahan hati akanmemotivasi kita untuk berbuat lebih dari sekedar kewajiban atau yang diharuskan.Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan Yesus,penuhilah kami dengan semangat ketekunan dan tanggung jawab untuk memenuhitugas-tugas kami dalam kerendahan hati. Bapa kami yang ada di surga ... Dalamnama Bapa ...
Pdt. Wigand Sugandi (TB) 1 Petrus 5 : 8Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis , berjalan keliling sama seperti singa u yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.
AYUB 38:1-7 I.Eksposisi: Konteks dan Makna II.Aplikasi di Era Digital 1 Budaya Konsumerisme 2 .Hoaks dan Kebenaran Absolut. 3.Drama Politik dan Polarisasi III.Sikap yang Benar: Belajar dari Respons Ayub 1 Mengakui Keterbatasan Kita. 2 Menyembah dalam Ketidaktahuan 3 Bersyukur Tanpa Syarat IV.Tantangan Praktis 1.Detoks Digital Spiritual. 2. Verifikasi Spiritual.3. Doa Penyerahan
Sikap Orang Berilmu Terhadap Dakwah Tauhid adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Minhaj Al-Firqah an-Najiyah wa ath-Tha’ifah Al-Manshurah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Sabtu, 1 Shafar 1447 H / 26 Juli 2025 M. Kajian Tentang Sikap Orang Berilmu Terhadap Dakwah Tauhid Tidak semua orang yang berilmu mengamalkan ilmunya, dan di […] Tulisan Sikap Orang Berilmu Terhadap Dakwah Tauhid ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.
Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 8 Juli 2025Bacaan: "Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang." (2 Kor 3:2)Renungan: Di dalam autobiografinya, Mahatma Gandhi mengatakan bahwa pada masa sekolahnya dia sangat tertarik pada Alkitab. Hatinya tersentuh secara mendalam ketika dia membaca Injil. Pada suatu hari minggu dia pergi ke gereja untuk mengikuti ibadah, tetapi ketika dia memasuki gereja, penyambut tamu di gereja menolak memberikan tempat duduk kepadanya dan menyarankan supaya dia pergi dan beribadat bersama-sama orangnya sendiri. Mahatma Gandhi meninggalkan tempat itu dan tak mau kembali lagi. Dia berkata, "Jikalau orang Kristen mempunyai perbedaan kasta juga, lebih baik aku tetap menjadi orang Hindu." Terkadang tanpa kita sadari perkataan dan perbuatan kita menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk mengenal Yesus. Ada banyak kesempatan kita mengenalkan kasih Yesus tapi sering hal itu terlewat begitu saja. Sikap dan perkataan kasar terhadap pembantu atau supir, sikap cuek dan acuh tak acuh terhadap penderitaan tetangga kiri dan kanan, terkadang hal itu membuat mereka benci dengan kekristenan. Padahal Yesus mengajak kita semua untuk berpikir, berkata-kata dan bertindak menggunakan bahasa kasih, agar semakin banyak orang mengenal dan menerima kasih Yesus di dalamnya. Maukah kita menjadi rekan kerja Yesus untuk meluaskan kerajaan-Nya di dunia? Kalau mau, marilah kita menjadikan pikiran, perkataan dan perbuatan kita dengan bahasa kasih, sehingga kehadiran kita dapat menjadi tanda kehadiran Yesus di dunia ini. Tuhan Yesus memberkati.Doa:Tuhan Yesus, ubahlah pikiran, perkataan dan perbuatanku serupa dengan pikiran, perkataan dan perbuatan-Mu sendiri dengan bahasa kasih, agar setiap orang yang bergaul dan berhubungan denganku setiap hari boleh mengenal dan merasakan kasih-Mu yang mengalir melalui kehidupanku. Sehingga melalui kehadiranku semakin banyak jiwa kupersembahkan kepada-Mu. Amin. (Dod).
Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 9 Mei 2025Bacaan: Tanya Yesus kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang buta itu: "Rabuni, supaya aku dapat melihat!" (Markus 10:51) Renungan: Suatu ketika Bartimeus yang buta berteriak-teriak di pinggir jalan Yerikho, "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Banyak orang kemudian mencoba untuk menghentikan jeritan hatinya. Tetapi Bartimeus berseru semakin kuat. Dan ketika Yesus memanggilnya, ia meninggalkan jubahnya dan segera pergi menghadap Yesus. Lalu Yesus bertanya, "Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Sungguh suatu tawaran yang indah, yang juga merupakan sebuah pertanyaan yang selalu Tuhan ajukan pada kita Tetapi banyak kali kita tidak dapat mendengarnya karena kita tidak memiliki sikap hati yang benar seperti Bartimeus. Bartimeus memang memiliki mata jasmani yang buta, namun ia memiliki mata iman yang mampu menembus dinding keterbatasan untuk melihat kuasa Yesus tercurah atas dirinya. Sebaliknya, kita yang memiliki mata jasmani yang melihat, namun memiliki sikap hati dan mata iman yang buta, sehingga kita hanya berputar-putar pada situasi yang buntu. Mata iman yang buta akan mendatangkan kelumpuhan mujizat Tuhan dalam hidup kita. Untuk itu, marilah kita melihat beberapa sikap hati Bartimeus yang mampu mengusir kebutaan rohani dan mengalami kuasa-Nya.Pertama, pada waktu Bartimeus mendengar orang banyak lewat, ia bertanya, "Apa itu?" Kata orang kepadanya, "Yesus, orang Nazaret lewat." Lalu ia berseru, "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Bartimeus mengetahui bahwa Yesus adalah Si Pembuat Mujizat. Sehingga ketika ia mendengar tentang Dia, timbullah sikap hati yang penuh pengharapan dan berseru-serulah ia kepadaNya. Siapakah Yesus dalam kehidupan kita dan sejauh manakah kita mengenal pribadi-Nya? Pemahaman dan pengenalan yang benar tentang Dia akan sangat memberi dampak kepada kehidupan iman dan pengharapan kita.Kedua, banyak orang di sekitar Bartimeus mencoba menghentikan seruan hatinya. Namun semakin keras ia berseru. Sikap orang-orang di sekitarnya tidak menghentikan langkah Bartimeus untuk terus berseru bahkan ia berseru semakin kuat karena ia tidak tahu pada jeritan keberapakah suaranya akan dapat didengar oleh Yesus di tengah hiruk-pikuk orang banyak itu. Hal apakah yang sering menghentikan kita menjerit di hadapan-Nya? Apakah kekecewaan, keputusasaan, ketidakpercayaan, keraguan, kelelahan, kesombongan diri telah menghentikan langkah kita untuk memohon belas kasihan-Nya, sehingga kita menjadi pahlawan yang kalah sebelum berperang? Jangan kita menjadi lelah dan putus asa, melainkan teruslah berseru kepadaNya siang dan malam, sampai la muncul membenarkan kita.Ketiga, Bartimeus menanggalkan jubahnya agar tak ada sesuatu pun yang mungkin akan memperlambat langkahnya menghampiri Yesus. Apa jubah yang telah memperlambat langkah kita untuk menghampiri-Nya. Tanggalkanlah segala jubah keraguan karena la yang memanggil kita memiliki jawaban atas segala persoalan kita. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus mampukanlah aku menanggapi panggilan-Mu dan memandang Engkau dengan mata iman sehingga aku mengalami kuasa-Mu dalam hidupku. Amin. (Dod).
Kencan Dengan Tuhan - Minggu, 4 Mei 2025Bacaan: "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib." (1 Petrus 2:9) Renungan: Suatu ketika Raja Louis XVI digulingkan dari takhtanya oleh orang-orang yang mengkudeta kerajaan dan menjebloskannya ke dalam penjara. Setelah itu, sang pangeran, putra Louis XVI yang merupakan calon pewaris takhta juga diculik. Kelompok yang melakukan kudeta berupaya dengan berbagai cara agar pangeran tidak menjadi raja. Mereka memang tidak melakukan kekerasan terhadapnya, melainkan berusaha "merusak" moralnya dengan kebiasaan-kebiasaan yang tidak sepatutnya. Jika pangeran termakan godaan mereka dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar moral, maka ia tidak mungkin naik takhta, demikian pikir mereka. Mulailah kelompok pengkudeta melakukan aksinya. Setiap hari mereka menyuguhkan makanan yang enak dan mewah dalam jumlah yang sangat banyak. Tak ketinggalan pula aneka minuman anggur yang memabukkan, para wanita yang sangat erotis, kata-kata kotor dan kasar yang tidak biasa didengar apalagi diucapkan oleh seorang bangsawan sepertinya. Mereka terus-menerus melakukan itu dengan harapan sang pangeran akan terpengaruh. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulan berganti bulan. Tak terasa, enam bulan sudah berlalu. Para pengkudeta melihat bahwa sang pangeran sama sekali tidak tergoda, ia tetap pada pendiriannya. Mereka heran, bagaimana mungkin seorang muda seperti pangeran bisa memiliki pendirian tak tergoyahkan seperti itu. Akhirnya, mereka bertanya kepada pangeran mengapa pendiriannya begitu kokoh sehingga ia tidak tergoda sama sekali. Sang pangeran pun berkata, "Ayahku adalah seorang raja dan aku dilahirkan sebagai seorang pangeran yang sudah ditetapkan untuk menjadi raja. Jadi, tidak mungkin aku mau melakukan perbuatan yang menjijikkan seperti itu. Itu bukan kebiasaan seorang bangsawan." Mereka yang mendengar jawaban sang pangeran kini terdiam. Di dalam 1 Ptr 2:9 berkata, "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib." Orang-orang percaya adalah anak-anak Kerajaan yang sudah dipanggil keluar dari kegelapan dosa. Sebagai anak-anak Kerajaan, kita wajib hidup di bawah hukum Kerajaan Tuhan yang menekankan kekudusan hidup. Jika kita memegang prinsip ini dan menyadari bahwa kita adalah anak-anak Raja, maka kita tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan tercela. Sekalipun dunia mempengaruhi kita dengan begitu kuat, tetaplah berdiri teguh. Ingatlah bahwa Tuhan telah memindahkan kita dari kegelapan ke dalam terang. Kita adalah anak-anak Raja, para pewaris Kerajaan Sorga yang harus menunjukkan sikap hidup yang pantas sebagai anak-anak Raja. Hendaklah hidup kita berbeda dengan dunia ini, karena kita tidak lahir dari dunia. Tuhan Yesus memberkati.Doa:Tuhan Yesus, topanglah aku dengan kekuatan kuasa-Mu agar aku dapat berdiri teguh di tengah-tengah dunia yang banyak mempunyai pengaruh jahat. Amin. (Dod).
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 24 April 2025Bacaan: "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" (Roma 12:12) Renungan: Di dalam kehidupan ini, ada banyak masalah yang dapat membuat kita terus-menerus diliputi oleh rasa cemas. Masalah itu bisa saja bersumber dari masa lalu, masa kini maupun masa depan. Masalah-masalah itu bisa berkaitan dengan apa saja dan dengan siapa saja, misalnya: masalah suami-isteri, orang tua dengan anak, ekonomi, lingkungan, pendidikan, dll. Kecemasan mengusir ketenangan hati. Mungkin kita perlu mengajukan pertanyaan, "Apa yang sedang saya cemaskan saat ini? Mengapa saya cemas?" Kita dapat menuliskannya di selembar kertas, daftarkan hal-hal apa saja yang sedang kita cemaskan dan juga penyebab-penyebab kecemasan itu. Kemudian amati daftar kecemasan itu dengan cermat, maka kita akan melihat bahwa sebenarnya tidak ada satu pun dari kecemasan itu yang akan menjadi kenyataan. Kecemasan tidak menghasilkan apa-apa, walaupun kita telah menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk memikirkannya. Orang yang selalu optimis dan bersemangat umumnya memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Ada satu penelitian menghasilkan kesimpulan sebagai berikut, "Pria yang selalu optimis ternyata relatif lebih sehat jika dibandingkan dengan pria yang selalu pesimis." Uji klinisnya menyatakan bahwa, "Pria yang selalu optimis paru-parunya berfungsi dengan baik, sebaliknya pria yang selalu pesimis paru-parunya tidak berfungsi dengan baik. Sikap optimis ternyata melancarkan sirkulasi udara dari dan ke paru-paru, sehingga hal ini berguna untuk mengurangi risiko penyakit kronis." Kita harus meninggalkan kecemasan dan berusaha meraih sukacita dengan selalu bersikap optimis. Menjadi orang yang bersukacita berarti mengusahakan agar suasana hati tetap dalam keadaan gembira dan tidak khawatir tentang apapun yang akan terjadi di dalam hidup kita. Mungkin kita bukan orang yang periang, tetapi ada banyak orang telah diubahkan hidupnya ketika mereka belajar meraih sukacita, bersikap optimis dan mulai meletakkan hidup mereka di tangan pemeliharaan Tuhan. Kekhawatiran hanya akan membuat kita lemah dan tidak percaya kepada Tuhan. Kitab Mazmur menganjurkan, "Serahkanlah segala khawatirmu kepada TUHAN, maka ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkanNya orang benar itu goyah." (Mazmur 55:23). Jika kita percaya pada kemahakuasaan Allah, maka kita akan hidup dengan tenang jika kita menyerahkan hidup kita kepada-Nya. Saat kecemasan menyerang, kita dapat mengatakan pada jiwa kita, "Don't worry, be happy." Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, seringkali aku berusaha mengatasi masalah dengan kekuatanku sendiri sehingga rasa cemas selalu meliputiku. Saat ini aku minta kepada-Mu untuk mengangkat kecemasan dari hidupku dan menggantinya dengan sukacita. Amin. (Dod).
Pembawa Renungan: Alland Angelbarth Kewas – Surabaya Pengantar Renungan: Yuniarti Yap - Jakarta Sound Editing: Aris Kurniyawan - Jakarta Cover Editing: Anastasia Sonia - Jakarta LUK 16: 19-31
Membangun rumah tangga harus mandiri, lepas daripada pengaruh orang tua, keputusan akhir tetap di tangan Anda berdua. // Hidup Yesus adalah kehidupan yang penuh penyangkalan diri dan selalu memikirkan orang lain.
Sikap Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap Penguasa adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Syarhus Sunnah karya Imam Al-Barbahari Rahimahullah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Iqbal Gunawan, M.A Hafidzahullah pada Rabu, 08 Rajab 1446 H / 08 Januari 2025 M. Kajian Islam Tentang Sikap Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap Penguasa Salah satu pokok […] Tulisan Sikap Ahlusunah wal Jamaah terhadap Penguasa ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.
Pembawa Renungan : RP. Petrus Santoso, SCJ Hongkong Mat. 19:16-22.