Commune in Teleorman, Romania
POPULARITY
Categories
Herbal Rebellion karya Howla Jardali bukan sekadar panduan botani, melainkan sebuah manifesto politik dan spiritual untuk merebut kembali kedaulatan atas tubuh manusia dari cengkeraman kompleks industri farmasi yang profit-sentris. Argumen utama yang diajukan adalah bahwa ketergantungan kronis pada obat-obatan sintetis telah menciptakan budaya ketidakberdayaan, di mana individu kehilangan koneksi dengan intuisi penyembuhan bawaan mereka. Dengan beralih kembali ke tanaman obat, seseorang sebenarnya sedang melakukan tindakan pembangkangan sipil yang damai; sebuah upaya untuk memutus rantai ketergantungan pada sistem kesehatan modern yang sering kali hanya memadamkan gejala tanpa pernah menyentuh akar penyebab penyakit. Secara filosofis, gerakan ini mengusung konsep vitalisme, yakni keyakinan bahwa tubuh memiliki kecerdasan alami atau "daya hidup" yang mampu memulihkan keseimbangannya sendiri jika diberikan dukungan yang tepat dari alam. Tanaman obat, seperti kelompok adaptogen yang menyeimbangkan stres atau nervine yang menenangkan sistem saraf, dipandang sebagai sekutu hidup yang bekerja secara holistik, bukan sekadar komoditas kimiawi. Jardali menekankan bahwa menghidupkan kembali pengetahuan leluhur tentang herbalisme adalah langkah krusial untuk memperbaiki identitas manusia sebagai bagian tak terpisahkan dari ekosistem bumi, sehingga proses penyembuhan fisik juga menjadi proses penyembuhan hubungan kita dengan alam semesta. Pada akhirnya, Herbal Rebellion menawarkan visi tentang ketahanan masa depan melalui kemandirian praktis di tingkat rumah tangga dan komunitas. Pemberontakan ini terwujud dalam tindakan-tindakan sederhana namun revolusioner, seperti menanam apotek hidup di halaman belakang, membuat ramuan obat di dapur sendiri, serta melakukan praktik meramu (foraging) secara etis di alam liar. Dengan membangun jaringan komunitas yang saling berbagi benih dan pengetahuan, individu tidak hanya memperkuat benteng kesehatan pribadi mereka, tetapi juga berkontribusi pada perlindungan biodiversitas dan keberlanjutan planet. Ini adalah sebuah ajakan untuk pulang menuju kemandirian, di mana kesehatan bukan lagi barang dagangan, melainkan hak asasi yang berakar kuat di tanah.
Fotografi bukan sekadar aktivitas menekan tombol rana, melainkan sebuah bentuk seni yang memadukan penguasaan teknologi dengan kepekaan rasa yang mendalam. Secara etimologis, istilah fotografi berasal dari bahasa Yunani yang berarti "melukis dengan cahaya," sebuah deskripsi yang secara akurat menggambarkan bagaimana seorang fotografer menangkap spektrum visual untuk dibekukan menjadi memori abadi. Dalam prosesnya, seorang fotografer harus mampu menjembatani realitas objektif yang ada di depan mata dengan visi subjektif yang ingin disampaikan kepada penonton, sehingga sebuah gambar tidak hanya menjadi rekaman peristiwa, tetapi juga medium pengantar emosi yang mampu melampaui keterbatasan kata-kata. Seiring dengan perkembangan zaman, medium fotografi telah bertransformasi secara drastis dari penggunaan lempengan kimiawi dan film analog menuju sensor digital yang sangat canggih. Kehadiran kamera film dengan kontrol manual seperti Lomo MC-A hingga kamera mirrorless modern seperti Fujifilm X-T30 menunjukkan bahwa meskipun alat terus berevolusi, inti dari fotografi tetap terletak pada kemampuan manusia dalam membaca cahaya dan momen. Kemudahan teknologi digital memang telah mendemokratisasi akses terhadap seni ini, namun di sisi lain, hal tersebut juga menuntut fotografer untuk tetap mempertahankan kedisiplinan dan ketajaman intuisi agar karya yang dihasilkan tidak sekadar menjadi artefak visual yang hambar di tengah banjirnya informasi gambar di era media sosial. Lebih jauh lagi, fotografi memiliki peran krusial sebagai saksi sejarah dan alat narasi yang memiliki kekuatan besar dalam mengubah perspektif dunia. Melalui lensa, para fotografer mampu mendokumentasikan realitas pahit di medan konflik, menangkap keindahan dalam dunia fashion seperti yang dilakukan oleh Brianna Capozzi, hingga mengabadikan momen-momen kecil yang sering terlewatkan dalam kehidupan sehari-hari. Fotografi memiliki kemampuan unik untuk membekukan waktu, memberikan keabadian pada hal-hal yang fana, dan memungkinkan kita untuk melihat dunia dari sudut pandang yang benar-benar berbeda. Pada akhirnya, fotografi adalah sebuah dialog visual yang terus berlanjut antara sang fotografer, subjek, dan pemirsa, yang mampu melintasi batas ruang dan waktu.
Dalam perspektif neuro-fisika, perbedaan antara frekuensi tinggi dan rendah pada manusia paling nyata terlihat melalui tarian gelombang otak yang diukur dalam satuan Hertz. Frekuensi tinggi, seperti gelombang Gamma dan Beta, merepresentasikan mesin kognitif yang bekerja pada kapasitas penuh, di mana neuron-neuron saling menembakkan sinyal dengan cepat untuk pemrosesan informasi kompleks, fokus tajam, dan pemecahan masalah yang dinamis. Sebaliknya, frekuensi rendah seperti Alpha, Theta, dan Delta mencerminkan perlambatan simfoni saraf kita, yang membawa manusia ke ambang kreativitas, meditasi dalam, hingga fase pemulihan biologis total saat tidur nyenyak. Perbedaan ini bukan sekadar angka, melainkan keseimbangan antara fase aktivitas eksternal yang aktif dan fase restorasi internal yang esensial bagi kelangsungan hidup. Melangkah ke tingkat seluler, tubuh manusia berfungsi sebagai sistem elektromagnetik yang kompleks di mana frekuensi menentukan derajat vitalitas biologis. Frekuensi tinggi pada tingkat ini dikaitkan dengan koherensi seluler dan kesehatan optimal, di mana setiap sel bergetar dalam harmoni yang memungkinkan pertukaran energi dan nutrisi terjadi secara efisien tanpa hambatan entropi. Sebaliknya, frekuensi rendah dalam konteks biologis sering kali menjadi penanda ketidakteraturan atau disonansi, yang bermanifestasi sebagai kelelahan kronis, peradangan, atau menurunnya sistem imun. Dalam pandangan fisika kuantum, kita adalah dawai-dawai energi yang bergetar; ketika getaran kita melambat atau menjadi kacau akibat stres, kita kehilangan sinkronisasi dengan ritme alami alam semesta yang seharusnya menopang kehidupan kita. Secara spiritual, frekuensi tinggi dan rendah melambangkan derajat resonansi antara kesadaran manusia dengan "Frekuensi Ilahi" atau Sang Pencipta. Frekuensi tinggi adalah kondisi resonansi murni yang dicapai melalui emosi koheren seperti cinta, rasa syukur, dan peniadaan ego (fana), yang memungkinkan jiwa manusia selaras dengan melodi kosmik yang mendasari seluruh realitas. Sebaliknya, frekuensi rendah bermanifestasi sebagai gangguan atau "noise" yang disebabkan oleh beratnya keterikatan materi, ketakutan, dan dominasi ego yang menciptakan jarak spiritual antara makhluk dan Penciptanya. Dengan demikian, menaikkan frekuensi pada manusia berarti memurnikan antena batin dari kebisingan duniawi agar mampu menangkap sinyal petunjuk Tuhan dengan lebih jernih, mengubah eksistensi yang berat menjadi tarian cahaya yang ringan.
Menulis laporan proyek internal bukanlah sebuah panggung untuk memoles citra atau mencari pujian, melainkan sebuah jendela jujur ke dalam "dapur operasional" organisasi yang sering kali berantakan. Esensi dari laporan ini adalah transparansi mutlak; sebuah potret brutal yang menunjukkan realitas lapangan tanpa filter "Asal Bapak Senang" (ABS) yang sering kali menyesatkan pimpinan. Laporan yang dipenuhi indikator hijau semu hanyalah bom waktu yang menunda krisis, padahal tujuan utama dari setiap pelaporan internal adalah sebagai alat pemecahan masalah (problem-solving) serta dasar pengambilan keputusan strategis yang berbasis pada data nyata di lapangan. Prinsip utama yang harus dipegang dalam pelaporan ini adalah mengutamakan penyampaian berita buruk lebih awal daripada berita baik agar pimpinan memiliki waktu yang cukup untuk melakukan intervensi. Ibarat lampu indikator pada dashboard kendaraan, laporan harus mampu menyala merah saat kondisi proyek mulai kritis sehingga langkah penyelamatan dapat segera diambil sebelum proyek benar-benar mangkrak di tengah jalan. Dengan mengadopsi mentalitas "bad news first," tim menunjukkan profesionalisme tinggi dalam manajemen risiko karena mereka menyadari bahwa berita baik tidak memerlukan intervensi darurat, sedangkan berita buruk menuntut wewenang dan kebijakan pimpinan untuk segera turun tangan membenahi hambatan yang ada. Secara praktis, penulisan laporan internal yang berkualitas harus menggunakan bahasa teknis yang pendek, padat, dan langsung menuju inti sasaran tanpa bumbu bahasa puitis yang mengaburkan fakta. Struktur laporan yang efektif wajib memisahkan antara fakta yang terukur, analisis akar masalah melalui teknik seperti "5 Whys", dan usulan solusi konkret yang mencakup penanggung jawab serta tenggat waktu yang jelas. Dengan menjauhkan ego pribadi dan fokus pada objektivitas, laporan internal bertransformasi dari sekadar kewajiban administratif rutin menjadi dokumen strategis yang mampu menyelamatkan keberlangsungan proyek serta menjaga integritas jangka panjang organisasi.
Penulisan laporan bagi donor atau klien bukan sekadar pemenuhan kewajiban administrasi, melainkan sebuah bentuk pertanggungjawaban moral atas "utang janji" yang telah disepakati dalam kontrak. Filosofi utamanya adalah akuntabilitas, di mana setiap rupiah yang dikelola dianggap memiliki tanggung jawab yang besar. Dalam konteks ini, kejujuran menjadi fondasi yang tidak boleh ditawar; sekali sebuah lembaga memanipulasi data atau menyembunyikan fakta, reputasi dan kepercayaan yang telah dibangun bertahun-tahun dapat hancur seketika. Oleh karena itu, laporan harus disusun dengan integritas tinggi sebagai upaya mencicil kepercayaan yang telah diberikan oleh pihak penyandang dana. Secara teknis, laporan donor berfungsi sebagai alat diplomasi strategis yang menuntut penggunaan bahasa yang formal, elegan, dan profesional. Penulis laporan harus memiliki kepekaan untuk mematuhi format dan kerangka kerja logis (logframe) yang telah ditentukan tanpa mencoba menjadi terlalu "kreatif" yang justru mempersulit proses verifikasi. Hal ini penting karena staf donor juga memiliki tanggung jawab untuk melaporkan keberhasilan proyek kepada atasan mereka. Dengan menyajikan laporan yang runtut, menggunakan istilah yang konsisten, dan menyertakan lampiran yang kuat, lembaga secara tidak langsung membantu donor untuk terlihat sukses dan kompeten di depan para pemangku kepentingan mereka sendiri. Esensi dari laporan yang bermutu tinggi terletak pada kemampuannya untuk menunjukkan dampak (outcome), bukan sekadar daftar kegiatan (output). Donor pada dasarnya sedang "membeli" perubahan positif di masyarakat, sehingga laporan harus mampu menceritakan bagaimana bantuan tersebut mengubah hidup penerima manfaat melalui data statistik dan bukti nyata di lapangan. Apabila terjadi kendala atau kegagalan, laporan yang baik tidak hanya memberikan alasan, melainkan membungkusnya dengan strategi mitigasi yang solutif. Melalui pendekatan yang jujur namun tetap berorientasi pada solusi, tantangan di lapangan justru menjadi bukti kematangan lembaga dalam mengelola proyek dan menjaga keberlanjutan dampak di masa depan.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa status BPJS PBI-JKN yang dibatalkan akan otomatis diaktifkan kembali secara tersentral dari pusat. Pemerintah juga memastikan bahwa prioritas utama untuk BPJS PBI akan diberikan kepada pasien dengan penyakit katastropik seperti cuci darah, kemoterapi, dan talasemia. Selama tiga bulan ke depan, Dinas Sosial, BPJS, dan pemerintah daerah akan melakukan validasi data secara ketat. Jika ditemukan warga yang tidak layak, status PBI akan dialihkan kepada yang lebih berhak.
Kereta Petani resmi diluncurkan PT Kereta Api Indonesia (Persero). Tapi pertanyaannya sederhana: apakah kereta api benar-benar bisa jadi solusi distribusi hasil pertanian, atau hanya alternatif yang terlihat menarik di atas kertas? Di episode Transpod Podcast kali ini, kita mengajak Transbro dan Transist melihat Kereta Petani dari sudut pandang transportasi, bukan sekadar euforia peluncuran, tapi juga realitas operasional di lapangan.Kita bahas mulai dari kenapa kereta api dipilih, bagaimana kesiapan jalur dan stasiun, sampai peran moda pengumpan seperti truk yang sering luput dari pembahasan. Dengan bahasa santai tapi tetap berbasis fakta, episode ini mencoba menjawab satu hal penting: seefisien apa Kereta Petani ketika benar-benar dijalankan, bukan hanya direncanakan.Penasaran bagaimana detail mengenai Kereta Petani dan Pedagang ini? Take ur Earphone and Listen it!
Bismillah,1990. EMPAT HAL YANG DICATAT MALAIKAT SECARA SEMPURNARiyaadhush Shaalihiin Bab 50 | Rasa Takut (Kepada Allah ﷻ)Hadits ke-401 | Hadits Ibnu Mas'ud Radhiallahu 'anhuعن ابنِ مسعودٍ ، رضي اللَّه عنه ، قال : حدثنا رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، وهو الصَّادِقُ المصدوقُ : « إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ في بَطْن أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْماً نُطْفَةً ، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذلِكَ ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مثْلَ ذلِكَ ، ثُمَّ يُرْسَلُ المَلَكُ ، فَيَنْفُخُ فِيهِ الرَّوحَ ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِماتٍ : بِكَتْبِ رِزقِةِ ، وَأَجلِهِ ، وَعمَلِهِ ، وَشَقيٌّ أَوْ سعِيدٌ . فَوَ الَّذِي لا إِله غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وبَيْنَهَا إِلاَّ ذِراعٌ ، فَيَسْبقُ عَلَيْهِ الْكِتابُ ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْل النَّارِ ، فَيَدْخُلُهَا ، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ فَيََدْخُلُهَا » متفقٌ عليه .Dari Ibnu Mas'ud beliau berkata, "Rasulullah ﷺ , menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang jujur dan dipercaya, 'Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk setetes air, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu juga. Kemudian diutuslah satu malaikat, lalu malaikat itu meniupkan ruh padanya, dan dia diperintahkan dengan empat kalimat; menulis rizki-nya, ajalnya, amalnya, dan apakah dia orang celaka atau bahagia. Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang haq selainNya, sesungguhnya ada salah seorang di antara kalian yang beramal dengan amal perbuatan ahli surga hingga jarak antara dia dengan surga hanya satu hasta, ternyata catatan (ketetapan) takdir mendahuluinya sehingga dia beramal dengan amalan ahli neraka, maka dia masuk ke dalam neraka. Dan sesungguhnya ada salah seorang di antara kalian yang beramal dengan amal perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dia dengan neraka hanya satu hasta, ternyata catatan (ketetapan) takdir mendahuluinya sehingga dia beramal dengan arnal ahli surga, maka dia masuk surga'." (Muttafaq 'alaih)
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Suster Kristin MCFSM dan Suster MCFSM dari Komunitas Suster MCFSM Santo Fransiskus Catholic Center Palangkaraya di Keuskupan Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Indonesia. 1 Raja-Raja 2: 1-4.10-12; Mazmur tg: 1 Taw 29: 10.11ab.11d-12a.12bcd; Markus 6: 7-13.KEKUATAN SEBUAHKEPERCAYAAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: Kekuatan SebuahKepercayaan. Secara umum kita bisa kategorikan kepercayaan, mandat, tanggungjawab, atau komitmen menjadi dua. Yang pertama ialah kepercayaan untukmelakukan perbuatan-perbuatan jasmani seperti bekerja mencari nafkah, memimpinorganisasi, dan menjual atau membeli barang-barang. Yang kedua ialahkepercayaan terkait dengan melakukan kegiatan-kegiatan rohani seperti pelayananfirman Tuhan, beribadat, berdoa, dan berpuasa. Raja Daud memberikan kepercayaan kepemimpinan kerajaankepada putranya Salomo, dan ini kita bisa menganggapnya sebagai wakil darisuatu kepercayaan jasmani. Orang tua atau orang dewasa memberikan kepercayaankepada anak-anaknya untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab sesuai denganharapan mereka. Banyak sekali kehidupan jasmani kita ditentukan olehkepercayaan yang diberikan kepada kita, baik di dalam keluarga maupun diluarnya. Sementara itu, Yesus Kristus memberikan kepercayaan danmengutus para murid-Nya, dapat kita anggap sebagai wakil dari suatu kepercayaanrohani yang kita miliki. Kehidupan kita kapan dan di mana pun yang berkaitandengan aspek rohani, semuanya ditentukan oleh kepercayaan atau nasihat danbimbingan rohani yang diberikan kepada kita. Seseorang menghadiri Misa padahari Minggu, dan dari sana ia membawa suatu kepercayaan untuk menjalani perutusan yang disampaikanoleh imam pada akhir perayaan ekaristi. Pertanyaan yang penting adalah ini: apakah yang menjadikekuatannya sehingga kepercayaan baik jasmani maupun rohani itu memilikimartabat, kewibawaan, dan membuahkan kepercayaan yang lebih besar lagi dariorang lain di sekitar kita? Kedua bacaan kita hari ini memberikan satu jawabanpokok, ialah ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan yang memberikan kepercayaanitu. Nasihat, perintah, dan aturan-aturan yang ditetapkan senantiasa dijalani.Semua itu untuk menjamin kalau kepercayaan itu berasal dari sebuah kuasa yangjauh lebih besar dan menjamin legitimasi terlaksananya tugas-tugas kita. Ketaatan berarti Tuhan yang memberikan kepercayaan adalahbenar dan kehendaknya bersifat tetap. Jadi tidak ada pertimbangan apa pundari kita untuk berdebat bahkanmemperbaikinya. Yang kita perbuat ialah mendengar, memahami, danmenjalankannya. Kesetiaan merupakan sisi mata uang untuk ketaatan. Kesetiaanbertahan sampai ujung kehidupan karena orang taat tanpa syarat. Banyak kalikita menjadi seperti Daud atau Petrus, yang mengakui iman untuk taat, namunterkadang kita tidak setia dalam berkomitmen. Yang penting ada penyesalan, lalu membaharui diri untukkembali setia. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan YesusKristus, pakailah kami dengan apa adanya kami ini untuk menunaikan kepercayaanyang Engkau berikan kepada kami. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Suster Modesta MCFSM, Suster Rini MCFSM, Suster Franscesca MCFSM dan Suster Sisilia MCFSM dari Komunitas MCFSM Santo Fransikus Palangkaraya di Keuskupan Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Zefanya 2: 3; 3: 12-13; Mazmur tg 146: 1.7.8-9a.9b-10; 1 Korintus 1: 26-31; Matius 5: 1-12a.YANG LEMAH YANG BAHAGIA Tema renungan kita pada hari Minggu Biasa ke-4 iniialah: Yang Lemah Yang Bahagia. Di dalamdunia ini yang dikuasai oleh pasar, jabatan, uang dan pengaruh, seorang manusiaentah pria entah wanita yang lemah jasmani atau lemah rohani terhalang untukmenjadi bahagia. Hidup di dalam dunia ini sangat membutuhkan kepandaian,kekuatan, kekuasaan, kerja keras dan uang yang cukup untuk menciptakan suatuhidup bahagia. Orang yang tidak memiliki kualitas ini pasti hidupnya tidakbahagia. Pada umumnya pikiran, hati dan kehendak kita dibentukoleh standar-standar dunia ini. Orang-orang di dalam dunia ini bercita-citauntuk menjadi kaya materi, memiliki pengetahuan dan teknologi yang memadai,mengontrol atau menguasai orang lain, dan menjadi pemenang dalam aneka macamkompetisi. Hampir tidak ada orang yang ingin menjadi orang lemah, orang sakit,yang dilupakan, yang diperlakukan tidak adil, dan yang menjadi korbanpenghinaan atau kekerasan. Kalau misalnya pernah ada suatu orientasi kehidupanyang mengarahkan orang-orang dunia ini untuk memilih dan memeluk semua keadaanyang lemah atau tidak berdaya, hal itu hanya terdapat pada orang-orang yangberiman. Secara khusus, iman Kristen yang bersumber dan berpatokan pada YesusKristus sungguh membalikkan standar atau ukuran yang dipakai oleh dunia ini.Iman ini mencerahkan dan menguatkan orang-orang beriman supaya tidak lari darikelemahan, sakit, derita, penganiayaan dan kematian. Karena dengan cara ini,mereka sungguh bersama dengan Yesus Kristus sendiri yang pernah mengalamipenghinaan, sengsara, derita dan kematian. Iman ini semakin meyakinkan orang-orang beriman supayabertahan dalam keadaan yang lemah dan menderita ini. Mereka diyakinkan bahwakelemahan dan derita ini tempatnya di dunia. Selagi seorang manusia berada didalam dunia, ia tidak bisa luput dari keadaan dan pengalaman yang lemah, sakitdan derita. Hanya setelah meninggalkan dunia ini melalui kematian, ia berhakuntuk masuk dan ambil bagian dalam kebahagiaan kekal di dalam Allah TritunggalSuci. Semua bacaan pada hari Minggu ini ingin menguatkankeyakinan kita orang-orang beriman tentang bagaimana kita seharusnya tetapbertahan dan terus menikmati saja keadaan atau pengalaman kita yang lemah,sakit dan menderita. Ketika kita menikmati dan menjalani kehidupan dunia iniyang membawa sakit dan kekurangan, seharusnya kita bahagia. Kemampuan kitauntuk menerima semua itu dengan tenang, damai dan gembira merupakan tandapengalaman kebahagiaan itu. Berangkat dari kemampuan ini, kita diberi suatupenguatan iman bahwa harapan kita untuk mendapat kebahagiaan yang sempurnaadalah nyata dan tak terbantahkan. Tuhan Yesus sendiri dan orang-orang kudussudah menyiapkan itu untuk kita semua.Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa … Ya Tuhan yangmahakuasa, berkatilah kami agar kami senantiasa kuat dalam iman danpengharapan, meskipun kami senantiasa juga mengalami aneka jenis penderitaan.Bapa kami yang ada di surga … Dalam nama Bapa …
Dalam dunia pemantauan dan evaluasi tradisional, keberhasilan seringkali diukur secara kaku melalui perbandingan antara hasil aktual dengan target yang telah ditetapkan di awal program. Namun, dalam intervensi sosial yang dinamis seperti advokasi kebijakan atau pembangunan perdamaian, perubahan jarang sekali mengikuti jalur linier yang dapat diprediksi. Di sinilah Outcome Harvesting (OH) muncul sebagai pendekatan alternatif yang revolusioner. Berbeda dengan metode konvensional, OH bekerja secara terbalik dengan mengidentifikasi apa yang sebenarnya telah berubah di lapangan—baik yang direncanakan maupun tidak—sebelum menarik garis mundur untuk menentukan bagaimana sebuah intervensi berkontribusi terhadap perubahan tersebut. Pentingnya Outcome Harvesting terletak pada kemampuannya untuk menavigasi kompleksitas dan ketidakpastian. Dalam lingkungan di mana banyak aktor dan faktor saling berinteraksi, mengklaim atribusi tunggal atas sebuah perubahan seringkali tidak akurat. OH menggeser fokus dari "atribusi" menjadi "kontribusi," yang memungkinkan organisasi untuk mengakui peran mereka sebagai salah satu pemicu perubahan di antara sekian banyak pengaruh lainnya. Hal ini tidak hanya memberikan potret keberhasilan yang lebih jujur dan bernuansa, tetapi juga menangkap hasil-hasil tak terduga yang seringkali justru menjadi pencapaian paling signifikan dalam sebuah program namun luput dari radar indikator kinerja standar. Secara operasional, proses "memanen" hasil ini melibatkan pengumpulan deskripsi konkret tentang perubahan perilaku, hubungan, kebijakan, atau praktik dari aktor-aktor sosial yang menjadi sasaran. Melalui enam langkah sistematis—mulai dari desain panen hingga penggunaan temuan—metode ini menekankan pada bukti nyata dan verifikasi melalui pihak ketiga yang independen untuk menjamin kredibilitas data. Pada akhirnya, Outcome Harvesting bukan sekadar alat pelaporan bagi donor, melainkan instrumen pembelajaran strategis yang membantu para praktisi memahami mekanisme perubahan secara mendalam, sehingga mereka dapat mengadaptasi strategi dengan lebih lincah demi dampak yang lebih luas.
Ribuan WNI di Kamboja mengajukan pemulangan ke Indonesia. Di balik permintaan tersebut, muncul pertanyaan krusial: apakah mereka seluruhnya korban Tindak Pidana Perdagangan Orang, atau ada yang justru terlibat dalam jaringan penipuan daring internasional. Pemerintah dihadapkan pada tantangan besar untuk bersikap tegas namun tetap humanis, membedakan korban dan pelaku, sekaligus memastikan perlindungan, kepastian hukum, dan pencegahan agar kasus serupa tidak terus berulang.Talk: - Direktur Eksekutif Migrant Watch, Aznil Tan- Kordinator Advokasi Peduli Buruh Migran, Remon J Kusnadi
Penjelasan: https://dasaptaerwin.net/wp/2026/01/penggunaan-turnitin-secara-proporsional.html
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Pastor Peter Tukan, SDB dari Salesian Don Bosco Gerak di Keuskupan Labuan Bajo, Indonesia. 1 Samuel 18: 6-9; 19: 1-7; Mazmur tg 56: 2-3.9-10a.10b-11.12-13; Markus 3: 7-12.PEMENANG TETAP RENDAH HATI Renungan kita pada hari ini bertema: Pemenang Tetap RendahHati. Seorang perawat di rumah sakit bekerja dengan sangat baik—pasien merasatertolong, keluarga pasien berterima kasih, bahkan rekan kerja memujinya. Namunia tidak sibuk mencari pujian atau membandingkan dirinya dengan orang lain. Iatetap datang tepat waktu, tetap menolong dengan sabar, tetap sopan kepadapetugas kebersihan, satpam, dan siapa pun. Ketika ada yang iri atau bersikaptidak adil kepadanya, ia memilih tetap bekerja benar dan menyerahkan hasilnyakepada Tuhan. Ini merupakan contoh nyata seorang pemenang tetap rendah hati. Dalam kisah Raja Daud, kita melihat sebuah kemenangan yangtidak melahirkan kesombongan. Daud berhasil mengalahkan musuh dan membawasukacita bagi bangsa, namun justru di saat itulah ancaman muncul dari dalam:Raja Saul mulai merasa terancam dan merencanakan pembunuhan terhadap “rajabaru” yang sedang dipersiapkan Tuhan. Secara manusiawi, Daud punya alasan untuk membalas,mempertahankan diri dengan cara keras, atau menunjukkan kuasa. Tetapi Daudmemilih jalan yang lebih dalam: ia tetap merendah, tidak membesar-besarkandiri, dan tidak menyepelekan orang lain, bahkan terhadap Saul yang melukaihatinya. Ia tetap menganggap Saul sebagai yang diurapi Tuhan. Kerendahan hati Daud bukan kelemahan, melainkan kekuatanrohani yang lahir dari kesadaran bahwa hidupnya bukan miliknya sendiri. Daudtahu, keberhasilan dalam perang bukan semata karena strategi atau kehebatannya,tetapi karena Tuhan yang memegang kendali. Ia tidak menjadikan kemenangansebagai panggung untuk meninggikan diri, melainkan sebagai kesempatan untuksemakin bergantung kepada Allah. Ketika seseorang yakin bahwa Tuhanlah sumberkemenangan, maka ia tidak akan merasa perlu merendahkan orang lain agar dirinyatampak lebih tinggi. Sikap ini makin terang ketika kita memandang Yesus Kristus.Dalam Injil, roh-roh jahat mengenali dan mengakui Yesus sebagai Anak Allah.Namun Yesus justru menegur mereka agar tidak menyebarkan berita itu. Mengapa?Karena pengakuan tentang diri-Nya harus dinyatakan pada saat dan tempat yangtepat, sesuai rencana keselamatan dari Bapa. Yesus tidak mengejar popularitas,tidak membangun pengaruh dengan sensasi, dan tidak mencari pengakuan dari suarayang salah. Ia menunjukkan bahwa kebenaran tidak perlu dipaksakan lewatkemegahan, tetapi harus lahir dari kehendak Allah yang teratur dan penuhhikmat. Yesus kemudian terus berkeliling untuk bekerja tanpa henti,mewujudkan tugas-tugas yang berasal dari Bapa: mewartakan Kerajaan Allah,menyembuhkan, membebaskan, dan membangun iman. Ia tidak berhenti hanya karenatelah dikenal, dipuji, atau diakui. Ia tetap berjalan dalam kerendahan hati,karena fokus-Nya bukan prestasi pribadi, melainkan kehendak Bapa. Inilahpelajaran rohani berharga: bekerja dengan rendah hati berarti tetap setia padamisi, bukan menjaga citra, bukan mengejar keunggulan, bukan mencari tepuktangan manusia. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa … Ya Tuhan Yesus, semoga ajaran cinta kasihdari-Mu selalu menerangi dan menuntun kami untuk bersikap rendah hati di dalamkata dan tindakan kami. Salam Maria, penuh rahmat … Dalam nama Bapa …
Sam Nelson dalam serial Hijack mendefinisikan ulang negosiasi krisis dengan membawa logika korporat yang dingin ke dalam situasi hidup dan mati di kabin pesawat. Alih-alih memposisikan diri sebagai pahlawan yang konfrontatif, ia menggunakan konsep reframing atau pembingkaian ulang untuk menyelaraskan kepentingan antara dirinya dan para pembajak melalui narasi tunggal: "semua orang ingin pulang dengan selamat." Teknik ini sangat efektif karena mampu mengubah dinamika dari permusuhan menjadi kerja sama semu, di mana Sam memposisikan dirinya bukan sebagai penghalang, melainkan sebagai "fasilitator" yang membantu rencana pembajak tetap berjalan mulus tanpa kekacauan yang tidak perlu. Pada level psikologis, Sam menerapkan tactical empathy atau empati taktis guna mengendalikan suasana emosional lawan tanpa harus bersimpati pada tindakan kriminal mereka. Melalui metode labeling dan mirroring, ia secara aktif memvalidasi perasaan stres atau tekanan yang dialami para pembajak untuk membuat mereka merasa didengar, yang secara biologis terbukti mampu menurunkan kadar kortisol dan agresi lawan bicara. Selain itu, ia mahir menggunakan frame control dengan memberikan ilusi pilihan kepada lawan; taktik ini membiarkan para pembajak merasa tetap memiliki otoritas dan kendali, padahal setiap opsi yang diberikan sebenarnya telah dirancang Sam untuk memitigasi risiko bagi para penumpang. Kekuatan pamungkas dari strategi Sam terletak pada ketajaman observasi untuk mengumpulkan informasi rahasia dan memetakan keretakan internal dalam kelompok lawan melalui prinsip divide and conquer. Dengan mengidentifikasi anggota pembajak yang memiliki keraguan atau ketidakstabilan mental, ia mampu menyisipkan benih ketidakpercayaan di antara mereka dan memanfaatkan momen tersebut sebagai daya tawar atau leverage yang krusial. Secara keseluruhan, teknik yang ditunjukkan Sam mengajarkan bahwa negosiasi kelas dunia bukanlah tentang adu kekuatan fisik atau ancaman, melainkan tentang ketenangan dalam mengelola variabel tak terduga (Black Swan) serta kemampuan untuk menjaga kendali narasi di bawah tekanan yang ekstrem.
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Agnes Ambariliani dan Tarsisius Agung Marsono dari Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta di Keuskupan Agung Semarang, Indonesia. 1 Samuel 17: 32-33.37.40-51; Mazmur tg 144: 1.2.9-10; Markus 3: 1-6.KEJAHATAN MELAWAN KEBAIKAN Tema renungan kita pada hari ini ialah: Kejahatan MelawanKebaikan. Dalam sejarah manusia, kita berkali-kali melihat benturan besarantara kejahatan melawan kebaikan. Kisah Daud melawan Goliat dalam PerjanjianLama adalah gambaran yang sangat kuat: seorang muda kecil, tanpa baju zirah dantanpa senjata perang yang “layak”, berdiri di hadapan raksasa bersenjatalengkap. Secara manusiawi, itu seperti perlawanan yang mustahil. Namun Daudtidak maju dengan kekuatannya sendiri; ia maju dengan iman, dengan keberanianyang lahir dari keyakinan bahwa hidup ini berada dalam tangan Allah. Di sinikita melihat bahwa kejahatan sering tampil mengintimidasi, besar, keras, danpenuh ancaman, tetapi kebaikan memiliki daya yang lebih dalam: kebenaran yangberasal dari Tuhan. Dalam Perjanjian Baru, benturan itu tampak lebih kelam. KaumFarisi, Herodian, dan para pemuka agama bersatu melawan Yesus bukan karenaYesus melakukan kejahatan, tetapi justru karena Ia membawa terang yangmenyingkapkan kepalsuan. Kejahatan sering takut pada kebenaran, sebab kebenaranmembuka topengnya. Maka Yesus dihadang dengan berbagai cara: fitnah, jebakan,manipulasi massa, hingga hukuman mati. Secara lahiriah, kebaikan seolahkalah—sang Putra Allah disalibkan. Tetapi kebaikan bukan menurut ukuran dunia.Kebaikan menang karena Yesus tidak membalas kebencian dengan kebencian; Iamenaklukkan kekerasan dengan kasih, dan maut dengan kebangkitan. Mengapa dalam “perang” ini kebaikan selalu menang? Pertama,karena kebaikan berakar pada Allah yang kekal, sedangkan kejahatan adalahpenyimpangan yang rapuh. Kedua, karena kebaikan menyatukan, sementara kejahatanpada akhirnya menghancurkan dirinya sendiri: ia bertumbuh lewat dusta, tetapidusta selalu memerlukan dusta baru, sampai akhirnya runtuh oleh kontradiksi.Ketiga, kebaikan memiliki daya hidup yang kreatif—ia membangun, memulihkan, danmemberi harapan—sedangkan kejahatan hanya mampu merusak dan mengosongkan. Makaketika kebaikan tampak kalah sementara, sebenarnya ia sedang menanam benihkemenangan yang lebih besar dan lebih murni. Mengapa kejahatan itu kalah, tetapi tidak pernah menyerah?Karena kejahatan tidak memiliki “hidup” sejati; ia hidup dari menempel padayang baik dan memutarbalikkannya. Ia tidak dapat mencipta, hanya dapatmemalsukan. Sebab itu ia terus melawan Tuhan, manusia, dan bahkan tatanan alamsemesta, karena dalam perlawanan itulah ia mencoba bertahan. Kejahatan jugatumbuh dari kesombongan: ia ingin menjadi pusat, ingin menguasai, ingin diakui.Maka ia tidak berhenti, sebab berhenti berarti mengakui bahwa dirinya bukanTuhan. Di sinilah tragisnya: kejahatan terus berjuang, tetapi setiap perjuanganitu justru memperlihatkan bahwa ia tidak memiliki kemenangan yang final. Namun kita juga harus jujur: kejahatan tidak hanya ada “diluar” sana, pada musuh besar atau sistem yang jahat, melainkan juga mengintaidalam hati manusia: iri, dendam, manipulasi, egoisme, ketidakadilan kecil yangdianggap biasa. Kejahatan sering kalah dalam skala besar karena Tuhan setia,tetapi ia tetap bertahan dalam skala kecil karena manusia bisa lengah. Karenaitu, kemenangan kebaikan bukan sekadar kisah heroik Daud atau Yesus; ia menjadipanggilan rohani harian: memilih jujur ketika mudah berbohong, memilihmengampuni ketika hati ingin membalas, memilih merawat ketika dunia terbiasamerusak. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa … Ya Allah yang mahabenar dan mahabaik, di dalamDikau kami berlindung dan pada-Mu kami bersandar untuk selalu diberkati denganpemberian-Mu yang baik dan benar. Bapa kami yang ada di surga … Dalam nama Bapa…
Indonesia officially enacted its new Criminal Code on January 2, 2026, replacing the old one. The new Code is intended to create a national criminal law based on Pancasila. However, in the short time since its enactment, the new Code has drawn criticism. - Indonesia secara resmi memberlakukan KUHP barunya mulai tanggal 2 Januari 2026, menggantikan KUHP lama. KUHP baru ini dimaksudkan untuk menciptakan hukum pidana nasional yang berlandaskan Pancasila. Namun demikian dalam waktu yang singkat sejak pemberlakuaannya, KUHP baru itu telah menuai kritik.
Penjelasan: https://dasaptaerwin.net/wp/2026/01/penggunaan-turnitin-secara-proporsional.html
"Seluruh langit mengakui kemuliaan Allah; dan cakerawala menunjukkan ciptaan-Nya... [dan] Taurat TUHAN sempurna, mengubah jiwa" (Mazmur 19:1, 7a)
Bau busuk dan bau tidak sedap dari TPA sampah menimbulkan berbagai efek buruk bagi manusia dan lingkungan. Secara kesehatan, bau menyengat dapat memicu sakit kepala, mual, pusing, iritasi saluran pernapasan, serta memperburuk asma dan gangguan pernapasan lainnya. Paparan jangka panjang juga dapat menyebabkan stres, gangguan tidur, dan penurunan kualitas hidup masyarakat sekitar. Dari sisi psikologis, bau tidak enak menimbulkan rasa tidak nyaman, emosi negatif, dan menurunkan konsentrasi. Selain itu, bau TPA sering menarik lalat, tikus, dan serangga pembawa penyakit, sehingga meningkatkan risiko penularan penyakit dan pencemaran lingkungan di kawasan sekitar.
Dunia ini tidak mengenal hasil besar yang lahir secara tiba-tiba tanpa ada guncangan kecil di titik awalnya. Sains menyebutnya sebagai Butterfly Effect atau Efek Kupu-Kupu; sebuah metafora di mana kepakan sayap kecil di satu belahan dunia bisa memicu tornado di belahan dunia lainnya. Dalam setiap organisasi maupun kehidupan pribadi, prinsip ini berlaku mutlak: jangan pernah meremehkan hal sepele, seperti baut roda yang kendor pada mobil mewah. Goncangan kecil pada baut yang diabaikan itu bukan hanya bisa merusak kendaraan, tapi juga menghancurkan keselamatan, membuktikan bahwa satu kesalahan kecil di awal bisa mengubah segalanya di akhir. Kekuatan dampak yang besar sebenarnya terletak pada akumulasi dan momentum, sebagaimana dijelaskan dalam konsep Atomic Habits dan Efek Domino. Jika kita mampu memberikan guncangan positif meski hanya sebesar satu persen saja setiap hari, dalam setahun kita akan tumbuh menjadi 37 kali lipat lebih hebat. Secara fisik, satu domino kecil memiliki energi yang cukup untuk menjatuhkan domino lain yang berukuran satu setengah kali lebih besar, hingga akhirnya domino ke-29 mampu merobohkan gedung pencakar langit. Masalah utamanya seringkali adalah ketakutan kita untuk menjatuhkan domino pertama; kita terlalu lama memandangi raksasa di depan mata tanpa menyadari bahwa guncangan kecil di langkah awal adalah kunci pembuka jalan. Pada akhirnya, perubahan yang meledak hanyalah masalah mencapai Tipping Point atau titik jungkit. Seperti batu yang dilemparkan ke kolam tenang, tindakan kecil seperti senyum pada bawahan atau kedisiplinan bangun pagi akan menciptakan riak yang terus merambat hingga ke tepian. Menggunakan Prinsip Pareto, kita cukup fokus pada 20 persen tindakan vital yang mampu menggerakkan 80 persen hasil. Dampak besar bukanlah sebuah keajaiban atau sulap, melainkan manufaktur harapan yang dikerjakan melalui konsistensi langkah-langkah kecil. Jadi, mulailah sekarang, karena tornado yang dahsyat pun selalu dimulai dari satu kepakan sayap yang ringkih. Silakan memulai langkah-langkah kecil.
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Mulan dan Bernard dari Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta di Keuskupan Agung Semarang, Indonesia. 1 Samuel 3: 1-10.19-20; Mazmur tg 40: 2.5.7-8a.8b-9.10; Markus 1: 29-39.DEMI AKU TUHANDATANG KE DUNIA Tema renungan kita pada hari ini ialah: Demi Aku TuhanDatang ke Dunia. Secara eksplisit Tuhan Yesus menyampaikan alasan mengapa Iadatang ke dalam dunia, seperti yang Ia nyatakan dalam bacaan Injil hari ini.Kenyataan hidup di dunia ini yang menjadi alasan utama. Diri kita masing-masingtentu sangat bagus dapat berseru: karena diriku inilah maka Yesus datang kedunia. Dengan menunjuk pada diri sendiri seperti ini, kitasungguh merasa yakin bahwa Tuhan sangat mencintai diri setiap orang. Setiappribadi sesungguhnya begitu spesial dan penting, sampai-sampai Tuhan rela turundari tempat-Nya di surga untuk menjadi bagian dari hidupnya. Siapakah aku iniTuhan sampai Engkau memperhatikan aku, begitu seruan pemazmur (Mz. 8, 5).Panggilan terhadap Samuel dalam kitab pertama Samuel amat menegaskan hal ini,keterpilihannya itu sudah merupakan perhatian Tuhan yang sangat spesial. Panggilan atas diri setiap orang merupakan kepercayaanyang diberikan oleh Tuhan. Terwujudnya panggilan itu juga melalui partisipasisesama di sekitarnya, terutama yang membantunya dalam menyanggupi pekerjaanatau suatu tugas tertentu. Kita memahami hal ini sebagai karunia yang istimewa.Keuntungan dan kesuksesan dalam panggilan sering dipahami sebagai bentuk kasihTuhan yang luar biasa. Orang sering berseru: “Ini sungguh berkat dari Tuhan”atau “Ini pantas dan layak untuk didapatkan” atau “Tuhan berpihak padakita”, semua ini cukup untuk menguatkankeyakinan bahwa Tuhan itu sangat baik. Betapa kita juga terus menyadari bahwa Ia datang dan Iaberada bersama kita ketika situasi hidup ini kurang menguntungkan. Sesungguhnyaseruan yang terkenal ini Ia ungkapkan dalam pengalaman pencerahan danpenyelamatan hidup manusia. Mereka yang sakit, dalam kekurangan, kesulitan, dansedih mendapatkan keselamatan dari-Nya. Mungkin para rasul yang menyertainyapenasaran lalu bertanya, “Tidak capek, tidak lelah, tidak bosan-bosan melayanibegini ya?” Yesus menjawab dengan tegas dan telak: “Untuk itulah Aku datang.”Jawaban seperti ini adalah sebuah kunci untuk sebuah kebenaran dalampembicaraan. Orang langsung mengerti dan tak bertanya-tanya lagi. Apakah jawaban kunci Anda, misalnya ditanya soal panggilanhidup, komitmen berkeluarga, pengembangan diri, pendidikan, pelayanan,pengabdian dan seterusnya? Kalau ada jawaban kunci dan itu yang menjadi alasanmengapa Anda gembira, bertahan dan yakin dengan kehendak Tuhan bagi dirimu,Anda akan hidup dalam suka cita dan kedamaian. Orang-orang di sekelilingmengagumi dan menjadikanmu teladan. Pada hari ini, mantapkan dan kuatkanlahtekat hidupmu dengan mengulang ini: Karena untuk itulah aku ada di sini dan sekarang. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Tuhan Yesus Kristus,buatlah kami mampu mempertahankan alasan dasar atas hidup kami di dunia dansenantiasa menyukurinya dalam suka cita. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra danRoh Kudus ... Dalam nama Bapa ...
Tahap awal sebuah pertemuan merupakan momen krusial yang menentukan keberhasilan seluruh sesi fasilitasi. Sembilan puluh detik pertama adalah waktu emas bagi seorang fasilitator untuk membangun kredibilitas dan menarik perhatian peserta melalui penampilan yang percaya diri serta penjelasan tujuan yang transparan. Untuk mendukung keterlibatan sejak awal, penggunaan icebreaker menjadi instrumen penting; baik melalui openers yang menjembatani fokus peserta ke topik bahasan, maupun acquainters yang membantu peserta saling mengenal. Dengan pembukaan yang kuat, peserta akan merasa bahwa waktu mereka dihargai dan suasana kreatif pun mulai terbentuk. Setelah suasana cair, fasilitator harus menetapkan struktur dan batasan yang jelas melalui aturan main (ground rules) dan penentuan sasaran. Aturan main yang disepakati bersama, seperti prinsip keamanan psikologis dan komitmen kehadiran tepat waktu, sangat penting untuk menciptakan lingkungan diskusi yang inklusif. Selain itu, fasilitator perlu menegaskan perbedaan antara agenda (proses) dengan hasil akhir yang ingin dicapai (deliverables). Dengan pemahaman yang selaras mengenai tujuan akhir, seluruh peserta dapat bergerak searah dan merasa memiliki tanggung jawab penuh atas kontribusi yang mereka berikan selama pertemuan berlangsung. Untuk menjaga agar diskusi tetap pada jalurnya tanpa mengabaikan kontribusi peserta, penggunaan mekanisme seperti parking lot sangat disarankan. Fasilitas ini berfungsi untuk menampung ide-ide yang menarik namun berada di luar agenda utama, sehingga fokus pertemuan tetap terjaga sementara aspirasi peserta tetap dihargai untuk ditindaklanjuti kemudian. Kelancaran sesi ini juga harus didukung oleh kedisiplinan waktu, pembagian peran yang jelas, serta antusiasme fasilitator yang menular. Secara keseluruhan, memulai pertemuan dengan metode yang terstruktur bukan sekadar urusan administratif, melainkan langkah strategis untuk membangun kepercayaan dan efektivitas kerja kelompok.
Perencanaan fasilitasi dimulai dengan menetapkan fondasi yang kuat melalui pemahaman tujuan dan pengenalan mendalam terhadap profil peserta. Fasilitator harus berkolaborasi erat dengan klien untuk merumuskan tujuan menggunakan kerangka SMART agar target pertemuan tetap realistis dan tidak berlebihan. Selain itu, pembuatan profil audiens sangat penting untuk menyesuaikan teknik fasilitasi dengan berbagai preferensi belajar peserta, seperti gaya visual, auditori, hingga kinestetik. Dengan menyelaraskan harapan klien dan kebutuhan unik para peserta, fasilitator dapat menciptakan kerangka kerja yang inklusif dan terarah sejak awal. Langkah berikutnya adalah menyusun struktur pertemuan yang sistematis melalui agenda yang efektif dan pengaturan logistik yang mendukung interaksi. Agenda harus disusun berdasarkan urutan kepentingan agar topik-topik krusial dibahas saat energi peserta masih tinggi, lengkap dengan estimasi waktu yang realistis untuk setiap aktivitas. Secara paralel, lingkungan fisik seperti konfigurasi tempat duduk—baik itu bentuk meja bundar, huruf U, maupun Chevron—harus dipilih sesuai kebutuhan kolaborasi. Kesiapan teknologi, pencahayaan, hingga kenyamanan suhu ruangan juga menjadi faktor penentu yang harus dipastikan agar suasana pertemuan tetap kondusif bagi seluruh partisipan. Sebagai tahap akhir, keberhasilan fasilitasi sangat bergantung pada efisiensi sesi dan kesiapan pribadi sang fasilitator sebelum pertemuan dimulai. Pemberian tugas pra-kerja (pre-work) kepada peserta menjadi strategi kunci untuk menghemat waktu diskusi, terutama pada pertemuan virtual yang cenderung singkat. Di sisi lain, fasilitator wajib mematangkan persiapan diri melalui latihan pembukaan di depan cermin, penguasaan transisi antar topik, serta penyediaan toolkit lengkap berisi perlengkapan darurat seperti spidol dan catatan tempel. Melalui kombinasi antara perencanaan teknis yang detail dan kesiapan mental yang matang, seorang fasilitator dapat mengelola pertemuan dengan percaya diri untuk mencapai hasil yang maksimal.
Dhammasākacchā oleh Bhante Dhammadhīro usai dana makan di Vihāra Buddharatana Medan
Adhokrasi (Adhocracy) muncul sebagai antitesis terhadap kekakuan birokrasi yang sering kali menghambat inovasi di tengah percepatan zaman. Istilah yang dipopulerkan oleh Alvin Toffler pada tahun 1970-an ini menggambarkan sebuah struktur organisasi yang fleksibel, terdesentralisasi, dan menolak hierarki kaku. Berbeda dengan model tradisional yang mengandalkan rantai komando formal dan prosedur yang lambat, adhokrasi menempatkan otoritas pada keahlian dan konteks masalah yang sedang dihadapi. Hal ini memungkinkan organisasi untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dalam lingkungan yang penuh dengan ketidakpastian global yang semakin kompleks. Secara operasional, adhokrasi bekerja melalui pembentukan tim sementara yang bersifat lintas fungsi, di mana individu berkumpul berdasarkan kebutuhan spesifik sebuah proyek ketimbang bertahan dalam departemen yang statis. Peran di dalamnya bersifat cair; seseorang bisa menjadi pemimpin di satu inisiatif namun beralih menjadi kontributor teknis di inisiatif lainnya, bergantung pada kompetensi yang paling dibutuhkan saat itu. Model ini sangat efektif bagi entitas yang menuntut kreativitas tinggi dan respons cepat—seperti startup teknologi, agensi kreatif, atau lembaga riset—karena mendorong budaya eksperimentasi dan pengambilan keputusan horizontal yang lincah tanpa terhambat oleh sekat-sekat administratif yang bertele-tele. Dalam konteks manajemen modern dan dinamika sosial di Indonesia, relevansi adhokrasi semakin nyata seiring dengan munculnya ekosistem kolaboratif dan gerakan pemberdayaan masyarakat. Pendekatan "berbagi daya" yang memprioritaskan kolaborasi antar-sektor mencerminkan prinsip adhokrasi yang mengutamakan dampak kolektif daripada sekadar kepatuhan pada struktur organisasi formal. Di era yang menuntut kemampuan untuk bergerak cepat ke depan (Fast/Forward), adhokrasi menjadi kunci bagi pemimpin untuk tidak lagi sekadar menjadi pengolah data, melainkan menjadi pemberi makna yang menggunakan intuisi dan keyakinan untuk mengambil tindakan nyata bagi kemajuan bersama.
Farah Sofa, aktivis perubahan sosial, menulis WALHI harus berubah karena dinamika diseminasi informasi saat ini telah melampaui kecepatan metode komunikasi tradisional yang selama ini digunakan. Sebagai garda terdepan perlindungan lingkungan di Indonesia, WALHI tidak lagi cukup hanya berperan sebagai lembaga pengawas (watchdog), melainkan harus bertransformasi menjadi sebuah ekosistem digital yang inklusif. Perubahan ini mendesak agar organisasi tidak kehilangan relevansi di mata basis massanya, di mana dukungan masyarakat harus dikelola bukan sekadar sebagai pengikut pasif, melainkan sebagai manifestasi kepercayaan yang aktif terhadap nilai-nilai fundamental perjuangan ekologis. Transformasi tersebut harus dimulai dari cara WALHI berkomunikasi, yakni dengan melakukan humanisasi narasi dan simplifikasi jargon teknis yang selama ini sering menghambat pemahaman publik. WALHI perlu menutup "kesenjangan dampak" dengan memberikan transparansi penuh atas hasil setiap advokasi, termasuk berani membagikan analisis kegagalan sebagai bahan pembelajaran kolektif. Dengan memutakhirkan data secara real-time dan mengubah pendukung menjadi ko-kreator, WALHI dapat membangun benteng organisasi yang lebih tangguh karena setiap individu dari berbagai profesi merasa memiliki peran strategis dalam merumuskan strategi gerakan. Secara internal, WALHI harus merombak arsitektur organisasinya dari bentuk federasi yang cenderung terfragmentasi menjadi sebuah ekosistem yang terintegrasi melalui platform pertukaran pengetahuan digital. Penguatan ini melibatkan pemanfaatan alumni sebagai cadangan strategis melalui program mentor serta penerapan model pendanaan yang lebih resilien, seperti advokasi dukungan inti yang tidak terikat. Melalui langkah-langkah sistemik ini, WALHI akan mampu menghadapi tantangan politik dan lingkungan yang semakin kompleks di masa depan, memastikan bahwa gerakan ini tetap menjadi kekuatan rakyat yang signifikan dan tidak dapat diabaikan.
Metode "Yes, And" merupakan fondasi dari seni improvisasi teater The Second City yang dirancang untuk membalikkan pola pikir reaktif "No, But" menjadi budaya kolaboratif yang radikal. Secara konseptual, "Yes" atau "Ya" berarti menerima sepenuhnya kontribusi atau ide rekan bicara tanpa menghakimi, sementara "And" atau "Dan" adalah komitmen untuk menambahkan nilai atau perspektif baru di atas fondasi tersebut. Dalam pengembangan ekosistem sosial, pendekatan ini berfungsi sebagai arsitektur komunikasi yang mengubah ketidakpastian menjadi peluang inovasi, di mana setiap gagasan dianggap sebagai aset berharga untuk membangun solusi kolektif. Kekuatan utama metode ini terletak pada prinsip "Bawa Batu Bata, Bukan Katedral," yang menekankan pentingnya kontribusi kecil secara inkremental daripada mengejar solusi sempurna sendirian. Dengan mengedepankan elemen ensemble dan ko-kreasi, tim didorong untuk menciptakan ruang aman bagi kegagalan, di mana kesalahan dipandang sebagai bagian dari proses riset dan pengembangan yang autentik. Hal ini menghilangkan hambatan mental berupa rasa takut akan penilaian, sehingga memungkinkan munculnya ide-ide berani yang sering kali tersembunyi di bawah permukaan budaya kerja yang kaku dan hierarkis. Secara praktis, kepemimpinan berbasis "Yes, And" mengadopsi model Follow the Follower dan latihan mendengarkan secara mendalam untuk menyatukan berbagai pemangku kepentingan dalam sebuah ekosistem. Pemimpin tidak lagi berperan sebagai pemberi instruksi mutlak, melainkan sebagai fasilitator yang mendengarkan untuk memahami, bukan sekadar untuk menjawab, demi memaksimalkan potensi setiap anggota tim. Melalui integrasi antara teori improvisasi dan kebutuhan taktis organisasi, metode ini mampu merobohkan sekat-sekat sektoral dan membangun gerakan perubahan sosial yang lebih agil, tangguh, dan berdampak luas.
Kementerian Dalam Negeri bekerja sama dengan Lion Air memberangkatkan lebih dari 1.100 praja IPDN ke Aceh Tamiang untuk membantu percepatan aktivasi pemerintahan daerah setempat. Pemberangkatan dilakukan secara bertahap selama beberapa hari.
Tahap ideasi dalam Design Thinking bertujuan untuk menghasilkan solusi inovatif melalui eksplorasi ide secara luas, yang dapat dimulai dengan metode berbasis volume seperti Brainstorming dan 6-3-5 Brainwriting. Brainstormingmengandalkan energi kolektif tim untuk memicu ide-ide spontan melalui pertanyaan "How Might We", menciptakan efek bola salju di mana satu pemikiran memicu inspirasi lainnya. Di sisi lain, 6-3-5 Brainwriting menawarkan pendekatan yang lebih terstruktur dan inklusif, memastikan setiap anggota tim—terlepas dari kepribadian mereka—memiliki ruang yang setara untuk menuliskan dan mengembangkan ide secara tertulis. Kedua metode ini sangat krusial dalam membangun fondasi kuantitas ide yang masif sebelum tim melangkah pada tahap kurasi yang lebih mendalam. Selain pengumpulan ide secara masif, inovasi yang bermakna sering kali dipicu melalui restrukturisasi konsep dan perbandingan konteks menggunakan metode SCAMPER dan Analogies. SCAMPER memberikan panduan sistematis bagi tim untuk membedah solusi yang sudah ada melalui tujuh filter perubahan—seperti mengganti, menggabungkan, atau menghilangkan elemen tertentu—guna menemukan peluang improvisasi yang konkret. Sementara itu, metode Analogiesmenantang tim untuk keluar dari batasan industri mereka sendiri dengan meminjam keberhasilan solusi dari bidang yang sama sekali berbeda. Dengan memanfaatkan kedua teknik ini, tim mampu menggali potensi perubahan yang revolusioner dan menghindari jebakan pemikiran yang hanya bersifat permukaan atau pengulangan dari apa yang sudah ada. Sebagai pelengkap untuk meruntuhkan hambatan mental dan rasa takut akan penilaian, metode Worst Possible Idea hadir sebagai katalisator kreativitas yang unik dengan cara meminta tim mengusulkan solusi paling buruk atau bahkan konyol. Teknik ini tidak hanya berfungsi sebagai pencair suasana (ice-breaking), tetapi juga sering kali menyimpan benih solusi brilian ketika logika dari ide buruk tersebut dibalikkan menjadi sesuatu yang berguna. Secara keseluruhan, integrasi kelima metode ini—mulai dari yang bersifat spontan, terstruktur, hingga kontradiktif—merupakan strategi komprehensif bagi seorang fasilitator untuk memastikan setiap sudut pandang telah dijelajahi. Dengan pendekatan yang beragam ini, tim akan memiliki kesiapan yang jauh lebih matang untuk melangkah ke tahap pembuatan purwarupa (prototyping) dengan konsep yang kuat dan orisinal.
Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 2 Januari 2026Bacaan: "Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang juga pun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian." (2 Korintus 5:16)Renungan: Suatu ketika ada seorang anak kecil yang berjualan bolpoin di sebuah bus kota. Anak ini terlihat sangat sederhana dan berasal dari keluarga yang kurang mampu. Dengan gigih anak ini menjajakan bolpoinnya kepada setiap penumpang yang sangat padat di dalam bus kota itu. Seorang pengusaha membeli bolpoin anak kecil itu dengan membayar uang Rp. 10.000,-. Si anak kecil itu belum sempat memberikan bolpoinnya karena situasi yang sangat berdesak-desakan di dalam bus, tapi si pengusaha sudah melompat keluar bus kota. Si anak kecil segera berusaha melompat juga keluar bus dan segera menghampiri si pengusaha, "Maaf Pak, ini bolpoin Bapak, dan ini kembaliannya. Saya mohon maaf Pak, tadi padat sekali di dalam bus. Saya tidak bisa segera memberikan bolpoin kepada Bapak." Pengusaha itu menjawab, "Tidak apa-apa Nak, kamu adalah seorang pengusaha seperti juga aku, kadang kala hal-hal yang seperti ini juga terjadi padaku. Dan kamu adalah seorang pengusaha yang bertanggung jawab." Bertahun-tahun telah lewat. Pada suatu acara sosial malam itu, seorang pemuda mendatangi seorang pengusaha dan berkata, "Pak, saya ingin mengingatkan kembali peristiwa beberapa tahun yang lalu. Saya adalah anak kecil yang pernah menjual bolpoin di bus kepada Bapak. Sekarang ini saya telah menjadi seorang pengusaha yang sukses. Saya berterima kasih kepada Bapak karena kata-kata Bapak yang mengatakan bahwa saya adalah seorang pengusaha yang bertanggung jawab. Kata-kata itu telah membuat saya menjadi percaya diri dan itu adalah modal terbesar saya. Kata-kata Bapak itu telah mendorong saya untuk berlaku sebagai seorang pengusaha yang jujur dan bertanggung jawab, dan inilah yang membawa saya terus naik di dalam menjalankan bisnis saya." Setiap kita bisa salah menilai orang, dan penilaian kita yang salah atau yang negatif, bisa memberikan dampak yang buruk kepada orang lain. Jika orang tersebut belum dewasa pemikirannya, maka penilaian atas dirinya yang negatif, bisa saja membentuk karakternya menjadi orang yang negatif juga. Dia bisa menjadi orang yang minder, tertutup, patah semangat, atau menjadi orang yang membenci semua orang dan pendendam. Rasul Paulus pun tidak luput dari masalah ini, ia pernah salah di dalam menilai Yesus. la menilai Yesus menurut ukuran manusia, bukan melihat dengan kacamata Tuhan. "Sebab itu, kami tidak lagi menilai seorang pun juga menurut ukuran manusia. Jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian." Mari kita belajar menilai orang lain sebagaimana Tuhan menilai kita, yaitu sebagai ciptaan-Nya yang berharga, yang layak dikasihi, sehingga Yesus mau mati bagi kita. Biarlah perkataan-perkataan kita selalu positif dan membangun orang lain, menumbuhkan semangat untuk melakukan hal-hal yang baik dan berguna. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, awasilah mulutku, berjagalah pada pintu bibirku. Biarlah perkataan-perkataanku senantiasa membangun dan menguatkan sesamaku. Amin. (Dod).
Guru Besar IPB University sekaligus PakarHutan dan Lingkungan Prof. Sudarsono Soedomo menegaskan pentingnya melihat isu sawit secara adil, ilmiah, dan rasional. Dalam wawancara bersama Radio Elshinta, ia menilai sawit dapat menjadi solusi ekonomi jika dikelola sesuai tata ruang dan kaidah lingkungan, tanpa saling menyalahkan secara emosional. Kunci utama pengelolaan lingkungan, menurutnya, terletak pada perencanaan tata ruang, mitigasi bencana, dan edukasi publik berbasis data.
Bencana alam kerap dikaitkan dengan isu sawit dan pengelolaan lahan. Namun, benarkah kelapa sawit menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan, atau ada persoalan lain yang lebih mendasar?Guru Besar IPB University sekaligus pakar hutan dan lingkungan, Prof. Dr. Ir. Sudarsono Soedomo, MSc., mengajak publik melihat isu ini secara jernih, ilmiah, dan tidak emosional. Ia menekankan pentingnya perencanaan tata ruang serta pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) dari hulu hingga hilir sebagai kunci menjaga keseimbangan lingkungan.Simak penjelasan lengkapnya dalam podcast yang dipandu Pemimpin Redaksi Radio Elshinta, Haryo Ristamaji.
Guru Besar IPB University (Institut Pertanian Bogor) sekaligus pakar hutan dan lingkungan Prof. Dr. Ir. Sudarsono Soedomo, MSc., menegaskan pentingnya melihat isu sawit dan pengelolaan lahan secara jernih, ilmiah, dan tidak emosional. Menurutnya, sawit tidak bisa serta-merta disalahkan atas berbagai persoalan lingkungan, terutama jika dikelola sesuai tata ruang dan kaidah yang berlaku. Dalam wawancara khusus bersama Radio Elshinta, Senin (22/12/2025), Prof. Soedarsono menilai, perdebatan publik terkait bencana alam kerap dibumbui emosi berlebihan dan saling menyalahkan, tanpa melihat akar persoalan secara utuh. “Kita tidak akan menyelesaikan masalah dengan emosi. Mari melihat dengan kepala dingin dan secara fair,” ujar Prof. Soedarsono.
Strategi baru LATIN 2026-2030 menandai transformasi fundamental dari sebuah lembaga swadaya masyarakat konvensional menjadi sebuah Ecosystem Builder melalui inisiatif ambisius WAKANDA 2045 (Wana Kanaya Sembada). Perubahan ini didorong oleh kesadaran akan masalah kronis dalam tata kelola kehutanan masyarakat, seperti fragmentasi gerakan, ketergantungan akut pada dana hibah, serta ketimpangan akses terhadap pasar dan teknologi. Dengan mengusung filosofi The Mycelium Effect, LATIN tidak lagi hanya berperan sebagai pendamping di tingkat tapak, melainkan sebagai arsitek yang membangun "Ladang Sosial"—sebuah infrastruktur pendukung yang memungkinkan ribuan komunitas hutan, startup hijau, dan pemerintah untuk berkolaborasi secara mandiri, berdaulat, dan otonom. Keberhasilan strategi ini bertumpu pada pembangunan empat pilar kedaulatan yang terintegrasi melalui teknologi digital dan inovasi kebijakan. LATIN membangun kedaulatan data melalui WAKANDA Open-Source Tech Stack dan kedaulatan ekonomi lewat Nusantara Carbon and Biodiversity Exchange berbasis blockchain untuk memastikan nilai ekonomi mengalir langsung ke desa. Di sisi lain, kedaulatan pengetahuan diperkuat melalui Decentralized Forest Academy, sementara kedaulatan politik diupayakan melalui mekanisme Policy Sandbox untuk menguji coba regulasi inovatif. Melalui keempat pilar ini, LATIN menyediakan "sistem operasi" bagi komunitas forestri agar mampu mengelola sumber daya mereka tanpa hambatan perantara tradisional. Secara internal, LATIN memantapkan transformasinya dengan mengadopsi struktur Ecocracy yang mengedepankan transparansi radikal dan ketangkasan unit kerja. Dengan beralih ke model pendanaan Blended Finance, organisasi ini meminimalkan ketergantungan pada hibah dan mulai mengandalkan pendapatan mandiri dari layanan platform serta lisensi teknologi. Peta jalan menuju tahun 2030 ini bukan sekadar rencana kerja, melainkan upaya menciptakan peradaban baru di mana hutan dikelola secara regeneratif oleh masyarakat yang berdaulat secara ekonomi dan hukum. Akhirnya, LATIN bermutasi menjadi sebuah Ecosystem Enterprise yang menjadi motor penggerak bagi masa depan hijau Nusantara yang lebih adil dan berkelanjutan.
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Erna Lolan dan Hendrik Monteiro dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. 1 Samuel 1: 24-28; Mazmur tg: 1 Sam 2: 1.4-5.6-7.8abcd; Lukas 1: 46-56.PERSIAPAN KELAHIRAN Renungan kita pada hari ini bertema: PersiapanKelahiran. Sudah di depan mata kita hari kelahiran Yesus Kristus. Persiapankita yang paling pas ialah persiapan kelahiran. Renungan kita kemarin-kemarinmengatar kita ke pintu kelahiran ini, di mana hari ini kita berjumpa dengankelahiran Yohanes Pembaptis, yang membuka jalan untuk kelahiran berikutnya yangjauh lebih besar dari padanya. Mungkin kedua bayi yang sudah berjumpa dalamkandungan ibu mereka masing-masing waktu perawan Maria berjumpa Elisabeth,sempat memberikan isyarat: Yohanes lahir lebih dahulu untuk memberikanpengumuman kepada seluruh dunia bahwa kelahiran sang Mesias akan segeramenyusul. Kitab suci jelas mengisahkan bahwa kelahiran keduanya itu satumenyusul yang lain. Kelahiran Yohanes pembaptis bermakna pertama-tamauntuk menggenapi penubuatan kitab suci atau rencana Allah bahwa nantinya iamenjadi suara yang berseru di padang gurun untuk menyiapkan jalan bagidatangnya sang Sabda. Selanjutnya kelahiran itu menjadi persiapan jalanpertobatan dan pembebasan orang-orang dari kegelapan, kebutaan, ketidak-tahuandan kedosaan. Persiapan ini mulai dengan bapaknya sendiri, Zakaria yang terbukamulutnya setelah membisu sebelum anaknya lahir. Kelahiran Yohanes menginspirasikan kita untuklahir sebelum hari Natal nanti. Secara rohani kita perlu lahir kembali.Pembaptisan kita adalah kelahiran baru kita di dalam Kristus. Kita jugamendapatkan pencurahan Roh Kudus melalui sakramen Krisma untuk dilahirkan dalamRoh Kudus. Setiap kali kita menghadiri perayaan Ekaristi, kelahiran barudiperoleh dengan masuknya firman Allah menjadi daging yang kita santap.Pengakuan iman melalui doa Aku Percaya dan doa-doa serta devosi-devosimemperkuat kelahiran kita kembali. Semua ini selalu kia jalani secara baik danrutin. Tinggal beberapa hari perayaan Natal, hendaknyakita luangkan waktu untuk merenungkan semua peristiwa iman tentang kelahirankita kembali. Kita mengingat kembali kelahiran kita sepanjang tahun ini untuk menjadi pakaian pesta yang menutup dirikita, yang menjadi isi pikiran dan hati kita, yang menjadi tanda syukur, danyang menjadi tanda persiapan kelahiran kita terbaru. Memang tepat dan bagus bagi kita untuk mengalamisuatu perjumpaan yang indah, yaitu perjumpaan kehidupan. Kita yang terlahirkembali melalui Gereja yang kudus, Sabda kekal yang menjelma menjadi manusiadalam suatu kelahiran melalui seorang perawan terberkati, masuk ke dalam Gerejayang sama. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah maha rahim, baharuilah diri kami dalamRoh–Mu supaya kami terlahir kembali menjadi baru, demi menyambut kelahiranYesus Kristus, juru selamat dunia. Salam Maria... Dalam nama Bapa...
Pembelajar Hebat atau Great Learner bukanlah sekadar individu yang memiliki kapasitas intelektual tinggi, melainkan seseorang yang memiliki "learnership"—kemahiran untuk mengelola proses belajarnya secara sadar dan sengaja. Berdasarkan konsep arketipe "Brian" dalam buku Great Learners by Design, pembelajar hebat dicirikan oleh integrasi antara keterampilan (skill), kemauan (will), dan motivasi (thrill). Mereka bukan pembelajar pasif yang sekadar mengikuti instruksi, melainkan individu yang mampu menjadi "guru bagi dirinya sendiri," yang memahami kapan harus fokus pada penguasaan fakta dasar dan kapan harus menyelami hubungan antar-ide yang lebih kompleks. Implementasi untuk menjadi pembelajar hebat dilakukan melalui pemahaman terhadap siklus pembelajaran kognitif yang terdiri dari tahap permukaan (surface), mendalam (deep), dan transfer. Tahap pertama dimulai dengan akuisisi dan konsolidasi fakta menggunakan strategi seperti ringkasan dan practice testing. Setelah pondasi kuat, pembelajar harus beralih ke tahap mendalam untuk menghubungkan konsep-konsep tersebut melalui strategi seperti self-verbalization dan pencarian pola. Puncaknya adalah kemampuan transfer, di mana pembelajar secara aktif mencari persamaan dan perbedaan untuk menerapkan pemahamannya ke dalam konteks baru yang asing, sehingga pengetahuan tidak berhenti pada teori semata. Dalam konteks pekerjaan dan keseharian, menjadi pembelajar hebat berarti menerapkan "kesengajaan" (intentionality) dalam setiap aktivitas. Hal ini diwujudkan dengan membangun budaya "manajemen kesalahan," di mana kekeliruan dipandang sebagai peluang belajar yang berharga, bukan kegagalan yang memalukan. Secara praktis, seseorang harus secara nosy atau "ingin tahu" mencari kejelasan (seeking clarity) mengenai kriteria keberhasilan dari setiap tugas yang dihadapi. Dengan terus mengevaluasi dampak dari strategi belajar yang digunakan dan menyesuaikan tindakan berdasarkan umpan balik, seorang pembelajar hebat memastikan bahwa setiap pengalaman berkontribusi pada pertumbuhan kapasitas yang berkelanjutan dan adaptif.
Probolinggo - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dirancang untuk mengatasi permasalahan kemiskinan di tengah masyarakat. Secara langsung, program MBG mempekerjakan warga lokal sebagai relawan dapur, sementara secara tidak langsung, program MBG akan membuka banyak lapangan kerja dalam upaya penyediaan bahan-bahan baku untuk SPPG (Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi).“Kalau ini terjadi, pengentasan kemiskinan di kota akan terjadi. Bukan hanya pembukaan lapangan pekerjaan, tapi sebetulnya Program MBG ini adalah jalan tol pengentasan kemiskinan," kata Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang dalam pengarahannya di acara Sosialisasi dan Penguatan Tata Kelola Makan Bergizi Gratis Serta Pengawasan dan Pemantauan SPPG di Kota Probolinggo, Jawa Timur, Jumat, 13 Desember 2025.Nanik menjelaskan bahwa setiap dapur MBG diwajibkan untuk merekrut 47 orang warga yang tinggal di sekitar dapur, sebagai relawan. Mereka akan bertugas sebagai pencuci ompreng, penerima dan pencuci bahan makanan, menyiapkan dan memotong bahan makanan, memasak, membagi makanan dalam pemorsian, dan mengantarkan MBG ke sekolah-sekolah penerima manfaat. Meskipun ada pengurangan jumlah penerima manfaat, SPPG dilarang memecat para relawan dapur ini.Secara tidak langsung, program MBG juga membuka banyak lapangan kerja bagi masyarakat. Sebab, setiap SPPG akan membutuhkan pasokan bahan baku makanan yang cukup banyak. Apalagi jika seluruh SPPG di wilayah itu sudah beroperasi semua. Misalnya, untuk kebutuhan buah saja, satu SPPG membutuhkan 2 sampai 3 kwintal, begitu pula kebutuhan tempe, tahu, telur dan sebagainya. “Jadi tidak usah berebut dapur, sekarang yang paling menggiurkan itu sebenarnya adalah menyiapkan bahan baku,” kata Nanik.Menurut Nanik, masalah kemiskinan kota memang cukup pelik. Karena lahan tidak ada, maka satu satunya jalan untuk mengentaskan kemiskinan di kota adalah dengan menjadikan mereka bekerja. Dengan adanya program MBG ini, lapangan pekerjaan bisa terbuka, sehingga mereka bisa bekerja di dapur maupun sebagai tenaga kerja dalam penyediaan bahan baku pangan.
#DiskusiInteraktif Kasus kayu gelondongan banjir Sumut naik penyidikan, Akankah terungkap secara transparan?[TALK] Pengamat kepolisian institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Bambang Rukminto&Pengacara Publik dari Pusat Bantuan Hukum Masyarakat, Ralian Jawalsen
Penjelasan Lengkap Secara Syariat & Medis Mengenai Hukum Memutihkan Kulit Untuk Menyenangkan Suami..Pemateri:Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Erna Lolan dan Meri Kaona dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. Yesaya 26: 1-6; Mazmur tg 118: 1.8-9.19-21.25-27a; Matius 7: 21.24-27.FONDASI IMAN YANG KUAT Tema renungan kita pada hari ini ialah: Fondasi Iman YangKuat. Tema utama kita dalam masa Adven ialah penantian akan kedatangan Tuhan.Secara kodrati, kita tidak merasa nyaman dan menjadi gelisah dengan menunggu.Janji dan harapan selalu kita anggap sebagai berkat, namun menunggu untukrealisasinya sering membuat kita frustrasi. Maka nasihat dasarnya ialah agarkita memiliki fondasi iman yang kuat. Menunggu dengan iman yang kuat adalahkeharusan. Kita manusia selalu begitu: terbuai atau terlena denganjanji, apalagi yang muluk-muluk. Masalah apakah janji itu benar direalisasikan,hal itu ikut membentuk imajinasi kita. Tapi sikap terlena itu hendaknya bukansebuah petualangan liar di luar kesadaran. Jika kita membayangkan sebuahperwujudan harapan yang tidak disertai dengan iman atau keyakinan bahwa harapanitu akan menjadi kenyataan, kita menjadi orang-orang yang sangat menderita. Yang penting adalah sikap realistis. Adven menghadirkankita janji akan pertemuan dengan Tuhan, sekaligus kita selalu berhadapan dengankenyataan sehari-hari yang penuh dengan tantangan dan perjuangan. Pada hari inifirman Tuhan menghadirkan tantangan yang tidak ringan bagi kita. Paling kurangada dua, yaitu pertama memperkuat iman kita dengan dasar dan bangunan yang kuatseperti batu karang, seperti gunung batu yang diwartakan Yesaya dalam bacaanpertama, dan kedua siap untuk menghadapi godaan, ancaman, ujian dan kesulitanserta penderitaan. Posisi kedua tantangan ini harus tetap. Yang pertamajangan menjadi kedua dan sebaliknya. Fondasi iman yang kuat harus yang pertama.Firman Tuhan, semua perintah-Nya dan keutamaan Kristen berguna untuk menguatkaniman. Aspek ini mesti diupayakan sedemikian rupa sampai memenuhi standarseperti biji sesawi yang menjadi berguna bagi semua yang menikmatinya, menjadiragi yang mengembangkan adonan, garam yang mengawetkan tanpa lelah, dan terangyang menghalau kegelapan. Dengan mencapai standar ini berarti kita siap danberani untuk menghadapi tantangan, dan menantikan perwujudan harapan. Masalah muncul kalau urutan itu dibalik: pertamamendapatkan tantangan, penderitaan, atau kesulitan, kemudian baru berupayamenguatkan iman. Bukankah banyak dari kita menemukan masalah atau kebutuhantertentu, baru sibuk mencari ayat-ayat kitab suci untuk dihafal atau didoakan?Pertanyaan ini mewakili semua sikap kita manusia yang sakit dulu baru mencariobat, kesulitan dulu baru berdoa, berdosa saja dulu nanti baru mengaku dosa,dan seterusnya. Ini semua adalah efek langsung dari gaya hidup yang terlalu terlenadengan janji-janji. Untuk mencegah ini, kita perlu selalu menguatkan iman kita. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Bapa yang maha rahim,anugerahilah kami Roh kekuatan supaya kami semakin kuat dalam iman kami setiaphari. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Hendrik Monteiro dan Meri Kaona dari Komunitas Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria di Keuskupan Maumere, Indonesia. Yesaya 2: 1-5; Mazmur tg 122: 1-2.3-4a; Matius 8: 5-11.PANGGILAN TUHAN DIDENGAR DARI SEGALA PENJURU Tema renungan kita pada hari ini ialah: Panggilan TuhanDidengar dari Segala Penjuru.Kotbah Romo paroki dalam Misa hari Minggu pertama Adven berpusat pada temapersiapan diri. Pada kesimpulannya, Romo mengatakan bahwa akhirnya ada duakelompok orang yang memberikan tanggapannya atas panggilan Tuhan untukpersiapan diri. Mereka yang mempersiapkan dirinya adalah mereka yang sungguhdan sepenuh hati menyambut Tuhan. Sedangkan mereka yang tidak mempersiapkandiri adalah yang tidak dengan sepenuh hati. Setelah Misa terjadi diskusi di sebuah rumah keluarga. Ibumenyampaikan sebuah kabar baik bagi seluruh keluarga. Suami dan anak-anaknyahampir percaya kalau rencana Ibu adalah persiapan perayaan Natal di rumah,tamu-tamu yang akan diundang, dan sampai ke perayaan Tahun Baru bagi segenapkeluarga besar. Tetapi ternyata kabar baik dari ibu justru di luar dugaanmereka semua. Kabar itu tidak akan mengurangi perayaan suka cita keluargamereka. Kabar baru itu ialah bahwa tetangga mereka yang terdiridari suami-istri dan tiga anak memutuskan untuk masuk menjadi anggota GerejaKatolik. Ibu yang juga sebagai pengurus lingkungan akan membantu keluarga ituuntuk pendaftaran katekumen dan selanjutnya persiapan seperlunya. Betapa kabarbaik itu datang pada permulaan masa Adven! Secara khusus, pada hari inibacaan-bacaan kita mewartakan tentang segala penjuru dunia mendengarkan suarapanggilan Tuhan, dan mereka mengikutinya. Dalam pandangan yang sempit, mereka yang biasanyadiharapkan mendengarkan Tuhan dan menunjukkan kepatuhannya ialah mereka yangsudah percaya dan tercatat sebagai anggota di dalam jemaat atau Gereja. Hal itusama dengan anak-anak yang dituntut sikap yang menuruti dan menyayangi keduaorang tua mereka. Mengharapkan sikap seperti itu dari anak-anak di luarkeluarga sendiri bahkan orang-orang asing jelas tidak mungkin. Kitab nabiYesaya terang-terangan menggambarkan bahwa sekelompok orang terpilih dan bertahanadalah kaum penerus yang mempertahankan kemuliaan rumah Tuhan. Di dalam rumah Tuhan itu berjayalah Kristus sebagai rajayang mulia, raja semua orang. Tuhan Yesus menyempurnakan panggilan itu kepadasemua orang di bumi. Ia diutus Bapa untuk semua orang, dan bukan hanya bagisegelintir orang. Maka orang asing dan tidak beriman Yahudi seperti perwira diKapernaum juga mendapat tempat di hati Tuhan. Justru ia mewakili umat manusiadari seluruh penjuru bumi yang mendengar dan datang berjumpa dengan Tuhan.Perwira ini mengingatkan kita semua agar di masa Adven ini kita tekunmendengarkan dan datang kepada Tuhan untuk mendapatkan berkat-berkat dari-Nya. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa ... Ya Tuhan, semogadengan merayakan hari Minggu pertama Adven ini, kami tetap giat membuatpersiapan-persiapan untuk menyambut hari raya Natal. Kemuliaan kepada Bapa …Dalam nama Bapa …
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Largus Tamur dari Komunitas Pukat Labuan Bajo di Keuskupan Labuan Bajo, Indonesia. Daniel 7: 2-14; Mazmur tg: T.Dan 3: 75.76.77.78.79.80.81; Lukas 21: 29-33.MENGALAMIDATANGNYA KERAJAAN ALLAH Renungan kita pada hari ini bertema: Mengalami DatangnyaKerajaan Allah. Sepanjang tahun kita menjemput pergantian musim alam: panas kedingin dan dingin ke panas. Secara liturgis, tiga hari lagi kita menjemputtahun liturgi yang baru. Efek langsung dari menjemput ini ialah tindakanadaptasi karena kita perlu seiring dengan musim yang baru. Jadi kita melakukanpembaharuan hidup kita. Tuhan Yesus berbicara tentang datangnya kerajaan Allah,dan Ia menyemangati kita untuk menangkap tanda-tandanya, lalu bersediamenyambutnya dan akhirnya membaharui diri kita. Bahkan ketika tanda-tanda itumengungkapkan bahwa yang kita jemput adalah sebuah akhirat, mau tidak mau kitamesti menjemput karena yang datang ialah Tuhan sendiri yang menjemput. Kitaperlu siap menerima Dia, dan kesiapan kita itu mengandung arti kalau kitamemulai pembaharuan dan selanjutnya hidup dalam bentuk yang baru. Dalam berbagai tingkat kehidupan, mentalitas membuatrencana untuk kegiatan apa pun merupakan suatu kebutuhan yang konkret. Darikegiatan sederhana seperti ajakan makan malam di rumah teman hingga ke suatuperencanaan perusahaan multinasional atau reksa pastoral sebuah keuskupan,kehidupan dan kegiatan menjadi lancar dan menyenangkan kalau direncanakan.Sebab kalau tak ada rencana, kegiatan apa pun akan kacau-balau. Misalnya kitatidak pasti akan apa yang nanti dilakukan dan tak ada arah pasti yang hendak ditujui. Kalau tak ada rencana, kita tidak tahu apa atau siapa yangkita jemput. Kita juga tidak dapat menyesuaikan diri sebagai bentuk pembaharuandiri yang perlu kita lakukan. Hanya mereka yang punya rencana yang dapatmengalami pengalaman indahnya menyambut Tuhan dan menikmati suka cita sebagaipribadi-pribadi yang baru. Jika Tuhan datang menemui kita dalam perayaanekaristi, misalnya, rencana penyambutan itu mestinya sudah ada lebih awal. Makapertemuan nanti dalam perayaan Ekaristi menjadi sebuah suka cita yang istimewa.Selanjutnya Ekaristi itu menjadi terang untuk pembaharuan diri kita yang lebihbaik. Sebaliknya kalau tak ada persiapan sebelumnya, pertemuandalam ekaristi itu bakal diwarnai dengan situasi yang serba kekurangan: entahTuhan dirasakan diam saja dan begitu jauh, entah kita yang terbawa malassehingga mengantuk melulu, entah kita hanya terpaksa menghadiri ekaristi karenapengaruh atau tekanan pihak lain, entah sekedar ikut ramai dan memanfaatkansatu hari libur. Tuhan yang datang dalam perayaan Ekaristi, Dia yang samajuga datang pada berbagai kesempatan lain hidup ini. Dan hukumnya universal,yaitu Ia perlu disambut karena ia membawa oleh-oleh pembaharuan kehidupan kita.Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Bapa maha kuasa,semoga kerinduan kami untuk berjumpa dengan-Mu menjadi kebutuhan kami tiaphari, dan bukan hanya ketika kami mengalami kesulitan hidup. Salam Maria, penuhrahmat ... Dalam nama Bapa...
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 23 Oktober 2025Bacaan: "Nama baik lebih besar daripada kekayaan besar." (Amsal 22:1) Renungan: Nama baik merupakan harta milik seseorang yang paling berharga. Kalau kita menggosipkan seseorang, sama saja dengan menghancurkan miliknya yang paling berharga, yaitu nama baiknya. Gosip itu gampang dan mudah ditumbuhkan, namun sangat membahayakan dan menyakitkan rasanya. Penggosip tidak dapat menarik kembali gunjingan yang telah mereka katakan. Setelah berucap, gosip itu tersebar kemana-mana. Sama seperti bulu yang kita tebarkan dari atas atap rumah, begitu kita tebarkan, angin akan menerbangkannya kemana-mana dan kita tidak akan dapat mengumpulkannya kembali. Orang yang suka membicarakan orang lain, sebenarnya dia sedang menghancurkan hubungan yang telah dimilikinya, dan ia tidak akan lagi menemukan teman-teman yang menyenangkan pada masa yang akan datang. Oleh sebab itu sebelum kita berbicara atau mengulangi suatu cerita yang pernah kita dengar, tanyalah diri sendiri. Benarkah ini? Adilkan ini? Perlukah ini? Membangunkah ini? Jika tidak, diamlah! Tuhan Yesus memberkati.Doa: Tuhan Yesus, ampuni aku kalau aku sering membicarakan kejelekan orang lain. Tanpa kusadari orang tersebut terluka hatinya karena pembicaraan mulutku yang menyakitkan. Balutlah hatinya, agar semua lukanya Kau pulihkan dengan darah-Mu sendiri. Kini urapilah pikiran, perasaan dan perkataanku, agar menjadi berkat dan bukan kutuk bagi orang lain. Amin. (Dod).
Kencan Dengan Tuhan - Sabtu, 18 Oktober 2025Bacaan: "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka- rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar." (Kejadian 50:20)Renungan: Ada seorang ayah mempunyai 4 orang anak laki-laki. Ia ingin agar ke 4 anaknya belajar untuk tidak cepat menilai segala sesuatunya. Karena itu ia menyuruh mereka masing-masing pergi ke hutan dan melihat sebuah pohon pir yang ada di sana. Anak pertama disuruhnya pergi pada musim dingin, anak kedua pada musin semi, anak ketiga pada musim panas, dan anak bungsu pada musim gugur. Ketika ke 4 anak itu kembali, sang ayah memanggil mereka agar menceritakan apa yang mereka lihat. Anak pertama berkata bahwa pohon pir itu sangat jelek, batangnya bengkok dan saling membelit. Anak kedua melihat pohon itu dipenuhi kuncup-kuncup hijau yang menjanjikan. Anak ketiga melihat bahwa pohon itu penuh dengan bunga-bunga yang menebarkan aroma yang harum dan indah. Anak bungsu tidak setuju dengan mereka semua, ia berkata bahwa pohon itu penuh dengan buah yang matang dan ranum. Sang ayahpun menjelaskan kepada ke 4 anaknya bahwa mereka semua benar, karena mereka masing-masing melihat pohon pir itu dalam 4 musim yang berbeda. Kemudian ia berkata kepada anak-anaknya, "Mulai sekarang, jangan lagi menilai kehidupan hanya berdasarkan satu masa yang sulit." Ketika kita sedang mengalami masa-masa sulit, segalanya terlihat tidak menjanjikan, banyak kegagalan dan kekecewaan, jangan cepat berkesimpulan bahwa Tuhan tidak adil dan tidak mengasihi kita. Jangan pula menyalahkan diri kita dan berkata bahwa kita tidak mampu, bodoh dan benasib sial. Di tangan Tuhan hidup kita berarti, tidak ada istilah "nasib sial" bagi orang percaya. Kita hanya perlu bersabar menunggu waktu Tuhan. Jika kita tidak sabar ketika berada di musim dingin, maka kita akan kehilangan musim semi dan musim panas yang menjanjikan harapan dan tidak akan memanen hasil musim gugur. Jika saat ini kita sedang berada pada masa-masa yang tidak menjanjikan harapan, tetaplah setia dan harapkanlah datangnya masa-masa indah yang Tuhan karuniakan karena, "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka." (Pengkhotbah 3:11a). Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, terima kasih atas setiap keadaan yang datang silih berganti dalam hidupku. Terima kasih atas masa-masa sukar dalam hidupku, karena saat itu aku tahu bahwa Engkaulah andalanku satu-satunya. Terima kasih atas masa-masa bahagia dalam hidupku, karena saat itu aku tahu bahwa aku harus mengucap syukur pada-Mu. Ajarilah aku untuk melihat setiap peristiwa dalam hidupku secara positif. Amin. (Dod).
Choosing to legally change your name is a significant life decision that reflects your personal circumstances. Each year, tens of thousands of Australians lodge an application through the Registry of Births, Deaths & Marriages. If you're considering a change of name, this episode takes you through the process. - Memilih untuk mengubah nama secara resmi adalah keputusan penting dalam hidup Anda. Jika Anda mempertimbangkan untuk mengubah nama Anda di Australia, episode ini akan memandu Anda melalui prosesnya.
Kencan Dengan Tuhan - Kamis, 11 September 2025Bacaan: "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus" (1 Tesalonika 5:18)Yesus bagi kamu."Renungan: Saat mendampingi retret murid-murid SD, ada seorang murid setiap kali makan dengan muka berseri-seri dia berkata, "Ini baru nasi goreng. Ini nasi goreng terenak yang pernah aku makan", "Ini baru donat yang enak", "Ini baru bubur kacang hijau yang enak." Secara tidak langsung perkataan anak tersebut bisa menyemangati teman-teman yang lain untuk makan. Walaupun sebenarnya rasa makanan itu biasa saja, tetapi ketika dimakan dengan ucapan syukur dan sukacita akan memberikan rasa berbeda di lidah. Bacaan hari ini mengingatkan kita untuk senantiasa mengucap syukur dalam segala hal. Apapun yang kita alami dan tugas-tugas harian yang kita kerjakan setiap hari, kalau disertai dengan ucapan syukur maka hasilnya akan lebih baik daripada disertai omelan, gerutu dan sungut sungut. Di setiap hari yang baru, ada berkat baru yang siap Tuhan berikan untuk kita. Berkat itu akan sungguh kita alami bila kita memulai setiap hari dengan ucapan syukur. Ucapan syukur kita akan menggerakkan tangan Tuhan untuk memberikan mujizat-Nya hari ini. Kalau pagi ini kita bangun dan melihat ada setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikan, palingkanlah sejenak wajah kita dari tumpukan pekerjaan itu, duduklah dengan tenang dan masuklah dalam hadirat Tuhan melalui doa. Libatkan Tuhan dalam pekerjaan kita, maka kita akan bersyukur bahwa Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk menjadi berkat bagi orang banyak dengan pekerjaan itu. Selesaikan semua tugas hari ini dengan sukacita dan Tuhanpun akan tersenyum di hadapan kita. Tuhan Yesus memberkati.Doa:Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau masih mempercayakan aku untuk menyelesaikan semua tugas harianku. Terkadang aku lelah untuk menyelesaikannya. Sebagai kepala rumah tangga aku cukup lelah mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan anak istriku. Sebagi ibu rumah tangga aku terlalu lelah untuk menyelesaikan tugas harianku di rumah untuk mendampingi anak-anakku yang sudah beranjak semakin besar. Sebagai anak aku cukup lelah dengan tuntutan orang tua yang di luar batas kemampuanku. Sebagai karyawan akupun cukup lelah terhadap tuntutan atasanku. Kini aku mau duduk diam di hadirat-Mu. Siramilah aku dengan kehangatan cinta-Mu agar semangatku yang telah dingin membeku dapat dicairkan lagi untuk kembali setia dalam tugas harianku. Amin (Dod).
Ciri-Ciri Dajjal Secara Rinci adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 3 Rabiul Awwal 1447 H / 26 Agustus 2025 M. Kajian sebelumnya: Makkah dan Madinah Tidak Dimasuki Dajjal Kajian Tentang Ciri-Ciri Dajjal […] Tulisan Ciri-Ciri Dajjal Secara Rinci ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.
Dr. Teodorina Secara este medic primar ortodonție și ortopedie dento-facială, fondatoarea clinicii Northo de ortodonție, cu o investitie de peste 650.000 euro, primul si singurul medic din Romania cu certificare diamond pentru aparatele invisalign. Este membru fondator al Asociației de Ortodonție Linguală din România, a urmat stagii de pregătire în clinici din SUA, Germania, Spania si Italia. A facut peste 60 de cursuri internaționale de perfecționare, in tari precum: Franta, Grecia, Italia, Africa de Sud, Coreea, Elvetia, Ungaria. NORTHO este o clinică unică, premium, de ortodonție avansată, integral digitalizată, creată în slujba pacienților.
Pembawa Renungan : F.X Warindrayana, S.T.B Yogyakarta Yoh. 14:21-26