POPULARITY
Hai Wonder Kids, kembali dalam renungan anak GKY Mangga Besar. Judul renungan hari ini adalah Yesus dan Agama-Agama MisteriDiambil dari: 1 Timotius 3:16 “Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: ‘Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, yang dibenarkan dalam Roh, yang dilihat oleh malaikat-malaikat, yang diberitakan di antara bangsa-bangsa, yang dipercayai di dalam dunia, yang terangkat dalam kemuliaan.'”Wonder Kids, ada orang yang berkata bahwa kekristenan cuma meniru cerita-cerita dari agama lain pada zaman Romawi. Mereka bilang, “Kan ada juga cerita tentang dewa-dewa dan hal-hal ajaib. Jadi mungkin cerita tentang Yesus juga cuma mirip begitu.” Kedengarannya mungkin pintar, tetapi ternyata tidak tepat.Mengapa? Karena cerita-cerita dalam agama-agama misteri itu sangat berbeda dengan berita tentang Yesus. Banyak cerita mereka berhubungan dengan alam, musim, atau dongeng tentang dewa-dewa. Tetapi berita tentang Yesus bukan dongeng seperti itu. Berita tentang Yesus berbicara tentang Pribadi yang sungguh hidup dalam sejarah. Yesus lahir, hidup di dunia ini, mati di kayu salib, bangkit, lalu diberitakan kepada bangsa-bangsa. Ini bukan cerita yang dibuat untuk mengikuti kebiasaan agama lain.Selain itu, para pengikut Yesus pertama adalah orang-orang Yahudi yang sangat percaya kepada Allah yang esa. Mereka tidak gampang mencampur iman mereka dengan cerita-cerita dewa kafir. Justru mereka memberitakan bahwa Yesus adalah penggenapan rencana Allah yang sudah dijanjikan dalam firman Tuhan. Jadi kekristenan tidak meminjam inti beritanya dari agama misteri. Berita Injil berdiri sendiri, unik, dan benar.Firman Tuhan dalam 1 Timotius 3:16 menunjukkan betapa mulianya berita tentang Yesus. Yesus menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia. Ia datang ke dunia ini, diberitakan, dipercayai, lalu terangkat dalam kemuliaan. Ini adalah kabar besar tentang karya keselamatan Allah, bukan cerita khayalan manusia.Wonder Kids, kadang-kadang orang mencoba membuat Yesus terlihat biasa saja, seolah-olah sama dengan semua cerita lain. Tetapi kita harus ingat: Yesus berbeda. Yesus bukan tokoh dongeng. Yesus adalah Tuhan yang benar-benar datang untuk menyelamatkan manusia berdosa. Karena itu, kita tidak perlu bingung saat mendengar tuduhan-tuduhan seperti itu. Kita bisa tetap percaya bahwa Injil adalah kabar yang benar.Wonder Kids, hari ini lakukan ini: Katakan kepada Tuhan dalam doamu, “Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau adalah Juruselamat yang sejati, bukan cerita buatan manusia. Tolong aku percaya kepada-Mu dengan sungguh-sungguh.”Mari kita berdoa: Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau sungguh datang ke dunia ini untuk menyelamatkanku. Tolong aku supaya tidak bingung oleh perkataan orang lain, tetapi tetap percaya bahwa Injil adalah kebenaran. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa, Amin.Wonder Kids, ingatlah: Yesus tidak sama dengan dongeng atau cerita agama lain, karena Yesus adalah Juruselamat yang sejati dan kabar tentang-Nya adalah kebenaran. Tuhan Yesus memberkati.
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Arthur J. Homeric dari Paroki St. Yosef Pekerja Gotong-Gotong di Keuskupan Agung Makassar, Indonesia. 2 Petrus 3: 12-15a.17-18; Mazmur tg 90: 2.3-4.10.14.16; Markus 12: 13-17.MENGAMBIL RUPAALLAH Tema renungan kita pada hari ini ialah: Mengambil Rupa Allah. Kita parapengikut Kristus ini seperti koin. Gambaran rupa Allah dicap pada kita padawaktu pembaptisan kita masing-masing. Kita dilekatkan meterai dan terikat matioleh Roh Kudus melalui Sakramen Penguatan. Rupa dan meterai itu mempertegaskepada dunia bahwa kita ini adalah milik Allah. Seperti sapi dan kerbau yang ditandai pada tubuh mereka oleh pemiliknya,orang yang melihat koin Romawi akan langsung mengatakan rupa atau milik siapasebenarnya. Pada setiap koin Romawi ditaruh wajah Kaisar. Oleh karena itu,Yesus begitu melihat koin yang ditanyakan orang-orang Ia langsung sajamengatakan bahwa itu miliknya Kaisar, maka perhatian dan pengabdian diberikankepada Kaisar. Pajak dan segala tagihan negara diberikan ke Kaisar. Sebaliknya kita yang sudah dicap dan dimeteraikan dengan rupa Allah,mestinya kita berikan perhatian, dedikasi dan penyembahan kepada Allah dalamseluruh hidup kita. Artinya kita tampilkan dan hadirkan rupa Allah kepadadunia: khususnya di hadapan kaisar, penguasa dan kekuatan dunia ini bahwa adarupa Allah yang mempunyai kualitas yang berbeda bahkan lebih tinggidibandingkan dengan yang dimiliki dunia ini. Koin-koin dapat dilihat dan diinginkan di mana-mana, bergantung padakegiatan manusia. Mereka punya harga dari yang murah sampai yang paling tinggi,dari membeli selembar kertas sampai yang miliaran untuk membeli tanah ataurumah. Sama dengan koin-koin itu, kitayang dicap dengan rupa Allah mesti dapat juga menjangkau dan berbuat di manapun di seluruh dunia, dalam berbagai tempat dan situasi untuk menjadi garam danterang dunia. Sebagai contoh, wajah Tuhan sebagai pengampun hadir pada diri Anda yangadalah seorang pengikut Kristus, ketika kebijakan publik atau institusi negaraditerapkan sedemikian sampai membuat hak Anda diperlakukan tidak adil. Di sini,tindakan pengampunan mestinya bisa sangat diperlukan meskipun penegakan hukumyang mengikuti ranahnya sendiri tentu akan dilakukan untuk menegakkan keadilandan kebenaran. Jika dunia atau kebanyakan orang tidak memperhatikan atau mengindahkanpengampunan, perdamaian, dan toleransi mungkin karena jiwa mereka dikuasai olehkaisar dunia ini. Sedangkan koin para pengikut Kristus, yaitu wajah Allahmestinya semakin bersinar terang supaya Kerajaan-Nya dapat menguasai seluruhdunia dan setiap pribadi manusia sehingga dapat menyelamatkannya. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa... Ya Yesus Kristus, kami menyadari bahwa rupa Bapa-Mu adapada-Mu dan kami mengambil rupa yang sama karena telah memilih dan mengikutiEngkau. Semoga kami tetap semangat dan tekun memakai wajah-Mu dalam setiap saathidup kami, kini dan sepanjang masa. Amin. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra danRoh Kudus ... Dalam nama Bapa ...
Episode baru setiap Senin | pemuda.stemi.id | Episode 312 (Matius 27:27-37): Setelah diputuskan bersalah, Yesus disesah oleh Pilatus, dan setelah itu Pilatus menyerahkan Yesus kepada para tentara untuk disalibkan. Maka dimulailah penderitaan Yesus Kristus di dalam jalan menuju bukit Golgota. Setelah dicambuk dengan sangat keji, Yesus harus menanggung olok-olok dari para serdadu Romawi. Mereka semua berkumpul untuk memulai proses penobatan Yesus menjadi raja.
Episode baru setiap Senin | pemuda.stemi.id | Episode 311 (Matius 27:11-26): Karena para imam kepala dan tua-tua Israel tidak memiliki kuasa politik, maka setiap keputusan hukuman mati harus datang dari otoritas Romawi. Itulah sebabnya mereka menyerahkan Yesus kepada Pilatus untuk dihukum mati. Bagaimana cara mereka mendesak Pilatus untuk menghukum mati Yesus?
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Novy Laurens dari Paroki Hati Yesus Yang Mahakudus Katedral di Keuskupan Agung Makassar, Indonesia. Kisah Para Rasul 28: 16-20.30-31; Mazmur tg 11: 4.5.7; Yohanes 21: 20-25.CAMPUR TANGANYANG DIPERLUKAN Renungan kita pada hari ini bertema: Campur Tangan Yang Diperlukan. Adaseorang bocah laki-laki berusia 7 tahun sedang bermain sepeda. Ia melajukansepedanya dengan kencang melalui lorong-lorong kecil di sekitar rumah, sebelumkembali ke halaman rumah. Pada saat hendak memasuki halaman ia kehilangankeseimbangan sehingga terjatuh di got. Ia berhasil keluar dari got tetapi iatidak bisa mengangkat sendiri sepedanya dari dalam got. Ia tidak menangis dan berusaha menahan sakit. Kemudian ia hanya diam danterus memandang sepedanya di dalam got itu. Ia tidak mau berteriak kepadabapaknya yang ada di samping rumah dan sedang mengerjakan sesuatu karena iatakut dimarahi. Ketika bapak tahu bahwa anaknya sedang menghadapi masalah, iadatang kepada anaknya. Anak itu mulai menangis saat bapaknya mendekatinya danmembantu mengangkat sepedanya dari dalam got. Tindakan sang bapak ini adalah sebuah contoh mencampuri urusan atau campurtangan pada momen yang tepat dan benar. Anaknya sungguh sedang membutuhkansebuah pertolongan, dan pada saat itu datang tindakan turun tangan. Untuk rasulPetrus, jelas bahwa ia ditegur oleh Yesus karena ia mencampuri urusan muridlain yang dikasihi Tuhan dan urusan Yesus sendiri. Menurut Yesus, Petrusharusnya mengurusi saja dulu kepentingannya, sebelum sibuk dengan kepentinganorang lain. Dengan kata lain, momennya tidak tepat untuk campur tangan. Inijuga terjadi dengan kepentingan kekuasaan Romawi dan agama Yahudi yang salingcampur urusan atau tarik-menarik dalam penderitaan yang dialami oleh Paulussaat ia berada di Roma. Campur tangan atas kepentingan sesama pada dasarnya memang tidak bisadihindari. Itu bagian dari memberikan perhatian. Namun supaya dapat menjadisuatu perbuatan yang sangat positif dan sebagai suatu pelayanan, mestinya kitabisa menghindari dua ekstrem yang membuat campur tangan itu menjadi tindakanyang salah dan berakibat buruk bagi kita sendiri dan orang lain. Ekstrem pertama ialah campur tangan yang tidak perlu, atau tepatnya yangberlebihan dan salah tempat dan waktunya. Seorang yang sedang gelisah dansedih, kita justru melibatkan dia dalam diskusi sesuatu hal yang membuat diabertambah kacau pikiran dan hatinya. Kedua ialah tidak berbuat apa-apa atausama sekali tidak campur tangan. Seorang teman menyesal sekali karena tidakbisa membantu rekannya, padahal sebenarnya ia bisa. Akibatnya rekan itumenderita kecelakaan lebih parah. Jadi,dengan menghindari dua ekstrem ini tinggal satu pilihan saja, yaitu tindakancampur tangan yang diperlukan, pada waktu dan tempat yang benar, sesuai dengankebutuhan atau kepentingannya. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa... Dengarkanlah doa kami yang memohon kepada-Mu, ya Tuhan,supaya kami selalu saling memberikan perhatian demi meningkatkan kualitas hidupkami lebih baik dalam relasi dan kerja sama di antara kami. Salam Maria, penuhrahmat ... Dalam nama Bapa ...
Hai Wonder Kids, kembali dalam renungan anak GKY Mangga Besar. Judul renungan hari ini adalah Apakah Pontius Pilatus Orang yang Kaku? Diambil dari: Markus 15:8–9 “Lalu datanglah orang banyak dan meminta supaya sekarang juga Pilatus berbuat sama seperti yang selalu dilakukannya bagi mereka. Pilatus menjawab mereka dan bertanya: ‘Apakah kamu menghendaki supaya kubebaskan raja orang Yahudi ini bagimu?'”Wonder Kids, hari ini kita belajar tentang Pontius Pilatus, orang yang memutuskan bahwa Yesus harus disalibkan. Ada orang yang berkata bahwa cerita di Alkitab tentang Pilatus terasa aneh. Mengapa? Karena dalam Injil, Pilatus terlihat seperti orang yang ragu-ragu dan seolah-olah terdesak oleh orang banyak. Padahal, biasanya seorang penguasa Romawi dikenal tegas dan keras.Lalu, apakah itu berarti Alkitab salah? Tidak. Justru ini menunjukkan bahwa keadaan saat itu memang sangat khusus. Pilatus memang seorang penguasa, tetapi pada waktu itu posisinya tidak sekuat yang terlihat. Ia sedang berada dalam situasi sulit. Karena itu, tidak aneh kalau ia menjadi takut, bingung, dan akhirnya memilih jalan yang salah.Tetapi yang lebih penting, Wonder Kids, Alkitab menunjukkan bahwa di tengah keputusan manusia yang jahat, Tuhan tetap bekerja. Walaupun Pilatus, imam-imam kepala, dan orang banyak membuat keputusan yang berdosa, semua itu tidak berada di luar kendali Tuhan. Tuhan sedang menggenapi rencana keselamatan-Nya melalui kematian Yesus di kayu salib.Kadang-kadang dalam hidup kita juga ada situasi yang terasa kacau. Ada hal yang tidak adil, membingungkan, atau membuat kita merasa tidak tenang. Kita bisa bertanya, “Tuhan, apakah Engkau masih pegang kendali?” Kisah Pilatus mengingatkan kita bahwa jawabannya adalah ya. Tuhan tetap memerintah, bahkan saat manusia membuat keputusan yang salah. Tidak ada yang bisa menggagalkan rencana Tuhan.Wonder Kids, hari ini lakukan ini: Saat kamu merasa bingung atau takut karena sesuatu tidak berjalan seperti yang kamu mau, ucapkan doa singkat ini: “Tuhan, aku percaya Engkau tetap pegang kendali.”Mari kita berdoa: Tuhan, terima kasih karena Engkau tidak pernah kehilangan kendali. Tolong aku untuk percaya kepada-Mu, bahkan saat hidup terasa membingungkan atau tidak adil. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa, Amin.Wonder Kids, ingatlah: sekalipun manusia bisa membuat keputusan yang salah, Tuhan tetap memegang kendali atas semuanya. Tuhan Yesus memberkati.
Hai Wonder Kids, kembali dalam renungan anak GKY Mangga Besar. Judul renungan hari ini adalah Siapakah Plinius Muda? Diambil dari: 2 Korintus 12:10 “Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.”Wonder Kids, hari ini kita belajar tentang seorang tokoh bernama Plinius Muda. Ia adalah seorang pejabat Romawi yang hidup pada zaman gereja mula-mula. Plinius Muda bukan orang Kristen. Bahkan, ia tidak suka kepada orang-orang Kristen. Tetapi ia pernah menulis surat tentang mereka, dan surat itu masih disimpan sampai sekarang.Dalam salah satu suratnya, Plinius Muda menceritakan bahwa orang-orang Kristen tetap setia kepada Kristus. Mereka berkumpul untuk menyanyi bagi Kristus dan hidup dengan sungguh-sungguh. Ini penting sekali, karena dari surat itu kita bisa melihat bahwa sejak awal, orang Kristen memang benar-benar percaya kepada Yesus dan beribadah kepada-Nya.Plinius Muda mungkin tidak mengerti mengapa orang-orang Kristen begitu setia. Bagi dia, mungkin itu aneh. Tetapi bagi orang-orang percaya, kekuatan mereka bukan berasal dari diri sendiri. Kekuatan mereka datang dari Tuhan. Itulah sebabnya firman Tuhan dalam 2 Korintus 12:10 berkata, “jika aku lemah, maka aku kuat.” Saat kita merasa lemah, takut, atau sedih, Tuhan bisa memberi kekuatan supaya kita tetap setia.Wonder Kids, mungkin kamu juga pernah merasa lemah. Mungkin kamu takut diejek karena percaya kepada Yesus. Mungkin kamu merasa sulit untuk tetap jujur, tetap baik, atau tetap taat. Tetapi ingat, Tuhan bisa memberi kekuatan pada saat kita merasa lemah. Kita tidak harus menjadi kuat dengan kekuatan kita sendiri. Kita bisa bersandar kepada Tuhan.Wonder Kids, hari ini lakukan ini: Saat kamu merasa lemah atau takut hari ini, berhentilah sebentar dan berdoalah singkat, “Tuhan Yesus, tolong kuatkan aku untuk tetap setia kepada-Mu.”Mari kita berdoa: Tuhan Yesus, terima kasih karena saat aku lemah, Engkau bisa membuatku kuat. Tolong aku untuk tidak mengandalkan diriku sendiri, tetapi bersandar kepada-Mu setiap hari. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa, Amin.Wonder Kids, ingatlah: saat kamu lemah, Tuhan Yesus sanggup memberi kamu kekuatan untuk tetap setia. Tuhan Yesus memberkati.
Hai Wonder Kids, kembali dalam renungan anak GKY Mangga Besar. Judul renungan hari ini adalah Tacitus dan Kesaksian yang KuatDiambil dari: Matius 5:44 “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”Wonder Kids, hari ini kita belajar lagi tentang Tacitus. Tacitus adalah seorang penulis sejarah Romawi. Ia bukan orang Kristen, bahkan ia memandang orang Kristen dengan buruk. Ia menyebut kekristenan sebagai kepercayaan yang aneh dan tidak disukai banyak orang. Tetapi justru karena itu, tulisannya menjadi sangat menarik.Tacitus menulis bahwa setelah Yesus mati, orang-orang Kristen tetap terus bertambah. Padahal mengikuti Yesus pada waktu itu tidak mudah. Banyak orang Kristen dimusuhi, dihina, bahkan dianiaya. Coba pikirkan, Wonder Kids, kalau sebuah cerita itu bohong, apakah orang-orang akan tetap mau mempertahankannya sampai menderita? Tentu itu aneh. Tetapi orang-orang Kristen mula-mula tetap setia. Mereka rela menderita karena mereka sungguh percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang hidup.Inilah yang membuat kesaksian tentang Yesus semakin kuat. Bukan hanya karena ada tulisan-tulisan sejarah, tetapi juga karena ada orang-orang yang sungguh berubah dan tetap setia kepada Yesus walaupun harus membayar harga. Mereka tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Mereka belajar mengasihi, bahkan mendoakan orang yang menyakiti mereka. Itu sebabnya firman Tuhan dalam Matius 5:44 sangat penting. Mengasihi musuh bukan hal yang mudah, tetapi itulah jalan yang diajarkan Yesus.Wonder Kids, mungkin kamu tidak mengalami penganiayaan besar seperti orang Kristen zaman dulu. Tetapi mungkin ada teman yang mengejekmu, tidak mau berteman, atau berkata jahat kepadamu. Saat itu terjadi, ingatlah bahwa Yesus mengajar kita untuk tetap mengasihi dan berdoa. Saat kita hidup seperti itu, orang lain bisa melihat bahwa Yesus benar-benar bekerja di dalam hidup kita.Wonder Kids, hari ini lakukan ini: Pikirkan satu orang yang pernah menyakitimu atau membuatmu kesal. Hari ini, doakan orang itu dengan sungguh-sungguh di hadapan Tuhan.Mari kita berdoa: Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau sudah lebih dulu mengasihiku. Tolong aku untuk tetap setia kepada-Mu dan belajar mengasihi orang yang tidak baik kepadaku. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa, Amin.Wonder Kids, ingatlah: hidup yang diubahkan oleh Yesus adalah kesaksian yang kuat bahwa Dia sungguh hidup dan bekerja. Tuhan Yesus memberkati.
Hai Wonder Kids, kembali dalam renungan anak GKY Mangga Besar. Judul renungan hari ini adalah Tacitus dan Kebakaran di RomaDiambil dari: 1 Petrus 3:17 “Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat.”Wonder Kids, hari ini kita belajar lagi tentang Tacitus, seorang penulis sejarah Romawi. Tacitus menulis bahwa pada zaman Kaisar Nero, kota Roma pernah mengalami kebakaran besar. Setelah itu, Nero menuduh orang-orang Kristen sebagai penyebabnya. Padahal, orang-orang Kristen bukan pelakunya. Mereka dijadikan kambing hitam supaya orang lain tidak curiga kepada Nero.Tacitus juga menulis bahwa orang-orang Kristen disebut demikian karena mereka adalah pengikut Kristus. Kristus sendiri, kata Tacitus, pernah dihukum mati pada zaman Pontius Pilatus. Jadi dari catatan ini, kita melihat dua hal penting: Yesus sungguh hidup dalam sejarah, dan orang-orang yang percaya kepada-Nya benar-benar pernah mengalami penderitaan karena iman mereka.Wonder Kids, mungkin kamu belum pernah mengalami penderitaan seperti orang Kristen pada zaman dulu. Tetapi bisa saja kamu pernah diejek karena berbuat benar, atau dianggap aneh karena memilih jujur, taat, dan tidak ikut-ikutan berbuat salah. Kadang-kadang melakukan yang benar memang tidak mudah. Tetapi firman Tuhan mengingatkan bahwa lebih baik menderita karena berbuat baik daripada karena berbuat jahat.Orang-orang Kristen pada zaman dulu tetap setia walaupun diperlakukan tidak adil. Mengapa? Karena mereka tahu bahwa Yesus juga pernah menderita. Yesus tidak membalas dengan kejahatan. Ia tetap taat kepada Bapa. Karena itu, saat kita mengalami hal yang tidak enak karena mau ikut Tuhan, kita bisa ingat bahwa Tuhan Yesus mengerti dan menolong kita untuk tetap setia.Wonder Kids, hari ini lakukan ini: Ingat satu kejadian saat kamu pernah diejek, disalahpahami, atau merasa tidak enak karena memilih melakukan yang benar. Lalu berdoalah dan minta Tuhan memberi kamu hati yang tetap setia.Mari kita berdoa: Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau tahu rasanya menderita dan diperlakukan tidak adil. Tolong aku supaya tetap berani melakukan yang benar dan tidak takut mengikuti Engkau. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa, Amin.Wonder Kids, ingatlah: walaupun doing yang benar kadang tidak mudah, Tuhan Yesus selalu menolong anak-Nya untuk tetap setia. Tuhan Yesus memberkati.
Hai Wonder Kids, kembali dalam renungan anak GKY Mangga Besar. Judul renungan hari ini adalah Siapakah Tacitus? Diambil dari: Daniel 4:32 “... Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorang pun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata kepada-Nya: Apa yang Kaubuat?”Wonder Kids, hari ini kita belajar tentang seorang penulis sejarah Romawi bernama Tacitus. Ia dikenal sebagai salah satu penulis sejarah yang penting pada zaman Romawi. Tacitus menulis banyak hal tentang kekaisaran Romawi, para pemimpinnya, dan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi pada masa itu.Yang menarik, Tacitus bukanlah orang Kristen. Bahkan, ia tidak suka kekristenan. Tetapi justru karena itu, tulisannya menjadi penting. Dalam salah satu catatannya, Tacitus menulis tentang Kristus dan orang-orang Kristen. Ia menjelaskan bahwa Kristus pernah dihukum mati pada zaman Pontius Pilatus. Ini menjadi salah satu bukti sejarah yang menolong kita melihat bahwa Yesus benar-benar hidup dalam sejarah, bukan tokoh dongeng.Bayangkan begini, Wonder Kids. Kalau hanya teman dekatmu yang bercerita tentang kamu, mungkin orang lain bisa berkata, “Ah, itu karena dia temanmu.” Tetapi kalau orang yang bukan teman dekatmu juga mengatakan hal yang sama, kesaksiannya jadi makin kuat. Begitu juga dengan Yesus. Bukan hanya pengikut-Nya yang menulis tentang Dia, tetapi juga orang luar seperti Tacitus ikut mencatat bahwa Yesus sungguh ada.Ini mengingatkan kita bahwa Tuhan sanggup memakai siapa saja untuk menunjukkan kebenaran-Nya. Bahkan orang yang tidak mengasihi Tuhan pun bisa dipakai untuk meneguhkan bahwa berita tentang Yesus itu benar. Tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi rencana Tuhan. Tuhan tetap bekerja dan kebenaran-Nya tetap bersinar.Wonder Kids, hari ini lakukan ini: Ceritakan kepada satu orang di rumahmu bahwa ada penulis sejarah Romawi yang juga mencatat tentang Yesus. Lalu katakan, “Jadi, Yesus itu sungguh nyata dalam sejarah.”Mari kita berdoa: Tuhan, terima kasih karena Engkau berkuasa atas segala sesuatu. Terima kasih karena Engkau memberi banyak kesaksian bahwa Yesus sungguh hidup dan nyata. Tolong aku untuk makin percaya kepada-Mu dan tidak ragu pada firman-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa, Amin.Wonder Kids, ingatlah: tidak ada yang dapat menghentikan kebenaran Tuhan, dan Yesus sungguh nyata dalam sejarah maupun dalam hidupmu. Tuhan Yesus memberkati.
Hai Wonder Kids, kembali dalam renungan anak GKY Mangga Besar. Judul renungan hari ini adalahGunung NaskahDiambil dari: 1 Petrus 1:23 (TB)“Kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.”Wonder Kids, hari ini kita belajar tentang sesuatu yang sangat menakjubkan. Para ahli sejarah sering membandingkan dokumen-dokumen kuno untuk melihat mana yang paling banyak memiliki salinan. Mengapa ini penting? Karena semakin banyak salinan kuno yang ada, semakin kuat bukti bahwa isi dokumen itu dapat dipercaya.Mari kita bandingkan. Beberapa tulisan sejarah terkenal dari zaman Romawi hanya memiliki sedikit salinan kuno. Misalnya, ada karya sejarah yang hanya tersisa satu atau beberapa naskah saja — dan para ahli tetap menganggapnya sebagai sumber sejarah yang sah.Sekarang bagaimana dengan Perjanjian Baru? Perjanjian Baru memiliki ribuan naskah Yunani kuno, ditambah ribuan lagi dalam bahasa Latin dan bahasa kuno lainnya. Jumlahnya begitu banyak sehingga para ahli menyebutnya seperti sebuah “gunung naskah”.Artinya apa? Artinya, dibandingkan dengan hampir semua dokumen kuno lainnya, Perjanjian Baru memiliki dukungan naskah yang jauh lebih banyak. Kalau dokumen lain yang hanya punya sedikit salinan saja tetap dianggap sah oleh para ahli sejarah, maka Perjanjian Baru yang memiliki begitu banyak naskah justru memiliki dasar yang sangat kuat.Wonder Kids, Tuhan tidak hanya memberi firman-Nya. Ia juga mengizinkan firman itu disalin, disebarkan, dan dipelihara dalam jumlah yang luar biasa. Ini menunjukkan bahwa iman kita bukan berdiri di atas cerita tanpa dasar, tetapi di atas sejarah yang dapat diperiksa.Wonder Kids, hari ini lakukan ini:Jangan anggap Alkitab sebagai buku biasa. Itu adalah firman Tuhan yang memiliki dasar sejarah yang kuat.Mari kita berdoa: Tuhan, terima kasih karena firman-Mu tidak hanya hidup dan kekal, tetapi juga dipelihara dengan begitu banyak bukti sepanjang sejarah. Tolong aku supaya semakin percaya dan mengasihi firman-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa, Amin.Wonder Kids, ingatlah: Firman Tuhan berdiri di atas dasar yang kokoh. Tuhan Yesus memberkati.
Hai Wonder Kids, kembali dalam renungan anak GKY Mangga Besar. Judul renungan hari ini adalah BAGAIMANA DENGAN HAMBA PERWIRA?Diambil dari: Matius 8:10 “Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikutinya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel.'”Wonder Kids, ada sebuah cerita terkenal tentang seorang perwira Romawi yang datang kepada Yesus karena hambanya sakit keras. Cerita ini dicatat baik di Injil Matius maupun Injil Lukas.Perwira itu tidak meminta Yesus datang ke rumahnya. Ia berkata bahwa Yesus cukup mengucapkan sepatah kata saja, maka hambanya akan sembuh. Ia percaya bahwa Yesus memiliki kuasa, sama seperti seorang perwira yang memberi perintah kepada prajurit-prajuritnya.Yesus sangat kagum dengan iman perwira itu. Padahal, perwira itu bukan orang Yahudi dan bukan bagian dari bangsa pilihan Allah. Tetapi ia percaya kepada Yesus dengan sungguh-sungguh.Dalam Injil Lukas, diceritakan bahwa perwira itu mengutus para tua-tua Yahudi untuk menyampaikan permintaannya kepada Yesus. Dalam Injil Matius, perwira itu digambarkan datang sendiri kepada Yesus. Apakah ini bertentangan? Tidak. Perwira itu memang tidak datang langsung pada awalnya, tetapi ia mengutus orang lain sebagai wakilnya. Alkitab sering menuliskan tindakan orang yang diwakili seolah-olah ia melakukannya sendiri. Jadi, kedua Injil itu menceritakan peristiwa yang sama dengan sudut pandang yang berbeda. Yang terpenting bukan siapa yang datang terlebih dahulu, tetapi iman perwira itu kepada Yesus.Wonder Kids, Tuhan melihat hati kita, bukan hanya tindakan luar kita. Tuhan senang kepada anak-anak yang percaya kepada-Nya dengan sungguh-sungguh.Wonder Kids, hari ini lakukan ini, belajarlah percaya kepada Yesus sepenuh hati, walaupun kamu tidak melihat-Nya secara langsung. Percayalah bahwa Yesus berkuasa menolongmu.Mari kita berdoa: Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau senang melihat iman yang sederhana tetapi sungguh-sungguh. Tolong aku supaya percaya kepada-Mu seperti perwira itu, percaya pada kuasa-Mu dan kasih-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa, Amin.Wonder Kids, ingatlah, Yesus senang kepada anak-anak yang percaya kepada-Nya dengan sungguh-sungguh. Tuhan Yesus memberkati.
Hai Wonder Kids, kembali dalam renungan anak GKY Mangga Besar. Judul renungan hari ini adalah YESUS MENGAKU SEBAGAI ALLAHDiambil dari: Yohanes 8:58 “Yesus berkata kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.'”Wonder Kids, banyak orang Yahudi menantikan Mesias yang akan mengalahkan bangsa Romawi dan mendirikan kerajaan di bumi. Karena itu, ketika Yesus datang, mereka kecewa. Yesus tidak memimpin pasukan atau menjadi raja dunia. Ia mengajar, menolong orang sakit, dan berbicara tentang Kerajaan Allah.Banyak orang bingung: Siapakah Yesus sebenarnya? Dalam Yohanes 8, orang-orang bertanya kepada Yesus tentang siapa diri-Nya. Lalu Yesus berkata sesuatu yang sangat mengejutkan: “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.”Kalimat ini sangat penting. Yesus sedang mengingatkan mereka pada kisah Musa di padang gurun. Ketika Musa bertanya kepada Allah tentang nama-Nya, Allah menjawab, “AKU ADALAH AKU.” (Keluaran 3:14). Dengan mengatakan “Aku telah ada”, Yesus sedang menyatakan bahwa Ia adalah Allah sendiri.Artinya, Yesus bukan hanya guru yang baik atau nabi. Yesus adalah Allah yang datang ke dunia menjadi manusia. Ia selalu ada sejak kekal dan tidak pernah berubah.Wonder Kids, mungkin kita tidak selalu mengerti semua perkataan Yesus, tetapi kebenarannya tetap sama. Kita boleh bertanya dan belajar, tetapi kita perlu percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat kita.Wonder Kids, hari ini lakukan ini, Kalau kamu bingung tentang Yesus, jangan menjauh. Datanglah kepada Tuhan lewat doa dan firman-Nya. Percayalah bahwa Yesus adalah Allah yang mengasihimu dan selalu ada untukmu.Mari kita berdoa: Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau adalah Allah yang hidup. Tolong aku supaya sungguh-sungguh percaya bahwa Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Tolong aku untuk terus belajar mengenal-Mu lebih dalam. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa, Amin.Wonder Kids, ingatlah, Yesus bukan hanya guru yang baik, tetapi Allah yang datang untuk menyelamatkan kita. Tuhan Yesus memberkati.
Hai Wonder Kids, Kembali dalam renungan anak GKY Mangga Besar. Judul renungan hari ini adalah SIAPAKAH MATIUS?Diambil dari: Matius 9:9 (TB)“Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: ‘Ikutlah Aku.' Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.”Wonder Kids, Tahukah kamu siapa Matius itu sebelum ia mengikut Yesus? Matius adalah seorang pemungut cukai.Pada zaman Yesus, pemungut cukai tidak disukai orang. Mereka bekerja untuk pemerintah Romawi dan sering dianggap serakah serta tidak jujur. Banyak orang menganggap mereka sebagai pengkhianat bangsa sendiri. Tetapi Yesus melihat Matius dengan cara yang berbeda.Yesus tidak berkata, “Kamu terlalu berdosa,” atau “Kamu tidak layak.” Yesus justru berkata, “Ikutlah Aku.” Dan Matius langsung bangkit dan mengikut Yesus. Karena pekerjaannya sebelumnya, Matius terbiasa mencatat dengan rapi dan teliti. Allah memakai keahlian itu untuk menolong Matius menulis Injil Matius—sebuah catatan penting tentang kehidupan dan ajaran Yesus.Melalui Matius, kita belajar bahwa: Yesus bisa memakai siapa saja, dari latar belakang apa saja, untuk melakukan hal-hal besar bagi Tuhan.Wonder Kids, hari ini lakukan ini:Jangan merasa kamu tidak cukup baik untuk dipakai Tuhan. Yesus bisa memakai kemampuan dan pengalamanmu untuk kemuliaan-Nya.Mari kita berdoa:Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau mau memanggil dan memakai orang-orang yang sering dianggap tidak layak. Tolong aku percaya bahwa Engkau juga mau memakai hidupku untuk melakukan hal-hal baik. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa, Amin.Wonder Kids, ingatlah: Yesus memanggil Matius apa adanya—dan Dia juga memanggilmu hari ini. Tuhan Yesus memberkati.
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Yustina Armastiti dan Ignasius Sunaryo dari Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta di Keuskupan Agung Semarang, Indonesia. 1 Samuel 9: 1-4.17-19; 20: 1a; Mazmur tg 21: 2-3.4-5.6-7; Markus 2: 13-17.JURUS MENGUBAHSI PENDOSA Tema renungan kita pada hari ini ialah: Jurus Mengubah SiPendosa. Keberpihakan Yesus kepada orang sakit, lumpuh, miskin, kerasukan rohjahat sama kuat dengan belas kasih-Nya kepada orang-orang berdosa. Para pendosaadalah mereka yang sedang sakit secara rohani. Pendosa publik seperti pencuri,pemerkosa, prostitusi, dan pemungut bea, mengalami sakit yang parah karenadikucilkan oleh masyarakat. Mereka sama dengan sampah. Pendosa publik sebenarnya ialah mereka yang berdosa ditengah masyarakat bahkan keluarganya sendiri secara terang-terangan. Merekadikontrol sebuah sistem yang berlaku. Pria atau wanita prostitusi misalnya,mereka dikontrol oleh beban hidup dan sistem kehidupan masyarakat. Injil hariini memperkenalkan kita seorang pendosa publik, yaitu Lewi anak Alfeus, sipemungut bea rakyat karena ia adalah pelayan bangsa penjajah, Romawi. Tentu saja ia dianggap sangat berdosa karena dalammemungut pajak ia banyak berbuat curang soal pungutan uang dan barang.Masyarakat sangat membencinya, tetapi ia tetap berbuat dosa karena ada hukumyang melindunginya. Lewi ini dikenal dalam lingkaran kedua belas rasul dengannama Matius. Penginjil Matius menyebutnya sebagai si pemungut cukai. Dosapublik sangat menyakitkan masyarakat dan pendosa sendiri tidak bisa menghindariitu. Oleh karena itu Yesus harus turun tangan. Jurus yang Iapakai ialah datang bertemu langsung, memanggil dia dengan namanya, dan tidaksekedar mengajak tetapi memerintahkan untuk menghentikan perbuatannya itu. Inimengandung arti, dosa yang tidak hanya mencelakakan diri sendiri tetapi sangatmerugikan orang banyak dan menjadi dosa serius, harus dihentikan. Dosa besaryang serius jangan dibiarkan berkembang dan menyebar. Kalau dibiarkan, itunamanya berkolaborasi dengan penjahat atau bekerja sama dengan setan. Israel sebagai bangsa tidak dibiarkan terus berkeraskepala dan berdosa. Tuhan Allah menghentikan ini dengan menjadikan Saul sebagairaja atas mereka. Satu sistem baru diubah demi kebaikan dan sistem lama harusditinggalkan. Yesus mengubah pribadi pendosa seperti Lewi, demikian juga banyakorang lain termasuk Paulus, karena mereka ini berpotensi dalam kejahatan yangbesar dan merugikan banyak orang. Mereka harus dipakai secara positif untuksistem baru dalam beriman yang Yesus jalankan. Melalui pembaptisan, Yesus Kristus membuat kita menjadibagian dari sistem baru yang Ia bangun. Dosa-dosa yang kita perbuat setelahpembaptisan beraneka dan banyak, tetapi Tuhan Yesus punya jurus untuk mengubahhidup kita. Gereja menjalankan tugas ini dengan menjadi sarana bagi perubahandiri umatnya. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Yesus Kristus,bebaskanlah kami dari kebiasaan-kebiasaan buruk dan negatif yang seringmenjerumuskan kami ke dalam dosa. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus... Dalam nama Bapa ...
Hai Wonder Kids, kembali dalam renungan anak GKY Mangga Besar. Renungan hari ini berjudul SIAPA ITU MESIAS?Diambil dari: Yohanes 4:25–26 (TB)“Jawab perempuan itu kepada-Nya: "Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami." Kata Yesus kepadanya: "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau."Wonder Kids, Kata “Mesias” berasal dari bahasa Ibrani mashakh yang berarti “mengurapi.”Dalam Perjanjian Lama, seorang raja atau nabi sering diurapi dengan minyak sebagai tanda bahwa ia dipilih oleh Allah. Ketika kata ini diterjemahkan ke bahasa Yunani, jadilah kata “Kristus.” Tapi apa yang orang Israel harapkan dari seorang Mesias?Pada zaman Raja Daud, Tuhan berjanji bahwa keturunan Daud akan memerintah untuk selamanya. Sesudah Daud meninggal, Israel berkali-kali dijajah bangsa lain.Mereka sangat merindukan Mesias datang untuk membebaskan mereka dan memulihkan kerajaan Israel.Saat Yesus datang, Israel berada di bawah pemerintahan Romawi. Karena itu, banyak orang berharap Mesias adalah pahlawan yang datang sebagai raja perkasa yang akan mengusir penjajah dan memulihkan kerajaan secara politik. Yesus memang melakukan hal-hal luar biasa: menyembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat, dan mengajar dengan kuasa.Karena itu banyak orang bertanya-tanya, “Apakah Dia Mesias yang dijanjikan Tuhan?”Namun Yesus bukan Mesias seperti bayangan mereka. Ia tidak langsung menggulingkan Romawi atau menjadi raja dunia saat itu. Sebaliknya, Yesus datang untuk mengalahkan musuh yang jauh lebih besar daripada kerajaan mana pun—dosa dan maut.Yesus adalah Mesias yang mereka butuhkan, bukan yang mereka bayangkan.Wonder Kids, hari ini lakukan ini:Pikirkan satu hal: Kalau Yesus datang sebagai Mesias untuk menyelamatkan, bagian mana dari hidupmu yang ingin kamu serahkan kepada-Nya hari ini?Mari kita berdoa:Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau adalah Mesias yang Engkau janjikan sejak dahulu. Engkau datang bukan dengan cara yang orang bayangkan, tetapi dengan cara yang paling kami butuhkan. Tolong aku percaya dan mengikuti-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa, Amin.Wonder Kids, ingatlah: Yesus adalah Mesias yang benar—yang datang menyelamatkan kita, bukan hanya memperbaiki keadaan dunia, tetapi memulihkan hati kita. Tuhan Yesus memberkati
Episode baru setiap Senin | pemuda.stemi.id | Episode 287 (Matius 22:15-22): Orang-orang Farisi mencoba menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka membawa orang-orang Herodian yang sangat pro pemerintahan Romawi. Mereka ingin menempatkan Yesus pada posisi yang terjepit. Perlukah membayar pajak kepada kaisar? Pertanyaan yang sederhana ini memiliki dampak begitu besar.
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Nancy Phanasta dari Komunitas Pukat Labuan Bajo di Keuskupan Labuan Bajo, Indonesia. 1 Makabe 2: 15-29; Mazmur tg 50: 1-2.5-6.14-15; Lukas 19: 41-44.RUMAH TUHAN YANGRUSAK Renungan pada hari ini bertema: Rumah Tuhan Yang Rusak. Adasuatu bencana banjir baru-baru ini yang menimpa sebuah desa yang didiami olehumat Katolik. Di situ berdiri sebuah gereja Paroki yang dibangun dengan swadayaumat, sekitar sepuluh tahun lalu. Setengah bagian bangunan gereja itu hancurditerjang banjir, bersama dengan banyak kerusakan dalam desa tersebut. Yangberdiri kokoh dan tidak terdampak apa-apa ialah menara lonceng yang dipuncaknyaada salib. Setiap umat Paroki dan pengunjung yang melihat kondisibangunan gereja yang rusak parah itu menunjukkan rasa sedih dan ikut berbagidalam duka bersama. Mereka mengenang saat-saat ketika mereka bergotong-royongmembangunnya. Mereka mengingat saat-saat indah ketika mereka beribadah bersamadalam rasa syukur dan kehangatn iman di antara imam dan para umatnya. Merekamencatat sudah begitu banyak perayaan sakramen-sakramen yang dilakukan di dalamgereja itu. Kita semua paham bahwa gereja merupakan tempat Tuhanberdiam. Di dalam pelayanan publik-Nya, Yesus Kristus menguduskan setiap tempatyang Ia masuki dan kunjungi. Bait suci tidak lagi hanya berpusat di satu tempatsaja, tetapi berada di dalam Yesus Kristus yang bergerak, berjalan danmenjangkau setiap rumah dan diri orang-orang yang menyambut-Nya. Yesus membawabait suci diri-Nya sendiri untuk menguduskan semua yang didatangi ataudijumpai. Pemujaan dan pemurnian rumah Allah dengan jelasditunjukkan oleh Matatias dan anak-anaknya yang beriman Yahudi, dalam bacaanpertama hari ini. Raja Antiochus Epifanes memaksakan orang Yahudi untukmeninggalkan penyembahannya kepada Tuhan Allah, dan mengikuti penyembahanberhala orang kafir. Matatias bersama kelompoknya melawan dengan keras pemaksaankehendak itu, bahwa mengikuti keinginan raja berarti hancur, sedangkanmengikuti Tuhan Allah berarti selamat. Yesus sendiri jatuh kasihan dan menjadi sedih sekalidengan tempat suci, rumah Tuhan di Yerusalem yang penuh dengan noda dosa karenaulah para pemuka agama dan umat yang tidak beriman dengan benar dan tulus.Akibat penodaan itu, rumah itu akan hancur rata dengan tanah. Sebenarnya Tuhansedang meramalkan bahwa kerajaan dunia ini yang diwakili oleh Yerusalem yangamat megah, pada saatnya akan hancur. Hal ini terjadi sekitar pada tahun 71Masehi, Yerusalem sungguh hancur oleh bangsa penjajah, yaitu bangsa Romawi. Selanjutnya dalam perjalanan waktu dan sampai detik ini,Yerusalem yang duniawi itu tidak pernah hidup di dalam damai suka cita.Gambaran ini amat cocok disamakan dengan diri setiap orang beriman yang ditimpadosa dan kedurhakaan. Kehancuran dan kebinasaan akan segera datang. Tuhanmenangisi keadaan kita yang penuh dengan dosa. Seharusnya kita sadari itu dankita harus segera berbalik kepada Tuhan dan menjadi anak-anak-Nya. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa ... Ya Allah, terimalahpengakuan diri kami yang kurang setia kepada-Mu dan ampunilah dosa-dosa kami.Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Michelle Olovia dari Paroki Santa Maria Imakulata Kali Deres di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Efesus 2: 19-22; Mazmur tg 19: 2-3.4-5; Lukas 6: 12-19.PERANG MELAWANTEROR Renungan kita pada hari ini bertema: Perang Melawan Teror.Dunia kita ini dan segenap masyarakat di dalamnya mengetahui seperti apaterorisme itu. Secara khusus, di Indonesia ancaman teror ini bertubi-tubi, dandari tahun ke tahun. Satu orang atau kelompok dapat diatasi pemerintah dan parapenegak hukum, namun oknum atau kelompok lain muncul kembali. Ancamannya begituserius sehingga pemerintah dan segenap masyarakat berusaha bekerja sama untukmemeranginya. Gereja kita wajib berperang melawan terorisme di dunia inidengan kekuatan rohani yang masif, yaitu seluruh umat manusia. Gereja melakukanini bersama Yesus. Ia telah melakukan itu dalam pelayanan publik-Nya di dunia.Pada satu peristiwa khusus Ia memilih Simon orang Zelot dan Judas, bersamakesepuluh rasul lainnya untuk membentuk sebuah pasukan inti. Pada hari iniseluruh Gereja merayakan pesta rasul Simon dan Yudas. Kata “Zelot” mengandung arti teroris. Simon ini berasaldari kaum pemberontak yang melawan penjajah Romawi yang bernama kaum Zelot,yang dalam bahasa Yahudi Kana'im, yaitupencemburu dari Allah. Mereka tak mau Allah mereka diganggu kelompok lain.Yesus harus memilih orang-orang kuat dan terpercaya supaya mampu bersama Diamelawan semua bentuk kejahatan di dunia ini. Sebelum bertemu Yesus, Santo Paulus sering bertindakseperti seorang teroris. Menurut Kisah Para Rasul ia mengejar, menangkap danmemasukkan ke penjara laki-laki dan perempuan pengikut Kristus. Dia bahkanmengatakan begini: Saya sungguh bertindak liar dengan terbakar oleh kemarahanterhadap orang-orang Kristen, yang saya kejar bahkan sampai ke kota-kota ditanah asing (Kis 26,11). Kelompok yang menebar teror, saat ini yang dikenal sebagaikaum radikalis, mendatangkan ketakutan di seluruh dunia. Yakinkah kita kalauYesus mampu mengubah hati para teroris yang paling keras? Yesus mengubah SantoSimon dan Santo Paulus, dan sampai detik ini Ia tetap sama sebagai Tuhan yangdapat mengubah hati para teroris. Mereka tidak hanya diubah hati dan arahhidupnya, bahkan mereka dijadikan dasar bangunan Gereja, kediaman Allah danrumah orang-orang beriman. Santo Simon, Yudas dan Paulus kini adalah parajenderal dalam Kerajaan Allah, dalam melindungi Gereja kita. Yesus mengatasi para teroris dengan kasih. Kita semuamemakai kasih yang sama untuk mengatasi teror-teror kejahatan dan kegelapan didalam komunitas beriman kita. Tetapi kita harus bersama Kristus. Tanpa denganDia, kita tak akan mampu. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Yesus guru yang baikdan bijaksana, jadikanlah kami serdadu-serdadu-Mu untuk berani dan berkorbanmengalahkan kejahatan yang mengancam Gereja-Mu. Kemuliaan kepada Bapa dan Putradan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...
Podcast ini membedah buku berjudul "KEMULIAAN WANITA DALAM ISLAM" karya al-Ustadz Ali Ahmad Bin Umar, adalah sebuah karya komprehensif yang membahas kedudukan wanita dalam Islam. Secara garis besar, teks ini menguraikan hak-hak dan kewajiban wanita Muslim, seperti izin suami, berpakaian syar'i, dan menjaga pandangan, sambil juga menyajikan perbandingan historis dengan status wanita di peradaban kuno seperti Romawi, Yahudi, dan Kristen, serta beberapa masyarakat modern. Penulis berargumen bahwa Islam mengangkat martabat wanita secara signifikan, berbeda dengan pandangan negatif atau perbudakan yang dialami wanita di masa lalu atau di sistem lain, serta membahas peran penting wanita dalam keluarga dan masyarakat, termasuk isu-isu seperti poligami, perceraian, perbudakan, dan fitnah. Teks ini juga menyoroti tokoh-tokoh wanita mulia dalam sejarah Islam seperti Khadijah, Aisyah, dan Ummu Salamah, sebagai teladan.
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Hendry, Rini, Tirto dan Pater Peter, SDB dari Komunitas Pukat Labuan Bajo di Keuskupan Labuan Bajo, Indonesia. Kisah Para Rasul 12: 1-11; Mazmur tg 34: 2-3.4-5.6-7.8-9; 2 Timotius 4: 6-8.17-18; Matius 16: 13-19.MEREKA BERDUA ISTIMEWA Renungan kita pada hari ini bertema: Mereka Berdua Istimewa. Buktikesaksian iman rasul Petrus dan Paulus kepada Kristus yang ada di tangan kitaialah kitab suci perjanjian baru. Masing-masingnya memiliki cerita yang sangatunik dan menggugah hati kita. Mereka mewariskan tulisan-tulisannya yang kitakenal dalam surat-surat mereka. Ini adalah fakta narasi, kata, dan kisah. Bukti lain mengenai mereka dapat kita sebut sebagai fakta panggung, lokasi,atau tempat yang dulu mereka dijumpai. Kini Gereja mengabadikanpanggung-panggung mereka sebagai tempat suci dan sarana devosi umat beriman.Saat ini, sejujurnya panggung yang memberikan kesaksian kepada publik duniatentang kedua rasul ini ialah kota Roma di Italia. Mereka sebenarnyaorang-orang Yahudi di Palestina. Tetapi saat ini hampir tidak ditemukanbekas-bekas peninggalan baik Santo Petrus maupun Paulus di tanah Palestina. Ketika orang-orang berziarah ke Yerusalem dan daerah Danau Galilea dansekitarnya, bukti panggung tentang kedua rasul ini sangat terbatas. Hanya kotaYesus di Kapernaum yang bisa memberikan beberapa fakta kuat, misalnya adapuing-puing rumah mertua Petrus. Tetapi ketika orang mengunjungi kota Roma diItalia mereka akan mendapatkan banyak fakta panggung tentang kedua rasul ulungini. Di antara banyak fakta tersebut, yang paling disukai pengunjung ialahmakam mereka. Masing-masing makam itu kini berdiri di atasnya Basilika SantoPetrus dan Basilika Santo Paulus. Kisah Para Rasul mengisahkan sedikit drama perjalanan mereka ke Roma untukmenghadapi tuntutan hukum yang ditangani oleh kekuasaan Romawi. Catatan sejarahGereja Kristen memberikan rincian lain tentang proses terjadinya hukuman beratatas Petrus dan Paulus di Roma. Waktu dan sejarah yang kemudian membuktikanbahwa panggung kota Roma telah membuat mereka memberikan kesaksian tertinggiakan Yesus Kristus yaitu melalui kemartiran mereka. Darah mereka yangditumpahkan itu berbuah dengan menumbuhkan iman Kristen yang kian mendunia.Saat ini, Roma dan khususnya Vatikan adalah panggung sentral Gereja Katolik,antara lain karena rasul Petrus dan Paulus yang merintisnya. Di Yerusalem dan tanah Yudea terbukti panggung awal panggilan Petrus danPaulus, di Roma mereka berdua mempertontonkan bahwa pilihan kepada Yesus memangharus radikal, di dalam kitab suci mereka tetap mengajarkan kebenaran tentangYesus Kristus, dan di surga mereka berdua adalah orang-orang kebanggaan kita,orang kudus yang terpuji. Pada hari raya Petrus dan Paulus ini hendaknya kitabersyukur atas Gereja kita yang universal dan apostolik. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan Allah, semoga berkat-berkat-Mumenjadikan kami berbakti penuh kepada Gereja-Mu seperti rasul Petrus danPaulus. Salam Maria penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Ratna Dewi dan Raymond dari Komunitas Pukat Labuan Bajo di Keuskupan Labuan Bajo, Indonesia. Kisah Para Rasul 28: 16-20.30-31; Mazmur tg 11: 4.5.7; Yohanes 21: 20-25.CAMPUR TANGANYANG DIPERLUKAN Renungan kita pada hari ini bertema: Campur TanganYang Diperlukan. Dengan pernyataan ini kita ingin mengungkapkan suatu campurtangan yang tepat dan benar. Kita juga dapat mengingatkan bahwa jangan memaksaikut campur jika memang tak perlu. Jika Anda merasa berkewajiban untuk campurtangan, lakukan saja. Roh Kudus yang menggerakkan kita pada saat yang tepatakan mengijinkan kita campur tangan untuk suatu urusan orang lain atau bersama,namun pada momen yang lain akan mencegah kita untuk berbuat demikian. Banyak orang sering berbagi pengalamannya,terutama tentang kehidupan pribadi dan perjalanan imannya, dengan dibantumeditasi harian melalui media La Porta ini. Semuanya memberikan apresiasi dan terima kasih karena siraman rohani iniberperan ikut campur tangan dalam hidup pribadi mereka. Seorang pendengar setiapernah menulis pesan wa begini: “Pastor, saya merasa hidup saya setiap haridiusik oleh siraman firman Tuhan. Saya merasa ditegur, selain itu juga saya dihibur,diberikan ketenangan, dan diarahkan jalan yang bijaksana”. Ini merupakan satu contoh mencampuri urusan ataucampur tangan pada momen yang tepat dan benar. Untuk rasul Petrus, rasanya iaditegur oleh Yesus karena ia mencampuri urusan murid lain yang dikasihi Tuhandan urusan Yesus sendiri. Menurut Yesus, Petrus harusnya mengurusi saja dulukepentingannya, sebelum sibuk dengan kepentingan orang lain. Dengan kata lain,momennya tidak tepat untuk campur tangan. Ini juga terjadi dengan kepentingankekuasaan Romawi dan agama Yahudi yang saling campur atau tarik-menarik dalampenderitaan yang dialami oleh Paulus saat berada di Roma. Campur tangan atas kepentingan sesama padadasarnya memang tak bisa dihindari. Itu bagian dari memberikan perhatian. Namunsupaya dapat menjadi suatu perbuatan yang sangat positif dan sebagai suatupelayanan, mestinya kita bisa menghindari dua ekstrem yang membuat campurtangan itu menjadi tindakan yang salah dan berakibat buruk bagi kita sendiridan orang lain. Ekstrem pertama ialah campur tangan yang tidakperlu, atau tepatnya yang berlebihan dan salah tempat dan waktunya. Seorangyang sedang gelisah dan sedih, kita justru melibatkan dia dalam diskusi sesuatuhal yang membuat dia bertambah kacau pikiran dan hatinya. Kedua ialah tidakberbuat apa atau sama sekali tidak campur tangan. Seorang teman menyesal sekalitak bisa bantu rekannya, padahal sebenarnya ia bisa berikan pertolongannya,akibatnya rekan itu menderita kecelakaan lebih parah. Jadi, dengan menghindari dua ekstrem initinggal satu pilihan saja, yaitu tindakan campur tangan yang diperlukan, padawaktu dan tempat yang benar, sesuai dengan kebutuhan atau kepentingannya. Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa... Dengarkanlah doa kami yang memohon supayasaling memperhatikan antar pribadi dan komunitas atau masyarakat sungguhbertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup kami lebih baik dalam relasi dankerja sama di antara kami. Bapa kami yang ada di surga ... Dalam nama Bapa ...
Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 18 April 2025Bacaan: "Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." (Yesaya 53:5) Renungan: Sebelum dijatuhi hukuman mati di kayu salib, Yesus dijatuhi hukuman cambuk Romawi terlebih dulu. Hukuman cambuk Romawi dibagi menjadi dua. Pertama, hukuman bagi warga negara Roma, di mana yang dipakai untuk mencambuk adalah rotan biasa. Kedua, bagi warga negara non-Roma yang dipakai adalah cambuk yang disebut "flagellum atau flagrum" dan ini yang dialami Yesus. Flagrum adalah cambuk dengan gagang kayu pendek yang diberi beberapa tali kulit, yang di ujungnya ada bola-bola yang dilengkapi dengan potongan-potongan timah atau tulang-tulang domba yang diruncingkan. yang akan merobek kulit. Hukuman cambuk Romawi adalah penyiksaan yang hebat, di mana korban ditelanjangi, tangannya diikat ke tiang dengan punggung yang dibungkukkan sehingga tubuhnya terbuka sebagai landasan bagi cambuk yang mengerikan itu. Cambukan flagrum akan menjadikan daging korban tercabik-cabik, dan bilur atau luka-luka yang diakibatkan cambuk itu akan meradang. Selain itu, luka-luka ini akan menyebabkan korban kehilangan banyak darah. Luka-luka cambuk yang diderita Yesus pastilah sangat perih, menyakitkan dan suhu tubuhnya akan panas tinggi setelah dicambuk sedemikian rupa. Di sumber yang lain dikatakan bahwa hukuman Romawi ini sering mengakibatkan kematian atau orang yang dihukum paling tidak akan gila. Hanya sedikit orang yang bisa sadar sampai akhir pencambukan dan Yesus adalah salah satunya. Tidak puas dengan hukuman cambuk yang dialami Yesus, orang Farisi dan Saduki menuntut Yesus dihukum salib, yaitu hukuman yang diberikan kepada penjahat politik. Penjahat politik adalah orang yang dianggap menghina, memberontak atau makar terhadap pemerintah Roma. Sebenarnya secara politik, dalam penyelidikan baik oleh Pontius Pilatus maupun Herodes. mereka tidak menemukan Yesus sebagai penjahat politik. Tetapi fitnah, taktik jahat dan saksi palsu dari orang Farisi dan Saduki yang menyebut Yesus sebagai Raja orang Yahudi dan karena ketakutan Pontius Pilatus kepada massa, membuat Yesus dihukum salib. Dan ini menjadi penggenapan akan nubuat Nabi Yesaya tentang Hamba Allah yang menderita itu. Sesungguhnya siapa yang telah menyebabkan Yesus dicambuk dan disalibkan? Orang Farisi, Saduki, atau Pontius Pilatus? Tidak, kita yang berdosalah yang telah membuat Dia dicambuk, supaya oleh bilur-bilurNya kita menjadi sembuh. Kematian-Nya di kayu salib berkuasa menebus kita dari maut yang membinasakan. Biarlah kita mengalami kuasa salibNya! Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, terima kasih atas pengorbanan dan penderitaan-Mu untuk menebus dan menyelamatkanku. Bantulah aku agar aku dapat menghargai pengorbanan-Mu di salib dengan hidup sesuai kehendak-Mu. Amin. (Dod).
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Justin Tasman dan Ronald Gunawan dari Komunitas Pukat Labuan Bajo di Keuskupan Labuan Bajo, Indonesia. Ulangan 30: 15-20; Mazmur tg 1: 1-2.3.4.6; Lukas 9: 22-25KEHILANGAN NYAWA Tema renungan kita pada hari ini ialah: Kehilangan Nyawa.Di sejumlah katakombe di dalam kota Roma dan sejumlah kota lain, ditemukanribuan bahkan jutaan makam kuno. Di situ dikuburkan orang-orang Kristen yangdibunuh oleh kekuasaan kerajaan Romawi yang tidak mengenal Allah. Mereka yangterbunuh, hanya sejumlah kecil yang dikenal namanya dan ditetapkan sebagaisanto dan santa martir. Sebagian besar tidak dikenal. Mereka semua mengalamiapa yang dikatakan di dalam kitab suci, yaitu kehilangan nyawa demi Injil dankarena iman mereka kepada Tuhan Yesus Kristus. Kita dapat menyebut beberapa di antaranya, yaitu SantaPerpetua dan Santa Felisitas, Santa Agata, Santo Kalistus, Santo Aleksander danSanto Vitalis, mereka adalah para martir di kota Roma, sekitar abad ke-1 dan 2Gereja Kristen. Kehilangan nyawa yang demikian ialah tentang pengorbanan dirikarena mengikuti jejak Kristus. Ini tentu saja tidak berkaitan dengankehilangan nyawa dalam banyak bentuk lainnya yang bukan berdasarkan alasanmengikuti jalan Yesus Kristus. Kehilangan nyawa karena Yesus Kristus merupakansuatu cara mencapai kesempurnaan dengan masuk ke dalam persyaratan yangditetapkan oleh Yesus Kristus bagi setiap pengikut-Nya. Dalam arti yang tegas, seseorang mengalami kematian tubuhjasmaninya, karena ia mempertahankan imannya kepada Kritsus dan kebenaran yangmenjiwai seluruh hidupnya. Yesus menjadi contoh bagi jenis kematian ini, yaitukarena Ia sendiri dihukum mati dan wafat di salib. Cara ini kemudian diikutioleh sejumlah besar pengikut Kristus hingga pada saat ini. Baru-baru ini adakabar tentang seorang imam misionaris di Afrika Barat, yang berjuangmempertahankan gereja dan umat di parokinya dari serangkan kaum pemberontak. Iarela mati demi Gereja, dan ia pantas digelari martir. Model kehilangan nyawaseperti ini terdapat di seluruh dunia. Dalam arti yang lebih luas dan spiritual, kehilangan nyawaadalah sebuah penyerahan diri sesungguhnya kepada Tuhan melalui kesalehan,matiraga, pelayanan, dan persekutuan hidup bakti. Yesus mengatakan hal inibukan saja kepada para murid yang mengikuti Dia, tetapi kepada kita semua.Perkawinan antara pria dan wanita menuntut supaya setiap orang kehilangan dirisendiri, dan harus menyatu dengan pasangannya. Di dalam hidup membiara danimamat, seseorang harus meninggalkan segala kesukaan diri sendiri, supaya menyatudengan semangat hidup biara dan sebagai imam. Hal ini adalah cara hidup dasardalam menjawab panggilan Tuhan kepada setiap pribadi kita. Bagaimanapun, jawaban yang tulus dan penuh tanggung jawabatas panggilan itu adalah sama dengan memilih berkat dan kehidupan, bukanmemilih kutuk, seperti yang ditekankan oleh Kitab Ulangan dalam bacaan pertamahari ini.Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan Allah kami,semoga kami rela dan bahagia dalam segala pengorbanan diri, demi keselamatankami. Bapa kami yang ada di surga ... Dalam nama Bapa ...
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Andre dan Felicia dari Paroki Roh Kudus Surabaya di Keuskupan Surabaya, Indonesia. Ibrani 12: 4-7.11-15; Mazmur tg 103: 1-2.13-14.17-18a; Markus 6: 1-6 SUDUT PANDANG Tema renungan kita pada hari ini ialah: Sudut Pandang. Agata adalah seorang wanita perawan yang menolak untuk dilecehkan secara tidak manusiawi, dan khususnya sebagai perempuan. Ia kemudian menerima siksaan dan hukuman mati dalam pemerintahan kaisar Romawi, Desius yang tidak beriman. Santa Agata menginspirasikan kita tentang memiliki sudut pandang di dalam hidup. Ia memilih untuk menjadi perawan bagi Tuhan, dan ia konsisten mempertahankan itu bahkan sampai diancam mati, ia bertahan dengan pilihannya tersebut. Sebuah sudut pandang mencakup aspek dari posisi mana kita melihat, cara kita melihat dan memahami seseorang atau sesuatu, dan kehendak untuk melakukan yang sudah kita putuskan. Mungkin kita sering mengikuti sudut pandang pada umumnya bahwa disiplin, didikan dan ajaran sebagai sesuatu yang menyiksa dan menyakitkan. Namun menurut Surat kepada orang Ibrani, itu adalah cara Tuhan melatih dan mendidik kita. Justru melalui itu semua kita akan menjadi baik dan selamat. Yesus Kristus tampil di publik sebagai seorang yang memiliki daya tarik luar biasa. Banyak sekali kesan dari orang-orang di sekitarnya sehingga menghasilkan aneka macam sudut pandang tentang diri-Nya. Para penggemar, murid-murid, dan para musuh-Nya memandang Dia secara berbeda-beda. Roh-roh jahat memandang bahwa Ia dapat digodai dengan segala taktik busuknya, namun Yesus mengalahkan mereka. Para rasul pertama pernah bertanya: di manakah engkau tinggal Guru? Mereka memandang bahwa Yesus bakal memberikan mereka jaminan hidup jiwa dan raganya. Injil pada hari ini berkisah tentang pandangan orang-orang sekampung dan sanak keluarga tentang pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus. Ternyata sudut pandang mereka terhadap Yesus sangat terbatas dan amat dangkal. Yesus dipandang sebagai seorang yang merupakan bagian dari mereka. Tidak ada sesuatu yang spesial pada-Nya. Intinya, ini adalah sebuah sudut pandang untuk meremehkan dan menolak Yesus, meskipun mereka mengetahui bahwa Dia telah berbuat yang luar biasa dalam menolong dan mengatasi kesulitan orang-orang. Sebuah sudut pandang yang kita miliki sangat bergantung pada standar pengetahuan, kebijaksanaan dan iman kita masing-masing. Kalau kita dibimbing oleh Roh Kudus dan iman kepada Yesus Kristus, sudut pandang kita tentu berdasarkan kehendak Tuhan. Kita tentu selalu meminta terang Ilahi melalui doa dan refleksi supaya mendapatkan sebuah sudut pandang yang baik dan benar. Kita harus dapat membebaskan diri dari memiliki sudut pandang negatif, sempit atau subjektif, dan destruktif. Ini pasti bukan dari terang Roh Kudus. Jangan membiasakan diri memiliki sudut pandang seperti ini! Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah maha murah, semoga pada hari ini kami senantiasa memandang Dikau dengan gembira. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Onny Pakendek dan Yohanes Sukardi dari Paroki Santa Maria Asunta Kota Baru Kupang di Keuskupan Agung Kupang, NTT, Indonesia. Efesus 2: 19-22; Mazmur tg 19: 2-3.4-5; Lukas 6: 12-19 PERANG MELAWAN TEROR Renungan kita pada hari ini bertema: Perang Melawan Teror. Umat manusia di seluruh dunia tidak asing dengan terorisme. Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang dipandang sebagai sarang para teroris. Pemerintah dan penegak hukum di negeri ini sudah bekerja maksimal mengatasinya, namun terorisme belum dapat dikatakan sudah habis sama sekali. Baik pemerintah maupun segenap rakyat harus selalu mewaspadainya. Gereja kita wajib berperang melawan terorisme dalam setiap zaman dengan kekuatan rohani yang masif, dengan keterlibatan seluruh umat manusia. Gereja melakukan ini bersama Yesus. Ia telah melakukan itu dalam pelayanan publik-Nya di dunia. Pada satu peristiwa khusus Ia memilih Simon orang Zelot dan Judas, bersama kesepuluh rasul lainnya untuk membentuk sebuah pasukan inti. Pada hari ini seluruh Gereja merayakan pesta rasul Simon dan Yudas. Kata “Zelot” mengandung arti teroris. Simon ini berasal dari kaum pemberontak yang melawan penjajah Romawi, yang mana kelompok itu bernama kaum Zelot yang dalam bahasa Yahudi Kana'im, yaitu pencemburu dari Allah. Mereka tidak mau Allah mereka diganggu kelompok lain. Yesus harus memilih orang-orang kuat dan terpercaya supaya mampu bersama Dia melawan semua bentuk kejahatan di dunia ini. Sebelum bertemu Yesus, Santo Paulus sering bertindak seperti seorang teroris. Menurut Kisah Para Rasul, ia mengejar, menangkap dan memasukkan ke penjara pria dan wanita pengikut Kristus. Dia bahkan mengatakan begini: Saya sungguh bertindak liar dengan terbakar oleh kemarahan terhadap orang-orang Kristen, yang saya kejar bahkan sampai ke kota-kota di tanah asing (Kis 26,11). Kelompok yang menebar teror juga dikenal sebagai kaum radikalis, mendatangkan ketakutan di seluruh dunia. Yakinkah kita kalau Yesus mampu mengubah hati para teroris yang paling keras sekalipun? Yesus mengubah Santo Simon dan Santo Paulus, dan sampai detik ini Ia tetap sama sebagai Tuhan yang dapat mengubah hati para teroris. Mereka tidak hanya diubah hati dan arah hidupnya, bahkan mereka dijadikan dasar bangunan Gereja, kediaman Allah dan rumah orang-orang beriman. Santo Simon, Yudas dan Paulus kini adalah para jenderal dalam Kerajaan Allah, fondasi untuk berdirinya Gereka dan mereka melindungi Gereja kita. Yesus mengatasi para teroris dengan kasih. Kita semua memakai kasih yang sama untuk mengatasi teror-teror kejahatan dan kegelapan di dalam komunitas beriman kita. Tetapi kita harus bersama Kristus. Tanpa dengan Dia, kita tidak akan mampu. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Yesus guru yang baik dan bijaksana, jadikanlah kami serdadu-serdadu-Mu untuk berani dan berkorban mengalahkan kejahatan yang mengancam Gereja-Mu. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ...
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Suster Maria Elsia PRR dan Suster Maria Gerardia PRR dari Komunitas Novisiat PRR di Keuskupan Agung Dili, Timor Leste. Efesus 1: 1-10; Mazmur tg 98: 1.2-3ab.3cd-4.5-6; Lukas 11: 47-54 KEBENARAN IMAN KITA Tema renungan kita hari ini ialah: Kebenaran Iman Kita. Santo Ignasius dari Antiokhia adalah seorang pembela Kristus dan Injil. Ia mempertahankan itu hingga mati sebagai martir. Ia menggantikan rasul Petrus sebagai kepala Gereja di Antiokhia (sekarang daerah Turki). Ia yang pertama menggunakan istilah Gereja Katolik dalam kotbah dan tulisannya. Di bawah kekuasaan Romawi, kaisar Trajan yang sedang berkuasa memerintah supaya Ignasius dibawa ke Roma untuk menjalani hukuman mati, karena ia begitu giat dan penuh semangat berkhotbah mewartakan Kristus kepada semua orang. Hukuman mati yang dikenakan kepadanya ialah supaya dirinya dimasukkan ke dalam arena sirkuit binatang buas, dan tubuhnya dibiarkan dimakan oleh binatang-binatang itu. Di dalam perjalanan ke Roma, ia singgah di beberapa wilayah dan berjumpa dengan umat Kristiani. Ia menghibur dan memperkayai mereka dengan ajaran-ajaran Kristiani. Ia menulis surat kepada kelompok umat Kristen yang berbeda-beda, supaya menguatkan iman mereka. Ia ibaratkan kalau tubuhnya yang akan dicabik-cabikkan oleh binatang adalah seperti tubuh Kristus sendiri dalam ekaristi. Hukuman mati itu ia jalani pada tahun 107 Masehi. Para penguasa dan penjahat yang menghukum mati Santo Ignasius adalah mereka yang sama tujuannya dengan para musuh Yesus Kristus. Hukuman mati atas Yesus Kristus ditandai dengan penyaliban di Golgota. Salib itu menjadi jembatan bagi kita untuk sampai ke surga. Salib memperkuat iman Kristen yang membenarkan kita dan bukan hukum. Menurut hukum, salib adalah sebuah konsekuensi atas tindakan kejahatan yang sangat besar. Ujungnya ialah kematian yang sangat tidak bermartabat. Tetapi menurut iman tidak demikian. Salib Yesus Kristus membenarkan bahwa panggilan kita menjadi pengikut Kristus sudah dirancang oleh Tuhan Allah, bahkan sebelum jagat raya dijadikan, demikian kata Santo Paulus dalam bacaan pertama hari ini. Kita sudah ditentukan oleh Tuhan Yesus bahwa kita adalah milik-Nya dan untuk menjadi sempurna seperti Dia, kita wajib melalui salib. Setiap orang terpanggil yang tidak mengakui salib, ia bukan seorang pengikut Kristus yang sesungguhnya. Salib menandakan kerahiman Tuhan yang selalu abadi. Setiap kali kita berdosa, kita datang kepada Tuhan yang mempunyai belas kasih dan pengampunan yang tidak pernah habis. Meskipun misalnya kita lupa dan tidak menerima sakramen-sakramen, kebenarannya tidak pernah hilang karena tidak dihiraukan atau tidak diberi perhatian oleh kita. Kebenaran iman melampaui semua jenis kebenaran yang berdasarkan sudut pandang berbeda-beda, yang datang dan pergi dari waktu ke waktu. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat ingin sekali menghalangi kebenaran itu dan mereka tidak berhasil. Kebenaran iman menentukan layak tidaknya kita sebagai manusia dan umat Tuhan yang benar. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan, terimalah persembahan diri kami pada hari ini dan sucikanlah kami. Salam Maria... Dalam nama Bapa...
Episode baru setiap Senin | pemuda.stemi.id | Episode 222 (Matius 8:1-13): Bacaan hari ini menceritakan tentang dua peristiwa mujizat yang Yesus lakukan. Yang pertama adalah mujizat bagi orang kusta yang memohon agar Yesus menyembuhkan mereka. Lalu pada bagian selanjutnya Tuhan Yesus melakukan mujizat menyembuhkan seorang hamba dari perwira Romawi. Adakah kemiripan sikap hati orang yang sakit kusta ini dengan perwira Romawi tersebut, yang seharusnya menjadi sikap hati kita ketika memohon belas kasihan Tuhan Yesus?
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Rini dan Tirto dari Komunitas Pukat Labuan Bajo, Keuskupan Ruteng, Indonesia. 2 Petrus 3: 12-15a.17-18; Mazmur tg 90: 2.3-4.10.14.16; Markus 12: 13-17 MENGAMBIL RUPA ALLAH Pada hari ini renungan kita bertema: Mengambil Rupa Allah. Kita para pengikut Kristus ini seperti koin. Gambaran rupa Allah dicap pada kita pada waktu pembaptisan kita masing-masing. Kita dilekatkan meterai dan terikat mati oleh Roh Kudus melalui Sakramen Penguatan. Rupa dan meterai itu mempertegas kepada dunia bahwa kita ini milik Allah. Santo Petrus berkata bahwa tugas kita ialah mengetahui Yesus Kristus Tuhan kita, yang tidak boleh hilang dari kita. Seperti sapi dan kerbau yang ditandai pada tubuh mereka oleh pemiliknya, orang yang melihat koin Romawi akan langsung mengatakan rupa atau milik siapa sebenarnya. Pada koin Romawi ditaruh wajah Kaisar. Oleh karena itu, Yesus begitu melihat koin yang ditanyakan orang-orang Ia langsung saja mengatakan bahwa itu miliknya Kaisar, maka pengabdian harus diberikan kepada Kaisar. Sebaliknya kita yang sudah dicap dan dimeteraikan dengan rupa Allah, mestinya kita berikan perhatian, dedikasi dan penyembahan kepada Allah dalam seluruh hidup kita. Artinya kita tampilkan dan hadirkan rupa Allah kepada dunia: khususnya di hadapan kaisar, penguasa dan kekuatan dunia ini bahwa ada rupa Allah yang mempunyai kualitas yang berbeda bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan yang dimiliki dunia ini. Koin-koin dapat dilihat dan diinginkan di mana-mana, bergantung pada kegiatan manusia. Mereka punya harga dari yang murah sampai yang paling tinggi, dari membeli selembar kertas sampai yang miliaran untuk membeli tanah atau rumah. Sama dengan koin-koin itu, kita yang dicap dengan rupa Allah mesti dapat juga menyebar di mana pun di seluruh dunia, dalam berbagai tempat dan situasi untuk menjadi garam dan terang dunia. Sebagai contoh, wajah Tuhan sebagai pengampun hadir pada diri Anda yang adalah seorang pengikut Kristus, ketika kebijakan publik atau institusi negara diterapkan sedemikian sampai membuat hak Anda diperlakukan tidak adil. Di sini, tindakan pengampunan mestinya bisa sangat diperlukan meskipun penegakan hukum yang mengikuti ranahnya sendiri tentu akan dilaksanakan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran menurut hukum. Jika dunia atau kebanyakan orang kurang memperhatikan atau mengindahkan pengampunan, kesabaran, pengertian dan kedamaian, mungkin karena “kaisar” yang ada pada mereka terlampaui menguasai jiwa mereka. Di situ, koin para pengikut Kristus, yaitu wajah Allah mestinya semakin bersinar terang supaya wajah Allah dapat menguasai seluruh dunia dan setiap wajah manusia demi kebaikan dan kebenaran yang bersumber dari Tuhan. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan mahakuasa, semoga kami tetap semangat dan tekun memakai wajah-Mu dalam setiap saat hidup kami, kini dan sepanjang masa. Amin. Kemuliaan kepada Bapa... Dalam nama Bapa... --- Send in a voice message: https://podcasters.spotify.com/pod/show/media-la-porta/message
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Pastor Peter Tukan, SDB dari Komunitas Pukat Labuan Bajo, Keuskupan Ruteng, Indonesia. Kisah Para Rasul 28: 16-20.30-31; Mazmur tg 11: 4.5.7; Yohanes 21: 20-25 CAMPUR TANGAN YANG DIPERLUKAN Renungan kita pada ini bertema: Campur Tangan Yang Diperlukan. Sebutan lain untuk tema ini ialah campur tangan yang tepat dan benar, atau jangan memaksa ikut campur jika memang tak perlu, atau kalau harus campur tangan, lakukan saja. Roh Kudus yang menggerakkan kita pada momen yang tepat dalam berbuat campur tangan untuk urusan orang lain atau bersama, namun pada momen lain akan mencegah kita untuk berbuat demikian. Tiap hari renungan ini sampai ke banyak orang, mungkin ratusan bahkan ribuan. Setelah mendengar dan merenungkan firman yang diwartakan La Porta ini, seorang pendengar mengirim pesan wa kepada salah seorang temannya, katanya kira-kira begini: “Kok bisa ya, apa yang dikatakan dalam renungan itu cocok dengan situasi saya saat ini. Rasanya firman Tuhan ikut mencampuri urusan saya deh, tapi bukan dalam artian negatif ya. Ini sangat positif karena campur tangan ini sungguh sangat tepat waktunya, biar saya mendapatkan peneguhan dan orientasi hidup yang lebih baik”. Ini merupakan satu contoh mencampuri urusan atau campur tangan pada momen yang tepat dan benar. Untuk rasul Petrus, rasanya ia ditegur oleh Yesus karena ia mencampuri urusan murid lain yang dikasihi Tuhan dan urusan Yesus sendiri. Menurut Yesus, Petrus harusnya mengurusi saja dulu kepentingannya, sebelum sibuk dengan kepentingan orang lain. Dengan kata lain, momennya tidak tepat untuk campur tangan. Ini juga terjadi dengan kepentingan kekuasaan Romawi dan agama Yahudi yang saling campur atau tarik-menarik dalam penderitaan yang dialami oleh Paulus saat berada di Roma. Campur tangan atas kepentingan sesama pada dasarnya memang tak bisa dihindari. Itu bagian dari memberikan perhatian. Namun supaya dapat menjadi suatu perbuatan yang sangat positif dan sebagai suatu pelayanan, mestinya kita bisa menghindari dua ekstrem yang membuat campur tangan itu menjadi tindakan yang salah dan berakibat buruk bagi kita sendiri dan orang lain. Ekstrem pertama ialah campur tangan yang tidak perlu, atau tepatnya yang berlebihan dan salah tempat dan waktunya. Seorang yang sedang gelisah dan sedih, kita justru melibatkan dia dalam diskusi sesuatu hal yang membuat dia bertambah kacau pikiran dan hatinya. Kedua ialah tidak berbuat apa atau sama sekali tidak campur tangan. Seorang teman menyesal sekali tak bisa bantu rekannya, padahal sebenarnya ia bisa berikan pertolongannya, akibatnya rekan itu menderita kecelakaan lebih parah. Jadi, dengan menghindari dua ekstrem ini tinggal satu pilihan saja, yaitu tindakan campur tangan yang diperlukan, pada waktu dan tempat yang benar, sesuai dengan kebutuhan atau kepentingannya. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Dengarkanlah doa kami yang memohon supaya saling memperhatikan antar pribadi dan komunitas atau masyarakat sungguh bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup kami lebih baik dalam relasi dan kerja sama di antara kami. Salam Maria... Dalam nama Bapa... --- Send in a voice message: https://podcasters.spotify.com/pod/show/media-la-porta/message
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Yohanes Maximilian Adi dari Paroki Santo Yohanes Rasul Pringwulun Yogyakarta, Keuskupan Ruteng, Indonesia. Kisah Para Rasul 16: 22-34; Kisah Para Rasul 138: 1-2a.2b-3.7c-8; Yohanes 16: 5-11 INJIL BAGI KELUARGA Renungan kita pada hari ini bertema: Injil Bagi Keluarga. Ketika Yesus menyampaikan pengajaran dan nasihat kepada para rasul dan murid sebelum kenaikan-Nya ke surga, salah satu penegasannya ialah supaya semua kawanan domba-Nya bersatu. Keluarga merupakan satu bentuk persekutuan yang paling dasar. Mereka semua yang membentuk satu keluarga menandakan dirinya sebagai orang-orang Kristen dan Injil Yesus Kristus adalah ajaran utama untuk hidup mereka tiap saat. Secara konkret, ketika Santo Paulus dan rekan-rekannya menyebarkan Injil ke wilayah-wilayah yang dianggap kafir, misalnya di kota Filipi yang dihuni oleh orang-orang Romawi perantau, penekanan bahwa Injil sebagai kitab bagi keluarga ditegaskan kembali. Kita bisa memastikan bahwa kalau Injil itu menjadi sarana iman yang utama bagi keluarga, setiap anggotanya mesti dapat dijangkau dan dilibatkan. Sebaliknya, belum tentu seluruh keluarga mendapatkan siraman kekuatan Injil ketika hanya seorang atau beberapa anggotanya yang dipenuhi kuasa Injil. Kejadian terbebasnya Paulus dan Silas dari belenggu penjara secara ajaib, lalu kepala penjara yang bertobat yang disusul dengan seluruh keluarganya dibaptis dalam nama Yesus Kristus, adalah suatu peristiwa yang menggambarkan kuasa Injil bagi segenap keluarga. Inspirasi peristiwa ini perlu mencapai diri kita masing-masing pada saat ini untuk dapat termotivasi terkait dengan kuasa Injil bagi keluarga dan komunitas tempat kita berada. Injil bagi keluarga-keluarga merupakan sebuah tantangan pembelajaran dan evangelisasi pada saat ini. Keluarga yang berdevosi dan terlibat secara aktif dalam sakramen-sakramen Gereja tetap sebagai aspek yang begitu penting bagi para pengikut Kristus. Tetapi aspek ini belum cukup untuk menjadikan keluarga-keluarga kita menjadi penganut Kristen sejati. Untuk ikut membantu terwujudnya hidup Kristen yang sejati, salah satu bagian pertumbuhan iman yang penting diupayakan ialah penginjilan keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas kita. Konkretnya, keluarga dan komunitas perlu memberikan satu prioritas hidup rohaninya pada sabda Tuhan. Kegiatan nyata yang dapat secara rutin dilakukan di dalam keluarga atau komunitas kita ialah pembacaan dan pembelajaran kitab suci yang diakukan secara bersama-sama. Kita tidak usah berandai-andai nanti jadinya seperti apa pembacaan dan pembelajaran kitab suci itu. Tuhan Yesus menjamin untuk memberikan jalannya kepada kita. Jaminan itu ialah Roh Kudus, Roh Penghibur, yang akan menerangi dan menginsafkan kita. Roh Kudus selalu ada dan bersedia, tinggal saja keluarga dan komunitas kita menetapkan bersama niatnya dan mewujudkannya. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah maha kuasa, kuatkanlah kami dalam mewujudkan Injil bagi keluarga dan komunitas kami. Bapa kami yang ada di surga... Dalam nama Bapa... --- Send in a voice message: https://podcasters.spotify.com/pod/show/media-la-porta/message
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Tarsisius Tarsan dan Ni Made Sumirati dari Komunitas Pukat Labuan Bajo, Keuskupan Ruteng, Indonesia. Kisah Para Rasul 11: 19-26; Mazmur tg 87: 1-3.4-5.6-7; Yohanes 10: 22-30 NAMA ITU ADALAH KRISTEN Renungan kita pada hari ini bertema: Nama Itu Adalah Kristen. Kita sedang menyebut sebuah nama yang sangat universal yang menjadi identifikasi setiap pengikut Kristus. Nama Kristen ini punya cakupan baik untuk pribadi maupun himpunan jemaat yang mengikuti dan percaya kepada Kristus. Identifikasi diri dengan pribadi Yesus Kristus terkait dengan nama, jelas sangat menyatu dengan pribadi Yesus Kristus. Hal ini tepat dengan penegasan Yesus yang disampaikan berulang kali bahwa Ia tinggal di dalam diri orang-orang yang mendengar dan menerima Dia, serta yang melaksanakan perintah-perintah-Nya. Secara historis dikatakan oleh Kisah Para Rasul bahwa pertama kali nama “Kristen” dipakai ialah pada masa penyebaran Injil setelah kebangkitan Kristus; di tengah ramainya pengejaran dan penganiayaan Gereja Perdana oleh orang-orang militan Yahudi di satu pihak, dan semangat misionaris Gereja untuk menjangkau wilayah-wilayah non Yahudi di lain pihak. Sejauh negara modern seperti Turki, Lebanon, Irak, dan Iran dari Yerusalem di Palestina, wilayah-wilayah itu dijangkau oleh para rasul dan murid Yesus meski daerah-daerah tersebut memang dikenal sebagai wilayahnya orang-orang kafir. Kota besar masa itu, Antiokia di wilayah Turki sekarang, menerima iman. Banyak orang memilih untuk mengikuti Kristus. Gereja tumbuh begitu dinamis di bawah pemimpin handal Barnabas yang dilengkapi oleh rasul Paulus yang karismatik. Gereja masih bertumbuh dan dikenal baru oleh berbagai kelompok lain yang dominan dengan kultur Romawi dan Yunani. Meski kecil dan baru, kehadiran dan pengaruhnya sangat menarik perhatian hanya karena yang menjadi isi pewartaannya ialah pribadi Yesus Kristus yang sudah menjadi tenar. Sebagai pembeda dan menjadi identitas Gereja ini, untuk pertama kalinya persekutuan para pengikut Kristus itu diberi nama Kristen (Kisah Para Rasul 11,26). Nama Kristen segera menyebar menjangkau wilayah yang luas sekaligus tercatat melekat pada diri setiap pengikut Kristus. Orang-orang dengan gampang membuat asosiasi diri: saya Kristen, Anda Kristen, dia Kristen, kami Kristen, kita Kristen, kalian Kristen, dan mereka Kristen. Asosiasi dan identifikasi itu berlaku hingga sekarang. Hal ini menggambarkan suatu perwujudan prinsip persekutuan diri kita masing-masing dan Gereja dengan Kristus. Jika tidak ada persekutuan itu dan tidak ada Yesus Kristus sebagai sumber utama pemersatu, tentu saja tidak mungkin muncul nama “Kristen”. Dasar persekutuan ini sebenarnya ialah ajaran Yesus Kristus dalam Injil hari ini, yaitu bahwa Ia dan Bapa adalah satu. Dengan nama “Kristen” itulah, kita semua disatukan sebagai anak-anak Bapa dan Dia adalah Bapa kita. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Allah maha kuasa, peliharalah selalu persekutuan kami dengan Yesus Kristus sebagai kepala dalam persekutuan dengan Roh Kudus-Mu. Kemuliaan kepada Bapa ... Dalam nama Bapa ... --- Send in a voice message: https://podcasters.spotify.com/pod/show/media-la-porta/message
Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 29 Maret 2024 Bacaan: "Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus." (Markus 15:21) Renungan: Kita tidak tahu mengapa Simon yang dipilih membantu mengangkat salib Tuhan Yesus, yang jelas Simon dipaksa untuk tugas itu. Hal itu secara tegas dinyatakan dalam Injil Matius dan Injil Markus, "Orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus." Biasanya orang yang akan disalibkan itulah yang akan memikul salibnya menuju tempat penyaliban. Tetapi saat itu, Tuhan Yesus rupanya sudah sangat kelelahan untuk mengangkat salib-Nya, diduga karena la telah banyak disesah serta banyak mengeluarkan darah dari luka-luka cambukan-Nya dan dari kepala-Nya yang dimahkotai duri. Karena itu, prajurit-prajurit Roma "memaksa" Simon, yang sedang melintas atau sedang berada di tengah orang banyak yang menyaksikan rombongan penyaliban itu, untuk membantu Tuhan Yesus dalam memikul salib-Nya. Pada masa itu, prajurit-prajurit Roma memang punya otoritas untuk memaksakan kehendak mereka kepada rakyat. Dan seseorang yang mereka paksa tidak punya kuasa untuk menolaknya. Mereka tidak punya pilihan selain menaatinya. Demikian juga dengan Simon, ketika ia diminta untuk membantu mengangkat salib Tuhan Yesus, ia tidak punya kuasa untuk menolak perintah prajurit Romawi itu. Bukan saja tugas itu datang dengan mendadak, tetapi juga datang dengan paksaan! Mungkin saja saat itu Simon tidak bersedia untuk membantu mengangkat salib Tuhan Yesus, sebab dengan mengangkat salib, berarti ia diidentikkan dengan penjahat, seolah-olah ia seorang yang jahat! Apalagi dengan dikerumuni dan disoraki oleh banyak orang, tentu akan menimbulkan rasa malu di dalam dirinya. Namun demikian, karena paksaan tentara Roma, Simon pun mengangkat salib itu. Ia hanya bisa pasrah menerimanya, sekalipun mungkin dengan omelan, ocehan, bahkan umpatan. Pengalaman Simon mengingatkan kita akan ajaran Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya. Dalam Khotbah di Bukit, beliau bersabda, “Dan barangsiapa memaksa kamu berjalan satu mil, berjalanlah bersamanya dua mil.” (Mat 5:41). Di sini Simon dari Kirene telah melakukan perintah Tuhan Yesus, walaupun tentu saja dia tidak mengetahui ajaran-Nya. Dia harus bersedia melakukan sesuatu yang dipaksakan oleh orang lain. Jika kita harus menerima perlakuan yang tidak adil menurut dunia, kita harus belajar menerimanya. Kadang kala dunia ini "memaksa" kita untuk melakukan apa yang tidak kita sukai, memberi apa yang tidak ingin kita beri. Tetapi sebagai murid Kristus, kita harus belajar menerimanya serta meminta hikmat dan kekuatan-Nya untuk melakukannya, jika memang itu tidak bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, ketika aku diperlakukan tidak adil dalam hidup ini, mampukan aku menerimanya. Aku tahu ada rencana-Mu dibalik itu semua. Amin. (Dod).
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Nancy Phanasta dan Naydeline Muliano dari Komunitas Pukat Labuan Bajo, Keuskupan Ruteng, Indonesia. Yesaya 50: 4-9a; Mazmur tg 69: 8-10.21bcd-22.31.33-34; Matius 26: 14-25 TANTANGAN YUDAS ISKARIOT Tema renungan kita pada hari ini ialah: Tantangan Yudas Iskariot. Salah satu dari 12 rasul Yesus yang mati lebih dahulu ini bernasib sangat tragis dan amat memalukan. Kita katakan begini untuk membedakan nasib tragis yang dialami hampir semua rasul lainnya yang kemudian hari, ketika mereka mati tragis sebagai martir Gereja. Yudas mati sungguh tragis dan sangat tidak bermartabat. Kisah itu terjadi lebih dari 2000 tahun lalu, persisnya pada saat hukuman mati dijatuhkan kepada Yesus melalui pengadilan yang tidak adil. Kita yang mengenang peristiwa ini khususnya dalam setiap tahun sekitar hari-hari pekan suci, memandangnya sebagai pelajaran yang kaya dengan nilai-nilainya. Semua pelajaran itu merupakan tantangan Yudas Iskariot yang perlu kita hadapi sebagai bagian dari pembentukan iman kita kepada Kristus dalam setiap saat hidup kita. Tantangan Yudas yang paling menonjol bagi kita saat ini ialah cinta akan materi. Gaya hidup yang bertumpu hanya pada materi, atau hidup hanya diukur oleh materi seperti uang dan harta benda, lazim kita kenal dengan sebutan materialisme. Dari gaya ini datang aneka kejahatan seperti pencurian, korupsi, diskriminasi, perang, dan terorisme. Kita sebagai pengikut Kristus yang baik, tentu saja tidak ingin bernasib seperti Yudas, hanya karena berjuang untuk materi orang akhirnya menemukan kehampaan dalam hidupnya sendiri. Tantangan politisasi agama merupakan aspek yang lumayan penting bagi kita. Baik Yudas dan para rasul lainnya maupun para pemuka Yahudi rupanya punya kepentingan politik. Mereka ingin supaya ada Mesias yang hadir bagi mereka. Dengan bantuan Mesias mereka harus dibebaskan dari penjajah Romawi. Tetapi mereka salah paham dan mati langkah. Yesus bukan untuk mereka. Di dalam kehidupan bermasyarakat di negeri kita, tantangan besar kita ialah menghindari politisasi agama. Jangan ada pengaruh politik masuk di dalamnya, demikian juga jangan pernah hidup beriman memakai cara berpolitik yang memecah belah. Tantangan lain yang dapat kita tandai dari peristiwa tipu muslihat dan kesesatan yang dimainkan oleh Yudas ialah kemunafikan. Siasatnya ialah memeluk Yesus, mencium-Nya, lalu mengirim pesan kepada para algojo dan orang-orang Yahudi untuk menangkap Yesus. Betapa ini merupakan cara-cara kemunafikan oleh siapa pun di antara kita yang menjual teman, saudara, kerabat, tetangga, kampung halaman, agama, bangsa dan tanah air sendiri. Motivasi apa pun itu yang senantiasa sangat duniawi, gampang membuat seseorang menyangkal yang seharusnya ia lindungi dan hormati. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Yesus Kristus, terangilah kami selalu untuk menghindari sikap Yudas di dalam diri kami sehingga kami dapat hidup suci seperti diri-Mu. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ... --- Send in a voice message: https://podcasters.spotify.com/pod/show/media-la-porta/message
Kencan Dengan Tuhan - Selasa, 26 Maret 2024 Bacaan: "Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus." (Markus 15:21) Renungan: Ketika Simon daei Kirene dalam perjalanan pulang ke Yerusalem dari luar kota, ternyata ia bertemu dengan arak-arakan penyaliban Tuhan Yesus. Dalam Injil Matius dikatakan bahwa arak-arakan penyaliban Tuhan Yesus berjumpa dengan Simon orang Kirene. Sedangkan dalam Injil Markus dikatakan bahwa ketika arak-arakan penyaliban Tuhan Yesus datang, Simon sedang lewat. Hal ini menunjukkan sebuah kejadian yang kebetulan. Tetapi sangat mungkin Simon sempat berhenti untuk menyaksikan kejadian tersebut sehingga dia dicegat oleh para prajurit Romawi. Proses penyaliban, mulai dari perjalanan dari tempat hukuman dijatuhkan sampai tiba di tempat penyaliban, hingga penyaliban itu sendiri, biasanya diikuti oleh sejumlah besar orang. Karena penyaliban seperti ini diikuti oleh banyak orang di sepanjang perjalanan, maka hal ini pastilah menyita perhatian orang banyak di tempat-tempat yang dilalui oleh rombongan tersebut. Apalagi orang-orang yang mengikuti rombongan penyaliban seperti ini biasanya disertai dengan teriakan-teriakan dari orang banyak, baik mereka yang setuju dengan penyaliban, karena orang yang akan disalibkan dianggap sebagai penjahat besar, maupun mereka yang tidak setuju, karena orang tersebut dianggap tidak bersalah. Hal seperti inilah yang dilihat oleh Simon. Tentu hal itu menarik perhatiannya, sehingga mungkin ia berhenti sejenak dalam perjalanannya untuk melihat kerumunan orang yang menyaksikan arak-arakan penyaliban Tuhan Yesus. Namun, ketika ia ingin melihat lebih dekat peristiwa itu, secara tiba-tiba prajurit Romawi datang dan menyuruhnya untuk membantu memikul salib Tuhan Yesus. Simon mendapat tugas secara mendadak, secara tiba-tiba, tanpa diduga! Simon pasti kaget saat itu. Hal ini sangat beralasan, sebab biasanya orang yang akan disalibkan itulah yang akan memikul salibnya. Sangat jarang terjadi orang lain yang disuruh untuk mengangkat salib orang yang akan disalibkan. Lagipula, kalaupun salah satu dari para penonton dipilih untuk membantu mengangkat salib Tuhan Yesus, mengapa harus Simon? Dia baru saja ada di tempat itu dan mungkin hanya sebentar saja berhenti untuk menyaksikannya. Mengapa bukan orang lain, salah satu dari orang banyak yang mengikuti proses penyaliban itu? Namun inilah faktanya, Simonlah yang disuruh prajurit Romawi untuk membantu mengangkat salib Tuhan Yesus dan Simon melakukannya dengan baik. Kadangkala banyak hal yang terjadi secara tiba-tiba dalam hidup kita, yang tidak kita duga-duga sebelumnya. Apakah itu tugas mendadak dari kantor, tugas mendadak dari sekolah, bahkan "tugas" mendadak untuk menolong orang lain yang membutuhkan pertolongan. Kita harus siap untuk itu. Namun, yang terutama lagi adalah ketika kita mendapat "tugas mendadak" dari Tuhan sendiri untuk sebuah pelayanan baik di dalam gereja, komunitas maupun masyarakat. Kita harus siap sedia setiap saat untuk melaksanakan tugas pelayanan-Nya tersebut. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, lepaskanlah keegoisan dalam diriku dan gantilah dengan hati yang penuh belas kasih dan siap untuk menjalankan tugas pelayanan yang Kau berikan padaku. Amin. (Dod).
Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 9 Februari 2024 Bacaan: "Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Lukas 18:14) Renungan: Dalam perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai yang berdoa di bait Allah, dapat kita ketahui bahwa di situ ada dua karakter yang begitu jauh berseberangan satu sama lain. Yang pertama adalah orang Farisi. Orang Farisi adalah orang yang dianggap pandai, suci, dan begitu terpandang di masyarakat. Mereka mengetahui seluruh hukum Taurat dan memiliki kehidupan beragama yang saleh. Berbeda dengan pemungut cukai. Ia adalah orang yang memungut pajak bagi orang Israel. Mereka dianggap sebagai "antek" bangsa Romawi yang menjajah mereka. Mereka selalu memungut pajak yang jauh lebih tinggi dari yang seharusnya. Pemungut cukai begitu dibenci dan dipandang sebagai sampah masyarakat. Namun keadaan yang tampak luar itu ternyata tidak menjamin karakter mereka yang sesungguhnya. Ketika mereka sedang berdoa di Bait Allah, orang Farisi merasa benar di hadapan Allah dan memandang rendah pemungut cukai itu dengan mengatakan bahwa dia bukanlah orang jahat, bukan perampok, bukan pezinah, rajin berpuasa dua kali seminggu, memberikan perpuluhan dan dia juga merasa bahwa dia bukanlah orang seperti pemungut cukai itu. Berbeda dengan pemungut cukai. Ia duduk dibelakang dan mengatakan, "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini." Kebanyakan orang cenderung bersikap seperti orang Farisi tersebut. Hanya karena mereka rajin beribadah dan melakukan kewajiban-kewajiban agama dan sekadar tidak berbuat jahat, mereka merasa bahwa mereka sudah hidup dengan benar dan dibenarkan di hadapan Tuhan. Padahal kenyataannya belum tentu demikian. Mereka memandang rendah orang lain yang mungkin tidak seperti dirinya. Mereka menjadi sombong karena merasa lebih baik. Padahal tanpa mereka sadari, cepat atau lambat, sikap sombong itulah yang membuat mereka jatuh ke jurang yang dalam. Allah ingin kita selalu menjadi orang yang rendah hati di hadapan-Nya. Jangan merasa diri benar hanya karena kita telah melakukan kewajiban-kewajiban "agamawi" di hadapan Tuhan karena Tuhan tidak menghendaki kita seperti itu. Tuhan ingin kita lebih dari orang-orang Farisi agar kita boleh masuk dalam Kerjaan-Nya. Tuhan ingin kita merendahkan diri kita di hadapan-Nya, sebab Dia sendirilah yang akan mengangkat kita ke tempat yang tinggi. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, ampunilah aku karena aku sering menganggap diriku lebih baik dari orang lain dan merendahkan mereka. Lepaskan aku dari dosa kesombongan ini ya Tuhan, dan gantilah dengan rahmat kerendahan hati-Mu sendiri. Amin. (Dod).
Kencan Dengan Tuhan - Senin, 29 Januari 2024 Bacaan: "Ketika masa tujuh hari itu sudah hampir berakhir, orang-orang Yahudi yang datang dari Asia, melihat Paulus di dalam Bait Allah, lalu mereka menghasut rakyat dan menangkap dia..." (Kis 21:27) Renungan: Ketidaksukaan seseorang kepada sesamanya sering diwujudkan dalam bentuk ujaran kebencian dan hasutan. Hal itu dapat kita lihat contohnya dalam kolom komentar yang terdapat di akun- akun media sosial. Memang, ujaran kebencian bukanlah hal baru atau hanya terjadi di zaman sekarang ini saja, melainkan sudah ada sejak zaman penulisan Alkitab. Contohnya adalah ujaran kebencian orang-orang Yahudi yang datang dari Asia kepada Paulus. Ujaran kebencian kepada Paulus itu, didasari oleh ketidaksukaan orang-orang Yahudi kepada Paulus yang dianggap telah menentang Taurat. Segala bentuk fitnah dilontarkan kepada Paulus. Berbagai hasutan diteriakkan agar semakin banyak orang yang membenci Paulus. Ujaran kebencian dan hasutan yang menyerang identitas, dan dilakukan dengan tujuan untuk menjatuhkan adalah bentuk kekerasan verbal. Namun, pada akhirnya, kekerasan verbal ini dapat memicu kekerasan fisik. Itulah yang terjadi pada Paulus, ia mengalami kekerasan verbal sekaligus kekerasan fisik sehingga ia harus digotong oleh prajurit Romawi. Sebagai pengikut Kristus, kita perlu mengendalikan ucapan kita. Segala ucapan yang keluar dari mulut kita, hendaknya bukan didasari oleh kebencian, melainkan kasih. Efesus 4:29 mengingatkan kita, "Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia." Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, kendalikanlah mulutku, agar apa yang kukatakan bukan menjatuhkan seseorang tetapi untuk memberikan kekuatan, semangat dan kebenaran-Mu. Amin. (Dod).
To be successful in her/his posting, a diplomat needs to be aware of the local conditions and culture in the country where he is serving. - Agar berhasil dalam penugasannya, seorang diplomat perlu menyadari kondisi dan budaya setempat di negara tempatnya bertugas.
Katolik di Indonesia hanya punya satu ritus, yaitu Katolik Roma; ritusnya Romawi alias Latin, yaitu Ritus Barat. Padahal, Katolik sedunia tak hanya Katolik Roma. Ada Katolik Timur dengan bermacam-macam ritus. Apa bedanya dengan Katolik Roma? --- Send in a voice message: https://podcasters.spotify.com/pod/show/katkit/message
*Keluar Dari Jeratan Setan* Efesus 2:2 Galatia 5:20 Efesus 4:14 Roma 12:21 Di bumi ini ada pribadi yang selalu mengganggu dan merusak kehidupan manusia yaitu roh-roh setan. Pengaruh roh-roh setan dapat mengontrol manusia sehingga manusia tidak sadar dalam mengendalikan dirinya sendiri. Hal itu dapat dialami manusia karena manusia mengikuti otoritas setan. Itu berarti iblis dapat menjerat manusia sehingga tidak terlepas dari kuasanya dan menjadi budak setan. Sejak semula kita tahu bahwa iblis menjerat manusia dengan tipu dayanya sehingga manusia berbuat dosa. Terdapat 2 unsur terbesar yang dimanfaatkan oleh iblis untuk menjerat manusia: 1. Kebudayaan Kebudayaan merupakan ciptaan manusia, latar belakang kebudayaan yang menguasai dunia seperti kebudayaan Yunani kuno dan Romawi kuno memiliki kebudayaan sarkastis yakni menggunakan kekejaman (menyiksa bahkan membunuh) untuk menduduki kekuasaan. Itulah jerat setan kepada manusia karena setan / iblis adalah bapa pembunuh. Perkembangan sarkastik menuju silvistik yaitu mementingkan diri sendiri untuk menjadi kaya dengan cara yang salah seperti menjadi penipu, dsb juga merupakan jeratan setan karena setan adalah bapa pendusta. 2. llmu sosial Iblis pun bisa menggunakan oknum-oknum (orang-orang yang tidak menyembah Tuhan) untuk melakukan tipu daya / penipuan kepada orang-orang dengan jeratan kekayaan seperti prostitusi, menjual produk-produk palsu untuk merusak tubuh manusia bahkan menjauhkan manusia dari persekutuan Tuhan dengan karakter kecongkakan melalui media seperti barang-barang mewah, pakaian-pakaian yang mahal dan indah. Kita sebagai gereja tidak perlu mengikuti ajaran-ajaran humanistik dan ajaran lainnya yang menyesatkan melainkan kita perlu bersekutu kepada Tuhan Yesus dengan cara membaca firman Tuhan, berdoa, memuji dan menyembah Tuhan setiap waktu supaya kita dapat mengalahkan tipu daya si setan dan keluar dari jerat setan. Jika kita tidak bersekutu dengan Tuhan maka dengan mudah iblis menjerat kita dan timbullah penderitaan melalui sakit penyakit. Mari kalahkan tipu daya setan, kalahkan kejahatan dengan kebaikan, ingatlah bahwa kebaikan hanya bersumber dari Allah oleh sebab itu kita harus mengandalkan anugerah Allah untuk mendapat kebaikan dengan cara bersekutu kepada Allah.
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Albertus Novan dan Andi Situmorang dari Sekolah Saint Peter di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Roma 16: 3-9.16.22-27; Mazmur tg 145: 2-3.4-5.10-11; Lukas 16: 9-15 KEMURAHAN HATI Tema renungan kita pada hari ini ialah: Kemurahan Hati. Santo Martinus, Uskup dari Tours (Perancis) yang peringatannya pada hari ini dapat dinamai juga seorang Santo kemurahan hati. Terlahir dari orang tua yang belum mengenal Tuhan, bapanya seorang tentara Romawi dan pada masa mudanya Martinus sudah menjadi tentara. Pada usia 18 tahun ia dibaptis menjadi Katolik. Satu kisahnya yang terkenal ialah ketika sebagai tentara di daerah Gaul (sekarang Perancis), suatu saat kembali dari tugas ketentaraan sambil menunggang kudanya. Ia menemui seorang pengemis yang mati kedinginan. Tak punya apa-apa di tangan, tetapi yang ia punya hanya mantel ketentaraan yang melekat di tubuhnya. Ia memotong mantel menjadi dua, setengahnya itu dipakaikan kepada pengemis itu. Sampai di gereja ia berdoa dan dalam penglihatan ia temukan Yesus yang memakai setengah mantelnya tadi. Selanjutnya Martin meninggalkan dunia ketentaraan lalu masuk pertapaan dan menjadi rabib Benediktin, kemudian diangkat menjadi Uskup di Tours. Sejalan dengan tindakan Santo Martinus, Santo Ambrosius dari kota Milan pernah dalam kotbahnya mengatakan: perut-perut orang miskin, rumah-rumah para janda, mulut-mulut anak-anak merupakan gudang harta yang bertahan sampai selama-lamanya. Menolong mereka adalah harta yang menjamin kehidupan kita di surga. Allah akan melimpahi mereka yang memberikan dengan kemurahan hati orang-orang yang berkekurangan. Bacaan Injil hari ini membandingkan antara kemurahan hati dan yang bukan. Lawan kemurahan hati ialah kerakusan dan pelit, yaitu kepentingan berlebihan demi kenyamanan dan keuntungan sendiri. Jika kerakusan dan kepelitan ini dihilangkan, orang baru dapat menjalani kemurahan hati karena apa yang ia miliki entah materi entah rohani diperuntukkan bagi sesamanya. Mengikuti Kristus dan Martinus yang murah hati, kita tak perlu kuatir dengan berbuat murah hati yang sesungguhnya yang tidak akan membuat kita berkekurangan, sebaliknya memperkayai kita seratus kali lipat. Kemurahan hati memperbesar dan mempelebar jiwa kita, sementara kepelitan dan kerakusan mengkerdilkan. Tanda orang-orang yang besar hatinya ialah mereka memiliki banyak teman dan dijadikan teman oleh banyak orang tanpa ada batas-batas status sosial. Suka cita dan duka cita dirasakan bersama-sama. Tanda yang lain ialah bahwa harta utama mereka ialah sesama manusia entah teman, kenalan dan sahabat. Benda dan materi bukan utama. Mereka sungguh menyatu dan hidup bersama para sahabat dan sesamanya itu. Apalagi kalau kebersamaan itu atas nama Allah, di situ Tuhan sungguh hadir di dalam mereka. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Bapa yang maha murah, dari penyelenggaraan-Mu kami memiliki hidup dan mengisinya dengan berbagi satu sama lain, dan diminta selalu untuk memperhatikan sesama kami yang berkekurangan. Perkuatkan kami selalu untuk mewujudkan saling berbagi ini. Bapa kami yang ada di surga ... Dalam nama Bapa ... --- Send in a voice message: https://podcasters.spotify.com/pod/show/media-la-porta/message
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Laurentius J. Yonatan dari Paroki Santa Maria Imakulata Slawi di Keuskupan Purwokerto, Indonesia. Efesus 2: 19-22; Mazmur tg 19: 2-3.4-5; Lukas 6: 12-19 PERANG MELAWAN TEROR Renungan kita pada hari ini bertema: Perang Melawan Teror. Kejahatan dan kekerasan kelompok teroris masih tetap aktif di dunia. Meskipun perang dari semua negara di dunia untuk menghilangkan gerakan ini dilakukan dengan sangat terorganisir, kaum teroris tetap sebagai ancaman serius bagi semua umat manusia. Mereka menyiapkan diri secara tersembunyi namun sangat profesional, lalu pada saat yang tepat mereka akan melancarkan terornya itu. Gereja kita wajib berperang melawan terorisme saat ini dengan kekuatan rohani yang masif, yang dilakukan oleh seluruh umat manusia. Gereja melakukan ini bersama Yesus. Ia telah melakukan itu dalam pelayanan publik-Nya di dunia. Pada satu peristiwa khusus Ia memilih Simon orang Zelot dan Yudas, bersama kesepuluh rasul lainnya untuk membentuk sebuah pasukan inti. Pada hari ini seluru Gereja merayakan pesta rasul Simon dan Yudas. Kata “Zelot” mengandung arti teroris. Simon ini berasal dari kaum pemberontak yang melawan penjajah Romawi yang bernama kaum Zelot yang dalam bahasa Yahudi Kana'im, yaitu pencemburu dari Allah. Mereka tak mau Allah mereka diganggu kelompok lain. Mengapa Yesus ingin percayakan martabat perutusan-Nya kepada para teroris seperti Simon ini? Tuhan Yesus tentu sudah mengetahui bahwa di dunia ini para musuh yang militan yang melawan kebenaran, harus dapat dikalahkan dengan pasukan rohani yang juga sangat kuat dan profesional. Sebelum bertemu Yesus, Santo Paulus sering bertindak seperti seorang teroris. Menurut Kisah Para Rasul ia mengejar, menangkap dan memasukkan ke penjara pria dan wanita pengikut Kristus. Dia bahkan mengatakan begini: Saya sungguh bertindak liar dengan terbakar oleh kemarahan terhadap orang-orang Kristen, yang saya kejar bahkan sampai ke kota-kota di tanah asing (Kis 26,11). Kelompok-kelompok yang menebar teror saat ini masih terus mendatangkan ketakutan di seluruh dunia. Yakinkah kita kalau Yesus mampu mengubah hati para teroris yang paling keras? Yesus mengubah Santo Simon dan Santo Paulus, dan sampai detik ini Ia tetap sama sebagai Tuhan yang dapat mengubah hati para teroris. Mereka tidak hanya diubah hati dan arah hidupnya, bahkan mereka dijadikan dasar bangunan Gereja, kediaman Allah dan rumah orang-orang beriman. Santo Simon, Yudas dan Paulus kini adalah para jenderal dalam Kerajaan Allah, dalam melindungi Gereja kita. Yesus mengatasi para teroris dengan kasih. Kita semua memakai kasih yang sama untuk mengatasi teror-teror kejahatan dan kegelapan di dalam kehidupan bersama kita. Tetapi kita harus bersama Kristus. Kita memakai kuasa-Nya, Sabda-Nya dan kasih-Nya. Tanpa dengan Dia, kita tak akan mampu. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Yesus guru yang baik dan bijaksana, jadikanlah kami serdadu-serdadu-Mu untuk berani dan berkorban mengalahkan kejahatan yang mengancam Gereja-Mu. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus ... Dalam nama Bapa ... --- Send in a voice message: https://podcasters.spotify.com/pod/show/media-la-porta/message
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Pastor Peter Tukan, SDB dari Komunitas Salesian Don Bosco Gerak Boleng di Labuan Bajo, Keuskupan Ruteng, Indonesia. Roma 1: 1-7; Mazmur tg 98: 1-2-3ab.3cd-4; Lukas 11: 29-32 JUJUR TERHADAP DIRI SENDIRI Tema renungan kita pada hari ini ialah: Jujur Terhadap Diri Sendiri. Kota Roma dan sejarah kunonya bagaikan emas yang bikin orang tak bosan memujinya. Salah satu tandanya ialah jejak-jejak kedua rasul agung, Petrus dan Paulus. Mereka berasal dari Israel yang berhasil membaptis kota yang tak percaya kepada Yesus Kristus menjadi percaya. Mereka wafat di kota Roma sebagai martir dan darah mereka telah menyuburkan Gereja Katolik. Khusus bagi Santo Paulus, kedekatannya dengan umat di Roma terungkap dalam surat yang ia tulis. Orang-orang Roma yang baru memeluk agama Kristen dan di bawah ancaman penganiayaan penguasa dan para musuh Gereja, ia dampingi, hibur dan perkuat. Rasul ini berusaha untuk jujur dengan diri sendiri. Benar bahwa ia bukan Romawi tetapi Yahudi, namun status ini menjadi tidak tampak lagi ketika ia kenakan Yesus Kristus. Ia jujur menyebut dirinya rasul yang benar. Perubahan status ini ingin dipertegas bersama orang-orang Roma, supaya mereka juga menjadi yakin bahwa Yesus Kristus itu bukan suatu pilihan yang palsu dan sia-sia. Berkat adanya Yesus Kristus, baik Paulus maupun umat di Roma menjadi orang-orang yang dirahmati dengan karunia kasih yang sama dari Allah. Orang-orang Roma juga dipanggil menjadi orang-orang kudus. Ini yang diwartakan dalam bacaan pertama hari ini. Paulus pasti tidak karang-karang dengan kejujuran atas diri sendiri ini, karena ia sesungguhnya meniru Yesus Kristus, gurunya yang sejati. Banyak sekali contoh kejujuran Yesus atas diri-Nya yang ditunjuk di dalam kitab suci. Salah satunya ialah yang kita dengar kesaksian-Nya dalam Injil hari ini. Ia menegaskan bahwa tak perlu tanda-tanda lagi, tetapi kehadiran atau sosok diri-Nya sudah nyata. Dengan sendirinya tanda itu hilang. Kalau Yunus dan Salomo masih perlu tanda untuk membuat orang-orang percaya, Yesus yang melebihi kedua orang perjanjian lama itu bukan lagi sebagai tanda, tetapi pribadi sebenarnya yang dilambangkan oleh tanda-tanda itu. Di dalam kenyataan hidup kita, kejujuran terhadap diri sendiri sering sulit untuk direalisasikan. Salah satu alasannya yang utama ialah karena kita tidak rela kekurangan kita diketahui orang lain. Kita mau berada di hadapan orang lain tanpa kekurangan apa pun. Kita dengan sengaja berkata dan bertindak sedemikian supaya kekurangan atau kesalahan kita tersembunyi rapat-rapat. Ketidakjujuran ini bisa saja terungkap begini: semuanya hanya saya dan Tuhan yang tahu. Pokoknya saya harus tetap aman dan lancar dengan orang lain. Tapi pasti benar adanya. Tuhan yang maha tahu itu pada saat yang tepat akan membuka ketidakjujuran itu ke permukaan. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan Yesus Kritsus, biarlah kami selalu malu atas diri kami sendiri jika kami tidak jujur kepada diri kami sendiri. Jadikanlah kami jujur seperti diri-Mu sendiri. Kemuliaan kepada Bapa... Dalam nama Bapa... --- Send in a voice message: https://podcasters.spotify.com/pod/show/media-la-porta/message
La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Dibawakan oleh Suster Antona OSF dari Komunitas Alverna dan Suster Marietta OSF dari Komunitas St. Elizabeth Semarang di Keuskupan Agung Semarang, Indonesia. Efesus 4: 1-7.11-13; Mazmur tg 19: 2-3.4-5; Matius 9: 9-13 BIARKAN HATI YANG BERBICARA Renungan kita pada hari ini bertema: Biarkan Hati Yang Berbicara. Pada hari ini 21 September Gereja kita merayakan pesta Santo Matius, rasul dan pengarang Injil. Ia berasal dari Capernaum di sekitar danau Genesaret, anak Alfeus. Ia dikenal sebagai pemungut pajak romawi, satu pekerjaan yang dibenci oleh orang-orangnya sedaerah karena memihak kepada bangsa penjajah Romawi. Jelas ia dianggap pendosa berat. Tuhan Yesus dikritik keras karena menjadikan dia salah seorang murid-Nya. Tetapi Yesus beralasan bahwa tugas-Nya ialah sebagai penyembuh jiwa-jiwa yang berdosa. Matius juga dianggap sebagai penulis Injil Tuhan, dan menjadi rasul yang menginjili daerah Ethiopia. Proses Matius seorang pendosa yang paling dibenci orang-orang menjadi murid Yesus merupakan suatu gerakan hati yang dipenuhi oleh kuasa Allah. Tuhan Yesus memiliki hati yang penuh belas kasih dan Ia melihat dengan hati-Nya itu dalam memilih orang-orang yang menjadi partner dalam bekerja. Matius dalam profesinya sebagai pembantu penjajah Romawi untuk memungut pajak masyarakat, juga memiliki hati yang tulus dan terbuka kepada Tuhan yang menemui dan memilihnya. Karena itu ia tidak mau kehilangan kesempatan, tidak terikat atau bergantung pada pekerjaannya, akhirnya ia meninggalkan itu dan mengikuti sang Guru, Yesus Kristus. Kalau kita membiarkan hati yang mengerti, memilih dan berbicara, hasilnya adalah kebenaran. Tentu ini ada faktanya. Karena Tuhan berkenan tinggal di dalam hati nurani manusia untuk setiap kali memberikan nasihat bijak dan murni di kala kita mengambil keputusan. Pikiran sering berputar-putar dengan kemampuan rasionalisasi, imaginasi dan spekulasi misalnya untuk membela diri, kesombongan, mencari kambing hitam, dsb. Tetapi jika hati yang berpikir dan berbicara, terjadi seperti Samuel yang memilih Daud dari pada ke-7 saudaranya yang pertama, sehingga katanya: “Tuhan melihat di hati, dan bukan karena penampilannya”. Dalam menjalankan kekuasaannya, hati Daud seperti kompas yang selalu menunjuk persis ke arah utara, yaitu kepada Allah. Matius, meskipun pikiran sibuk tentang urusan pajak dan mendapatkan keuntungan dari pekerjaan itu, hatinya jelas rindu akan Tuhan. Dengan pekerjaannya itu, ia menyadari tak bisa masuk ke dalam sinagoga untuk mendengarkan firman Allah dan berdoa. Pas ketika bertemu Yesus, kedua hati mereka yang dipenuhi kuasa Allah langsung cocok atau terkait satu sama lain. Dua kata: “Ikutilah Aku” dari Yesus segera mengubah hidup Matius. Ia berkeputusan untuk mengikuti Yesus. Bagi kita, berbicara dengan hati merupakan kesempatan untuk berbagi tentang kebaikan, kebenaran dan penguatan panggilan hidup kita. Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa... Ya Tuhan Yesus Kristus, tinggallah selalu di dalam hati kami dan baharui hidup kami sesuai dengan kehendak-Mu. Salam Maria penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ... --- Send in a voice message: https://podcasters.spotify.com/pod/show/media-la-porta/message
Kamu orang yang mandi air hangat terus dan ga kuat mandi air dingin ga? Hidupnya udah keenakan nih haha. Kebiasaan mandi atau berenang di air dingin sudah kebiasaan dari zaman Romawi. There must be something kan? Semoga abis denger podcast ini, kamu mulai mandi air dingin supaya dapat manfaat kesehatannya! Kalau kamu mau jadi bagian movement podcast sehat seutuhnya (PSETUHNYA), kalian bisa support podcast ini di sini. Untuk yang mau konsultasi di Utuh Health di sini.
Saya membahas buku Letters from a Stoic karya Seneca. Buku ini membahas bagaimana cara menciptakan hidup yang bahagia berdasarkan filosofi masa lalu. Jika bicara Romawi kuno, kita mungkin merasa hal ini jauh di masa lalu dan tidak relevan lagi di jaman sekarang. Menariknya, buku ini yang berisi kumpulan surat dari Seneca, seorang filsuf jaman Romawi kuno ternyata masih relevan. Manusia tetaplah manusia, tidak peduli di jaman apa mereka hidup, mereka masih bertanya hal yang sama, tantangan hidup yang sama, harapan, dan juga mimpi. Seneca merupakan seorang filsuf terkenal di jaman hidupnya. Dia bahkan seringkali dikenal sebagai salah satu dari tiga filsuf stoik penting dalam sejarah. Sederhananya, stoikisme mengajarkan kita apabila kita memiliki fundamental dan batin yang kuat, maka kita bisa menerima dan bertahan setiap situasi yang muncul dalam hidup.
"Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan." (Roma 8:26) Renungan: Pernahkah kita mengalami keadaan tertekan seperti berada di penjara, kita terkekang seolah tidak bisa keluar dari situasi tersebut? Saat menghadapi keadaan seperti ini, Silas dan Paulus yang sedang terbelenggu di dalam penjara yang dikawal oleh tentara Romawi, malahan berdoa dan menaikkan puji pujian kepada Tuhan. Di dalam hati yang bersyukur dan terpaut dengan Tuhan itulah mereka mendapat sukacita serta kemenangan. Paulus yang sudah mengalami berbagai kesesakan dan selalu menang atas keadaan sukar itu, mengajar kita untuk bersukacita senantiasa. Ada seorang gadis yang mengalami kebenaran ajaran Paulus ini pada waktu ia mengalami kesesakan. Waktu itu ia merasa tidak sehat, tubuhnya demam, berbeban berat dan hatinya galau karena memikirkan tidak ada perubahan yang berarti dalam hidupnya. Hatinya bertanya mengapa Tuhan tidak juga mengangkat hidupnya ke tingkat yang ia impikan, padahal ia sudah belajar setia melayani Tuhan sejak remaja. Untuk mengalihkan perhatiannya dan mendapat sedikit kesenangan, ia main game di laptopnya. Sambil bermain dia menyanyikan lagu-lagu duniawi, namun ada suara di hati kecilnya yang berkata, "Mengapa engkau tidak menyanyikan lagu-lagu pujian? Ia menaati suara itu dan menyanyikan lagu, 'Ke manakah aku dapat pergi menjauhi Roh-Mu Tuhan. Ku berlari mendaki ke langit namun engkau ada di sana...." Ketika menyanyikan lagu itu tiba-tiba air matanya mengalir tiada henti lalu suara lembut tadi berbicara lagi, "Mengapa engkau tidak mematikan gamenya dan mengambil sikap berdoa?" Ia mengeraskan hati dan berkata, "Ah nanggung nih. Skornya lagi tinggi banget, belum pernah mencapai level setinggi ini." Tiba-tiba saja layar laptopnya yang tidak pernah bermasalah menjadi menghitam dan tanpa menunda lagi ia langsung mengambil sikap berdoa. Ia menyanyikan lagu yang sama berulang-ulang dan air matanya tidak bisa berhenti mengalir. Saat itu juga ia merasakan kelegaan. Semua keluh kesahnya Tuhan ganti dengan penghiburan dan pengharapan yang baru. Ia mengalami kebebasan ketika datang kepada Tuhan di dalam doa pujian dan penyembahan. Firman Tuhan mengatakan bahwa dia bertahta di atas puji-pujian umat-Nya (Mazmur 22:4). Paulus mengatakan bahwa Roh membantu kita berdoa dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. "Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan keluhan yang tidak terucapkan." (Roma 8:26). Ketika dalam masa kesesakan, datanglah kepada Tuhan dengan hati yang hancur, sampai kita tidak bisa berkata apapun, maka Roh Kudus akan membantu kita berdoa. Jika saat ini kita sedang berbeban berat hampirilah Tuhan dalam doa dan pujian, niscaya ada kemenangan yang akan kita dapatkan. Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, rasanya beban hidupku sangat berat dan aku tidak sanggup menanggungnya sendirian. Tolong berilah aku kelegaan dan kemenangan yang berasal dari padaMu. Amin. (Dod).
Tahun 161 Masehi menandai babak baru kekuasaan di Kekaisaran Romawi, tepatnya ketika Marcus Aurelius naik takhta. Kaisar yang dikenal juga sebagai salah satu filsuf Stoic ini sering disebut-sebut sebagai salah satu dari the Five Good Emperors. Pada 17 Maret tahun 180 Masehi, Marcus Aurelius meninggal di Sirmium, Provinsi Pannonia, setelah terlibat perang dengan orang-orang Germanic. Penyebab kematiannya masih simpang siur. Putranya, Commodus, yang masih berusia 17 tahun kemudian naik takhta menggantikan ayahnya. Mulailah Romawi masuk ke era perang saudara yang menandai awal dari kemunduran entitas kekuasaan tersebut. Inilah Risalah Jika Romawi Tidak Runtuh.
"Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." (Lukas 18:14) Renungan: Di dalam perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai yang berdoa di bait Allah, kita dapat melihat ada dua karakter yang begitu jauh berseberangan satu dengan yang lain. Yang pertama adalah orang Farisi. Orang Farisi adalah orang yang dianggap pandai, suci dan begitu terpandang di masyarakat. Mereka mengetahui seluruh isi hukum Taurat dan memiliki kehidupan beragama yang saleh. Berbeda dengan pemungut cukai. Pemungut cukai adalah orang yang memungut pajak bagi orang Israel. Mereka dianggap sebagai antek bangsa Romawi yang menjajah mereka. Mereka selalu memungut pajak jauh lebih tinggi dari yang seharusnya. Pemungut pajak begitu dibenci dan dipandang sebagai sampah masyarakat. Keadaan yang tampak luar itu ternyata tidak menjamin karakter mereka yang sesungguhnya. Ketika mereka sedang berdoa di Bait Allah, orang Farisi merasa benar dihadapan Allah dan memandang rendah pemungut cukai itu dengan mengatakan bahwa dia bukanlah orang jahat, bukan perampok, bukan pezina, rajin berpuasa dua kali seminggu, memberikan perpuluhan dan juga merasa bahwa dia bukanlah orang seperti pemungut cukai itu. Sedangkan pemungut cukai itu duduk di belakang dan mengatakan, "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini." Kebanyakan orang cenderung bersikap seperti orang Farisi tersebut. Hanya karena mereka rajin beribadah dan melakukan kewajiban-kewajiban agama dan tidak berbuat jahat, mereka merasa bahwa mereka sudah hidup dengan benar dan dibenarkan di hadapan Allah. Padahal kenyataannya belum tentu demikian. Mereka memandang rendah orang lain yang mungkin tidak seperti dirinya. Mereka menjadi sombong karena merasa lebih baik. Padahal tanpa mereka sadari, cepat atau lambat sikap sombong itulah yang membuat mereka jatuh. Allah ingin kita selalu menjadi orang yang rendah hati di hadapannya. Jangan merasa diri benar hanya karena telah melakukan kewajiban-kewajiban agama di hadapan Tuhan karena Tuhan tidak menghendaki hanya itu saja yang kita lakukan. Tuhan ingin kita jauh lebih baik dari orang Farisi tersebut agar kita boleh masuk dalam kerajaan-Nya. Tuhan ingin kita merendahkan diri di hadapan-Nya, sebab Dia sendirilah yang akan mengangkat kita ke tempat yang tinggi (1 Petrus 5:6). Tuhan Yesus memberkati. Doa: Tuhan Yesus, lepaskanlah kesombongan yang selama ini mengikat diriku, sehingga aku sering menganggap rendah orang lain. Jadikanlah aku pribadi yang rendah hati, seperti Engkau sendiri. Amin. (Dod).