Podcast appearances and mentions of Maria Magdalena

  • 510PODCASTS
  • 993EPISODES
  • 27mAVG DURATION
  • 5WEEKLY NEW EPISODES
  • Sep 18, 2026LATEST

POPULARITY

20192020202120222023202420252026

Categories



Best podcasts about Maria Magdalena

Show all podcasts related to maria magdalena

Latest podcast episodes about Maria Magdalena

Evangelium
"Gott nimmt uns mit all unseren Fehlern an" - Gespräch mit Pater Maximilian Krenn OSB

Evangelium

Play Episode Listen Later Sep 18, 2026 8:08


Am heutigen Freitag spricht Pater Maximilian Krenn über die Spannung zwischen menschlicher Schwäche und göttlicher Annahme. Er betont, dass sich zu blamieren für ihn eine heilsame Erfahrung war: "Es geht nicht um das Bild, das ich vor mir hertrage, sondern darum, wer ich wirklich bin – und dass Gott mich so annimmt." Benediktinische Freiheit bedeutet für ihn: "Nicht ausweichen müssen – weder vor anderen noch vor mir selbst oder Gott." Auch ein "Nein" kann aus Gewissen und Ehrlichkeit kommen.Im Evangelium zieht Jesus durch Städte und Dörfer und verkündet das Reich Gottes, begleitet von den zwölf Aposteln und Frauen wie Maria Magdalena, Johanna und Susanna, die ihn mit ihrem Vermögen unterstützen. Pater Maximilian erklärt: "Das Reich Gottes ist in Jesus selbst gegenwärtig – und wird erfahrbar, wenn wir uns um ihn versammeln, nicht um unsere eigenen Programme." Die Verwirklichung des Reiches geschieht durch lebendige Steine – Menschen, die an Gott glauben und in Gemeinschaft leben. "Unser Vermögen ist nicht nur materiell, sondern das, was wir selbst sind." Die Witwe in einem anderen Evangelium, die ihr Letztes gibt, zeigt: "Es geht darum, sich selbst zu schenken."Warum Gottes Reich uns alle braucht – und wie wir es im Alltag leben können, erfahrt ihr im Podcast!Aus dem Evangelium nach Lukas:In jener Zeit wanderte Jesus von Stadt zu Stadt und von Dorf zu Dorf und verkündete das Evangelium vom Reich Gottes. Die Zwölf begleiteten ihn und auch einige Frauen, die von bösen Geistern und von Krankheiten geheilt worden waren: Maria, genannt Magdalena, aus der sieben Dämonen ausgefahren waren, Johanna, die Frau des Chuzas, eines Beamten des Herodes, Susánna und viele andere. Sie unterstützten Jesus und die Jünger mit ihrem Vermögen (Lk 8,1-3)(© Ständige Kommission für die Herausgabe der gemeinsamen liturgischen Bücher im deutschen Sprachgebiet)

Renungan Anak GKY Mabes
Apakah Ada Kubur Yesus yang Lain? (19 September)

Renungan Anak GKY Mabes

Play Episode Listen Later Sep 18, 2026 3:51


Hai Wonder Kids, kembali dalam renungan anak GKY Mangga Besar. Judul renungan hari ini adalahApakah Ada Kubur Yesus yang Lain? Diambil dari: Yohanes 20:1 “Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur.”Wonder Kids, pada tahun 2007 pernah muncul sebuah film dokumenter berjudul The Lost Tomb of Jesus. Film itu mengatakan bahwa sebuah kubur kuno di daerah Talpiot, Yerusalem, mungkin merupakan kubur keluarga Yesus. Di dalamnya ditemukan beberapa kotak tulang dengan nama-nama seperti Yesus, Maria, Matius, Yusuf, dan Yudas.Wah, nama-nama itu terdengar mirip dengan tokoh-tokoh dalam Alkitab. Apakah itu berarti tubuh Yesus ditemukan di sana? Tidak. Nama-nama tersebut sangat umum pada zaman itu. Menemukan tulisan “Yesus anak Yusuf” tidak langsung membuktikan bahwa orang itu adalah Yesus dari Nazaret. Sama seperti sekarang ada banyak orang bernama Yohanes, Maria, atau Michael, tetapi mereka tentu bukan orang yang sama.Selain itu, film tersebut membuat banyak dugaan yang tidak mempunyai bukti kuat. Misalnya, mereka menduga bahwa Maria Magdalena adalah istri Yesus dan ada seorang anak bernama Yudas. Alkitab tidak pernah mengajarkan hal itu, dan tidak ada bukti sejarah yang dapat dipercaya untuk mendukungnya.Yang paling penting, para murid memberitakan bahwa kubur Yesus kosong dan mereka bertemu dengan Yesus yang telah bangkit. Kalau tubuh Yesus masih berada di sebuah kubur keluarga, musuh-musuh orang Kristen saat itu dapat dengan mudah menunjukkannya dan menghentikan berita kebangkitan. Namun, mereka tidak pernah berhasil melakukannya.Jadi, kita tidak perlu langsung percaya pada judul film atau berita yang terdengar mengejutkan. Kita perlu memeriksa bukti dengan teliti. Iman Kristen bukan dibangun di atas sensasi, tetapi pada kesaksian para saksi mata dan firman Tuhan yang dapat dipercaya.Wonder Kids, hari ini lakukan ini: Kalau kamu mendengar berita aneh tentang Yesus, jangan langsung percaya atau takut. Tanyakan kepada orang tua atau guru Sekolah Minggu dan periksalah apa yang Alkitab katakan.Mari kita berdoa: Tuhan Yesus, tolong aku tidak mudah dibingungkan oleh berita yang belum tentu benar. Berikan aku hikmat untuk memeriksa segala sesuatu berdasarkan firman-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa, Amin.Wonder Kids, ingatlah: nama-nama yang mirip di sebuah kubur tidak membuktikan bahwa tubuh Yesus ada di sana—Yesus sungguh bangkit dan hidup. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Anak GKY Mabes
Bukti Penampakan Yesus (18 September)

Renungan Anak GKY Mabes

Play Episode Listen Later Sep 17, 2026 3:19


Hai Wonder Kids, kembali dalam renungan anak GKY Mangga Besar. Judul renungan hari ini adalah Bukti Penampakan YesusDiambil dari: Yohanes 20:29 “Kata Yesus kepadanya: ‘Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.'”Wonder Kids, setelah mempelajari kubur yang kosong, kita perlu melihat bukti lain tentang kebangkitan Yesus, yaitu penampakan-Nya kepada banyak orang. Sesudah bangkit, Yesus memperlihatkan diri kepada Maria Magdalena, para murid, Tomas, dan banyak orang lainnya.Ada orang yang berkata, “Tetapi tidak ada seorang pun yang berada di dalam kubur dan melihat saat tubuh Yesus mulai hidup kembali.” Memang benar, Alkitab tidak menceritakan ada orang yang menyaksikan tepat pada detik Yesus bangkit. Namun, apakah itu berarti kebangkitan-Nya tidak dapat dipercaya? Tentu tidak.Coba bayangkan polisi menemukan sebuah rumah yang sudah dibobol. Tidak ada polisi yang melihat langsung ketika pencuri masuk. Namun, mereka dapat memeriksa pintu yang rusak, sidik jari, rekaman kamera, dan barang yang hilang. Dari berbagai bukti itu, mereka dapat mengetahui apa yang terjadi.Begitu juga dengan kebangkitan Yesus. Tidak ada orang yang melihat saat tubuh-Nya hidup kembali di dalam kubur. Namun, mereka menemukan batu sudah terguling, kubur sudah kosong, dan kain kafan tertinggal. Sesudah itu, banyak orang bertemu dengan Yesus yang hidup. Mereka berbicara dengan-Nya, menyentuh-Nya, bahkan makan bersama-Nya.Para murid yang sebelumnya takut dan bersembunyi juga berubah menjadi saksi yang berani. Mereka rela menghadapi penderitaan karena yakin bahwa Yesus benar-benar hidup. Bukti-bukti ini menolong kita menyimpulkan bahwa kebangkitan Yesus bukan cerita buatan.Wonder Kids, kita memang tidak melihat Yesus dengan mata seperti para murid. Namun, Tuhan memberikan kesaksian yang cukup supaya kita dapat percaya.Wonder Kids, hari ini lakukan ini: Tuliskan satu alasan mengapa kamu percaya bahwa Yesus sungguh bangkit, lalu ceritakan kepada seseorang.Mari kita berdoa: Tuhan Yesus, terima kasih untuk bukti-bukti kebangkitan-Mu. Tolong aku percaya kepada-Mu dan berani menceritakan bahwa Engkau hidup. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa, Amin.Wonder Kids, ingatlah: kita tidak melihat saat Yesus keluar dari kubur, tetapi kubur kosong dan penampakan-Nya membuktikan bahwa Dia sungguh bangkit. Tuhan Yesus memberkati.

Fazit - Kultur vom Tage - Deutschlandfunk Kultur
"Maria Magdalena - Sin. Pray. Love" - Ausstellung im Städel Museum Frankfurt/M.

Fazit - Kultur vom Tage - Deutschlandfunk Kultur

Play Episode Listen Later Sep 16, 2026 4:54


Reinhardt, Anja www.deutschlandfunkkultur.de, Fazit

Kultur heute Beiträge - Deutschlandfunk
"Maria Magdalena - Sin. Pray. Love." - Ausstellung im Städel Museum Frankfurt/M.

Kultur heute Beiträge - Deutschlandfunk

Play Episode Listen Later Sep 16, 2026 5:39


Reinhardt, Anja www.deutschlandfunk.de, Kultur heute

auf Sendung
Andacht vom 12.09.2026

auf Sendung

Play Episode Listen Later Sep 11, 2026 5:09


Hüte dich nur und bewahre deine Seele gut, dass du nicht vergisst, was deine Augen gesehen haben. 5.Mose 4,9 Maria Magdalena geht und verkündigt den Jüngern: »Ich habe den Herrn gesehen«, und was er zu ihr gesagt habe. Johannes 20,18 Autor: Hannemann

Bom dia alvorecer
Conselho para o dia 03/09/26

Bom dia alvorecer

Play Episode Listen Later Sep 3, 2026 4:42


A afirmação do dia é: Eu reconheço o meu poder de criar, confio nas ideias que despertam a minha alma e transformam a inspiração em movimento. A meditação do Portal Alvorecer indicada para hoje é: Encontro a Maria Magdalena. Os cristais de conexão do dia são: Fosfociderita e Apofilita. Links: Portal Alvorecer Gabi Rubi Store

Renungan Anak GKY Mabes
Dapatkah Para Saksi Dipercaya? (4 September)

Renungan Anak GKY Mabes

Play Episode Listen Later Sep 3, 2026 3:13


Hai Wonder Kids, kembali dalam renungan anak GKY Mangga Besar. Judul renungan hari ini adalah Dapatkah Para Saksi Dipercaya? Diambil dari: Matius 28:8 “Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus.”Wonder Kids, keempat Injil sepakat bahwa para perempuanlah yang pertama kali menemukan kubur Yesus sudah kosong. Mereka juga menjadi orang-orang pertama yang menyampaikan kabar bahwa Yesus telah bangkit.Apakah kesaksian mereka dapat dipercaya? Tentu saja. Namun, ada satu hal menarik. Pada zaman itu, kesaksian perempuan sering tidak dianggap penting oleh masyarakat. Kalau para penulis Injil hanya ingin membuat cerita palsu yang mudah dipercaya orang, mereka mungkin akan memilih tokoh laki-laki terkenal sebagai saksi pertama.Tetapi mereka tidak melakukan itu. Mereka tetap menulis apa yang sungguh terjadi: Maria Magdalena dan perempuan-perempuan lain datang ke kubur, menemukan kubur itu kosong, lalu menyampaikan kabar kebangkitan kepada para murid.Hal ini justru membuat catatan Injil semakin dapat dipercaya. Para penulis tidak mengubah cerita supaya terlihat lebih hebat atau lebih mudah diterima. Mereka dengan jujur mencatat apa yang terjadi, meskipun masyarakat pada waktu itu mungkin memandang rendah para saksi perempuan.Ini juga menunjukkan bahwa Tuhan menghargai setiap orang. Dunia mungkin menganggap seseorang kurang penting, tetapi Tuhan dapat memakai siapa saja untuk menyampaikan kabar besar. Para perempuan itu dipercaya Tuhan untuk menjadi pembawa berita pertama bahwa Yesus telah bangkit.Wonder Kids, hari ini lakukan ini: Jangan meremehkan seseorang karena penampilan, jenis kelamin, usia, atau kedudukannya. Belajarlah menghargai setiap orang seperti Tuhan menghargai mereka.Mari kita berdoa: Tuhan, terima kasih karena Engkau memakai para perempuan untuk menyampaikan kabar kebangkitan Yesus. Tolong aku untuk menghargai semua orang dan berani menyampaikan kebenaran tentang Yesus. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa, Amin.Wonder Kids, ingatlah: Tuhan dapat memakai siapa saja untuk menyampaikan kabar besar bahwa Yesus sungguh bangkit. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Anak GKY Mabes
Apakah Nama Para Perempuan Bertentangan? (2 September)

Renungan Anak GKY Mabes

Play Episode Listen Later Sep 1, 2026 4:36


Hai Wonder Kids, kembali dalam renungan anak GKY Mangga Besar. Judul renungan hari ini adalah Apakah Nama Para Perempuan Bertentangan? Diambil dari Lukas 24:1“Tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka.”Wonder Kids, pada pagi hari setelah hari Sabat, beberapa perempuan pergi ke kubur Yesus. Mereka membawa rempah-rempah yang sudah dipersiapkan untuk tubuh-Nya. Namun, ketika membaca keempat Injil, kita menemukan bahwa nama-nama perempuan yang dicatat tidak selalu sama.Matius menyebut Maria Magdalena dan Maria yang lain. Markus menyebut Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus, dan Salome. Lukas menyebut Maria Magdalena, Yohana, Maria ibu Yakobus, serta beberapa perempuan lainnya. Sementara itu, Yohanes lebih banyak menyoroti Maria Magdalena.Apakah ini berarti keempat Injil saling bertentangan? Tidak. Tidak ada satu pun penulis Injil yang berkata, “Hanya perempuan-perempuan inilah yang datang dan tidak ada orang lain.” Setiap penulis memilih beberapa nama yang dianggap penting bagi cerita yang sedang disampaikannya.Coba bayangkan beberapa anak pergi bersama-sama mengunjungi seorang teman. Seorang anak berkata, “Aku pergi bersama Andi.” Anak lainnya berkata, “Aku pergi bersama Andi, Budi, dan Citra.” Apakah anak pertama berbohong? Tentu tidak. Ia hanya tidak menyebutkan semua orang yang ikut pergi.Begitu juga dengan para perempuan yang datang ke kubur. Semua catatan itu dapat benar secara bersamaan. Maria Magdalena hadir, tetapi ia tidak sendirian. Para penulis Injil hanya menyoroti nama yang berbeda sesuai dengan tujuan penulisan mereka.Yang terutama, semua Injil sepakat pada satu kabar besar: para perempuan datang ke kubur pada pagi hari pertama dalam minggu dan menemukan kubur itu kosong. Yesus tidak ada di sana karena Dia sudah bangkit!Menariknya, pada zaman itu kesaksian perempuan sering kurang dihargai masyarakat. Namun, Tuhan justru memakai mereka sebagai saksi pertama kubur kosong. Tuhan menghargai dan memakai siapa saja yang setia kepada-Nya.Wonder Kids, hari ini lakukan ini: Ceritakan kepada seseorang bahwa perbedaan nama tidak mengubah kebenaran bahwa Yesus sungguh bangkit.Mari kita berdoa: Tuhan, tolong aku membaca firman-Mu dengan teliti dan tidak mudah bingung. Buat aku berani menyampaikan bahwa Yesus sungguh hidup. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa, Amin.Wonder Kids, ingatlah: nama-nama yang dicatat mungkin berbeda, tetapi kabar besarnya tetap sama—kubur Yesus kosong karena Dia sungguh bangkit. Tuhan Yesus memberkati.

Alvorspraten // Sennep-podden
#110 - Hvordan snakke med barn og unge om åndelig virkelighet? - Med Rune og Rita Ørnes

Alvorspraten // Sennep-podden

Play Episode Listen Later Sep 1, 2026 49:39


Hvis man setter seg ned med poden for å lese det nye testamentet, tar det ikke lang tid før vi kommer over mennesker som blir satt fri fra onde ånder – som mannen ved gravhulene og Maria Magdalena. Samtidig har historier fra kristne miljøer vist hvordan snakk om demonutdrivelse og åndelig kamp også kan skape frykt, særlig hos barn. Hvordan kan vi snakke om åndelig virkelighet på en sunn måte – uten å gjøre barn redde?

OBS
John Williams: Författaren som skrev tre perfekta romaner

OBS

Play Episode Listen Later Aug 29, 2026 10:20


John Williams stora genombrott kom långt efter att hans död. Men då blev det desto större. Mikael Timm reflekterar över storheten i hans romankonst i denna essä. Lyssna på alla avsnitt i Sveriges Radios app. ESSÄ: Detta är en text där skribenten reflekterar över ett ämne eller ett verk. Åsikter som uttrycks är skribentens egna. Essän sändes första gången 2019.Författaren John Williams skrev bara fyra romaner men åtminstone en av dem har kallats för ”den perfekta romanen”. Den heter Stoner och utkom 1965. Titeln är namnet på romanens huvudperson, en anspråkslös lärare i litteratur vid ett obetydligt universitet någonstans mellan den lärda östkusten och den vilda västkusten. Som nog alla läsare gissat finns det stora beröringsytor mellan huvudperson och författare – med ett par viktiga undantag: John Williams var inte anspråkslös, varken i klädsel eller debatter och heller inte utan framgång. Med tiden blev han något av en stjärna på Denvers universitet. Han var poet, tidskriftsredaktör och essäist – och flitig i alla yrkesroller på vad som kallades Västerns Harvard. Och så var han då romanförfattare. Stoner vann respekt bland kolleger men nådde inte många läsare. Augustus, 1972, belönades med ett ansett pris, National Book Award, men blev ändå bortglömd eftersom priset för första och enda gången delades mellan två böcker det året. Och när John Williams avled 1994 var han en fotnot i det förflutna – för att ett par decennier senare var tokhyllad bästsäljare. En modern klassiker i nivå med Hemingway och Faulkner.Williams och Stoner hade bägge lite otur i livet. I likhet med sin huvudperson levde Williams ett lugnt liv vid ett fridfullt universitet. Eller…? Nja, det var lugnt till det yttre. Williams hade visserligen samma arbete i många år och reste föga och liknar i det sin huvudperson. Men Williams liv var fyllt av konflikter med kolleger, agenter, förlag, fruar och barn. Allt utspelat till ackompagnemang av klirret i cocktailglasen.Charles J Shields biografi ”Mannen som skrev den perfekta romanen” arbetar sig igenom Williams liv med pedantisk nit och en stil som är lika konventionell som Williams är originell. Början av biografin är faktiskt rätt svår att tugga sig igenom, men även om Shields är en förskräckligt tråkig är hans huvudperson fascinerande: full at motsägelser, skaparkraft och destruktivitet.Williams lever i marginalen av USA:s kulturella scen och kanske är den placeringen både en förbannelse och en välsignelse. Hade han utvecklat sin egendomligt genomskinliga prosastil i New York där litteraturdebatten var en annan?Det är svårt att sätta fingret på det originella i Williams prosa – denna svårighet gäller alla romaner. Han har inget återkommande berättargrepp som panoreringar över ett rum eller användande av inre monolog. Han berättar det mesta i löpande text – den är neutral, också hans dialog är nedslipad.Så, vad är det som gör honom så märklig? Kanske att hans berättar-jag på något subtilt sätt befinner sig på samma nivå som läsaren.Shields djupläser inte Williams texter utan håller sig till det yttre – hans arbete på universitetet, vilka han umgicks med, familjerelationer. Och det är nog bra, risken för övertolkningar av verk är påtaglig.Men ändå. Medan John Williams poesi förefaller tidstypisk akademisk är hans prosa motvalls, påtagligt egensinnig. Mest fascinerande är hans andra roman, Butcher's Crossing som kom 1960. Titeln är namnet på en liten by i Västern på 1870-talet. Bokens huvudperson Andrews kommer från Boston och drivs till Vilda Västern av en vag med pockande längtan. Han vill något annat. Men vad?Det borde vara lätt att svara på – Butcher's Crossing är tydlig på gränsen till övertydlig, öppen på gränsen till vidöppen. Williams verkar utgå från klichéer från västernfilmer. Här finns den kapitalistiske företagaren, den prostituerade kvinnan, den tuffe vildmarskännaren, den råe slaktaren, den försiktige nybyggaren. Ändå ter sig var och en av dem annorlunda än figurer jag mött i andra berättelser. Varje detalj i västernhålan, varje människa huvudpersonen träffar gestaltas - inte beskrivs. Allt är igenkännbart och gör samtidigt motstånd. Man sitter som under en Hitchcockfilm och undrar när det hemska ska hända.”Den saknar praktiskt taget handling och skildrar fyra män som ger sig ut på buffeljakt, hittar dem, slaktar dem och överraskas av sträng kyla…[berättelsen] rör sig framåt som om en snigel släpade den genom en damm av sirap. Man kan lägga ifrån sig den när som helst, det kommer många att göra”.Så sammanfattade New York Times kritiker Butcher's Crossing i en förödande recension. Läst idag är det tydligt att Butcher's Crossing mer handlar om något som inte finns än något som finns. Det som saknas är berättarens avsikt. Nästan alla historiska romaner förmedlar känslan av att berättaren vet vad som ska hända. Läsaren är i trygga händer, vad texten än säger. Men Williams roman Butcher's Crossing förmedlar känslan av att allt händer i samma ögonblick jag läser texten. Allt är fritt. Och därmed svårt att tolka. Dess ytlighet är dess djup. Butcher's Crossing sluter sig om sig själv.Detsamma kan sägas om personen Stoner som älskar att undervisa i litteratur, som är omutlig och därför går under. Litteraturen är hans religion. Men vad vill författaren säga?"Hoppet om framtiden gör oss otacksamma för de välgärningar vi fått mottaga", säger romaren Silanus i Maeterlincks pjäs om Maria Magdalena.Men tacksamhet var inte Williams bästa gren om man får tro vittnesmål från närstående och studenter. Och framtiden slutade han hoppas på. Inte ens framgången för Augustus 1972, en fullständigt lysande roman som hade lättare att nå en bredare publik genom sin klara struktur, beredde honom någon större glädje.Williams tycks ha blivit alltmer excentrisk med åren och framgångarna. Han slarvade med lektionerna, uppträdde berusad och förefaller nästan medvetet ha spelat ut sin lynnighet. Hans insatser som lärare i kreativt skrivande blev stilbildande vid amerikanska universitet men hans egen forskning var mest ansatser och han lyckades aldrig fullfölja sin sista roman som han arbetade med i åratal och ibland läste högt ur.Många har uppfattat Williams som en olycklig kollega till Stoner. Men budskapet i Stoner kan sägas vara: släpp fram livet. Augustus skulle säga: acceptera det. Men det verkar inte Williams ha gjort. Ändå undrar jag om det inte i hans loser-roll fanns ett inslag av revansch: Williams kunde till skillnad från sin romanhjälte Stoner ta klivet in i det excentriska. Han krävde uppmärksamhet och han fick det. Han var inte lycklig – men han var sedd.1800-talsförfattaren Chateaubriand kallade sina memoarer ”Minnen från andra sidan graven” eftersom han var övertygad om att bli förstådd först av eftervärlden. Att bli kallad ”Mannen som skrev den perfekta romanen” borde ju framkalla sarkastiska kommentarer av litteraturälskare, för vem kan säga vad en perfekt roman är? Ändå framstår Williams tre romaner som närmast perfekta, var och en i sin genre.Därmed också sagt att de knappast kan vara förebilder. Williams insåg att tiderna förändrats men kunde inte ansluta sig till beatnikgenerationen, Hemingways hårdkokthet, Faulkners expressionism eller något annat litterärt mode. Han var klassicist, nästan mot sin vilja.Vår egen tid kan svårligen skildras med denna stilkonst men nog var Williams i nivå med Flaubert, en annan snarstucken, petnoga och hårt arbetande författare.Inte illa för en deppig lärare i Denver.Mikael Timm LitteraturCharles J Shields: John Williams – mannen som skrev den perfekta romanen. Översättning: Ragnar Strömberg. Natur & kultur, 2018.

Bibelen Leth fortalt
Mariaevangeliet del 1

Bibelen Leth fortalt

Play Episode Listen Later Aug 20, 2026 56:33


Kristian og Lauge læser den apokryfe tekst Mariaevangeliet og undersøger hvordan kristendommens historie kunne have set ud, hvis Bibelen havde haft et evangelium med en kvinde, Maria Magdalena, som hovedperson. Tilrettelagt af Kristian Leth og Lauge Hendriksen. Klippet af Nina Vadsholt. Speak: Karen Straarup. Redaktør: Hanne Budtz-Jørgensen. Produceret for DR af Munck Studios København.

End Time Podcast with David Heavener: What you Won't Hear in Church

Maria Magdalena shares her profound near-death experience after drowning. She recounts her spiritual journey, including a life review and the realization of unfinished destiny. Maria's testimony offers insight into the afterlife, encounters with divine entities, and her renewed commitment to faith and purpose. 8.10.26

End Time Podcast - What you Won't Hear in Church (audio)
She Died. Saw Jesus. Maria Magdalena

End Time Podcast - What you Won't Hear in Church (audio)

Play Episode Listen Later Aug 12, 2026 33:57


Maria Magdalena shares her profound near-death experience after drowning. She recounts her spiritual journey, including a life review and the realization of unfinished destiny. Maria's testimony offers insight into the afterlife, encounters with divine entities, and her renewed commitment to faith and purpose. 8.10.26

Hörenswertes im Bistum Erfurt
Jesus Christ Superstar – Im Fokus: Maria Magdalena

Hörenswertes im Bistum Erfurt

Play Episode Listen Later Aug 9, 2026 13:10 Transcription Available


War Maria Magdalena die Geliebte Jesu? Das Musical „Jesus Christ Superstar“ weist in diese Richtung. Luise Iffland, Studentin an der Katholisch-Theologischen Fakultät der Universität Erfurt, hat sich näher mit Maria Magdalena befasst. Im Gespräch mit Niklas Wagner berichtet sie, was die Bibel und die Legendenbildung über Maria Magdalena sagen.

Modlitwa w drodze
Środa - 22 lipca

Modlitwa w drodze

Play Episode Listen Later Jul 22, 2026


Św. Maria Magdalena (święto), J 20, 1. 11-18

Evangelium
Den Namen hören - Gespräch mit Pfr. Michael Lehmler

Evangelium

Play Episode Listen Later Jul 22, 2026 11:32


Maria Magdalena begegnet am Ostermorgen der Leere – und findet doch neues Leben. Für Pfarrer Michael Lehmler ist diese Szene vor allem eine Geschichte großer Liebe und tiefer Berührbarkeit. Im Gespräch erzählt er, wie ihn sein Wechsel aus der Pfarrseelsorge zu den Alexianern in Köln verändert hat und warum er heute versucht, im Gegenüber den Segen Gottes zu entdecken. Das Evangelium zeigt für ihn: Gerade in Tränen und Schmerz kann Gott Menschen neu ansprechen. "Weinen ist eine sehr große Gabe, und dahinter verbirgt sich eine sehr große Liebe." Besonders bewegt ihn der Moment, in dem Jesus Maria beim Namen ruft: "Das zeigt die Dichte und Intimität der Beziehung zwischen Jesus und Maria Magdalena." Seine Ermutigung für den Tag: „Nimm die Engel in deinem Leben wahr, die dich ins Leben hinführen wollen.“ – Hören Sie rein und entdecken Sie am Festtag der Hl. Maria Magdalena einen überraschenden Blick auf das Osterevangelium.Aus dem Johannesevangelium:Am ersten Tag der Woche kam Maria von Magdala frühmorgens, als es noch dunkel war, zum Grab und sah, dass der Stein vom Grab weggenommen war. Da lief sie schnell zu Simon Petrus und dem Jünger, den Jesus liebte, und sagte zu ihnen: Man hat den Herrn aus dem Grab weggenommen, und wir wissen nicht, wohin man ihn gelegt hat. Maria stand draußen vor dem Grab und weinte. Während sie weinte, beugte sie sich in die Grabkammer hinein. Da sah sie zwei Engel in weißen Gewändern sitzen, den einen dort, wo der Kopf, den anderen dort, wo die Füße des Leichnams Jesu gelegen hatten. Die Engel sagten zu ihr: Frau, warum weinst du? Sie antwortete ihnen: Man hat meinen Herrn weggenommen, und ich weiß nicht, wohin man ihn gelegt hat. Als sie das gesagt hatte, wandte sie sich um und sah Jesus dastehen, wusste aber nicht, dass es Jesus war. Jesus sagte zu ihr: Frau, warum weinst du? Wen suchst du? Sie meinte, es sei der Gärtner, und sagte zu ihm: Herr, wenn du ihn weggebracht hast, sag mir, wohin du ihn gelegt hast. Dann will ich ihn holen. Jesus sagte zu ihr: Maria! Da wandte sie sich ihm zu und sagte auf hebräisch zu ihm: Rabbuni!, das heißt: Meister. Jesus sagte zu ihr: Halte mich nicht fest; denn ich bin noch nicht zum Vater hinaufgegangen: Geh aber zu meinen Brüdern, und sag ihnen: Ich gehe hinauf zu meinem Vater und zu eurem Vater, zu meinem Gott und zu eurem Gott. Maria von Magdala ging zu den Jüngern und verkündete ihnen: Ich habe den Herrn gesehen. Und sie richtete aus, was er ihr gesagt hatte. (Joh 20,1-2.11-18)(© Ständige Kommission für die Herausgabe der gemeinsamen liturgischen Bücher im deutschen Sprachgebiet)

Monastische Gemeinschaften von Jerusalem | Köln
Vesper | 22.7.26 | Hl. Maria Magdalena - Apostolin der Apostel | Jerusalemgemeinschaften

Monastische Gemeinschaften von Jerusalem | Köln

Play Episode Listen Later Jul 22, 2026 41:45


Texte Soundcloud Hier finden Sie die Texte zum Mitbeten: https://online.jerusalemgemeinschaften.de/mit-uns-beten-online/texte-zum-mitbeten

Einfach beten!
22.07 | Hl. Maria Magdalena, Apostolin der Apostel

Einfach beten!

Play Episode Listen Later Jul 21, 2026 15:24 Transcription Available


Bibel to go. Die Lesungen des Tages
Heilige Maria Magdalena

Bibel to go. Die Lesungen des Tages

Play Episode Listen Later Jul 21, 2026 4:15


Fest der Heiligen Maria Magdalena   Lesung aus dem Hohelied (Hld 3, 1–4a)    Aus dem heiligen Evangelium nach Johannes (Joh 20, 1–2.11–18)   Lob dir Christus   Mittwoch, 22. Juli 2026 ________________________ Lesejahr: A II Sprecher:  Marek Gierszał, Thomas Kycia Gesang: Dominikanerschola Ave Florum Flos (Lob dir Christus) Musik: Szymon Jakubowski (Jingle); Tomasz Rojek OP (Lob dir Christus) Jingle: Haroun Sweis Foto: P. Adam Rokosz OP Grafik: Danuta Mikeska-Kycia Projektbetreuung: Thomas Kycia Kontakt: info@bibeltogo.de Mehr auf: https://bibeltogo.de oder https://bibeltogo.podbean.com Instagram: https://www.instagram.com/bibel_to_go/  Facebook: https://www.facebook.com/BibeltogoPodcast     Hat dir dieser Podcast gefallen? Bitte bewerte ihn und schreib uns einen Kommentar auf der Plattform, auf der du ihn gerade gehört hast, oder schreib uns eine Mail an info@bibeltogo.de.   Erzähle von diesem Podcast deiner Familie, Freunden und Verwandten! So werden noch mehr Menschen Gottes Wort hören können. _________________ Die biblischen Texte sind Bestandteil der von den Bischofskonferenzen des deutschen Sprachgebietes approbierten (revidierten) Einheitsübersetzung der Heiligen Schrift (1980/2016). Rechte: Ständige Kommission für die Herausgabe der gemeinsamen liturgischen Bücher im deutschen Sprachgebiet.   Bibel to go. Die Lesungen des Tages Die Lesungen und das Tagesevangelium Das heutige Evangelium vorgelesen Evangelium Tag für Tag Bibel zum Hören Tageslesungen Bibel online Jahreskreis

La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Rabu dalam pekan ke-16 masa biasa, 22 Juli 2026, Pesta St. Maria Magdalena, Wanita Kudus

La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy

Play Episode Listen Later Jul 21, 2026 9:47


Dibawakan oleh Maria Belino Lasar dari Paroki St. Laurensius Hadakewa di Keuskupan Larantuka, Indonesia. Kidung Agung 3: 1-4a; Mazmur tg 63: 2.3-4.5-6.8-9; Yohanes 20: 1.11-18.MENGAMBIL BAGIAN DALAM CINTA KASIH KRISTUS Renungan kita pada hari ini bertema: Mengambil Bagian Dalam Cinta KasihKristus. "Mengapa kitab suci berkata bahwa cinta kasih itu menuntut?"Pertanyaan ini dari seorang pemudi terhadap pacarnya yang selalu mengantar danmenjemputnya setiap kali pergi dan pulang dari kerja. Pemuda itu menjawabsingkat, "Kalau seseorang didorong oleh cinta, maka ia bahagia untukmelalukan apa yang bertujuan untuk kebaikan. Ia tidak terpaksa untuk melakukanitu." Benar sekali, hubungan mereka tumbuh dengan baik dan indah.  Hari ini kita memperingati Santa Maria Magdalena. Ia adalah seorangperempuan Yahudi pada zaman Yesus dikenal sangat dekat dengan Yesus. Ia adalahorang pertama yang menyaksikan Yesus bangkit. Hubungan yang amat dekat inidapat menjadi pembelajaran cinta bagi kita. Patokan kita ialah cinta kasihYesus, yaitu persembahan diri bagi kebaikan dan keselamatansahabat-sahabat-Nya.  Pada saat dan waktu yang tepat perbuatan cinta itu menuntut. Sebagianbesar, mungkin 90 persen, cinta itu mendorong seseorang untuk mencintai,sementara sisanya 10 persen mungkin berisi keraguan, takut, malu, bingung, dankurang paham. Maria Magdalena membalas semua cinta kasih Yesus dalam kondisiyang tidak sempurna. Puncaknya ialah ketika ia ketakutan dalam mencari jenazahYesus di makam, dan agak sulit mengenali Yesus yang bangkit sebelum Yesussendiri memanggil namanya. Dalam situasi seperti inilah, cinta itu cenderungmenuntut, yang dengan itu memengaruhi supaya Maria segera mengakui bahwa ituadalah Tuhan yang bangkit. Maria Magdalena tentu sudah belajar banyak tentang cinta kasih Kristus.Dalam aneka perbuatannya setelah mengikuti Kristus, ia ungkapkan cinta kasihitu yang telah diambil dari Gurunya. Umumnya, ia memiliki kesetiaan dalammengikuti Kristus hingga mendampingi-Nya saat Gurunya itu wafat di salib, laluia bersedih mencari-Nya di makam dan akhirnya menemukan Dia. Namun yang palingmenonjol aspek cinta kasih yang diambil dari Yesus Kristus ialah ia sungguhmemiliki suka cita, keberanian, semangat, kebenaran dan ketulusan untukmewartakan kepada rekan-rekannya, bahwa “Aku telah melihat Tuhan”.  Dengan bertindak seperti ini, Maria Magdalena ingin menginspirasi pararasul dan kita semua yang mendengarkan firman ini, seolah-olah menantang kita:ayolah, aku sudah ambil bagianku dari cinta kasih Guru kita, Yesus Kristus,maka kini giliran kalian untuk mengambil bagian dari cinta kasih Yesus itu.Jangan biarkan keharuman cinta kasih Yesus Kristus itu sia-sia saja, tanpadisukai dan diambil. Pertanyaan sebagai tantangan dan refleksi bagi kita ialah:Anda cocok untuk aspek cinta kasih apa yang dapat Anda ambil dari YesusKristus? Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa... Terima kasih ya Tuhan Yesus Kristus atas diri-Mu danajaran-Mu tentang cinta kasih. Kuatkanlah dan penuhilah kami dengan cintakasih-Mu itu. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...

How to feel good
Wie ich zu Gott gefunden habe - Meine Abrechnung mit dem Christentum

How to feel good

Play Episode Listen Later Jul 19, 2026 48:43


Diese Folge ist eine der persönlichsten Folgen, die ich bisher hochgeladen habe. Es geht um meinen spirituellen Weg: Von dem katholischen Mädchen mit jüdischen Wurzeln, das Jahre lang Gott suchte. Und ihn am Ende in einer Kirche in Trieste fand, nachdem sie eigentlich aufgegeben hatte. Ich erzähle dir heute, wie das Christentum überhaupt entstand, wer die Bibel geschrieben hat und wie das Evangelium der Maria Magdalena mir die Augen geöffnet hat.Außerdem rechne ich mit den radikalen Positionen evangelikaler Freikirchen und Christfluencern ab, die ein Christentum propagieren, dass ein Frauenbild (Tradwifes) propagiert, mit dem ich nichts zu tun haben will. Wenn du Inner Rose Garden beitreten willst: Klicke hier.Wenn du persönlich mit mir arbeiten möchtest, dann buche hier dein 0€ Beratungsgespräch: Klicke hier. Folge mir auf Instagram, um nichts zu verpassen: @paula.klisiewicz

Hoffnungswort - Predigten von Pfarrer Andreas Roß

Wer war Maria Magdalena? Sie war eine enge Gefährtin von Jesus. Aber im Lauf der Jahrhunderte wurde ihr so viel angedichtet, dass die Maria der Bibel im Grund ganz davon verschüttet wurde. Aber es lohnt sich, in die Bibel zu schauen und diese Frauengestalt zu entdecken, weil sie uns in mehrfacher Hinsicht ein Vorbild sein kann. (19.7.2026)

La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy
Bacaan dan renungan Sabda Tuhan pada hari Senin dalam pekan ke-14 masa biasa, 6 Juli 2026

La Porta | Renungan Harian Katolik - Daily Meditation according to Catholic Church liturgy

Play Episode Listen Later Jul 5, 2026 7:33


Dibawakan oleh Markus Soge Purab dan Maria Fidelia B. Niron dari Stasi Santo Petrus Waowala, Paroki Santo Bernardus Abas Tokojaeng, Keuskupan Larantuka, Indonesia. Hosea 2: 13.14b-15.18-19; Mazmur tg 145: 2-3.4-5.6-7.8-9; Matius 9: 18-26.PEREMPUAN YANG DICINTAI YESUS Tema renungan kita pada hari ini ialah: Perempuan Yang Dicintai Tuhan.Yesus Kristus dari Nazareth adalah Putra Allah yang menjadi manusia. Iamemiliki semua ciri seperti manusia pada umumnya. Salah satunya ialah memilikiwanita-wanita yang berada di dekat-Nya dan yang melayani Dia. Yesus tidakmungkin hanya bersahabat atau dekat dengan kaum laki-laki.                                  Ada seorang pastor paroki mengatakan hal ini di dalam kotbahnya. SetelahMisa kudus, pastor itu ditanyai oleh beberapa orang muda yang bertemudengannya. "Siapakah perempuan yang menjadi orang yang sangat spesial atauyang sangat dicintai oleh Yesus?" Mereka berharap agar jawaban yangdidapatkan ialah seperti Maria Magdalena, Marta dan saudarinya Maria atau salahsatu nama wanita yang ditemukan namanya di dalam kitab suci. Sang Pastor berkata bahwa perempuan yang dicintai dan sangat spesial bagiYesus Kristus ialah mereka yang dipandang kecil, hina, sakit, pendosa, danjanda. Perempuan yang paling pertama ialah ibunda-Nya sendiri, yaitu BundaMaria,  Bunda kita semua. Ada banyakwanita di dalam perjanjian baru, baik yang punya nama maupun yang tidakdisebutkan namanya, yang dapat kita sebutkan.  Perempuan yang dicintai oleh Yesus memiliki ciri-ciri atau tanda-tanda yangmembuat perhatian Yesus jatuh kepada mereka. Tanda yang natural padanya ialahsebagai pribadi yang disayangi dan dijadikan pasangan yang sepadan, yang didalam istilah yang selalu kita pakai ialah istri. Simbol ini mengandung artibahwa siapa pun kita baik laki-laki maupun perempuan, jika kita menjadi tepatbagi Tuhan untuk bekerja di dalam diri kita, seperti tanah subur agar benihsabda-Nya tumbuh, maka Tuhan sungguh mencintai kita. Tanda lain pada perempuan sehingga cinta Tuhan Yesus mengalir kepadanyaialah kelemahan, kekurangan, dan sakit yang mereka alami. Pilihan Yesus selalujatuh ke orang-orang dalam kategori ini terlihat jelas di dalam kisah Injilpada hari ini, yaitu anak perempuan kepala rumah ibadat yang dipulihkan olehYesus dan seorang wanita 12 tahun menderita pendarahan yang disembuhkan olehYesus. Simbol ini mewakili kita semua yang berada dalam kesulitan, sakit, dankehilangan sesuatu atau seseorang, kita memang sangat memerlukan Tuhan Yesusuntuk menyembuhkan dan menghibur kita. Tanda yang lain dari perempuan ialah kesalehan, hati yang murni danpengorbanan diri yang ia berikan, baik kepada orang-orang yang dikasihinyamaupun kepada kehidupan pada umumnya. Santa Maria Goreti adalah gadis cilikyang mempertahankan kemurniannya, dan harus menjadi teladan bagi kita semua.Dengan mengikuti semua teladan ini, maka kita pantas mendapatkan kasih yangbesar dan sangat indah dari Tuhan Yesus Kristus. Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa ... Ya Tuhan Yesus, buatlah kami mampu mengasihi orang laindengan kasih-Mu sendiri sehingga mereka dapat mengalami perjumpaan dengan-Mudan memuliakan Dikau. Salam Maria, penuh rahmat ... Dalam nama Bapa ...

Predigten Jonas Goebel
This is me! Gottes Liebe für Koffer mit Macken und Dellen.

Predigten Jonas Goebel

Play Episode Listen Later Jun 30, 2026 17:02


Fühlst du dich manchmal wie ein alter Koffer, der vom Leben ordentlich zerkratzt wurde? In diesem Ausschnitt der Predigt aus unserem „The Greatest Showman“-Gottesdienst geht es um die befreiende Botschaft, dass Gott keine perfekten Hochglanz-Menschen sucht.Angelehnt an die Songs aus dem Film und an biblische Geschichten (wie die von Bartimäus oder Maria Magdalena) wird thematisiert, warum es bei Gott nicht um Performance geht. Die Predigt spricht dir zu, dass du mit all deinen Macken geliebt bist – und gibt dir drei konkrete „From Now On“-Tipps für deinen Alltag mit, um fiese innere Stimmen leiser zu drehen.

IMMO WISSEN KOMPAKT
Was Eigentümer heute von ihrer Hausverwaltung erwarten – und wie sich die Branche verändern muss

IMMO WISSEN KOMPAKT

Play Episode Listen Later May 14, 2026 8:35


In Folge 34 von IMMO WISSEN kompakt spricht Maria-Magdalena Kager-Knapp über einen Wandel, der die Hausverwaltungsbranche gerade von Grund auf verändert: Eine neue, digitalaffine Eigentümergeneration übernimmt – und bringt völlig andere Erwartungen mit. Schnelle Kommunikation, transparente Prozesse und digitale Tools sind gefragt. Gleichzeitig bleibt persönlicher Kontakt bei heiklen Themen wie Sanierungen oder Konflikten unverzichtbar. Maria-Magdalena teilt dabei offen, wie sie in ihrer eigenen Verwaltung diesen Wandel schon seit Jahren aktiv gestaltet – von der Digitalisierung der gesamten Bürostruktur über ein Ticketsystem bis hin zum KI-gestützten Telefonassistenten.Weiterführende Informationen unter https://www.kager-knapp.at/Feedback gerne per mail an office@kager-knapp.at

Wir. Der Mutmach-Podcast der Berliner Morgenpost
Schlägerei mit Jutta (4/11)

Wir. Der Mutmach-Podcast der Berliner Morgenpost

Play Episode Listen Later May 13, 2026 73:37


Rainer kriegt einen Tennisschläger ins Gesicht. Lilith, Kali und die Lenden, die sich melden. "Sie haben mich ´Riefenstahl´genannt." Auf der vierten Etappe erfahren Suse und Hajo Schumacher von Christa Ritter, wieviel Aggression im Harem bei der Kontaktaufnahme mit der inneren Frau zeitweilig herrschte. Unsere Themen: Rainer muß im Krankenhaus genäht werden. Maria Magdalena, Hildegard von Bingen, Königin Christa. Die Kleinfamilie als Hort allen Übels. Das Wespennest des eigenen Empfindens. Wer kriegt Rainers Aufmerksamkeit? Flucht ins klösterliche Schweigen. Warum sind Frauen nie genug? Hassen und verzeihen. Wer allein ist, kann nicht neidisch sein. Abwerten, Denunzieren, Teilen üben. Geht ein Leben ohne Gier und Neid? Plus: Nach fast 50 Jahren sieht Christa die anderen Frauen erstmals nicht mehr als Rivalinnen, sondern als Gefährtinnen. Folge 39, Staffel 2.Worum geht es bei Christas Reise?Christa Ritter ist Mitte 30 und Partygirl. Dann trifft sie Rainer Langhans, Deutschlands bekanntesten Hippie. Und ändert ihr Leben radikal. Sie wird Haremsdame in Rainers Münchner Kommune. Meditieren statt Kiffen, Tischtennis statt Sex. Das war vor 50 Jahren. Jetzt ist Christa Mitte 80 und blickt zurück auf ein Leben im verrücktesten Sozialexperiment der Republik. Wie war das mit Neid, Wut und Uschi Obermaier? Christas Reise - mutiges Leben in elf Etappen. Ein Spezial vom MutmachPodcast. Mit Suse und Hajo Schumacher. Und natürlich mit Christa Ritter. Ab 23. April 2026 jeden Donnerstag.Wir bedanken uns bei Markus C. Hurek für das tolle Coverfoto. Hosted on Acast. See acast.com/privacy for more information.

Dit is de Bijbel
#144 - Bevrijding: van de Exodus tot demonen

Dit is de Bijbel

Play Episode Listen Later May 2, 2026 57:00


Is de Bijbel niet ten diepste het boek van de vrijheid? Het christendom wordt – zeker door buitenstaanders – niet snel geassocieerd met vrijheid. Toch staat de Bijbel bol van bevrijdingen. Van de exodus, tot bevrijding van zonden en zelfs… demonen. Bevrijding is geen bijzaak, maar een rode draad in de Bijbel. Wat betekent dit? Waarvan moeten we bevrijd worden? En hoe gebeurt dat? David Boogerd vraagt het theoloog en predikant Almatine Leene. ⛪We gaan live (https://shop.paylogic.com/512d87372e2c488fab7abaf83f5e09cd/tickets)met Dit is de Bijbel!  Dit is de Bijbel bestaat vijf jaar. Op woensdagavond 10 juni nodigen we je uit voor het 'Dit is de Bijbel Event' in de Grote Kerk in Hilversum. Arnold Huijgen, Almatine Leene en Stefan Paas zullen daar - onder leiding van David Boogerd - live de Q&A aflevering opnemen, zoals die in elk seizoen terugkomt. Daarnaast is er muziek en de Grote Dit is de Bijbel-Quiz. Kaarten zijn te boeken via eo.nl/ditisdebijbel (https://shop.paylogic.com/512d87372e2c488fab7abaf83f5e09cd/tickets).

Missiodei
Eps.235 YESUS MENYATAKAN DIRI

Missiodei

Play Episode Listen Later Apr 19, 2026 67:24


Tuhan berkenan menyatakan diri-Nya kepada setiap orang yang rendah hati dan sungguh-sungguh mengasihi-Nya(Markus 16:9-12; Yohanes 12:1-8; Roma 12:1;)Saat kelahiran bayi Yesus Kristus, Tuhan menghendaki para gembala di padang Efrata yang pertama kali melihat kelahiran Sang Raja Damai, Anak Daud. Para gembala ini merupakan sekumpulan orang sederhana dan rendah hati. Saat kebangkitan Yesus Kristus, Ia berkenan untuk menampakkan diri-Nya pertama kali kepada Maria Magdalena, seorang wanita yang pernah dilayani-Nya dari kerasukan tujuh roh setan dan ia juga lah wanita yang meminyaki kaki Yesus sebelum menjelang hari penyaliban-Nya. Dialah orang pertama dari sekian banyak orang yang ada di sekeliling Yesus yang telah memberikan apa yang terbaik, menunjukkan sikap kerendahan hati dan kesungguhannya dalam mengasihi Yesus. Korelasi dari kedua latar belakang ini menuju kepada satu titik yang sama yaitu kerendahan hati. TUHAN berkenan menyatakan diri-Nya kepada siapa yang rendah hati dan sungguh-sungguh mengasihi-Nya! Banyak orang mengambil profesi sebagai pendeta namun masih ada di antara mereka yang belum memiliki hati sebagai seorang hamba yaitu rendah hati, tunduk dan totalitas melayani Tuhan.Kembali ke konteks Maria Magdalena yang meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu mahal sekitar 300 dinar atau setara dengan upah buruh dalam satu tahun saat itu. Bukan soal betapa mahalnya minyaknya, tetapi kerelaan, kesungguhan dan ucapan syukur dari hatinya oleh karena Yesus telah menyelamatkan dia dari ikatan roh jahat. Ia begitu menghargai, berterimakasih kepada Tuhan dengan cara memberikan apa yang ia punya kepada Yesus. Minyak mahal pun tak menjadi soal baginya sebab ia mau mempersembahkan yang terbaik untuk Tuhan Yesus.Mengapa Yesus menghendaki Maria Magdalena menjadi orang pertama yang harus melihat kebangkitan-Nya? Mengapa bukan murid-murid-Nya? Markus 16:9-13 → saat Maria Magdalena pergi memberitahukan kebangkitan Yesus kepada murid-murid dan orang-orang yang selalu mengiring Yesus yang saat itu sedang menangis dan berkabung, mereka semua tidak percaya! Inilah alasan mengapa Yesus berkenan untuk menampakkan diri-Nya terlebih dahulu kepada Maria Magdalena. Maria Magdalena memiliki iman dan percaya kepada setiap perkataan Yesus perihal kebangkitan-Nya di hari ketiga dan terlebih karena Maria memiliki sikap rendah hati dan sangat mengasihi Yesus. Orang yang beriman adalah orang yang mengasihi Yesus, dan orang-orang yang seperti ini sukar ditemui di akhir zaman. Manusia akhir-akhir ini hanya memikirkan dirinya sendiri dan sarat akan kasih. Banyak orang masih khawatir akan hidupnya. Dari kisah Maria Magdalena mengajarkan kepada kita gereja untuk sungguh-sungguh mengasihi Yesus, mengagungkan Yesus. Memberikan hidup ini sebagai persembahan yang menyenangkan dan memuliakan Tuhan (Rom.12:1), itulah ibadah yang sejati, bukan hanya sekedar datang, bernyanyi, formalitas liturgi dalam ibadah. Jadilah seorang seperti Maria Magdalena, yang memiliki sikap hati sebagai seorang hamba yang rendah hati dan sungguh-sungguh mengasihi Yesus. Seorang yang memberikan dirinya sebagai persembahan yang hidup dan memberikan apa yang terbaik dari dirinya untuk memuliakan Tuhan. Seorang yang sudah mengalami lawatan / jamahan kasih Tuhan dan menjadi saksi perbuatan ajaib tangan Tuhan atas hidupnya.

Tapas for troen
Kom og se!

Tapas for troen

Play Episode Listen Later Apr 14, 2026 2:26


"Han er ikke her; for Han er oppstått, som Han sa. Kom, se stedet hvor Herren lå!" (Matt. 28,6)Det var engelens ord til kvinnene som kom først til grava: "Kom og se!" Johannes forteller at han også så; han så og trodde. Maria Magdalena kunne først fortelle at hun så ei tom grav, senere at hun hadde sett Jesus selv (Joh. 20,1; 8,18). Da Emmausvandrerne kom tilbake til Jerusalem og fortalte at de hadde sett Jesus, ble de møtt av begeistrede disipler som fortalte at også Peter hadde sett Ham (Luk. 24,33-34). Senere fikk alle disiplene som var samlet, se Jesus, kan vi lese (Joh. 20,19).Og nettopp det var forskjellen på Tomas og de andre: Tomas var ikke der sammen med dem. Han så ikke Jesus, derfor klarte han verken å tro eller å glede seg (Joh. 20,24-25). Også i dag trenger hver enkelt av oss å se Jesus selv, på en eller annen måte, for å tro. Paulus sin bønn er stadig aktuell, der han ber om hjertets opplyste øyne, så vi kan se hvilket håp vi har og hvor mektig Guds kraft er hos oss som tror. For med den samme kraft reiste Han Jesus opp fra døden (Ef. 1,17-20). Alt dette kan vi se i Bibelen. Så kom i dag til Bibelen og se!Ja, det er det aller beste rådet jeg kan gi. For da kommer du til Kilden selv, du kommer til Jesus selv. For det er ikke alltid at andre kristne speiler Ham like godt. Men går du til Bibelen, så kan du få se Ham selv. Se og tro!Skrevet og lest av Eli Fuglestad for Norea Håpets Kvinner.

Open Table MCC Sunday Worship Podcast
Easter: Pagkilala Sa Pag-Asa

Open Table MCC Sunday Worship Podcast

Play Episode Listen Later Apr 13, 2026 23:17


When it was evening on that day, the first day of the week, and the doors were locked where the disciples were, for fear of the Jews, Jesus came and stood among them and said, “Peace be with you.” After he said this, he showed them his hands and his side. Then the disciples rejoiced when they saw the Lord. Jesus said to them again, “Peace be with you. As the Father has sent me, so I send you.” When he had said this, he breathed on them and said to them, “Receive the Holy Spirit. If you forgive the sins of any, they are forgiven them; if you retain the sins of any, they are retained.” But Thomas (who was called the Twin), one of the twelve, was not with them when Jesus came. So the other disciples told him, “We have seen the Lord.” But he said to them, “Unless I see the mark of the nails in his hands and put my finger in the mark of the nails and my hand in his side, I will not believe.” A week later his disciples were again in the house, and Thomas was with them. Although the doors were shut, Jesus came and stood among them and said, “Peace be with you.” Then he said to Thomas, “Put your finger here and see my hands. Reach out your hand and put it in my side. Do not doubt but believe.” Thomas answered him, “My Lord and my God!” Jesus said to him, “Have you believed because you have seen me? Blessed are those who have not seen and yet have come to believe.” Now Jesus did many other signs in the presence of his disciples that are not written in this book. But these are written so that you may continue to believe that Jesus is the Messiah, the Son of God, and that through believing you may have life in his name. John 20:19-31 NRSVUE Magandang hapon sa inyong lahat. Kamusta kayo? Napansin niyo ba na parang ang haba ng Good Friday? Kahit Easter na, parang hindi natin maramdaman. Napakatahimik ng buong linggo. Pagod ang mga tao, walang gaanong sasakyan sa labas, at dahil na rin siguro sa mahal ng gas kaya nananatili lang tayo sa loob. Parang kailan lang nung kumanta tayo ng “Happy Day” noong Easter Sunday, pero heto na naman tayo, bumalik na sa tahimik at matamlay nating mga buhay. Ito ang nais kong pag-usapan natin ngayon: kung paano natin matututunang mapansin ang mga “glimpses of Easter” o ang mga bakas ng pag-asa sa gitna ng ating pang-araw-araw na buhay na madalas nating binabalewala. Ngayon ay ikalawang linggo na natin sa panahon ng Easter, at sinusundan natin ang naging buhay ng mga alagad pagkatapos mamatay ni Jesus. Sa ating pagbasa ngayon, makikita natin silang nasa loob ng isang silid na nakakandado ang pinto dahil sa takot. Takot sila sa mga awtoridad na baka sila ay hulihin o usigin dahil kakamatay lang ni Jesus. Noong mga oras na iyon, iilan pa lamang ang nakakita sa libingan, kabilang sina Simon Pedro at Juan. Tanging kay Maria Magdalena pa lamang nagpapakita si Jesus, at siya ang unang inutusan ni Jesus na ipahayag ang balita ng muling pagkabuhay. Sa katunayan, maaari nating sabihin na ang unang itinalagang ministro ni Jesus ay isang babae. Isipin natin ang nararamdaman ng mga alagad habang nakakulong sila sa silid na iyon. Isipin niyo ang takot na kailangan niyo pang i-lock ang pinto dahil sa sobrang paranoia. Ginagawa nila ito para lang maramdaman ang kahit katiting na seguridad. Wala na si Jesus. Patay na ang kanilang pinuno at hindi nila alam kung ano ang mangyayari sa kanila. Siguro ay hindi pa nga sila tapos mag-luksa, pero heto na agad ang banta ng pag-uusig. At ang mga kinatatakutan nila ay hindi lang basta ordinaryong tao; sila ay mga makapangyarihan at may awtoridad. Nakita nila ang sinapit ng kanilang lider, at iniisip nila na baka sila na ang susunod. Napakasakit ng kawalang-pag-asang nararamdaman nila. Wala na silang aasahan. Ang taong sandigan nila, ang nagbibigay sa kanila ng lakas at suporta, ay wala na. Naalala ko tuloy noong nalaman nating magsasabbatical si Pastor Sean—grabe ang naging reaksyon natin. Marami ang nalungkot at nagtanong, “Paano na tayo?” Gayong alam naman nating babalik din siya. Paano pa kaya ang mga alagad na sa isip nila ay tuluyan nang nawala si Jesus?. Kahit sino naman ay gagawin ang ginawa nila. Tayo rin, madalas nating “ikandado ang ating mga pinto” sa panahon ng kawalang-pag-asa at kalungkutan. Ang pagkakandado ng pinto ay maaaring maging porma ng pag-isolate sa sarili, ang hindi pagpapakita sa iba, at ang pagkawala ng gana sa mga bagay-bagay. Minsan ay napapatanong tayo: “Para saan pa? Bakit ko pa kailangang magpatuloy kung parang bale-wala rin ang lahat?”. Ang takot na nararamdaman natin ay hindi lang basta personal; madalas ito ay bunsod ng mga sistemang mas malawak sa atin. Sa ating panahon, marami tayong kinatatakutang “awtoridad” at mga pangyayaring hindi natin kontrolado. Andiyan ang takot para sa ating bansa. Malapit na ang 2028, at may personal akong pangamba: muli ba tayong mabibigoy? Ma-iistuck na naman ba tayo sa isang gobyernong mas malala pa sa nararanasan natin ngayon? Minsan, nakakapagod nang lumabas at makisangkot kung parang walang nangyayari sa ating mga pagsisikap na humanap ng mga lider na may tunay na malasakit sa bayan. Maging sa mga simpleng bagay tulad ng pagbabayad ng pamasahe o pagpapagas, pinapaalalahanan tayo ng mga epekto ng mga desisyong ginagawa ng mga makapangyarihang lider sa mundo. Nakakalungkot isipin na ang mga “tantrums” at reckless na desisyon ng mga taong ito ay nagdudulot ng pasakit sa buhay nating mga ordinaryong tao. Ito ay isang trend sa buong mundo—mga lider na tila walang pakialam sa kapakanan ng kanilang nasasakupan. Bukod sa politika, isa pang bumabagabag sa akin ay ang tila pag-atras o pag-regress ng pagtingin ng lipunan sa mga kababaihan. Kaya naman ngayong taon, ang ating tema ay nakatutok sa queer at feminist theology. Ito ang dahilan kung bakit naramdaman namin ang pangangailangang ilabas ang aming unang single na “She Preached” noong nakaraang Easter. Nais nating ipaalala na sa kasaysayan ng ating pananampalataya, ang unang boses na nagpahayag ng pinakamahalagang balita—ang muling pagkabuhay—ay boses ng isang babae. Minsan, ang mundo ang mismong nagsasara ng pinto para sa atin. Ngunit tulad ng mga alagad, sa gitna ng ating pagtatago at takot, doon tayo kailangang puntahan ng pag-asa. Ang nakakalungkot na katotohanan ay hindi lamang iisang tao ang ganito; ito ay naging trend na sa buong mundo—mga lider na tila walang tunay na malasakit sa bayan at inuuna ang sariling “tantrums” kaysa sa kapakanan ng nakararami. Ang problema, kapag nag-tantrums sila, tayong mga ordinaryong tao ang pumapasan ng hirap at pasakit. Isa pa sa mga bagay na personal na bumabagabag sa akin ay kung paano tila umaatras o nag-re-regress ang pagtingin ng lipunan sa mga kababaihan. Ito ang dahilan kung bakit, bukod sa pagiging tema natin ang queer at feminist theology ngayong taon, naramdaman namin ang bigat at pangangailangang ilabas ang ating unang single na “She Preach” noong nakaraang Easter. Ito ang aming paraan ng paglaban sa mga mapanirang naratibo at sentimyento laban sa mga kababaihan. Sa kabila ng lahat ng mga “pinto” na isinasara sa atin ng mundo—maging ito man ay dahil sa takot, politika, o diskriminasyon—ang mensahe ng Easter ay nananatili. Tulad ng mga alagad na nakakulong sa silid, doon tayo kailangang puntahan ng muling nabuhay na Kristo. Ang hamon sa atin ngayong panahon ng Easter ay ang matutong kumilala sa mga “glimpses” o bakas ng pag-asa na madalas nating hindi napapansin sa gitna ng ating pagod at takot. Huwag nating hayaang manatiling nakakandado ang ating mga puso. Sa bawat pagkakataon na tayo ay nagmamalasakit, tumitindig para sa katotohanan, at kumikilala sa halaga ng bawat isa, doon natin nararanasan ang tunay na muling pagkabuhay. Salamat sa inyong pakikinig, at nawa’y maging inspirasyon ito sa inyong pagharap sa bagong linggo. Amen. The post Easter: Pagkilala Sa Pag-Asa appeared first on Open Table Metropolitan Community Church.

NDR Kultur - Die Morgenandacht

Mit Osteraugen durch die Welt laufen und Gott selbst durchscheinen lassen: Die Morgenandacht mit Schwester Michaela Wachendorfer.

Evangelium
"Maria Magdalena hört ihren Namen und erkennt ihn" - Gespräch mit Miriam Pawlak

Evangelium

Play Episode Listen Later Apr 8, 2026 9:46


Im Podcast "Blick in die Bibel" schwärmt Miriam Pawlak heute von Maria Magdalena, ihrer Lieblingsfigur: "Sie geht den ganzen Weg mit Jesus, bis ans Kreuz und als erste Zeugin der Auferstehung." Lange galt sie fälschlich als "Sünderin", doch Papst Franziskus würdigte sie als "Botin des Lebens".Im heutigen Bibeltext aus dem Johannesevangelium erkennt Maria Magdalena Jesus erst, als er ihren Namen ruft – "eine Millisekunde voller Vertrauen". Doch er sagt: "Halte mich nicht fest." Miriam Pawlak erklärt: "Es geht um den Übergang von der irdischen zur himmlischen Beziehung – sie wird zur ersten 'Tochter Gottes'." Heute können wir die Auferstehung verkünden – "im Alltag, auf Social Media oder beim Fußball".Warum Maria Magdalenas Glaube uns Mut macht, erfahrt ihr im Podcast!Aus dem Johannesevangelium:In jener Zeit stand Maria von Mágdala draußen vor dem Grab und weinte. Während sie weinte, beugte sie sich in die Grabkammer hinein. Da sah sie zwei Engel in weißen Gewändern sitzen, den einen dort, wo der Kopf, den anderen dort, wo die Füße des Leichnams Jesu gelegen hatten. Diese sagten zu ihr: Frau, warum weinst du? Sie antwortete ihnen: Sie haben meinen Herrn weggenommen und ich weiß nicht, wohin sie ihn gelegt haben.Als sie das gesagt hatte, wandte sie sich um und sah Jesus dastehen, wusste aber nicht, dass es Jesus war. Jesus sagte zu ihr: Frau, warum weinst du? Wen suchst du? Sie meinte, es sei der Gärtner, und sagte zu ihm: Herr, wenn du ihn weggebracht hast, sag mir, wohin du ihn gelegt hast! Dann will ich ihn holen. Jesus sagte zu ihr: Maria! Da wandte sie sich um und sagte auf Hebräisch zu ihm: Rabbúni!, das heißt: Meister.Jesus sagte zu ihr: Halte mich nicht fest; denn ich bin noch nicht zum Vater hinaufgegangen. Geh aber zu meinen Brüdern und sag ihnen: Ich gehe hinauf zu meinem Vater und eurem Vater, zu meinem Gott und eurem Gott. Maria von Mágdala kam zu den Jüngern und verkündete ihnen: Ich habe den Herrn gesehen. Und sie berichtete, was er ihr gesagt hatte. (Joh 20,11-18)(© Ständige Kommission für die Herausgabe der gemeinsamen liturgischen Bücher im deutschen Sprachgebiet)

Morgenimpuls
Können wir den Auferstandenen erkennen?

Morgenimpuls

Play Episode Listen Later Apr 7, 2026 4:24


Eine der zauberhaften Ostergeschichten im Neuen Testament ist die um Maria Magdalena. Sie geht, von Kummer und Liebe getrieben, am frühen Ostermorgen zum Grab, macht sich Gedanken, wie sie den Stein wegbekommen soll, der das Grab verschließt und ist dann völlig verwirrt, weil der Stein weggerollt ist. Sie rennt zu Petrus und Johannes, die lassen sie einfach stehen und rennen selbst zum Grab, sehen die Tücher, aha, zusammengefaltet und ordentlich, kapieren aber überhaupt nichts „ER sah, und glaubte“ heißt es zwar über Johannes, aber was er glaubte, ist da nicht zu lesen. Und dann gehen sie verwundert nach Hause und lassen Maria wieder stehen. Und was macht Maria? Sie steht am Grab und weint, aus Trauer über den schrecklichen Tod Jesu, aus Kummer über all das schreckliche der letzten Tage, aus Liebe zum Rabbuni. Und sie beugt sich ins Grab und sieht die Engel. Und einer fragt sie, warum sie denn weint. Und sie sagt: Man hat meinen Herrn weggenommen und wir wissen nicht, wohin man ihn gelegt hat.“ Und dann sieht sie Jesus. Sie ist aber vor Trauer so blind, dass sie ihn nicht erkennt und denkt, es ist der Gärtner. Und auch Jesus fragt sie zartfühlend: Wen suchst Du? Warum weinst Du? Und sie erklärt ihm ihre Sehnsucht. Und dann ruft Jesus sie beim Namen: Maria. Und da gehen ihr die verheulten Augen auf und sie erkennt ihren Rabbuni. Und Jesus gibt ihr, der Frau, den Auftrag, zu den Jüngern zu gehen und alles zu berichten und über ihn Zeugnis zu geben. Und sie rennt und berichtet den Aposteln: „Ich habe den Herrn gesehen. Ich, die Frau und ich habe die beste Botschaft der Welt für Euch und für alle: Der Tod ist nicht das Ende, nicht das Letzte, nicht der Schrecken ein Leben lang. Der Tod ist nur der Durchgang. Auferstehung ist angesagt und ganz neues Leben“Maria ist die erste, die den Auferstandenen gesehen hat, Apostolin der Apostel, hat Papst Franziskus sie deshalb endlich genannt. Vielleicht können nur Menschen in tiefer Trauer, mit verweinten Augen wegen eines Verlustes, in Verzweiflung wegen der Situation, in der man im Moment leben muss, und mit sehnsuchtsvoller Liebe zu den Menschen, zu denen man im Moment nicht gehen kann, den Auferstandenen sehen und ihn erkennen und dann von ihm erzählen.

Frankfurt CityChurch
Jesus ruft deinen Namen | David Schimmel

Frankfurt CityChurch

Play Episode Listen Later Apr 6, 2026 36:04


Ostern beginnt nicht mit einem Feuerwerk, sondern mit Tränen am Grab. In dieser Predigt aus Johannes 20 schauen wir durch die Augen von Maria Magdalena auf die Auferstehung – ehrlich, persönlich und voller Hoffnung. David zeigt in dieser Predigt auf, wie Jesus Menschen nicht über ihren Schmerz hinwegtröstet, sondern ihnen genau dort begegnet und die heilsame Kraft der Auferstehung sich ausbreitet.

Open Table MCC Sunday Worship Podcast
Easter: The Unsealed Entrance

Open Table MCC Sunday Worship Podcast

Play Episode Listen Later Apr 6, 2026


Early on the first day of the week, while it was still dark, Mary Magdalene came to the tomb and saw that the stone had been removed from the tomb. So she ran and went to Simon Peter and the other disciple, the one whom Jesus loved, and said to them, “They have taken the Lord out of the tomb, and we do not know where they have laid him.” Then Peter and the other disciple set out and went toward the tomb. The two were running together, but the other disciple outran Peter and reached the tomb first. He bent down to look in and saw the linen wrappings lying there, but he did not go in. Then Simon Peter came, following him, and went into the tomb. He saw the linen wrappings lying there, and the cloth that had been on Jesus's head, not lying with the linen wrappings but rolled up in a place by itself. Then the other disciple, who reached the tomb first, also went in, and he saw and believed, for as yet they did not understand the scripture, that he must rise from the dead. Then the disciples returned to their homes. But Mary stood weeping outside the tomb. As she wept, she bent over to look into the tomb, and she saw two angels in white sitting where the body of Jesus had been lying, one at the head and the other at the feet. They said to her, “Woman, why are you weeping?” She said to them, “They have taken away my Lord, and I do not know where they have laid him.” When she had said this, she turned around and saw Jesus standing there, but she did not know that it was Jesus. Jesus said to her, “Woman, why are you weeping? Whom are you looking for?” Supposing him to be the gardener, she said to him, “Sir, if you have carried him away, tell me where you have laid him, and I will take him away.” Jesus said to her, “Mary!” She turned and said to him in Hebrew, “Rabbouni!” (which means Teacher). Jesus said to her, “Do not touch me, because I have not yet ascended to the Father. But go to my brothers and say to them, ‘I am ascending to my Father and your Father, to my God and your God.' ” Mary Magdalene went and announced to the disciples, “I have seen the Lord,” and she told them that he had said these things to her. John 20:1-18 NRSVUE Sa mapagpalang hapon po sa inyo. Tuwing pumupunta ako sa ibang simbahan, ang pulpito lagi ang una kong tinitingnan para malaman kung kasya ba ako at makikita doon. Finally, nandito na rin ako sa inyong harapan; tuwing busy ang buong linggo at hindi makauwi sa bahay tuwing hapon ng Linggo, nanonood lamang ako ng inyong live. Ang pakiramdam ay parang nasa iisang tahanan na rin tayo. Tayo po ay manalangin para sa ating pagbubulay ng mensahe ng ating Panginoon. Salamat po dakilang Diyos sa pagkakataon na ito na kami ay pare-parehong magbubulay at makikinig ng inyong mensahe. Dalangin namin Panginoon na ang inyong abang lingkod ay magamit na instrumento sa paghahatid ng inyong mabuting balita sa bawat isa sa pangalan ni Hesus, Amen. Ang Pagbabalik ni Maria Magdalena at ang Huling Paglilingkod Si Maria ay muling bumalik at may dalang mabuting balita. Sa tuwing ako ay nagbibigay ng mensahe, iniisip ko kung anong komunidad ang aking dadalhan at kung ano ang mabuting balita para sa kanila. Hindi po tayo pumipili kung ano ang ating dadalhin, kundi kung ano ang ating pinaniniwalaan na iyon ang mabuting balita para sa inyo. Bakit nga ba patungo sa libingan si Maria Magdalena? Ang layunin ni Maria Magdalena at ng ibang alagad ay pumunta roon para magbigay sana ng maayos na libing kay Hesus—isang huling pagkakataon ng paglilingkod, isang “last ritual”. Ngunit ang kanilang kalungkutan at takot ay napalitan ng pagkagulat, pananabik, at kagalakan. Ang Kakulangan ng Pag-asa: Kasama ba si Maria sa mga alagad na sinabihan ni Hesus na Siya ay muling mabubuhay? Sa mga ebanghelyo nina Mateo, Marcos, at Lucas, malinaw na binanggit ni Hesus na ang Anak ng Tao ay ipagkakanulo, papatayin, ngunit muling bubuhayin sa ikatlong araw. Sa Ebanghelyo ni Juan, may mga pahiwatig tulad ng “Gibain ninyo ang templong ito at sa loob ng tatlong araw ay muli kong itatayo,” at “Kaunting panahon na lamang at hindi na ninyo ako makikita at pagkaraan ng kaunti pang panahon ako’y inyong makikitang muli.” Ang Pangamba ng mga Alagad: Bagama’t may mga pahayag si Hesus, hindi ito lubusang naunawaan at inasahan ng mga alagad. Nang mamatay si Hesus, binalot silang lahat ng takot at nagtago; walang naitalang nagpakita ng pag-asa na Siya ay mabubuhay muli. Naniwala na lamang sila noong Siya ay kanilang narinig, nakita, at muling nakasalo sa pagkain. Ang Nagmamadaling Paglilibing: Dahil namatay si Hesus noong Biyernes at ang kasunod na araw ay Sabado (Sabbath kung saan bawal gumawa), dali-dali lamang ang ginawang pagbabalot at pagpapahid ng pabango upang mapreserba ang Kanyang katawan. Kaya naman noong Linggo ng umaga, inipon nila ang kanilang mga pabango at nagtungo sa libingan upang iayos ang katawan ni Hesus. Hindi sila pumunta para tingnan kung Siya ay nabuhay, kundi para pahiran ng langis ang Kanyang katawan. Ang Mga Batong Humaharang at ang Pagbibigay-Access ni Hesus Sa kabilang banda, nakarating sa mga pinunong pari ang balita na mabubuhay si Hesus, kaya’t hiniling nila sa mga Romano na i-seal ang libingan. Nilagyan ito ng malaking bato, lubid, at wax, pati na ng Roman Seal, upang walang makabukas nito; ang sinumang sumira sa selyo ay maaaring patayin. Ngunit hindi na inabot ni Maria ang ganitong tagpo dahil naigulong na ang bato nang sila ay makarating doon. Hindi na rin nila kinailangang tangkain na buksan ito. Ang ganitong pagharang at pagkontrol sa katawan ni Hesus ay hindi na bago sa mga gawain ng mga political and religious leaders. Kinokontrol nila at sila ang may access sa lahat ng bagay: sa pera, sa kaayusan, at sa mga ritwal. Sila ang nagpapasya at nagtatakda kung sino ang matuwid, kung sino ang makasalanan, kung sino ang karapat-dapat, at kung sino ang mga hamak. Ginagamit nila ang buwis, templo, at batas upang manipulahin ang mga tao, na nagresulta sa pagmamayagpag ng injustice kung saan maraming naging alipin at naghirap. Ang Ministeryo ni Hesus: Kabaligtaran ito ng ginawa ni Hesus. Kung hinaharangan ng mga lider ang access, ibinubukas naman ito ni Hesus para sa lahat. Nagbigay Siya ng access sa kagalingan para sa mga may sakit, pagpapatawad, pagtanggap sa mga makasalanan, at pag-asa sa mga itinakwil ng lipunan, habang hinahamon ang pagpapaimbabaw ng mga nasa kapangyarihan. Ang Kanyang buhay, ministeryo, at muling pagkabuhay ay nangangahulugang pagbibigay ng access sa kaganapan ng buhay; wala nang pwedeng humadlang sa kabutihan ng Diyos. Noon, kamatayan ang laging panakot sa mga tao, pero muling nabuhay si Hesus para mawala ang hadlang tungo sa buhay na ganap. Mga Makabagong “Bato” sa Ating Buhay: Sa ating buhay ngayon, marami pa ring “bato” na tila nagsasara ng pagkakataon upang makamit natin ang biyaya ng Diyos. Sa buong mundo, nariyan ang tatlong malalaking bato: imperialism, feudalism, at capitalism. Madalas ding pinipigilan, at kung minsan ay humahantong pa sa kamatayan, ang gawain at ministeryo ng mga sumusunod kay Hesus. Tila paulit-ulit na nakukulong si Hesus at sinasaraduhan ang pagkakataong malapitan Siya. Napakayaman sana natin sa resources, ngunit dahil nakaharang ang mga bato, pare-pareho tayong nahihirapang makamit ang access sa biyaya ng Panginoon. Lalo na para sa LGBTQ community, alam kong danas ninyo ang maraming batong iniharang—mga sandaling “access denied” kayo, sinasabihang bawal o hindi kabilang. Ngunit patuloy na ipinapaalala ng Panginoon na ang access ay ibinigay na Niya; walang nakaharang para tayo ay dumiretso, manalangin, at maniwala sa Kanya. Kahit may mga pumipigil sa pagtatayo ng ganitong simbahan, dito ninyo mararanasan ang pag-ibig ng ating Panginoon. Ang Mga Ebidensya ng Muling Pagkabuhay 1. Ang Mga Nakatiklop na Telang Lino Nang pumasok si Pedro sa libingan, nakita niya ang mga telang lino, at ang telang nakatakip sa ulo ni Hesus ay nakatiklop at inilagay nang hiwalay. Para sa mga Hudyo, mahalagang igalang ang katawan at gawin itong disente kaya ibinabalot sa lino. Praktikal din ito dahil wala silang embalsamo, at ang lino ang sumisipsip sa mga likidong lumalabas sa katawan. Ang ritwal ng pagbabalot sa telang lino ay ang kaganapan ng kamatayan. Kung ninakaw ang katawan, walang magnanakaw ang mag-aaksaya ng oras na tanggalin ang lino lalo’t ito ay didikit na sa sugatang katawan ni Hesus. Nawala ang katawan hindi dahil ito ay kinuha, kundi nabuhay si Hesus at hindi na Niya kailangan pang manatiling nakabalot. Ang simpleng telang ito na maayos na nakatupi ay ebidensya na Siya ay bumangon. Aplikasyon: Sa ating buhay pananampalataya, dapat din tayong magpakita ng ebidensya na tayo ay kasamang muling nabuhay. Kailangan nating kumawala sa mga “telang lino” na bumabalot sa atin na nagpapakitang tayo ay patay; kung hindi, magiging parang mga “mummy” o walking dead tayo na naging komportable na sa maling pakikitungo at panggigipit. Ipinapakita ng Panginoon na kayang pagtagumpayan ang kamatayan, at dapat din tayong mag-iwan ng ebidensya ng Kanyang muling pagkabuhay. 2. Ang Luklukan ng Awa (Ang Dalawang Anghel) Nakita ni Maria ang dalawang anghel na nakaupo kung saan inilagay ang bangkay ni Hesus, isa sa ulo at isa sa paa. Bakit sila nakaupo? Kung titingnan natin ang Exodo 25, inilalarawan doon ang Kaban ng Tipan (Ark of the Covenant) kung saan may dalawang kerubin sa magkabilang dulo ng “luklukan ng awa” (mercy seat). Doon nagtatagpo ang Diyos at nagaganap ang pagbabayad-sala. Ang mga anghel sa libingan ay nakaupo dahil hindi na nila kailangang magbantay kung maghahandog ng dugo ang mga tao. Naganap na ang pinakamainam na handog at nakamit na ang pagpapatawad; bukas na ang mesa para sa lahat, at may direkta na tayong ugnayan sa Diyos. Konklusyon: Tayo ang Patunay Paano tayo niligtas ng kamatayan ni Hesus? Hindi lamang ito nakatuon sa mismong kamatayan sa krus. Ang kaligtasan ay makikita sa Kanyang kapanganakan, ministeryo, kamatayan, muling pagkabuhay, at ang Kanyang mga ginawa sa pamamagitan ng mga alagad. Dahil sa muling pagkabuhay, ang kamatayan sa krus ay hindi isang pagkatalo kundi isang mapagpalayang tagumpay ng buhay laban sa kamatayan. Ang pagkabuhay muli ay hindi lamang mangyayari pagkatapos nating mamatay; maaari natin itong maranasan araw-araw. Mararanasan natin ito tuwing tayo ay tumutulong na alisin ang mga gumagapos sa mga tao, sa ating pagmiministeryo, at sa tuwing ipinapangaral natin ang mabuting balita. Ang pinakamagandang patunay na muling nabuhay si Kristo ay hindi ang puntod na walang laman, at hindi rin ang krus. Tingnan ninyo ang inyong katabi: ang bawat isa sa atin at kung paano natin ipinaparanas ang kabutihan ng Diyos, ang ating buhay mismo ang siyang pinakamagandang patunay. Muli, si Kristo ay buhay. Siya ay muling nabuhay, at ang buhay natin ang magiging patunay. Sa pangalan ng Diyos Ama, Anak, at Espiritu Santo, Amen. The post Easter: The Unsealed Entrance appeared first on Open Table Metropolitan Community Church.

Så in i Själen
265. Så in i Själen – Jag svarar på lyssnarfrågor

Så in i Själen

Play Episode Listen Later Mar 1, 2026 30:02


I veckans avsnitt av ”Så in i Själen” så svarar jag på frågor. Jag lyfter en fråga runt sökandets väg. Vad som kan vara viktigt att tänka på. Vikten av att följa sin egen sanning och inte lita blint på yttre påverkan. Lita på dig själv. Din intuition har inte fel! Jag lyfter också Maria Magdalena Evangeliet – Maria Magdalena En bärare av hemlig visdom. En bro mellan det mänskliga och det gudomliga. En symbol för den återupprättade feminina rösten i andlig tradition. Hon blir en arketyp för den feminina principen: den som lyssnar djupt, förstår subtilt och talar sanning även när den sanningen utmanar strukturer. Modigt! Jag avslutar avsnittet med en meditation som är inspirerad av Evangeliet enligt Maria Magdalena. Varmt välkomna till ”Så in i Själen”.Om du har frågor du vill ställa så skicka dem till kontakt@såinisjälen.se Få reklamfria avsnitt tidigare på Supercast: https://sainisjalen.supercast.comProducerat av Silverdrake Förlagwww.silverdrakeforlag.seRedaktör: Marcus Tigerdraakemarcus@silverdrakeforlag.seKlipp: Victoria Tigerdraakevictoria.tigerdraake@gmail.com Hosted on Acast. See acast.com/privacy for more information.

Kencan Dengan Tuhan
Edisi Hari Jumat, 27 Februari 2026 - Kenali diri sendiri dan tidak menghakimi orang lain

Kencan Dengan Tuhan

Play Episode Listen Later Feb 26, 2026 6:18


Kencan Dengan Tuhan - Jumat, 27 Februari 2026Bacaan: Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? " Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembala kanlah domba-domba-Ku." (Yohanes 21:17)Renungan: Di sebuah sekolah dasar, ada seorang anak laki-laki yang bandel dan suka ribut di kelas. Hampir setiap hari, anak ini membuat masalah dan membuat kelas menjadi gaduh sehingga kerap kali dia menjadi sasaran kemarahan para guru. Anak ini kemudian dipanggil dengan sapaan "Surib" yang berarti "Suka Ribut". Suatu hari, ketika ada tugas melukis, seorang guru menyuruh para murid untuk melukis potret diri masing-masing. Surib pun dengan penuh antusias melukis dirinya sendiri. Dalam lukisannya, Surib menulis satu kalimat yang berbunyi, "Tuhan belum selesai menciptakan saya." Lukisan ini kemudian menjadi salah satu lukisan terbaik di sekolahnya. Suatu hari, seorang guru mendapati bahwa kelas Surib sangat gaduh. Dan seperti biasa, Suriblah yang menjadi penyebabnya. Ketika guru itu hendak memarahi Surib, beliau melihat lukisan Surib yang dipajang didepan kelas, yang bertuliskan, "Tuhan belum selesai menciptakan saya." Wajah sang guru langsung berubah. Dalam hati Sang Guru berkata, "Ya! Tuhan belum selesai menciptkannya, aku harus sabar." Dalam kehidupan kita sehari-hari, sering kali kita begitu mudah untuk menghakimi orang lain. Banyak orang cenderung memberi penilaian kepada orang lain dengan harga mati, seolah-olah orang lain sama sekali tidak akan berubah selamanya. Terlebih ketika, orang lain melakukan kesalahan. Akan sangat mudah baginya untuk melihat segala sisi dengan cara pandang negatif yang berlebihan. Banyak orang lupa bahwa Tuhan belum selesai menciptakan sesamanya. Kita pasti ingat dengan Petrus. Petrus bukanlah orang yang sempurna. Sebaliknya, Petrus selalu mendapat teguran keras dari Yesus, bahkan pernah menyangkal Yesus. Demikian pula dengan Rahab, Maria Magdalena dan Paulus. Mereka adalah para pendosa. Kendati begitu, mereka justru dipakai Tuhan secara luar biasa. Seseorang bisa saja berubah menjadi baik bahkan menjadi sesuatu yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Namun demikian, Tuhan juga membutuhkan bantuan kita, jadi janganlah kita buru-buru menghakimi dan menjauhi orang-orang yang mungkin berbuat salah terhadap kita. Namun tegurlah mereka dengan penuh kasih. Jangan lupa doakanlah dan berkatilah mereka selalu. Percayalah bahwa suatu saat mereka juga bisa berubah meski sekarang mereka melakukan kesalahan. Bimbinglah mereka untuk kembali di jalan yang benar agar mereka segera bertobat mendapat pemulihan dan akhirnya dapat diselamatkan. Tuhan Yesus memberkati. Doa:Tuhan Yesus, ampunilah aku karena aku mudah menghakimi orang lain. Kini aku sadar bahwa kekuranganku lebih banyak daripada orang yang sering aku hakimi. Amin. (Dod).

Die Männerrunde
193 Schönheits OP bei Maria Magdalena

Die Männerrunde

Play Episode Listen Later Dec 1, 2025 69:58


Hallo ihr Mannis und Mannienchen,Der Podcast eures Vertrauens, eurer Herzen, eurer Leidenschaft...usw. ist wieder mit neuer Folge am Start.Unter anderem mit diesen Themen :Micha, Handwerker des Jahres?Die Männerrunde lässt sich Fett absaugen?neue Runde Fakt oder Fake?Das und vieles mehr, exklusiv nur bei uns! Dem wohl wichtigsten Podcast aller Zeiten.Link zum Shop von "Das Bier"https://www.das-bier.com/maennerrundeKontakt: diemaennerrunde@web.deUnterstützt uns bei Patreon.comhttps://www.patreon.com/diemaennerrundeTwitter: @DieMaennerundeInstagram:https://www.instagram.com/die_maennerrunde_podcastFacebook:https://www.facebook.com/Maennerrunde.PodcastYouTube Kanal:https://www.youtube.com/channel/UCk6hDwJfdAyJa71gFS_UsEAWir verwenden gemafreie Musik von bluevalley.de the music companyhttps://www.bluevalley.de/index.php

Brujacoach
Velos que impiden que las Magas cumplan su misión

Brujacoach

Play Episode Listen Later Sep 26, 2025 28:24


Uno de los episodios más reveladores de mi diario virtual, es posible que por tener dones, trabajar nuestra sexualidad y ser mujeres lideres, podamos sentirnos no dignas de Dios Diosa como algunas religiones lo dicen. Invitar a Jesus , Maria Magdalena y el Espíritu Santo a mi negocio ha sido un antes y después para cumplir con mi misión y quiero contarte de esos velos que impiden que cumplas con tu misión y te vayas a tabajar en otras cosas que no te hacen feliz.

Katholische Messe
Kapitelsmesse am Fest der Heiligen Maria Magdalena

Katholische Messe

Play Episode Listen Later Jul 22, 2025 45150:00


Kapitelsmesse aus dem Kölner Dom am Fest der Heiligen Maria Magdalena; Apostelin der Apostel. Zelebrant: Domkapitular Thomas Weitz.

I säng med Tobias & Gabriel
475. Mörka stunder eller bra poddmaterial?

I säng med Tobias & Gabriel

Play Episode Listen Later Jul 15, 2025 65:45


I veckans podd är förväntningarna inför Lalehs konsert på Skuleberget skyhöga.Netanyahu har nominerat Donald Trump till Nobels fredspris..Agnetha Fältskog delar roll som Maria Magdalena med Titti Sjöblom i Jesus Christ Superstar.Barngifte har äntligen blivit förbjudet i Pakistan!Till sist listar vi dom mest kaotiska gruppreseögonblicken.Nu kör vi!Kontakt: hello@poddagency.comI säng med Tobias & Gabriel produceras av Poddagency Hosted on Acast. See acast.com/privacy for more information.

fred and walk in the house music
Fred de la House Maria Magdalena Naxos Island Mash

fred and walk in the house music

Play Episode Listen Later Jul 6, 2025 2:39


Homeopathy Hangout with Eugénie Krüger
Ep 399: Transformative School of Homeopathy - with Reeta Pohjonen

Homeopathy Hangout with Eugénie Krüger

Play Episode Listen Later Jun 22, 2025 65:38


In this heartfelt episode, I reconnect with the radiant Reeta Pohjonen, who shares the inspiring next chapter of her path from launching the Academy of Transformative Homeopathy to co-creating the Sacred Source School with Janey Lavelle. We explore the deeper layers of homeopathy as both a healing modality and a path of personal transformation, and Reeta offers a glimpse into her powerful graduation retreats infused with women's circles, cacao ceremonies, and soul-led teachings. She also takes us to Sicily, where she has rooted herself on a sacred piece of land that now serves as a hub for remedy-making, retreats, and deep ancestral healing. With stories of synchronicity, ceremony, and sisterhood, this conversation is a beautiful reminder of the magic that unfolds when we listen to the call of the heart. Episode Highlights: 04:07 - This Isn't Your Average Graduation—And That's the Point 07:06 - Transitioning to the Academy of Transformative Homeopathy 11:02 - An inside look at the school's flexible learning framework 15:26 - The Feminine Way of Learning 18:02 - The Remedy That Awakens the Feminine Soul 26:22 - The Sacred Alchemy of Trituration 30:15 - Janie Lavelle Joins the Conversation 31:01 - How Sicily Became a Sacred Site for Women's Work 39:22 - An unexpected meeting with the Guardian of Lamanna 45:24 - Connection to Ash Trees and Their Symbolism 56:36 - A Womb-Led Journey to Sicily About my Guests: Reeta Pohjonen carries a rich tapestry of experiences shaped by her roots in Kemi and her upbringing in Africa. A devoted mother of three and an angel child, she has embraced the beauty of water births. As the principal of Homeopathy School Helsinki, Reeta is a passionate homeopath, vital shiatsu therapist, mama yoga instructor, 3P facilitator, and astrologer, dedicated to the service of the Holy Feminine. Her work focuses on childbirth, women's well-being, and mental health, particularly for young people. Inspired by Kabbalah, ceremonial life, and the wonders of nature, Reeta's interests span from alkalized living water and juicing to sailing and Argentine tango. With a dream of a home in southern Italy, she continues to explore life's beauty through heartfelt connections and artistic expression. Janey Lavelle is a mother of four home-birthed children, an intuitive healer, and a passionate advocate for women's wellness. Originally from New Zealand and now rooted in the wild beauty of Easkey, Co. Sligo, Janey has spent over 15 years working in the field of Energy Medicine. Her work focuses on supporting women, babies, and children through pregnancy, birth, matrescence, hormonal imbalances, and emotional healing. Blending ancient wisdom with modern science, she offers a unique approach that integrates homeopathy, massage therapies (Swedish, Ayurvedic, and Aromatherapy), Reiki, and energy alchemy. Janey runs a healing space and homeopathic emporium in Inishcrone and teaches homeopathy at the Helsinki School of Homeopathy in Finland. She also leads Reiki initiations in Ireland and has deeply immersed herself in the art of trituration, co-creating remedies such as Irish Raven, Sea Eagle, and Maria Magdalena. A recent pilgrimage to the Cave of Maria Magdalena in France marked a profound spiritual initiation in her journey, further anchoring her devotion to feminine healing and sacred medicine. Find out more about Reeta Website: https://www.reetapohjonen.com/ Facebook: https://www.facebook.com/reetapohjonenhomeopathy/ Follow Sacred Source School on Instagram https://www.instagram.com/sacredsourceschool/ To learn more about The Academy of Transformative Homeopathy https://www.athacademy.fi/ Find out more about Janey Website: https://sageandseer.com/ Instagram: https://www.instagram.com/sage.and.seer/ Facebook: https://www.facebook.com/sageandseer If you would like to support the Homeopathy Hangout Podcast, please consider making a donation by visiting www.EugenieKruger.com and click the DONATE button at the top of the site. Every donation about $10 will receive a shout-out on a future episode. Join my Homeopathy Hangout Podcast Facebook community here: https://www.facebook.com/groups/HelloHomies Follow me on Instagram https://www.instagram.com/eugeniekrugerhomeopathy/ Here is the link to my free 30-minute Homeopathy@Home online course: https://www.youtube.com/watch?v=vqBUpxO4pZQ&t=438s Upon completion of the course - and if you live in Australia - you can join my Facebook group for free acute advice (you'll need to answer a couple of questions about the course upon request to join): www.facebook.com/groups/eughom

New Life Romanian Church
Sami Crișan – De la trădare… prin suferință… la biruință

New Life Romanian Church

Play Episode Listen Later Apr 20, 2025


Ioan 20.1-81. În ziua dintâi a săptămânii, Maria Magdalena s-a dus dis-de-dimineaţă la mormânt, pe când era încă întuneric; şi a văzut că piatra fusese luată de pe mormânt.2. A alergat la Simon Petru şi la celălalt ucenic, pe care-l iubea Isus, şi le-a zis: „Au luat pe Domnul din mormânt, şi nu ştiu unde […]

Earth Ancients
Ani Williams: Ancient Temples of the Pyrenees

Earth Ancients

Play Episode Listen Later Jan 18, 2025 83:14


“The breadth and depth of your book is awe-inspiring—a compilation of ancient wisdom, Christian lore, and European history. It's an amazing tour-de-force, reflecting years of careful study and devoted attention to detail. Your music adds even greater dimensions of appeal. Congratulations on creating this classic!”—MARGARET STARBIRD, author of The Woman with the Alabaster Jar and Mary Magdalene Bride in Exile◆◆◆HISTORY, MYSTERY, and ENCHANTMENT await the reader in this captivating journey down the Paris Meridian, and its antiquity as a Dragon Path, a network of ancient sites that existed long before scientists measured the meridian.Mystical encounters with the “Guardians” of standing stones, temples of Egyptian and Greek deities, and hidden sanctuaries of Maria Magdalena—you'll enter an enigmatic landscape of mysteries revealed for the first time.Discover the ancient Way of the Stars, a pilgrimage predating the Camino de Santiago by an astonishing five millennia! Learn how this initiation path overlays the author's stunning discovery of an ancient landscape cross spanning the Pyrenees, defined by megalithic temples aligned with the stars, constructed 6,000 years ago.Enhance your reading experience with Ani's special-release album, “Guardians of the Dragon Path,” songs composed during her quest to these ancient sites, with a bonus interactive map, “Path of Songs” with music videos of the sites and “Guardians” featured in the book, all accessible through the author's website, www.aniwilliams.com.Ani Williams is best known for her music recordings, distributed world-wide for decades. She is a composer, harpist, singer of cross-cultural sacred music, and a pioneer in Sound Medicine. Guardians of the Dragon Path is her first non-fiction book, a stunning compendium on ancient cultures and myths in the Pyrenean region of France and Spain. A special music album of the songs composed on her journeys and videos filmed at the ancient sites are both available on the author's website.Currently living in southern France, she was born in Los Angeles of a lineage of respected poets and authors, a legacy that is evident in her enchanting and engaging writing style. Williams' long-awaited book is the result of a life of world travel, eighteen years of walking the lands surrounding the Pyrenees, extensive scholarly research, and a series of uncanny dreams that guided her quest of discovery—a shining example that “truth is indeed stranger than fiction.” This is the first in a trilogy. You can contact her through her website.www.aniwilliams.comBecome a supporter of this podcast: https://www.spreaker.com/podcast/earth-ancients--2790919/support.