Podcasts about lingkungan

  • 356PODCASTS
  • 631EPISODES
  • 25mAVG DURATION
  • 5WEEKLY NEW EPISODES
  • Feb 8, 2026LATEST

POPULARITY

20192020202120222023202420252026


Best podcasts about lingkungan

Show all podcasts related to lingkungan

Latest podcast episodes about lingkungan

METRO TV
Polri TNI Bersihkan Waduk Sunter Jakarta Demi Lingkungan - Headline News Edisi News MetroTV 7295

METRO TV

Play Episode Listen Later Feb 8, 2026 2:48


Sinergitas antara Polri, TNI, dan pemerintah daerah dalam aksi membersihkan wilayah Waduk Sunter di Tanjung Priok, Jakarta Utara, menunjukkan komitmen tinggi dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman. Aksi serentak ini mencakup pembersihan sampah rumah tangga, botol plastik, dan limbah lainnya di 13 titik di Jabodetabek. Selain itu, penertiban baliho dan papan reklame yang tidak berizin juga dilakukan untuk menjaga estetika kota. Gerakan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto.

Radio Elshinta
Memahami Bencana Indonesia Berbasis Ilmu Lingkungan dan Kehutanan Tropis

Radio Elshinta

Play Episode Listen Later Jan 29, 2026 37:44


Pendengar Elshinta, dalam beberapa pekan terakhir bencana terjadi hampir bersamaan di berbagai wilayah Indonesia, dari Sumatera hingga Jawa dan kawasan timur. Fenomena ini memunculkan pertanyaan tentang kondisi sistem alam dan lingkungan kita saat ini.Radio Elshinta menghadirkan Prof. Dr. Ir. Yanto Santosa, DEA, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, untuk membahas fenomena bencana dari sudut pandang ilmu lingkungan dan kehutanan. Diskusi ini mengulas keterkaitan perubahan iklim, kondisi ekosistem, dan aktivitas manusia, serta pentingnya pengelolaan lingkungan berkelanjutan untuk mengurangi risiko bencana ke depan.

Surabaya Mengaji
Audio Buletin 198 - Petunjuk Nabi Dalam Menjaga Kelestarian Lingkungan

Surabaya Mengaji

Play Episode Listen Later Jan 19, 2026 1:22


Ini Koper
#811 Uang Ratusan Juta Menanti Anak Muda Indonesia!

Ini Koper

Play Episode Listen Later Jan 13, 2026 6:38


Seringkali ide brilian anak muda untuk menyelamatkan lingkungan hanya berakhir sebagai wacana karena terbentur masalah modal. Kini, alasan tersebut tidak lagi berlaku karena Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) hadir membawa solusi nyata. Melalui sinergi kuat antara Kementerian Keuangan, Kementerian Kehutanan, dan Kementerian Lingkungan Hidup, pemerintah telah menyiapkan dana ribuan miliar rupiah yang berasal dari kerja sama internasional untuk mendukung aksi nyata generasi muda di seluruh pelosok negeri. Peluang ini terbuka lebar dalam bentuk "Layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan" dengan nilai hibah mulai dari 30 juta hingga 750 juta rupiah per proyek. Menariknya, ini bukanlah pinjaman melainkan hibah murni yang tidak perlu dikembalikan, asalkan digunakan sesuai rencana aksi. Baik itu program bank sampah di desa, restorasi hutan bersama Kementerian Kehutanan, hingga kampanye energi terbarukan, semua kelompok pemuda, mahasiswa, maupun komunitas lokal dapat mengaksesnya melalui proses pendaftaran online yang transparan, tanpa pungli, dan tanpa calo. Jangan biarkan krisis iklim merampas masa depan kita tanpa perlawanan. Inilah saatnya mengubah kegelisahan menjadi tindakan konkret dengan dukungan penuh dari negara. Segera bentuk kelompokmu, susun rencana aksi yang berdampak, dan daftarkan melalui laman resmi BPDLH. Masa depan bumi ada di tangan mereka yang berani mengambil inisiatif hari ini—buktikan bahwa anak muda Indonesia bukan sekadar penonton, melainkan motor utama solusi perubahan iklim dunia!

Ini Koper
#789 Memperkuat Gerakan LIngkungan Hidup

Ini Koper

Play Episode Listen Later Jan 8, 2026 6:49


Farah Sofa, aktivis perubahan sosial, menulis WALHI harus berubah karena dinamika diseminasi informasi saat ini telah melampaui kecepatan metode komunikasi tradisional yang selama ini digunakan. Sebagai garda terdepan perlindungan lingkungan di Indonesia, WALHI tidak lagi cukup hanya berperan sebagai lembaga pengawas (watchdog), melainkan harus bertransformasi menjadi sebuah ekosistem digital yang inklusif. Perubahan ini mendesak agar organisasi tidak kehilangan relevansi di mata basis massanya, di mana dukungan masyarakat harus dikelola bukan sekadar sebagai pengikut pasif, melainkan sebagai manifestasi kepercayaan yang aktif terhadap nilai-nilai fundamental perjuangan ekologis. Transformasi tersebut harus dimulai dari cara WALHI berkomunikasi, yakni dengan melakukan humanisasi narasi dan simplifikasi jargon teknis yang selama ini sering menghambat pemahaman publik. WALHI perlu menutup "kesenjangan dampak" dengan memberikan transparansi penuh atas hasil setiap advokasi, termasuk berani membagikan analisis kegagalan sebagai bahan pembelajaran kolektif. Dengan memutakhirkan data secara real-time dan mengubah pendukung menjadi ko-kreator, WALHI dapat membangun benteng organisasi yang lebih tangguh karena setiap individu dari berbagai profesi merasa memiliki peran strategis dalam merumuskan strategi gerakan. Secara internal, WALHI harus merombak arsitektur organisasinya dari bentuk federasi yang cenderung terfragmentasi menjadi sebuah ekosistem yang terintegrasi melalui platform pertukaran pengetahuan digital. Penguatan ini melibatkan pemanfaatan alumni sebagai cadangan strategis melalui program mentor serta penerapan model pendanaan yang lebih resilien, seperti advokasi dukungan inti yang tidak terikat. Melalui langkah-langkah sistemik ini, WALHI akan mampu menghadapi tantangan politik dan lingkungan yang semakin kompleks di masa depan, memastikan bahwa gerakan ini tetap menjadi kekuatan rakyat yang signifikan dan tidak dapat diabaikan.

Radio Elshinta
Outlook 2026: Masa Depan Lingkungan Hidup Indonesia Dipertaruhkan

Radio Elshinta

Play Episode Listen Later Jan 5, 2026 54:49


"Bagaimana situasi lingkungan hidup Indonesia pada 2026, akankah alami perbaikan atau malah sebaliknya?"Nantikan pembahasannya dalam #Outlook2026 bersama narasumber:1. Ketua Masyarakat Geologi Tata Lingkungan Indonesia - Ikatan Ahli Geologi Indonesia (MAGETI - IAGI) Ir. Indra Badri, BS., SM., APU2. Anggota Komisi XII DPR RI Ir. H. Ateng Sutisna, MBA

Ini Koper
#783 Wahana Aktivis Lingkungan

Ini Koper

Play Episode Listen Later Jan 3, 2026 6:17


Wahana, atau Vāhana dalam kearifan lama, adalah sebuah kendaraan yang mengemban titah luhur—sebuah medium yang menghubungkan niat suci dengan tindakan nyata. Di sinilah para Aktivis Hijau menemukan muaranya: sebuah rumah besar yang menampung kegelisahan kolektif akan bumi yang kian renta dan luka. Mereka tidak sekadar berhimpun dalam organisasi; mereka naik ke atas "wahana" ini untuk mengubah keresahan pribadi menjadi aksi publik, menjadikan WALHI sebagai sekolah kehidupan tempat kemanusiaan dan alam dipertemukan kembali dalam satu tarikan napas perjuangan yang militan dan tanpa pamrih. Di garis depan, jalan yang ditempuh kaum aktivis ini jarang sekali lapang atau benderang. Mereka adalah para pendamping warga yang tergusur, pelawan korporasi raksasa yang seolah tak tersentuh, dan penjaga hutan adat yang sering kali harus berhadapan dengan represi kekuasaan yang beku. Namun, di tengah kepungan ancaman dan keterbatasan ekonomi, muncul ketangguhan yang luar biasa—termasuk dari para perempuan yang dengan gigih mendobrak maskulinitas gerakan—membuktikan bahwa keadilan ekologis bukanlah sekadar jargon di atas kertas, melainkan sebuah martabat yang harus direbut melalui pengorganisasian rakyat yang konsisten dan berani. Kekuatan sejati mereka akhirnya terpancar dari hubungan yang organik dengan rakyat kecil; dari warga desa yang membawa hasil bumi sebagai tanda kepemilikan, hingga sapaan "Adil dan Lestari" yang senantiasa menggetarkan setiap pertemuan. WALHI telah menjadi bagian dari denyut nadi masyarakat yang merindukan keadilan atas tanah, air, dan ruang hidup mereka yang dirampas. Maka, wahai Kaum Aktivis Hijau, teruslah merawat api kegelisahan ini dan jadikanlah ia lentera di tengah kegelapan, karena di tangan kalianlah keberlanjutan bumi ini dipertaruhkan agar masa depan tidak menjadi puing, melainkan sebuah warisan yang layak bagi anak cucu.

Radio Elshinta
Guru Besar IPB: Sawit Perlu Dilihat Secara Adil, Bisa Jadi Solusi Ekonomi Tanpa Abaikan Lingkungan

Radio Elshinta

Play Episode Listen Later Dec 31, 2025 29:44


Guru Besar IPB University sekaligus PakarHutan dan Lingkungan Prof. Sudarsono Soedomo menegaskan pentingnya melihat isu sawit secara adil, ilmiah, dan rasional. Dalam wawancara bersama Radio Elshinta, ia menilai sawit dapat menjadi solusi ekonomi jika dikelola sesuai tata ruang dan kaidah lingkungan, tanpa saling menyalahkan secara emosional. Kunci utama pengelolaan lingkungan, menurutnya, terletak pada perencanaan tata ruang, mitigasi bencana, dan edukasi publik berbasis data.

Radio Elshinta
Membaca Ulang Isu Sawit: Antara Lingkungan, Hukum, dan Kepentingan Nasional

Radio Elshinta

Play Episode Listen Later Dec 29, 2025 35:09


Setiap kali bencana banjir melanda, satu komoditas kerap berada di garis depan tudingan: sawit. Dalam ruang publik, isu ini sering disederhanakan seolah satu sektor menjadi penyebab tunggal persoalan lingkungan yang kompleks. Padahal, di balik banjir dan kerusakan ekosistem, terdapat persoalan yang jauh lebih mendasar mulai dari tata kelola sumber daya alam, penegakan hukum, hingga perencanaan ruang yang lemah.Dalam episode Podcast Elshinta kali ini, Pemimpin Redaksi Elshinta, Haryo Ristamaji, mengajak Anda membaca ulang isu sawit secara lebih proporsional dan berbasis data bersama Guru Besar IPB sekaligus pakar agribisnis dan kebijakan pembangunan, Prof. Bayu Krisnamurthi. Diskusi ini mengulas hubungan antara sawit, lingkungan hidup, dan bencana alam, sekaligus menempatkan sawit dalam konteks kepentingan nasional sebagai sektor strategis yang menopang jutaan lapangan kerja, pembangunan daerah, dan ketahanan energi.Apakah kebijakan kita sudah menyasar akar masalah, atau justru salah alamat?Simak perbincangan mendalam ini untuk memahami sawit secara lebih jernih tanpa stigma, dengan perspektif yang utuh.

Radio Elshinta
Sawit, Bencana Alam, dan Tata Ruang: Memahami Akar Persoalan Lingkungan Secara Ilmiah

Radio Elshinta

Play Episode Listen Later Dec 23, 2025 29:44


Bencana alam kerap dikaitkan dengan isu sawit dan pengelolaan lahan. Namun, benarkah kelapa sawit menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan, atau ada persoalan lain yang lebih mendasar?Guru Besar IPB University sekaligus pakar hutan dan lingkungan, Prof. Dr. Ir. Sudarsono Soedomo, MSc., mengajak publik melihat isu ini secara jernih, ilmiah, dan tidak emosional. Ia menekankan pentingnya perencanaan tata ruang serta pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) dari hulu hingga hilir sebagai kunci menjaga keseimbangan lingkungan.Simak penjelasan lengkapnya dalam podcast yang dipandu Pemimpin Redaksi Radio Elshinta, Haryo Ristamaji.

Radio Elshinta
Guru Besar IPB: Sawit Perlu Dilihat Secara Adil, Bisa Jadi Solusi Ekonomi Tanpa Abaikan Lingkungan

Radio Elshinta

Play Episode Listen Later Dec 22, 2025 2:49


Guru Besar IPB University (Institut Pertanian Bogor) sekaligus pakar hutan dan lingkungan Prof. Dr. Ir. Sudarsono Soedomo, MSc., menegaskan pentingnya melihat isu sawit dan pengelolaan lahan secara jernih, ilmiah, dan tidak emosional. Menurutnya, sawit tidak bisa serta-merta disalahkan atas berbagai persoalan lingkungan, terutama jika dikelola sesuai tata ruang dan kaidah yang berlaku. Dalam wawancara khusus bersama Radio Elshinta, Senin (22/12/2025), Prof. Soedarsono menilai, perdebatan publik terkait bencana alam kerap dibumbui emosi berlebihan dan saling menyalahkan, tanpa melihat akar persoalan secara utuh. “Kita tidak akan menyelesaikan masalah dengan emosi. Mari melihat dengan kepala dingin dan secara fair,” ujar Prof. Soedarsono.

Radio Elshinta
Prabowo Tinjau Pengungsian Aceh Tamiang: Janji Pemulihan dan Peringatan Soal Lingkungan

Radio Elshinta

Play Episode Listen Later Dec 12, 2025 3:05


Presiden Prabowo Subianto meninjau posko pengungsian di Aceh Tamiang pascabanjir besar yang sempat memutus akses wilayah tersebut. Dalam kunjungannya, Presiden memastikan percepatan pemulihan, meminta maaf atas layanan yang belum maksimal, serta menegaskan pentingnya kewaspadaan dan pengelolaan lingkungan untuk mencegah bencana serupa. Simak penjelasan lengkap dan pesan Presiden kepada warga terdampak.

Pinter Politik
The Rise of Influencer Lingkungan

Pinter Politik

Play Episode Listen Later Dec 9, 2025 3:15


Hari ini, oposisi tidak selalu berbicara di Senayan. Kadang, mereka menembus banjir dengan kamera HP.#banjir #JerhemyOwen #Sumatra #ChaneeKalaweit #banjirSumatra #AndrewKalaweit #PandawaraGroup #influencer #shorts #pinterpolitik #beritapolitik #fyp #foryoupage #foryourpage

Radio Elshinta
Pemerintah Siapkan Sanksi Perdata dan Pidana Perusak Lingkungan di Sumut

Radio Elshinta

Play Episode Listen Later Dec 7, 2025 29:08


Pemerintah menegaskan kesiapan menyiapkan sanksi perdata dan pidana bagi perusahaan yang diduga merusak lingkungan dan memperburuk risiko bencana di Utara Sumatera. Di tengah proses pemulihan warga yang masih berlangsung, penegakan hukum menjadi sorotan publik. Sejauh mana kesiapan pemerintah memastikan penindakan yang tegas dan transparan? Simak pembahasannya bersama Pakar Hukum Pidana Prof. Dr. Hamidah Abdurrachman, S.H., M.Hum.

Radio Elshinta
Pemerintah Wacanakan Sanksi Perdata dan Pidana bagi Perusahaan Perusak Lingkungan Usai Banjir Sumatera Utara

Radio Elshinta

Play Episode Listen Later Dec 6, 2025 11:57


#DiskusiInteraktif Pemerintah wacanakan terapkan sanksi perdata dan pidana terhadap perusahaan perusak lingkungan hidup usai banjir di Utara Sumatera, Apa yang harus diperhatikan? [TALK] Pakar hukum pidana - Dosen Fakultas Hukum (FH) UnTar, Dr. Hery Firmansyah, S.H., M.Hum., MPA&Sekretaris Pendiri Indonesia Audit Watch, Iskandar Sitorus

Ruang Publik
Menuntut Keadilan untuk Aktivis Lingkungan Dera-Munif

Ruang Publik

Play Episode Listen Later Dec 5, 2025 44:05


Di tengah mata publik tertuju pada bencana Sumatera, Polri malah gencar menangkap aktivis. Pada Kamis (27/11) pekan lalu, Polrestabes Semarang menangkap Adetya Pramandira dan Fathul Munif, aktivis lingkungan dan HAM. Dera dan Munif disangka melanggar UU ITE dan pasal penghasutan. Mirisnya, kriminalisasi ini terjadi sekitar dua pekan sebelum keduanya melangsungkan pernikahan pada 11 Desember mendatang.Desakan pembebasan Dera dan Munif terus menguat. Beberapa tokoh masyarakat seperti pengurus PW NU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh dan Sekjen Asosiasi FKUB Indonesia KH Taslim Syahlan menjaminkan diri agar penahanan Dera-Munif bisa ditangguhkan.Desakan serupa disuarakan oleh Komisi Percepatan Reformasi Polri agar polisi segera melepaskan Dera-Munif, juga Laras Faizati. Ketiganya adalah bagian dari 1.038 orang yang ditetapkan tersangka terkait kerusuhan demo Agustus 2025 lalu.Bagaimana kondisi Dera dan Munif? Seperti apa perkembangan terbaru kasus ini? Mengapa berbagai desakan pembebasan tak digubris polisi? Upaya apa lagi yang bisa ditempuh Dera-Munif maupun aktivis lain untuk mendapatkan keadilan?Di Ruang Publik KBR kita akan bahas topik ini bersama Kuasa Hukum Dera dan Munif dari Tim Hukum Suara Aksi, Nasrul Saftiar Dongoran, S.H., M.H, Peneliti Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Octania Wynn, dan Pegiat Lingkungan Daniel Tangkilisan.

METRO TV
Ketua DPD RI Soroti Banjir Sumatera dan Dampak Lingkungan - Headline News Edisi News MetroTV 6839

METRO TV

Play Episode Listen Later Dec 2, 2025 3:05


Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamuddin menegaskan bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh bukan sekadar masalah hidrometeorologi, tetapi juga ada campur tangan manusia. Sultan menekankan pemerintah perlu meramu kebijakan secara ekologis, menjaga ekosistem sungai, flora, dan fauna. Hingga kini BNPB mencatat 631 orang meninggal dunia, 472 hilang, dan 2.600 terluka. Lebih dari 3,2 juta warga terdampak dan sekitar 1 juta mengungsi.#BanjirSumatera #SultanBachtiarNajamuddin #DPDRI #BNPB #GreenDemocracy #MetroTV #Lingkungan #BencanaAlam

Radio Elshinta
Sumatera Dilanda Banjir Longsor: Apa yang Salah dengan Tata Kelola Lingkungan?

Radio Elshinta

Play Episode Listen Later Nov 30, 2025 29:27


Banjir bandang dan tanah longsor melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, menelan korban jiwa serta memaksa ratusan ribu warga mengungsi. Sejumlah akses terputus, wilayah terisolir, dan distribusi bantuan yang terhambat menunjukkan bahwa bencana ini bukan hanya soal cuaca ekstrem, tetapi juga rapuhnya tata kelola lingkungan dan rusaknya ekosistem.Dalam episode ini, kita mengulas sejauh mana penanganan dilakukan, apa tantangannya, dan langkah apa yang harus ditempuh agar kejadian serupa tidak terus berulang.Narasumber: Andre Rosiade, Anggota DPR RI Dapil Sumatera Barat.

Radio Elshinta
Kasi Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Rahmat Aji Pramono Mengingatkan Bahwa Paparan Mikroplastik Yang Berlebihan Diduga Dapat Memengaruhi Kesehatan Organ Tubuh.

Radio Elshinta

Play Episode Listen Later Oct 24, 2025 2:13


JAKARTA - Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan P2P Dinkes Provinsi DKI Jakarta, Rahmat Aji Pramono, menjelaskan bahaya mikroplastik dan partikel halus PM2,5 terhadap kesehatan manusia. Dia mengatakan jika partikel ini sudah masuk ke dalam tubuh dan peredaran darah bisa mengganggu organ manapun yang dilewatinya. Rahmat juga menuturkan dampak paling serius terjadi pada ibu hamil karena mikroplastik dapat menghambat penyaluran nutrisi ke janin. Kondisi ini dapat memicu kelahiran prematur atau berat badan bayi yang rendah. Ia menyebut sejumlah peneliti telah menunjukkan kaitan antara paparan PM2,5 dengan gangguan pertumbuhan janin. "Mikroplastik yang kurang sangat kecil. Memang dari beberapa penelitian ini, ketika dia sudah masuk ke dalam tubuh kita dan dia masuk ke dalam peredaran darah, itu bisa mengganggu organ manapun yang dia kunjungi ya. Termasuk ketika dia ibu hamil dan ketika polutan ini sampai kepada perdaerahan untuk janin, ini bisa mengganggu untuk pemberian nutrisi pada janinnya.""Memang di dalam beberapa penelitian, penyebab dari PM2,5 ini bisa menyebabkan gangguan tumbuh kembang si janin di dalam tubuh.""Jadi janinnya akan lahir prematur atau janinnya akan lahir dengan berat badan yang kurang, itu bisa jadi seperti itu." "Nah kalau tadi yang pertanyaan berikutnya yang terkait tentang autisme ya, autisme ini sepertinya tidak terlalu ada efek langsung dari si PM2,5 ini atau dari mikroplastiknya." "Banyak faktor-faktor lain yang menyebabkan terjadinya autisme pada anak-anak kecil."Meski begitu, Rahmat menegaskan belum ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa mikroplastik secara langsung menyebabkan autisme pada anak. Dan juga, jika pemaparan tidak terlalu intensif, maka penyakit tersebut tidak akan menyakiti pada janin dan juga sang ibu. Menurutnya, gangguan tersebut dipengaruhi banyak faktor, meski mikroplastik tetap menjadi salah satu resiko bagi kesehatan janin dan perkembangan anak.Laporan dari Balai Kota DKI Jakarta, Reynaldi Adi Surya.

Ruang Publik
Dugaan Bullying Berujung Maut di Grobogan dan Siklus Kekerasan di Sekolah

Ruang Publik

Play Episode Listen Later Oct 16, 2025 43:22


Dunia pendidikan Indonesia kembali berduka. Di Grobogan, Jawa Tengah, siswa kelas VII SMP Negeri 1 Geyer, berinisial ABP, meninggal dunia, diduga karena dibully dan dianiaya teman sekelasnya. Peristiwanya terjadi pada Sabtu, 11 Oktober lalu, dan masih diusut polisi. Dua teman sekelas korban ditetapkan sebagai tersangka pada Rabu kemarin.Kasus-kasus bullying masih marak terjadi di sekolah. Selain Grobogan, belakangan ini ada juga kasus di Pacitan, Lampung, dan berbagai daerah lain. Data Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) menunjukkan tindak kekerasan anak naik 34 persen dibandingkan tahun sebelumnya dengan total 21 ribu anak menjadi korban perundungan fisik dan psikis. Lingkungan sekolah menjadi salah satu tempat kejadian terbanyak yang dilaporkan.Padahal, sejak 2023, ada Peraturan Menteri Pendidikan tentang kewajiban tiap satuan pendidikan membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK). Fungsinya, melakukan deteksi dini, penanganan cepat, dan pendampingan psikologis bagi korban maupun pelaku anak.Namun, kenapa perundungan di lingkungan sekolah masih terus berulang? Apa akar masalahnya? Bagaimana menciptakan sekolah yang aman dan bebas dari kekerasan?Di Ruang Publik KBR kita akan bahas topik ini bersama Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi, Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Yogyakarta sekaligus Peneliti dan Asesor Dr. Eva Imania Elisa, M. Pd, dan Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) Agustinus Sirait.

Radio Elshinta
Bagaimana menengahi pro kontra kepala sekolah tampar siswa karena ketahuan merokok di lingkungan sekolah?

Radio Elshinta

Play Episode Listen Later Oct 15, 2025 13:42


“Kasus kepala sekolah yang menampar siswa karena ketahuan merokok di lingkungan sekolah tengah menuai pro dan kontra. Sebagian pihak menilai tindakan itu sebagai upaya pendisiplinan, namun banyak pula yang menegaskan bahwa kekerasan fisik tidak dapat dibenarkan dalam dunia pendidikan.Pakar pendidikan menilai, penyelesaian kasus semacam ini harus memisahkan antara pelanggaran siswa dan tindakan kekerasan. Siswa yang melanggar aturan perlu mendapat sanksi pembinaan, sementara pihak sekolah juga harus dievaluasi agar tindakan serupa tidak terulang.Pendekatan edukatif, komunikasi terbuka, dan pelibatan semua pihak diyakini menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan belajar yang disiplin, tapi tetap aman dan manusiawi.”Talk: - Ketua PB PGRI yang juga Pengamat Pendidikan Islam UIN Jakarta, Dr Jejen Musfah MA - Ketua Persatuan Purnabakti Pendidik Indonesia (P3I) Jawa Barat, Iwan Hermawan

Ruang Publik
Risiko Lingkungan di Balik Izin Tambang untuk Koperasi-UMKM-Ormas Keagamaan

Ruang Publik

Play Episode Listen Later Oct 15, 2025 42:36


Koperasi, usaha kecil dan menengah (UMKM), serta organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan mendapat bangku prioritas untuk mengelola tambang. Mereka bisa mengelola tambang hingga 2.500 hektare untuk mineral logam atau batubara lewat Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 39 Tahun 2025 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.PP ini terbit 11 September 2025 sebagai turunan dari UU Minerba terbaru yang disahkan kilat pada Februari 2025. Peraturan Menteri ESDM yang memuat aturan teknis Kelola tambangnya, juga tengah dikebut.  Kebijakan ini banjir kritik. Di balik peluang ekonomi yang digadang-gadang pemerintah, ada ancaman kerusakan lingkungan yang terus diperingatkan masyarakat sipil. Apalagi, koperasi, UMKM, dan ormas keagamaan terbilang pemain baru di dunia tambang, sehingga dinilai minim pengalaman.Seperti apa ancaman kerusakan alam yang berpotensi terjadi sebagai imbas perluasan izin tambang ini? Apakah sudah ada koperasi, UMKM, dan ormas keagamaan yang mendapat izin mengelola tambang? Bagaimana praktiknya? Bagaimana mengantisipasi atau memitigasi dampak buruknya terhadap lingkungan? Seperti apa skema pengawasannya?Di Ruang Publik KBR kita akan bahas topik ini bersama Sekretaris Jenderal Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Eddy Misero, dan Koordinator Nasional Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Melky Nahar.

Udah Jumat Lagi
Keresahan di tahun terakhir kuliah... (Gap Year, PTN, Lingkungan)

Udah Jumat Lagi

Play Episode Listen Later Oct 10, 2025 29:01


Zahid: https://instagram.com/zahidibrAbiyu: https://instagram.com/sfbksZea: https://instagram.com/zeayusufTimestamps0:00 Kenapa waktu itu nyesel pertukaran pelajar?4:44 Merasa ketinggalan gak setelah gap year?8:22 Kerja yang nggak nyambung sama perkuliahan?11:52 Keluar negeri jadi strategi naik kelas sosial?15:14 Membiayai hidup dari kerja part-time?18:54 Kenapa banyak yang pengen masuk PTN?22:17 Meninggalkan lingkungan transformatif selama gap year?24:44 Kenapa nggak follow back orang di Instagram?25:56 Pertemanan genuine vs transaksional?

Radio Elshinta
Insiden di Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, bagaimana mitigasi musibah bangunan ambruk cegah korban jiwa?

Radio Elshinta

Play Episode Listen Later Oct 4, 2025 8:43


Insiden di Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, bagaimana mitigasi musibah bangunan ambruk cegah korban jiwa?Insiden ambruknya bangunan di Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo, menyisakan duka sekaligus peringatan keras. Lingkungan pendidikan, termasuk pesantren, harus lebih siap menghadapi potensi bencana.Mitigasi bukan hanya soal tanggap darurat saat kejadian, tapi juga pencegahan sejak dini — dari pemeriksaan struktur bangunan, penataan ruang aman, hingga pelatihan evakuasi bagi santri dan pengasuh.Tragedi ini seharusnya jadi momentum untuk memastikan setiap ruang belajar aman dan layak huni. Karena keselamatan santri adalah prioritas utama.

Ini Koper
#624 Inovasi Bukan Berkat Jenius Tunggal Melainkan Kecerdasan Kolektif

Ini Koper

Play Episode Listen Later Oct 3, 2025 8:00


Kita diajari dongeng tentang Archimedes dan Newton sebagai penemu tunggal. Narasi ini keliru: inovasi tidak lahir dari kilat tunggal sang jenius. Steven Johnson dalam bukunya Where Good Ideas Come From mengungkapkan cerita-cerita isolasi itu hanyalah mitos yang nyaman, tetapi menyesatkan. Ide-ide hebat tak pernah meledak dari satu otak saja. Mereka wajib tumbuh dalam ekosistem yang kaya koneksi dan bergejolak. Pola kelahiran ide ini berlaku konsisten, mulai dari keragaman di rimba karang lautan hingga dinamika Silicon Valley. Lompatan inovasi tidak bisa terlalu jauh dari kondisi material. Charles Babbage gagal total menciptakan komputer, meski dia brilian. Komponen elektronik yang dibutuhkan Babbage saat itu belum berada dalam ranah Kemungkinan yang Berdekatan (Adjacent Possible). Penemuan adalah pintu yang terbuka menuju kamar baru. Mustahil menembus sepuluh kamar hanya dengan bakat bawaan, tanpa melihat ketersediaan suku cadang. Kemajuan sejati adalah eksplorasi yang terjadi langkah demi langkah, menggunakan komponen yang sudah ada. Ide adalah jaringan, mirip miliaran neuron yang bergejolak di otak kita. Jaringan ini harus cair (liquid) dan fleksibel, bukan kaku. Jaringan Cair menempatkan diri di zona subur "tepi kekacauan," tempat informasi bebas mengalir tanpa kehilangan struktur. Jaringan Cair membuat ide dari berbagai sudut bebas bertabrakan. Kita bisa melihat pola ini di terumbu karang dan kota dagang Renaisans. Desain kantor Google yang tanpa sekat adalah upaya rekayasa untuk memaksa insinyur dari departemen berbeda agar sering bertemu. Kota besar terbukti menjadi mesin superkreatif, melahirkan ide dengan kecepatan luar biasa. Kota adalah jaringan cair raksasa yang padat dan penuh koneksi. Lingkungan yang menghargai kebocoran informasi semacam inilah yang membuat ide-ide busuk cepat matang dan terwujud. Johnson menolak konsep pencerahan mendadak, termasuk pada teori evolusi Darwin. Ide transformatif adalah firasat lambat (Slow Hunch) yang harus diinkubasi. Darwin butuh puluhan tahun mencatat dan merenung sebelum kerangka teori besarnya benar-benar matang. Rahasia Darwin sederhana: ia adalah multitasker lambat yang rajin memungut ide. Dia tekun melakukan commonplacing, sebuah praktik menulis semua pengamatan kecil dalam buku catatan. Teknik ini ampuh melindungi ide samar agar tidak hilang ditelan rutinitas dan tekanan deadline. Fokus harus beralih dari bakat ke desain sistem yang mendukung inkubasi. Triknya bukan menyepi mencari ide besar. Kita harus memberi izin pada diri sendiri untuk memelihara proyek sampingan yang mengambang, seperti Google yang memberikan jatah "20-percent time" kepada para insinyurnya. Serendipitas bukanlah keajaiban tanpa persiapan, melainkan keberuntungan yang dirancang. Ini adalah tabrakan ide yang tidak terduga, tetapi hanya bermakna bagi pikiran yang siap. Kekulé bermimpi ular, namun mimpi itu jadi kunci struktur Benzena karena pikirannya sudah bergumul dengan masalah kimia bertahun-tahun. Lingkungan inovatif wajib memicu perjumpaan acak. Inilah alasan orang sukses sering berkumpul dan bertukar pikiran di ruang publik. Tempat seperti coffee shop adalah titik temu firasat lambat, di mana ide yang terpisah secara geografis akhirnya bertemu. Lingkungan yang terlalu steril dan takut pada kesalahan akan mandul inovasi. Fleming menemukan penisilin dari cawan petri yang terkontaminasi. Kita harus belajar untuk tidak terlalu bersih, sedikit kotor, dan berani salah dalam bereksperimen. Kesalahan sering kali menjadi guru terbaik kita. Ini memaksa kita menjelajah ke wilayah yang belum terpetakan. Wilson Greatbatch menemukan alat pacu jantung karena salah memilih resistor; Johnson menyimpulkan, kebenaran membuat kita statis, kesalahan mendorong kita bergerak. Inovator handal adalah pemikir lintas domain yang berani meminjam. Konsep ini disebut Exaptation, di mana sebuah fitur diubah fungsinya secara mendadak. Contoh klasik adalah bulu burung, yang awalnya berevolusi untuk kehangatan, lalu di-exapt untuk penerbangan. Mesin cetak Gutenberg adalah Exaptation paling fenomenal dalam sejarah. Gutenberg meminjam mekanisme pengepres anggur (wine press). Dia mengubah fungsi alat pembuat minuman keras menjadi mesin pencetak pengetahuan. Milikilah hobi yang beragam, bahkan yang tidak nyambung dengan pekerjaan utama. Inovator seperti Darwin dan Franklin punya banyak "alat konseptual." Kunci kreativitas adalah meminjam solusi dari satu disiplin ilmu untuk memecahkan masalah di disiplin lain. Ide besar tidak dibangun dari nol; selalu ada Platform berlapis sebagai fondasi. YouTube tidak perlu menciptakan Internet, mereka cukup menumpang di atasnya. Platform terbuka semacam ini secara drastis mengurangi biaya dan waktu yang diperlukan untuk memulai eksplorasi. Logika paten dan R&D rahasia itu model inefisien dan berbiaya tinggi. Tembok di sekitar ide melindungi untung jangka pendek, tetapi membunuh inovasi jangka panjang. Ide-ide hebat tidak ingin dilindungi, tetapi ingin terhubung dan berkombinasi. Model lama inovasi adalah perang alam yang keras dan kompetitif. Ini hanya melahirkan sekelompok kecil pemenang. Model masa depan adalah tangled bank, ekosistem rumit yang saling bergantung. Tugas kita kini adalah menjadi arsitek ekosistem terbaik, bukan sekadar mencari si jenius.

Ini Koper
#612 Fitur Aplikasi Pasar Kolaboraya 2025

Ini Koper

Play Episode Listen Later Sep 17, 2025 7:05


Aplikasi Pasar Kolaboraya hadir sebagai platform digital inovatif yang memfasilitasi kolaborasi dan interaksi antar peserta melalui empat tahapan utama yang terstruktur. Mari kita telusuri secara mendalam bagaimana aplikasi ini bekerja untuk menciptakan ekosistem kolaborasi yang efektif. Tahap pertama dimulai dengan proses Bergabung, yang mencakup pendaftaran dan profiling. Setiap peserta yang telah diterima akan mendapatkan tautan khusus untuk mengunduh dan mengakses aplikasi. Proses login dilakukan menggunakan kredensial yang telah diberikan sebelumnya. Setelah berhasil masuk, peserta akan mengisi profil diri mereka melalui formulir digital yang dilengkapi dengan panduan step-by-step yang komprehensif. Sistem dilengkapi dengan indikator progres yang menunjukkan seberapa lengkap data yang telah diisi, misalnya "3/5 data terisi", untuk memotivasi peserta menyelesaikan pengisian data secara menyeluruh. Dalam tahap awal ini, peserta juga akan menentukan peran mereka dalam ekosistem. Aplikasi menyediakan beberapa pilihan peran seperti Builder, Connector, Enabler, Funder, dan Advocate. Setiap peran dilengkapi dengan deskripsi detail melalui pop-up atau ikon informasi yang membantu peserta memahami tanggung jawab dan ekspektasi dari masing-masing peran. Peserta memiliki fleksibilitas untuk memilih satu atau lebih peran yang paling sesuai dengan profil dan minat mereka. Setelah semua data terisi lengkap, sistem akan melakukan validasi otomatis dan menghasilkan barcode unik yang terintegrasi dengan profil digital peserta, berfungsi sebagai tiket masuk sekaligus kartu nama digital di lokasi acara. Tahap kedua berfokus pada Koneksi, di mana aplikasi memfasilitasi pertemuan tatap muka menjadi jaringan digital yang terstruktur dan terukur. Ketika peserta memasuki lokasi acara, modul koneksi akan aktif secara otomatis. Di bagian tengah layar, terdapat tombol "Pindai Barcode" yang mengaktifkan kamera untuk memindai barcode peserta lain. Sistem menggunakan mekanisme permintaan dan persetujuan dua arah yang sophisticated - setelah memindai, layar akan menampilkan pop-up profil peserta yang dipindai dengan opsi untuk mengirim permintaan koneksi. Peserta yang menerima permintaan akan mendapatkan notifikasi in-app dan dapat melihat profil pemindai sebelum memutuskan untuk menerima atau menolak koneksi. Fitur unggulan pada tahap koneksi adalah dasbor real-time yang menampilkan statistik koneksi secara komprehensif. Peserta dapat melihat jumlah total koneksi mereka, analisis keragaman peran yang terhubung (misalnya "terhubung dengan 5 builder dan 3 funder"), serta visualisasi geografis yang menunjukkan persebaran koneksi berdasarkan kota atau daerah asal. Tahap ketiga membahas Kolaborasi, yang mentransformasikan koneksi menjadi kerja sama nyata dalam ekosistem. Aplikasi menyediakan galeri interaktif yang menampilkan 18-21 Ekosistem Perubahan Sosial, masing-masing dengan kartu profil yang mencakup nama, logo, dan tagar relevan seperti #Pendidikan, #Lingkungan, atau #Teknologi. Peserta dapat mengeksplorasi detail setiap ekosistem dan mengajukan diri untuk bergabung melalui sistem yang terintegrasi. Halaman detail ekosistem menyajikan informasi komprehensif yang mencakup visi dan misi, tantangan sistemik yang ingin dipecahkan, serta status dan kebutuhan spesifik ekosistem. Misalnya, ekosistem dapat mencantumkan kebutuhan seperti "Mencari data scientist atau jaringan dengan lembaga riset". Peserta dapat menawarkan kontribusi mereka melalui tombol "Saya Siap Berkontribusi" yang mengarah ke formulir detail kontribusi, di mana mereka dapat menspesifikasikan bentuk dukungan yang dapat diberikan, seperti "pembuatan prototipe digital selama 3 bulan". Tahap terakhir adalah Kolektif Aksi, yang memfasilitasi komitmen jangka panjang untuk proyek-proyek besar. Aplikasi menyediakan ruang virtual khusus untuk presentasi Ekosistem Raya - gabungan dari 3-4 ekosistem yang berkolaborasi. Dalam ruang ini, peserta dapat menyaksikan presentasi yang menjelaskan visi, target, dan rencana proyek besar yang akan dilaksanakan di tahun mendatang. Sistem dilengkapi dengan mekanisme komitmen yang memungkinkan peserta menyatakan dukungan mereka terhadap proyek yang dipresentasikan. Setelah acara berakhir, aplikasi secara otomatis menghasilkan laporan status kinerja personal yang dapat diakses melalui dasbor pribadi. Laporan ini terbagi menjadi tiga kategori utama: Laporan Koneksi, Laporan Kolaborasi, dan Laporan Kolektif Aksi. Setiap kategori memberikan visualisasi data yang jelas dan terukur. Laporan Koneksi menampilkan grafik atau bagan lingkaran yang mengindikasikan performa networking peserta dengan status Baik atau Buruk, disertai statistik detail seperti jumlah total koneksi, persentase koneksi berdasarkan peran, dan jangkauan geografis koneksi. Laporan Kolaborasi menunjukkan status Kuat atau Lemah berdasarkan interaksi di Tahap 3, termasuk data jumlah proposal kolaborasi yang diajukan dan diterima, serta deskripsi sumber daya yang dibagikan. Sementara itu, Laporan Kolektif Aksi memvisualisasikan status Besar atau Kecil berdasarkan tingkat partisipasi dalam proyek-proyek kolektif, termasuk jumlah komitmen proyek dan peran yang diambil. Dengan alur yang terstruktur dan fitur-fitur interaktif yang komprehensif ini, Aplikasi Pasar Kolaboraya berhasil menciptakan platform yang memungkinkan peserta untuk membangun koneksi bermakna, berkolaborasi dalam proyek-proyek impactful, dan berkontribusi pada perubahan sosial yang berkelanjutan. Sistem pelaporan yang terukur juga membantu peserta memahami dan mengevaluasi kontribusi mereka dalam ekosistem kolaborasi ini.

Ini Koper
#603 Flipped Learning : Revolusi Pembelajaran Mahasiswa

Ini Koper

Play Episode Listen Later Sep 12, 2025 6:33


Pendidikan tradisional kini menghadapi tantangan. Metode pengajaran yang berpusat pada dosen sering kali tidak lagi relevan. Mahasiswa modern membutuhkan pendekatan yang berbeda. Sebagai respons, munculah paradigma baru. Inovasi ini dikenal sebagai Flipped Learning. Pendekatan ini membalik model pembelajaran konvensional. Flipped Learning memindahkan penyampaian materi ke luar kelas. Waktu di dalam kelas digunakan untuk kegiatan interaktif. Ini adalah pergeseran filosofis. Poin utamanya adalah menempatkan mahasiswa di pusat pembelajaran. Mahasiswa bukan lagi penerima pasif. Mereka menjadi partisipan aktif. Flipped Learning didasarkan pada empat pilar. Pilar pertama adalah Lingkungan yang Fleksibel. Dosen menciptakan ruang dan waktu belajar yang disesuaikan. Pilar kedua adalah Budaya Belajar. Peran dosen berubah dari penceramah menjadi fasilitator. Mahasiswa menjadi pembelajar yang bertanggung jawab. Pilar ketiga adalah Konten yang Disengaja. Dosen harus memilih materi yang efektif. Materi ini relevan dan berguna untuk mahasiswa. Pilar terakhir adalah Pendidik Profesional. Dosen harus terus memantau mahasiswa. Mereka memberikan umpan balik dan menyesuaikan instruksi. Peran dosen kini lebih seperti pembimbing. Mereka tidak lagi hanya memberikan ceramah. Dosen memiliki lebih banyak waktu untuk interaksi personal. Mereka bisa membantu mahasiswa yang kesulitan. Dosen juga dapat menantang mahasiswa yang berprestasi. Mereka memfasilitasi diskusi yang mendalam di kelas. Peran mahasiswa juga berubah signifikan. Mereka bertanggung jawab mempelajari materi dasar di rumah. Saat di kelas, mereka sudah siap untuk menerapkan konsep. Salah satu keunggulan Flipped Learning adalah meningkatkan keterlibatan mahasiswa. Waktu tatap muka diisi dengan kegiatan menarik. Ini bisa berupa simulasi atau proyek kelompok. Kegiatan ini membuat pembelajaran menyenangkan. Mahasiswa dapat melihat relevansi materi dengan dunia nyata. Ini meningkatkan motivasi internal mereka. Interaksi antar mahasiswa dan dosen juga meningkat. Lingkungan belajar menjadi lebih dinamis. Ini menciptakan suasana yang lebih suportif. Namun, penerapan Flipped Learning tidak lepas dari tantangan. Tantangan terbesar adalah akses teknologi yang tidak merata. Semua mahasiswa harus punya akses yang sama. Tantangan lain adalah motivasi dan disiplin diri mahasiswa. Mereka harus punya kemauan untuk menyelesaikan tugas pra-kelas. Dosen juga harus berinvestasi waktu ekstra. Mereka perlu membuat atau mengkurasi materi pembelajaran berkualitas. Ini membutuhkan persiapan yang matang. Di tingkat perguruan tinggi, Flipped Learning sangat relevan. Dosen bisa mendorong mahasiswa menjadi pembelajar mandiri. Ini adalah keterampilan seumur hidup. Waktu di kelas digunakan untuk diskusi kompleks. Ini juga bisa untuk proyek penelitian atau praktikum. Hal ini membantu mengembangkan pemikiran kritis. Secara keseluruhan, Flipped Learning adalah pendekatan inovatif. Dengan membalik model tradisional, ia memberdayakan mahasiswa. Ini model yang patut diterapkan.

SBS Indonesian - SBS Bahasa Indonesia
Lingkungan Rusak, Warga Tolak Ekspansi Tambang Nikel di Halmahera

SBS Indonesian - SBS Bahasa Indonesia

Play Episode Listen Later Aug 22, 2025 11:58


Meningkatnya pemakaian mobil listrik di seluruh dunia ternyata membawa konsekuensi yang tidak ringan bagi masyarakat, salah satunya di Pulau Obi, Halmahera Selatan, provinsi Maluku Utara, yang merupakan pulau penghasil nikel dalam jumlah besar.

SBS Indonesian - SBS Bahasa Indonesia
Tourism in West Sumatra at the expense of the environment - Pariwisata Sumatera Barat Korbankan Lingkungan

SBS Indonesian - SBS Bahasa Indonesia

Play Episode Listen Later Aug 8, 2025 11:41


Tourism development in West Sumatra turned out to be carried out without considering the ecological or environmental side. - Pengembangan pariwisata di Sumatera Barat ternyata dilakukan tanpa mempertimbangkan sisi ekologi atau lingkungan.

Radio Elshinta
Seorang Anggota TNI Meninggal Dunia Diduga Akibat Penganiayaan Oleh Rekanya Sendiri. Mengapa Tindak Kekerasan Masih Terjadi Di Lingkungan TNI? Dan Apa Yang Perlu Dievaluasi?

Radio Elshinta

Play Episode Listen Later Aug 8, 2025 10:35


Seorang anggota TNI, Prada Lucky Chepril Saputra Namo (23), yang bertugas di Batalyon Teritorial Pembangunan 834/Wakanga Mere (Yonif TP 834/WM) Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggal dunia, setelah mendapat perawatan di rumah sakit selama 4 hari. Prada Lucky meninggal dunia, diduga akibat penganiayaan oleh empat orang rekanya sendiri. Saat masih sadar, ia sempat mengaku kepada seorang dokter bahwa dirinya dipukuli senior di barak, sementara di tubuhnya ditemukan sejumlah luka. Mengapa tindak kekerasan masih terjadi di lingkungan TNI? dan apa yang perlu dievaluasi? Talk bersama Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono.

Ini Koper
#540 Optimisme dan Kolaborasi yang Gigih

Ini Koper

Play Episode Listen Later Aug 3, 2025 10:47


  Podcast INIKOPER dimulai dengan menyoroti pesan inti buku The New Global Possible, yaitu tentang optimisme yang gigih dalam menghadapi krisis iklim. Dicontohkan melalui pengalaman Christiana Figueres, yang berhasil mengubah keputusasaan pasca-Kopenhagen menjadi momentum tak terhentikan yang berujung pada Perjanjian Paris. Ini menekankan bahwa perubahan besar tidak datang dari keputusasaan, melainkan dari pola pikir yang tepat dan kolaborasi yang kuat. Kita berada di persimpangan jalan sejarah, dan pilihan kita sekarang akan menentukan masa depan planet ini. Buku ini tidak hanya sekadar seruan untuk bertindak, tetapi juga panduan tentang cara mengorkestrasi perubahan sistemik melalui enam lensa utama: multilateralisme, teknologi, bisnis, keadilan, kota, dan ekonomi. Penekanan diberikan pada gagasan bahwa perubahan sistemik sangat personal; bahwa krisis planet adalah cerminan dari krisis pola pikir kita. Transformasi eksternal hanya dapat terjadi jika ada evolusi batin, di mana kita menyadari keterhubungan kita dengan alam dan satu sama lain, bergeser dari persaingan menuju kolaborasi dan dari ketakutan menuju harapan. Sebuah poin kunci adalah bahwa perubahan tidak dapat diimplementasikan tanpa keadilan. Lingkungan dan keadilan sosial saling terkait erat. Isu-isu seperti hak atas tanah bagi masyarakat adat dan perlindungan terhadap pembela lingkungan adalah fondasi untuk transisi yang adil. Transisi ke ekonomi rendah karbon harus inklusif dan tidak boleh meninggalkan komunitas yang paling rentan. Kerangka kerja seperti Perjanjian Escazú dan Gerakan Sabuk Hijau menunjukkan bagaimana solusi lokal dan inklusif dapat diperluas untuk mengatasi ketidakadilan sistemik. Ringkasan ini juga membahas peran krusial teknologi, tetapi bukan sebagai "peluru perak." Contoh Global Forest Watch menunjukkan bahwa teknologi menjadi transformatif ketika digunakan untuk menciptakan transparansi radikal, memungkinkan akuntabilitas, dan memberdayakan masyarakat lokal. Inovasi harus didorong oleh tujuan yang jelas dan kolaborasi yang luas, bukan hanya demi keuntungan komersial. Transformasi ini membutuhkan siklus inovasi yang lebih cepat, di mana teknologi digabungkan dengan realitas politik, sosial, dan kapasitas kelembagaan yang ada. Terakhir, ringkasan ini menyoroti pergeseran dramatis dalam pemikiran ekonomi. Dulu, tindakan iklim dianggap merugikan pertumbuhan ekonomi. Namun, berkat laporan seperti New Climate Economy, narasi ini telah berhasil diubah. Kini, tindakan iklim dipandang sebagai pendorong pertumbuhan, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan daya saing. Podcast ini menyimpulkan bahwa transisi ekonomi membutuhkan alur pendanaan yang masif dan terstruktur, yang mengalirkan modal dari negara-negara kaya ke negara-negara berkembang untuk mendukung adaptasi, mitigasi, dan keadilan. Ini adalah cerita pertumbuhan baru abad ke-21.

Radio Elshinta
Hari Sungai Nasional: Wujudkan Sungai Lestari demi Lingkungan Sehat dan Masyarakat Sejahtera

Radio Elshinta

Play Episode Listen Later Jul 27, 2025 34:15


Hari ini 27 Juli diperingati sebagai Hari Sungai Nasional dengan tema "Sungai Lestari, Lingkungan Sehat, Masyarakat Sejahtera". Tema tahun ini menegaskan bahwa menjaga kelestarian sungai bukan sekadar tugas ekologis, tetapi juga pilar utama menuju lingkungan yang bersih dan masyarakat yang makmur. Bagaimana mengelola sungai yang bersih dan bermanfaat bagi masyarakat ditengah meningkatnya populasi manusia seperti di Indonesia? Wawancara bersama Pakar lingkungan juga peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) - Yus Budiono

Ini Koper
#521 Bagaimana Merumuskan Strategi?

Ini Koper

Play Episode Listen Later Jul 27, 2025 8:13


Strategi bukan cuma sekadar rencana, tapi juga cetak biru keberhasilan organisasi. Para pakar punya pandangan unik: dari Michael Porter dengan posisi unik dan keunggulan kompetitif, hingga Henry Mintzberg yang melihatnya sebagai "pola dalam aliran keputusan". Ada juga Peter Drucker yang menanyakan "Apakah bisnis kita?" dan Alfred Chandler Jr. yang fokus pada tujuan jangka panjang serta alokasi sumber daya. H. Igor Ansoff punya matriks pertumbuhan, sementara Gary Hamel dan C.K. Prahalad memperkenalkan "strategic intent" sebagai impian ambisius. Jangan lupa, Richard Rumelt punya empat kriteria evaluasi yang solid, dan Seth Godin memandangnya sebagai "kerja keras memilih apa yang harus dilakukan hari ini untuk meningkatkan hari esok." Jadi, strategi itu dinamis, butuh pemikiran mendalam, dan yang terpenting: eksekusi! Nah, bagaimana merumuskannya? Prosesnya berkelanjutan dan iteratif! Dimulai dengan visi, misi, dan tujuan yang jelas. Lalu, kita analisis lingkungan eksternal (peluang & ancaman) dan internal (kekuatan & kelemahan). Dari situ, kita pilih alternatif strategi yang paling pas, kembangkan rencana strategis detail, dan implementasikan dengan alokasi sumber daya yang tepat. Terakhir, yang tak kalah penting, evaluasi dan kontrol secara berkala untuk pastikan strategi tetap relevan dan kompetitif. Ini bukan cuma tentang membuat rencana, tapi juga tentang adaptasi dan perbaikan terus-menerus! Untuk membantu analisis, kita punya alat canggih! Ada SWOT yang bantu kita identifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Lalu, Lima Kekuatan Porter untuk membedah struktur industri dan intensitas persaingan(pikirkan ancaman pendatang baru, produk pengganti, daya tawar pembeli dan pemasok, serta persaingan internal). Dan untuk gambaran yang lebih luas, ada PESTEL yang melihat faktor Politik, Ekonomi, Sosial, Teknologi, Lingkungan, dan Hukum. Dengan kerangka kerja ini, perusahaan bisa merancang strategi yang efektif, mengelola risiko, dan responsif terhadap perubahan lingkungan, demi kesuksesan jangka panjang. Siap untuk menyelami dunia strategi lebih dalam? #PodcastStrategi #Bisnis #Manajemen #Inovasi #Kesuksesan

SBS Indonesian - SBS Bahasa Indonesia
Nadine Chandrawinata Sosok Wanita Inspratif Pecinta Lingkungan di Indonesia

SBS Indonesian - SBS Bahasa Indonesia

Play Episode Listen Later Jul 8, 2025 8:05


Aksi melestarikan lingkungan Nadine Chandrawinata bersama Dinni Septianingrum dan teman-teman Sea Soldiers lainnya sangat seru, menyenangkan dan patut di jadikan contoh.

Radio Elshinta
6 orang ditangkap dalam OTT KPK terkait dugaan kasus korupsi PUPR. Apa langkah pembenahan ditengah maraknya OTT KPK di lingkungan pemerintahan?

Radio Elshinta

Play Episode Listen Later Jun 29, 2025 28:11


6 orang ditangkap dalam OTT KPK di Mandailing Natal, Sumatera Utara, terkait dugaan kasus korupsi dalam proyek pembangunan jalan di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Prov. Sumatera Utara serta Satuan Kerja Pembangunan Jalan Nasional (Satker PJN) Wilayah I Sumatera Utara. Menanggapi kasus tersebut, Menteri PU Dody Hanggodo mengaku telah berkomunikasi dengan Presiden Prabowo agar segera melakukan pembenahan dan pembersihan serta segala penyelewengan wajib dihentikan.Apa yang perlu dilakukan untuk memastikan pembenahan fungsi pengawasan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah berjalan dengan baik?TALK : Pakar Otonomi daerah/ Guru Besar IPDN, Prof Djohermansyah Johan.

The Pacific War - week by week
- 187 - Pacific War Podcast - Victory at Okinawa - June 17 - 24, 1945

The Pacific War - week by week

Play Episode Listen Later Jun 17, 2025 37:05


Last time we spoke about the North Borneo Offensive. General Buckner's 10th Army captured strategic locations, including Shuri Castle, marking a turning point. Simultaneously, General Eichelberger's forces liberated Mindanao, overcoming tough Japanese defenses in the mountainous terrain. As they approached Malaybalay, fierce resistance resulted in heavy casualties, but the Americans persisted, inflicting significant losses on their foes. By June 9, the Americans pressed further into the enemy's defensive lines, leading to intense combat. The Marines landed on the Oroku Peninsula, where fierce fighting revealed the tenacity of the Japanese defenders. General Ushijima prepared for a final stand, as American forces began to encircle and dismantle Japanese positions. As the campaign unfolded, Australians under Brigadier Whitehead launched the North Borneo Offensive, landing on Tarakan and swiftly pushing the Japanese into the rugged interior.  This episode is Victory at Okinawa Welcome to the Pacific War Podcast Week by Week, I am your dutiful host Craig Watson. But, before we start I want to also remind you this podcast is only made possible through the efforts of Kings and Generals over at Youtube. Perhaps you want to learn more about world war two? Kings and Generals have an assortment of episodes on world war two and much more  so go give them a look over on Youtube. So please subscribe to Kings and Generals over at Youtube and to continue helping us produce this content please check out www.patreon.com/kingsandgenerals. If you are still hungry for some more history related content, over on my channel, the Pacific War Channel you can find a few videos all the way from the Opium Wars of the 1800's until the end of the Pacific War in 1945.  Okinawa was more than just a battlefield; it became a symbol of sacrifice, the last heroic stand of a fading empire. By this point in the war, Japan was facing inevitable defeat, yet their resolve remained unbroken. They clung to the samurai spirit, determined to fight to the bitter end out of honor and duty. The stakes were high. Japan needed precious time to fortify its home islands, to stretch the conflict as long as possible. To achieve this, over 100,000 brave souls were sent into the fray, sacrificing their lives to slow the American advance and inflict as many casualties as they could. As we've explored in previous episodes, this fierce determination fueled their resistance. And now, we stand at a pivotal moment, the final days of the Battle of Okinawa, the last major confrontation of the Pacific War. As we last left the battlefield, it was June 16, General Buckner's 10th Army had made significant strides, capturing most of southern Okinawa and finally breaking through the last major enemy defenses at the Yaeju Dake-Yuza Dake Escarpment. The remnants of General Ushijima's 32nd Army were now locked in a desperate fight to hold onto the Kiyamu Peninsula, slowly being pushed back toward the sea and their ultimate demise. The following day, June 17, the assault continued with renewed determination. General Geiger's 3rd Amphibious Corps pressed on through Kunishi Ridge, while General Hodge's 24th Corps worked to consolidate its hard-won gains in the escarpment. On the west coast, General Shepherd's 6th Marine Division took action as Colonel Roberts' 22nd Marines stepped in to relieve the weary 2nd Battalion, 7th Marines at the northern slope of Mezado Ridge. With a fierce spirit, they began to push southward, successfully securing most of the ridge. To the east, General Del Valle's 1st Marine Division forged ahead. Colonel Snedeker's fresh 3rd Battalion took over from the exhausted 1st Battalion and advanced 1,400 yards to seize the high ground just east of Mezado. Meanwhile, the 2nd Battalion, 5th Marines fought hard to capture the remaining positions of Kunishi Ridge, achieving only a gradual extension to the east. Colonel Griebel's 3rd Battalion moved in behind them to reinforce the isolated Marines, bravely fending off a fierce counterattack under the cover of night. Further east, Colonel Dill's 382nd Regiment systematically eliminated the last enemy positions in the Yuza-Ozato-Yuza Dake area, while Colonel Halloran's 381st Regiment held firm and maintained their lines. In a key maneuver, Colonel Pachler's 17th Regiment launched a successful assault, capturing Hill 153 before Colonel Green's 184th Regiment took over during the night. Lastly, Colonel Finn's 32nd Regiment secured the reverse slopes of Hill 115, preparing to launch an attack on Mabuni and Hill 89. By nightfall, Hodge's 24th Corps had firmly secured all the commanding heights of the Yaeju Dake-Yuza Dake Escarpment. Most of Mezado Ridge and Kunishi Ridge were now in American hands, and Colonel Wallace's 8th Marines had landed in the rear to bolster the western push. For the first time, American forces across the line looked down upon nearly eight square miles of enemy-held territory, a staggering view of what lay ahead. Realizing they were forced from their last defensive positions and that their destruction was imminent, the 32nd Army began to unravel, collapsing into chaos. On June 18, Hodge's troops seized the opportunity to strike decisively. The 32nd Regiment advanced down the coast toward Mabuni, facing increasing resistance. The 184th Regiment moved down the reverse slopes of Hill 153, closing in on Medeera, while the 381st Regiment speedily crossed the plateau, tackling scattered enemy fire to seize the high ground just 400 yards north of Medeera. Simultaneously, Dill's 3rd Battalion crashed through a rugged maze of caves and pillboxes, making a daring 600-yard advance to the base of the rocky ridge north of Aragachi. To the west, Griebel's 1st Battalion circled the eastern end of Kunishi Ridge, battling heavy resistance to gain the lower slopes of Hill 79. Further west, Roberts' 2nd Battalion pushed through the 3rd and aimed for Kuwanga Ridge, successfully seizing an 1,800-yard stretch by late afternoon. As they advanced, the 3rd Battalion, 4th Marines moved forward to occupy the eastern end of the ridge. Meanwhile, the remainder of the 22nd Marines began to mop up the remnants of resistance on Mezado Ridge. Tragedy struck when Colonel Roberts was tragically killed by a sniper near his observation post during this operation. Lieutenant-Colonel August Larson would succeed him in command. Sadly, Roberts would not be the only American commander to fall that day. In the heart of the Marine line, the 8th Marines were finally called into action in the morning to relieve the weary 7th Marines. After a rigorous artillery bombardment to soften up the enemy defenses, Wallace's 2nd Battalion began its advance south toward the Kuwanga-Makabe Road, successfully capturing the high ground just north of the road by late afternoon. Meanwhile, General Buckner decided to visit Wallace's command post on Mezado Ridge around midday. He observed the 8th Marines' steady progress in the valley, taking stock of their relentless push forward. Tragically, as he was leaving the observation post, disaster struck. Five artillery shells rained down, one striking a coral outcrop near him. The jagged shards of coral filled the air, and Buckner was mortally wounded in the chest. He died within minutes, just days shy of achieving his goal: the complete capture of Okinawa. With Buckner's passing, General Geiger, as the senior troop commander, took over temporary command of the 10th Army for the remainder of the battle. Buckner became the highest-ranking American military officer killed in World War II and would hold that somber distinction throughout the entire 20th century. On June 18, the final written order from General Ushijima of the 32nd Army outlined a daring escape plan. He designated an officer to lead the "Blood and Iron Youth Organization," tasked with conducting guerrilla warfare once organized combat had ceased. Simultaneously, he ordered his remaining troops to make their way to the northern mountains of Okinawa, where a small band of guerrillas was rumored to be operating.  In his message he congratulated them on fulfilling their "assigned mission in a manner which leaves nothing to regret." He urged them to "fight to the last and die for the eternal cause of loyalty to the Emperor." This movement was not to happen in haste. Soldiers were instructed to travel in small groups of two to five over the course of several days. They were urged to don civilian clothes and avoid confrontation whenever possible. In a clever stratagem, most of the army staff officers were directed to leave the command post disguised as native Okinawans, aiming to infiltrate American lines and find safety in northern Okinawa. Some individuals, like Colonel Yahara, were entrusted with the mission of reaching Japan to report to the Imperial General Headquarters. Others were tasked with organizing guerrilla operations, focusing on harassing the rear areas of the 10th Army and Island Command, determined to continue the fight against the American forces in any way they could. Again I have read Yahara's book on the battle of Okinawa and despite being full of apologetic stuff and attempts to make himself look better, its one of the most insightful books on the Japanese perspective. You get a lot of information on how bad it was for the Okinawan civilians in caves, harrowing stuff. I highly recommend it. The American attack pressed on into June 19, though it faced delays due to the influx of civilian and military prisoners. Not all of the 32nd Army survivors were imbued with a will "to die for the eternal cause of loyalty to the Emperor." Loudspeakers mounted on tanks in the 7th Division's front lines and on LCI's that cruised up and down the coast line were successful in convincing over 3,000 civilians to surrender. Far more significant, however, were the 106 Japanese soldiers and 238 Boeitai who voluntarily gave up during the division's advance on 19 June. The relentless attack of American troops, coupled with intensive efforts by psychological warfare teams, brought in increasing numbers of battle-weary Japanese and Okinawans who had decided that the war was lost and their cause was hopeless. It is not inconceivable that every enemy soldier who surrendered meant one less American casualty as the wind-up drive of Tenth Army continued. Despite these challenges, the 32nd Regiment advanced to within just 200 yards of the outskirts of Mabuni. Meanwhile, the 184th and 381st Regiments coordinated their efforts, closing in on Medeera from the south and east. The 382nd Regiment pressed forward, overcoming fierce resistance as they reached the ridges overlooking Aragachi. Tragically, General Easley became the third major high-ranking casualty in just two days. The 5th Marines launched multiple assaults on Hills 79 and 81, but their efforts were met with fierce opposition and ended in failure. Wallace's 3rd Battalion, facing only light resistance, captured Ibaru Ridge, the last high ground before the sea, before pushing onward to the coastal cliffs. On the eastern front, Griebel's 3rd Battalion successfully seized Makabe and then joined forces with the 8th Marines to secure the coastal zone. Colonel Shapley's 4th Marines advanced alongside the 8th Marines throughout most of the day but were unable to reach the coast, halted by a formidable enemy position along the Kiyamu-Gusuku hill mass. Further south, Colonel Whaling's 29th Marines passed through the 22nd Marines and moved rapidly, also facing light resistance, reaching the base of the Kiyamu-Gusuku hill mass to link up with the 4th Marines before nightfall. As darkness enveloped the battlefield, Shepherd launched an attack on the hill mass. The 4th Marines successfully seized Hill 80, but they could only establish strong positions on the left flank of Hill 72. The 29th Marines encountered minimal opposition as they swept forward toward the southern coast. Meanwhile, the 5th Marines continued their relentless assaults on Hills 79 and 81, managing to capture most of Hill 79 before losing the crest at the last moment. Their tank-infantry assaults against Hill 81, however, once again ended in defeat. Looking east toward Hodge's front on June 21, the 382nd Regiment cleared out the last remnants in Aragachi, while the 381st Regiment seized the northern outskirts of Medeera. In the dark hours of June 20, the last courier contact was made between the Medeera pocket and the Hill 89 pocket. General Amamiya, commander of the 24th Division, issued a desperate order directing all his units "to fight to the last man in their present positions." At the time he gave this ultimatum, he had very few infantrymen left to defend the Medeera position. The relentless advance of the Marines had nearly annihilated the 22nd and 32nd Regiments, while the 96th Division had decimated the 89th Regiment at Yuza Dake and Aragachi. With their ranks severely depleted, the remaining defenders were a ragtag collection of artillerymen, drivers, corpsmen, engineers, Boeitai, and headquarters personnel drawn from nearly every unit of the L-Day island garrison. Those who managed to avoid surrender or sought to evade capture fought with the fierce determination of fanatics, resolutely defending their positions against overwhelming odds. Meanwhile, Colonel Coolidge's 305th Regiment, engaged in a vigorous mopping-up operation behind the lines of the 96th Division, prepared for an assault on Makabe Ridge. The 184th Regiment managed to secure the hills overlooking Udo, and despite facing fierce resistance from hidden enemy forces in coral outcroppings and caves along the coastal cliffs, the 32nd Regiment fought its way to the eastern slope of Hill 89. Throughout June 21, a series of small local attacks and mopping-up actions occupied most units of the 24th Corps, often interrupted to allow large numbers of civilians and soldiers to surrender. In spite of the bitter and costly resistance, the 32nd Regiment successfully secured Mabuni and advanced up to the tableland atop Hill 89. Coolidge's 1st Battalion launched an assault on the hill south of Medeera behind a heavy mortar barrage, successfully capturing its crest. The 5th Marines completed the capture of Hill 79 and undertook a heavy, costly assault that ultimately led to the capture of Hill 81. The 7th and 8th Marines began the crucial task of flushing out remaining Japanese holdouts, while also dealing with the increasing wave of soldiers and civilians choosing to surrender. The 4th Marines executed a successful double envelopment of Hill 72 that secured the strategic Kiyamu-Gusuku ridge, and the 29th Marines met only very light resistance during their sweep of Ara Saki, the southernmost point of the island. This swift progress and the obvious collapse of major enemy opposition prompted General Geiger to declare that the island of Okinawa was secure and that organized enemy resistance had come to an end. That night, in a tragic turn of events, Generals Ushijima and Cho committed Seppuku in the cave housing their command post.  On the night of June 21, Lieutenant General Ushijima Mitsuru and Lieutenant General Cho Isamu, the commander and chief of staff of the 32nd Army, fulfilled their final obligation to the Emperor in a deeply traditional manner. In accordance with the warrior code of their homeland, they atoned for their inability to halt the American advance by committing Seppuku. On the evening of their planned departure, Ushijima hosted a banquet in the cave that served as their command post, featuring a large meal prepared by his cook, Tetsuo Nakamutam. The banquet was generously complemented with sake and the remaining stock of captured Black & White Scotch whisky provided by Cho. At 03:00 on June 22, both generals, adorned in their full field uniforms decorated with medals, led a small party of aides and staff officers out onto a narrow ledge at the cave entrance, which overlooked the ocean. American soldiers of the 32nd Regiment were stationed less than 100 feet away, completely unaware of the solemn preparations taking place for the suicide ceremony. First, Ushijima bared his abdomen to the ceremonial knife and thrust inward, followed by Cho, who then fell to the ground. As Ushijima made his final act, a simultaneous slash from the headquarters adjutant's saber struck his bowed neck. The two generals were secretly buried immediately after their deaths, their bodies going undiscovered until June 25, when patrols from the 32nd Regiment found them at the foot of the seaward cliff-face of Hill 89. General Cho had penned his own simple epitaph, stating, “22nd day, 6th month, 20th year of the Showa Era. I depart without regret, fear, shame, or obligations. Army Chief of Staff; Army Lieutenant General Cho, Isamu, age of departure 51 years. At this time and place, I hereby certify the foregoing.” Their deaths were witnessed by Colonel Yahara, who was the most senior officer captured by American forces. Yahara had requested Ushijima's permission to commit suicide as well, but the general had refused, saying, "If you die, there will be no one left who knows the truth about the battle of Okinawa. Bear the temporary shame but endure it. This is an order from your army commander." While many die-hard groups continued to fight until annihilation, an unprecedented number of Japanese soldiers, both officers and enlisted men, began to surrender. On that fateful day, Operation Ten-Go's final breaths were marked by the launch of the two-day tenth Kiksui mass attack, which saw only 45 kamikaze aircraft take to the skies. While this desperate attempt succeeded in sinking LSM-59 and damaging the destroyer escort Halloran, as well as the seaplane tenders Curtiss and Kenneth Whiting, the next day would bring even less impact, with only two landing ships sustaining damage during the final attack of the campaign. As communications from the 32nd Army fell silent, a deeply regretful Admiral Ugaki was forced to conclude the grim reality of their situation. He felt “greatly responsible for the calamity” but recognized that there was seemingly no alternative course that might have led to success. Throughout the defense of Okinawa, approximately 6,000 sorties were flown, including at least 1,900 kamikaze missions. However, the losses were staggering, with over 4,000 aircraft lost during these attacks. In contrast, Allied forces suffered the loss of 763 planes in the Okinawa campaign, with 305 of those being operational losses. Since the operation commenced, naval losses for Iceberg totaled an alarming 4,992 sailors dead, with 36 ships sunk and 374 damaged, accounting for 17% of all American naval losses in the Pacific War. Meanwhile, extensive and coordinated mop-up operations in southern Okinawa were essential before the area could be deemed secure for the planned construction of supply depots, airfields, training areas, and port facilities. In response, Colonel Mason's 1st Marines and Colonel Hamilton's 307th Regiment established blocking positions in the hills above the Naha-Yonabaru valley to thwart any Japanese attempts to infiltrate north. On June 22, the four assault divisions that had previously shattered the Kiyamu Peninsula defenses received orders to prepare for a sweeping advance to the north. Their mission was clear: destroy any remaining resistance, blow and seal all caves, bury the dead, and salvage any equipment, both friendly and enemy, left on the battlefield. The following day, General Joseph Stilwell arrived to take command of the 10th Army during the mop-up phase of the campaign. Meanwhile, units from the 1st and 6th Marine Divisions were engaged on the Komesu and Kiyamu-Gusuku Ridges, while the 7th Division probed Hill 89 and Mabuni. In the Medeera pocket, Coolidge's 3rd Battalion successfully seized Hill 85 on June 22. The 96th Division intensified its focus in the Medeera-Aragachi area, with elements of the 381st Regiment mopping up the last holdouts in the ruins of Medeera by June 23. Two days later, after a thorough search of the area south of the Yaeju Dake-Yuza Dake Escarpment, the 10th Army finally initiated its drive northward, with both corps taking responsibility for the ground they had captured in the previous month. On the morning of June 26, the reinforced Fleet Marine Force Amphibious Reconnaissance Battalion landed unopposed on Kumejima, marking it as the last and largest of the Okinawa Islands selected for radar and fighter director sites. By the end of June, the mop-up operations in southern Okinawa had resulted in an estimated 8,975 Japanese killed and 3,808 prisoners of war added to the 10th Army's total. Overall, the Americans counted a staggering total of 10,755 prisoners of war and 107,539 Japanese dead, along with an estimated 23,764 believed to be sealed in caves or buried by their comrades. This cumulative casualty figure of 142,058 was "far above a reasonable estimate of military strength on the island," prompting 10th Army intelligence officers to conclude that at least 42,000 civilians had tragically fallen victim to artillery, naval, and air attacks due to their unfortunate proximity to Japanese combat forces and installations. American losses were also substantial, with 7,374 men recorded dead, 31,807 wounded, and 239 missing, in addition to 26,221 non-battle casualties. But now, it's time to leave Okinawa and return to Borneo to continue covering the North Borneo Offensive. As we last observed, by mid-June, General Wootten's 9th Australian Division had successfully executed two major amphibious landings on Brunei Bay. Brigadier Porter's 24th Brigade occupied most of Labuan Island, with the exception of the Pocket, while Brigadier Windeyer's 20th Brigade secured the Brunei area. By June 16, Wootten decided that since the enemy was withdrawing and showing no signs of mounting an attack, he would take control of the high ground stretching from Mempakul and Menumbok to Cape Nosong. This strategic move aimed to prevent the enemy from utilizing the track from Kota Klias to Karukan and to secure beaches for supply points during the planned advance northward. Accordingly, Porter ordered the 2/28th Battalion to reduce the Pocket. The recently landed 2/12th Commando Squadron was tasked with mopping up the outlying areas of the island. Meanwhile, the 2/32nd Battalion began preparing for an amphibious movement to Weston on the mainland east of Labuan, with plans to reconnoiter across country and by river towards Beaufort. The 2/43rd Battalion and the 2/11th Commando Squadron were also set to prepare for an amphibious reconnaissance in the Mempakul area. On June 14, the 2/28th Battalion launched its initial attack against the Pocket, following an artillery barrage. However, they were forced to withdraw in the face of intense machine-gun and mortar fire. In response, the 2/12th Field Regiment took over, bombarding the Pocket for the next six days and nights, hurling a staggering total of 140 tons of shells into it. On June 16, the 2/28th Battalion launched another assault, this time supported by tanks from the north, successfully capturing Lyon Ridge, despite sustaining heavy losses. After several more days of relentless artillery, naval, and air bombardment, the 2/28th launched a final assault on June 21, just as the Japanese attempted to send two raiding parties to infiltrate through the Australian lines and attack Labuan town and its airstrip. Although these raiders managed to catch the confused defenders off guard and inflicted several casualties, they were ultimately dealt with swiftly and without causing significant damage. Meanwhile, with the combined support of tanks and artillery, the 2/28th Battalion attacked the reduced garrison at the Pocket, breaking through Lushington Ridge and Eastman Spur to eliminate the remaining Japanese positions and completely clear the area. By the end of the Battle of Labuan, the Australians had achieved a decisive victory, with 389 Japanese soldiers killed and 11 taken prisoner, while suffering 34 Australian fatalities and 93 wounded. In parallel, following a successful reconnaissance on June 16, the 2/32nd Battalion landed unopposed at Weston on June 17. They quickly secured the area and established a patrol base at Lingkungan. Over the next few days, Australian patrols began probing north towards Bukau, occasionally clashing with Japanese parties. A company from the 2/32nd Battalion also established a patrol base at Gadong up the Padas River, finding no Japanese presence in the surrounding regions. From this position, the Australians were able to patrol along the Padas River in small craft, discovering they could reach Beaufort rapidly using this route, catching the enemy off guard. Meanwhile, on June 19, the 2/43rd Battalion and the 2/11th Independent Company landed unopposed at Mempakul, further solidifying the Australian presence in the area. Two days later, while the commandos worked to clear the Klias Peninsula, the 2/43rd Battalion launched an amphibious expedition up the Klias River. This mission successfully navigated through Singkorap and reached Kota Klias, confirming that Japanese forces were not present in significant strength along the river. As a result, the 2/43rd Battalion set out on June 22 to occupy Kota Klias without encountering any resistance. Given this positive momentum, Brigadier Porter ordered the 2/28th Battalion to take over operations from the 2/32nd Battalion in and around Weston. At the same time, the 2/43rd Battalion was tasked with marching through Kandu to attack Beaufort from the north. Additionally, the 2/32nd Battalion was directed to probe north along the Padas River and along the railway, drawing enemy attention away from the main Australian advance. Looking south, while the 2/17th Battalion remained around Brunei and the 2/15th Battalion probed along the river toward Limbang, Windeyer had ordered the 2/13th Battalion to prepare for an amphibious movement to the Miri-Lutong area. Brunei town had been severely battered by Allied bombers and Japanese demolitions. The troops were critical of the air force's practice of bombing conspicuous buildings even when they were unlikely to contain anything of military importance. In Brunei, for example, the bazaar and the cinema were destroyed, but neither was likely to have contained any Japanese men or material and their destruction and the destruction of similar buildings added to the distress of the civilians. The infantryman on the ground saw the effects of bombing at the receiving end. “The impression was gained, says the report of the 20th Brigade, that, in the oil producing and refining centres-Seria, Kuala Belait, Lutong, Miri much of the destruction served no military purpose. The destruction of the native bazaar and shop area in Kuala Belait, Brunei, Tutong and Miri seemed wanton.“ On June 16, the 2/17th finally moved out and occupied Tutong, successfully crossing the river at its mouth. From there, the battalion began its movement along the coast toward Seria. However, despite the strategic importance of the town's oil wells, there was only one encounter with the enemy at the Bira River on June 20 before the town was occupied the following day, only to find the oil wells ablaze.  At Seria, the oil wells were ablaze. From the broken pipes that topped each well, burning oil gushed forth like fire from immense, hissing Bunsen burners. The pressure was so intense that the oil, as clear as petrol, only ignited several inches away from the pipe. Once ignited, it transformed into a tumbling cloud of flame, accompanied by billowing blue-black smoke. At approximately 1,000 feet, the plumes from more than 30 fires merged into a single canopy of smoke. This horrifying spectacle of waste persisted day and night. The men around Seria fell asleep to the hissing and rumbling of an entire oilfield engulfed in flames and awoke to the same din. The Japanese had set fire to 37 wells, destroyed buildings and bridges, and attempted to incapacitate vehicles, pumps, and other equipment by removing essential components and either discarding them in rivers or burying them. Consequently, the Australian engineers faced the daunting task of extinguishing the fires with only their own equipment, along with abandoned gear they could repair or make functional. They relied on assistance from local natives who had observed the Japanese hiding parts and employed methods of improvisation and selective cannibalization to tackle the crisis. Meanwhile, by June 19, raiding elements of the 2/15th Battalion had successfully secured Limbang. From this location, they began sending patrols up the Limbang River toward Ukong, along the Pandaruan River to Anggun, and east toward Trusan. The following day, after a naval bombardment by three American destroyers, the 2/13th Battalion landed unopposed at Lutong and quickly secured the area. On June 21, the Australians crossed the river and advanced into Miri without facing any resistance, successfully occupying the town and its oilfield by June 23. Turning their attention back north, on June 24, the 2/43rd Battalion began its advance toward Beaufort, swiftly moving through Kandu and reaching a position just north of the Padas River the next day. In response to their progress, Brigadier Porter ordered the 2/32nd Battalion to seize the railway terminus and the spur leading down to the river just south of Beaufort, while the 2/43rd focused on capturing the high ground dominating Beaufort from the north and east. This coordinated attack was launched on June 26. By the end of the day, the leading company of the 2/32nd had reached the Padas River, approximately 2,000 yards west of the railway terminus, while the leading company of the 2/43rd secured the railway north of the Padas, similarly positioned about 2,000 yards from Beaufort. On June 27, the 2/43rd continued their offensive, rapidly capturing the high ground overlooking Beaufort. During the afternoon, one company ascended Mount Lawley and pursued the retreating Japanese, cutting off their escape route at a track junction, while another company moved into the town, taking possession early that night. In the following hours and throughout June 28, the Australians faced a series of heavy counterattacks as they worked to consolidate their positions. Meanwhile, the 2/32nd Battalion successfully captured the railway terminus, encountering only slight opposition, with one company executing a wide flanking maneuver to the Padas just upstream from Beaufort. Under heavy bombardment from artillery and mortars, the bulk of the 368th Independent Battalion began to retreat along the Australian-held track in the early hours of June 29. While many were killed during this withdrawal, most managed to escape. At intervals groups of two or three walked into the company area in the darkness and were killed. Fire was strictly controlled, and one platoon was credited with having killed 21 Japanese with 21 single shots fired at ranges of from five to 15 yards. One Japanese walked on to the track 50 yards from the foremost Australian Bren gun position and demanded the surrender of the Australians who were blocking the Japanese line of retreat. According to one observer his words were: "Surrender pliz, Ossie. You come. No?" He was promptly shot. One company counted 81 Japanese killed with "company weapons only" round the junction and estimated that at least 35 others had been killed; six Australians were slightly wounded.  By morning, the fighting was virtually over, and the mop-up of the disorganized enemy force commenced. The attack on Beaufort cost the 24th Brigade 7 men killed and 38 wounded, while the Australians counted 93 Japanese dead and took two prisoners. Meanwhile, the 2/28th Battalion secured Lumadan village, where it made contact with the 2/32nd. Porter then ordered this battalion to pursue the retreating Japanese eastward, successfully securing the Montenior Besar railway bridge by July 4. The 2/32nd Battalion proceeded to attack toward Papar, encountering little opposition as they captured Membakut on July 5, followed by Kimanis on July 10, and finally Papar on July 12. Turning back south, the 2/17th Battalion occupied Kuala Belait on June 24, where they discovered evidence of a massacre of Indian prisoners of war.  Indian prisoners of war began reaching the lines of the 2/17th Battalion at Seria on June 22. By the end of the month, a total of 41 had arrived, reporting a horrific event: on June 14, the Japanese had slaughtered a portion of a group of more than 100 Indian prisoners at Kuala Belait. The Australians discovered 24 charred bodies at the site, along with evidence indicating that others had also been killed. A report by the 2/17th noted, "The motive for the massacre is not clear, and whether a partial loss of rations, the waving of flags, or simply Japanese brutality was responsible cannot be determined." The surviving Indians were found to be starving, with many suffering from illness. Colonel Broadbent remarked, "The loyalty and fortitude of these Indians has been amazing and is a lesson to us all. Even now, their standard of discipline is high." Two days later, patrols made contact with the 2/13th Battalion at the Baram River. Pushing south along Riam Road, the patrols of the 2/13th clashed with the Japanese at South Knoll, which they captured by the end of the month. Throughout July, the 2/13th continued patrolling down Riam Road against some opposition, eventually pushing the Japanese beyond Bakam by August. At the same time, the 2/17th conducted deep patrols southward from Kuala Belait, particularly along the Baram River toward Bakung, Marudi, and Labi. Overall, Australian losses during the North Borneo Offensive totaled 114 killed and 221 wounded, while they captured 130 prisoners and accounted for at least 1,234 Japanese killed. Following the conclusion of conventional military operations, Wootten's troops began to support the efforts of Australian-sponsored native guerrillas operating in Sarawak under Operation Semut and in British North Borneo as part of Operation Agas.  Between March and July 1945, five Special Operations Australia “SOA” parties were inserted into North Borneo. The Agas 1 and 2 parties established networks of agents and guerrillas in northwestern Borneo, while the Agas 4 and 5 parties, landed on the east coast, achieved little in their missions. The Agas 3 party investigated the Ranau area at the request of the 1st Corps. The results of Operation Agas were mixed; although its parties established control over their respective areas of operation and provided intelligence of variable quality, they were responsible for killing fewer than 100 Japanese soldiers. In parallel, as part of Operation Semut, over 100 Allied personnel, mainly Australians, were inserted by air into Sarawak from March 1945, organized into four parties. These parties were tasked with collecting intelligence and establishing guerrilla forces. The indigenous Dayaks of Sarawak's interior enthusiastically joined these guerrilla groups, essentially allowing SOA personnel to lead small private armies. No. 200 Flight RAAF and the Royal Australian Navy's Snake-class junks played crucial roles in this campaign, facilitating the insertion of SOA personnel and supplies. The guerrilla forces launched attacks to gain control of the interior of Sarawak, while the 9th Division focused on coastal areas, oilfields, plantations, and ports in North Borneo. The guerrillas operated from patrol bases around Balai, Ridan, and Marudi, as well as in the mountains and along key waterways, including the Pandaruan and Limbang Rivers, and along the railway connecting Beaufort and Tenom. Their objective was to disrupt Japanese troop movements and interdict forces as they withdrew from the main combat zone. The RAAF conducted air strikes to support these lightly armed guerrillas, who at times had to evade better-armed Japanese units. These guerrilla forces successfully raided several key towns and facilities, significantly disrupting enemy movements and efforts. It is estimated that over 1,800 Japanese soldiers were killed in North Borneo through guerrilla actions, particularly by the fearsome Dayak people, whose fierce tactics and local knowledge played a crucial role in these operations. I would like to take this time to remind you all that this podcast is only made possible through the efforts of Kings and Generals over at Youtube. Please go subscribe to Kings and Generals over at Youtube and to continue helping us produce this content please check out www.patreon.com/kingsandgenerals. If you are still hungry after that, give my personal channel a look over at The Pacific War Channel at Youtube, it would mean a lot to me. In the final throes of the Pacific War, the Battle of Okinawa became a fierce battleground of sacrifice and honor. As American forces, led by General Buckner, advanced, they shattered Japanese defenses, pushing them into a desperate retreat. On June 21, General Ushijima and Lieutenant General Cho, recognizing their imminent defeat, committed seppuku, adhering to the samurai code. The chaotic battle led to staggering casualties, with many Japanese soldiers surrendering, realizing their cause was lost. By June's end, Okinawa was secured, symbolizing not only a victory but also the tragic cost of war, with countless lives lost on both sides.

AWR Indonesian - Daily Devotional
“APAKAH LINGKUNGAN MEMBUNUH MU?”

AWR Indonesian - Daily Devotional

Play Episode Listen Later Jun 15, 2025 4:42


Untuk kesehatan yang optimal, ciptakan lingkungan yang mengingatkan kita akan hal-hal positif; hapus hal-hal yang mungkin memicu kecemasan.

AWR in Indonesian - Renungan Harian
“APAKAH LINGKUNGAN MEMBUNUH MU?”

AWR in Indonesian - Renungan Harian

Play Episode Listen Later Jun 15, 2025 4:42


Untuk kesehatan yang optimal, ciptakan lingkungan yang mengingatkan kita akan hal-hal positif; hapus hal-hal yang mungkin memicu kecemasan.

SBS Indonesian - SBS Bahasa Indonesia
‘Which Way? Quit Pack': Indigenous Quit Smoking - ‘Which Way? Quit Pack': Berhenti merokok di lingkungan Masyarakat Pribumi

SBS Indonesian - SBS Bahasa Indonesia

Play Episode Listen Later Apr 2, 2025 11:26


An Indigenous-led program that's already helping hundreds of Aboriginal and Torres Strait Islander people quit smoking and vaping is about to go national, thanks to a new $4.7 million grant. - ‘Which Way? Quit Pack': Berhenti merokok di lingkungan Masyarakat Pribumi Sebuah program yang dipimpin oleh masyarakat adat yang telah membantu ratusan orang Aborigin dan Torres Strait Islander berhenti merokok dan menggunakan vape, akan segera menjadi program nasional, berkat hibah baru senilai $4,7 juta.

SBS Indonesian - SBS Bahasa Indonesia
The Birds from The Blossoms: The self and the environment - The Birds from The Blossoms: Diri Sendiri dan Lingkungan

SBS Indonesian - SBS Bahasa Indonesia

Play Episode Listen Later Feb 25, 2025 11:14


The Birds from the Blossoms exhibition by an Indonesian born artist, Jumaadi shows the close relationship between the artist, his chosen media and various workplaces. - Pameran The Birds from the Blossoms karya seniman kelahiran Indonesia, Jumaadi, menunjukkan eratnya hubungan antara seniman itu dengan media pilihannya, serta berbagai lingkungan tempat kerja.

Radio Rodja 756 AM
Lingkungan Penuh Harapan Positif

Radio Rodja 756 AM

Play Episode Listen Later Jan 16, 2025 55:23


Lingkungan Penuh Harapan Positif merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 14 Rajab 1446 H / 14 Januari 2025 M. Kajian Tentang Lingkungan Penuh Harapan Positif Pembahasan kali ini diangkat dari buku Ada Apa dengan Remaja. Kita akan melanjutkan pokok-pokok bahasannya, […] Tulisan Lingkungan Penuh Harapan Positif ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.

SBS Indonesian - SBS Bahasa Indonesia
Healthy environment and active life can ward off some health issues - Lingkungan yang sehat dan kehidupan yang aktif dapat menangkal beberapa masalah kesehatan

SBS Indonesian - SBS Bahasa Indonesia

Play Episode Listen Later Jan 13, 2025 15:33


Several health problems will continue to haunt us in the new year 2025, if we continue to apply the business as usual approach. Apart from the issue of vaccination, which is not only for COVID and flu, governments around the world also need to curb the increase in non-communicable diseases. - Beberapa permasalahan kesehatan akan terus menghantui kita di tahun baru 2025, jika kita tetap menerapkan pendekatan business as usual. Selain masalah vaksinasi, yang tidak hanya untuk COVID dan flu, pemerintah di dunia juga perlu menahan peningkatan penyakit tidak menular.

VOA This Morning Podcast - Voice of America | Bahasa Indonesia
VOA This Morning "FBI: Tersangka Serangan Teroris di New Orleans Anggota ISIS; Aktivis Lingkungan Kecam Prabowo Soal Deforestasi Demi Sawit" - Januari 03, 2025

VOA This Morning Podcast - Voice of America | Bahasa Indonesia

Play Episode Listen Later Jan 2, 2025 16:42


Tersangka serangan teroris di New Orleans, yang menewaskan 14 orang, terinspirasi ISIS dan tampaknya bertindak sendirian, menurut FBI. Sementara itu, pernyataan Prabowo soal deforestasi demi kelapa sawait dikecam para aktivis lingkungan.

AWR Indonesian - Daily Devotional
"BAGAIMANA MANUSIA HIDUP DENGAN BAIK"

AWR Indonesian - Daily Devotional

Play Episode Listen Later Jan 1, 2025 6:24


Hidup dengan baik berarti memandang, berperilaku, dan menghormati orang lain sebagaimana kita ingin mereka memandang kita.

Laporan VOA - Voice of America | Bahasa Indonesia
Dari Eropa ke New York, Kapal Ramah Lingkungan Selesaikan Misi Kargo - Desember 09, 2024

Laporan VOA - Voice of America | Bahasa Indonesia

Play Episode Listen Later Dec 8, 2024 3:03


Industri kargo laut menyumbang sekitar 3 persen emisi gas rumah kaca global. Sejumlah inisiatif kapal kargo ramah lingkungan pun bermunculan. Seperti kapal Perancis yang membawa kargo dari Eropa, dan baru-baru ini berlabuh di New York.

Radio Rodja 756 AM
Lingkungan dengan Dasar Komunikasi Hangat

Radio Rodja 756 AM

Play Episode Listen Later Oct 31, 2024 58:37


Lingkungan dengan Dasar Komunikasi Hangat merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 26 Rabiul Akhir 1446 H / 29 Oktober 2024 M. Kajian Tentang Lingkungan dengan Dasar Komunikasi Hangat Pembahasan kali ini adalah tentang pentingnya membangun lingkungan yang didasari komunikasi yang […] Tulisan Lingkungan dengan Dasar Komunikasi Hangat ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.

Radio Rodja 756 AM
Menciptakan Lingkungan yang Dibangun atas Dasar Cinta dan Kasih Sayang

Radio Rodja 756 AM

Play Episode Listen Later Oct 9, 2024 52:16


Menciptakan Lingkungan yang Dibangun atas Dasar Cinta dan Kasih Sayang merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 5 Rabiul Akhir 1446 H / 8 Oktober 2024 M. Kajian Tentang Menciptakan Lingkungan yang Dibangun atas Dasar Cinta dan Kasih Sayang Pada kesempatan […] Tulisan Menciptakan Lingkungan yang Dibangun atas Dasar Cinta dan Kasih Sayang ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.

Radio Rodja 756 AM
Sinergi Lingkungan Positif di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat

Radio Rodja 756 AM

Play Episode Listen Later Sep 25, 2024 58:19


Sinergi Lingkungan Positif di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 20 Rabiul Awal 1446 H / 24 September 2024 M. Kajian Tentang Sinergi Lingkungan Positif di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat Kita akan melanjutkan pembahasan tentang menciptakan […] Tulisan Sinergi Lingkungan Positif di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.

Radio Rodja 756 AM
Menciptakan Lingkungan Positif bagi Remaja

Radio Rodja 756 AM

Play Episode Listen Later Sep 18, 2024 53:25


Menciptakan Lingkungan Positif bagi Remaja merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 13 Rabiul Awal 1446 H / 17 September 2024 M. Kajian Tentang Menciptakan Lingkungan Positif bagi Remaja Salah satu tugas orang tua adalah mencarikan atau memilihkan lingkungan yang baik […] Tulisan Menciptakan Lingkungan Positif bagi Remaja ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.

SBS Indonesian - SBS Bahasa Indonesia
Improving environmental quality to improve quality of life in community - Meningkatkan Kualitas Lingkungan Demi Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat

SBS Indonesian - SBS Bahasa Indonesia

Play Episode Listen Later Jul 21, 2024 10:06


RISE or Revitalizing Informal Settlements and their Environments is a research program that focuses on the intersection between health, the environment, and water and sanitation. - RISE atau Revitalising Informal Settlements and their Environments merupakan sebuah program penelitian yang berfokus pada titik temu antara kesehatan, lingkungan, serta air dan sanitasi.